Unexpected : His another

unexpected

Unexpected : His another

HyukGumsmile

Cho kyu hyun Im Yoona

Romance

PG-17

 

-kyu hyun-

Aku duduk tegap ketika ban pesawat mencumbu landasan pacu dengan halus. Dan penerbangan kami, secara resmi berakhir. Aku mendesah lega lalu kembali membiarkan punggung keramku menyentuh bantalan kursi.

Sialan. Paris-korea memang memakan waktu penerbangan yang tak tanggung-tanggung. Hampir seetengah hari hanya kuhabiskan dengan duduk manis diatas awan. Atau jika boleh sedikit berlebihan, ini memakan waktu hampir sepuluh  jam.

Wow.

Iya. Wow sekali.

Mata terpejamku kemudian mendelik ketika suara berisik menggema. Tepat disamping tempat dudukku. Aku tak banyak berkata, tak mau begitu perduli juga sebenarnya. Tapi semakin lama suara itu mengusik rasa kesalku.

“tak bisakah kau mengurusnya nanti, yoon?” kutatap dia sedikit kesal. “pesawat bahkan belum benar-benar berhenti” lanjutku.

Dia berdecak kesal lalu diakhiri dengan sebuah cengiran manja. “tapi akan membutuhkan waktu jika harus menunggu pesawat berhenti, oppa. Apa ini terlalu berisik?”

Kutorehkan wajahku sedatar mungkin. “sangat. Sebaiknya kau diam sebentar. Ini agak memuakkan” tuturku kembali.

Usai itu, ia memang diam. Menururti mauku. Meski dengan kata yang kuanggap biasa namun terkesan begitu sarkas. Kupikir ia tak terlalu ambil pusing. Kami hidup selama dua tahun. Bersama. Sarkasku mungkin sudah menjadi makanan hariannya.

Tak lama pesawat berhenti lalu semua penumpang sibuk dengan barang bawaan yang mereka letakkan di kabin. Mencari ini dan itu, berdesakan, ribut, saling berlomba, memuakkan, memuakkan dan memuakkan.

Kusandarkan bahuku sejenak. Membiarkan mereka luruh termakan waktu sebelum akhirnya waktuku datang untuk menjemput. “tidakkah menurutmu ini berlebihan. Pesawat ini tidak akan terbang menjelang seratus duapuluh menit kedepan. Dan selama itu, haruskah mereka bersikap seolah sedang ada bom didalam sini?”

Kudengar ia terkekeh geli. Dan mendengarkan kekehannya benar-benar membuatku tenang. Bahkan tanpa benar-benar melihat, aku dengan jelas mengerti jika beberapa mata tengah menatapku mendelik. Tapi apa perduliku? Ini tempat umum. Apapun yang ingin kukeluarkan, itu tergantung pada mulut dan cara berpikirku.

“kenapa oppa bertingkah seperti mereka sangat amat bersalah? Mungkin saja mereka sudah dijemput, atau mereka perlu transit, atau—“

“atau mereka memang perlu terburu. Ada yang lebih mendesak untuk diselesaikan, mungkin”

Bisikku menyela. Dengan suara rendah dan beberapa penekanan disana sini. Tiba-tiba mataku menggelap. Ah sial! Mengapa mudah saja bagiku untuk terus menginginkannya? Ini bahkan belum tandas dua puluh empat jam setelah kami bergulat mesra di paris.

Oh, yeah. Di paris.

Lalu setibanya di korea, aku menginginkannya kembali. Konyol sekali.

Aku terlihat begitu tolol. Bertindak seolah aku adalah maniak seks. Sementara kupikir aku belum separah itu. Bukan berarti aku tidak. tapi aku masih bisa bertahan tanpa seks. Satu atau dua hari. Atau satu minggu. Aku pernah hidup tanpa hal-hal semacam itu.

Dan kupikir itu manusiawi. Aku masih bertengger pada batasan wajar. Aku menginginkan wanita. Apa itu kesalahanku? Kupikir itu memang naluriah sekali. Seperti manusia yang membutuhkan makan.

Kudengar ia terkekeh sebentar sebelum mengemasi beberapa paperbag belanjaannya yang luar biasa banyak. Entah semenjak kapan, aku pun tak begitu menyadari nafsu berbelanjanya yang melonjak naik.

Berbanding terbalik ketika pertama kami hidup persama. Kini, ia bahkan rela menghabiskan waktu tidurnya hanya untuk mengincar sebuah hermes coklat yang menurutku,, biasa saja. Entah kepuasan apa yang ia dapat dari itu.

“bisakah oppa berhenti berpikir seperti itu. Ini korea, dan semuanya berjalan sesuai aturan”

Aku mengedikkan bahuku acuh. Memang benar. Bahkan tidak ada yang salah dari argumennya. Tapi itu bukan hal pelik bagiku. Cukup saja aku terbiasa dengan omelannya, dulu. “tapi itu, kan hanya didepan publik. Kita bisa sedikit menyimpang jika orang-orang tidak tau” tukasku berargumen padanya.

Lalu bola matanya menjadi berbinar. Menatapku cepat dan tersenyum kecil. “kita sudah melakukannya, oppa”  jemarinya bermain, mengusap pipiku perlahan. “dan jika oppa lupa, aku bisa mengingatkanmu jika kita bermain didepan publik. Konyol sekali, bukan?”

Aku terkekeh, begitupun ia. Kabin pesawat sudah sepi. Bahkan sudah sangat amat sepi. Kumajukan wajahku lalu kukecup bibirnya dalam-dalam. Dan dia, memang wanita sialan. Terlalu sulit bagiku untuk menghentikan keinginan memilikinya.

Lagi. Lagi dan lagi.

Tapi dia seolah tak mau perduli. Ia membalasku singkat. Membuatku sedikit patah hati. Lalu tersenyum dan mengemasi seluruh peralatannya.

 

 

__

Aku berjalan melewati beberapa portal keluar hingga bertemu sora dan so yeon yang tengah mendorong troli barang bawaanku dan yoona yang super banyak. Heran, aku hanya menginap dua malam. Dan selama lima hari sebelum aku datang, wanita itu sudah mengumpulkan puluhan baju tas dan sepatu yang akan ia bawa pulang.

Sejujurnya, bukan masalah besar untukku. Keberadaan unlimited golden card-ku kurasa sudah cukup untuk menopang seluruh kebutuhannya. Tapi bukan itu. Bukan hal seperti itu yang selalu menggelayuti pikiranku.

Kami hidup bebas.

Sudah sejak,, yeah lebih dari dua tahun yang lalu. Tak benar-benar ada yang terikat diantara kami kecuali perasaan saling membutuhkan yang kuat. Aku membutuhkannya. Entah dengan atau tanpa seks.

Maksudku, aku benar-benar membutuhkannya. Mungkin karena lebih dari dua tahun ini ia selalu memenuhi kebutuhanku. Melayaniku seperti kami memang keluarga kecil. Tapi terkadang sama-sama bersikap egois dan keras kepala.

Ia memutuskan untuk mengikuti gaya hidupku. Aku tak benar-benar tau alasan kuatnya mencampakkan diri dalam kebobrokan duniaku. Yang jelas, ia berkata jika ia mencintaiku. Dan aku, mungkin terlalu munafik jika aku berkata tidak.

Menjauhinya dulu adalah satu-satunya alasanku untuk tak lagi menyakitinya.

Prinsip hidup kami yang berbeda membuat segalanya tak bisa berjalan searah. Aku benci terus menyakitinya sementara ego yang kutanam dalam prinsipku benar-benar sudah kepalang tak ingin mengalah.

Mungkin aku perlu meminta maaf. Atau mungkin juga tidak. mengingat dua tahun seperti sudah cukup untuk merubah total pola pikirnya menjadi benar-benar bebas.

Ia menjadi sedikit lebih liar dan jika boleh jujur aku menyukai perubahannya. Maksudku, berada disekitar gadis yang terlalu melankolis itu sedikit merepotkan. Jadi, setelah ia bisa melakukan segalanya sendiri –plus dengan rasa malu yang kini tak lagi ia junjung tinggi-, aku dan yoona memilih untuk tak menutupi apapun dari publik.

Keluarga, media dan semua orang mungkin tau betul apa yang kami lakukan tanpa ikatan pernikahan yang jelas.

Tapi karena ini hidup kami, jadi, tak satupun pihak yang berhak mengusiknya.

“setelah ini kau akan kemana?”

Tanpa menoleh, aku berjalan tepat disampingnya. Sedikit lebih maju untuk menegaskan harga diriku yang kepalang diambang batas.

“aku harus menemui lucia malam ini”

Ia menjawab dengan nada yang terlalu ketus. Tak membuatku terkejut sebenarnya. Karena ia memang seringkali berdebat dengan bekas wanitaku-siapapun itu- yang mencemooh dan membuat harga dirinya terlihat rendah.

Kuulas sebuah senyum malasku tanpa ia tau. “kau masih berhubungan dengannya?”

“bukan. Bukan masih. Tapi baru akan. Dan setelah ini ia akan berhenti menggunakan mulut keparatnya untuk merecoki hidupku”

Aku tetap tak berpaling. Terkadang, hanya terkadang, seluruh mood kami bisa berubah secepat cahaya. Aku bisa memujanya setinggi yang kumau dan ia bisa melakukan hal yang sama tanpa perlu berpikir panjang.

Lalu detik berikutnya, kami bisa jadi manusia paling asing satu sama lainnya. Aku bisa bersikap dingin semauku begitupun ia sendiri. hanya beberapa kali saja kami bisa akur dalam hitungan waktu yang panjang.

Karena ia hidup bebas. Dan aku hanya menopang kehidupannya karena aku membutuhkannya.

Terkadang, pemikiran sialan seperti itu saja yang membuatku kepalang kalut. Karena dulu, ia selalu bergantung padaku. Selalu membutuhkanku karena tanggung jawab yang kupikul atas rasa bersalahnya pada dunia karena kehidupan kami yang melawan arus.

Tapi itu dulu.

Kini setelah ia sadar jika ternyata menentang arus bukanlah hal yang sulit dan ia menikmati semuanya, ia menjadi lebih tegar. Ia bisa melakukan apapun tanpaku –meski tetap dengan bantuan finansial dariku-. Seluruh asetku, adalah miliknya –meski ia cukup tau diri untuk mengeksploitasi hartaku yang berlimpah-.

Dan sejauh ini, kami benar-benar hanya seperti teman kuliah yang tinggal satu kamar. Terkadang ia perduli, manja dan terlihat sangat menggemaskan. Tapi terkadang ia dingin dan membuatku terlihat tunduk padanya meski tak secara kasat mata.

Aku berhenti diujung tepian bandara, menunggu porce merahku datang. “apa yang ia katakan padamu?”

Kulihat ia memperbaiki letak kacamata hitam yang menggantung pas pada wajah bidadari miliknya. Membuatku mau tak mau harus mengakui kelebihan yang membuatku tetap bertahan dengannya meski telah melewati banyak gadis sepanjang kehidupan bersama kami.

“dia mencaciku lewat sambungan telepon. Entah darimana ia mendapatkan nomorku. Aku juga akan menyelidiki yang itu!”

Lalu aku tersenyum. Ia memang semengerikan itu sekarang.

“apa aku perlu tau isi perbincangan kalian?”

Aku berjalan maju, memutar arah lalu memasuki porce merah yang baru beberapa bulan terakhir ini kugunakan. Tak lama ia ikut membanting pintu lalu melemparkan segala tas dan bawaan kecilnya kebangku sempit dibelakang kemudi.

“dia bilang aku wanita matrealistis. Dan demi tuhan seperti aku tidak tau saja apa yang ia cari dari melayani oppa satu malam. Ia bahkan lebih rendah dari wanita manapun. Tidak tau diri sekali”

Aku hanya terkekeh kecil. “menurutmu begitu?”

Dia mengangguk sekali, mengeluarkan kaca besar dari dashbor dan memperbaiki untaian rambut halusnya tanpa menatapku. “memangnya aku buta? Aku tau oppa membelikannya sebuah apartemen di apgujong. Dan kalau aku boleh menerka, meski oppa tak berniat memberitauku, aku juga tau jika oppa mengangkat jabatannya usai itu. Tapi tak masalah sebenarnya, itu urusan kalian. Aku malas sekali ikut campur”

Aku menjalankan porceku menuju kediaman kami. Ya, kediaman kami. Aku tak pernah memberikannya apartemen semewah apapun karena meski hidup bebas, ia harus tetap tinggal bersamaku tanpa bantahan. Tetap berada disekitarku dan tidak pernah menjauh itu sudah harga mati untuknya.

“kau tidak perduli, tapi sempat mencari tau segala pemberianku”

Dia mengedik, lalu kedua bola matanya sedikit membesar ketika mengalihkan padangannya dari kaca menuju kedua bola mataku. “demi tuhan! Aku hanya menanyai sora dimana oppa tidur malam itu”

Aku tersenyum tipis. “jadi menurutmu aku akan tidur ditempat aku memberikannya sebuah penghargaan?”

“ahah-penghargaan? Yeah. Benar, oppa. Penghargaan!”

Tanpa menjawab ia justru terkekeh dan mendadak menganggap jika pertanyaanku adalah lelucon paling hebat seantero dunia. Sialnya, aku tau betul maksud tawa cantiknya tepat didepan mataku.

Ia menertawakanku. Memberitau jika aku terlalu bodoh untuk mempertanyakan hal krusial yang sejujurnya tak perlu lagi kami bahas. Benar. Dia memang selalu benar tenang apapun. Dia mengenalku bahkan hinggan celana dalam merk apa yang kugunakan hari ini.

Dan itu sialan sekali.

Aku tak lagi melanjutkan pembicaraan konyol ini. Biar ia dan lucia saja yang menyelesaikan masalah harga diri mereka tanpa perlu campur tangan dariku. Meski sedikit kawatir, aku tau betul yoona bisa bertindak bahkan lebih kejam dari yang pernah siapapun bayangkan.

Dia wanitaku. Dia belajar banyak dari caraku.

“lagipula, apa pentingnya sih sebuah apartemen? Aku bisa punya lusinan yang seperti itu jika seorang lelaki tak menahanku dalam istana megahnya. Bedanya, aku bisa mendapatkan apa yang tak pernah orang lain dapatkan. Itu saja. Jadi, aku bisa membangga, kan?”

Dan aku mengakhiri percakapan kami dengan sebuah seringaian bangga. Benar, dia memang benar-benar wanitaku.

 

 

-yoona-

Aku memutar stir lamborgini hitamku menuju salah satu kafe tenamaan didaerah gangnam. Sedikit repot memang, mengingat aku baru lulus tiga puluh hari yang lalu dari tes mengemudiku.

Tapi aku berusaha keras untuk membuat semua terasa lebih praktis. Aku benci terus diantar jemput seolah aku adalah seorang buronan internasional. Meski terkadang bolehlah aku membangga karena anggapan orang-orang awam yang menatapku seperti seorang putri.

Entahlah, entah apapun itu. Yang jelas aku bukan wanita manja yang terlalu lemah untuk terus diantar jemput. Terkadang aku butuh privasi meski dengan kesadaran penuh aku sadar jika hal seperti itu sudah terlalu langka untuk kudapatkan dalam waktu singkat ini.

Kulirik kaca kecil yang kemudian membuatku mengumpat kecil dalam seperempat detik. Sialan, mereka memang tak punya pekerjaan lain selain melaporkan kegiatanku pada kyu hyun, ya?

Aku melirik mobil sedan dikiri dan kananku jengah. Nah, kan. Seperti yang selalu kukatakan. Privasi adalah barang langka didunia bebas ini.

Aku mengencangkan letak kacamata prada milikku sebelum memutar stir menuju arah kiri. Penunjuk jalan itu dengan cepat menunjukkanku letak sebuh kafe sebelum kuputuskan untuk berhenti dan membiarkan langkahku membelah pintu masuk yang mendentangkan bel kecil menggemaskan.

Dia berdiri tepat diujung ruangan ketika dengan cepat kusadari jika wanita jalang berpenampilan menggelikan itu memang dirinya. Kuputuskan untuk tak berlama-lama karena janji berhargaku untuk mendatangi butik tiffany hanya tinggal satu setengah jam mulai detik ini.

Aku duduk dengan rasa congak yang kupertahankan sempurna. Cho kyu hyun mengajarkanku banyak hal baru. Salah satunya adalah cara untuk tetap mempertahankan harga diri yang dalam dua tahun ini aku bangun tinggi-tinggi.

Meski aku hanya seseorang yang tinggal dalam satu atap bersamanya, kyu hyun tetap memperlakukanku dengan sempurna. Terkadang ia begitu lembut, terkadang begitu keparat dan terkadang ia begitu menunjukkan cintanya secara tersirat.

Ia benci menyatakan perasaannya. Tapi mengaguminya selama dua tahun dan menjalani hidup selama lebih dari  dua tahun berikut bersamanya membuatku mengerti apa apa yang ia katakan meski hanya lewat mata.

Aku ini seorang putri. Tak perduli seperti apa orang lain memandangku keji. Aku tetap seorang putri.

“kau terlambat sepuluh menit, im yoona-ssi”

Aku menatapnya tajam meski aku berekspresi manis dengan senyum tipis yang menusuk-nusuk matanya dalam diam. “itu etika seorang kalangan atas, lucia.” Kubiarkan tulang dudukku menyapa tempat duduk yang kini tepat berhadapan dengannya lalu meletakkan tas bawaanku tanpa repot-repot mau menatap matanya yang terbuka lebar.

“kau bermaksud mengatakan jika kau berada diposisi itu?”

Kedua alis matanya naik tinggi-tinggi diselingi tawa yang perlahan melukai harga diriku. Dengan kata lain, aku memang jauh lebih rendah dari apa yang ia bayangkan. Aku tak setinggi anggapanku. Itulah yang sedang ia coba utarakan kini.

Tapi aku sudah kebal. Harus berapa kali kukatakan aku sudah kebal.

Aku sudah tak terpengaruh pernyataan macam itu. Aku sudah terlalu sering direndahkan. Aku sudah terlalu sering dipertanyakan dan aku sudah terlalu sering dianggap tak berdaya hanya karena mereka lahir dari keluarga yang jauh lebih berada dariku.

Tapi aku tak perduli. Kuberikan ia senyuman ringan yang membuatku terkesan begitu tak ambil pusing didepannya.

“harus kuakui, aku tak terlahir dalam keluarga fantastis sepertimu, lucia” kuhela nafasku ringan, dia benar-benar cari mati kali ini. “tapi aku tetap hidup bahagia dengan kesederhanaanku”

Kulihat ia tersenyum. Membuatku benar-benar ingin membuat hidupnya berakhir dengan sebuah tangisan keras berbulirkan darah detik ini juga.

“kesederhanaan? Apa kau bermaksud mengakui jika hidup sempurnamu kini memang tercipta dari hasil ‘jual-diri’mu, im yoona-ssi?”

Dan aku tersenyum. Tepat sekali! Ia mulai bermain dan aku senang karena ini akan memakan waktu singkat. Pertemuanku bersama mantan wanita cho kyu hyun sebelumnya memang luar biasa keparat membuang-buang waktu. Tapi lucia agaknya sedikit lebih berani untuk melawan dan menentang kuasaku dengan terang-terangan.

Aku tertawa merendahkannya sejenak. Menopang diriku dengan siku diatas meja lalu menatapnya rendah. Ribuan kali lebih rendah.

“lucia,, jangan membuang-buang waktuku. Kau menginginkan kyu hyun. Bukankah itu tujuan pertemuan ini?”

“kau tau jelas itu. Jadi mengapa harus menungguku untuk melakukan ini sementara kau seharusnya sadar akan dirimu yang bahkan tak seharga dengan ujung kuku-ku untuk bersanding bersama kyu hyun oppa? Kau memuakkan, im yoona!!”

Lucia memukul meja dengan keras. Berharap jika ledakan emosinya mampu membuatku tertekan atau mungkin berbalik mengasihaninya. Tapi, betapa cerdas dan tangguhpun ia berusaha, lucia hanya tengah jengah dengan hidup mewahnya. Ia tau ia tak mampu melawanku dengan ego yang hanya setinggi mata kaki-ku dan dengan mudah kuinjak mati.

Aku bukan wanita yang selemah itu. Hidup bersama cho kyu hyun membuatku harus memompa adrenalinku hingga aku bisa berdiri di puncak tertinggi. Dan demi semua itu, aku mengorbankan banyak hal.

Aku tak pernah mengalah. Lucia hanya ingin bermain singkat karena walau bagaimanapun semua ini terasa menyenangkan. Tapi ia lupa banyak hal. Lucia melupakan kuasaku akan kyu hyun. Ia lupa, jika ia bukan satu-satunya wanita yang dicampakkan lelaki itu hanya karena kyu hyun yang ingin kembali memelukku.

Aku menguasainya. Dan dengan itu, kuanggap aku menguasai dunia.

Dan kekehanku mewarnai helaan nafas lucia yang memberat. Gumpalan amarah seperti bergumul bergerak-gerak dan menggulung dalam perutnya saat ini. Ia terlihat begitu tersiksa dan itu semua membuatku benar-benar yakin jika ia adalah salah satu wanita bodoh yang terpedaya rayuan busuk kyu hyun.

Kuraih sesuatu dalam tas kecilku lalu menyodorkannnya tepat didepan lucia.

“kau seharusnya belajar untuk berkaca, lucia. Kau begitu menyedihkan”

“apa?? Apa katamu?!!” kaca kecil itu terlempar jauh, kedua bola mata lucia membesar penuh amarah menatapku dalam. Berapi-api. “seharusnya kau yang berkaca! Kau wanita jalang! Dimana kau letakkan harga dirimu? Demi uang, kau gadaikan dirimu untuk menjadi pemuas nafsu! Kau wanita jalang dan kyu hyun oppa tak pantas memilihmu!!”

Aku diam. Lucia tak salah. Hanya ia sedikit keliru. Andai wanita bodoh ini tau jika dulu aku juga mengemis sepertinya pada cho kyu hyun. Andai ia tau jika dulu aku juga hampir gila karena kehidupan lelaki keparat itu yang jauh berbeda denganku. Andai ia tau jika pada awalnya aku bahkan tak pernah sekalipun mengejar uang berlimpah miliknya.

Kami sama.

Hanya aku berakhir dengan lebih terhormat karena pada akhirnya kyu hyun memilihku meski tak membiarkanku masuk dan menginterupsi prinsip hidupnya. Itu yang membedakan kami.

“demi tuhan. Aku tak perlu menyangkal semua tuduhanmu. Anggaplah aku wanita jalang yang menjual tubuhku padanya. Tapi, apa pernah terpikir olehmu wanita jalang mana yang lebih jalang daripada ketika ia mengemis pada seorang pria yang tak lagi menginginkannya?”

“kurang ajar! Apa maksudmu, hah?!!”

Lucia memang bodoh. Harus kuakui itu. Kuberikan ia sebuah senyuman tipis manis milikku sebelum aku memulai pesakitannya.

“kita sama. Kau pasti belum lupa jika kau juga telah menggadaikan harga dirimu demi masa depan yang tak pernah ia janjikan. Aku memang jalang, tapi aku percaya jika aku tak sebodoh dirimu. Kau bisa mencari cara untuk menghubungiku ribuan kali, membicarakan hal apapun yang menurutmu cukup ampuh untuk membuatku menyerahkan kyu hyun padamu atau menggunakan cara licik lainnya. Boleh kukatakan, aku tak perduli. Tapi seandainya kau sedikit lebih pintar, kau seharusnya memaki dan berteriak kencang didepan lelaki itu. Karena sejujurnya, bukan aku yang meminta kyu hyun untuk mencampakkanmu.”

Bola mataku kini mulai berani mengintimidasi. Kubiarkan ia kalut dalam emosi dan kubiarkan semua mata menatap kami tanpa menginterupsi. Ini diskusi terbuka, jadi ini jelas bukan rahasia.

“lucia, sekali jalang tetap jalang. Jangan terlalu malu untuk mengakuinya. Kau tidak harus hidup dengan topeng. Tapi sayang sekali kau memilih untuk melakukannya. Kau tau, lucia, lahir dari keluarga kaya bukanlah penentu dimana kau harus berada. Tapi mampu bertahan ditengah kejamnya dunia akan membuatmu lebih berharga. Kau dicampakkan. Terima saja kenyataan jika kyun hyun tak lagi menginginkanmu. Itu cukup. Karena tak perduli seberapa keras wanita bodoh seperti kalian berusaha, selama dua tahun ini, lelaki itu akan tetap kembali padaku. Itulah yang membedakan kita, lucia.”

Aku berdiri saat air mata lucia jatuh. Ia seharusnya sadar jika semenjak pertamakali ia mengenal kyu hyun, ia tetap akan berakhir seperti ini. Kurogoh ponselku lalu menghubungi kyu hyun sebentar hingga baritonnya terdengar jelas.

“ya, sayang?”

Lucia tampak terkejut bukan main. Ditatapnya ponselku lekat-lekat seolah hidup dan matinya hanya tergantung pada apa yang kini berada pada genggamanku.

“halo, oppa. Tolong ucapkan sesuatu pada lucia,,”

Aku tersenyum manis, kubiarkan layar ponselku terpampang jelas didepan wajahnya menjelang lucia kalut lalu dengan cepat menggapai-gapai ponselku. Memanggil-manggil kyu hyun seperti orang kesetanan.

“oh, lucia? Kau sudah bertemu yoona? Kuharap pertemuan kalian menyenangkan. Jangan terlalu lama menahannya, aku membutuhkannya sore ini”

Lalu seringaianku mengakhiri pertemuan keparat ini.

Aku kejam. Dunia memang mendidikku seperti itu. Kutinggalkan lucia yang meratapi meja kafe dengan air mata yang berlinang panjang. Membiarkanku kembali larut dalam dosa yang tak berkesudahan.

Andai lucia tau dia bukan wanita pertama yang kurenggut harga dirinya dan kuhancurkan jadi serpihan. Aku sudah terlalu banyak membuat ‘mereka’ menangis. Tapi karena mereka menguji harga diriku lebih dulu, maka sebuah darah harus dibalas dengan darah.

Semua mata menatapku terkejut saat kulewati mereka tanpa menoleh. Aku bosan dengan tatapan seperti itu. Mereka hanya tak mengerti jika deritaku jauh lebih dalam dari wanita manapun yang hanya kyu hyun jadikan barang sekali pakainya.

Dunia memang tau betul siapa diriku. Tapi itu tak membuatku menjadi wanita terkutuk dan hina. Aku masih punya harga diri yang kupegang hingga mati. Dan karena harga diriku kini telah mencapai puncak tertinggi, maka siapapun yang berani mengusik keberadaannya, akan merasakan bagaimana sakitnya hidup tanpa harga diri.

Akan kucabut sisa-sisa rasa percaya diri yang mereka punya hingga mereka sadar, jika aku bukan lawan yang pantas untuk direndahkan.

 

 

__

“astaga, yang benar saja! Dia meneriakimu seperti itu didepan semua orang?”

Aku tak memberikan ekspresi apapun saat suara tiffany menggema kencang dalam pendengaranku. Dengan tubuh yang hampir tertidur, kedua belah mata yang tertutup handuk hangat dan rambutku yang tengah dikerjai oleh entah siapa itu, aku memilih untuk lebih mendinginkan pikiranku.

Usai berdebat dengan lucia, aku menerima tawaran tiffany untuk mengunjungi salah satu salon langganan kami. Mulanya terkesan begiku kekanakan. Aku seperti tengah menghindari masalah pribadiku dengan cara yang konyol. Tapi setelah aku berpikir ulang, mungkin sedikit melewati hari dengan bersantai memang bukan pilihan yang buruk untuk meredakan gemuruh didalam dadaku.

Melukai lucia memang menyenangkan. Namun dibalik rasa menggiurkan yang ditawarkannya, memiliki harga diri yang sulit digapai membuatku begitu terbebani.

Walau bagaimanapun lucia adalah seorang wanita. Jika diperbolehkan, maka seharusnya aku berada dipihaknya untuk menentang kyu hyun dan membela hak kami sebagai yang ternoda. Tapi dunia memang penuh kuasa untuk memutarbalikkan keadaan. Aku tak berada dalam posisi semudah itu untuk memeluk dan menenangkannya. Aku tidak dalam keadaan pantas untuk mengalah dan karena kini aku adalah seseorang yang berada tepat disisi kyu hyun, maka andilku adalah meyakinkan mereka jika tak ada satu wanitapun yang pantas untuk berada disisi kyu hyun selain diriku.

Seperti itulah cara yang kyu hyun coba ajarkan padaku. Menjaga harga diriku yang dulu tercabik karenanya. Membantuku membangun modal untuk menjadi seseorang yang pantas dipandang hingga detik ini aku bersikap layaknya manusia tanpa hati.

“tidak perlu berlebihan, tiff. aku sudah sering diperlakukan seperti itu”

Tiffany terkekeh geli saat aku menjawab keterkejutannya dengan sederhana. “oh, aku hampir lupa. Itu juga yang membuatmu menjadi semengerikan ini, sekarang”

Aku mengenalnya dua tahun lalu. Saat pertamakalinya kyu hyun mengajarkanku cara yang pantas untuk berada disisinya. Aku menyerap semua tata krama kalangan atas dari tiffany. Membuat seluruh norma kesopananku luntur karen kuasa yang kyu hyun berikan tak tanggung-tanggung dan tiffany mengajarkanku dengan baik cara untuk memanfaatkannya.

“aku tidak akan semengerikan itu jika mereka bersikap baik-baik saja. Semua orang tau aku wanita seperti apa. Tapi merendahkan harga diriku adalah pekerjaan yang memilki banyak resiko”

Tiffany terkekeh kembali. “dan lucia adalah wanita bodoh yang mengambil resiko terlalu banyak”

Tiffany mengenalku dengan baik meski tidak sebaik kyu hyun. Aku adalah aku yang berubah menjadi sosok yang jauh dari masa lalu. Dan karena ia yang mengajarkanku cara untuk hidup dengan lebih bermartabat didunia bebas ini, maka dengan jelas tiffany tentu tau apa-apa saja yang akan dan harus terjadi disekitaranku setiap waktu.

“jadi, kau akan menginap dimana malam ini?”

Aku menoleh ragu sejenak lalu mulai berpikir. Benar juga, menjelang lusa aku harus benar-benar menghilang dari hadapan so yeon jika tak ingin wanita itu mengamuk kembali.

“entahlah. Belum kupikirkan” aku duduk dengan tenang didepan kaca. Menatap bola mataku dalam-dalam lalu menyadari satu hal. “atau sebaiknya aku tak perlu melarikan diri?”

“kau serius?” tiffany terlihat tak percaya sebentar lalu. “kau yakin? Asisten pribadimu itu akan berceloteh lebih panjang jika kau pulang lebih awal” tiffany mengutarakannya seolah langit akan runtuh jika aku tetap menghadapi so yeon malam ini. Tapi, meski rasa tidaksuka tiffany pada asisten pribadi kesayanganku itu benar-benar menganak sungai, aku tetap tak bisa menghindar atau yang lebih praktis lagi memutuskan so yeon dari pekerjaannya.

Mugkin benar.

Atau mungkin juga so yeon sudah lelah.

Karena semenjak dua jam yang lalu ia belum sibuk menghubungiku seperti yang sudah-sudah. Ia akan kelimpungan mencari cara untuk menemukanku dan menyeretku pulang lalu menyiapkan beberapa alasan mengapa aku harus melakukan tindakan sejahat itu pada wanita lain yang dicampakkan teman-satu-atapku. Tapi kini semua terasa aman-aman saja.

“mungkin so yeon sudah lelah. Sudah terlalu sering ia memberikan petuah panjangnya dan aku tetap tak berubah”

“lalu? Kau akan bertemu beberapa media mengingat lucia adalah putri tunggal pewaris perusahaan elektronik negeri ini. Maksudku, yeah, kau mungkin perlu waktu untuk—“

“aku bosan,tiff.”

Aku tidak bohong. Aku benar-benar tengah bosan setengah mati dengan hidup bebas yang terlalu menyakiti banyak pihak ini.

“aku bosan berkilah. Aku bosan menyediakan lusinan alasan sementara baik membaca atau tidak, mendengar atau tidak, paham atau tidak, semua orang tetap akan menilaiku seperti wanita jalang yang membuat kyu hyun mencampakkan mereka”

Tiffany tak menjawabku secepat sebelumnya. Perubahan emosiku memang terlalu cepat jika aku sudah terlalu muak. Dan tiffany hafal betul itu. Ia tau cara menghadapiku ketika aku hanya ingin berteriak atau sekedar bicara padanya.

“aku bosan menjadi wanita yang dengan muka tebal melindungi status berhargaku didepan semua orang. Status yang bahkan tak melebihi seorang kekasih tapi bertindak seolah ia adalah lelaki yang kuikat didepan tuhan.”

Aku mengerang.

“astaga. Dia bahkan bukan suamiku!!”

 

 

__

Pukul delapan malam kuputuskan untuk mengakhiri treatmen panjangku bersama tiffany. Sudah cukup waktu yang kubuang demi ketenangan sesaatku hari ini. Aku lelah dan tiba-tiba ingin segera terlelap dalam hangatnya ranjang.

“mengapa kau baru pulang?”

Langkah berdentumku terhenti ketika baritonnya menggema dalam pekat malam. Ini belum mencapai pertengahan malam tapi seluruh ruangan sudah begitu gelap. Aku baru menyadari banyak hal ketika kutemukan kyu hyun sudah pulang dan menungguku tenang dibalik sofa maroon ruang tamu.

“oh, oppa.. sudah pulang?”

Kyu hyun adalah diktator kelas atas. Tekad dan kerja keras yang mengalir dalam darah pebisnis yang turun temurun diwariskan dalam keluarganya membuat lelaki dua puluh delapan tahun itu terlihat begitu ambisius.

Meski memegang jabatan tertinggi perusahaan, ia bukan tipe yang mau berkelit dari tugas. Karena itu, sebuah keterkejutan besar menghampiriku ketika menemukannya duduk dalam gelap pada jam-jam rawan seperti ini.

Kyu hyun terlalu pekerja akut. Ia bisa menghabiskan waktu membaca berlembar-lembar kontrak kerja secara teliti hingga membuatnya  harus menginjakkan kaki larut malam.

Pukul sepuluh adalah rekor tercepatnya selama ini. Maka selain memiliki maksud tertentu, aku adalah satu-satunya penghuni rumah besar ini sejauh waktu yang kuhabiskan bersamanya. Dia akan memasuki pintu rumah pada pukul sebelas bahkan hingga pukul empat pagi. Menyisakanku sendiri dalam kelam hingga pagi datang.

Karena itulah aku terbiasa pergi tanpa tau jelas kapan akan kembali. Hanya saat ia berkata jika ia membutuhkanku aku akan berada dirumah ini, memasakkannya makan malam dengan resep yang susah payah kupelajari hanya untuk memuaskan rasa ingin taunya.

Tapi kali ini berbeda. Aku menemukannya pulang terlalu awal. Dia tak memberitauku barang sedikitpun informasi mengenai keinginannya. Aku tak menangkap maksud dalam mata yang ini ia sembunyikan dalam kelopaknya.

Tiba-tiba aku merasa aneh.

“oppa? Apa kau mendengarku?”

Aku mendekatinya perlahan. Tak perduli betapa marahnya kyu hyun atau seberapa besar api yang bergumul diatas ubun-ubunnya, aku adalah satu-satunya manusia yang tak bisa ia sentuh.

Kyu hyun akan berhenti tepat disaat ia bahkan baru akan memulai niatnya untuk menghantam tubuhku dengan tamparan kerasnya. Karena itu, sejauh ini, hanya akulah yang dapat meredam emosinya tanpa mengorbankan nyawa manusia lainnya.

“oppa—“

“kemana saja kau seharian ini?”

Kalimat panjang itu, mendengungkan nada kesal. Dan kemudian kedua bola matanya membuka dengan cepat. Menampilkan mata coklat pekat yang besar. Mata yang menenggelamkanku dalam pesona yang hingga saat dunia berakhirpun tak akan kutemui ujungnya.

Aku menghela nafas lega yang panjang lalu buru-buru maju dan duduk dipangkuannya yang bersandar begitu manly pada sandaran sofa.

“kau tak berkata jika kau membutuhkanku hari ini…”

Kuulas tatapan paling manja milikku menjelang kedua lenganku bergelayut pada leher jenjangnya yang hangat. Terkadang, ada masa dimana ia akan luluh hanya karena nada suaraku yang menurun drastis.

“aku bertanya kemana saja kau seharian ini, im yoona.”

Tapi sepertinya itu tidak berhasil untuk kali ini. Aku mendesah kuat-kuat hanya untuk membuatnya sadar jika aku juga akan menggunakan ketidakpedulianku jika itu yang ia butuhkan.

“apa aku harus melaporkannya sekarang? Sora tentu sudah melaporkan seluruh kegiatanku bahkan sebelum aku sempat menginjakkan kakiku dirumah ini, oppa”

Aku mengerlingkan bola mataku malas. Ini yang paling kusesalkan dari kekesalannya. Aku bahkan tak benar-benar tau dimana letak kesalahanku dan ia bersikap dingin seolah aku adalah terpidana mati yang melarikan diri.

“aku bertanya. Bukan memintamu untuk membantah.”

“oppa!!”

Aku berdiri cepat.

Aigo,, keparat ini.

“kau bisa melakukan apapun jika kekesalan begitu menggunung dalam ubun-ubunmu. Tapi merasa kesal karena aku tidak dirumah tak bisa kau jadikan alasan. Aku tidak tau kau akan pulang secepat ini. Aku bahkan—“

“ponselmu mati, im yoona!!

Aku terperanjat ketika ia berdiri, menyusul tinggi badanku yang hanya menjangkau lehernya. Kedua bola matanya membesar marah dan aku tak bisa menghitung entah ini sudah pertengkaran yang keberapa.

Ia selalu naik pitam karena hal-hal aneh yang bahkan tak sempat kupikirkan.

“i-iya, aku tau. Aku mengantisipasi telepon dari so yeon siang ini dan lupa mengaktifkannya kembali. Tapi, kau bisa memberitauku lewat sora atau dua orang yang terus membuntutiku. Atau melalui tiffany yang seharian ini bersamaku. Kenapa harus serepot ini?”

Aku mundur selangkah ketika ia maju dengan rahang mengeras. Salah satu lengannya menarik pinggangku kuat, memangkas jarak diantara kami lalu menatap kedua bola mataku lekat-lekat.

“sialan, aku menginginkanmu hari ini!” desisan itu menggema dan menusuk-nusuk pendengaranku berkali-kali. Ia berbicara seolah jika aku tidak pulang hari ini, maka ia akan mati karena menahan hasratnya yang kepalang mengapung tinggi. “dan keberadaanmu yang terlalu rancu membuatku berpikir jika mungkin kali ini kau tengah menghabiskan malam dengan lelaki lain. Kau tau bagaimana rasanya, kan, ketika aku begitu merindukanmu dan kau tak disini?”

Rengkuhan itu mengeras. Aku semakin tertarik jauh dalam kukungannya yang mencekam. Kedua sisi rahangnya tetap mengeras lalu bergetar seolah menahan ini semua membuat satu-persatu nafasnya mengabur pergi.

“kau menyiksaku, sayang..”

Lalu  aku tersentak cepat. Ah,, aku merasakannya! Aku bisa merasakan bukti gairahnya hanya dalam hitungan detik. Astaga, sebegitu tertahankah keinginannya selama aku tak ada? Aku bahkan bisa menebak jika ia hanya satu jam lebih cepat menginjakkan kakinya dirumah ini. Dan selama itu, ia sudah bergairah sebanyak ini?!

“o-oppa..”

“kau tau aku tak terbiasa menghubungi tiffany karna dia akan menahanmu sekuat yang dia mau. Dan aku benci kau berinteraksi dengan pria lain.”

Aku menghela nafasku paham. Oke, hasrat tertahan menekan emsoinya dengan cepat. Aku tau benar apa yang tengah ia bicarakan kini. Kukalungkan salah satu lenganku pada lehernya lalu mengecup bibirnya secepat mungkin.

“aku belum menemukan lelaki yang bisa mengajakku untuk tidur bersama kecuali keparat yang kini tengah mengekangku kuat-kuat.” Aku tersenyum lalu mengusap pipi kanannya secara bar-bar. “aku tidak bertemu lelaki manapun hari ini, jika itu yang oppa cemaskan. Aku hanya menenangkan diri setelah sesuatu bergemuruh dalam batinku usai membuat lucia menangisi tingkah bodohnya”

Sesuatu tiba-tiba menumbuk leherku secepat kilat. Hangat nafsnya yang mendidihkan sesuatu didalam diriku menyapa tanpa aba-aba. Ia menyembunyikan sisa-sisa kekesalannya dalam ceruk leherku tanpa mau perduli jika kini aku hampir kehabisan nafas menahan diri.

Ia hanya diam. Berusaha menetralkan nafasnya yang memburu cepat. Membuatku berpikir jika mungkin kali ini memang aku bersalah dalam porsi yang lebih besar.

“maaf,, apa aku menyiksamu sebanyak ini?”

Dia menggeram saat tubuh kami kembali bersatu. Tanpa satu senti-pun jarak yang berarti. Salah satu dari banyak hal yang akan mengakhiri pertengkaran kami dengan praktis. Aku tak ingin menjadi terlalu naif, aku memang membutuhkannya untuk hidup karena seluruh penunjang kehidupanku ada disetiap ujung jarinya.

Aku berhenti menggunakan usahaku sendiri, menghidup diriku hanya dengan beberapa fasilitas pemberiannya serta uang bulanan yang masih ia berikan rutin bahkan berlebih. Dia tak berubah, janjinyapun tetap ia pertahankan. Menjamin kebutuhanku semampunya.

“berhenti bermain-main, im yoona” lalu tangannya merengkuh lekukan kakiku dan membuatku melayang sebatas dadanya. “kau harus membayar atas semua ini”

Aku tak lagi ingat akhir dari malam itu. Yang kutau jelas, ia terlihat terlalu terburu-buru dan aku berakhir dengan nafas yang hampir membeku. Tenaganya ribuan kali milikku. Aku tergugu, dalam hangat selimut tebal yang melindungi malamku, kuserahkan mimpiku dalam lelah tak berujung.

Dan malam itu berlalu.

 

kkeut.

Maaf banget ya, ini udah lama banget. aku masih dalam tahap kaderisasi kuliah, jd menjelang selesai, aku bakal punya banyak tugas. aku usahain buat terus update unexpected seri berikutnya karna selain series ini kayanya aku sama readers gak punya wadah lain buat saling komunikasi. Btw, ini seharusnya di post seminggu yang lalu, tapi aku harus nungguin posternya dulu, lama-lama bosen juga pake wajah mereka sendiri-sendiri. lagian, ini  udah mau masuk inti cerita jadi, aku mau terimakasih banget buat yang masih mau baca.

Terus, karena part ini judulnya his another, silahkan tunggu part her another nya ya.. aku bakal bikin mereka saling cemburu dan bisa bersatu lewat cara yang sedikit rumit. semoga kalian bisa sabar ya..

Dan yang terakhir, aku cuma mau minta maaf buat beberapa acc BBM yang aku delcont. jujur aja, bukan karena gak mau berteman, tapi aku butuh space dalam memori ponselku buat hal lain. kalian bisa hubungi aku  di nomer pribadiku yang udah aku sebarluas di memorable 12. lagipula, kebanyakan juga gak pernah chat aku selain buat minta password, jadi, kalau ada apa apa lewat sms aja ya. sekali lagi aku minta maaf banget.

buat yang lupa, ini nomer pribadiku : 087893737011

sekian.

 

With love, Park ji yeon.

 

265 thoughts on “Unexpected : His another

  1. Hisshhh.. kenapa kyuhyun dan yoona gak menikah aja sih? Nnti klu yoona hamil gimana! Kyuhyun terlalu menjunjung tinggi prinsip hidupnya yg bebas.
    Bagus eonni.. ceritanya kyuhyun sebenarnya romantis tpi agak gimana gitu

  2. Agak mlu bca na chigu,,,,tpi crita na bner2 daebak,,,hehehe lmayan agk rsih sich ma sifat na yoona onnie tapi ga pa yg pnting critana bner2 kreeeeen,,,,hehehe fighting chigu

  3. dari wanita yg lemah sampai menjadi wanita yg tegar,tegas dan angkuh. ya.. menurutku itulah yoona..
    kyu memberikannya kekuatan mengintimidasi orang lain..

  4. Whoaaa akhirnya nemu yang panjangnya kkk..
    Kyuhyun egois banget yee, dia bisa tidur sama perempuan lain tapi Yoona dilarang kerasa deket sama laki lain ckck tipikal Kyuhyun banget sih emang..
    Jadi makin kasihan sama Yoona~ cinyanya harus begini..

  5. yoona fighting . ak suka sma krakter yoona yang enggak seperti wanita lemah tpi berani melawan perkatan lucia .kyuhyyn juga sih kenapa dia yang nyakitkan perempuan kok malah yoona yang kena imbasnya .lanjut thor cerita nya bikin penasaran terus

  6. Entah knpa aku suka sma yoona yg menangkas setiap kata lucia, dan caranya memojokannya. Yah sekilas tampak kejam tpi aku menyukainya😀

  7. “lagipula, apa pentingnya sih sebuah apartemen?
    Aku bisa punya lusinan yang seperti itu jika
    seorang lelaki tak menahanku dalam istana
    megahnya. Bedanya, aku bisa mendapatkan apa
    yang tak pernah orang lain dapatkan. Itu saja.
    Jadi, aku bisa membangga, kan?”
    Dan aku mengakhiri percakapan kami dengan
    sebuah seringaian bangga. Benar, dia memang
    benar-benar wanitaku.
    .
    .
    .
    .
    .
    .
    bagian ini sumpah aku suka banget! >_<

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s