Unexpected : Pride

aequy9rcqaaj3ro

Unexpected : Pride

HyukGumsmile

Cho kyu hyun Im Yoona

Romance

PG-17

Disclaimer:

Ini series yang kedua. Nah, kebetulan karena aku udah jarang banget nyapa readers, jadi aku basa basinya diawal aja ya–haha-. Oh ya, maaf buat yang protes karena series ini singkat banget. Tapi, untuk permulaan aku memang Cuma menceritakan tentang pengenalan karakter tokoh aja sebelum ada masalah nantinya. Jadi, mbok yo sabar aja. Aku pasti lanjutin kok. Aku bukan tipe author yang berhenti nulis sesukaku. Karena cerita yang belum end itu tanggung jawab buat aku.

Terus, aku kok ya ketawa ngeliat komentar kalian semua. Haha kok pada benci kyu hyun sih? Karena karakternya jahat banget atau karena kalian merasa yoona-lah yang paling dirugiin?

Btw, sebelumnya, aku Cuma mau bilang kalau aku suka banget karakter kyu hyun yang jadi badboy dan sedikit otoriter. Itu problem aku. Dan aku rasa aku punya sedikit masalah kalau harus bikin kyu hyun jadi cowok super romantis. Aku gabisa bikin kyu hyun selembut siwon di memorable-__-

Dan lagi, aku mencoba untuk bikin cerita ini karena aku berharap ada pelajaran yang bisa diambil loh. Bukan dari satu sisi, tapi dari kedua sisi atau bahkan dari sisi pandang orang sekitar mereka. Kalau readers baca baik-baik, kyu hyun ataupun yoona sama-sama salah. Nah, coba telaah lagi. Kalau memang sulit, bakal aku jelasin di series berikutnya.

Happy reading^^

 

 

 

Aku tergeletak ditengah savana lebar. Beriring jalan dengan gundukan awan ketika terik menerjang bumi. Panas itu mengulitiku. Membiarkanku ditusuk gemuruh mendidih dibawah kulit.

Aku termangu. Usahanya, beribu makna dimataku.

Aku sembunyikan fajar yang menorehkan cahaya dipelupuk mata. Membiarkan mataku terlihat tak memiliki antusiasme berlebih ketika ia berdiri kaku, menungguku ditengah rintik yang mulai kesal menahan diri.

“apa yang kau lakukan?”

Dalam angkuh kurutuki bayang harga diriku yang tersenyum congak. Penuh kepuasan. Menjujung tinggi dirinya diatas bahagia yang semula mungkin bisa kuraih dengan begitu mudah.

“a-aku menunggumu, oppa”

Bibir tipisnya bergetar. Pucat pasi tanpa gincu yang semula selalu mampu menggugahku untuk memilikinya. Bibir lembut berwarna pasi itu manis. Membuat candu yang kepalang membiru dan tertancap jelas didalam memoriku.

Aku terjerat. Tapi harga diri menarikku kuat.

Kukepalkan jemariku dalam diam. Aku ingin berteriak. Lihat! Betapa bodohnya ia memiihku untuk dijadikan cahaya. Aku bukan pellita. Cahayaku jelas kalah terang untuk hidupnya.

“bukankah kita sudah sepakat sebelumnya?”

Lalu ulu hatiku meranggas. Air mata yang mengaburkan manik legamnya jatuh bersamaan dengan gelengan kuat kepalanya. Tubuhnya gemetar meski ia berusaha untuk tegar. Aku tergugu, ceritanya adalah ceritaku. Tapi deritanya bukan milikku.

“aku tidak menyetujui apapun, oppa” dan suara tercekatnya menaikkan adrenalinku. Aku terpukul hebat. Melihatnya terluka membuatku sengsara. Tapi kini ada ego yang kupertaruhkan harganya. Menanjak tinggi hingga sulit untuk diturunkan.

“apa maumu?”

Goresan air mata yang menganak sungai dan menciptakan jejak tersendiri itu perlahan memudar. Kulit putih susunya yang lembut memerah. Ditengah butiran salju yang perlahan membekukan jalan pikiranku, ia melangkah. Setapak demi setapak hingga nafasnya kini menghembusku.

“aku ingin oppa” tuturnya tanpa ragu.

Batinku menggeram kuat.

Menjadi bebas itu prinsipku. Prinsip yang didalamnya kutanam ego tak tersentuh. Ego yang kini berada dipuncak tertinggi hidupku. Haruskah aku mengalah? Tapi ini semua meruntuhkanku. Ditengah martabatku sebagai pria sejati, kupandang tinggi egoku yang enggan tercabik. Meruntuhkannya yang telah menginjak-injak dan mencampakkan egonya jauh sebagai wanita utuh.

“baik. aku milikmu” tandasku sekejap.

“biarkan kita saling mencintai dengan bebas. Ketika kau mampu dan bisa menerima kebebasan , datang padaku dan kita bisa hidup bersama”

Dan sore itu berlalu dengan keputusan yang kali ini tak lagi bisa kuraba kebenarannya. Esok, ia datang. Berusaha menilai kebebasan seperti yang kumiliki lalu dalam sekejap mata menjadi milikku penuh.

 

 

“kau tau apa yang ia lakukan sepekan ini?”

Kueratkan jas hitam terbalut coat milikku. Menyela keheningan didalam mesin bergerak ini dengan sedikit pertanyaan konyol yang kutau tak begitu penting.

“nona yoona menghadiri paris fashion week, mengunjungi beberapa tempat wisata dan berbelanja, tuan”

Sora menatapku meyakinkan. Jadwal padatku yang membosankan kubabat habis hanya untuk menemuinya. Dua tahun berlalu dan kini aku masih sebebas sebelumnya. Tapi milikku jelas tak boleh tersentuh siapapun.

“kau yakin dia tak menemukan lelaki lain?”

Sora tersenyum kecil menanggapiku. Persetan dengan malu dan rasa cemburu yang menodai kehidupan bebasku. Aku memang perlu tau siapa saja lelaki yang menginginkannya. Karena selain bebas, sejurjunya yoona tetap perlu pengawasan.

“tidak, tuan”

Aku mengangguk paham. “dimana mereka menetap?”

Sora membuka tablet miliknya lalu mencumbu elertronik itu sejenak. “the ritlz. Hotel dipinggiran sungai seine, tuan”

Aku tersenyum. “kita kesana”

 

 

__

Suasana malam di paris sungguh menggugah. Kerlip lampu menghiasi sepanjang jalan yang tak pernah sekalipun lengang. Kuhabiskan waktu dengan terus memantau data kemajuan bisnis dalam diam.

“tuan..”

“hmm..”

Kubiarkan diamku untuk menunggu. Tapi tak menunjukkan antusiasme apapun padanya. Lalu sora bergeming dan menatapku berjengit. “nona nathalie menghubungi anda”

Aku ikut berjengit. Keningku dengan cepat bergaris. Ego yang semula kupendam kini luruh sejenak, membiarkanku bimbang dalam pemikiran batin. “nathalie?” aku membeo, mengingat pada bagian mana aku menyimpan nama itu.

Kuhembuskan nafasku gusar. Lalu kusandarkan tubuhku perlahan. “katakan padanya semua sudah berakhir”

Tak begitu lama sebuah ponsel teracung didepanku. Aku tergugu, kutatap sora dengan mata tajam yang kentara. Tak setuju dengan pendapatnya untuk memintaku berbicara langsung pada nathalie. Tapi sora tak bergeming. Menjadi asistenku selama bertahun-tahun membuat rasa takutnya tak sedalam dulu. Menyerah, kuputuskan untuk merebut ponsel ditangannya.

“ya?” sapaku sederhana.

“marc, bagaimana bisa sesulit ini untuk menghubungimu. Kau tau, ini sudah yang kesekian kali. Kau tidak memberikan nomer pribadimu padaku. Aku pikir—“

“nathalie..” kupotong ceramah panjangnya, “katakan saja apa maumu” tandasku sejenak dengan nada sederhana yang tak mau tau.

Hening menyelimuti perjalanan sambungan telepon kami. Bisa kutebak jika kini mungkin lubang hitam tengah menjerat hati nathalie. Tapi terkadang, aku memang lelaki keparat yang tak mau perduli. Jadi, kuputuskan untuk menunggu tanpa ada kata-kata yang bersinyalir mampu menghibur keterkejutan nathalie.

“marc..” ia mengeja namaku pelan. Ada jerat putus asa dan kekecewaan yang kentara disana. “kupikir kita akan bersenang-senang bersama”

Aku tersenyum licik usai hembusan nafasnya mewarnai bunyi gagang ponselku. “kita memang sudah bersenang-senang, nath. Lalu apa lagi yang kau mau?”

Keheningan kembali mewarnai perbincangan konyol ini. Entah apa yang nathalie coba rundingkan dengan benaknya hingga membutuhkan waktu begitu lama. Kupikir ketika kita memutuskan untuk bebas, maka apapun yang keluar dari bibir adalah sesuatu yang tak terbantahkan.

Kehidupan yang bebas memang akan menyakiti siapapun yang tetap ingin terikat dalam tata krama. Sayangnya, kebebasan tak memiliki hal semacam itu. Bebas, berarti bebas. Tanpa ada yang mengikat.

Kudengar isakan kecil diseberang, lalu nathalie menyembunyikannya dalam sekejap. Suaranya menjadi parau, seperti ada ribuan jarum yang tak luruh dalam kerongkongannya. “tapi marc, aku—aku akan menemuimu. Kita perlu bicara. Kau dimana?”

Aku kembali tersenyum. Seperti yang banyak gadis polos minta. Bertemu, berbicara, lalu apa? Aku benar-benar benci dituntut untuk bersama. Gagasan memuakkan itu benar-benar sulit sekali untuk  kucerna.

Bibirku melengkung seketika. Aku memang terbiasa kejam. Mau bagaimana lagi, hidupku memang seperti ini. “nath.. kupikir aku sudah menjelaskannya padamu. Aku tidak pernah ingin bersama. Hubungan kita jelas hanya sebatas one night stand. Sekarang katakan padaku apa yang masih belum kau mengerti?”

Nafas nathalie memburu cepat. “tapi.. kupikir kau menyukaiku, mark. Dan.. dan a—aku juga menyukaimu. Mengapa tak kita coba untuk bersama saja. Ini mudah”

Aku mencibir dalam diam. “aku benci kebersamaan. Dan kupikir kau juga wanita bebas. Mengapa tak kau nikmati saja kehidupanmu nath. Aku tak punya banyak waktu untuk ini. Apa semua pemberianku tak cukup bagimu?”

“marcus!!” teriakan itu menggema dalam gendang telingaku. Membuatku perlahan muak dengan omong kosong ini. “aku tak butuh uang. Kupikir aku jatuh cinta padamu. Lupakan saja prinsip kebebasan ini. Kita bisa bahagia bersama, marc. Kau tersenyum ketika bersamaku. Apa itu tak cukup?”

Aku diam. Dan mesin bergerakku berhenti. Didepan sebuah bangunan pencakar langit itu kugantungkan ponselku sejenak.

“kamar nomer berapa?”

Sora menjawab cepat lalu berdiri didepan resepsionis untuk memesan kamarnya sendiri. Jadi kuputuskan untuk melangkah menuju lift tanpa menunggunya. Menekan tombol pembuka kisi lift lalu berdiri tenang didalamnya.

“nath..” kugenggam ponselku ala kadarnya. Desah isak tangis masih mewarnai hubungan singkat ini. Kuhembuskan nafasku berat. “prinsipku tak pernah goyah meski diterjang waktu. Kau terlalu sia-sia jika terus mengharapkanku. Dan, oh, menurutmu apa yang harus kulakukan jika malam kita memang menyenangkan selain tersenyum”

Kisi lift terbuka usai satu dentang berbunyi. Kulangkahkan kakiku perlahan melewati koridor, memperhatikan kamar mana yang harus kumasuki kini.

“nath, kuakui kau hebat. Satu malam bersamamu benar-benar menyenangkan.” Aku berbelok kekiri. Kearah sudut buntu koridor, menekan sebuah tombol didepan pintu. “tapi itu saja tak cukup. Kau bisa mengencani banyak pria dengan kehebatanmu. Dan lupakan saja aku. Oke?”

“marc.. tapi—marc! Aku tidak mungkin mencari pria lain. Aku mencintaimu. Jangan konyol, kau tak bisa terus hidup bebas. Kau butuh aku. Kau perlu kedamaian dalam kebersamaan. Dan aku menawarkannya secara Cuma-Cuma. Tidakkah itu cukup untuk menekan ego-mu?”

Aku tersenyum. Ketika suara pintu terbuka dan ketemukan ia disana. Tersenyum, menatapku sedikit lena. Kutorehkan nafas terakhirku diujung ponsel. “tidak. maafkan aku nath”

Dan kututup malam panjangku bersamanya. Bersama satu-satunya wanita yang meski tak pernah sah namun tetap menjadi milikku seutuhnya.

Im yoona.

 

 

kkeut.

 

Anyway, yang masih blm dapet pw memorable, hubungi aku di 087893737011. Ingat, jangan komen di ff author lain loh😐

 

With love, park ji yeon.

 

 

238 thoughts on “Unexpected : Pride

  1. kyuhyun sebenernya sayang sama yoona kebukti dy ga au yoona d sama cwok lain
    tapi cmn kyuhyun kalah sama egonya aja
    keep writing eon🙂

  2. Ah… bingung ama Kyu.
    katax hidup bebas tpi malah mantau2 yoona ckckck. Tapi aku suka gaya kyu yg bad boy tpi perhatian. moga aja kyu cepat cepat ngebuang komitmennya.

  3. author bener .. gak sepenuhnya salah kyuhyun..
    yoona unni juga kan udah sepakat hidup pake cara kyuhyun oppa
    makin suka ceritanyaa:) kayaknya bakal kebut semalem deh buat baca ff nie😀 penasaran banget soalnya

  4. Pilihan kata2 authornya menarik! Jadi seru utk dibaca..
    Btw jd kesel yoona knp ga lepasin kyu aja 😂 sukses ngemix emosi kita authornya: )

  5. kyuhyun emang tdk mengikat yoona dlm hub tanpa status mereka. tapi disini kyu kayaknya protektif kali ama yoona. mengklaim ujian miliknya tpi tanpa status apapun..

  6. Ya ampun ini…. ah lagi seru-serunya di ‘keut’ 😣
    Jadi bener si cowok itu Kyuhyun. Butuh alasan sumpah. Kenapa Kyuhyun mau hidup bebas? Kenapa Kyuhyun meninggikan kebebasan? Kasihan Yoona–ah bukan. Kasihan Yoona sama Nathalie.. tck
    Tapi dari semua cewek yg dijadiin temen kasurnya, cuma Yoona yg Kyuhyun pertahanin. Jangan bilang sebenernya Kyuhyun juga cinta sama Yoona. Eh–tapi di series yg pertama Kyuhyun juga bilang kalo cinta sama Yoona? Lah kok aku jadi pikun gini 😷

  7. Wow, okk. Aku stuju sma authornya, jujur aku jga lbih suka kyu yg agak agak bad boy gimna gtu. Dan yah seperti yg d harapkan cerita yg menarik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s