Still

free-love-wallpapers-dating-valentine

Still

  Author             : Kin A

Rating              : PG – 15        

Length             : Oneshoot

Genre              : Romance

Main Cast        :Lee Jonghyun – Im Yoon Ah 

Disclaimer       : FF ini pure hasil karyaku jadi saya harap kalian bisa menikmati dan bisa meninggalkan komentar – komentar buat saya ya…….

 

Alarm jam weker berdering nyaring memenuhi setiap sudut kamar bernuansa biru ini. Rapi. Setiap barang yang berada di ruang ini tertata rapi tak seperti kamar pria pada umumnya.

Lee Jonghyun, pemilik kamar ini, masih tetap berselimutkan selimut tebalnya. Nyaringnya alarm yang di setelnya malam tadi belum mampu membangunkannya dari tidur nyenyaknya. Seperti biasa.

Cklek.

Pintu kamar itu bergerak sepelan mungkin agar suara decitannya tak menganggu tidur Jonghyun. Seorang gadis kemudian masuk ke dalamnya dengan hati – hati.

Gadis itu menyunggingkan senyum manisnya saat melihat Jonghyun masih berada di ranjangnya dengan seluruh tubuh yang terselimuti selimut tebal. Ia pasti lelah, pikir gadis itu. Mengingat setiap 6 hari dalam seminggu, Jonghyun harus menunggu warung internet saat tengah malam sampai pukul 4 sebagai penghasilan tambahannya.

“ Oppa.” Panggil gadis itu sambil menggoyangkan sedikit badan Jonghyun berharap agar pria tersebut segera bangun dan tidak meninggalkan waktu sarapannya.

“ Oppa.” Panggil gadis itu lagi kali ini tepat di dekat cuping telinga Jonghyun.

Sedikit demi sedikit dapat terlihat gerak – gerak kecil yang dilakukan oleh Jonghyun, tanda bahwa ia mulai terganggu dan akan segera bangun dari tidurnya.

“ Ah, Yoona – ie…. Jam berapa sekarang?” Tanya Jonghyun setelah berhasil bangun dan duduk di ranjangnya sambil sesekali mengucek pelan matanya.

“  Jam 8. Kau hampir saja melewatkan sarapanmu oppa.” Jawab Yoona, gadis itu, seraya merapikan selimut dan tempat tidur Jonghyun.

“ Mianhae Yoona – ie, aku lelah sekali.” Ujar Jonghyun sambil terus mengamati gerak gerik gadis cantik di depannya yang tengah merapikan tempat tidurnya.

“ Mengapa Kitty tidak bisa membangunkanku?” Gumam Jonghyun pada jam alarm berbentuk hello kitty yang berada di makas yang ada di samping tempat tidurnya.

“ Kurasa suaranya tidak keras, benarkan? Ah, perlukah aku membeli jam weker yang baru lagi, Yoona – ie?” Tanya Jonghyun pada Yoona setelah sebelumnya ia telah mematikan Kitty-nya yang semenjak tadi tetap berdering.

Yoona yang mendengar hal itu, terkekeh pelan. “ Itu bukan karena Kitty-mu suaranya pelan tapi mungkin telingamu itu memang tercipta untuk selalu mematuhi apa yang terucap dari mulutku.” Jawab Yoona yang telah selesai merapikan tempat tidur Jonghyun dan kini telah duduk di samping Jonghyun.

“ Ah, benarkah?” Tanya Jonghyun sambil menatap Yoona dengan tatapan menggoda.

“ Kalau begitu aku jadi ingin mendengar suaramu itu.” Goda Jonghyun sambil memeluk tubuh ramping Yoona dari belakang.

“ Cepat bicara.” Ujar Jonghyun sambil mendekatkan cuping telinganya pada bibir Yoona.

“ Oppa. Sudahlah hentikan.” Ujar Yoona sambil menjauhkan kepala Jonghyun dari wajahnya.

“ Cepat bicara. Aku ingin mendengar suaramu yang memerintahku.” Pinta Jonghyun sambil menunjukkan aegyo – nya pada Yoona.

“ Aish, kau ini. Cepat basuh wajahmu. Ini kotorannya masih menempel.” Ujar Yoona sambil menyentukan uIm telunjuknya pada salah satu sudut mata Jonghyun.

Jonghyun lalu melepaskan pelukannya dan mencoba untuk membersihkannya dengan kedua telunjuknya sendiri. “ Benarkah?”

“ Ne. Cepat basuh mukamu! Aku akan menunggu di meja makan.” Ujar Yoona yang kini telah beranjak pergi dari kamar Jonghyun.

-:-

“ Ah, hari ini terasa sangat dingin.” Ujar Jonghyun sambil terus menggenggam erat tangan kanan Yoona yang kini bertautan dengan tangan kirinya di dalam saku jaket Jonghyun.

Musim dingin memang mulai mengganti musim gugur beberapa hari lalu. Membuat suhu udara semakin turun dan mengharuskan setiap orang yang akan beraktifitas untuk memekai jaket tebal mereka, seperti Jonghyun dan Yoona yang kini sedang berjalan – jalan untuk sekedar menikmati saat – saat musim dingin kota Seoul.

Selama perjalanan mereka, warna merah, hijau, serta pernak pernik natal lainnya mulai tertata rapi pada setiap etalase toko yang mereka lewati. Natal memang sebentar lagi akan datang membawa keberkahan bagi mereka yang mempercayainya. Ya natal akan datang esok lusa, 25 Desember.

“ Yoona – ie, apa kau mau melihat – lihat pakaian di butik yang itu?” Tanya Jonghyun sambil menunjuk ke arah toko perhiasan mewah yang berjarak beberapa langkah di depan mereka.

“ Untuk apa kita ke sana?” Tanya Yoona sambil menatap Jonghyun dengan bingung.

“ Ya sekedar melihat – lihat saja, siapa tahu ada yang kau suka.” Ujar Jonghyun sambil menyunggingkan senyum manisnya.

“ Ah tidak perlu. Perhiasan di sana pasti sangat mahal.” Ujar Yoona sambil menggelengkan pelan kepalanya.

“ Ayolah, kita masuk saja. Lagipula udara di sini semakin dingin jadi hitung – hitung kita bisa ikut menghangatkan badan di dalam sana.” Jonghyun lalu memimpin perjalanan sambil terus menggandeng tangan Yoona erat.

“ Jangan bilang kau akan merampok di sana.” Ancam Yoona.

“ Yak! Kau kira aku pencuri?” Tanya Jonghyun sambil terus berjalan menuju toko tersebut.

Kring…

Bunyi bel pada pintu berbunyi begitu Jonghyun dan Yoona masuk ke dalam toko. Dapat terlihat oleh keduanya, suasana mewah yang langsung sesaat masuk ke dalamnya. Baik itu perhiasan yang di jual atau pun dandanan para calon pembelinya yang berbalut pakaian mewah, berbeda dengan mereka berdua yang begitu sederhana.

“ Selamat datang. Ada yang bisa kami bantu?” Sapa salah seorang pelayan pada Jonghyun dan Yoona.

“ Ah, kami ingin melihat lihat perhiasan. Bisakah anda tunjukkan cincin pasangan untuk kami berdua?” Tanya Jonghyun pada pelayan tersebut.

“ Ah, aku mengerti. Mohon tunggu sebentar.” Ujar pelayan itu. Setelah beberapa saat, pelayan itu kembali dengan membawa beberapa koleksi perhiasan yang mereka jual.

“ Ini anda bisa melihat lihat dulu.”

“ Kau suka yang mana?” Tanya Jonghyun pada Yoona yang kini menatap kagum pada beberapa perhiasan yang kini ada di hadapan mereka. Tangan Yoona tampak bergerak untuk sekedar menyentuh salah satu cincin emas yang berbentuk sederhana namun terlihat manis karena sebutih berlian yang melekat di tengahnya.

“ Selera anda sangat bagus nona. Cincin itu memang merupakan produk terbaru kami. Cincin itu akhir – akhir ini sangat laris. Apa anda ingin mencobanya?” Tanya pelayan itu sambil menyerahkan cincin itu pada Yoona untuk sekedar mencobanya.

Tangan Yoona mencoba untuk menerima cincin itu dan kemudian memakaikannya pada jari manisnya.

“ Kau terlihat lebih cantik dengan cincin itu.” Ujar Jonghyun sambil menatap pada jari Yoona dan wajahnya. Yoona yang mendengar hal itu mengalihkan wajahnya untuk menatap wajah Jonghyun.

“ Kurasa aku akan membelinya kapan – kapan. Terima kasih telah berbaik hati membiarkanku untuk mencoba cincin ini.” Ujar Yoona tiba – tiba. Yoona kini telah melepas cincinnya dan menaruhnya pada tempatnya semula.

“ Oppa, ayo kita pulang.” Ajak Yoona sambil berjalan mendahului Jonghyun keluar dari toko.

“ Nona, bisa aku memesan satu untuk cincin yang tadi. Jadi jangan kau berikan pada siapa pun itu yang akan membelinya, ok.” Ujar Jonghyun pada pelayan tadi.

“ Lalu kapan kau akan membelinya?” Tanya pelayan itu.

“ Mmm…… bagaimana jam 8 saat malam natal nanti?”

“ Baiklah kalau begitu. Setelah jam 8 kau tidak kunIm datang, aku berhak menjual kepada siapa pun yang ingin membelinya.”

-:-

“ Oppa mengapa malam ini kau masih harus berjaga? Bukankah biasanya bosmu akan memberikan libur di malam sebelum malam natal?” Tanya Yoona yang heran. Sesekali Yoona mencuri pandang pada Jonghyun yang tengah membenahi letak syalnya.

Setelah Yoona selesai mencuci seluruh peralatan makan yang tadi mereka pakai, Yoona kemudian menghampiri Jonghyun untuk sekedar membantu Jonghyun membenarkan letak syalnya agar leher kekasihnya itu tidak merasakan dinginnya angin malam musim dingin yang berhembus di luar sana.

“ Aku memang sengaja meminta bosku untuk menambah waktu jagaku agar aku bisa dapat uang tambahan lagi.” Jawab Jonghyun sambil mengacak pelan puncak kepala Yoona.

“ Kau hati – hati ya di rumah. Jangan lupa kunci pintunya dan kalau ada apa – apa, cepat telpon aku.” Ujar Jonghyun yang kemudian menggenggam erat kedua telapak tangan Yoona yang telah selesai mengurusi syalnya.

“ Ah jari – jarimu begitu kosong. Maafkan aku, ne? Aku belum bisa memberikanmu sebuah cincin selama kita bersama.” Ucap Jonghyun sambil menatap sedih pada jari – jari Yoona yang tak berhiaskan perhiasan.

“ Ah tidak apa – apa, asalkan dapat bersamamu saja aku sudah senang.” Ujar Yoona seraya menyunggingkan senyuman termanisnya pada Jonghyun.

“ Terima kasih, Yoona – ie. Aku berjanji akan segera mendapatkan restu orang tuamu dan kemudian aku akan menikahimu.”

Ya. Walau mereka berdua kini tinggal dalam satu atap bukan berarti mereka telah sah menjadi suami istri. Orangtua Yoona yang notabennya adalah seorang politikus handal belum menyetujui hubungan mereka berdua bahkan orangtua Yoona sempat berusaha untuk menikahkannya dengan seorang pengusaha muda yang tentu saja ditolak mentah oleh Yoona, hingga akhirnya ia kabur dari rumahnya yang mewah dan memilih tinggal di apartemen sederhana milik kekasihnya. Walaupun begitu, Yoona dan Jonghyun tidur di kamar yang berbeda sebab Jonghyun sadar bahwa ia tidak boleh melakukan hubungan layaknya suami istri sebelum Yoona telah sah menikah dengannya.

“ Aku akan berangkat sekarang. Jaga dirimu baik – baik, ne?” Ujar Jonghyun sambil mencium lembut kening indah Yoona.

-:-

Pagi kini telah hadir kembali. Yoona juga telah melakukan aktivitas rutinya, membangunkan Jonghyun dam memasak sarapan untuk mereka berdua.

Kini Yoona dan Jonghyun tengah menyantap sarapan mereka di meja makan. Keduanya menyantap dengan hikmat makanan yang tersaji tanpa seorang pun mengeluarkan suaranya untuk bicara.

DING.

“ Kurasa ada pesan masuk di handphonemu.” Ujar Jonghyun dengan mulut yang terus menguyah makanan.

“ Benarkah?” Tanya Yoona yang kemudian mengecek handphonenya yang tergeletak di meja makan tak jauh darinya. Dilihatnya siapa pengirim pesan tersebut hingga akhirnya membuatnya terdiam beberapa saat.

“ Dari siapa?” Tanya Jonghyun.

“ Eommaku.”

“ Apa yang dikatakannya?” Tanya Jonghyun lagi.

“ Dia menyuruhku untuk berkunIm ke rumah saat natal.” Jawab Yoona yang tak hilang rasa terkejutnya.

“ Kalau begitu pergilah nanti.” Ujar Jonghyun tenang atau bisa dibilang berusaha terlihat tenang di depan Yoona.

“ Aku tidak akan pergi ke sana.” Ucap Yoona sambil menggelengkan kepalanya dan menjauhkan handphonenya.

“ Wae?”

“ Aku takut aku tidak bisa kembali ke sini.” Jawab Yoona pelan.

Mendengar jawaban Yoona membuat menaikkan sebelah alisnya. Wajar memang Yoona menjawabnya dengan kalimat itu, mengingat orangtuanya memiliki beberapa bodyguard yang bisa saja menahan Yoona di sana hingga akhirnya Yoona tidak bisa kembali ke sisinya.

“ Pikirkanlah hal positif untuk kita berdua. Siapa tahu orangtuamu telah merubah pikirannya tentang kita?” Ucap Jonghyun berusaha menasehati Yoona walau ada sedikit rasa takut di dalam hatinya apakah yang dikatakannya ini akan berakibat buruk atau tidak.

“ Oppa haruskah?”

“ Ya. Kunjungilah kedua orangtuamu.”

Hening. Untuk beberapa saat kemudian suasana meja makan pagi ini kembali hening. Masing – masing dari mereka menunduk fokus dengan pikiran mereka masing – masing.

“ Yoona – ie. Kalau pun kau tidak bisa kembali ke sisiku, ingatlah satu hal bahwa aku akan selalu berada di sisimu. Baik kau berada di dekatku atau jauh dariku. Diriku, hidupku, dan cintaku telah ku berikan kepadamu. Hanya padamu.” Ujar Jonghyun memecah keheningan di antara mereka berdua dan berhasil membuat Yoona menatap sedih pada Jonghyun.

“ Akan ku pastikan aku akan kembali untukmu oppa. Aku janji.” Ujar Yoona dengan mata berkaca – kaca.

“ Aku pegang janjimu. Jadilah anak yang baik, jangan durhaka kepada orangtuamu. Kau beruntung masih memiliki mereka.” Ujar Jonghyun sambil mengelus pelan puncak kepala Yoona dengan senyuman manis terpampang di wajahnya.

-:-

Cklek.

Pintu kamar Yoona terbuka. Kemudian masuklah Jonghyun ke dalamnya lalu menghampiri Yoona yang tiduran membelakanginya. Sejak percakapan saat sarapan tadi, Yoona menjadi pendiam terhadapnya dan lebih memilih menghabiskan waktunya di dalam kamar.

“ Yoona – ie. Aku akan pergi sebentar untuk mengambil upahku. Jaga dirimu baik – baik, ne?” Pamit Jonghyun pada Yoona yang membelakanginya. Ia elus pelan puncak kepala Yoona. Ia tahu Yoona belum tidur.

Setelah Jonghyun keluar dan menutup pintu kamar Yoona, pandangan Jonghyun kini beralih pada jam dinding yang tergantung di ruang tengah apartemennya. 19. 45.

“ Ah aku tidak punya banyak waktu lagi.” Batin Jonghyun yang kaget melihat waktu yang terbentuk di jam dindingnya.

-:-

Kring.

Lonceng pintu toko perhiasan itu berdenting, menandakan seseorang telah memasukinya. Jonghyun memasuki toko perhiasan itu dengan terengah – engah. Pukul 20.15, begitu yang Jonghyun lihat pada sebuah jam yang tertempel pada dinding toko itu. “Semoga belum terlambat.”  Batinnya.

“ Nona, apa kau masih ingat denganku?” Tanya Jonghyun pada pelayan yang ia temui lusa lalu. Napasnya masih sedikit terengah – engah mengingat bagaimana ia terus berlari untuk menuju ke toko ini.

“ Oh, anda pria yang waktu itu memesan sepasang cincin waktu itu ya?” Tanya pelayan itu sambil mengingat.

“ Ne, syukurlah kau masih mengingatnya. Lalu bagaimana dengan pesananku? Dapatkah aku membelinya sekarang?”

“ Maafkan saya tuan. Cincin yang anda pesan telah terjual. Kami minta maaf sekali lagi.” Jawab pelayan itu dengan penuh penyesalan.

“ Mwo? Bagaimana bisa kau melepaskannya pada orang lain?” Tanya Jonghyun kesal.

“ Tapi perjanjian kita hanya sampai jam 8 malam dan lewat dari itu kami dapat menjualnya kepada siapa saja.”

“ Tapi kan aku hanya terlambat beberapa menit. Bagaiman kau Aisssh……” Jonghyun tampak begitu frustasi sampai – sampai mengacak asal rambutnya.

“ Lalu apakah ada cincin yang lain?” Tanya Jonghyun berusaha tenang.

“ Ada tapi semua harganya di atas cincin yang anda pesan. Apakah anda ingin melihatnya?”

“ Tidak. Tidak perlu.” Jawab Jonghyun lemas.

“ Tuan…. Kurasa pembeli cincin pesananmu itu belum jauh pergi dari toko ini. Coba anda cari dia dan bernegosiasilah dengannya.” Ujar pelayan itu kasihan melihat Jonghyun yang tampak frustasi.

“ Benarkah? Seperti apa orangnya?”

“ Dia seorang wanita berusia sekitar 50 tahunan dan bermantel merah.” Jawab pelayan itu sambil mengingat – ingat. “ Oh iya, dia juga berbadan sedikit gemuk.”

“ Terima kasih informasinya.” Ucap Jonghyun sebentar. Lalu kemudian Jonghyun berlari cepat keluar dari toko untuk mencari orang yang membeli cincinnya itu.

Cepat namun hati – hati, Jonghyun terus berlari dan mengamati setiap orang yang di lewatinya. Namun nihil. Orang itu tak juga ia temukan.

Tak jauh dari tempat Jonghyun yang berlari, di balik pohon besar yang menghalangi pandangan Jonghyun. Dua orang wanita paruh baya tampak saling bercengkrama dan bertukar tawa sampai salah satu dari mereka, wanita bermantel merah, tampak berpamitan pada kawannya dan kemudian masuk ke dalam taksi yang telah menunggunya.

Kawan dari wanita bermantel merah itu kemudian melambaikan tangannya seiring dengan taksi yang terus berjalan menjauhinya.

“ Jonghyun?” Gumam kawan dari wanita bermantel merah setelah membalikkan badannya dan kemudian melihat seorang pemuda yang tengah membungkuk terengah – engah karena kelelahan.

“ Jonghyun – ssi.” Panggil wanita paruh baya itu lebih keras setelah yakin matanya melihat seseorang yang ia kenal. Dan benar saja, pemuda itu tampak menolehkan wajahnya kepada sang wanita paruh baya yang memanggilnya.

-:-

Oh Meahri atau Nyonya Im, wanita paruh baya yang tadi memanggil Jonghyun, kini sedang duduk di sebuah café yang terdapat tak jauh dari tempatnya tadi bertemu dengan Jonghyun.

Jonghyun, pria yang kini duduk di hadapannya tampak meminum dengan cepat secangkir Americano yang beberapa saat lalu mereka pesan.

“ Pakailah ini untuk mengeringkan keringatmu.” Ujar Ny. Im sambil meletakkan sebuah saputangan biru muda di atas meja.

“ Ah, terimakasih Nyonya.” Ucap Jonghyun sambil mengambil saputangan itu dan kemudian menyekakannya pada dahinya untuk sekedar menghilangkan keringat yang masih mengucur di sana .

“ Panggil saja aku eomoni.” Ujar wanita itu lagi.

“ Ah, ne.”

“ Apa Yoona – ku baik – baik saja?” Tanya Ny. Im.

“ Ne, dia baik – baik saja.”

“ Syukurlah kau begitu. Jadi apa yang membuatmu berlari di tengah malam musim dingin seperti tadi?” Tanya Ny. Im sebelumnya mulai menyeruput minuman hangatnya.

“ Ah itu. Itu karena aku ingin mencari seseorang.” Jawab Jonghyun gugup.

“ Seseorang?” Salah satu alis Ny. Im terangkat, bingung.

“ Ne seorang wanita bermantel merah yang membeli cincin yang sebelumnya telah saya pesan.” Jawab Jonghyun jujur.

“ Ah. Kau telah menemukannya?”

“ Belum.”

“ Apa cincin itu sangat berharga bagimu?” Tanya Ny. Im yang terus menginterogasi.

“ Mmm… ne, bagiku cincin itu sangat berharga. Walau pun banyak cincin lain yang lebih mahal, tapi bagiku cincin itu sangat berharga karena ini saat pertama bagiku untuk bisa membelikan sesuatu yang Yoona suka. Namun itu semua kini gagal. Aku masih belum bisa memberikan apa pun yang Yoona inginkan.” Jawab Jonghyun yang tampak menyesal.

“ Kalau begitu apalagi alasan buatku untuk membiarkan anakku hidup dengan pria sepertimu? Kau tidak bisa memberikan apa yang Yoona – ku suka.” Ujar Ny. Im dengan sedikit menatap remeh kepada Jonghyun.

Jonghyun tidak bisa menjawab apa – apa. Ia hanya bisa menundukkan kepalanya diam. Ia sadar, ia tak memiliki apa – apa untuk dibanggakan. Ia tak punya alasan untuk membuat orangtua Yoona menyetujuinya. Namun, untuk saat ini dan seterusnya ia ingin Yoona untuk tetap di sisinya.

“ Kau tahu kan kalau aku menyuruhnya untuk mengunjungi rumah kami besok pagi?”

“ Ne. Aku tahu.”

“ Tolong bujuk dia untuk mengunjungi rumahnya. Kami akan memutuskan sesuatu tentang kalian.”

“ Ne.” Jonghyun hanya bisa menganggukan kepalanya menuruti perkataan Ny. Im.

“ Jadi apapun hasil keputusan kami nanti. Aku meminta kau untuk menuruti segala keputusannya.” Ujar Ny. Im dengan tenang.

-:-

Pagi kembali datang. Sinar matahari pagi ini terasa sangat indah menyinari tumpukkan salju di pekarangan – pekarangan rumah. 25 November. Hari ini natal tiba, waktu bagi setiap anggota keluarga untuk berkumpul di rumah salah seorang anggota keluarga.

Yoona kini mematut dirinya di depan cermin besar yang berada di kamarnya. Ia menatap bayangan dirinya yang terpantul di cermin. Cantik. Dengan rambut hitam panjangnya, ia tampak cantik walau tanpa banyak make up yang menempel di wajahnya.

Setelah dirasa cukup, ia membalikkan badannya dan meraih tas tangan serta hoodie coklatnya yang tergeletak di kasur. Kemudian dengan langkah pelan, Yoona menghampiri Jonghyun yang masih tidur terduduk di samping tempat tidurnya. Entah sejak kapan Jonghyun tidur dengan posisi seperti itu hingga akhirnya Yoona menemukannya saat terbangun tadi pagi dan mendapati telapak tangan kirinya digenggam erat oleh kedua telapak tangan Jonghyun.

“ Oppa, aku berangkat sekarang. Maaf aku meninggalkanmu sendiri di saat natal seperti ini.” Ujar Yoona pelan seraya mengelus pelan rambut Jonghyun dan kemudian ia mendekatkan wajahnya untuk mencium puncak kepala Jonghyun.

Sebelum Yoona keluar dari kamarnya, Yoona menyempatkan menaruh sepucuk surat di dekat kepala Jonghyun.

-:-

Sebuah rumah besar kini berada di hadapan Yoona. Rumah bergaya classic itu tampak lebih mewah dengan cat putih sebagai pewarnanya.

Ting Tong…

“ Siapa?” Tanya seseorang yang wajahnya terdapat pada sebuah monitor kecil yang berada di sisi tembok gerbang tersebut.

“ Aku Yoona.” Jawab Yoona sambil menunjukkan wajahnya pada monitor itu. Dapat terlihat olehnya, wajah wanita itu tampak terkejut sekaligu senang.

“ Nona akhirnya anda pulang.” Ujar wanita itu riang. Wanita itu Kim ahjumma, salah seorang pembantu yang bekerja di rumahnya.

“ Ne.” Ujar Yoona sambil tersenyum manis.

-:-

Yoona mulai memasuki rumahnya, rumahnya yang telah setahun ini ia tinggalkan. Suasananya masih sama seperti dulu. Mewah.

“ Ah nona…. Akhirnya anda pulang. Nyonya sangat merindukanmu.” Ujar Kim ahjumma yang telah menunggu Yoona sejak tadi di dekat pintu. Kim ahjumma tampak sangat senang dengan kedatangan Yoona kembali, terlihat dari senyumannya yang sejak tadi tak jua luntur.

“ Apa Yoona sudah datang bi?” Tanya seorang wanita dari arah tangga yang tak jauh dari tempat Yoona dan Kim ahjumma kini berada.

“ Ne, eomma.” Jawab Yoona setelah ibunya telah sampai di lantai yang sama dengannya.

“ Aku merindukanmu.” Ujar Ny. Im sambil memeluk Yoona dengan erat.

“ Aku juga. Dimana appa?” Tanya Yoona setelah pelukan antara dia dan ibunya terlepas.

“ Di ada di halaman belakang. Temuilah dia, aku akan membawakan minuman dan makanan kecil untuk kalian.” Jawab Ny. Im seraya menuntun Yoona dan kemudian berpisah saat Ny. Im harus pergi ke dapur.

“ Appa, aku pulang.” Ucap Yoona pada ayahnya. Ayahnya mengacuhkannya dan masih terfokus pada koran yang dibacanya.

“ Appa aku pulang.” Ucap Yoona lagi. Dan nihil. Ayahnya tetap mengacuhkannya.

“ Aku rasa aku tidak punya seorang anak gadis.” Sindir Tuan Im sambil melipat koran yang telah ia baca dan kemudian menaruhnya di atas meja kaca yang ada di samping kursi tempat duduknya saat ini.

“ Hei apa yang kau katakan pada anakmu yang baru saja kembali? Kata – kata macam apa itu?” Sindir Ny. Im yang datang dari belakang Yoona sambil membawa dua gelas jus dan beberapa makanan kecil yang tertata di atas nampan.

“ Yoona, ayo cepat duduk.” Ajak Ny. Im yang telah duduk di salah satu kursi.

“ Ah, ne.” Ujar Yoona yang kemudian duduk di samping ibunya.

“ Mengapa kau akhirnya kembali? Apa Jonghyunmu itu telah menyakitimu dan membuatmu bosan?” Tanya Tuan Im setelah meneguk jus yang baru saja diminumnya.

“ Tidak. Aku tidak tersakiti atau pun bosan padanya. Aku sangat mencintainya. Sangat.” Jawab Yoona sambil menekankan kata ‘sangat’ di akhir kalimatnya.

“ Cinta saja tak akan membuatmu merasa sangat senang. Uang merupakan faktor penting dalam pembentukkan rasa senang dalam kehidupan. Jadi apakah dia telah membahagiakanmu? Apa saja barang yang telah diberikan olehnya untukmu?” Tanya Tuan Im dengan sinis.

“ Tidak….. memang belum ada barang spesial yang ia berikan untukku. Tapi akan ku buktikan padamu kalau aku dapat bahagia dengannya bagaimana pun itu.” Jawab Yoona tegas kemudian ia berdiri dan bersiap untuk pergi sampai pertanyaan ayahnya menghentikannya.

“ Bukankah Jonghyunmu itu tidak akan menikahimu sampai aku nanti akan menyetujuinya? Lalu bagaimana kau akan bahagia dengannya tanpa sebuah ikatan yang mengikat? Harusnya kau kemari untuk mendapatkan kata setuju dariku, kan?”

Yoona terdiam. Ayahnya benar, tujuannya ke sini adalah memang untuk mendapatkan persetujuan darinya. Yoona mengepalkan kedua tangannya kesal.

“ Beritahu aku caranya agar aku mendapat persetujuan darimu.” Ujar Yoona berbalik dan menghadap ayahnya.

“ Kalau begitu. Cium kedua kakiku.” Perintah Tuan Im dengan tegas.

Memang Tuan Im tahu segalanya tentang Yoona. Ia tahu Yoona dengan sifat keras kepala dan harga diri tinggi yang dimilikinya akan membuat Yoona sulit untuk melakukan perintahnya itu.

Ting. Tong.

“ Ah kurasa, pizza pesananku telah tiba. Aku akan ambil dulu.” Ujar Ny. Im yang kemudian pergi menuju pintu masuk rumahnya.

“ Tunggu apalagi? Cepat lakukan sebelum aku merubah pikiranku.” Setelah Ny. Im pergi, Tuan Im kembali menantang Yoona.

“ Baiklah.” Yoona lalu melangkahkan kakinya menuju tempat Tuan Im berada dan kemudian berlutut di depannya.

“ Cepat cium kedua kaki ayahmu.” Perintah Tuan Im lagi.

Yoona masih diam. Terjadi pergolakan batin di dalam dirinya. Antara ego dan pengorbanan.

Pelan. Dengan perlahan Yoona mulai membungkukkan badannya dan menatap kedua kaki ayahnya yang mulai keriput itu dari dekat.

Chu.

Dia akhirnya mencium kedua kaki ayahnya. Harga dirinya kini telah terbuang jauh.

“ Bagaimana sekarang? Aku sudah mendapatkan persutujuanmu bukan?” Tanya Yoona setelah menegakkan kembali badannya dalam keadaan berlutut.

Tuan Im tampak menahan senyum di wajahnya. Membuat Yoona menatapnya aneh.

“ Appa?”

“ Mmm…. Baiklah kau mendapat persetujuanku.”

“ Hei pemuda yang di sana. Apa lagi yang kau tunggu? Cepat lamar anakku yang cantik ini sebelum aku merubah keputusanku.” Ujar Tuan Im sambil menunjuk seseorang di belakang Yoona.

Yoona membalikkan kepalanya dan Jonghyun ada di sana. Lee Jonghyun, kekasihnya, ada di sana. Berdiri di samping ibunya.

Jonghyun tampak berjalan mendekat ke arah Yoona dan kemudian melakukan hal yang sama dengan Yoona yaitu berlutut di depan Tuan Im.

“ Tuan, terimakasih telah merestui kami berdua.” Ujar Jonghyun tulus.

“ Ne, jaga anakku dengan baik. Oh ya panggil aku abeoji mulai saat ini.” Ucap Tuan Im sambil menatap wajah calon menantunya.

“ Ne.”

“ Hei mengapa kau tidak segera melamar anakku? Susah payah aku menghubungi Jinyi untuk memintanya menjual kembali cincinnya padamu. Jadi cepat  lakukan sekarang.” Celetuk Ny. Im yang membuat setiap wajah yang ada di sana menoleh kepadanya.

“ Oppa, apa maksudnya semua ini?”

Flashback

“ Kalau begitu aku akan meminta temanku untuk kembali menjualnya kepadamu agar kau bisa memberikan cincin pertamamu pada anakku.” Ujar Ny. Im seraya berdiri dari tempat dudukya.

“ Ne?” Tanya Jonghyun bingung.

“ Aish, aku akan berusaha meminta temanku untuk menjual cincin pesananmu itu padamu agar kau bisa segera melamar anakku.” Ujar Ny. Im sambil tersenyum manis.

“ Apa maksudnya ini- ?” Tanya Jonghyun memastikan namun belum tuntas ia melanjutkan kalimatnya, Ny, Im memotongnya.

“ Iya. Aku dan suamiku telah merestui kalian berdua. Jadi cepat lamar, nikahi dia dan jangan buat kami kecewa.”

“ Terimakasih eomoni. Terimakasih.” Jonghyun berdiri dan melakukan bow berkali – kali pada Ny. Jung.

“ Aigoo….” Ucap Ny. Im yang terkejut dengan reaksi yang ditunjukkan oleh Jonghyun.

Flashback End

Setelah selesai menceritakan seluruhnya pada Yoona, Jonghyun kemudian merogoh saku celananya untuk mengambil kotak kecil berisi cincin pertamanya untuk Yoona.

“ Ehm…. Im Yoona. Maukah kau menikah denganku?” Tanya Jonghyun setelah membuka kotak kecil itu lalu terlihatlah sepasang cincin emas bermata berlian itu.

“ Oppa, bukankah ini cincin yang aku coba saat itu?” Yoona menatap kagum pada sepasang cincin di depannya. Jonghyun menjawabnya dengan anggukan.

“ Bagaimana kau suka?”

“ Ne. Aku sangat menyukainya.” Jawab Yoona dengan anggukan.

“ Nona, cepat jawab pertanyaan Tuan Jonghyun.” Celetuk Kim ahjumma yang berdiri di samping Ny. Im.

Ny. Im yang mendengar hal itu kemudian menatap tajam ke arah Kim ahjumma. “ Yak! Biarkan dulu mereka merasakan suasana romantis ini dengan tenang. Yoona ayo cepat jawab pertanyaan Jonghyun tadi.” Ujar Ny. Im pada Yoona.

“ Oh baiklah. Oppa bisa kau ulangi lagi?” Tanya Yoona gugup.

“ Ehm…. Im Yoona – ssi. Bersediakah anda untuk menikah denganku?” Tanya Jonghyun sekali lagi dan kali ini ia menatap tepat pada mata Yoona yang ada di hadapannya.

“ N……ne.” Jawab Yoona sambil menganggukan kepalanya.

FIN

 

  

 

16 thoughts on “Still

  1. aah thor so sweet dan akhirnya mereka di restui sama orang tua yoona. thor maksudnya “cuping telinga” itu gimana?? bukannya cuping dama telinga sama aja??

  2. manis🙂
    aku mau benerin dikit boleh> Yoona – ie kayaknya blum pas deh..
    -ie- biasanya digunakan kalo huruf terakhirnya itu bukan hurup vocal kayak young-ie atau luhan-ie
    sementara setauku kali huruf akhirnya adalah huruf vocal jadinya -yoona-ya atau bora-ya.. semoga gak salah hehhe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s