Unexpected : Such A Life

2731052_1337777316448.78res_500_491

Unexpected : Such A Life

HyukGumsmile

Cho kyu hyun Im Yoona

Romance

PG-17

PS : sebelumnya aku cuma mau kalian tau kalau bahasa series ini agak dewasa. pandai-pandai memilah aja karena feelnya memang udah mentok disitu. ini bukan NC kok, tapi kalau yang pikirannya udah keburu mesum ya lain cerita nanti-_- jadi, aku ingetin ya, untuk sekedar readers tau aja.

 

 

Jerat-jerat biru itu mengusik kuasaku saat mataku lurus mematok sepintal benang merah yang bersifat krusial dalam hidup. Aku ingin memilih, tapi pilihanku semacam kotoran yang keberadaannya benar-benar terlupakan.

Dalam pengap gelap malam kutatap terjang bintang terang pengisi dinding ruangan. Kutorehkan kepercayaan terakhirku dalam kehinaan panjang yang menjemputku dalam senyuman.

Aku terdiam. Semua ini mencabik harga diriku. Moral yang tertanam dalam dan jauh disudut hatiku perlahan menangis. Menjerit perih demi ego yang kuinjak mati. Melenakanku dalam dosa yang mulanya amat sangat kuyakini.

Aku goyah. Mata nyalangnya membakar sedikit demi sedikit rasa bersalahku. Menenggelamkanku dalam lautan kepuasan duniawi tanpa batas. Amarah itu mendatangiku, menghempasku dalam ketidakberdayaan. Menyudutkanku disisi paling gelap.

Namun serahkahku benar-benar tak tertandingi. Aku goyah, lama tercebur lalu tenggelam hanya dalam kisaran waktu. Dan malam itu, duniaku berubah.

Kutarik lantang selimut yang menutupi tubuhku. Meski kurasa ia sudah tau. Sudah benar-benar hapal setiap inci jengkal kulitku. Aku malu. Demi neptunus yang mengelilingi bumi, aku benar-benar keji. Aku menjijikkan dan aku tau persis itu.

Kupandang pungunggungnya yang bergerak teratur dibawah balutan piyama sutra. Hanya piyama mandi yang ia gunakan usai membersihkan diri. Dan sederhananya saja, ia tetap punya sejuta pesona dengan apapun yang melekat padanya.

“apa kau akan bekerja hari ini?”

Aku terkesiap. Belum sepenuhnya mantap dengan pembicaraan apapun dengannya. Sentuhannya yang sudah lalu bahkan masih mengusik rasa menggelitik dalam relungku.

Aku tau ini salah, tapi sunggu ego menuntutku lebih. Aku menginginkannya. Jauh dari ekspetasi biasa, bahkan sel-sel dalam tubuhku bergetar hanya karena suara rendahnya. Aku gila, dan ini semua membunuhku.

“emm,, aku—“

Aku bahkan tak tau harus berkata apa. Ditengah rasa bersalah dan muakku akan diriku sendiri, kuputuskan untuk menunduk tanpa menjawab. Lalu tak lama kudengar ia terkekeh geli.

“tidak usah bekerja” tandasnya mantap.

Aku mendongak cepat. Tidak usah bekerja? Yang benar saja. Aku sudah berusaha keras untuk membangun karirku hingga sejauh ini. Lagipula aku masih butuh uang. Aku bukannya hidup tanpa makan dan kebutuhan.

Lalu ranjang beriak sebentar. Aku baru sadar ketika ia kemudian duduk dan mengusap rambutku sayang. “kau masih sakit. Masih perlu beristirahat”

Dengan ekspresi biasa saja dan suara baritonnya yang menggoda, aku bahkan bisa tersipu malu. Jangan salah tanggap, aku tau maksudnya dengan detail. Percintaan semalam menyiksaku. Dia, merebut kehormatanku.

Dia lelaki pertamaku.

Tapi aku memang keparat. Sekali lagi, aku keparat. Aku bahkan menahan kesedihan terdalamku ketika mengetahui alas tidur putih itu sudah ternoda darah kesucianku. Darah yang mengolok perubahan duniaku ketika hingga detik terakhir aku menjaganya, ia tetap tak berujung pada yang sah.

Kuserahkan satu-satunya yang telah hilang, pada dia yang tak pernah mengikatku didepan tuhan. Tapi, aku memang sebodoh itu jika sudah mengenai dirinya. Hakimi saja aku.

Aku mendongak ragu. “t-tapi aku ada rapat dengan so yeon, design interior yang semalam ditajuk dalam tender mengharuskan kami untuk—“ dan aku kembali terdiam ketika ia menanggapi kepanikanku dengan sebuah kekehan.

“jangan bekerja diperusahaan lagi” bisiknya pelan. Aku terkejut bukan main. Jadi, setelah ini semua ia ingin aku tak lagi menampakkan diriku didepan siapapun? Aku belum sebodoh itu untuk membeberkan semua yang kami lakukan pada publik. Aku juga masih punya rasa malu.

Kurendahkan suaraku dengan sedikit rasa kecewa. “apa oppa—“

“bukan. Ini bukan dalam rangka menyembunyikanmu. Karena cepat atau lambat semua orang pasti akan tau jika kita tinggal bersama.” Dia berhenti, lalu mengacak rambutku geli. “aku ingin kau memiliki sesuatu yang kau pimpin sendiri. beberapa hari lagi galery milikmu sudah siap. Pekerjakan siapapun yang kau mau, kau bisa melakukannya”

Aku terkejut. Mencengangkan. Ini jauh dari prediksiku sebelumnya. Benarkah sebesar itu kuasaku usai memberikan kehormatanku padanya? Kutatap ia lekat-lekat. Ini terasa sedikit berlebihan meski memang menyenangkan.

“tapi aku tidak butuh fasilitas sebanyak itu. Aku akan—“

Dia mencium bibirku kilat. Menyecap kepunyaannya semaunya sendiri. membuatku bungkam dan diam. Seperti keinginannya. “galery itu sudah atas namamu. Akan sulit jika kau tidak mengelolanya dengan baik. Siang ini so yeon akan datang. Dia akan jadi asisten pribadimu. Dan karena mulai detik ini kita hidup bersama, maka aku akan bertanggung jawab atas seluruh kebutuhanmu. Bersikaplah yang wajar. Jangan terlalu lugu, mengerti?”

Luar biasa, aku mengangguk tanpa kusadari betul. Aku terhipnotis mata hitamnya yang membuatku luruh. Dan semua kuasa ini membuat batinku perih. Benar, kehormatanku berujung seperti ini. Aku bertindak seperti istri baginya, tapi kami tetap sebebas dulu. Semacam aku, atau dia bisa pergi kapanpun kami bosan dan kembali bersama ketika kami saling merindu.

Mengingat kenyataan itu membuat batinku meranggas. Kutundukkan wajahku pias. Aku benar-benar jalang. Kutukarkan kehormatanku dengan manis dunia. Luar biasa, aku tak lagi punya harga diri.

Aku ingin menangis. Tapi keputusan itu sudah jauh-jauh hari kupikirkan. Dia bisa mencampakkanku kapanpun ia mau. Dan menangis seperti gadis idiot yang kehilangan keperawanannya hanya akan membuatku terkesan menjijikkan dimatanya.

Kurenggut ego yang kuinjak dan kupungut serpihannya. Setidaknya, kini, setelah aku menjadi keparat, aku tetap harus punya secuil ego untuk kubanggakan.

Dadaku sesak. Air mata pesakitanku jatuh kedalam hati. Kucoba untuk tegar. Kehidupan bebas tak menuntutmu untuk menyesali hal-hal seperti ini. Dan karena aku memilih, maka dengan sisa rasa malu, kutanggung resikonya semampuku.

Aku mendongak ketika tangan dinginnya menyentuh pipiku lama. Lalu mata nyalangnya meredup perlahan. Menghela nafas berat, dipeluknya aku erat-erat. “dan kau boleh menangis. Aku memang lelaki brengsek yang membuatmu terluka”

Dalam diam, kugelengkan kepalaku sekali meski kedua bola mataku mulai mengabut misteri. Kutenggelamkan tubuhku yang tanpa helaian benang dalam pelukannya. Mencari ketenangan batin atas kepemilikan semu-ku terhadapnya.

“aku yang bodoh. ini bukan salah oppa”

Suaraku tercekat pilu. Kudorong wajahku untuk merapat didadanya. Menghirup apapun yang bisa kujadikan nyawa kedua. Pertahananku hampir sia-sia. Lalu ketika ia mengecup pelipisku dengan rasa, semua luruh dalam sekejap mata.

“maaf. Aku menyeretmu dalam duniaku. Tapi terkadang,, mencintaimu membuatku benar-benar lupa diri”

Dan tangisku pecah. Teredam dada hangatnya yang bidang. Tubuhku bergetar hebat. Kehormatanku. Kebodohanku. Masa depanku. Semua tergadaikan. Sempurna. Dia mencintaiku, namun pengorbana besar ini, menjadi cambuk untukku.

Dibawah sinar mentari yang perlahan timbul. Kuhabiskan sisa-sisa penyesalanku dalam pelukannya. Waktu tak akan kembali. Dan menyesal dikemudian hari akan menjadi hal yang amat sia-sia. Jadi, usai hari itu, kuputuskan untuk benar-benar terjun. Jatuh, dan terjerembab dalam dunia yang bebas.

Aku belajar, aku merasakan. Dan perlahan, aku terbiasa.

 

 

 

 

“jadi sesingkat itu saja?” aku berjalan menuju lemari sembari mengikat sutra mandiku tanpa rasa malu. Bahkan bra dan celana dalam hitam yang kupertontonkan tak mengusik rasa manusiawi dalam benakku. “oppa menyelesaikannya lalu segera terbang ke paris?” lanjutku terkesima.

Kudengar ia terkekeh geli. “sebenarnya tidak semudah itu. Aku bahkan tak berencana untuk mendatangi paris”

Pintu kamar mandi terbuka. Ia keluar dengan celana pendek dan t-shirt putih yang membentuk tubuh tegapnya lalu menyapukan handuk kecil pada rambut legamnya yang basah.

“lalu?” kualihkan pandanganku ragu. Dua tahun bahkan tak cukup untuk membuatku tahan dengan godaannya. Sesuatu akan menggelegar hebat, jika itu dia. Jika apapun yang terjadi menyangut dirinya dan jika radius aman tak menyentuhnya dalam diam.

“lalu,, ya, aku merindukanmu”

Dan pertahananku sia-sia. Ia datang lalu memeluk tubuhku erat. Menenggelamkan kepalanya dalam lekukan leherku lalu menghembuskan nafasnya menggoda. Ya tuhan, dia benar-benar gila. Aku bisa pingsan jika seperti ini.

Kusematkan jemariku padanya yang melingkari tubuhku. Kulit dinginnya yang lembut membuat gelenyar aneh mendidih dalam ubun-ubunku. Tapi ini terlalu pagi. Meski ia tak pernah mengenal waktu jika sudah bersamaku. Tetap saja, ini melelahkan.

“jadi, secepat itu saja karena merindukanku?” aku berbalik wajah, lalu menatapnya dengan mata menyipit yang kubuat lucu. “benar? Bukankah wanita osaka sangat menggiurkan?” lanjutku basa-basi.

Dan ia terkekeh geli. “bagaimana kau bisa tau?”

Ia mengungkapkannya seolah kami sedang membahas menu sarapan pagi kami hari ini. Ringan, tanpa beban sama sekali. Tapi akupun begitu. Dua tahun cukup mengajarkanku untuk tak perduli.

Dan kini, aku benar-benar tak mau perduli.

Rasa menyakitkan menusukku perlahan. Tapi aku bisa mengabaikannya dalam sekejap. Ini dunia bebas, dia berhak atas apapun dan akupun begitu. “karena tahun lalu oppa juga kesana dan menemukan so hye. Dan aku, sebagai wanita, tau jika kelasnya bahkan jauh lebih tinggi dariku”

Aku terkekeh menyudainya. Membiarkan kedua tangannya melonggar lalu kujadikan tameng untuk lepas. persetan dengan ketidaksukaannya. Aku memilih gaun one piece berwarna peach lalu meletakkannya diatas ranjang.

Aku sudah kebal. Dua tahun cukup bagiku untuk melihatnya menggandeng wanita lain tepat didepan mataku sendiri. Tapi sekali lagi, aku sudah kebal. Hatiku perlahan seperti mati rasa. Entah karena terlalu banyak disakiti atau entah karena alasan lain yang tak pernah kucoba pikirkan.

Aku bahkan tak perlu mempersiapkan hatiku jika suatu saat kutemukan ia memiliki wanita simpanan lain, selain diriku. Karena hidup kami bebas, jadi, bagiku kini semua terasa biasa saja.

Dan dengan tak berniat membalas dendam, aku juga pernah mengencani pria lain. Dengan batas toleransi yang berbeda dengan yang kuajukan padanya. Aku juga perlu bersenang-senang. Sebatas saling menggenggam dan bertaut bibir selama ia tak ada, itu tak akan membuatnya terusik.

Ia hanya tak suka jika aku memiliki pria lain ketika ia begitu menginginkanku. Maka selain itu, kebebasan memang benar-benar menjadi milik pribadi kami.

Ia terkekeh lalu duduk disebuah kursi rias. Menyeruput espresso hangat miliknya lalu membuka koran pagi, tanpa repot-repot mau menatapku lagi. “so hye tidak setinggi itu. Dan kau juga punya segalanya, yoon” tuturnya tanpa dosa. “apa menurutmu semua wanita memiliki derajat yang lebih tinggi darimu?”

Tentu saja. Aku ini wanita jalang. Dia belum melupakan bagian itu, kan? Bagaimana bisa aku menilai diriku tinggi sementara aku hidup berlimpah hanya karena ia memfasilitasiku atas balasbudi karena aku sudah mau menjadi tempat pelampiasan nafsunya.

Tidakkah alasan itu cukup?

Aku mengedikkan bahuku acuh. “jika itu berarti wanita elegan dengan kelas tinggi dan mementingkan norma, maka mungkin aku berada diurutan paling bawah” jawabku seadanya.

Lalu dia menolehkan wajahnya cepat. Menatapku dengan matanya yang memang sejak dulu selalu menjadi momok menjijikkan bagiku. Akan sulit untuk bersikap jika tatapannya saja sudah membunuh rasa percaya diriku.

“kau membawa-bawa norma lagi.” Tandasnya malas. “Tidak bisakah kau bersikap normal dan berhenti menganggap dirimu sebagai wanita simpanan?”

Kali ini, aku yang terkekeh. “oppa bercanda? Aku bukan simpanan” seruku mengolok. “Aku hanya wanita keparat yang oppa seret untuk menjadi sebebas ini” tuturku terlalu jujur. Tapi ia menyukai kejujuranku. Jadi aku memilih untuk tak merahasiakan apapun.

Ia terkekeh, begitupun aku. “dan karena sudah sejauh ini, berrhak-kah aku menyalahkan oppa?”

Aku tersenyum, mengemasi box makeup milikku dengan membelakanginya. Lalu hening menyelimuti kami, sibuk dengan urusan kami masing-masing. Dibandingkan menjawab, ia memang akan memilih diam. Karena walau bagaimanapun, tanpa bertanya, aku memang pantas menyalahkannya.

Tapi aku menikmati dunia ini sekarang. Jadi, mungkin rasa terimakasih juga memenuhi benakku kini.

“mengapa oppa diam?”

Aku berbalik. Dan terkejut bukan main. Ternyata ia memperhatikanku dalam diam. Aku sudah berpikir terlalu jauh hingga mengabaikan yang satu ini. Ia menatapku lekat-lekat, mengunci mataku seketika.

“tidakkah kau menikmani dunia ini, sayang? Apa harus aku tunjukkan apa-apa saja yang bisa kita lakukan dalam kebebasan ini?”

Dan tawaku meledak kencang. Dasar. Dia adalah pria gila paling mesum yang pernah kutemui selama eksistensiku didunia ini. Lihat! Matanya menggelap. Coba tebak apa yang ia pikirkan.

Aku mengibaskan tanganku dalam tawa. “aku terima. Dan terimakasih. Tapi, tidak. aku lelah. Kau bisa menunjukkannya lain kali” ujarku tanpa perduli.

Kedua ujung matanya menyipit dalam tawa. “kalau begitu berikan aku satu ciuman pagi ini”

Kutorehkan pandanga manjaku padanya. Membiarkannya menyeruput espressonya yang hampir tandas lalu benar-benar berbalik. Membiarkan tubuhku menantangnya dalam ruang lingkup tak terjangkau.

“apa yang bisa kudapat dari memberikanmu ciuman pagi ini?”

See? Aku memang seperti itu, kini. Penjilat handal. Aku bisa mendapatkan apapun, dengan sekeji ini. Lalu kulihat matanya kembali nyalang. “apapun. Bukankah kau sudah mendapatkan unlimited golden card-ku semalam?”

Dan bola mataku bersorak gembira. Benar. Apapun. Aku harus bersiap menulis list tas dan sepatu yang semula kuinginkan. Menyenangkan sekali. Hanya untuk sebuah ciuman!

Aku berjalan lalu duduk tepat diatas pahanya. Membiarkan tangannya melingkari pinggangku erat lalu mengusap kulitku yang tersingkap dari jubah mandi sutraku yang terlalu pendek.

“satu saja?” ulangku mengacungkan telunjukku padanya. Dan ia tersenyum menggemaskan. Benar-benar tak ada yang berubah dari pesonanya. Ia menyingkirkan jemariku, membawa nafas segarnya mendekat lalu menyentuh bibirku singkat.

“biar kupikir ulang” bisiknya sengit.

Dan bibirku tenggelam dalam-dalam dibawah gejolak nafsunya yang menggebu. Menyesap bibirku kuat-kuat seperti terakhir kami melakukannya adalah tahun lalu. Mengeratkan rangkulannya pada pinggulku, menarikku mendekat. Mengunci rahangku dalam jemarinya yang kokoh lalu membiarkanku hanyut dalam emosiku sendiri.

Dia, benar-benar sedang menginginkanku. Lihat lihat! Aku seperti jalang. Tapi sentuhannya membuat otakku beku. Bara api menjalar-jalar dalam emosiku.

Dan pagi ini, jika boleh menerka, maka ia tak hanya akan mendapatkan ciuman dariku.

 

 

kkeut.

 

Yey. Ini series yang ketiga. Anyway, kalau ada kesalahan nama, tolong bilang ya biar aku koreksi. Karena series ini awalnya memang bukan untuk kyuna. Jadi, mungkin aku kelupaan buat ganti nama atau gak teliti. Tolong dimaklumi.

Terus buat yang rada-rada kesel waktu baca series ini, emm—ini Cuma fiktif kok. Jangan terlalu terbawa emosi. Nanti jadi benci-bencian loh-__- buat yang bilang seriesnya pedek, aku juga harus bilang apa._. sebelumnya juga udah aku jelasin kalau series ini Cuma punya adegan-adegan tertentu. Jadi, ya, gabisa panjang-panjang. Lagian ini kan baru pengenalan karakter dan kehidupan tokoh. Nanti kalau udah masuk konflik kalian bisa siapin cemilan karena bakal aku tulis full kok.

Intinya sih, sabar. Aku gak muluk. Pasti dilanjutik kok.

Dan terimakasih banyak karna masih mau jadi readers setiaku ({})

 

 

 

 

With love, Park ji yeon.

 

 

 

232 thoughts on “Unexpected : Such A Life

  1. yoona tau kalo hubnua sama kyu ga bkl ada ikatan resmi tp ttp milih sama kyu
    cibtanya yoona bnr” bsr k kyu tp sayang jyu klh sama egonya😥

  2. Yoona benar2 mengorbankan bnyk hal demi mngikuti hidup kyu. Kasihan sih tapi aku senang jga krna dia lkuin itu krna kyu lol. Yah, walaupn mnyebalkan krna mereka hidup dlm hubungan yg ngk jelas. cumn brharap smoga kyu cepat cepat ngelepas komitmenx sbelum Yoona yg harus ngelepas kyu.

  3. meskipun kehidupan bebas tapi kyuhyun yoona sweet deh , jadi tambah feel hub merekaa
    ini ni yg bikin penasaran , kelanjutan hub mereka
    ijin lanjut baca thor

  4. Ya Tuhan bagusnya ff ini T.T
    Author udah bikin buku atau sesuatu gitu? Ini sayang bgt kalo gak dijadiin buku..

  5. aku reader baru di blogs ini, salam kenal thor… ^^ by. yoongie

    yoona cinta mati sama kyu tp kyunya egonya terlalu besar ya… :”

  6. Huweeeeh makin seruuu~ aku gak kesel kok aku gak kesel cuma gregetan aja sama authornya.. naro ‘keut’ pas lagi seru di cerita huweeeeh 😭😭😭
    Btw… tadi aku koment tapi kelupaan. Aku juga suka sama karakter Kyu yang bad begini~ kita samaan 😁 yaay!

  7. Ya ampun aku gk hbis pikir gmana author stu ini bsa buat cerita dengan bhasa yg ohh luar biasa. Untuk kyu sma yoona. Yahh menarik hidup d tengah kebebasan yg tak terikat. Tpi apa ini akan berlaku slmanya ? Aku rgu, pasti suatu waktu kyu akan goyah pada prinsip hdup bebasnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s