Unexpected : Her another

unexpected

Unexpected : Her another

HyukGumsmile

Cho kyu hyun Im Yoona

Romance

PG-17

 

-kyu hyun-

Pagi itu, saat embun masih kukuh bertahan diujung daun. Tepat didetik terakhir ia habiskan sisa harga dirinya, aku terjaga oleh waktu. Dentang dimana setiap pergerakan jarum kecilnya mampu menghunus detik demi detik yang berlalu tanpa tau ujung bahagiaku.

Tok tok tok.

“cho kyu hyun!!”

Aku terkesiap saat dentum keras yang menghentak pintu apartemenku menggema kencang dipenjuru ruangan. Membuatku yang kala itu tengah tertidur tanpa helai benang panjang terkejut bukan main.

Detik berlalu saat kuraih surta tidur biru mudaku setelah aku berhasil menyarungkan boxer pendekku menjelang jemari jemariku menyentuh dingin handle pintu.

“o-oppa,,  siapa yang datang?”

Aku berbalik dan menemukannya yang masih kusut. Masih terbalut sisa-sisa percintaan hebat kami malam itu dalam gelungan sebuah selimut putih tebal. Rambutnya berantakan, kedua belah matanya seperti ditempeli lem perekat super kuat, pias wajahnya sayu, jelas ia tengah kelelahan setengah mati menghadapi nafsu buasku.

“cho kyu hyun!! Keluar!!”

Aku tersadar saat kedua bola matanya juga membesar. Aku tak tau apa yang tengah terjadi kini. Yang jelas, pengacau dan pencemburu yang kerap kali terlalu iri akan kehidupanku dan dengan seketika kehilangan akal sehat mereka memang sering kali melakukan hal gila seperti ini.

“bukan siapa-siapa. Kau bisa kembali tidur”

Aku menatapnya tanpa ekspresi ketika mata kami beradu. Helai-helai anak rambut yang menggerayangi leher merah bebercak tanda kepemilikanku itu membuatku tergugu beberapa waktu hingga aku baru tersadar jika bola matanya melawan arus.

“o-oppa..”

“aku harus keluar. kau bisa tidur kembali, im yoona”

Dan kemudian ia berdiri. Mengatur letak selimut agar melingkari tubuh polosnya. Melakukan hal yang terlalu buang-buang waktu karna meski ada tembok baja yang menghalanginya, aku adalah satu-satunya pria yang sudah hapal betul lekuk tubuhnya.

Dia keras kepala.

Karena kekeras kepalaannya itulah yang membawanya padaku. Sikapnya yang selalu membantah dan seringkali melawan membuatku sedikit kewalahan. Tapi dia wanita cerdas. Setiap bantahan dan perlawanannya selalu memiliki alasan yang jarang sekali bisa kutolak.

Kuhela nafasku keras saat bola matanya meliar. Melirik setiap sudut ruangan untuk menghindari tatapanku. Ada sesuatu yang mengusiknya. Dan kini aku tak bisa biasa-biasa saja.

“baiklah. Kenakan bajumu dan kau boleh ikut”

Saat itu pukul dua dinihari. Dentang dimana ketika kubuka pintu, satu-satunya hal yang kuingat adalah sesuatu yang panas dan keras menghantam rahang kiriku. Saat aku kemudian terpelanting jatuh lalu seseorang menarik sutraku, membesarkan amarah dalam matanya tepat didepanku.

“brengsek!! Kau lelaki keparat!”

Bruk.

Kepalannya bersarang dua kali disana. Bisa kurasakan sendiku bergeser hanya karena amarahnya yang luar biasa.

“lalu? Apa itu bisa membuatmu merasa lebih baik, Lee donghae?”

Aku tersenyum saat kuseka darah segar berbau amis diujung bibirku sebelum kuberikan ia tepukan penyemangat pada salah satu bahu tegangnya. Dia diam meski seluruh ekspresinya tak pernah berubah.

“aku bertanya apa itu bisa membuatmu lebih baik, lee donghae?!!”

“DIAM!!”

Aku terbentur kuat tepat dilantai marmer apartemen mewahku. “hah, seekor ikan memang akan menyesali kematiannya didalam air”

Tawa geliku menghiasi sudut malam itu. Detik ketika waktu berlalu dengan amarah yang terlalu buru-buru menggebu. Kuraih kerah kemejanya ketika ia tak dapat berkata apapun demi menyanggah setiap sikap tenang yang kupertontonkan.

“apa yang membuatmu begitu marah? Apa?! Kau belum lupa akan janjimu, bukan?! Lalu sekarang apa yang kau perkarakan? KATAKAN PADAKU LEE DONGHAE!!”

Kedua tangannya bergetar. Rahangnya yang tegas menunjukkan emosi yang terlalu kuat. Ada hal yang bisa sangat kumengerti dan harus kuabaikan dalam sekali dentang waktu kini.

Bruk.

“keparat! Apa utungnya melakukan ini?! Kau menodainya tanpa ikatan pernikahan, brengsek! Kau tau betapa ia menjaga kehormatannya, dulu? Bukankah aku sudah memperingatkanmu?!”

Aku tersenyum detik setelahnya. “kau belum lupa siapa aku, kan? Mengapa aku harus melakukannya serta apa yang harus dan tak harus kutepati?”

“CHO KYU HYUN!”

“BERHENTI BERTERIAK DIDEPANKU DAN ENYAHLAH!!”

Giringan langkah kaki menghunus malam menegangkan kami. Dari sudut ruangan itu, kulihat sesosok wanita mematung dalam pelototan bola matanya yang tak tanggung tanggung. Ia meremas kuat sutra yang melindungi tubuhnya dengan nafas memburu yang kentara.

“d-donghae oppa??”

Kuhempaskan tubuhku dan kututup kedua bola mataku kuat-kuat saat kusadari reuni singkat mereka akan menghanguskan ulu hatiku.

“yoon,, yoon, kau baik-baik saja?”

“oppa,,”

“yoon,, oppa—“

Bruk.

“enyahlah saat kukatakan kau harus begitu!”

Kuseret langkah kakinya didepan pintu sebelum kututup rapat masa itu dengan perintah yang luar biasa kejam dan tak kenal arang. Lalu tubuhku melemas tajam ketika kutemukan ia masih membisu dengan air mata yang sudah berlinang meratapiku.

Aku tau, ada banyak hal yang harusnya ku tau. Tapi kini ia milikku. Milik yang dengan cara apapun tak akan membuatnya lepas dariku. Milikku yang kini akan selalu begitu tak perduli akan masa yang datang demi menghantam kebersamaan kami.

Dia selamanya akan tetap menjadi milikku.

 

Kyu hyun terjaga di dua pertiga malam untuk meneguk segelas penuh air mineral yang tersedia  tepat disamping tempat tidurnya. Ujung kepala pria itu mendongak dengan keringat dingin yang membasahi setiap jengkal tubuhnya yang tak terbalut apapun.

Ditengah dingin malam itu, usai menuntaskan setiap hasrat yang bergumul dalam batinnya, ia sendiri merasa begitu tertekan saat kantuk tak kunjung datang menjemputnya dalam damai.

Kyu hyun menyeka bulir air yang berkumpul disekitar wajahnya lalu menutup matanya erat-erat. Menyandarkan kepalanya yang terasa berat tepat diujung dasboard ranjang dan menghela kasar nafas beratnya.

Ini sudah lewat dua jam semenjak percintaan mereka, dan keringat dingin yang seharusnya sudah mengering itu tak kunjung habis. Kyu hyun dapat merasakan setiap ninci kulitnya yang masih terasa basah dan menggelikan.

Dan mimpi itu, datang kembali.

Mimpi buruk yang sudah bulanan ini berlalu.

Kyu hyun menyingkirkan rambutnya yang basah dan menutupi keningnya sebentar sebelum menoleh dan menemukan yoona dalam keadaan tidak sadarkan diri. Wanita itu pasti kelelahan setengah mati karena harus menanggung beban yang terus ia limpahkan pada hasratnya.

Hening. Ketika kyu hyun membiarkan tubuhnya melorot dan jatuh tepat disamping wanita itu lalu menatap kedua kelopaknya yang tertutup cantik.

Kyu hyun tak pernah tau apa yang membuatnya mampu bertahan bersama yoona hingga dua tahunan ini. Ia tak sampai pada pemikiran jika ia tetap akan mencari yoona ketika akhirnya ia bosan pada setiap wanita yang ia kencani sebelumnya. Ia juga tak pernah benar-benar tau apa alasan kuatnya terus mengekang wanita itu dalam kuasanya.

Kyu hyun pernah mengencani banyak wanita, memberikan mereka apapun yang mereka inginkan lalu pergi begitu saja ketika ia merasa sudah terlalu membosankan. Tapi yoona tak pernah mendapatkan itu. Ia tak pernah mendapatkan kebebasan untuk pergi semaunya. Dan itu semua membuat kyu hyun bingung seistimewa apakah yoona dalam benaknya.

Tiba-tiba kyu hyun tersentak, apa yoona pernah tau mengenai mimpinya? Mengenai suatu bayangan yang hingga kini terus menghantuinya.

Atau,, taukah ia mengapa kyu hyun begitu kalut malam ini?

 

 

__

“dan kau membiarkannya menangis? Seperti itu saja?”

Masih mengelilingi cup coklat hangat tanpa mau repot-repot menyesapnya terlebih dahulu, yoona mengangguk acuh saat so yeon datang membawakannya semangkuk penuh salad buah pesanannya.

Jauh dari apa yang pernah ia bayangkan, semua terjadi secara tiba-tiba pagi ini. So yeon tak menyapanya dengan serentetan nasihat atau rencana untuk mengumpulkan alasan bersama. Tapi ia juga bukannya tengah lelah.

‘aku hanya ingin kau mengerti akibat dari setiap tindakanmu’

Sesingkat itu saja kalimat lugas dari wanita tinggi blasteran kanada korea itu. Ia kemudian bersikap seolah tak ada yang terjadi sehari sebelumnya. Ia bersikap seolah masalah yoona dan lucia adalah angin lalu yang suatu saat nanti akan terbang dan menghilang dibagian bumi lainnya.

“kau gila!”

Yoona terkekeh geli, menyentakkan garpu besarnya kedalam mangkuk lalu menatap so yeon sebelum memenuhi mulutnya dengan setumpuk buah-buahan. “seperti baru mengenalku saja, so”

So yeon melakukan hal serupa. Kebiasaan pagi yang ia tularkan begitu saja pada yoona belakangan ini. Menjadi asisten pribadi wanita itu memang sedikit banyak menyedot waktunya, tapi so yeon tak mengerti mengapa ia terus bertahan mengingat kejadian-kejadian lampau seperti sudah sangat kuat untuk ia jadikan referensi agar dapat resign lebih awal dari tugasnya menjaga yoona.

Tapi, menjadi orang kepercayaan yoona lebih dari dua tahun dan bersahabat  dengannya semenjak mereka masih sama-sama menjadi karyawan biasa adalah alasan mengapa so yeon terus bertahan. Ada perasaan yang membuatnya terus merasa jika ia harus melindungi yoona hingga so yeon sendiri tak paham kapan waktunya ia akan berhenti.

“lagipula, so, bertaruh sebelah kupingku jika siang ini perusahaan mereka akan segera mengadakan konferensi pers untuk minta maaf”

So yeon tersedak sedikit dengan rasa terkejut. “kau menghayal terlalu tinggi. Lucia itu putri tunggal perusaan elektronik nasional, kau tau, kan ada banyak hal yang bisa orang tuanya lakukan selain minta maaf?”

Yoona meneguk susu vanillanya sedikit menjelang menatap so yeon malas. “yang jelas, mereka tak akan berani menentangku seperti anak bodoh mereka” yoona berhenti berbicara lalu menatap gelas susu vanilla so yeon tajam. “ya! Mengapa susu vanillaku terasa aneh? Aku mau punyamu.”

Tangan panjangnya terulur merebut kepunyaan so yeon. Namun belum sempat yoona menggesernya, tangan so yeon buru-buru menahan pergerakan jemari lentik yoona lalu menatapnya serius. “yang jelas, posisimu dan nama kyu hyun masih menjadi taruhan menjelang kita tau isi konferensi pers yang mereka adakan”

Yoona buru-buru menarik tangannya menjauh, “mengapa harus seserius itu? Santai saja, tidak akan terjadi hal-hal buruk, so. Aku sudah melakukan ini puluhan kali dan posisi serta nama baik kyu hyun tak berubah harga hingga detik ini”

So yeon tak membantah. Tak mengikuti nalurinya untuk protes bahkan menyampaikan hal-hal buruk yang bisa saja terjadi pada yoona. Ia sudah memilih untuk diam. Memilih untuk membiarkan yoona perlahan sadar tanpa perlu ia ingatkan kembali. Wanita pertengahan umur dua puluh itu sudah terlalu dewasa untuk terus diingatkan. So yeon ingin yoona sadar sendiri. seperti ketika ia dengan sadar mengambil keputusan besarnya dulu.

“yeah, terserahmu saja.” So yeon melirik pantri dengan gelisah lalu tiba-tiba bibi jung datang dengan semangkuk penuh buah berry. “oh, ya. Semalam aku sudah mengatur ulang jadwalmu. Kau perlu mengeceknya jika mungkin bertabrakan dengan jadwal kyu hyun”

Yoona memperhatikan so yeon yang memindahkan buah berry lalu mengaduknya dalam salad buah yang dingin bercampur yogurt. Memberikan warna cantik yang tiba-tiba mengusik penglihatan yoona secara ajaib.

“aku mau itu!”

So yeon tak menoleh. “sudah aku sediakan diatas ranjangmu. Kau bisa membacanya setelah membersihkan diri lalu kita—“

“bukan, so. Aku mau berry-nya!”

So yeon berhenti seperti robot yang aus karena terlalu cepat berekasi. Kedua bola matanya memicing menatap yoona ragu lalu memiringkan kepalanya berpikir. “kau? Mau berry? Sejak kapan?”

Mangkuk penuh buahan itu kini berpindah tangan. So yeon tau seharusnya ia tak perlu bertanya karena yoona akan melakukan apapun yang ia suka saat itu juga tanpa mau repot-repot menjelaskan mengapa ia harus melakukannya.

Wanita tinggi dengan mata tajam yang terkadang menggemaskan itu memang mudah sekali merubah mood-nya terhadap sesuatu dan so yeon sudah terbiasa dengan sikap yoona yang merepotkan seperti itu.

Yoona menumpahkan satu botol yogurt lalu menjejalkan penuh-penuh buah-buahan itu kedalam mulut kecilnya tanpa mau perduli akan tata krama yang sebelumnya selalu ia gunakan. Biarlah, ia hanya seperti itu didepan so yeon. Tak akan jadi masalah besar baginya.

“oh ya, pagi ini kita harus kemana?”

Mengabaikan keadaan, so yeon melemparkan sebuah serbet sebelum menjawab pertanyaan singkat yoona. “bersihkan bibirmu! Kita harus ke gallery di anyang untuk meresmikannya pukul sebelas nanti”

“oh, sudah selesai?”

“sudah. Kau saja yang terlalu sibuk melayani kekasihmu hingga kau lupa jika aku bekerja sendiri” so yeon menyendok besar-besar buahan dan ikut menjejalkannya tanpa ampun hingga kini ia dan yoona tampak seperti gadis depresi yang menghabiskan setengah dari waktu mereka hanya untuk makan.

“ya, berhenti memakannya seperti itu!”

So yeon meneliti yoona dari ujung rambut hingga batas dada dimana ia dapat melihat. Memulai analisa pertamanya karena suasana pagi ini terasa sedikit aneh menurut so yeon sendiri. “kau juga makan sebanyak itu. Berkacalah sebelum meneriakiku! Dan,, kau terlihat sedikit berisi. Jangan melewati batas berat badanmu, yoon. Dunia memandangmu dari sudut manapun. Kau tak boleh terlihat cacat meski hanya karena berat badanmu yang naik sepersekian kilo. Mengerti?!”

Yoona mengangguk tanpa mau repot-repot menatap so yeon. Menyelesaikan sarapan paginya lalu meneguk gelas vanillan yang sukses ia tukar dengan milik so yeon sebelum akhirnya membenarkan letak sutra yang masih ia gunakan dan menguncir rambut coklatnya tinggi-tinggi.

“so, sebelum pergi kurasa ada baiknya kita berkunjung ke butik. Aku perlu beberapa bra dan—“ yoona diam ketika so yeon menatapnya tak percaya. Ia memeriksa sebentar sekelilingnya sebelum menatap so yeon ragu. “wae?” tanyanya penuh tanda tanya.

So yeon menggeleng sekali. “ani, aku hanya tidak habis pikir selain memakan isinya kyu hyun juga akan memakan penutupnya”

Dan kemudian so yeon berlalu meninggalkan yoona yang bersemu merah sebelum mengejar asisten pribadinya menuju tangga lantai dua dan berlalu dibalik pintu.

 

 

__

“karena semua manusia pasti memiliki masa-masa dimana melakukan apapun akan terasa membosankan. Maka selain melewati hari dengan beban pikiran yang berat, perusahaan menciptakan sebuah game console model terbaru dengan tujuan seluruh lapisan masyarakat agar tak ada lagi pikiran yang terlalu kusut atau beban yang terlalu menggunung. Kita bisa meluangkan waktu untuk sejenak beristirahat. Jadi, game console terbaru kami menjanjikan sejuta keceriaan. Kami bisa menjamin itu.”

Kyu hyun ikut berdiri saat lampu ruangan menyala dan seseorang didepan sana membungkuk hormat setelah menyelesaikan presentasi akhirnya. Jika ada yang perlu membangga, maka kyu hyun akan melakukannya.

Ia percaya presentasi mereka cukup ampuh untuk merebut hati beberapa petinggi perusahaan lainnya karena presentasi yang secara khusus ia siapkan untuk membantu salah satu sahabatnya untuk membangun ulang perusahaan mereka yang hampir terbengkalai begitu saja.

Kyu hyun tersenyum ketika seseorang menyalami spencer sebelum mereka bergerak keluar ruangan dan meninggalkan ia bersama namja jerman kanada yang kini terlihat begitu gembira itu.

“kau menyelesaikannya dengan baik”

Spencer berbalik, sebuah senyum lebar mengembang dari bibirnya sebelum ia maju dan memeluk kyu hyun erat-erat. “terimakasih. Aku tidak akan pernah melupakan jasamu, kyu”

Kyu hyun menepuk punggungnya beberapa kali. “ini belum seberapa dibandingkan dengan persahabatan kita.”

“ah tidak, ini luar biasa. Kau menciptakannya dan membiarkan hak cipta itu jatuh ditangan perusahaanku lalu berkata jika ini belum seberapa?”

“ck. Aku sudah terlalu populer tanpa mendapat predikat pencipta game console sekalipun. Lagipula, kau harus bisa mengembangkannya kali ini. Aku tak lagi ingin melihatmu terpuruk hanya karena seorang wanita”

Spencer mengangguk. Membiarkan kyu hyun memeluknya sekali lagi sebelum berjalan keluar ruangan meninggalkannya yang sibuk berbenah sendiri. diikuti sora, ia harus segera menuju kantornya sendiri menjelang tigapuluh menit kedepan.

“tuan, anda yakin dengan hak cipta game ciptaanmu sendiri?”

Kyu hyun menatap sora yang berdiri tepat disampingnya. “aku tidak suka bermain-main, sora. Ada apa? Kau menyesali keputusanku?”

Sora mengangguk meski dengan sedikit ragu. “aku tidak menyalahkan keputusan apapun. Maaf, tuan. Tapi meski tak begitu banyak, pendapatan dari hak cipta game itu terhitung lumayan. Aku tidak meragukan pundi-pundimu, tentu saja kau tetap memiliki banyak hal yang tak sebanding dengan pendapatan game console itu. Tapi—“

“tapi spencer membutuhkannya.” Kyu hyun menegaskan itu dalam sekali helaan nafas. “kau melupakan yang satu itu, sora. Sahabatku membutuhkannya dan jika ada yang tak bisa kuhargai dengan uang didunia ini, maka merekalah orangnya. Kau pemberi saran yang jitu, tapi jika kau perlu mempengaruhiku hanya karena kau kecewa spencer lebih memilih istrinya daripada dirimu, maka kusarankan lebih baik kau tak melakukannya”

Sora terdiam detik itu juga. Entah mata-mata dari mana yang telah membocorkan kencan rahasianya bersama spencer satu bulan yang lalu. Tapi perlu sora sadar jika hubungan ia dan spencer memang terlalu melenceng.

Spencer pria yang tampan. Sialnya ia adalah sahabat cho kyu hyun dan pria blasteran dengan ujung rahang tajam mempesona itu sudah beristri. Park ji yeon. Sora ingat betul nama itu.

Mereka keluar beberapa menit setelahnya, memasuki mobil perusahaan lalu buru-buru pergi mengingat letak perusahaan spencer terhitung jauh.

“aku belum mendengar kabar gallery baru yang sudah akan rampung di anyang. Kau tau kabarnya, sora?”

“nona dan so yeon akan datang menghadiri pembukaan gallery baru pukul sebelas ini, tuan..”

Kyu hyun menatap sora sedikit tak percaya. Benarkah? Hari ini? “kau yakin? Aku tidak mendapat satupun undangan untuk menghadiri gallery yang jelas jelas datang dari pundiku. Adakah yang kau lewatkan, sora?”

“animida, tuan” sora membuka tab miliknya lalu memaparkan layarnya tepat didepan kyu hyun. “anda menolak acara itu dua hari yang lalu dan memilih menghadiri makan siang bersama kim kang hee. Nona sudah mengantarkan undangannya jauh-jauh hari, tapi sepertinya saat itu tuan sedang tidak dalam keadaan yang baik untuk menerimanya”

Kyu hyun meyandarkan punggungnya pada jok hitam mobil lalu berpikir sejenak. Ah,, dua hari yang lalu. Ia, ia ingat betul saat ia menolak undangan yoona untuk menghadiri acara pembukaan itu. Tiba-tiba kyu hyun  ingin tersenyum tipis, tapi buru-buru ia tahan lalu mendesah gusar.

“batalkan acara makan siangku. Aku harus menghadiri pembukaan itu” kyu hyun menatap sora yang buru-buru mengatur ulang jadwalnya. Seperti sudah tau saja jalan pikiran kyu hyun yang kapanpun bisa berubah-ubah. “dan,, apa jonghyun sudah menghuungimu?”

 

 

__

Yoona sudah siap dengan gaun hijau pastel yang melekat cukup ketat pada tubuhnya. Dengan bentuk tube dan bahu yang terpampang dengan jelas serta tulang selangkanya yang menonjol dibalik helaian rambut coklat tebal yang sengaja ia biarkan terlepas, yoona menarik nafasnya dalam-dalam.

“kau punya waktu lima belas menit sebelum acara dimulai”

Ia berbalik dan menemukan so yeon yang tengah mengatur ulang bulu mata lentiknya kemudian menghela nafasnya ragu. “memangnya aku harus apa?”

Terdengar tawa geli so yeon dari kursi yang terletak didepan dua meja rias darinya. “kau bisa menghubunginya jika kau mau. Seperti tidak kenal cho kyu hyun saja. Dia bisa datang jika kau memintanya langsung. Aku lihat mood-nya baik-baik saja pagi ini”

Yoona mendengus mendengar penuturan so yeon. Menghubunginya? Yang benar saja. Cukup dengan sora yang berkata jika tuannya yang terhormat itu menolak untuk datang, dan yoona sudah merasa jika lelaki itu memang tak seharusnya datang.

Meski yoona masih sadar diri jika gallery ini-pun masih berdiri atas uang berlimpah milik kyu hyun. Atau jika boleh berlebihan, apapun yang yoona gunakan sebenarnya berasal dari kyu hyun. Tapi lelaki itu yang memilih untuk tak datang, dan yoona masih memiliki harga diri untuk sekedar tak lagi memohon padanya.

Hell ya! Ia tidak akan melakukan itu. Terserah cho kyu hyun saja. Memangnya ia perduli?

“mungkin maksudmu aku masih perlu ke kamar mandi. Tiba-tiba aku ingin buang air. Setiap perkataanmu semenjak pagi ini terdengar menjijikkan dan membuatku mual. Untuk apa menghubunginya? Seperti dia punya banyak waktu saja untuk hal-hal sepele seperti ini”

So yeon mendengar itu dengan baik. entah ia merasa jika yoona tengah kesal atau hanya akal-akalannya saja untuk terlihat seperti itu. So yeon tau jelas jika yoona ingin kyu hyun datang. Walau bagaimanapun, meski ia dan kyu hyun tak terikat hubungan yang jelas. Setiap orang tau jika yoona adalah ‘wanita’ kepunyaan raja bisnis seantero korea itu.

Mereka tak pernah menutupi fakta bahwa mereka tinggal satu atap, bermesraan didepan siapapun atau bahkan berkencan dengan orang lain. Seluruh korea tau betapa brutal dan berantakannya kehidupan mereka.

Tapi tetap saja, meski begitu, yoona tak bisa lepas dari cho kyu hyun. Begitu juga sebaliknya. Karena itu, seperti apapun sederhananya acara yang yoona adakan, akan sangat amat mustahil rasanya jika ‘namja yang paling diinginkan tahun ini’ itu tidak datang.

Meski so yeon juga ingat betul ketika sora menyampaikan penolakan dari kyu hyun hari itu. Tapi hal-hal seperti itu tidak menjamin apapun. Kyu hyun senang bertindak semaunya. Seperti apapun yang baru saja terlintas dibenaknya. Semudah itu saja.

Ketika dua orang staff masuk dan kemudian yoona segera berdiri, hendak keluar ruangan, so yeon mengikutinya cepat.

“jangan tekuk wajahmu. Kau ini..”

So yeon menghentikan yoona. Menahan bahunya lalu meneliti penampilan wanita itu sejenak. Sialan. Sepertinya yoona memang diciptakan untuk menjadi sempurna. Seringkali so yeon tak menemukan celah untuk meneliti cacat pada yoona. Karena dalam konteks apapun, yoona memang sempurna.

“gezz! Sudah kubilang jangan tekuk wajahmu. Tersenyumlah sampai para tamu pulang. Mengerti?”

Yoona memutar bola matanya malas. “iya aku tau”

“jangan makan terlalu banyak. Setelah pemotongan pita kau harus langsung menemui dewan—“

“iya. Iya, so. Aku sudah hapal. Kau terus mengatakannya sejak tiga hari yang lalu. Apa lagi?”

Salah satu tangan so yeon terkepal. Ingin memukul kepala yoona yang begitu keras. Entah apa yang yoona pikirkan. Ia susah sekali diatur dan seringkali membangkang. Hidup bersama kyu hyun benar-benar membuatnya menyalin lengkap sikap buruk namja itu.

“hh~ tidak ada. Cepatlah, waktu kita tinggal lima menit lagi” so yeon melangkahkan kakinya lebih dahulu menuju hall, lalu berhenti. “dan, omong-omong, dadamu memang terlihat lebih besar” godanya sinis.

Yoona berdecak setelah so yeon menghilang dari pandangan matanya. Dasar, wanita itu.  Bisa-bisanya ia mengomentar sesuatu setelah yoona merasa semua sudah sempurna. Yoona melirik gaun tube miliknya lalu kembali menatap koridor lurus itu sejenak.

Apa mungkin gaun itu terlalu sempit? Atau terlalu terbuka? Tiba-tiba ia merasa tidak nyaman dan ingin segera mengganti gaun sederhana yang ia gunakan sebelum suara itu datang.

“mau kemana? Para tamu sudah menunggumu.”

Yoona berbalik dan menemukan kyu hyun berdiri diujung koridor. Melipat kedua tangannya dengan kemeja biru tua yang terlalu pas dengan tubuh tegapnya dan menatap yoona dingin.

“oh, aku pikir makan siang bersama—“

“jangan membahas yang tidak-tidak. aku bertanya kenapa kau kembali. Aku sudah menunggumu untuk pemotongan pita”

Yoona mendengus malas. Nah, kan. Memang sifat kyu hyun sekali suka bertindak semaunya. Sebelum ini, yoona sudah mengundang pejabat sekitaran daerah anyang untuk menemaninya memotong pita. Mengingat kyu hyun sudah menolak undangannya beberapa hari yang lalu.

“aku sudah mengundang park jae in untuk menemaniku” yoona melirik kyu hyun dari ujung kaki hingga pada sepatunya yang mengkilap tajam. “bukannya oppa sibuk? Silahkan lanjutkan pekerjaanmu”

“omong kosong. Sayang sekali kau pasti belum lupa jika—“

“aku tau. Aku tau” yoona mendelik kemudian mendengus kesal. Bibirnya menggeram ketika ia memutuskan untuk berjalan maju tanpa mau repot-repot mengganti gaun tube-nya. Biarkanlah. Ia cantik memang untuk dilihat banyak orang. Untuk apa menjadi sederhana jika kau bisa menjadi luar biasa? “terserahlah” tukasnya malas.

Kyu hyun tersenyum cepat. Menyeringai usai yoona yang sama-sama keras kepala dengannya itu mengalah lebih dulu. Ia berbalik lalu melingkarkan lengannya tepat pada pinggul ramping yoona lalu menariknya mendekat.

Bau pinus yang menguar dari tubuh terbuka yoona hingga bentukan pinggang dan dadanya yang cantik sekali karena gaun tube itu membuat kyu hyun pangling. Baru beberapa saat yang lalu sepertinya ia ingin bersikap dingin. Sekarang, ia justru menginginkan yoona kembali.

“kau seksi sekali. Kenapa tidak menggunakannya ketika bersamaku?”

Yoona menatap kyu hyun yang berdiri disampingnya. Wajah mereka begitu dekat, ia bisa merasakan mint dan bau maskulin kyu hyun hanya dengan sekali helaan nafas. “dirumah? Tidak terimakasih. Gaun ini terlalu mahal jika hanya digunakan untuk dirumah, oppa”

“aku bisa membelikannya seratus helai, jika kau mau.” Kyu hyun mendekat. Membaui rambut yoona yang halus dan tebal. “atau,, tidak perlu. Kau selalu cantik menggunakan apapun.”

Yoona tersenyum tipis mendengarnya. Ia sudah biasa dengan sikap mesum kyu hyun dimanapun. Mereka sering bermesraan semau mereka. tapi maaf saja, uang memang selalu menunjukkan kuasanya. Tidak ada yang perlu ditakutkan. Karena walau bagaimanapun, semua orang tetap akan menghormati yoona dan kyu hyun selama mereka membutuhkan uang.

“aku tidak serakus itu untuk menghabiskan uangmu. Lagipula, masih banyak gaun yang belum aku gunakan dan berhentilah mengendus, oppa! Kita hampir sampai!”

Kyu hyun terkekeh mendegar jawaban yoona. Entah bagaimanapun yeoja itu ingin menghindarinya, kyu hyun tau betul bagaimana cara untuk mendapatkan kembali perhatian yoona. Itu mudah, mengingat dulu memang yoonalah yang terus merebut perhatiannya.

Cahaya matahari menjumpai mereka diujung koridor. Kyu hyun semakin mempererat rangkulannya lalu berbisik jengah. “kau pakai cup penyangga?”

“a-apa? Tidak mungkin!”

“bagus. Sepertinya payudaramu semakin membesar. Lihat! Mata liar mereka menjelajahimu dengan mudah, brengsek!” kyu hyun mengumpat ketika blitz menyapa mereka dengan serbuan yang membabi buta. “lain kali jangan gunakan gaun seperti ini lagi” ia mendekat, lalu mengecup pelipis yoona lembut sebelum meladeni kilatan kamera dengan wajah rupawan tanpa senyuman miliknya.

 

 

__

Kyu hyun tak bertahan lebih dari tiga jam. Acara pembukaan gallery baru yang dijadwalkan akan dibuka pukul sebelas pagi dan berakhir pada pukul sembilan malam itu tiba-tiba terasa begitu formal.

Yoona memang merancang pembukaan gallery dengan pesta satu harian penuh karena dengan atau tanpa yoona sadari, statusnya sebagai wanita tetap kyu hyun membuatnya harus tetap mempertahankan pride nya sebagai kalangan atas.

Namun yoona juga tak bertahan lebih dari tiga jam. Selain ancaman –yang konyol sekali dari kyu hyun, ia juga sebenarnya sudah jauh-jauh hari mengatakan pada so yeon jika ia tidak ingin berada dalam waktu sepuluh jam penuh dalam gallery barunya. Meski yoona tentu senang dengan pembukaan gallery itu, namun berada dalam keramaian bukanlah keahliannya.

Yoona menatap cermin, meneliti bagian tipis diujung matanya yang tiba-tiba ia rasa terlihat begitu buruk. “apa concelear tidak bisa menutupinya?!” gerutu yoona sendiri. ia memang memilih untuk menepi menuju ruang rias. Tiga jam yoona rasa sudah cukup untuk menyambut tamu utama. Selebihnya, akan lebih baik jika so yeon yang mengurusnya sendiri.

Derap langkah menginterupsi yoona yang masih sibuk dengan dandanannya. Ia berbalik dan menemukan kyu hyun yang masih berada disana, duduk, dan melonggarkan simpul dasinnya secara bar-bar.

Dengan sekali hembusan nafas saja, yoona tau jika ia tengah terpesona. Selalu seperti itu, meski waktu terus berputar, berubah, pergi dan menghilang meninggalkannya, satu-satunya yang tak pernah berubah dari dalam dirinya adalah itu. Sebuah rasa aneh yang tak pernah berhenti menimbulkan gemuruh hebat didalam dadanya.

Yoona tau ia tak pernah bisa berhenti mencintai kyu hyun. Semenjak pertama kali bertemu hingga bersatu, yoona bahkan tak pernah berfikir jika hingga saat ini pun, saat ketika ia secara harfiah tidak diperlakukan dengan benar, ia tetap mencintai kyu hyun.

Fakta menjijikkan yang membuatnya sadar jika walau bagaimanapun sikapnya atau sikap kyu hyun sekalipun, rasa yang satu itu tidak pernah berubah. Esensinya selalu sama meski kini mereka dapat menyampaikannya dalam bahasa yang berbeda.

“sedang menikmati pemandangan, yoon?”

Yoona tersadar ketika lamunannya mulai dijadikan lelucon. Ia tak pernah menghitung berapa kali kyu hyun menangkap mata dirinya yang tengah terpesona akut akan kharisma bar-bar yang keluar ketika kyu hyun justru tengah terlihat begitu berantakan. Yoona selalu menyukai hal yang seperti itu, dan kyu hyun menyadarinya sudah sejak lama.

“kenapa tidak? wajahmu tidak mengandung pajak, kan?”

Menolakpun sudah terlalu biasa. Kyu hyun tau betul apa yang ia kerjakan dan membantah hanya akan membuatnya terlihat begitu kekanakan. Yoona berbalik dan kembali mengoleskan concelear pada ujung matanya dengan hentakan kesal disetiap ujung jari.

“seharusnya, pajak untuk pesonaku dua kali jauh lebih besar dari uang bulananmu.” Kyu hyun tersenyum miring ketika yoona mendengus malas. Baik ia maupun yoona, sudah terlalu kalap jika membicarakan uang. Yoona tak akan mau perduli sebanyak atau sebesar apapun uang kyu hyun yang ia habiskan. Karena semenjak awal, lelaki itu memang sudah berjanji untuk terus membiayai kehidupannya.

Dan lagi, setiap kali lelaki itu menyinggung mengenai uang, satu-satunya hal yang yoona bisa lakukan hanya mendengus malas. Karena walau bagaimanapun kyu hyun melakukan protes kerasnya terhadap pengeluaran bulanan yoona-yang demi tuhan, luar biasa besar-, ia tak pernah sekalipun membatasi finansialnya yang berlimpah terhadap yoona.

Lelaki itu mendesah malas lalu kemudian meraih smartphone miliknya dengan santai. “tapi karena itu kau, mau meminta sebanyak apapun aku juga tidak perduli” lanjutnya dengan suara lebih kecil namun tetap terdengar lugas.

Yoona mengeluarkan seulas tipis senyuman manisnya didepan cermin. Tanpa mau repot-repot berbalik, ia mengibaskan rambut coklat panjang bergelombang halus miliknya lalu mengerling pada dirinya sendiri dibalik cermin.

“itu karena pesonaku dua kali lebih besar dari pajak pesonamu.” Ia mendegar kyu hyun terkekeh meski hanya sebatas samar. “lagipula, mau membayar sebesar apapun, uangmu tetap akan  mengalir padaku. Jadi, berhentilah membiacarakan uang, oppa. Apapun itu, darimanapun itu, golden limited card-mu sudah ada disini. Mau protes juga kurasa terlalu percuma”

Dan kekehan kyu hyun terdengar lebih manusiawi kini. Lelaki itu menutup smartphone miliknya lalu menatap yoona lekat-lekat sebelum ia sadar jika letak duduk yoona begitu memukau.

Meja rias dibawah lampu terang yang menerpa rambut coklat tebalnya membuat yoona terlihat berkilau. Kyu hyun yakin bukan hanya ia saja yang akan terpesona. Karena dengan alasan apapun, paras bidadari yoona memang terlalu sulit untuk diabaikan.

Tubuh tinggi dengan porsi yang sedang-sedang saja dibeberapa bagian membuatnya terlihat jauh lebih seperti dewi. Ia tidak berlebihan dimanapun, sesuatu yang ada pada dirinya melekat dengan tepat, pas dan semua seperti sudah terakumulasi dengan sempurna untuknya.

Sayang, andai yoona dapat hidup lebih layak dalam bahtera rumah tangga, memiliki malaikat kecil berparas dewa dalam gendongannya dan tertawa bahagia dalam kukungan lengan seorang namja, mungkin ia akan menjadi sumber ke-iri-an seluruh wanita didunia.

Yoona benar-benar sempurna, kecuali dengan hidup bebasnya yang kemudian membuat kyu hyun tertampar keras. Demi apapun yang kini mengelilingi matahari, yoona adalah cinta yang ia hancurkan.

Kyu hyun tersentak ketika jemari yoona menepuk bahunya keras.

“aku pasti wanita paling beruntung. Wajah bodohmu itu luar biasa memukau, oppa. Apa yang kau pikirkan?”

Sarkas itu sudah seperti makanan harian mereka. yoona-nya yang dulu begitu lembut dan penuh perhitungan dalam berbicara kini telah berubah. Perlahan tergerus waktu dan terlimpah kebiasaannya, yoona kini diam-diam menyalin lengkap setiap kosakata buruk yang dulu selalu kyu hyun gunakan.

Meski terhitung biasa saja, namun siapapun  manusia –selain kyu hyun dan so yeon- yang mendengar setiap bait dari bibir lembut yoona akan merasa jika ia adalah wanita yang kasar. Nada bicara serta intonasi yoona juga sudah terlalu melenceng. Ia yang dulu  begitu menjaga tempo agar terkesan elegan kini menjadi lebih dingin, dengan intonasi datar dan tempo yang kapanpun bisa ia rubah. Meski yoona tetaplah sosok yang elegan. Namun sosok wanita bermartabat itu kini seperti berubah makna.

Yoona elegan dengan caranya sendiri.

Ia keras. Dan ia jauh lebih berpendirian.

“jika aku berkata aku memikirkanmu, apa kau akan percaya?”

Yoona terkekeh geli. Kedua bola matanya meninggalkan garis hitam legam, memperindah lekukan pipinya yang naik beberapa centi. Yoona menatap kyu hyun seolah ia adalah badut ulangtahun-nya hampir duapuluh tahun silam.

Tubuh yoona terhuyung berdiri, ia melangkah kecil hingga berada tepat didepan kyu hyun lalu menunduk, mengecup bibir kyu hyun kilat. “usai ini oppa ada pertemuan dengan investor besar, kan? Bersiap-siaplah. Jangan buang-buang waktu disini” tanpa menjawab, wanita itu menyudai topik sebelumnya.

Yoona beranjak berbalik, degupan jantungnya tiba-tiba seperti genderang perang. Besar dan tak teratur. Bersahutan dalam waktu sepersekian detik yang singkat. Yoona mengeluh pada kuasanya akan dirinya sendiri. berharap kyu hyun tak pernah tau atau bahkan mendengarnya.

“apa sora melaporkannya padamu?”

Yoona mengangguk ragu. Berusaha menatap kaca tanpa mau repot berbalik arah. Kyu hyun adalah intelegen nomor satu. Hanya dari melihat helaan nafas yoona saja, ia pasti akan segera tau jika wanita itu tengah menyembunyikan sesuatu darinya.

Tapi beruntung hari itu kyu hyun lengah. Yoona terbebas saat pintu kamar mandi bergedebum dan kini ia tersisan dalam hening. Meja kayu dilapisi cat mengkilat yang kini diduduki begitu banyak alat make up mewarnai pemandangan kosong yoona.

Ia mungkin pernah ribuan kali membandel. Bermain pria ketika kyu hyun juga tengah bermain wanita. Toh, kehidupan mereka memang tidak norrmal. Yoona bisa melakukan apapun selama itu tak melanggar keinginan kyu hyun.

Tapi kali ini berbeda. Ada satu rasa yang menusuk-nusuk kalbu yoona ketika jemarinya berkeringat, perlahan mendingin dan kaku. Ia sering berbohong. Atau biasanya, tanpa berkata apapun seluruh asisten kyu hyun akan melaporkan setiap pergerakannya hingga yoona tak perlu berbicara banyak pada lelaki itu.

Dan kini, ada sesuatu yang membuatnya perlahan ragu. Entah kyu hyun yang terlalu lengah atau keberuntungannya saja yang tengah menggunung. Disana, didalam layar yang menumpahkan cahaya putih. Segores tulisan singkat sukses memperparah genderang jantungnya.

‘aku harap kau datang’

Pesan itu hadir dua puluh menit yang lalu. Ditengah rasa gundah yoona akan kehadiran kyu hyun yang secara tiba-tiba datang, menemaninya hingga jam ketiga dan janji sederhananya bersama seseorang diujung sana.

“aku harus segera pergi. Jangan lupa untuk mengganti bajumu sebelum kau berkeliaran dikota ini. Berhenti membuat lelaki memangsa kulit putihmu dalam lekat tatap mereka. selama so yeon mengawasi acaramu, kau boleh memanggil pak park, dia sedang dirumah, aku menyetir sendiri hari ini”

Kyu hyun mendekat lalu mengecup bibir yoona dalam-dalam. Dan meski hanya terdiam, yoona tau betul bagaimana ia harus meresapi setiap rasa dari mint yang menyebar melalui nafas kyu hyun. Yoona menggenggam erat-erat tepian jas lelaki itu sebelum pagutan mereka berakhir dan kyu hyun pergi begitu saja.

Belakangan ini, ada yang terasa berbeda dari mereka. yoona tak benar-benar tau. Ia hanya merasa jika ia tak seterikat dulu. Kyu hyun bahkan tak sempat bertanya akan kemana saja ia hari ini. Entah karena lelaki itu tengah menemukan wanita barunya atau kyu hyun memang tengah sibuk.

Yang jelas, ketika pesan kedua menggetarkan ponselnya, tanpa menunggu lama yoona merampas kunci ferrary merah yang ia bawa lalu berlari pergi beriringan setelah kepergian kyu hyun.

‘aku akan menunggu’

 

 

__

Lapis coklat pada ketel tua yang mematung indah ditengah-tengah meja bundar itu menjadi salah satu saksi bisu kecanggungan yang menerpa diantara mereka. selain dua buah cangkir kecil berisikan teh mint hangat yang mengepulkan asap beraroma manis, dan dua piring cake branda tiramisu coke coklat yang belum tersentuh.

Yoona menunduk dalam diam. Ini sudah menit kelima semenjak kedatangannya yang terlambat hampir satu jam dan kini mereka hanya diam. Sunyi dan hening menerpa dalam lorong waktu singkat yang penuh tanda tanya.

Dalam benaknya, yoona membayangkan jika mungkin ketika ia datang di cafe kecil bertemakan nuansa italy tempo dulu disudut kota itu, lelaki ini sudah tidak akan ada. Ia sudah pergi dengan makian dalam hati mengingat yoona terlambat lima puluh menit dari waktu yang telah mereka sepakati.

Terjebak ditengah keramaian kota dan tempat pertemuan mereka yang cukup jauh membuat yoona hampir frustasi. Tapi takdir memang merencanakan segalanya dengan baik. karena tepat ketika ia datang, cangkir kedua lelaki itu baru saja habis.

Membuat yoona menggigit bibirnya malu karena molor waktu yang terlalu lama.

Sialnnya, ketika ia begitu takut untuk mendapatkan hukuman, lelaki itu justru berdiri. Menyambutnya dengan senyum hangat yang begitu menawan. Mempersilahkannya untuk duduk hingga kini mereka disini. Berdua. Duduk berhadapan tanpa sepatah kata.

“ini terasa sudah begitu lama..”

Kalimat pertama yang yoona harapkan begitu manis kini terucap. Lelaki itu mengalunkan manis suaranya dalam udara hangat yang menerpa kerinduan yoona untuk memeluknya erat. Kedua bola matanya tak berkedip menatap ekspresi yoona yang begitu menggemaskan sementara yoona sendiri masih sibuk memilin jemari, mencoba untuk melegakan perasaannya terlebih dahulu.

“kau,, banyak berubah..”

Yoona meneguk ludah dalam diam. Setiap perkataan lelaki itu sungguh membuatnya membeku. Bukan pada rasa besalah yang menganak sungai, melainkan pada rindu yang terlalu menggunung untuk dihancurkan.

“tentu. Itu sudah tujuh tahun yang lalu”

Mengumpulkan segala kekuatan yang ia punya, suara pertama yoona akhirnya muncul. Dan detik setelahnya, yoona ingin menghantamkan kepalanya dengan tembok saat kemudian ekspresi bahagia lelaki itu perlahan berubah miris. Meski ia tetap tersenyum dan itu memang cukup melegakan. Namun bayang bayang rasa kecewa kemudian menusuk-busuk batin yoona.

“benar. Tujuh tahun yang lalu. Sudah begitu lama, bukan?”

Mendongak, yoona memberanikan diri untuk menatap lelaki itu. Paras tampan memikatnya yang tak pernah berubah. Senyum satu garis yang begitu mempesona. Garis rahang tegas dan tubuh atletisnya begitu membuat yoona merindu. Tak ada yang berubah dari sosoknya. Tujuh tahun, dan  kini yoona masih menatap lelaki yang sama. Hanya rambut panjang yang dulu ia biarkan menjuntai menutupi keningnya kini telah berbeda. Ia terlihat lebih klimis dengan balutan formal dan rambut yang ia tata sedemikian rupa. Membuatnya ribuan kali lebih dewasa dan lebih berwibawa.

Sesuatu dalam hati yoona tiba-tiba meranggas. Menghangat dan kering. Sesuatu yang kehilangan sumber cahaya dalam bilik kecil hatinya kemudian terketuk. Yoona tersentak saat menemukan bola matanya berair. Dengan tatapan sendu yang sayu lalu kemudian tak lama kristal itu jatuh.

Membiarkan lelaki itu tau perasaan yoona yang sebenarnya.

 

 

__

Detik berlalu seperti fajar yang menyongsong. Dalam keheningan itu yoona menyadari banyak hal betapa ia belum benar-benar meninggalkan masa lalunya yang kelam. Aneh, yoona merasa sudah begitu lupa banyak hal ketika ia bertemu kyu hyun, namun saat ini, ketika sosok itu kembali hadir, bayang manis tujuh tahun lalu kembali berputar tepat didepan bola matanya.

Seperti roll film yang mundur, perlahan yoona kembali ingat bahwa dulu ia pernah bahagia. Dulu, ia pernah hidup normal dengan seorang lelaki yang menjaga kesuciannya, mengikatnya dalam suatu hubungan pasti meski memang belum begitu serius.

Dulu, selain karena sex, yoona pernah merasakan perasaan dibutuhkan. Ia pernah begitu dipuja dan tak dicemooh. Ia bahkan masih ingat betapa hubungan mereka adalah sesuatu yang selalu dijadikan gunjingan bagi orang-orang lainnya.

Bukan marah, yoona justru membangga. Setidaknya, dari hubungan sederhana itu, ia tau jika ia begitu berarti. Ia beruntung karena banyak hal. Dan lelaki itu,, ia adalah segalanya untuk yoona. Ia adalah teman, ia sahabat tempat yoona berbagi pelik dan bahagia, ia pelindung yoona ketika gadis itu berada dalam bahaya, ia menjaganya, menghangatkan yoona, menemaninya yang kesepian, dan ia,, adalah lelakinya.

Lee donghae.

“pertemuan diparis waktu itu..” lamunan yoona memudar ketika donghae kembali bersuara. Bariton lembutnya yang merdu perlahan menusuk-nusuk gendang telinga yoona yang mulai memanas. Lelaki itu menatapnya dalam, menatap mata yoona yang memerah usai tangisannya mereda. “aku tidak pernah menyangka akan bertemu lagi denganmu” lanjut donghae pelik.

Ada nada kegetiran disana. Didalam suara yang sedikit bergetar dan mengalun dalam udara. Yoona ingat. Ia ingat bagaimana setelah terpisah selama tujuh tahun ia bisa kembali bertemu lelaki itu didalam sebuah cafe kecil dipinggiran kota.

Paris mempertemukan mereka dalam kerlip malamnya. Yoona bahkan tak menyadari itu hingga donghae yang tiba-tiba datang, berdiri tepat didepannya dan so yeon lalu tersenyum. Dan seberkas garis lengkung itulah yang membuat yoona sadar jika lelaki itu telah kembali. Ia, kembali hadir tanpa aba-aba.

“aku juga..” yoona membalasnya datar. Bibir tipisnya tersenyum alakadarnya mengingat semua yang terjadi di paris, beberapa waktu yang lalu.

Jangan salahkan donghae yang terus meminta pertemuan dengannya. Karena memang seharusnya itu yang lelaki itu lakukan usai meninggalkannya dulu. Donghae pergi tanpa berita. Menghilang ditelan kegelapan masa lalu yang perlahan memudar diterpa waktu.

“maafkan aku,, yoong”

Tubuh yoona menggelepar geli. Ada rasa meletup-letup yang kini menyinggahi ujung dadanya. Panggilan itu,, nama singkat yang dulu selalu ia gunakan untuk memanggil yoona. Donghae,, bahkan ia belum lupa akan hal itu.

“tidak ada yang perlu dimaafkan, oppa. Kau tidak sepenuhnya bersalah”

Tutur lembut yoona yang dulu kembali. Segala egoisme dan harga diri yang ia patok setinggi langit tiba-tiba luntur dalam pesona akut tatapan mata sendu donghae. Gadis itu bisa kembali tersenyum tulus, manis dan terselip rasa didalamnya. Dan itu,  terasa begitu luar biasa.

“semua itu salahku” donghae tersenyum tipis. Sebuah garis yang sama-sama menunjukkan kemirisan lekat dari kisah usang mereka dimasa lalu. Kisah lama yang kandas sebelum sempat merajut bahagia besar. “aku meninggalkanmu dan itu menyakitimu banyak. Kau gadisku dan aku tidak bertanggung jawab atasmu. Aku—“

Suara donghae tercekat. Lelaki itu memang begitu melankolis. Namun seburuk apapun badai yang menerpa mereka dulu, donghae tak pernah menangis. Yoona hanya melihatnya meneteskan air mata dua kali.

Ketika pemakaman ayahnya.

Dan ketika ia harus pergi malam itu.

Donghae mendongak, memaksan air matanya kembali masuk. Bayangan yoona yang meraung dikakinya membuat rasa bersalah itu meremas-remas hati donghae. Ia begitu dihantui rasa bersalah hingga untuk sekedar menatap yoona saja kini rasanya begitu menyakitkan.

“aku—“

“jangan dilanjutkan..”

Tanpa aba-aba, jemari yoona menggenggam milik donghae erat. Ia akui kepergian donghae dulu memang begitu membuatnya terpukul. Menyakitkan. Namun melihat lelaki itu menangis rasanya jauh lebih menyakitkan. Donghae adalah lelaki kuat. Namun jika setelah tujuh tahun berlalu ia masih dapat menangis untuk yoona, berarti memang ada kesalahpahaman yang harus diperjelas diantara mereka.

 

Siang itu berlalu alot. Hanya reuni singkat yang menguras emosi. Dalam detik panjang, yoona masih menggenggam jemari donghae. Membiarkan namja itu tenang dalam usapan tulus ibu jari yoona padanya.

Dan itu berhasil. Donghae tenang secepat yang ia mampu. Bibir namja itu dapat kembali tersenyum tipis, menimbulkan percikan halus yang kini menghangatkan ulu hati mereka. yoona masih ingat, romansa picisan yang ada diantara mereka memang belum menghilang. Hanya sebatas pudar dan kini donghae kembali datang untuk mewarnainya.

Dalam diam, jemari yoona berhenti bergerak. Ia menunduk. Menatap donghae adalah hal tersulit yang ia coba lakukan semenjak dulu. Seluruh dunia tau, tak ada yang dapat berkutik melawan sendu sedan tatapan donghae yang penuh kasih sayang.

Dan tatapan itu, masih terpatri untuknya. Yoona tak pernah berharap banyak dari pertemuan mereka. tujuh tahun bukanlah waktu yang singkat untuk terus berada dititik yang sama. Yoona bahkan sudah melangkah jauh didepan. Sudah berlari dan kini berdiri disisi seseorang yang bukan donghae-nya.

Yoona masih punya lelaki lain. Lelaki yang kehadirannya kini terasa mengusik batin yoona dalam diam. Lelaki yang meski tak ada yang benar-benar tau. Baik yoona, maupun donghae sendiri, kini tengah berada diantara mereka. Mereka tak berdua. Karena disudut sana, ada bayang hitam yang terbakar amarah.

Dialah lelaki yoona.

Sosok samar yang tengah mengepalkan egonya.

 

Kkeut.

TOLONG DIBACA!

Pertama, plis, biasain ya  guys buat ngeliat siapa author dari sebuah fiction biar gak ada salah paham. Aku punya namaku disetiap fiction yang aku bikin. Ya berarti kalau bukan punyaku jangan minta apapun ke aku. Terus, buat yang minta pw, tolong pengertiannya. Aku ini maba, masih sibuk banget masa kaderisasi. Bisa gitu ngirim sms sekali aja. Pasti aku bales kok, tapi memang gabisa tepat waktu.

Kedua, short and simple, aku bakal protect part selanjutnya. Ada banyak alasan sebenarnya, tapi yang paling penting itu karena aku bakal kasih sedikit adegan dewasa dan itu gabisa dipublis gitu aja. Dan lagi, seperti yang selalu author redwine bilang, komentar yang ada itu gak lebih dari sepersepuluh viewersnya. Jadi, ya, apresiatif aja. Unexpected udah sampai lima series, usahain aja nama kalian tercantum disana dan minta pw KE AKU lewat nomer telepon yang udah aku kasih sebelumnya.

Terus, tolong biasain liat catatan kaki dari author. Buat kalian yang selama ini Cuma baca dan langsung out setelah selesai cerita, tolong diubah kebiasaannya. Karena terkadang ada hal penting yang kita cantumin disini. Biar meskipun kita gak saling kenal dan Cuma ketemu dalam blog ini aja, tapi kita tetap bisa komunikatif. Tetep bisa setidaknya bertukar pandang dan informasi penting. Ingat ya, guys, buat kebaikan kalian. Jangan sampai ada orang-orang yang baru dapet password setelah dua bulan fictionnya di post Cuma karena gak tau mau dihubungin kemana. Kita, selaku author selalu ngabarin segala sesuatu yang kita anggap penting kok. Ya kalau memang harus di protect, kita pasti ngasih tau gimana cara ngedapetin pw-nya. Jadi, tolong lebih care aja. Kita juga ga mudah buat komunikatif sama kalian, tapi kita coba. Selagi bisa untuk sekedar membaca, kenapa enggak?

Dan juga, aku mungkin bakal jarang ngepost belakangan ini. Jadi, ya, mohon pengertiannya aja.

 

With love, Park ji yeon.

321 thoughts on “Unexpected : Her another

  1. oh my..
    si kyuhyun liat yoonHae????
    jagung mana jagung..berasa pengen bakar jagung diatas hati kyupil yg lg kebakar api cemburu kkkkkkk
    hae muncul dn ini sdikit bnyak buat aq labil milih antara kyuna ato yoonhae..
    jujur sya pyros tp stelah dliat” kyupil cocok bnget ma krakternya disini ><

  2. Entah mo coment ap… Aq cuma lg ngebayangi jd sosok yoona yg dicintai ma 2 cwo yg beda karakter.. Ke22nya mjanjikan hal yg diimpikan setiap wanita,, tapi ke22nya jg pnya kekurangan yg fatal u/ dimaklumin… So,, cuma bisa blng wkt yg akn mjwb smuwx.. Hah,, salah,, cuma author yg bakal tau siapa yg dipilih yoona… Heheh… Semangad thor…! Izin baca part lainx…!

  3. wuahhh … kyuppa punya saingan baru. cemburu gak tuh ?? rasain !
    hoho ..😀
    mending sama donghae aja Yoong .. lebih bisa menjaga kehormatan seorang gadis daripada sama penjahat wanita kaya kyuppa .🙂

  4. heronya yoona udah dateng ..donghae oppa
    tapi biasanya di drama yang baik itu jarang dapet si wanita pemeran utama..jadi pelarian aja gitu si hae oppa ,,
    kyuhyun oppa panas panas dech liat wanitanya mulai di ambil orang wkwk
    omong2 park ji yeon nama penanya eonni kn? berarti istrinya eunhyuk oppa dong ,si spencer maksudnya😀 #oke abaikan
    maaf eonni ini commentnya panjang banget . abis gak tahan buat commentarin semuanya haha😀 author daebakk pokoknya.

  5. Kyuhyin oppa cmburu,,,,aq bner2 ska chap ini,,,hihihihi,,,,knpa mreka ga mnikah ja ya,,,,hahahhaa….fell na dpet n great story,,,,hehehe

  6. aku ngerasa klu yoona sepertinya hamil. di liat dr dadanya yg membesar, tu pola makannya, makanan yg tdk biasanya dimakan eh malah dimakan.
    hmm.. masa lalu yoona ama donghae nyesek banget ya. .

  7. Ulala~ Kyuhyun liat! Oemji bakalan jadi apa Yoona ngadepin Kyuhyun nanti..
    Yoona hamil kah? Dadanya keliatan lebih besar.. biasanya keadaan kayak gitu lagi hamil ditambah katanya agak gemukan. Waah~

  8. Pas disini yang aku suka kemunculan donghae.. yg bikin kyuhyun panass hahaha.. awal nya aku pikir cma yoona yg akan mkn hati liat kyu dgn wanita lain tpi kyu bakal tahan emosi ni hahaha

  9. Aku penasaran thor. Knpa donghae mau ninggalin yoona padahal keliatannya donghae cinta banget sama yoona.
    And next part aku penasaran banget apa yg bakal terjadi antar yoona & kyuhyun oppa.

  10. Wah wah wah, kyu gk mau kehilangan yoona tuh. Dan saran yg paling tpat dri ku adlh, ubah prinsip hidup bebas itu. Cukup simpel. Mungkin bgiku, selaku pembaca. Seperti yg diharapkan aku sangat tergila-gila pda gaya bhsa, cara penyampaian, dan pemilihan kata kata nya. Sipp lah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s