Magic Stick

tumblr_lw4y1qemwf1qctfhvo1_500

Magic Stick

HyukGumsmile

Lee Dong Hae Im Yoona

Romance, Family

PG-17

Ini cerita tentang donhae dan yoona, bersama bocah kecil yang sangat ingin tau, dongha.

 

Derit kecil yang hampir menyaingi suara angin terdengar perlahan menjauh. Kaki kecilnya terlihat berjinjit ketika ia mulai berjalan cepat menuju suatu titik yang bisa ia gunakan sebagai tempat persembunyian.

“42..43..44..”

Sial! Ia kehabisan waktu hanya untuk mencari tempat persembunyian. Dengan cepat kaki kecilnya menuntunnya untuk meringsek masuk diantara celah kecil yang terjepit diantara bilah anak tangga dan lemari besar disana.

Bibirnya mengulum senyuman lucu. Dari balik dinding gelap berhawa menyejukkan itu ia yakin ia tak akan pernah ditemukan.

“49.. 50!! Aku akan mendapatkanmu!!”

Ia menutup matanya erat. Hampir tertawa jika jemari kecilnya tak berhasil mengunci rapat mulutnya. Bibir itu kini bungkam. Lalu tubuhnya bergirik ngeri saat derap langkah seseorang mulai mendekat.

Ia meringsek makin dalam, berharap jika kali ini bukan ia lagi yang harus merengek agar menang. Detik berikutnya, jemarinya melonggar. Gedebum jantungnya yang bagai ditabuh genderang  mulai membaik.

Derap itu mengecil, perlahan menjauh lalu tak terdengar lagi dalam beberapa waktu setelahnya.

Setetes keringat membasahi pelipisnya, lalu jemari itu akhirnya terlepas. Hal pertama yang perlu ia lakukan adalah, meraup udara sebanyak mungkin. Yang jelas, kali ini paru-parunya telah berusaha terlalu keras.

“hhh~” keluhnya usai tarikan nafas pertama berakhir. Harapannya, ia bisa beristirahat sebelum ada yang bosan lalu menyerah untuk mencarinya. Bibirnya sempat terkikik kecil lalu dada itu kembali bergemuruh meminta diisi. Namun belum sempat ia bernafas, sebuah kepala muncul dari balik bilik.

“bwa!!”

Tubuhnya bergetar luar biasa. Keterkejutan tiba-tiba menyerangnya. “kyaaa!!!” pekiknya keras.

“kena kau!!”

Dengan cepat tubuhnya tertarik keluar. Menyapa sinar matahari yang beberapa waktu lalu belum seterang ini.

“dasar anak nakal, sudah kukatakan jangan bersembunyi disana. Apa otakmu tidak bisa mencari tempat yang lebih baik, huh?”

Kini tubuhnya menggelinjang hebat. Lelaki itu menggelitik bagian pinggangnya dengan cepat. Menggelikan, sekaligus memuakkan.

“ahahah! Iya, maaf!” pekiknya menahan geli.

“ck, memangnya semudah itu, huh?”

“ahaha,, iya, iya. Ampun!!”

Lelaki itu tersenyum miring. Tangannya berhenti sesaat lalu tak lama berganti wajahnya yang kini terbenam dalam perut namja kecilnya “aaahh!! Geli… ap.. ahppaa!!” ia menggelinjang hebat lalu sesuatu mendesak dari balik celana dalamnya “aaa appa aku bisa buang air disini!!”

Dan teriakan terakhir itu sukses membuatnya terbebas dari neraka dunia. Nafasnya memburu hebat mengingat beberapa detik lalu ia baru saja diguncang hebat.

“nah, sudah jera, lee dong ha?”

Dongha mendelik kesal. “belum! Aku akan mencari tempat yang tidak bisa appa temukan!” sungutnya cepat “tapi,, setelah aku buang air. Aaa sesak sekaliiii”

Donghae tertawa ringan menanggapi putra kecilnya. Bibirnya tak berhenti bergetar menahan geli dalam diri. Ia bangkit lalu berjalan menuju dapur. Disana, tubuhnya segera memeluk yoona dari belakang. Membuat wanita itu terkejut sebentar sebelum sebuah sendok hampir saja mendarat diujung kepalanya.

“galak sekali” protes deonghae manja “tamu bulananmu sedang datang, ya?”

Yoona seharusnya semakin kesal. Tapi pertanyaan donghae justru membuatnya tertawa terbahak-bahak. Salah satu tangannya menyalakan air lalu mencucinya hingga bersih.

“wae, sesuatu mengganggumu, hmm?”

Donghae memeluk tubuhnya makin erat. “nah itu kau tau. Sesuatu mendesakku. Jadi cepatlah usir tamu bulanan sialanmu itu, arraseo?!”

Yoona kembali tertawa. Tangannya melonggarkan pelukan donghae kemudian berbalik. Jemarinya kini bersarang dibalik rambut tebal donghae yang mulai menutupi tengkuk lelaki itu. Membelainya dengan jemari secara perlahan.

Donghae menutup matanya menikmati langkah awal sebelum menunggu kembali tamu bulana yoona pergi. Sial! Ia merindukan wanita ini. Padahal tamu bulanan itu baru saja datang empat hari yang lalu.

Telunjuk yoona bermain nakal. Mengitari lembut garis tulang yang terbentuk dari tengkuk donghae hingga bersarang di bahunya dan turun menuju dada bidangnya yang hanya terlapis kaos putih tipis yang sialnya semakin membentuk tubuh donghae dengan sempurna.

“jangan menggodaku, sayang..” bisik donghae parau. Nafasnya terasa mulai panas dan ia butuh lebih dari sekedar usapan jemari yoona.

“eum.. bukan aku yang melakukannya..” bisik yoona tak kalah halus.

Donghae terkekeh dalam pejaman matanya. “aku bisa menghabisimu jika kau terus seperti ini. Kau tau, kan, aku susah sekali menahan diri dari godaanmu”

“kk~ jadi menurutmu aku ini wanita penggoda?”

Tangan donghae menjalar menuju pinggul yoona. Hampir menyentuh bongkahan padat itu meski tak ia lakukan. Donghae memang terlalu senang menempatkan tangannya didekat tempat-tempat berisi dalam tubuh yoona. Itu menyenangkan, menurutnya.

“lebih dari itu, kau bahkan pencuri kelas kakap”

“wae?”

Kini donghae mendekat. Bibirnya menyentuh ujung bibir yoona meski sekali lagi, tak benar-benar berada disana. Ia suka sekali melihat yoona tiba-tiba semakin menginginkannya saat donghae tak benar-benar menyantuk titik-titik tertentu.

Benar saja, kini jemari yoona mencengkram erat kaos putihnya. “karena aku kehilangan separuh jiwaku. Dan entah mengapa aku begitu yakin jika kau pasti menyembunyikannya disuatu tempat.” Bisik donghae tepat disamping telinga yoona.

Wanita itu bergidik sesaat. Dan mereka terdiam lama. Hanya setelah yoona sadar jika ini bisa saja berlanjut menjadi lebih serius, ia akhirnya memilih untuk berhenti lebih awal.

Yoona menghela nafasnya dalam lalu membuka mata dengan perlahan. “cah, kalau begitu kau lebih dari seorang pencuri ulung. Karena aku kehilangan hampir seluruh jiwaku” balas yoona ringan menanggapinya.

Donghae membuka mata, seulas senyum mempesona bertengger dari bibirnya. Jika yoona tidak salah terka, maka sepertinya lelaki itu tengah terkesima dengan perkataannya. Dan itu membuat yoona merasa lebih bahagia.

“jadi, bisa aku lanjutkan pekerjaanku?” sambungnya.

Donghae terkesiap sesaat. Ia mengerjap lalu dengan cepat tersenyum. “tidak boleh!” jawabnya.

Kedua alis yoona menyatu sempurna. “wae? Aku harus menyelesaikan ini, sarapanmu dan dongha juga belum jadi”

“hmm~” donghae mendekatkan wajahnya hingga kini bersarang tepat pada leher yoona “kau saja yang jadi sarapanku, bagaimana?”

Yoona terbahak keras. Jemarinya memukul dada donghae pelan, membuat donghae kebingungan setengah mati. Yoona buru-buru melepaskan tangan donghae yang kali ini tak lagi melingkar erat. “sebaiknya kau mandi. Pikiranmu kotor sekali!!”

Donghae mengusap kepalanya pelan. Kakinya melangkah maju. Jemarinya segera menarik yeoja itu mendekat. Memutar tubuhnya hingga yoona yang semula telah berbalik kini kembali berhadapan langsung dengannya.

Donghae menunduk, menyatukan bibirnya dengan yoona dengan cara yang sulit untuk dijabarkan. Melumatnya kuat, membuat yoona merasa jika bibirnya mungkin akan kebas untuk beberapa saat.

Donghae menyudahinya setelah merasa membutuhkan udara. Bibirnya kembali menyeringai mempesona. Membuat yoona meleleh jika ia tidak sepenuhnya sadar.

“aku kan hanya bertanya, sayang. Kau benar-benar sensitif pagi ini”

Yoona menutup matanya kuat. Sial! Donghae.. benar-benar perayu ulung! Donghae terkekeh melihat wajah masam yoona usai ia memutar bola matanya jengah. Dasar wanita, hati dan ekspresi selalu saja berbeda. Memangnya donghae tidak tau jika yoona menyukainya?

Semacam merindukan sentuhannya, mungkin.

“appaa!!!”

Donghae terperanjat kaget, tak jauh  berbeda dengan yoona yang kini mendorongnya kuat hingga tubuh mereka benar-benar terpisah dalam jarak yang jauh.

“appaaaa!!”

Dan lelaki itu menutup matanya erat. “sial!” umpatnya. Ia melirik yoona yang tersenyum mengejek, lalu wajahnya berubah pias. “sayang..” rutuknya manja mencoba meminta pertolongan.

“nah, kan.  Siapa yang menginginkan anak laki-laki dulu?” kemudian yoona berjalan tanpa perduli.

 

__

“appa!!”

“isch, wae?!”

Donghae sedikit meninggikan nada bicaranya agar dongha berhenti berteriak. Langkahnya membelah porselen rumah mereka hingga berhenti tepat didepan dongha yang kali ini tampak sibuk dengan televisi.

Dongha segera berbalik mengetahui donghae sudah mendekat. Entahlah, mungkin hanya perasaan donghae saja atau anaknya ini seperti sangat terobsesi dan menyayanginya dengan cara berlebihan?

Dongha tak pernah terlalu antusias untuk bermain dengan yoona. Mungkin juga karena yoona bukan sosok yang mau repot-repot menyusahkan diri dengan bermain petak umpet atau berlarian disekitar rumah bersama dongha. Terlebih jika ia harus menyelesaikan pekerjaan rumahnya.

Dan dongha bukan sosok yang mau diam. Sepertinya sifat donghae benar-benar menurun pada anaknya yang satu itu. Selain terlalu aktif, dongha terkesan manja meski aura pria sejati ala bocah kecil selalu dapat dongha keluarkan ketika ia meminta untuk mengikuti donghae menuju tempat olahraga langganannya.

“appa!!” teriak dongha cepat. Bocah itu segera meringsek masuk dalam pelukan donghae lalu berbaring dibawah jepitan lengannya. Bocah kecil itu menarik jemari donghae untuk melingkari tubuhnya lalu dengan tenang menatap wajah donghae yang kali ini tampak sedikit masam.

“appa, kau marah?”

Donghae mengerjap sesaat. Seharusnya ia tak menunjukkan kekesalan semacam apapun pada dongha. Wajar saja, sejak awal yoona sudah memperingatkan resiko jika mereka memiliki seorang anak. Salah satunya tentu saja acara bermesraan mereka yang tak lagi bisa dilakukan disembarang tempat ataupun waktu.

“ah, anio.. waegeurae?” tanya donghae balik.

Dongha mengangkat bahunya acuh. Wajahnya kembali ia tenggelamkan pada lengan appanya lalu mengusap otot donghae yang kekar. “appa, jika nanti aku besar, apa mungkin aku memiliki ini?”

Donghae terkekeh geli. Tangannya dengan cepat menarik dongha hingga mendudukkannya dalam pangkuan. “mau ini, eoh?” tunjuknya pada lengannya sendiri. Dongha mengangguk cepat “untuk apa?”

“itu terlihat keren sekali!!” pekik bocah kecil itu bersemangat. “aku kan bisa memeluk seorang gadis nanti jika aku memilikinya”

Donghae hampir tergelak kuat “gadis? Kau sudah punya kekasih?”

“ah,, appa. Tentu saja belum” dongha tersenyum malu. Pipinya terlihat memerah namun detik berikutnya ia segera bangkit, mendekatkan diri pada donghae dan berbisik “tapi appa, baek seo bin itu cantik, kan?”

Akhirnya donghae tertawa lepas. “oh, kau menyukainya? Anak gadis tuan baek ji no? Tetangga didepan sana?”

“appa!!”

Donghae segera membekap dongha dalam pelukannya, menggelindingkan diri hingga kini ia memeluk bocah kecil itu dalam posisi tertidur. Dongha menyandarkan diri pada dada bidang appanya. Posisinya yang kini berada diatas donghae membuatnya bisa duduk dengan mudah pada perut donghae.

“appa..”

Donghae menyanggah kepalanya dengan tangan. Kedua matanya tertutup rapat “hmm?” sahutnya asal.

“aku ingin punya adik” Donghae segera terduduk dengan menahan dongha yang hampir terjungkal dari perutnya lalu tersungut-sungut kesal. “appa, aku bisa jatuh!!”

Tapi donghae tak memperdulikannya. Matanya segera menatap mata dongha dalam-dalam. “mengapa kau berkata seperti itu?” tanyanya penasaran.

Dongha mengedik acuh. “aku bosan bermain dengan appa. Kau kan hanya bisa menemaniku dimalam hari lalu akhir pekan. Eomma, kan, tidak mau jika aku mengajaknya bermain seperti ini. Jadi,, ya, jika aku punya adik, mungkin aku tidak akan bosan” tutur dongha jujur.

“eoh, apa begitu membosankan menjadi anak yang terlalu dimanja?”

Dongha mengangguk. “aku bahkan kesal jika diperlakukan sama seperti anak gadis lainnya. Aku, kan, pria sejati.”

“anak gadis? Seperti baek seo bin, maksudmu?”

“appa!!”

Donghae kembali membekap mulut dongha rapat. Ish, bocah ini suka sekali menjerit, persis seperti eommanya. Donghae menatap mata bocah kecil itu lama. Sungguh memiliki satu lagi anak bukanlah hal yang baru untuknya. Donghae juga ingin melengkapi keluarganya dengan sosok seorang gadis kecil, atau namja tampan pun bukan masalah. Yang jelas, ia juga menginginkan malaikat itu.

Tiba-tiba sebuah pikiran melintas didalam benaknya. Donghae buru-buru menarik dongha lalu berbisik. “cah, minta adikmu pada eomma”

“mengapa harus pada eomma? Pada appa saja bisa,kan?

“ya! Appa mau mau saja. Tapi kan yang akan merawat adikmu sebelum dilahirkan itu eomma.”

“eoh, mengapa begitu?!”

Donghae memejamkan matanya rapat-rapat. Sial! Ia lupa jika dongha terlalu kecil. “emm,, karena,, kau tau, kan, adik kecil itu lahirnya dari perut seorang wanita. Sama sepertimu dulu. Jadi, jika eomma setuju appa akan segera membuatkan adik untukmu. Mudah, bukan?”

Dongha mengerjap “memangnya eomma tidak memberikan appa izin untuk memberikanku adik?”

Donghae menepuk wajahnya pelan, lalu raut matanya berubah sedikit kesal. “kau mau adik atau tidak?” ancamnya jengah. Dengan cepat dongha berubah dan segera bangkit dari perut donghae.

Bocah itu berlari menuju dapur, membuat senyuman donghae perlahan menghilang digantikan seringai yang mengerikan. Donghae meraih selembar koran pagi, hanya tengah bersiap-siap untuk menerima amukan yoona beberapa saat lagi.

Dan, benar saja. Tiba tiba kepala yoona muncul dari balik dapur “LEE DONGHAE, APA YANG KAU KATAKAN PADA ANAKMU?!!” Donghae melirik kebelakang dengan santai. Lalu disana ada yoona dengan raut kesalnya dan dongha dengan bulir air matanya. Haah~ sepertinya bocah itu akan memaksa mulai saat ini.

 

 

__

“eomma, ayolah..” Dongha berjalan mengitari meja makan mengikuti langkah yoona yang sudah terlalu sibuk pagi itu. “eommaaa..”

Yoona mendesah jengkel. Dengan cepat diletakkannya dua piring yang terus ia bawa keatas meja lalu berjongkok. “dongha-ya, kau tidak bangun sepagi ini hanya untuk meminta itu, bukan?”

Dan bahunya segera tertunduk lesu saat dongha mengangguk dengan wajah pias luar biasa. “tapi sayang, memberikanmu adik bukanlah hal yang mudah, eomma harus..”

Yoona terdiam. Sial! Dongha masih terlalu kecil untuk tau alasan seperti ‘eomma harus mencabut alat pencegah kehamilan, menunggu tamu bulanan eomma pergi dan baru dapat berusaha bersama appa-mu’. Oh, bunuh saja yoona jika ia harus mengatakan hal semacam itu.

“harus apa??” dongha mengerjap penasaran “eomma hanya harus mengeluarkan bayi lucu dari perut, hanya itu, bukan?”

Yoona kembali menutup matanya erat. Donghae pasti sudah menjelaskan hal yang bukan-bukan pada anaknya. Sialan. “bukan begitu” yoona berdehem sekali “begini, sayang. Sebelum mengeluarkan bayi yang lucu, eomma harus merawatnya dulu didalam perut selama hampir satu tahun. Jika kau ingin punya adik, eomma tidak bisa memberikannya besok atau lusa. Itu,, terdengar sangat mustahil”

Dongha diam. Tampak berpikir sejenak. “tapi appa bilang—“

“stop!!” potong yoona jengah “eomma yang akan memberikanmu adik, bukan appamu. Jadi bersabar saja. Tidak bisa secepat itu, sayang. Dan tolong berhenti mempercayai ucapan mesum appa-mu”

“siapa yang mesum?”

Yoona segera berbalik menatap donghae yang pagi itu telah siap dengan dasi dan setelan kantoran miliknya. Namja itu berjalan menuju yoona dan dongha. Mencium kening yoona lembut lalu berbalik menggendong dongha kedalam pelukannya.

Dongha meringsek masuk kedalam pelukan donghae, membuat yoona merasa kesal bukan main seteleh beberapa detik lalu dongha masih terlalu rewel sebelum donghae datang.

“sudah sarapan?” tanya donghae pelan pada anaknya.

Dongha menggeleng manja. Donghae melirik yoona ragu, “kau tidak memasak?” tanyanya lembut.

Yoona meliriknya lalu menghela nafas super panjang yang pernah ia hembuskan pagi itu. “kau pikir aku bisa melakukan apa jika anakmu terus meringsek membuntutiku meminta adik. Ck, sudah kukatakan jangan membicarakan hal yang macam-mcam padanya!”

Donghae menatap yoona yang menghentakkan kakinya menuju dapur, lalu menatap dongha. “masih belum mau?”

Dongha kembali menggeleng “eomma tidak mau..” bocah itu meringsek kedalam pelukan donghae yang masih setia berdiri disampingnya. Mengusap bahu dongha yang pagi ini terlihat begitu ingin bermanja-manja.

“ck, sudahlah. Tidak harus hari ini,  bukan? Eomma harus memikirkannya dulu”

“untuk apa dipikirkan? Memangnya memberikanku adik sungguh sulit, ya?”

Donghae terdiam sesaat. Dongha belum mengerti, yoona tentu memikirkan masa depan dan bagaimana ketelatenannya untuk kembali merawat bayi dalam waktu dekat jika ia memang memutuskan untuk hamil.

Belum sempat donghae membuka mulutnya, yoona datang membawakan dua gelas susu coklat. Meletakkannya diatas meja lalu kembali kedapur tanpa berbicara.

“lihat, kan?! Eomma,, aku mau adik!!”

Dongha menjerit keras, turun dari kursi dan berlari menuju kamarnya sendiri. Yoona kembali keluar dengan wajah masam, menatap donghae tajam sekaligus kesal.

“lihat, bagus sekali, bukan, ajaranmu?”

 

 

__

Donghae mendengus, melihat dongha yang kini jadi bersikeras memiliki adik hanya karena perkataannya semalam. “dongha-ya, kau tidak boleh seperti itu pada eomma”

Dongha meringsek kedalam pelukan appanya.

“kau kan tau, eomma mungkin masih memikirkan beberapa hal sebelum memutuskan untuk memberikanmu adik. Eomma tidak mungkin membiarkanmu sendiri, tapi ini semua butuh waktu, sayang..”

Dongha mendongak cepat. “appa bilang ini mudah. Lalu mengapa harus membutuhkan waktu?”

“tentu saja karena..” donghae mulai kehilangan kata-kata. Sial, searusnya ia tak perlu memperngaruhi dongha untuk memaksa yoona. Ia bisa saja kan berjanji untuk berusaha sekuat mungkin. Lagipula, dongha benar-benar tak tau jika memiliki adik tak semudah bayangannya.

Donghae tentu harus berusaha mati-matian agar benih keduanya tertanam dalam rahim yoona. Belum lagi jika memang nanti yoona hamil, dongha tentu harus menunggu selama sembilan bulan agar adiknya hadir dimuka bumi ini.

Dan lagi,, memangnya bayi dua hari bisa dongha bawa untuk bermain? Ini,, sungguh diluar ekspetasi donghae. Ia tak pernah memikirkan betapa seharusnya ia belikan saja dongha seekor binatang peliharaan sebelum adiknya mampu untuk mengimbangi tingkah aktifnya.

Tapi,, yoona kan tidak suka hewan.

“hiks,, appa..”

Donghae tersadar saat bocah kecil itu mulai terisak, semakin memeluknya yang kini mulai kembali terlihat kusut. Percayalah, donghae pasti akan kehilangan dua atau tiga jam awal untuk datang ke kantor.

Sepertinya ia memang harus membereskan masalah yang ia buat sebelum yoona semakin kesal dan dongha semakin menuntut. Tangannya terselip diantara lengan bocah itu lalu menggendongnya dalam dekapan hangat.

“dongha-ya,, memberikan adik untukmu tidak semudah itu. Sepertinya appa salah berbicara, maaf” mulai donghae.

“tapi appa bilang—“

“appa keliru. Berusaha untuk membuatkanmu adik memang menyenangkan, tapi tidak semudah itu. Eomma juga belum bisa berusaha saat ini sebelum tamu bulanannya pergi. Jadi—“

“nugu?”

Donghae mengerjap “nugu?? Mwonde?”

“tamu bulanan eomma itu, siapa?”

Donghae kembali menepuk wajahnya gusar. Sial! Ini akan semakin rumit, batinnya. Donghae berdehem sekali. “emm, maksud appa, perut eommamu sedang bermasalah. Nah, adik kecil itu, kan, keluarnya dari perut eomma, jadi, sekarang ia belum akan keluar karena perut eomma sedang bermasalah”

Dongha mengerjap mencoba mencerna perkataan donghae “jadi,, kapan eomma bisa mengeluarkan adik?”

“emm,, ya,, mungkin satu bulan lagi adikmu akan ada didalam perut eomma”

“lalu dimana adikku sekarang?”

Donghae menghela nafasnya lelah. “dongha-ya, ini sedikit sulit untuk dijelaskan karna—“

“dwaesseo!!”

Donghae mendongak melihat dongha yang kini berdiri, wajah bocah kecil itu terlihat kesal dengan sisa bulir air mata yang mulai mengering. “appa, kalau begitu aku saja yang membuat adikku sendiri”

Mata donghae melebar sempurna “ya!! Mana bisa seperti itu!” pekiknya kaget.

“wae? Mudah, bukan? Hanya menunggu perut eomma tidak sakit lagi. Aku akan bertanya pada eomma sekarang”

Donghae buru-buru menahan tangan bocah yang terlihat akan menuruni ranjang kecilnya itu. Gawat, bisa-bisa yoona tidak berbicara dengannya jika tau ia telah menceritakan siklus bulanannya pada anak mereka.

“dongha-ya.. jangan..”

“heis,, appa, aku kan hanya ingin membuat adik!” dongha bersungut kesal, membuat donghae tak kalah terlihat kesal.

“kau pikir membuat adik itu mudah? Kau bahkan tidak memiliki apapun untuk membuatnya”

“memangnya membuat adik memerlukan apa?”

Donghae yang mulai tersulut emosi lalu berkata lantang “ya,, tentu saja,, tongkat ajaib”

Sejenak mereka terdiam. Dongha menatap donghae ragu sementara donghae terlihat begitu frustasi. Apa yang baru saja ia bicarakan?! Tongkat ajaib? Ya, Konyol sekali!!

“tongkat,, ajaib?”

Kepalang tanggung, donghae mengangguk tegas. “ya, kau kan tidak punya tongkat ajaib” sambungnya.

Dongha mendengus “aku bisa membelinya. Appa katakan saja, dimana appa membelinya?”

Kini donghae hampir menyemburkan tawa besarnya. Bocah kecil ini mengapa begitu polos? Donghae ingin sekali memakan dongha hidup-hidup usai ia berkata ‘aku bisa membelinya’. Uh-oh, memangnya tongkat seperti apa yang bisa memberikannya adik dan dijual bebas diluaran sana?

Ini gila.

Donghae mendekatkan diri, menciptakan suasana seolah ia akan menceritakan sebuah cerita panjang dan serius. Ia berdehem sekali “itu tidak dijual dimanapun” bisiknya. Dongha menatapnya ragu, kesal sekaligus tidak percaya “hanya appa yang punya”

Dan dongha mendengus semakin kesal. “mana ada seperti itu!! Semua orang pasti bisa membelinya, tidak mungkin hanya appa yang memilikinya!”

“ya! Kau tidak percaya? Kau pikir kau lahir dari apa? Dari tongkat appa!!”

“benarkah?”

Donghae mengatur ekspresinya kembali. Pembicaraan mereka semakin menggila saja. Dan raut wajah dongha terlihat mulai antusias. “bagaimana bisa? Apa hanya appa saja yang memiliki tongkat itu?”

Donghae tersenyum licik “ya, tentu saja bisa. Karena itu namanya tongkat ajaib.” Ia berhenti, lalu berfikir sejenak “sebenarnya,, bukan hanya appa, tapi eommamu hanya menyukai tongkat milik appa”

Dongha bergumam kecil “uhh,, seharusnya eomma punya beberapa agar ia tak bergantung pada appa”

“ya!! Mana bisa seperti itu!” pekik donghae tak terima.

Dongha menatapnya menantang “wae? Bukankah memang seperti itu? Appa punya banyak baju untuk appa pilih jika appa bosan dengan model yang itu itu saja. Seharusnya eomma juga boleh punya banyak tongkat agar eomma tak bosan karena hanya memiliki satu tongkat”

Donghae menggeram “tidak bisa, dongha-ya. Eommamu hanya akan menyukai dan terus menyukai punya appa!” tegasnya.

“wae?”

“karena hanya punya appa yang eomma mau. Eomma tidak akan pernah menyukai tongkat-tongkat lainnya”

“apa seo bin juga lahir dari tongkat appa?” Donghae memejamkan matanya kuat-kuat. Nah, kan, pembicaraan ini memang benar-benar sudah gila!

“bukan. Seo bin itu lahir dari tongkat appanya”

“jadi, perbedaan tongkat itu membuat kami juga berbeda, ya?”

Donghae mengangguk “nah, anak pintar. Sekarang berhenti membahas itu. Kau tidak ingin sarapan?”

Dongha menggeleng. Menatap donghae ragu lalu terlihat berpikir sejenak. “appa, aku mau lihat tongkat appa..”

 

 

__

Donghae bersumpah akan bunuh diri mendengar pertanyaan anak lelakinya yang satu ini. “MWOO??!” pekik donghae cepat. “a apa katamu?” ulangnya.

“aku mau lihat tongkat appa. Aku ingin tau aku lahir dari tongkat yang seperti apa”

Kali ini donghae terdiam cukup lama. Percakapan ini sungguh sudah terlalu jauh. Apa? Melihat tongkatnya? Gila. Donghae bukan ayah cabul yang akan mempertontonkan kejantanannya pada anak lelakinya sendiri!

Ia bergerak gelisah tampak berpikir sejenak. Dongha terlalu pintar untuk terus menerus ia bohongi. Bibirnya bergemeletuk cemas. Tidak. Dongha belum boleh mengerti apa yang ia maksud. Bukankah ia hanya berniat untuk menjahili putranya, tadi?

“emm,, dongha-ya,, tongkat appa itu tidak boleh dilihat oleh siapapun. Hanya eommamu yang boleh melihatnya”

“heis~ wae?” rutuk dongha manja.

“karena… karena.. ya.. hanya eomma yang bisa melihatnya. Jika bukan eomma, dia tidak akan terlihat. Ia tidak ingin jika itu bukan eomma”

Donghae bersumpah akan mengiris lidahnya usai ini.

“ck! Mengapa orang dewasa selalu memiliki rahasia? Kalau begitu beritau aku cara appa berusaha membuatkanku adik!”

Donghae menggeram “itu juga tidak bisa dijelaskan. Pokoknya hanya appa yang memiliki tongkat untuk membuatkanmu adik dan hanya eommamu yang boleh melihatnya, menyentuhnya atau melakukan apapun semaunya. Kau tidak perlu memikirkan itu, biar appa dan eomma saja yang berusaha untukmu. Yang penting, appa janji akan memberikanmu adik secepatnya”

Donghae menuntaskan pembicaraan mereka secepatnya. Ia bisa gila membayangkan betapa ia sudah menjadi begitu konyol karena pembicaraan ini.

“tapi appa—“

“heis~ bocah nakal. Jangan bertanya apapun lagi. Rasa penasaranmu tidak bisa appa jawab dengan benar. Intinya, hanya appa dan eomma yang tau bagaimana cara terbaik untuk menghadirkan adik untukmu. Biarkan appa berusaha,, dan kau diam saja”

“jadi,, appanya seo bin juga—“

“ya, semua orang yang memiliki anak kecil cerewet sepertimu memiliki tongkat mereka sendiri dan memakainya dengan cara mereka sendiri”

“tapi seo bin tidak cerewet. Apa tongkat milik appanya—“

Donghae megacak rambutnya gusar “berhenti membicarakan ini atau aku akan dihabisi istriku setelah ini, lee dong ha!”

“tapi appa…”

Dan donghae bersumpah ini terakhir kalinya ia mengingat betapa memiliki sebuah tongkat ajaib dan menceritakannya pada seorang bocah kecil yang selalu ingin tau sungguh sebuah malapetaka besar. Sial!

 

-FIN-

Oke, ini Cuma buat main-main. Diatas udah aku bikin PG-17 kan? Agak rusak memang. Tapi kebetulan karena otakku lagi mandet banget sama memorable. Juga lagi pengen tau yoonhae shipper ada berapa banyak disini, jadi aku post yang ini aja.

Oh ya, btw, readers tau gak ada yang ngirim komentar kaya gini loh ->

‘nah klo ada yg ngrim author’a email kya gtu, klo mnurut aku sh ngga usah kya gtu juga kali gmana klo yg baru nemu kya aku gini. dan aku g suka klo hrus komen dr part awal. I think it’s wasting time. krn kbnyakan author g ng’cek komen awal2 part lg.
THANKS & MAAF klo ada yg trsinggung aku tipe org yg sangat jujur dlm memberi komentar.’

Dan, kalian tau setelah baca itu rasanya gimana? Yaampun luar biasa sedih, teman :’) hancur. Kalian tau, atau mungkin ingat? Apa pernah aku maksa kalian buat baca memorable? Engga kan? Tapi kok komentarnya gitu banget sih? Seakan tulisan aku gak perlu dihargai samasekali.

Plis. Aku tegasin ya, sama kamu yang ngirim komentar. Pertama, aku paling gak suka disama-samain sama author lain. Aku gak gitu. Aku HyukgumSmile. Yes, im not he/she anymore. Aku baca komentar kalian yang dari sekedar ‘next!’ sampai yang panjangnya gak ketulungan kok.

Kedua, maaf ya. Tapi kalau kamu merasa ninggalin komentar dari part awal itu Cuma buang-buang waktu, seharusnya kamu gak usah baca samasekali FF saya. Sumpah, untuk kali ini aja saya ngerasa terhina banget. Apa kamu gak mikir sebelum ninggalin komentar kaya gitu? Saya bahkan ga ambil masa hiatus menjelang UN loh buat bikin cerita yang katanya ngabisin waktu kamu itu. Dan untuk sekedar informasi, sekarang saya justru gak ingin kamu dapat pw samasekali.

Dan buat readers yang lain, sabar ya, teman. Aku sedang berusaha menuntaskan memorable sampai benar-benar tuntas. Tanpa ada tanda tanya dan permintaan sequel (maksudnya ujung ceritannya jelas. Siapa yg bahagia. Nasib masing-masing karakter). Dan kebetulan aku bakalan ngabisin memorable di part 13 *nah, bocor kan*. Jadi, aku sedang on going. Udah 53 halaman, dan masih akan berlanjut. Sulit banget mutusin dimana TBC-nya karna menurut aku pribadi sih semuanya mengejutkan (karena kita kan ceritanya mau ngungkap siapa si peneror). Jadi, nanti kalau udah selesai, aku bakal bagi dua. Kemungkinan besar, part 12 dan 13 akan berisi sekitar 35-40 halaman (jauh banget dari standar ff aku yang gak boleh lebih dari 27 halaman) tapi gapapa. Biar kalian juga puas bacanya. Dan sekali lagi, aku mohon sabar ya:’) dan tolong jangan bikin aku drop. Demi apa aku ga mood nulis seharian karena komentar itu. Ayo sama-sama saling membantu. Maaf karna udah curcol. Sampai bertemu di memorable 12 *sign*

 

With love, Park ji yeon.

 

95 thoughts on “Magic Stick

  1. eaaaa… baru tau donghae bisa mesum juga.. kirain cuma kyu yang ditakdirkan tokoh ff yang mesum bin evil
    romantis sangat nye,. bikin iriiiii..
    ternyata magic stik itu maksudnya hoho.. dongha keren deh bisa bikin puyeng appa nya.

    betewe eon aku baru tau ff ini, dan aku juga baru tau kalo ff ini dicipta sebelum memorable part 12 malah, … maafin aku yang baru komen ye..

    emang bener, orang kayak gitu bikin drop memang. abaikan saja.
    tapi kalo boleh jujur, sebenernya aku dulu juga kayak gitu, kalo baca males komen, kalo udah ketemu yang belum ada lanjutannya baru deh komen soalnya penasaran. (buka kartu) ff memorable pun aku baru komen di part 5 karena baru nemunya pas itu, cuma aku juga ngulang dari awal komennya biar dapet pw hehe.

    tapi tapi hal – hal kayak gitu cuma aku simpen di dalam hati kok, aku nggak mau ngomongin authornya kayak si “A” ini, karena apa? karena aku tau dimana posisi yang salah disini, and aku juga tau kok kalo nulis itu susaaaah banget, jadi memang apa sih susahnya kita komentar?? cuma komentar aja gitu nggak bayar.

    oh ya aku sekarang udah nggak gitu lagi kok, kalo aku dapet cerita yang menarik langsung aku komen dari awal, (belajar dari pengalaman),

    oke maaf kalo banyak bacot, keep writing eon..

  2. Hanjeerrr,, tongkat ajaib :v
    Lucu bgt ff nya thor,,, dongha kepo nya udH akut bgt,,, kasian juga donghae😀 Dtggu ff yoonhae selanjutnya thor..

  3. Hahahahhahahaa tongkat ajaib pembuat bayi … Emg susah siih klo anak udh nanya kya gtu .. Anakku juga sama .. Kadang kami frustasi dan akhrnya jdi marah deeeh …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s