The Haters

w-the-haters-mheliyastory2

 The Haters

           Disclaimer : inspired real scandal Byun Baekhyun Of Exo and Kim Taeyeon Of Girls Generation.

Warning : This is too long Fanfic, can make you bored. And Sory for gramatical eror.

­-

            Sejak kecil Appa selalu berkata, bahwa semua manusia sama dimata Tuhan. Benarkan? Bahkan sampai sekarang aku selalu mendengar bahwa kita sama-tidak peduli aku atau kau, kalian, kami, kita itu siapa. Dari golongan apa, kita tetap sama bukan? Jika aku tau akhirnya seperti ini aku tidak akan pernah berniat membuka semuanya. Tidak akan pernah.

“Aku tidak ingin menonton Girl’s Generation jika dia masih ada disini” aku memejamkan mataku. Sudah biasa, dulu aku juga sering diperlakukan seperti ini. Di saat pertama kali debut grupku. Aku biasa, kutarik nafasku dalam-dalam. aku merasakan hangat saat pergelangan tanganku di genggam erat, entah oleh siapa. “Jika kalian tidak ingin menyaksikan kami, pergilah. Kehilangan kalian itu tidak seberapa dibandingkan kami harus kehilangan Yoona-kami”

“Penghianat itu! Bagaimana bisa dia memiliki hubungan dengan hoobaenya. Tidak tau diri. memalukan!” aku menarik tanganku dari genggaman-yang entah oleh siapa. Tubuhku semakin memanas. Ku mundurkan langkahku perlahan menjauhi Unnie- dan Seohyun. Mereka akan kesulitan jika aku terus seperti ini. “Unnie maafkan aku”

Aku melepaskan heels yang kukenakan dan menjinjingnya. Tidak ada yang tau mungkin aku menghilang disana, mereka semua sibuk mengurus fans yang terus saja mendesakku sejak tadi. Air mataku tumpah saat aku tiba di Sungai Han, dia bilang tempat ini adalah tempat yang cocok untuk menenangkan diri. ku tutup wajahku dengan kedua tanganku. Mengapa mereka selalu seperti ini padaku? Mengapa mereka bisa dengan mudahnya menerima hubungan anggota lain sedangkan aku tidak?

“Aku tau kau pasti disini” isakan ku terhenti saat mendengar suaranya. Bagaimana bisa dia disini? Ku buka kedua tanganku untuk memastikannya. Dia berdiri disana dengan pakaian santainya namun tidak satupun penyamaran menempel di anggota tubuhnya. Aku memberanikan diri menatap wajahnya-yang tidak jauh berbeda denganku. Samar-kusam-dan frustasi. “Noona, aku khawatir saat Taeyeon noona menelfonku dan mengatakan kau menghilang saat konser akan dimulai. Aku mencoba menghubungimu namun nomormu tidak aktif”

Air mataku satu-persatu keluar, bukan karna rasa sakit dari mereka yang kini membenciku. Tapi aku takut, pria dihadapanku ini terluka karna aku. Aku tidak pernah bisa memaafkan diriku jika itu terjadi. “Pergilah, kau akan berbahaya jika ada yang melihat kita bersama” sahutku.

Dia menggeleng lalu menghampiriku, berjongkok mensejajarkan dirinya denganku. Irisnya menatapku dengan tatapan yang sama terlukanya. Tangannya terulur mencoba menghapus air mataku namun segera ku tahan. Ku gelengkan kepalaku, dan menatapnya.

“Aku ingin sendiri, Sehun-ah. Pergilah”

Dia menghela nafas kasar, kedua tangannya terkepal. Namun mencoba untuk menunjukkan sikap tenangnya dihadapanku. “Noona, aku tidak peduli jika kau mengkhawatirkan fans yang akan menjatuhkanku. Aku menghawatirkanmu noona. Aku sangat-sangat menghawatirkanmu Im Yoona!”

Nada suaranya naik satu oktaf, namun setelah itu hening. Perlahan dia memutar tubuhnya lalu melangkah menjauhi ku. maafkan aku Sehun, maafkan aku.

            Teet!

Aku terbangun saat alarm berbunyi, ku raba tempat tidur sebelahku dan ternyata kosong. Kemana Yuri Unnie? Kemudian aku mencoba untuk menormalkan penglihatanku. Tunggu… Ini bukan di kamarku, tapi ini juga bukan di kamar salah satu anggotaku. Lalu ini kamar siapa? Aku lantas berdiri dan menuju kearah pintu lalu membukanya.

Cklek!

“Oh, noona kau sudah bangun?” aku melihat Kyungsoo berlari menghampiriku. Dia tersenyum manis kemudian menyuruhku duduk di meja makan. Jadi aku ada di dorm Exo? Ku perhatikan sekitar. Ini sangat sepi. Kyungsoo memberikan aku kimchi salad dan meminta maaf karna hanya itu stok makanan yang mereka punya. Aku tersenyum lalu mengangguk.

“Oh, Kyungsoo-ah”

“Ya,” aku menatapnya sedikit ragu namun ku hela nafas perlahan. “bagaimana bisa aku disini?”

Dia tertawa pelan kemudian meminum segelas air terlebih dahulu. “Kami sangat khawatir saat Sehun bilang kau pergi saat konsermu akan dimulai. Kemudian Sehun menyusulmu, dan saat larut malam dia baru kembali dan menggendongmu”

“Sehun?” gumamku.

“Noona, Sehun bilang kau terus menangis sepanjang hari hingga kau lelah dan akhirnya tertidur. Noona, aku-ah maaf ini terlalu pribadi. Tapi aku tau, kalian akan kuat menghadapi ini. Kau punya Sehun, dia magnae kami yang hebat” aku terdiam mendengar ucapan Kyungsoo. Sehun-ah, benarkah kita akan kuat?

            “Terima kasih sudah membuatkan sarapan untukku Kyungsoo-ah. Maaf aku merepotkanmu” aku memundukkan badanku berkali-kali di hadapan Kyungsoo. Dia tersenyum manis lalu mengangguk. “Tidak masalah noona, lagipula Sehun berpesan agar aku merawatmu dengan baik saat dia pergi”

“tsk, bocah itu. Bisa-bisanya dia menyuruh hyungnya seperti itu” kesalku. Lagi-lagi Kyungsoo tertawa mendengar ucapanku. Kemudian aku benar-benar berpamitan untuk pergi.

            Cklek!

“Yoong, kau baik-baik saja? Semalam Sehun menelfonku kalau kau menginap di dormnya” cerocos Jessica sembari menghampiriku dan menatapku khawatir. Aku tersenyum lalu mengangguk. “Kau lihat? Aku masih bisa berjalan dengan baik”

Jessica memandang jengkel padaku. Kemudian menyuruhku duduk di sofa.

“Kemana Sehun? Kau pulang sendiri?” tanya Yuri yang entah sejak kapan ada di meja makan. Apa aku mungkin tidak melihatnya. Aku mengangguk (lagi). “Sehun sedang ada pemotretan”

Kemudian aku bangkit menuju meja makan dan mengambil sandwich milik Yuri lalu masuk kekamar. Aku tau, gadis itu pasti sedang melakukan sumpah serapah untukku. Mataku tertuju pada i-pad putih milikku. Warna yang sama dengan miliknya. Aku mulai mengetikkan beberapa kalimat dan men-seacrhingnya. Jantungku berdetak kencang saat melihat sekumpulan kalimat yang isinya sebagian besar menyumpahiku.

 

Im Yoona memang tidak tau diri, bagaimana bisa dia berpacaran dengan Oh Sehun? Tidak, Sehun milikku”

 

Aku tertawa sinis, Sehun milikmu? Ambilah jika kau bisa membuat semuanya kembali membaik. Kemudian ku gerakkan jemariku pada scroll pad, lagi-lagi aku merasakan sesak.

 

            “Aku tidak mengerti dengan sistem Manajemen SM, bagaimana bisa mereka memperbolehkan Sehun berpacaran dengan wanita yang lebih tua darinya? Kasihan Sehun, dia pasti tersiksa”

 

Tersiksa? Apa benar kau tersiksa Sehun-ah?

            Tok-tok

“Yoong, ada Sehun di luar” teriak seseorang yang aku tau itu Soo Young, karna suaranya sangat nyaring. Aku segera meletakkan i-padku lalu berjalan menuju cermin besar di sudut kamarku. Oh, aku benar-benar seperti monster saat ini. Segera ku rapihkan rambutku, dan menambahkan jepitan di sudut kanan rambutku. Sebenarnya aku tidak siap untuk bertemu dengannya saat ini. Tapi,

“Noona, mengapa kau lama sekali keluarnya?” aku meloncat saat kulihat Sehun sudah berdiri di depan pintu kamarku. Aku menatap tajam kearahnya, dia hanya tersenyum cengengesan.

“Tidak bisakah kau mengetuk pintu? Bagaimana jika aku sedang tidak memakai baju Sehun-ah?” pekikku kesal. Dia masih terus cengengesan sambil berjalan menghampiriku. Lalu langkahnya terhenti tepat di hadapanku, membuat aku sontak menahan nafas. “Noona, bisakah kita jalan-jalan keluar?”

Aku terdiam, apa dia ini benar-benar tidak mengerti? Semuanya sedang berantakan tapi dia bisa-bisanya mengajakku jalan keluar?

“Aku lelah Sehun, bisakah kau tinggalkan aku sendiri?” tanyaku pelan. Aku yakin dia tidak mendengarnya. Namun, aku melihat tatapanya yang menajam. Kemudian kedua tangannya memegang kedua bahuku sangat kencang. “Yoong, bukan hanya kau yang lelah. Aku juga lelah, tapi aku tidak pernah memikirkan apapun. Aku hanya ingin bersamamu. Jadi, bisakah kita membuatnya baik-baik saja seperti dulu sebelum kita mengungkap semuanya pada netizen?”

Mataku memanas, kemudian dia menarikku kedalam pelukannya. Tangisku tumpah, aku berusaha meredam isakanku sehingga tubuhku semakin bergetar. Aku tidak ingin anggota lainnya mendengar tangisku. Sehun membelai lembut rambutku. Dia meletakkan dagunya tepat diatas puncak kepalaku. Aku bisa mendengar dengan jelas detak jantungnya yang begitu cepat, seirama denganku.

“Sehun, apakah kita akan kuat?” dia mengangguk, dengan deheman. lalu aku merasa dia mengeratkan pelukannya. “Kau tau Yoong, aku merindukan memelukmu saat seperti ini. Aku akan menjagamu, apapun yang terjadi. Kau percaya padaku kan?”

“Aku tidak tau Sehun-ah, terkadang semua ini membuat aku ingin.. pergi. Ini tidak seperti saat pertama aku debut. Mereka kini membenciku, dan mereka tentu akan membencimu karna aku”

“Aku tidak peduli soal mereka. Aku mempedulikan kau yoong. Aku hanya mengkhawatirkanmu noona. Kita akan hadapi ini bersama, kau adalah gadisku yang kuat. Aku benarkan?” ku anggukkan kepalaku yang masih berada dalam pelukannya. Hatiku sudah lebih tenang dari sebelumnya, mungkinkah hanya ini yang kubutuhkan? Pelukan darinya?

Dia menarik diri dan melepaskan pelukannya, kemudian mengajakku duduk di tepi kasur. Iris hazel itu mengunci pandanganku, tatapannya yang lurus seolah menembus sampai ke hatiku. Wajahnya semakin dekat dengan wajahku, semakin dekat sampai aku mulai merasakan hembusan nafasnya panas menerpa permukaan wajahku. Jantungku berdegup kencang. “S-sehun ah. A-apa yang k-kau lakukan?”

Dia menarik kedua bibirnya sehingga tampak tersenyum sinis, tapi bagiku wajah itu sangat menjengkelkan. Dia menghentikkan aksinya saat jarak diantara kami hanya beberapa centi saja. Kemudian tangan kanannya terulur untuk merapihkan poniku yang berantakan.

“Kurasa para fanboymu itu terganggu penglihatannya. Bagaimana bisa mereka menyukaimu? Jika mereka melihatmu sekarang, mungkin mereka akan berhenti menjadi fanboymu.” Serunya. Aku menatapnya tajam dan mencoba menjauhkan kepalaku darinya, tapi dia menahannya segera dengan meletakkan tangan kirinya tepat di kepala belakangku.

“Sepertinya aku akan senang jika itu benar-benar terjadi” bisiknya.

“Apa yang kau kat- hmmffft” Sehun melumat bibirku membuatku sedikit terlonjak. Ciumannya sangat kasar, tapi semakin lama semakin melembut. Kemudian, saat aku membalas ciumannya, dia menarik bibirnya menjauh. Oh tidak, dia yang membuatku seperti ini tapi dia juga yang menghentikannya. “Kau tau karna apa? Karna aku senang, itu berarti sainganku menjadi pengagummu menghilang satu-persatu”

Lalu dia kembali menciumku, kali ini kubalas mengikuti iramanya. Rasanya kupu-kupu didalam perutku seperti berterbangan, aku.. ingin..

“Im Yoon- astaga” bruk! kami saling menjauh saat suara pintu kamarku kembali tertutup. Kemudian kami saling berpandangan sebelum akhirnya..

“Hei kalian! Jika ingin berbuat mesum menjauhlah dari kamarku. Ini area suci!” teriak seseorang yang ku tahu itu adalah suara Yuri. Wajah kami memerah, lalu Sehun mengelus puncak kepalaku dan mengecup keningku. “Kurasa kau sudah membaik noona, aku ada pemotretan lagi, aku akan mengirimimu pesan. Ingat, jangan pernah mendengarkan kata orang lain. Kita yang jalani ini, bukan orang lain”

Aku tersenyum lalu mengangguk. “Ya, aku mengerti”

            “Yoona Unnie!” aku menghentikan langkahku, dan membalikkan tubuhku. Mendapati seorang gadis cantik tengah berlari menghampiriku. Itu Jung Krystal, kalian pasti mengenalnya. “Oh, Krys ada apa?”

“Aku sudah mendengarnya, aish-bagaimana bisa mereka seperti itu? Bukankah seharusnya mereka mendukung apa yang Artisnya lakukan” dia mendengus sambil bertolak pinggang, hidungnya megar-megar dan kedua alisnya saling bertautan. Aku hanya tertawa melihat tingkahnya. Dia ini sudah kuanggap seperti adikku sendiri.

“Kau berlebihan Krys, itu hanya reaksi alami. Tidak akan lama. Kau lupa? Aku ini Im Yoona, mereka bilang aku gadis perkasa hehe” dia memandangku aneh kemudian tertawa kencang. Aku menarik tubuhnya kedalam pelukanku. Membuatnya menghentikan tawanya. “Unnie..”

“Terima kasih Krys, aku sangat menyayangimu” bisikku. Krystal sangat mirip seperti Jessica kakaknya, mereka akan sangat marah jika ada yang menggangguku. Dan semakin membuat aku merasa bahwa mereka semua peduli padaku. Aku melepaskan pelukan kami dan menghapus air mataku. Krystal tersenyum dan ikut menghapus air mataku. “Berjanjilah padaku Unnie, kau akan kuat”

            Pukul 10.15 aku tiba di Studio Kiss Radio. Hari ini adalah giliranku, Taeyeon dan Jessica yang menjadi penyiarnya. Aku tiba belakangan karna harus mengurus beberapa surat yang diterima oleh manajerku soal penarikan, sejumlah produk yang mengontrakku sebagai modelnya. Aku tidak terkejut, karna sebelumnya aku sering mengalami hal ini.

“Kau sudah dengar berita Soal Im Yoona? Bagaimana bisa Radio ini masih mengontraknya, padahal dia sedang dalam masalah”

           

Jantungku mencelos, tanganku bergetar saat memegang knop pintu. Apa Radio ini juga akan melakukannya?

Cklek

“Oh- Yoong, kau sudah datang? Ayo siaran akan dimulai sebentar lagi” Jessica menarikku untuk duduk disebelahnya tepat ditengah-tengah antara Taeyeon dan Jessica. Aku melirik beberapa artis yang sudah tiba menatapku dengan pandangan yang tidak bisa ku mengerti. Jessica menggenggam jemariku, begitu juga Taeyeon. Aku tersenyum. Aku menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya. Semoga semua baik-baik saja.

“Hai Semua, pagi ini kita kedatangan anggota Girls Generation. Ada Kim Taeyeon-ssi, Jung Jessica-ssi dan..” mereka terlihat ragu lalu menatapku. Aku hanya tersenyum tipis dan mengangguk. “Im Yoona-ssi”

“Kami akan membuka line telfon untuk berbincang langsung dengan mereka. Sebelumnya kami akan memutar lagu dari EXO K- Moonlight”

“Kau baik-baik saja Yoong? Wajahmu sedikit pucat” tanya Taeyeon. Jessica ikut memandangku, aku lagi-lagi tersenyum dan menggeleng.

“Kembali lagi bersama kami, mulai dari sekarang kami akan membuka line telfon. Jadi ayo cepat hubungi kesini” Kim Hyeri, penyiar wanita menatapku lalu tersenyum. Kemudian tidak lama dering telfon berbunyi. “Oh- aku bahkan belum menutup rapat mulutku. Hallo”

Suara seorang Pria terdengar disana. “Hallo, Namaku Kim Ji Hoon.”

“Ya, Ji Hoon-ssi. Kau ingin berbicara dengan siapa?” Penyiar Kim menatap kami bergantian. “Jessica-ssi, apakah kau lebih memilih kekasihmu atau anggota membermu?”

Oh, ternyata dia ingin berbicara dengan Jessica. “ah-sepertinya serius, aku memilih anggota member. Bagaimanapun mereka yang selalu bersamaku setiap waktu” Dia menatap kami lalu tersenyum.

“Benarkah? Wah kau benar-benar hebat. Bagaimana dengan member lain? Sepertinya mereka tidak sepertimu. Mereka lebih memilih pasangannya dari pada saudaranya sendiri” Perasaanku mulai tidak enak. Aku menundukkan wajahku. Sepertinya dia menyindirku.

“Apa maksudmu?” Jessica menaikkan nada bicaranya. Aku menggenggam tangannya bermaksud untuk menenangkannya. Dia hanya menghela nafasnya.

“Tidak, hanya sekedar ucapan saja. Terima kasih” sambungan telfon terputus. Tahan Yoona, Tahan. Tidak lama kemudian Dering telfon kembali berbunyi.

“Hallo,”

“Ya, Hallo. Aku ingin bicara dengan Yoona Unnie. Aku Lee Hyera” Jantungku berdegup kencang. “Yoona Unnie..”

Aku memejamkan mataku, kau harus bisa Yoona. Kau harus bisa. “Yoona Unnie, kau bisa mendengar suaraku?”

Aku membuka mataku dan mendapati mereka menatap khawatir kearahku. “Oh-ya Lee Hyera-ssi. Ada yang ingin kau tanyakan?”

Dia sedikit menghela nafas. “Unnie-ya! Aku dan teman-temanku selalu mendukungmu. Kurasa Oh Sehun-ssi orang yang sangat tepat untukmu. Kemarin aku melihatnya sendiri, dia memarahi beberapa fans EXO yang menghinamu”.

Sehun-ah apa yang kau lakukan? Mataku mulai memanas. “Tidak peduli kau harus menerima banyak kebencian tapi setidaknya kau harus mengerti, jika kami masih ada. Masih ada Yoonaddict yang selalu bersamamu. Jadi maukah kau berjanji padaku yang mewakili teman-temanku bahwa kau akan kuat?”

“Ya, aku berjanji. Terima kasih Lee Hyera-ssi” ucapku dengan suara bergetar. Setelah itu sambungan telfon di putus. Aku hanya memandang lurus. Lalu penyiar Kim memutar lagu kami SNSD – Time Machine. Kami break sebentar. Aku mengambil handphoneku ditas. Dan mendapati beberapa pesan singkat darinya.

“Noona, kau dimana?”

 

“Noona Kau baik-baik saja kan?”

 

“Noona, apa kau ada jadwal? Aku free hari ini”

 

“Noona, ternyata kau sedang siaran di Kiss Radio. Semangat!”

 

“Im Yoona, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu” Aku juga Sehun-ah. Aku juga sangat mencintaimu. Kau benar- aku harus kuat. Ternyata masih banyak yang menguatkan aku. Aku akan kuat, aku berjanji.

“Kau ingin kembali ke dorm bersama kami Yoong?” tanya Jessica.

Aku menggeleng. “Tidak Unnie, aku harus membeli sesuatu terlebih dahulu”

Aku berjalan menjauhi keduanya. Aku tidak mengerti apa aku yang bodoh-atau mereka yang melihatku seolah seperti sampah. Sepanjang perjalanan, mereka yang mengenaliku menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan. Tapi aku tau, mereka tidak menyukaiku. Walau ada beberapa yang tersenyum padaku-tapi kebanyakan yang bersikap aneh. Langkahku terhenti saat melihat kumpulan anak-anak gadis berseragam SMA yang sama dengan Sehun di ujung jalan. Jantungku berdegup kencang, apa semuanya baik-baik saja? Tanyaku sendiri. Perlahan aku memundurkan langkahku, mencoba memutar balik namun..

“Im Yoona!” terlambat. Mereka sudah melihatku. Kemudian bersama-sama mereka berjalan menuju kearahku, aku memundurkan langkahku yang mulai terasa berat.

“Kalian?” gumamku pelan. Aku menatap mereka satu-persatu. Tidak ada satupun yang ku kenali kecuali, tatapanku terhenti pada gadis yang memakai hoodie dan menutupi kepalanya sehingga sulit sekali terlihat wajahnya. “Apa yang kalian inginkan?”

“Kami Inginkan? Putuskan Sehun Oppa, dan menghilang dari pandangan kami” ucap gadis berambut pirang panjang. Aku menarik nafas dalam-dalam. “Apa hak kalian? Kami saling mencintai. Aku tidak ingin ada kekerasan disini. Jadi berhentilah”

Gadis berambut pendek blow memegang sebuah kantong yang ku lihat isinya adalah cairan berwarna kuning kehijauan. Dia melangkah mendekat padaku. “Saling mencintai? Kau mengatakan itu? Sepertinya kau sudah melakukan sesuatu pada Sehun Oppa hingga dia mau denganmu. Apa kau telah mengguna-gunanya?”

Tanganku terkepal. “Hentikan ucapanmu”

“Uuh, lihatlah dia marah. Kau masih berani pada kami?” tanya gadis yang di kepang rambutnya. Aku memincingkan mataku. “Kalian adalah pelajar, apakah hal seperti ini yang diajarkan oleh guru-guru kalian?”

Brengsek!” gadis berambut pirang panjang itu melempar sekantong air yang baunya menyengat padaku. Membuat penampilanku berantakan seketika, yang lain mulai ikut melemparkan terigu dan telur bergantian kearahku.

“Hey kawan-kawan. Yang ku dengar, kemarin Sehun Oppa memarahi salah satu dari kita karna menghinanya. Lihatlah, dia mulai menghipnotis Sehun untuk melakukan hal bodoh dan membenci kita semua” ucap gadis yang memakai hoodie itu. Dia mendorong tubuhku sehingga aku tersungkur. Kemudian dia merampas kantong yang di pegang oleh gadis berambut pendek dan menumpahkannya padaku. Kemudian dia memundurkan langkahnya. “Kau tau sekarang? Kau tau sekarang kau sedang berurusan dengan siapa?”

“Berhentilah..” gumamku.

“Aish wanita jalang!” mereka mulai menendang tubuhku dan terus melemparkan terigu padaku. Aku hanya memejamkan mataku. Sehun-ah, aku tidak kuat lagi..

“Hentikan!” aku berusaha menggendong tubuhku ala bridal. Aku mencium aroma yang sangat asing, tapi dia seperti Sehun.

“Sehun-ah” gumamku kemudian aku tidak bisa menahan mataku yang seolah memaksa untuk tertutup.

Aku mengerjapkan mataku, pandanganku seolah berputar. Kepalaku sangat berat. Hidungku mencium aroma yang tidak asing. Dan kini aku mendapati diriku berada didalam kamar. Dengan pakaian yang berbeda dengan yang kukenakan tadi. Apa aku mimpi buruk tadi? Aku mencoba menarik tanganku yang terasa berat, ku lirik ternyata ada seseorang yang menggenggam erat tanganku. Aku tersenyum ketika melihatnya tertidur. Tapi apa dia yang menjagaku disini?

“Sehun-ah” gumamku. Dia terlihat menggerakkan sedikit tubuhnya. kemudian mendongak menatapku. Aku tersenyum manis, melihat wajah polosnya saat dia baru bangun tidur. “Kau sudah sadar Yoong? Aku akan panggilkan yang la-”

Aku menahan tangannya saat dia hendak pergi meninggalkan aku. “Aku tidak butuh yang lain Sehun-ah, aku hanya butuh kau disini. Bersamaku”

Wajahnya memerah, kemudian dia kembali duduk di sebelah tempat tidurku. Merapihkan rambutku yag sedikit berantakan dan memberikanku segelas air minum. Aku menatap padanya, apa benar dia yang menyelamatkanku?

“Aku- Em, Kau bagaimana bisa disini?” tanyaku.

Dia menghela nafas, wajahnya berubah menjadi sendu. “Seharusnya aku menjemputmu Noona, seharusnya aku menjagamu. Aku bahkan tidak tau jika Kai tidak datang tepat waktu, mungkin para gadis itu-”

Kai, dia yang menyelamatkanku? Kenapa aku malah berfikir Sehun yang menyelamatkan aku? Ya Tuhan. “Dimana Kai? Apa dia baik-baik saja, kurasa para gadis itu juga sempat menyerangnya”

Sehun mengangguk, wajahnya berubah menjadi tegang. Dan aku tidak mengerti apa sebabnya. “Dia baik, hanya sedikit memar pada dagunya. Kau mengkhawatirkannya?”

Tanpa sadar aku mengangguk, Sehun melepaskan genggaman tangannya dan berdiri lalu berjalan keluar kamarku. Kemudian tidak berapa lama Kai muncul dari balik pintu kamarku. Dia tersenyum meski raut wajahnya tampak mengkhawatirkan aku. Mengapa Sehun memanggil Kai? Aku masih belum bisa bertatap wajah dengannya.

“Hai,” Sapanya. Suasana diantara kami mendadak canggung. Kemudian aku tersenyum “Hai, Kau baik-baik saja?”

Dia berjalan mendekat kepadaku, kemudian duduk di tempat Sehun tadi. “Aku mengkhawatirkanmu Yoon- ah tidak maksudku noona. Tapi sepertinya Sehun lebih menghawatirkanmu. Dia bahkan terjaga sepanjang malam menjagamu”

Kemudian dia melihat sekeliling kamarku. Seperti yang biasa dia lakukan dulu pada saat berkunjung menjengukku ketika aku sakit. Tatapannya terhenti pada pigura yang berisikan foto aku dan Sehun di kebun binatang. Dia tersenyum kembali menatapku. “Dan sepertinya, kau juga berharap jika Sehun yang menyelamatkanmu. Aku benar kan?”

“Kai-ssi, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih karna tanpa kau mungkin aku akan habis dengan para gadis itu. Jadi bisakah kau memanggilkan Sehun kesini?” dia mengangguk, kemudian berjalan keluar kamar.

Maafkan aku Kai, aku hanya tidak ingin menghabiskan waktu terlalu lama denganmu, aku tidak ingin menyakiti Sehun. Kemudian Sehun berjalan memasuki kamarku, dibelakangnya ada Kai dan member SNSD lainnya. Mereka mengkhawatirkanku.

“Yoong,” Jessica berlari kearahku dan memeluk tubuhku begitu erat. kemudian mulai bergetar, sepertinya dia menangis. “Aku menghkawatirkanmu Yoong, kenapa kau tidak pulang saja denganku dan Taeyeon kemarin? Kau tidak perlu merasakan ulah mereka”

“Unnie, aku tidak apa-apa. Percayalah” aku tersenyum manis, member lain pun ikut memelukku. “Kami mengkhawatirkanmu Yoong,”

“Aku juga mengkhawatirkanmu Unnie-ya” ucap Seohyun. Aku mengangguk. Terima kasih, terima kasih karna kalian begitu menyayangiku. Terima kasih.

“Aku sudah menelfon polisi untuk menyelidikinya, ini adalah penyerangan yang sepertinya direncanakan. Dan lagi, mereka memakai seragam sekolah kita Sehun” ucap Kai, aku mencoba mengingat kejadian kemarin. Memang benar, mereka memakai seragam sekolah seperti seragam sekolah Sehun dan Kai dulu. “Kurasa, itu tidak perlu. Dengan kita melaporkannya pada polisi, mereka akan semakin membenciku. Aku benarkan? Lebih baik tidak perlu. Biarkan saja hanya kita yang mengetahuinya. Hanya kita”

Mereka saling berpandangan, bahkan Sehun menatap tajam padaku. “Aku tau, ini tidak masuk akal. Tapi aku lelah, jika kalian ada diposisiku mungkin kalian akan melakukan hal yang sama”

Aku mengubah posisi tidurku membelakangi mereka, aku tidak dapat menahan air mataku. Tapi aku juga tidak ingin mereka melihatku menangis. Aku mencoba menarik selimutku namun seseorag entah siapa membantuku. Kurasa itu Sehun karna dia sempat mengecup puncak kepalaku dan berbisik agar aku beristirahat. Setelah mereka benar-benar pergi tangisku pecah, tubuhku bergetar aku menggigit bibir bawahku sekeras mungkin Umma, Appa. Aku tidak kuat lagi. Maafkan aku Sehun-ah.

Sekitar pukul 10 pagi aku sudah berdiri di depan Dorm EXO. Semalaman aku terjaga memikirkan semua kemungkinan terburuknya. Tidak ada jalan lain, aku harus melakukannya. Tanganku terayun untuk mengetuk pintunya. Hampir 10 menit aku menunggu baru pintu itu kembali terbuka.

“Noona!” aku terkejut saat melihat Baekhyun berada dibalik pintu. Dia tersenyum lalu menarik lenganku untuk masuk namun ku tahan. Dia terlihat bingung, aku mulai membuka suara. “Bisakah aku bertemu dengan Sehun?”

Tanpa mengucap apapun dia berbalik dan meninggalkan aku, sepanjang aku menunggu jantungku terus berdegup kencang. Apa aku harus memilih jalan ini?

“Yoong, apa yang kau lakukan disini? Ayo masuk” aku baru sadar belakangan ini dia jarang memanggilku dengan sebutan noona. Aku menatapnya intens dari atas kebawah. Dia memakai celana jeans dan t-shirt polos berwarna putih yang warnanya hampir samar dengan kulitnya. Aku lagi-lagi menahannya. Ku tarik nafas dalam-dalam. “Aku ingin berbicara denganmu. Jadi bisakah kita keluar sebentar?”

Dia mengangguk lalu kami berjalan menuju café di sebrang. Raut wajahnya terlihat bingung namun dia terus menatapku. Kumohon Sehun-ah berhenti menatapku seperti itu. Aku menarik nafas dalam-dalam, kemudian membuang pandanganku menatap kearah luar. “Apa yang ingin kau bicarakan?”

Aku kembali menatapnya, jantungku kembali berdetak cepat. Tapi kali ini bukan kupu-kupu diperutku yang berterbangan kurasa. Tapi seperti ada sebuah benda tajam mencoba menyayat hatiku sepelan mungkin. “Mari kita selesaikan ini semua”

“Apa?” Suaranya terdengar sedikit bergetar dan itu semakin membuatku merasakan sayatan itu. Aku memejamkan mataku. Menelan salivaku perlahan. “Setelah ini tidak ada Kita lagi. Aku ingin kau dan aku menjalani hidup masing-masing mulai sekarang”

Aku mencoba menahan suaraku yang bergetar. Aku bahkan mendengar Sehun mengumpat meski tidak terlalu keras. Saat aku membuka mata, ku lihat dia mengepalkan tangannya dan menatapku tajam. Kurasa aku tidak bisa berlama-lama disini. Aku tidak ingin semakin terluka melihat Sehun yang sudah kusakiti. Aku mengambil dompetku dan mengeluarkan beberapa lembar uang dan meletakkannya di meja. Aku menyampirkan tasku dibahuku. Kemudian aku mulai berdiri tanpa menatap Sehun aku membalikkan tubuhku dan berjalan menjauhinya.

“Apa salahku?” ucapnya parau membuatku menghentikkan langkahku. Untung saja suasana di café ini sepi. Aku memejamkan mataku, dan menahan semua rasa sakt yang semakin tak terbendung. “Apa salahku Noona? Bukankah kau sudah berjanji untuk kuat? Kau tidak sendiri. Aku bersamamu, apa itu tidak cukup?”

Dia berteriak, aku meyakini bahwa kini wajahnya mulai memerah. Mungkin Sehun akan marah padaku setelah ini dan enggan bertemu denganku. Aku berharap semua yang ku lakukan ini adalah yang terbaik. “Maafkan aku Sehun-ah”

Aku berlari meninggalkan Sehun, air mataku masih terus saja meronta untuk keluar. Setelah sampai di dorm aku mengunci kamarku.

“Yoona- keluarlah. Kau baik-baik saja?” aku menutup telingaku. Sejak tadi member lain selalu berusaha menyuruhku keluar kamar dan menanyakan apa yang terjadi denganku. Masih ku ingat jelas saat dia bertanya padaku apa salahnya, apa salahnya sehingga aku tega menyakitinya? Oh bukankah aku sudah pernah bilang bahwa aku tidak akan memaafkan diriku jika dia tersakiti. Dan kini aku yang mengingkari itu sendiri. “Yoong, aku mengkhawatirkanmu”

Aku menghela nafas dan menarik selimutku. Air mataku sudah mengering dan kurasa tidak akan bisa keluar lagi sejak beberapa menit yang lalu. Aku sudah menumpahkan segala rasa sakit yang kurasakan. Aku ingin sendiri.

Sudah seminggu sejak aku memutuskan untuk mengakhiri semuanya, kini aku dalam perjalanan kembali menuju Seoul setelah menggelar konserku di Jepang. Semuanya mulai berjalan baik- karna sepertinya fans kami di Negara lain tidak se-fanatik di Negara kami. Ketika beberapa staff bandara membantu melindungi kami dari fans nyang mencoba mendekat pada kami. Aku merasakan seseorang menarik lenganku. Dia adalah gadis yang masih terbilang muda. Samar-samar aku mendengar dia berkata agar aku harus meninggalkan Sehun. Mataku memanas, berkali-kali aku membungkukkan badanku dan berkata bahwa aku akan melakukannya.

“Maafkan aku, maafkan aku” ucapku dengan air mata yang mulai berjatuhan. Gadis itu mematung memandangku. Aku mencoba kembali mendekat padanya sebelum staff bandara menahanku. Aku memberi isyarat bahwa aku meminta maaf karna aku telah menyakiti mereka dan kemudian Jessica menarikku menjauhi mereka.

Kami tiba di dorm setengah jam kemudian. Aku membaringkan tubuhku di kasur. Saat itu juga kurasakan handphoneku bergetar. Ketika terpampang nama Kai disana, aku mengabaikannya. Kemudian getaran itu berhenti digantikan dengan bunyi tanda pesan singkat.

 

Bisakah kita bicara?

 

Aku menghela nafas, kemudian membalas pesannya.

 

Café sebrang gedung, aku tunggu kau setengah jam mulai dari sekarang

 

Aku mengambil tasku dan berjalan keluar kamar menuju café sebrang dorm artis SM. Aku memesan meja paling ujung dan mulai memainkan tabku.

 

“Aku tidak mengada-ngada. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Dia menangis, dan berkali-kali meminta maaf padaku. Seolah-olah dia melakukan kesalahan besar padaku. Kurasa kita terlalu berat menghukumnya”

 

Aku tertegun, ini foto saat aku dibandara tadi. Aku memang menangis karna aku lelah mereka memintaku untuk meninggalkan Sehun. Aku sudah melakukannya tapi mengapa mereka selalu mendesakku.

“Sudah lama?”

Aku mendongak ketika mendengar suara yang tidak asing ditelingaku. Disana Kai berdiri dengan senyum kikuk. Aku memandang arlojiku dan menggeleng. “Tidak, aku baru tiba 15 menit yang lalu”

Dia mengangguk dan duduk di depanku. Aku merubah posisiku saat raut wajahnya terlihat begitu serius.

“Ada apa dengan Kau dan Sehun?” aku tersedak. Seharusnya aku bisa menduga sejak awal jika dia mengajakku bicara pasti ada hubungannya dengan Sehun. Aku mencoba bersikap setenang mungkin. Dia masih menatapoku.

“Kami baik- hanya saja kami sangat sibuk akhir-akhir ini. Jadi sulit untuk berkomunikasi” elakku. Dia mengangguk memahaminya.

“Lalu, kau tau apa yang sudah terjadi dengan Sehun?” aku langsung menatap wajahnya. Melihat raut wajahku yang terkejut. Kai menghela nafasnya berat.

“Kau ingat seminggu yang lalu terakhir kali kalian pergi? aku mulai tidak mengenalinya saat dia kembali ke dorm dia memang terlihat baik. Namun itu saat diatas panggung. tapi saat di belakang panggung, dia menjadi Sehun yang bahkan sulit untuk kami ajak bicara. Dia lebih banyak menghabiskan waktunya sendiri di ruang dance. Bahkan dia..” Kai menatapku lalu menghela nafas. “Dua hari yang lalu saat kami hendak menjalankan jadwal manggung di M-Countdown ada seseorang tidak bertanggung jawab menaruh sejumlah benda tajam kedalam sepatunya sehingga ia cidera”

Jantungku mencelos, “Be-benarkah itu?”

Kai mengangguk, tanpa mengucapkan apa-apa lagi. Aku segera berlari menuju dorm EXO. Meski aku khawatir padanya, aku sedikit ragu. Apakah dia mau di jenguk olehku?

Tok-tok

Aku menarik nafas berkali-kali, dan berharap seseorang perubah suasana ceria seperti Chanyeol atau Baekhyun yang membukanya.

“Yoona Noona?” aku membungkukkan badanku saat melihat Suho berdiri dihadapanku. “Hallo, bisakah aku bertemu dengan Sehun”

Dia sedikit ragu tapi mengangguk dan mempersilahkan aku untuk masuk. Aku berjalan masuk dan menghentikkan langkahku tepat di depan kamarnya. Saat aku hendak memegang knop pintunya aku mendengar seseorang sedang saling mengobrol didalam. Apa Sehun sedang di jenguk. Tapi oleh siapa?

“Sehun-ah, aku sudah menyiapkan obatmu. Kau jangan lupa minum obat ya!” tubuhku gemetar saat mengetahui siapa pemilik suara itu. “Aku sudah tau Krys. Lebih baik kau pergi. aku ingin istirahat.

Aku memejamkan mataku. “Kau tau, aku sangat mengkhawatirkanmu Sehun-ah

Krystal memanggil Sehun se-intim dan se-akrab itu? Kakiku mulai melemas. Aku bahkan mulai merasa kehilangan sebagian udara untuk bernafas. Aku memutar tubuhku sebelum aku mendapati Suho menatapku kecewa. Aku meletakkan telunjukku dibibir mengisyaratkan agar dia diam. “Ku mohon. Jangan pernah katakan aku kesini”

Pagi ini entah mengapa aku merasa tubuhku benar-benar lemas. Ketika semua memberku berjalan membentuk kumpulan, aku malah memilih berjalan paling belakang dan memasang earphone. Denyut di kepalaku bahkan belum hilang sejak tadi pagi Yuri membangunkanku. Terlebih, belum ada makanan yang bisa ku makan sejak aku kembali ke Seoul. Saat aku masuk lift aku mendapati beberapa member EXO dan Amber di dalamnya. Sepertinya Young Min Ahjussi benar-benar menyuruh kami berkumpul pagi ini.

“Selamat pagi Noona/Unnie” sapa member EXO dan Amber bersamaan. Aku hanya mengangguk dan tersenyum. Terlebih aku tidak ingin memperhatikan mereka satu-persatu. Aku menoleh ketika seseorang menyentuh lenganku. “Noona, apa kau tidak khawatir pada kekasihmu itu? Dia sedang sakit”

Baekhyun bertanya padaku. Aku hanya menoleh sekilas padanya, pandangan kami saling bertemu saat iris hazel itu mencoba mengunci pandanganku. Aku merasakan denyut di kepalaku semakin membuatku sulit untuk menahannya. Jadi kuputuskan untuk memejamkan mataku. “Noona, kau baik-baik saja? Wajahmu sangat pucat”

Aku tau itu suara Tao, aku mengangguk dan berbisik bahwa aku tidak apa-apa. Tapi aku memegang besi penahan lift dengan sangat kencang. Sekilas aku dapat melihat wajahnya yang khawatir. Tapi aku berusaha mengabaikannya. Ting!

“aku duluan” aku memutuskan untuk pergi duluan.

“Yoong, kita berkumpul di lantai atas” aku merasakan seluruh tubuhku memanas, dan denyut di kepalaku semakin tidak bisa ku tahan. Pandanganku mengabur namun berusaha ku tahan. Aku melepaskan tangannya di lenganku dengan lembut. “Ada yang harus ku ambil”

Aku berjalan keluar lift membiarkan mereka berteriak memanggil namaku. Saat aku baru selangkah, aku merasakan kakiku semakin melemas, pandanganku memudar dan-BRUK!

“Noona!!”

“Sehun yang menjaganya sejak kemarin. Dia bahkan menyuruh beberapa staff menjaga agar pada netizen tidak mengambil berita Yoona” aku samar-samar mendengar suara-suara dikepalaku. Saat aku mencoba membuka mataku, kepalaku semakin terasa berat. Aku tidak melihat siapapun di dalam ruanganku, hanya terdengar suara kardiograf yang sepertinya menunjukkan bahwa kondisi ku sudah membaik. Aku mencoba untuk bersandar pada dinding dibelakangku. Saat mendengar seseorang mencoba masuk kamarku, aku mencoba kembali merubah posisiku seperti semula, dan memejamkan mataku dengan paksa. aku merinding saat merasakan seseorang membelai rambutku dengan lembut. Entah, aku sangat berharap itu..

“Yoong, bagaimana keadaanmu? Mengapa kau belum sadar juga?” suara itu. Aku tau, itu suara Kai. Suaranya terdengar begitu kacau dan frustasi. Tapi mengapa bukan Sehun? Mengapa harus Kai?

“Kau ingat? Saat aku melakukan hal bodoh dulu, meminta hubungan kita berakhir. Aku tidak tau kalau rasanya akan sesakit ini. Melihatmu bersamanya- bersama Sehun. Aku merasa seperti pecundang” aku semakin memejamkan mataku. Suara Kai seperti orang yang sudah sangat putus asa, aku mencoba mengingat saat itu.

Flashback

Aku dan Kai- Kekasihku sedang menikmati waktu kami bersama di atap gedung manajemen kami. Biasanya, kami akan saling melempar kata cinta dan candaan sehingga suasana menjadi hidup. Namun kali ini berbeda, aku melihat tatapan asing yang dia perlihatkan padaku. Rasanya sakit sekali, aku tidak ingin ketakutanku menjadi kenyataan.

“Im Yoona,” jantungku berdetak tidak teratur saat dia menyebutkan namaku dengan lengkap. Tidak seperti biasanya, dia akan memanggilku dear. Aku mencoba berdehem meski terdengar getaran dalam suaraku. Dia menarik nafas kasar kemudian berbalik memandangku. “Kau tau, ini adalah impianku? Kau tau menjadi seorang dance machine adalah impianku kan?”

Aku segera mengangguk, mencoba menghindari tatapan matanya. “Aku merasa kau adalah salah satu penghalang aku meraih itu semua Yoona, kita tidak bisa menjalani semua ini bersama-sama lagi”

Hancur sudah, hancur sudah apa yang sudah ku bangun sejak tadi. Aku tidak menangis, tapi aku hanya menggigit bibirku sekencang mungkin. Tidak peduli rasa sakit setelahnya, aku memilih terus menggigitnya. Aku adalah penghalangnya, dia jelas mengatakan itu dan sangat menyakitiku. “Baiklah, jika itu yang kau mau. Semoga kau bisa mewujudkan keinginanmu. Menjadi seorang dance machine yang hebat. Terima kasih”

“Yoong,” dia memanggilku lembut. Ku gelengkan kepalaku. Tidak, ku mohon jangan menatapku seperti itu Kai. Tidak. “Yoong,”

“Hentikan! Aku sudah mewujudkan keinginanmu bukan? Kau yang meminta, lalu apa yang salah? Aku mengatakan iya. Dan mulai sekarang kau tidak perlu takut. Aku tidak akan menghalangi mimpimu” aku berteriak. Mataku memanas, namun air mata belum keluar sama sekali dan itu membuatku frustasi. Kai mencoba memegang jemariku namun ku hempaskan. “Kau boleh pergi Kai-ssi. Tinggalkan aku disini, aku ingin sendiri”

“Yoona..”

“Sekarang!” pekikku. Nafasku naik turun, aku ingin membunuh siapa saja yang menggangguku hari ini. Aku ingin, eerrggh!. Kai berjalan menjauhi ku, tatapan matanya menyiratkan seolah dirinya terluka – hei seharusnya aku yang menunjukkan tatapan itu!

Flashback end

Aku ingat, sejak saat itu aku mulai sering menangis di atas gedung setiap saat ketika aku tidak memiliki jadwal dan Sehun selalu memergokiku. Dia yang rela menjadi bahan agar aku bisa memukulnya, dia yang rela pergi ke kedai bubble tea dan kembali lagi ke atap hanya demi aku. Dia yang rela tengah malam terbangun dan terjaga sepanjang malam untuk mendengar semua cerita sakit hatiku karna Kai. Aku bahkan masih ingat saat dia menyatakan cintanya padaku.

Flashback

“Aku lelah melihatmu sedih seperti ini karna Kai” dia menggumam. Aku menatapnya bingung. “Apa maksudmu?”

“Noona, tidakkah kau sadar? Sudar berapa banyak air mata yang sudah kau tumpahkan untuk menangisinya? Tidak kah kau sadar? Sudah berapa lama aku disini menemanimu?” dia sedikit menggerutu. Aku mulai mengerti, sepertinya dia lelah menjadi pendengarku yang baik. “Jadi kau tidak ikhlas menemaniku?”

Dia sedikit terkejut mendengar pertanyaanku. Kemudian wajahnya berubah serius. “Tidak, bukan itu maksudku. Bisakah kau melihat pria lain selain Kai? Bisakah kau memandang pria lain disekitarmu?”

Aku sungguh bingung dengan pernyataannya. “Sehun-ah aku tidak mengerti. Mengapa kau jadi berbelit seperti ini?!”

Dia memandangku dengan tatapan hangatnya, semua seolah membakar suhu didalam tubuhku. Bisa kupastikan jika wajahku mulai memerah sekarang. Dan Sehun pasti melihatnya. “Aku mencintaimu Yoona Noona, mencintaimu sejak aku melihatmu menangis dan berteriak seperti orang gila di atap. Aku mencintaimu sejak aku tau kau dan Kai bahkan telah menjalin hubungan tanpa aku ketahui. Aku mencintaimu, saat aku mulai memutuskan untuk selalu bersamamu apapun yang terjadi”

“S-Sehun”

“Noona, aku tau kau masih mencintai Kai dan kurasa itu –sangat- mencintai Kai. Tapi bisakah? Bisakah kau memberikan aku kesempatan? Membiarkanmu hidup bahagia saat disisiku. Menjadi tempat saat aku membutuhkan seseorang yang ku cintai?” tanyanya. Aku memandang iris hazelnya sangat dalam. aku tidak menemukan kebohongan disana. yang ada sebuah ketulusan dan tatapan cinta yang dalam. “Noona,?”

Aku tersenyum manis lalu mengangguk. “Aku juga mencintaimu Sehun-ah”

Dia sedikit terkejut dengan ucapanku lalu memeluk tubuhku sangat erat. aku sampai sulit bernafas karnanya. Kemudian Sehun mengecup bibirku singkat. Bahkan Kai tidak pernah melakukannya padaku. “Noona, aku akan menjagamu. Selalu”

Flashback End

Air mataku tanpa sadar menerobos keluar. Aku masih bisa mendengar desahan nafas Kai, dan itu berati dia masih disini. Kupejamkan mataku lebih rekat lagi. Saat itu aku ingat, ketika beberapa fans berhasil memergoki kami pergi bersama. Dan akhirnya manajemen kami memutuskan untuk mengungkap semuanya ke public.

Flashback

“Selamat siang, kalian pasti terkejut karna melihat kami bersama disini. Aku ingin mengungkapkan sesuatu yang selama ini menjadi perbincangan. Kalian mau mendengarku?” Sehun mengucapkan beberapa kata itu dengan senyuman manis dan begitu tenang. Lain halnya denganku, aku bahkan tidak bisa menghentikan getaran tubuhku.

“Aku Oh Sehun- dan ini Im Yoona. Kami ingin berbicara bahwa apa yang di bicarakan kalian selama ini memang benar. Aku dan Yoona kami telah lama bersama. Jadi kuharap kalian mengerti. Bahwa kami juga hanyalah manusia biasa seperti kalian” semua ruangan mendadak riuh saat beberapa fans berteriak memaki kami. Kemudian Sehun menggenggam tanganku dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tapi aku begitu takut.

Flashback End

            Aku mulai terisak dan saat itu juga aku mendengar Kai memekik panic padaku. Aku tidak mempedulikan Kai. Rasa sakit ini lebih sakit dari yang kurasakan dulu, Kai berlari memanggil member lain yang berada di luar. Dan mereka juga ikut panic melihatku menangis. “Yoong, jangan menangis..sshh-”

Jessica yang pertama berinisiatif memelukku. Dia adalah kakak terbaik bagiku, dan aku malah semakin pecah. “Jangan menangis sayang”

Sehun kau dimana? Bukankah kau bilang kau akan menjagaku? Bukankah mereka bilang kau mengkhawatirkan aku? Dimana kau?

“Yoong,”

“Unnie, s-sakit- sungguh” isakku. Aku tidak peduli mereka menatap iba padaku. Aku hanya ingin seseorang memelukku dan menenangkan aku. Aku membutuhkannya, aku membutuhkan Sehun. “Unnie, apa yang terjadi padamu? Apa yang sakit?”

Kini Seohyun mengelus rambutku perlahan. aku menyembunyikan kepalaku di bahu Jessica. Menggigit bibirku dengan keras. “Se-Sehun” ucapku parau.

Aku melihat Kai mengambil handphone disakunya kemudian dia menelfon seseorang entah siapa tapi aku tidak peduli. Meski tangisku mulai mereda, aku tidak dapat menghentikkan isakanku. “Sayang, sudah- berhentilah”

“Yoong! / Unnie” aku menghentikkan isakanku saat aku mendengar suara itu. Aku melihat kearah pintu mendapati dia berdiri disana dengan penampilan yang sangat rapih, kemudian aku melihat dibelakangnya. Ada Krystal berdiri mengekorinya, apa mungkin Sehun dan Krystal habis berkencan? Aku menggelengkan kepalaku, saat Sehun melangkah satu-persatu mendekat padaku. “Yoong..”

“Berhenti disana!” teriakku. Sehun lantas menghentikkan langkahnya, namun dia masih menatapku. “Kai menelfon tadi, saat kau sadar kau terus menangis dan menyebut namaku”

Aku menatap Kai tajam, kemudian kembali menatapnya. Dibelakang Sehun- kulihat Krystal juga menatap tajam padaku, oh Tuhan, aku tidak pernah melihat tatapan Krystal seperti ini. Apa dia marah padaku karna mengganggu kencannya. “Aku tidak pernah menginginkan Kau disini”

“Yoona!” pekik Yuri. Dia menggenggam lenganku sangat kencang. Tatapanya begitu khawatir menatapku yang masih terisak. “Jangan menyiksa dirimu sendiri Yoong, ku mohon”

“Sehun sudah disini, Unnie tau kau membutuhkannya bukan? Ayo Sehun kau harus menenangkannya” ucap Taeyeon. Lagi-lagi aku menggeleng. “Kami sudah tidak bersama- jadi aku sama sekali tidak membutuhkannya”

“Apa?!” Sehun mengepalkan kedua tangannya. Dia menatapku tajam, Sehun- aku tidak bermaksud menyakitimu dengan kata-kataku. Seandainya saja kau tidak datang bersama Krystal mungkin aku akan langsung memelukmu.

“Kau benar-benar ingin kita berpisah?” tanyanya. Dengan berat hati aku mengangguk. Tidak Sehun-ah aku ingin selalu bersamamu.

“Baiklah, aku akan pergi” dia membalikkan tubuhnya membelakangiku. Jangan pergi Sehun. Ku mohon, aku membutuhkanmu- aku sangat membutuhkanmu. Aku mencintaimu

“Sampai Jumpa” ucapku. Berbalik lah Sehun- aku menunggumu melakukan itu. Ku mohon berbaliklah. Dia hanya mengangguk, kemudian Krystal ikut berjalan dibelakangnya. Aku mendengar Jessica mendesis kesal “Bagaimana dia bisa bersama Krys?”

            Dua hari yang lalu aku sudah keluar dari rumah sakit, dan aku mencoba melupakan apapun yang terjadi disana. aku memutuskan untuk memulainya dari awal. Setiap kami tanpa sengaja bertemu aku selalu melihat Krystal bersamanya, dia tidak mentapaku dan bersikap seolah aku tidak pernah ada. Hari ini, aku memutuskan untuk bicara dengannya. Aku ingin bertanya pada Krystal soal semuanya, aku yakin Krystal memiliki alasan yang jelas dan membuatku mengerti. Ketika aku hendak masuk ke kamarnya aku mendengar suara Jessica yang memarahinya. “Kau itu bodoh atau apa? Bagaimana bisa kau merebut Sehun dari Orang yang sangat menyayangimu?”

“Kau yang tidak mengerti aku Unnie-ya. Aku adikmu mengapa kau sangat membelanya. Dia sudah merebut semuanya dariku” ucap Krystal membuat ku sedikit terkejut. Jessica menggeram, “Apa maksudmu Krys? Yoona merebut apa darimu Hah?”

Aku mendengar Krystal mulai menangis. “Dia merebut segalanya yang ku ingini. Dia merebut popularitasku yang seharusnya aku membintangi iklan- dia malah mengambilnya. Lalu dia mengambil semua perhatian dari Kakak kandungku sendiri. Sehingga dia terus membelanya. Bukan membelaku sebagai adiknya dan terakhir..” Krystal menghela nafasnya kesal.

“Aku bisa memaafkan semua yang dia lakukan padaku tapi soal ini aku tidak akan tinggal diam, dia merebut Sehun- Oh Sehun pria yang seharusnya menjadi milikku! Jika saja dia tid-” Plak! Aku terkejut mendengar sebuah tamparan keras. Aku hendak masuk namun aku merasa aku tidak perlu melakukannya. “Kau memalukan Krys. Aku malu jika aku harus bertemu dengan Yoona! Bahkan dia sangat menyayangimu”

Aku menarik nafas dalam-dalam kemudian aku memilih menjauhi tempat itu. Pikiranku menjadi kacau, mengapa semuanya sangat rumit. Mengapa semuanya menjadi tidak ku mengerti. Aku menundukkan kepalaku sesekali menghentakkan kakiku kesal saat berjalan. Dan akhirnya aku menabrak seseorang.

“Maafkan aku” gumamku tanpa melihat siapa orangnya. Aku begitu malas, sehingga aku hanya berjalan menjauhi orang yang ku tabrak itu.

            Hari ini aku dan ke-delapan member lainnya akan mengadakan konser di Gwang Ju. Saat hari masih gelap kami sudah berangkat ke tempat tujuan mengingat jalanan pasti akan sangat macet. Aku tersenyum tipis ketika mendapati beberapa fans mengucapkan semangat pada akun weibo-ku. aku melirik beberapa member yang kembali memejamkan mata sepanjang perjalanan. Sekitar pukul 11 siang kami tiba di sana, aku dan ke-delapan member ku di giring ke sebuah ruangan untuk bersiap. Ini adalah Konser kedua kami setelah di Seoul beberapa bulan lalu. Dan kami begitu antusias.

Sekitar pukul 5 sore konser di mulai, pembukaan konser kami membawakan lagi I Got a Boy. Aku- maksudku kami mengenakan pakaian layaknya abri. Nanti, di pertengahan acara setiap member akan melakukan solo. Dan aku akan menyanyikan lagu milik EXO moonlight karna aku memang sangat menyukainya.

“Kalian sudah melakukannya dengan baik, kini giliran kalian akan tampil solo jadi ku harap kalian bisa juga menyelesaikannya dengan baik” ucap Kim Ahjussi menyemangati kami. Dimulai dengan penampilan Taeyeon yang membawakan lagu Closer miliknya. Lalu Jessica yang membawakan lagu Barbie Girl. Sunny yang membawakan lagu Happy Bubble lagu favoritnya. Tiffany yang menyanyikan lagu A Girl Meet Love- lagu yang dia nyanyikan dengan K-Will. Lalu Yuri dan Soo Young berduet menyanyikan lagu Complete dan kini giliran aku. Ku tarik nafas dalam-dalam, seharusnya aku tidak setegang ini karna aku sudah sering- maksudku, aku juga beberapa kali pernah tampil solo tapi entah mengapa kali ini aku begitu tegang. Handphoneku bergetar, jantungku berdetak lebih cepat. Aku mendapat sebuah pesan singkat dari nomor yang tidak di kenal.

 

Tadaaa! Aku punya kejutan untukmu. Ku harap kau menyukainya.

            Ps. Kejutan akan hadir saat kau solo nanti😀

 

Tubuhku semakin menegang dan kini bergetar. Kejutan apa? Apa? Aku mulai panik. Aku meloncat saat Taeyeon berteriak padaku. “Yoona! Giliranmu”

Aku menoleh kearahnya- kami sama-sama menatap bingung. Kemudian dia bertanya padaku. “Ada apa? Kau baik-baik saja kan?”

Ku paksakan tersenyum lalu mengangguk. “Ya, aku baik”

            Aku memejamkan mataku saat suara denting piano mulai mengalun.

Yeah, stop stop. Geu nalgaega

Jeojeuni

Oh oh, hu~ stop, stop

Mereka mulai bersorak saat aku mulai bernyanyi, aku menyapu pandangan di bangku penonton. Dan aku melihat beberapa member EXO menonton ku. Bahkan dia menatapku dengan tatapan datarnya. Tanpa ekspresi.

Gipeojin haru teum sai neoneun joyonghi dagawa
Eodumeul geodeonaego naui jameul kkaewo
Geurigon meoreojyeo yeollin
changmun jeo neomeoro

Aku tersenyum mendengar Baekhyun bersorak. “Yeay Yoona Noona!”

Tto gireul irheonna, neon, neon, neon.
Bamgonggiga ajik chagawo ireona
So, baby, hold on neol honja dugiga
Nan geokjeongi dwae georil dugo
neoui dwireul ttaraga

Ku pejamkan mataku, ketika mulai memasuki bagian reffnya.

Neon ssodajineun dalbiche syawo
Geu hwangholhan pyojeongeun bon jeogi eobseo
Geurimcheoreom meomchun nega boyeo
Geu siseon kkeuten

Suara penonton mengikuti suara backing vocal mengalun bersama musikku. Bulu kudukku mulai merinding. Kini aku mulai memasuki bagian akhir lagu. Jantungku berdetak dengan cepat, aku mengingat pesan singkat yang baru saja ku terima tadi. Siapa yang akan memberiku kejutan? Apakah Sehun?

Geu sarangmaneun.. stop, stop, stop, stop, yeah (Tonight)

Geu sarangmaneun.. stop, stop, stop, stop, yeah (Tonight)

Ireoke naega neol aetage bulleo

Meoreojiji ma, babe, geu nalgaega

Jeojeuni

Sudut mataku menangkap beberapa kegiatan fans yang mencurigakan. Aku mengenal salah satu dari mereka. Ingat penyerangan oleh anak sekolah waktu itu? Aku melihatnya gadis berambut pirang panjang. Dia ada disana. Mengapa tidak ada yang menyadari mereka sih?

Geu nalgaega jeojeuni

Geu nalgaega jeojeuni

Geu nalgaega jeojeuni

Stop, stop, stop, stop

Ge nalgaega jeojeuni

Aku membungkukkan badanku, beberapa riuh penonton membuatku bernafas lega. Untung saja mereka tidak melakukan sesuatu. Rupanya pesan itu hanyalah ancaman. Ketika aku mulai berdiri tegak, aku mendengar suara decitan Kreiet dan Byurr!

Pakaian ku yang tadinya berwarna putih kini berubah menjadi merah. Aku menatap kearah penonton, mereka sama terkejutnya seperti aku. Aku bahkan melihat member EXO mulai berdiri, dan aku melihatnya menatap khawatir padaku. Kemudian beberapa Staff datang dan meminta maaf dengan yang terjadi padaku. Mereka membawaku ke belakang panggung.

            “Yoong, kau baik-baik saja?” mereka berlari menghampiriku yang masih berbalut handuk. Aku hanya terdiam, meski air mataku telah bercucuran. Yuri, menarikku untuk duduk di sofa. Kemudian tidak lama member EXO datang. “Apa yang terjadi? Apa ini bagian dari pertunjukkan?” tanya Baekhyun.

Taeyeon yang sibuk melepaskan Heelsku menjawab “Tidak, kami bahkan tidak mengira ini akan terjadi. Ulah siapa sih? Mengapa mereka melakukan ini pada Yoona”

Kemudian aku merasakan bahuku di cengkram, di hadapanku Sehun menatapku dengan tajam. “Katakan, apa kau tau ini akan terjadi?”

Aku hanya terisak, aku tidak menjawab. Aku bahkan tidak berani menatap iris mata Sehun. Aku takut, aku benar-benar takut. “Im Yoona!”

“Sehun- hentikan! Kau ini, dia masih syok mengapa kau berteriak seperti itu” ucap Suho. Aku meminta manajer Oppa mengambil handphoneku. Kemudian aku menyerahkannya pada Sehun. “Sial!”

“Ada apa?” tanya Sunny. Sehun menunjukkan pesan singkat yang tadi ku terima.

“Astaga, jadi sebelumnya kau sudah diberitahu. Kenapa kau tidak memberitahu pada kami Yoona-ah?” tanya Soo Young. Mereka mulai menangis melihatku seperti ini. “Aku ingin ke toilet”

“Biar aku yang mengantarmu Unnie” ucap Seohyun. Aku menggeleng. “Tidak, setelah ini pertunjukkanmu kan. Kita tidak boleh mengecewakan fans

Aku berjalan meninggalkan mereka. Aku sempat mendengar pengumuman dai PD-nim, jika pertunjukkan akan di hentikan sementara, karna panggung yang kotor. Aku baru menyadari warna merah ini bukanlah cat melainkan darah. Aku menangis sejadinya, di toilet. Mengapa? Mengapa mereka masih melakukan ini padaku? Aku sudah meninggalkannya, tapi mengapa mereka masih melakukannya padaku?

“Aarrgghhhh..!”

“Kenapa? Kau sedih karna mereka membencimu. Itu salahmu sendiri Im Yoona!” aku menghentikkan tangisanku, ketika aku ingin menoleh. Aku merasakan sebuah benda tajam menghantam kepala belakangku. Dan pandanganku mulai memudar lalu menggelap, setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi.

 

“Eungh,” aku sedikit meringis saat merasakan kepalaku begitu nyeri. Perlahan aku membuka mataku dan mendapati aku berada di sebuah tempat yang sama sekali tidak ku kenali. “Sudah bangun rupanya? Sepertinya kau mimpi indah princess. Tidurmu lelap sekali”

Mataku berkedip berkali-kali, aku merasakan silau saat sebuah sinar menerobos memaksa masuk kornea mataku. Aku melihat sosok gadis berambut panjang berdiri memegang sinar yang ternyata berasal dari sebuah senter. “Bagaimana tidurmu Unnie?”

Aku mengenali suara ini, tidak mungkin dia..

“Kau pasti mengenaliku bukan? Tentu saja, bukankah kau mengatakan bahwa kau menyayangiku?” tanyanya. Aku menggelengkan kepalaku berkali-kali. Tidak! “Krys..”

“Bingo! Kau memang jenius Unnie” dia mematikan senternya kini aku bisa melihat wajahnya dengan jelas. Tidak dia bukan Krys-ku. Krys adalah gadis yang sangat lugu. “Di otakmu pasti kau bertanya tanya. Aku? Bagaimana bisa? Aku benarkan?”

“Krys, apa maumu?” dia terkekeh. Mataku membulat, ketika tangannya memegang sebuah pisau dan mengarahkannya ke wajahku. “Kau takut? Kau takut benda tajam ini melukai wajah yang katanya cantik ini?”

“Krys, hentikan”

Dia menjambak rambutku dengan kasar. “Sepertinya kau tidak menyadari ini semua”

Dia melangkah memutar mengitariku. “Ingat saat seseorang penonton mengancam akan pergi jika kau tetap ikut bersama SNSD’s Unnie?”

Aku memejamkan mataku,

“Aku tidak ingin menonton Girl’s Generation jika dia masih ada disini”

“Penghianat itu! Bagaimana bisa dia memiliki hubungan dengan hoobaenya. Tidak tau diri. memalukan!”

“kau pikir siapa mereka hingga berani berkata seperti itu tanpa ada yang memprovokasinya” aku memejamkan mataku. Ini lebih sakit dari saat aku di putusin oleh Kai. Atau saat aku memilih menyerah dan meninggalkan Sehun. “Lalu, ingat saat kau di serang oleh kumpulan gadis SMA?”

“Kami Inginkan? Putuskan Sehun Oppa, dan menghilang dari pandangan kami”

“Saling mencintai? Kau mengatakan itu? Sepertinya kau sudah melakukan sesuatu pada Sehun Oppa hingga dia mau denganmu. Apa kau telah mengguna-gunanya?”

“Brengsek!”

“Hey kawan-kawan. Yang ku dengar, kemarin Sehun Oppa memarahi salah satu dari kita karna menghinanya. Lihatlah, dia mulai menghipnotis Sehun untuk melakukan hal bodoh dan membenci kita semua”

“Aish wanita jalang!”

“Tidak, Krys..” dia tertawa “Kau tau? Aku ada disana, aku gadis yang memakai hoodie itu. Dan rasanya saat melihatmu tersiksa, aku seperti melayang. Terbang ke langit tertujuh”

Dia menarik nafas, “Dan yang terakhir, saat kau menerima pesan singkat itu. Kau fikir dari siapa?”

“Hentikan Krys!”

“KAU MENGAMBIL SEMUA YANG AKU INGINKAN, KAU MENGAMBIL KASIH SAYANG UNNIEKU DAN KAU MENGAMBIL OH SEHUN! DIA MILIKKU, AKU YANG MENGENALNYA LEBIH DULU DAN KAU? DENGAN WAJAH SOK POLOS MU ITU KAU BERANI MEMPERDAYANYA”

“Krys.. Unnie tidak pernah bermaksud mengambil semuanya darimu. Unnie mencintaimu Krys, Unnie menyayangimu” ucapku. Air mataku sudah membasahi seluruh permukaan wajahku. Aku menangis, tidak berhenti. “Krys, ayo kita perbaiki ini semua. Ayo kita mulai semuanya dari awal”

Dia menggeleng, “Tidak! Kau harus lenyap. Karna selama kau masih ada Sehun tidak akan pernah menatapku. Dia hanya akan melihatmu”

“Krys..” dia mulai mengarahkan pisau yang di genggamnya ke perutku. Aku memejamkan mataku, haruskah aku berakhir seperti ini.

“Jung Krystal!!” aku membuka mataku saat mendengar suara itu. Aku tau, itu..

“Oh Sehun,” Sehun berjalan menuju kami. Namun Krystal bergerak cepat. Dia mulai menekan pisau itu ke perutku. “Tidak Krysi, ku mohon. Jangan sakiti dia”

Aku melihat Sehun berlutut. “Kau melakukan ini untuknya?”

“Aku mencintainya Krys, harusnya kau tidak perlu seperti ini.” Ucapnya. Krystal semakin menekan pisau itu ke perutku. “Se-sehun. Sa-kit”

“Krystal!” plak aku mendengar tamparan keras dan tepat saat itu aku merasakan ada sesuatu yang merobek perutku. Aku hanya melihat Sehun yang memekik dan Krystal yang menatapku bingung. Setelah itu aku hanya bisa melihat kegelapan.

Tut, tut, tut

Aku terbangun saat mendengar suara beraturan yang berasal dari mesin di sebelahku. Aku tersenyum melihat sosok pria yang tertidur di sofa dengan lenyapnya. Aku ingin menggerakkan badanku namun terasa sangat sakit. “Aww-”

Aku ingin tertawa saat melihatnya meloncat ketika mendengar suara ringisan ku.

“Kau sudah sadar? Jangan bergerak. Aku akan memanggilkan dokter” aku menahan lengannya. “Tetaplah disini, aku ingin bersamamu saja”

Dia sedikit bingung lalu duduk di bangku tempat tidurku. Aku menggeleng. “Aku tidak ingin kau duduk disana”

“Lalu, aku harus duduk dimana Noona?”

Aku melebarkan senyumku. “Aku sangat merindukan panggilan itu Sehun-ah.”

Aku menariknya untuk berbaring di sebelahku. Dia sedikit terkejut. “Tapi lukamu belum kering”

Ku gelengkan kepalaku. “Hanya bersamamu saja. Itu cukup”

“Sepertinya kau begitu merindukanku?” godanya. Aku memeluknya sangat erat. Menenggelamkan kepalaku di dada bidangnya. Ku hirup aroma tubuhnya, aroma yang selalu ku sukai. Dan aku mendengar jantungnya yang berdetak tak beraturan.

“Bagaimana dengan Krys?” tanyaku. Dia membelai rambutku, “Dia dibawa oleh orang tuanya kembali ke Canada. Young Min ahjussi memberikan ia cuti sampai waktu yang belum di tentukan.”

“Aku menyakitinya..” Sehun memegang pipiku. Lalu menggeleng, “Kau menyayanginya”

“Tap-” Dia meletakkan telunjuknya di bibirku. “Aku mencintaimu”

Pipiku memerah, seluruh tubuhku terasa sangat panas. “Aku juga mencintaimu. Sangat”

Sehun semakin mendekat, lalu mengulum bibirku dengan lembut. Aku membalas ciumannya yang manis. Dia memeluk pinggangku, dan tidak membiarkan aku menjauh darinya. Dia menghentikan ciuman kami. “Selamanya kau hanya akan menjadi milikku Noona”

“Tentu saja” gumamku. Lalu kembali kami saling berpangutan. Kami telah belajar semuanya, dan kami ingin kalian semua mengerti. Kami hanyalah seorang manusia, kami sama seperti kalian. Kami makan dan bernafas seperti kalian. Kami berdiri di tempat yang sama seperti kalian. Lalu haruskah kami di bedakan dalam hal cinta? Apa kami tidak boleh bahagia seperti kalian?

Tuhan, aku akan berjanji selalu menjaganya. Sampai kau sendiri yang memisahkan kami

Cklek!

“Seh- astaga! Oh Sehun, Im Yoona. Jangan berbuat mesum di Rumah Sakit!!”

The End

9 thoughts on “The Haters

  1. Akh.. Nice.. Feelnya ngena bnget. Brasa kyak nyata gt, cba ja yoonghun bnarn jadian ;-D
    aku ud pernh bca nhe ff d’blog sbelah.. Tp aku gk bosan bwt bcanya🙂 good! Daebak!
    4 jempol brdobel bwt author🙂

  2. Huaaaaa
    Sehunnie ♥
    Suka bngt, ngena bngt ini ff thor.
    Aku harap tae eonni dan baekkie selalu baik2 dan kuat.
    Yoona eonni, dengan siapa pun nantinya, aku harap itu yang terbaik.
    Keep writing!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s