You..

1127677_1349761537704_full

You..

HyukGumsmile

Cho kyu hyun Im Yoona

Romance

PG-17

 

Untukmu, yang pada angin kutitipkan sebongkah rindu.

 

Jika pada dunia aku bisa mengadu, maka mungkin, seluruh awan akan menjadi kelabu. Tapi kisahku tak sepopuler itu. Tak perlu sampai dunia tau betapa hatiku luruh dan membisu. Ditengah hiruk pikuk pejalan kaki yang tak mau perduli, kutatap langit biru. Langit yang bersama pergerakannya kutitipkan salam randu untukmu.

Lalu,, ketika tutur mata kita bertemu…

 

Birmingham, cafella clucth cafe.

4 pm.

 

Aku duduk disudut kafe, menyesap satu cup americano panas yang mengepulkan asap berbau sedap. Kelabu menghantui kisahku. Ditengah rintik hujan gerimis yang menandai akhir musim ini, kutuliskan nama dalam embun hembusan nafasku pada kaca.

Ini gila. Duniaku bahkan belum sesempit ini sebelumnya. Aku hanya merasa gundah. Sesuatu menahan momokku dalam diam. Aku kelu, tak dapat melakukan apapun.

“yoon?”

Seseorang menyentuh pundakku lembut. Seolah mengatakan jika kini aku tengah larut dengan duniaku. Padahal, demi tuhan aku tak sebodoh itu untuk menghilang dari peredaran bumi. Aku hanya bimbang antara memilih haruskah aku terbujuk oleh rayuan alam bawah sadarku atau aku bisa tetap tinggal dan mengikuti pembicaraan yang tengah terjadi di meja bundar ini.

Dan, ayolah. Ini tak semudah yang mereka bayangkan.

“kau melamun lagi”

Aku mengerjapkan bola mataku sekali. Menatap tiffany dengan sebuah senyuman kecil. Hanya untuk memohon pengertiannya. Karena selain sedang malas, aku benar-benar tidak melamun. “aku tidak, tiff.” jawabku singkat.

Kedua bola mata gadis itu menyendu. Seolah mengatakan padaku jika ‘kau tidak bisa membohongiku’. Merasa mengetahui banyak hal sementara aku sendiri memang tidak sedang berbohong. Tolonglah, aku sedang malas menambah dosa. Aku sudah terlanjur berdosa dan ini semua menyudutkanku.

Kulemahkan bahuku sejenak. Menatap grace dan celena bergantian hanya untuk menyadari jika kini kami tak sedang berdua saja. Akan menjadi lebih rumit jika tiffany terus ingin bersitegang pendapat didalam kafe ini denganku.

“tiff, aku memang tidak sedang melamun” tukasku kini dengan suara yang kuatur agar terdengar tegas dan mantap.

“but, yoon.. you look so,, pale.. dan pandangan matamu kosong. Kau yakin kau baik-baik saja?” celine menggenggam tanganku cepat. Mengeluarkan wajah khawatirnya yang lugu.

Aku mengangguk. Membiarkan mereka tau jika aku memang baik-baik saja. “are you sure? We can discuss anything at home. Kau ingin pulang? Lebih baik kita memang tidak diluar jika kau sedang sakit”

Lalu grace mengusulkan ide konyol lainnya. Lucunya, ia justru sudah bersiap-siap mengemasi seluruh bawaannya. Mengantonginya kedalam tas hermes coklat lalu menatapku dengan bola mata membesar.

Bahuku melemah seketika. Apa pandanganku tak cukup  meyakinkan? Seburuk itukah kodisiku? “how can i explain tou you, guys. That im ok. Im fine. Am i look so.. umm..”

“pale. Yeah, kau pucat sekali”

Tiffany menyudahi kalimat singkatku dengan lugas. Cukup satu kata, dan kini aku seolah menjadi tersangka utama atas hilangnya uang ratusan ribu dollar dalam dompet tebal grace. Semua mata memandangku sendu. Seperti aku adalah seorang pesakitan yang tinggal menghitung umur dan mereka hanya dapat mengasihaniku.

Demi tuhan! Tak seburuk itu keadaanku!

Kuhela nafasku berat. Agar berbunyi besar dan mereka tau jika apapun yang mereka katakan tidaklah benar. Atau mungkin memang benar tapi tak seluruhnya dapat diperhitungkan.

Aku pucat. Oke. Itu yang pertama. Dan kuakui jika sepertinya aku memang sedikit pucat. Tapi mungkin aku hanya lupa mengolesi gincu pada bibirku. Atau, mungkin hanya perasaan mereka. Karena aku merasa baik-baik saja.

Aku merasa sedikit terganggu dengan kepala dan segala pemikiranku didalamnya. Hanya sebatas itu saja. Dan kurasa aku masih bisa melakukan banyak hal. Tak terkecuali dengan diskusi singkat ini.

“kalian terlalu berlebihan. Aku baik-baik saja. Dan ini bukan kapasitasku untuk menentang tuhan. Tapi aku memang sebaik biasanya” ku tatap mereka lekat-lekat. “dan berhenti menatapku seolah aku adalah manusia pesakitan” lanjutku mengancam.

Mereka menelan ludah lalu menatapku ragu. Tiffany justru sudah terlihat mengerling tak mau perduli. Kini, aku berhadapan dengan celine, satu-satunya yang akan mencerna perkataanku dengan lambat.

“kau yakin yoon?”

Nah, kan. Celine! Aku sudah menggunakan nada terbaikku untuk meyakinkanmu! Ya tuhan. Aku bisa gila.

“ya, celine. Jangan terlalu menghawatirkanku. Aku hanya benar-benar bosan dengan buku diktat setebal bantal yang harus kuselesaikan minggu depan. Apa kau sudah menyelesaikan milikmu?”

Dan celine mengangguk ragu. Dengan wajah polos dan lugu yang terkadang membuatku naik pitam tanpa kutau alasan yang tepat. Celine selalu begitu. Aku bahkan ragu mengapa ia bisa menerima beasiswa disini.

Di albama.

Di universitas terkenal birmingham dengan kapasitas otak yang seperti kura-kura. Aku tau ia berusaha keras untuk mencapainya. Bahasa inggris celine bahkan tak sefasih grace atau tiffany. Atau mungkin juga aku sendiri. tapi celine berhasil menunjukkan jika ia bisa. Ia memang pekerja keras akut. Bahkan pertemuan ini celine langsung yang mengusulkannya. Ditengah libur satu minggu yang sengaja kami ambil karena kapasitas otak yang terlalu penuh menjelang tugas akhir.

Ini sudah tahun kedua. Dan aku masih berkutat dengan penelitian akhirku menjelang penyusunan laporan dan sidang akhir yang belum benar-benar rampung. Kebetulan, selain karena kami memang saling mengenal semenjak pertama kali menginjakkan kaki dibangku perkuliahan, kamii juga sudah memiliki beberapa referensi penelitian. Lengkap dengan contoh diktat yang sudah dari jauh-jauh hari kami baca hanya untuk meyakinkan diri jika apa yang kami lakukan memang sudah benar.

Ini birmingham. Negara yang tak kukenal sama sekali budayanya. Bahkan aku berbicara seadanya. Mengingat kemampuanku untuk berkomunikasi secara langsung dengan penduduk lokal memang minim.

Aku berusaha untuk lulus dengan bantuan dane, salah satu kakak kelas yang hingga saat ini masih berbaik hati untuk membantuku. Atau mungkin membantu kami. Dane menyukai grace, dan seluruh contoh bahan diktat milik kami, dane-lah yang bersusah payah mengusahakannya.

Sementara diktat pinjaman kami harus rampung minggu depan, kini, celine justru mengusulkan ide gila lainnya. Melakukan penelitian langsung untuk tugas akhir kami di london.

Demi tuhan. Ini terlalu gila!

Kami melanjutkan kuliah ditingkat kedua. Maksudku, mencoba untuk menjadi seorang ahli hukum usai aku menyelesaikan strata satu ku di korea. Celine dan grace berasal dari macau. Kota padat penduduk yang kali ini cukup menarik minatku. Sementara aku dan tiffany jelas sama-sama datang dari korea.

Kami sudah saling mengenal semenjak dua tahun lalu. Dan kini, sama-sama dihadapkan pada pilihan penelitian kelompok yang –demi apa- terlalu sulit untuk dilakukan.

Dosen gendut dengan kacamata bacanya yang hitam legam dan aksen british yang terlalu kental itu meminta kami untuk mengawasi realita hukum disekitaran inggris.

Bukan. Bukan tentang tugas mengawasi realita hukum yang tengah kupermasalahkan. Tapi, ini, disekitaran inggris! Ya, inggris! Demi tuhan apa dia tak tau jika biaya hidup disini mahal? Dan sekarang, ia meminta kami untuk menjelajahi sebuah negara hanya untuk sebuah tugas akhir.

Bagus sekali.

Aku sudah mengusulkan beberapa daerah sekitar untuk melakukan penelitian ini. Mengingat biaya travellling mengelilingi inggris akan merogoh kocek yang sangat dalam. Meski sejujurnya aku tak perlu repot memikirkan masalah ini, karena aku pribadi datang dengan tameng beasiswa. Aku tau seluruh biaya hidupku ditanggung. Lain hal dengan tiffany yang memang sudah kaya raya dan memilih untuk menggunakan dana pribadi.

Tapi ini tetap saja berlebihan.

Mereka mempertimbangkan beberapa keuntungan lain. Seperti berjalan-jalan –mungkin- karena pada kenyataannya ketiga gadis cerewet ini, berserta dengan tubuh ringkihku memang tak pernah keluar dari birmingham semenjak tahun lalu.

Tapi, ayolah. Ini london! London!! Aku bisa gila memikirkannya.

Aku mencebikkan bibirku ragu. Walau bagaimanapun, aku tak bisa lepas tangan dan membiarkan uang negara terbuang sia-sia hanya karena ambisiku berjalan-jalan. Maksudku, aku juga ingin. Tapi keterbatasan mengukung langkahku.

“kalian yakin akan ke london? Maksudku, celine,,” kutatap wajah lugu celine lekat-lekat. “ kita sama-sama hidup dari dana negara. Grace dan tiffany mungkin tak perlu memikirkannya dengan serius. Tapi kau? Aku? Bisa saja uang saku kita bulan depan tandas hanya untuk penelitian selama dua minggu di—“

“tiga, tiga minggu yoon” tiffany memotong pembicaraanku cepat. Menunjukkan tiga jari panjangnya yang lentik lengkap dengan nail art pink keemasan yang baru saja ia ganti satu minggu yang lalu.

Dan pernyataannya, membuat kepalaku seperti ditimpa satu karung beras. Menohok sekali. Dua minggu saja aku sudah kelimpungan, bagaimana jika tiga minggu?! Keparat berdua ini memang seperti tak pernah puas untuk menghabiskan uang kedua orang tua mereka.

Aku menyerah dengan menjatuhkan wajahku pada lengan yang lebih dulu kulipat. Menghela nafasku cepat-cepat karena aku yakin sekali kini oksigen mulai menjauh secara perlahan.

“coba kalian pikirkan lagi. Ini keputusan yang terlalu terburu-buru. Masih banyak tempat cantik –plus biaya murah dan beberapa tempat wisata sederhana namun menyenangkan- selain london yang bisa kita jadikan tujuan”

Aku berusaha meyakinkan mereka. Sekuat yang kumampu dan kupelajari sebelumnya. Melihat celine yang perlahan terbawa bingung dan wajah bimbang grace, kuputuskan untuk menyudahi diskusi singkat kami.

Salju sudah sedikit mereda saat birmingham mulai menunjukkan diri di pergantian musim. Akan lebih hangat jika mereka bisa tinggal di apartemen dengan sekotak cemilan dan penghangat ruangan.

Aku menghentakkan telapak tanganku diatas meja. Sekedar untuk merebut perhatian mereka sebelum menyeruput americanoku hingga tandas.

“sebaiknya kita berbicara diapartemen saja. Ini sudah terlalu sore dan akan kembali ada hujan salju nanti malam”

Aku berdiri, disusul mereka yang perlahan bangkit. Kurapatkan coat milikku dengan tepat lalu mulai berjalan menuju pintu kaca dengan dua buah buku tebal yang terus menggeliat dalam gendonganku.

Aku mengeluarkan ponselku cepat. Berusaha menghubungi taksi untuk mengantar kami menuju apartemen yang terletak cukup jauh dari kafe. Namun tanganku terhenti cepat. Grace datang dengan sebuah senyuman simpul yang cantik.

“aku bawa mobil, yoon. Kalian bisa tunggu sebentar”

Lalu grace menghilang. Aku berdiri didepan pintu kaca, penghalang udara dingin yang masuk kedalam kafe bersama celine dan tiffany. Menunggu grace yang sepuluh menit kemudian datang membawa mobil pribadinya.

“ayo cepat, cepat! Ini dingin sekali!!”

Celine segera berlari menuju pintu mobil. Menyisakan aku yang berjalan tenang bersama tiffany yang pasang beberapa langkah didepanku.

Tepat dipinggiran jalan kafe, aku berhenti. Salju kembali turun sore itu meski udara memang sudah tak sedingin minggu-minggu sebelumnya. Kutorehkan wajahku pada penunjuk jalan serta zebra cross yang dilalui banyak pelajan kaki.

Dan tiba-tiba aku ingin tersenyum.

“yoon!!”

Aku berpaling menatap tiffany yang sudah terlanjur sampai. Lalu kurapatkan coat hijau pucat milikku dan kulangkahkan kaki menembus dingin yang menusukku hingga kekulit.

 

Dia datang bersama dingin yang menyapa kulitku dengan sentuhan.

Melambai, dan menyejukkan.

 

__

“kau masih berkutat dihalaman berapa, grace?”

Aku mengernyit saat suara lantang tiffany menggema dalam apartemen. Kali ini, kami memilih menggunakan apartemen celine. Meski jujur saja, ini seperti sangat amat idiot. Aku dan celine memiliki apartemen kami masing-masing yang terletak bersebelahan. Lalu tiffany memiliki miliknya dilantai atas dan grace hanya berjarak lima kamar dari sini.

Aku dan celine tak dapat berbagi karena kami tanggungan negara, sementara tiffany belum berpikir akan pindah dalam waktu dekat. Ia dan grace memang memiliki hoby tersendiri. Tak suka diganggu. Jadi dengan pertimbangan kenyamana tiffany dan grace tetap memliki apartemen mereka masing-masing tanpa mempertimbangkan biaya.

“aku sudah tiga per lima halaman. Buku tebal ini membuat mataku berkunang-kunang. Sialan!”

Grace memaki dari sofa tidur yang terletak di balkon. Dibalik jendela kaca yang berada paling dekat dengan penghangat ruangan. “kau sendiri?” sambungnya kemudian.

Tiffany datang bersama celine dengan semangkuk sup jagung yang sudah jarang sekali menghampiri lidah kami. Makanan birmingham yang mewah disini ternyata hanya singkronisasai dari rasa asam. Dan disaat pertama kali membiasakan diri, itu terasa sangat amat aneh.

“aku sudah duapertiga. Dan satu minggu kurasa waktu cukup” jawab tiffany bangga. “dan kau pasti sudah hampir menyelesaikannya” tudingnya kemudian padaku dan celine secara tidak langsung.

Aku hanya mengedikkan bahuku acuh. Kututup buku diktat yang sudah delapan puluh persen kubaca lalu berjalan menuju meja makan. Yeah, delapan puluh persen itu yang sempat kubaca. Artinya, ada beberapa persen yang luruh dan tak tinggal bahkan tak sempat kupahami didalamnya.

Sementara celine datang dengan wajah sumringah miliknya. Mengindikasikan tiga hal yang sangat amat sederhana. Pertama, ia benar-benar hampir menyelesaikan bacaannya. Kedua, celine merasa malu karena ternyata tiffany salah. Atau ketiga, ia tengah membanggakan hasil masakannya.

“aku sudah selesai”

Nah, kan!

Aku membuang nafas beratku bersama tiffany dan grace secara bersamaan. Bukan hal yang ajaib sebenarnya. Celine memang segila itu jika sudah mengenai bacaan. Coba saja lihat kacamata tebalnya!

Celine kini bahkan terlihat seperti seorang professor muda dengan kacamata tebal yang sedikit norak. Tapi gadis dengan pipi seputih susu dan tembam itu membuat segalanya berbeda. Dia tak terlihat seperti seseorang yang senang membaca. Atau kacamata tebal norak itu tak membuatnya terlihat cupu. Itulah kelebihan celine. Ia bisa menempatkan segala sesuatu dengan baik hingga terlihat begitu berharga.

Celine hanya menampakkan cengiran lucu miliknya sebelum semua mangkuk terisi dengan sup jagung yang sudah mengepulkan asap.

“apa dane akan menjemput bukunya secepat itu, grace?” Tiffany membuka suara pertama usai kunyahannya habis. Ia meneguk air mineral dan menatap grace ragu.

Grace mencebikkan bibirnya berpikir “dia bilang begitu. Awalnya kupikir juga terlalu cepat jika harus membaca buku setebal ini hanya dalam waktu dua minggu”

“dengan tambahan jika ternyata diktat ratusan lembar itu datang saat kita tak memiliki waktu luang. Kau lupa penelitian kita belum selesai?”

Yoona hanya tersenyum menanggapi pernyataan tiffany. Entah karena ia takut jika dane akan menagih buku contoh diktat itu sebelum ia selesai membacanya atau karena hal lain. Yang jelas, tiffany kini terlihat sedikit cemas.

Grace lalu tertawa geli. “kau bukannya sedang cemas karena takut dane akan menarik bukunya saat kau belum urung mambacanya, kan, tiff?”

Lalu tiffany mengerling kesal.

“kau harus memundurkan beberapa jadwal perawatan dirimu minggu ini tiff. kau tak akan pernah berhasil jika terus seperti itu”

Dan celine ikut bersuara. Membuat yoona dan grace tertawa lepas. oh, jadi tiffany berencana untuk menunda waktu bacaannya demi merawat diri? Ya tuhan, terdengar agak konyol ketika waktu sudah memburumu seperti ini.

Tiffany mencebik semakin kesal. “aku, kan—aku,, sudah dua bulan lebih tidak kesalon. Mengertilah, guys” tiffany mengerucutkan bibirnya lucu. Lalu tak lama seperti tersadar, ia segera menurunkan jemarinya yang terayun-ayun diudara. “maksudku—“

“tenang-tenang. Aku bisa mengurus dane. Jika itu yang kau coba utarakan, tiff”

Aku hanya menanggapinya dalam diam. Tak ada yang perlu diperdebatkan sebenarnya mengingat libur yang kami ambil selama satu minggu ini kurasa sudah cukup untuk kujadikan referensi. Aku sudah akan selesai. Aku memang seyakin itu untuk menuntaskan kuliahku.

Mengingat sudah terlalu lama aku pergi dan sudah berapa lama dia kutinggalkan.

Dia? Tiba-tiba aku kembali ingin tersenyum. Tidak pernah menyangka jika aku bisa bertahan sejauh ini. Bersama kyu hyun. Dalam hubungan jarak jauh yang membosankan. Sungguh luar biasa.

Aku tertegun dengan sendirinya. Larut dalam duniaku yang tiba-tiba saja membayangkan wajah masam kyu hyun ketika mengantarkanku pergi hampir dua tahun lalu.

Ia tak pernah membiarkanku mengambil kesempatan untuk mendapatkan beasiswa ini. Terlebih birmingham memang terpisah ribuan mil dari korea dan itu secara perlahan membuat segalanya terasa semakin rumit.

Kyu hyun pernah berkunjung. Tentu saja. Lelaki itu tak pernah bisa berdiam diri barang sehari saja tanpa menanyakan kabarku dan ketika ujian semester pertama selesai, dengan ajaibnya ia muncul didepan apartemenku.

Dengan baju casual ditengah musim dingin yang menusuk. Pria konyol yang merangkap idiot itu benar-benar. Bodoh. bahkan untuk bertanya sedang musim apa disini pun ia tak berminat. Apa ia pikir ini akan menjadi kejutan yang luar biasa?

Ya, memang kedatangannya menjadi kejutan tersendiri. Tapi terkadang aku ingin sekali memukuli tengkorak kepalanya disudut meja karena usai ia datang, ia harus menahanku didalam apartemen karena suhu tubuhnya yang meningkat tajam.

Ia sakit.

Sungguh merepotkan.

“ya! Im yoona!”

Aku terlonjak kaget. Menyadarkan kediamanku sambil mengumpulkan nyawa, kutatap tajam tiffany yang berteriak terlalu kencang.

“nah, kan! Kau melamun, lagi”

Tiffany mengacungkan telunjuknya tepat didepan wajahku. Membuatku sekali lagi tekejut bukan main lalu menyingkirkan jemarinya cepat.

“yoon, kau—“

“kau sudah rindu pada kyu hyun, ya?”

Kedua bola mataku membesar akut. Mengancam nada bicara tiffany yang biasa saja tapi membuatku seperti tersambar petir besar.

“ohh, kau rindu kyu hyun?” sambung celine yang mengangguk-angguk mengerti dengan wajah polosnya. Menambah rasa panas memuakkan dalam ubun-ubunku.

“ck. Repot sekali. Kau tinggal menghubunginya, yoon. Lalu minta dia datang jika mendengar suaranya saja tak cukup”

Kini, grace menatapku mengiba.

“atau skype! Tidak perlu datang jauh-jauh kalau biayanya terlalu mahal”

Kuhembuskan nafasku sekali lagi. Eish, tiga manusia ini sulit sekali untuk diam. Siapa bilang aku merindukannya? Memangnya menjadi masalah besar untukku jika dia jauh disana? Memangnya aku harus berteriak frustasi jika ia tak menghubungiku serutin biasanya? Memangnya terlalu penting untukku kabarnya? Memangnya—memangnya..

Pokoknya tidak! aku tidak serindu itu.

“tidak. siapa bilang aku merindukannya!” kubuka suara pertamaku dengan sengitan didahi. Berusaha berbohong meski sepertinya gagal.

Tiffany dan grace memajukan tubuh mereka lalu menyingkirkan poni halus mereka. Memperlihatkan kening mereka yang mulus tepat didepan wajahku. Terperanjat, kuraba keningku cepat.

“nah, coba sekarang kau berkaca. Iris kupingku jika tak ada nama kyu hyun disana”

Tiffany duduk kemudian tertawa bersama grace. Mengabaikan delikan membingungkan dari celine yang sepertinya tak mengerti, kujatuhkan kembali kepalaku dalam lupatan tangan.

“yayaya! Berhenti membuatku merasa semakin buruk, tiffany!” teriakku keras.

Bukannya berhenti, yeoja itu justru kini tertawa keras.

Aku menahan emosiku dengan segera menyeruput coklat panas yang celine sediakan. Lalu tiba-tiba semua hampir menyembur begitu saja ketika dering ponsel menginterupsiku.

“kau sudah makan?”

Itulah yang pertamakali kudengar dengan jelas. Lalu tiba-tiba tubuhku seperti tersengat listrik. Hanya karena sederhana suara baritonnya. Aku meneliti kembali nama yang tertera pada layar ponselku lalu mendesah kecil.

Kutatap tiga orang itu dengan pandangan bengis lalu mendelik tiffany kesal. “urusan kita belum selesai, tiff” tunjukku padanya yang hanya tertawa geli. “a-aku rasa aku sudah kenyang. Aku akan ke apartemenku saja kalau begitu. Selamat malam”

Aku berlari, membiarkan ponselku menggantung tanpa kujawab sebelum mendekap buku diktat yang hampir saja terlupa lalu membanting keras pintu apartemen celine.

“halo?” jawabku kemudian.

“ya!! Kenapa lama sekali? Kau pikir sambungan internasional ini murah, hah?”

Dan detik berikutnya, kupicingkan mataku semakin kesal. Dasar namja sialan! Dipikirnya semudah itu menjawab teleponnya didepan teman-temanku? Dasar tidak tau terimakasih! Masih untung aku mau menjawab panggilannya! Arghh!!

“ya!!” pekikku kuat. Kulangkahkan kakiku menuju pintu sebelah lalu menekan beberapa angka kombinasi apartemen. “kau pikir mudah menjawab panggilanmu didepan mereka?! Salahmu yang menghubungiku tiba-tiba!!”

Kubuka pintu lebar-lebar lalu seketika menghempasnya cepat. Dia pikir, aku tidak bisa marah? Kugunakan nada kesalku sedemikian rupa agar dia sadar, yang seharusnya marah itu adalah aku, bukan dia!

“kau tidak suka aku menghubungimu?”

Kudelikkan padanganku pada ponsel dengan cepat. “Cho kyu hyun. Apa kau sudah gila, hah?”

“berhenti berteriak, yoon!”

“oh, ya? Coba katakan itu pada dirimu dicermin. Tuan yang terhormat!”

Lalu hening menyelimuti kami beberapa saat. Dalam keheningan itu, kucoba menormalkan nafasku lalu tak lama tersenyum kecil mendengar desahan nafasnya disana.

“aku, kan, hanya bertanya kau sudah makan atau belum?” dan kemudian kyu hyun membuka suaranya pertama. Dengan bariton lemah yang mencoba mengalah. Detik itu juga, seperti ikut tersihir, amarah dan rasa kesalku menguap cepat.

“ya, sudah. Biarkan aku menjawab kalau begitu” aku diam begitupun kyu hyun. Hening menyelimuti pembicaraan kami sejenak. “aku sudah makan. Baru saja selesai dari apartemen celine” jawabku atas pertanyaannya kemudian. “sekarang beritau aku alasanmu menghubungiku!”

“aku merindukanmu, bodoh!”

Dan kemudian aku mendelik malas. “jangan membodohiku, tuan yang terhormat. Kau jelas tak merindukanku!”

Aku mendengar kekehan ringan disana. Ditengah rasa kesalku yang kemudian kembali mencuat keudara. “ya, jangan mengambil kesimpulan sendiri. kau ini, bebal sekali”

“kau tidak menghubungiku cukup lama, jika kau masih ingat”

Aku menghenyakkan tubuhku di sofa lembut dalam apartemenku. Setelah sebelumnya mengitari pantri untuk mendapatkan segelas susu hangat.

“yoon—“

“apa kau lupa sudah berapa hari kau menghilang?”

“iya, aku tau yoon. Tapi—“

“hampir dua minggu! Cho kyu hyun! Keparat!”

Aku menghujat keras. Meletakkan ponsel tepat didepan bibir tipisku yang memekik kencang. Lalu samar kudengar ia menghela nafasnya ragu. “aku bilang aku tau, sayang—“

“bagus jika kau tau. Jadi, bisa perjelas apa alasanmu?”

Aku melenturkan tubuhku yang semula menegang karena amarah. Menyeruput susu hangat dan perlahan baru benar-benar menyadari jika aku belum samasekali menghidupkan penghangat ruangan.

“ya, aku tau aku salah. Tapi aku tak pernah berbohong padamu. Kau tau jelas itu. Aku benar-benar—“

“hooh! Iya! Kau merindukanku. Ha! Aku mengerti” buru-buru aku berjalan menuju penghangat ruangan yang terletak disudut sebelum akhirnya langkahku terhenti ketika tawa geli kyu hyun menghantam pendengaranku. “kenapa tertawa?” tanyaku seraya menghentikan langkah.

Lalu ia tertawa semakin keras. Semakin menjengkelkan.

“jadi, selama itu tanpa kabarku kau benar-benar frustasi, ya?”

Aku tau! Aku tau siapa dalang dibalik ini semua! “apa saja yang dia katakan padamu?”

Dan seperti tertangkap basah tapi tak takut samasekali, kyu hyun justru tertawa semakin menjengkelkan. “wah, benar. Kau hampir gila karena merindukanku”

Telingaku panas. Benar-benar  panas. Bukan karena kesal, tapi karena apapun yang dikatakannya benar. Tak terbantahkan. Sekaligus memalukan. Pasalnya, sejauh ini hanya ia saja yang selalu kelimpungan tanpa kabarku. Lalu sekarang, kenapa aku jadi seperti ini?

“kau ingin aku terbang kesana segera, sayang?”

“diam kau!!”

“atau ingin aku berdiri didepan apartemenmu segera?”

“aku bilang diam!!”

“tenang, aku juga merindukanmu, kok. Kau tidak akan malu sendiri”

Aku bisa gila! Dia benar-benar,, keparat sekali! “YA! Aku bilang diam!!” dan tawa besarnya memekakkan telingaku dengan cepat. “aku akan membunuh tiffany usai ini!!” teriakku besar-besar.

Lalu kyu hyun diam. Mungkin sedang membelalakkan matanya akut hingga tak mampu lagi tetawa. “sayang, aku—“

“kurasa sudah terlalu larut di korea. Kau bisa tidur sekarang, tuan yang terhormat”

“ya! Tapi tiffany—“

“semalat malam!”

Dan hubungan telepon berakhir seperti itu saja.

 

 

__

Kutundukkan kepalaku didepan buku diktat yang super tebal. Mencera setiap baris yang mungkin kuperlukan sebagai contoh untuk mengurus tugas akhir kuliahku nanti. Mataku menjelajah dengan terperinci. Lalu tiba-tiba, semua membuyar.

Aku menenggelamkan kepalaku dalam lembaran buku lalu mendesah berat. Ini sudah pukul setengah dua belas malam. Sudah lewat tiga jam semenjak hubungan ponsel kami kumatikan sepihak.

Awalnya aku biasa saja, tapi tiba-tiba aku kembali kesal ketika sudah sejauh ini keparat itu belum menghubungiku kembali. Ya, dia pikir aku hanya bercanda dengan guyonanku mengenai tiffany?

Aku benar-benar akan membunuh tiffany, jika aku mampu. Gadis itu,, sialan sekali. Aku bisa kehilangan seluruh harga diriku jika kyu hyun tau aku merindukannya dan kini yang terjadi, ia menghubungi kyu hyun. Hanya untuk memberitau jika aku merindukannya.

Opsi yang tidak buruk. Tapi tak pula sebagus itu.

Seharusnya kyu hyun sadar sendiri. aku benci jika kerinduannya hanya berdasar pada pengaduan tiffany. Benci sekali!

Dan saat ini, ia mungkin sedang kesal. Atau benar, hubungan internasional menguras pulsanya hingga sekarat atau mungkin dia sudah terlanjur bercumbu dengan bantal menikmati mimpi panjangnya.

Tapi, semua hal itu tentu akan terjadi ketika bumi berhenti berputar. Cho kyu hyun tidak akan kebihabisan uang. Fakta sialan yang membuatku membencinya. Atau fakta lain jika hidupnyaa itu seperti hewan nokturnal. Ia akan aktif sekali di malam hari. Tidak akan tidur sebelum pagi menjemput.

Atau mungkin dia kesal? Bisa jadi. Tapi dengan kemungkinan yang terlalu kecil.

Aku kembali mendesah berat. Nah, kan. Begini akhirnya jika terlalu banyak gengsi yang kuusung dalam hubunganku bersama lelaki yang memiliki ego setinggi langit. Sialan. Aku kembali merindukannya.

Setidaknya, kami belum sempat berbicara secara layak sebelum semuanya berakhir.

Memutuskan untuk menyerah, kututup buku diktat lalu berdiri dari meja belajarku cepat. Menuju dapur. Menyiapkan segelas susu hangat penghantar tidur jika tak ingin kedua kantung mataku semakin membesar besok.

Aku membuka lemari menyimpananku lalu menyeduh bubuk susu dengan air hangat. Ketika aku baru mengaduknya sebentar, bel apartemen berbunyi nyaring. Membuatku terhenyak malas.

‘ini celine. Aku tidak bisa tidur sendiri, yoon’

Begitulah biasanya suara celine didepan intercom. Lalu aku akan membukakan pintu dan melihat wajah pias celine yang memegang boneka dolpin kecilnya didepan dengan piyama pink yang lucu. Demi tuhan! Dia bukan anak kecil lagi. Kenapa celine seringkali takut hanya karena hujan berpetir atau kabar bagusnya, malam ini tidak ada hujan ataupun badai. Malam ini tenang. Dan celine masih ketakutan?

Astaga!

Kulangkahkan kakiku malas. Membawa segelas susu hangat lalu segera membuka pintu apartemen sebelum celine mati kedinginan.

“celine, malam ini—“

“kenapa lama sekali?!! Diluar dingin, tau!”

Aku melongo besar. Bukan celine. Tapi seekor beruang besar dengan matel super tipis yang langsung melangkah masuk tanpa kupersilahkan dan meringkukkan dirinya didekat penghangat ruangan.

Aku terdiam. Dan dinginnya malam menyadarkanku untuk segera menutup pintu apartemen dan mendatanginya dengan langkah besar.

“ya! Kau tidak bilang akhir musim masih sedingin ini. Kau menipuku!!”

Belum lagi aku bertanya, cercaannya menusuk-nusuk pendengaranku dengan cepat. Aku? Menipunya? Coba katakan pada bagian mana aku harus tertawa! Cho kyu hyun sialan!!

Kulangkahkan kakiku tanpa menjawab pertanyaannya. Mengambil selimut tebal lalu melemparkannya tepat didepan wajahnya. Membiarkan beruang besar itu melilitkan mantel hangat disekitar tubuhnya sebelum kusodorkan segelas susu hangat yang belum kusentuh samasekali.

“makanya, tuan sok tau, jangan jadi idiot jika berpacaran denganku”  kulihat ia mendelik tajam lalu kembali tak perduli dan menyeruput susu hangatnya, lagi. “ini sudah yang ketiga. Mau berapa kali lagi kau terjebak musim saat tiba-tiba mendatangiku?”

Aku duduk tepat didepannya. Menatapnya menyelidik meski aku tau itu sama sekali tak berpengaruh untuknya.

“jangan tatap aku seperti itu. Kau bilang ini akhir musim jadi kupikir sudah cukup hangat jika menggunakan matel setebal ini saja”

Aku tak menahan tawa geliku. “ya, kau memang bodoh sekali” tuturku cepat. Menatapnya yang kembali menyeruput susu yang kusinyalir sudah hampir tandas karena selera lelaki ini sungguh tak tanggung-tanggung. Dia rakus!!

“satu gelas lagi..”

Nah, kan. Kini ia justru tertawa polos seolah tindakannya tak sekalipun salah. Lihat, lihat! Tau sekali aku tak bisa menolak permohonan konyolnya.

Kurebut gelas besar itu cepat lalu berjalan meninggalkannya menuju dapur. Membuat dua porsi besar susu hangat. Tau-tau jika nanti ia masih berselera menyeruput cangkir ketiga. Dasar, rakus.

“jadi, apa kau sudah membunuh tiffany?”

Aku tak terkejut ketika kemudian ia datang dan menyandarkan dirinya dipinggiran pantri. Menatapku kini dengan sebuah senyum yang terlalu miring. Terlalu mengejek.

“belum. Belum bisa” jawabku sederhana. Aku masih butuh tiffany, penelitianku belum selesai dan kalau boleh jujur, aku tak seberani itu untuk membunuh manusia, cho kyu hyun.

“aku dengar itu..”

Aku menghela nafasku gusar saat dengan cepat ia sudah bisa menguasai isi kepalaku. Demi tuhan! Mana ada manusia yang bisa membaca pikiran orang lain.

“aku juga dengar yang itu..”

“berhenti menerka-nerka jalan pikiranku!” Aku berbalik dan menemukannya tengah tersenyum congak. Sialan. Sialan. Sialan!!

Tanpa aba-aban lelaki tinggi gendut itu berjalan mendekatiku, dengan seringaian yang belum luntur dan mata yang terang-terangan mengejekku dengan sangat gembira. Lalu tiba-tiba ia berhenti tak terlalu jauh. Hanya beberapa langkah.

“nah, aku sudah disini. Kenapa tidak memelukku saja?”

Dan aku hampir mati! Ia merentangkan tangannya dan tertawa geli. Membuatku ingin melemparkan susu hangat ini tepat didepan wajahnya jika saja aku sudah gila. Tapi, sial, aku masih ingin memiliki kekasih yang tampan. Susu hangat akan membuatnya menjadi buruk rupa.

“isch!! Kau mau apa sih datang malam-malam seperti ini? Kau tidak sedang bertengkar dengan appa lalu melarikan diri dari kuliah akhirmu, kan, tuan yang terhormat??”

Dan dia, kembali tertawa geli. “aku datang karena kau bilang kau merindukanku”

“aku tidak merindukanmu. Nah, kau sudah boleh pulang sekarang. Aku—“

“lagipula aku belum sebodoh itu untuk meninggalkan kuliah terkahirku” ia berjalan kemudian merebut salah satu gelas dan meninggalkanku. Sebelum mencapai pintu pantri ia berhenti sejenak. Kemudian, “oh ya, aku akan menginap tiga hari” ujarnya santai.

Bagai tersambar petir mulutku terdiam sejenak. Menginap? Untuk apa? Ini bahkan belum libur kuliah. Dia pasti benar-benar bolos! “ya! Tapi kenapa?”

“karena aku serius untuk menyelesaikan kuliahku dengan segera lalu melamarmu dan menyeretmu menuju korea.” Ia berhenti berbicara lalu wajahnya muncul dari baik tembok pantri. “omong-omong, aku lapar yoon” tukasnya sebelum akhirnya benar-benar pergi.

Lelaki keparat itu berlalu meninggalkanku dan debaran jantungku yang terlalu frustasi dan menggebu-gebu. Wajahku memerah. Lebih merah padam jika itu bisa terjadi.

Sebelum aku sadar jika aku sudah terdiam terlalu lama, kuhentakkan sendok yang semula kugenggam pada meja pantri. “ya! Cho kyu hyun aku bertanya kenapa kau menginap. Bukan kenapa kau harus menyelesaikan kuliahmu dengan cepat!!”

“tak apa sayang, aku tau aku menyukainya. Lihat, lihat, wajahmu memerah. Perlu aku abadikan?”

“YA!!”

 

 

__

Rindu itu datang seperti salju. Mendinginkan hati ditengah hangat yang menerjang. Menyapa tanah dengan kristal putih bersih penuh kasih.

Rindu itu seperti matahari. Selalu ada, menghangatkanmu ditengah dingin yang menusuk keujung kulit.

Rindu itu,, sepertimu. Membiarkanku tau jika ternyata cinta itu masih bersemayam kuat didalam hati.

 

Kutatap terjang wajah sempurnanya yang terpahat begitu istimewa. Ditengah dingin malam birmingham yang menurunkan salju diakhir-akhir masanya, kutorehkan senyumku pada langit tertutup awan gelap.

Untukmu, yang dalam diam menyampaikan rinduku padanya.

 

 

 

-FIN-

Wkaka ini freak banget-__- aku baru sadar kalau aku udah lama banget ga ngepost. So, baca ini aja dulu ya. Aku lagi dalam masa kaderisasai dan tugasnya banyak banget. Jadi, aku mohon pengertiannya aja. Aku bakal ngelanjutin unexpected kok. Insyaallah secepatnya..

 

With love, park ji yeon.

 

 

 

 

 

52 thoughts on “You..

  1. haha, seringkali aku melewatkan ff mu eon. maafkanlah..

    ff ini keren.. cuma momentnya kurang banyak..
    bersekuel nggak ya nih ff??

    LDR kayaknya menyakitkan deh memang..
    aaa Kyu ngelamar Yoong, cayo lah..

  2. ya ampuun, aku suka banget cerita yg seperti ini..
    ini ada kemungkinan dibikin sequel ga?

    suka pas bagian kyu telp setelah 2 minggu ga hubungi yoona😀
    romantisme nya yoona sama kyu selaaluu ngena, ga berlebihan tapi cukup buat aku senyum2, ahaha so sweet ^_^
    jatuh cinta sama sosok kyuhyun yg kayak gini😀

  3. Wehh. Yoong gengsi bilang kangen sama kyu ? Hahhahaha. Dan kyu kasih kejutan. Tau tau udah di apartemen aja ? Hehhehe. Disini mereka lucu. Ga terlalu romantis kyu nya. Tp tetep aja buat pipi yoong memerah? Hehehehe

  4. Duuuh yoone eon gensian banget ke kyu, apa salah nya coba bilang dia rindu ama kyu, hadoooh. Tapii disini kyu sabaar banget ya hehehe. Keep writing thor

  5. Aaa lucu banget :3 kyuhyun so sweet banget yaampun :3 sedih gitu tiba2 udah fin ada😦 sampe senyum2 sendiri gitu bacanya :3 ih pokoknya the best! Keep writing😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s