Hope [One Shoot]

hope

 

Flowssi – Deeryoongrin

Yoona-Luhan

PG13+

OneShoot – Romance, sad

poster by hcvelfxo at art fantasy [thanks 🙂 ]

WARNING FOR A TYPO, HAPPY READING~

[Italic means flasback]

dulu aku pernah berharap bahwa kau yang berada di samping ku untuk selamanya

____________ooooOOOoooo__________

Yoona mengerjapkan matanya lalu melihat ke arah samping nya. Dia tersenyum senang, sekarang di samping nya bukan lah lagi teddy bear-coklatnya, ataupun boneka yang lain nya. Melainkan seorang namja dengan rambut coklat dan wajah tenang nya.

Pernikahan yang terjadi 3 hari yang lalu dengan penuh kemewahan dan kemeriahan itu telah mengundang banyak sekali direktur dari berbagai negara. Ya, seorang Im Yoona- pewaris tunggal Im Crop dan seorang Xi Luhan-anak tunggal dari Xi Corp yang perusahaan nya telah bekerja sama dengan perusahaan besar di luar negri- telah resmi menjadi sepasang suami istri.

Pernikahan yang terjadi atas jalinan cinta yang tumbuh di kedua sejoli itu yang terus menerus mepertahan kan tembok besar yang menimpa mereka.

__oOo__

2 January 2007

Yeoja itu mendengus kesal saat ia belum di jemput oleh supir pribadinya. Ya, siapa yang tak kenal yeoja itu? Yeoja dengan kecantikan nya yang menawan, suara khas nya dan tubuh nya yang ideal. 

“Noona!” Yeoja itu membalikan tubuh nya lalu tersenyum saat seseorang yang ia tunggu telah datang. Seorang Namja berpakaian serba hitam dan menggunakan kaca mata-tengah memberikan sebalut tisue karena melihat yeoja di depan nya ini penuh dengan keringat.

“Kenapa lama sekali?” tanya Yoona sambil menerima tisue itu lalu mengusap dahi nya.

“Mian, noona, tadi di jalan ban nya kempes dan tempat untuk memompa ban sangat lah jauh.” Yoona hanya tersenyum lalu mengangguk saat mendengar alasan yang telah keluar dari mulut supir nya.

“Benarkan noona memaafkan ku?” Tanya namja itu takut-takut. 

Yoona tertawa renyah lalu tersenyum senang, tangan nya memegang pundak namja di depan nya.

“Tentu Song-Ahjussi, aku hanya menunggu 15 menit.” Namja itu kemudian tersenyum lalu membawa gitar yang sedari tadi dibawa oleh Yoona.

“Ayo nona, mobil nya ada disana!” tunjuk Song-ahjussi ke sebuah mobil elite berwarna hitam yang terpakir rapi di bawah pohon yang rindang.

Saat di perjalanan, perhatian Yoona beralih ke seorang namja yang sedang berjalan sambil memasukan kedua tangan di saku celana-nya. Kemudian, namja itu masuk kedalam sebuah pertokoan kecil. 

Ya, Yoona mengenal namja itu. Namja yang sangat hyperactiv namun sangat dingin jika berdekatan dengan orang yang bukan sahabat nya-disekolah. 

“Noona?” 

Pandangan yeoja itu teralih kepada namja paruh baya yang sedang menyetir di kursi depan. Yeoja itu kemudian berdeham tanda membalas perkataan namja paruh baya itu.

“Kata Nyonya Im, hari ini, les biola noona akan ditiadakan. Noona harus bersiap-siap karena ada pertemuan antar keluarga 3 jam lagi.”

Yoona mendecak pelan lalu menghelang napas kemudian mengangguk sambil tersenyum kecil. “Gumawo atas informasinya, Song ahjussi.”

ini akan menjadi hari yang menyebalkan, batinya. 

“Yoona-yaa.” Yoona tersentak ketika mendengar suara pintu yang terbuka. Di pintu itu, terdapat seorang yeoja paruh baya yang sangat modis dan elegan. 

“Eomma mengagetkanku!” ucap Yoona yang membuat yeoja paruh baya itu tertawa pelan. 

“Kau sudah sangat cantik.” Puji Im Jinah-ibu Yoona. Yoona kemudian tersenyum simpul lalu menggenggam tangan jinah.

“Eomma..” Jinah menarik bibirnya sambil menaikan satu alisnya. Nafas yoona ditahan kemudian dihembuskan.

“Aku ingin sembuh.”

Satu kalimat yang mampu membuat Im Jinah terdiam lalu menatap lekat anak semata wayang-nya yang berada di hadapannya. 

“Kau pasti sembuh sayang, percayalah pada eomma. Kau anak yang kuat bukan?” Tanya Jinah sambil mengelus puncak kepala anak perempuan nya. Yoona mengangguk kemudian memeluk ibunya.

“Sudahlah, ayo bersiap. Waktu untuk pertemuan keluarga hampir dimulai!” Yoona mengangguk lalu mengikuti langkah eomma nya yang sudah berjalan di depan nya.

….

Aula besar kini telah terisi banyak sekali barang. Mulai dari lampu-lampu besar yang menghiasi atap-atap aula, meja makan king size yang berada di tengah-tengah ruang itu.

Dua keluarga keturunan bangsawan itu sudah berdiri di depan tempat duduk masing-masing. Mereka saling memberikan senyuman, sebelum makanan terakhir akan dihidangkan.

“Semuanya, Selamat duduk.” Ucap seorang namja paruh baya yang tampak sangat berwibawa dan wajah dari namja itu terlihat lebih muda dari Appa Yoona.

“Sudah lama kita tak bertemu Im Jaewon!” Sahut Xi Hongyi sambil menepuk pundak Jaewon. Jaewon tertawa renyah kemudian bersulang bersama Hongyi. Begitupun juga yang dilakukan kedua yeoja paruh baya itu.

Sedangkan Yoona mati kutu saat namja yang berada di sebelah nya tersenyum manis kepadanya.

skak mat!

Yoona memegang jantung nya yang berdetak sangat kencang, atau bahkan mungkin ia menebak bahwa namja yang berada di samping nya bisa mendengar detak jantung nya.

“Ehm, Im Yoona-Gwenchana?” Yoona kemudian membulatkan matanya saat namja disamping nya mengucapkan namanya dengan sempurna.

Bahkan kita belum pernah berbicara sebelumnya, batinya.

“Yoona-ssi?” Tangan kekar namja itu melambai-lambai ke arah wajah yeoja yang sangat cantik-namun terlihat bodoh.

“Eh, eum.. a-ada apa?” Tanya Yoona kikuk lalu meneguk segelas wine nya sambil menyembunyikan rona merah di wajah nya. namja yang berada di samping nya itu-Luhan, tertawa kecil melihat tingkah laku Yoona.

“Tadi kau memegang jantung mu, apa kau punya penyakit jantung?”  Yoona membulatkan matanya saat mendengar pertanyaan dari Luhan. Ia kemudian menggeleng.

“T-t-ti-tidak! t-tadi hanya emh… hanya…..” Yoona kebingungan ia harus menjawab apa, dia benar-benar tak bisa menjawab karena jarak tubuh mereka lebih dekat dari yang tadi. 

“Hanya apa?” Tanya Luhan sambil memegang pundak Yoona yang tak berbalut apapun. Wajah Yoona sekarang sudah seperti kepiting rebus. Dia meruntuki kebodohan nya, dia benar-benar bukan seorang tuan putri kali ini.

“H-hanya…tadi sedikit sesak, mungkin aku tersedak.” 

Bodoh! batin nya. Itu alasan jauh dari kata ‘masuk akal’. Dan, Yoona meruntuki kebodohan nya yang tiba-tiba datang di waktu yang tidak tepat.

Luhan tertawa kemudian dia menatap Yoona yang tampak nya kebingungan dengan tawanya. “Bodoh, alasan mu jauh dari kata masuk akal!”

sigh!

Yoona kali ini harus menahan gengsi nya dan berusaha menjadi yeoja yang pandai bicara dan bersifat arogan pada saat bertemu siapa saja maupun berbicara pada siapa aja-kecuali keluarga dekatnya.

“Apa kau tau namaku?”  Tanya Luhan mencairkan suasana yang sempat canggung karena Yoona sedikit menjauhkan tempat duduk nya dari Luhan.

Yoona hanya mengedikan bahu nya acuh tak acuh. Dia baru sadar bahwa sifat namja ini berubah drastis seperti biasanya. Bukan kah kata orang-orang namja ini sangat dingin terhadap orang yang tak dekat dengan nya? apa karena hubungan orang tua mereka, Luhan menjadi tak dingin seperti ini?

“Namaku Luhan, Xi Luhan.” Ucap Luhan sambil mengulurkan tangan di depan tubuh Yoona. Yoona seketika membeku, dia bingung harus menerima uluran itu atau tidak.

“Tak perlu mengulurkan tangan mu, bukan kah kau sudah mengenal namaku?” tanya Yoona sesingkat mungkin dan membuat Luhan kaget atas perubahan sikap Yoona.

“Begitu.” Suara dingin Luhan membuat dada Yoona terasa sesak. Mereka saling membuang pandangan satu sama lain dan memfokuskan perhatian mereka terhadap hidangan menggoda yang berada di depan mereka.

Dan untuk pertama kali dalam seumur hidup nya, Yoona merasakan rasanya jatuh cinta.

……

Dentingan alunan piano itu memenuhi ruangan yang hanya diterangi satu lampu saja. Seorang namja memakai seragam dengan rapi dan syal hijau yang melekat padanya, tak lupa kaca mata putihnya. 

Yoona yang akan les biola yang ruangan nya tepat berada di sebelah ruangan piano itu, pandangan nya tiba-tiba teralih kepada seorang namja yang sedang memainkan piano itu. 

Bahkan dia tak sadar namja itu telah selesai memainkan piano, dan namja itu menatap yeoja itu dengan tatapan bingung.

“Ada apa kau disini?” Yoona terlonjak dan tubuh nya hampir terjatuh. Dengan sigap, tangan luhan menopang tubuh Yoona.

Jarak wajah diantara mereka hanyalah beberapa centi saja sekarang. Bahkan hidung mereka sudah saling bersentuhan, Mata mereka pun saling bertatapan seolah menyatu.

“M-maaf.” Ucap Luhan lalu membantu Yoona berdiri. Yoona kemudian tersenyum kikuk sambil sedikit membungkuk sebagai tanda ucapan terima kasih. Tapi, Luhan sama sekali tak menatap Yoona. Dia menatap sebuah kotak obat yang berbentuk lonjong yang tadi terjatuh dari tas Yoona.

Namun, sebelum Luhan memberikan kotak obat itu kepada Yoona, Yoona sudah menghilang dari pandangan nya. Mau tak mau, ia yang membawa kotak obat itu. 

‘Glandular fever’

“Ige mwoya?!” 

Luhan memang tak sepintar Suho yang sangat peka terhadap rumus-rumus ipa ataupun obat-obatan, Luhan juga tak secerdas baekhyun yang wawasan nya sangat lah luas. Tapi membaca satu kalimat yang terdapat di kotak obat itu membuat Luhan sangat penasaran. 

Luhan lalu berjalan ke arah perpustakaan, berharap ada suho yang akan mengatasi masalah ‘ingin tau’nya. Namun, sebelum kaki kanan nya masuk kedalam perpustakaan, bahu nya telah di pegang oleh seseorang.

“Luhan-ah, kau melihat obatku?”

Luhan langsung menggigit bibirnya, dia bingung harus mengakui atau tidak. Tapi, melihat beberapa orang menatap nya dengan pandangan aneh, Luhan hanya mengangguk singkat lalu memberikan kotak obat itu kepada Yoona.

“Gumawo,” Ucap Yoona sambil membungkuk ke arah Luhan. Luhan hanya membalas nya dengan tersenyum tipis. Dia harus menjaga image nya disini.

….

Luhan terdiam memandangi sebuah layar besar di hadapan nya. Dia merasa benar-benar bodoh kali ini. Dia lupa akan tulisan yang berada di obat Yoona. 

“Aish, mengapa aku bisa lupa?!” Luhan hanya mengetik asal-asalan di keyboard. Kemudian pandangan nya berhenti saat ia menemukan sebuah blog yang menjelaskan tentang penyakit-penyakit yang membahayakan.

Luhan sangat tidak tertarik dengan nama-nama penyakit yang aneh-aneh seperti itu, toh dia akan lupa seperti tadi. Tapi, ada satu nama yang membuatnya terdiam seketika.

Glandular fever

“Nah! akhirnya ketemu!” ujar Luhan sangat senang, ia dengan seksama membaca tentang penyakit itu. Mata nya sedikit membulat ketika membaca kata-kata yang sedikit tidak mengenak-kan.

Glandular fever adalah infeksi virus yang seringkali menyebabkan gejala mudah lelah, demam, nyeri tenggorok dan pembengkakan kelenjar. Penyakit ini sering menyerang remaja dan dewasa muda.’

“Jadi Yoona benar-benar dijaga hanya karena penyakit ini?” Ucap Luhan sambil menaikan satu alis nya. Dia kemudian menyesap kopi yang ia taruh di sebelah laptop-nya.

“Over.” Sahut Luhan acuh. Kemudian ia menutup laptop nya dan bersiap-siap untuk tidur.

__oOo__

Luhan tersenyum hangat saat ia membuka matanya dan menemukan seorang dewi tengah menatapnya. Tangan kekar namja itu mengelus puncak kepala yeoja itu kemudian memegang pipi tirus milik yeoja itu.

“Good morning, babe.” Yeoja itu tak bisa menahan senyuman nya saat Luhan mulai mendekatkan wajah nya, bibir merah milik Luhan telah menempel di bibir pink milik Yoona.

“Morning kiss.” ucap Luhan saat mendapat tatapan dingin Yoona. Yoona kemudian tertawa sambil mengelus pelan wajah Luhan, Inilah yang disukai Yoona.

Kemudian pandangan Luhan beralih ke arah tubuh mereka yang tak berbalut apapun. Luhan kemudian tertawa kecil saat mengingat apa yang mereka lakukan semalam.

“Chagi-ah, ayo kita mandi bersama~” ucap luhan sambil mengelus pelan pipi Yoona. Yoona menatap Luhan dengan tatapan sinis lalu mendengus.

“Namja PERVERT!”

__oOo__

“Kau tidak mengikuti olahraga?” yeoja itu mendongak lalu menatap seorang namja yang tengah berpakaian searagam olahraga-yang menatapnya dengan instens.

“Kenapa?”

Yoona kemudian menggeleng pelan sambil tersenyum tipis, “Aku tidak pernah mengikuti olahrag.”

Luhan hanya ber’oh’ ria lalu duduk di samping Yoona. Dia menatap buku yang tengah di pegang oleh yoona. Kemudian dia menatap Yoona yang serius membaca novel itu.

“Tak perlu menatap ku seperti itu, itu membuatku risih.” sahut Yoona tanpa mengalihkan pandangan dari buku yang telah menarik perhatian nya.

Luhan dengan cepat mengalihkan pandangan nya ke arah lain. Mungkin Yoona bisa membuatnya salah tingkah, tapi menurutnya hanya yoona saja yang bisa membuatnya langsung seperti ini.

“Kemarin…obat apa?” Tanya Luhan berhati-hati sambil menatap kedepan, dia tau, Yoona kaget atas pertanyaan yang dilontarkannya. Bahkan sekarang ia bisa merasakan bahwa Yoona sedikit panik.

“Euhm, Itu bukan apa-apa. Hanya obat untuk sakit kepala saja.” Ucap Yoona masih berusaha fokus terhadap novel yang ia baca. Ia tau, mungkin Luhan akan menjebak nya dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak diinginkan nya. 

Glandular Fever, sepertinya aku pernah mendengar penyakit itu.” Yoona bersusah payah menelan salivanya saat mendengar gumanan luhan yang sepertinya menyindir dirinya. Sungguh, Yoona ingin memotong mulut Luhan sekarang juga agar namja itu tidak membahas tentang penyakitnya-glandular fever.

“Luhan-ah, kenapa kau tidak berganti baju? bukan kah sebentar lagi akan dimulai pelajaran fisika?” Sahut Yoona berusaha mengganti topik pembicaraan. 

“Bukan kah hari ini pelajaran fisika ditiadakan Yoona-ssi? sekarang waktunya untuk pulang.”

Bodoh, Yoona mengutuk dirinya yang salah berbicara, kenapa ia bisa sebodoh ini di depan Luhan?  Mana Luhan terlihat menahan tawanya. Yoona kemudian mengetuk-etuk kepalanya.

“Jangan seperti itu, kau tidak terlihat bodoh kok.” Sahut Luhan sambil memegang tangan nya, bermaksud menahan tangan perempuan itu agar tidak lagi mengetuk-etuk kepalanya yang indah.

Namun mereka sadar, jarak mereka sangatlah dekat. Bahkan keduanya, bisa merasakan hembusan nafas masing-masing. Bahkan, mereka tak sadar ada seorang namja paruh baya yang menatap mereka kaget.

“N..no..nona?” Luhan dan Yoona sama-sama terkejut lalu menjauhkan wajah keduanya. Song ahjussi tertawa melihat keduanya menjadi salah tingkah. Ia tersenyum tipis, mengingat masa lalunya saat masih muda.

Memang, anak remaja, pikirnya.

“Noona, ayo pulang. Nona masih ada les piano, bukan?” Ucap Song Ahjussi sambil tersenyum kemudian berjalan ke arah Yoona. Yoona menepuk jidatnya karena lupa akan les piano-nya. Kemudian saat ia berdiri, ia menatap Luhan sambil tersenyum kecil.

“Anyyeong.”

……

“Yoona! bagaimana kau ini? bukan kah sudah kusuruh untuk menghafal kunci-kunci lagu ini? kenapa belum hafal juga?!” bentak seorang yeoja mengunakan kemeja putih-celana jins dan memakai kacamata. Sungguh, gaya yang casual.

“M-mian, T-tiffany eonni, aku banyak tugas, j-jadi aku tak bisa menghafal nya.” Ucap Yoona sambil menunduk. Tiffany menatap iba dan merasa bersalah karena telah membentak yeoja lemah itu. 

“Yoona, Iam sorry.” Ucap Tiffany sambil mengelus pundak Yoona. Yoona kemudian mendongak-kan kepalanya sambil tersenyum kepada Tiffany. Tiffany adalah kakak sepupu Yoona-yang ia anggap seperti kakak kandung sendiri, Tiffany pun juga menjadi guru piano yoona.

“Kau mungkin benar-benar kelelahan, maaf aku tak mengerti keadaan mu. aku kemarin bermusuhan dengan Chanyeol, kau tau kan? Yah dia menyebalkan! masa iya aku ditinggal di pinggir jalan hanya karena dia lupa kalau tas nya ketinggalan di tempat teman nya, Kris. Menyebalkan bukan?”

Yoona terkekeh pelan, Ia gemas jika melihat Eonni-nya itu menumpahkan segala amarah nya kepadanya, tetapi dengan cara yang sangat lucu.

“Yoong, adakah seseorang yang kau sukai? sepertinya kau belum pernah menceritakan kepadaku tentang namja.”  Ucap Tiffany sambil tersenyum.

Yoona berdeham kemudian ia mengangkat bahunya sambil menghelang napas panjang. “Mana mungkin ada yang menyukai yeoja lemah sepertiku.

Eye smile Tiffany menghilang karena ucapan Yoona. Ia tau, Yoona seperti sudah kehilangan hidup saat divonis penyakit Glandular fever. Memang tak parah, tapi dia menjadi benar-benar lemah dan sedikit-sedikit akan mengeluarkan darah.

“Yoona-ya, kau cantik, Sangat cantik. Jangan pernah sia-siakan hidup mu, jika kau bisa mencintai seseorang. Kejar namja itu jika kau benar-benar mencintainya, walau kau memang lemah, bukan berarti kau hanya meratapi nasib mu, bukan berdiri dan mengejar impian mu.” 

Yoona terdiam mendengar penuturan atau yang ia sebut mungkin ceramahan dari Tiffany. Tiffany memang benar, bukan berarti tubuh nya yang lemah ini hanya bergantung pada orang tuanya dan tidak mengejar impian nya.

“Eonni, apa eonni pernah jatuh cinta pada pandangan pertama?” Tiffany kembali tersenyum saat mendengar pertanyaan dari Yoona. Tiffany mengangguk senang lalu duduk disebelah Yoona.

“Tentu, setiap orang pasti pernah mengalami hal itu, bagaimana dengan mu, Yoona-ya? apa kau pernah merasakan nya?” Yoona langsung gelagapan saat diberi pertanyaan seperti itu oleh Tiffany.

“A-An-Anio..eng.. a..aku juga tidak tau.” Ucap Yoona memainkan jarinya sambil sesekali memencet-mencet tuts piano. Tiffany kemudian tertawa renyah saat menyadari Yoona bersikap seperti itu.

“Kau sudah besar Yoona-ya, Kurasa hanya aku saja yang umur nya bertambah.” Canda Tiffany yang membuat Yoona memukul pelan bahu Tiffany.

“Eonni membuat ku kesal! ” Ucap Yoona sambil menggembungkan pipinya.

“Yoona-ya, aku hanya bercanda hahahahaha.” Sahut Tiffany sambil tertawa lepas yang membuat Yoona juga ikut tertawa. 

“Oke, sudah jam segini, aku harus pulang.” Ucapan Tiffany membuat wajah Yoona murung seketika.

“Eonni tak mau disini dulu? oh…apakah….Park Chanyeol?” Tiffany tersipu malu sambil mengangguk saat mendengar tebakan Yoona. Yoona hanya tersenyum kecil lalu berdiri dan mengantar Tiffany ke arah pintu depan.

“Yoona-ya, jangan lupa hafalkan kunci-kunci yang kuberi ne? lusa jika kau hafal, akan ku traktir bubble tea.” Yoona tersenyum senang lalu mengangguk sambil mengangkat dua jempol nya.

Yeoja itu bisa melihat sebuah mobil berwarna silver mengkilat terparkir di depan rumah nya, ya ia tau siapa pemilik mobil itu. park chanyeol, namja yang menemani hari-hari eonninya-Tiffany.

“Aku pergi dulu, yoong!” ucap Tiffany kemudian melambaikan tangan ke arah Yoona sambil berjalan ke mobil milik Chanyeol.

aku juga ingin merasakan kebahagiaan seperti mereka.

____0Oo____

“Kau pernah merasakan apa itu cinta?”  Yoona hanya tersenyum miris saat mendengar pertanyaan dari Yoona.

“Untuk apa?” ucap Yoona berusaha memaksakan tersenyum saat Luhan tengah menatapnya.

“K-kau kan cantik, banyak juga namja yang menyukaimu, apa kau tak tertarik dengan cinta?” Yoona tertawa yang terlihat benar-benar dipaksakan, Luhan yang melihat Yoona hanya menatap nya iba.

“Kau sudah tau penyakit ku bukan? aku sudah tau kau akan mencari tau penyakit macam apa itu.  Jadi apa gunanya mencintai seseorang jika seseorang itu tak mencintai aku.” tutur Yoona.

“Tapi kau sudah 17 tahun, kau pasti pernah merasakan apa itu cinta!” titah Luhan sambil memandang Yoona.

Yoona hanya mengangguk kepalanya pelan, “Ya, aku pernah merasakan nya.”

Luhan kemudian terdiam dan kemudian dia berharap ‘bahwa dialah orang itu’

hanya berharap.

“L-lalu siapa namja itu? kau boleh membagi sesuatu dengan ku.” Ucap Luhan sambil tersenyum-seperti menunggu sebuah pengakuan.

“Jika aku memberitau kepadamu, apakah kau bisa memegang kata-kataku?” Tanya Yoona dengan tatapan instens yang membuat Luhan risih kemudian tertawa garing agar memperhangat suasana.

“Tentu saja! aku ahli dalam memegang rahasia seseorang!” Ujar Luhan sambil menepuk-nepuk dadanya-seperti membanggakan diri sendiri. 

Yoona kemudian menghelang napas panjang dan menutup matanya, dia benar-benar tak yakin akan omongan Luhan, tapi mau bagaimana lagi, Hanya luhan teman yang ingin berbagi cerita dengan nya.

“Aku mencintaimu.”

___oOo___

“Kurasa white coffe, bisa membuat mu hangat dipagi yang dingin ini.” Ucap Yoona sambil membawakan sebuah cangkir berisi kopi yang tersedia dihotel itu. Dia menghampiri Luhan yang sedang duduk di balkon kamar Hotel.

“Thanks, babe.” Ucap Luhan lalu mengecup bibir Yoona singkat lalu tertawa melihat reaksi Yoona yang pastinya-sangat terkejut. Yoona hanya mendecak kesal melihat sikap suaminya.

“Pemandangan yang indah.” Guman Yoona sambil melihat pemandangan di depan nya. Pemandangan laut lepas pantai dengan warna biru yang membuat hewan-hewan laut terlihat.

“Yah… setidaknya, walaupun aku kalah taruhan, menutuku, maldives pulau yang sangat indah.” ujar Luhan sambil mengedikan bahunya pelan lalu beralih menatap Yoona.

“Sudah kubilang juga apa, Maldives pulau yang bagus, suasana yang begitu damai dan tentram, menurut ku paris-usulmu, memang bagus..tetapi, untuk berlibur, mungkin tidak untuk berbulan madu.” Sanggah Yoona yang tiba-tiba mendapatkan tatapan menggoda dari Luhan.

“Kau tidak ingin first night kita terganggu, kan?” goda Luhan lalu tertawa saat melihat wajah Yoona yang sudah seperti kepiting rebus.

___oOo___

“Jika kau benar-benar pernah mencintaku, apa sekarang perasaan itu masih ada?” Tanya Luhan hati-hati sembari menatap Yoona yang sedang menikmati makan siang nya.

“Mollayo, mungkin hanya 2%-3%, aku juga tidak tau dengan perasaan ku yang begitu membingungkan ini.” Nada lirih Yoona terdengar di gendang telinga Luhan.

‘Bagaimana dia bisa mengatakan sejujur itu?’ batin Luhan, di pikiran nya, mungkin Yoona akan menatap nya tajam lalu dia berkata ”jangan membahas soal itu,” dengan berkata dingin, seperti peran-peran yang berada di drama-drama yang sering ia tonton bersama sang ibu tercinta.

“Oh begitu.” Ucap Luhan singkat tanpa melihat ke arah lawan bicaranya. Ya, mau bagaimana lagi, mungkin Yoona memang masih labil dalam urusan percintaan.

“Tapi aku kagum padamu!” Ucap Yoona antusias yang dibalas tatapan heran Luhan. 

“Aku suka caramu bermain basket, andaikan aku bisa bermain basket seperti dulu.” Ujar Yoona sambil melihat makananan nya yang hampir habis. Luhan terdiam mencerna kata-kata Yoona.

“Apa yang membuatmu percaya dengan adanya cinta?” Ucap Yoona untuk kesekian kalinya. Walau Yoona sangat bawel, tapi tak tau mengapa, Luhan suka dengan bawel-an milik Yoona. Seakan itu menjadi charge batre nya yang terkuras akibat mengerjakan ulangan fisika-yang dia kerjakan sebelum istirahat.

“Cinta itu tak bisa dikatakan, cinta hanya bisa dirasakan.” ucap Luhan singkat.

“Lalu siapa yang kau cinta sekarang?”

shit!

padahal luhan berusaha mati-matian agar Yoona tak mengatakan kalimat itu. Mungkin semua orang bisa dengan gampang nya berbohong, tetapi kali ini Luhan tidak. Mungkin Luhan pernah mengalami namanya jatuh cinta pada pandangan pertama.

“M-molayoo, aku belum tertarik pada siapa pun.” Sahut Luhan yang membuat Yoona menunduk kecewa.  Tak tau mengapa, Yoona berharap bahwa Luhan akan mengatakan bahwa dia menyukai Yoona seperti film-film yang ia tonton bersama para bibi-nya.

….

“Hei yeoja lemah!” teriak yeoja yang berambut panjang berwarna coklat ke-emasan. Dari wajah nya bisa dilihat bahwa dia blasteran dia adalah yeoja amerika-korea. 

“Memanggil ku, Jennifer?” Ucap Yoona dingin sambil menatap Jennifer tajam. Sudah sekian kalinya Jennifer memanggil nya dengan sebutan itu, dan dia sangat membenci itu.

“Siapa lagi yeoja lemah selain dirimu?” tanya Jennifer dengan tawa khas nya -tawa licik. Yoona memutar bola matanya, Well, dia tidak ingin berbasa-basi dan tidak ingin membuat masalah lagi.

“To the point okay? kau ingin berbicara apa dengan ku?” Tanya Yoona menatap tajam Jennifer, Jennifer tersenyum puas, ia jujur juga tak ingin membuang waktunya untuk yeoja yang menurutnya-berkeadaan seperti yoona.

“Jauhi Xi Luhan, arraseo? kau hanya akan menjadi bahan ejekan jika yeoja seperti mu mendekati namja sempurna seperti Luhan.” Ucap Jennifer dengan tekanan di setiap perkataan nya yang mampu membuat tusukan di hati yoona.

“Ini hidupku, kau urusi saja hidup mu sendiri.” Sahut Yoona acuh tak acuh lalu langsung berjalan menjauhi Jennifer, dia takut hal yang dulu dulu-yang pernah dilakukan Jennifer- terjadi lagi padanya.

Contoh nya saat ia dilempari tepung dan telur-sampai ia pingsan karena kedinginan, ulah itu dikarenakan Yoona berani menentang omongan Jennifer dan membuat Jennifer dipermalukan di depan teman-teman nya. Awal nya Yoona tak percaya jika ia akan dilempari tepung dan telur seperti itu, karena menurut-nya, adegan itu hanya ada di film-film yang ia tonton saja. Oh, mungkin dia sudah terkena korban film.

Yoona tak menghiraukan teriakan Jennifer yang terus terdengar di telinganya. Ia hanya ingin menjauh dari yeoja gila itu. Saat ia menghadap kebelakang untuk memastikan bahwa yeoja gila itu tak terlihat lagi, tanpa sepengetahuan nya, dia menyenggol tubuh seorang namja.

“Melihat siapa?” Yoona langsung terdiam saat mendengar suara yang sangat merdu-menurutnya.

“A-a-a, aku hanya m-melihat sebuah cicak yang jatuh, y-ya sebuah cicak yang jatuh!” ucap Yoona berusaha meyakinkan namja didepan nya-Luhan.

“Oh begitu, apa kau sudah dijemput oleh supir mu? cuaca nya mendung dan mungkin akan hujan deras.” Ucap Luhan sambil melihat sekitar. Yoona terdiam, apakah luhan mengkhawatirkan dirinya?

Yoona tau banyak siswa yang berlalu-lalang melewati mereka berdua. Tapi Yoona merasa, di koridor ini, hanya ada mereka berdua. 

“Kau melamun?” Tanya Luhan sambil melambaikan tangan nya di depan Yoona. Tak mendapat sahutan dari Yoona, Luhan menepuk pundak Yoona yang langsung membuat Yoona kaget.

“i-iya?” Tanya Yoona langsung salah tingkah saat mendapat tatapan aneh dari Luhan. “Kau melamun?” 

“A-ani, a-aku hanya melihat Taeyeon sunbae yang berjalan bersama Baekhyun, mereka sosweet ya!” Ucap Yoona mencoba Mencairkan suasana. 

DUER *backsound gagal* *Abaikan*

Suara petir yang kencang membuat Yoona kaget dan langsung menutup telinga nya-dia pun juga tampak sangat ketakutan. Luhan yang melihat keadaan YoonaReflex memeluk gadis itu.

Suasana semakin canggung saat suara petir itu sudah tak terdengar lagi, Namun, mungkin hanya ada suara kedua detak jantung milik kedua sejoli itu. 

Luhan yang merasa sedikit berat karena memeluk Yoona, menatap Yoona yang tengah pingsan. Tunggu Yoona pingsan? memang nya kenapa?

Luhan langsung menggedong nya dan membawanya ke mobil nya. Dia tak tau mengapa Yoona langsung pingsan begitu saja, apa mungkin karena Yoona terlalu takut dan kaget atas bunyi petir yang amat keras tadi? tapi, it’s so weird! apa Yoona pingsan karena dia memeluknya?

Luhan langsung membawa Yoona kerumah yeoja itu. ia tak mungkin membawa yeoja pingsan ke rumah nya karena ia tak ingin diberi ribuan pertanyaan oleh orang tuanya.

Sesampainya dirumah Yoona, Luhan langsung bertemu dengan Song Ahjussi yang notebene nya adalah supir Yoona. Song Ahjussi kaget saat melihat Luhan tengah menggendong Yoona dan langsung menyuruhnya masuk.

“Mengapa Yoona Nona bisa seperti ini?” Tanya Bibi Jung saat melihat Luhan tengah menidurkan Yoona dikamar yeoja itu. 

“Mollayo, tadi Yoona langsung pingsan saat ia mendegarkan suara petir yang amat kencang.” Tutur Luhan membuat Bibi Jung kaget.

“Ah, siapa namamu?” Tanya Bibi Jung sambil tersenyum simpul, nampak nya, namja didepan nya ini baik.

“Luhan, Xi Luhan, hmm…” 

“Ah, panggil saya bibi Jung saja.” Ucap Bibi Jung sambil memegang pundak Luhan.

“Nak Luhan, bibi berterima kasih karena kamu telah membawa Yoona noona kemari, dan maaf juga karena telah merepotkan mu nak. Yoona memang sangat takut dengan suara petir, karena dia akan kaget dan detak jantung nya tidak akan teratur, maka dari itu dia bisa pingsan.. ah apa kau tau penyakitnya?”

“Glandular fever?” Bibi Jung tersenyum miris sambil mengangguk melihat Yoona yang berbaring di kasurnya. Yoona sudah dianggap Bibi Jung sebagai anak sendiri, karena mereka berdua sangatlah dekat. Bahkan terkadang, Yoona juga menceritakan keseharian nya kepada Bibi Jung.

“Nak Luhan, Jika tidak merepotkan mu, bisakah kau menjaga Yoona?” Tanya Bibi Jung hati-hati.

“Tentu bi dengan senang hati, aku berjanji.”

…..

“Cinta itu menyenangkan bukan?”

“Aku tak mengerti maksudmu.”

“Aku bisa merasakan kenyamanan bersama orang yang aku sayangi dengan adanya cinta”

“Siapa yang kau cintai?”

“Yeoja yang berada di dekatku.”

“Diriku?”

“Siapa lagi?”

“Bisakah aku berharap?”

“Apa harapan mu?”

“Maukah kau menjaga ku?”

“Aku akan menjagamu hingga akhir hayat ku.

000OO000

Yoona tersenyum menatap Luhan yang juga ikut menatap nya, Di pagi yang cerah nan suhu yang dingin ini menjadikan saksi ciuman Luhan kepada Yoona untuk kesekian kalinya.

I am stay with you. iam promise.”

END

A/N: hallooooo, bagaimana dengan ff baru ku? Jujur ini oneshoot terpajang yang aku buat. Aku pertamanya ganiat buat ff ini, tapi banyak temen yang bilang kalo dilanjutin bakal lumayan jadinya, yah, jadinya agak gantung gini emang, padahal pertama ide nya juga gak kaya gini. Buat ff yang lain maaf udah buat kalian nunggu.

Aku juga udah mulai sibuk sama tugas-tugas makanya dari kemarin aku buka laptop cuma buat presentasi seriusan. Jujur aku sedikit takut karena ff nya ini panjang, takutnya readers pada bosen terus gamau baca 😦

Tapi aku berharap aja semoga readers bisa kasih komentar positif sama mau ngertiin aku yang udah rada sibuk. Buat Fake Love&Romance Street mungkin butuh beberapa minggu atau bahkan beberapa bulan lagi karena udah gada ide buat ff itu duh.

Kepanjangan yah? kebanyakan curhat nih wkwkwk, oke makasih ya yang udah baca dan udah nunggu ^^

Thanks ^^

Flowssi.

16 thoughts on “Hope [One Shoot]

  1. Kyaaa.. FFnya bagus banget. Cuma masih banyak Typo bertebaran yaa. Wkwk
    kayak panggilan Noona itu, seharsnya kan Nona aja. Soalx kalau dalam bahasa korea Noona=kakak Perempuan. Masa iya supir sama pembantunya panggil Yoona gitu.
    Maunya sih ada sequel, atau ngga ff LuYoon lagi. Hahaha
    oke fighting ya.

  2. So sweets❤
    luhan oppa daebak. Jd, pnyakit yoona itu sembuh gk thor?
    Aku brasa nhe ngegantung, I need sequel bwt ff nhe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s