I Do Not Believe (Chap 2)

I do Not Believe yoona new

I Do Not Believe (YOONA Ver)

Im Yoona | Cho Kyuhyun | Seohyun

Yuko Washaki

Romance | Sad | Pscyo

PG-15 | Chapter | Bad Story | Typo

Warning : di dalam ff ini ada kata-kata yang mengandung unsur tidak sopan,dan harap perhatikan tahun yang tertera di setiap kejadian. Jika ada tulisan dengan font miring, itu berarti flashback.

……………

 

yoona-harpers-1

 

Im Yoona (24 Tahun)

 

 

 

seohyunchuseok

 

Seo Joo Hyun (19 Tahun)

 

10394863_623420304432188_8105346129940678883_n

 

Cho Kyuhyun (26 Tahun)

 

…………………….. 

 

“Yoong?”

Shock. Mata indah penuh dengan keteduhan itu kini menatap tak percaya sosok cantik dengan rambut terurai berantakan. Menggengam pisau dengan kilatan cahaya diujungnya. Kegelapan. Mata indah yang selalu disukainya itu menggelap memancarkan kilatan emosi serta dendam. Tidak. Jangan lagi. Ini terlalu menyakitkan untuknya.

“Yoong….” digenggamnya tangan dingin nan ringkih gadis miliknya tersebut. Mencoba mengembalikan kesadaran yang menghilang dari gadisnya tersebut. Kesedihan. Terluka. Melihat gadis yang amat dicintainya dengan keadaan yang begitu menyayat hati

“Kau harus mati. Wanita jalang. Penghianat”

“Im Yoona. Ini aku. Cho Kyuhyun” Sakit. Linangan air mata di wajah tampan tersebut kini mengalir dengan mulus melewati rahang kokoh miliknya. Di rengkuhnya tubuh ringkih gadisnya tersebut. Tidak memperdulikan rasa sakit yang ditumbulkan pisau tersebut. Membasahi baju serta seprai dengan cairan merah pekat yang terus mengalir. Hatinya lebih sakit dibandingkan dengan luka sayatan yang ditimbukan pisau pada lengannya.

“Sadarlah. Ini aku Cho Kyuhyun”

 

….

….

….

~Chapter 2~ 

 

3 Juli 2000

Hiruk pikuk kebahagiaan begitu terasa nyata. Tawa bahagia menggema di seluruh sudut ruangan. Ucapan selamat mengalun begitu indah berulang-ulang. Rintik rintik hujan. Petir yang saling bersambutan. Bukanlah suatu penghalang untuk menutupi rasa kebahagiaan yang sedang terjadi saat ini.

Sungguh memuakan. Dua kata yang menggambarkan suasana pesta tersebut, begitulah kiranya yang dipikirkan seorang Im Yoona. Yeoja kecil yang menatap datar setiap orang yang menatapnya dengan pandangan heran. Gaun hitam yang digunakannya begitu menggambarkan kepribadian yang dimilikinya. Rambut panjang bergelombang yang di ikat rapih. Sepatu hitam yang sangat kontras dengan warna gaun yang digunakan. Cantik. Yeoja kecil tersebut begitu cantik dan memukau

“Eonni!!”

Pekik yeoja kecil pemilik pesta tersebut. Memanggil seseorang yang kini hanya menatapnya dengan pandangan. Datar. Dingin. Hina. Jijik. Namun gadis kecil pemilik persa tersebut hanya tersenyum mendapat repon seperti itu. Sudah biasa.

“Kenapa eonni sendiri disini?” Tak ada jawaban. Hanya kebisuan yang menjawab pertanyaan tidak penting. Menurutnya. Namun yeoja kecil tersebut masih dengan senyum termanisnya, menatap sang kakak dengan pandangan lembut.

“Ayah dan Ibu menunggu disana. Kita foto bersama” di tariknya lembut pergelangan ringkih putih mulus tersebut. Menuntun. Menunjukan arah dimana keberadaan orang tua mereka. Ani. Bukan mereka. Tetapi yeoja kecil pemilik pesta tersebut.

“Lepaskan” Sirat ketidak sukaan tergambar jelas dinada suara yang dikeluarkannya. Im Yoona. Masih belum beranjak dari tempatnya berdiri sedari tadi. Menahan diri dari tarikan lembut yeoja kecil tersebut. Pandangan matanya masih seperti sebelumnya. Datar. Dingin. Hina. Jijik.

“Eonni…”

“Aku bukan eonnie mu. Seo Joo Hyun. Sampai kapanpun tidak akan pernah”

Raut muka kesedihan terlihat jelas diwajah malaikat yeoja kecil bernama Seo Joo Hyun tersebut. Namun senyuman manis masih bertengger utuh di bibir kecilnya, ia sudah terbiasa dengan kata-kata tajam yang selalu terlontar dari bibir tipis tersebut.

“Ayah dan Ibu menunggu kita”

“Dia ayah dan Ibu mu. Bukan aku”

 

….

….

….

 

2014

Raut wajah penuh dengan kehampaan tergambar jelas di wajah cantik miliknya. Tatapan datar miliknya masih terasa sama dengan beberapa tahun silam. Aku merindukannya. Merindukan senyum manisnya yang dulu sempat singgah di wajah cantik itu. Luapan emosi memenuhi diriku. Mengepal, membiarkan buku-buku jari ku memutih. Mereka. Tidak akan pernah ku maafkan. Semua karenanya.

 

“Yoong…”

“Buat dia jatuh cinta pada mu. Lakukan apapun. Aku baik-baik saja”

Aku hanya tersenyum menanggapi semua perkataannya. Semua yang ia katakan adalah perintah untuk ku. Yah, sekiranya ia telah kembali kedirinya yang seperti biasa. Dirinya yang penuh dengan luapan emosi tertahan. Aku mencintainya. Sejahat apapun dirinya.

“Semua akan berjalan dengan lancar. Kau tenanglah”

Tubuh ringkihnya yang berbalut baju simple sungguh sangat mempesona. Sedikit kebanggan mengetahui bahwa akulah pemilik dari tubuh ringkih itu. Im Yoona. Akan ku lakukan apapun untuk mu. Termasuk menjadi pembunuh sekalipun..

Ku ayunkan kaki ku, mendekatinya. Mengikis jarak yang ada. Aroma tubuhnya yang begitu harum menyerbak memenuhi seluruh rongga indra penciuman ku. Mawar. Aroma tubunya. Ku lingkarkan lengan kekar ku tepat di pinggang ramping miliknya. Menyeruakan wajah ku tepat dilekukan leher jenjang miliknya, mencium lebih dalam aroma yang sangat ku sukai. Mengecup sesekali. Tidak membuat tanda..

“Aku tau hari ini kau masuk siang…” ku biarkan kalimat ku menggantung. Kembali menyibukan diri menghirup aroma tubuhnya yang sudah menjadi candu untuk ku, sebelum kembali melanjutkan kalimat pembicaraan ku.

“Jangan menghindar. Ku mohon. Aku sudah cukup gila selama sebulan ini”

Senyum tipis terukir di wajah cantik miliknya. Senyum yang selalu ku rindukan. Senyum yang sudah lama hilang. Senyum yang hanya akan bertahan dalam kurun waktu kurang dari 5 detik.

“Diam mu… aku anggap sebagai ‘Ya’ sayang”

Ku eratkan pelukan pelukan pada pinggang ramping miliknya. Membuat tubuh kami saling menempel tanpa ada jarak sebagai pembatas. Oh sial. Aku sungguh merindukan tubuh ini. Kecupan ku pada leher jenjangnya semangkin membabi buta. Desahan kecil keluar dari bibir tipis nya. Bibir yang selalu tersenyum sinis itu kini mendesah kecil karena perbuatan ku.

Secara perlahan namun pasti. Tangan kekar ku merambat naik. Mencari sesuatu yang sudah menjadi tempat favorit ku selama dua tahun belakangan. Sesuatu yang ku rindukan selama hampir sebulan ini. Senyum kemenangan terukir indah dibibir tebal ku. Yah aku mendapatkannya. Memerasnya dengan lembut dan teratur.

“Kyu…ahhh”

“Aku suka suara mu”

Oh Shit!! Aku sudah tidak bisa menahan ini lebih lama. Rasa sakit dan ngilu kini mendera sesuatu yang membuat celaku mengetat. Persetan untuk waktu yang singkat ini!

“Yoona-ah… Aku  tidak tahan lagi…” pandangan memburam. Tubuh menegang. Suara erangan yang tak pernah berhenti. Nafas yang terasa memberat. Nafsu sudah menguasai diri kami sepenuhnya

“Tubuhku terlalu merindukan mu”

 

*maaf author tak kuat melanjutkan lebih dari ini -_-v*

 

….

….

….

5 Maret 2003

Langit hitam dengan Guntur yang saling bersahutan. Tiupan angin serta deras hujan tak membuat dua sosok manusia berlawanan jenis yang saling berhadapan itu merasa terusik. Tatapan datar dan seringai sinis. Menghiasi wajah keduanya.

“Ck lihat apa yang ku temukan disini? Seorang pembunuh. Kau sungguh hebat Seo Yoona. Membunuh tanpa meninggalkan jejak sedikit pun, membuat polisi atau siapapun tidak dapat mengetahui siapa pembunuh sadis di balik ini semua”

“Trimakasih atas pujiannya Minho-ssi”

“Sama-sama. Tapi.. tunggu… apa Ibu mu yang bodoh itu yang mengajari mu berbuat seperti ini?”

“Ck rendahan” lanjut pria tampan dengan senyum merendahkan. Tertawa puas dengan lantang memenuhi setiap lorong gelap lantai tiga gedung sekolah mewah tersebut. Pandangan mata kosong nan datar tersebut kini terlihat menggelap. Genggaman tangan pada Pisau dengan cairan merah yang terus menetes di ujungnya yang runcing, kini semangkin mengerat.  Menatap tajam sirat emosi pada sosok pria yang masih tertawa dengan puasnya

“Berani sekali kau menyebut bodoh pada Ibu ku. Kau sungguh tidak tau berhadapan dengan siapa Choi Minho”

“Apa kau merasa tersinggung? Bukan kah itu benar? Ibu mu. Bodoh” raut wajah merendahkan masih menempel dengan rapih di wajah tampan pria bermarga Choi tersebut. Puas dengan setiap kalimat yang ia lontarkan. Tidak menyadari perubahan raut wajah dan aura gelap yang terpancar jelas dari sosok gadis cantik dengan pakaian berlumuran darah tersebut.

“Kau akan menyesal mengatakan itu”

Dengan cepat dan tepat. Pisau dengan ujung runcing tersebut kini menancap tepat di dada kiri pria bermarga Choi tersebut. Menembus melewati jantung yang sedang berdetak, hanya dalam sekali lemparan. Seyum kemenangan terangkai indah di wajah cantik gadis bernama Yoona tersebut.

Dengan langkah santai, mendekati seonggok daging yang kini sudah tak bernyawa. Menekan lebih dalam pisau yang tertancap dengan kokoh di tubuh pria tampan yang beberapa menit lalu menghina Ibu tercintanya. Mengoyak. Mencabik. Merobek. Tubuh tak bernyawa yang berada di bawah kuasanya saat ini. Mengabaikan cairan merah pekat yang terus keluar mengenai wajah cantik miliknya. Membasahi pakaian putih yang kini penuh dengan cairan merah berbau anyir.

Mencabut dan menancapkannya kembali benda tajam yang kini sudah penuh dengan cairan berbau anyir tersebut. Mengoyak lebih dalam bagian tubuh yang lain dari pria tersebut. Menyenangkan. Pendapat pertama yang keluar dari pikiran gadis bernama Yoona.

Senyum manis kini terlukis jelas di bibir tipis miliknya. Menatap puas hasil karya indah yang diciptakannya.

“Bukan kah sudah ku bilang bahwa kau akan menyesal Choi Minho? Oh satu lagi, Im Yoona. Nama ku Im Yoona. Bukan Seo Yoona”

Tidak ada yang menyadari. Sosok makhluk hidup yang berdiri kaku, menatap tak percaya kejadian pembunuhan yang terpampang jelas di depan matanya. Choi Minho. Park Jiyeon. Teman sekelasnya, tergeletak tak bernyawa dengan keadaan yang mengenaskan. Darah yang terus  mengalir. Tulang rusuk yang terpampang jelas, menampilkan jantung dengan robekan besar. Mengerikan. Dengan ragu, ia menyuarakan sebuah nama. Memastikan.

“Yoong?”

Masih dengan senyum manis yang terlukis rapih. Menolehkan kepalanya, menatap sosok tinggi yang memanggilnya. Tak ada rasa keterkejutan atau ketakutan di wajah cantik namun terlihat menyeramkan untuk saat ini.

“Hai Kyu. Kau sudah lama disana? Mau mencoba? Ini menyenangkan…”

 

….

….

….

 

2014

Suara sepatu yang bertabrakan dengan lantai marmer menjadi musik pengiring setiap langkah kaki ku. Mengeratkan genggaman buku-buku tebal yang tepat berada di samping tubuh ku. Menatap datar setiap makhluk yang ku lewati. Mengabaikan tatapan memuja dari setiap gadis yang ku temui. Seringai tipis menghiasi wajah ku.

 

“Sekretaris Kim…”

Menerawang. Menatap jauh kemasa lalu. Masa-masa indah dengan senyum manis yang pernah terukir. Pria tua dengan sedikit rambut yang sudah memutih, menatap ku dengan penuh hormat. Setia menungguku melanjutkan kalimat yang sengaja ku biarkan menggantung diatas angin

“Urus segala Sesuatu yang ku sampaikan tempo hari. Universitas Seoul. Bagaimanapun caranya, buat saya dapat masuk ke sana dengan status sebagai dosen”

“Baik Tuan. Apa ada lagi?”

“Jangan sampai ada satu orang pun tau tentang identitas saya yang sebenarnya, tak terkecuali pernikahan saya. Termasuk pihak unversitas… karena itu akan bisa menjadi suatu penghalang untuk rencana yang sudah tersusun rapih ini”

“Baik Tuan Muda. Saya mohon undur diri, permisi”

“Ya”

 

Ku langkahkan kaki ku semangkin cepat. Memasuki pintu bercat putih polos, mengabaikan setiap pandangan yang menatap ku dengan tatapan bertanya. Menatap lurus pada satu objek yang menjadi inti dari semua rancana yang tersusun rapih

“Hallo. Saya Cho Kyuhyun. Dosen baru kalian. Senang bertemu dengan kalian semua”

Raut wajah terkejut terpampang jelas di wajah cantik polosnya. Membuat ku tersenyum penuh kemenangan.  The game begins….

TBC

Mian ne kalau terlalu pendek😦 masih banyak yang harus di perbaiki alur ceritanya, jadi hanya segini dulu deh aku post nya.. Mian ne. aku usahain nanti cahp 3 nya akan lebih panjang dari ini deh🙂

Gomawo. jangan hanya baca dan tidak mau komen ya, karena itu bisa buat aku patah hati/? dan malas untuk melanjutkan ff ini. baiklah, aku tunggu komentar-komntar dari kalian…🙂

78 thoughts on “I Do Not Believe (Chap 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s