Painfully (Chap 1)

 PAINFULLY NEW

Painfully | Chapter | PG-15

De_Pus19 & Yuko Washaki

Angst | Romance

Im Yoona | Cho Kyuhyun | Kris Wu | Seo Joo Hyun

Victoria Song | Huang Zing Tao

Disclaimer | This story is mine, cast are belong god

Warning | Garing, typo, bad story, and other

Poster by Yuko Washaki

Happy reading | Hope you like it

 

Percayakah kalian semua manusia didunia ini berhubungan satu sama lain?

Bukan karna darah, bukan karna ras, dan bukan karna agama. Tapi, karna takdir. Takdir yang sudah mengikat kita. Membuat kita mau tidak mau harus mengikuti takdir itu. Walaupun sakit ataupun sulit. Percayalah, takdir tak akan menjerumuskanmu kedalam lorong gelap yang tak berujung.

Cinta?

Cinta itu bagaikan garam bagi sebuah takdir. Tanpa cinta, takdir itu akan terasa hambar. Tak berasa dan tak nikmat jika disantap. Tapi terlalu banyak garam, akan membuat masakan itu terasa berlebihan dan membuatmu ingin muntah.

Ada sebuah kisah tentang seorang wanita yang terlalu banyak memiliki garam didalam takdirnya. Terlalu banyak hingga ia ingin sekali memuntahkan semua isi perutnya. Tapi percayalah, itu tidak mungkin terjadi.

Namanya Im Yoona. Gadis kecil yang tak berdosa itulah arti namanya. Arti nama wanita itu terlalu cantik untuk takdirnya yang terlalu buruk. Dia bukanlah penderita HIV AIDS, bukan penderita kanker stadium akhir, atau apalah itu sebangsanya.

Jika kalian melihatnya, kalian akan berpikir ‘hey, dia wanita yang sempurna’. Tapi, jika kalian mengenalnya kalian akan berkata ‘nasibmu sungguh sial, Im Yoona’. Percayalah kalian akan mengatakan itu, karna semua orang mengatakan hal yang sama.

Semua berawal dari tempat ini. Tempat dimana kisah ini akan membuat kalian mual.

“Lihat dia” tunjuk salah satu pelayan wanita yang berada dipojok cafe “Dia sama sekali tidak cantik. Tapi, kenapa semua pria menyukainya?” tanya pelayan itu pada temannya.

Sudah ku katakan, kalian akan mual mengetahui kisah ini.

Pelayan wanita bertubuh kecil itu menoleh menatap seseorang yang dibicarakan temannya. Sejujurnya, ia tidak ingin mencari masalah pada orang lain. Dan harus dirinya akui seseorang yang menjadi topik pembicaraan mereka berdua sangatlah cantik.

“Sudahlah Eunji, membicarakan orang lain itu adalah perbuatan yang tidak baik” nasihat pelayan itu acuh tidak acuh. Pelayan bertubuh kecil itu melanjutkan pekerjaannya, meninggalkan temannya-yang bernama Eunji-sendirian.

Eunji mengerucutkan bibirnya kesal sambil menatap punggung temannya yang sekarang sudah menghilang dibalik pintu dapur. Menyebalkan? Sungguh? Kaulah yang menyebalkan Eunji. Pelayan itu kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda tadi. Tapi, sesekali ia melirik seseorang yang tadi sempat menjadi topik pembicaraannya.

Pandangan mereka bertemu, Eunji menatapnya tajam dan berkata “Bitch!” lalu kembali melanjutkan aktivitasnya.

Orang itu tepatnya wanita itu hanya bisa menghembuskan nafasnya panjang. Mencoba mengontrol emosinya yang kapan saja bisa meledak. Mungkin, kalau kalian menjadi dirinya. Kalian pasti akan menendang wajah pelayan cantik itu. Tapi, dia bukan kalian. Dan dia tidak mungkin melakukan itu.

Wanita itu bukanlah orang yang pedendam. Jadi, semoga Tuhan memberikan kesabaran yang luar biasa kepadanya.

Wanita itu kembali melanjutkan pekerjaannya-yang sempat tertunda karna mendengar ucapan yang sangat menyakitkan itu-sebagai seorang kasir di café yang tidak terlalu besar ini. Tapi, selalu ramai dikunjungi banyak orang setiap harinya.

Tapi tetap saja, otaknya yang berkapasitas cukup besar itu masih mengelolah ucapan rekan kerjanya. Ia marah. Oh ya, tentu saja. Tapi, apa yang harus ia lakukan? Menjambak rambut Eunji? Kalian bercanda? Dia tidak mungkin sejahat itu.

“Hey” wanita itu mendongak menatap seseorang yang baru saja menyapanya “Hey” balasnya dengan ditemani sebuah senyuman manis.

“Apa dia menyusahkanmu lagi?” tanya seorang pria didepannya sambil mengarahkan matanya menuju Eunji. Wanita itu mengikuti arah pandang pria didepannya. Dan titik fokusnya berhenti pada sebuah bayangan.

Eunji? Oh God. Kau tahu? Dia benar-benar menyusahkanku, pikirnya.

“Kurasa kau tahu apa jawabannya”

“Jadi” pria itu menggantungkan kaliamatnya diudara. Ia menaikkan salah satu alisnya yang membuat wanita didepannya menautkan alis “Haruskah aku memecatnya dia?”

Wanita itu memutar bola matanya malas lalu menatap pria didepannya dengan tajam “Jangan lakukan itu Tuan Cho”

“Ok, baiklah Nona Im. Bagaimana kalau makan malam hari ini?” wanita itu mengangkat salah satu alisnya “Yeah, jika kau tidak mau. Tidak masalah”

“Jam berapa?” tanya wanita itu tanpa melihat pria tampan didepannya. Nampaknya uang yang sekarang ada dalam genggamannya jauh lebih menarik dari pada pria itu.

Pria itu tersenyum menyeringai “Jam 8 malam di restoran Papyto”

“Okay”

Pria bermaga Cho itu tersenyum sambil berjalan menuju ruang kerjanya-yang tepat berada disamping kasir-lalu membukanya. Tapi ia mengurungkan niatnya dan kembali membalikkan tubuhnya menghadap wanita yang tadi sempat berbincang dengannya.

“See you” ujarnya sambil melambaikan tangan.

Wanita itu terkekeh kecil “See you” balasnya.

“Jangan menatapku seperti itu” ujar wanita cantik berambut panjang yang tengah mengacak-acak lemari bajunya. Wanita cantik itu bernama Im Yoona. Ia adalah seorang kasir disebuah café kecil dipinggiran kota Seoul.

Yoona mengambil salah satu gaun yang tergantung dilemari bajunya. Gaun berwarna coklat kayu. Gaun itu sangat cantik untuk wanita yang sama cantiknya. Yoona membalikkan tubuhnya menghadap seseorang yang tengah tertidur diatas ranjangnya.

“Bagaimana?”tanyanya sambil menatap sahabatnya.

Wanita yang berparas tak kalah cantik dengannya itu bangkit dari tidurnya. Ia menopang dagunya dengan kedua tangannya sambil mengetuk-kutuk jemari lentiknya didagu “Biasa saja”

“Yak, Victoria Song. Aku serius” wanita cantik bernama Victoria itu menggelidikkan bahunya tidak tahu “Kau ini. Ugh… aku harus memakai apa?” ujar Yoona sambil membanting tubuhnya diatas kasur.

“Memangnya kau ingin berkencan dengan siapa?” tanya Victoria.

Yoona terdiam cukup lama. Ia memikirkan jawaban apa yang seharusnya ia jawab atas pertannyaan sahabatnya itu. Yoona ingin sekali menjawab jujur pertanyaan yang baru saja dilontarkan sahabatnya itu. Tapi, sepertinya ia harus berpikir dua kali untuk berkata jujur.

“Dengan seorang pria”

Victoria memutar bola matanya malas lalu kembali merebahkan tubuhnya disamping Yoona. Hey, Victoria Song itu tidak bodoh. Ya memang, dia tidak jenius. Tapi hey, dia tidak sebodoh itu untuk berpikir teman kencan sahabatnya adalah seorang wanita.

Setidaknya untuk saat ini ia masih berpikir Yoona itu normal. Ok, mungkin terdengar aneh. Tapi percayalah, wanita secantik Im Yoona tidak pernah berkencan ataupun melirik pria manapun didunia ini. Ya, fakta itulah yang ia dapat selama mereka bersahabat hampir dua tahun.

“Aku tahu Im Yoona. Kau berkencan dengan seorang pria. Tapi, siapa pria yang beruntung itu?” tanya Victoria sambil sesekali menggoda Yoona.

Dengan sekali gerak, Yoona bangkit dari tidurnya lalu merapikan seluruh pakaiannya “Aku akan memakai gaun ini” guam Yoona seakan memberi tahu apa yang akan ia pakai “Vic, menurutmu aku harus memakai high heels yang mana?” Yoona mengangkat dua pasang high hells miliknya “Ini?” high heels yang pertama berwarna putih “Atau yang ini?” dan high heels yang kedua berwarna coklat tua.

“Oh, bagaimana dengan tasnya?” ujar Yoona panik.

Victoria bangkit dari tidurnya lalu berdiri didepan Yoona yang sedang dilanda kepanikkan. Entahlah, ia merasa ini untuk pertama kalinya Yoona berkencan dengan seorang pria. Atau mungkin, pria itu sungguh istimewa bagi seorang Im Yoona.

“Ya… ya… ya…” ujarnya setengah berteriak, mencoba meredahkan kepanikan wanita didepannya kini.

Victoria mengambil gaun yang tadi dipilih Yoona, high heels berwarna coklat tua, dan hand bag dengan warna senada lalu melemparnya keatas ranjang “Puas?”

“Jadi si-”

“Tunggu” potong Yoona dengan cepat “Kau yakin? Maksudku, lihat rambutku. Coklat. Lalu semua barang yang kau pilihkan juga berwarna coklat. Apa tidak terlalu aneh?”

Oh ya, ternyata presepsi yang baru saja diujarkan wanita berdarah Tionghoa itu benar adanya. Look, seorang Im Yoona bahkan panik hanya karna semua barang-yang mungkin akan dia pakai nanti-berwarna sama dengan rambut coklat bergelombang miliknya.

“Ayolah nona Im, jangan mengalihkan pembicaraan. Aku tahu kau menyukai warna coklat” skatmat “Jadi, siapa pria itu?”

Senjata makan Tuan. Sebuah pribahasa yang sangat cocok untuk keadaan wanita yang terlahir 27 tahun yang lalu. Ya, ia harus menjawab pertanyaan yang sangat ingin ia hindari. Bukan bermaksud untuk berbohong. Seorang Im Yoona tidak hebat dalam soal itu.

Tapi… ehm… sepertinya kalian tidak perlu mengetahui hal ini sekarang. Karna cepat atau lambat, kalian akan mengetahuinya sendiri.

“Teman kecilku” jika kalian berpikir Yoona berbohong. Berarti kalian salah besar.

“Sungguh?” Yoona mengangguk “Omo! Persahabatan menjadi cinta!” mau tidak mau wanita itu harus mengangguk lagi “Yak, hidupmu seperti drama saja” dan lagi ia hanya bisa mengangguk dengan senyuman bodoh yang tertempel diwajah cantiknya.

“Siapa namanya? Pekerjaannya? Dia lulusan mana? Apa rumahnya jauh dari sini? Nomor telponnya? Status keluarganya? Pekerjaan orang tuanya? Asal usulnya? Siapa dia? Ayo jawab pertannyanku” cecar Victoria dengan penuh semangat.

Yoona hanya diam sambil menatap Victoria tanpa berkedip “Bisa kau ulang pertanyanya?”

Seorang pria bertubuh jangkung-dengan setelan jas berwarna abu-abu terang dan sepatu hitam dengan harga selangit-melangkah dengan angkuh didepan banyak orang yang tengah membungkukkan badan padanya.

Dibelakangnya mengekor lebih dari 5 orang yang memakai pakaian yang tak jauh berbeda dengannya. Ia adalah Kris Wu. Salah satu pewaris Wu Corp. Siapa yang tidak mengenal dia? Nampaknya tidak ada. Hampir semua orang yang tinggal di Negeri Tirai Bambu itu, mengenal pria ini.

Seorang pria angkuh yang terlahir dengan sendok perak dimulutnya. Seorang pria yang hanya mengenal uang. Seorang pria angkuh yang memiliki otak berkapasitas besar. Seorang pria angkuh yang hanya bisa bersenang-senang. Seorang pria angkuh yang mampu menaklukkan hati semua wanita.

“Pukul 10 nanti, kau harus menghadiri rapat perusahaan. Setelah makan siang, kau harus pergi ke Seo Corp. Lalu pukul 4 sore, kau akan bertemu dengan wartawan tv swasta. Lalu-”

Kris menghentikan langkah kakinya, membuat semua orang yang mengekor dibelakangnya ikut berhenti. Termasuk seorang pria yang tengah mengenggam sebuah buku angenda ditangannya ikut menghentikan ucapannya.

“Sekarang pukul berapa?” tanya Kris datar.

Dengan cepat pria bermata panda disampingnya melirik arloji yang melingkar ditangannya “Pukul 8 pagi” guamnya memberi tahu.

Kris menatap tajam pria bermata panda disampingnya “Sekarang masih pukul 8 pagi Huang Zing Tao. Tapi, kenapa kau sudah memberitahu seluruh acaraku hari ini?”

Pria bermata panda itu-Huang Zing Tao membalas tatapan tajam yang dilayangkan Kris. Dia adalah sahabat sekaligus sekertaris pribadi pria berdarah Canada itu “Yak, aku ini sekertarismu bodoh” ujarnya setengah berbisik. Takut orang lain mendengar ucapan sekaligus hinaan yang dilontarkannya.

“Baiklah Sekertaris Huang. Kau urus saja semuanya” ujar Kris sambil melenggang pergi meninggalkan Tao dan juga pemengang saham perusahaan yang tadi mengekor dibelakangnya.

Tao menatap tak percaya sahabatnya itu. Kenapa sikapnya tak pernah berubah? Apa itu sikap seorang pewaris perusahaan besar seperti Wu Corp? Bagaimana kalau para pemengang saham perusahaan tak berpihak padanya? Posisinya pasti akan terancam.

Oh ya, hampir saja Tao memukul kepalanya sekeras-kerasnya. Ia lupa memberitahu Kris kalau 10 menit lagi ada rapat tertutup pemegang saham perusahaan yang mendukungnya. Kenapa dia bisa sebodoh ini?

“Manager Kris Wu” panggil Tao sambil berlari kecil menuju Kris yang tengah berdiri didepan lift “10 menit lagi kita akan menghadiri rapat dengan pemegang saham yang mendukungmu”

“Sudah kukatakan, kau urus semuanya ok” ujarnya sambil melenggang masuk kedalam lift. pintu lift itu tertutup tapi dengan cepat Tao menahan pintu lift itu dengan kakinya “Bagaiman kalau para pemengang saham tak berpihak padamu? Posisimu akan terancam, kau tahu?”

Kris tertawa kecil menatap Tao yang tengah menaham amarahnya “Aku tidak perduli, kau tahu?” ia kembali menekan tombol lift membuat pintu lift kembali tertutup.

“Anak itu!” Tao menghembuskan nafasnya panjang “Sabar Tao. Kau harus sabar” guamnya mencoba menenangkan emosinya yang hampir memuncak tadi.

Tao membalikkan tubuhnya menatap para pemegang saham yang tengah berbisik-bisik. Yang Tao yakini, mereka pasti membicarakan sikap semena-menannya Kris. Anak itu memang tidak bisa diajak kerja sama.

Tao berlari kecil meuju para pemegang saham lalu membungkukkan badan “Maaf”dengan senyuman lebar dibibirnya ia berkata “Kalian tahu kan? Manager Wu sangat sibuk akhir-akhir ini. Apalagi sekarang, Presedir Wu Junsu akan mewariskan jabatannya pada salah satu dari kedua cucunya. Ia benar-benar sibuk. Maka dari itu, aku akan menggantikannya”

Beberapa dari para pemegang saham masih menujukkan ekspresi tidak sukanya atas sikap Kris tadi. Tapi, dengan sekuat tenaga Tao mencoba menjelaskan semuanya, ya walau harus dibumbui kebohongan kecil.

Tao melirik arlojinya lagi. Pukul 08.10 “Oh, sepertinya rapat harus segera dimulai. Bagaimana kalau kita membicarakannya diruangan Manager Wu?”

Kris menghentikan langkah kakinya tepat disebuah pintu besar bercat coklat didepannya kini. Tanpa banyak berpikir ia segera menekan gagang pintu dan mendorong pintu berbahan baku kayu mahoni itu.

“Oh, kau sudah datang”

Kris tidak menjawab. Ia membungkukkan badannya kepada seorang pria paruh baya yang tengah menggenggam tongkat golf didepannya “Duduklah” pinta pria paruh baya itu yang tak lain adalah ayah kandung Kris.

Tuan Wu meletakkan tongkat golfnya ditempat biasa ia menyimpan tongkat itu lalu berjalan dan duduk tepat dihadapan anak kandungnya “Ada apa kau memanggilku?” tanya Kris to the poin.

“Kau ingin minum apa?” Kris tersenyum mengejek. Apa dia tidak salah dengar? Ayahnya bertanya dengan sopan padanya. Tolong seseorang katakan padanya kalau ini semua bukan mimpi.

Tapi satu hal yang Kris tahu, manusia sebejad Wu Yi San pasti mempunyai motif tersembunyi dibalik ucapan manisnya. Dan Kris tahu akan hal itu. Tuan Wu Yi San tertawa kecil. Ia sadar pertanyaan yang dilontarkannya adalah sebuah basa-basi belakang. Dan Tuan Wu Yi San tahu, Kris sudah mencium motif busuk dibalik ucapan baiknya.

“Baiklah” Tuan Wu Yi San mengubah ekspresinya menjadi datar dan dingin, tak ada lagi senyum yang tertempel diwajahnya “Aku tahu kau tidak menyukaiku. Tapi, satu hal yang harus kau lakukan” ia menyeringai “Dapatkan posisi itu. Jangan biarkan sepupumu mendapatkan posisi itu. Kau mengerti?”

Kris tertawa mengejek. Hey, pria ini bukanlah orang bodoh “Kau tidak perlu memberitahuku. Karna aku pun sudah tahu” Kris bangkit dari duduknya dan membungkukkan badannya lalu melenggang pergi.

“Tapi, satu hal yang tidak kau ketahui” ia menghentikan langkah kakinya saat suara Tuan Wu Yi San terdengar lagi “Dia adalah orang yang bejad. Sama bejadnya dengan kau dan aku. Dia pasti akan memilih salah satu cucunya yang mampu memperkuat perusahaannya. Jadi, berusahalah sebaik mungkin”

Kris terdiam beberapa saat. Cih, kenapa dia dikelilingi orang-orang bejad seperti ayah dan kekeknya? Kenapa nasibnya begitu sial ? “Aku akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan posisi itu”

 

 

~TBC~

 

hai. udah lama banget nih kayaknya author nggak post-post ff terbaru author.. mian ne, author banyak tugas sekolah, jadi nggak sempet deh🙂 gomawo ne yang sudah membaca dan meninggalkan komentar^^

60 thoughts on “Painfully (Chap 1)

  1. Daebak..
    Cpa sepupu kris yg d.maksud? Kyuhyun khag? Aigoo..
    Next chaptr d.tnggu n jgn lama yah thor.
    Suka ma karakter kris n yoona disni🙂

  2. waktu lihat genre nya angst sempat ragu utk buka .. tpi akhirx tetap di buka dan eng ing eng… Ceritanya keren dan bikin penasaran.. Next chap ditunggu..

  3. Masih bingung sama ceritanya -.- next chapter harus lebih detail dan panjang ya thor
    Aku harap ada cinta segitiga antara Yoona Kyuhyun Kris
    Jangan lama-lama yaaa thor
    Keep writing

  4. Masih agak bingung hehehehhehehe tp semoga aja dipart selanjutnya bisa ngerti, disini kyunaudh saling suka yaa…… Trus ntar kris ketemu yoona kapan? Next yaa thor jgn lama2

  5. Masih rada bingung sama hubungan kyu sama yoona hehe takut salah nebak tapi seru kok semoga dilanjutin sampe ending ya hehehe ditunggu kelanjutannya. Fighting

  6. suka bingit thoor,,
    waaah, apakah krs bersaing dg mr cho dalam hal cinta sekaligus perusahaan,,,,
    penasaran thoor…
    jangan lama lama

  7. Belom ada konflik titik tengah hahahaha cuma bisa comment KYUNA END AND HAPPY END JUSEYOOOOO :3 ditungu next chap hwaiting ^^

  8. Aku binging,,aku bingung…mungkin karna ini masi part satu dan masi pengenalan tokoh&karakternya, jadi agak susah dicerna..oke Author, silahkan dilanjutkan..semoga di part selanjutnya aku ga bingung lagi🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s