Destiny (Chapter 2)

img1415714184856

 

Destiny
Chapter 2

  • Judul : Destiny (Chapter 2)
  • Author : Park Hee Young
  • Rating FF : PG-15
  • Genre : Romance, Sad
  • Main Cast : Im Yoon Ah, Cho Kyuhyun, Choi Siwon
  • Support Cast : Lee Donghae, Choi Minho, Seohyun, Jessica Jung, Choi Sulli
  • Disclaimer : FF pertama yang di publish nih, jadi maaf ya kalau ada typo, kata-kata yang nggak nyambung atau ceritanya yang gak jelas hehehe. Respon sama sarannya di tunggu ya, thanks and enjoy the story J

 

 Yoona

               “Yoona..ku mohon kau ke rumah sakit sekarang. Siwon ingin bertemu denganmu. Bisakah kau kemari meskipun hanya sebentar..”

              Isakkan dan kata-kata Ahra eonni masih terngiang di telingaku. Aku terus berlari dan berlari. Tanpa mengucapkan satu kata pun aku berlari dari kantor dan meninggalkan pekerjaanku. Semua teriakkan dan pertanyaan dari orang-orang di kantor sama sekali tak ku hiraukan. Yang ada di otakku hanya oppa. Siwon oppa.

Sesampainya di rumah sakit aku mencari-cari ruangan yang disebutkan oleh Ahra eonni. Aku mencari sambil menangis tersedu. Banyak orang yang memperhatikanku tapi aku tak perduli. Yang kuperdulikan sekarang hanyalah Siwon oppa.

Pintu ruangan yang dimaksud Ahra eonni ada di depanku sekarang. Ku intip disana banyak orang yang mengelilingi Siwon oppa. Dia terbaring lemah dan orang-orang yang ada disana menangisinya. Apa yang sebenarnya terjadi?

Aku menghapus semua air mataku dan mencoba menahan agar aku tak menangis saat bertemu dengannya. Dia benci melihatku menangis. Aku harus kuat bagaimanapun caranya.

Daun pintu yang dingin itu ku buka perlahan. Semua orang melihat ke arahku ketika pintu terbuka. Mereka semua memberi jalan padaku agar aku bisa menemui Siwon oppa.

Spontan aku membengkap mulutku agar tak menangis didepannya. Siwon oppa benar-benar terlihat lemah. Melihat alat-alat medis terpasang di tubuhnya membuatku semakin lemas.

Kemudian aku mendekat padanya.

“Yoona-ya..”ucapnya dengan lemah.

Aku semakin tak bisa menahan tangis yang sudah membendung dan siap meluap. “Ne..oppa.”balasku dengan suara bergetar. Air mata mulai menetes dari kelopak mataku.

“Mianhaeyo..mianhae..jeongmal miahae..”kata Siwon oppa sambil terisak kemudian menangis.

“Maksud oppa apa? Aku tak mengerti.”

“Saranghaeyo Im Yoon Ah..saranghaeyo.”

“Nado saranghaeyo, oppa.”kataku sambil terisak.

“Mohon maaf para penjenguk pasien dipersilahkan keluar karena dokter akan melakukan pemeriksaan.”ungkap Suster Nam.

 

Hanya aku yang bersikeras untuk tak keluar dari ruangan ini. Aku butuh penjelasan. Apa yang sebenarnya terjadi? Kemarin oppa baik-baik saja lalu kenapa aku melihat oppa terbaring di rumah sakit seperti ini? Namun Ahra eonni berhasil membujukku keluar dengan syarat dia akan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.

Hatiku sangat terpukul mendengar apa yang Ahra eonni ceritakan.

“Siwon memiliki kelainan pada jantungnya sejak dulu. Sejak kecil appa membawa Siwon berobat di Amerika dan menitipkannya kepada pamanku, yang juga seorang dokter spesialis jantung disana. Setelah pengobatan bertahun-tahun, kondisi Siwon membaik sehingga dia bisa kembali ke Korea.  Awalnya ketika dia tau dia frustasi. Siwon tak lagi memiliki semangat hidup. Tapi, sejak dia bertemu denganmu semangat hidupnya meningkat bahkan dia bertekad untuk menjadi seorang dokter dan dia berhasil, dia kini sudah menjadi dokter bedah yang handal. Kami semua sepakat untuk tidak memberitau soal penyakitnya padamu, Yoong. Siwon hanya tak ingin memberikan beban padamu. Lagipula, dia sangat yakin bahwa dia bisa sembuh.”

“Eonni..yang aku dengar ini bohong bukan? Oppa hanya sedang menjebakku.”bantahku.

“Ani, semuanya benar, Yoong. Tanpa diduga, penyakit Siwon mulai kambuh belakangan ini. Hingga kondisinya kritis seperti sekarang. Belakangan ini, Siwon menghilang bukan untuk menghindarimu. Dia perlu perawatan intensif. Ponselnya sengaja dia matikan agar kau tak bisa menghubunginya. Siwon tak ingin kau tau tentang keadaannya. Aku memaksa Siwon untuk memberitaumu karena bagaimanapun juga kau harus tau. Aku tau ini menyakitkan, aku mohon kuatlah Im Yoon Ah.”

 

Aku benar-benar tak habis pikir. Bagaimana bisa ini semua terjadi pada oppa? Dan aku sangat menyesal, mengapa aku baru mengetahuinya hari ini? Setelah dokter memeriksa oppa aku diijinkan untuk masuk menjenguknya. Ku lihat oppa yang sedang tertidur lelap. Perlahan air mataku menetes dan terus menetes.

Tiba-tiba Siwon oppa terbangun. Tangannya perlahan menghapus air mataku. “Uljima, kau kan sudah berjanji tak akan menangis lagi.”ucapnya pelan. Aku bisa melihat oppa sedang menahan sakit yang begitu luar biasa.

Aku tak sanggup berkata apa-apa. Melihatku terdiam Siwon oppa mengelus kepalaku sambil tersenyum. “Kemari..”ungkapnya memintaku untuk memeluknya.

Aku langsung memeluknya sambil terisak. “Kau harusnya memberitauku sejak dulu oppa.”

“Ani, aku tak ingin melihatmu sedih seperti ini. Jika kau tau, kau akan sedih jika bersamaku.”

Aku hanya terisak dalam pelukannya. Kemudian oppa meraih tanganku dan menggenggamnya erat. “Yoong, mianhae. Saranghaeyo.”ujarnya sambil tersenyum kemudian matanya tertutup rapat. Tangannya pun terlepas dari genggaman tanganku.

“Oppa??!! Oppa!!! Siwon Oppa??!!!”teriakku,

Mendengar teriakkanku semua orang masuk ke dalam.  “Siwon-ah! Siwon-ah!!!!!!”teriak Ahra eonni histeris. “Jangan tinggalkan noona, Siwon-ah.”ujarnya sambil menangis.

Aku masih terpaku menatap oppa yang tertidur. Aku masih belum mengerti dengan keadaan disini. Ini pasti mimpi buruk, aku tau ini pasti mimpi burukku.

“Siwon-ah, appa tak bisa kehilanganmu, appa tak bisa jika harus kehilangan anak appa lagi. Irreona Siwon-ah, Irreona.”teriak Paman Choi sambil memeluk tubuh Siwon oppa. Semua yang ada di ruangan ini ikut menangis tapi aku masih mematung dihadapan Siwon oppa yang kini tertidur begitu saja.

 

“Dia hanya tertidur eonni, nanti juga dia akan bangun lagi. Siwon oppa hanya tertidur..”kataku sambil menahan tangis.

“Yoona-ya!!!”Ahra eonni menghampiriku kemudian memelukku erat. “Siwon takkan kembali lagi Yoona, kau harus menerimanya. Maafkan kami, Yoona..”isaknya.

Aku hanya diam. Aku tak boleh menangis. Aku harus kuat. Aku berjanji padanya bahwa aku takkan menangis lagi. “Oppa akan bangun jika aku menepati janjiku kan? Aku akan menepatinya oppa!! Aku takkan menangis lagi!! Kau lihat? Aku tak menangis sekarang. Seharusnya kau bangun. Aku sudah menepati janjiku. Ayo bangun oppa! Aku tak mengerti apa yang terjadi disini.”kataku sambil mengguncang-guncangkan tubuh oppa. Tapi matanya masih tertutup rapatnya.

Beberapa orang mulai keluar dari ruangan ini. Hanya tinggal aku dan Ahra eonni. Aku masih diam menatap oppa.

“Yoona-ya!!!”teriak seorang yeoja. Aku mengenal teriakkan itu. Suara Yuri eonni. Aku menoleh dan ternyata benar dia Yuri eonni dia memelukku kemudian menangis kencang. “Gwenchana, semua akan baik-baik saja.”

Setelah memelukku beberapa menit Yuri eonni melepas pelukannya.

“Apa yang kalian lakukan pada oppa? Kenapa kalian mencabut seluruh alat medisnya? Itu bisa membahayakan Siwon oppa!!”teriakku. Tapi perawat itu tak mendengar perintahku mereka mencabut semua alat medisnya.

“Bangun Yoona! Sadarlah! Siwon, dia tlah meninggalkanmu untuk selama-lamanya dan dia takkan kembali.”bentak Yuri eonni kemudian dia mendekat ke jasad Siwon oppa. “Apa yang kau lakukan pada adikku? Berani-beraninya kau menyakiti adikku! Jika begini akhirnya, harusnya kau menjauhi adikku, bukankah kau berjanji takkan meninggalkannya? Dia percaya padamu Siwon-ah, mengapa kau lakukan ini pada adikku???!!!”teriak Yuri eonni sambil mengguncang-guncangkan tubuh Siwon oppa.

“Chagi…sudahlah.” Kata Yesung oppa yang mencoba menenangkan eonni.

“Kenapa harus Yoona? Kenapa harus adikku? Kenapa bukan aku saja yang menderita? Yoona terlalu sering menderita, Siwon-ah!!!”

“Eonni…”hanya kata-kata itu yang keluar dari mulutku.

“Kau dan adikmu sama saja. Kalian semua selalu menyakiti Yoona seharusnya aku tak percaya pada kalian.”isaknya lebih dalam lagi.

Aku pergi keluar dari ruangan ini. Berlari sejauh mungkin dari mereka semua dari semua keadaan ini. Aku ingin melarikan diri. Aku tak sanggup lagi. Setelah berlari cukup lama aku merasakan seseorang memelukku dari belakang.

“Gwenchana..”ujarnya.

Aku membalikkan badanku kemudian menangis di pelukannya. “Minho-ah, apa salahku? Sampai-sampai Siwon oppa juga ikut meninggalkanku?”

 

Author P.O.V 

 

“Aku sudah sampai eomma. Ne, arraseo. Nado saranghaeyo eomma.”ujar seorang namja kemudian menutup teleponnya. Dia menyimpan ponsel ke dalam saku celananya. Dan secara tak sengaja dia menyenggol seseorang dari arah berlawanan. Satu cup kopi yang di bawa yeoja itu tumpah.

“Aish! Sial sekali aku pagi ini.”gerutunya sambil merapikan dokumen yang dia bawa. Kemudian kembali berjalan tanpa memperdulikan namja yang menabraknya. Namja itu memperhatikan yeoja yang dia tabrak. Dia menatap punggung yeoja itu yang semakin menjauh dari pandangan matanya. Ada hal aneh yang dia rasakan.

Dreett drettt…namja itu mengambil ponsel dari sakunya.

“Ne, noona? Aku..aku akan ke suatu tempat. Setelah itu aku akan ke rumah sakit.”

 

Namja itu melangkahkan kakinya ke gedung yang cukup tua ini. Gedung itu sedikit berubah dengan beberapa renovasi. Tapi apa yang dia rasakan masih tetap sama. Ketika terakhir kali menginjakkan kaki sampai detik ini. Perasaan itu masih ada. Nama yeoja itu masih terukir dihatinya.

 

“Ya! Rusa jelek! Kembalikan PSP-ku!”namja itu terus berlari mengejar yeoja yang berlari kencang dihadapannya. 

              “Kejar aku jika kau bisa, evil jelek!”balas yeoja itu sambil tertawa lepas. “Suruh siapa kau terus mengabaikanku karena PSP jelek ini?”

              Kemudian namja itu berhenti. Dia memeluk lututku dan napasnya menjadi tak beraturan. “Tapi aku hampir saja selesai memainkan game baruku. Kau malah merebutnya dan aku harus mengulang lagi dari awal. Aish kau ini menyebalkan sekali.”

              Sadar bahwa namja di belakangnya berhenti, yeoja itu juga berhenti berlari kemudian menoleh ke belakang. “Jangan lakukan itu lagi. Aku tak suka di nomer duakan. Apalagi dengan PSP itu.”celoteh yeoja itu dengan kesal kemudian memberikan PSP nya pada namja itu dan pergi.

              “Ya! Kau mau kemana  Yoong? Tunggu aku.”kejar namja itu dengan lebih cepat agar bisa menyusulnya. “Bagaimana bisa kau cemburu dengan PSP-ku hah? Tidak masuk akal.”ujar namja itu sambil merangkul yeoja yang kini ada disampingnya. Namun yeoja itu hanya diam. “Kau marah padaku?”tanyanya memastikan. Lengkungan indah dibibirnya tak lagi nampak.

              “Menurutmu?” namja itu menjadi semakin bingung mendengar perkataan yeoja yang sedang memalingkan wajah darinya.

              “Jika sudah begini, aku harus mentraktirmu es krim. Baiklah, aku akan mentraktirmu es krim sepulang sekolah, bagaimana?”tawarnya dengan senyum percaya diri.

              “Benarkah? Aku mau. Tapi aku mau 2 mangkuk.” Yeoja itu langsung tersenyum dan amarahnya meleleh ketika dia mendengar es krim. 

              “Asal kau tak marah lagi padaku.”

              “Jika ada es krim, maka aku tak akan marah lagi padamu.”

 

              Bayangan itu kemudian hilang bagai diterpa angin. Kemudian kedua kakinya membawa namja itu berjalan menuju sebuah lorong kelas yang sepi. Otak dan hatinya kembali membawa ke masa lalu. Seolah-olah dia melihat kejadian 10 tahun yang lalu. Tangannya memegang daun pintu yang terasa dingin dan kemudian membuka pintu kelas yang sedikit berdebu itu. Semuanya masih sama dimatanya.

 

“Keluarkan pr kalian sekarang.”ujar Park Seosangnim. Guru yang terkenal galak di SM High School. Semua murid mengeluarkan pr mereka dan menyimpan di meja.

              “Omo! Dimana PR ku? Perasaan aku memasukkannya ke tas tadi malam. Aigoo, ottokae?” seorang yeoja terlihat panik dan membongkar seluruh isi tas nya.

              “Kau tak membawa PR mu ImYoon Ah? Atau kau tidak mengerjakannya sama sekali?”Tanya Park Seosangnim sambil memincingkan matanya pada yeoja itu.

              “Aku bersumpah sudah mengerjakannya seosangnim. Sepertinya aku lupa membawa PR ku.”ujar yeoja itu sambil menundukkan kepalanya. Dia terlihat ketakutan.

              “Alasan saja. Silahkan keluar dari kelasku, nona Im.”

              Dengan berat hati yeoja itu keluar dari kelas. “Ne, seosangnim.”kemudian diam membungkuk. Rambut panjang hitamnya menutupi wajah cantiknya. Kini hanya punggungnya yang terlihat hingga akhirnya dia tak terlihat lagi. 

 

              “Siapa lagi yang tak mengerjakan PR?”Tanya Park seosangnim.

              Namja itu memasukkan pr yang dia kerjakan semalanan di kolong meja kemudian memberanikan diri untuk berdiri.  “Kau? Kau tak mengerjakannya juga? Bagus sekali. Kau keluar sekarang juga dari kelasku!!”bentak Park seosangnim. “Belum seminggu sudah ada yang berani tak mengerjakan PR.”  Entah apa yang mendorongnya saat itu. Hingga Park seosangnim membentak dan menyuruhnya keluar dari kelas.

 

              Namja itu melihat yeoja duduk di sebrang kelas sambil memeluk lututnya. Dengan berani dia menghampirinya. Sampai dia sadar dengan keberadaan namja itu.

              “Kenapa kau tak mengerjakan PR? Mustahil orang seperti mu tak mengerjakan PR.”tanyanya kemudian duduk disebelah yeoja itu.

              Kemudian dia mengangkat wajahnya. Omona..neomuyeppo…wajahnya begitu bersih dan cantik. “Tumben sekali, seorang Yoona tak mengerjakan PR apalagi pelajaran Park seosangnim. Apa yang terjadi padamu?”ulangnya.

              “Kau? Bagaimana kau ada disini juga? Enak saja aku mengerjakannya. Sepertinya tertinggal di rumah.”

              “Dasar. Makanya kau harus lebih teliti dan berhati-hati.”namja itu kemudian mengacak-acak rambut yeoja itu.

              “Aish! Bisa tidak kau tidak mengacak-acak rambutku?”protesnya.

              “Ayo kita pergi!”namja itu mengulurkan tangannya. Yeoja itu hanya diam tak mengerti.

              “Kemana?”

              “Sudah ikut saja. Kajja!”kemudian tanpa permisi namja itu menarik lengan yeoja itu dan membawanya ke suatu tempat.

 

              “Mulai sekarang, tempat ini menjadi milik kita berdua.”celoteh namja itu.

              “Pabo-ya! Tempat ini jelas milik seluruh murid SM. Semua juga bayar disini. Kau tau?”balas yeoja itu.

              “Ini jadi tempat rahasia kita, jarang ada murid yang kesini. Sepertinya hanya aku yang menemukan tempat ini.”

              Yeoja itu mengamati sekeliling. Sebuah taman yang cukup luas, namun sangat sepi. Taman ini terletak di bangunan lama yang tak pernah digunakan. Benar kata namja itu, taman ini sepertinya tak banyak orang yang tau.

             

              “Ah, bagus sekali.”teriak namja itu. Yeoja itu hanya memperhatikan temannya yang berbaring di hamparan rumput hijau taman ini.

              “Apa yang kau lakukan?”tanyanya yang masih memperhatikan namja itu.

              “Kemarilah. Berbaring disini.”suruh namja itu. Yeoja itu  kemudian berbaring disebelah namja itu. Dia menatap langit biru yang begitu luas.

              “Rasanya aku bisa menggapai langit.”ucap yeoja itu riang. “Ah. Neomu yeppo.”teriak yeoja itu sambil tersenyum lepas. Rambutnya yang hitam itu terbawa angin. Dan namja disebelahnya semakin tak bisa melepaskan pandangannya dari yeoja itu meskipun hanya sedetik.

 

“Bogoshipoyo, apakah kau masih mengingatku?”ujarnya sambil menitikkan air mata.

Ponsel-nya berdering lagi. “Waeyo noona?”tanyanya. Setelah mendengar ucapan dari sebrang sana, dia langsung berlari sekuat tenaga. Keringat pun telah bercucuran namun dia tak perduli. Dia harus sampai sebelum dia terlambat.

 

“Kyuhyun-ah, hyung mu…dia telah pergi.”

 

              Pikirannya benar-benar kalut. Dan ketika dia sampai di tempat itu, dia benar-benar terlambat. Hyung yang sangat dia cintai telah menghembuskan nafas terakhirnya. Dan dia tak ada di saat-saat itu. Dia benar-benar terlambat, dia tak mendengar apa yang ingin hyung nya katakan sebelum pergi. Penyesalan memang selalu datang di akhir, dan dia benar-benar menyesal saat ini.

Kyuhyun menyimpan air matanya disaat orang-orang yang berada di pemakaman menangisi kepergian hyung-nya. Dia menangis dalam hatinya. Menangis sekencang-kencangannya.

Kyuhyun menatap seorang yeoja yang menatap lurus ke batu nisan yang bertuliskan nama hyungnya. Wajahnya tertutupi oleh rambut hitam panjangnya. Yeoja itu diam, dia tak menangis menjerit seperti yang lainnya. Tapi terlihat dari wajah yeoja itu bahwa dia menyimpan luka yang begitu dalam sama sepertinya. Dia memilih diam daripada menangis. Hanya menyimpannya dalam hati.

“Ayo..”ajak seorang namja di sebelahnya. Yeoja itu kemudian mengelus batu nisan sambil tersenyum kemudian pergi. Kyuhyun merasa tak asing dengan yeoja tadi. Seolah-olah dia pernah melihatnya tapi dia tak ingat dimana dan kapan. Kyuhyun menatap punggung yeoja itu. Sampai akhirnya dia ingat, yeoja itu orang yang dia tabrak pagi tadi.

 

One year later

 

Kyuhyun

 

“Kau yakin akan pergi ke Seoul? Untuk apa kau kesana? Bukankah kau tak ingin kesana lagi? Bagaimana dengan pekerjaanmu disini?”Tanya eomma yang melihatku sedang mengermasi barang-barangku.

“Ada sesuatu yang harus aku selesaikan di Seoul eomma. Dan sepertinya aku akan menetap disana sampai waktu yang tak bisa aku tentukan.”jawabku dengan mantap.

“Apa kau ingin bertemu dengan yeoja itu?”Tanya eomma hati-hati. “Apa karena hyung mu sudah meninggal jadi kau ingin bertemu dengannya? Begitukah?”

Aku tersentak dengan pertanyaan eomma. “Aku hanya ingin bertemu dengan Ahra-noona juga mengunjungi makam hyung. Bukankah eomma mengajarkan  padaku untuk tidak mengambil sesuatu yang bukan milikku?”

Kemudian giliran eomma yang diam. Dia tertegun melihatku kemudian mengelus kepalaku dengan lembut.

“Maafkan eomma, ini semua salah eomma. Kau harus maafkan hyung mu juga. Keadaan sekarang telah berubah Kyuhyun-ah, kau tak perlu menghindarinya lagi.”

Aku tersenyum getir. “Ku rasa tak ada yang berubah dan tak ada yang perlu ku rubah.”aku menelan ludah dan membuang napas dengan berat. “Aku pergi eomma. Sampaikan salamku pada appa jika dia pulang nanti.”

“Ne, hati-hati Kyuhyun-ah.”

 

“Oppa!!! Kyuhyun oppa!!!”teriak seorang yeoja yang berlari mengejarku. “Oppa, kau mau pergi kemana?”yeoja itu memelukku dengan erat.

“Seohyun-ah?”

“Jangan pergi oppa, apa kau tega meninggalkanku dengan eomma? Siapa yang akan menjaga kami?”tanyanya sambil menangis.

“Ada appa. Kau lupa? Jangan nakal dan jagalah eomma dengan baik.”ujarku sambil menatap adik tiriku yang masih saja menangis. “Uljima…kau terlihat jelek ketika menangis. Kau ini sudah dewasa, jangan menangis lagi.”lanjutku sambil mengelus kepalanya dengan lembut.

“Oppa! Kau harus janji satu hal padaku.”

“Apa itu?”

“Jangan pernah lupakan aku. Kau harus sering menghubungiku. Kau harus menjaga dirimu baik-baik.”

“Dasar! Itu bukan satu permintaan tapi banyak.”keluhku. Seohyun hanya tersenyum. “Aku pergi.”

 

“Kyuhyun-ah, bisa kah kau ke Seoul walaupun hanya beberapa detik saja. lakukan ini demi hyung mu. Jebal..”

 

Aku melangkahkan kakiku di bandara Incheon Seoul. Badanku pun mulai terasa pegal akibat penerbangan  kali ini. Kepalaku juga sedikit pusing dan aku sedikit mengantuk. Selama penerbangan aku tak bisa tidur. Memikirkan apa lagi yang diinginkan hyung dariku.

Aku merogoh sakuku saat ada yang bergetar di sakuku. Apa lagi kalau bukan ponsel-ku. Kemudian ku keluarkan benda itu dari saku dan foto Ahra noona lah yang muncul.

“Ne, noona?”jawabku sambil menghentak-hentakkan kaki.

 

“Aku sudah sampai. Kau jadi menjemputku?” Aku pun melihat ke sekeliling mencari sosok noona-ku. “Mwo? Aish kau ini. Baiklah. Tak perlu. Aku ingin jalan-jalan sendirian. Nanti malam saja kita bertemu. Kau yang menetukan tempat. Ne..”

Kemudian aku menyimpan benda itu di sakuku lagi. Noona tak jadi menjemputku karena ada halangan. Sikap nya memang belum berubah. Selalu sulit baginya untuk menepati janji.

“Taxi!” aku menyetop salah satu taxi. Hal yang ingin aku lakukan sekarang adalah bertemu dengan hyung. Bagaimanapun juga aku sangat merindukannya. Sejahat apapun dia padaku, sekejam apapun dia, meskipun dia telah membuat hatiku terluka, tapi dalam lubuk hatiku aku masih dan aku akan selalu menyayanginya. Tak melihatnya di detik-detik terakhir adalah penyesalan yang besar dalam hidupku.

“Sudah sampai, tuan.”ujar supir taxi itu.

Setelah turun dari taxi, aku mampir ke salah satu toko bunga. Yang tak kusangka toko bunga ini ternyata masih ada. Sejak aku SMA sampai sekarang, toko ini masih berdiri. Reflex aku tersenyum. Sampai-sampai aku teringat kenangan itu dan seolah-olah terputar ulang di depan mataku.

 

Kyu!! Berhenti. Ada toko bunga yang baru buka.”ujar Yoona sambil menarik tanganku dan memaksa ku untuk berhenti. Kemudian aku menoleh, mata Yoona menunjukkan bahwa dia ingin masuk kesana. “Ayo, Kyu!!! Kau ini kenapa diam saja?”protesnya.

              “Untuk apa kesini?”tanyaku malas.

              “Untuk melihat dan membeli bunga Kyu, kau pikir untuk apa lagi? Untuk bermain game?”omelnya. Merupakan hiburan tersendiri bagiku melihatnya mengomel seperti itu. Sangat menggemaskan. “Ya sudah kalau tidak mau! Biar aku saja yang ke dalam sendiri.” Dia melepaskan tanganku kemudian masuk ke toko itu sendiri.

              Diam-diam, aku membeli satu pot  kecil bunga matahari. Dan cepat-cepat kembali ke tempat asalku. Yoona datang membawa sebuket bunga lily di tangannya. Cepat-cepat aku menyembunyikan bunga matahari itu di belakang badanku.

              “Kau membeli bunga itu?”tanyaku.

              “Ani..” dia menggeleng. “Aku mendapatkannya secara gratis.”ujarnya senang. “Seorang namja yang ada disana bilang kalau aku seperti bunga lily, cantik dan lembut. Lalu dia memberikanku bunga ini dengan gratis sebagai hadiah. Haaaa aku merasa beruntung hari ini.”lanjutnya dengan antusias.

              “Cantik dan lembut? Omong kosong apa itu? Namja itu pasti belum tau bagaimana kau yang sebenarnya. Cih..kau ini bisa-bisanya menerima bunga dari orang yang tak kau kenal.”

              “Aish, kau pasti sirik ya? Kau ingin bunga gratis juga?”ejeknya.

              “Sudahlah ayo pulang.”ajakku. Yoona berjalan di depanku dengan riang. Sedangkan mukaku menjadi kusut. Bunga ini..sepertinya tak bisa ku berikan padanya. Dia sudah terlalu gembira dengan bunga lily itu. Aku terlalu pengecut untuk memberi bunga matahari itu padanya. Terlebih ketika aku tau siapa orang yang memberikan  bunga lily itu.

 

              “Ada yang bisa saya bantu, tuan?”Tanya seorang yeoja yang merupakan pegawai toko bunga dan berhasil membuyarkan lamunanku.

“Tolong sebuket bunga lily putih.”kataku.

“Mianhae, bunga lily nya sudah habis tuan. Baru saja di beli oleh yeoja di sebelah tuan.”ungkapnya. Aku langsung menoleh ke yeoja disebelahku. Dia memegang sebuket bunga lily itu.

“Ara ara, sebentar lagi aku ke kantor. Bilang pada Nona Jung itu agar tidak bawel lagi.”ucapnya yang sedang menerima telepon entah dari siapa. Dia pun memberikan uang kepada penjaga toko yang ada di depan kami. “Ne, aku sudah memberitahu Taeyeon eonni untuk mengurus semuanya selagi aku belum sampai ke kantor.”

“Ini kembaliannya.”pegawai itu memberikan uang kembalian kepada yeoja yang masih sibuk dengan teleponnya.

Aku tak bisa memalingkan pandanganku dari yeoja ini. Sesuatu tlah menarikku untuk terus menatapnya bahkan sampai dia pergi, sampai hanya punggungnya yang berlalu yang bisa ku lihat.

“Tuan?”Tanya pegawai bunga yang menyadarkanku lagi dari yeoja asing itu. Ani, aku tak merasa asing padanya. Sama sekali tidak. Meskipun dia memakai kacamata hitam namun  tetap terasa tak asing bagiku.

“Ya sudah jika tak ada.”

“Apakah ada bunga lain yang tuan inginkan?”tanyanya. Aku menggeleng kemudian keluar dari toko. Padahal hyung menyukai bunga lily sama seperti yeoja itu.

Aku meneruskan perjalananku. Sampai akhirnya aku tiba di tempat ini. Tepat di pemakaman hyung-ku. Namanya terukir di batu nisan. Ku lihat ada sebuket bunga lily di makam hyung. Mungkinkah?

“Hyung, mianhae aku karena aku baru datang sekarang sejak hari kematianmu. Aku hanya terlalu takut untuk kembali kesini. Mian, aku datang dengan tangan kosong. Aku tak membawa bunga kesukaanmu karena seorang yeoja membelinya terlebih dahulu dariku. Tapi, ku lihat sudah ada orang yang memberikanmu bunga lily. Mungkinkah itu dia? Ku pastikan itu dia. Aku senang, dia masih ingat padamu. Hyung, aku takut bertemu dengannya. Bagaimana jika aku bertemu dengannya? Kata apa yang harus aku ucapkan pertama kali padanya? Oh ya, apa yang hyung inginkan dariku? Sampai-sampai aku harus datang ke Korea? Hyung, aku ingin kau tau, bagaimanapun juga dan apapun yang terjadi, aku akan selalu menyayangimu, hyung.”kataku sampai-sampai tak terasa bulir-bulir air mata jatuh dari mataku.

 

***

“Kyuhyun-ah!”

Aku mencari-cari sosok yang menyerukan namaku. Dan di salah satu meja di pojok restoran seorang yeoja melambai-lambaikan tangannya dan tersenyum padaku. “Kyuhyun-ah!”panggilnya lagi.

“Noona!”balasku kemudian menghampirinya. “Lama tak bertemu.”

“Bogoshipo, Kyuhyun-ah.”ujarnya sambil mencubit pipiku.

“Arg, noona! Appo!”pekikku.

Noona-ku, tawanya meledak melihat tingkahku. Dia selalu mencubit pipiku dulu. Apalagi jika dia tau kalau aku bertengkar dengan hyung. “Mian, noona hanya rindu mencubitmu seperti itu. 10 tahun bukan waktu yang sebentar, Kyuhyun-ah. Noona kehilangan dongsaeng noona yang nakal, dan sekarang noona juga harus kehilangan dongsaeng noona lagi.”ucapnya dan kini wajahnya berubah menjadi murung. Aku tau, noona pasti sangat kehilangan hyung.

“Ya! Mengapa jadi melankolis begini! Aku kesini bukan untuk melihatmu murung seperti itu, lebih baik aku pulang saja kalau begini.”kataku kemudian berdiri dan membuat noona syok dan langsung memegang tanganku. Mencegahku untuk pergi.

“Jangan pergi!”

“Noona, aku lapar. Ayo segera pesan makanan!”keluhku. Dia tersenyum dan memesankan makanan kesukaanku. Noona masih mengingat makanan kesukaanku. Kami makan bersama-sama sambil bercerita mengenang masa lalu. Mengingat ketika aku, noona, dan hyung tertawa bersama. Bagaimana kita menghabiskan waktu bersama dengan ceria waktu itu.

“Kyuhyun-ah..”panggil noona dan nada bicaranya kembali berubah. Tak seceria saat kami makan tadi.

“Ne? Waeyo noona?”

Dia mengambil tasnya kemudian mengambil sesuatu dari sana dan meletakkan benda itu di atas meja. Sebuah surat?

“Surat ini…Siwon menitipkannya padaku sebelum dia meninggal. Dia bilang surat ini harus ku berikan padanya tepat disaat 1 taun kematiannya. Dia meminta aku untuk memberikannya langsung padamu. Surat ini dia tulis dengan tangannya sendiri beberapa jam sebelum dia meninggal karena dia yakin dia tidak akan bisa melihatmu lagi. Dia…berharap agar kamu mau memenuhi keinginan terakhirnya.”

Aku tak bisa berbicara apa-apa. Hanya menatap surat itu dengan tatapan hampa.

“Untuk lebih jelasnya lagi, kau bisa baca surat itu. Tolong penuhi keinginan Siwon yang terakhir. Kau…menyayanginya bukan?”Tanya noona sambil menatapku penuh harap.

Aku mengambil surat itu tanpa menjawab perkataan noona. Kemudian membuka surat itu. Dan membacanya dengan hati-hati.

 

Untuk Choi Kyuhyun

 

              Kyuhyun-ah, mungkin aku takkan lama lagi berada di dunia ini. Jika aku bisa memutar waktu, aku ingin kembali ke masa lalu. Hyung banyak bersalah padamu, Kyuhyun-ah. Mianhae, jeongmal mianhae. Mungkin kata maafku ini tak bisa menebus semua kesalahanku padamu. Bahkan seumur hidupku pun aku masih tak bisa menebusnya.

              Kyuhyun-ah, maafkan aku karena aku telah merebut apa yang seharusnya menjadi milikmu. Maafkan aku karena hyungmu ini egois, tak pernah memikirkan perasaanmu. Karena ku kau kehilangannya, karena ku kau kehilangan segalanya. Sebegitu bencikah kau pada hyung mu sampai-sampai kau pergi dengan eomma dan tak pernah mengabari apalagi mengunjungiku selama ini? Bahkan melihatku di detik-detik terakhir ku berada di dunia ini..tak sudikah dirimu?

              Kyuhyun-ah, demi menebus semua kesalahanku ku mohon kembalilah padanya. Kembalilah ke sisinya, karena sesungguhnya yang dia butuhkan adalah dirimu. Bukan aku. Dia masih mencintaimu dan akan selalu mencintaimu. Meskipun aku selalu ada disisinya, tapi dihatinya selalu ada namamu Kyuhyun-ah, bukan namaku. Meskipun dia bilang bahwa dia mencintaiku, tapi aku tau yang lebih dia cintai adalah kau.

              Kau bisa memiliki dia seutuhnya, aku merelakan dan menyerahkannya padamu. Aku mempercayakannya padamu. Hanya kau, Choi Kyuhyun yang mampu membuatnya tersenyum dan bahagia.

              Aku tau, kau benci padaku. Tapi, hyung mu ini memohon dengan sangat padamu, penuhi keinginanku yang terakhir ini. Aku takkan meminta apa-apa lagi padamu, kelak..kau bisa menghukumku di alam sana jika kau mau. Terima kasih telah menjadi dongsaeng yang baik bagiku. Saranghaeyo..Kyuhyun-ah

 

Choi Siwon.

 

              Tanpa sengaja aku menjatuhkan surat itu. Aku terlalu terkejut membaca setiap untaian kata yang ada di surat itu. Ahra noona ikut kaget melihat ekspresiku.

“Kau..sudah membaca semuanya?”

Aku hanya mengangguk. Kemudian noona mengambil surat yang terjatuh di dekat kursinya.

“Aku tidak akan melakukannya.”

Noona langsung menatapku terkejut sekaligus sedih.

“Wae? Kenapa kau tidak mau melakukannya? Bukankah kau juga masih mencintainya? Im Yoon Ah, satu-satunya yeoja yang membuat kedua dongsaengku terpisah seperti ini. Ku mohon..berhentilah besikap keras kepala dan dewasalah, Kyuhyun-ah..”pinta noona yang menatapku dengan penuh harap.

“Aku sudah pernah berjanji pada Siwon hyung juga pada diriku sendiri bahwa aku takkan pernah bertemu dengannya lagi meskipun itu dalam mimpiku, noona. Aku akan memegang janji itu.”kataku dengan mantap.

“Lupakan janji itu,  Siwon telah menarik kembali semua janji itu. Pikirkan juga tentang kebahagiaanmu, Kyuhyun-ah. Noona tau betul betapa kau menyayangi dan mencintainya.”

“Jika noona masih membahas ini, aku permisi. Aku lelah noona.”kataku kemudian beranjak dari tempat dudukku.

“Kyuhyun-ah!”cegahnya yang memegang erat pergelangan lenganku. “Pikirkan itu baik-baik, aku percaya padamu.”ucapnya kemudian melepaskan pergelangan tanganku.

 

Yoona

 

Hari ini satu tahun kematian oppa. Meskipun sudah satu taun tapi luka yang ku rasakan masih belum mengering. Yuri eonni bilang aku adalah yeoja yang paling bodoh di dunia ini. Aku selalu membela Siwon oppa yang tlah meninggalkanku dan mengkhianati semua janjinya padaku. Aku begitu karena aku menyayanginya. Aku sangat menyayangi Siwon oppa.

“Sulli-ah?”panggilku lewat telepon. “Ara ara, sebentar lagi aku ke kantor. Bilang pada Nona Jung itu agar tidak bawel lagi.”ucapku sambil memberikan uang kepada pelayan di toko bunga ini. Aku membeli bunga Lily, bunga kesukaan oppa. Karena dia melihat aku ini seperti bunga lily. Ketika pertama kali bertemu pun, oppa memberikan bunga lily padaku. “Ne, aku sudah memberitahu Taeyeon eonni untuk mengurus semuanya selagi aku belum sampai ke kantor.”kataku lagi.

Sesekali aku menatap ke samping. Ada seorang namja yang sedari tadi menatapku lekat-lekat. Apa ada yang salah denganku? Sampai aku pergipun dia masih menatap ke arahku. Aku melihat namja itu sekilas. Kami bertatapan meskipun hanya beberapa detik. Entah mengapa jantungku langsung berdegup kencang tak karuan seperti ini.

 

Kyuhyun

 

“Oppa…oppa!! Buka ini aku!!!”teriak seseorang lewat intercom apartemenku. Siapa pagi-pagi buta seperti ini sudah membuat keributan di apartemeku. “Oppa!!! Oppa!!! Buka ini aku!!!”teriaknya lagi. Kemudian tiba-tiba aku teringat sesuatu. Kejadian yang sudah lama sekali.

 

“Oppa!!! Oppa!!!”bisik seseorang di dekat jendela kamarku. Aku menarik kembali selimutku dan kembali tidur.

              “Aigoo…Oppa! Ya!! Buka jendelanya!! Atau kupecahkan jendela kamarmu!”ancamnya. Aissh!  Mau tak mau aku membuka selimut dan yeoja itu melebarkan senyumnya di depan jendela kamarku.

              “Ya!!! Im Yoon Ah!!!”gerutuku.

              “Oppa! Bangun sudah pagi!! Bisa-bisa rezeki mu itu dipatok ayam!”balasnya sambil tertawa.

             

Aku beranjak dari sofa lalu berjalan ke intercom dan melihat dongsaengku sedang melambai-lambai. “Oppa ini aku!!! Ppali!”

Aku membukakan pintu dan dia langsung menerobos masuk ke dalam apartemenku.

“Seohyun, bagaimana bisa kau ada disini?”tanyaku bingung.

“Oppa tak senang aku ada disini?”Tanya yeoja itu sambil memperhatikan setiap sudut apartemenku.

“Ani, bukan seperti itu, Seo..”

“Ara ara, aku tau. Aku ada pekerjaan disini oppa. Aku bekerja sama dengan majalah milik Donghae oppa. Aku menjadi model disana. Berhubung oppa sedang ada disini aku langsung menyetujuinya. Hebat bukan? Kyaa pasti akan sangat menyenangkan. Aku boleh tinggal disini oppa?”celotehnya.

“Sebaiknya kau menginap di rumah appa saja. Jangan disini. Aku akan sangat sibuk dan butuh ketenangan. Pekerjaanku sangat banyak disini. Arraseo?”

Mendengar penjelasanku wajah Seohyun langsung muram. Dia langsung duduk sambil mengambil satu bingkai foto yang masih tergantung di apartemen ini.

“Yah, baiklah kalau begitu. Oh ya oppa, ini oppa?”tanyanya sambil mengangkat figura itu. Foto ku dengan.. “Siapa yeoja disebelah oppa?”Tanya Seohyun.

Aku terdiam. Aku tak tau bagaimana menjawab pertanyaan Seohyun. Dia terus menatapku menunggu jawaban. Untungnya ponselku berdering sehingga aku bisa menghindar. Aku langsung mengangkat telepon yang ternyata dari Ahra noona.

 

“Ne, noona. Waeyo? Mwo? Ne, arraseo.”kataku kemudian menutup telepon dari Ahra noona. Pagi-pagi sekali dia sudah meneleponku dan memintaku ke rumah sakit dimana hyung bekerja. Noona meminta tolong padaku untuk membawa barang-barang hyung yang masih ada disana. Baiklah, lagi pula aku tak ada kerjaan disini.

“Oppa mau kemana?”Tanya Seohyun ketika aku langsung mengambil mantelku dan memakainya.

“Oppa ada urusan dulu. Sebaiknya kau pergi. Nanti kita bertemu lagi.”kataku lalu menyeretnya dengan halus.

 

Hyung, satu-satunya alasan dia ingin menjadi dokter adalah karena dia ingin menyembuhkan penyakit yang dia derita sejak kecil. Dia ingin bertahan hidup dan melawan penyakit yang menggerogoti tubuhnya. Satu-satunya alasan dia seperti itu adalah karena dia. Karena yeoja itu. Im Yoon Ah. Yeoja yang membuat dia kembali semangat hidup dan bertekad untuk tetap bertahan. Namun takdir berkata lain.

 

“Permisi, ruangan dokter Choi disebelah mana ya?”tanyaku pada salah satu suster yang melewat dihadapanku.

“Dokter Choi? Ani, dokter Choi sudah tak bekerja disini lagi tuan. Dokter Choi..dia sudah meninggal satu tahun yang lalu.”terang suster itu.

“Saya tau. Saya dongsaengnya dan saya ingin mengambil barang-barang milik hyung yang masih ada di ruangannya.”jelasku.

“Ah, mianhae tuan. Mari saya antar.”balas suster itu sambil membungkuk meminta maaf. Diapun mengantarkan ku ke ruangan kerja hyung. Sepanjang jalan, dia bercerita tentang hyung yang sangat popular di rumah sakit ini terutama di kalangan pasien anak-anak. Dan orang-orang sangat kehilangannya ketika dia pergi.

Akupun masuk ke ruangan yang ditunjukkan suster itu. Di meja kerja nya tertulis papan nama Dr. Choi Siwon. Ruangan kerjanya sangat rapi. Di meja kerja nya juga ada sebuah foto. Foto hyung dengan seorang yeoja. Rasanya aku pernah melihat yeoja itu tapi dimana? Bukan hanya di meja kerja hyung, di papan kerja nya juga terpampang beberapa foto hyung dengan yeoja yang sama. Yeoja yang sangat cantik. Mungkinkah itu…

“Mereka sangat serasi bukan?”ucap suster itu sambil membereskan barang-barang hyung. Aku masih menatap foto itu lekat-lekat sambil mengingat dimana aku pernah bertemu dengan yeoja itu. “Yeoja itu..dia adalah tunanangan dokter Choi.”lanjutnya.

Badanku seolah mau ambruk saat mendengar perkataan suster itu. “Tunangan?”tanyaku lagi untuk meyakinkan.

“Ne, sayang sekali Dokter Choi harus pergi. Kasihan yeoja itu. Beberapa kali dia datang kemari. Dia duduk dan diam disini sampai hampir 1 jam lamanya. Kasihan sekali.”ungkapnya kemudian mencabut semua foto yang terpajang di papan kerjanya dan memasukkannya ke sebuah dus yang sudah penuh dengan barang-barang hyung. “Ini tuan barang-barang dokter Choi.”lanjut suster itu kemudian memberikan kardus itu padaku.

“Ah, ne kamsahamnida. Baiklah, saya pamit. Permisi. ”aku pun melangkah pergi sambil menenteng kardus itu dan sialnya aku tak bisa mengalihkan pandanganku dari foto hyung dengan tunangannya itu.

“Sekretaris Kim, tolong cari dan kumpulkan data tentang Im Yoon Ah. Kirimkan ke e-mail ku secepatnya.”perintahku pada Sekretaris  pribadiku, Kim Ryeowook.

Aku harus tau, apakah dia yeoja itu atau bukan.

 

 

TBC

61 thoughts on “Destiny (Chapter 2)

  1. Oalaaahhhh sedihH banget ,, trnyata kyu sama siwon sama2 suka sama yoona . Tp kyu lebih mlih buat ngalah demi siwonn .. Oalaaahhh smoga yoona sama kyu , tp nanti bkalan ad haeeppaa yg juga suka sama yoona . Haduuuhh . Awalnya kukira seohyun suka sama kyu trnyata mreka saudara tirii ..

  2. waaah ternyat kyu ma siwon oppa ade kk…mencintai wnita yng sm pla…. pnasarn nh m crita slnjtnya…fighting thor..semangat wat nulis lg hehehe

  3. Kyu mengalah demi siwon…. Mereka ber2 suka sama cew yang sama…
    Jadi penasaran ma kelanjutan cerita x..
    Di tunggu next part selanjut x…
    Fighting n keep writing…

  4. Sedih liat yoona eonni nangiis… Aduuuuuuh… Bingung eon… Tpi feel nya dpt nympe ngis uga… Hehe smoga part slnjutnya kmbali ke masa awal mereka lom sling kenal. Spya mmperjelas ad ap hub. Yoona dan kyuhyun di zaman dlu tuuuh…. Hehe keep spirit eon… ^^

  5. Ksian uri yoona..tpi kyuhyun jg kasian, hrus merelakan wanita yg dcintainya ke hyungnya..
    Oiyah apakah yoona n kyuhyun dulu prnh pacaran?? Hmmm penasaraaannn lanjut chinguu.. hehee semangatt ya

  6. Jd sesama sodara suka sm 1 wanita,, (siwon n kyu) setelah siwon meninggal jg sma sodara tiri (donghae) jg suka sm yoona..hmmm rumit yaa cinta segi berapa jadinya ittu…

  7. Hiks hiks hiks … Sediiiihhh pas part siwon oppa meninggal …
    Kyu ? Emg wajah yoona berubah ya ??
    Brarti yg pertama ngebuat yoona skt hati adl kyu ?? OMO !!!

  8. Yah kenapa siwon meninggal ?? Sedih banget pas baca pesan siwon buat kyu… Sebenernya yoona mencintai siwon atau kyu ya masih bingung, tapi krn sekarang siwon meninggal kira2 kyu dan yoona bakal bersatu lagi apa gk ?

  9. Mewek bacanya, kyu relain yoona ke siwon ya? Kasihan nih kalau ia.
    Ternyata kyu n siwon tu kakak adik ya thor
    Kyu akan kembali ke yoong kan?

  10. kyu dan siwon saudara.. truz suka cme yg sama.. saat kyu udah ngerelain yoona. siwon mlah meninggal..
    cerita cinta yg rumit dg msalah yg klasik

  11. Hikhik kok siwon meninhgal sih thor? Kasian yoona, kyuhyun harus gantian jaga uri yoona ya? Kasian yoona sepertinya msh lum bs move on walaupun sdh setahun siwon pergi beruntung yoona dikelilingi sahabat n org2 yg sayang sama dia gomawo author dah buat ff yg bagus ini fighting

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s