Destiny (Chapter 1)

img1415005571806

DESTINY  | by Park Hee-Young

Chapter 1

 

Aku tak pernah meninggalkanmu

Aku tak pernah sekalipun membiarkan sedetik dalam hidupku untuk tidak memikirkanmu dan mengingatmu.

Jika kau berpikir bahwa aku meninggalkanmu apalagi melupakanmu kau salah. Aku hanya mengamatimu dari jauh. Dari tempat ku yang jauh darimu. Dan aku selalu melindungimu, menjagamu dengan doa-doaku.

Rasanya dunia tak adil bagiku

Kenapa dia bisa memilikimu tapi aku tidak?

Aku dan dia sama-sama manusia. Tapi mengapa takdirku berbeda? Aku benci pada takdir. Takdir yang harus memisahkan kita. Rasanya aku ingin memberontak dan merubah takdirku. Aku percaya, aku bisa merubah takdir itu dengan tanganku sendiri. Agar aku bisa kembali ke sisimu.

 

Yoona

             

“Dia belum mengabarimu juga?”

Aku langsung mengangkat wajahku. Yuri eonni ada di hadapanku sambil memperhatikan gerak-gerikku. Sarapan pagi yang ada dihadapanku tak juga ku makan. Aku hanya memainkan garpu dan sendok tanpa menyentuh roti yang sudah ku potong. Sesekali aku menatap ponselku dengan penuh harap kemudian memainkan garpu dan sendok lagi. Ini lah kebiasaanku saat sarapan. Aku menyukai roti isi yang sudah dipotong-potong sehingga mudah untuk dimakan dan tak membuat pipiku terlihat besar ketika harus melahap roti yang ukurannya cukup besar itu.

Eonni memanggilku sekali lagi melihat tak ada respon dariku. Kemudian aku tersadar dan  hanya menggeleng lemas.

“Lupakan saja. Sudah berapa lama dia pergi dan tak mengabarimu, huh? Meskipun kau menatap ponselmu sampai tua pun dia belum tentu kembali.”

“Eonni…”

Yuri eonni kemudian mendekat padaku. “Kau telah mengalami hal seperti ini, apakah kau ingin mengalami lagi untuk kedua kalinya?”Tanya Yuri eonni dengan tatapan yang tajam. Aku diam. Tak mampu membalas ucapan eonni tadi. “Kau ini…”

 

“Chagi…”panggil seorang namja. Perkataan eonni terhenti karena seruan namja itu.

“Oppa?”balas Yuri eonni.

“Ya! Kau harus ke kantor pagi ini bukan? Jangan salahkan aku jika kau telat. Kajja!”tarik Yesung oppa, namja chigu Yuri eonni.

“Tapi oppa! Aku sedang bicara dengan Yoona. Aish kau ini!!!”protes Yuri eonni. Yesung oppa kemudian mengedipkan matanya sambil tersenyum padaku. Yesung oppa memang tak suka melihat eonni yang selalu memarahiku tentang masalah ini. Untung dia datang tepat waktu. Yuri eonni akan mengeluarkan amarahnya padaku bila dia tak datang dan membawanya pergi.

 

Tanpa melahap satu potong roti pun, aku beranjak dari meja makan dan melangkah gontai menuju kamarku. Kemudian tanganku meraih sebuah foto yang terpasang di meja kerjaku. Aku mengelus foto itu sambil menitikkan air mata.

“Oppa…oppa takkan membiarkanku menangis lagi bukan? Oppa takkan membuatku merasakan sakit untuk kedua kalinya bukan?”

Cepat-cepat aku menghapus air mataku kemudian aku mengambil coat-ku dan pergi. Nona Jung bisa memecatku jika aku telat pagi ini.

 

Aku melangkah dengan lebih cepat dari biasanya. Untung bus bisa diajak kompromi hari ini sehingga aku tak menunggu lama di halte dan presentasi ku terlambat masuk kantor menjadi berkurang.

“Yoona-ya!!”teriak seseorang. Aku menoleh ke sumber suara itu. Ku lihat seorang yeoja dengan rambut blonde ikalnya sedang melambaikan tangan padaku.

“Eonni!!!”balasku kemudian melambaikan tangan dan tesenyum padanya. Dia kemudian menyebrang jalan dan menghampiriku.

“Cuaca sangat dingin sekali hari ini. Ayo kita beli kopi sebelum bekerja. Hari ini biar aku yang traktir.”ujarnya sambil tersenyum kemudian menarikku ke kedai kopi favorit kami. Dia adalah Taeyeon eonni. Teman sekantorku, dan dia juga sunbae ku saat SMA. Singkatnya, kami sangat dekat.

 

Aku bekerja di salah satu majalah fashion terkenal di Korea bahkan di kalangan internasional. Selulus kuliah aku langsung bekerja disini. Salah satu tugasku yaitu bertanggung jawab tentang model fashion majalah ini. Semua yang bersangkutan dengan model itu sampai akhirnya bisa terpampang di majalah itu semua menjadi urusanku. Bisa dibilang aku ini juga seorang editor majalah muda sekaligus desainer muda yang diakui oleh para seniorku.

“Annyeong Yoona-ya!!”sapa Leeteuk oppa salah satu editor senior disini.

“Anyyeong ahjusshi!”balasku sambil tertawa.

“Ya! Aku ini masih pantas dipanggil oppa.”protesnya. Semua yang ada disana ikut tertawa. Leeteuk oppa kemudian meraih vanilla latte yang ada di tangan Taeyeon eonni kemudian menyeruputnya begitu saja.

“Ya! Ahjusshi!!!!!”protes Taeyeon sambil berkacak pinggang dan memelototi Leeteuk oppa.

“Gomawo Ahjumma!”balasnya kemudian pergi begitu saja.

“Aish! Ahjusshi itu sampai kapan akan bersikap seperti anak kecil?”Tanya Taeyeon eonni kesal.

“Kalian sangat serasi.”bisikku kemudian langsung berlari menghindar dari amukan Taeyeon eonni.

“Ya! Yoona-ssi!!!!!!”teriak Taeyeon eonni.

 

Akupun berlari sampai-sampai menabrak seseorang. Aish pabo!! Pagi-pagi sudah membuat ulah.

“Mianhae, jeongmal mianhae.”kataku sambil membungkuk lebih dari 90 derajat.

“Yoona-ssi?”serunya. Aish, suaranya suara namja.

Dengan ragu aku mengangkat kepalaku. “Sunbae?”balasku ketika aku melihat ada Donghae sunbae disana. Dia adalah pemilik majalah ini. Dia juga merupakan sunbaeku saat kuliah dan dia temannya Yuri eonni.

“Panggil saja Donghae oppa. Kita kan pernah satu kuliah dulu dan aku ini teman eonni-mu. Tak usah canggung padaku.”ujarnya sambil tesenyum ringan.

“Ani, aku lebih suka memanggil anda sunbae. Lagi pula ini kantor. Sudah seharusnya bersikap professional. Tidak apa-apa kan? Oh ya aku permisi dulu Nona Jung pasti menungguku. Permisi.”kataku kemudian segera melarikan diri darinya. Namja itu sedikit aneh. Dia jelas-jelas pemilik kantor majalah ini. Dia juga Presdir disini. Masa aku bawahannya harus memanggil dia Donghae oppa? Saat kerja pula? Orang-orang bisa berpikir yang aneh-aneh nantinya. Memanggil sunbae saja sudah tak sopan menurutku. Ada-ada saja.

 

“Ehm.”ku dengar suara seseorang berdeham dan ternyata si nenek sihir itu berdiri dihadapanku.

“Selamat pagi, Nona Jung.”sapaku sambil membungkukkan badan.

“Pagi-pagi malah asik ngobrol dengan atasan. Perusahaan ini menggajihmu bukan untuk mengobrol, Nona Im.  Seharusnya kau bekerja. Kau tau? Yang kau tangani sekarang bukan hanya model biasa. Tapi model kelas internasional. Kau harus ekstra hati-hati dalam memilih konsep dan kau juga harus menjaga sikapmu. Jangan sampai nama Marie Claire harus jatuh karenamu.”ceramahnya sambil berkacak pinggang. Ingin sekali aku mengubur nenek sihir itu hidup-hidup.

“Ne, arraseo. Aku tau apa yang harus aku lakukan. Permisi.”kataku.

 

“Uggh!!! Dasar nenek sihir.”gerutuku sambil berjalan menuju ruanganku.

“Annyeonghaseyo. Selamat pagi nona Im.”balas asistenku dengan senyum manisnya. “Biar ku bawakan mantelmu.” Kemudian aku melepas mantelku dan menyerahkan padanya. Lalu masuk ke ruangan kerjaku dan Sulli asistenku masih mengekor di belakangku.

“Oh ya, konsep yang saya minta sudah disiapkan?”tanyaku.

“Sudah nona. Konsep nya sudah saya siapkan di meja anda.”balasnya sambil menunjukkan dokumen itu.

“Kapan modelnya akan datang?”

“Dia sudah menunggu anda di studio. Setibanya di Korea dia langsung kemari katanya dia ingin bertemu dengan anda.”balas Sulli.

Aku menyeuput cappuccino milikku kemudian menaruhnya di meja. “Baiklah. Aku pergi menemuinya dulu. Dan tolong bawa dokumen itu ke studio.”perintahku kemudian pergi menuju studio.

 

“Annyeong haseyo. Im Yoon Ah imnida.”balasku sambil membungkukkan badan. Model cantik yang sedang duduk menungguku itu langsung berdiri dan membungkukkan badan juga.

“Tiffany Hwang imnida.”balasnya.

“Maaf membuatmu menunggu lama. Ku kira kau tak akan datang sepagi ini. Mianhamnida.”kataku.

“Gwaenchansseumnida. Aku justru yang seharusnya meminta maaf karena datang sepagi ini. Begitu aku mendapat tawaran sebagai model di majalah ini aku langsung menerimanya dan bersemangat untuk melakukan pemotretan. Ku dengan kau desainer yang handal dan setiap model yang ada di majalah ini pasti akan terlihat menakjubkan. Konsep yang kau punya selalu bagus. Aku jadi tak sabar.”pujinya.

“Kau terlalu berlebihan nona.”balasku dengan malu-malu. “Oh ya kenalkan ini Choi Sulli. Asistenku dan dia juga yang akan membantu selagi pemotretan berlangsung.”

“Choi Sulli imnida.”ujar Sulli yang mengenalkan dirinya.

“Ehm ini konsep yang akan kita pakai sekarang. Ini model baju nya, apakah kau merasa cocok? “tanyaku dengan hati-hati takut-takut model Korea yang mengibarkan sayapnya di dunia internasional itu tak menyukai konsepku.

“Fantastic! Aku menyukainya.”balas Tiffany sambil tersenyum dengan eye smile yang begitu cantik.

“Baguslah kalau begitu. Sulli, antarkan dia ke ruang kostum nanti aku akan menyusul kesana. Ponsel-ku tertinggal di ruangan kerja.”kataku.

“Mari nona.”Sullipun membawa Tiffany ke ruang kostum sedangkan aku pergi ke ruangan kerjaku.

 

Aku pun mengambil ponsel di atas meja. Tenggorokanku terasa kering karena daritadi menjelaskan panjang lebar tentang konsep ke model itu. Namun cappuccino ku hilang entah kemana padahal aku masih ingat, aku menaruhnya disini di sebelah ponselku.

Aku menyisir seluruh sudut ruanganku dan menemukan sebotol air mineral di dekat tumpukkan dokumen dan sepucuk surat disampingnya. Kemudian aku membuka surat itu dan membacanya.

 

Cappuccino nya enak. Terima kasih yaaa kau masih menyisakannya untukku. Jangan meminum kopi terlalu sering, Nona Im! Itu tidak bagus, kau tau? Minumlah air mineral agar kau selalu sehat.

             

              Choi Minho ^^

 

              “Choi Minho!!!!”teriakku. “Aish bocah ini ada-ada saja!”kataku kemudian meminum air mineral itu mau tak mau karena tenggorokkanku sudah terasa kering.

 

Aku kembali ke ruang studio. Tiffany sudah memakai pakaian yang sesuai dengan konsep yang telah kita sepakati. “Kau terlihat sangat cantik, nona.”kataku sambil memperbaiki posisi syal yang menggelungi lehernya.

“Gamsahamnida.”balasnya.

“Oh ya, dimana Sunny eonni?”

“Dia sudah ada di ruangan make up, nona.”balas Sulli.

“Baiklah kalau begitu, antar nona Tiffany ke ruang make up dan suruh Sunny eonni mendandaninya sesuai dengan konsep yang kemarin kita bicarakan dengannya.”perintahku.

“Baik nona.”

“Oh ya apakah Minho sudah datang?”tanyaku. Melihat sekarang sudah hampir jam 11 dan namja itu belum menunjukkan batang hidungnya. Malah mengganti kopiku dengan air mineral seenak jidatnya.

“Aku disini, nona Im!”balasnya.

“Aish! Ya Choi Minho!!!!!”pekikku.

“Mari nona!”kemudian Sulli pergi bersama dengan Tiffany.

 

“Jangan lakukan itu lagi. Kau ini seperti anak-anak saja.”protesku.

“Yang kekanak-kanakkan itu aku apa kau?”tanyanya lagi kemudian merangkulku.            Aku menggembungkan pipiku. “Dasar! Aku tak mau tau, sebagai gantinya kau harus mentraktirku makan siang!”ancamku.

“Ya ya, baiklah. Apapun akan Choi Minho lakukan untuk Im Yoon Ah.”balasnya sambil mencubit pipiku.

“Aww! Appo! Sudah sana lebih baik kau siap-siap karena kita sebentar lagi akan melakukan pemotretan!”pekikku kemudian pergi ke ruang pemotretan.
“Arraseo, Yoongie!”balasnya kemudian merangkulku dan pergi bersama ke ruang pemotretan.

 

Choi Minho. Namja ini adalah sahabatku. Sahabat terbaik yang pernah ku punya di dunia ini. Ketika orang-orang yang ku sayangi satu persatu pergi, hanya dia yang masih ada disisi ku sampai saat ini. Namja ini terkadang begitu menyebalkan. Dia selalu melakukan hal apapun seenaknya tanpa memikirkan apa efek dari yang dia perbuat. Dia begitu perhatian kepadaku saking perhatiannya dia selalu membuatku kesal dengan menukar kopiku dengan air mineral.

 

“Ready, one two three!”

Crek crek! Beberapa foto telah diambil. Minho mengarahkan gaya sebagus mungkin agar fotonya terlihat cantik. Aku ikut mengarahkan gaya juga. Juga mengatur semuanya agar terlihat sempurna. Sedangkan Sulli dia masih ada disampingku yang sedang mencatat kegiatan pemotretan kali ini untuk dilaporkan ke Nyonya Kim nantinya.

 

“Oke untuk hari ini cukup sekian. Terima kasih atas kerja sama kalian semua.”kataku. Semua kru termasuk Tiffany bertepuk tangan dan saling mengucapkan kata terima kasih.

Setelah beberapa jam bekerja akhirnya selesai juga. Besok dan beberapa hari ke depan akan di lanjutkan lagi. Fiuh, aku akan sangat sibuk sekali. Baguslah..dengan sibuk seperti ini, aku takkan terlalu sering memikirkan Siwon oppa. Dengan pulang larut malam aku akan sedikit terhindar dari omelan eonni yang tak ada habisnya.

“Bekerja sama denganmu sangat menyenangkan, nona Im. Sampai berjumpa besok.”pamit Tiffany kemudian dia pergi dengan senyuman puas sekaligus lelah tersungging di bibirnya.

“Kerja yang bagus.”puji seorang namja sambil bertepuk tangan.

Akupun menoleh ke belakang dan Donghae sunbae sudah standby sambil tersenyum. “Sunbae? Ah, Gamsahamnida.”kataku sambil membungkuk.

“Nona Im!”panggil Sulli.

“Ne?”

“Ada beberapa dokumen yang harus anda periksa.”ujarnya.

“Ah arraseo, kajja kita ke ruanganku.”ajakku pada Sulli. “Sunbae, aku harus ke ruanganku dulu. Permisi.”pamitku kemudian buru-buru menyusul Sulli yang sudah berjalan di depanku.

 

“Belakangan ini Presdir selalu mendekati anda nona.”ujar Sulli.

“Mana dokumen yang harus aku cek?”tanyaku yang sudah duduk di kursi ruangan kerjaku dan siap mengecek dokumen yang Sulli maksud tanpa memperdulikan perkataannya barusan.

“Ani, tidak ada dokumen yang harus anda periksa nona.”balasnya.

“Maksudmu?”tanyaku tak mengerti. “Bukankah barusan katamu ada dokumen yang harus aku periksa bukan?”tanyaku memastikan.

“Kelihatannya anda sedang menghindar dari Tuan Lee jadi saya menggunakan alasan tadi supaya nona bisa melarikan diri darinya. Mianhae, saya telah berbohong pada anda.”jelas Sulli.

“Aigoo, gomawo Sulli-ah. Aku memang menghindar darinya. Kau tau? Nona Jung selalu memarahiku jika dia memergokiku sedang bersama sunbae. Aish. Dia mungkin tak pernah suka padaku. Sejak pertama kali aku bekerja disini, dia begitu sinis padaku. Padahal aku tak pernah berbuat yang buruk padanya.”keluhku.

Sulli terkekeh mendengar celotehanku. “Menurutku dia cemburu padamu. Aku bisa merasakannya.”

“Hah? Cemburu padaku? Apa yang harus dia cemburukan dari ku? Tidak ada yang special pada diriku.”

“Nona, kau itu cantik, pintar, baik hati. Tak ada seorangpun yang meragukan pekerjaan anda. Anda ini desainer muda yang berbakat. Bahkan model kelas internasional seperti Tiffany Hwang pun memuji pekerjaan anda. Dan yang terpenting Tuan Lee sepertinya menyukai anda. Apakah anda tau? Nona Jung si nenek sihir itu, dia mengejar-ngejar Tuan Lee sejak dulu. Tapi yang selalu tuan Lee perhatikan hanya anda.”jelas Sulli lagi.

“Omonaa, perkataanmu membuatku sakit kepala. Lebih baik kau pulang dan istirahat. Besok pagi-pagi sekali kita harus sudah bekerja.”

“Bagaimana dengan anda? Anda juga sudah seharusnya istirahat.”balas Sulli.

Aku tersenyum padanya. “Kau duluan saja. Masih ada yang harus aku kerjakan.”

“Baiklah kalau begitu, saya permisi.” Sulli membungkukkan badannya kemudian keluar dari ruanganku.

Aku menatap ponselku dengan tatapan nanar. Masih belum ada kabar darinya. Aku mencoba menghubungi Siwon oppa namun tetap sama. Ponsel-nya masih tak aktif. Pandanganku beralih ke sebuah foto yang berdiri tegak di meja kerjaku. Fotoku dan Siwon oppa. Aku memindahkannya ke meja dekat lemari dan disitu aku melihat sebuah kotak makanan plus sepucuk surat. Mungkinkah…ah Minho pasti melakukan hal ini lagi.

Aku mengambil sepucuk surat itu kemudian membukanya perlahan.

 

Ku lihat kau begitu sibuk belakangan ini. Makanlah selagi kau sempat..ani kau harus makan bagaimanapun caranya. Aku membawakan makanan kesukaanmu, semoga kau suka.

              Choi Siwon ^^

 

              Aku tersentak membaca surat itu. Segera aku berlari ke ruangan Sulli sambil membawa kotak makanan beserta suratnya. ”Sulli-ah! Apakah kau melihat Siwon oppa datang ke ruanganku? Apakah kau melihatnya? Atau apakah kau melihat seseorang masuk ke ruanganku?”tanyaku panik.

“Ani, bukankah seharian ini aku bersama nona. Ada apa? Ada sesuatu yang tak beres?”tanyanya yang sedang membereskan barang-barangnya.  Aku kembali ke ruanganku dan membawa tas juga ponsel-ku. Tanpa pikir panjang aku langsung berlari ke ruang resepsionis.

“Sooyoung-ah! Apakah kau melihat Siwon kemari?”tanyaku.

“Tadi dia kemari.”jawabnya sedikit kebingungan melihatku yang terlihat panik.

“Dimana dia sekarang? Apa dia sudah pergi?”

“Entahlah. Ada apa? Ku kira kau sudah bertemu dengannya.”jawab Sooyoung. Kemudian aku berlari lagi ke setiap sudut mencari sosok itu. Aku berlari ke taman di dekat katorku. Ku lihat seorang namja sedang duduk disana.

“Oppa…”panggilku ragu.

Namja itu mendongkak kemudian tersenyum padaku. “Yoona-ya?”balasnya sambil tersenyum.

Tanpa ragu aku langsung memeluknya. “Oppa! Dari mana saja kau? Tega sekali kau tak mengabariku. Kau tau? Aku sangat mengkhawatirkanmu!!”omelku sambil terisak. Aku menangis. Aku tau dia takkan membiarkanku menderita lagi untuk kedua kalinya. Aku percaya padanya.

“Mianhae, aku sangat sibuk. Ponsel-ku hilang, jadi sulit sekali untuk menghubungim.”balasnya sambil mengelus kepalaku dengan lembut.

“Pantas saja. Jangan lakukan ini lagi. Kau tau betapa takutnya aku saat kau menghilang begitu saja? Aku hampir mati karena ulahmu.”

Siwon oppa tertawa. Kemudian menjitak kepalaku. “Kau ini kekanak-kanakkan.  Lagipula aku sudah ada dihadapanmu kan? Ayo, kau harus makan. Kau menjadi lebih kurus dari yang terakhir ku lihat. Jelek sekali.”ejeknya.

“Aku tak bisa makan juga karena mengkhawatirkanmu!!”omelku lagi sambil memukul tangannya.

“Cerewet sekali. Ayo makan!”Siwon oppapun menyuapiku. Aku bisa bernafas lega sekarang.

 

***

“Ku antar kau pulang, ya.”pintanya.

“Memang sudah seharusnya oppa mengantarku pulang. Kajja!”ajakku kemudian menggandeng tangannya.

“Jalan ya? Aku tak membawa mobilku. Lagipula aku ingin menikmati setiap detikku bersamamu. Mungkin aku takkan bisa menikmatinya lagi nanti.”ujarnya

Aku terdiam sejenak. Apa maksudnya? Mengapa oppa berkata aneh seperti itu? “Oppa, maksudmu apa? Aku tak mengerti..”

Siwon oppa terlihat bingung. “Maksudku, kau dan aku akan semakin sibuk jadi tak akan ada waktu untuk hal seperti ini.”balasnya kemudian tertawa. Tertawa yang dipaksakan. Apakah ada sesuatu yang dia sembunyikan dariku?

“Kau ini kekanak-kanakkan sekali oppa.”protesku.

 

Kamipun berjalan bersama di bawah sinar bulan. Aku merasakan sesuatu yang berbeda tapi aku tak tau apa. Rasanya ada yang janggal. Lupakan Yoona…oppamu sudah kembali dan tak ada yang perlu aku khawatirkan bukan? Semua akan baik-baik saja..

“Sudah sampai..”kataku ketika melihat sebuah rumah kokoh berdiri dihadapan kami. Itu rumahku.

“Mengapa rumahmu dekat sekali, Yoong?”protesnya.

Aku menjitak kepalanya. “Dekat dari mana? Jauh sekali oppa, kakiku berasa pegal sekali.”

Siwon oppa tertawa, tawanya mampu membuatku tersenyum juga. “Waktu begitu cepat disaat-saat seperti ini, Tuhan tak adil.”protesnya sambil menghela nafas.

“Aish, ada-ada saja. Mengapa tiba-tiba puitis seperti ini?”protesku.

“Yoong..”

“Ne oppa?”

“Mau kah kau berjanji padaku?”ucapnya tiba-tiba. Langkahku terhenti. Aku berbalik menatapnya.  Dan yang ku lihat, raut wajah oppa terlihat sedih.Membuat senyumku sesaat surut.

“Janji apa?”

“Berjanjilah padaku, kau harus menjadi Yoona yang kuat. Kau harus selalu tersenyum apapun yang terjadi. Kau harus mengikuti semua perkataan eonni-mu. Dan kau harus menjaga  dirimu baik-baik. Arraseo?”pinta Siwon oppa sambil menatapku lekat-lekat.

“Bicaramu semakin ngawur saja, oppa. Aku ke dalam dulu ya. Cepat-cepat beli ponsel baru agar aku tak sulit menghubungimu. Anyyeong.”kataku sambil tersenyum, aku membalikkan badanku hingga aku tak bisa menatapnya lagi, kemudian berjalan dan melambaikan tangan padanya.

 

Tiba-tiba Siwon oppa memelukku dari belakang. “Oppa?”tanyaku heran.

“Jangan bergerak, aku mohon. Sebentar saja..”pintanya. Aku terdiam mematung seperti apa yang oppa minta. Aku mendengar dia terisak. Tapi aku tak bisa berbalik melihatnya karena pelukan oppa yang sangat erat.

Dengan sekuat tenaga aku berbalik kemudian memeluknya. “Jika ada sesuatu yang mengganggumu, aku siap mendengar ceritamu. Sepertinya ada yang salah denganmu oppa. Aku..”

“Suut, bisakah kau diam untuk kali ini saja.”pintanya. Otomatis aku menutup mulutku dan memenuhi keinginannya lagi. Selama beberapa menit kita seperti ini. Berpelukan tanpa ada suara.

“Kau boleh masuk sekarang.”ucap oppa sambil melepas pelukannya.

“Tapi..”

“Sudah kau masuk saja. Cerewet sekali.”omelnya.

Aku menggembungkan pipiku dan menatapnya dengan kesal. “Ara ara. Anyyeong oppa!!!”balasku kemudian berlari ke dalam rumah.

“Jangan lupa akan janjimu padaku Yoong!!!”teriaknya.

 

“Aish, ada-ada saja oppa. Janji apa maksudnya? Aku belum mengatakan iya dia sudah main hakim sendiri”gerutuku.

“Kau sudah pulang?”Tanya Yuri eonni ketika aku baru menutup pintu.

“Ne, eonni. Tadi aku pulang bersama Siwon oppa.”balasku dengan ceria. Eonni yang sedang membaca majalah segera menutup majalahnya dan menatapku penasaran.

“Namja itu sudah kembali? Benarkah?”tanyanya.

Aku mengangguk senang.

“Baguslah kalau begitu. Sudah sebaiknya kau istirahat. Kau terlihat lelah.”ujar eonni. Akupun mengangguk dan pergi ke kamarku untuk istirahat.

 

***

“Eonni! Aku pergi dulu ya!!! Anyyeong!!”sapaku buru-buru kemudian mencium kedua pipinya.

“Ya! Kau harus sarapan dulu Yoong!!!”omel eonni.

“Nanti saja di kantor! Aku sudah terlambat!!”balasku kemudian meninggalkan rumah.

“Yoona terlihat cerah hari ini.”ujar Yesung oppa.

“Pangerannya telah kembali.”balas Yuri eonni sambil mengoleh roti dengan selai.

“Maksudmu Siwon?”Tanya Yesung oppa memastikan.

“Siapa lagi kalau bukan dia?”kata Yuri eonni balik bertanya pada Yesung oppa.

 

Langkahku pagi ini terasa ringan. Aku juga jadi mudah tersenyum pagi ini. Cuaca hari ini masih terasa dingin. Aku menggosok-gosokkan kedua tanganku yang dibalut dengan sarung tangan sambil menunggu bis. Sampai akhirnya bis yang kutunggu datang.

Drett drettt

Aku meraih ponsel-ku yang berdering dan gambar Sulli muncul di layar.

“Yeoboseyo?”kataku  sambil melihat ke luar dan ternyata aku sudah sampai di halte tempat dimana aku harus turun. Aku berjalan pelan sambil menerima telepon.

“Ne, aku akan tiba sebentar lagi Sulli-ah.”kataku sambil merapikan dokumen dan jurnalku yang ditenteng oleh sebelah tanganku.

“Simpan saja di mejaku, nanti aku aku melihatnya. Ne…”

 

“Yoona-ya!!!!”teriak Sooyoung di sebrang sana. Aku hanya melambaikan tanganku sambil tersenyum karena Sulli masih berbicara lewat telepon denganku. Sooyoung menungguku di sebrang sana sambil menenteng kopi di tangannya.

“Kau duluan saja!!”kataku dengan bahasa isyarat.

“Mwo?”ucapnya tak mengerti.

“Kau…duluan…saja!”kataku memperjelas. Barulah dia mengerti dia mengangguk kemudian melambaikan tangannya padaku.

 

“Ah bukan apa-apa, itu Sooyoung. Oke bagaimana persiapan untuk pemotretan kali ini?”tanyaku sambil menyebrang jalan. Aku menengok ke kanan ke kiri memastikan tak ada mobil yang melewat ketika aku menyebrang. “Apa staff sudah datang semua?”tanyaku.

“Mwo? Bocah itu belum datang? Aish, selalu saja begitu.”tanpa sengaja aku menggembungkan pipiku karena kesal pada bocah itu. Kapan dia bisa on time??? Selalu saja terlambat dari yang dia janjikan. Aku membuka pintu kedai kopi di dekat kantor yang menjadi kedai kopi favoritku juga yang lainnya.

“Permisi, vanilla latte 1.”kataku. Pelayan yang melayaniku memperhatikanku dari ujung rambut hingga ujung kaki.

“Oh ya apakah kau mau kopi? Aku sedang di kedai kopi dekat kantor.”tawarku pada Sulli.

“Anda terlihat sibuk pagi ini nona.”ungkap pelayan tersebut. Dia berbicara padaku? Aku menjauhkan ponsel dari telingaku.

“Kau berbicara padaku?”tanyaku dengan hati-hati. Dia menganggukkan kepalanya. Ya, aku memang terlihat sibuk pagi ini sebelah tanganku menenteng dokumen yang bisa dibilang banyak dan sebelah tanganku memegang ponsel di telinga. Bagus sekali bukan? “Oh ya vanilla latte nya tambah satu lagi ya!”pintaku.

“Ini nona.”
“ Baiklah urus semua ketika aku datang semua harus sudah siap. Arraseo? Aku tutup dulu teleponnya aku tak bisa membawa dua cup kopi jika begini terus.”kataku sambil tersenyum. Aku pun memasukkan ponsel ke tas sambil berjalan keluar dari kedai kopi itu. Saat aku mengangkat kepalaku seorang namja ada di hadapanku dan pundaknya menyenggolku sampai-sampai satu cup kopi tumpah.

“Aish! Sial sekali aku pagi ini.”gerutuku tanpa memperdulikan namja yang menyenggolku tadi. Membuang waktuku jika aku harus mengurusi hal tak penting seperti ini. Aku harus cepat sampai kantor sebelum Nona Jung itu datang.

 

“Anyyeong!!!”sapaku pada seluruh staff di kantor .

“Anyyeong!”balas mereka.

Kemudian Taeyeon eonni menyusulku diikuti dengan Sunny eonni. “Namja itu.. dia sudah kembali? Ku dengar dari Sooyoung kemarin dia kemari dan kau seperti orang gila mencari-cari namja itu.”bisiknya.

“Maksudmu Siwon?”Tanya Sunny eonni kaget.

“Ya sudah aku masih banyak pekerjaan. Sebaiknya kalian kembali ke tempat kalian. Sebelum Nona Jung memarahi kita.”bisikku. “Dan kau eonni segera ke ruang make up karena kita akn melakukan pemotretan.”perintahku pada Sunny eonni.

“Ne, arraseo..”

 

“Selamat pagi, nona.”sapa Sulli dengan senyum manisnya. Dia sudah berdiri di depan pintu ruanganku kemudian mengambil mantelku dan menyimpannya di ruanganku.

“Pagi Sulli-ah.”balasku sambil menyimpan dokumen-dokumen yang menggangguku pagi ini di atas meja kerjaku. “Ayo kita ke studio sekarang.”ajakku padanya.

Dia mengangguk kemudian berjalan membuntutiku. “Oh ya, mianhae kopi mu jatuh tadi karena ada seorang namja yang menabrakku. Kau minum kopiku saja.”ujarku kemudian dengan berat hati menyerahkan vanilla latte yang baru ku minum sedikit itu pada Sulli.

“Sudah ku bilang jangan minum kopi terlalu sering. Karena kau tak menuruti perkataanku jadi kau kena sial pagi ini!”omel seorang namja yang tiba-tiba merebut kopi dari tanganku.

“Ya! Choi Minho!!!!!!!”pekikku. “Kau bilang kau akan datang lebih awal daripada aku. Tapi kau malah baru datang dan merebut vanilla latte-ku.”

Minho tertawa lebar kemudian merangkulku. “Ini. Aku membawakan air mineral untukmu.”ujarnya sambil memberikan sebotol air mineral padaku. Akupun menerimanya dengan kasar. “Oh ya, ini kopi mu Sulli-sshi.”tambah Minho kemudian memberikan vanilla latte ku padanya.

“Kamshahamnida…”balas Sulli sambil membungkukkan badannya pada Minho. Cih, orang seperti dia dihormati seperti itu rasanya tak pantas.

 

Kamipun memulai pekerjaan kami lagi. Entah kenapa perasaanku menjadi tak enak seperti ini. Apakah ada yang terjadi di luar sana? Ani..semua akan baik-baik saja Yoona, kau harus yakin akan itu.

“Nona, kau baik-baik saja?”Tanya Sulli yang terlihat khawatir. Aku mengangguk sambil tersenyum meyakinkan padanya bahwa aku baik-baik saja. Meskipun aku tak yakin. Aku kembali fokus pada pekerjaanku dan tak memikirkan hal yang aneh-aneh.

“Kau lebih baik istirahat. Kelihatannya kau mulai tak fokus. Ada apa?”Tanya Minho kemudian mendekat padaku.

“Gwenchana, Minho-ya gwenchanayo..”kataku dengan senyum yang dipaksakan. Kemudian aku kembali bekerja begitupun dengan mereka.

“Nona Im, anda menerima telepon.”tiba-tiba Sulli menghampiriku sambil menunjukkan bahwa ponsel-ku berdering.

“Biarkan saja. Nanti setelah selesai pemotretan aku akan menghubungi orang itu.”kataku yang sibuk mengarahkan gaya. Bagaimanapun Tiffany adalah model kelas internasional. Aku harus bekerja ekstra hati-hati dan lebih professional lagi agar tidak terjadi sesuatu yang tentunya tak diinginkan. Lagipula aku paling malas bila harus mendengar omelan Nona Jung.

“Tapi nona kelihatannya penting. Dia menghubungi nona terus menerus.”ungkap Sulli.     “Dari siapa?”tanyaku yang cukup penasaran. Oppa jarang sekali meneleponku saat kerja seperti ini. Mengingat aku sibuk dan dia juga tentu lebih sibuk dariku. Dia selalu menangani operasi yang banyak dan panjang belakangan ini.

“Disini tertulis Ahra eonni.”jawabnya. mendengar nama Ahra eonni disebut aku langsung menghampiri Sulli kemudian merebut ponsel-ku dari tangannya.

 

“Ne, eonni.”balasku dengan gugup. Kemudian aku mendengar suara Ahra eonni yang terisak. Tanganku bergetar, kakiku tiba-tiba lemas hingga aku tak sanggup berdiri. Sulli dan Minho memperhatikanku dan ikut khawatir.

 

Aku langsung pergi dari studio kemudian berlari sekencang mungkin agar aku bisa sampai ke rumah sakit setelah aku mendengar pembicaraan dari Ahra eonni.

“Ya! Im Yoon Ah!!!”teriak Minho.

“Nona!! Nona Im!!!”teriak Sulli.

Aku terus berlari tanpa mendengar seruan dan teriakan mereka yang meneriakkan namaku bahkan Nona Jung sekalipun yang sialnya berpapasan denganku.

 

“Taxi!!!!”teriakku.

 

 ===

59 thoughts on “Destiny (Chapter 1)

  1. Ini kyunakan? Ahra eon disini kakak kyu atau siwon? Tapi aku rasa kyu deh.
    Siwon ngapa tuh. Apa maksudnya yang ke dua kalinya?

  2. Tadinya sempet gimana gitu gara gara udah baca flasback storynya duluaan. Tapi ternyataaaaaa ngebantu banget jadi bikin makin epic wkwk kereeen author makasih. LANJUTKAN! SEMANGAT🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s