Destiny (flashback story)

img1417880583520

 

Destiny
Flashback Story

By : Park Hee Young
PG-15
Romance, Sad
Main Cast : Im Yoon Ah, Cho Kyuhyun, Choi Siwon
Disclaimer : FF pertama yang di publish nih, jadi maaf ya kalau ada typo, kata-kata yang nggak nyambung atau ceritanya yang gak jelas hehehe. Maaf juga kalau masih bikin bingung ceritanya. Respon sama sarannya di tunggu ya, thanks  and enjoy the story

 

Kyuhyun

Banyak yang bilang bahwa SMA merupakan masa yang paling indah. Ternyata mereka benar. Hidupku menjadi indah ketika aku bertemu dengan seorang yeoja. Kulitnya yang seputih salju, bibirnya yang merah merekah bagai bunga mawar, mata coklatnya begitu menghipnotisku untuk selalu menatapnya. Yeoja cantik itu bernama Im Yoon Ah.

Tak heran yeoja cantik sepertinya menjadi primadona di sekolah kami. Tentunya banyak namja yang bersaing untuk merebut hati seorang Yoona. Tuhan memberikan kesempatan emas padaku. Aku ditakdirkan untuk satu kelas dengannya. Tentu itu menjadi sebuah peluang besar bagiku. Kesempatanku untuk mendekatinya lebih terbuka lebar dibandingkan namja lain.

Hari itu hujan sangat deras. Ada siswa yang berlindung di balik payungnya, ada pula yang menunggu hujan hingga reda, bahkan ada juga yang pasrah berlarian menerobos hujan. Aku salah satu dari mereka yang berniat untuk menerobos hujan. Namun, suatu hal yang tak terduga terjadi padaku.

“Hei. Kau, Cho Kyuhyun bukan?”tanya seorang yeoja.

Merasa terpanggil aku berbalik dan ternyata Yoona sudah berdiri disana menenteng payung merahnya. “Ne.”aku mengangguk.

“Kau tidak membawa payung?”tanyanya lagi.

Aku menggelengkan kepalaku. Aku menjadi gugup seketika sehingga aku tak tau harus berkata apa dan berbuat apa di hadapan bidadari secantik dia.

“Kalau begitu kita bisa memakai payungku bersama.”tawarnya.

“Baik. Tapi aku harus mengantarmu pulang. Bagaimana?”ungkapku. ini merupakan sebuah kesempatan emas bagiku untuk bisa dekat dengan Yoona.  Dan aku bersumpah aku tak akan melewatkan kesempatan ini.

“Baiklah. Kita bisa naik sepeda mu kan?”jawab yeoja itu tanpa berpikir panjang.

 

Entahlah, aku merasa percaya diri atau apa aku sempat berpikir bahwa Yoona menyukaiku. Buktinya dia mengajakku pulang bersamanya dan membiarkanku mengantarnya pulang. Ku rasa alasan dia mengajakku memakai payungnya bersama-sama adalah supaya aku menawarkan diri untuk mengantarnya pulang. Buktinya kami berdua menyerah dan memilih untuk membiarkan hujan membasahi tubuh kami.

Sepanjang jalan kami bercerita banyak hal. Dia menceritakan tentang dirinya, kesukaannya, begitupun juga denganku. Anehnya, kita ini sangat berbeda. Tapi, sejak hari itu kami menyadari. Bahwa kami saling melengkapi dan saling membutuhkan. Hubungan kami tak berhenti sampai disana. Kami selalu menghabiskan waktu bersama-sama, dan melakukan segala hal bersama. Banyak dari mereka yang berkata bahwa dimana ada Yoona pasti disana ada Kyuhyun. Ya Tuhan, semakin lama aku semakin jatuh cinta padanya.

Namun sepertinya aku hanya bisa memendam perasaan dalam hatiku. Perasaanku yang lebih terhadapnya harus ku kubur dalam-dalam ketika dia memintaku untuk menjadi sahabatnya. Hanya seorang sahabat.

 

“Kau mau jadi sahabatku kan? Berjanjilah kau tak akan meninggalkanku.”ujar Yoona sambil menatapku penuh harap.

“Jika aku jadi sahabatmu, apa yang akan aku dapatkan?”tanyaku dengan jahil padahal aku sedang mencoba untuk menelan pil yang amat pahit.

              “Aish kau ini. Yang jelas aku tak akan memberikan video game padamu. Ya sudah jika tidak mau.”balas Yoona kemudian dia beranjak meninggalkanku.

Aku langsung memegang tangan Yoona sehingga dia tak bisa pergi kemana-mana apalagi meninggalkanku. Yoona terlihat bingung dengan sikapku. Tanpa basa-basi aku tersenyum lalu memeluk Yoona erat-erat.

Bagaimana bisa aku kehilanganmu, Im Yoona.

“Aku akan menjadi apapun yang kau mau, asalkan aku bisa selalu bersamamu, Im Yoona.”ungkapku dengan senyum getir.

 

Hubunganku dengan Yoona baik-baik saja semenjak kejadian itu. Bahkan kami lebih dekat. Mereka bilang tak ada persahabatan yang murni antara seorang namja dengan yeoja. Pasti ada perasaan yang lebih meskipun hanya sedikit. Aku juga tak tau apakah kami masih layak untuk dikategorikan sebagai sahabat. Kami selalu cemburu terhadap satu sama lain. Aku cemburu ketika Choi Minho selalu merebut perhatiannya dariku. Yoona selalu cemburu jika Victoria selalu mendekatiku.

Apakah itu wajar disebut sebagai sahabat? Baik aku dan Yoona, kami berdua tak pernah membahas tentang hubungan kami yang lebih jauh. Kami merasa nyaman dengan hubungan kami yang seperti ini. Kami saling menjaga, saling mengerti, saling menyayangi, dunia seperti milik kami berdua, dan bagi kami mungkin itu semua cukup. Bagiku, mengatakan bahwa aku mencintainya bisa menghancurkan semua yang telah kami bangun. Kami akan merasa canggung satu sama lain bahkan buruknya Yoona meninggalkanku.

 

Namun setiap kisah tak slalu berjalan mulus bukan?

Begitu juga kisahku dan Yoona. Semuanya berubah sejak hyungku datang. Siwon hyung memiliki kelainan pada jantungnya sejak dia kecil. Hal itu membuat appa dan eomma membawanya ke Amerika untuk menjalani pengobatan. Disana dia di rawat oleh pamanku yang merupakan dokter spesialis jantung. Setelah bertahun-tahun pergi, hyung akhirnya kembali ke Korea. Hal ini tentu membuatku merasa sangat senang. Kami sekeluarga akhirnya bisa kembali berkumpul bersama.

Semenjak hyung bertemu dengan Yoona, perlahan semuanya berubah. Semuanya dimulai ketika kami mengunjungi toko bunga yang baru saja dibuka. Yoona memaksaku untuk menemaninya kesana. Meskipun aku agak malas namun untuk Yoona apa yang tidak bisa ku lakukan? Aku akan melakukan apapun untuk membuatnya bahagia.

 

“Kyu!! Berhenti. Ada toko bunga yang baru buka.”ujar Yoona sambil menarik tanganku dan memaksa ku untuk berhenti. Kemudian aku menoleh, mata Yoona menunjukkan bahwa dia ingin masuk kesana. “Ayo, Kyu!!! Kau ini kenapa diam saja?”protesnya.

“Untuk apa kesini?”tanyaku malas.

“Untuk melihat dan membeli bunga Kyu, kau pikir untuk apa lagi? Untuk bermain game?”omelnya. Merupakan hiburan tersendiri bagiku melihatnya mengomel seperti itu. Sangat menggemaskan. “Ya sudah kalau tidak mau! Biar aku saja yang ke dalam sendiri.” Dia melepaskan tanganku kemudian masuk ke toko itu sendiri.

Diam-diam, aku membeli satu pot  kecil bunga matahari. Dan cepat-cepat kembali ke tempat asalku. Yoona datang membawa sebuket bunga lily di tangannya. Cepat-cepat aku menyembunyikan bunga matahari itu di belakang badanku.

“Kau membeli bunga itu?”tanyaku.

“Ani..” dia menggeleng. “Aku mendapatkannya secara gratis.”ujarnya senang. “Seorang namja yang ada disana bilang kalau aku seperti bunga lily, cantik dan lembut. Lalu dia memberikanku bunga ini dengan gratis sebagai hadiah. Haaaa aku merasa beruntung hari ini.”lanjutnya dengan antusias.

“Cantik dan lembut? Omong kosong apa itu? Namja itu pasti belum tau bagaimana kau yang sebenarnya. Cih..kau ini bisa-bisanya menerima bunga dari orang yang tak kau kenal.”

“Aish, kau pasti sirik ya? Kau ingin bunga gratis juga?”ejeknya.

“Sudahlah ayo pulang.”ajakku. Yoona berjalan di depanku dengan riang. Sedangkan mukaku menjadi kusut. Bunga ini..sepertinya tak bisa ku berikan padanya. Dia sudah terlalu gembira dengan bunga lily itu. Aku terlalu pengecut untuk memberi bunga matahari itu padanya. Terlebih ketika aku tau siapa orang yang memberikan  bunga lily itu.

Siwon hyung yang memberi Yoona bunga lily itu. Untuk pertama kalinya, aku melihat Yoona seperti ini. Biasanya dia bersikap dingin terhadap orang yang tidak dikenalinya. Tapi dengan Siwon hyung dia berbeda. Baru saja bertemu Yoona mau menerima bunga darinya. Aku bisa merasakan, bahwa akan terjadi sesuatu diantara kami.

 

Sesampainya aku di rumah, Siwon hyung langsung menhampiriku.

“Ya! Bagaimana mungkin kau bisa kenal dengan yeoja secantik dia dan tak mengenalkannya padaku?”

“Yeoja? Yeoja yang mana?”tanyaku pura-pura tak tau. Padahal aku tau persis bahwa yeoja yang hyung maksud adalah Yoona.

“Aigoo kau tak usah berpura-pura. Aku melihatnya sendiri. Kau dan yeoja itu di toko bunga bersama. Apa dia yeojachingu-mu?”tanya hyung.

Ingin sekali aku menjawab bahwa Yoona adalah yeojachingu ku sehingga tak ada yang bisa merebutnya dariku termasuk hyung-ku sendiri. Namun apalah daya..

“Dia sahabatku hyung.”ungkapku. Aku yakin, aku akan menyesal seumur hidupku telah mengatakan ini padanya.

“Oh ya? Assa!! Dengan begitu aku bisa mendekatinya bukan? Apakah dia sudah punya namjachingu? Kau mau kan membantuku mendekatinya?”tanya hyung bertubi-tubi. Hyung berhasil membuatku ingin lompat dari gedung tertinggi saat ini juga.

 

“Kyuhyun-ah!!!”teriak eomma. Syukurlah, panggilan eomma membuatku bisa menghindar dari setiap pertanyaan hyung tentang Yoona.

 

***

“Mwo? Dia kakakmu???!!!”tanya Yoona histeris.

“Ne, dia kakakku. Ceritanya sangat panjang. Dia dari Amerika dan kembali ke Seoul beberapa hari yang lalu.”jawabku.

Begitu mengejutkan ketika pulang sekolah Siwon hyung sudah ada di depan gerbang sekolahku. Dia datang hanya untuk berkenalan dengan Yoona. Yoona sama seperti yeoja lainnya yang akan tersipu malu bila berkenalan dengan namja setampan Siwon hyung. Tapi, dia tetap Yoona yang ku kenal. Saat hyung mengajaknya pergi, Yoona menggeleng dan memilih untuk pergi bersamaku. Meskipun hyung merasa kecewa, tapi aku yakin dia tak akan berhenti sampai disini.

 

“Sepertinya dia menyukaimu, Yoong.”ucapku ketika sedang mengantri untuk membeli es krim. Yeoja yang satu ini suka sekali makan es krim kapanpun dimanapun bahkan saat kita akan menonton film di bioskop sekalipun.

“Jika memang iya, kenapa? Kau cemburu Choi Kyuhyun?”ungkapnya sambil tersenyum jahil.

“Jangan terlalu percaya diri, Nona Im.”bantahku. Seandainya dia tau bagaimana mendidihnya aku saat hyung terus bertanya tentangmu dan mendekatimu. “Kajja. Film nya sudah mau dimulai.”ajakku.

“Cih, jawaban macam apa itu.”ungkapnya kemudian langsung menggandeng tanganku dan berjalan mengikutiku. Aku hanya mengacak-acak kepalanya sambil tersenyum. Bagaimana bisa aku menyerahkanmu pada namja lain? Meskipun namja itu kakakku sendiri rasanya aku tak sanggup.

 

“Kyu, es krim nya enak sekaliiii.”celotehnya.

“Suuut. Jangan berisik Yoong, ini bioskop.”kataku sambil membekap mulutnya. Yoona langsung menggembungkan pipinya dan berhasil membuatku gemas. Aku mencubit pipinya kemudian kembali konsen ke film yang sedang kami tonton.

“Aigoo..saking lucunya aku kau sampai tega mencubit pipiku seperti itu, Kyu. Akui saja..kau menyukaiku kan?”ungkap Yoona dengan polosnya dan berhasil membuat jantungku seakan berhenti berdetak. “Jika kau diam, maka ku anggap jawabannya adalah iya.”balasnya sambil tertawa.

Aku hanya tersenyum dan tak menanggapi jawabannya. Agar dia tau, bahwa aku memang menyukainya.

 

***

“Kondisi jantung Siwon kembali melemah.”ungkap Dr. Han sambil memperhatikan hasil scan.

“Tapi masih bisa disembuhkan, bukan?”tanya appa penuh harap.

“Bisa, namun kemungkinannya kecil. Seperti yang anda ketahui, penyakit bawaan dari lahir seperti ini memang sulit untuk disembuhkan. Buruknya, cepat atau lambat penyakit yang diderita Siwon akan merenggut nyawanya.”ungkap Dr. Han yang membuat eomma semakin lemas.

 

Aku dan Ahra noona mendengar pembicaraan itu. Kami berdua sangat terpukul mendengarnya. Ku kira saat hyung kembali ke Korea penyakitnya sudah hilang. Namun penyakit itu muncul lagi. Eomma memergoki hyung yang sedang memegang jantungnya dan dia terlihat kesakitan. Tak lama dari itu hyung pingsan dan segera di bawa ke rumah sakit.

“Eomma, appa..”ucap hyung.

“Ne, Siwon-ah?”jawab eomma.

“Aku ingin menjadi seorang dokter, bolehkan?”

“Tentu saja.”jawab appa. “Tapi kau harus sehat dulu sekarang agar kau bisa menjadi seorang dokter.”

 

“Noona, kau pernah merasakan jatuh cinta bukan?”

“Tentu saja.”jawab Ahra noona.

“Aku mencintai seorang yeoja. Ku rasa cintaku ini membuatku kuat. Aku akan berusaha sembuh untuknya. Aku ingin menjadi seorang dokter, menyembuhkan penyakitku, dan mengejar Yoona.”ungkap hyung yang berhasil membuatku bagai ditusuk ribuan belati.

Seketika noona langsung menatap ke arahku. Dia seolah tak percaya mendengar perkataan Siwon. Aku tau, noona tau persis bahwa aku menyukai Yoona. Bahkan sebelum hyung hadir diantara kami rasa itu sudah ada.

“Kyu, jangan beritahu Yoona tentang penyakitku, jebbal. Kau mau kan membantuku mendapatkan Yoona?”

Aku hanya diam. Perkataan hyung barusan sukses membuat mulutku terkunci dan badanku seolah kaku.

 

***

“Kau mengenali yeoja yang Siwon maksud?”tanya appa saat kami semua sedang duduk di ruang keluarga, terkecuali Siwon Hyung yang masih di rawat di rumah sakit. Aku tetap melanjutkan aktivitasku, yaitu bermain game. Mencoba mengalihkan pikiranku mengenai semua ini. Singkatnya,  aku tak tau harus berkata apa. “Kyuhyun-ah!”ulang appa.

“Ne, aku mengenalinya. Dia Yoona, appa. Yoona, yang selalu kemari bersamaku.”jawabku dengan nada dingin. Ahra noona mulai terlihat cemas, begitupun dengan eomma. Sepintas, aku tau arah pembicaraan ini dan ketakutanku sepertinya akan menjadi kenyataan.

“Menurut appa, Yoona bisa menyembuhkan penyakit Siwon perlahan.”

Kami semua diam seketika. Semua aktivitas yang aku, noona dan eomma lakukan terhenti seketika.

“Yeobbo..”kata eomma.

“Semenjak Siwon mengenal yeoja itu, semangat hidupnya menjadi lebih tinggi, Dia semakin semangat untuk hidup bahkan dia ingin menjadi seorang dokter.”ungkap appa.

“Permisi, aku akan keluar sebentar. Aku sepertinya butuh udara segar.”kataku yang tak kuat lagi. Aku memilih untuk keluar dari pembicaraan ini daripada harus terus mendengar appa yang secara tidak langsung menyuruhku menyerahkan Yoona pada Siwon hyung.

“Kyuhyun-ah!!!”panggil eomma dan noona secara bersamaan.

 

Satu-satunya tempat dimana aku bisa menemukan ketenangan adalah Yoona. Hanya Yoona yang bisa membuatku tenang. Pembicaraan appa tadi sukses membuat kepalaku sakit. Sehingga aku bertekad mengunjungi rumah Yoona malam-malam begini.

“Yoona-ya!!!”teriakku dari depan rumahnya. “Yoong!!!”teriakku lagi.

Yoona membuka tirai kamarnya. Dia terkejut melihatku yang sedang berdiri di depan rumahnya. Dengan kilat dia menutup kembali tirai kamarnya dan berlari menghampiriku.

“Kyuhyun-ah?”

Aku langsung berlari dan memeluk yeoja itu erat-erat. Bagaimana bisa aku menyerahkan yeoja yang aku cintai selama ini? Aku berkorban untuk tak pernah menyatakan perasaanku padanya agar kami bisa terus bersama. Dan sekarang aku harus merelakan Yoona begitu saja?

Tapi aku bisa apa? Aku juga tak tega melihat hyung kesakitan seperti itu. Ketika Yoona menjenguknya, kondisi hyung berubah drastis. Sampai-sampai Dr. Han heran dibuatnya. Yoona yang tau bahwa hyung sakit karena kelelahan begitu menyemangatinya untuk sembuh. Apalagi jika dia tau keadaan hyung yang sebenarnya? Apakah yeoja itu akan terus ada disamping hyung?

Aku tau, aku tak boleh egois. Tapi, apakah hyungku juga tidak egois? Menurutku kami sama-sama egois. Kami sama-sama ingin mendapatkan yeoja yang kami cintai.

“Gwenchana?”tanya Yoona yang terlihat khawatir.

Aku hanya terdiam. Yoona tak berkata apa-apa lagi melihat aku yang terdiam. Sepertinya dia mengerti bahwa aku sedang tidak baik-baik saja dan membutuhkan dirinya agar hatiku bisa lebih tenang. Yoona membiarkanku memeluknya untuk beberapa menit. Dia juga mengelus kepalaku dengan lembut dan penuh dengan kasih sayang.

“Kau mau kan menemaniku melihat bintang malam ini?”ajak Yoona.

“Ne, tentu saja.”balasku sambil tersenyum.

 

Kami berdua pun pergi ke taman belakang rumah Yoona. Yoona langsung menyuruhku duduk dan menselonjorkan kakiku. Yoona melakukan itu ternyata agar dia bisa berbaring di pahaku. Tanpa meminta ijin dariku, dia langsung berbaring di pahaku sambil memperhatikan bintang di langit yang kalah cantik dari manik-manik mata Yoona.

“Yoongie-ya.”panggilku dengan lirih.

“Ne?”jawabnya yang fokus menatap langit yang penuh dengan bintang sambil membaringkan badannya di pahaku.

“Menurutmu Siwon hyung seperti apa orangnya?”

“Oppa orang yang baik dan menyenangkan. Tidak menyebalkan sepertimu. Hahaha.”jawabnya dengan tawa yang meledak. Aku tak tau apakah dia serius berbicara seperti itu atau hanya main-main memojokkanku. Im Yoona merupakan yeoja yang sulit ditebak.

“Jika kau harus memilih antara aku dan Siwon hyung kau akan pilih siapa?”tanyaku. Yoona yang heran mendengar pertanyaanku seketika terdiam. Kemudian dia bangun dan menatapku lekat-lekat.

“Kau ini bicara apa? Semakin sini semakin ngawur saja.”ungkapnya kemudian menjitak kepalaku sambil menggembungkan pipinya. “Kau ini tak tergantikan, Kyu. Kau tak bisa dibandingkan dengan namja manapun di dunia ini. Arra?”lanjutnya sambil tersenyum ke arahku dan membuatku semakin berat untuk melepaskannya.

 

***

 

“Kyuhyun-ah.”panggil hyung dari balik pintu kamarku.

Kondisi hyung sudah cukup membaik. Dokter sudah mengijinkannya untuk pulang sehingga dia sudah ada di rumah dan kini dia ada di balik pintu kamarku.

“Masuklah, hyung.”kataku sambil menyimpan buku yang sedang ku baca.

“Boleh aku bertanya sesuatu?”

“Ne, hyung.”

“Apakah kau mencintai Yoona?”tanyanya. Sontak aku terdiam. Apa yang harus ku katakan pada hyung? Jika aku berkata jujur bahwa aku mencintai Yoona aku yakin kondisi hyung akan drop kembali. Tapi…aku mencintai Yoona jauh sebelum hyung mengenal Yoona.

Dengan terpaksa dan berat hati aku menggelengkan kepalaku. Demi kesehatan hyung aku memutuskan untuk berbohong. Rasa sayangku pada hyung membuatku berani berbohong bahkan bersiap-siap untuk melepaskan Yoona begitu saja.

Terlihat raut kebahagiaan dan rasa lega pada Siwon hyung.

“Gomawo, Kyuhyun-ah.”ungkapnya sambil memelukku.

Di balik pelukan itu aku menahan rasa sakit yang teramat dalam. Mataku mulai terasa perih. Aku bersikeras untuk menahan bulir-bulir air mata yang sepertinya memaksa untuk keluar dari kedua mataku. Aku berpikir bahwa hyung-lah yang lebih membutuhkan Yoona dibandingkan denganku. Aku masih diberi waktu yang lebih sedangkan hyung tidak. Penyakitnya bisa merenggut nyawa hyung kapanpun dan dimanapun. Tak ada jalan lain lagi, selain melepaskan Yoona ke pelukan Siwon hyung.

Aku tau, Siwon hyung adalah namja yang tepat untuk Yoona. Hyung sesuai dengan namja yang selalu Yoona impikan. Aku berharap dengan hadirnya Yoona, hyung bisa selalu sehat dan bisa membahagiakan Yoona lebih dari yang aku lakukan.

 

Ku kira dengan melepaskan Yoona semuanya akan baik-baik saja. Namun, masalah malah bermunculan dan membuat semua menjadi semakin buruk. Malam itu juga, terjadi keributan hebat di kediaman Choi. Keributan pertama yang pernah ku saksikan dengan mata dan kepalaku sendiri.

Eomma dan appa bertengkar karena masalah ini. Appa begitu membela hyung sampai dia juga menyuruhku merelakan Yoona untuknya agar Siwon hyung bisa lepas dari penyakitnya. Setidaknya rasa sakit yang dia rasakan bisa berkurang sedikit demi sedikit dengan hadirnya Yoona. Tapi eomma tidak. Dia begitu memperjuangkan perasaanku dihadapan appa. Dia tak rela jika aku harus mengorbankan perasaanku. Menurut eomma ini tidak adil untukku.

Noona yang tak kuasa melihat pertengkaran itu hanya bisa menahan tangis sambil menenangkanku dan hyung. Bahkan noona mengajak kami untuk keluar dari rumah sampai pertengkaran gila ini selesai. Tapi, langkah kami terhenti saat eomma mengatakan suatu hal, suatu rahasia yang appa dan eomma simpan selama ini.

 

“Yang ada di kepalamu hanya Kyuhyun, Kyuhyun, dan Kyuhyun. Kau juga harus memikirkan Siwon yang nyawanya sedang terancam!!”teriak appa.

“Ya, memang benar aku hanya memikirkan Kyuhyun. Karena dia anakku. Dia darah dagingku, aku yang mengandungnya, dan aku tau apa yang dia rasakan.”balas eomma.

“Siwon juga anakmu!!!”bentak appa.

“Anakku? Ya, dia memang anakku. Tapi aku tak bisa mengorbankan perasaan anak kandungku hanya untuk anak dari hasil perselingkuhanmu, Choi Dong Min!”balas eomma yang tak kuasa menahan emosinya.

Kami bertiga terkejut bukan main. Terutama Siwon hyung. Dia merasa sangat terpukul. Apa yang dikatakan eomma benar? Bahwa ternyata Siwon hyung bukan anak kandung appa? Apa benar Siwon hyung merupakan anak dari hasil perselingkuhan appa? Semua ini rasanya tidak masuk akal.

 

Plak! Tanpa sadar appa menampar pipi eomma.

“Eomma!!”spontan aku dan Ahra noona menghampiri eomma. Sedangkan Siwon hyung hanya mematung disana. Dia masih tak percaya dengan apa yang dikatakan eomma.

“Kau bahkan sudah berani menampar istrimu sendiri hanya demi anak itu, Dong Min-ah. Kau lebih memilih anak itu dibanding aku dan Kyuhyun anak kandungmu.”kata eomma dengan air mata yang mulai bercucuran. “Baiklah, kalau memang itu pilihanmu biar aku yang pergi. Biar aku dan anak-anakku yang pergi.”

“Hae Won-ah!”

“Ayo, Kyuhyun kita pergi. Appa sudah tak menyayangi kita lagi. Ahra-ya, kajja kemarsi barang-barangmu dan kita pergi dari sini.”ajak eomma sambil menarikku dan noona.

“Tapi eomma..”bantah noona.

“Jika kau tak ingin pergi baiklah. Eomma dan Kyuhyun yang pergi dari sini. Jagalah appa-mu baik-baik.”

“Eomma!!!”teriak noona sambil menarik tangan eomma mencegahnya untuk pergi.

 

Eomma tetap pada pendiriannya meskipun noona menangis meronta-ronta meminta eomma dan aku untuk tetap tinggal. Appa membanting apapun yang ada di hadapannya sambil menitikkan air matanya. Sedangkan hyung, dia hanya menangis dan tak beranjak dari tempatnya.           Eomma yang melihatku tak ingin pergi segera membantu mengemarsi sebagian barang-barangku. Eomma memeluk noona dan mengecup kedua pipinya.

“Eomma menyayangimu, Ahra-ya. Jaga dirimu baik-baik.”

“Jangan tinggalkan kami eomma, jebbal.”rintihnya.

 

“Aku sudah menganggapmu sebagai anakku sendiri, Siwon-ah. Aku melupakan semua sakit hatiku terhadap ibumu dan merawatmu seperti anakku sendiri. Tapi ini kah balasanmu padaku? Jika kau ingin membalas dendam ibumu, balaskan luka itu padaku. Jangan pada anakku, jangan pada adikmu sendiri. Demi kau, Kyuhyun rela berpura-pura untuk tidak mencintai Yoona bahkan rela melepaskannya untukmu. Kau berhasil menghancurkan keluarga ini, Siwon-ah. Mungkin kau telah mengabulkan harapan eomma mu di alam sana. Chukkae.”kata eomma sesaat sebelum kami pergi.

“Ku titipkan Yoona padamu, hyung. Jaga dia baik-baik dan bahagiakan lah dia.” Kataku sambil tersenyum namun air mata menetes begitu saja.

 

***

 

Semuanya terjadi begitu cepat. Kejadian ini, semua kenyataan pahit ini, ku harap semuanya hanya mimpi buruk belaka. Dan ketika aku terbangun, semua kembali seperti semula. Namun inilah kenyataannya. Keluarga Choi harus hancur terpecah belah. Eomma memutuskan untuk sementara waktu tinggal di apartemen miliknya. Sampai semua urusan perceraian antara appa dan eomma selesai. Appa sempat datang kemari dan membujuk eomma untuk pulang. Hyung bahkan noona pun membujuk eomma untuk kembali. Namun, eomma yang keras kepala dan terlanjur sakit hati tetap bersikeras untuk pergi.

“Eomma, kita akan pergi kemana?”tanyaku ketika melihat eomma mengemarsi barang-barang kami.

“Kita ke Amerika, Hyun-ah. Kita bisa membuka lembaran baru disana.”jawab eomma yang masih tetap fokus mengemarsi barang-barang.

“Kapan?”

“Besok dini hari. Maafkan eomma, eomma tidak mendiskusikannya terlebih dahulu denganmu.”ungkap eomma yang kemudian mengambil nafas panjang. Eomma kemudian menghentikan aktivitasnya dan memelukku. “Gwenchana, semua akan bai-baik saja. Kita akan bahagia lagi seperti dulu. Eoma janji.”ungkap eomma sambil mengelus kepalaku.

“Eomma, ada sesuatu yang ingin ku selesaikan sebelum aku pergi.”

“Baiklah, jaga dirimu baik-baik.”

 

Pagi itu aku langsung pergi ke rumah Yoona. Semenjak aku dan eomma pergi dari rumah aku belum pernah bertemu dengan Yoona. Ketika aku mengetuk pintu, Yuri noona lah yang membukanya. Dia bilang Yoona masih di kamar, mungkin dia masih tertidur. Yuri noona mempersilahkanku untuk naik ke kamar Yoona.

Perlahan ku ketuk pintu kamar itu. Tidak ada respon dari yeoja itu setelah beberapa kali aku mengetuk pintu dan memanggil namanya. Yuri noona mungkin benar. Yoona masih tertidur. Aku pun akhirnya membuka pintu kamar Yoona yang untungnya tidak terkunci. Benar saja, yeoja itu masih tertidur dengan pulasnya.

Aku berjalan menghampiri Yoona dan duduk di kursi meja rias sebelah kasurnya. Aku menggeser kursi itu sampai berdekatan dengan Yoona. Aku mengelus kepala yeoja itu dengan lembut. Mungkin ini terakhir kalinya aku bisa menatap Yoona. Yoona menggeliatkan badannya dan perlahan mata cantik itu terbuka. Dia sedikit terkejut ketika melihat kehadiranku.

“Kyuhyun-ah?”ucap yeoja itu sambil menggosok-gosokkan matanya.

“Aish, kau ini pemalas sekali Nona Im! Ini sudah siang. Cepat bangun dan siap-siap. Aku tunggu 10 menit di bawah.”kataku sambil menjitak keningnya.

“Ya! Appo! Sebentar lagi, Kyu aku masih mengantuk.”ungkap Yoona sambil menarik selimutnya kembali.

“Aku akan mengajakmu pergi hari ini. Kalau 10 menit kau belum siap, aku pergi sendiri saja.”kataku lalu pergi.

“Ya!! Kau mau mengajakku kemana?? Kyuhyun-ah!!”teriak Yoona tapi aku terus berjalan dan tak menghiraukannya.

 

Sudah 10 menit aku menunggu Yoona dan dia akhirnya datang. Dia terlihat kelelahan, napasnya terengah-engah dan dia memegang lututnya yang seolah-olah akan lepas dari kakinya.

“Kau telat 12 detik Nona Im.”protesku.

“Aku tak perduli. Kajja kau mau mengajakku kemana?”tanya Yoona yang langsung menggandeng tanganku.

“Kau mau kemana hari ini?”tanyaku.

“Hmm, lotte world? Bagaimana?”tawarnya.

“Baiklah, jika itu yang kau inginkan. Kajja.”

 

“Kau kemana saja, Kyu?”tanya Yoona sambil menyenderkan kepalanya di bahuku saat kami berdua duduk di bis.

“Aku tak kemana-mana. Banyak sekali hal yang tak terduga terjadi.”jawabku.

“Misalnya?”

“Kau ini cerewet sekali.”protesku. Mana mungkin aku menceritakan semua ini padanya lalu menceritakan padanya bahwa ini terakhir kalinya kita bertemu. Menceritakan bahwa aku mencintainya dan aku merelakannya demi hyungku.

Yoona hanya menggembungkan pipinya. “Menyebalkan sekali.”

 

Yoona

 

              Pernahkah kau mencintai sahabatmu sendiri? Jika kalian bertanya ini padaku maka ku jawab ya. Aku mencintai sahabatku, Kyuhyun. Aku pertama kali melihatnya di ruang musik sekolah kami saat penerimaan murid baru. Sore hari aku melihat seorang namja sedang bermain piano. Aku yang penasaran langsung mengintip namja itu. Namja itu sangat tampan. Keesokan harinya saat masuk kelas ternyata namja itu sekelas denganku. Dan dia bermana Choi Kyuhyun. Omona, jantungku selalu berdegup kencang bila ada di dekatnya.

Satu hari Seoul diguyur hujan yang sangat deras. Saat pulang sekolah, aku melihat Kyuhyun sedang menunggu hujan dan nampaknya dia nekat akan menerobos hujan. Aku yang melihatnya langsung menghampiri namja itu dan mengajaknya memakai payungku. Sejak saat itu, kami bisa sedekat ini.

Pagi itu Kyuhyun tiba-tiba sudah ada di kamarku dan mengajakku pergi. Tumben sekali, biasanya dia akan mengabariku jika akan mengajakku keluar. Lalu, aku memilih untuk pergi ke Lotte World. Setelah ujian akhir kemarin kepalaku benar-benar penat. Selama liburan aku juga belum pergi kemana-mana. Jadi ku kira Lotte World merupakan tempat yang tepat.

“Tuan Choi, kita akan naik wahana apa?”tanyaku yang masih menggelayut menggandeng lengan namja itu. Entah kenapa rasanya sulit sekali untuk bisa lepas dari Kyuhyun.

“Apapun yang kau inginkan, Nona Im.”balasnya sambil mencubit pipiku.

“Arraseo, kalau begitu aku ingin bermain ice skating. Kajja!”kataku dengan bersemangat lalu menariknya untuk segera bermain ice skating.

 

Kyuhyun memang payah dalam bermain ice skating. Lihat saja dia terlihat tidak seimbang dan beberapa kali hampir terjatuh. Aku pun mengulurkan tanganku untuk membantunya. Namun saat dia baru menerima uluran tanganku, dia tak bisa menyeimbangkan tubuhnya hingga kami hampir terjatuh. Namun Kyuhyun menarikku ke dalam pelukannya dan aku memeluknya erat-erat hingga posisi kami kembali seimbang.

Kami berdua terdiam dalam posisi ini. Aku tak melepas pelukan ini begitupun juga Kyuhyun. Kami sama-sama tenggelam dalam suasana ini. Suasana nyaman dan hangat. Perlahan Kyuhyun melepas pelukannya. Setelah itu Kyuhyun merapikan rambut yang menghalangi wajahku. Entah apa yang merasukinya, dia semakin mendekat dan mencium keningku dengan lembut. Jantungku rasanya akan berhenti berdetak. Baru pertama kali Kyuhyun menciumku. Sontak kami tertawa terbahak-bahak. Dia tak berkata apa-apa. Aku menjadi kaku dan tak tau harus berbuat apa. Kyuhyun seolah menarik semua kesadaranku.

“Omo, appo!!”teriakku yang kemudian terjatuh karena salah fokus dan tak lupa menarik Kyuhyun untuk jatuh bersamaku.

“Ini akibatnya jika kau mengajakku bermain ice skatting, Im Yoon Ah.”protesnya sambil megacak-acak rambutku.

 

Setelah kejadian aneh itu, kami berdua memutuskan untuk makan. Karena cacing-cacing di perut namja jelek itu sudah tak bisa dikendalikan. Rasanya aku tak ingin terus berlalu dengan cepatnya. Aku ingin waktu berhenti ketika aku bersama Kyuhyun. Sehingga kami bisa menikmati waktu seperti ini lebih lama. Tuhan rasanya tidak adil. Ketika aku bersama Kyuhyun waktu begitu cepat berlalu, namun ketika aku jauh darinya dan merindukannya waktu begitu lama berjalan.

Seperti biasa kami akan memesan banyak makanan mengingat aku ini tukang makan. Ani, bukan hanya aku saja tapi tuan Choi yang sedang melahap makannya pun sama sepertiku, tukang makan. Kami yang menyadari bahwa waktu terus berjalan dengan cepat memanfaatkan waktu sebaik mungkin dengan menaiki banyak wahana. Termasuk roller coaster

 

“Kau yakin akan menaiki wahana ini, Kyu?”tanyaku  ragu.

“Tentu! Ayo, Yoong ku jamin ini akan menyenangkan. Jangan bilang kau takut menaiki wahana ini.”balasnya sambil tertawa meremehkanku.

“Anio, tentu saja tidak. Kajja!”kataku dengan terpaksa. Padahal aku takut sekali dengan wahana ini. Bisa-bisa jantungku lepas jika aku harus menaikinya. Tapi namja jelek itu begitu meremehkanku. Aku tak suka bila diremehkan olehnya seperti itu. Sehingga mau tak mau aku harus mengiyakannya menaiki roller coaster.

 

“Yeaay!!!”kata Kyuhyun dengan semangatnya. Sedangkan aku? Aku terus berdoa dalam hati supaya aku baik-baik saja. “Wajahmu pucat sekali, hahaha.”lanjutnya sambil mencubit pipiku.

“Ya!! Appo!!!”protesku.

Perlahan roller coaster ini mulai berjalan. Kyuhyun yang melihatku ketakutan dengan cekatan memegang tanganku erat-erat. Dia berusaha membuatku nyaman dan tenang. Rasa takutku perlahan berkurang.

“Aaaaaa!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”kami berdua berteriak sekencang mungkin saat kecepatan roller coaster ini sudah sukses membuat jantungku hampir copot.

Namun aku berhenti berteriak ketika aku mendengar sesuatu yang begitu mengejutkanku. Mengalihkan seluruh perhatian dan seluruh ketakutanku. Namja itu…Kyuhyun..

“Im Yoona!!!!! Saranghaeyo!!”teriak Kyuhyun.

 

Aku menatapnya dengan penuh tanya. Apa yang dia katakan itu benar atau hanya main-main? Dia bilang dia mencintaiku? Ya Tuhan, apakah ini mimpi? Jika ini memang mimpi, jangan bangunkan aku dari mimpi indah ini.

Aku tak berani menanyakan soal teriakkannya di roller coaster tadi sampai detik ini. Saat langit sudah gelap dan saat kami akan berpisah. Aku canggung bila harus menanyakan hal ini padanya. Aku rasa dia tak serius dengan perkataannya. Lagipula kami kan bersahabat. Mungkin dia hanya mencintaiku sebagai sahabat. Bukan cinta untuk namja kepada seorang yeoja.

“Kyuhyun-ah, kau tak perlu mengantarku pulang. Eomma dan appa sedang dalam perjalanan untuk menjemputku kesini.”

“Jinja? Kalau begitu aku akan menunggu sampai orang tuamu menjemput.”balasnya.

Aku hanya mengangguk sambil tersenyum. Kejadian tadi sukses membuatku menjadi tak karuan dan bertindak aneh seperti ini. Kaku dan canggung.

“Kau baik-baik saja?”tanya Kyuhyun yang mulai khawatir.

“Ne, ak-ku baik baik saja.”kataku kaku.

Tiba-tiba Kyuhyun memakaikan jaketnya padaku. Bisa ku rasakan ada kupu-kupu yang menggelitik perutku. Namja ini membuatku jungkir balik seperi sedang menaiki roller coaster.

“Cuaca dingin sekali bukan?”

Lagi-lagi aku hanya mengangguk kaku sambil tersenyum. Ku lihat mobil eomma dan appa sudah ada di dekat tempat parkir. Benar saja, itu eomma. Jendela mobilnya terbuka lalu eomma melambaikan tangannya dan mengajakku untuk segera naik ke mobil.

“Kyu-ah, itu eomma dan appa. Aku harus pergi. Gomawo, aku senang sekali hari ini. Annyeong!”kataku sambil sedikit-sedikit berjalan dan melambaikan tangannya.

“Yoongie-ya!!”panggilnya.

 

Langkahku pun terhenti mendengar panggilan Kyuhyun. Namja itu berlari menghampiriku dan lagi-lagi dia memelukku dengan erat.

“Kyuhyun-ah?”tanyaku heran.

“Berisik sekali!”protesnya sambil tertawa. Setelah beberapa menit Kyuhyun melepas pelukannya. “Jaga dirimu baik-baik. Aku menyayangimu, Yoongie-ya.”lanjutnya sambil mencium keningku.

“Ya! Eomma dan appa sedang memperhatikan kita.”protesku.

“Arraseo, pergilah.”kata Kyuhyun yang kini mengelus lembut kepalaku.

 

Aku pun melangkah pergi sambil melambaikan tanganku. Namun entah apa yang merasukiku, entah apa yang mendorongku, aku berlari menghampiri Kyuhyun lalu mengecup pipi namja itu singkat dan berlari secepat mungkin lalu masuk ke dalam mobil. Omo, aku pasti sudah gila.

 

              “Eomma, jika kita cemburu melihat seorang namja bersama yeoja lain apakah itu wajar? Maksudku, mereka berdua tidak memiliki hubungan yang khusus namun saling cemburu apakah itu wajar? Lalu jika salah satunya sudah mengatakan sayang dan cinta apa itu juga wajar?”tanyaku sambil bersender di pundak eomma.

Eomma mengelus rambutku sambil tersenyum. “Yoona-ya, jika sudah ada rasa cemburu yang berlebihan bisa jadi kalian saling menyukai. Kau menyukai Kyuhyun, Kyuhyun menyukaimu.”terkanya.

“Eomma! Siapa bilang itu Kyuhyun??”protesku malu.

“Yoona-ya, kau bisa berbohong kepada seluruh orang di dunia ini. Tapi, kau tak akan bisa membohongi eomma yang sudah mengandungmu dan pada hatimu sendiri.”balas eomma.

“Jadi, apakah aku harus mengatakan pada Kyuhyun yang sejujurnya eomma?”tanyaku.

“Tentu. Apalagi jika Kyuhyun sudah menyatakan perasaannya padamu.”

“Appa! Bisakah kita kembali ke lotte world? Ada yang ingin ku katakan pada Kyuhyun. Sebentar saja.”kataku.

Appa pun memutar kembali mobilnya. Aku harus mengatakan yang sebenarnya mengenai perasaanku. Aku harus mengatakan bahwa selama ini aku mencintainya. Aku tak perduli jika pada kenyataannya dia hanya mencintaiku sebatas sahabatnya. Aku hanya ingin dia tau, bahwa aku mencintainya dengan segenap hatiku.

Aku langsung mengeluarkan ponselku dari tas kemudian mencari kontak namja itu. Setelah menemukannya aku langsung menghubungi Kyuhyun.

“Kau dimana? Tunggu aku disana. Ada yang ingin ku katakan padamu…”

 

Namun, sepertinya Tuhan berkehendak lain..

“Yeobbo!! Awas!!”teriak eomma.

Mobil appa bertabrakan dengan mobil yang melawan arah dan mobil kami terseret hingga menabrak pembatas jalan.

Buk!!!! Bisa ku rasakan sesuatu menghantam kami dan bisa ku rasakan kepalaku membentur sesuatu hingga kepalaku terasa begitu sakit. Samar-samar aku mendengar suara  Kyuhyun yang berteriak memanggil-manggil namaku berulang kali.

“Yoona-ya!! Gwenchana?? Yoong? Yoongie-ya!!!!!”

 

Aku mencoba untuk meraih ponselku dengan sekuat tenaga. Tanganku yang berlumuran darah rasanya tak mampu meraih ponsel itu.

“Yoona-ya?? Jawab aku?!!!”teriaknya semakin menjadi-jadi.

Rasanya aku tak sanggup lagi. Pandanganku menjadi kabur dan semuanya menjadi gelap.

 

Kyuhyun

 

              Aku mungkin sudah gila. Seharian ini aku benar-benar menunjukkan bahwa aku mencintai yeoja itu, Im Yoona. Mulai dari memeluknya, mencium keningnya, bahkan berteriak bahwa aku mencintainya. Aku senekat itu mungkin karena aku tak punya waktu lagi. Karena setelah ini aku harus pergi jauh dan meninggalkan Yoona.

Setelah kami berpisah tiba-tiba Yoona menghubungiku dan berkata bahwa ada sesuatu yang ingin dia katakan padaku. Namun tak lama kemudian aku mendengar suara gemuruh. Suara hantaman yang kencang. Aku mendengar suara eomma-nya Yoona yang berteriak. Setelah kejadian itu suara Yoona menghilang. Berulang kali aku meneriakkan namanya namun nihil, tak ada jawaban disana.

Aku begitu khawatir dan ketakutan. Aku takut terjadi sesuatu disana. Dengan cekatan aku menghubungi Yuri noona untuk memastikan. Sialnya Yuri noona sulit untuk dihubungi. Setelah beberapa kali aku mencoba akhirnya aku bisa tersambung dengan noona.

“Noona..”panggilku.

“Kyu, Yoona masuk rumah sakit. Yoona dan orang tuaku mengalami kecelakaan.”ungkap Yuri noona sambil terisak.

Dengan cekatan aku pergi ke rumah sakit. Aku harus segera menemui Yoona. Aku harus segera memastikan bahwa yeoja itu baik-baik saja.

 

Dengan air mata bercucuran aku mencari-cari ruangan yang Yuri noona ucapkan di telepon. Lalu aku menemukan Yuri noona yang sedang menangis di pelukan Yesung hyung. Aku melangkah perlahan menghampiri mereka. Yesung hyung menunjukkan ruangan tempat Yoona di rawat. Aku membuka daun pintu itu perlahan dan seketika lututku terasa lemas sehingga aku terjatuh. Air mata pun jatuh tak tertahan. Aku tak kuasa melihat Yoona yang terbaring lemah disana. Wajahnya yang cantik itu kini penuh dengan luka dan darah.

Aku semakin mendekat dan menangisi tubuh Yoona yang masih terbaring kaku.

“Irreona, palli Yoong, irreona!!!”teriakku sambil terisak dan mengguncang-guncangkan tubuh yeoja itu.

 

Suster pun menyuruhku keluar untuk menenangkan diri. Dia berkata bahwa Yoona tak boleh diganggu dulu. Aku memaksa untuk tetap berada di ruangan itu tapi suster dan dokter tetap memaksa. Sampai akhirnya Yesung hyung yang membujukku dan aku terpaksa keluar dari ruangan itu. Aku tak bisa berhenti menangis. Aku tak bisa jika harus melihatnya pergi secepat ini.

 

Bagaimana bisa aku meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini, Yonggie-ya? Aku tak bisa, aku semakin sulit untuk melepaskanmu. Hal yang membuatku semakin sulit untuk meninggalkannya adalah ketika aku tau bahwa orang tua Yoona tak bisa di selamatkan. Mereka sudah tiada.

“Eomma, Yoona kecelakaan dan dia sedang koma. Tapi orang tuanya tak bisa diselamatkan. Ottoke?”

“Kita harus tetap pergi, Hyunie. Kita tak punya jalan lain. 2 jam lagi kau harus sudah sampai bandara. Kau harus melakukan ini demi kebaikan kita semua. Demi kebaikan hyung-mu juga. Arraseo? Tunggu eomma disana. Eomma akan menjemputmu.”

 

              Aku menutup telepon dari eomma dengan lemas. Memang aku tak punya jalan lain. Aku harus pergi. Demi hyung, demi appa, dan untuk kebahagianku juga eomma. Mungkin aku dan Yoona tak bisa bersatu. Inilah akhir dari segalanya.

Aku mengambil ponselku kembali. Mencari kontak Siwon hyung lalu menghubunginya.

“Hyung, Yoona dalam keadaan kritis. Dia koma. Kemarilah, dan berjanji padaku. Kau harus selalu ada untuknya. Jangan pernah menyakiti Yoona. Kau harus membuatnya bahagia. Jangan sampai aku menyesal telah merelakan Yoona untukmu. Bahkan kalau bisa, kau harus bisa membuatnya melupakanku. Aku mencintai Yoona, hyung. Cintailah dia melebihi aku mencintainya.”kataku yang langsung menutup telepon tanpa mendengar respon hyung.

 

Sebelum pergi diam-diam aku masuk ke ruangan tempat Yoona di rawat. Keadaannya belum juga berubah. Aku pun mendekat ke arahnya.

“Jaga dirimu baik-baik, Yoong. Mianhae, mianhaeyo. Semoga kau selalu bahagia. Saranghaeyo, Im Yoona. Neomu saranghaeyo.”kataku sambil mengecup keningnya untuk yang terakhir kali.

“Kyuhyun-ah.”panggil eomma. “Kajja.”ajaknya.

Eomma pun meraih tanganku kemudian mengajakku pergi. Aku hanya bisa melangkah dengan berat hati. Langkah demi langkah telah membuatku semakin jauh padanya, pada yeoja yang aku cintai.

 

“Gwenchana, semua akan baik-baik saja.”ungkap eomma menenangkanku. Aku pun memeluk eomma dan menangis sejadi-jadinya. Meskipun air mataku terkuras habis namun rasa sakit yang ku alami tak kunjung hilang.

 

Keberangkatan kami tidak tertunda. Aku dan eomma tetap pergi ke Amerika. Setelah 1 tahun disana, eomma bertemu dengan teman lamanya, Lee Hyun Shik. Seorang pengusaha terkenal Korea yang mengibaskan sayap bisnisnya ke Amerika dan Eropa. Keluarga besar Lee memiliki banyak perusahaan yang tak bisa bisa diremehkan. Termasuk anak sulung keluarga Lee yaitu Lee Hyun Bin, yang memiliki anak semata wayang, Lee Donghae.

Tak lama kemudian, eomma memutuskan untuk menikah dengannya. Sehingga kami memiliki keluarga baru, aku, eomma, appa, dan adik tiriku Lee Seohyun. Aku dan eomma membuka lembaran baru kami disini. Memiliki kehidupan baru kami dan  menutup kisah lama kami. Melupakan semua luka yang kami alami, meskipun sangat sulit untuk hilang.

 

Yoona

 

              Mataku perlahan terbuka. Kepalaku masih terasa berat. Ku perhatikan sekitarku, ini bukan kamarku. Ini bukan kamar eonni. Aku memperhatikan lagi dengan seksama, melihat tanganku yang terhubung oleh selang infuse. Aku berada di rumah sakit. Aku melihat Yuri eonni yang tertidur di pelukan Yesung oppa. Dan ketika aku melihat ke sebelah kananku, disana tertidur pulas seorang namja. Namun, dia bukan namja yang ku cintai. Bukan namja yang ku harapkan. Dia, bukan Kyuhyunku.

“Yoona-ya? Kau sudah bangun?”ungkap namja itu, Siwon  oppa.

Aku tak menjawab pertanyaannya. Aku masih kebingungan dan mencoba mengingat apa yang terjadi sampai-sampai aku bisa ada disini. Hingga akhirnya aku teringat. Aku berada di lotte world dengan Kyuhyun, aku pulang bersama eomma dan appa. Aku meminta untuk kembali ke lotte world karena ada yang ingin aku sampaikan pada Kyuhyun. Ya, aku ingin menyampaikan bahwa aku mencintainya. Namun, tiba-tiba sebuah mobil menghantam mobil kami hingga semua itu terjadi dan semuanya menjadi gelap sampai aku terbangun disini.

Namun dimana Kyuhyun? Apa dia tak tau soal kecelakaan ini? Lalu eomma dan appa, bagaimana keadaan mereka?

 

“Eonni!!!”teriakku.

Yuri eonni yang sedang tertidur sontak terbangun ketika mendengar suaraku. Dengan sigap eonni menghampiriku lalu memelukku.

“Syukurlah kau sudah sadar, Yoong.”

“Eonni, eomma dan appa…bagaimana keadaan mereka?”tanyaku.

Eonni malah diam. Dia menatap Yesung oppa seolah dia bingung harus menjawab apa. Aku  sangat terpukul ketika mendengar jawaban eonni. Eonni bilang, eomma dan appa telah tiada akibat kecelakaan itu. Aku menangis menjerit-jerit hingga kelelahan dan tak sadarkan diri.

 

 

Aku pun akhirnya siuman setelah beberapa jam. Namun tetap, Kyuhyun tak ada disini. Di dekatku hanya ada Ahra eonni dan Siwon oppa disampingnya. “Eonni.. Dimana Kyuhyun?”tanyaku. Ketika baru siuman hanya namja itu yang pertama kali terlintas dalam pikiranku.

“Yoona-ya, Kyuhyun..dia pergi. Setelah bercerai dengan appa eomma membawa Kyuhyun pergi.”

“Dia tak cerita apapun kepadamu, Yoona?”

Aku menggelengkan kepalaku dengan lemas. Bulir-bulir air mata mulai menetes dari pelupuk mataku. Aku tak kuasa untuk menahan rasa sakit yang ku alami. Lagi-lagi aku harus kehilangan orang yang ku sayangi.

Hatiku bagai ditusuk-tusuk oleh ribuan belati. Karena kecelakaan naas itu nyawa kedua orang tuaku harus terenggut. Dan ketika aku siuman akibat kecelakaan itu, namja yang ku harapkan ada untuk menghapus semua lukaku malah pergi dan menaburkan luka dihatiku dengan garam.

 

Apa salahku padamu, Kyuhyun-ah? Hingga kau dengan teganya meninggalkanku disini? Meninggalkanku yang sedang terluka dan membutuhkanmu. Aku tak sanggup menahan rasa sakit yang ku rasakan. Rasanya aku ingin mengakhiri hidup ini.

Dengan nekatnya aku mengambil sebuah pisau yang ada di piring bekas eonni memotong buah untukku. Aku mendekatkan pisau itu pada pergelangan tanganku. Mungkin dengan begini semua lukaku akan hilang. Aku mungkin gila, aku mungkin konyol bahkan aku pengecut. Tapi aku sudah tak kuat lagi. Tak ada Kyuhyun yang bisa membuatku kuat. Aku sudah kehilangan segalanya.

Pisau itu sudah semakin dekat dengan nadiku.

“Yoona-ya!!! Apa yang kau lakukan?!!”teriaknya lalu segera menghampiriku dan menjauhkan pisau yang sudah dekat dengan nadiku. “Kau sudah gila??!!”teriaknya lagi.

Darah bercucuran dari tanganku. Pisau itu baru menusuk sedikit kulitku. Siwon oppa yang terlihat khawatir segera mengambil obat lalu mengobati lukaku. Setelah itu oppa memelukku begitu saja.

“Jangan lakukan ini lagi, jebbal. Jika semua ini terlalu berat untuk kau tanggung sendiri, maka berbagilah denganku. Biar aku mengobati semua luka yang kau alami. Aku berjanji tak akan pernah menyakitimu, Yoona. Aku akan membahagiakanmu.”ucap oppa.

Semua ucapan Siwon oppa tak berarti apa-apa bagiku. Yang ku butuhkan hanyalah kau, Kyuhyun-ah. Cinta pertamaku, orang yang slalu ku cintai, dan akan menjadi cinta terakhirku. Aku mungkin akan membencimu seumur hidupku karena telah meninggalkanku seperti ini. tapi percayalah, dibalik rasa benci itu, selalu ada rasa cinta untukmu.

 

TBC

 

Semoga flashbacknya ga bikin bingung readers ya, semoga semakin ngerti sama alur ceritanya. Tunggu chapter selanjutnya yaaa, keep reading dan jangan lupa kasih saran, komen, sama masukan hehehe. Terima kasih udah baca ff ku.

51 thoughts on “Destiny (flashback story)

  1. Ceritanya dramatis kata*nya dramatis+so sweet banget😦 kasian yoona di tinggal kyuhyun. Wktu baca jadi menghayati ;(

  2. Omooo, nyesek bangeet ceritanya, kukira kyu dgn yoong pacaran rupanya sahabatan hiks hiks…kasihan yoona eon , kyu juga sih.
    Ff ini daebak banget,nguras air mata buaaanget.

  3. ini flashback kyuna story ya…
    miris baca jalan critanya mreka ..kasian kyu oppa..jdi yoona suka sma kyuhyun..tpi knapa akhirnya dia juga suka sma siwon..itu bneran suka apa terpaksa ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s