[Ficlet] Lost In Memory

aaa

[Ficlet] Lost In Memory

HyukGumsmile

Lee Dong Hae Im Yoona

Romance, Family

PG-17

PS: Buat readers memorable, silahkan dibaca.

 

Pesan ini sengaja aku letak diawal. Karena aku, samasekali enggak ngerti kenapa masih banyak yang nanya gimana cara ngedapetin password Memorable 13. Saran aku, kalau kalian baca cerita karangan aku, coba baca sampai akhir. Karena aku selalu membubuhkan kutipan apapun entah itu penting atau Cuma sekedar untuk berkomunikasi singkat. Tapi kebanyakan dari kalian terkesan mengabaikannya. Padahal, cara buat ngedapetin password itu udah aku tulis jelas di akhir Memorable 12. Kenapa masih banyak yang nanya? Bahkan beberapa readers bertanya dikolom komentar FF author lain. Demi apa, itu bakal nyakitin author lain.

Sekarang, biar lebih mudah, kalian yang masih belum dapat PW silahkan hubungi aku di : 087893737011. Ingat! Kalian harus punya ID Koment. Jangan maksa minta pw kalau kalian gak pernah sekalipun komentar. Terus, buat yang minta aku ngirim passwordnya ke email, inbox facebook atau nomer telepon kalian, tolong direvisi ulang. Aku gak mungkin cari-cari facebook kalian terus ngirim inbox. Nomer telepon aku udah ada diatas, jadi, yang masih mau PW, silahkan usaha.

 

Terakhir, Happy reading🙂

 

 

“Dong hae wasseo!”

Dong hae menyapu sekitaran pintu masuk apartemennya sejenak. Mengulas nafas penat lalu membuka sepatu kulit coklat tua pembungkus telapaknya hari ini. Kedua mata sayu namja itu segera memancarkan aura berbeda.

Dong hae berjalan maju. “Dong hae wasseo!!” teriaknya kembali.

Ia melirik sebentar nakas yang diatasnya terdapat stop contact. Melirik lagi ruang tamu yang redup lalu berakhir dibelokan menuju dapur.

Namja itu melirik arloji biru tua miliknya. Sudah pukul lima lewat sepuluh menit.

Aneh. Biasanya, diambang jarum angka lima seluruh apartemen sudah akan terang benderang. Maklum saja, musim semi membuat awan seringkali bergundukan membentuk warna kelabu. Malam lebih cepat datang dan hujan akan lebih sering turun.

Dong hae melangkah maju. Jemari kakinya langsung bertemu dengan sepasang sendal rumahan berbentuk strawberry yang dihiasi bulu-bulu halus sebagai penghangat. Ia tersenyum. Mengingat sang istri hanya sepersekian detik usai tersenyum.

“yoon..” panggilnya ringan. “yoon, nae wasseoyo..” ulangnya.

Ruang tamu yang meremang dan semakin gelap itu berubah menjadi mencekam. Langkah Dong hae tiba-tiba saja menjadi lebih cepat lalu dalam sekejap ruang tamu berubah terang.

“yoon.. Im yoona!!” panggilnya.

Kaki jenjangnya menarik Dong hae menuju dapur. Biasanya, pada jam sore ini akan ada bibi han yang tengah memasakkan sesuatu untuk mereka. Tapi kali ini tidak. Tidak ada siapapun disana.

“bibi  han?!” panggilnya ulang.

Ruang tamu dan dapur berubah riuh. Seluruh ruangan menjadi begitu gelap karena mendung sudah bergumul. Menyiratkan kiasan agar orang-orang yang hidup dibawah awan mereka segera berlindung.

“Im yoona?! Bibi han?!”

Dong hae membuka pintu kamar. Dan kembali suasana gelap menyambangi pandangannya. Sial! Jemari Dong hae bergetar halus. Langkahnya terseret menuju kamar mandi dan seketika itu juga ia mendapatkan jawaban yang tak jauh berbeda.

Dong hae mengerutkan keningnya cepat. Pelipisnya kini dialiri bulir keringat dingin yang mencekam. Tas kerja yang tergantung pada jemarinya segera terhempas lalu berikutnya tapak langkah Dong hae mewarnai sore gelap itu dengan penuh.

“sayang, kau dimana? Jangan bersembunyi! Ini sudah waktunya makan. Kau tidak lapar?”

Dong hae tak mendapatkan jawaban apapun.

“sayang!!!” teriaknya frustasi.

Dong hae berlari kecil menuju pintu masuk. Disana, ia menemukan satu pasang lagi sendal strawberry yang bertengger rapi pada rak sepatu. Dong hae terdiam. Sendal santai Yoona menghilang.

Sekelebat usai itu Dong hae terburu-buru berlari kencang. Sial! Yoona pasti tidak dirumah. Batinnya. Dong hae berlari seperti lelaki bodoh. Tak perduli beberapa bahu yang ia tabrak semenjak belokan apartemennya.

“maaf, maaf. Tunggu! Tunggu aku!!”

Dong hae berlari menuju lift. Dengan lapang hati berdesakan dengan isi lift yang pada sore itu sepertinya begitu padat. Dong hae melirik lampu yang terus turun. Menunjukkan pada lantai berapa mereka berada saat ini dengan cemas.

Usai angka satu tertera, bahunya tanpa permisi melangkah maju. Berlari sekuat yang ia mampu menuju pintu keluar. Dong hae berbelok cepat. Arah jalannya tak tentu. Ia juga tak lagi perduli dengan umpatan beberapa orang yang bersentuh bahu dengannya.

Yang Dong hae inginkan hanya satu. Secepat mungkin menemukan Yoona.

Langkah Dong hae terus menyusuri jalanan. Kepalanya terus menoleh kekanan dan kekiri untuk sekedar memastikan keberadaan Yoona.

Lalu setelah seluruh bahu Dong hae basah karena peluh yang bercucuran, langkahnya tiba-tiba berhenti. Tepat disamping halte bus yang berjarak hampir delapan ratus meter dari apartemen mereka.

Dong hae memejamkan kedua bola matanya erat-erat. Nafasnya memburu kuat. Lalu dalam sekali detik deru berat pertanda kesakitan dalam paru-parunya meluncur hebat. Dong hae menarik nafasnya sekali, lalu kembali berlari kecil.

Hanya berlari kecil. Menuju halte, lalu segera mendudukkan diri disana.

 

 

__

Yoona menatap kosong jalanan didepannya. Pikirannya terasa begitu kosong. Ia tak tau harus melakukan apa. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk berdiam diri tanpa melakukan apapun.

“apa yang kau lakukan disini?”

Yoona tersentak saat jemari Dong hae mengusap sayang rambutnya yang beterbangan karena angin. Mendung sudah semakin menjajah langit. Siapapun tau, tak akan ada yang selamat jika terus memutuskan untuk berada diluar rumah.

“oppa menemukanku..” gumam Yoona polos.

Ekspresi wajahnya yang datar tanpa rasa berdosa membuat Dong hae kalut. Namja itu segera duduk lalu memeluk Yoona erat.

“tentu. Tentu aku menemukanmu. Aku selalu akan menemukanmu, sayang”

Dong hae mengusap punggung Yoona lembut. Air matanya hampir saja menyeruak jika ia tak mampu menahan diri. Pikirannya sudah begitu kalut, rumit dan tak lagi mampu memikirkan apapun.

Ia hanya ingin tau keberadaan Yoona. Hanya itu.

“aku lupa jalan pulang..”

Dong hae terhenyak ketika suara halus Yoona menggelitik pendengarannya. Salah satu tangannya segera memeluk bahu Yoona erat. Lalu memisahkan jarak diantara mereka dan menatap mata Yoona dalam-dalam.

“kalau begitu mengapa keluar tanpa bibi han, hemm?” tanyanya lembut.

Yoona mengerjap lucu. Ekspresi tanpa dosa miliknya entah mengapa terus mampu membuat Dong hae kalap. “aku ingin ini—“

Dan Dong hae benar-benar terpaku saat salah satu tangan Yoona menyodorkannya bungkusan. Didalamnya, ada kotak putih yang cukup besar. Lalu dengan cepat Dong hae sadar, “kau berbelanja?” tanyanya ragu.

Yoona mengangguk cepat. “tapi aku lupa dimana aku menaruh uang bulanan yang kau berikan”

“lalu?”

Yoona hanya mengedikkan bahunya acuh. Yeoja itu segera menyeruak memasukkan dirinya dalam hangat tubuh Dong hae. Bingkisan yang Dong hae tau sebagai kotak susu itu segera berpindah pada tangannya.

Sial!

“bagaimana kau bisa tau merknya?”

Yoona mendongak. Matanya membulat lucu lalu mengerjap. “aku menemukan bingkisan lain yang serupa didapur. Aku, tidak salah, kan?”

Dan Dong hae menggeleng. Lengannya memeluk Yoona sekali lagi. Kini dengan lebih erat. Menumpahkan air matanya yang sempat tertahan pada bahu Yoona. Tubuh Dong hae bergetar hebat.

Ia takut. Takut sekali.

“lain kali jangan seperti ini. Aku takut sekali tidak mampu menemukanmu, sayang” bisiknya serak. Suara beratnya berubah parau lalu air matanya turun bersama gerimis sore yang datang secara perlahan.

 

 

__

Bunyi pintu apartemen mengisi rinai sore itu. Dong hae membopoh bahu Yoona yang tetap hangat dalam balutan jas miliknya. Beberapa bagian jas basah karena hujan sementara hampir seluruh kemeja belakang Dong hae benar-benar basah kuyub.

Dong hae dengan cepat mengibaskan jas kantornya. Sebisa mungkin agar air hujan tak menyentuh sejengkal pun kulit Yoona. Namja itu menyampirkan jas miliknya lalu mengusap sayang rambut Yoona yang masih kering. Berakhir pada pipi putih susunya lalu tersenyum.

“kau mandilah, jangan lupa dengan air hangat” bisiknya lembut.

Yoona menggangguk patuh. Ia berjalan dan menghilang dibalik pintu kamar. Dong hae segera melangkah, membuka alas kakinya sebelum masuk.

Lalu tak lama ia tersenyum sendiri. Bahkan ia lupa dengan sendal rumahan yang ia bawa. Sendal bulu berwarna merah itu masih menempel pada tapaknya. Basah, dan kotor.

Dong hae lupa banyak hal, termasuk ponselnya yang kini pasti sudah mulai lembab. Namja itu buru-buru mengeluarkan ponselnya, menghempaskan elektronik itu diatas sofa dan berjalan menuju kamar.

Gemericik air menenangkan hatinya dengan cepat. Dong hae membuka kemejanya, mengganti celananya dengan yang lebih pendek lalu segera terlentang diatas ranjang. Masih pukul tujuh dan ia sudah merasa begitu lelah.

“oppa tidak mandi?”

Dong hae segera duduk. Tanpa busana atasan, tubuhnya berdiri dan mendekati Yoona perlahan. Jemarinya mengangkat dagu Yoona lalu mengecup bibir yeoja itu lembut. Pelan dan sebentar saja. Lalu tersenyum.

“arraseo” jawabnya.

 

 

__

Dan malam itu Dong hae hanya mampu terdiam saat Yoona sudah duduk didepan meja makan. Segelas susu hangat sudah bersarang disana. Menunggu Dong hae datang dan meneguknya. Dong hae mendekat, mengecup puncak kepala Yoona lalu duduk. “kau yang menyiapkan air hangatku?”

Yoona mengangguk.

“dan susu ini?”

Yoona kembali mengangguk.

“gomawo”

Dong hae tersenyum. Segera meneguk susu vanilla yang memang selalu rutin ia konsumsi setiap harinya. Ia belum sempat berkomentar. Tapi jika ia mau, ia akan bertanya mengapa Yoona bisa mengingat merk susu dan waktu yang tepat untuk Dong hae meminum susu vanillanya.

Dong hae hanya tersenyum. Jika pun ia mau, dan ia bisa, ia tentu tak akan bertanya. Jemarinya hanya berjalan menggenggam milik Yoona lalu kembali berterimakasih.

“kau sudah makan?”

Yoona yang semula menunduk segera mendongak ragu. Kedua matanya segera bergerak gelisah seperti memikirkan sesuatu. Ia menggeleng. “tadi bibi han pulang. Dia berkata jika..” sepuluh jemari yeoja itu saling meremas. “um.. dia…”

Yoona terperanjat saat jemari Dong hae tiba-tiba datang. Menggulung jarinya hangat lalu tersenyum. “Kau bisa memikirkannya lain kali. Atau oppa akan bertanya pada bibi han besok. Kau sudah berusaha keras, sekarang waktunya tidur” ucapnya.

 

 

__

“oppa..”

“hmm?”

Yoona menggeliat pelan dalam pelukan Dong hae. “aku lupa saat ini bulan apa”

Dong hae tersenyum tipis. Jemarinya segera mendorong punggung Yoona agar semakin mendekat padanya. “sekarang masih bulan maret, sayang” jawabnya.

“apa kita menikah dibulan ini?”

Dan Dong hae kembali tersenyum. “bukan”

Dong hae mengeratkan pelukannya. Menyatukan dari mereka lalu mengecup ujung hidung Yoona lama. “kau sudah menanyakan itu bulan lalu” ujarnya.

Yoona terbelalak lucu. “benarkah?”

“hmm”

“aku lupa”

‘kau memang melupakan banyak hal, sayang’

Dong hae hanya kembali tersenyum. Selain tersenyum, tak banyak hal yang bisa ia lakukan untuk menanggapi penuturan Yoona. Hampir satu tahun yang lalu, dan saat ini bahkan Yoona sudah melupakan banyak hal.

“oppa, aku lupa!” ujar Yoona sekali lagi.

Dong hae terkekeh sebentar. “lalu, jika kau lupa, apa yang akan terjadi?” bisiknya.

Yoona diam. Menimbang beberapa kata yang perlu ia lontarkan. “entahlah. Mungkin oppa akan marah?” jawabnya polos.

Dong hae hampir saja terpingkal, tapi tak ia lakukan. Tubuhnya hanya semakin mendekat lalu menenggelamkan Yoona dalam pelukan yang hangat. “konyol sekali” ledeknya diselingi sebuah seringai ringan. “cah, sudah malam. Ayo tidur.”

Namja itu berbalik, mematikan lampu kamar milik mereka lalu kembali menatap Yoona. Kedua matanya terpejam perlahan. Kembali menenggelamkan Yoona dalam pelukannya hingga bibir hangatnya menyentuh puncak kepala Yoona.

Yoona hanya diam.

Membantah bukan keahliannya.

“oppa..” tapi kali ini ia merasa begitu berbeda.

“hmm?”

“aku lupa” ulangnya kini dengan suara yang lebih kecil.

Tiba-tiba Dong hae membuka mata dengan cepat. Dari dalam keremangan saja, Yoona tau jika lelaki itu tengah kecewa berat. Ia terbebani. Dan batinnya terluka. Yoona tau, tapi sekali lagi, ia selalu melupakan alasannya.

Dong hae hanya menatap mata Yoona dalam-dalam. Nafas namja itu berjalan teratur. Bahkan terlalu lambat dan menenangkan.

“sayang..” panggil Dong hae parau. Jemarinya mendarat pada pipi Yoona lalu mengusapnya dengan ibu jari “asal kau tak melupakanku, tak melupakan caramu mencintaku dan tak melupakan cintaku padamu, itu sudah lebih dari cukup” bisiknya penuh arti.

Yoona diam. Berkata-kata hanya akan merusak perasaan Dong hae.

“tak apa, lupakan saja tanggal itu, aku tak butuh tanggal untuk mencintaimu”

“tapi—“

“kau hanya perlu ingat,,” Dong hae berhenti, tubuhnya mendekat, menyatukan bibir mereka lembut. Sial! Ia tak pernah bisa berhenti menginginkan Yoona. Wanita ini nyawanya! “aku mencintaimu. Sangat” lanjutnya.

Yoona mengerjap “setiap hari?”

“setiap hari”

“selamanya?”

Dong hae mengangguk. “hmm”

“hanya aku?”

“hanya kau saja”

“benarkah?”

Dan Dong hae tertawa geli.

“Jangan lupakan ini,,” Yoona buru-buru memfokuskan diri. Dong hae bilang ia tak boleh melupakan ini. “kau tau mengapa pohon ek bertambah tinggi?”

“mereka tumbuh”

“maka cinta oppa selalu seperti itu. Tumbuh. Hanya untukmu” Yoona kembali tenggelam dalam pelukan Dong hae. Keningnya kemudian menghangat lalu tak lama kantuk menyerangnya.

“sayang?”

“hmm?”

Yoona merasa jika ia hampir berada diambang pintu dunia bawah sadarnya ketika bisikan itu datang. Sesuatu yang tak pernah bisa ia lupakan meski sehebat apapun penyakit itu menyerangnya. Sesuatu yang luar biasa. Sesuatu yang selalu menjadi penghantar tidur baginya.

“oppa mencintaimu. Ribuan kali dari sebelumnya”

Dalam kantuk itu, Yoona mengangguk tanpa sadar. Membuat Dong hae tersenyum dan sebutir kristal terjatuh. Dong hae terdiam. Bibirnya kelu. Kenyataan yang tak pernah terbantahkan adalah, ia mencintai wanita itu, dengan atau tanpa sebuah beban.

Tanpa memori.

Tanpa masa lalu.

Ia mencintai Yoona untuk masa depan.

Untuk apapun yang masih diingatnya.

Dan untuk apapun yang akan membahagiakannya.

Sesederhana itu saja.

Karena Alzheimer, tak akan menghapuskan cinta Yoona untuknya.

 

Ny. Im Yoona.

21 Mei, 2013.

Alzheimer

 

-FIN-

With love,Park ji yeon.

 

62 thoughts on “[Ficlet] Lost In Memory

  1. Nangis baca.x T.0.T
    ntah knapa dapet bgt feel.x,kbyang wktu haepPa dg mata tduh.x natap yo0ngNie dg pnuh cinta🙂 n y0ongNie natap blik haepPa dg deer eyes.x🙂
    nangis lg,DAEBAKkK🙂

  2. wah, biasanya aku males baca ff yoonhae, tapi untuk yg ini aku jatuh cinta banget…
    setiap cerita dari author Hyukgumsmile ini pasti oke oke punya..

  3. suka bangett…
    aduh Donghea itulah suami idaman haha, aku ambil donghae aja lah.. kyu kalah jauh kalo buat kategori suami idaman.

    pas adegan ini..

    Yoona mengerjap “setiap hari?”
    “setiap hari”
    “selamanya?”
    Dong hae mengangguk. “hmm”
    “hanya aku?”
    “hanya kau saja”
    “benarkah?”

    jadi inget spongebob sama patrick. yang kutipannya kurang lebih seperti ini
    pat : selamanya?
    sp : selamanya!
    pat : selama-lamanya?
    sp : selama-lamanya!
    pat : selama-lama-lamanya?
    sp : selama-lama-lamanya?
    dan sampe capek. (oke abaikan)

    keep writing eon..

  4. salut sama donghae oppa cinta besar bnget buat yoong meskipun yoong melupakan segalanya tapi hae tetap setia , so sweet donghae emang suami idaman ga rugi dah nanti qlo yoona nikah sama donghae hehe yh jjang , dtnggu ff yh lainya ne
    ^^fighting

  5. Menyentuh bgt, D0nghae cinta.a ttp ada buat Y00na sekalipun banyak hal yg dilupakan 0leh Y00na,,
    Yg pnting Y00na gk melupakan cinta.a buat D0nghae ..,;-(

  6. sedih banget bacanya. ternyata yoona lupa ingatan, tapi dia masih ingat sama donghae suaminya. donghae setia banget ngejaga yoona dalam keadaan apapun itu. bersyukur yoona sama donghae begitupun sebaliknya. daebakk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s