Unexpected : The past

unexpected

Unexpected : The past

HyukGumsmile

Cho kyu hyun Im Yoona

Romance

PG-17

Malam itu ketika yoona menginjakkan kakinya pada halaman rumah, gelap gulita menerpa dalam hening. Hunian mewah yang sengaja kyu hyun sediakan untuk tempat mereka tinggal bersama itu mendadak menjadi sangat amat menyeramkan.

Pagar tinggi yang perlahan terbuka otomatis dan lampu taman yang menghilang satu persatu seiring jalannya ferrary merah yoona menuju halaman depan. Sosok berbaju hitam itu menunduk hormat dan perasaan yoona semakin tak karuan.

Ada semacam firasat buruk yang tiba-tiba menghantuinya. Yoona, dalam dua tahun hidup bersama kyu hyun, belum pernah menemukan ketakutan sebesar ini dalam menghadapi lelaki otoriter itu. Entah karena terlalu terbiasa membuatnya menjadi tak tau diri atau beberapa bibir menyebutnya tak tau malu.

Entahlah, apapun itu, baru kali ini saja rasanya lorong hunian mereka begitu dingin. Gelap, hening dan menyimpan aura mencekam.

Dibalik anak tangga yang melingkar itu terletak pantri mini. Disana, biasanya kyu hyun menghabiskan waktu untuk menunggunya. Bermain dengan teman setianya. Cairan merah pekat yang berbau menyengat.

Namun malam itu ia tak ada. Padahal, pertemuan mereka siang ini begitu singkat. Hanya tiga jam yang sia-sia.

Yoona melangkah menaiki lantai kedua. Hanya ada dua hal pasti kali ini. Kyu hyun tengah bermain dengan sahamnya atau lelaki itu tengah sibuk dengan wanita barunya. Apapun itu, sejujurnya yoona lebih tak perduli. Kyu hyun dengan wanita lain hanya seperti tontonan intermezo dalam hidupnya.

Lelaki itu memang brengsek. Dan karena yoona hidup bersamanya, maka ia telah jauh-jauh hari berusaha untuk menyesuaikan perasaannya.

Namun luar biasanya, ketika mencoba untuk mencari tau itulah yoona tersentak kuat. Melihat lelaki itu tertidur pulas diranjang besar mereka dengan selimut dan gelungan tubuh yang menggemaskan.

Kyu hyun tertidur.

Ya, ia memang tidur.

Dan itu berarti akan ada malapetaka besar datang.

Lelaki itu benci jatuh tidur sebelum bertemu yoona. Ia akan memilih menjadi pihak yang menunggui yoona tertidur hingga ia bisa tenang dengan obsesinya. Tapi kini, lelaki itu justru memilih untuk mendahuluinya.

Yoona tau, ia jauh lebih tau jika kyu hyun tengah menyimpan masalahnya sendiri. dan sialnya, jika ia tengah tak memiliki wanita lain, yoona adalah satu-satunya pelampiasan yang ia punya.

Yoona melangkah pelan mengelilingi ranjang besar beralaskan bedcover merah terang itu hingga bertemu muka dengan wajah tanpa dosa kyu hyun. Ujung jari-jari lentiknya dengan cepat bergerak menyentuh pelipis seputih susu itu lalu berhenti tepat diujung rahangnya.

Tiba-tiba yoona merasa sakit. Satu dari bagian gelap dirinya merasa begitu berdosa. Menghianati kyu hyun, tak pernah ada dalam rencana kehidupannya sejauh ini. Meski beberapa kali ia pernah berkencan dengan lelaki lain, namun perasaan seperti ini tak pernah yoona rasakan.

Berkencan atau sebatas bertemu muka hanya pelampiasan rasa sepinya akan kehadiran kyu hyun. Demi neptunus, tidak pernah ada rasa lain dalam setiap kencannya. Tapi kini donghae hadir dan menggebrak perasaan itu hanya dalam satu kali temu dengan perbincangan yang terlalu minim.

Benarkah perasaannya masih seutuh dulu?

Atau kehadiran donghae telah menyentuh batinnya yang perlahan menggapai titik jenuh?

Lelaki itu pernah menghilang dengan tiba-tiba. Lenyap tanpa jejak seperti hembusan angin lalu yang dingin. Donghae pergi meninggalkannya dengan kejam. Meninggalkan yoona yang kala itu masih mencintainya dengan utuh tanpa pernah tau betapa hangusnya perasaan yoona termakan bara pahitnya putus asa.

Tapi lelaki itu berbeda.

Jika bersama kyu hyun yoona bisa bertindak semaunya, bebas, dan menyenangkan. Bersama donghae ia merasa begitu dilindungi. Ada banyak hal yang tak bisa ia lakukan karena bagi donghae yoona adalah sosok yang perlu ia jaga.

Jika bersama kyu hyun ia bisa melampiaskan perasaannya melalui setiap perkataan meski dua tahun tinggal bersama yoona menyadari betul setiap wacana yang ada diantara dirinya dan kyu hyun bukanlah hal yang penting, Bersama donghae ia bisa bersikap seperti wanita normal. Tersipu malu dan menunduk tanpa benar-benar tau bahwa ribuan kupu-kupu itu tengah menggelitik perut.

Donghae dan kyu hyun adalah dua kepribadian berbeda yang sama-sama pernah menyentuh titik terdalam batinnya. Yoona mencintai donghae selayaknya remaja tanggung dan dulu, lelaki itu juga melakukan hal yang sama padanya. Berbeda ketika ia mencintai kyu hyun dan harus berkorban demi rasa memiliki yang menyelimuti egonya.

Donghae bersikap tenang dan melindunginya. Perbedaan umur membuat lelaki itu tau bagaimana ia harus bersikap. Menjaga dan melindungi kesucian yoona adalah hal mutlak yang harus ia lakukan, dulu. Sementara kyu hyun adalah lelaki dewasa yang memperlakukan yoona dengan cara yang dewasa. Kehilangan keperawananya, rasa malu, prinsip hidup dan segala yang ada dalam diri yoona kini adalah implementasi dari pengaruhnya. Kyu hyun membawa dampak yang kisaran perbedaannya hampir tigaratus-enam-puluh derajat. Merubah sosok yoona yang dulu menjadi ia yang sekarang.

Lantas, lelaki yang bagaimana yang sebenarnya yoona cari?

Mencintai kyu hyun, meski hidup dengan cara yang brutal, adalah hal yang terus yoona pertahankan dengan keras. Pernah kehilangan sosok lelaki membuatnya tak lagi ingin kehilangan kyu hyun.

Tapi itu dulu, ketika perasaannya belum terurai. Kini, setelah donghae kembali yoona merasa limbung. Bisakah ia bertahan bersama kyu hyun atau haruskah ia kembali pada donghae dan kehidupan lama mereka?

Yoona menghela nafasnya panjang sebelum memutuskan untuk berdiri. Membiarkan kyu hyun terlelap, mengganti bajunya dengan terusan tidur tipis sebatas paha lalu berbaring tepat disisi kyu hyun.

Yoona tak pernah punya pilihan. Bukan hanya karena kyu hyun memaksa. Tapi kehangatan yang lelaki itu berikan selalu mampu menenangkan batin yoona yang kering. Beberapa detik usai berbaring, seperti mengetahui dengan pasti posisi yoona, kyu hyun bergerak merangkulnya dan merapatkan tubuh mereka. lewat kulit lehernya, yoona tau kyu hyun masih bernafas dengan tenang disana, menggunakan ceruk lehernya sebagai tameng dari mimpi buruk dan berbagi kehangatan dimalam panjang yang hening.

Inilah yang tak pernah banyak orang tau. Salah satu alasan yoona terus bersamanya. Bersama kyu hyun. Adalah sikap kyu hyun yang terkadang membuatnya merasa benar-benar dicintai. Tujuh tahun ini, ia hanya punya kyu hyun. Yoona hanya punya kyu hyun. Dan selama itu juga, ia belum pernah berpikir untuk pergi.

 

 

__

Paginya, saat yoona terbangun dan kyu hyun sudah beranjak dari tempat tidur mereka, kecemasan menggunung dalam benak yoona. Seakan-akan sebuah bom molotov akan segera memporak-porandakan jantungnya detik itu juga.

Membereskan penampilanya, dengan dress sebatas lutut yang terlalu seronok, yoona melangkahkan kaki jenjangnya menuju titian anak tangga. Berusaha memastikan jika kyu hyun belum sempat menapakkan kakinya untuk pergi dari rumah ini dalam waktu beberapa hari mendatang.

Biasanya, dalam keadaan yang tak lagi terkendali, untuk menghindari menyakitinya, kyu hyun memang akan pergi selama yang ia mau. Semisal lelaki itu membutuhkan waktu untuk meredakan emosinya hingga benar-benar tandas, kemudian ia akan kembali dengan sosok seperti biasa yang tak akan pernah sekalipun lagi mengungkit-ungkit masa lalu.

Karena itulah yoona yakin jika rencana tidak dibangunkannya ia pagi ini adalah dalam rangka memperlancar gerak kyu hyun untuk pergi dari rumah ini. Namun, ketika tubuh tinggi itu berputar dan bertemu dengan pintu dapur, yoona membesarkan bola matanya semaksimal mungkin lalu mematung.

Demi neptunus yang menguasai lautan, kyu hyun disana. Duduk manis dengan koran pagi yang selalu ia baca dan secangkir kopi yang masih mengepulkan asap tebal dan aroma arabicanya yang menggoda.

Lelaki itu tenang. Tanpa suara dan terus berkonsentrasi pada bacaanya hingga beberapa waktu sebelum menyadari kedatangan yoona disekitarnya.

Gilanya, lagi, kyu hyun justru tersenyum tipis, sangat rapi dan membuatnya ribuan kali lebih tampan. Lelaki itu kemudian melipat koran paginya, meletakkannya diatas meja lalu menurunkan salah satu kakinya yang tersampir dan memutar arah pandang. “kau sudah bangun?” sapanya ringan.

Sesuatu seperti berdentuman keras dalam batin yoona. Tidak mungkin. Benar-benar ada yang salah disini. Lelaki yang semalam tertidur pulas itu,, apa benar kyu hyun? Mengingat sifat dan kebiasaanya, melihat lelaki itu tersenyum pagi ini terasa seperti mukjizat dari tuhan.

Yoona ingat betul kebiasaan kyu hyun yang tak bisa tidur tanpanya. Dan kali ini,, apa yang akan kyu hyun lakukan hanya tersenyum? Setelah yoona mati-matian menahan rasa cemas atas kemurkaannya pagi ini?

“berhentilah berdiam diri dan langkahkan kakimu kemari. Jangan terlalu melankolis karena ketampananku”

Belum sempat berbicara, tiba-tiba yoona merasa jika kyu hyun tengah bersikap biasa saja. Seperti pagi-pagi disetiap minggunya, pria mesum tingkat akut itu memang hanya akan menghabiskan waktunya untuk berdiam diri dirumah, bersantai dan tak ingin menyentuh pekerjaannya barang sedikitpun.

Minggu ini, tak ada hal buruk yang terjadi. Lelaki supertampan dengan atasan tshirt putih yang melekat pas pada tubuhnya dan training bekas lari paginya itu benar-benar terlihat tanpa masalah. Kyu hyun kemudian menunggu yoona datang dari kejauhan dengan langkah kaki selambat siput.

“im yoona, bisakah kau—“

“semalam,, kau baik-baik saja?” yoona memotong, berhenti sedikit lebih jauh dari jangkauan tangan kyu hyun untuk mengulur waktu.

“aku?” dan lelaki itu membalasnya dengan salah satu alis yang menukik tajam. Pertanda jika ia tak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan kini.

“ya.. maksudku—“

“jika kau mencemaskanku karena tidur lebih dulu darimu, sekarang, mulailah berjalan kemari dan berhenti bersikap seperti idiot.” Kyu hyun menggeram. “aku bukan dewa. Pantas atau tidaknya aku tidur sebelum kedatanganmu bukan aku yang menentukannya.” Pria itu kemudian menconcongkan tubuhnya, menggapai yoona dan menariknya mendekat.

“berhenti bermain-main, aku butuh sesuatu”

Yoona tertarik untuk didudukkan diatas pangkuannya. Beberapa pelayan yang datang untuk mengantarkan sarapan pagi mereka perlahan mohon undur diri dan mengosongkan dapur tanpa perlu diperintahkan. Kyu hyun menekan tubuh yoona hingga wanita itu terkesiap kaget.

Memang tidak terjadi sesuatu padanya. Putus yoona.

Lelaki itu tetap seperti lelaki mesum yang setiap harinya yoona temui. Tiada hari tanpa pelampiasan nafsu. Lihat saja mata berkilat hitamnya yang dalam. Yoona menghela nafasnya malas lalu mengalungkan lengannya pada leher kyu hyun lemah. “semalam, aku masih segar. Mengapa harus tidur lebih dulu?”

“aku lelah” ditengah upaya menghisap sebanyak mungkin bau pinus dari ceruk leher yoona, kyu hyun mengeratkan cengkraman jemarinya pada pinggul yoona yang rata. Menekan tubuhnya hingga sesuatu menyentak yoona kuat-kuat. Kyu hyun benar-benar tengah menegang, keras dan luar biasa panas.

Nafas memburunya perlahan membakar ceruk leher yoona. Membuatnya kehilangan butir-butir keringat yang menetes dengan cepat. “tapi pagi ini aku harus ke gallery..”

Kyu hyun tak berhenti. Jemarinya masih menancap kuat-kuat pada pinggul yoona. Membatasi wanita itu dari kemungkinan jatuh karena ia yang terlalu bersemangat. Yoona terhuyung kebelakang ketika kyu hyun mulai menyesapi bibirnya tanpa ampun. Membiarkan lelaki itu bermain sepuas-puasnya sembari menahan sendiri pergolakan dalam batinnya.

Yoona mencintai kyu hyun apa adanya. Dibalik setiap perkataan dingin dan sikap tak perdulinya. Hanya dalam sekedar ciuman saja yoona tau jika lelaki itu berusaha agar yoona benar-benar merasakan kehangatan diantara mereka. cara kyu hyun menyentuh dan meresapi setiap tindakan mereka adalah apa yang terus membuat yoona bertahan dalam kegilaan ini.

“akh! Berhenti disitu, cho kyu hyun!!”

Yoona menggeram, mencengkram rambut belakang kyu hyun yang sudah berantakan lalu menarik diri untuk tenggelam dalam bau musk tubuh kyu hyun. Dadanya bergetar hebat pertanda ia juga menginginkan pria itu tanpa ampun. Namun, kali ini saja, yoona ingin memohon dan ia ingin didengar.

Salah satu telapak tangan kyu hyun masih mengusap penuh nafsu belahan paha yoona yang tersingkap. Membiarkan nafas mereka saling tumpang tindih dalam pelukan lemah yoona pagi itu. “kenapa? Tamu bulananmu baru selesai minggu lalu” kyu hyun berbisik tak terima sekaligus memberitau yoona jika dengan alasan apapun ia tak akan bisa kabur.

Kejantanan lelaki itu semakin tak bisa dikendalikan saat yoona mencium leher kyu hyun dengan bibir lembutnya lalu bernafas lemah disana. Kyu hyun meremas pinggul yoona menahan emosi.

“aku juga lelah. Lakukan dimanapun ditempat aku bisa berbaring dengan nyaman”

Singkat saja. Dan hubungan mereka berlanjut seperti hari yang sudah-sudah. Liar, tanpa batas dan memiliki cara tersendiri untuk diungkapkan. Yoona pernah merasa begitu hina dimasa masa awal, tapi kini, inilah dunia mereka. ia dan kyu hyun memang tak seharusnya memikirkan pendapat manusia lainnya untuk tetap dapat hidup.

 

 

__

“aku berharap tidak terlambat. Tapi kecelakaan dijalan raya membuat kemacetan panjang dan—“

“aku mengerti.”

Ketel tua berwarna coklat yang luruh termakan usia itu kembali menjadi saksi kebisuan yoona ditengah riuh suasana makan siang yang padat. Mengambil tempat dimana pertama kali mereka bertemu yoona menungguinya dalam diam. Perlahan mulai berpikir sebenar atau sesalah apakah keputusannya kali ini.

“yoong, jangan marah”

Nada rendah tu meluruhkan banyak hal. Tapi tanpa itu, yoona tetap bisa untuk tidak marah. Menatap donghae saja sudah membuat tungkai lututnya bertransformasi menjadi agar-agar. Namun yoona memilih diam. Ini pertemuan kedua mereka, dalam sebuah janji manis yang donghae pinta minggu lalu.

“ kau baik-baik saja?” donghae kemudian menunduk setelah membuka sarung tangan coklat dan coat miliknya. Menyampirkannya pada kursi disamping dan kembali terfokus pada yoona. “katakan sesuatu, yoong~” pintanya hangat.

Jemari donghae menjalar tanpa aba-aba menyentuh pipi kiri yoona, dan semua terjadi dengan cepat. Dentuman kecil itu menyayat ujung hati yoona dengan perih. Donghae menyentuhnya. Menganngkat wajah yoona untuk menghentikan aksi apatisnya yang terus menunduk lalu tersenyum tipis. “aku ingin menemui gadis kecilku yang periang dan tak tau malu. Namun jika ini menjadikan bebanmu terasa lebih berat, maka sebaiknya kita memang tak perlu lagi bertemu”

Kata-kata singkat yang kemudian membuat yoona sadar jika ia telah berbuat suatu hal yang konyol. Bukan salah donghae sepenuhnya mereka bisa berada disana. Persetujuan dari yoona jugalah yang membuat takdir terus tertawa dusta diantara mereka. jika memang tidak menginginkannya, seharusnya yoona menolak permintaan lelaki itu tempo hari.

Tapi yoona memang egois. Menilik masa lalu, tanpa pertimbangan berlapis ia menerima tawaran donghae dengan mudah. Masa lalu mereka memang benar-benar membahagiakan. Karena alasan itulah, mungkin, hanya mungkin, yoona tengah berusaha membangkitkan kebahagiaan itu kembali. Meski hanya dalam kukungan dosa, ia ingin mencoba. Sekali ini saja.

Donghae tersenyum saat yoona mengulas lingkar tipis pada bibirnya. Senyuman polos ala remaja tanggung yang dulu masih ada hingga saat terakhir ia pergi. Donghae meringis, tak sempat memikirkan sesakit apa yoona saat itu. Tapi demi suatu hal yang tak dapat ia hindari, donghae memang benar-benar harus pergi.

“aku sudah memesankanmu milkshake vanilla dan waffle panggang. Kau bisa memesan yang lainnya jika kau mau”

Bahasa rendah dengan ego yang kemudian tertekan dalam membuat perbincangan mereka terkesan hangat. Romansa picisan tujuh tahun yang lalu bukan lagi sekedar bayangan ketika donghae mengulas senyum puasnya.

Yoona masih ingat. Dan itu luar biasa membuatnya bangga.

Lelaki itu menggeleng lalu menatap yoona sendu. Merindukan wajah yoona adalah hal tersulit sekaligus menyenangkan yang hadir dalam kesehariannya selama tujuh tahun ini.

“aku senang kau masih mengingatnya dengan jelas. Tujuh tahun kurasa cukup untuk mengikis memorimu, yoong. Tapi-“

“tapi terkikis bukan berarti hilang,, oppa~”

Dan debaran itu menyelimuti siang mereka dalam tawa. Perlahan, yoona mengerti mengapa kehadiran donghae dapat membuat perasaannya jauh lebih hangat. Gambaran gadis manis yang polos yang dulu selalu melekat padanya sudah ia tinggalkan lama. Dan kini, sosok kelam yang hidup dalam bilik gelap dirinya merindukan itu.

Masa-masanya bersama donghae.

 

 

__

Ketika waktu berlalu dan semua terasa lebih menyenangkan, tawa yoona adalah hal yang paling banyak terurai. Dua minggu pasca pertemuan singkat itu, yoona menjadi sosok yang perlahan-lahan kembali. Bukan sepenuhnya bisa berubah, namun kebersamaannya bersama donghae membut yoona paham jika ia bisa menjadi dirinya sendiri bersama lelaki itu, begitupun bersama kyu hyun.

Yang terlihat berbeda adalah kesibukan kyu hyun yang setiap minggu seperti berlipat ganda. Lelaki itu seperti tengah mengerjakan sesuatu hal yang besar, pulang larut dan terkadang memilih untuk menginap dikantor.

Lelaki pekerja keras itu memang selalu bertindak semaunya. Namun, belakangan ini hubungan mereka terasa lebih aneh. Tidak ada kyu hyun yang mengekangnya dalam hari-hari yang padat. Ia bahkan belum bertatap muka dengan lelaki itu barang empat hari ini. Lalu kyu hyun tak pernah pulang dan menolak untuk dikunjungi meski yoona hanya berniat untuk memastikan kondisinya dikantor.

Perlahan, ditengah intensitas pertemuan bersama donghae-lah yoona merasa jika kekosongan itu kini terisi dengan kebersamaan mereka. Mencoba untuk tidak terlalu memikirkan banyak hal yang rumit, pada akhirnya, ia menikmati sosok penghianatan yang ia ciptakan sendiri.

“kau pucat”

Denting alat makan itu menggema dalam meja makan besar yang sunyi. Kyu hyun tak menghiraukan yoona dengan terus berusaha melahap makan malamnya secara perlahan. Pucat ataupun tidak, ia tetaplah cho kyu hyun.

“oppa, kau pucat.” Tekan yoona dengan nada suara lebih tinggi.

Makan malam pertama mereka dalam dua minggu ini dihabiskan kyu hyun dengan lebih banyak berdiam diri. Membuat yoona tak habis pikir sebenarnya apa yang diinginkan lelaki itu kini.

“kau menghindariku?! Atau memang ada banyak pekerjaan yang mengharuskanmu untuk tidak menemuiku?” yoona mulai jengah. Tiga jam semenjak kepulangannya lelaki brengsek ini belum samasekali berbicara dan itu membuat yoona frustasi. “oppa..” lalu yoona menghentikan kyu hyun, mencengkram tangan kanannya untuk memaksanya menatap yoona. Dalam diam dan gelap malam bahkan ia masih mengerti ada kobara api dalam bola mata kyu hyun. Namun yoona tak mengerti. Mereka belum berinteraksi dua minggu ini. Jadi, yoona yakin betul ia tak berbuat sasuatu yang salah kali ini.

PRANG.

Kyu hyun membanting bilah sendok dengan keras. Wajah datarnya mendongak dan redam emosi itu terlihat sedikit surut. “aku lelah, yoon. Berbicara membuang energiku dan melihatmu membuatku semakin lelah”

Kalimat singkat itu menutup malam mereka. kyu hyun kemudian bangkit dan berjalan cepat menuju kamar mereka. paginya, yoona kembali tidak menemukannya. Lelaki itu menghilang dalam waktu yang tak dapat yoona masuki.

 

 

__

“kau berkhianat!”

Suara so yeon menggelegar ditengah ruangan berukuran sedang itu. Kalimat singkat dan lugas yang ia ucapkan sunguh tak membuat yoona terkejut. Wanita itu memang sudah mewanti-wanti pertemuan pertamanya bersama donghae dulu. Tapi yoona tak tau jika so yeon yang terkenal membenci cho kyu hyun itu bahkan jauh lebih tidak menyukai donghae.

Yoona mengernyit mendengar suara so yeon yang datang lalu menusuk-nusuk gendang pendengarannya. Dasar, asisten sialan. Sejak kapan ia mulai menetang yoona sekeras ini? Berkhianat? Yang benar saja!

Ia tidak berkhianat. Semenjak pertama kali membangun hubungan ini bersama kyu hyun, mereka berdua sadar cepat atau lambat satu persatu wanita atau pria akan berlalu lalang ditengah hubungan ini. Dan, mungkin, donghae adalah salah satunya. Meski hingga saat ini yoona belum samasekali berpikir jika donghae adalah orang yang pantas untuk dijadikan lelaki separuh hatinya.

Seperti halnya kyu hyun, yoona suka bermain. Bukan dengan cinta, tapi hanya lewat kesenangan. Ia, dengan cintanya yang masih setinggi gunung terhadap kyu hyun hanya mencoba dan benar-benar ingin tau perasaan seperti apa yang ada dalam benak kyu hyun ketika ia menemukan wanita barunya.

Tapi itu hanya bertahan dalam beberapa hari. Yoona benci mendua. Baginya, bermain tetaplah bermain. Hanya jika ada seseorang yang lebih baik dibandingkan cho kyu hyun, mungkin ia akan membuka lapak toleransinya. Meski hingga kini, sebrengsek apapun cho kyu hyun itu, ia tetap tak dapat berpaling.

“ini hanya seperti sebelumnya, so. Jangan terlalu berlebihan.”

Yoona mendengar so yeon mendengus keras-keras. “ini jelas bukan seperti sebelumnya, yoon! Kau ingat? Kau pernah bersamanya, dulu. Dan jika kini kau kembali menjalin hubungan yang.. seperti ini” so yeon mengangkat kedua tangannya lelah “kau akan seperti pengecut yang bersembunyi dalam masa lalu” sambungnya.

“aku tidak seperti itu.”

So yeon terlihat lebih uring-uringan. Sementara yoona tak benar-benar tau alasan dibalik kerasnya so yeon menentang pertemuan rutinnya bersama donghae. “yoon, dia masa lalumu. Kau pernah dengar mitos jika tarikan masa lalu lebih kuat dari hari ini? Hidupmu sudah terlalu berantakan. Berhentilah membuatnya menjadi semakin rumit, yoon”

Yoona menimpainya dengan kekehan ringan. “dua tahun, dan kebiasaan berbicara berlebihanmu sepertinya sudah meningkat. So, aku hanya bertemu dengannya untuk menjalin kembali pertemanan kami. Dia hanya ingin minta maaf. Apa itu salah?”

Lalu so yeon mendesah. Sudah terlalu bingung harus berbicara seperti apa. “salah jika permintaan maafnya selalu diikuti acara makan malam dan kalian melakukannya dengan rutin. Ini seperti,, kencan. Dan sebelumnya, kau tak pernah bertahan dengan lelaki barumu lebih dari satu minggu”

“mungkin ini pengecualian. Aku sudah mengenalnya lama, dan dia bukan teman kencanku”

Yoona tersenyum. Ada siratan geli bercampur bosan dalam matanya. So yeon sudah membicarakan ini untuk kesekian kalinya dan jika menilik umur, yoona merasa sudah cukup pantas untuk memutuskan sendiri pilihannya tanpa perlu didikte dengan keras.

“jangan terlalu berlebihan, yoon”

“tidak ada bagian yang pantas dilabeli berlebihan dalam tindakanku, so”

“kau bisa terbuai dan lupa akan kehidupanmu!”

“bertemu dengannya juga kehidupanku. Tuhan menentukan takdir kami seperti ini. Apa lagi yang harus kau pertanyakan?!”

“tapi—“

“aku masih cukup akal untuk tidak jatuh cinta lagi padanya, so.”

“tapi kau hampir seperti itu! Astaga, aku tidak tau bagaimana rekasi kyu hyun setelah—“

“kyu hyun tidak akan tau!!” yoona bangun lalu menyentak meja salon cukup keras. Meski mereka hanya berdua dan itu tak akan mengganggu, pada akhirnya sikap keras yoona bangkit. Ini sudah berlebihan. Percakapan mereka yang mulanya ringan perlahan membuat yoona merasa emosi. Apapun itu, mengapa setiap orang selalu menyangkut-pautkan masalah kedekatannya bersama donghae dengan kyu hyun?!

Kyu hyun tidak akan pernah tau kecuali seseorang telah memberitaunya. Lelaki itu sibuk dan mengabaikannya dua minggu ini. Tidakkah alasan itu cukup bagi yoona untuk melampiaskan rasa dilindunginya pada donghae?!

Mendengar nama kyu hyun benar-benar membakar ubun-ubun yoona. Baru kali ini saja ia merasa benar-benar muak hanya untuk mendengarkan namanya. Usai makan malam yang tak menghasilkan apa-apa itu, kyu hyun kembali menghilang.

Sinting. Yoona hanya mengkhawatirkan bibir tebalnya yang pucat pasi, dan lelaki itu bertindak seolah ia adalah wanita penghisap kartu debitnya hingga tandas. Hell! Bulan ini saja yoona merasa jika hobi berbelanjanya sedang tidak produktif. Ia yakin pengeluarannya bulan ini jauh lebih sedikit dibandingkan bulan lalu, ketika ia memutuskan untuk berlibur ke paris.

Entah apa yang salah dari lelaki itu. Ia memang selalu bertindak semaunya. Tapi kali ini ada yang membuat yoona merasa semakin jengkel. Hubungan mereka memang berbeda entah semejak kapan. Dan itu,, benar-benar mengesalkan.

“kyu hyun tak akan tau hingga kau membuka mulutmu, so! Aku hanya berteman baik dengan donghae oppa dan itu tidak lebih.” Yoona mencecar kesal.

So yeon memutar bola matanya malas. Alasan yang terlalu klise dan muluk. “kau memanggilnya’oppa’. Itu cukup membuktikan banyak hal mengingat rasa sopanmu sudah lama menghilang semenjak kau bersama cho kyu hyun” so yeon berdiri malas, menuntaskan perawatannya lebih cepat dari waktu yang telah ditentukan lalu berjalan membelakangi yoona pelan.

“sebelum ini, diduniamu, kau hanya punya kyu hyun. The one and only. Kau memanggilnya ‘oppa’ dan membiarkan lelaki lain menatapmu rendah karena kesopananmu hanya kau berikan padanya hingga tandas. Kini? Mulailah bercermin sebelum kau terlalu jauh melangkah, yoon. Kyu hyun bukan lelaki biasa yang akan meninggalkanmu meski ia harus meninggalkan belahan dunia ini demi urusan bisnisnya. Dia mencintaimu. Meski dengan cara yang salah.”

 

 

__

Dia mencintaimu, meski dengan cara yang salah.

Kalimat itu terus menggema dalam batin yoona semenjak satu jam yang lalu. So yeon sudah lebih dulu menuntaskan perawatannya dan memilih untuk tidak satu ruangan bersama yoona. Dalam diam, gaugan suara itu semakin besar.

Benar.

Yoona lupa jika kyu hyun juga mencintainya.

Setidaknya, lelaki itu pernah mengatakannya, dulu.

Dan meski ia tidak begitu yakin sebesar apa rasa cinta lelaki itu padanya, setidaknya bertahannya hubungan absurd diantara mereka selama lebih dari dua tahun ini membuat yoona tersentak dalam renungannya.

Kyu hyun itu brengsek!

Sialan!

Yoona menunduk, mengusap wajahnya dengan telapak tangan dengan cukup kasar lalu berhenti ketika ponselnya bergetar.

“ya, halo?”

 

 

__

Lalu pagar tinggi itu terlihat lebih menyeramkan, kini. Ada sebuah mobil putih susu besar yang bertengger didepan hunian mereka dengan ferrari kyu hyun yang terparkir dibelakangnya.

Dengan laju mobil yang mulai melambat, usai benar-benar berhenti yoona segera membuka pintu dan berjalan cepat. Pintu besar dan megah itu tak menghalanginya sedikitpun. Mendapati undakan anak tangga yang kini terasa begitu banyak hingga langkah kakinya terhenti tepat didepan sebuah pintu putih besar.

Kamar utama.

Kamar yang selalu ia gunakan bersama kyu hyun.

Yoona melangkah masuk ketika sora baru saja berbalik bersama gerombolan dokter pribadi kyu hyun yang jumlahnya tak tanggung-tanggung. Membuat yoona harus mengangguk pelan sebelum mengacuhkan segala yang ada disana dan berdiri disamping tempat tidur.

Lelaki itu memejamkan matanya rapat. Nafas dan alunan pergerakan dadanya yang tenang membuat kepanikan yoona perlahan menguap. Cho kyu hyun sialan!

Kristal bening itu hampir membanjiri bola mata yoona seandainya ia tak tau jika lelaki itu hanya tak sadarkan diri usai terlalu memforsirkan tenaganya untuk proyek baru perusahaan mereka.

“dia baik-baik saja” Sora datang membawa segelas air putih hangat. Meminta yoona meminumnya tanpa berkata apa-apa lagi. Asisten pribadi kyu hyun itu juga merasakan hal yang serupa.

Cho kyu hyun tidak pernah jatuh sakit. Maka ketika ia terlihat pucat pasi lalu kemudian oleng ditengah persiapan pembangunan proyek baru perusahaan yang ia pimpin, sora merasa begitu terpukul. Ada tujuh orang dokter untuk memeriksa seluruh sel yang ada dalam tubuh kyu hyun sebelum ia bisa memastikan jika atasannya itu hanya terlalu lelah.

“aku tidak pernah tau dia bisa jatuh sakit”

Sora tersenyum lucu. “tuan juga manusia, nona. Dia, sama sepertimu. Hanya dalam beberapa hal, ia berusaha agar terlihat berbeda”

Yoona membenarkannya tanpa berkata apa-apa. Rambut coklat keemasannya yang halus perlahan jatuh menyentuh jemari kyu hyun ketika ia berusaha membenarkan letak selimut. Ia membuka blazer hitam dan meletakkan hermes miliknya diatas meja.

Pikiran bercabangnya yang membingungkan telah mengarahkannya pada satu pilihan untuk menemani pria keras kepala itu malam ini.

“sudah satu jam, yoong. Kau dimana?”

Lalu pesan singkat donghae datang. Menyisakan yoona dengan senyum mirisnya yang perlahan pudar termakan malam.

 

 

__

Esoknya kyu hyun terbangun pukul sembilan. Seperti tidak ingin beranjak dari ranjang, tubuhnya hanya terus diam, menatap langit-langit kamar dengan aksen eropa lama yang kini terlihat begitu menarik. Kyu hyun hanya berusaha mengatur nafasnya selama yang ia mau sebelum akhirnya pintu terbuka dan wajah yoona terpampang disana.

“kau tidak ke gallery?”

Nada datar dan pandangan matanya yang masih terfokus keatas tak membuat yoona terusik. Kyu hyun memang selalu seperti itu. Sosok yang paling benci dianggap lemah. “ada atau tidaknya aku tak akan membuat gallery tutup dalam dua-puluh-empat jam”

Yoona berharap perkataannya dapat sedikit menarik minat kyu hyun. Namun lelaki itu masih berdiam diri. Tak merespon apapun. Ia justru menutup matanya seolah-olah ia ingin ditenggelamkan kedasar dunia daripada harus jatuh sakit dan terlihat lemah seperti ini.

“aku membuatkanmu bubur” yoona membuka pembicaraan sebelum hening terlalu menggerogoti ruang diantara mereka. “dan, tolong dihabiskan. Kau harus minum antibiotik dan beristirahat dua hari ini, arra?!”

Ia pergi, tanpa butuh jawaban. Kecanggungan diantara mereka sudah terlalu menggungung. Yoona merasa belum waktunya ia bermanja atau justru terlihat terlalu perduli sementara kyu hyun sendiri tak ingin didekati.

Semua berlangsung hingga jam makan siang datang. Ketika yoona tengah mempersiapkan cream soup hangat dan langkah kyu hyun menggema membelah porselen coklat muda dibawahnya. Lelaki itu duduk dengan tshirt longgar dan training panjang lalu menunduk didepan meja makan.

Yoona kemudian datang, membawakannya segelas air hangat untuk diminum. “sepuluh menit lagi. Oppa bisa tunggu dikamar. Jangan terlalu memaksakan diri” ia mengusap rambut belakang kyu hyun lembut dan pergi.

Dari balik pantri yoona memperhatikan langkah kyu hyun yang kemudian datang dan meraih sebotol air mineral dingin dari lemari pendingin.  Ini sudah yang kesekian kalinya. Lelaki itu menolak segala hal yang ia berikan dan tak berkata apapun. Obat, sarapan dan sekarang hanya segelas air. Apa menurutnya itu lucu?

Yoona mendesah keras lalu berbalik badan, menatap kyu hyun yang kini mulai berbalik untuk meninggalkan dapur. “oppa!” pekiknya kesal. Yoona meletakkan kedua tangannya untuk bertumpu pada pinggang. Ketika kyu hyun berbalik, wajah datar dan seolah tak tau apa-apa miliknya seperti mencabik-cabik harga diri yoona. Sialan. Tidakkah ia pikir yoona telah berkorban karena sakit yang menyerangnya secara perdana itu?

“aku sudah menyediakanmu air, disana. Tidakkah itu cukup? Aku bisa memberikanmu gelas kedua. Kau tinggal memanggilku.” Protesnya.

Kyu hyun hanya menghela nafasnya. Lelaki itu masih tanpa ekspresi dan menatap yoona lurus. “kau bukan pembantu” jawabnya singkat. Tepat dan jelas. Kyu hyun memang tak pernah ingin yoona bertindak seperti pembantu rumah tangga. Karena itu ia selalu bebas dari segala tugasnya untuk memasak atau melayani kyu hyun seperti yang para pembantu lakukan.

Tugas yoona sangat sederhana.

Tetap tinggal disekitar kyu hyun. Dan lelaki itu akan memberikan apapun yang ia inginkan.

Tapi yoona bukan wanita matrealistis. Meski ia membutuhkan uang, dan kini sudah terlanjur terjebak dalam lingkar kehidupan eksklusif kyu hyun, ia bukan wanita yang tak tau diri untuk membiarkan lelaki itu sakit tanpa pengawasannya.

“tapi aku disini untuk merawatmu. Kau sakit, biarkan aku yang bekerja kini”

Lalu tatapan kyu hyun sedikit mengandung emosi. “aku tidak selemah itu, im yoona!”

“dan kau tidak sekuat bayanganmu, cho kyu hyun!” yoona menggeram, ia berjalan maju lalu meletakkan telapak tangannya lembut pada salah satu pipi kyu hyun. Kedua matanya meredup sayu lalu yoona merasakan hangat tubuh kyu hyun mengalir padanya.

Lelaki dengan ego setinggi langit itu memang sakit. Namun ia masih berusaha untuk tetap terlihat kuat saat kondisi tubuhnya sudah tak lagi memungkinkan. Yoona tau kyu hyun tak pernah menyukai saat-saat dimana orang mengasihaninya. Tapi untuk kali ini saja, ia ingin kyu hyun tau jika rasa tanggung jawabnya terhadap pria itulah yang membuatnya terus bertahan disini.

“oppa sakit. Berhentilah bersikap seperti ini, aku menghawatirkanmu” yoona kemudian mencondongkan dirinya, mengecup ujung bibir kyu hyun lembut lalu tersenyum. Biasanya, kyu hyun akan mengalah ketika yoona merengek manja. Lelaki itu tidak pernah bisa membantahnya jika ia sudah terlalu bersikap manis. Tapi kini berbeda, kedua rahang kyu hyun justru mengeras, lalu telapak tangan yoona dilingkupi oleh rasa panas ketika kyu hyun menggenggamnya dan menjauhkannya dari wajahnya yang hangat.

Kyu hyun menyeringai tipis dan semu, lalu memajukan tubuhnya hingga nafas berbau mint kyu hyun yang hangat itu kini menampar-nampar pipi yoona dengan cepat. Lelaki itu bertahan untuk waktu yang cukup lama, membuat debaran jantung yoona bekerja ribuan kali lebih cepat.

“Aku akan terus seperti ini sebelum kau berhenti bermain dibelakangku, im yoona”

Lalu semua mulai terasa abu-abu. Ketika kyu hyun kemudian bergerak menjauh dan menghilang dibelokan bilik. Yoona merasa dunia runtuh begitu saja. Dan pagi, itu hanya tersisa remuk rasa yang yoona pendam diam-diam. Tiba-tiba ia merasa begitu ketakutan.

Kyu hyun tak pernah mengancam pria manapun selama ini. Pria itu selalu bersikap acuh selama ia merasa sesuatu tak akan mengganggu teritorinya. Lalu kini, apakah kehadiran donghae adalah ancaman baginya?

 

kkeut.

 

Haii!! aku balik nih. ciee yang udah nungguin *digampar*. aku bawa series lanjutan yang udah aku gantung dua bulan ini. belum sempet aku revisi ya, udah jadi aja sukur, wkwk. series selanjutnya aku lanjutin minggu depan. insyaallah kalau aku punya waktu dan ide.

nah, aku juga belum sempet ngeprotect ya, rencananya bakal diprotect waktu end aja. aku lagi gak mood bikin cerita yang terlalu dewasa-__- peraturannya masih sama. ada id komen dan sudah meninggalkan komentar di semua part sebelumnya. tapi tenang, masih ada beberapa part lagi kok sebelum end.

stay tune, ya!

 

with love, park ji  yeon.

 

303 thoughts on “Unexpected : The past

  1. Baru sadar ini ff udah setahun yg lalu ya? Wah aku telat pdhl ini blog ceritanya keren2 bermutu.
    Btw kyuna NCan mulu, nanti dinikahin gak Author? Wkwk

  2. akuu nggak suka kalau yoona sama donghae, walaupun kyuhyunnya jahat sih… :((( tp pengen kyunanya bahagia…

    ttp smgt buat nulis thor…👍

  3. Dari awal baca ff ini aku suka sama karakter Soyeon yang peduli sama kehidupan Yoona. Dan yaa… setiap perkataan yg Soyeon kasih aku setuju banget!
    Yoona tanpa sadar dia udah kebablasan. Doa emang udah gak punya cinta untuk Donghae, tapi rasa nyaman itu yg bikin dia masih mau nanggepin Donghae..
    Reaksi Kyuhyun juga misterius–sukses bikin Yoona mikir kalo Kyuhyun gatau apa-apa padahal sebenernya tau..
    Makin kesini konflik makin seru 👍

  4. kyuhyun tau yoona sering ketemu sma donghae .eh dia nya diam aja enggak marah sma yoona .gara dipendem jadi sakit kyuhyun .kasian sma kyuhyun. ak

  5. Ahh,, akhirnya. Aku heran sma yoona. Mustahil bkan jika kyu gak tau apa apa, sekalipun ia sibuk. Dan yoona berpikir kyu gk tau apa apa ? Sungguh konyol bukan ? Dan yah mnurutku wajar jika kini yoona di lema, tpi tentu aku lbih memihak kyu dri pda hae ! Dan okk akan gmana kedepannya semua ini ?

  6. Aku suka banget waktu kyu bilang “Aku akan terus seperti ini sebelum kau berhenti bermain di belakangku im yoona .Keren tapi bikin nyesek

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s