Memorable 12

Memorable03

cr : Tintin305

Judul         : Memorable 12

Author      : HyukgumSmile

Genre        : Romance, Family

Rating       : PG-17

Main Cast  : Im yoona, Tiffany, Cho kyu hyun, Choi siwon, Im nara

Happy Reading^^

 

Tiffany segera berdiri dan meletakkan nara tepat disamping ji yeon ketika pintu kamar terbuka. Ia meraih pisau yang selalu spencer gunakan untuk membukakan ji yeon buah-buahan dan menggenggamnya erat.

Tiffany melirik nara sebenar lalu kembali melirik pintu. Tiba-tiba ia terpekik keras saat siwon masuk bersama yoona dalam gendongannya. Tiffany menjatuhkan pisau tanpa ia sadari lalu segera mendekat.

“astaga, yoon!!”

Yeoja itu mendekat dan membuntuti siwon yang mulai merebahkan yoona diatas sofa. Tiffany menatapnya penuh kecemasan karena yoona tak pernah ingin melepaskan siwon, lalu ketika pintu kembali terbuka dan kyu hyun beserta spencer ikut masuk, tiffany segera memeluknya erat-erat.

“kami tidak berhasil mengejarnya”

Hanya itu yang tiffany dengar sebelum akhitnya memutuskan untuk ikut menangis.

 

 

__

Nara mengerjapkan kedua bola matanya. Pancaran sinar yang keluar dari gambar yang bergerak itu membuatnya sedikit merasa silau. Jemarinya bergerak perlahan mengusap mata yang kini terlihat hampir memerah.

“kau belum tidur?”

Nara berbalik, mendapati yoona yang berdiri diujung pintu lalu menggeleng seadanya “aku masih belum menyelesaikan ini, mom” nara menunjuk televisi yang kini berubah tayang menjadi iklan.

“kau mau tidur pukul berapa jika terus menonton?”

Nara mengedik sekali “ini, kan, baru pukul tujuh mom. Ayolah..”

Yoona memperhatikannya dengan serius. Nara memang masih menyimpan beberapa bekas lebam yang membiru itu pada tubuhnya. Begitupun yoona. Tapi entah mengapa nara bisa pulih lebih cepat.

Gadis kecil itu kini bersikap seolah tak terjadi apapun dan mulai bertingkah wajar meski tetap saja menolak untuk kembali kesekolah. Ya,, sebenarnya yoona juga masih, terlalu sangsi dengan hal itu.

Yoona memperbaiki posisinya untuk berdiri ketika nara mencoba untuk turun dari ranjang. “kau mau kemana?”

Nara meletakkan kedua tangannya pada selangkangan dan mendesis. “aku mau buang air” ia berjalan menuju sisi kanan ruangan lalu menepuk keningnya cepat. Gadis kecil itu berbalik arah dan memberikan cengiran khas miliknya sebelum memasuki pintu kamar mandi.

Ya, mereka pindah. Tidak benar-benar pindah sebenarnya. Nara dan yoona memilih untuk mengungsi menuju apartemen siwon untuk beberapa waktu kedepan. Hanya untuk meminimalisir beberapa kemungkinan buruk seperti orang berbaju hitam itu akan datang kembali.

“jangan lupa cuci kaki dan tanganmu lalu minum susu” teriaknya dari luar.

“ya mom!!”

Yoona tersenyum tipis. Ia segera menutup pintu perlahan lalu kembali menuju ruang tamu. Disana, ia segera duduk disamping siwon lalu merapatkan cardigan tipis miliknya.

“sudah tidur?”

Yoona menggeleng pelan sementara siwon hanya terkekeh kecil. Ia sudah terbiasa dengan nara yang seringkali membangkang semenjak drama kesukaannya pindah jam tayang dan itu memang sedikit memusingkan yoona.

“biarkan saja. Dia pasti mengantuk sebentar lagi”

Yoona mengangguk pelan. Ia memang terlalu sulit untuk berbicara semenjak kejadian hari itu. Yoona tak mengerti. Ia merasa lebih nyaman seperti ini. Tidak berbicara dan tidak lagi mengingat-ingat kejadian itu.

Yoona menggeliat pelan masuk dalam dekapan siwon. Jemari namja itu memeluknya lalu mengusap lengan yoona yang masih diperban mengingat luka yang ia derita beberapa hari yang lalu.

“kau yakin hanya ini?”

Yoona menoleh dan menatap spencer dengan binar mata yang sayu.  Yoona mengangguk “hanya itu. Sebelumnya dia tak pernah datang secara langsung”

Spencer mangangguk paham. Jemarinya sibuk melihat sebuah pisau yang berlumuran darah kering serta kertas yang menutupinya. Bibirnya melengkung sedikit bingung. “aku tidak menemukan sidik jari disini. Mungkin karena darah atau ia melakukannya menggunakan pengaman”

“apa darah ini tidak bisa memberikan petunjuk?”

Kini semua mata beralih pada ji yeon. Dan, ya, entah sejak kapan mereka bisa berkumpul seperti itu. Disana juga ada kyu hyun. Dan minus tiffany karena pada akhirnya ia tak bisa menolak paksaan yoona untuk tetap pergi menuju paris.

Klise memang. Tapi yoona tak ingin masalahnya menjadi penghalang bagi tiffany untuk meneruskan pekerjaan atau bahkan hobynya.

“tidak bisa. Darah ini sudah mengering dan tidak ada sample yang bisa diambil”

Ji yeon mendesah kecewa.

“ada lagi yang dia lakukan padamu?”

Yoona mengerjap beberapa kali. Ah,, ia pernah dihubungi dengan nomor-nomor yang yang dikenalinya. Tapi ponselnya menghilang, raib dan berpindah tangan semenjak ia menjemput nara sore itu.

“sebenarnya, aku pernah mendapat beberapa telepon singkat dan mengerikan sebelum hari itu” semua mata kini menatap yoona semakin cemas. “tapi ponselku hilang”

“hilang?”

Yoona menaggguk pada kyu hyun. “sepertinya dia yang mengambilnya ketika aku menjemput nara. Aku rasa aku tak sengaja meninggalkannya”

Kini kyu hyun ikut mendesah kecewa. Ia memijat kepalanya mengingat kini tak banyak petunjuk yang mereka miliki.

Sebenarnya, malam itu siwon sudah berniat untuk melaporkan kejadian teror mengerikan ini pada polisi. Tapi yoona bersikeras untuk menahannya. Dan pada akhirnya siwon hanya mampu terdiam ketika yoona berkata jika ini menyangkut keluarganya.

Siwon kembali berpikir keras. Apa ini ada hubungannya dengan telepon yang ia terima malam itu? Tapi siwon dan mommynya tidak sempat bertengkar. Hanya saling beradu argumen dan wanita paruh baya itu mengakhiri panggilan dengan nada lembut.

“bagaimana dengan keadaan kafe?”

Spencer menatap siwon lekat lalu menghembuskan nafasnya gusar. “saat aku sampai halaman kafe sudah bersih. Mereka berkata jika keramik itu sudah mereka buang. Jadi aku memutuskan untuk mampir kepinggiran gedung, tapi kotak pembuangan sampah disana sudah kosong”

“tidak ada sidik jari?”

Spencer menggeleng. “tangga dan handle pintu bersih. Entah karena mereka yang membersihkannya atau si peneror yang terlalu cerdik” spencer berdehem sekali menimbang-nimbang banyak hal “tapi terlalu konyol menurutku jika mereka harus ikut membersihkan pegangan tangga belakang dan pintu. Maksudku,, pengunjung tak akan melihat yang itu. Jadi..”

“mereka sengaja membersihkannya” simpul ji yeon.

“tidak juga. Ini hanya presepsiku. Tapi, sejujurnya aku pernah berpikir seperti itu. Sejumlah—“

“tunggu! Spence, kau melihat kotak pembuangan sampah sudah kosong?”

Spencer mengangguk membenarkan pertanyaan kyu hyun. Matanya menatap lekat-lekat kedua bola mata kyu hyun yang terlihat masih menganalisis keadaan. Tiba-tiba bahu spencer menegang. Tubuhnya segera tegak dan ia menyadari satu hal.

“kotak pembuangan sampah tak akan pernah dibersihkan menjelang akhir pekan”

Kyu hyun menjentikkan jemarinya kuat. “itu maksudku! Aneh sekali jika kotak pembuangan sampah itu kosong. Seseorang pasti sudah memanipulasi ini”

Spencer menatap kyu hyun yakin. Sementara yoona semakin meringkuk kedalam pelukan siwon. Mau tak mau, ini semua membuatnya semakin takut. Semua ini terdengar seperti pelaku teror yang membayanginya sudah merencanakan banyak hal sebelum ini.

Dan itu, sunggu sangat amat menakutkan.

“hanya ada dua kemungkinan. Kau bisa datangi kantor pusat mereka besok. Aku akan mengurus bagian lain. Aku ragu jika ia bekerja berkelompok”

Kyu hyun segera mengeluarkan ponsel miliknya. Mencari-cari alamat kantor pusat yang harus ia datangi esok. Sementara spencer segera menatap pisau berdarah yang kini tergeletak diatas meja.

“kau yakin dia hanya melakukan ini?”

Yoona berpikir sejenak. Jujur saja, mengingat segala kejadian ini membuat kepalanya terasa berat. Tapi mau tak mau yoona harus melakukannya. Demi keselamatannya dan nara. Terlebih jika spencer dan kyu hyun ingin membantu. Kenapa tidak?

“hari itu,,” yoona terdiam sejenak. Keningnya berkerut lalu tak lama ia sedikit terkejut. “emm.. aku dan tiffany hampir ditabrak seseorang”

“coba jelaskan padaku”

Yoona menatap spencer dengan mimik wajah khawatir. Ia menghawatirkan banyak hal. Tapi yoona tidak yakin jika semua ini berawal dari tabrakan itu.

“jangan takut, sayang. Kau bisa jelaskan semuanya pada spencer”

Yoona menatap siwon ragu. Sejujurnya, ia lebih ingin meminta siwon untuk segera membawanya pergi. Kemanapun, asalkan jangan berada dikorea. Tapi lari dari permasalahan bukanlah hal yang tepat. Yoona mengangguk lalu kembali menatap spencer yang balas meyakinkannya dengan sebuah anggukan kecil.

“aku dan tiffany baru saja pulang dari sebuah kafetaria saat mobil itu datang. Aku tidak yakin ini termasuk dalam rencananya atau tidak. tapi mobil itu hampir menabrak tiffany, bukan aku. Meski pada akhirnya aku dan tiffany tidak terluka banyak.

Spencer mencerna setiap perkataan yoona baik-baik. “apa sesuatu sudah mengganggumu sebelum kasus ini?”

Yoona terdiam. Matanya memejam menimbang yang satu ini. “sebenarnya,, sebelum ini aku pernah mendapat sebuah surat”

Mereka menatap yoona lekat-lekat. Tau jika yang satu ini mungkin saja bisa menjadi awal mula semua masalah ini. Sementara yoona menghembuskan nafasnya berat, seharusnya ini menjadi rahasia untuknya. Tapi jika ini mengenai keselamatan nara, maka mungkin ia perlu sesekali menjadi orang yang tak konsisten.

“dari new york”

Dan satu-satunya bahu yang menegang disana adalah milik siwon. Pria itu segera terdiam menatap yoona lekat-lekat. Bibirnya kelu. Ia tak pernah tau jika keluarganya benar-benar adalah dalang dibalik semua ini.

Siwon mencekal salah satu lengan yoona dan kedua matanya menjadi sangat amat fokus. “yoon, boleh aku tau mobil itu?”

Yoona mengernyit heran. “maksudmu?”

“kuharap itu bukan sebuah lamborgini”

Yoona tersentak. Lamborgini? Yoona mengingat-ingat hal terakhir yang ia perhatikan dari belakang mobl itu. Sial! Tapi itu memang laborgini. Lamborgin X2 Modulo Climax. Lalu?..

Yoona tiba-tiba tersentak kaget. Tiba-tiba pemikiran itu menyinggahi otaknya cepat. Lamborgini? Yoona memutar kepalanya, menghadap siwon dan memberikan aura mata yang sama-sama merasa tertekan.

Tidak. Jangan katakan ini jiwon.

“terjadi sesuatu dengan lamborgini?”

Siwon mengerjap, menatap tiga orang yang masih duduk didepannya lekat lalu mendesah bersalah. “adikku penggila lamborgini”

 

 

__

Melarikan diri dari keluarga besarnya mungkin memang bukan pilihan yang bijak. Tapi yang siwon lakukan mungkin tak dapat dikatakan seperti itu karena nyatanya siwon telah lebih dulu merundingkan perihal keberangkatannya pada sang appa.

Siwon hanya tak menyangka jika kebencian jiwon dan eommanya akan berbuntut seperti ini. Setidaknya, ia tak pernah berpikir jika jiwon akan jauh-jauh datang dari benua yang berbeda hanya demi memberikan tekanan mental pada yoona.

Lagipula, mereka belum merencanakan apapun. Mungkin akan terdengar wajar jika mereka telah mengabarkan berita pernikahan lalu jiwon dan eomma segera berusaha keras agar itu tak terjadi.

Tapi nyatanya, mereka belum sampai pada tahap itu. Siwon sendiri baru menyadari jika eommanya dan jiwon baru mengetahui keberadaan mereka. Sementara setau siwon, ia sudah meminta izin pada appa. Ia juga menjalankan salah satu perusahaan keluarganya dikorea. Dan siwon rasa itu sudah cukup untuk membuktikan jika ia dan yoona tak pernah hidup bersembunyi.

Ia tak pernah mengambil kesimpulan jika keberangkatan mereka –siwon, yoona dan nara- menuju korea disalah artikan sebagai upaya bersembunyi dari keluarga. Memangnya apa yang harus mereka sembunyikan?

Siwon memang bersikeras untuk terus bersama yoona sedari awal. Tapi ia tak merasa menyakiti hati siapapun karena siwon sendiri tak pernah terikat perjanjian pernikahan bisnis sebelumnya.

Dan, mungkin ia perlu bersyukur karena sang appa tak terlalu muluk-muluk dan kuno dalam menyikapi atau ikut campur dalam hubungannya. Appa justru adalah satu-satunya orang yang terus memberikannya dukungan untuk bebas. Meski appa memang tak pernah berkata jika ia menyukai yoona.

Ini memang berat. Semenjak awal, siwon memang sudah digadang-gadang untuk menjadi pewaris tunggal mengingat statusnya sebagai satu-satunya pria diantara dua adik wanitanya.

Tapi siwon tak pernah setuju dengan berbagai perjanjian pernikahan. Oh ayolah, keluarga mereka tetap bisa hidup hingga cicit dari cicitnya siwon meski mereka tak berkerja.

Tapi,, itu memang terlalu berlebihan.

Oke, mungkin tak akan seperti itu. Kekayaan mereka tetap akan habis dimakan waktu. Tapi siwon hanya ingin ia hidup tanpa ada lagi pandangan materi. Ia ingin segera lepas dari jubah pewaris tahta miliknya.

Dan usai kematian salah satu adik tercintanya, hanya bersama yoona-lah siwon bisa mendapatkannya. Siwon mungkin pernah berkali-kali jatuh cinta pada banyak wanita. Tapi jatuh cinta pada yoona tentu memiliki esensi berbeda.

Yoona tak lahir dari keluarga kaya raya. Tak terlalu terkenal. Dan ia memiliki seorang anak sebelum ia terikat secara sakral. Dan mau tidak mau, hal itulah yang terus menjadi momok menakutkan untuk eommanya dan jiwon.

Tapi siwon benci jika ia harus hidup hanya untuk memikirkan pendapat orang lain. Ia tak dilahirkan untuk itu. Dan jika ia mencintai yoona, maka siwon bersedia demi apapun menulikan telinganya dari semua perkataan miring orang lain.

Siwon terjatuh sangat dalam. Ia mencintai yoona seperti oksigen. Karena itulah ia bertahan dan tetap bertahan. Demi yoona. Dan nara. Karena hanya dengan dua manusia itulah ia merasa jika ia bisa bahagia.

’the number you are calling is not active or not in this area. Please try again in a few minute’

‘leave your message after you hear beep’

‘beep’

“jiwon-ah, ini tidak lucu. Hubungi oppa secepatnya setelah kau mendengar pesan ini”

Siwon menutup kedua matanya dengan jemari yang merapat. Mengusap gusar bagian mata lalu menggeram. “argh!!”

Ponselnya jatuh diatas nakas. Kedua mata siwon berubah menjadi lebih tajam dan berkilat. Oke, ia mungkin memang pernah hampir menampar jiwon dulu. Tapi siwon merasa itu pantas karena ia dan kedua adiknya tidak dibesarkan untuk memiliki tutur yang kuarang ajar.

Jadi, ketika jiwon sudah berbicara berlebihan, siwon merasa perlu memperingatinya meski ia akui saat itu ia terlalu emosi. Dan, walau bagaimanapun memihak diantara yoona dan jiwon bukan keahliannya. Jadi, siwon segera meminta maaf ketika kedua mata jiwon mulai berkaca-kaca.

Siwon tau ia salah. Tapi ia tak pernah berpikir jika jiwon akan melakukan hal konyol seperti ini hanya karena masalah seperti itu. Ia telah membahayakan nyawa yoona. Dan ini tidak lagi bisa ia toleransi.

“edd..”

Siwon terperanjat lalu berbalik dan segera meredupkan kemarahannya. “ra-ya, kau belum tidur?”

Siwon berjongkok lalu membelai rambut nara sayang. Gadis kecil itu menggeleng dalam rasa kantuk yang menderanya. Nara segera menoleh kekanan dan kekiri lalu kembali menatap siwon.

“apa mereka sudah pulang? Edd aku tidak bisa tidur..” nara berjalan maju lalu menggantungkan tangannya diudara. Kedua matanya semakin terpejam lalu sebelum ia terjatuh tubuh nara sudah melayang.

Siwon menggendongnya. Membiarkan kepala nara terkulai diatas bahunya lalu tersenyum. Menepuk punggungnya agar nara lebih cepat memasuki alam mimpi.

“edd, boleh aku tidur denganmu?”

Nara meracau. Padahal kedua mata gadis cilik itu sudah tertutup rapat. Tingkah lucu yang selalu mampu membuat siwon tertawa. Dan entah mengapa kilatan kedua mata siwon kini berganti aura.

“tentu, kau boleh tidur dimanapun kau mau”

Nara mengangguk. “kalau begitu aku ingin tidur disini saja” kedua tangannya segera merayap, melingkari leher siwon erat-erat lalu semakin terlelap dalam dunia mimpi.

Siwon menoleh kearah pintu. Ia harus keluar. ia harus menjadi tuan rumah yang baik dan yang paling penting adalah ia tak mungkin meninggalkan yoona sendirian –lagi.

 

 

__

Ji yeon memeluk yoona erat-erat. Wanita tinggi dengan paras yang menawan itu terlihat pucat. Mungkin, yoona belum sepenuhnya melupakan kejadian hari itu. Dan ji yeon yakin jika mungkin seratus persen memang belum.

Ji yeon yang mendengar cerita singkat dari spencer saja sudah dibuat  merinding olehnya. Ya tuhan, ia tak pernah menyangka jika pada zaman seperti ini masih ada saja orang-orang yang berpikir jika mengganggu kesehatan mental orang lain adalah jalan yang terbaik.

“jaga kesehatnmu. Jangan dipikirkan lagi..”

Yoona mengangguk dan tersenyum. “apa persiapan pernikahan ahreum suda—“

“aku akan mengurus semuanya. Tak apa, kali ini kau benar-benar harus istirahat. Lihat, wajahmu mulai terlihat pucat”

Yoona terkekeh. Ji yeon memang seringkali berlebihan. Tapi entah mengapa ia menyukai hal-hal seperti itu. Karena jika sudah mendengar ocehan panjang bernada khawatir dari jiyeon, yoona akan merasa jika ia memiliki seorang adik yang sangat menghawatirkannya.

Yoona kembali mengangguk. Mengusap tangan ji yeon yang kini berada pada lengannya. “terimakasih ji” ujarnya tulus.

Usai itu ji yeon segera pergi bersama spencer. Yoona tak tau apa yang terjadi karena belakangan ini ia memang hanya disibukkan dengan ketakutannya sendiri. Ia bahkan belum sempat bertanya siapa itu spencer. Atau mungkin waktunya juga belum tepat.

Tapi yoona yakin jika diantara ji yeon dan spencer telah terjadi sesuatu. Entah semacam hubungan atau apapun itu. Tapi genggaman erat spencer pada jemari ji yeon membuktikan segalanya.

Namja itu,, meski yoona baru tau jika ia dan spencer pernah satu sekolahan dulu, dan terlebih lagi kenyataan jika ternyata spencer begitu dekat dengan kyu hyun, yoona percaya jika spencer adalah pria yang baik. ia tak tau harus menilai seseorang dari sudut yang mana. Tapi pancaran mata spencer selalu tulus jika sudah menumbuk manik hitam milik ji yeon.

“sepertinya aku juga harus pulang”

Yoona tersentak dan menemukan kyu hyun tepat berada didepannya. Hanya sekitaran lima langkah dari yoona. Namja itu memasukkan salah satu tangannya pada saku coat yang ia gunakan lalu menunduk ragu.

“aku harap kau bisa melupakannya. Aku dan spencer,, dan juga siwon akan terus menyelidiki ini”

Yoona ingin menyesuaikan diri dengan bermimik serius. Tapi kata-kata kyu hyun justru membuatnya tertawa kecil. Yoona tak tau mengapa. Ia merasa jika kyu hyun-nya dulu tak pernah bertindak sok detektif seperti ini.

Kyu hyun tertegun lalu ikut tersenyum lembut. Entah mengapa, ia merasa jika ini semua sudah lebih dari cukup untuk memperbaiki hubungan mereka. Ia dan yoona. Dan mungkin juga tiffany.

Kyu hyun masih menatap yoona. Ia bertahan dengan posisi tawa yang terlihat mulai menulari wajah pucatnya. Seketika jantung kyu hyun seperti ditusuk tombak besar. Wajah pucat yoona. Ah, sial! Ia tak lagi bisa melindungi yeoja itu seperti dulu.

Kini yoona benar-benar berada dalam bahaya dan kyu hyun hanya mampu melakukan ini –menemani spencer untuk membongkar siapa pelaku dibalik semua ini- dan terus melindungi yoona.

Namja itu tersenyum. Jika saat ini adalah enam atau tujuh tahun yang lalu, mungkin ia dan yoona sudah akan berpelukan. Kyu hyun akan mengusap punggung yoona untuk meredakan isak tangisnya yang terdengar memilukan.

Tapi sekarang jelas berbeda dengan dulu. Semua telah berjalan. Ia dan yoona memiliki liku kehidupan yang tak lagi sama.

Kyu hyun masih bisa merasakannya. Bagaimana ketika ia dan spencer kembali sesuatu seperti menghantam dirinya, menciptakan lubang besar yang menganga ditengah-tengah tubuhnya.

Kyu hyun bahkan merasa selain kehilangan jantung, ia juga kehilangan hati dan paru-parunya saat itu juga. Karena melihat siwon yang memeluk yoona untuk menenangkannya bukan menjadi salah satu kesukaan kyu hyun.

Entah mengapa ia selalu benci ketika pria lain selain dirinya bisa menenangkan yoona –atau mungkin juga tiffany. Karena semenjak awal ia merasa jika hanya ialah yang terus melindungi dua yeoja itu. Dan hingga akhir, harus ia jugalah yang akan terus ada untuk mereka.

Egois memang. Tapi kyu hyun terlalu menyayangi yoona dan tiffany. Dengan porsi yang kini tak lagi jelas. Karena semenjak kedatangan nara, seluruh perasaan kyu hyun kemudian terbagi. Ia tak bisa mengatakan jika ia menyayangi yoona lebih besar dari tiffany karena nyatanya yoona telah memberikannya seorang malaikat kecil.

Itu bukan alasan yang tepat. Tapi harus kyu hyun akui, ia sendiri mulai merasa bingung dengan perasaannya pada tiffany. Entah dalam konteks yang bagaimana. Kyu hyun bahkan terlalu sulit untuk memikirkannya.

Kyu hyun memberanikan diri untuk melangkah maju. Jantungnya kini mulai bergedebum kencang. Kyu hyun tak tau ini benar atau salah. Tapi karena hubungan mereka sudah jauh lebih baik, mungkin kyu hyun rasa jika hal ini sah-sah saja untuk ia lakukan.

Yoona terdiam ketika kyu hyun berhenti usai empat langkah tungkainya mengikis jarak diantara mereka. Kini, namja yang sedikit lebih tinggi dari yoona itu berdiri dan menatapnya dalam.

Kyu hyun tak hanya melihat matanya. Tapi yoona merasa jika kyu hyun melihat seluruh dirinya melalui tatapan mata. Yoona pernah, bahkan dulu terlalu sering menatap kyu hyun. Tapi pandangan yang seperti ini, yang menguliti yoona secara perlahan ini, baru sekaranglah ia rasakan.

Kyu hyun diam. Menghentikan langkahnya lalu menatap yoona dalam-dalam. Benak kyu hyun ingin berteriak kencang. Karena inilah saat mereka bisa sedekat mungkin tanpa yoona yang terus mendeliknya atau tanpa yoona yang terus berusaha menjauhinya.

Debaran jantung kyu hyun semakin tak terkendali. Lalu tanpa aba-aba ia segera menunduk. Melingkarkan lengan kekarnya pada punggunga yoona lalu membawanya masuk dalam pelukan hangat.

Yoona tak mengerti harus berbuat seperti apa. Yang ia tau, ia hanya perlu diam. Ia tak sedikitpun berbicara terlebih bergerak. Semenjak berbaikan dengan kyu hyun beberapa hari yang lalu, ia memang merasa bisa sedekat dahulu.

Tapi yoona belum sempat memikirkan yang satu ini.

“a aku,,,”  Kyu hyun berhenti. Begitupun yoona yang hanya diam, menunggu kyu hyun melanjutkan pembicaraannya. “aku merindukanmu, yoon. Sangat”

Yoona tak bereaksi. Hanya yang wanita itu tau, kini perasaannya membuncah hebat. Yoona merindukannya? Tentu saja. Bukankah hal seperti ini yang dulu selalu yoona pikirkan? Berada dalam pelukan kyu hyun dan namja itu bersikap seolah ia membutuhkannya?

Tapi selain perasaan seperti itu, sesuatu justru menghangat dalam dada yoona. Siwon mungkin terlalu benar dengan segala asumsinya mengenai kerumitan ini. Yoona dan kyu hyun perlu berbaikan. Dan itu semua benar-benar membuat segalanya terasa lebih ringan.

Berada dalam pelukan kyu hyun membuat yoona merasa nyaman. Dari dulu, selain pelukan appa, yoona selalu suka jika ia berada disekitar kyu hyun. Hangat tubuh namja itu berbeda. Dan yoona menyukainya.

Kedua tangan yoona bergerak pelan. Pelan tapi pasti, kini lengan yoona melingkari punggung kyu hyun. Membalas pelukannya lalu mulai menyandarkan diri pada dada bidangnya. Yoona harusnya tau, mereka pernah sedekat ini dulu.

“a aku juga.. merindukanmu”

Dan kyu hyun dengan cepat mengeluarkan desahan lega miliknya. Demi tuhan, ia tak pernah merasa luar biasa ringan dalam hidupnya. Dan pernyataan yoona adalah satu-satunya yang mampu membuatnya seperti ini.

Kyu hyun buru-buru mengeratkan pelukannya pada yoona. Lalu bibirnya jatuh tepat dipuncak kepala wanita itu. Mengecupnya sayang seraya menghantarkan kehangatan yang kini mulai tercipta setelah bertahun-tahun lalu lenyap.

Yoona terlebih dahulu mengakhiri segalanya. Tubuh mereka pada akhirnya terpisah dan kyu hyun bisa melihat yoona tersenyum. Dalam jarak yang sedekat ini. “terimakasih” ucapnya penuh rasa bahagia.

Disana, yoona mengagguk pelan. “terimakasih kembali, kyu”

 

 

__

Siwon berjalan menuju ruang tengah ketika menemukan ruangan itu tampak begitu lengang. Dalam gendongannya, nara seperti sudah tertidur amat larut. Dan kini siwon mulai menghawatirkan yoona.

Langkah panjangnya menuntun siwon menuju pintu apartemen. Dan menemukan yoona bersama kyu hyun ada disana.

“terimakasih kembali, kyu”

Siwon bisa mendengarnya. Tapi ia tak begitu perduli. Bagi siwon, jika memang yoona dan kyu hyun berbaikan maka itu sudah lebih dari cukup. Untuk sementara waktu, selain masalah teror yang belum terselesaikan ini, siwon cukup merasa tenang karena yoona bisa lepas dari jerat masalahnya satu persatu.

“spencer dan ji yeon sudah pulang?”

Yoona dan kyu hyun segera menoleh dan menemukan siwon yang tengah menggendong nara. Yoona segera tersenyum dan mengangguk tanpa rasa canggung.  Dan hal itu luar biasa membuat siwon lega.

Karena walau bagaimanapun, jika yoona harus bersikap canggung ketika berada didepannya, maka siwon yakin jika yoona tengah merasa jika ia telah salah dalam bertindak. Jadi, jika yoona tak menunjukkan sikap seperti itu, itu berarti ia merasa jika tindakannya sudah benar.

Dan siwon percaya padanya.

“sudah” yoona kemudian mendekat dan menatap wajah nara dari balik punggung siwon. “dia sudah tidur?”

“eum. Baru saja”

Kyu hyun tak mengerti harus bersikap seperti apa. Jika ia harus mengedepankan haknya sebagai lelaki, maka seharusnya kini nara berada dalam gendongannya. Tapi kyu hyun tak lupa jika nara bahkan belum lagi mengenalnya sebagai ayah.

Jadi, selain menatap wajah nara yang belakangan ini mampu membuat sesuatu didalam dada kyu hyun bergetar hebat, ia tak dapat melakukan apapun.

Kyu hyun tersenyum. Mungkin, memang bukan saat ini. Mungkin ini belum waktunya. Mungkin. Mungkin saja.

“kalau begitu aku pulang dulu”

Siwon dan yoona menoleh pada kyu hyun. Siwon tersenyum tipis. Senyuman yang entah sejak kapan berani ia bagi pada kyu hyun. Perdebatan silam terasa menghilang dan membentangkan jalan damai diantara mereka. Dan kyu hyun membalasnya juga dengan senyuman tipis.

“terimakasih telah membantu, kyu hyun-ssi.” Siwon menatap yoona lalu berbisik “aku harus segera meletakkanya dikamar. Sampaikan salamku pada sahabatmu”

Yoona tersenyum. Dan siwon segera beranjak pergi. Yoona terus memperhatikan wajah nara yang terkulai pada bahu siwon lalu terkejut bukan main saat tatapannya beralih pada manik mata kyu hyun.

Dalam detik yang singkat, yoona merasa begitu bersalah. Mungkin, tatapan sendu kyu hyun memang diakibatkan oleh ulahnya sendiri. Tapi walau bagaimanapun, kyu hyun tetap memiliki sebuah hak atas nara. Dan hak itu belum ia sentuh hingga hari ini.

“aku pulang. Jaga dirimu baik-baik”

Yoona mengangguk sekali. Kyu hyun turun dan mengganti sepatu miliknya lalu membuka pintu lambat.

Ia ingin berbicara. Tapi entah mengapa sesuatu menahannya untuk melakukan itu. Kyu hyun ingin yoona tau jika ia juga ingin nara memeluknya erat. Atau setidaknya agar gadis itu tau jika kyu hyun-lah appanya.

Tapi urung. Masalah ini sudah memberatkan yoona dan kyu hyun tak ingin semakin membebaninya. Mungkin memang harus ada lain kali dalam hubungannya dengan nara.

Kyu hyun bulat-bulat memutuskan untuk pergi. Namun belum selangkah ia menjauh, yoona memanggilnya dengan lembut.

“ayo makan siang,, bersama nara”

 

 

__

Spencer dan ji yeon terlihat ketika kisi lift terbuka. Dengan langkah cepat spencer membelah kisi lift dan berjalan menuju pintu keluar gedung. Tak lama spencer mendesah cukup berat. Ia kembali berbalik lalu jemarinya perlahan mengait satu persatu jemari ji yeon.

Demi tuhan, spencer bukan tipikal lelaki protektif yang akan terus mengumumkan pada dunia jika wanita itu adalah miliknya melalui public service. Tapi jika bersama ji yeon, spencer justru merasa jika ia harus melakukannya.

Wanita ini, entah mengapa selalu mampu membuatnya kalang kabut. Selain kenyataan jika ia dan ji yeon yang pernah saling menyukai namun tak sempat bersama karena spencer benar-benar mengutamakan keinginannya untuk menjadi seorang agen internasional, kekukuhan ji yeon untuk tetap sendiri menjelang kedatangannya juga membuat jantung spencer terasa bergelenyar bahagia.

Spencer bisa saja mendapatkan wanita manapun yang ia mau dengan status dan kekayaannya saat ini. Tapi memiliki ji yeon, untuk kali pertama pada kesempatan kedua benar-benar merupakan anugerah untuknya.

Spencer bahkan baru saja datang satu minggu, namun perkembangan hubungan mereka nyatanya sudah melampaui ekspetasi. Ia tak pernah mengklaim seorang wanita. Tapi jika itu park ji yeon, maka untuk pertama kalinya spencer akan melakukan itu.

Lagipula, satu satunya hal yang menjadi penghalang mereka sudah runtuh. Spencer sudah sukses dengan cita-citanya dan ji yeon sudah terlalu sabar untuk menunggu.

Spencer menggenggam ringan jemari ji yeon. Semacam pembuktian tersirat jika ia tak ingin lagi wanita itu pergi. Atau mungkin tak lagi ingin berpisah. Dan spencer merasa tak mengerti karena disaat ia bisa mengenal wanita lain dengan baik, ia justru selalu berakhir dengan kegugupan jika sedang bersama ji yeon.

Sialan!

Sungguh spencer ingin berterimakasih banyak karena ji yeon masih menawarkannya tempat saat spencer bahkan tak memberi kepastian hampir selama tujuh tahun. Spencer tersenyum kecil. Diantara hidup menegangkannya selama ini, kali ini spencer jauh lebih bahagia.

“apa kyu hyun belum akan pulang?”

Spencer tak menoleh. Ia hanya mempererat genggaman tangannya agar ji yeon lebih hangat dan tersenyum tipis. “dia perlu banyak waktu dengan mereka. Biarkan saja” tukasnya ringan.

“memangnya kita tidak perlu banyak waktu dengan mereka?”

Dahi spencer berkerut. Ia berbalik lalu benar-benar tersiksa dengan tatapan polos milik ji yeon. Tapi ia menggeleng, berusaha untuk menggeleng. “satu-satunya hal yang memerlukan banyak waktu bagiku hanyalah denganmu”

Spencer berkelakar meyakinkan sementara ji yeon terperanjat lalu mengerjap tak paham. “kenapa harus aku?”

Dan spencer mengulum sebuah senyuman tipis. Maju dan menatap ji yeon lekat-lekat. “entahlah. Aku merasa jika di usiaku yang seperti ini sudah saatnya menuju altar. Tapi menikah setelah bertemu hanya dalam waktu satu minggu sepertinya bukan gagasan yang bagus. Suka ataupun tidak, efisiensi diterimanya lamaranku akan sangat kecil. Apa aku salah?”

Ji yeon kembali mengerjap, namun kali ini dengan rona kagum luar biasa. Ia mengangguk pelan. Spencer memang jarang sekali salah dalam menebak.

“tak apa. Aku masih bisa bertoleransi. Penantianmu selama ini memang harus dibayar dengan sesuatu yang sepadan” ia kembali mengait jemari ji yeon “tapi jika kau sudah bisa berdamai dengan waktu, kabari aku. Aku akan memesankan sebuah altar untukmu. Atau kau ingin menikah disebuah pulau?”

Ji yeon tergugu kikuk. Dengan cepat memukul lengan keras spencer yang menimpalinya dengan kekehan kecil. Ia menarik ji yeon untuk kembali berjalan. “tapi aku serius mengenai pernikahan, ji” sambung spencer lebih tenang.

Ji yeon tak mengerti mengapa ia dan spencer bisa berada dalam tahap seperti ini. Lelaki yang kini berjalan pelan didepannya itu sungguh sulit ditebak. Lihat saja sikapnya sekarang.

Ji yeon terkesiap ketika tiba-tiba spencer berhenti tepat sebelum pintu gedung terbuka. Belum keterkejutannya reda, spencer segera menyapukan kedua matanya menuju arah kiri, tepat pada sudut ruangan kaca yang tersambung tembok.

Aura mereka tiba-tiba menjadi lebih dingin. Kedua mata spencer kemudian beralih menuju arah kanan.

“w waegeurae?”

Spencer memejamkan kedua bola matanya. Membuat ji yeon hampir mati berdiri karena ketakutan. “dia disini” ujar spencer berbisik pelan.

“y ye??” ji yeon buru-buru mengetatkan genggamannya dan meringsek mendekati spencer. Belum hilang dalam ingatannya cerita didalam rumah sakit beberapa hari lalu dan luka pada kakinya. Ji yeon selalu menyimpulkan jika peneror ini benar-benar sudah gila. Kejam dan tak tau tempat.

“sepertinya dia akan terus ada disekitar apartemen ini hingga menemukan waktu yang tepat untuk bertindak”

Kedua mata ji yeon membulat takut. “l lalu kita harus bagaimana?” cicitnya kecil.

“jangan lakukan apapun. Kita harus pulang. Aku akan menghubungi pusat kendali. Beberapa pemantau mikro bisa kita gunakan disekitar mereka. Dan sebaiknya katakan pada yoona agar ia tak pernah berada dalam keadaan sendiri”

Ji yeon mengangguk, dan hyuk jae kembali menyapukan kepalanya pada sudut ruangan. “ayo pulang..”

“t tapi itu—“

“apartemen ini cukup aman, ji. Dia belum akan bertindak dalam waktu dekat. Dan bersikaplah tak tau apa-apa. Kau tak ingin membuatnya curiga, bukan?” ji yeon mencerna akut perintah hyuk jae lalu mengangguk sekaligus mencoba untuk tersenyum. “bagus. Ayo kita pulang”

 

 

__

“dia baik-baik saja, setidaknya untuk saat ini. Dia berada diapartemen siwon”

Kyu hyun berjalan menuju lemari dan meraih salah satu dari banyak gulungan dasi miliknya. Melingkarkannya mengelilingi leher lalu kembali menatap meja nakas dipinggiran ranjang.

“tumben sekali menghubungiku melalui skype, ada masalah dengan ponselmu?”

Kyu hyun dapat melihat lengkungan hitam yang indah dari mata tiffany. Dan itu membuatnya tertulari rasa senang.  Tawa tiffany memang berbeda. Siapapun, akan menyadarinya dengan cepat. Tiffany memiliki sebuah senyuman hangat yang cantik.

“tidak” kyu hyun mendengarnya sembari meraih tas kantor yang ia letakkan dalam lemari lainnya.

“lalu?” pekiknya cukup keras.

“hanya sedang ingin. Kau tau, kan, telepon internasional itu mahal”

Kyu hyun berhenti bergerak. Kepalanya keluar dari balik pintu lemari dengan kedua alis yang berkerut. Tak lama ia membawa sebuah tas dan melemparkannya keatas ranjang.

“tiff, jangan berkelakar seolah kau manusia miskin saat kau bahkan pergi untuk menghadiri gala fashion terbesar dunia” kyu hyun berdiri didepan laptopnya, bertolak pinggang dan menatap layar dengan sok garang. “dan, sejak kapan biaya skype lebih murah daripada telepon internasional, huh?”

Tawa renyah tiffany kembali terdengar. Membuat kyu hyun menggeleng dan segera melangkah, duduk dipinggiran ranjang dan mulai memakai kaus kaki miliknya.

“aku, kan, hanya bercanda. Kau sensitif sekali pagi ini” tutur tiffany lembut.

Kyu hyun ikut tersenyum dan menyelesaikan seluruh tampilannya. “baiklah, kali ini aku maafkan. Aku harus pergi, kau masih akan disana?”

Tiffany bergumam sebentar. “kau mau kemana? Ini sudah terlambat untuk masuk kantor” tanyanya.

“oh, aku harus menemui client siang nanti” lalu kyu hyun duduk tepat didepan layar. “tapi pagi ini aku harus mendatangi pusat kebersihan kota. Kau tau, box sampah disekitar kafe tempat yoona dan kau mampir siang itu kosong. Sedangkan seharusnya box sampah akan kosong diakhir pekan. Spencer tidak menemukan sisa peorselen yang pecah dimanapun. Padahal pemilik kafe bilang mereka sudah membersihkan dan membuangnya”

Tiffany diam, menatap kyu hyun lekat, mencoba mencerna informasi paginya. “mengapa kalian harus mencari sampah?” tanyanya ragu.

Kyu hyun berdehem dan semakin mendekat. “spencer tidak menemukan sidik jari apapun disana. Jadi, jalan terakhir adalah berharap jika porselen itu memiliki petunjuk untuk mengetahui siapa—“

“ahh!! Aku mengerti!” potong tiffany cepat.

Kyu hyun tersenyum melihat respon gadis itu. “kalau begitu aku harus pergi. Dan kau, cepatlah pulang. Setidaknya, temani yoona. Belakangan ini dia takut sekali jika sudah sendiri”

Tiffany mengangguk. “arraseo. Aku usahakan untuk pulang secepatnya. Kau juga tidak mungkin tidak merindukanku”

Seulas senyum kembali tercetak pada wajah kyu hyun. “aku harus pergi” tuturnya lembut. Dan tiffany mengangguk.

“cepatlah pergi”

“aku tutup..”

“tidak! aku ingin melihatmu pergi..”

“arraseo”

Kyu hyun berdiri dan meraih tas kerja yang sebelumnya ia lemparkan pada ranjang. Mengenakan jas coklat tua miliknya dan berlalu pergi.

“aku mencintaimu, kyu!!” tiffany berteriak dari seberang.

“hmm,, selamat pagi tiff!!” balas kyu hyun menjelang pintu tertutup.

 

 

__

Spencer kembali melangkahkan kakinya bertepatan dengan beberapa orang yang baru saja keluar dari kafetaria itu. Kedua matanya menatap datar jalanan kota dengan salah satu tangan yang terselip didalam sakunya dan satu cup latte yang ia pesan.

Spencer kemudian bergerak menuju arah kiri, tangannya yang semua terbenam didalam saku kemudian menekan tombol yang ia sembunyikan dibalik rambut tebal dibelakang telinganya hingga terdengar bunyi desiran gelombang.

“yes spence?”

Spencer melirik kekiri dan kekanan lalu menenggak lattenya sebentar. “mereka tidak menyimpannya. Aku rasa memang benar-benar dibuang”

Pria itu bergumam menggunakan bahasa inggris dengan aksen brithis yang fasih. “so how with the kafe? Did you got something?”

Pria itu mendesah sebentar. “nope” jawabnya dengan nada penyesalan. “dia pintar sekali” sambungnya. Spencer berbelok menuju arah kanan sebelum ujung jalan. Ditengah gedung yang memiliki sebuah lorong kecil, diujung jalan. Disana, satu satunya tempat pembuangan yang patut dicurigai.

“apa kau sudah mengirimkan pemantau mikro yang aku minta?”

“yes, sir”

“bagus” spencer melemparkan cup latte milik dari tangannya “aku tunggu siang ini. Cass!” lalu jemarinya kembali menekan tombol kecil dibelakang telinga. Spencer berhenti tepat beberapa langkah dari sebuah kotak pembuangan berwarna biru tua.

Bibirnya terkatup sempurna. Benar, ini masih hari keempat dalam sepekan. Petugas kebersihan kota tak pernah berkeliling sebelum akhir pekan, sementara pemilik gedung yang kini membatasi kiri dan kanan spencer tidak mungkin tak memiliki sampah untuk dibuang.

Ini konyol.

Spencer mengeluarkan tab kecil miliknya, memperhatikan beberapa kotak sampah yang sudah hampir terisi penuh beberapa blok dari gedung ini. Dengan keadaan yang jauh berbeda dengan apa yang ia temukan.

Ia melangkah maju lalu melirik isi box sampah. Dan tepat seperti dugaannya, box sampah itu kini hampir terisi setengahnya. Dengan kata lain, memang ada yang sengaja membersihkan box hari itu setelah porselen yang spencer cari dibuang.

Spencer memutar matanya menyapu daerah sekitar lorong. Tidak ada jalan lain. Satu-satunya jalan masuk dan keluar hanyalah diujung lorong. Dan itu berarti hanya ada dua kemungkinan. Memang terjadi sebuah komunikasi dengan petugas kebersihan atau sang peneror menyimpan sendiri barang buktinya.

Tubuh spencer menatap cahaya diujung lorong, kamudian ia berjalan menuju sisi box dan memastikan sesuatu. Sebuah botol kecil berukuran dua kali ibu jari orang dewasa itu mengeluarkan debu yang menghilang disisian box. Tak lama cahaya biru muda terpancar melalui celah kecil di sisi pergelangan jam tangan spencer.

Spencer tersenyum kecil.

Dapat!

 

 

__

Yoona bergerak pelan, menyeruput smoothie manggo miliknya lalu kembali melirik nara. Gadis kecil yang diam karena tengah berkonsentrasi pada semangkuk es krim miliknya itu entah mengapa membuat yoona merasa cemas.

“mommy kenapa?”

Yoona terdiam. “engg? Apa sayang?”

Nara menatap yoona lugu lalu menyeka bibirnya dengan punggung tangan. “mommy merindukan edd? Dia, kan, baru saja pergi”

“a apa?”

“salah mommy mengapa tidak memintanya untuk makan siang bersama”

Yoona menghela nafasnya gusar. Bukan itu, im nara. Bukan itu. Yoona berteriak sekencang mungkin didalam hati berharap jika kali ini saja nara bisa bersikap lebih pintar dan bijak. Masalahnya, ia belum membicarakan apapun pada nara tentang..

“apa aku terlambat?”

Yoona tersentak. Tubuhnya segera mendongak dan menemukan kyu hyun tengah berdiri tepat didepan mereka. Yoona dengan cepat melirik nara, menatap aura bingung yang tercipta dari garis wajah anaknya.

“ahjussi?” pekik nara sebentar. “memangnya mommy memiliki janji dengan ahjussi?”

 

 

__

Batin kyu hyun tertohok kuat. Pendengarannya menjadi jauh lebih tajam lalu bilah-bilah pisau runcing itu mengoyak perasaannya.

‘ahjussi?’

Kyu hyun tersenyum tipiss.

‘aku ayahmu, nak’

Bisiknya dalam hati. Kyu hyun ingin berteriak, membiarkan nara tau jika ia adalah sosok yang ada dibalik lahirnya nara. Sosok lelaki brengsek yang baru mengenal gadis semenggemaskan nara ketika ia telah melewatkan hampir lima tahun yang berharga.

Ia ingin nara tau jika ia dan yoona adalah formasi yang sempura untuk membahagiakan kehidupan mereka. Ia ingin nara tau jika mulai saat itu ia bisa memiliki seorang appa. Nara bisa bermain seperti yang lainnya tanpa rasa malu karena kini kyu hyun disana.

Kyu hyun yang akan melindunginya. Kyu hyun yang akan menghajar bocah-bocah kecil nakal yang berani mengolok putri kecilnya. Kyu hyunlah yang akan menjewer telinga lelaki yang membuatnya menangis.

Ya, kyu hyun ingin. Tapi tak bisa.

Namja itu hanya tersenyum manis lalu beralih pandang pada yoona yang kali ini menatapnya dalam perasaan bersalah. Tapi kyu hyun cukup kuat  untuk tau kesalahannya. Karena itu ia mencoba untuk mengangguk, memberikan sinyal pada yoona jika ia akan baik-baik saja.

“ahjussi tidak duduk?”

Kyu hyun melirik nara. Melihat kedua matanya yang besar, bening dan cemerlang. Dan, astaga, kyu hyun lupa jika itu matanya. Ia tersenyum lalu mengacak rambut nara lembut. Hal yang semenjak berminggu-minggu lalu ingin ia lakukan. Menyentuh nara.

“bolehkah?” tanyanya meyakinkan.

Nara mengangguk cepat. “kita sudah saling mengenal” nara tersenyum, dan itu membuat batin kyu hyun semakin diremas kecang. Seharusnya, ia tak pernah berkenalan dengan nara. Karena hanya cerita bodohlah yang memperkenalkan ayah dan anak.

Dan cerita ini, cerita kehidupannya ini, cerita miris dibalik perkenalan menyenangkan antara ia dan nara, adalah salah satu cerita bodoh didunia.

Kyu hyun tersenyum miris.

Konyol. Ayah berkenalan dengan anaknya.

“ahujssi!!”

Kyu hyun tersentak “ya, sayang?” tanyanya. Namun detik berikutnya nara lebih tersentak lagi. Sayang? Mommy bilang hanya orang-orang dekat yang boleh memanggilnya seperti itu. Tapi ahjussi ini bahkan baru beberapa kali bertemu dengannya.

“ah~ mommy bilang—“

“sayang, ini kyu hyun. Cho kyu hyun”

Yoona memotongnya cepat. Mencoba memasuki percakapan mereka yang membuatnya cukup sulit untuk berbicara. Yoona berdiri, memperkenalkan kyu hyun lalu tersenyum pada nara.

“aku tau mommy. Kyu hyun ahjussi pernah menemaniku menunggu edd saat edd membeli es krim dulu. Di.. dimana ahjussi?”

“ah,, di seasige. Taman bermain anak”

Yoona menatap kyu hyun dan nara bergantian. Sulit untuk percaya jika ternyata mereka pernah bertemu dan saling mengenal. Yoona terdiam ditempat. Tak tau harus bersikap seperti apa.

“dan, ra-ya. Jangan panggil ahjussi. Aku belum setua itu” dan suara kyu hyun terdengar sedikit lebih tenang.  Nara tersenyum dan mengangguk dan mereka mulai berbincang ringan. Menghabiskan waktu makan siang ditempat yang berbeda.

Di kedamaian.

 

 

__

“kau yakin tidak mau kesekolah lagi?”

Nara menatap kedua kakinya yang tengah mengayun-ayun ditepian balkon. Kepalanya menunduk dengan suasana hening yang kentara.

“ra-ya?”

Nara mendongak, salah satu tangannya yang memegangi ponsel yang terlihat terlalu besar untuk berada dalam genggamannya itu kini bergerak, memindahkan ponselnya menuju arah berlawanan.

“aku.. aku..”

“ada aku ra-ya!”

Nara menatap polos tiang besi yang memagarinya dari udara bebas diluaran. Pembatas balkon untuk mengantisipasi ia saat terjatuh itu kini terasa dingin. Tapi kulit-kulit nara justru terasa jauh lebih dingin, lebih pucat.

“tapi hyun—“

“kau tidak percaya padaku?”

Nara tersenyum kecil setelahnya. Suara frustasi daehyun memang selalu menghantui malamnya belakangan ini. Nara mulai berpikir jika daehyun mungkin tak bisa hidup tanpanya. Karena baru beberapa hari usai nara tak lagi datang kesekolah, daehyun justru menghubunginya melalui sambungan telepon.

Hampir setiap hari.

“bukan seperti itu” nara mendengus kecil “aku masih takut” gumamnya menyambung.

Nara mendengar dengusan yang sama dari seberang. “itu sama saja kau tidak percaya padaku” ketus daehyun kesal.  “ra-ya, aku berjanji tidak akan meninggalkanmu lagi. Eomma juga setuju. Aku juga bisa mengantarkanmu pulang, aku bisa ra-ya. Jadi datanglah kesekolah besok”

Nara tersenyum menanggapinya. “hyun-ah..”

“errr!”

Nara menebak-nebak apa yang tengah deahyun lakukan. Biasanya, jika sedang menggeram kesal daehyun akan membanting kotak pensil bergambarkan pororo miliknya. Atau bocah laki-laki itu akan mengacak rambut tebalnya yang hitam legam.

Nara terkikik kecil. Ia memang terlalu sering membuat daehyun kesal. Bahkan nara hafal betul ekspresi kesal daehyun karena memang hampir setiap hari daehyun akan memperagakannya tepat didepan nara.

“ra-ya, miss park tidak akan pergi-pergi lagi. Ibu kepala juga sudah memperingati penjaga sekolah. Atau jika kau mau kau bisa membawa pengawalmu sendiri. Kau ingin aku yang mencarikannya? Hng? Ayolah datang lagi..”

Nara tidak bisa menahan tawanya. Untuk beberapa hal menakutkan belakangan ini, suara daehyun adalah salah satu yang bisa membuatnya terhibur. Nara kembali mengalihkan ponselnya pada telinga berbeda lalu menarik nafasnya dalam.

“nanti aku akan datang. Tapi tidak tau kapan”

“ra-ya~” Rengekan daehyun mulai terdengar. “memangnya kau tidak ingin ikut pekan lomba itu? Itu akan menyenangkan”

Kemudian nara terdiam. Benar, pekan lomba. Nara bukannya sudah berjanji akan datang? Miss park juga berkata jika nara harus datang. Meskipun hanya bersama mommy, miss park mengijinkannya.

“emm.. aku tidak tau hyun”

Perlombaan itu memerlukan appa.

“aku akan datang jika aku bisa. Hyun-ah, sebaiknya kau tidur. Aku juga. Selamat malam”

Dan nara menutup sambungan telepon tanpa menunggu jawaban daehyun. Nara terdiam. Meletakkan ponsel disamping lantai tempat ia duduk lalu memegangi tiang pembatas untuk menatap lekat-lekat lampu kota yang berkilauan.

“appaga..” ujarnya serak.

 

 

Nara menatap yoona lekat-lekat. Kedua matanya yang hitam legam dan besar memancarkan ribuan tanda tanya. “appa?!” ulang nara ragu.

Sebuah senyuman tipis menghiasi sudut bibir yoona. Ia mengangguk sembari membelai rambut nara yang lembut. “ne, appaga” jawab yoona rendah.

“jeongmal? Appaga?”

Yoona kembali mengangguk. Membuat nara perlahan mengembangkan sebuah senyuman dan berdiri tepat diatas kursi makannya. “marhaebwa mommy! Marhaebwa!”

Nara mengulurkan tangannya dan meloncat kecil. Bibirnya tersenyum dan ia senang. Appa? Mommy bilang ia akan bertemu appa. Dan nara bisa ikut lomba tanpa membawa mommy saja. Nara akan punya appa. Nara akan bisa berkumpul dan membicarakan keluarga pada teman-temannya. Nara akan punya gambar seperti daehyun. Ia, mommy, appa dan edd.

“marhaebwa, mommy!!” pekik nara semakin bersemangat.

Yoona tersenyum tipis. Tak menyangka jika selama ini janjinya untuk mempertemukan nara pada kyu hyun benar-benar ditunggu oleh gadis kecil itu. Dulu, ketika nara bertanya dimana appanya, ia memang hanya akan berjanji satu hal. Dan kini, yoona hampir merealisasikan janjinya pada nara.

“ra-ya—“

“mommy aku ingin bertemu appa. Eodigaeyo?”

Rambut nara teracak begitu saja saat telapak tangan yoona sudah terlalu gatal karena sikap menggemaskannya. Kini, yoona mulai berpikir bagaimana ia harus menjelaskannya pada nara. Bagaimana ia harus membuat nara paham tentang kyu hyun dan status mereka.

Bagaimana nara bisa menerima kyu hyun sebagai sosok appa yang menghilang dari pandangannya selama hampir lima tahunan ini. Nara terus meloncat girang dan yoona menahannya agar bisa bersikap lebih sabar.

“ra-ya..” yoona menatap gadis kecil itu lekat-lekat. Kedua manik mata mereka bertemu dan bola mata nara membesar. Menunjukkan aura ketidak sabaran yang kentara dalam binar beningnya.

“berjanjilah jika nara bertemu appa, nara akan bersikap sopan”

Nara mengangguk. “aku bisa! Aku tidak pernah bertemu appa tapi aku bisa melakukannya, mommy!” jawab nara semakin bersemangat.

Yoona tersenyum. “kau akan terkejut jika tau siapa appa” lalu tatapan nara sedikit menyiratkan kebingungan dan tanda tanya yang besar.

“appaga.. nugunde?”

“appaga…”

 

“kyu hyun-nim?” kedua mata nara mengerjap. “kyu hyun-nim,, appaga?” Kedua mata nara menjadi sayu, keningnya menabrak tiang pembatas untuk bersandar lalu nafas beratnya keluar tanpa pernah ia sadari.

 

 

__

Kyu hyun menyesap kopi paginya dengan khidmat. Entah bagaimana, pagi ini, hanya untuk pagi ini, ia ingin sekali menyesap pahitnya kopi.

Semalam..

Makan siang bersama nara dan yoona..

Benar-benar terasa hampir menyedot seluruh tenaganya.

Bukannya ia tidak senang. Kyu hyun justru kepalang senang hingga tak mengerti lagi harus bersikap seperti apa. Untuk pertama kalinya, berkumpul bersama nara dan yoona. Bukankah itu sungguh luar biasa?

Kyu hyun berdehem dan memegangi dadanya sekilas. Dan debaran itu, bahkan masih tersisa usai berjam-jam setelahnya.

Bagaimana ia benar-benar merasa luar biasa usai menatap langsung nara yang kala itu begitu dekat. Melihat senyum gadis kecil itu dengan mata yang berbinar serta menyentuhnya. Sialan! Menyentuhnya!! Hal yang selalu menjadi mimpi terpendam kyu hyun sejauh ini.

Nara bisa mengingatnya dengan cepat. Dan makan siang semalam berlalu tanpa rasa canggung. Luar biasa sempurna untuk kyu hyun yang bahkan perlu hitungan jam hanya untuk menyiapkan diri.

Tapi kemudian kedua matanya meredup. Kyu hyun menyesap kembali americano pekat pahit yang ia ciptakan sendiri. Membiarkan kerongkongannya menghangat dan merasakan pahit itu bersamaan.

Kini, nara bisa mengenalnya sebagai appa. Tapi, seperti yang sebelumnya selalu ia pikirkan. Gadis itu, tak semudah membalikkan telapak tangan untuk menerimanya. Tatapan kosong nara lalu perubahan sikapnya yang menjadi pendiam membuat kyu hyun gusar.

Apakah,, nara tidak bisa menerimanya?

“apa yang kau dapatkan?”

Kyu hyun terperanjat lalu segera berbalik dengan mata menyipit. “sialan! Bisakah kau tak perlu membuat kerja jantungku menjadi berat?”

“aku? Memangnya aku melakukan apa?” Spencer duduk dipinggiran sofa, tepat disamping kyu hyun lalu merapatkan tangannya pada dada untuk menghangatkan diri.

“ada apa?”

Spencer melirik kyu hyun sekilas lalu tersenyum tipis. “kenapa? Pertemuan kalian tidak berjalan lancar?”

Gerakan kepala kyu hyun hampir mengalahkan bunyi angin. Namja dengan wajah super tertekuk itu kini menatap spencer bingung. Mengapa spencer selalu bisa membaca isi kepalanya? Padahal, kyu hyun sudah berusaha untuk bersikap normal. Ya, setidaknya seperti itu yang ia rasakan. Atau ia gagal dalam ber-akting? Atau spencer yang memang terlalu lihai?

“bagaimana dengan penyelidikanmu?”

“gadis kecil itu sudah tau siapa kau?”

“apa yang kau dapatkan?”

Spencer menghela nafasnya sekali. Bukannya berkomunikasi secara benar, mereka justru hanya melontarkan pertanyaan dan kembali dijawab dengan pertanyaan baru. Spencer tau, kyu hyun tentu tengah berada dalam kondisi yang buruk. Karena jika memang ia baik-baik saja, maka seharusnya kyu hyun tak perlu bersikap aneh pagi ini.

Spencer melirik americano yang sudah hampir tandas dalam secangkir kecil mug pada genggaman kyu hyun. Lalu tersenyum miris. Memangnya semenjak kapan kyu hyun menyukai kopi dipagi hari?

Spencer bersidekap dan menutup matanya perlahan. “aku bingung harus menjawab pertanyaanmu dari mana. Tapi jika kau mau mendengarkanku, sebelum kau bertanya apa yang aku dapatkan, maka akan lebih baik jika kau mau berdamai dengan hatimu” spencer membuka mata, melirik kyu hyun yang masih diam.

“karena jika isi kepalamu selalu penuh dengan masalah, maka hasil pencarian yang aku usahakan dengan baik ini tak akan memiliki tempat untuk kau cerna dalam otakmu”

Keduanya kemudian terdiam. Spencer memilih untuk beranjak terlebih dahulu. Menjauhi balkon tempat mereka semula duduk bersama. Bagi spencer, jika memang kyu hyun butuh waktu untuk sendiri, maka kesempatan seperti itu akan ia berikan.

Karena mereka manusia dewasa. Mereka sudah melalui masa-masa silam yang terlalu emosional. Kini, saatnya masing-masing memiliki tanggung jawab untuk bertindak. Dan spencer percaya jika kyu hyun akan menggunakan kesempatan itu dengan bijak.

“spence..”

Suara kyu hyun terdengar tepat sebelum spencer menyentuh pintu baklon. Membuat lelaki itu berhenti dan menatapnya tanpa ekspresi. “hmm?” tanya spencer pendek.

“katakan padaku, apa aku terlalu jahat?”

Spencer memiringkan kepalanya sebentar lalu berputar menatap kyu hyun dan menyandarkan salah satu bahunya pada dinding sebelum menghela nafasnya berat. Masalah ini belum selesai rupanya. Kyu hyun masih terus dihantui rasa bersalah. Sialan. “tergantung”

Kini, tatapan mereka bertemu dalam satu garis lurus. “tergantung kau menilai dirimu dari konteks yang mana. Jika kau bertanya apa kau terlalu jahat karena meninggalkan yoona dan nyawa dalam perutnya dulu, ya, kau memang jahat”

Kyu hyun tertunduk. Benar, ia memang terlalu jahat.

“tapi, itu pendapatku. Aku atau siapapun tak pernah tau alasan dibalik jalannya cerita masalalumu. Dan,, cho kyu hyun..” spencer menatapnya dengan wajah jauh lebih serius “itu sudah berlalu lama. Jika kesalahanmu memang sebesar itu, maka satu-satunya hal yang harus kau lakukan kini adalah memperbaikinya secara perlahan. Ayolah, jangan terjebak dalam masa lalu. Kau bukannya terlalu bodoh untuk melakukan itu”

Lalu kyu hyun tertegun sejenak.

“kau bisa. Jika gadis kecil itu memang memerlukan waktu untuk menerimamu, maka berikan ia waktu. Seperti kau yang rela menunggu demi yoona, maka bersikaplah sama untuknya. Dia masih kecil. Bahkan belum mencapai seperempat usiamu. Dia tentu butuh waktu saat tau jika lelaki yang harus ia panggil ayah itu adalah kau, sosok yang selama ini selalu dijauhi mommy-nya. Berfikirlah rasional kyu, dia pasti membutuhkanmu. Tapi tentu, bukan sekarang waktunya”

Spencer menghela nafasnya gusar. Ia bukannya tidak tau masalah kyu hyun. Karena satu-satunya alasan paling logis dari mendungnya wajah cho kyu hyun tentulah masalah ia dan yoona, dan putri kecil mereka.

Paling banter, gadis itu akan terkejut ketika harus menerima kenyataan jika kyu hyun adalah ayahnya. Tapi itu bukan masalah besar, menurut spencer. Karena reaksi setiap orang memang akan seperti itu saat menemukan sosok yang bertahun tahun tak pernah ia kenal namun ternyata memiliki hubungan erat dengan mereka.

Apalagi, gadis itu masih terlalu kecil. Ia pasti akan berpikir mengapa harus kyu hyun yang menjadi ayahnya. Dan hal-hal semacam itu spencer rasa tak perlu dikhawatirkan karena pada akhirnya, semua akan berjalan dengan semestinya.

“pikirkanlah baik-baik. kita bicarakan masalah lainnya siang ini”

Kyu hyun tertegun saat spencer hampir beranjak. Benar, ia tak seharusnya sekalut ini. Nara memang memerlukan waktu untuknya. Untuk menerimanya. Bukankah itu wajar? Lalu mengapa ia harus terlalu takut?

Atau kyu hyun terlalu gusar? Takut jika tiba-tiba nara kembali menghilang? Tak berada disekitarnya sebagai akibat dari semua kejadian ini?

Kyu hyun mendengus. Sialan. Hidupnya tak pernah serumit ini sebelum ada nara. Dan entah mengapa, kini kyu hyun merasa hidupnya jauh lebih menyenangkan hanya karena memikirkan nara. Ia belum pernah segusar ini hanya karena bocah kecil yang berumur kurang dari lima tahun. Wow.

“spence..” spencer kembali berhenti tepat didepan pintu  balkon “mereka bilang mereka tidak mengutus petugas manapun untuk membersihkan box hari itu. Tidak ada mobil kebersihan yang beroperasi dan tidak ada operan sampah hari itu”

Spencer menoleh, mendapati wajah kyu hyun yang lebih tenang. Bibirnya tertarik tipis menyadari jika kini keadaan kyu hyun sudah lebih baik. “lalu?”

“lalu aku berkesimpulan untuk menanyai beberapa toko disekitar kafe. Dan mereka juga tidak menemukan mobil sampah berkeliaran sepanjang hari itu”

Spencer berbalik, kembali duduk disamping kyu hyun lalu menatapnya sekilas. “hubungi choi siwon, aku menemukan sidik jari yang sudah aku kirimkan pada pengendali pusat. Kita harus memasang pemantau mikro disana. Aku juga menemukan sosok yang berkeliaran disekitar apartemennya malam itu”

Spencer masuk dengan cepat, membiarkan kyu hyun menghubungi sosok yang sebelum ini tak pernah terfikirkan olehnya jika mereka akan sedekat ini. Ponsel itu berdering beberapa kali lalu tepat saat spencer keluar, dering ponsel berhenti.

“yeobseo?”

“ne, yeobseo choi siwon-ssi”

Kyu hyun mendengar siwon berdehem sekali. “ne, ada apa kyu hyun-ssi?”

Dering ponsel berdesis beberapa kali. Membuat kyu hyun menyipitkan mata lantaran tak mengerti beberapa perkataan dari seberang.

“begini,, aku—“ ponsel kembali berdesis. Suara siwon beberapa kali tertangkap lalu kembali terputus.

“waegeurae?” Spencer mendekat, menatap kyu hyun ragu.

“entahlah, bekalangan ini selalu sulit untuk menghubungi beberapa orang. Kurasa—“

Kyu hyun berhenti berbicara. Telapak tangan spencer membekapnya erat-erat. Lalu ponsel itu berganti telinga. Spencer mendengarkannya baik-baik. tanpa berbicara. Kedua pendengarannya sengaja ia pertajam ketika desis kecil itu kembali terdengar.

BIP

Flip ponsel tertutup.

“sialan. Ponselmu berkemungkinan disadap!”

 

 

__

“ra-ya! Ayo sarapan..”

Yoona berjalan menuju pintu kamar nara, berharap jika gadis itu mau keluar tanpa perlu gedoran pintu. Yoona sedang tak ingin membuat keributan. Lagipula, belakangan ini nara memang terlihat sedikit lemas.

Entah spekulasi yoona yang salah atau nara memang terlalu terbebani karena perkataannya semalam? Tapi, yoona fikir nara benar-benar ingin tau siapa appanya. Jadi..

“ra-ya, mommy—“

Pintu kamar terbuka. Lalu nara berjalan tanpa menatap yoona dengan kedua mata yang sayu. Persis seperti yoona jika tengah kekurangan waktu tidur. Tapi kali ini yoona tak bisa berteriak. Karena kondisi nara juga bukannya tengah baik-baik saja. Jadi, yoona putuskan untuk diam dan membiarkannya selama beberapa waktu.

Yoona berjalan mengikuti nara, tak lama kedua matanya menyipit. Menatap siwon yang berjalan tersungut-sungut.

“ada apa dengannya?” Kedua mata siwon membesar penuh rasa ingin tau.

“entahlah. Dia seperti itu semenjak semalam”

Siwon mengerjap beberapa kali lalu perlahan mulai mengerti arah pembicaraan yoona. Bibirnya tersenyum menenangkan lalu mendekat, “mungkin dia masih terlalu terkejut” bisiknya.

Yoona melenguh dan mengangguk sekali. “aku pikir juga begitu. Tapi dia—“

TING TONG

Mereka menatap pintu apartemen bersamaan. Dan ketika yoona mulai berjalan menuju pintu bersama siwon, kedua mata mereka terkejut kaget. Disana, ada kyu hyun, spencer dan ji yeon. Dengan satu box yang yoona tak tau berisikan apa serta wajah cemas ji yeon yang kentara.

 

 

__

“aku tidak tau sejak kapan ini terjadi. Ponselnya dan ponsel kalian yang lainnya berkemungkinan juga disadap. Jadi, hanya untuk beberapa saat jangan gunakan hubungan apapun melalui telepon”

“t tapi,, bagaimana bisa?”

Spencer menatap mereka semua lekat-lekat “aku juga tidak tau. Aku harus harus memasang pemantau mikro dibeberapa tempat. Malam itu, aku dan ji yeon menemukannya berada disekitar apartemen”

Yoona membesarkan bola matanya tak percaya. Tubuhnya bergetar halus lalu semakin mendekat pada siwon.

Sementara spencer terlihat tengah bekerja dibeberapa tempat serta onggokan ponsel mereka yang kini tergeletak diatas meja semakin membuat rasa paranoid yoona kembali timbul. Kepala yoona tenggelam dalam dekapan siwon, sementara ji yeon terlihat mulai membantu spencer.

“siwon-ah..”

Siwon mendesah gusar. Sialan! Ji won belum menghubunginya hingga saat ini, membuat siwon tak bisa berspekulasi jika adiknya lah yang melakukan semua ini. Tapi kekacauan ini membuatnya terpojok dan satu satunya kesimpulan rasional memang jiwon lah yang melakukan ini.

Ia mengusap punggung yoona pelan. Yoona akan selalu menyangkal saat siwon sudah berpendapat jika jiwon lah yang ada dibalik semua ini. Tapi perlahan batin siwon juga tidak bisa terus dipaksa untuk percaya.

Ia yakin, yoona hanya berusaha untuk membuat hubungannya bersama keluarga besar choi tidak hancur. Atau sebatas menghargai siwon karena dalang peneroran ini adalah adiknya? Entahlah. Siwon tak benar-benar tau. Yang jelas yoona memang semakin tertutup semenjak beberapa minggu belakangan.

Kyu hyun mendesah berat saat alat pendetektor itu berbunyi. Ia ada disana, dan baru menyadari jika selama ini seluruh tujuan dan percakapannya selalu didengar entah oleh siapa diujung sana.

Tiba-tiba ia merasa kesal karena telah dibuntuti sangat dalam, menembus privasi terselubung miliknya, dan ia baru mengetahui hal semacam itu beberapa saat yang lalu. Saat spencer, orang yang baru saja sampai sekitar satu minggu dan memiliki kepekaan lebih besar terhadap dunia mata-mata.

Kyu hyun memutar bola matanya jengah. Sekarang, hanya untuk saat ini saja, ia ingin sekali memeluk yoona dan nara. Entah mengapa, kyu hyun merasa begitu lelah. Atau perasaannya yang semakin lelah? Memperhatikan yoona tengah berada dalam pelukan siwon tak lagi membuat perasaan kyu hyun kacau balau. Entah karena ia sudah tak lagi perduli atau semua teror ini menghilangkan perasaannya hanya untuk sementara.

Pada akhirnya ia berdiri, meninggalkan meja tamu dan mulai berjalan menuju balkon apartemen. Dan, sekali lagi, ia tak pernah benar-benar tau semenjak kapan ia dan siwon bisa saling leluasa seperti ini.

Terkadang, kyu hyun berkesimpulan jika mereka hanyalah dua manusia dewasa yang tengah mencoba melindungi seorang wanita, dan gadis kecilnya. Tapi terkadang lagi ia merasa jika mereka adalah partner. Kyu hyun dan siwon,, sesuatu yang aneh terjadi. Kyu hyun tak lagi menyimpan dendam itu dalam setiap hembusan nama choi siwon.

Kaki jenjang kyu hyun perlahan melangkah, menembus marmer mengkilat milik siwon ditengah sunyinya pagi. Lalu, detik usai ia membuka pintu kaca dengan perlahan, debaran jantung kyu hyun tiba-tiba menjadi ribuan kali lebih dasyat.

Kedua bola matanya sedikit membesar tak percaya. Sementara kyu hyun terlihat kaku, dua bola hazel itu kini mengerjap. Bola mata kecil dengan aksen bening yang menggemaskan.  Menatap kyu hyun polos dan lugu.

“kyu hyun-nim?”

 

 

__

Kyu hyun ikut duduk dengan kedua kaki yang menjuntai bebas. Membiarkan dirinya terbiasa dengan apapun kegiatan yang nara lakukan. Terkadang, sebuah senyuman tipis tercetak jelas dari bibirnya meski nara terlalu sering mengabaikan keberadaannya yang sudah semenjak lima belas menit lalu menemani gadis itu.

“kyu hyun-nim..”

Kyu hyun terperanjat, lalu berbalik menatap nara cepat. Seperti tak ingin kehilangan kesempatan untuk dipanggil bocah itu meski hanya sepersekian detik saja. “ya?” jawabnya cepat.

Lalu didetik berikutnya ia mengumpat. Jika tidak sadarkan diri, mungkin ia akan membenturkan telapak tangannya pada kening. Tapi urung, kyu hyun tak ingin terlihat seperti bocah kecil didepan anaknya sendiri.

Jadi, sekali lagi ia mengerjap. Lalu berdehem dan mendekat. “maksudku,, em,, ya, ra-ya?” tanyanya lebih lembut.

Nara tak berpaling. Benar-benar tidak berpaling. Kedua bola matanya hanya terus menatap jalanan kota yang perlahan mulai terlihat sepi. Ahh, kyu hyun bahkan lupa jika ia harus bekerja beberapa hari ini. Tak apa, menjadi pemimpin tak selamanya harus tepat waktu.

Dengan pola degup jantung yang bertalu keras, ia terus memperhatikan nara. Mengantisipasi kemungkinan nara akan berbicara namun ia tak bisa mendengarkan. Jadi, dalam detik panjang, kyu hyun terus berada dalam posisi seperti itu.

“kau sudah sarapan?” putus kyu hyun memulai percakapan.

Nara menggeleng pelan. Sekali lagi, tanpa menoleh. Membuat kyu hyun harus berpikir keras untuk merebut perhatian gadis itu.

“kalau begitu mengapa tidak sarapan? Kau bisa sakit.” Ditatapnya nara sebentar “aku akan bawakan makanan. Apa kau lapar?”

Dan tak ada jawaban sedikitpun. Perlahan, kyu hyun merasa jika nara butuh waktu untuk sendiri. Hening. Dan bebas. Ia memalingkan wajah, menatap lurus awan yang berbuku putih dan berjalan pelan, sama seperti yang tengah nara lihat.

Lalu kyu hyun melenguh. Haruskah ia seperti ini? Berdiam diri dalam kecanggungan bersama anaknya sendiri? Kyu hyun meletakkan tangannya pada tiang pembatas lalu menjadikannya bantal. Ia menunduk, memejamkan kedua matanya sebentar.

“kau boleh bertanya padaku.  Apapun itu” ujar kyu hyun mengalah.

Dan setelah itu, kedua mata nara beralih pandang, menatap kyu hyun yang terlihat frustasi lekat-lekat. “benarkah?” tanya nara pelan. Sekedar memastikan. Dan kyu hyun mengangguk. Merasa meski kali ini ia mendapat perhatian nara, posisinya tetap saja masih diujung jurang.

“kyu hyun-nim,, benar-benar appa?”

Jantung kyu hyun seperti diremas, ditekan kuat lalu dicampakkan jauh jauh. Ia sulit bernafas meski dengan sekuat tenaga ia menoleh, tersenyum manis dan berkata, “ne, apa kau.. percaya?”

Nara mengerjap. Memundurkan diri lalu menatap bola mata kyu hyun dalam hening. Tak lama, ia menggeleng. Seperti tengah mengenyahkan sebuah pemikiran dalam kepalanya. “kenapa mata kita sama?” nara memastikan. Karena menurutnya, matanya dan kyu hyun memang terlampau mirip.

“karena kau anakku, dan aku, nae, kyu hyun-nim mu ini adalah appa”

Dan desiran itu mengalir keseluruh tubuh kyu hyun detik setelah ia bergumam. ‘karena kau anakku’. Kalimat itu kemudian terngiang jelas  dalam kepalanya. ‘dan aku, nae, kyu hyun-nim mu ini adalah appa’.

Tidak salah lagi. Kyu hyun hanya perlu itu untuk bahagia. Ia perlu semua ini. Ia, nara dan suasana hening diantara mereka.

Tapi kemudian kyu hyun terdiam. Nara tak bereaksi banyak. Tak seperti saat mereka berada dalam restoran dan ia terlihat begitu antusias untuk melihat sosok appannya. Kini, nara justru mengerjap bingung.

“tapi, kyu hyun-nim.. miss park bilang appa itu orang yang selalu bersama mommy. Selalu ada semenjak aku kecil. Kyu hyun-nim,, eodigaeyo?”

Dan kyu hyun terperanjat hebat. Eodigaeyo? Ya, kyu hyun dimana? Dimana ia saat nara terlahir? Saat nara bisa mengenal dunia dan ketika ia membutuhkan kasih sayangnya? Dimana dia?

Kini kyu hyun sadar seberapa besar kesalahannya pada mereka. Pada nara, pada yoona dan pada tiffany. Ia dalang semua ini. Ia penyebab nara bahkan tak mengenal sosok appa diusianya yang hampir menginjak lima tahun.

Dan semua kenyataan itu membuatnya sesak. Membuatnya merasa jika ia adalah manusia paling tak berperasaan yang pernah ada. Membuatnya merasa jika berada disekitar mereka bukanlah tempat yang tepat.

“saat itu..” kyu hyun terdiam. Saat itu? Ia bahkan lupa apa yang ia lakukan menjelang yoona pergi. “emm,, aku dan mommy sedang dalam sebuah masalah. Kami—“

“kyu hyun-nim benar-benar tidak ada saat itu?”

Kyu hyun menghela nafasnya frustasi. Meskipun bukan kapasitasnya untuk menyalahkan seseorang yang disebut nara sebagai miss park karena masalah ini memang timbul karena keegoisannya, kyu hyun tetap saja merasa sedikit kesal. Terlebih pada bagian ‘selalu bersama mommy’. Itu seperti memperkuat kenyataan dalam benak nara jika kyu hyun memng bukanlah appanya.

Akhirnya kyu hyun bergerak, menaikkan kaki panjangnya lalu berjongkok didepan nara. Untuk beberapa alasan yang cukup kuat, ia meletakkan tangannya pada buku lengan nara dan menggendong gadis kecil itu untuk berdiri tepat didepannya.

Kedua bola mata kyu hyun kemudian terperangkap. Ia tau betul perasaan semacam ini. Perasaan bergemuruh ketika ia tau jika seluruh tubuh nara adalah miliknya juga. Kedua paru-paru kyu hyun kini terasa gembung. Sulit sekali baginya untuk bernafas.

“ra-ya..”

Kyu hyun bergumam sekali. Kedua mata mereka bertemu tanpa jeda. Seperti nara yang ingin mendengarkan apa yang akan kyu hyun katakan, seperti itu pula kyu hyun yang ingin nara mengerti jika ia tetaplah appa meski tak bersama mommy selalu.

“kyu hyun-nim..” kyu hyun berhenti, menelan ludahnya sekali “ani, maksudku.. appa ga.. and mommy have another problem that you cant to understand. Appa and mommy always together, but not at the same place. I mean,, begini sayang, appa dan mommy memiliki alasan lain untuk melakukannya. Tapi, bukan berarti karena appa tidak bersama mommy, semuanya menjadi berbeda. Mungkin miss park sedikit keliru, dan appa juga keliru. Kami semua salah, dan, maaf karena ini melibatkanmu.”

Nara mengerjap lugu. “tapi,, kyu hyun-nim tidak pernah melindungi mommy. Miss park bilang—“

“ra-ya..”

Kini, tatapan kyu hyun memudar. Kedua bola matanya berembun dan kyu hyun tak sadar jika ia sebentar lagi mungkin akan menangis. Tapi kyu hyun tak perduli. Ia butuh air mata untuk menenangkan dirinya. Ia perlu hal semacam itu untuk menumpahkan emosinya. Karena selain itu, kyu hyun tak yakin jika ia harus berteriak didepan nara bahwa ia memang benar-benar appanya.

“percayalah ra-ya,, nan neol appaga…”

Lalu kedua lutut kyu hyun bergerak maju. Perlahan melangkah lalu dalam sekali detik melingkupi nara dengan pelukan hangatnya. Kyu hyun memeluk nara erat-erat. Meletakkan kepalanya tepat dibahu gadis kecil itu. Merasa seperti ketika ia butuh yoona, ia juga butuh nara sebanyak itu.

Kedua bola mata kyu hyun memanas. Kristal itu terjatuh tanpa ia sadar. Tak banyak, namun esensinya begitu melegakan. Kyu hyun merasa tak perlu memiliki apapun jika sudah bersama nara. Dan kenyataan semacam itu membuatnya ribuan kali lebih bahagia. Ribuan kali lebih muda dan ribuan kali lebih berharga.

 

-TBC-

 

Whoaaa.. panjaangg>< aku udah coba buat bikin kyuna dan kyunara moment. Agak susah sih, jadi aku gak tau gimana feel kalian sama adegan ini-__-  bongkar-bongkaran terornya part terakhir aja ya. Lebih panjang dari yang ini. Tapi gatau deh entah memuaskan atau engga-__- aku udah usaha kok._.v

Oke, ini part terakhir menjelang end. Dan seperti yang sebelumnya udah jadi perbincangan, bakal aku protect. Peraturannya mudah kok. Selamat buat yang udah pada koment.

Pertama, aku gak terima alasan new readers buat yang sekali komen.

–          Ini twitter (dianyanput),

–          ini email (dianputri251110@yahoo.com),

–          ini pin (7d43f48a),

–          ini facebook (dian poetri elisa) *tapi aku jarang buka facebook loh-_-*

Kalian bisa hubungi aku dengan format : ID koment

Kedua, semua author dan admin IYAF aku bebaskan dari pw *kalau mau baca sih*. Tinggal minta, aku ga akan nuntut koment J

Ketiga, karena satu part lagi udah mau end, jadi, aku Cuma mau bilang kalau akan ada satu epilog usai end. Jadi, kalau masih pada ga ngerti, tungguin epilognya aja ya.

Terus, ayo main!^^

Aku mau tau dong kalian nebak siapa dibalik aksi peneroran ini? Kalau ada sekitar 75% jawabannya bener, tepat satu minggu abis ini aku bakal post part terakhir. See ya di memorable 13^^

 

With love,Park jiyeon.

 

310 thoughts on “Memorable 12

  1. yg neror keluarga siwon kn atau jngan2 tif lg hehe akhrnya nara tau siapa ayahnya hyukjae rmnts bgt ya n keren….q bngng akhrny nanti kyu ma ciapa….

  2. Ini bener-bener menarik ..
    Ceritanya susah ditebak ..
    Menurutku yang neror itu jiwon tapi aku curiga sama tiff ..
    Nggak sabar buat baca endingnya ..

  3. akhirnya nara tau siapa ayahnya. menurutku sih yg neror jiwon, tapi agak curiga ma tiff karena pas bgt nelp kyu pake skype. penasaran bgt ma ending n akhirnya yoona sama sapa. salut ma ni ff.

  4. Yg neror yoona keluarga siwon kan ? Kalo bukan jiwon pasti ommanya. Endingnya nanti kyuhyun sama yoona atau tif ya ? Penasaran😀

  5. Kira” part ending nya nara mau nerima kyupa jd appa nya gx ya…
    seperti nya yg neror yoona itu klrga nya siwon

  6. akhirnya nara sudah tau ayah kandungnya, penasaran dengan sikap selanjutnya nara ke kyuhyun ini. apakah nara pengen yoona dan kyuhyun bersatu? kalo iya, hatinya kyuhyun kan juga ada utk tiffany. tekanan batin banget ini haha.

  7. aaaa udah mau end ya…
    tp knp blum ada tanda” nara bisa nerima kyuhyun😦
    dan ini endingnya bakal ma siapa kyuna kah atau yoonwon!!?
    sumpah penasaran gw…

  8. ahh udah mau end tolong jangan pisahin yoonwon soalnya aku suka bngt sama yoonwon
    penerornya itu kayanya adik sama ibunya siwonkan
    lanjut thor….
    pwnya atuh

  9. sepertinnya belum ada tanda2 penerror akan ketahuan. tapi aku kok curiga sama tiffany ya. meski ji won jg kandidat mencurigakan sih.

    dan sepertinya emang gak akan ada pasangan kyuna di cerita ini. dilihat betapa yoona dan siwon yang begitu sudah saling tergantung satu sama lain. kyuhyun sabar ya setidaknya km sudah berbaikan dengan yoona.
    dan aku bisa rasa in beapa frustasinya kyuhyun pas ngejawab pertanyaan nara. dia mau terus terang menceritakan semuanya tapi nara masih kecil dan dia jg harus menjaga imeg didepan anaknya. fighting kyuhyun!!!!!

  10. Scene antara nara dan kyuhyuh sangat mengharukan. Perkataan nara benar2 memukulbtelak kyuhyun.
    Gak tau kenapa aq kok curiga sama tyffani yaa … hehe . Reader sok tau !
    Soalnya pas insiden tiff mau ditabrak dia terkesan santai bgt, malah sibuk mikir nail artnya. Kayaknya dia sengaja jatohin tasnya buat ngulur waktu.
    Penasaran endi.ngnya. kira2 bakal sama siapa? Jangan sampai kyuhyun. Andwe !

  11. Ahh … satu lagi nihh kecurigaanku sama tyffani. Dia telp kyuppa pake skype bkn pake panggilan international. Pasti dia gak di paris kan ? Dia juga gak mau diantar yoona ke bandara.
    Aigoo … ketularan jiwa detektifnya spencer.
    *maaf ya komen part 2 ini ceritanya. Lg semangat soalnya…😀

  12. I must say.. Kali ini aku ada rasa kasian sedikit sm Kyuhyun.. Kasian juga Nara mash ga bisa terima se[pnhnya kalau Kyu bapak kandungny😦
    Sejujurnya, aku curiga bgt sm Tiffany yang ada di blk kejadian ini.. Tapi kenpa Tiffany melakukan ini? Aku mash ga bisa nebak motifny-_-
    Tp aku harap kalaupun ujung2nya ternyata keluarga Siwon yang melakukan semua ini, aku harap Siwon ga tinggalin Yoona, n Yoona jg ga tinggalin Siwon.
    Aku bnr2 ga tga kalau Yoona, Siwon,n nara dipisahkan di ff ini.. Author udh create their moment too beautiful soalnya😦
    I hope it has a beautiful ending ….

    Continue to next chap
    Thanks n GBU

  13. Aku sih mikirnya kalo keluarga siwon yg neror…
    Tpi tdi pas sempet bca komenan readers yg lain aku juga jadi bingung dan penasaran apakah tiffany yg neror??
    Krna kan tiffany gk pernah ad disaat kejadian yg menimpa…
    Trus jga yg masang sadap di hp mereka pasti orgnya deket dong…
    Eh makin penasaran aja
    Dan pas ending aku harap yoonwon bersatu…
    Aku tunggu eon pw nya..

  14. huaaa aku terharu bgt baca part nya Kyu & Nara ;(
    ff nya udah mau end ya…. aku harap Happy Ending dan KyuNa bisa bersatu .
    #KyuNa_Jjang!!!

  15. saya suka dgn saya bahasa, tulisan Dan penempatan tiap kata.. alur Dan cerita nya juga, nggak terlalu ingin komen untuk ceritnya, only hope, unnie with oppa-won for ending. thanks for this story

    ^_^

  16. Hai thor q reades baru. Sorry y gk coment d epispde sebelumnya. Tp kesimpulannya ceritanya bgs bgt kok tjor bkn penasaran. Tp yg pgn q tnyain nnti endingnya kyuna apa yoonwon? Jd spya q gk penadaran q mau mnt pw blh gk thor, tunggu pwnya y. Emailq bntr lg q kirim kok thor.. Mlsh byk

  17. Tebakannya udah aku jawab d part sebelumnya thor 😁😁
    Tau deh bener apa enggak..
    Hmmm… Ngga bisa ngebayangin kalo jadi kyu. Liat nara yg lengket abis sama siwon. Tapi kalo liat dr karakternya s part2 sebelum ini, nara pasti bisa ngerti dan nerima kyu nantinya. Dan masih belom berani nebak endingnya yoona bakal sama siapaa..

  18. Akhirnya nara tahu siapa ayah kandung nya 😊😊.. Deg2’an di episode ini banyak yg nggak terduga thor.
    Hehehhe semangat thor.

    Keep writing wookkaayyyyyyy 😚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s