Destiny (Chapter 3)

img1417434705253

Destiny (Chapter 3)
 By : Park Hee Young
PG-15
Romance, Sad
Main Cast : Im Yoon Ah, Cho Kyuhyun, Lee Donghae
Support Cast :  Choi Minho, Seohyun, Jessica Jung, Choi Sulli
Disclaimer : FF pertama yang di publish nih, jadi maaf ya kalau ada typo, kata-kata yang nggak nyambung atau ceritanya yang gak jelas hehehe. Maaf juga kalau masih bikin bingung ceritanya. Respon sama sarannya di tunggu ya, thanks  and enjoy the story

Yoona

 

              “Pagi!!”sapaku saat memasuki kantor. Orang-orang berbalas menyapaku.

“Yoong! Kau harus coba ini! Menu baru di kedai kopi sebelah. Enak sekali…”tawar Taeyeon eonni.

“Eitss! Noona! Kau tidak boleh meracuni nya dengan meminum kopi terus!”bantah Minho. “Pagi Yoong!”kata Minho yang langsung merangkulku.

“Nona, semua dokumen yang anda minta kemarin sudah saya kumpulkan di meja kerja anda.”ungkap Sulli yang kemudian mengekor dibelakangku.

“Gomawo, Sulli-ah. Ya, Choi Minho. Pagi-pagi begini kau sudah menggelayut padaku seperti monyet saja. Sudah sana siap-siap di ruanganmu, banyak pemotretan hari ini. Arra? Lagian aku juga sibuk sekali. Jangan menggangguku.”kataku kemudian kembali berjalan dengan Sulli yang masih mengekor dibelakangku.

“Baiklah kalau begitu. Siang nanti kau harus makan siang denganku. Arraseo.”teriaknya. Aku hanya berkacak pinggang sambil menggeleng-gelengkan kepalaku melihat tingkah namja yang satu ini.

“Choi Minho, dia kelihatannya menyukai nona.”ungkap Sulli.

“Hahahahaha.”tawaku seketika meledak mendengarnya. “Mana mungkin, kami ini bersahabat sejak kami SMA. Mustahil..”kataku sambil tertawa.

Sulli hanya tersenyum simpul. “Oh ya nona, saya kembali ke ruangan saya. jika ada apa-apa, bisa langsung hubungi saya.”kata Sulli yang kemudian keluar dari ruangan kerjaku.

 

Aku mendapat telepon dari Ahra eonni pagi ini. Dia bilang pihak rumah sakit memintanya untuk mengambil barang-barang oppa yang masih tertinggal disana. Berhubung eonni tak bisa, dia memintaku untuk menggantikannya mengambil barang-barang itu.

Sialnya aku harus menghadap Nona Jung karena ada dokumen yang harus aku berikan padanya pagi ini sehingga mau tak mau aku harus menyelesaikan dokumen ini baru ke rumah sakit.

“Sulli-ah, tolong ke ruanganku.”panggilku lewat telepom kantor.

“Baik nona.”

 

Tak lama Sulli mengetuk pintu dan masuk ke ruanganku.

“Ada apa, nona Im?”tanyanya.

“Tolong simpan dokumen ini ke meja Nona Jung. Aku harus ke rumah sakit sekarang. Jika ada yang bertanya, bilang aku sedang pergi ke rumah sakit.”kataku sambil mengenakan coat-ku karena di luar sangat dingin.

“Ada apa nona kalau boleh saya tau? Apakah nona sakit?”

“Anio, aku hanya akan membawa barang Siwon oppa yan tertinggal disana. Aku sudah beritahu Presdir tadi. Jadi kau tak usah khawatir.”jelasku.

“Ne, hati-hati Nona Im.”katanya sambil membawa dokumen lalu pergi dari ruanganku.

Aku mengangguk dan pergi ke rumah sakit untuk membawa barang-barang oppa yang tertinggal disana. Meskipun sudah setahun oppa meninggal, tapi orang-orang disekitarnya sama sekali tak mau menghapus jejak Siwon oppa. Buktinya, mereka masih mengosongkan ruangan Siwon oppa dan menyimpan semua barangnya disana hingga hari ini. Selain dokter dan suster disana, pasien juga selalu merindukan kehadiran dokter yang tangguh dan handal itu. Ahra eonni bilang akan ada dokter baru yang menggantikan posisi Siwon oppa sehingga mau tak mau bekas ruangan oppa harus dibersihkan dan barang-barang oppa yang tertinggal disana harus diambil juga.

Aku berjalan di lorong rumah sakit menuju ruangan oppa. Poster oppa juga masih tertempel di beberapa sudut rumah sakit salah satunya poster oppa dengan anak-anak untuk acara penggalangan dana yayasan kanker yang ada di rumah sakit ini. Acaranya belum diselenggarakan, orang yang paling bersemangat akan acara ini malah telah tiada.

“Nona Im?”sapa salah satu suster yang ku kenal. Suster Nam. “Ada apa kemari?”tanyanya.

“Barusan Ahra eonni memintaku untuk menggantikannya mengambil barang-barang oppa yang masih ada di ruangannya.”jawabku.

“Oh itu, baru saja diambil nona.”ungkapnya.

“Diambil? Oleh Ahra eonni?”tanyaku heran.

“Ani, oleh dongsaeng nya Dr. Choi.”

Jawaban suster Nam membuatku tiba-tiba membeku. Dongsaeng? Dongsaeng oppa yang mana? Apa jangan-jangan…ani, ini tidak mungkin.

“Dongsaeng yang mana? Namja atau yeoja?”tanyaku. Aku bisa merasakan tubuhku bergetar.

“Namja, nona Im.”jawabnya. Lututku seketika lemas dan hampir terjatuh. Untung Suster Nam memegang lenganku sehingga aku masih bisa menjaga keseimbanganku meskipun rasanya sangat sulit sekali.

“Kapan dia kesini?”tanyaku yang tak bisa menyembunyikan rasa panik.

“Baru saja. Dia baru saja pergi dari ruangan dokter Choi.”

Entah apa yang merasukiku saat ini, aku langsung berlari mencari namja itu kemana-mana. Suster Nam terus meneriaki namaku tapi aku tak menghiraukannya. Seluruh perhatianku fokus pada namja itu. Padahal aku tak tau apakah aku siap bertemu dengannya? Entah apa yang akan ku lakukan dan katakan ketika bertemu dengannya. Tapi aku seolah tak perduli. Aku terus mencarinya kemana-mana seperti orang gila.

Buk!!!!

Saking  kalutnya aku menabrak seorang namja yang membawa kardus ditangannya. Tapi aku langsung berlari tanpa memperhatikan namja yang ku tabrak tadi. Yang aku perdulikan sekarang adalah namja itu. Mungkin..aku terlalu merindukannya hingga aku jadi seperti ini.

Sayangnya seluruh rumah sakit sudah ku telusuri dan tak ada tanda-tanda tentang namja itu.

Apa eonni sengaja ingin mempertemukan kami?

Akhirnya aku kembali dengan tangan kosong. Peristiwa di rumah sakit tadi berhasil  mengusikku. Pikiranku melayang tak karuan. Alam bawah sadar sialnya malah membawaku menerawang masa lalu. Masa lalu yang kelam dan tak ingin lagi aku menginjakkan kakiku kesana.

“Nona sudah kembali rupanya. Nona Im? Gwenchana?”Tanya Sulli ketika memergokiku sedang melamun di ruanganku.

“ Sulli-ah. Aku baru saja sampai. Bagaimana dengan dokumennya?”tanyaku sambil menyibakkan poni lalu memijat kepalaku.

“Nona Kim setuju dengan rancangan nona. Oh ya, model baru yang waktu itu dibicarakan Presdir sudah datang dan dia ingin bertemu dengan anda nona.”ungkap Sulli.

“Oh ya? Sepupunya presdir itu? Dimana saya bisa menemuinya?”tanyaku lagi.

“Iya nona, tadi dia ada di ruangan pemotretan bersama Nona Tiffany. Dia sedang melihat pemotretan Nona Tiffany sekalian dia ingin melihat rancangan pemotretannya.  Nona, apakah anda baik-baik saja? Kelihatannya anda kurang sehat. Apakah anda ingin saya bawakan sesuatu?”ungkap Sulli.

“Aku tak apa-apa, Sulli. Baiklah, aku akan segera kesana.”kataku lalu beranjak dari kursi.

 

Ternyata benar, di ruang pemotretan ada seorang model baru yang sedang duduk memperhatikan Minho yang sedang mengarahkan gaya Tiffany.

“Nona Lee, ini Nona Im. Desainer sekaligus orang yang bertanggung jawab untuk proyek kita kali ini.”kata Sulli kemudian memperkenalkan kami. Dia model yang cukup cantik, wajahnya terlihat polos. Lumayan.

“Aku Seohyun, Lee Seohyun imnida. Wow, ternyata kau tak seperti yang ku kira. Ku kira kau ini sudah tua melihat karyamu yang sangat fantastik. Ternyata kau masih sangat muda. Pantas saja oppa sangat membanggakanmu dan oppa benar kau sangat cantik. Tak sia-sia aku menerima tawarannya.”ungkap Seohyun yang terlihat sangat kagum padaku.

“Im Yoon Ah imnida. Kau bisa memanggilku Yoona.”aku menerima uluran tangannya.

Aku berbincang-bincang dengan Seohyun tentang banyak hal. Dia cukup menyenangkan. Dia begitu mengagumiku dan mengagumi semua karyaku yang sudah terkenal sampai ke seluruh dunia terutama Prancis. Di tempat dia bekerja karyaku menjadi inspirasi bagi desainer-desainer muda di Prancis. Ternyata Seohyun ini dua tahun dibawahku dia bersikeras untuk memanggilku eonni. Dalam beberapa jam saja kita bisa seakrab ini.

“Eonni, aku sangat suka rancanganmu ini. Aku tak sabar ingin segera melakukan proyek ini. Kapan kita mulai pemotretannya?”Tanya Seohyun sambil membolak-balik rancanganku untuknya.

“Sabar sedikit, Hyunie. Besok kau bisa memulai pemotretannya. Sekarang, boleh  ku pinjam Nona Im?”jawab seseorang dan ternyata namja itu adalah Presdir. Lee Donghae.

Suasana langsung hening ketika Presdir muda yang sukses itu datang.

“Ya! Oppa! Kau kira Yoona eonni ini barang bisa kau pinjam segala?”cibir Seohyun yang sukses membuat kami menahan tawa. Muka Presdir seketika kusut dan pipinya terlihat memerah. “Kau mau mengajaknya kencan? Ini kan jam kerja!!”protes Seohyun sambil tertawa. Aku sungguh tak mengerti apa maksud gadis yang baru ku kenal beberapa jam yang lalu ini.

“Ya! Hyunie, kau ini bicara apa? Aku hanya ingin mengajaknya makan siang bersama sekaligus membicarakan proyek besar untuknya.”kata Presdir dan tiba-tiba merangkul tubuhku di akhir kalimatnya.

Aku terdiam. Proyek besar?? Proyek besar apa yang Presdir maksud? Mau tak mau aku mengiyakan permintaan Presdir. Seohyun merengek ingin ikut sehingga mau tak mau Presidr juga harus mengajak sepupunya ini meskipun dia tak mau. Aku bisa lihat ekspresi Presdir yang terlihat jengkel karena kelakuan sepupunya.

Kami makan siang di salah satu restoran yang tak jauh dari kantor. Sayangnya sejak kami pergi sampai kami makan Seohyun selalu saja memojokkan aku dengan Presdir. Aku juga tak tau kenapa tapi ini semua membuat keadaan menjadi sangat canggung bagiku. Seohyun banyak cerita tentang Donghae, begitupun sebaliknya. Saking asiknya kami sampai lupa waktu. Bahkan proyek besar yang Presdir maksud tak sedikitpun di bahas saat makan siang tadi. Aku harus segera kembali ke kantor mengingat banyak sekali pekerjaan yang harus aku selesaikan. Belum lagi Nona Jung dan Nona Kim bisa marah jika aku terlambat.

Akhirnya aku terpaksa berpamitan tepat saat Seohyun meminta oppa-nya datang kemari. Sayang sekali bukan? Lagipula aku tak perduli dengan ‘oppa’-nya Seohyun aku lebih perduli terhadap pekerjaanku. Aku menolak tawaran Presdir untuk mengantarku ke kantor mengingat mereka sekeluarga akan menghabiskan waktu bersama. Seorang Presdir bisa masuk kantor kapanpun dia mau bukan? Selagi tak ada meeting hahaha. Tapi tidak untuk karyawan biasa sepertiku.

“Bagaimana makan siangnya?”Tanya Minho ketika aku baru sampai ruangan kerjaku.

“Bagaimana apanya?”tanyaku balik.

“Seohyun benar-benar ikut? Apa yang sunbaenim lakukan padamu disana?”tanya Minho yang menurutku lebih tepatnya introgasi.

“Ayolah, aku sibuk. Jangan menanyaiku hal konyol seperti ini.”kataku sambil tertawa.

“Apakah aku terlihat bercanda?”tanyanya dengan wajah serius.

Aku mengisyaratkan Minho untuk pergi dan langsung menghubungi Sulli untuk datang ke ruanganku. Minho yang terlihat kesal langsung pergi disusul dengan datangnya Sulli. Aku hanya tertawa sambil menggelengkan kepala. Sahabatku sejak SMA itu benar-benar menyebalkan.

“Apa ada sesuatu ketika aku pergi makan siang tadi?”tanyaku pada Sulli.

“Tidak ada nona. Oh ya, ini dokumen yang nona minta. Saya sudah mencarinya dan sudah saya print out. Semua ada disini.”kata Sulli sambil menyimpan setumpukan dokumen itu di mejaku.

“Terima kasih. Kau sangat membantu.”

“Aku yakin proyek nona Im kali ini akan sangat brilliant. Kemarin proposal rancangan awal yang anda buat telah saya simpan di meja Presdir dan saya yakin Presdir akan menyukainya. Hwaiting!”ungkap Sulli sebelum dia meninggalkan ruanganku.

Memang. Aku sedang merancang sebuah fashion show. aku menyiapkan konsep acara ini mati-matian. Presdir menujukku dan Jessica atau yang biasa aku panggil dengan sebutan Nona Jung karena posisinya yang setingkat diatasku dan ya ampun dia sangat gila hormat. Kami ditunjuk untuk membuat sebuah event yang menakjubkan di akhir tahun ini.

Aku memilih fashion show dengan konsep berbeda menurutku. Aku memadukan konsep modern dengan tradisional. Busana-busana yang ku rancang juga merupakan. perpaduan dari baju tradisional korea yang dikemas secara modern.  Aku berharap dengan begini semua kalangan tak akan meninggalkan budaya mereka sendiri. Makanya, aku meminta Sulli untuk mengumpulkan berbagai dokumen tentang fashion show terkenal yang pernah ada sebagai pebanding.  Dan aku ingin ada acara lelang yang hasilnya nanti diberikan untuk amal. Mungkin sudah biasa, tapi aku harap rancangan acaraku ini akan menjadi luar biasa.

 

“Sulli-ssi!”panggil Minho.

“ne?”

“Yoona, sedang apa dia?”tanyanya lagi.

“Dia sedang menyelesaikan proposal rancangan acara yang ditugaskan Presdir. Dia sedang membuat konsep pakaian apa saja yang akan ada di acara itu.”jawab Sulli.

“Padahal kan ini sudah malam, waktunya dia pulang. Aish, yeoja itu.”gerutu Minho.

“Sebaiknya kau jangan mengganggu dia. Kau tau kan seperti apa Nona Yoona itu?”ujar Sulli.

“Arraseo. Kalau begitu kau harus temani aku sampai Yoona selesai. Bagaimana kalau kita ke kedai kopi? Dingin sekali..”ajak Minho.

“Tentu. Asal kau yang traktir oppa.”balas sulli dengan penuh senyuman.

 

Author P.O.V

 

Ini sudah hampir jam 9 dan Yoona masih berkutat dengan pekerjaannya. Dia terus menorehkan garis-garis diatas kertas dengan pensilnya hingga tercipta berbagai rancangan pakaian yang indah.  Bukan hanya itu, beberapa kertas dia remas dan dia lempar hingga berserakan di lantai ruangan kerjanya.

Yoona mulai kelelahan, matanya mulai berat. Gara-gara Minho dia jadi tak bisa menyeruput Cappuccino atau kopi-kopian lainnya yang bisa menahan kantuk yang sedang dia rasakan saat ini. Beberapa kali dia tertidur lalu bangun lagi tidur kemudian bangun lagi, sampai-sampai dia tak bisa menahan rasa kantuknya itu. Yoona menyerah dan tertidur di meja kerjanya.

Seorang namja menghentikan langkahnya ketika melihat ruangan kerja Yoona masih menyala dan sedikit terbuka. Tanpa berpikir dua kali, dia menuju ruangan itu dan terkejut ketika melihat seorang yeoja tertidur di meja kerjanya dengan banyak kertas yang berserakan di meja juga lantai. Namja itu sontak tersenyum. Namja itu adalah Lee Donghae. Dia mengelus kepala Yoona dengan lembut dan memakaikan jasnya pada yeoja itu. Kemudian dia terkesima dengan rancangan-rancangan yang Yoona buat.

Tanpa ragu, dia menggendong yeoja itu dipunggungnya. Di lobby, Minho dan Sulli terkejut melihat pemandangan itu. Dari lift keluar Lee Donghae yang sedang menggendong Yoona dipunggungnya. Minho terlihat geram. Dia menunggu yeoja itu berjam-jam tapi nampaknya perjuangannya itu sia-sia. Dia kalah cepat dengan Presidirnya itu.

“Biar aku yang mengantar Yoona pulang.”ucap Donghae pada Minho.

Dia tak bisa menolak permintaan Presdirnya itu, kecuali dia mau didepak dari kantor ini. Minho hanya mengangguk membiarkan Donghae pergi. Sampai Donghae memasuki mobilnya, Minho masih berdiri ditempatnya.

“Oppa..”panggil Sulli.

“Kajja Sulli, aku antar kau pulang.”ujar Minho yang langsung menarik tangan Sulli. Yeoja itu tak bisa menutupi senyuman yang terus tampak di wajahnya. Berkebalikan dengan namja disebelahnya yang terlihat cemburu buta dan siap menelan apapun yang ada didepannya.

 

***

Yoona

 

“Ya! Yoona-ya!!”panggil Yuri eonni keyika melihatku buru-buru.

“Nanti saja eonni aku telat ke kantor. Hari ini ada pemotretan pagi sekali aku akan dipanggang Jessica Jung kalau aku sampai terlambat.”omelku.

“Aku hanya memberitaumu saja, Donghae sudah ada di depan menunggumu.”ujarnya sambil menikmati sarapan.

“Mwo?? Donghae mana?”teriakku sambil memakai high heels hitamku.

“Kau kira Donghae mana lagi, hah????”ujar eonni berbalik bertanya padaku.

 

Aku langsung mengambil sepotong roti dan menyeruput segelas susu sampai setengahnya. Aku mengecup pipi eonni-ku lalu pergi dengan mulut penuh roti.

“Ya! Jangan membuat ku malu di depan Hae, arrachi?”ungkapnya.

Aku tak memperdulikan omongan eonni ku itu. Aneh ini baru kali pertamanya sunbae menjemputku. Aku sudah cukup malu dengan kejadian semalam. Eonni bilang kalau semalam Donghae sunbae mengantarku pulang dan menggendongku dari ruanganku menuju mobilnya. Lalu menggendongku lagi sampai ke kamar. Pegawai macam apa aku ini??? Aish!

Aku hanya tak habis pikir. Dimana si jelek Minho itu? Tega-teganya dia meninggalkanku di kantor sampai aku ketiduran hingga Donghae sunbae yang harus menggendongku bahkan mengantarkanku pulang. Awas saja, bocah itu akan terima akibatnya.

Pipi ku masih menggembung karena roti-roti itu masih di dalam mulutku ketika sunbae membukakan kaca mobilnya dan menyuruhku masuk. Dia tersenyum. Atau menertawakanku? Karena tingkahku yang sudah memalukan di pagi hari. Segera ku telan roti itu hingga membuatku tersedak. Kesalahan lain yang ku buat pagi ini.

“Gwenchana?”ungkapnya.

Aku hanya mengangguk sampai roti sial itu benar-benar tertelan. “Sunbae..”

“Eii, aku kan sudah bilang jangan panggil aku sunbae, apa aku setua itu? Panggil saja oppa, Yongie-ya.”katanya.

“Ah, ne oppa.”

Donghae oppa mengangguk senang kemudian mengelus kepalaku dengan lembut dan entah kenapa ini membuatku semakin canggung padanya.

“Oh ya, oppa.”kataku sedikit canggung. “Gomawo, sudah mengantarku semalam dan menjemputku pagi ini. Maaf aku sudah merepotkanmu.”kataku ketika sudah di parkiran kantor.

“Ne, cheonma Yoona-ya. Oh ya, tidak ada yang gratis di dunia ini, eoh?”

“Hah? Maksud oppa?”tanyaku heran.

“Kau harus membayarnya nanti.”ujar oppa yang kemudian tersenyum lalu berjalan untuk membukakan pintu mobil. Nyaris sekali, aku baru saja memegang pintu tapi oppa dengan cekatan membukakannya untukku. Ini menjadi pemandangan yang kurang nyaman bagiku. Melihat orang-orang di kantor menatapku dengan penuh tanya. Bagaimana tidak? Pegawai sepertiku bisa sedekat ini dengan Presdir.

 

Aku berjalan menuju ruanganku setelah berpisah dengan oppa di lift karena kantornya satu lantai  diatas ruanganku. Sulli yang melihatku keluar dari lift langsung membuntutiku.    “Selamat pagi, nona.”sapanya.

“Pagi.”balasku. “Nona, ku lihat anda turun dari mobil Presdir tadi. Kalian berangkat bersama?”tanya Sulli.

“Sudahlah, tak perlu dibahas.”balasku. bisa ku rasakan pipiku memanas dan memerah.

“Oh ya, bagaimana persiapan untuk pemotretan pagi ini? Sudah siap?”tanyaku mengalihkan pembicaraan.

“Sudah nona. Semua kru juga Nona Seo sedang melakukan pemotretannya.”jawab Sulli sambil membuka lembaran-lembaran dokumen. “Ini ada beberapa dokumen yang harus nona tanda-tangani dan nona cek berkaitan dengan bahan-bahan yang akan dibeli untuk fashion show nanti.”

“Baiklah, simpan di mejaku. Aku akan ke tempat pemotretan sebentar. Setelah meyimpan dokumen itu, tolong belikan aku vanilla latte dan cake kesukaanku. Aku sangat lapar.”ungkapku sambil tersenyum.

“Ne, nona.”

 

“Eonni!!”panggi Seohyun ketika melihatku datang.

“Maaf aku sedikit terlambat.”ungkapku.

“Gwenchana. Hae oppa pasti sengaja membawa mobilnya sangat pelan agar bisa berlama-lama dengan eonni.”balasnya.

Minho langsung terlihat geram. Apa maksud anak ini? Darimana dia tau Hae oppa menjemputku tadi? Aneh. Mendengarnya berbicara seperti itu di depan banyak pegawai membuatku semakin tidak nyaman.

“Lanjutkan pekerjaan kalian, jika perlu sesuatu aku ada di ruanganku.”kataku kemudian Minho mendekat dan berbisik padaku.

“Kau hutang banyak penjelasan padaku Im Yoon Ah.”

 

Kyuhyun

 

“Aku setuju untuk turun tangan di proyek yang appa maksud. Aku akan membantu hyung.”

“Baguslah nak kalau begitu. Appa akan segera urus surat-surat dan segala yang kau butuhkan disana.”ungkap appa di sebrang sana.

“Ne, appa. Aku ingin sekretaris Kim terbang ke Korea secepatnya. Arraseo, appa.”kataku kemudian menutip telepon dari appa.

 

Kim Ryeowook sekretaris pribadiku memang dapat diandalkan dalam segala hal. Buktinya dengan cepat dan sigap semua yang ku perintahkan sudah ada di tanganku tidak lebih dari 2 jam. Setelah memikirkan hal ini berulang kali, kini keputusanku sudah mantap. Aku akan mencoba untuk bertemu dengannya. Aku tau dia mungkin tak mau bertemu denganku lagi. Mungkin dia akan membenciku seumur hidupnya. Tapi, aku tak akan menyerah begitu saja. Aku akan mengubah takdirku sendiri mulai detik ini.

Mungkin aku sedang beruntung, Tuhan sedang berpihak padaku. Tak sulit untuk dapat bertemu dengannya. Tapi, aku tak tau. Apakah hatiku sudah siap untuk bertemu dengannya lagi?

 

“Hyung, aku akan ke kantormu siang ini. Untuk melihat rancangan proyeknya setelah itu aku akan memutuskan apakah aku ikut atau tidak dalam proyek ini.”kataku kemudian menutup teleponnya setelah mendengar hyung yang begitu gembira mendengarnya.

 

Aku menghentikan mobilku tepat di kantor hyung. Seorang penjaga membukakan pintu mobil untukku. Semua orang memperhatikanku. Dan kulihat hyung sudah menyambutku di dekat lobby.

“Aigoo, uri Kyuhyun-ah.”sambutnya kemudian memelukku.

“Hyung.”balasku.

“Ya, kau ini. Di kantorku tidak panas apalagi silau. Lepas kacamata hitammu.”ujar Donghae hyung.

“Aish, kau tidak berubah hyung.”omelku dan tetap memakai kacamata ini. Satu-satunya alasan mengapa aku mengenakan kacamata hitam ini karena aku tak ingin dikenali oleh siapapun terutama yeoja itu.

“Kau yang tidak berubah, Kyu.  Ya sudah akan ku antar kau ke ruang pemotretan untuk melihat-lihat. Kebetulan sedang ada pemotretan.”

“Hyung, bisakah kita langsung presentasi setelah aku melihat-lihat? Aku ingin orang yang bertanggung jawab atas proyek ini mempresentasikannya padaku.”pintaku.

“Kau ini, mendadak sekali. Sebenarnya aku punya dua kandidat untuk proyek besar kita. Kau harus bantu aku untuk memutuskan konsep mana yang akan kita ambil. Itu pun kalau kau jadi bergabung. Akan ku coba memberitau mereka berdua, jika siap presentasi akan dilakukan sore ini.”ungkap hyung.

 

“Oppa!!!”teriak Seohyun ketika melihatku bersama Donghe hyung.

“Hyunie.”balasku.

“Perkenalkan ini tuan Lee Kyuhyun yang akan bekerja sama dengan perusahan kita untuk proyek ini.”

Aku belum menyetujuinya secara langsung dia malah berkata kalau aku akan terjun untuk proyeknya dasar namja aneh.

“Annyeonghaseyo, Lee Kyuhyun imnida. Mohon bantuan kalian.”ujarku sambil membungkukkan badan. Kemudian semua kru yang ada disana membungkukkan badannya padaku.

“Nah, Kyu aku ke ruanganku dulu.”

“Hyung, bisakah kau bertemu dengan penanggung jawab proyek ini sebentar? Aku hanya ingin berkenalan dengannya dan berbincang-bincang sedikit sebelum presentasi dimulai.”

“Ya! Kau ini banyak sekali maunya. Baiklah. Tunggu disini aku akan memanggilnya sebentar kesini untukmu. Tapi salah satu kandidatku tak bisa hadir karena dia ada urusan.”

 

Yoona

 

“Nona, tadi Presdir bilang nona dipanggil ke ruang pemotretan katanya ada yang ingin bertemu dengan nona.”ujar Sulli.

“Nugu? Jika tidak penting bilang aku sibuk. Aku sedang menyiapkan presentasi sore ini.”kataku sibuk.

“Dia Presdir muda yang akan bekerja sama dengan kita, nona.”

“Aish! Namja itu. Belum bertemu sudah merepotkan sekali tadi dia bilang dia ingin presentasi secepatnya, lalu ingin bertemu. Merepotkan.”kataku kemudian bangkit dari kursi.

“Baiklah aku akan kesana.”

 

Aku melangkahkan kakiku dengan berat hati. Namja itu kurang kerjaan. Dasar Presdir muda. Kalau dia tidak menanamkan sahamnya disini, kalau saja dia tidak mau bekerja sama dengan proyekku ini habislah dia.

 

Ku lihat dia sedang menatap Seoul lewat jendela ruangan pemotretan ini. Aku merapikan rambut dan bajuku kemudian menyiapkan senyuman untuk menyapanya.

“Chogiyo…”kataku  kemudian namja itu berbalik.

Pria tinggi dengan jas hitam dan kacamata hitamnya. Dia tersenyum.

“Silahkan duduk.”kataku mempersilahkannya duduk. Tak lama Sulli menyimpan dua gelas teh di meja.

“Perkenalkan nama saya, Yoona. Im Yoon Ah imnida.”kataku  sambil tesenyum.

Namja itu terdiam. Seperti patung menatapku. Aku yakin dia menatapku. Kacamata hitamnya tak bisa menutupi itu.

“Tuan?”

“Ah, mian. Namaku Kyuhyun.”ungkapnya.

 

Bagai tersambar petir. Aku terkejut bukan main mendengarnya. Kyuhyun? Kyuhyun?? Bagaimana mungkin?? Tanganku bergetar dan semakin bergetar.Napasku terengah-engah dan dadaku terasa sesak.

 

“Lee Kyuhyun imnida.”lanjutnya kemudian membuka kacamata hitamnya.

 

Prang….

Secangkir teh yang ada didekatku tersenggol oleh tanganku ketika melihat namja itu. Matanya, mata Kyuhyun-ku. Ini semua tak mungkin…

“Nona, gwenchana?”tanya Sulli. Aku hanya mengangguk.

 

“Mianhae, jeongmal mianhae.”kataku sambil mengambil pecahan cangkir itu dan sialnya tanganku terkena pecahannya sampai mengeluarkan darah segar.

“Ah, aigoo nona!!!”ungkap Sulli panik. “Tangan anda berdarah.”

Mendengar itu suasana di ruang pemotretan menjadi ricuh. Minho dengan gesit menghampiriku.

“Gwenchana?”tanyanya sambil melihat tanganku yang terluka.

“Gwenchana, Minho-ah.”kataku kemudian memintanya kembali melanjutkan pemotretannya. Sebelum kembali, Minho menatap namja bernama Kyuhyun itu dengan tajam.

 

“Agashi, anda baik-baik saja?”tanya namja bernama Kyuhyun itu.

“Ne, saya baik-baik saja. Kita lanjutkan pembicaraan kita.”ungkapku.

“Rasanya tak perlu. Aku akan menemuimu di ruang presentasi nanti sore. Keadaanmu telihat tidak begitu baik, agashi.”lanjutnya.

“Maafkan saya tuan, baiklah saya akan kembali ke ruangan saya. Permisi.”kataku dan beranjak dari namja itu.

 

Aku berjalan menuju ruanganku. Aku masih sangat syok melihat namja tadi. Ketika membuka pintu pun tanganku bergetar hebat sampai-sampai Sulli membukakan pintu untukku.

“Apa anda memerlukan sesuatu?”tanyanya.

“Tidak. Kau bisa kembali ke ruanganmu. Tolong siapkan untuk presentasi nanti sore.”kataku sambil mencoba untuk duduk. Duduk pun terasa sangat sulit karena kakiku terasa sangat kaku.

Sulli pun mengangguk kemudian keluar dari ruanganku. Setelah itu Minho masuk dengan terburu-buru. Dia terlihat sangat khawatir.

“Yoona-ya!”panggilnya kemudian mendekat ke kursiku.

“Apa benar itu dia? Andwae, marganya juga berbeda bukan?”

“Benar. Itu bukan dia. Jadi, kau tak perlu khawatir. Fokus saja ke fashion show mu jangan perdulikan dia. Jangan pernah perdulikan dia sama seperti dia yang tidak pernah memperdulikanmu.”ungkap Minho sambil mengelus kepalaku.

“Bisa tinggalkan aku sendiri? Aku tak ingin diganggu dulu .”

Minho menganggukkan kepalanya dan keluar dari ruanganku.

 

Bagaimana bisa aku tak memperdulikan namja bernama Lee Kyuhyun itu? Meskipun sejuta orang berkata padaku bahwa dia bukan Choi Kyuhyun tetap saja, aku bisa mengenalinya. Aku bisa mengenali mata itu, mata yang dulu selalu bisa membuatku nyaman. Marga apapun tak akan bisa membuatnya berubah menjadi Kyuhyun yang lain. Melihatnya sungguh membuatku lemas. 10 tahun waktu yang cukup lama. Begitu banyak perubahan yang ada pada dirinya. Rambutnya kini menjadi warna hitam, badannya menjadi semakin tegap, kulitnya semakin pucat, dia memang berbeda. Jika tak diperhatikan secara seksama sepintas dia tak mirip dengan Choi Kyuhyun. Tapi entah mengapa, separuh hatiku mengharapkan bahwa dia Choi Kyuhyunku.

Tapi apa yang Minho katakan benar. Untuk apa aku memperdulikan orang yang sama sekali tak pernah memperdulikanku. Meskipun dia bukan Choi Kyuhyun sekalipun namja itu tak seharusnya bisa mengusikku. Aku akan mengacuhkannya bagaimanapun caranya.

Setelah mempersiapkan diri untuk presentasi sore ini, aku berjalan dengan penuh percaya diri menuju ruang rapat yang dihadiri oleh beberapa petinggi perusahaan termasuk namja yang bernama Lee Kyuhyun itu.  Aku mendapat giliran kedua sedangkan Jessica giliran pertama. Aku sedikit tak percaya diri ketika melihat konsep Nona Jung. Konsep yang dimiliki Nona Jung terkesan lebih modern dan trendy dibandingkan denganku. Tapi aku tak perduli aku sudah berusaha sejauh ini. Kalah atau menang itu bukanlah hal yang penting.

Hwaiting, Yoong!”dari kaca ruang rapat aku melihat Minho dan rekan kerjaku yang lain. Mereka menyemangatiku dari luar sana. Seketika senyumku merekah dan rasa percaya diriku yang sempat hilang tadi bangkit kembali.

 

Aku memaparkan semua konsepku dengan percaya diri. Bisa kulihat dari ujung mataku beberapa dari mereka tertarik dengan konsepku. Ketika selesai presentasi semua yang hadir tepuk tangan termasuk rekan kerjaku yang berada di luar ruang rapat. Aku sangat lega satu tahap telah berhasil ku lewati. Semua orang menjabat tanganku dan memujiku secara bergantian ketika mereka keluar ruangan. Nona Jung dan asistennya Krystal langsung keluar dari ruang rapat dengan wajah yang di tekuk.

“Aku tau konsepmu sangat brilliant. Chukkae.”ungkap Hae oppa sambil mengelus rambutku. “Kami akan rapat kembali untuk menentukan konsep mana yang akan diambil jadi bersabarlah.”

“Ne, oppa. Gomawo.”balasku sambil tersenyum.

“Konsepmu bagus. Aku menjadi sangat tertarik. Selamat.”ucap Kyuhyun dengan nada biasa.

Aku hanya mengangguk kemudian pergi meninggalkan namja itu. Berusaha untuk tak banyak berhubungan dengannya.

 

***

 

Author P.O.V

 

“Kau mau jadi sahabatku kan? Berjanjilah kau tak akan meninggalkanku.”ujar seorang yeoja sambil menatap namja disebelahnya penuh harap.

              “Jika aku jadi sahabatmu, apa yang akan aku dapatkan?”tanya namja itu sambil tersenyum jahil.

              “Aish kau ini. Yang jelas aku tak akan memberikan video game padamu. Ya sudah jika tidak mau.”balas yeoja itu kesal kemudian beranjak pergi.

              Namun namja itu malah memegang tangannya sehingga dia tak bisa pergi. Namja itu tersenyum kemudian memeluk yeoja itu hangat.

              “Aku akan menjadi apapun yang kau mau, asalkan aku bisa selalu bersamamu, Im Yoona.”ungkapnya dengan tulus. Yoona, yeoja itu tersenyum manis mendengar ucapan namja yang kini tengah memeluknya erat, seakan tak akan terlepas oleh apapun. Entah kenapa, berada dipelukan namja itu membuat Yoona merasa nyaman dan tenang. Semua bebannya terasa lenyap begitu saja.

 

              “Eonni.. Dimana Kyuhyun?”tanyanya. Ketika baru siuman hanya namja itu yang pertama kali terlintas dalam benaknya.

              “Yoona-ya, Kyuhyun..dia pergi. Setelah bercerai dengan appa eomma membawa Kyuhyun pergi.”

              “Dia tak cerita apapun kepadamu, Yoona?”

              Yoona menggelengkan kepalanya lemas. Bulir-bulir air mata mulai menetes dari pelupuk matanya yang indah. Yeoja itu tak kuasa untuk menahan rasa sakit yang ia alami.Lagi-lagi dia harus kehilangan orang yang dia sayangi.

              Hatinya bagai ditusuk-tusuk oleh ribuan belati. Karena kecelakaan naas itu nyawa kedua orang tuanya harus terenggut. Dan ketika dia siuman dari kecelakaan itu, namja yang dia harapkan ada untuk menghapus semua lukanya malah pergi dan menaburkan luka dihatinya dengan garam.

 

              “Kyuhyun-ah!”teriak Yoona.

Seketika dia membuka matanya. Napasnya terengah-engah. Keringat telah membasahi tubuhnya. Mimpi itu lagi, mimpi itu selalu menghantuinya belakangan ini. Sejak dia bertemu dengan Lee Kyuhyun. Bayang-bayang Choi Kyuhyun semakin tak bisa hilang dari ingatan.

Yoona membasuh wajahnya kemudian meneguk segelas air putih agar dia bisa sedikit tenang. Tanpa berpikir panjang dia segera berangkat ke kantor. Meskipun dia tau, ini masih terlalu pagi untuk berangkat ke kantor. Sekaligus, dia ingin menghindari Presdir yang selalu menjemputnya tiap hari belakangan ini.

 

Yoona

 

              Aku berjalan keluar dari rumahku. Dan seperti apa yang sudah ku duga,  mobil Donghae oppa belum terparkir di depan rumah. Aku melanjutkan langkahku menuju halte. Bus datang setelah sekitar 10 menit aku menunggu. Sepanjang perjalanan sialnya mimpi semalam selalu terbayang olehku. Membayangkannya saja sungguh perih. Aku merasa salut pada diriku yang hingga hari ini masih bisa bertahan.

Sebelum ke kantor, aku pergi ke kedai kopi kesukaanku. Segelas Caramel Macchiato mungkin bisa menjernihkan pikiranku.

“Selamat pagi, agasshi pesan apa hari ini?”tanya seorang pelayan yang biasa melayaniku.

“1 Caramel Macchiato tapi aku ingin minum disini.”ujarku.

“Tambah satu lagi caramel macchiato-nya.”ujar seorang namja tiba-tiba. Bagai disengat listrik, namja itu adalah Lee Kyuhyun.

“Kyuhyun-ssi?”tanyaku heran.

“Take away atau diminum disini tuan?”

“Jika nona ini minum disini, aku juga akan minum disini.”jawabnya sambil tersenyum.

 

Ya Tuhan, senyumnya saja bahkan tidak berubah.  Bagiku itu seperti senyum Choi Kyuhyun.  Tak bisa dipungkiri, betapa aku merindukan senyum itu.

“Biar aku yang membayarnya.”dengan cekatan Kyuhyun membayarkan kopi ku.

Aku hanya tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Aku berjalan menuju meja favoritku. Tuan Kyuhyun itu sepertinya mengikutiku dan benar saja, ketika aku duduk dia juga ikut duduk di hadapanku.

“Boleh kan aku duduk disini?”

“Ah, ne.”jawabku.

 

Kami terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing sambil menunggu pesanan kami datang. Suasana sangat kaku dan canggung. Aku tak tau harus berbicara apa dan aku tak berani menatap namja dihadapanku ini. Aku takut, terperangkap lagi dalam pesonanya.

Tak lama pesanan kami datang. Dan barulah dia angkat bicara.

“Ku dengar kau ini desainer terkenal yang paling muda di Korea.”

“Anda terlalu berlebihan, Kyuhyun-ssi.”

“Kau mengingatkanku pada seorang yeoja.”ungkapnya sambil tersenyum simpul namun menyimpan rasa pahit dan luka di dalamnya.

Aku hanya tersenyum tak menanggapi ucapan Kyuhyun.  Jika dia benar Choi Kyuhyun, apakah aku yeoja yang dia maksud?

“Kau selalu datang kemari? Ku lihat pelayan disini sudah familiar dan terlihat akrab denganmu.”ujar Kyuhyun lagi.

“Ne, ini menjadi tempat favoritku. Dulu, aku dan tunanganku  selalu ke tempat ini. Meskipun menurutnya tempat ini biasa saja. Salahnya karena mengajakku ke tempat ini sampai sekarang aku jadi tak bisa lepas dari kopi disini.”jawabku sambil tertawa pedih. Ya, aku dan Siwon oppa selalu ke tempat ini.

Sejenak Kyuhyun terdiam. “Oh ya? Kau sudah bertunangan Im Yoona? Tidak heran, yeoja cantik seperti mu pasti sudah menjadi milik orang lain.”ungkap Kyuhyun dengan tawa hambar.

“Ne, tapi sekarang dia sudah tiada.”

“Oh, mianhae. Aku turut berduka cita.”

 

Kyuhyun menyeruput caramel macchiato-nya lagi dan kini namja itu cenderung diam. Jika kau benar Choi Kyuhyun, apakah kau tau hyung-mu telah tiada? Bagaimana penderitaan, rasa sakit yang dia alami selama ini apa kau tau? Tega-tega nya kau meninggalkanku, bahkan kau meninggalkan hyung-mu yang sedang sakit parah, Kyuhyun-ah.

Tiba-tiba ponselku berdering dan membuyarkan lamunanku. Aku segera mengambil ponsel di dalam tasku. Coba tebak siapa yang menghubungiku? Hae oppa.

“Ne, oppa? Mian, aku berangkat pagi-pagi sekali dan tidak menghubungimu. Aku sedang di kedai kopi dekat kantor. Aku akan ke kantor sekarang. Ne, arasseo oppa.”kataku kemudian menutup telepon dan memasukkan ponselku kembali.

“Mianhaeyo, aku harus ke kantor sekarang.”ucapku.

Dia hanya mengangguk dan kembali menyeruput kopinya dengan tatapan hampa.

 

“Yoona-ya!!”sapa Hae oppa ketika aku baru sampai kantor. Benar saja dia menunggu di lobby. “Kajja kita ke ruanganku. Ada sesuatu yang ingin ku sampaikan.”

Aku mengangguk mengikuti langkah Hae Oppa. Tak sedikit mata yang memandang kami heran. Banyak sekali bisikan-bisikan mengenai kami sepanjang jalan. Dan pasti hal ini akan sampai ke telinga Nona Jung.

“Chukkae!”ungkap oppa ketika kami berdua sudah ada di ruangannya.

“Untuk apa oppa?”tanyaku heran.

“Para pimpinan redaksi dan penanam perusahaan lainnya menyukai konsepmu. Konsepmu lah yang akan dipilih. Jadi bekerja keraslah.”ungkap oppa sambil mengacak rambutku.

 

Mendengar itu aku langsung melompat-lompat kegirangan. Hae oppa seketika tertawa melihat tingkahku. Oh ya, aku baru sadar. Bodoh sekali kau Im Yoon Ah. Bisa-bisa nya kau melompat seperti itu dihadapan boss mu.

 

***

 

Setelah kabar gembira itu di resmikan dalam rapat direksi, kami semua sibuk menyiapkan konsepku. Semua baju rancanganku langsung di produksi. Kami menghubungi model-model yang sekiranya akan hadir di acara nanti dan untungnya semua model menyetujuinya.

Syukurlah, dengan sibuk seperti ini aku jadi tak banyak memikirkan namja itu. Namja yang bernama Kyuhyun itu memang beberapa kali muncul di kantor. Kadang, dia dan Hae oppa memantau kami semua bekerja. Dia juga selalu hadir dalam rapat mingguan mengenai acara ini. Kami jarang berinteraksi. Karena aku selalu menghindarinya. Setiap dia mendekat aku langsung pergi. Jika namja itu mengajakku bicara maka aku akan menanggapi seperlunya. Jika perkataannya sudah lewat dari batas, maka aku akan mengalihkan pembicaraan. Terkadang aku selalu memojokkan sosok Choi Kyuhyun di depannya. Jika dia memang Choi Kyuhyun, biar dia tau apa yang aku rasakan terhadap perlakuannya dulu. Jika bukan, toh dia tak akan merasa sakit hati bukan? Dan aku selalu berharap namja itu kapok dan tak pernah mendekatiku lagi.

 

Hari itu hujan turun dengan derasnya. Sialnya aku lupa membawa payungku. Minho sudah pulang berjam-jam yang lalu karena eomma nya tiba-tiba sakit. Tak mungkin jika aku meminta dia untuk menjemputku ke kantor. Aku akan dimarahi Yuri eonni jika aku memintanya menjemputku di kantor dan dia pasti akan menghubungi Hae oppa untuk mengantarku pulang.

Daripada hal itu terjadi, aku memilih pulang sendiri. Paling aku basah kuyup. Parahnya aku akan demam dan besok bolos ke kantor. Tak apa-apa. Asalkan tidak menjadi bahan gossip bagi karyawan di kantor.

Akhirnya aku memutuskan untuk pulang. Jarak antara halte bus dan kantor tidak terlalu dekat. Apalagi jika hujan. Pasti terasa jauh. Aku bersiap-siap untuk berjalan menerobos hujan. Dan basah kuyuplah aku. Sialnya lampu merah belum juga menyala. Bagaimana bisa aku menyebrang jika begini. Anehnya tak lama kemudian aku tak merasakan air hujan sedikitpun. Kemudian aku mengangkat kepalaku dan melihat ada payung biru disana dan berbalik melihat siapa pemilik payung biru itu.

“Hujan sangat deras. Lebih baik kau pakai payungnya.”ujar Lee Kyuhyun dengan nada dingin.

“Anio, kau saja yang pakai. Kau lebih membutuhkannya direktur.”kataku dengan sopannya.

“Sudah tak usah banyak bicara. Pakai saja.”ungkapnya lagi. Keras kepala. Persis Choi Kyuhyunku.

Di pinggir jalan kami berdua berdebat seperti anak kecil. Sampai-sampai aku nekat buru-buru menyebrang demi menghindari namja ini. Namun sebuah sepeda motor nyaris menabrakku. Mungkin ini hukuman dari Tuhan untukku. Tapi, Kyuhyun..dia menarik tubuhku ke dalam pelukannya sampai-sampai payung yang dia pegang terjatuh.

Kami berdua diam beberapa detik. Mata kami saling bertemu. Tak bisa kupungkiri, mata ini merindukan tatapan darinya.

“Kau ini ceroboh sekali.”amuknya.

“Mianhae, jeongmal mianhae.”kataku yang tersadar kemudian membungkuk lebih dari 90 derajat.

“Sebagai gantinya aku akan mengantarmu pulang dan kau harus memakai payung ini. Arraseo?”perintahnya.

“Tapi…”

“Kau sudah berhutang nyawa padaku, Im Yoon Ah.”ungkapnya memaksa.

Akhirnya aku mengalah. Aku mengijinkannya mengantarku pulang dan memayungiku sampai rumah. Anehnya, Presdir muda, direktur muda seperti dia malah mau mengantarku naik bus. Apa uangnya tidak cukup untuk dibelikan mobil? Aneh sekali.

 

Kyuhyun

 

              Yeoja itu benar-benar Yoona, seperti yang ku duga. Dia begitu terkejut ketika pertama kali melihatku. Aku yakin, dia mengenaliku. Dia sebenarnya tau kalau aku adalah Choi Kyuhyun. Tapi, dia selalu bersikeras untuk meyakinkan dirinya bahwa Choi Kyuhyun sudah tak ada lagi. Aku tak menyalahkan Yoona atas sikapnya yang dingin padaku. Dia selalu menghindariku, mengabaikanku, bahkan menganggapku tak ada. Aku memang pantas menerimanya. Bahkan ku rasa ini saja belum cukup untuk menebus semua dosaku padanya.

Setiap pagi, aku berkunjung ke rumah Yoona. Ani, aku tidak berkunjung ke sana. Aku hanya sengaja melewati rumah yang menyimpan banyak kenangan itu. Dari balik pohon aku melihat Yoona yang pagi-pagi sekali sudah berangkat ke kantor. Biasanya Donghae hyung dengan sigap menjemput yeoja itu ke kantor. Namun tidak pagi itu. Aku membuntuti yeoja itu. Menaiki bis yang sama dengannya dan muncul di kedai kopi yang sama. Aku berpura-pura tak sengaja bertemu dengannya disana. Namun nyatanya, itu sebuah kesengajaan. Aku hanya ingin memastikan yeoja itu aman. Aku ingin menjaganya, meskipun dia tak pernah tau bahwa aku selalu menjaganya tanpa ia sadari.

Yang membuat hatiku teriris adalah ketika dia menyebut hyung sebagai tunangannya. Meskipun hyung sudah tak ada lagi, tapi tetap saja hatiku bagai ditusuk ribuan belati. Yoona memang tak pernah berubah. Dia selalu sulit untuk ku baca pikirannya. Apalagi kini, dia semakin lihai menyimpan rahasia dibalik senyumnya yang manis itu.

Malam harinya hujan begitu deras mengguyur Seoul. Kantor hampir sepi karena banyak pegawai yang sudah pulang, kecuali Yoona. Aku mengintip ke ruangannya sebelum pulang. Yeoja itu masih sibuk dengan pekerjaannya. Sama seperti dulu, dia begitu pekerja keras. Melihat yeoja itu sibuk sendiri, aku mengurungkan niat untuk pulang ke apartemenku. Aku menunggunya di meja dekat lobby.

Ketika Yoona keluar kantor, aku kembali membuntutinya. Ku siapkan payung biru yang ada di dekat meja resepsionis karena aku melihat yeoja itu tidak membawa payung. Aku menawarkan diri untuk meminjamkan payung ini. Namun yeoja keras kepala itu menolak, dia menghindariku sampai-sampai dia nekat menyebrang dan sepeda motor hampir menabraknya. Dengan cekatan aku menariknya ke dalam pelukanku. Lalu dengan alasan telah menyelamatkan hidupnya aku bisa ada mengantarnya pulang. Sayangnya, Yuri noona  ada di rumah. Jika dia melihatku disini dan tau aku datang aku pasti akan habis olehnya.

 

***

“Oppa!!! Oppa!! Buka pintunya oppa!!!”teriak seorang yeoja lewat intercom apartemenku. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku. Suara yeoja itu membuat tidurku terganggu. “Oppa Kyuhyun oppa!!!”teriaknya lagi.

“Ya tunggu sebentar.”balasku. Aku tau siapa yang datang. Siapa lagi kalau bukan adikku yang menyebalkan. Dan benar saja. Wajahnya terlihat kesal sekali. Dengan malas aku membuka pintu. Untuk apa dia kemari pagi-pagi sekali?

“Ya! Lama sekali kau membukakan pintu, oppa.”protesnya.

“Ada apa kau kesini? Menganggu saja.”

“Apa kau lupa oppa? Hari ini kan fashion show akan diselenggarakan. Kau harus mengantarku pagi ini. Kau tau kan ini hari yang special untukku.”rengek Seohyun.

“Arraseo. Ya sudah kau tunggu disini selagi aku mandi. Ingat jangan sentuh apapun dan jangan pergi kemana-mana. Duduk saja disini.”ancamku.

“Ne, oppa.”

 

Aku melarang semua hal itu pada Seohyun karena dia begitu penasaran dengan masa laluku. Sampai-sampai dia mengorek semua informasi dari Ahra noona. Ketika aku tau itu semua aku benar-benar marah pada mereka berdua. Aku tak ingin ada yang tau tentang semua masa laluku. Aku juga tak ingin Seohyun tau, yeoja yang selama ini aku cintai adalah Im Yoona.

Setelah bersiap-siap, aku dan Seohyun segera pergi ke salah satu hotel megah di Seoul. Hotel ini masih merupakan saham keluarga Lee. Aku juga ikut andil dalam mengurus saham hotel ini. Saat aku datang suasana ballroom hotel sudah di tata se-mewah mungkin.

Hari ini merupakan hari yan besar untuk Yoona. Semua hasil jerih payahnya akan dia tunjukkan pada hari ini. Yoona terlihat sangat cantik dengan gaun pastelnya. Rambut panjangnya ia gerai, seolah menggodaku untuk terus mengelus rambut hitam itu. Senyumnya merekah meskipun terlihat gugup dibalik senyum manis itu. Namun yang mengganggu penglihatanku, Donghae hyung tak pernah jauh dari Yoona selama acara berlangsung. Dia menyambut tamu undangan dengan Yoona berdiri di sampingnya. Tak sedikit aku mendengar bisikan-bisikan yang mengatakan bahwa mereka pasangan yang serasi. Sekali lagi, ini membuatku terbakar. Bagai dilempar ke masa lalu, perasaan ini sialnya ku rasakan lagi.

 

“Oppa aku gugup sekali.”ujar Seohyun membuyarkan lamunanku.

“Ini kan bukan pertama kalinya kau mengikuti fashion show seperti ini.”kataku kemudian kembali fokus pada satu titik. Im Yoona.

 

Acaranya berlangsung meriah. Semuanya sesuai dengan rencana hingga detik ini. Pada saat penutupan Yoona dan semua model berjalan di atas catwalk. Beberapa orang memberikan buket bunga pada yeoja itu. Beberapa diantaranya adalah Minho, Yuri noona, dan Donghae hyung. Aku hanya bisa melihat pemandangan itu dengan getir. Persis ketika aku melihat Siwon hyung memberikan Yoona bunga lily saat aku menyimpan bunga matahari untuknya yang sampai saat ini tak pernah ku berikan pada yeoja itu.

 

“Chukkae!!!”

Semua orang memberikan selamat padanya. Dia hanya menjawabnya dengan senyum puas.

Sampai detik ini aku belum menghampiri Yoona. Aku hanya memperhatikannya dari jauh seharian ini. Aku tak bisa berdua dengannya karena selalu ada hyung disana. Lagipula, aku tak ingin membuatnya tak nyaman di hari yang penting untuknya.

 

“Oppa, aku akan pergi ke dekat panggung dulu. Sepertinya ada masalah teknis disana.”ucap Yoona seolah meminta ijin ke Donghae hyung.

“Acaranya kan sudah selesai, istirahatlah sebentar. Biar kru lain yang mengurusnya.”balas Donghae hyung yang sepertinya tak ingin jauh-jauh dari Yoona.

“Oppa, meskipun acara baru selesai tetap saja aku yang bertanggung jawab bukan?”rayu Yoona.

“Baiklah. Nanti aku menyusul kesana, aku akan mengambilkan minuman untukmu”

 

Yoona berjalan ke dekat panggung. Mataku terus membuntuti kemanapun yeoja itu pergi. Sialnya aku melihat ada yang tidak beres. Besi bagian lampu atas terlihat tidak stabil. Seperti akan jatuh. Yoona dengan santainya masih berjalan namun ku lihat besi itu perlahan jatuh dan jika jatuh pasti akan menimpa tubuh yeoja itu.

Tanpa ragu aku berlari menghampiri Yoona dan mendorongnya sejauh mungkin agar tidak tertimpa oleh besi itu. Aku harus menyelamatkannya. Aku tak perduli jika nyawaku yang menjadi taruhannya. Yeoja yang ku cintai, tak boleh terluka lagi.

Prang!!!!!

 

“Yoona-ya!!!!”

“Kyuhyun-ah!”

“Oppa!!!!”

 

***

 

Yeay akhirnya chapter 3 selesai juga. Maaf ya udah bikin readers nunggu lama. Hehe maklum lagi banyak tugas banget nih. Oh ya bagi yang penasaran kenapa Yoona sama Kyuhyun nggak saling kenal, gini lho sebenernya..Yoona sama Kyuhyun setiap ketemu nggak pernah saling bertatap muka secara langsung dan lama. Cuma saling liat sekilas, terus Kyuhyun sering liat Yoona dari belakang atau samping. Jadi mereka nggak bener-bener sadar. Nah mereka baru bener-bener ketemu secara langsung pas di kantor. Yoona sama Kyuhyun nggak ada yang lupa ingatan. Yoona seolah nganggep Choi Kyuhyun udah nggak ada gara-gara dia sakit hati. Jadi gitu..

Maaf yaa kalau masih banyak yang bingung sama alurnya, sama flashbacknya. Nanti habis chapter ini author usahain publish cerita flashbacknya yaa biar lebih ngerti dan gak penasaran lagi. Terima kasih udah baca ff ku hehe

48 thoughts on “Destiny (Chapter 3)

  1. Aduuh kyu kenapa cuma di perhatiin aja si yoong nya, hadoh betambah lagi sainga kyu tuh. Tambah penasaran nih

  2. Makiin makiin deh terenyuh enyuh. Padahal ini kedua kalinya baca ff ini😢 dan walaupun tau ff ini gak sampe final tapi tetep berharaaaap secepatnya.
    Author semangat dan terimkassih:)

  3. enaknya yoona unnie disukai sma tiga cogan..😀
    yoona unnie apa kyu oppa yg tertimpa lampu ? moga” mreka baik” saja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s