I Do Not Believe (Chap 1)

I do Not Believe yoona new

I Do Not Believe

Im Yoona | Cho Kyuhyun | Seohyun

Yuko Washaki

Romance | Sad | Pscyo

PG-15 | Chapter | Bad Story | Typo

Warning : di dalam ff ini ada kata-kata yang mengandung unsur tidak sopan,dan harap perhatikan tahun yang tertera di setiap kejadian

 

…….

 

2014

“Eonni!” Senyum hambar masih terlukis di wajah ku, menatap hampa seseorang yang berlari mendekat. Menipis jarak yang ada

“Kau tau? Aku bertemu dengan seseorang yang sangat tampan tadi di koridor. Ia menolong ku membereskan buku-buku yang terjatuh karena kami yang bertabrakan. Matanya, matanya sungguh tajam dan fokus. Pada saat aku menatap matanya, ada sesuatu yang berdebar debar di dalam diri ku…”

Angin berhembus dingin membuat pendengaran ku terasa tuli. Kalimat terakhir dari penuturan singkatnya membuat ku diam mematung, seakan tidak percaya bahwa aku akan mendengar kalimat seperti itu dari bibir halusnya

 

‘Sepertinya aku jatuh cinta’

 

Kini bukan lagi senyum hambar yang menghiasi wajah datar tanpa ekspresi ku, melainkan senyum sinis. Cinta. Apa itu cinta? Kalian tahu? Banyak orang diluar sana menganggap cinta itu adalah sesuatu hal yang indah dan menyenangkan, membuat kita lupa akan segala hal jika sudah menyangkut tentang cinta. Tetapi berbeda dengan ku. Cinta adalah suatu hal yang menyakitkan dan penuh dengan kemunafikan di dalamnya. Yah begitulah aku mengartikan cinta…

 

“Bagaimana menurut mu Eonnie?”

“Molla”

 

 

11 Oktober 1995

Tetesan hujan terdengar begitu mengerikan dengan teriakan – teriakan histeris yang mengiringinya. Seorang Yeoja tengah terduduk lesu dengan mata sembab dan rintihan tangisan yang tak pernah berhenti keluar dari bibir kecilnya. Menangisi gundukan tanah yang berada di hadapannya. Makam sang Ibu tercinta -Im Sena

Kehilangan. Penghianatan. Terduakan. Sakit. dan Terluka, Itulah yang dirasakannya saat ini. Kehilangan seorang sosok Ibu yang selalu menemaninya, memanjakannya dan memberikannya kasih sayang. Penghianatan atas apa yang dilakukan sang Ayah yang selalu menjadi kebanggaannya. Terduakan dengan hadirnya sosok yang tak pernah di inginkan di dalam keluarga bahagia miliknya. Sakit dan Terluka kesimpulan dari perasaan yang di rasakannya saat ini.

Bahkan hanya dengan menangis pun belum cukup untuk mengungkapkan bagaimana sakit dan terluka dirinya atas semua kejadian yang ia alami hanya dalam kurun waktu 24 jam. Baju dress hitam yang ia kenakan kini sudah penuh dengan tetesan air hujan, menambah kekacauan yang terpampang jelas di wajah manis miliknya.

“Seo Yoona~” tak di gubrisnya wanita dengan perut bencit yang memanggil namanya dengan pelan dan lirih. Ia masih asik terhanyut kedalam dunia kelam yang menyelimuti dirinya. Dunia yang mungkin akan menjadi tempat pelampiasan luka sakit hati yang ia alami saat ini. Sebuah tangan ringkih kini menyentuh bahu gadis kecil yang berusia sekitar lima tahunan tersebut dengan pelan dan lembut, seakan – akan gadis berusia lima tahunan tersebut adalah sebuah benda yang mudah hancur jika kau menyentuhnya dengan kasar.

“Jangan pernah menyentuhku!!” hempasan kasar pada tangan ringkih itu seakan mengisyaratkan betapa ia tak sudi hanya sekedar untuk di sentuh, walau dengan halus dan perlahan. Tatapan mata yang penuh dengan kilatan – kilatan kemarahan memenuhi seluruh ruang, kini bibir kecil itu kembali mengeluarkan kalimat kasar yang membuat setiap orang yang mendengarnya tersentak kaget. Tak terkecuali dua sosok manusia yang berada di hadapannya saat ini. kata-kata yang seharusnya tak pantas di ucapkan anak seusia dirinya.

“Dasar wanita JALANG tak tahu diri!!”

“Yoona-ah~”

“Kenapa kau tega menghianati ibu ku!! kenapa kau menyakiti ku dan Ibu ku dengan perselingkuhan KALIAN!! KENAPA JUNG YOORA!!”

“Seo Yoona!!” Kini seseorang yang hanya terdiam sedari tadi ikut angkat bicara melihat perlakukan kurang ajar anaknya terhadap sosok yang jauh lebih tua darinya. Namun gertakan tersebut tak membuat takut , terbukti dengan tatapan tajam yang di layangkan sang anak

“Waeyo? Apa aku salah? APA AKU SALAH AYAH?!! APA AKU SALAH SEO JOONG HYUN?! Bukan kah yang ku katakana tadi benar apa adanya? KALIAN! Seorang penghianat! Menyakiti Ibu ku dengan perlakuan BEJAT kalian yang telah membuat sebuah kehidupan baru karena perlakuan kalian. Bayi itu. Seharusnya tidak pernah hadir!”

Tersentak. Kedua makhkuk hidup berlawanan jenis itu hanya bisa terdiam mendengar setiap penuturan yang terucap dari bibir gadis kecil tersebut. Benar. Semua yang menjadi penuturannya benar apa adanya. Bersalah? Bahkan rasa bersalah itu pun tidak dapat mengembalikan miliknya-Ibu- yang sudah hilang untuk selamnya.

“Im Yoona. Itulah nama ku sekarang. terlalu menjijikan untuk ku menggunakan marga muAhjussi” Sang Ayah kini hanya bisa menatap putri kesayangannya dengan tatapan sedih. Tidak hanya mengganti marganya dengan marga sang Ibu, tetapi memanggilnya-Ayah- dengan panggilan Ahjussi.

“Bahkan kalian lebih menjijikan dan hina dari binatang”

 

 

2014

Angin malam berhembus menerpa kulit putih pucat milik ku, memenuhi seluruh ruang kamar yang telah ‘kami’ tinggali selama 2 tahun ini. Kota Seoul. Kota yang menjadi kenangan terburuk yang pernah ada di dalam ingatan ku, kini terlihat menawan dengan berbagai warna lampu yang menghiasi setiap gedung pencakar langit.

Dapat ku rasakan hembusan nafas berat yang bertabrakan dengan kulit leher jenjang milkku serta lengan kekar yang melingkar tepat di pinggang rampingku, mengalirkan rasa hangat keseluruh tubuh ku. Dia. Dia adalah seseorang terbodoh yang pernah ku jumpai selama aku hidup di dunia yang kejam ini. Seseorang yang selalu mengatas namakan ‘Cinta’

Kata-katanya 30 bulan yang lalu kembali terngiyang-ngiyang di pikiran ku. kata-kata yang sampai saat ini masih ku ragukan kebenarannya… Hah yang benar saja? Membuktikan pada ku bahwa cinta itu benar apa adanya dan bukan hanya sekedar omong kosong?

 

“Menikahlah dengan ku. dan aku akan menunjukan arti cinta yang sebenarnya pada mu. Akan ku buktikan bahwa perasaan cinta yang ku punya bukan hanya sekedar omong kosong”

“Aku tau kau seperti apa. Aku tau bagaimana dirimu sekarang, tetapi keputusan ku sudah bulat. Marry me?”

 

“Memikirkan sesuatu?” suara beratnya kembali menyadarkan ku kembali pada dunia nyata, suara yang selalu ku dengar selama hampir 2 tahun ini. Suara merdunya yang selalu menemani tidur ku dengan alunan-alunan lembut yang keluar dari bibirnya. Sesuatu yang selalu di lakukannya. Sesuatu yang tak pernah ku minta dan inginkan darinya.

“Bagaimana? Apakah berhasil?” seperti biasa. Ia selalu to the point, tidak pernah bertele-tele dalam mengungkapkan sesuatu yang memang menjadi tujuan utamanya. Yah aku tahu kemana arah pembicaraan ini berlangsung. Aku hanya menggumam pelan sebagai jawaban atas pertanyaan yang diajukannya

“Sepertinya” aku hanya mendesan geli ats apa yang dilakukannya. Pelukan lengan kekar miliknya semangkin mendekap ku lebih dalam. Merasakan detakan jatungnya yang terasa beraturan. Sungguh nyaman, jika aku boleh berkata jujur.

“Apa rencana selanjutnya?” ku tampilkan senyum sinis ku mendengar pertanyaan retorik yang keluar dari bibir tebal miliknya. Pertanyaan tidak bermutu. Ia tahu jelas tindakan apa yang harus dilakukan setelah ini.

“Bukankah kau sudah mengetahuinya Tuan Cho?”

“Baiklah. Tenanglah semua akan berjalan lancar. Tanpa ada kecacatan di dalamnya Ny. Cho” aku tidak pernah menginginkanya seperti ini. Terjerumus ke dalam dunia kelam yang ku ciptakan, hanya untuk sekedar membuktikan kalimat yang ia lontarkan saat melamar ku. 30 bulan yang lalu.

Ku pejamkan mata ku, merasakan detak jantung teratur miliknya. Semua moment yang ia ciptakan untuk ku membuat ku semangkin takut untuk melangkah lebih jauh bersama dirinya. Kepergian dirinya disaat aku sudah benar-benar bergantung padanya. Ketakutan yang tak pernah mau ku alami untuk kesekian kalinya.

“Sebaiknya kita masuk. Udara semangkin dingin, aku tak mau kau sakit” aku masih diam tak berkutik. Menunggu tindakan yang akan ia lakukan setelahnya. Menutup pintu kaca yang menghubungkan ruangan kamar dengan balkon. Menggedong ku kedalam dekapannya, membuat ku dapat mendengar dengan jelas detak jantungnya yang begitu teratur. Membaringkan ku dengan lembut di kasur empuk king size milik kami. Berbaring disisi yang lain dari tempat ku, memeluk kembali pinggang ramping ku possessive.

“Night. Love You” kalimat terakhir yang ku dengar sebelum akhirnya aku tenggelam dalam alam tidur ku

 

….

….

….

 

9 Juni 1998

“Yoona~”

Panggilan hangat penuh dengan kelembutan mengalun lembut di udara. Tak mendapatkan jawaban dari sang makhluk yang di panggil dengan sebutan Yoona tersebut. Tatapan kosong penuh dengan kehampaan terlukis jelas. Membuat siapapun yang menatapnya, terasa kasian melihatnya.

Tatapan bahagia kini tak lagi tergambar di wajahnya. Senyum manis kini tidak lagi terukir diwajah malaikatnya. Aksi jahilnya kini menghilang entah kemana. Kini hanya kehampaan yang tergambar dari wajah cantik bagai malaikat miliknya. Sudah tiga tahun berlalu. Namun masih tidak ada yang berubah. Hanya beberapa yang berubah. Ayahnya sudah menikah dengan perempuan jalang peliharaannya, dan mempunyai anak yang selalu berseru dengan memanggilnya dengan sebutan Eonni.

“Seo Yoona…”

“Im Yoona. Jangan pernah menggilku dengan marga menjijikan itu. cukup kau dan anak mu saja yang menggunakan marga menjijikan tersebut. Tidak untuk ku”  kata-kata tajam tak dapat lagi dipungkiri. Keluar dengan begitu menohok tepat di dasar hati yang mendengarnya. Rasa bersalah kembali menyelimuti diri yoja berumur tersebut. Rasa bersalah yang selalu ditanggungnya semenjak kejadian tragis yang merenggut nyawa dari sahabat serta ibu dari anak yang memandangnya dengan tatapan penuh kebencian.

“Yoona?”

“Eonnie?”

Sosok orang yanng begitu sangat di bencinya kini tepat berada di depan wajahnya. Berkumpul membentuk suatu keluarga hina. Menurutnya. Menatap tajam sirat akan kebencian. Berdecak. Mencoba meremehkan sebuah keluarga kecil yang sangat dibencinya. Karena merekalah yeoja bernama Yoona tersebut kehilangan seorang Ibu.

“Kalian semua sungguh menjijikan”

 

…..

…..

…..

 

2014

Rintik hujan. Guntur yang saling bersahutan. Kegelapan mata yang penuh dengan kilatan emosi. Dendam. Mengiringi setiap langkah kaki jenjang putih gadis tersebut. Dengan perlahan seakan tidak mau menciptakan sedikit pun suara yang dapat membangunkah seseorang didalam rumah besar tersebut. Pisau dapur ditangan dengan jari-jari lentik yang menggenggamnya terlihat begitu menakutkan.

Senyum sinis penuh kemenangan tergambar jelas di wajah putih pucat miliknya. Menatap sosok yang kini tengah berbaring dengan nyaman. Tidur. Diatas kasur king size miliknya. Entah apa yang akan diperbuat gadis cantik tersebut. Dengan pisau dapur yang begitu tajam ditangannya. Selangkah. Dua langkah. Terasa begitu menegangkan.

“Yoong?”

Shock. Mata indah penuh dengan keteduhan itu kini menatap tak percaya sosok cantik dengan rambut terurai berantakan. Menggengam pisau dengan kilatan cahaya diujungnya. Kegelapan. Mata indah yang selalu disukainya itu menggelap memancarkan kilatan emosi serta dendam. Tidak. Jangan lagi. Ini terlalu menyakitkan untuknya.

“Yoong….” digenggamnya tangan dingin nan ringkih gadis miliknya tersebut. Mencoba mengembalikan kesadaran yang menghilang dari gadisnya tersebut. Kesedihan. Terluka. Melihat gadis yang amat dicintainya dengan keadaan yang begitu menyayat hati

“Kau harus mati. Wanita jalang. Penghianat”

“Im Yoona. Ini aku. Cho Kyuhyun” Sakit. Linangan air mata di wajah tampan tersebut kini mengalir dengan mulus melewati rahang kokoh miliknya. Di rengkuhnya tubuh ringkih gadisnya tersebut. Tidak memperdulikan rasa sakit yang ditumbulkan pisau tersebut. Membasahi baju serta seprai dengan cairan merah pekat yang terus mengalir. Hatinya lebih sakit dibandingkan dengan luka sayatan yang ditimbukan pisau pada lengannya.

“Sadarlah. Ini aku Cho Kyuhyun”

 

TBC

 

 Aku update ff lagi nih^^ takut takut nggak keburu dan lupa post disini🙂 ditunggu komen-komennya ya^^

silahkan berkunjung ke blog aku YUKO WASHAKI ^^

 

79 thoughts on “I Do Not Believe (Chap 1)

  1. Sediiih klo anak kecil udh timbul dendam daaann itu akan berkepanjangan .. Apalgi dendamnya udh membekas lama dan sudah mengorbankan org yg dia sayangin pasti akan tetap elekat d hatinya ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s