Unexpected : The chosen

2755329_1338534446200.18res_500_500

Unexpected : The chosen

HyukGumsmile

Cho kyu hyun Im Yoona

Romance

PG-17

 

“aku mencintaimu”

Dua kata itu terucap manis. Ditengah getir malam yang mencekam dan dingin butiran salju yang perlahan turun. Aku berdiri diujung jalan. Tepat dipucuk pintu pagar yang akan terbuka.

“coba katakan lagi”

Lalu lelaki itu tersenyum tipis. Gerbang mewah tempat ia bersemayam perlahan bergeser meninggalkan porosnya dengan gerakan lambat. Aku membatu. Ini memalukan. Tapi jika hidup adalah pilihan maka aku memilih untuk menjemput maluku ditengah malam.

Aku mencintainya. Fakta baru yang entah mengapa membuatku terlihat amat gila.

“a-aku mencintaimu, oppa”

Dan bibir tipis selembut permen kapas miliknya tertarik. Ulasan pelangi memperindah pahatan dewa diwajahnya. Jauh didalam relungku aku mengumpat. Seperti ini sajakah ambisiku terhadap dirinya?

Aku membisu. Usai itu ia tak bersuara. Audi R8 putih kebanggannya melaju masuk, meninggalkanku bersama ketegangan yang mengulitiku hidup-hidup. Lalu langkahnya menggema. Membelah tanah diatas pijakan kaki jenjangnya yang sempurna.

“dengar, im yoona. Aku pria dewasa. Cinta tak semata-mata hidup bersama lalu tertawa. Bagiku, hal konyol seperti itu sudah berlalu lama. Aku lelaki bebas. Dan naluriku luarbiasa liar. Apa menurutmu itu bagus?”

Dan ribuan paku panas itu menembus ulu hatiku. Ubun-ubunku mendidih. Kecaman seperti ini hanya angin lalu yang perlahan mengikisku dalam gelombang pusara kebimbangan. Aku sudah lama memikirkannya. Karena cinta memang tak sederhana, tapi bukankah cinta dapat disederhanakan.

“a-aku..” suaraku tercekat. Menghalangi langkahnya yang perlahan menjauh. Meninggalkanku dalam kekonyolan dunia ini. “itu bukan masalah bagiku” kerongkonganku menipis. Sisanya, aku serahkan pada gumpalan kekuatan. Harga diriku kupijak mati. Kutinggalkan disudut terkecil relung hati.

“apa aku masih terlihat tertarik padamu?”

Pandangan matanya menusuk. Nyalang menerjangku dalam pesona lautan pekat. Ujung runcing matanya menusuk hati. Pahatan dewa yang berkolaborasi dengan manik hazel yang sempurna. Demi tuhan, aku gila karenanya.

“o-oppa..”

Lalu malam itu mataku memanas. Berkabut dan perlahan aku buram. Ditengah salju pertama yang kusinyalir akan membawa bahagia, remukku ditekan. Kini aku berkeping. Pernyataannya bagai gulungan ombak, mengikisku hingga kedasar.

“duniaku tak semudah itu. Aku benci terikat dengan siapapun. Cinta tak akan menyentuh bilik kecil gumpalan hatiku. Apa menurutmu itu tak apa-apa? Tak adakah yang memperingatkanmu untuk tak terjatuh padaku? Aku benci bermain dengan gadis biasa. Kepolosan kalian terkadang membuatku muak. Berhenti menangis!”

Tubuhku gemetar. Untuk pertama kalinya buliran air mataku berhenti menganak sungai. Diterjang rasa takut dan putus asa yang mengalir hebat menyusup dalam nadiku. Aku tergugu. Mata nyalangnya tak berubah. Pesonanya pun tak terkikis amarah. Dia sempurna. Benar-benar sempurna.

Kuseka perlahan kristal pesakitanku lalu kutatap dia dalam-dalam. Matanya yang coklat bening seperti pualam liar. Menahanku untuk pergi meski hanya sesaat.

Geraman hebat lolos dari nafasnya. Lelakiku kesal. Satu hal lain yang terus menekan rasa percaya diriku. Aku tak lebih dari onggokan sampah yang harusnya disingkirkan. Dan kekesalan itu menunjukku. Menitik beratkan targetnya padaku.

“dengarkan aku..”  Lalu tiba-tiba suaranya melunak. Bagai desiran ombak menggulung busa. Aku terkejut. Jantungku bertindak gegabah. Dan kupu-kupu penghuni perutku berulah. “ya, benar. Aku juga mencintaimu. Apa itu cukup?”

Kutatap bola matanya yang sempurna. Mengunciku dalam keseriusan selembut sutra. Aku tau dia tak sekejam itu. Dia lelakiku. Tingkah polanya sudah tercatat jelas dalam benakku.

Kugelengkan kepalaku pelan. Membuat kelopak matanya menutup keras. “bagaimana aku harus menjelaskannya padamu?” dan suaranya teriring geraman yang dapat kuterka dengan mudah.

“katakan kau menginginkanku”

Lalu mata nyalangnya meredup. Ada asa yang ia simpan dalam-dalam. Membiarkanku tak melihat apa-apa. Membiarkanku diam dalam ketidaktauanku tentangnya.

Lembut jemarinya mengusap rambut tipisku perlahan. Meyakinkanku meski seberapa menyakitkanpun semua ini, pilihannya tetaplah jalan yang terbaik.

“aku menginginkanmu” dan berjuta kupu-kupu menggelitik perutku. “tapi itu bukan pilihan.” Lalu berhenti. Layu termakan bara. “menikah bukan pilihan hidupku. Ini tak semudah mau mu. Ini prinsip konyol yang harus terus kupegang teguh. Berhentilah menyakiti dirimu sendiri. Aku tak semudah itu untuk menyerah. Ago-ku terlalu tinggi. Jadi kau hanya perlu memilih. Terus menyakiti hatimu atau pergi.”

Kugenggam jemarinya kuat-kuat. “t-tapi menikah tak serumit itu, oppa. Kita hanya perlu bersumpah didepan tuhan. Lalu kau sematkan sebuah cincin dijari manisku. Hanya sebatas itu saja”

“jangan bodoh. bersumpah didepan tuhan akan membuatku menjadi pendosa. Dan menyematkan cincin dijari manis hanya akan membuatku terikat. Keduanya adalah hal yang jauh-jauh hari sudah kuhapuskan dalam hidupku.”

Mata indahnya tersenyum. Lugu dan sempurna. Kesempurnaan yang sejauh ini selalu ia berikan padaku namun tak ingin aku memilikinya. “tidak serumit itu jika kau mau mengerti. Kau bisa bebas melakukan apapun yang kau mau. Aku bukan wanita keparat pengekang lelaki. Tapi—“

“hidup bebas tentu berbeda menurut presepsimu. Tidak. apapun itu, tidak untuk menikah. Sekarang pulanglah. Kemasi hatimu yang sudah kuremukkan lalu cari penawar sakitnya. Kau bisa. Tanpaku, kau masih bisa melakukan apapun”

Malam itu berlalu. Hening melintas dalam kepingan es yang mengubur emosiku. Dia melangkah maju, meninggalkanku disudut pagar besi tinggi yang mengukung gerak kami. Tubuhnya menghilang,, ditelan nyata.

 

 

“kau sudah memberitau sora untuk mempersiapkan keberangkatanku?”

Aku mengangguk. Bau karamel menusuk hidungku dengan cepat. “waffle caramel. Apa masih lama bibi jung?”

Seseorang menyahutiku dari balik pantri dapur. Lalu tak lama keningku menghangat. Kecupannya mendarat tepat sasaran. Membuatku terkesiap untuk sesaat.

“selamat pagi” bisiknya dengan bariton mesra dan wajah biasa-biasa saja.

Aku tersenyum manis. Mengabaikan tubuh jenjangku yang hanya tertutupi hotpants dan kemeja putih yang terlalu besar, aku bangkit. Kuraih setelan dasi biru muda didadanya lalu menyimpulnya rapi.

“pagi. Oppa ada jadwal apa pagi ini?”

Bibir lembut itu menyecap bibirku yang masih belum ternoda gincu. Menyesapnya dalam-dalam dan lembut seolah gencatan senjata diatas ranjang semalam tak cukup untuk memenuhi hasratnya. Jemari lentiknya menarik pinggangku merapat. Membiarkan tubuh hangatnya memaniskan pagiku.

“aku harus ke osaka siang ini. Kau sudah berkemas?”

Aku mengangguk. Menggesekkan ujung hidungku padanya. Membiarkannya tersenyum renyah lalu mengakhiri pagi dengan satu lagi kecupan kecil. “so yeon akan mengurusmu selama disana. Berapa hari yang kau butuhkan?”

Menyambut bau karamel yang pekat, ketorehkan senyum ceriaku padanya. “empat atau lima hari. Atau mungkin lebih” ujarku singkat.

Dia hanya tersenyum. Memotong waffle pertama, membiarkan lidahnya menyesap karamel lembut ala koki internasional yang melayaninya selama ini. Sarapan kami berlangsung dalam hening. Terkadang ponselnya bergerak beberapa kali hingga ia memutuskan untuk membalas pesan dengan senyum penuh pesona.

“aku harus berangkat. Pastikan liburanmu tak lebih dari tujuh hari. Aku mungkin tak kembali. Tak masalah bukan jika pak park yang mengantarkanmu?” aku mengangguk manja. “bagus. Aku pergi. Sampai bertemu minggu depan”

 

 

__

“sampai bertemu minggu depan~ argh demi tuhan kalian menjijikkan!!”

Kutorehkan kepalaku pada so yeon. Menjemput kesalnya dipagi berangin ini. Sejam bahkan belum tandas semenjak kepergian kyu hyun, tapi bibir pedas so yeon sudah menggencarku dengan makian panjang.

Aku menyahutnya dalam senyum mengucilkan.

“kau benar-benar terlihat cemburu, so”

Lalu mata so yeon mebulat. Tak terima dengan klaimku atas dirinya. “demi tuhan! Penggal saja kepalaku jika benar”

Aku menimpalinya dengan kekehan renyah. Sembari menyeruput latte dan menghabiskan waffle kesukaanku. “kau menyukainya!” tandasku dalam canda.

“aku benar-benar harus mati untuk itu. Sialan! Aku sudah punya kekasih, untuk apa menyukainya”

So yeon meneguk susu vanilla miliknya habis. Meninggalkanku sendiri dalam ruang makan maha besar yang sepi. Tak ingin sendiri, buru-buru kutinggalkan waffle caramelku, kuraih cup latteku lalu mengikutinya yang bergerak menuju tangga.

“setidaknya kyu hyun kaya raya”

So yeon memutar bola matanya malas. “lalu?”

“dia bisa memberikanmu apapun” aku mengedikkan bahuku acuh. Lihat, rumah yang selalu kupijaki ini contohnya. Luas, tak tertandingi. Namun so yeon berbalik dengan wajah yang menjijikkan.

“persetan dengan harta. Aku punya cinta yang tak akan siwon berikan pada siapapun”

Aku tersenyum. Perutku bergulung geli mendengarnya. Cinta? “ kyu hyun juga mencintaku” dan aku mengerling ragu. “seingatku ia pernah mengatakannya” lanjutku.

“ya, dua tahun lalu. Dan itu sudah terlalu basi!”

“ck, ayolah so, ini memang—“

“ya. Ini memang jalan hidupmu, sialan. Aku sudah lelah berdebat mengenai ini”

So yeon berjalan mendahuluiku. Meniti anak tangga melingkar menuju lantai dua. Menuju satu-satunya kamar maha luas, milikku. So yeon terlihat kesal, dan itu sedikit mengusik. Jadi tanpa tedeng aling aku mencoba membalik tubuhnya pelan.

“so, ini tidak semudah yang kau pikirkan. Aku—“

“aku sudah lama memintamu untuk pergi, yoon”

Aku menggeram malas. “ya! Pergi itu berarti aku juga harus berpisah denganmu!”

Dan mata legam so yeon menjeratku dalam emosi ringan. “tak masalah jika itu bisa membuatmu berhenti melakukan ini. Ayolah yoon, ini sudah terlalu jauh untuk dilalui, kalian bahkan—“

“ya, ya, ya. Ini sudah yang keseribu satu. Dan terimakasih so, ini memang sedikit membantu”

Kuacukan jempol dan telunjukku yang hampir beradu sebagai tameng. Lalu tanpa pamit kudahului so yeon menuju kamar. Meninggalkannya dengan ribuan opini gila yang menghantui hidupku.

Ya, ini pilihan. Dan aku memilih hidup tanpa komitmen.

 

 

__

Aku masih menatap so yeon hampa. Sedikit kesal dan banyak tanda tanya. Entah apa yang harus ia perdebatkan dengan batinnya hingga ia harus mendiamiku. Kali ini, dengan tempo waktu yang cukup lama.

Aku mendelik sekali. Membiarkan mata bulat bening milikku melampiaskan beban tanpa perlu repot-repot mendesah. “so..”

So yeon tak bergeming. Kedua pergelangan tangannya masih sibuk memilah baju yang harus dan tak harus kubawa nanti. Mengingat musim yang berlalu disana sungguh berbeda dengan korea.

Matahari masih pagi. Cahaya seindah gelombangnya menghantam gorden putih kamarku dengan kejam. Ruangan putih kecoklatan dengan aksen bangsawan mewah itu bersinar terang. Dan jauh dari tempatku berdiri, so yeon terlihat mulai mereda.

Kudelikkan bahu sebelum akhirnya membaringkan diri. Aku lelah. Cho kyu hyun sialan itu tak membiarkanku tidur meski hanya lewat seperempat malam. Terkadang dikehidupan bebasnya yang turut menyeretku sejauh ini, aku masih terlalu bingung untuk mencari tau apa yang lelaki itu cari dengan bercinta sampai pagi dan tetap menjalankan aktifitasnya dengan baik. tenaganya seperti tak pernah surut.

Aku mengeluh pelan. Masih tersisa empat jam sebelum aku mengawai libur panjangku. Aku memejamkan sebentar kedua mataku. Lalu seperti petir menyambar dipagi hari, sebuah benda menghentak wajahku keras.

Aku bangkit. “so!!” pekikku geram. Sialan, sekarang kekesalannya sangat amat mengganggu!

So yeon tak bergeming. Kini ia berdiri dengan tangan yang berlipat didepan dada. Menatapku mengintimidasi. Membuatku ragu untuk kembali memekik keras.

“dasar wanita sialan, jangan katakan dia memintamu untuk membeli ini” so yeon mendekat dan mendorong keningku dengan telunjuk lentiknya sekali.

Setelah terhuyung, aku tertegun sejenak. Mengeluarkan cengiranku dengan sekejap mata lalu mengusap tengkuk. “bukan dia, tapi aku” jawabku sederhana.

So yeon menggeram.

“tapi so, aku pikir—“

“YA! Kalian bahkan belum menikah dan kau menyediakan lusinan lengerie untuk menyambutnya setiap malam!!”

Astaga wanita ini benar-benar sudah bosan hidup. Tidak perlu berteriak seperti itu. Ini bukan rimba, so! Aku mengeluarkan nafasku berat, mencoba untuk tak tergerus arus emosi so yeon yang memang selalu meluap-luap jika sudah membahas masalah ini.

Aku berdiri, tepat didepannya. Menantang mata so yeon lekat-lekat. “so, kyu hyun memintamu untuk menjadi asisten pribadiku. Dan, ya, meski kita saling mengenal, aku harap kau mengerti sejauh mana batasanmu”

So yeon menggeram kesal kemudian berbalik, kembali pada tumpukan baju dan koper didepan lemari. Seperti menyerah untuk berdebat denganku yang terlalu keras kepala kali ini. Kulayangkan pandangan mataku sejenak pada lingerie model terbuka yang tergeletak diatas ranjang. Lalu kini benakku dihantui rasa bersalah.

So yeon benar.

Aku saja yang terlalu keparat.

Aku menggeram lalu kembali merebahkan tubuhku. Kini, karena masalah konyol ini, seluruh bagian kepalaku berdenyut nyeri.

“Ini bukan salahmu, so. Aku memang wanita keparat yang terseret arus prinsip. Tidak menikah bukan masalah besar untukku. Aku hanya menyukai kehidupanku bersama kyu hyun. Dan maaf jika prinsip hidup kita berbeda. Aku hanya—“ kuhela nafasku sejenak. “kuharap kau mengerti. Tak perlu berkomentar banyak. Cukup mengerti saja. Itu sudah sangat membantu, so”

Tanpa memperdulikan so yeon aku mengambil langkah diam. Ini, menyakiti harga diriku. Aku tau seberapa besar so yeon menilai sebuah komitmen. Tapi andai so yeon tau jika menjadi wanita keparat yang tak tau diri seperti ini bukan hal yang menyenangkan. Aku juga punya beban. Kini, setelah dua tahun berlalu, aku berubah arah. Tinggal bersama kyu hyun selama itu mengikis dasar hidupku.

Aku bukan lagi tak mementingkan menikah. Hanya jika sudah merasa nyaman bersama, kurasa sebuah ikatan memang tak lagi dibutuhkan. Kyu hyun benar, dan keputusanku dua tahun lalu kuanggap tak lagi salah.

Menyerahkan diri pada kyu hyun memang membuatku terihat seperti jalang. Tapi jika sudah sejauh ini, omongan dan cacian panjang sekali pun tak akan merubah apapun. Aku tak lagi berharap pada pernikahan. Hidup dan menjadi wanita bebas itu pilihan. Dan kini, aku memilih.

Memilih untuk bebas.

 

 

kkeut.

 Hahahalo aku kembali. Keliatannya blog lagi sepi banget, jadi aku kasih kalian satu cerita pendek. ini bakal aku lanjutin dalam bentuk series. jadi, semoga kalian suka..

 

 

With love, Park ji yeon.

 

 

 

 

244 thoughts on “Unexpected : The chosen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s