Forced Marriage

forced-marriage-poster

Forced Marriage

 kkezzgw storyline&art

Main Cast: SNSD’s Yoona & SJ’s Siwon

Support Cast: SNSD’s Yuri, Actress Im Joo Eun

Genre: Marriage LifeRomance

Length: Oneshoot

Rated: NC +17

Facebook: Kezia Gabriella Winoto|| Twitter: @keziasiwon@yoonakrystal@kkezzgw || Blog:  keziagw.wordpress.comkageweyoonwon.tumblr.com

Disclaimer: This fanfiction is inspirated by Marriage Life fanfiction. This story is mine, please don’t be a plagiarism. Sorry for the similarity of story ideas and undetected typo(s).

Summary: “Pernikahan didasari oleh kesucian yang membawa pasangan suami-istri menjadi satu, terlebih jika pernikahan yang didasari cinta abadi, semua akan terasa indah. Namun, mengapa aku harus menjalani pernikahan ini karena sebuah tuntutan dan kebencian? Mengapa Tuhan tidak berpihak padaku? Ia memang pria sempurna, tapi apa itu membuatku bahagia? Aku membencinya, sekarang, besok, dan sampai kapanpun.”

———————————-

 Forced Marriage – ©kkezzgw

———————————-

YOONA POV

Aku memandangi sosok gadis yang sekarang berdiri di depan cermin, yang sekarang berbalut gaun pengantin berwarna putih susu bertaburkan berlian seharga ratusan juta, belum lagi kain sutra yang sengaja di import dari India khusus untuk gaun pengantin ini. Tatanan rambut serta riasan wajah yang semakin membuat sosok gadis itu terlihat elok karena ditangani oleh penata rias terbaik di Korea Selatan. Seharusnya gadis ini merasa senang di hari pernikahannya, terlebih dia akan dinikahi oleh putra tunggal keluarga chaebol terkaya di Korea Selatan. Seharusnya gadis ini tersenyum saat membayangkan dirinya akan menikahi pria se-sempurna calon suaminya sekarang. Seharusnya ia senang hidupnya dan keluarganya akan terjamin dengan sangat aman. Seharusnya……seharusnya…….hentikan. Akan terlalu banyak seharusnya yang akan kau ucapkan jika kau terus melanjutkan desisan kesedihanmu.

Yoona, neo baboya? Kau seharusnya bahagia mendapatkan semua ini. Menikah, menjadi istri, dan menjadi seorang ibu, bukankah ini keinginanmu sejak dulu? Membangun keluarga kecil yang harmonis, melahirkan anak dari rahimmu sendiri, menikmati waktu bersama seseorang yang akan menjadi milikmu selamanya, melihat kesuksesan anakmu, dan melihat cucu – cucumu dengan rambut yang sudah beruban? Ya, maksudku aku ingin merasakan semua itu bersama pria yang kucintai, bukan dengannya. Bukan dengan pria yang terobsesi padaku.

Pria itu, Choi Siwon. Pria yang sudah masuk ke dalam hidupku sesuka hatinya, tanpa memikirkan hatiku. Pertemuan pertama kami terjadi saat pesta pernikahan Jooeun eonnie. Keluarga dia adalah salah satu tamu undangan, mereka adalah kolega ayahku. Keluarga chaebol terbesar di Korea, dengan harta yang melimpah, kekuasaan tinggi, serta kesempurnaan dalam keluarga itu. Diakhir acara, tradisi dari keluarga Im adalah mengobrol dengan tamu – tamu penting seusai acara dalam sebuah ruangan pribadi, hanya ada beberapa keluarga disana, termasuk keluarganya. Disitulah ia melihatku, dengan tatapan yang sulit kuartikan. Aku berusaha tidak peduli dan terus berdekatan dengan sahabatku Yuri. Begitulah, ia tak berhenti menatapku, seakan aku adalah sesuatu yang sangat dia inginkan. Lagi – lagi aku berusaha tidak peduli dan tetap fokus pada sahabatku.

3

3 bulan setelah pernikahan Jooeun eonnie, perusahaan ayahku divonis akan segera gulung tikar karena tindakan biadab dari salah satu karyawan perusahaan yang mencuri beberapa aset penting dalam perusahaan. Aku terus menangis setiap kali ayahku pulang dengan keadaan memprihatinkan, terkadang ia menangis. Aku berusaha bekerja semaksimal mungkin untuk membantu ayahku, tapi itu semua tidak membuahkan hasil sama sekali.

Suatu hari ayahku datang dengan muka yang tenang, namun terdapat keraguan dan kepahitan dalam tatapannya saat menatapku. Malam itu, kami se-keluarga berkumpul di ruang keluarga dengan suasana yang tidak mengenakan. Disitulah ayahku memberi tahuku bahwa keluarga Choi Siwon melamarku untuk menjadi istri Siwon serta Nyonya Choi untuk perusahaan besar mereka. Kontan saja aku menolaknya dengan nada suara tertinggi yang kupunya.

Ayah menatapku dalam lalu mendesah berat, “Baiklah jika kau tidak mau, appa ini benar – benar bukan seorang ayah yang baik. Tega – teganya menjodohkan anaknya hanya demi uang. Baiklah, appa meminta maaf jika kita akan jatuh miskin karena kecerobohanku. Appa lebih baik menjadi miskin…dibanding membiarkan putri kandungku menderita karena perjodohan ini.”

Aku yang mendengarnya justru menangis, membuat mereka panik. Aku tak tega melihat appa seperti ini, sebelum ia bahkan menikah dengan eomma, perusahaan itu sudah berdiri. Bisa dibilang appa adalah pewaris perusahaan kakekku. Perusahaan yang sudah dibangin lebih dari 20 tahun harus musnah hanya karena aku menolak membantu?

Dengan berat aku pun menerima perjodohan ini, keluargaku sempat memaksaku untuk memikirkan baik – baik tentang keputusan ini. Aku tetap pada pendirianku untuk menikah dengan Choi Siwon, semua ini kulakukan hanya untuk membantu appa.

2 hari kemudian kami bertemu disebuah restoran yang dipesan khusus oleh keluarganya. Kami saling bertatapan saat secara resmi bertemu, ia tersenyum padaku dengan begitu manis, namun aku hanya membuang muka dan mengalihkan pandanganku pada ponsel. Aku akui ia adalah sosok pria dengan segala kesempurnaan fisik yang tidak bisa kuelak. Tampan, kaya, tinggi, kulit seputih pualam, tubuh tegap, pintar, serta kemampuan dia dalam berbisnis harus diberi 5 bintang dalam penilaian. Namun segala kesempurnaan itu tak mampu membuatku menyukainya, justru malah membuatku semakin tak suka.

1

Kami beberapa kali berkencan, dan selama berkencan itu pula ia mencuri ciumanku, termasuk ciuman pertamaku. Beberapa minggu kemudian, datanglah hari ini. Hari dimana aku akan menjadi pendamping hidupnya, menjadi istri yang harus melayani suaminya, menjadi istri yang wajib meneruskan keturunan keluarga Choi.

Tanpa kusadari lelehan air mata kembali membanjiri pipiku.

Lamunanku terpecahkan saat kakakku masuk ke dalam ruang tunggu pengantin, ia melihat lelehan air mata yang berusaha kutahan sejak tadi namun tetap tak bisa kuhentikan. Seketika itu juga ia memelukku dengan erat, ia ikut menangis, seakan tak peduli dengan riasannya yang sudah tertata rapi.

“Yoona-ah, mianhae, jeongmal mianhae. Eonnie memang bukan eonnie yang baik,eonnie tidak bisa membantumu…..membantumu……” ia tak sanggup melanjutkan kata – katanya saat aku menatapnya dengan tatapan meyakinkan.

Na gwaenchana, eonnie.”  kataku sambil berusaha tersenyum.

Jooeun eonnie menggenggam jemariku lalu membawaku keluar dari ruang tunggu, membimbingku menuju tempat pemberkatan pernikahanku dengan pria itu, pria yang sama sekali tidak kuharapkan untuk menjalani hidup bersama sampai maut memisahkan. Aku masih berharapa sekarang aku sedang bermimpi, atau sekedar melamun sejenak. Tapi tidak, ini kenyataan, bahkan aku sudah berdiri di ambang pintu menuju altar.

Dengan susah payah aku menggenggam tangan ayahku yang sekarang sudah berdiri di sampingku dengan tatapan sendu. Aku tahu ia merasa bersalah padaku, karena dialah aku harus rela menyerahkan segalanya kepada pria itu. Aku berusaha tersenyum padanya, meyakinkan dirinya kalau aku tidak masalah dengan semua ini, ya setidaknya di hadapan ayahku aku harus bersikap seperti menginginkan hal ini.

Pria itu sudah berdiri sambil tersenyum manis di depan altar dengan tuxedo berwarna hitam, tak perlu riasan yang terlalu banyak untuk wajah se-sempurna dia, mungkin gadis manapun yang melihatnya akan berlari menghambur ke dalam pelukkan pria tampan itu, memintanya untuk segera menikahinya. Tapi tidak denganku, aku membencinya. Ya, aku membencinya dan perasaan ini tak akan pernah berubah, sampai ia menceraikanku walaupun kemungkinannya tidak mencapai 1%.

2

Ia tersenyum saat memandangiku, lalu meraih jemariku dengan erat saat ayahku menyerahkan putri bungsunya kepada pria ini.

“Kau…..kau luar biasa cantik, Im Yoona.” katanya sambil memandangiku dengan mata berbinar. Aku hanya diam tak peduli dengan perkataanya.Ia membimbingku menghadap kepada Tuhan, ia terus tersenyum bahagia, sedangkan aku? Jangankan tersenyum, sekedar menatapnya tanpa amarah saja rasanya sulit sekali.

Tanpa banyak bicara, kami langsung menghadap pendeta yang sudah siap membimbing kami mengucapkan wedding vow. Aku berusaha menahan air mataku yang siap meluncur dati mataku. Ini bukan air mata bahagia, namun air mata penderitaan.

“Hadirin yang terkasih, hari ini kita berkumpul disini untuk menyatukan pasangan yang akan mengikat janji sehidup semati di hadapan Tuhan.” pendeta itu memulai. Para undangan pun mulai memerhatikan acara sakral ini dengan hikmat.

“Saudara Choi Siwon, maukah engkau mengambil wanita ini sebagai istri yang diberikan oleh Tuhan di dalam pernikahan yang kudus? Maukah kau melindungi dia, menghibur dia, menghormati dan memelihara dia, baik pada waktu dia sehat maupun pada waktu dia sakit, serta mencintainya selama ia hidup?”

Tanpa ragu, Siwon menjawab, “Ya, saya bersedia.”

Pendeta itu menoleh kearahku, “Saudari Im Yoona maukah engkau menerima pria ini sebagai suamj yang diberikan oleh Tuhan di dalam pernikahan yang kudus? Maukah kau menemani dia, menghibur dia, menghormati dan memelihara dia, baik pada waktu dia sehat maupun pada waktu dia sakit, kaya maupun miskin, serta mencintainya selama ia hidup?”

Aku hanya diam. Aku benar – benar tidak mau mengatakan sumpah yang penuh dengan dusta seperti ini di hadapan Tuhan, aku tidak mencintainya.

“Saudari Im Yoona?” ulang pendeta itu dengan tatapan aneh.

Aku kembali membuang nafas dengan berat, “Ya, saya bersedia.”

Kami saling berhadapan untuk mengucap sumpah suci untuk kedua kalinya. Pendeta itu mempersilahkan Siwon memulainya terlebih dahulu.

Aku mengerjap kaget saat Siwon meraih kedua tanganku sambil membacakan sumpahnya, “Saya, Choi Siwon, mengaku dan menyatakan di sini, di hadapan Alalh dan Pendeta serta jemaat yang hadir sebagai saksi, bahwa saya mengambil Im Yoona sebagai isteri yang sah, dan saya sebagai suami yang setia akan tetap mengasihi dan melayani dia pada waktu suka maupun duka, pada waktu sehat maupun sakit dan akan memelihara dia dengan setia. Saya berjanji akan menuntut hidup suci dengan isteri saya dengan menyatakan kesetiaan dan iman saya di dalam segala hal kepadanya sesuai dengan Injil Tuhan Yesus Kristus.”

Siwon mengusap pelan jemariku dan aku hanya diam tak bergeming. Pendeta itu tersenyum padaku, terpaksa aku meraih jemarinya dan menarik nafas dengan berat sebelum mengucapkan sumpah ini.

“Saya, Im Yoona, mengaku dan menyatakan di sini, di hadapan Alalh dan Pendeta serta jemaat yang hadir sebagai saksi, bahwa saya menyambut Choi Siwon sebagai suami yang sah, dan saya sebagai suami yang setia akan tetap mengasihi dan melayani dia pada waktu suka maupun duka, pada waktu kaya maupun miskin dan akan memelihara dia dengan setia. Saya berjanji akan menuntut hidup suci dengan suami saya dengan menyatakan kesetiaan dan iman saya di dalam segala hal kepadanya sesuai dengan Injil Tuhan Yesus Kristus.”

Semua yang datang ke pernikahan ini menghembuskan nafas lega saat kami selesai mengucapkan wedding vow. Beberapa dari mereka tersenyum bahagia menyaksikan kami sudah resmi menjadi suami istri. Kami saling memasukkan cincin ke jari manis masing – masing dalam diam.

“Di hadapan Tuhan, keluarga serta para hadirin yang terkasih, saya meresmikan kalian menjadi suami istri.”

Saat pendeta itu menyuruh mempelai pria menciumku, aku hanya bisa berpasrah. Jelas aku ingin menghilangkan bagian ini, tapi kurasa itu hal yang tidak mungkin terjadi jika aku menikahi pria hypersex seperti Siwon. Kami saling menatap manik mata satu sama lain. Ia tersenyum begitu menawan sebelum akhirnya aku merasakan bibirnya melumat bibirku dengan intens. Aku hanya diam tak melawan apalagi membalasnya. Tepuk tangan riuh langsung mewarnai ciuman kami. Ia melepaskan ciumannya lalu mendekatkan mulutnya ke telinga kiriku, “Aku tidak sabar menanti malam pertama kita, Nyonya Choi” katanya dengan suara seraknya. Aku menatapnya marah dan langsung membuang muka. Ia hanya tersenyum lalu merangkul pinggangku sambil menebarkan senyum kepada tamu undangan di ruangan itu.

Siwon sengaja mendesain ballroom Lotte Hotel ini menjadi sebuah altar di gereja rangkap resepsi pernikahan, karena itu pernikahan kami berjalan sekitar 3 jam, dengan pemberkatan 1 jam dan resepsi 2 jam. Ia juga yang memilih pesta ini diadakan di malam hari, entah apa rencananya aku benar – benar tak peduli lagi.

Tepat pukul 9 malam, pesta pernikahan kami selesai. Aku mengganti baju pengantinku dengan dress biru yang terlalu terbuka menurutku, tentunya ini bukan aku yang memilih. Seorang pelayan mengantarkan dress ini kepadaku saat acara resepsi selesai. Tentu saja ini dari Choi Siwon. Jujur, aku ragu melihat dress yang ku kenakan sekarang, dress ini benar – benar terbuka. Aku takut hal itu terjadi malam ini mengingat Siwon terlihat sangat bergairah saat mengatakannya padaku.

Yoona-Azzaro

 

Saat aku keluar dari ruang ganti, tak sengaja aku melihat Siwon sedang berbincang dengan keluargaku, terlihat kedua orangtuanya yang ikut bergabung dengan mereka. Tak sampai sedetik setelah itu, mata Siwon bertemu denganku yang sekarang sedang menatapnya takut – takut. Ia mengamati tampilanku dari kaki hingga keatas, ia hanya diam sambil menatapku dengan tatapan terpana. Aku buru – buru membuang muka dan menghampiri mereka semua.

“Yoona-ya, kau ini lama sekali. Cepat ikut Siwon ke tempat tinggal kalian yang baru.” kata Nyonya Choi setengah bercanda.

Aku hanya tersenyum seadanya pada mertuaku, Sooeun eonnie menatapku sedih dan aku hanya membalasnya dengan senyuman. Siwon memeluk pinggangku posesif lalu pamit meninggalkan keluarga kami. Mobil hitam bertubuh rendah sudah menanti kami untuk menuju tempat tujuan kami. Selama di perjalanan, Siwon tak berhenti memandangiku, membelaiku, dan bahkan sesekali mengecupi leherku yang terbuka. Aku berusaha melawannya tapi tindakanku malah membuatnya semakin liar dan tak terkendali. Ku putuskan hanya diam dan tak mempedulikan pria yang sekarang sedang sibuk memainkan tubuhku. Aku merasa kotor setiap kali ia melakukan hal ini padaku, walaupun ia memang berhak melakukannya.

Kami sampai di rumah bergaya Eropa dengan kemegahan yang terpancar dari sisi manapun. Aku hanya diam sambil memandangi rumah itu, inilah yang diinginkan setiap wanita. Hidup mewah dikelilingi harta dan pelayan yang akan melayanimu jika kita membutuhkan sesuatu, apalagi didampingi seorang suami yang bisa dikatakan sempùrna secara fisik. Ini semua tetap tak membuatku senang, aku kembali membayangkan jika diriku menikah dengan pria yang kucintai,aku tidak mungkin seperti ini.

Tanpa aba – aba, Siwon memeluk pinggangku dari belakang sambil mengecupi leherku.

NC 21

Malam itu, aku menyerahkan segalanya kepada Choi Siwon. Pria yang berstatus sebagai suamiku dan menjadi raja atas seluruh kebaikan Tuhan yang ada pada tubuhku. Dan malam ini juga, aku bukanlah Im Yoona, melainkan Choi Yoona, seorang gadis yang bertransformasi menjadi wanita, malam ini.

**

Bunyi kicauan burung serta pancaran sinar matahari yang masuk melalui ventilasi udara membuatku mulai melenguh malas untuk beranjak dari tidurku dan meninggalkan alam mimpi. Aku tertidur lelap malam ini, entah kenapa. Ragaku masih belum terkumpul sempurna saat aku membuka mata. Terlihat atap berwarna putih gading dengan ukiran ala kerajaan Eropa yang terpampang di depanku. Aku mengerutkan dahi bingung, seingatku atap kamarku bermotif pink rose dengan kerajaan – kerajaan kecil layaknya kerajaan putri. Keherenan itu terjadi sebelum bayangan kejadian semalam memenuhi pikiranku.

Aku menoleh singkat untuk memastikan bayangan itu dan mendapati pria itu sedang tersenyum kearahku, pria yang sudah merenggut segalanya dan menjadikan tubuhku hanya untuknya, karena aku memang sudah miliknya sepenuhnya. Ia tersenyum dengan sangat bahagia, terlihat dari tatapan mata serta bibirnya yang terus membentuk bulan sabit, belum lagi kedua lesung pipinya yang membuatnya terlihat semakin bahagia.

Aku memejamkan mataku, berusaha memikirkan kalau aku masih ada di alam mimpi, tidak saat aku merasakan tubuhku menempel sempurna di atas tempat tidur dengan keadaan tak berbusana, dan aku merasakan pria itu juga memiliki kondisi yang sama, dengan posisi ia memelukku dengan posesif, tubuh kami masih bersentuhan intim. Kurasakan ia membelai beberapa bagian tubuhku sambil tersenyum kearahku.

Dengan keras aku berusaha menahan tangis ini lalu memutar tubuhku memunggunginya, saat itulah aku baru menangis, aku benar – benar sudah menjadi miliknya, seutuhnya, bahkan tubuhku juga di-rajai olehnya. Kurasakan Siwon membelai perutku datar sebelum ia memeluk pinggangku dan mengecupi bahu dan leherku. Ia menghembuskan nafas hangatnya pada daerah itu membuatku sedikit bergeming.

“Terimakasih sayang. Kau membuatku menjadi pria paling beruntung karena menjadi pria pertama yang menyentuhmu. Tak akan kubiarkan siapapun berani menyentuhmu seperti apa yang semalam kulakukan padamu. Saranghae…” katanya dengan suara seraknya lalu kembali melanjutkan aktifitasnya.

Aku hanya diam tak bergeming merasakan sentuhannya lagi, ia kembali menindihku lalu mendekatkan bibirnya ke telingaku, “Bolehkah….kita memulainya lagi?”

Bibirnya melumat bibirku lagi dengan gairah yang masih menggebu seperti semalam, aku benar – benar tidak peduli saat ia memulainya lagi. Aku hanya dia sambil memandangi langit – langit saat pria ini kembali mencumbuku.

**

Aku rasa aku masih hidup karena aku masih bias bernafas, sisanya aku merasa menjadi mayat hidup atau menjadi pajangan paling apik di rumah.

Sepanjang hari di rumah, tidak bisa berbuat apa – apa selain memasak atau sekedar berjalan – jalan di sekitar taman rumahnya yang memang luar biasa besar dan indah.

Setiap hari Selasa dan Kamis aku ada jam kuliah, dirumahku. Ya, bahkan aku pun harus kuliah dirumah. Siwon adalah pria dengan segala sifat menyebalkan, posesif, dan protektif di dalamnya. Di dalam rumah yang berukuran raksaksa ini, Siwon menyiapkan ruangan kelas khusus untukku, seakan ia sudah merencanakan semua ini. Dan hanya aku sendiri yang belajar disini. Dosen – dosen yang datang juga datang dari kampusku yang dibayar mahal oleh Siwon untuk mengajariku secara pribadi. Bahkan semua dosenku adalah seorang wanita, semua yang berjenis kelamin laki – laki akan langsung ia seleksi sekalipun dosen itu memiliki ilmu yang tinggi.

Aku tidak boleh berhubungan dengan siapapun selain dengannya, setiap malam ia akan mengecheck semua gadgetku, memastikan apakah aku berhubungan dengan pria lain selain dengan dirinya, bahkan untuk menghubungi keluargaku saja rasanya sulit sekali. Saat aku beralasan ingin menelpon eomma atau appa, ia akan mengawasiku, dan yang paling parah aku dilarang berhubungan dengan kakak sepupuku yang bersekolah di Belanda. Kami memang sangat akrab, bahkan terkadang aku cenderung lebih akrab dengannya dibanding dengan appa. Aku kadang memberanikan diri untuk menghubunginya dan saat Siwon tahu tentang hal itu, ia akan menghukumku di ranjang. Aku tidak pernah menghubungi Yuri barang sedikitpun, aku menjelaskan padanya berpuluh – puluh kali aku membutuhkan seorang teman.

“Kalau begitu, kita harus melakukan program bayi sesering mungkin agar kau memiliki teman.” kupingku panas setiap mendengar kalimat itu, dan setelah itu kami kembali beradu diatas ranjang.

Hidupku benar – benar berantakan sekarang. Semua kacau. Aku tertekan dalam belenggu kecintaannya padaku. Tidak, ia tidak mencintaiku, ia terobsesi padaku. Apapun yang kulakukan selalu membuatnya tersenyum sekalipun aku menghujatnya dengan makian. Aku berusaha membuatnya membenciku agar dia segera menceraikanku atau bahkan membunuhku. Aku lebih baik mati dibanding disiksa secara halus olehnya. Tapi ia seakan tidak peduli dengan semuanya dan tetap bercinta denganku.

Setiap ia pulang kerja, aku wajib memakai  lingerie yang disediakan olehnya, aku tidak pernah diizinkan memakai piyama yang tertutup. Setelah mandi, ia langsung meghampiriku dan kami pun bercinta. Dia menggunakan tubuku untuk memenuhi kebutuhannya setiap harinya. Pria ini jelas seorang hypersex, setiap malam ia akan menyentubuhiku dan pagi harinya terkadang ia kembali melakukannya. Tubuh bagian tertentu ku sudah memar dan bahkan nyeri setiap kali ia melakukannya, jika aku mengatakan hal ini padanya, ia akan berfikir bahwa aku melakukan hal ini dengan pria lain dan semakin gila meniduriku. Aku benar – benar frustasi, rasa lelah dalam tubuhku tak bisa kuhindari, bibirku luka karena setiap aku melakukan hubungan dengannya, ia selalu menggigitnya karena aku terus melawan. Seluruh bagian tubuhku sakit dan nyeri, aku beanr – benar tersika. Pernah dalam pikiranku terbesit ingin melarikan diri dari belenggu penyiksaannya, tapi aku memikirkan keluargaku yang sangat bergantung padaku dan perusahaannya saat ini. Keluargaku juga tidak diizinkan untuk menemuiku. Aku seperti berada di penjara bawah tanah yang terkunci di dalamnya dan tidak bisa kemanapun selain berdiam diri dan menangis.

Ia sering mendapati mataku yang sembab, dan ia terlihat khawatir. Semua yang ia lakukan padaku atas dasar cinta, menurutnya. Ia terus – terusan mengakan ‘Saranghae‘ kapanpun dan dimanapun. Saat bangun tidur, selesai sarapan, berangkat kerja, dan tentunya saat bercinta. Tapi aku tidak pernah membalas semua itu barang sedikitpun walaupun pernikahan ini sudah berjalan kurang lebih 6 bulan lamanya. Dan selama itulah aku harus melayaninya, melayani segala kebutuhan dan keinginannya, memberikan seluruh tubuhku setiap malamnya untuk ia jamah.

Apakah penyiksaan ini akan berakhir? Kenapa Tuhan begitu kejam padaku?

Aku ingin ia berubah

Aku ingin ia menjadi pria yang lembut dan penuh kehangatan

Setidaknya jika ia tidak mau menceraikanku, aku mau ia merubah sikapnya

Setidaknya aku bisa menikmati hari – hariku dengan kedamaian

Setidaknya aku memiliki suami yang mencintaiku

Dan setidaknya aku merasa nyaman berada di dekatnya

Tapi itu hanya harapanku, selama 6 bulan hidup bersama dengan Choi Siwon, tidak kudapatkan semua itu.

“Kau mau kemana?” erangnya saat aku memutuskan untuk ke kamar mandi.

“Ini sudah pagi, aku harus menyiapkan sarapan, bisakah kau memberikanku space sedikit saja untukku beraktifitas?” kataku dengan nada sinis yang kupunya. Sejujurnya ini hanyalah alasanku untuk menghindari serangannya kembali. Sekarang masih jam 7 pagi dan dia sudah memintanya kembali? Apa ia gila? Apa kemarin belum cukup ia membuat bagian tubuhku nyeri?

Saat aku ingin membuka pintu, Siwon sudah meraih tubuhku yang hanya aku kenakan lingerie yang tergeletak di lantai. Ia merapatkan tubuhnya dengan tubuhku di dinding lalu memandangku tajam.

“Apa kau mencoba melawanku, huh?!” geramnya lalu kembali mencium bibirku, aku kembali diam tak merespon semua sentuhannya. Ia melepas ciuman kami lalu menatapku dengan tatapan menerkam, “Buka mulutmu dan gerakan bibirmu jika kau masih ingin keluar dari kamar.” katanya tajam lalu kembali mencium bibirku.

Aku yang sudah pasrah hanya membalasnya, berusaha memenuhi kebutuhan sexnya. Ia langsung merebok lingerie itu dengan kasar dan melingkarkan kakiku ke pinggangnya, lalu ia menggendongku kembali ke ranjang, kami pun kembali bercinta untuk ke-sekian kalinya.

**

“Aku mungkin akan lembur hari ini, kau tidur duluan saja sayang.” katanya sambil mengelus rambutku. Aku hanya diam sambil terus mengnyimpul dasinya.

“Aku berangkat dulu, bye.” katanya lalu mengecup keningku sebelum ia menghilang masuk ke dalam mobil. Aku terus memandangi mobilnya yang semakin jauh meninggalkan rumah kami, lalu masuk kembali ke dalam rumah.

Sepi. Itulah yang kurasakan setiap dia sudah berangkat kerja, hanya ada koki, pelayuan, tukang kebun, serta penjaga rumah yang menemaniku setiap harinya. Aku semakin muak dengan semua ini, rasanya aku sudah tidak tahan lagi dengan kesendirian ini. Kuputuskan untuk nekad menghubungi Yuri, setelah 6 bulan lamanya aku tidak menghubungi dia sama sekali. Aku tidak peduli aku akan dihukum oleh Choi Siwon, aku sudah benar – benar tidak peduli lagi tentang hidupku.

Aku benar – benar merindukan segalanya. Pergi dan mengobrol bersama teman – temanku, belajar bersama, bahkan berfoto bersama mereka. Aku benar – benar merindukan itu semua, seakan Siwon sudah merenggut semua masa bahagia seorang gadis berusia 24 tahun sepertiku.

Ku tekan beberapa angka yang menghubungkanku dengan Yuri, aku menggigit bibirku ragu saat Yuri belum kunjung mengangkat telponku. Tak lama, aku mendengar suara Yuri,

“Yeoboseyo?”

“YUL! Ini aku…Yoona..” kataku senang.

“Omo! Yoong! Aku  merindukanmu, sungguh apa yang terjadi sebenarnya terhadapmu? Kenapa kau tidak pernah ke kampus lagi? Kenapa kau tidak pernah menghubungiku lagi? Aku sempat berfikir untuk meminta maaf padamu…”

Aku menutup mulutku dengan telapak tangan agar isakkan tangisku tidak terlalu terdengar olehnya, “Ceritanya panjang, Yul. Bisa kau datang ke rumahku sekarang?”

“Tentu saja bisa! Rumahmu dimana sekarang? Astaga bahkan aku saja tidak tahu rumahmu dimana, Yoong…”

Aku membacakan alamat rumah kami, Yuri pun mengangguk mengerti, “Aku akan segera kesana, kebetulan hari ini aku tidak ada jadwal kuliah.”

“Ku tunggu Yul, aku benar – benar merindukanmu…” gumamku sebelum perbincangan kami berakhir.

**

TING TONG TING TONG~

TING TONG TING TONG~

Aku langsung membuka pintu rumahku dan mendapati Yuri berdiri disana dengan tanktop hijau dan celana pendek berwarna hitam, stylenya tidak pernah berubah, aku benar – benar merindukannya sehingga saat aku melihatnya aku langsung memeluknya erat, “Yuri-ah, Yul…..hiks…Yuri-ah!” kataku sambil terisak di bahunya.

4

Yuri kaget mendapat perlakuanku dan langsung panik, “Yoona-ya, waegurae? Kenapa…kenapa kau menangis? Uljima” kata Yuri masih dengan kepanikannya lalu mengelus rambutku dengan lembut.

Aku sudah tidak peduli lagi dengan segalanya, aku menumpahkan semua emosi yang kutahan selama ini pada bahu Yuri yang sekarang sudah basah karena air mataku. Aku merasakan pelukkan Yuri semakin erat di punggungku. Tiba – tiba tuubhnya bergetar menandakan ia pun ikut menangis.

Kami memang seperti anak kembar, saat satu diantara kami sedang menangis, biasanya yang lain akan ikut merasakan perasaan itu. Kami tidak menyadari sekarang posisi kami masih berada di depan pintu masuk.

**

“Ceritakan padaku selengkap – lengkapnya, Im Yoona!” kata Yuri yang sekarang sudah berada di ruang keluarga. Aku sengaja membawanya kesana karena ada home theater, sofa, serta beberapa bantal yang mungkin bisa menampung air mataku.

Aku duduk di depannya sambil mengusap air mataku yang masih tersisa, “Yuri-ah, aku sudah tidak kuat lagi hidup bersamanya…sungguh, aku tidak kuat, Yul-ah..” kataku parau.

Yuri semakin bingung lalu memegang kedua bahuku, ia menatapku dalamm berusaha mencairkan semua masalahku yang seakan membeku hanya di dalam hatiku, “Ceritakan….semuanya padaku, sekarang. Kau menghilang berbulan – bulan tanpa kabar, kupikir kau ke luar negeri atau bahkan marah padaku! Lebih baik ceritakan segalanya, Yoona.” tegasnya.

“Aku….aku dikurung di dalam rumah olehnya, Yul”

“MWORAGU?”

Aku memejamkan mataku sekilas lalu kembali menatapnya, “Aku tidak pernah kemana pun selama berbulan – bulan. Aku rasa ia memang sakit jiwa atau sejenisnya, dia over protective dan possessive Yul….aku bahkan sangat sulit menghubungi keluargaku sendiri, aku juga tidak boleh menghubungi siapapun. Aku menelponmu kesini dengan segala kenekatan yang sudah ku kumpulkan sejak jauh – jauh hari. Kau ingat Im Seulong? Kakak sepupuku yang tinggal di Belanda? Dia akan langsung menghukumku jika tahu aku berhubungan dengannya!” kataku sambil menangis.

Yuri terperangah mendengar ceritaku dan langsung menatapku tajam, “Apa dia sakit jiwa? Dia menghukummu dengan apa? Memukulimu? Atau” Yuri terlihat ragu untuk melanjutkan kalimatnya, ia langsung menggigit bibir bawahnya.

Yoona yang melihat gelagat Yuri seakan tahu sahabatnya mengerti apa yang dimaksud dengan ‘menghukum’ langsung menimpali, “Iya…dia menghukumku dengan cara seperti itu. Tidak hanya itu, dia…dia memperlakukanku seperti budak sexnya. Bayangkan saja, setiap hari kami berhubungan intim, tubuhku terasa sakit dan nyeri di tubuh bagian – bagian yang ia sentuh, jika aku mengeluhkan itu padanya, ia akan menuduhku berhubungan dengan pria lain dan malah semakin gila menerjangku. Aku bingung harus bagaimana, Yul. Aku merasa aku bukan seorang Im Yoona lagi, aku merasa aku sejenis wanita bayaran yang harus melayani pelanggannya. Aku sudah tidak kuat lagi Yul, hajiman, keluargaku sangat bergantung dengan perusahaan mereka. Aku sempat beberapa kali memikirkan cara untuk melarikan diri, tapi…tapi aku teringat oleh keluargaku….Yul, eottokhae? Na eottokhae?”

Yuri yang sudah menangis langsung memelukku dengan erat, ia sama sekali tak menyangka se-menderita ini aku hidup bersama pria seperti Choi Siwon, “Yoona, uljima. Aku benar – benar sahabat yang bodoh karena tidak menyadari hal ini, aku akan membantumu keluar dari masalah ini! Aku tak akan membiarkan sahabatku menderita seperti ini! Nanti akan kuhubungi keluargamu—“

Aku melepaskan pelukan Yuri lalu menggelengkan kepala dengan cepat, “Andwae! Kau tidak boleh memberi tahu mereka Yul, ini berbahaya untuk mereka”

“Kenapa tidak? Ini masalah serius, Yoong!”

Aku menggeleng kembali lalu menggenggam tangannya, “for God’s sake, Kwon Yuri, jangan beritahu keluargaku soal ini. Jika Siwon tahu, ia akan benar – benar menghancurkan keluargaku Yul!”

Yuri mengerutkan dahinya tak mengerti, “Bukankah perusahaan keluargamu hanya dibantu bukan dikendalikan?” gumam Yuri bingung.

Aku menggeleng, “Perusahaan appa sudah dikendalikan oleh Siwon sepenuhnya akrena sahamnya yang benar – benar turun, dan dia selalu mengancamku dengan hal itu. Aku ingin sekali meneriakan sesuatu untuk menantangnya tentang hal ini, tapi aku tidak tega dengan ayahku. Perusahaan ini dibangun bahkan sebelum ayahku lahir, aku benar – benar tidak tega menghancurkannya begitu saja. Karena itulah aku rela semua milikku diambil agar keluargaku bisa bahagia, Yul! Aku ingin…setidaknya ia berubah menjadi lebih baik, jika dia memang jodohku, setidaknya ia tidak memperlakukanku seperti itu lagi Yul, aku benar – benar sudah tak kuat hidup bersamanya….”

Yuri tak mampu berkata apa – apa lagi, kami menangis bersama di ruangan yang menjadi saksi tak hidup yang menyaksikan dan mendengar semua curhatanku terhadap sahabatku sendiri. Aku benar – benar sudah lama tidak merasakan hal ini, mengobrol dan berbagi dengan sahabatku. AKu tidak peduli Siwon akan melakukan apa nanti malam jika ia tahu aku menceritakan segalanya.

**

Aku benci saat menyadari  langit sudah berubah warna menjadi hitam pekat, matahari mulai meninggalkan bumi Seoul dan digantikan oleh bulan, artinya aku akan segera bertemu dengannya, entahlah apa yang akan ia lakukan malam ini, aku sudah benar – benar berpasrah.

Aku masih belum bisa tertidur, apa ini sudah menjadi kebiasaanku untuk menungunya pulang? Ia bilang hari ini akan lembur, artinya ia pasti pulang diatas jam 9 malam, sebelum aku menikah dengannya, aku pasti sudah mengantuk jika zona waktu sudah memasuki pukul 11 malam, tapi hari ini aku bisa membuka mata sampai jam 12 malam, tepat saat ia pulang.

Kudengar suara pintu dibuka, aku menoleh dan mendapati suamiku pulang dengan muka yang lesu dan letih, sesekali ia memijat lehernya dan berpindah ke pelipisnya. Matanya bertemu denganku, terlihat keterkejutan dari pandangannya saat melihat aku masih tersadar pada dini hari, “Kau belum tidur?” tanyanya lembut. Aku hanya mengangguk.

Entah kenapa, aku pun memutuskan untuk menghampirinya yang sekarang sedang melepas setelan jasnya, “Kau mau teh?” kataku ragu – ragu.

Ia menoleh kearahku lalu tersenyum dengan lembut, Siwon mengelus rambutku dengan lembut membuatku sedikit heran dengan sikapnya namun sedikit terbuai juga, ” Tidak. Ini sudah malam, sayang. Kenapa kau belum tidur?”

Aku juga tidak tahu kenapa aku belum tidur” batinku menyuarakan jawaban dari pertanyaan Siwon. Siwon berjalan melewatiku sambil meraih handuk dan piyama tidurnya lalu masuk ke dalam kamar mandi.

Entah angin apa yang membawaku menuju dapur, aku mengambil sebuah cup lalu kumasukkan teh seduh itu ke dalamnya, kutuangkan air hangat yang kuambil dari dispenser lalu membawanya ke kamar. Siwon belum selesai membersihkan diri saat aku masuk ke dalam kamar, aku meletakkan teh itu di samping lampu tidur disisi tempat ia biasa mengistirahatkan diri.

Aku yakin Siwon akan menyentuhku setelah ini, sehingga aku tidak memejamkan mata sama sekali dan hanya menunggunya keluar dari kamar mandi. Tak lama terdengar bunyi pintu terbuka dan keluarlah Siwon dengan bebrapa perlengkapan mandinya. Ia melihatku yang sudah memakai salah satu lingerie yang ia berikan. Ia hanya menatapku datar lalu berjalan mendekati tempat tidur kami.

Mataku menutup menandakan aku sudah siap dijamah olehnya. Tapi aku merasakan sebuah kain menutupi tubuhku yang terbuka membuatku menoleh kearahnya, yang sekarang sedang memandangiku dengan senyum penuh sayang.

Ia menyelimutiku? Apa aku sedang bermimpi? Aku menatapnya dalam diam, tidak ada sama sekali tatapan nafsu ataupun belaian darinya, hanya sebuah tatapan penuh cinta dan kecupan di keningku yang membuatku semakin heran akan sikapnya malam ini, “Tidurlah, kau pasti lelah.” katanya lalu tidur memunggungiku. Aku menatap Siwon yang sekarang sedang mematikan lampu tidurnya dan ruangan menjadi sedikit gelap.

Ini pertama kalinya terjadi, ia tidak menyentuhku barang sedikitpun. Ini pertama kalinya juga ia tak memelukku, dan bahkan ia tidur dengan posisi memenggungiku.

Ada apa dengannya?

**

“Oh kau sudah bangun?” sapanya saat melihatku keluar dari kamar, aku kembali heran melihat tingkahnya. Seorang CEO perusahaan besar di Korea Selatan sekarang sedang memakai apron dan meletakan hasil masakan di meja makan. Ia memandangku sekilas lalu tersenyum, “Ayo sarapan…”

Aku mengerjap – ngerjapkan mataku heran lalu menghampirinya, ia sudah duduk di kursi di hadapanku lalu mengambil makanan yang ia buat.

“Kau bisa membuat bulgogi?” aku memekik saat melihat apa yang ia masak. Ia mengangguk lalu tersenyum padaku, “Aku mempelajarinya untukmu, kau suka bulgogi, kan?”

Entah kenapa hatiku berdesir mendengar Siwon mengatakan itu. Ia sengaja mempelajari dan membuatkannya khusus untukku?

“Cicipilah, kuharap kau menyukainya. Aku berani bersumpah aku bahkan pernah menanyakan langsung pada koki kita, kau tenang saja.” katanya.

Aku mengambil sumpitku lalu memasukkan daging itu ke mulutku. Enak. Aku balik menatapnya, “Mashita oppa…” kataku.

Siwon tersenyum bahagia saat aku memuji masakannya, ia mengacak rambutku pelan lalu meletakkan sumpitnya di meja, “Habiskanlah….aku sengaja membuatnya untukmu!”

“Ini terlalu banyak, bantu aku menghabiskannya!”

Siwon tertawa riang mendengarnya, “Yak! Jangan kau pikir aku tak tahu kau shikshin! Aku sengaja membuatnya dengan porsi besar, sudahlah habiskan saja. Setelah makan bersiaplah, kita akan mengunjungi keluargamu.”

“UHUK…UHUK” aku tersedak dan langsung membuat Siwon menghampiriku, “Yoona-ya, gwaenchana?” tanyanya terdengar panik.

“Gwaenchana…uhuk…mwo? Kau ingin mengajakku menemui keluargaku?” kataku heran.

Ia mengangguk lalu tersenyum, “Ne, bersiaplah. Jam 10 kita berangkat.” katanya lalu berjalan masuk ke dalam kamar. Kali ini aku benar – benar heran dengan tingkahnya yang berubah 360 derajat dari biasanya.

Kemarin malam ia tidak menyentuhku barang sedikitpun, hari ini ia mengajakku bertemu dengan orang tuaku, sebenarnya dia kenapa?

**

“Yoona-ya!!” pekik Eomma saat melihatku lalu segera memelukku dengan erat. Aku memeluknya erat, rasanya sudah lama sekali saat aku merasakan bau tubuh eommaku, aku benar – benar merindukannya.

“Putriku…” aku lalu memeluk appa yang juga terlihat sangat senang saat melihat aku akhirnya mengunjungi mereka. Kurasa mereka wajar bersikap seperti itu, karena kami memang tidak bertemu muka selama 6 bulan lebih.

Siwon tersenyum canggung kearah mereka, “Mianhae, abeonim, emmonim, kami belum sempat mengunjungi kalian karena aku terlalu sibuk…”

Kedua orangtuaku tertawa lalu appa menepuk bahu Siwon, “Gwaenchana, Siwon-ah. Kau memang pekerja keras, aku benar – benar tidak heran.”

“YOONG!!!!” aku menoleh dan mendapati Jooeun eonnie sedang berlari kearahku lalu segera memelukku, “Ah! My cutie pie! I miss you so damn much, deer!” Siwon tersenyum melihat keakrabanku dengan keluargaku.

“Oh, Jinhyuk oppa!” sapaku pada suami Jooeun eonnie. Suaminya hanya tersenyum lalu mencubit pipiku usil, “Hi, Im Choding!”

“Hei, ayo masuk ke dalam!” kata appa menyuruh kami semua masuk ke dalam rumahnya.

**

Kami berbincang – bincang sambil menyantap makan siang kami, tawa serta godaan terus terdengar sepanjang makan siang ini. Siwon juga terlihat akrab dengan Jinhyuk oppa, pria yang sama – sama bermain di dunia bisnis tentu saja memiliki humor sendiri yang tak kami mengerti.

“Appa senang kedua putriku mendapatkan suami terbaik.” katanya diiringi senyuman tipis.

Aku terdiam mendengarnya, dan aku melihat Siwon oppa sedikit menunduk mendengar perkataan appa, ekor matanya melirik kearahku, kenapa dia?

“Tentu saja appa, kedua anakmu ini tidak se-bodoh itu memilih suami!” sekali lagi aku hanya diam mendengarnya, sedangkan Siwon menghembuskan nafasnya dengan berat.

“Oh iya Yoona-ah, bisakah kau temani aku berbelanja besok? Kau tahu Victoria’s Secret baru meluncurkan new perfume product, selain itu ada banyak new summer collection, apa kau mau pergi bersamaku? Kita sudah lama tidak menghabiskan waktu bersama!”

Aku memejamkan mataku untuk memikirkan jawaban penolakkan apa yang terbaik, aku yakin suamiku akan menghukumku jika aku menerima tawaran eonnie, “Ah, pergilah Yoona. Apa kau membutuhkan credit card unlimited milikku?”

Kali ini aku menoleh kearahnya, masih tidak percaya dengan apa yang kudengar. Ia memberiku izin untuk keluar rumah? Dan terlebih lagi, tanpanya? Yang benar saja, apa pria ini sedang kesurupan?

“Yoongie-ya! Suamimu saja menyuruhmu, masa kau mau menolak, huh?”

**

Aku menatap jalanan di depanku, tidak ada perbincangan sama sekali diantara kami. Siwon berkonsterasi penuh pada jalan, sedangkan aku memikirkan kenapa Siwon bisa berubah seperti ini. Aku menoleh kearahnya, berusaha mencari jawaban dari kegudnahan hatiku sejak kemarin malam.

“Oppa!” panggilku kearahnya. Dia bergumam singkat untuk menjawab panggilanku.

Aku menatapnya kembali lalu sedikit memutar tubuhku agar sedikit mengarah kepadanya, “Aku ingin bertanya sesuatu”

“Gabjagi…..gabjagi waeyo? Kenapa kau tiba – tiba berubah seperti ini?”

Siwon terhenyak sedikit dengan pertanyaanku, ia hanya diam tak menjawab.

Saat aku hendak menuntut jawabannya, ia langsung memotong perkataanku, “Apa kau lapar? Kita bisa pergi ke Insandong untuk membeli Patbingsu bersama, kau mau?”

Sekali lagi ia membuatku terheran – heran dengan tingkahnya, “Ini benar – benar tidak masuk akal

**

Aku keluar dari kamar mandi dengan lingerie yang biasa ku kenakan, aku menjadi terbiasa dengan pakaian – pakaian seperti ini semenjak menjadi istri Choi Siwon. Kulihat Siwon sedang berkutat dengan gadgetnya, setelah itu matanya menatapku intens.

Ah Im Yoona, kau benar – benar bermimpi saat berharap Choi Siwon berubah dalam hal ini, ini hal yang tidak mungkin ia bisa hilangkan, bahkan mungkin sampai kita tua.

Siwon mendesah singkat lalu bangkit dari tempat tidur, aku hanya diam seakan pura – pura tak tahu apa yang akan ia lakukan. Biar kutebak, memuji kecantikanku? Merapatkan tubuhku ke dinding lalu menciumiku? Atau langsung menggendongku lurus ke tempat tidur?

Hatiku mencelos saat melihat Siwon justru berjalan menuju lemari pakaianku lalu terlihat mencari – cari sesuatu. Oh Siwon, kau tenang saja ini salah satu lingerie ter-seksi yang kau belikan untukku, apa tubuhku kurang terekspos dengan pakaian ini?

Aku mengerjap – ngerjapkan mata saat Siwon membawa piyama tidur yang sudah berapa bulan tidak kukenakan sama sekali, seakan mengerti dengan kebingunganku, ia menyerahkan piyama itu ke tanganku lalu mengelus puncak kepalaku, “Gantilah pakaianmu lalu tidur.” katanya sambil tersenyum lalu berjalan meninggalkanku yan masih terpaku di tempat.

Demi Tuhan, dia kenapa?

Aku menoleh kearah tempat tidur dan mendapati Siwon sudah berbaring dengan posisi punggung yang menghadapku, lagi.

**

Ternyata kejadian – kejadian aneh terus menimpaku selama kurang lebih 4 minggu. Tidak ada lagi Siwon si binatang buas pemangsa paling hebat di ranjang, tidak ada lagi belaian mesranya, tak ada lagi bisikkan hangatnya dengan husky voicenya yang penuh gairah, tidak ada lagi kecupan di bibir atau bahkan pelukkan dari pria ini.

Ada apa sebenarnya?

Kenapa….kenapa terasa aneh untukku?

Apa aku berbuat salah padanya?

Kenapa ia berubah menjadi pria paling lembut dan penyayang yang pernah kulihat?

Kenapa ia berubah menjadi pria dengan sejuta pesona yang baru terpancar keberadaannya sekarang

Ini benar – benar aneh, ia membiarkanku kembali datang ke kampus yang langsung membuat heboh seluruh teman bahkan dosenku. Ia mengizinkanku pergi keluar bersama teman – temanku seperti dulu lagi, ia membiarkanku berbincang dengan keluargaku dengan sesuka hati, dan yang paling mengejutkan, ia juga membiarkanku berbincang dengan Seulong oppa.

Dan yang paling penting dari segalanya, sudah sekitar 1 bulan ia tak pernah menyentuhku barang sekedar leher atau pahaku, yang biasanya menjadi tempat awal mula aksi bercinta kami. Ia tidak mabuk, ia pulang dengan keadaan seperti sebelum – sebelumnya, ia hanya mengelus rambutku dengan sayang dan sesekali mengecup keningku. Suatu hari ia datang dengan tumpukan piyama tidur untukku, ia melarangku memakai lingerie pemberiannya yang membuatku semakin heran.

Aku merasakkan gejolak perasaan aneh yang tiba – tiba muncul di dadaku setiap ia melakukan semua tindakan romantisnya. Dia benar – benar romantis, aku tidak bisa mengelak dengan mengatakan sikapnya tidak romantis. Terkadang aku tidak bisa menyembunyikan senyumku saat ia sudah memperlakukanku dengan sangat lembut.

Hanya itu yang ia lakukan.

Tapi keanehannya tidak berakhir disana, ia terkadang berusaha menjauhiku, berusaha membuat tubuhnya berjauhan dengan tubuhku, ia memang menunjukkan sikap romantisnya, tapi bahkan jika aku tak sengaja memegang dadanya ia akan langsung menjauhiku dan terlihat gusar.

Apa dia bosan denganku?

Apa dia akan segera menceraikanku?

Apa dia sudah mendapatkan yang lebih baik dariku diluar sana?

Apa dia mendapatkan kepuasan diluar sana sehingga ia tak membutuhkanku lagi?

Tiba – tiba perasaan tak suka langsung memenuhi pikiranku, bayangan Siwon bercumbu dengan wanita lain membuat pikiranku sedikit panas. Bisa dibilang aku sudah terbiasa dengan sentuhannya, aku bahkan merasa aneh saat ia tidak menyentuhku lagi seperti biasanya.

Aku ingin sisi nakal Siwon sedikit kembali, aku benar – benar merindukan belaiannya. Aku memutuskan untuk mendekatinya saat kami sama – sama berada di tempat tidur, aku memperhatikan garis rahangnya yang terliha maskulin serta bulu – bulu tipis di sekitar dagunya membuat ia terlihat benar – benar ‘lelaki’.

“Siwon oppa!”

Ia berdehem singkat, “Kenapa tiba – tiba kau berubah 360 derajat? Apa aku salah padamu?” kataku dengan ragu.

Ia terdiam kembali setiap aku menanyakan hal ini, kali ini ia memutar tubuhnya menghadapku, tanpa kuduga ia justru mengusap pipiku dengan lembut lalu tersenyum, “Tidurlah, sayang. Ini sudah malam.” katanya sebelum membalikkan tubuhnya kembali.

Lagi – lagi kalimat itu yang kudengardari bibirnya.

Im Yoona, apa yang sudah kau lakukan terhadapnya?

Aku mengingat – ngingat saat terakhir kami bercinta, aku tidak menghujaninya dengan makian, saat itu aku malah mendesah nikmat merasakkan dirinya ada dalam diriku.

Lalu…lalu mengapa ia menjadi seperti ini?

**

Suasana hening menyelimuti acara makan malam kami. Tak banyak aktifitas yang kulakukan mauun yang dilakukan selama kita makan tadi, kami sama – sama berkonsentrasi dengan makanan kami masing – masing. Sebenarnya aku memikirkan sikapnya yang semakin lama semakin berubah, sekarang ia terkesan menghindariku, bahkan tak ada lagi kecupan dikening atau belaiannya pada rambutku yang pasti ia lakukakan.

Sendok dan garpu hanya kuadukan di atas piring, aku sama sekali tidak nafsu untuk makan. Kutatap wajah letih suamiku, kuperhatikan wajahnya semakin lama semakin tirus, kantung mata yang semakin terlihat, belum lagi tidak ada senyum yang terukir di wajahnya selama beberapa hari. Ia terlihat sedang stress, aku benar – benar tidak tahan lagi dengan ini semua.

Aku takut

Aku takut ini kesalahanku, yang membuatnya menjadi seperti ini

Apa aku terlalu kasar padanya?

Kembali kutatap wajah Siwon yang hanya diam dan tetap menunduk, memasukkan makanannya ke dalam mulut dengan wajah tertunduk, aku pun memberanikan diri untuk memanggilnya, “Oppa!”

Ia terdiam, matanya baru bertemu dengan milikku setelah beberapa detik aku memanggilnya, “Wae?”

Aku sudah tidak tahan lagi, tiba – tiba tetesan air mata mulai menggenang di mataku, “Kenapa oppa menjadi seperti ini?”

Siwon menatapku dengan tatapan sendunya, “Apa maksudmu, Yoona?”

Bahkan ia tak memanggilku dengan sebutan yang biasa ia gunakan untukku?

Kali ini aku benar – benar menangis membuat ia membulatkan matanya panik, “Kau tidak pernah mempedulikanku lagi, oppa! Kau berubah! Kau bersikap cuek padaku, kau seakan melupakanku walaupun aku disampingmu, bahkan kau bicara padaku jika ada yang penting, sisanya aku hanyalah lukisan paling cantik yang ada di rumah ini! Apa…apa alasanmu memberikan kebebasan padaku karena kau sudah bosan padaku? Apa kau akan segera menceraikanku? Apa…apa kau sudah menemukan pengganti untukku? Dan…dan….dan apakah kau sudah mencintai wanita lain? Jika memang begitu, katakan saja oppa! Aku siap kau ceraikan sekarang juga! Kau sungguh tidak punya perasaan oppa, setelah semua yang kau lakukan terhadapku, kau malah—“

Siwon langsung bangkit dari duduknya sambil menggelengkan kepala, dia berlutut di depanku lalu kedua tangannya menangkup kedua pipiku, ibu jari tangannya menghapus air mataku yang terus keluar tanpa bisa ku kendalikan. Aku memejamkan mataku sambil berusaha mengalihkan pandanganku dari Siwon, tapi ia semakin erat memegangnya dan meraih dahuku agar wajahku bertatapan langsung dengannya.

Siwon menatapku dengan ekspresi paling menderita yang pernah kulihat, aku menatapnya masih dengan mata yang penuh dengan air mata, aku melihat butiran air mata mulai memnuhi matanya membuatku kalut, “O…oppa..”

“Apa…apa aku salah bertindak lagi? Apa aku menyakitimu lagi? Apa keputusanku jauh lebih menyakitimu?” katanya dengan mata yang sudah berkaca – kaca.

Aku menatapnya bingung, “Apa maksudmu oppa?”

“Aku berusaha menjadi sosok suami yang kau impikan, Yoona-ya. Aku berusaha sebisa mungkin untuk menjadi sosok pria yang kau harapkan untuk mendampingin hidupmu. Sungguh, aku tak pernah berfikir barang sekali pun untuk menceraikanmu apalagi berhenti mencintaimu…”

Aku tersentak dengan perkataannya barusan, apa maksudnya? Suami idamanku? Kapan aku pernah mengatakanomo! Jangan – jangan…..

 

FLASHBACK [Author POV]

 

Siwon memandangi foto pre-wedding yang ada di figura photo di meja kerjanya, ia tersenyum lirih melihat wanita itu tidak pernah benar – benar tersenyum padanya. Ia melirik jam dinding di ruang kerjanya lalu tersenyum, ia ingin mengajak Yoona makan siang, atau lebih tepatnya jajan di pinggir jalan. Siwon tidak pernah mencobanya, tapi jika memang Yoona menyukainya, ia akan melakukan hal itu. Dengan gerakan cepat ia berlari ke luar ruang kerjanya untuk kembali ke rumah, menjemput istrinya.

Sampai dirumah, ia mengernyitkan dahinya heran melihat ankle boot yang tak ia kenali berada di depan rumahnya. Dengan pelan ia masuk ke dalam rumah, tak berniat memanggil istrinya karena penasaran siapa yang datang, Siwon mendengar isakan tangis dari ruang keluarga membuatnya semakin panik. Ia mempercepat langkahnya lalu membuka pintu ruangan itu perlahan.

Ia melihat Yoona sedang menangis di depan gadis yang SIwon ketahui bernama Yuri, ia berniat untuk menemuinya, menanyakan apa permasalahan yang membuat istrinya bisa menangis sehebat itu, namun ia urungkan niatnya dan memilih menjadi pendengar yang baik.

Hatinya mencelos saat mendengar Yoona mengungkapkan seluruh isi hatinya, jika ia tidak mengendalikan diri, tubuhnya pasti sudah jatuh ke lantai saat ini. Ia tak menyangka ia seperti monster dalam gambaran Yoona, ia tidak menyangka ia telah merenggut seluruh kebahagiaan istrinya. Ia tidak menyangka semua yang ia pikirkan dan lakukan justru semakin membuat wanitanya membencinya.

Dengan kalut, Siwon meninggalkan rumahnya dan kembali ke kantor. Di kantor ia hanya diam dengan tatapan kosong, ia benar – benar kacau setelah mendengar perkataan Yoona tentang dirinya. Mendengar wanita yang sangat ia cintai membencinya, melihat air mata keluar dari matanya karena dia.

Sampai akhirnya SIwon memutuskan suatu keputusan yang ia jamin akan merubah seluruh hidupnya, “Baiklah, Yoona-ya. Aku akan menuruti segala keinginanmu, aku akan membuatmu bahagia, sekalipun aku akan tersiksa akan segala keputusanku ini, aku rela atas kau bisa kembali merasakan kebahagiaan yang sempat kuambil darimu. Aku rela sayang, karena aku mencintaimu.”

Malam itu, Siwon memutuskan hal yang akan mengubah segalanya, ia berharap ini bisa membuat Yoona lebih baik, sekalipun ia harus mengorbankan dirinya sendiri.

 

END OF FLASBACK [End of Author POV]

 

Siwon mendengar semua yang kuungkapkan pada Yuri?

Aku membulatkan mataku lalu segera menatapnya, kulihat ia tersenyum tipis melihat ekspresiku yang terlihat panik, “Oppa, keuge…”

“Aniya, kau tidak perlu ketakutan seperti itu, sayang. Aku sadar perbuatanku selama ini benar – benar menyiksamu. Aku bukanlah suami yang baik untukmu, aku selalu menyakitimu hampir setiap malamnya. Aku selalu melarangmu berhubungan dengan siapapun selain denganku, bahkan aku melarangmu keluar dari rumah ini. Mianhae, Yoona-ya. Aku tahu aku menyiksamu baik fisik maupun psikis, aku menyadari semua itu tapi entah kenapa hatiku terus mengatakan untuk tetap melakukannya padamu. Aku melakukan itu semua karena aku mencintaimu, aku benar – benar mencintaimu sampai akalku seperti dibutakan oleh kecemburuan setiap kau berdekatan dengan orang lain, karena kau tidak pernah bersikap seperti itu padaku. Aku cemburu pada mereka yang bisa mendapatkan segala kasih sayangmu, sedangkan aku tidak. Karena itu aku mengurungmu di rumah ini agar kau hanya dapat melihatku dan mencintaiku, tapi pikiranku jelas salah. Justru kau semakin membenciku dan sempat berfikir untuk meninggalkanku, aku tahu kau tetap di sisiku karena keluargamu, aku rela melakukan apapun asal kau tetap di sisiku, sehingga aku kerap kali mengancammu dengan semua urusan tentang perusahaan keluargaku. Pernah terlintas dalam pikiranku untuk membiarkanmu bahagia dengan melepaskanmu, tapi aku tidak sanggup untuk berpisah denganmu. Dan hari itu aku mendengar semua pikiranmu tentang diriku, saat itu aku hancur. Aku tidak tahu harus berbuat apalagi, kau mungkin tidak menyadari kehadiranku saat itu, tapi semua perkataanmu menyadarkanku akan sikapku padamu selama ini. Dari yang kutangkap, kau menggambarkanku sejenis binatang buas yang terus menerus menerkam mangsanya, lagi – lagi aku benar – benar kalut dan bergegas kembali ke kantor. Saat di kantor pun aku tidak bekerja sama sekali, aku terus memikirkan semua perkataanmu dan air matamu yang terus keluar saat kau mengatakannya pada Yuri. Aku merasa menjadi suami paling kejam di dunia ini, aku terus menyakitimu, memperbudakmu, memperlakukanmu seperti budakku, dan terus mengurungmu. Asal kau tahu Yoona, aku benar – benar menyesal hari itu, sehingga aku memikirkan cara untuk merubah segalanya, terutama dalam hal bercinta. Aku sebisa mungkin menekan nafsuku dengan menghindarimu. Bukannya aku sudah bosan denganmu atau bahkan tidak mencintaimu lagi, hanya saja aku berusaha semaksimal mungkin untuk tidak menyakitimu, aku memberikan segala yang kau mau setelah kejadian itu, karena aku tahu apa definisi kebahagiaan untukmu. Kau telah mengubah hidupku, aku tidak biasanya seperti ini. Kau tahu, sejujurnya sebelum kita bertemu di pesta pernikahan kakakmu, aku sering melihatmu di sudut café di daerah Gangnam, kau terlihat sangat anggun dengan dress berwarna pastel yang sering kau gunakan, dengan ditemani novel atau laptop atau buku gambar kau biasa duduk disana. Senyum manismu seolah membiusku setiap aku melihatnya, setiap jam makan siang aku akan kesana hanya untuk melihatmu yang sedang menyelesaikan tugas – tugas kuliahmu, aku akan berbalik dari café jika tak melihatmu disana. Aku sering mendengar percakapanmu dengan Yuri, aku selalu tersenyum saat mendengar suaramu yang terdengar menenangkan hati. Aku menyuruh orang untuk menyelidiki siapa kau, dan aku tahu kau adalah Im Yoona, putrid bungsu keluarga Im Sangwoo, yang kebetulan sekali adalah kolega perusahaanku. Saat aku mendengar kakakmu akan menikah, aku terlalu bersemangat ingin datang ke pernikahan itu membuat orangtuaku bahkan heran, karena aku tidak biasanya berminat untuk datang ke resepsi pernikahan. Namun aku tak peduli, aku hanya memikirkan aku bisa bertemu denganmu, dan bahkan mungkin berkenalan denganmu. Sungguh Yoona, kau wanita pertama yang berhasil menarik perhatianku,  membuat duniaku terasa terombang-ambing, membuatku terus memikirkan sesuatu yang lain selain pekerjaan. Aku mencintaimu lebih dari segalanya Yoona-ah, termasuk diriku sendiri. Aku rela tersiksa dengan semua ini, cemburu, mengikuti semua permintaanmu, dan bahkan menahan segala hasratku, itu kulakukan karena aku sangat mencintaimu. Kumohon jangan berfikir untuk meninggalkanku, Yoona, aku tidak tahu akan seperti apa hidupku jika tanpamu disisiku. Sampai sekarang, aku masih menunggumu membalas perasaanku padamu, walaupun aku harus selamanya, aku akan tetap menunggumu, aku ingin kau mencintaiku sama seperti aku mencintaimu, Im Yoona.”

Aku menangis mendengar semua ungkapan hatinya, ini benar – benar mengharukan, aku tidak menyangka perasaan Siwon padaku sebesar ini, kubungkam isakan tangisku dengan telapak tanganku, tangan kirinya sudah berpindah ke tengkukku dan tangan kanannya membelai rambutku dengan lembut, “Uljima…kau membuatku semakin tersiksa dengan air matamu!”

Aku menatap matanya dalam, mencari kebohongan dari segala perkataan maupun ungkapan rasa cintanya padaku, tapi yang kutemukan adalah kejujuran yang murni dan kehangatan. Hatiku mendesir mendengar segala kejujurannya, Siwon benar – benar mencintaiku setulus hatinya, hanya dia belum tahu bagaimana cara memperlakukan seorang wanita yang ia cintai, tanpa berfikir dua kali, aku segera memeluknya erat, kulingkarkan kedua tangaku di lehernya dan mendaratkan kepalaku di bahu tegapnya. Isakan itu semakin deras saat aku menemukan tempat yang terasa aman dan nyaman untuk mencurahkan segalanya.

“Oppa, jeongmal mianhae. Mianhae aku selalu bersikap kasar padamu, mianhae aku tidak mengerti tentang perasaanmu padaku, aku memang tersiksa dengan segalanya, tapi selama sebulan terakhir ini, aku melihat dirimu yang sesungguhnya. Choi Siwon yang penuh dengan cinta bukan hawa nafsu, yang memperlakukanku sebagai wanita sungguhan, aku sudah melihat sisi dirimu yang sesungguhnya oppa. Aku sadar aku tidak membencimu, aku…aku mulai menerimamu dalam hidupku. Saat kau menjauhiku, aku merasa sesuatu seperti mengganjal pikiranku, aku sadar aku mulai mencintaimu, Choi Siwon.”

Siwon langsung melepaskan pelukanku dan menatap mataku dalam, terlihat dari tatapannya ia seakan tidak percaya apa yang baru saja ia dengar, “Apa pendengaranku bermasalah?”

Aku menggeleng lalu tersenyum tulus, reflek jemariku menyentuh tengkuknya dan mengelusnya singkat, “Tidak ada yang salah dengan pendengaranmu oppa, aku memang mencintaimu, yeobo”

Seketika itu juga matanya berbinar, menandakan kebahagiaan hatinya membuncah saat ini, Siwon kembali tersenyum persis seperti yang kulihat saat ia berdiri di altar, aku membalas senyumannya dan ia langsung merengkuh tubuhku ke dalam pelukannya, ia memelukku erat seakan tidak ada hari lain untuk melakukannya, ia menciumi pipiku gemas lalu mendekatkan bibirnya ke telingaku, “Akhirnya aku mendengar kalimat itu dari mulutmu sendiri, sayang! Bahkan kau memanggilku dengan sebutan yeobo!”

Sayang, sayang, sayang. Ah aku benar – benar merindukkan panggilan itu

Saat pelukan kami terlepas, Siwon kembali membuatku melenguh manja karena ia menyentuhkan hidung dan kening kami usil, aku bisa merasakan nafas hangatnya menerpa kulit wajahku membuatku sedikit geli, tak lama kurasakan bibirnya melumat bibirku lembut. Aku menikmati sentuhannya yang dilandasi cinta, bukan seperti biasanya yang dilingkupi hawa nafsu. Kukalungkan lenganku di bahunya yang tegap dan membalas mengulum bibirnya, tangan kanannya memeluk tubuhku erat dan tangan kirinya menekan tengkukku agar memperdalam ciuman kami.

Tiba – tiba ia melepaskan ciuman kami, aku menatapnya heran yang sekarang langsung terdiam, “Waeyo?” tanyaku bingung.

Ia menghembuskan nafasnya dengan berat, “Aku tidak mau terbawa suasana Yoona, aku tidak mau menyakitimu lagi.”

ASTAGA CHOI SIWON!

Aku terkekeh geli lalu memukul pundaknya, “Yak! Bukankah kau punya hak untuk melakukannya padaku? Lagipula…..kita sudah lama tidak melakukannya.” tiba – tiba perasaan aneh muncul di hatiku, aku yakin semburat merah pasti menghiasi pipiku saat ini.

Siwon menggeleng lalu kembali menangkup pipi tirusku, “Aku tidak akan melakukannya sampai kau yang memintanya, sayang.” katanya diiringi senyuman yang dapat membuatku meleleh saat ini juga.

Siwon berdiri lalu mengambil piring yang ada di meja makan, “Tidurlah, ini sudah malam, aku yang akan membersihkan ini semua.” kata Siwon tanpa menoleh kearahku.

Aku mengambil piring yang sekarang ada di tangannya, mataku menyipit mengancam saat menatapnya, “Biar aku saja, bukankah ini tugas seorang istri?”

Siwon kembali tersenyum saat aku mengatakan kata ‘istri’, hari ini aku mengungkapkan semuanya padanya, termasuk tentang statusku di rumah ini. Ia pun mengangguk mengerti lalu mengecup keningku singkat, “Aku akan menunggumu di kamar, ara?”

Aku mengangguk sambil tersenyum manis.

**

“Jinjjayo? Dia mengatakan itu semua?” kata Yuri saat kami bertemu di cafe tempat kami biasa mengobrol. Aku hanya mengangguk sambil tersenyum tipis.

5

 

“Lalu..lalu hubungan kalian semakin mesra karena kejadian malam itu?” aku kembali mengangguk.

“Daebak, jinjja! Yoong, kau sangat beruntung mendapatkan Choi Siwon, aku berani bersumpah dia benar – benar mencintaimu, mendengar ceritamu saja aku sudah bisa menyimpulkan betapa ia  mencintaimu sampai ia rela mengorbankan seluruh kebahagiaannya demi mu! Ah jinjja, rasanya aku ingin membuat novel dari kisah cinta kalian!” kata Yuri dengan wajah yang gembira, aku pun kembali tersenyum, “Kau benar, aku benar – benar beruntung bisa menikah dengan pria yang sangat mencintaiku seperti Siwon.”

Yuri tersenyum menggoda, “Aigoo, perkataanmu serta tingkahmu bulan lalu benar – benar berbeda 360 derajat dengan sekarang Yoong! Saat itu kau terlihat sangat menyedihkan, tapi sekarang? Lihatlah, kau berperan seperti istri yang berbahagia!” ejeknya membuatku cemberut.

“Mwoya! Aku hanya baru menyadari segalanya, bagaimana perasaanku padanya dan sebenarnya apa yang membuatnya begitu. Oh iya Yul, kemarin malam Siwon menitipkan salam terima kasih untukmu!”

Yuri mengerutkan dahinya bingung, “Terima kasih? Untuk apa? Aku tidak pernah memberikannya apapun.”

Aku menahan tawaku sebelum menjawab, “Membantunya menyadarkan segala kesalahannya padaku sebulan yang lalu…” kataku jahil.

Yuri tampak berfikir sejenak sebelum ia menyadari apa maksudku, “OMO!” pekiknya keras membuat beberapa pengunjung cafe menoleh kearah kami, kami pun tersenyum sungkan lalu kembali fokus ke masalah kami.

“Yak! Neo baboya?! Kecilkan suaramu!”

Yuri menepuk dahinya frustasi, “Yoona-ya, bagaimana ia bisa mendengar semua perbincangan kita? Aish jinjja, aku merasa tidak enak padanya, apa dia marah? Apa saat itu akau memaki – makinya? Atau mengejeknya? Aish na eottokhae?”

Aku kembali tertawa lalu menepuk keningnya, “Tentu saja tidak! Justru ia berterimakasih padamu yang sudah membantu banyak dalam proses hubungan kami secara tidak sadar.”

Yuri mengerucutkan bibirnya kesal, “Aish tapi tetap saja aku merasa tak enak padanya”

“Sudahlah, lupakan tentang itu! Ada masalah yang jauh lebih penting!”

“Mwoga?”

“Kau pernah bilang padaku kalau Siwon jelas – jelas hypersex, benar kan?” Yuri mengangguk menyetujui ucapanku, “Itu memang faktanya, geureum?”

“Dia tidak pernah menyentuhku selama sebulan penuh, bahkan sampai sekarang ia belum pernah menyentuhku lagi. Apa menurutmu ini sedikit aneh? Atau jangan – jangan…..ia menumpahkan nafsunya kepada wanita malam?” kataku dengan keraguan.

Yuri langsung terdiam, jika ia sedang memikirkan sesuatu yang meburutnya penting ia pasti akan seperti ini, “Ani, tidak mungkin Siwon seperti itu! Asal kau tahu Yoong, jika pria sudah mencintai wanita begitu dalam, tidak ada satupun wanita lain yang mampu menarik perhatiannya selain wanita itu!”

Kali ini aku yang terdiam ikut memikirkan apa yang sebenarnya terjadi.

“ASTAGA!” pekik Yuri membuatku langsung menoleh kearahnya.

“Mwol? Mwoga?”

“Kenapa aku tidak memikirkan hal itu sejak tadi huh.”

“Apa ini tentang suamiku?”

“Jelas tentang suamimu! Aku tahu apa yang ia lakukan selama ini!”

**

Terdengar suara pintu kamarku terbuka, aku yakin suamiku baru pulang sekarang. Ia memang mengatakan kalau ia akan pulang malam hari ini, dan seperti biasa ia menyuruhku untuk tidur bahkan melarangku untuk menunggunya. Namun bayangan suamiku pulang dengan wajah letih dan lesu membuatku cemas. Bagaimanapun ia bekerja untuk menghidupiku.

“Demi Tuhan, Yeobo, bukankah kubilang jangan menungguku? Ini sudah hampir dini hari” katanya lembut.

Aku menghampirinya yang sedang sibuk membuka jasnya, “Bukankah sudah kubilang aku tidak mau? Kau mau teh?” kataku sambil tersenyum.

Ia berdecak lalu mengacak rambutku gemas, “Kau memang paling keras kepala. Tidurlah sayang, aku tidak perlu teh.”

Aku mengerucutkan bibirku kesal lalu berjalan ke arah ranjang, ia hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya lalu masuk ke kamar mandi.Aku melirik jam dinding di kamarku, tak terasa sudah pukul 11 malam. Mataku pun semakin terasa berat, setelah melihat Siwon entah kenapa rasa kantukku baru menghinggapiku. Akhirnya tanpa kusadari aku pun mulai tertidur.

**

Aku terbangun saat tanganku tidak merasakan Siwon ada disampingku, kulirik jendela kamarku yang masih terlihat gelap menandakan ini masih malam. Lalu dia kemana?

“Ahhhh…… ughhh…yesss Yoona…hmmmphhh”

Aku membulatkan mataku saat mendengar suara – suara aneh dari dalam kamar mandiku, itu suara Siwon. Suaranya terdengar sedikit aneh, ia seperti sedang

OMO! Aku menutup mulutku yang sudah terbuka lebar lalu mengingat – ngingat perkataan Yuri….

 

Flashback

 

“MWORAGU?”

Yuri mengangguk mantap, “Ne! Aku yakin pasti ia melakukan hal itu, tidak ada hal lain yang bisa dilakukan untuk pria hypersex seperti dia, Yoong! Kau bilang dia semakin kurus dan terlihat letih, kan? Itu tanda – tanda ia sering melakukan hal itu! Belum lagi ia selalu pulang malam membuat tubuhnya semakin cepat lelah, sudah pasti ia melakukannya, Im Yoona!”

Aku menggelengkan kepala tidak sependapat, “Yak! Tidak mungkin ia melakukan itu! Aku bahkan tidak pernah melihatnya—”

Yuri menepuk keningku sambil memelototiku geram, “Neo baboya? Ia tidak mungkin melakukannya di tempat dan waktu sembarangan, karena ia tidak ingin kau tersiksa……Ah! Aku yakin ia melakukannya di malam hari!”

Aku semakin bingung mendengar kata-katanya, “Malam hari? Tidak mungkin, Yul! Kami 1 kamar dan tidak pernah ada hal yang—”

Sekali lagi Yuri memotong perkataanku, “Yak! Tentu saja ia tidak melakukannya di sampingmu, Yoona! Oh, pasti ia melakukannya di kamar mandi! Ne, tidak ada tempat lain selain tempat tidur dan kamar mandi untuk melakukan hal sejenis itu!”

Aku menggaruk tengkukku ragu, “Lalu bagaimana caranya agar aku memastikan apa yang kau katakan?”

“Bangunlah di malam hari, dan coba dengar suara – suara aeh dari suamimu. Aku jamin 100% kau akan mendengarnya!”

Aku mendekatkan wajahku kearahnya, “Lalu apa yang harus kulakukan?”

Yuri menepuk keningnya frustasi melihat kepolosanku, “YAK IM YOONA! Neo baboya? Tentu saja kau ‘membantunya’, apa kau tega melihatnya tersiksa seperti itu sedangkan kau juga menginginkan hal yang sama? Dan yang terpenting, kau sudah mencintainya! Apalagi yang kau takutkan dengan hubungan kalian? Dan juga, bukankah ia mengatakan ia tak akan menyentuhmu sebelum kau menginginkannya? Jika kau tak memulai duluan, artinya ia akan selalu melakukan itu dengan caranya sendiri!”

 

End of Flashback

 

Kugigit bibirku sambil memikirkan apa yang harus kulakukan saat ini? Terdengar suara desahan Siwon semakin keras dan penuh akan fantasinya tentang diriku. Aku pun mengangguk mantap.

Bagaimanapun aku istrnya, aku harus menemaninya dan melayaninya, termasuk dalam hal ini. Aku tidak akan membiarkan ia semakin tersiksa dengan segala fantasinya. Aku pun turun dari tempat tidurku dan berjalan ke kamar mandi…

NC 21

**

Mataku mulai membuka diiringi dengan lenguhan manja dari mulutku, matahari mulai memantulkan sinarnya melalui jendela kamarku yang sedikit terbuka. Aku mengerjap – ngerjapkan mataku lalu melirik ke tubuh suamiku yang tepat berada dalam pelukanku, tapi sebelum mataku melirik kearahnya mulutku dengan reflek meringis merasakan nyeri di sekitar organ kewanitaanku, tanganku yang memeluk tubuh kekarnya sedikit mencakar punggung itu.

“Gwaenchana?” suara Siwon terdengar benar – benar panik dan kalut, oh tidak Im Yoona, kau membuatnya kembali merasa bersalah. Aku menatapnya yang sekarang sedang menatapku dengan tatapan bersalah, kembali aku melihat tatapan itu darinya.

Ia merengkuh wajahku lalu mengelusnya, “Mianhae Yoona-ya, aku..aku—“

Aku sudah tidak tahan dengan semua kegundahan hatinya, aku meraih pipi suamiku lalu mengecup bibirnya gemas, ia terlihat kaget mendapat perlakuanku yang tak pernah ia dapat sekalipun.

Aku menjauhkan wajahku lalu menatapnya intens, “Na gwaenchana. Mengapa kau selalu berfikiran yang aneh, yeobo? Bukankah aku yang memintanya?”

Siwon menggelengkan kepalanya, “Tapi tetap saja ini kesalahanku, sayang. Lihatlah, setelah apa yang kulakukan terhadapmu semalam dengan menumpahkan semua hasrat tertahanku selama ini, kau harus meringis kesakitan di pagi hari. Aku takut kau—“

“Mungkin aku sakit karena kita sudah lama tidak melakukannya, sudah lebih dari sebulan kau tidak menyentuhku, yeobo. Kurasa hal itu wajar terjadi padaku…” kataku yang kembali memotong kalimatnya.

Siwon kembali menatapku, masih dengan tatapan penuh kekhawatirannya, “Hajiman, yeobo—“

“Yeobo, justru kau membuatku marah dengan tak mempercayai kata – kataku bahwa aku baik – baik saja, kau ini membuatku merasa menjadi istri yang buruk untukmu, yang tidak bisa memuaskan suami bernafsu tinggi sepertimu!” kataku dingin.

Kali ini ia tertawa kecil lalu mengelus punggung polosku dengan lembut, “Aniya, kau adalah wanita terbaik yang pernah kumiliki, kaulah wanita yang berhasil membuatku merasakan apa itu cinta. Aku tidak peduli ada berapa juta wanita yang lebih baik darimu, tapi untukku kaulah satu-satunya wanita yang bisa membuatku mencurahkan segala yang bisa kulakukan untuk seseorang.”

Ah, tidak, tidak, ia mulai lagi. Pipiku pasti sudah memerah mendengar perkataannya itu, aku memukul dadanya pelan membuat ia kembali tertawa, “Jangan membual denganku!”

“Aku sungguh – sungguh dengan perkataanku, honey! Dan semalam, kau benar – benar hebat, aku tidak menyangka kau benar – benar hebat memuaskanku, servicemu benar – benar hebat! Katakan padaku kau mempelajarinya darimana?”

Aku memejamkan mataku malu, kali ini aku mencubit otot perutnya yang membuatnya kembali tertawa lalu memelukku lagi, “Mwoya! Jangan sampai aku menyesal sudah melakukan itu padamu!” kataku sambil memajukkan bibirku.

Ia kembali tertawa, “Yeobo, bersiaplah. Nanti siang kita akan pergi ke suatu tempat, aku menyiapkan surprise untukmu!”

Aku mengernyitkan alisku lalu menatapnya, “Surprise? Yak, jangnahanya? Hari ini bukan hari ulang tahunku!”

Ia tersenyum lalu menggigit bibir bawahnya nakal, “Kalau aku memberitahumu, namanya bukan surprise, Yoona”

Aku memajukan bibirku pura – pura kesal lalu memukul dada telanjangnya, “Aish jinjja! Ara, aku akan bersiap – siap!” kataku sambil melepaskan pelukannya.

Tanpa kuduga, ia menarik pinggangku lalu menindihku lagi, aku menatapnya dengan ekspresi menghakimi sedangkan ia tersenyum menggoda, “Siapa bilang kau bisa pergi sekarang, Nyonya Choi? How about our daily routine?”

“Morning kiss? Kisseu? Omo, aku sudah memberikannya padamu tadi!”

Ia menggelengkan kepalanya lalu menempelkan hidung kami, “Tidak sesuai harapanku! Jadi kau harus mengulangnya!”

Aku baru ingin menjawabnya namun bibirku sudah dibungkam oleh lumatan bibir darinya. Bibirnya menggigit bibirku gemas membuatku melenguh manja dan membuka mulutku. Dengan tubuh yang masih polos kami saling mengulum dan mencicipi setiap sudut bibir kami, lidah kami saling melilit, desahanku tertahan dalam bungkaman ciumannya. Kami tertawa dalam ciuman itu, hidung dan kening kami menempel sempurna membuat suasana romantic tak dapat dihindari, “Saranghae, Im Yoona!”

Aku mengelus tengkuknya manja sambil tersenyum, “Nado saranghae, Choi Siwon!”

Kami saling memandang intens diiringin senyuman sebelum bibir kami kembali berkutat dalam peraduan. Saat berciuman dengan suamiku, semua bayangan kejadian dari awal kami bertemu hingga menjadi seperti sekarang seakan berputar dalam benakku. Saat pertama kali aku menjadi istrinya, aku merasa menjadi wanita paling menyedihkan di Korea Selatan, tapi sekarang aku merasa menjadi wanita paling beruntung yang pernah ada karena menjadi istri dari pria yang begitu menyayangiku, mengasihiku, dan mencintaiku. Tak ada lelaki lain yang memperlakukanku seperti apa yang Siwon lakukan padaku. Satu hal yang membuatku semakin mencintainya adalah saat dimana ia mengungkapkan semua yang ia lakukan padaku, ia menahan semua yang membuatnya sakit hanya demi melihatku tersenyum. Aku merasa bodoh baru menyadari hal itu sekarang, tapi aku bersyukur karena aku tidak terlalu terlambat, karena sosok Im Yoona yang membenci Choi Siwon dan yang mencintai Choi Siwon jelas memiliki perasaan yang berbeda. Boleh kuralat kata – kataku sebelumnya?

Aku mencintai Choi Siwon, sekarang, besok, dan sampai kapanpun.

 

THE END

Yay! Oneshoot ini akhirnya selesai juga, jujur sebenernya mau dibikin lebih panjang tapi taku bikin readers pada bosen, karena FF ini udah mencapai 9000 kata dengan 33 halaman M.Word lol

Sebenernya gak ada niat untuk bikin FF se-dewasa ini, tapi pikiran liarku tentang menikah dengan seorang Choi Siwon yang kasih ide buat bikin FF begini. Well itulah alasanku memakai Yoona POV dari atas sampai bawah, ya walaupun ada 1 bagian yang pake author POV karna gak mungkin itu pake YOONA POV. Alesannya simple, aku pingin reader ngebayangin gimana rasanya jadi istri Siwon. Aku gak mau kalian iri sama statusku yang udah jadi istri resminya Choi Siwon /?

Oh iya, oneshoot kali ini ada sequelny, karena aku tadinya pengen bikin ini jadi oneshoot tapi beneran panjang banget karna ada masa – masa mereka waktu jadi suami istri yang berbahagia, so karena kepanjangan makanya dipisah wkkw

Dan itu ada NC +21nya, karena FF ini kayaknya emang harus dibumbui sama hal-hal yang seperti ini, mengingat emang disini ceritanya Siwon begitu, bukan bermaksud untuk gimana buat bikin NC +21, oh iya di postan yang terpisah itu, itu cuma bagian NCnya doang lol untuk minta passwordnya bisa buka disini

Okay, segera ditunggu ya buat Wife For My Husband, Lovely Haters, dan project FFku yang lainnya kkk~

Annyeong^^

untitled-2

89 thoughts on “Forced Marriage

  1. aaa ngefans bgt sma ff ini.ini slah satu ff favoriteq lho thor ga prnah bosen bacanya pertama bca yg kyu vers. d slah satu blog tetangga.emang ada sequelnya ya thor?jdulnya apa?

  2. gw reader baru salam knl hahaa.. sumpah ini keren banget jd salah satu FF fav.. selalu suka sama ceritanya author ini..gw sampe bikin wordpress😀 cuma buat bisa baca karya2 keren kaya gini .. ditunggu cerita2 barunya lagi ya thor.. btw boleh minta PWnya😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s