2 Cincin (Sequel Love Falls)

2 Cincin

2 Cincin | De_Pus19 | Ficlet | PG-13

Angst | Romance

Xi Luhan | Im Yoona

Disclaimer | This story is mine, cast are belong god

Warning | Garing, typo, bad story, and other

Poster by Lee Sinhyo Art

Happy reading | Hope you like it

Mentari masih enggan menunjukkan sinarnya. Saat ini masih terlalu pagi hanya untuk membuka mata. Pukul 05:19. Tapi seorang pria sudah membuka matanya lebar-lebar. Lebih tepatnya, dia terjaga semalaman ini. Sebenarnya pria itu tidak memiliki penyakit insomnia, hanya saja kedua kelopak matanya enggan tertutup. Rasa kantuk dan lelahnya sirna begitu saja terganikan dengan beban pikiran. Ia merasa resah dan gudah. Sesungguhnya dia takut, takut dengan hari ini. Karna ketakutannya selama ini akan segera terwujud.

Pandangannya terjatuh pada seorang wanita cantik yang tengah tertidur pulas didalam pelukkannya. Wanita itu adalah isterinya-Seo Joo Hyun. Wanita cantik yang selalu mengisi hari-hari Luhan dengan sikap manis dan lembutnya. Wanita cantik yang pernah Luhan cintai. Pernah? Wow wow wow. Apa maksudnya? Jadi, selama ini Luhan tidak mencintai Seohyun? Sungguh? Ini sungguh konyol. Yeah tidak begitu juga, tepatnya Luhan sangat mencintai Seohyun sebelum dia datang dalam kehidupan pria itu.

Dia? Dia siapa? Dia adalah satu-satunya wanita didunia ini yang hampir membuat Luhan menjadi gila. Dia adalah satu-satunya wanita didunia ini yang selalu memenuhi otak Luhan. Dia adalah satu-satunya wanita didunia ini yang sangat berarti bagi seorang Xi Luhan. Dialah wanita yang selama ini Luhan cintai. Dialah Im Yoona.

Dan hari ini, wanita itu akan menikah.

“Saat pertama kali aku bertemu dengannya”

“Annyeonghanseo, Im Yoona imida”

Tanganku berhenti bergerak mendengar suara lembut itu. Kepalaku terangkat lalu menjatuhkan fokus mataku pada seorang gadis yang tengah berdiri didepan kelas. Semua mata tertuju padanya, tak terkecuali aku. Jadi dia, Im Yoona?

Cantik. Cantik sekali. Bisa dibilang, dia adalah gadis yang paling cantik yang pernah kutemui selain Eomma dan Seohyun. Mata bulat, hidung mancung, dan bibir tipis. Ditambah lagi dengan fakta bahwa dirinya dianugerahi tubuh yang ideal. Sungguh sempurna.

“Yoona, silahkan duduk disamping Xi Luhan” ujar Cha Songsaenim sambil menunjuk kearahku.

Dengan langkah pelan, ia berjalan menghampiriku. Dengan ditemani senyuman manis diwajah cantiknya. Dia menjatuhkan tubuhnya ke kursi disampingku. Untuk beberapa saat aku terdiam, memaku. Saat sorot mata itu menatap dalam kearah manik mataku.

Suara lembutnya-yang bagaikan permen kapas-menyapa gendang telingaku dengan begitu lembut. Ia berkata “Hai, namaku Im Yoona. Kau pasti Xi Luhan, kekasih Seo Joo Hyun” dan hal itu membuatku menahan nafas dengan jantung yang hampir melocos kebawah.

 

“Aku jatuh cinta padanya”

Selalu. Selalu seperti ini selama beberapa bulan terakhir. Ada apa dengan diriku? Setiap kali menatap mata itu, jantung ini berdebar dengan sangat cepat. Sebelumnya aku belum pernah merasaka seperti ini. Bahkan dengan Seohyun-kekasihku sendiri. Ini berbeda. Aku tidak terlalu bodoh, untuk berpikir kalau aku mengalami serangan jantung. Aku sering melihat perasaan ini didrama-drama yang sering Eomma tonton.

Aku jatuh cinta. Jatuh cinta pada sahabat kekasihku sendiri. Apa terdengar bodoh? Yeah, harusnya begitu. Apa yang harus kulakukan dengan perasaan ini? Menguburnya dalam-dalam dan bertingkah seperti tidak terjadi apapun. Atau, mengungkapkannya. Aku bahkan masih tidak mengerti. Ada perasaan ngilu didalam sana, saat melihat Yoona bersama pria lain.

Aku… aku mencintainya.

“Yoong”

Aku sedikit menarik pergelangan tangan kurusnya. Membuat langkah gadis itu terhenti dan berputar 180 derajat menghadapku. Ia terlihat sedikit terkejut. Tapi didetik berikutnya, senyuman manis itu muncul. Aku bersumpah demi apapun, saat ini aku berhenti bernafas.

“Aku mencintaimu”

“Tapi, aku malah menyakitinya”

Sedikit terkejut saat melihat pantulan bayangannya dicermin. Aku tak berbalik, hanya terdiam ditempat seakan tak pernah mengetahui kehadirannya disini. Bukan karna aku ingin menghindar darinya. Bukan, sungguh. Aku terlalu takut menyakitinya lagi. Terlalu takut hingga tubuhku serasa membeku.

“Hey”

Dengan balutan gaun selutut berwarna hitam dan dengan ditemanani senyuman yang entah apa artinya-sedih atau bahagia, aku tidak tahu. Ia terlihat begitu sempurna. Aku tak membalas sapaannya, tetap terfokus pada kerah kemeja yang kupakai sekarang.

“Kau tahu?” ia tertunduk memainkan jemarinya dengan gusar “Aku sedih menonton pernikahanmu tadi. Rasanya aku ingin berteriak memakimu” Yoona terkekeh kecil “Tapi, aku tidak mungkin melakukannya”

Sakit. Sungguh, ini sangat menyakitkan. Mendengar suara lirihnya. Serasa ada sebuah pisau kecil yang tertancap diulu hatiku. Yoona mendongak dan tersenyum manis-aku tahu, itu adalah senyum manis yang penuh dengan kepalsuan-lalu menatap bayanganku dicermin tepat pada manik mataku. Hanya menatap matanya dari pantulan cermin saja, sudah membuat jantungku berdetak tak karuan.

Yoona mengeluarkan sesuatu didalam tas jinjing yang dikenakannya lalu meletakkan disebuah meja kaca yang berada tepat disampingnya. Itu! Sebuah kotak kecil berwarna merah marun. Benar! Itu kotak cincin yang kuberikan padanya. Cincin yang kujanjikan akan bersarang dijari manisnya. Tapi, semuanya hanya khayalan belakang.

“Terima kasih dan selamat tinggal”

 

“Dan kini, aku menyesal”

Xi Luhan adalah seorang pria yang paling bodoh didunia ini. Yeah, dia. Pria itu tak dapat membedakan yang namanya cinta terhadap seorang wanita dan yang namanya cinta terhadap seorang sahabat. Menurutnya semua itu sama. Sama-sama merasakan takut ditinggali dan dilupakan.

Dia mencintai Seohyun. Yeah, awalnya dia mencintai wanita itu. Luhan mencintai Seohyun karna Seohyun adalah type idealnya. Dia menyukai wanita yang lembut, berwajah polos, berkulit putih, dan lain-lain. Tapi saat dia berciuman dengan wanita itu, dia tidak merasakan apapun yang dirasakan seseorang yang sedang jatuh cinta.

Jadi, itu bukanlah cinta. Hanya sebatas rasa kagum.

Tapi ada yang berbeda. Ada seseorang yang membuatnya merasakan hal yang berbeda. Wanita itu bukanlah type ideal Luhan, sama sekali bukan. Tapi wanita itu dapat membuat Luhan merasakan sesuatu yang aneh didalam sana. Merasakan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah dirasakannya.

Dia benar-benar, jatuh cinta.

Luhan melirik arloji hitamnya, pukul 10.20. Tepat 10 menit lagi, pernikahan Yoona akan segera dimulai. Kakinya melangkah panjang memasuki Gereja sambil menggenggam tangan Seohyun. Lalu mendudukkan dirinya tepat dikursi ketiga dari depan. Sudah banyak tamu yang datang. Sekarang tempat ini terasa begitu sesak dengan banyak orang yang berada didalamnya.

Suara alunan biola-yang begitu indah-menggema didalam ruangan ini. Luhan melirik arlojinya lagi, pukul 10.30, sudah waktunya. Seorang wanita cantik dengan balutan gaun pengantin berwarna putih-berjalan diatas karpet merah sambil mengaitkan lengannya diantara lengan pria tua yang sekarang berjalan disampingnya. Wanita itu terlihat begitu cantik dengan polesan make up tipis yang sangat alami. Dia terlihat seperti bidadari.

Yoona tersenyum manis, membalas senyuman para tamu yang tengah menghadiri acara pernikahannya. Dari sekian banyaknya tamu diruangan ini, hanya satu orang yang sama sekali tidak tersenyum. Dia jauh terlihat sedih dibandingkan senang dan Yoona sudah memperkirakannya. Siapa lagi kalau bukan Luhan. Pria itu menatap Yoona dengan tatapan sendu. Kepedihan, kekecewaan, dan penyesalan sangat jelas terpancar dari matanya.

“Bukankah mereka sangat cocok?” tanya Seohyun saat Yoona dan calon suaminya tengah berhadapan satu sama lain.

Luhan tersenyum getir. Cocok? Hah? Tidak sama sekali!

“Im Yoona. Apa kau bersedia menerima Lee Donghae sebagai suamimu yang sah? Mencintai dan menyayanginya dalam keadaan susah maupun senang?”

Tak pernah terpikir oleh Luhan, semua ini akan terjadi. Dia tidak pernah berpikir, akan merasakan apa yang Yoona rasakan dulu. Dia memang bodoh. Ya, benar. Dia pikir, dia bisa mencintai Seohyun. Ternyata tidak. Dia pikir, dia bisa melupakan Yoona. Ternyata tidak juga. Bodoh, sangat bodoh.

“Ya, aku bersedia” jawab Yoona tegas.

Luhan mati.

 

“Jika Tuhan tidak mengizinkanku bersama dengannya. Bisakah Tuhan menghentikan waktu untukku? Menghentikan waktu disaat aku menggenggam tangannya, tanpa berniat untuk melepasnya lagi”

Diluar sana, lagit begitu cerah. Matahari memancarkan sinarnya, menerangi bumi ini dengan kehangatannya. Tapi berbanding jauh dengan apa yang dirasakan pria itu sekarang. Dia merasa, sedang terjadi hujan lebat, petir saling bersahutan satu sama lain. Hatinya berkecamuk bagai ditengah badai.

“Besok aku akan menikah” guam wanita itu sambil menyodorkan sebuah surat undangan kepada pria yang tengah duduk berhadapan dengannya.

Pria itu tersenyum getir lalu meraih undangan pernikahan wanita itu. Lee Donghae dan Im Yoona. Bolehkah dia merobek undangan itu? Atau setidaknya, membuang undangan itu ketempat sampah? Bolehkah?

Luhan memperhatian surat undangan itu sebelum akhirnya dia meletakkannya diatas meja seperti semula “Boleh aku membuang undangan itu?” tanyanya sambil terkekeh kecil. Sedikit bergurau untuk menutupi rasa sedihnya kini.

Wanita didepannya-Im Yoona tersenyum simpul “Terserah” hanya kalimat itulah responnya. Dia menyesap kopi hitam dengan hati-hati. Lidahnya terasa terbakar, kopi itu masih terlalu panas untuk disantapnya kini. Tapi rasanya perihnya, tidak sebanding dengan perasaan hatinya kini.

“Sesakit inikah?” Yoona meletakkan cangkir kopinya saat mendengar pertanyaan dari Luhan. Yoona hanya menagguk sambil tersenyum kecil. Mengisyratkan pada Luhan, semua akan baik-baik saja “Kau terlihat bahagia bersamanya” tuduh Luhan.

Tidak ada satupun wanita didunia ini yang akan hidup bahagia dengan seorang pria yang tidak dicintainya.

“Kau juga terlihat bahagia bersama Seohyun” tuduh Yoona balik.

Luhan tertawa kecil “Tidak ada manusia didunia ini yang hidup bahagia dengan wanita yang tidak dicintainya”

“Kalau begitu kita sama”

Luhan tak mampu membaca pikiran Yoona. Tapi, dari apa yang baru saja diucapkannya. Luhan rasa, Yoona tidak bahagia dijodohkan dengan Lee Donghae. Apa Yoona masih mencintainya? Ada sedikit perasaan lega didalam sana. Setidaknya, Yoona masih mencintainya sampai detik ini. Apa dia terdengar jahat? Biarlah.

Luhan mengambil sebuah kotak cincin dari sakunya. Kotak cincin pemberiannya untuk Yoona, namun dikembalikan lagi oleh wanita itu. Yoona tidak keberatan saat Luhan memasukkan sebuah cincin bermata kecil dijari manisnya. Wanita itu tidak terkejut, dia tersenyum manis “Hanya untuk hari ini, mau kah kau memakainya?”

Yoona mengangguk sambil menarik tangan Luhan. Dia melepaskan cincin pernikahan Luhan dengan Seohyun dan memasukkan pasangan cincin yang Yoona kenakan kini “Xi Luhan, mau kah kau membahagiakanku? Hari ini saja. Berikan waktumu untukku hari ini saja”

“Kau tidak perlu bertanya. Aku akan melakukan apapun untuk membuatmu bahagia”

 

“Mungkin saat ini adalah terakhir kalinya aku dapat menggenggam tangannya. Tidak apa, aku tidak menyesal. Jika aku mempunyai kekuatan, aku berharap, aku bisa menghentikan waktu saat ini juga untuk selamanya”

~End~

9 thoughts on “2 Cincin (Sequel Love Falls)

  1. Ff nya nyesek bngt pengen nangis.. luhan sih knpa dia mlah pilih seohyun jdi nya gtu deh…saling mencintai tpi tdak sling memiliki…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s