0888-6969-0666 [1]

0888-6969-0666

0888-6969-0666 | De_Pus19 | Twoshoot | PG-17

Angst | Romance | Mistery | Horror

Im Yoona | Park Chanyeol

Choi Sooyoung | Lee Donghae | Cho Kyuhyun | Jessica Jung

Disclaimer | This story is mine, cast are belong god

Warning | Garing, typo, bad story, and other

Poster by Montaseok at Café Poster

Note :

Terinspirasi dari film One Missed Call.

Happy reading | Hope you like it

“Halo.”

Tidak ada jawaban yang berarti dari sebrang sana. Wanita itu mendengus kesal. Sungguh menyebalkan, pikirnya. Masih ada manusia didunia ini yang melakukan hal sebodoh itu. Menelpon seseorang tanpa berbicara sepatah kata pun. Wanita itu mematikan sambungan telponnya lalu kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Ia meletakkan posel tipisnya disamping laptop putih miliknya. Dan kembali terfokus pada tumpukkan perkerjaan didepannya. Kesal. Tentu saja. Karna kemarin ia tidak masuk kerja, jadi sekarang dirinya harus berlama-lama didepan komputer.

Drrtt… Drrtt… Drrtt…

Wanita itu mengumpat saat melihat nomor yang terpang-pang jelas dilayar ponselnya. Nomor itu lagi. 0888-6969-0666. Siapa orang iseng yang menelpon malam-malam begini. Oh ayolah, wanita itu sudah sangat lelah. Coba lihat kearah jam dinding, sekarang jarum pendek sudah berada diangka 10.

“Halo.” Lagi, tidak ada jawaban yang berarti dari sebrang sana. Sial! Dia tertipu lagi, untuk kedua kalinya! “Sebenarnya, siapa dirimu? Aku sudah terlalu lelah untuk berurusan dengan orang sepertimu. Jadi, jangan pernah menelpon lagi.” Wanita itu berkata dengan ketus sambil mengumpat dan mematikan sambungan telpon tersebut. Dengan mood yang sudah sangat buruk, ia melanjutkan kembali pekerjaannya. Ia bersumpah setelah semua ini selesai, ia akan membalaskan dendamnya dengan tidur seharian.

“Jessica!” panggil seseorang dengan suara serak tepat ditelinganya. Dengan cepat wanita bernama Jessica itu menoleh. Namun, hanya udara hampa yang dapat tertangkap fokus matanya.

Tidak ada siapa-siapa disini dan harusnya Jessica menyadari akan hal itu. Semua karyawan sudah pulang pukul 5 sore tadi dan hanya dirinyalah sendiri yang kerja lembur hari ini. Walaupun, Jessica tahu ada petugas keamanan yang akan pulang pukul 12 malam nanti. Tapi, tidak mungkin petugas keamanan itu memanggilnya, karna sekitar 5 menit yang lalu petugas keamanan itu meminta izin untuk pergi kemini market.

Jadi, siapa yang memanggilnya?

Drrtt… Drrtt… Drrtt…

Suara getaran ponsel diiringi dengan nada dering telpon membuat wanita bermarga Jung itu mengalihkan seluruh inderanya. Ia mengenal nada dering itu, itu nada dering ponselnya. Lagi pula, orang bodoh mana yang akan meninggalkan ponselnya disini. Tangan lentiknya menjulur, meraih ponsel pink tipis miliknya.

Deg…

Ia tak menggapai apapun. Dimana ponselnya?

Nada dering ponsel itu masih berbunyi. Jessica bangkit dari duduknya dan mulai mengikuti sumber ponsel itu berasal. Ia berjalan pelan dengan kaki gemetar. Jessica tidak bodoh untuk berpikir bahwa ‘ponselnya berjalan sendiri kepojok ruangan’. Jadi, yang dapat disimpulkannya adalah ada seseorang yang memindahkan ponselnya. Siapa? Pertanyaan itulah yang sedang menghantuinya sekarang. Siapa yang memindahkan ponselnya? Haruskah ditegaskan sekali lagi? Tidak ada orang lain yang berada diruangan ini, selain dirinya.

Jessica berjongkok saat fokus matanya mendapati ponsel pink itu terselip diantara dinding dan tempat sampah kecil yang berada dipojok ruangan. Ia meraih ponsel yang masih berdering itu dan masih dengan nomor yang sama yang menelponnya tadi lalu menempelkan ponsel pink itu pada telinga kanannya. Dengan tubuh gemetar dan berkeringat dingin, Jessica berkata “Halo.” Sama seperti yang tadi tidak ada suara yang terdengan dari sana. Hanya kesunyian yang menyapa gendang telinganya.

Tapi didetik berikutnya terdengan suara jeritan yang sangat memilukan diikuti dengan Jessica yang menahan nafasnya “Halo.” sapanya lagi dengan suara gemetar dan raut wajah ketakutan. Tanpa banyak pikir, ia kembali mematikan sambungan telpon dan berniat memasukkan telpon tersebut kedalam saku celananya. Tapi getaran ponsel membuatnya mengurungkan niat. Mata Jessica melebar, dia mendapatkan sebuah pesan dari nomor yang tadi menelponnya.

From : 088869690666

“24 jam.”

Suara jeritan saling bersautan bagai nanyian penghantar tidur. Tempat pemakaman yang biasanya sunyi sepi, kini berubah menjadi ramai. Seorang wanita cantik bernama Jessica Jung telah meninggal dunia 12 jam yang lalu. Ia meninggal dengan keadaan kepala yang terputus dari tubuhnya. “Oppa,” panggil seorang wanita cantik sambil menepuk punggung seseorang yang sangat dikenalnya “Relakan Jessica eonni.”

“Kau tidak mengerti Yoong,” ia menatap sendu gundukkan tanah didepannya “Aku sangat mencintainya. Dua minggu lagi kami akan menikah.” lanjutnya lagi dengan suara serak.

Wanita cantik itu-Im Yoona memang tidak mengerti perasaan yang dirasakan kakak kandungnya ini, Im Donghae. Tapi, Yoona tak dapat mempungkiri perasaan sedih yang menyapa hatinya. Yoona sangat mengenal Jessica, walaupun wanita itu memiliki sikap yang dingin. Tapi, Yoona selalu merasakan kehangatan didalam dirinya. Kehangatan yang selalu mendekap hati Oppanya selama 5 tahun terakhir. Apalagi mengetahui fakta bahwa dua minggu lagi mereka akan menikah. Sungguh ironi.

Yoona tahu kakaknya sangat terpukul atas kematian kekasihnya yang sangat mengerikan itu. Tapi Yoona juga tahu, tidak mungkin selamanya Oppanya harus menangisi kamatian kekasihnya “Oppa,” panggil Yoona “Ayo kita pulang.” lanjutnya. Donghae mengegeleng pelan sambil mengelus batu nisan dan berguam “Tidak!”

Yoona mengangguk mengerti, mungkin Donghae ingin sendiri dan seharusnya Yoona tidak mengganggunya “Baiklah, aku akan pulang.” pamitnya. Yoona melenggang pergi meninggalkan Oppanya yang masih berjongkok memandangi makam kekasihnya. Entahlah, ada perasaan tak rela. Namun, ia masih melangkah. Mungkin hanya firasat biasa.

“Ayo kita pulang, Soo.”

Sooyoung-wanita bertubuh tinggi itu mengangguk lalu mengikuti langkah Yoona meninggalkan komplek pemakaman ini. Mereka menaiki mobil Sooyoung lalu melesat meninggalkan tempat yang dibilang-bilang sangat angker. Selama dalam perjalanan Sooyoung terus mengoceh menanyai tentang keadaan Donghae. Sooyong sama sekali tidak terpukul dengan kamatian Jessica. Hanya saja, dia menghawatirkan keadaan Donghae yang pernah menyandang status sebagai kekasihnya. Walaupun sekarang Sooyoung telah memiliki kekasih lagi.

“Bagaimana keadaannya?” tanya Sooyoung memecah keheningan. Ia sama sekali tidak menoleh, masih terfokus pada jalanan didepannya. Dan yang pastinya wanita itu tidak melihat raut wajah sedih sahabatnya. “Buruk, sangat buruk,” guamnya “Hae oppa sangat terpukul dengan kematian Jessica eonni. Apalagi kematiannya sangat mengerikan.”

Memang, kematian Jessica Jung sangatlah mengerikan. Wanita itu meninggal dengan keadaan kepala yang terputus dari tubuhnya. Karna leher jenjangnya terjepit dipintu lift apartementnya. Entah apa yang terjadi, mereka semua pun belum tahu penyebabnya. Semua cctv yang berada disana mati. Jadi, sampai saat ini tidak ada yang tahu apa kematian itu kecelakaan atau pembunuhan?

Mobil Sooyoung telah berhenti tepat didepan rumah Yoona. Rumah yang baru saja ditempatinya selama satu minggu. Rumah bergaya klasik yang sangat diidamkannya dari dulu. Wanita itu sedikit tersentak kaget saat sahabatnya menggoyangkan pelan lengannya. Melamun lagi, akhir-akhir ini dia sering melamun. Apalagi sekarang, setelah kematian Jessica, dia terus saja memikirkan keadaan Oppanya. “Gomawo Sooyoung.” guam Yoona sambil menatap sahabatnya dari kaca mobil yang terbuka. Sooyoung tidak menjawab, ia hanya tersenyum sambil mengangguk.

Yoona membalikkan tubuhnya saat mobil sahabatnya telah menghilang dipersimpangan jalan. Tangannya membuka pintu gerbang dan kembali menutupnya saat ia sudah berada didalam area rumah lalu kembali melangkah menuju pintu kayu bercat putih didepannya. Tapi langkahnya terhenti saat getaran ponsel mengalihkan seluruh perhatiannya. Dirogohlah tas kulit keluaran Guess lalu meraih ponsel putihnya. Kening Yoona sedikit berkerut melihat nama yang terpang-pang jelas dilayar ponselnya.

“Yoong,” panggil seseorang disebrang sana “Ada seseorang yang menerorku!”

Pelukkan itu semakin erat. Menjalarkan kehangatan yang membuat semua orang merasa nyaman. Sama seperti yang dirasakan wanita ini, dia merasa benar-benar nyaman berada didalam pelukkan suaminya. Bahkan rasanya jauh lebih nyaman dibandingkan dengan memeluk boneka rillakuma sewaktu ia masih kecil. Chanyeol mengecup pelan kening isterinya lalu mengelus pipi mulus itu. Mereka saling bertatapan sebelum akhirnya sang suami membuka suara.

“Kau tidak mengantuk? Tidurlah.” tanyanya lembut.

Yoona menggeleng lalu tersenyum geli “Aku tidak bisa tidur. Disini sangat berisik,” kening suaminya berkerut samar. Berisik? Chanyeol yakin Yoona mempunyai pendengaran yang sangat tajam seperti anjing. Tapi, itu kan tidak mungkin. Suasanan dikamar ini sangatlah sunyi. Melihat ekspresi Chanyeol yang tidak mengerti membuat Yoona tersenyum geli lalu menempelkan kepalanya diatas dada Chanyeol “Disini sangat berisik, aku tidak bisa tidur.”

Seketika wajah Chanyeol memerah. Dia tersipu malu mendengar ucapan Yoona. Memang benar, didalam sana sangat berisik. Suara detak jantung Chanyeol yang tak beraturan. Pria itu tidak bisa mengontrol detak jantungnya, jika sedang berdekatan dengan Yoona “Apa itu menganggumu?” Yoona mengangguk “Apa aku harus menghentikannya?”

Menghentikan detak jantung, sama saja dengan membunuh Chanyeol “Tidak perlu, aku sangat suka mendengarnya.” Chanyeol tersenyum nakal. Dia mengikis jarak lalu melumat bibir tipis itu. “Oppa,” panggil Yoona “Lihat dirimu, kau sangat kacau!” tangan Yoona menyentuh lingkaran hitam yang berada dibawah mata Chanyeol “Akhir-akhir ini kau jarang tidur.” Chanyeol tersenyum menenangkan sambil mengusap pelan surai coklat milik isterinya “Hm… kebelakangan hari ini aku sangat sibuk menangani kasus pembunuhan.”

Kebalakangan hari ini Chanyeol memang sangat sibuk. Terkadang dia lupa tidur bahkan lupa makan. Dia sangat terfokus pada kasus pembuhunan yang kebelakangan ini sedang merajalera “Kasus pembunuhan?” terselip nada bingung didalam pertannyaan itu. Seingat Yoona, Chanyeol sedang tidak menangani kasus pembunuhan, bukankah pria itu sedang menangani kasus Jessica? Menurut Yoona kasus Jessica bukanlah kasus pembunuhan. Tapi, kecelakaan “Maksudmu, kasus Jessica eonni?”

Chanyeol mengangguk, ia berpikir sebentar sebelum akhirnya menjawab pertannyaan Yoona “Ya, menurutku kasus itu bukanlah kasus kecelakaan,” rasanya Yoona ingin membantah perkataan Chanyeol. Malah berbanding balik dengan Chanyeol, Yoona merasa kasus itu hanya kecelakaan karna tak ditemukan satupun barang bukti atau jejak yang membuktikan kalau itu adalah kasus pembunuhan. Tapi, dia mengurungkan niatnya dan membiarkan suaminya melanjutnkan ucapannya kembali “Kau mungkin berpikir kalau itu adalah kecelakaan. Awalnya aku juga berpikir seperti itu. Tapi lama kelamaan, rasanya banyak hal yang ganjil.”

“Benarkah?”

“Ya,” wajah Chanyeol berubah menjadi sangat serius “Kurasa dia diteror. 24 jam sebelum Jessica noona meninggal, dia mendapatkan 3 kali telpon dari nomor yang sama dalam jangka waktu 5 menit secara berturut-turut dan 5 menit kemudian dia mendapatkan pesan yang bertulis 24 jam dan-”

“24 jam kemudian Jessica eonni meninggal.” sambung Yoona.

Chanyeol mengangguk “Hah? Kenapa aku jadi sepintar ini? Aku jadi tertular kepintaran darimu. Kalau begitu aku akan mendaftar menjadi polisi.” puji Yoona atas tebakkannya membuat Chanyeol terkekeh kecil mendengar celotehan wanita yang baru saja dipersuntingnya seminggu yang lalu.

“Tapi, tidak hanya itu saja. Kau ingat Kim Taehyung? Adik kelasmu,” Yoona mengangguk “Dia meninggal karna kecelakaan dan yang lebih mencegangkan adalah 24 jam sebelum dia meninggal, Taehyung mendapatkan 3 kali telpon dan sebuah pesan dari nomor yang sama dengan Jessica.”

Mulut Yoona terkatup rapat. Dia sangat terkejut mendengarnya. Benarkah? Apa mereka diteror? Atau, cuma hanya kebetulan saja? “Yasudah, tidurlah. Kau pasti sangat mengantuk.” Yoona sangat menyukai perlakuan Chanyeol kepadanya. Pria itu selalu mengecup keningnya dan memeluknya semalaman. Membuat Yoona merasa nyaman dan tak perlu khawatir terjadi sesuatu terhadapnya.

Hari ini sama seperti hari-hari biasanya. Pekerjaan Yoona sebagai penulis membuatnya harus berada dirumah sepanjang hari. Deadline novelnya sebentar lagi, jadi Yoona harus ekstra cepat agar novel ini selesai pada waktunya. Tangannya bergerak menekan tombol-tombol mengikuti ide yang telah tercatat rapi didalam otaknya. Tanpa kendala sedikitpun. Waktu menunjukkan pukul 5 sore. Langit yang tadinya berawarna biru terang kini telah berganti menjadi orange.

Terlalu asik menulis, bahkan Yoona tidak menghiraukan keadaan rumahnya yang gelap gulita. Sudah dua hari Ahn Ahjumman tidak masuk kerja, karna kebelakangan hari ini wanita tua itu tidak enak badan. Jadi tidak mungkin ada orang lain yang akan menyalakan semua lampu yang terdapat dirumah ini, kecuali Yoona. Chanyeol? Pria itu akan pulang kerumah jika jarum jam sudah menunjukkan pukul 10 malam.

Prang!

Yoona terlonjak kaget mendengar suara yang seperti pecahan piring menggema dirumahnya. Tangannya berhenti mengetik dan didetik berikutnya dia baru tersadar dengan keadaan rumahnya kini. Yoona bergegas menekan sakral lampu, namun lampu itu tak kunjung menyala. Apa lampunya rusak? Tapi, tidak mungkin, dia baru saja menempati rumah ini seminggu yang lalu, pastilah semua prabotan termasuk lampu masih baru. Apa sedang terjadi pemadaman listrik? Tapi, apa iya perumahan semewah ini mendapatkan giliran pemadaman listrik? Yoona tidak ingin pikiran liar menghantuinya, dia berpikir mungkin saja terjadi kosleting listrik, walaupun wanita itu tidak begitu yakin.

Tangannya meraba-raba meja kerja yang terdapat didekat jendela kamarnya, mencari ponsel putih miliknya. Tangannya meraih sebuah benda tipis yang Yoona yakini adalah ponselnya, mungkin kesialan sedang menimpanya, ponselnya mati total. Sial! Akhirnya Yoona menyambar senter kecil yang berada didalam laci meja kerjanya lalu berjalan keluar kamar. Demi Tuhan, Yoona-yang disebut-sebut wanita paling pemberani-menahan nafasnya dengan jantung yang berdegub kencang. Oh Tuhan, rumahnya terlihat seperti hutan belantara yang gelap gulita.

Kakinya melangkah menuruni satu persatu anak tangga yang sudah dilapisi karpet berwarna merah darah, warna kesukaan Yoona. Tepat dianak tangga ke 5, dia hampir tergelincir, untung saja dia berpegangan. Kalau tidak! Celaka! Bisa-bisa tubuh kecil Yoona sudah terguling kebawah. Dia meliat pecahan piring yang berserakkan dilantai dapur. Siapa yang melakukan semua ini? Yoona berjongkok dan memunguti serpihan piring keramik yang berserakkan disekitarnya lalu memasukkannya kedalam kantung plastik.

Prang!

Yoona menoleh, dia melihat sebuah piring baru saja terjatuh dari atas meja. Terkejut? Tentu saja, ini sudah yang kedua kalinya. Yoona tidak mungkin berpikir semua ini adalah ulah pencuri, kalau memang semua ini adalah ulah pencuri, pasti pencuri itu pastilah sangat bodoh. Hey, pencuri mana yang membangunkan tuan rumah? Dengan jantung berdetak tak beraturan, Yoona kembali memunguti serpihan piring yang berserakkan dilantai lalu membuangnya ke tempat sampah.

Yoona melangkah begitu pelan menuju meja kaca yang terdapat diruang tamu rumahnya. Dia melihat sebuah cahaya yang terang dan dering ponsel seseorang. Okey, Yoona mungkin seorang penakut, walaupun dia selalu menyangkalnya. Tapi, demi Tuhan, dia bukanlah orang bodoh! Jelas-jelas Yoona melihat ponselnya yang tergeletak diatas meja kerja dengan keadaan mati total. Tapi, dengan begitu yakin, Yoona mengklaim pada dirinya sendiri, ponsel yang tengah digenggamnya sekarang adalah ponselnya.

Hah?! Bukankah sangat tidak masuk akal? Yoona membuang jauh-jauh pikiran, kalau ponsel ini berjalan sendiri. Ayolah, dia tidak mungkin berpikir seperti itu. Yoona juga tidak bisa berpikir, kalau ponsel yang tergeletak dimeja kerjanya adalah ponsel Chanyeol. Pasalnya, seseorang yang tengah menelponnya kini adalah suaminya, Park Chanyeol.

“Yeboseyo. Yoong!” Yoona melupakan semua kejadian aneh yang baru saja menimpanya, saat suara Chanyeol yang terkesan sedih menggema didalam telinganya. “Ne, Oppa. Ada apa?” tanya Yoona sambil menjatuhkan tubuhnya keatas sofa. “Ada yang ingin ku bicarakan,” Yoona mendengar Chanyeol menghembuskan nafasnya panjang “Donghae Hyung, meninggal,” suaranya tercekat “Analisiku sementara, dia dibunuh oleh orang yang sama yang membunuh Jessica noona. Yoong? Kau mendengarku-”

Yoona sudah tidak mendengarkan ucapaan Chanyeol selanjutnya. Dia menjatuhkan ponselnya kelantai lalu menutup mulutnya denga kedua tangannya. Menahan tangis yang kapan saja bisa pecah. Air matanya mengalir deras bersamaan dengan rasa nyeri yang bergejolak didalam hatinya. Jessica meninggal karna dia diteror! Jadi, Donghae juga mengalami hal yang sama dengan yang dialami Jessica.

Bodoh! Yoona harusnya memberi tahu Chanyeol. Kenapa dia tidak percaya saat Oppanya menelpon yang mengatakan bahwa dia diteror? Kenapa Yoona tidak percaya? Kenapa dia bisa sebodoh ini? Kalau dari awal Yoona memberitahu Chanyeol, semua ini tidak akan terjadi! Donghae Oppa tidak akan mati!

“Bagaimana keadaannya?” cecar Sooyoung sambil menunjukkan tatapan khawatir didepan Chanyeol. Pria itu menggeleng lemah, wajahnya memancarkan kesedihan “Sangat buruk, dia tidak ingin keluar dari kamar.” guam Chanyeol. Sooyoung melihat wajah lelah Chanyeol, sepertinya pria itu sudah membujuk Yoona seharian. “Aku akan coba membujuknya.” Sooyoung mengetuk pintu kamar Yoona pelan lalu berguam “Ini aku, Yoong. Bolehkah aku masuk?”

Tidak ada jawaban berarti dari Yoona. Tanpa pikir panjang, Sooyoung memasuki kamar Yoona. Pandangannya menyebar keseluruh ruangan ini, tidak ada hal-hal aneh seperti kaca pecah atau sebangsanya, kamar ini terlalu rapi. Berarti Yoona tidak membuang-buang waktunya untuk menyesali sesuatu yang sudah terjadi. Matanya menangkap siluet tubuh seorang wanita cantik yang tengah berdiri dipojok ruangan sambil menggenggam sebuah bingkai foto, dia adalah Yoona. Wanita itu terlihat begitu cantik dengan mini dress berwarna hitam. Nampaknya, dia telah merelakan kepergian Donghae.

“Yoong,” panggil Sooyoung seraya berjalan mendekati Yoona “Pemakaman Hae Oppa akan segera dimulai.”

“Benarkah?” Yoona meletakkan bingkai foto itu didalam laci meja kerjanya “Kalau begitu, kita harus segara berangkat.” Wanita itu menoleh, memperlihatkan betapa cantik wajahnya hari ini, walau hanya dengan polesan make up tipis.

Sooyoung merasa ada hal yang ganjil, Yoona terlihat terlalu biasa untuk ukuran seorang adik yang baru saja kehilangan kakaknya. Sooyoung tidak berpikir kalau Yoona bahagia dengan kepergian Donghae, tidak sama sekali. Atau mungkin wanita itu sedang berakting, dia sengaja memperlihatkan senyuman terbaiknya agar semua orang berpikir kalau keadaannya baik-baik saja dan akan baik-baik saja. Mungkin!

Mereka manaiki mobil milik Chanyeol yang telah terparkir didepan gerbang rumah Yoona. Mereka berempat-termasuk Cho Kyuhyun, kekasih Choi Sooyoung-bungkam selama perjalanan menuju kepemakaman. Selama pemakaman pun, Yoona sama sekali tidak menetesakan air mata, bahkan raut wajah sedih pun tak nampak diwajahnya. Apa air mata wanita itu sudah mengering? Karna terlalu lama menangis. Hingga diakhir acara pemakaman Yoona membuka mulutnya dan membuat semua orang tercengang.

“Aku yang telah membunuh Donghae Oppa.” ucap Yoona datar dengan tatapan kosong mengarah pada gundukkan tanah didepannya. Makam Donghae seakan menghipnotis Yoona, membuat wanita itu seakan-akan tenggelam didalam penyesalan. Chanyeol yang saat itu berdiri disamping Yoona, segera membalikkan tubuh isterinya, menatap iris madu yang telah kehilangan sinarnya “Apa yang kau katakan, Im Yoona! Jangan bertindak bodoh! Dan jangan mengada-ngada!”

Teriakakkan Chanyeol menyadarkan isterinya. Dia bungkam, tangisnya pecah. Dengan suara serak Yoona berkata : “Kalau saja waktu itu aku mengatakan hal yang sebenarnya padamu. Andai saja, waktu itu aku percaya bahwa Donghae Oppa benar-benar diterror. Semua ini tidak akan terjadi. Donghae Oppa tidak akan mati. Ini semua salahku!” Yoona terjatuh duduk sambil menangis tersedu-sedu. Dia benar-benar menyesal, sungguh!

“Bodoh!” semua orang yang masih berada disana terkejut mendengar penuturan Kyuhyun yang tiba-tiba. Pria yang terlahir dengan sendok perak dilidahnya itu mendengus lalu mengarahkan tatapan mengejek kearah Yoona. “Untuk apa kau menangisi orang yang sudah mati? Yang harusnya kau pikirkan sekarang adalah nyawamu. Teror itu masih berlanjut! Bukankah pagi ini ada kasus yang sama dengan kasus yang dialami Jessica dan Donghae? Dan mungkin, kau yang selanjutnya, Im Yoona.”

Mereka semua bungkam mendengar penuturan Cho Kyuhyun. Karna memang, semua ucapan pria itu benar adanya. Bahkan Chanyeol-yang sedang menangani kasus ini-membenarkan ucapan Kyuhyun. Teror masih berlanjut! Sudah banyak nyawa yang melayang karna kasus ini dan sampai sekarang pihak kepolisian sama sekali tidak tahu siapa dalang dari semua ini? Memang benar, Chanyeol sama sekali tidak tahu menahu siapa korban selanjutnya. Tapi, menurut analisisnya, korban selanjutnya adalah orang-orang terdekat korban sebelumnya.

Tapi, kalau kita pikir ulang, korban yang baru saja meninggal pagi ini sama sekali tidak memiliki hubungan apapun dengan Jessica dan Donghae. Korban itu adalah Xi Luhan, seorang pria kebangsaan China yang telah lama tinggal di Korea. Setelah semalaman suntuk Chanyeol mencari identitas Luhan, tapi pria itu sama sekali tidak menemukan sebuah benang merah yang menghubungkan antara Luhan dengan Donghae ataupun Jessica.

Sooyoung menyikut tangan Kyuhyun lalu melayangkan tatapan tajam pada kekasihnya. Sooyoung juga sudah memperkirakan bahwa akan ada korban selanjutnya, tapi apa Kyuhyun harus berbicara seperti itu? Apalagi dengan keadaan Yoona yang sedang shock melihat kematian Oppanya. Sooyoung sangat malu dengan sikap yang diambil kekasihnya. Dia jadi merasa tak enak hati melihat ekpresi terkejut semua orang, apalagi melihat wajah Yoona yang menjadi pucat pasi.

Sooyoung ingin menjelaskan semuanya atau setidaknya meminta maaf atas ucapan Kyuhyun. Tapi, suara berat Kyuhyun menghalangi niatnya “Akh, menyebalkan. Ayo kita pulang! Aku muak berlama-lama ditempat ini!”

Sepeninggalan pasangan kekasih itu, Yoona mencoba menenangkan dirinya. Dia sudah cukup terkejut dan terpukul atas kematian Oppanya dan sekarang! Dia harus mendapati fakta bahwa mungkin saja dirinya adalah korban selanjutnya, apalagi melihat ekspresi Chanyeol yang menunjukkan bahwa pria itu menetujui ucapan Kyuhyun. “Apakah itu benar?” tanya Yoona saat keadaan wanita itu sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.

Keadaan pemakaman itu sudah jauh dari kata ramai seperti tadi, karna sekarang hanya ada mereka berdua yang masih setia berdiri didepan makan Donghae. Chanyeol bungkam, dia ingin menceritakan semuanya, tapi itu tidak mungkin! Dia tidak ingin keadaan Yoona semakin memburuk. “Oppa, jawab pertanyaanku! Benarkah aku korban selanjutnya?”

Chanyeol menyerah, dia akhirnya mengangguk pasrah, diikuti dengan tangis Yoona yang kembali pecah. Pria itu segera memeluk erat isterinya, hatinya terasa perih mendengar isakkan Yoona. Suami mana yang mau isterinya menjadi korban pembunuhan? Tidak ada, termasuk Chanyeol. Dia sangat mencintai isterinya dan itu artinya dia akan melindungi Yoona. “Hey,” sahut Chanyeol mencoba menenagkan wanitanya “Tenanglah, kau akan baik-baik saja. Aku akan melindungimu dan aku berjanji akan menememukan pelaku pembunuhan itu.”

~TBC~

17 thoughts on “0888-6969-0666 [1]

  1. Aigoo bnar2 misterius bnget sih nhe peneror :-C trus ngapain coba pke teror2 gtu? 7an nya apa coba? #penasaranBANGET
    aigoo chanyoong romantis bnget sih, pngen deh kyak mrka buat aku iri bnget😉
    daebak thor, aku suka critanya aplg genre kyak nhe..
    Aish mang bnar yah korban slanjtnya yoona? Aigoo chanyeol hrus waspada nhe ma pengawasanx kpd istrinya.. Yoona gk perlu takut krn msh ad Yeol oppa yg melindungi n menemanimu.. Neomu joha!
    Next chap d.tnggu! Pnasarn bnget!

  2. Aigoo . . . . . . . .
    Jantungan bacanya. . . .
    Nih cerita betul2 mistery lah. . . .
    Author hebat banget buat cerita yg begini . . ^_^

  3. wow..benar2 mistis dan menegangkan….low tu benar2 pmbunuhan..pelakunya sadis….penasaran nh..pelakunya spa..trus motif pembunuhnnya apa…

  4. menegangkannnnnnn
    aku kira ceritanya mirip sama one missed call. eh ternyata emang beda. dan aku suka cerita kayak gini. walaupun terinspirasi tapi ceritanya gak persis dengan objek inspirasi. jadinya pembaca masih bisa dibuat penasaran dan berspekulasi sendiri🙂
    nextnya jangan lama2 yaaaa
    btw, aku masih nunggu always be my baby nya loh thor :p

  5. Ya ampun gue bacanya sampai merinding gini -.-
    Jadi penasaran sama kelanjutannya, kira-kira siapa pembunuhnya
    Next chapter lebih panjang lagi dong thor dan jangan lama-lama yah
    Keep writing

  6. Waduh , horor banget thor ? Meninggal nya pada serem lagi. Aku felling sih itu sooyoung kalo ga kyuhyun yang bunuh ? Heheheh. Apa jangan jangan chanyeol ? Lanjutan nya jangan lama lama hehhe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s