The Story Only I Didn’t Know

the-story-only-i-didnt-tell_resized_1

The Story Only I Didn’t Know

Author             : Rabiiii (@Rabiiiii_)

Main Cast        : Im Yoona|Wu Yi Fan

Other Cast       : Find by Yourself ^^

Genre              : Romance|Tragedy|Angst|Family

Rating              : PG 16

Disclaimer       : All cast belong to God and their parents. Please, no bash. This is just fiction and forever will be fiction.

Thanks for the great poster, dr.Kage

Happy Reading and Enjoy!

Already post at yoongexo.wordpress.com

***

“Apa kau masih tidak memiliki harapan? Apa ada yang membuatmu merasa tidak nyaman?” Tanya seorang pria pada wanita muda yang sedang duduk di hadapannya.

“Beberapa hari ini….aku merasa tubuhku sedikit aneh. Seakan-akan ini bukan tubuhku…sesuatu seperti itu.” ungkap wanita itu seraya terdiam sejenak. Pandangan kosongnya menerawang jauh ke arah jendela yang ada di ruangan itu seraya melanjutkan perkataannya yang sempat terputus “Seongsaengnim…apakah menurutmu..cuaca hari ini aneh?”

“Apa maksudmu ketika kau mengatakan tentang cuaca?” Tanya pria itu lagi dengan raut wajah bingung.

“Uhm…di hari-hari seperti ini, aku merasa seseorang pasti akan datang menemuiku”

“Menurutmu siapa yang akan datang?”

“Dia yang akan datang. Aku yakin dia akan datang hari ini, Seongsaengnim” jawab wanita itu dengan senyuman aneh yang terkesan dipaksakan.

.

.

.

Luhan memperhatikan dengan seksama layar televisi yang sedang menayangkan sesi konsultasi antara Im Yoona-adiknya dan Kim Minseok-sahabatnya sekaligus psikiater yang merawat adiknya. Masih tidak ada perubahan pada kondisi kesehatan Yoona. Pandangannya tetap kosong, tidak ada lagi sinar kebahagiaan di wajah cantik adiknya itu. Luhan kembali menggoreskan tanda silang pada agenda yang entah sejak kapan selalu menemani hari-harinya. Hari ini, tepat 765 hari adiknya berada di tempat ini, masih dengan kondisi yang sama atau bahkan malah bertambah parah, Luhan sendiri terlalu takut untuk mengetahui kenyataan yang sebenarnya tentang kondisi adik kesayangannya itu.

Tempat ini-rumah sakit jiwa Bongsan, sudah menjadi rumah baru adiknya selama lebih dari dua tahun. Dengan lokasi yang sangat jauh dari keramaian dan tanpa ada orang lain yang tahu selain ia dan orangtuanya, menjadi alasan utama mengapa Yoona dipindahkan ke rumah sakit ini. Luhan memejamkan matanya, menyandarkan tubuh lelahnya di kursi yang sedang ia duduki, berusaha untuk kembali menerima kenyataan pahit bahwa adiknya itu tidak akan pernah bisa kembali seperti dulu, kembali menjadi sosok Im Yoona yang penuh dengan ekspresi.

***

Sesi konsultasi itu berakhir dengan hasil yang sama seperti sebelumnya, Yoona kembali dibawa petugas ke ruangannya dan Minseok menghampiri Luhan yang sedang berada di ruang kerjanya seraya mengawasi jalannya konsultasi yang ia lakukan bersama Yoona. Minseok hanya bisa terdiam dan menghembuskan nafasnya dengan berat ketika melihat kondisi sahabatnya yang terlihat sangat lelah dan mungkin hampir putus asa pada penyakit yang sedang diidap Yoona.

“Lu, jangan beristirahat di sini. Kalau seperti ini bukan hanya Yoona yang sakit, kau juga akan sakit,” kata Minseok pelan seraya menyentuh bahu Luhan.

“Apa lagi yang harus aku lakukan, Minseok-ah? Kesalahan apa yang sudah Yoona lakukan sampai ia harus menderita seperti ini?” lirih Luhan mengabaikan perkataan Minseok.

“Yoona baik-baik saja, Lu. Aku berjanji akan membantunya untuk bisa sembuh. Sebaiknya kau beristirahat, kembalilah ke Seoul. Ayah dan ibumu pasti khawatir, sudah hampir 1 minggu kau disini, Lu. Aku akan menjaga Yoona. Percayalah padaku” balas Minseok menyakinkan Luhan.

“ini sudah lebih dari dua tahun, Minseok-ah. Aku sudah tidak sanggup melihat kondisi Yoona. Dia sudah seperti mayat hidup, aku bahkan tidak tahu berapa lama lagi dia bisa bertahan dengan kondisinya itu” ucap Luhan lagi “Semua ini karena lelaki brengsek itu.” sorot mata Luhan yang tadinya sendu berubah penuh amarah ketika mengingat kembali orang yang telah membuat adiknya itu menderita.

“Lu, itu semua masa lalu. Kau tidak boleh terus menyalahkan Kris. Lagipula, Kris sudah meninggal. Hormati Kris. Tidak ada gunanya lagi mengungkit hal ini. Semua ini takdir, Im Luhan. Biarkan Kris tenang di sana, jangan terus menyalahkannya seperti ini.” ujar Minseok tegas.

“Tapi Yoona tidak tahu kalau laki-laki brengsek itu sudah meninggal! Adikku itu tidak tahu Kris meninggal! Bahkan sebelum laki-laki itu meninggal, tidak pernah sekalipun ia berniat menjenguk Yoona! Padahal laki-laki itu tahu kalau ia yang menyebabkan Yoona menjadi seperti ini, tapi apa yang malah ia lakukan? Ia pergi tanpa pernah meminta maaf pada Yoona.” teriak Luhan penuh dengan amarah.

Ia membutuhkan tempat untuk bisa melampiaskan semua emosinya dan Minseok terlalu mengenal sahabatnya itu. Rasa sakit dan kecewa yang Luhan rasakan, dengan susah payah selalu ia tahan. Hanya tinggal Luhan yang menjadi harapan keluarga Im, keluarga itu sudah lama hidup dalam kesedihan. Minseok tidak akan pernah bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada keluarga Im jika Luhan juga memiliki nasib yang sama seperti saudaranya.

“Yoona bahkan selalu menunggu Kris datang, Minseok-ah. Adikku itu menunggu seseorang yang sudah tidak ada lagi di dunia ini datang untuk menjenguknya. Sudah cukup rasanya aku mendengar jawaban yang sama dari mulut Yoona. Dia bahkan tidak mengingat aku lagi, dia tidak mengingat orangtuanya lagi. Kris…hanya nama laki-laki itu yang selalu dia ingat. Yoona hidup dengan harapan palsu, Minseok-ah dan aku termasuk orang yang memberikannya harapan palsu itu.” lanjut Luhan dengan airmata yang mulai mengalir. Sekuat apapun Luhan,  Luhan hanyalah manusia biasa yang setiap saat bisa merasakan sakit.

“Yoona sekarang hidup di dunianya sendiri, Lu. Kris…laki-laki itu mendominasi pikiran Yoona. Semua emosi yang Yoona rasakan berpusat pada Kris. Kita tidak bisa melawan takdir, Lu. Kris sudah sejak lama menjadi tujuan hidup Yoona.” Balas Minseok

“Lebih baik aku yang mengalami semua ini, Minseok-ah. Yoona tidak seharusnya mengalami semua ini.” kilah Luhan lemah.

Minseok terdiam mendengarkan ratapan pilu Luhan, ia mengerti alasan Luhan membenci Kris, tapi di satu sisi ia juga mendukung keputusan Kris. Garis takdir mereka terlalu rumit untuk dijalani dan Minseok yakin tidak ada orang yang sanggup menjalani kehidupan seperti mereka. Hidup dengan penuh rasa sakit dan kecewa karena berusaha melawan takdir yang telah digariskan Tuhan dalam hidup mereka.

.

.

.

Yoona berbaring di tempat tidurnya, sebuah ranjang besi khas rumah sakit, di ruang perawatannya yang bernuansa putih. Yoona hanya menggunakan kemeja berwarna putih kusam dengan panjang sedikit di atas lutut, pandangan matanya kosong, wajahnya tidak lagi menunjukkan ekspresi, semangat hidupnya pun seakan ikut mati. Hatinya dipenuhi perasaan rindu dan kecewa yang selalu datang secara bersamaan, perasaan yang selalu ia rasakan  ketika bersama Kris, laki-laki yang sangat ia cintai. Ia selalu merasa bahwa Kris akan menjemputnya dan membawanya pergi dari tempat ini, rumah sakit yang memiliki fungsi sama seperti penjara. Dia tidak merasa gila, tapi entah mengapa orang lain beranggapan seperti itu. Ia hanya ingin lari dari kenyataan di mana ia harus merelakan Kris menikah dengan wanita lain dan menyerah atas semua yang telah mereka perjuangkan selama ini.

Jessica Jung adalah nama wanita yang telah merebut Kris darinya, wanita itu merenggut pusat kehidupannya, membuatnya mati secara perlahan, ia selalu berharap kecelakaan yang menimpanya di malam itu bisa membuatnya pergi untuk selamanya, tapi takdir berkehendak lain. Ia masih hidup di dunia ini, namun dengan keadaan yang  sangat membingungkan. Ia tahu siapa dirinya, tapi entah apa yang terjadi sehingga hanya ada dua orang yang bisa ia ingat dan ia melupakan yang lainnya, Kris dan Jessica, kedua orang itulah yang ia ingat. Dua orang yang telah memberikan mimpi buruk sehingga ia menjadi seperti ini.

Yoona selalu berusaha keras agar bisa mengingat kembali kehidupannya yang dulu, namun semua itu sia-sia, kepalanya seakan tidak mampu untuk kembali mengingat. Rasa sakit yang dirasakannya selalu mengurungkan niatnya untuk berusaha.

Yoona mengalihkan pandangannya ke arah sofa hitam yang berada tidak jauh dari letak tempat tidurnya. Satu-satunya benda berwarna yang ada di ruangan itu. Ia selalu merasa ada orang yang mengawasinya selama ia tertidur dan selalu duduk di sofa itu, tapi ia tidak tahu siapa orang itu. Orang itu akan segera pergi ketika Yoona akan bangun dari tidurnya. Ia hanya bisa merasakan kehadirannya tanpa sekalipun pernah melihat wajah orang itu.

Yoona memutuskan untuk bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan ke sudut lain kamarnya itu. Perasaan sesak kembali ia rasakan ketika melihat goresan-goresan di dinding yang penuh dengan nama Kris, bayangan-bayangan masa lalu kembali menghantui Yoona. Ia tidak pernah menyangka bahwa ia terjebak pada sebuah cerita di mana hanya ia yang tidak mengetahui apa yang akan terjadi. Semua hal yang Yoona kira menjadi awal dari cerita bahagianya ternyata merupakan akhir dari segalanya.

Yoona memberanikan diri untuk menyentuh goresan-goresan kasar itu dan kembali mengingat kenangan terakhir yang Kris berikan untuknya.

Flashback

“Aku akan menerima perjodohan ini, Yoong. aku akan menikahi Jessica.” Kata Kris.

“Andwe! Oppa tidak boleh melakukannya, andwe!” ucap Yoona seraya menutup kedua telinganya berusaha untuk tidak mendengarkan semua yang Kris ucapkan. Apa yang Kris ucapkan membuatnya sangat terkejut. Ia tidak pernah mengira Kris akan dengan mudahnya menerima perjodohan itu. Yoona mengira Kris akan membicarakan tentang hubungan mereka sehingga Kris mengajaknya untuk bertemu di tepi sungai Han saat orang lain sudah mulai terlelap dalam tidur mereka.

“Kau harus menghentikan perasaanmu itu, Yoong. sampai kapan pun kita tidak akan pernah bisa bersatu. Semuanya telah berakhir, masih banyak laki-laki lain di luar sana yang layak untuk mendapatkan cintamu. Maafkan aku, Yoong. aku tidak bisa membalas perasaanmu.” Jawab Kris tegas.

“Oppa, bukankah kau juga mencintaiku? Kau mencintaiku, oppa. bagaimana mungkin oppa menerima semua ini? andwe! Aku mohon jangan lakukan itu, oppa. aku tidak mungkin bisa menghentikan perasaanku ini, oppa. Wanita itu tidak pantas untukmu, oppa. hanya aku yang pantas bersamamu. Aku mohon, jangan seperti ini oppa.” jawab Yoona dengan air mata yang mulai mengalir dari kedua sisi mata cantiknya.

“Aku memang mencintaimu, Yoong. tapi seharusnya kau sadar dan mengerti, kita tidak bisa bersama. Sebesar apapun rasa cintamu padaku, kau tetap tidak akan pernah bisa melawan takdirmu. kita lahir dari rahim yang sama, Yoong. sampai kapan pun, kau itu adikku.” Balas Kris tajam. Sudah sejak lama, Kris berusaha untuk menyadarkan Yoona pada kenyataan yang sebenarnya. Mereka sudah memiliki suatu ikatan yang sangat sulit untuk dipisahkan. Namun, entah mengapa Yoona tidak pernah mau mendengarkannya.

“Keputusanku sudah bulat, Yoong. aku tidak akan pernah menarik ucapanku kembali. Aku harap kau bisa menerima semua ini. aku mencintaimu, sangat mencintaimu, kau adik perempuan terbaik yang aku miliki di dunia ini. pernikahanku dengan Jessica akan diadakan dua minggu lagi, aku sangat menantikan kehadiranmu, Yoong.” lanjut Kris lagi seraya berlalu meninggalkan Yoona yang masih berdiri kaku dengan air mata yang semakin deras mengalir.

Yoona merasa kalah. Apapun yang ia katakan tidak akan pernah bisa merubah pendirian Kris dan takdir yang mereka miliki. Kris selamanya akan tetap menjadi kakaknya, ia tidak akan pernah bisa memiliki Kris.

Yoona menatap nanar punggung Kris yang mulai menjauh dari pandangannya. Ia Masih berusaha untuk menyakinkan Kris untuk bisa bersamanya, menuruti egonya dan mengabaikan akal sehatnya “Apakah ini memang akhir dari segalanya? Oppa tahu… satu-satunya hal yang aku sesali di dunia ini adalah terlahir dari rahim yang sama denganmu. Andai aku bisa memilih, aku dengan senang hati akan memilih untuk tidak pernah dilahirkan di dunia ini.” lirih Yoona.

Kris menghentikan langkahnya, namun tetap berada di posisinya. Berat rasanya jika ia harus selalu melihat Yoona meneteskan air mata karenanya. Kris tidak memiliki pilihan lain, kekerasan hati Yoona harus bisa ia kalahkan. Ia tidak mau adik kesayangannya itu semakin terpuruk.

“Nde, ini akhir dari segalanya Yoong. aku akan tinggal di apartemen pribadiku sampai hari pernikahanku tiba dan setelah menikah aku akan membawa Jessica ke Kanada. Aku akan memulai kehidupan baruku dengannya di sana, tanpamu, ayah, ibu dan juga Luhan.  Aku akan pergi darimu, Yoong. kau harus bisa hidup bahagia tanpaku.” Jawab Kris.

‘Maafkan aku, Yoong. tapi ini jalan terbaik yang bisa aku ambil. Aku ingin kau sepenuhnya melupakanku, Yoong. melupakan orang yang selama ini selalu menyakitimu.’ Batin Kris

Yoona berusaha sekuat tenaga menahan tubuhnya agar tidak terjatuh, membiarkan air matanya mengalir dengan deras.  “Oppa akan meninggalkanku? Bagaimana mungkin aku bisa berbahagia tanpa dirimu, eoh? bagaiamana caranya agar aku bisa bahagia tanpamu? Kau hidupku, oppa. tanpamu aku akan mati.” Balas Yoona.

Kris terdiam. Ia kehabisan kata-kata. semua yang dikatakan Yoona membuat perasaannya bertambah sesak.

“JAWAB PERTANYAANKU, OPPA! AKU LEBIH MEMILIH UNTUK MATI DARIPADA HARUS KEHILANGANMU, APA KAU BENAR-BENAR INGIN MELIHATKU MATI, EOH?” teriak Yoona.

“Maafkan aku, Yoong. ini yang terbaik” jawab Kris seraya berlalu meninggalkan Yoona tanpa pernah berbalik sedikit pun dan mengucapkan salam perpisahan.

“OPPA!!! KRIS OPPA! JANGAN PERGI, AKU MOHON! AKU MOHON…” Yoona tidak sanggup lagi menahan tubuhnya untuk tetap berdiri. Dunianya seakan runtuh dan mulutnya terkunci rapat ketika Kris benar-benar pergi meninggalkannya. Yoona hanya bisa meratapi kepergian Kris, tanpa tahu hal apa lagi yang bisa ia lakukan untuk membuat Kris tetap bersamanya. Cintanya benar-benar sudah buta, ia melupakan semua kenyataan yang ada, kenyataan pahit yang bahkan sudah menjadi takdirnya sejak ia dilahirkan. Ia mencintai saudara kandungnya sendiri, entah sejak kapan perasaan cinta itu muncul. Perasaan itu sudah semakin besar ketika ia menyadarinya. Ia ingin memiliki Kris dan tidak ingin Kris membagi perhatiannya pada orang lain sekalipun itu ibunya sendiri.

Yoona berusaha untuk bangkit dan mengejar Kris, namun sayang ia terlambat. Kris sudah pergi dari tempat itu. Yoona berlari ke arah mobilnya dan mengendarainya secepat yang ia bisa untuk menghentikan Kris. Pikirannya kalut, rasa takut dan kecewa masih menguasainya. Yoona menambah kecepatannya tanpa memperdulikan keadaan jalan yang sedang ia lalui. Perjuangannya membuahkan hasil, ia berhasil mengejar mobil Kris dan tanpa pikir panjang Yoona langsung mengikuti mobil Kris. ia bahkan tidak memperdulikan lampu lalu lintas yang kembali berubah warna dan akhirnya kecelakaan itu terjadi. Truk pengangkut barang yang melaju kencang dari arah yang berlawanan tidak bisa menghentikan laju kendaraannya dan menghantam keras mobil yang Yoona kendarai.

Flashback End

Yoona mengernyit menahan rasa sakit akibat serangan memori yang kembali ia ingat. Pandangannya memudar seiring dengan air mata yang sudah siap untuk mengalir. Goresan-goresan kasar yang ia buat tidak lama setelah ia menempati kamar ini seakan merefleksikan rasa sakit yang ia rasakan.

“Apa kau sudah puas menyiksaku, oppa? apa semua ini sudah cukup untuk membuatmu kembali padaku?” lirih Yoona ketika melihat Kris ada di depannya menggantikan dinding kusam yang sebelumnya ia sentuh.

“Apa lagi yang harus aku lakukan untuk membuatmu kembali padaku, oppa? aku masih sangat mencintaimu, perasaan ini semakin bertambah besar ketika aku berusaha melupakanmu, oppa.” lanjut Yoona lagi dengan air mata yang mulai mengalir dengan deras.

Merasa tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaannya, sentuhan lembut Yoona berubah menjadi pukulan-pukulan kasar tepat di bagian dada Kris. Yoona masih tidak menyadari bahwa Kris tidak ada di depannya.

“Kenapa kau tidak datang menemuiku, oppa? kenapa kau tidak menjemputku dan membawaku pergi dari tempat ini?  kau jahat, oppa. kau jahat! Tapi kenapa aku tidak bisa membencimu?” isak tangis Yoona semakin menjadi-jadi, pukulannya semakin melemah seiring dengan hilangnya tenaga yang ia miliki.

“Wae, oppa? bahkan tidak bisakah oppa menyampaikan salam perpisahan padaku?” Lirih Yoona. Tangan Yoona yang sejak tadi memukul dinding yang ia anggap Kris mulai mengeluarkan darah, namun  Yoona tetap mengabaikannya dan masih terfokus pada bayangan Kris yang ada di depannya.

Wendy-Perawat yang rencananya ingin memberikan makan siang pada Yoona terkejut melihat kondisi Yoona, nampan berisi makanan yang ia bawa langsung terlepas dari kedua tangannya. Mata Yoona sudah membengkak dengan air mata yang masih mengalir dan kondisi kedua tangan Yoona yang terluka membuat Wendy langsung berlari menghampiri Yoona untuk menghentikan apa yang sedang Yoona lakukan.

“Eonni, hentikan! Eonni menyakiti diri eonni sendiri, aku mohon hentikan.” Teriak Wendy seraya memegang kedua tangan Yoona.

“Andwe, lepaskan tanganku! Lepaskan! aku ingin berbicara dengan Kris oppa, aku ingin berbicara dengannya. LEPASKAN AKU!” balas Yoona tajam seraya berusaha melepaskan tangannya yang dipegang erat oleh Wendy.

“Andwe, aku tidak akan melepaskan tanganmu eonni. Di sini hanya ada eonni dan aku. Kris tidak ada di sini. Sadarlah, eonni. Aku mohon.” Wendy semakin mengeratkan pegangannya pada kedua tangan Yoona mengabaikan semua yang Yoona ucapkan.

“Kris ada di sini, dia ada di sini. Aku ingin berbicara dengannya. Lepasakan aku!” suara Yoona semakin lemah, pandangan matanya semakin kosong. Ia bahkan tidak sanggup lagi melawan tenaga Wendy yang masih memegang erat kedua tangannya.

Wendy berteriak memanggil perawat lain untuk bisa memberitahukan kondisi Yoona pada Minseok. “Ada apa ini, Wendy-ya? Kenapa Nona Im seperti itu?” ucap Ara yang langsung bergegas masuk ke kamar Yoona ketika mendengar teriakan Wendy.

“Aku juga tidak tahu, Ara-ya. Kau harus memanggil dr. Minseok untuk datang kesini secepatnya dan bawa perlengkapan untuk membersihkan luka Nona Im. Ppali!” Balas Wendy cepat.

Ara langsung berlari menuju ruangan Minseok. Ia takut kondisi Yoona semakin bertambah parah. Ara terengah-engah ketika sampai di ruangan Minseok. Tidak hanya Minseok yang ada di ruangannya tetapi juga Luhan yang terlihat masih beristirahat di  sofa yang ada di ruangan Minseok.

“Ara-ssi, ada apa? Kenapa kau berlari-lari seperti ini?” tanya Minseok yang terkejut dengan kedatangan Ara.

“Seongsaengnim, Nona Im…Nona Im melukai dirinya sendiri, tangannya terluka dan ia terus meracau memanggil nama Kris.” Jawab Ara cepat.

“Mwo? Yoona terluka? Apa yang terjadi?” teriak Luhan yang langsung bangun lalu menghampiri Ara.

“Lu, tidak ada waktu untuk menanyakan hal ini terlebih dahulu. Kita harus segera memeriksa keadaan Yoona. ” Balas Minseok yang langsung keluar dari ruangannya setelah mengambil suntikan berisi obat penenang.

.

.

.

Wendy sudah mulai berhasil menenangkan Yoona. Tangisan Yoona mulai berhenti namun Yoona masih meracau memanggil nama Kris. Darah segar masih keluar dari kedua tangan Yoona yang terluka. Wendy terdiam mendengarkan setiap ratapan pilu yang keluar dari mulut Yoona. Ia sudah merawat Yoona sejak pertama kali Yoona mengalami kecelakaan. Terlalu banyak luka dan rasa sakit yang Yoona rasakan sampai Wendy sendiri tidak bisa membayangkan berada di posisi Yoona.

Minseok datang tergopoh-gopoh menghampiri Wendy yang sudah melepaskan tangan Yoona dan beralih memeluk Yoona. Sedangkan Luhan hanya bisa melihat dari luar kamar Yoona, ia tidak sanggup melihat secara langsung keadaan Yoona. Dia mempercayakan sepenuhnya pada Minseok, perasaan dendam dan  amarah yang ia rasakan pada Kris-Kakaknya kembali memenuhi hati dan pikirannya. Sulit bagi Luhan untuk memaafkan Kris yang telah meninggalkan Yoona dan membiarkan Yoona hidup dengan kondisi mengenaskan. Walaupun jauh di hati kecil Luhan, ia menyetujui apa yang Kris lakukan. Cinta terlarang antara Kris dan Yoona tidak boleh dilanjutkan dan Kris lah yang mengambil langkah terlebih dahulu untuk mengakhiri segalanya, mengakhiri semua harapan Yoona untuk bisa memilikinya. Luhan terlalu mencintai adik kesayangannya itu sehingga terkadang sulit baginya untuk bisa melupakan dampak dari apa yang Kris lakukan pada kehidupan Yoona.

Minseok menatap nanar kondisi Yoona dengan tangannya yang terus mengeluarkan darah serta air mata yang kembali mengalir.

“Wendy-ya, apa yang terjadi? Kenapa Yoona bisa seperti ini?” tanya Minseok.

“Aku juga tidak tahu, oppa. Yoona eonni sudah seperti ini ketika aku datang untuk mengantarkan makan siang. Dia terus meracau memanggil nama Kris. apa yang harus kita lakukan, oppa?” jawab Wendy yang masih dihinggapi rasa terkejut dengan kondisi Yoona.

“Yoona-ya, apa yang terjadi? Kenapa kau melukai dirimu sendiri?” tanya Minseok seraya memegang kedua tangan Yoona dengan hati-hati.

“Dia datang, Seongsaengnim. Kris oppa datang menemuiku, tapi kenapa dia tidak menjawab pertanyaanku? Dia hanya terdiam menatapku. Apa dia sangat membenciku sehingga dia tidak ingin menjawab semua pertanyaanku, Seongsaengnim? Kris oppa membenciku dan aku memukulnya. Aku adik yang jahat, pantas saja dia meninggalkanku. Aku wanita jahat!” Jawab Yoona yang mulai terlihat semakin kacau.

Minseok segera mengambil tindakan ketika menyadari Yoona akan kembali berteriak histeris. Ia menyuntikkan obat penenang dan segera mengangkat tubuh kurus Yoona untuk kembali berbaring di tempat tidurnya ketika obat penenang itu mulai bereaksi.

“Wendy-ya, cepat bersihkan luka di tangan Yoona. Jangan tinggalkan Yoona sendiri, aku tidak mau terjadi sesuatu yang buruk pada Yoona dan bersihkan juga darah yang menempel di dinding itu. Aku tidak ingin Yoona kembali histeris karena melihat jejak darah di dinding itu.” perintah Minseok pada Wendy.

“Nde, oppa.” balas Wendy cepat seraya menghampiri Ara yang sudah membawa semua perlengkapan untuk membersihkan luka Yoona.

Minseok berjalan menghampiri Luhan yang menatap nanar Yoona. Luhan pasti semakin tertekan ketika melihat kondisi Yoona, semua itu terlihat jelas dari cara Luhan memandang Yoona.

***

“Bagaimana keadaannya, Minseok-ah? Apa luka di tangannya parah?” cecar Luhan ketika Minseok menghampirinya.

“Yoona sudah mulai tenang, Lu. Tangannya terluka karena memukul dinding, aku sudah menyuruh Wendy untuk membersihkan luka Yoona. Aku rasa Yoona kembali mengingat kenangannya bersama Kris.” jawab Minseok pelan seraya mengamati perubahan ekspresi wajah Luhan.

“Siapa lagi kalau bukan laki-laki itu, Minseok-ah. Apa memang tidak ada cara lain yang bisa kau lakukan untuk menyembuhkan Yoona ? Aku benar-benar tidak sanggup melihat keadaan Yoona yang semakin memburuk” lirih Luhan.

Minseok ragu untuk menjawab pertanyaan Luhan namun akhirnya ia memutuskan untuk menjawab pertanyaan itu. “Ada satu cara yang bisa aku lakukan, Lu. Tapi aku takut prosedur ini akan memberikan dampak yang buruk bagi Yoona” ucap Minseok pelan.

Sinar mata Luhan berubah lebih cerah ketika mendengarkan apa yang Minseok ucapkan “Prosedur apa yang bisa kau lakukan untuk menolong Yoona, Minseok-ah? Kenapa kau baru mengatakannya sekarang?” tanya Luhan

“Aku menghubungi Shannon-teman kuliahku dulu, Lu. Dia menyarankanku untuk melakukan prosedur ‘Mind Burning’ pada Yoona. Prosedur ini akan menghapus semua ingatan Yoona, kita bisa memasukkan ingatan baru dalam pikirannya, tapi mengingat betapa keras kepalanya Yoona aku takut dia tidak akan mempercayai apa yang kita katakan, Lu. Aku takut prosedur ini malah akan membuatnya semakin bingung dan semakin tersiksa.” Jawab Minseok.

“Kau benar, Minseok-ah. Yoona terlalu keras kepala, akan sulit bagi kita untuk meyakinkannya.” Lirih Luhan ketika mengingat sifat buruk adik kesayangannya itu.

“Kau harus membicarakan masalah ini pada orangtuamu, Lu. Pulanglah, aku akan selalu meberitahukanmu perkembangan keadaan Yoona. Kau juga perlu istirahat, Lu.” Ucap Minseok kembali meyakinkan Luhan.

“Aku ingin menemui Yoona lebih dulu, Minseok-ah. Aku akan kembali ke Seoul setelah memastikan ia baik-baik saja.”

“Geurae, aku akan kembali ke ruanganku. Aku rasa Wendy dan Ara sudah selesai membersihkan luka Yoona. Kau bisa menemui Yoona sekarang, Lu.” Minseok menyentuh pundak Luhan pelan lalu beranjak pergi meninggalkannya.

Luhan melangkahkan kakinya ke kamar Yoona. Rasa sesak yang sejak tadi Luhan rasakan semakin menjadi-jadi ketika melihat keadaan Yoona. Kedua tangan Yoona sudah terbalut perban tipis, mata Yoona yang membengkak dengan jejak air mata yang masih tertinggal, dan tubuh Yoona yang semakin kurus. Selama ini, Luhan hanya berani mengawasi Yoona ketika Yoona sudah tertidur dengan duduk di sofa hitam yang memang sengaja diletakkan di kamar itu.

Luhan masih mengingat dengan jelas saat Yoona mulai melupakan orang-orang yang ada di sekitarnya termasuk Luhan dan kedua orangtuanya dan mulai memanggil mereka dengan sebutan orang asing serta berteriak histeris ketika ia bertemu dengan mereka, Yoona berulang kali menyebutkan nama Kris dan Jessica karena hanya dua orang itulah yang masih Yoona ingat, kejadian itu terjadi satu bulan setelah Yoona terbangun dari tidur panjangnya.

Yoona mengalami koma selama dua minggu setelah kecelakaan dan terbangun tepat di hari pernikahan Kris dan Jessica, Kris nekat tetap melangsungkan upacara pernikahannya walaupun Yoona yang tidak lain adalah adiknya sendiri sedang berjuang melawan maut. Luhan menyesali keputusan yang Kris ambil, karena keputusan itulah yang membuat kondisi Yoona bertambah parah.

Luhan menghapus jejak airmata yang masih tertinggal di kedua sudut mata adiknya itu. Merapikan poni yang mulai menutupi mata Yoona, seraya menahan semua air mata yang selalu ingin mengalir ketika ia melihat kondisi Yoona.

“Oppa pergi dulu, Yoong. jangan pernah menyakiti dirimu lagi. Oppa pasti akan kembali menjengukmu walaupun kau tidak pernah mengharapkan kehadiranku. Oppa mencintaimu, Yoong.”

“Luhan oppa…aku merindukan saat-saat kau memanggil namaku, Yoong. semoga kau bisa mengingatku lagi” Luhan memberikan kecupan lembut di kening Yoona dan merapikan selimut yang menutupi tubuh kurus adiknya itu sebelum akhirnya beranjak pergi dari ruang perawatan Yoona.

.

.

.

Luhan sampai di kediaman keluarga Im-tempat tinggalnya, setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 3 jam. Rasa lelah yang ia rasakan harus mampu ia tahan, ia tidak mau membuat kedua orangtuanya bersedih khususnya Ibunya. Ny. Im langsung menyambut kedatangan Luhan ketika mendengar suara mobil Luhan. Terlihat jelas dari raut wajahnya ia sangat mengkhawatirkan Luhan karena sudah seminggu Luhan meninggalkan rumah dan perusahaan untuk menjenguk Yoona.

Luhan yang menyadari kekhwatiran ibunya hanya bisa memberikan senyumannya sebagai tanda bahwa ia baik-baik saja dan memeluk erat ibunya itu.

“Ibu, aku merindukanmu. Aku rasa ibuku ini bertambah cantik. Aigoo, apakah aku harus sering berpergian agar ibuku bisa semakin cantik dan awet muda?” ucap Luhan ketika melepaskan pelukannya.

“Ibu juga merindukanmu, nak. Benarkah ibu semakin cantik? Kalau kau terlalu sering berpergian, ibu akan semakin terlihat tua karena terlalu sering memikirkanmu, Luhan-ah” balas Ny. Im seraya tersenyum mendengar ucapan anaknya itu.

“Ibu adalah satu-satunya ibu tercantik di dunia ini yang bisa melahirkan tiga orang anak  dengan wajah yang rupawan. Di mana ayah, bu?” tanya Luhan pada Ny. Im.

“Ayahmu sedang beristirahat, nak. Selama kau pergi ayahmu yang kembali mengambil alih perusahaan. ibu sudah berulang kali memperingatkan ayahmu itu, tapi ayahmu tidak mau mendengarkan perkataan ibu. Bagaimana kondisi Yoona, nak?” ucap Ny. Im seraya menarik Luhan untuk duduk di sofa besar yang ada di ruangan itu.

Luhan menghembuskan nafasnya dengan berat dan hal itu tidak luput dari perhatian Ny. Im. tanpa harus Luhan katakan pun, Ny. Im sudah tahu bagaimana kondisi Yoona.

“Kondisi Yoona masih sama seperti terakhir kali aku menemuinya, ibu. Minseok memiliki cara untuk menyembuhkan Yoona, tapi cara itu terlalu beresiko.” Lirih Luhan.

Ny. Im tersenyum menenangkan anaknya itu, “Tidak usah terlalu dipikirkan dulu, nak. Ibu yakin Yoona akan baik-baik saja. Kalau memang hanya itu yang bisa kita lakukan untuk menyembuhkan Yoona, kita akan berusaha sebaik mungkin untuk mengurangi dampak yang akan membahayakan Yoona. Sebaiknya kau beristirahat sekarang, nak. Masih ada hari esok untuk memikirkan semuanya. Ibu tidak mau kau jatuh sakit.”

“Nde, ibu. aku akan beristirahat dulu. ibu juga jangan sampai jatuh sakit. Aku sangat menyayangi ibu.” Balas Luhan seraya memeluk erat Ny. Im sebelum akhirnya beranjak pergi ke kamarnya.

Ny. Im tahu beban berat yang Luhan rasakan. Anaknya itu harus menerima kenyataan menjadi satu-satunya pewaris kerajaan bisnis yang sudah susah payah dibangun oleh kakek buyut keluarga Im. Ny. Im sudah kehilangan satu anak yang sangat ia banggakan akibat kecelakaan pesawat udara dan hampir kehilangan anak perempuannya akibat kecelakaan lalu lintas. Kris dan Yoona, kedua anaknya itu bahkan memiliki perasaan terlarang yang tidak seharusnya mereka miliki dan Ny. Im terlambat mengetahuinya. Suaminya yang mengetahui hal itu segera mencari cara untuk menghalangi perasaan cinta yang mereka rasakan. Rencana perjodohan itu pun akhirnya menjadi satu-satunya cara untuk memisahkan Kris dan Yoona, tapi tanpa mereka sadari rencana itu pula lah yang menjadi penyebab hilangnya kebahagian dan kehangatan dalam keluarga Im. Tapi ada daya, nasi telah menjadi bubur, semuanya yang telah terjadi tidak akan pernah  kembali terulang untuk bisa mereka perbaiki.

***

Luhan merebahkan tubuhnya di tempat tidur berukuran king size miliknya tanpa sedikitpun berniat untuk memejamkan matanya. Pikirannya kembali dipenuhi dengan semua kejadian yang terjadi di masa lalu antara Yoona dan Kris. Kejadian-kejadian itu kembali terulang bagaikan rangkaian film hitam putih di pikiran Luhan. Ia tidak pernah menyangka kedekatan yang terjalin antara Yoona dan Kris melebihi ikatan persaudaraan yang selama ini mereka jalani. Luhan menyayangi Yoona dan Kris, tapi sulit bagi Luhan untuk menyalahkan Yoona atas semua kejadian yang selama ini terjadi. Kris juga menderita, Luhan sangat tahu hal itu. Kris berusaha sekuat tenaga untuk bisa membunuh perasaannya dan perasaan Yoona dengan menerima perjodohan yang telah dirancang kedua orang tuanya, tapi satu hal yang Kris tidak bisa pungkiri, tanpa harus menerima pertunangan itu pun, Yoona sudah hancur dan semakin hancur ketika kecelakaan itu merenggut kehidupannya. Yoona memang masih hidup, tapi Luhan merasa hanya raga Yoona yang selama ini berada di salah satu ruang perawatan rumah sakit bongsan. Jiwa Yoona sudah mati semenjak kecelakaan itu terjadi.

.

.

.

Flashback

Keluarga Im sangat terkejut ketika mendengar kabar mengenai kecelakaan yang dialami Yoona, mereka pun segera bergegas menuju rumah sakit. Luhan yang tahu bahwa Yoona menemui Kris di malam itu, segera bisa menebak apa yang menjadi penyebab Yoona mengalami kecelakaan. Kris pasti telah memberitahukan keputusannya untuk menikahi Jessica pada Yoona.

Luhan menatap Kris yang berdiri tidak jauh dari kedua oangtuanya. Pandangan mata Kris menatap nanar pintu ruang operasi-tempat di mana Yoona ditangani, ia berulang kali menengadahkan kepalanya untuk menghalau air mata yang ingin menetes dan berpegangan pada dinding yang berada di dekatnya. Luhan tahu Kris merasa sangat bersalah, itu semua terlihat dari gerak-gerik Kris. Ibunya berada dipelukan ayahnya masih dengan air mata yang mengalir dengan deras sedangkan ia sendiri hanya bisa terdiam melihat semua yang terjadi di hadapannya.

Pintu ruangan itu pun akhirnya terbuka, Kris yang berada tidak jauh dari ruangan itu segera menemui perawat yang keluar dari ruang operasi tersebut.

“Bagaimana keadaan adik saya?” tanya Kris dengan suara yang bergetar.

“Maafkan saya, saat ini tim dokter masih berusaha untuk menyelamatkan Nona Im. Untuk saat ini, kami masih belum bisa menyimpulkan bagaimana kondisi Nona Im. Nona Im kehilangan banyak darah dan kami tidak memiliki persediaan darah dengan golongan darah B Rh+…”

“Golongan darahku B, ambil saja darahku sebanyak yang Yoona butuhkan.” Potong Kris cepat

“Mari ikut saya.” Jawab perawat itu cepat seraya mengarahkan Kris untuk bisa mengikutinya.

Luhan memperhatikan dengan jelas apa yang Kris lakukan, Kris sangat mencintai Yoona. Semua itu sangat mudah untuk bisa disimpulkan oleh siapa pun yang melihat apa yang Kris lakukan untuk Yoona. Sekali lagi Luhan hanya bisa terdiam dan menghembuskan nafasnya dengan berat.

Operasi Yoona selesai tepat satu jam setelah Kris mendonorkan hampir tiga kantong darah untuk Yoona. Kris bersikeras untuk bisa terus menunggu Yoona di depan kamar operasi dan mengabaikan anjuran perawat yang menyuruhnya untuk  beristirahat. Kondisi Kris terlihat sangat lemah, satu hal yang menjadi persamaan Kris dan Yoona, mereka sama-sama keras kepala.

Tim dokter yang menangani operasi Yoona satu per satu keluar dari ruang operasi. Kris hendak berdiri tapi Luhan segera menahannya.

“Hyung, kau duduk saja di sini. Aku akan menghampiri mereka. Kondisimu tidak jauh berbeda dengan kondisi Yoona. Setelah ini kau juga harus beristirahat. Jangan membantah perkataanku.” Perintah Luhan seraya berdiri menghampiri kedua orang tuanya yang sedang berbicara dengan salah satu dokter yang sepertinya memimpin operasi itu.

“Bagaimana keadaan putriku, Changmin-ssi?” tanya Tn. Im

“Terjadi benturan yang sangat keras di kepala Yoona, benturan itu hampir saja mengenai bagian otak kecilnya dan menyebabkan pendarahan hebat. Kami sudah melakukan pembedahan untuk meminimalisir dampak pendarahan yang terjadi. Beberapa tulang rusuk Yoona patah dan terjadi keretakkan pada kedua kaki Yoona, Seulong-ssi. Kami telah berusaha sekuat tenaga untuk bisa menyelamatkan Yoona, tapi saat ini Yoona berada dalam keadaan koma. Aku sendiri tidak bisa memprediksi kapan Yoona akan terbangun, hanya keajaiban yang bisa membuat Yoona terbangun dalam waktu singkat. Maafkan aku, Seulong-ssi, untuk saat ini hanya itu yang bisa kami lakukan.” Ucap dokter bermaga Shim itu panjang lebar.

“Omo, Yoona-ya…Yoona-ya… anakku! apa yang harus kita lakukan, Yeobo?” Racau Ny. Im dengan air mata yang kembali mengalir dengan deras.

Tuan Im hanya bisa memeluk kembali istrinya dengan erat. Air mata yang sudah ia tahan akhirnya mengalir, ia tidak kuasa menahan kesedihannya ketika mengetahui putri yang sangat ia sayangi sedang berusaha keras melawan maut agar terus bisa bertahan hidup.

“Terimakasih, seongsaengnim. Anda sudah bekerja keras.” Ucap Luhan ketika melihat kondisi kedua orangtuanya yang kalut seraya menundukkan badannya untuk memberi hormat pada dokter Shim.

“nde, Luhan-ah. Sekali lagu ahjussi minta maaf karena tidak bisa menolong Yoona. Setelah ini, Yoona akan dipindahkan ke ruang perawatan. Kalian bisa menjenguknya di sana. Jaga keluargamu, nak dan suruh kakakmu untuk beristirahat. Kondisi kakakmu akan semakin buruk jika ia terus memaksakan diri seperti itu” Balas dokter Shim seraya meninggalkan Luhan.

Luhan pun melihat para perawat yang sedang memindahkan Yoona menuju kamar perawatannya. Kepala Yoona sudah terbalut dengan perban, alat bantu pernapasan yang telah terpasang serta terlihat beberapa luka memar di pipi dan di sepanjang lengan Yoona. Luhan berusaha sekuat mungkin menahan kesedihannya, harus ada satu orang yang tidak terpuruk dalam keadaan seperti ini dan Luhan harus bisa menjadi orang itu.

Kedua orangtua Luhan pun mengikuti perawat menuju ruang perawatan Yoona sedangkan Luhan membantu Kris untuk berjalan.

“Hyung, kau benar-benar harus beristirahat setelah ini. Kita harus kuat, ayah dan ibu akan semakin terlihat kacau jika kau juga seperti ini.” Ujar Luhan ketika membantu Kris. “Nde, Lu. Maafkan aku, ini semua salahku. Jika aku tidak meninggalkan Yoona sendirian setelah mengatakan semuanya, kecelakaan itu pasti tidak akan terjadi.” Sesal Kris.

Luhan tidak membalas perkataan Kris dan lebih memilih diam seraya membantu Kris untuk bisa berjalan dan mendapatkan perawatan. Ia masih bingung bagaimana harus mengambil sikap atas semua yang telah terjadi.

***

Tanpa terasa sudah sepuluh hari Yoona berada dalam tidur panjangnya. Kondisi  Yoona sama sekali tidak menunjukkan kemajuan, keadaannya masih sama. Luhan selalu berusaha berbicara pada Yoona, menceritakan semua yang terjadi ketika Yoona tidak bersamanya, ia bahkan menceritakan tentang kekalahan tim sepakbola kesayangannya-Manchester United. Namun, semua itu sia-sia. Yoona sama sekali tidak menunjukkan respon atas semua perkataannya. Luhan selalu berusaha untuk berpikir positif dan meyakinkan dirinya sendiri bahwa Yoona akan sadar suatu hari nanti.

Malam itu, seluruh anggota keluarga Im kecuali Kris berkumpul di ruang perawatan Yoona. Ny. Im sedang membersihkan wajah Yoona dengan penuh rasa kasih sayang, Tn. Im membaca surat kabar dan sesekali melihat ke arah Yoona dan tersenyum haru ketika melihat apa yang sedang istrinya lakukan pada putri kesayangannya itu. Luhan juga ikut tersenyum melihat limpahan kasih sayang yang ibunya berikan pada Yoona. kegiatan yang di lakukan Ny. Im terhenti ketika Kris masuk ke dalam ruang perawatan Yoona, awalnya Luhan hanya menganggap biasa kedatangan Kris tapi ia terkejut ketika menyadari Kris tidak datang sendirian. Kris datang bersama Jessica, ia memegang tangan jessica dengan erat. Luhan bingung dengan kedatangan Kris yang membawa Jessica bersamanya terlebih lagi ketika melihat Kris memegang tangan Jessica. Luhan merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi dan benar saja perkiraan Luhan. Kris memang membawa berita yang buruk.

“Aku akan tetap menikahi Jessica, ayah. Tolong restui kami.” Ucap Kris mantap

“Kau tidak harus melakukannya, Kris. Kalian bisa menundanya. Yoona sedang dalam keadaan seperti ini, ayah bisa mengerti kalau kalian menundanya.” Jawab Tn. Im

“Benar apa yang ayahmu katakan, Kris. Kalian bisa menundanya dulu sampai kondisi Yoona membaik” Ny. Im menghentikan kegiatannya dan duduk di samping Tn. Im.

“Aku rasa ini saat yang tepat, ayah. Aku tidak akan menundanya, lagipula kami sudah mempersiapkan semuanya. Aku sudah menyampaikan keinginanku pada keluarga Jung dan mereka sudah menyetujuinya. Jadi, kami mohon restui kami ayah, ibu.” Ucap Kris seraya menundukkan badannya begitu pula Jessica.

Luhan mengepalkan tangannya, ia sangat marah mendengar keputusan Kris yang bahkan tetap bersikeras untuk menikahi Jessica tanpa memikirkan keadaan Yoona.

Tn. Im tersenyum begitu pula Ny. Im “kalau memang itu keinginan kalian, kami akan merestuinya.”

“Aku tidak merestuinya.” Sanggah Luhan

Semua yang ada di ruangan itu pun langsung memperhatikan Luhan dan terkejut dengan jawaban yang Luhan berikan.

“Sica-ya.. Bisakah kau keluar terlebih dahulu? Aku ingin membicarakan hal ini bersama keluargaku.” Ucap Kris pada Jessica yang langsung keluar setelah mengucapkan salam pada Tn. dan Ny. Im.

“bisa-bisanya kau mengadakan pernikahan di saat kondisi Yoona seperti ini, Hyung. Apa kau tidak memikirkan perasaan Yoona?” tanya Luhan tanpa basa-basi.

“aku melakukan semua ini karena aku memikirkan perasaan Yoona, Lu. Akan lebih baik bagi Yoona ketika ia sadar aku sudah pergi dari negara ini, dia akan lebih mudah melupakanku.” Jawab Kris

“KAU GILA?! Kondisi Yoona akan bertambah parah ketika kau meninggalkannya!” teriak Luhan

“IM LUHAN! Jaga bicaramu, ini rumah sakit dan Kris kakakmu.” Tegur Ny. Im

“Kakak? Apa laki-laki seperti ini pantas disebut seorang kakak? Apa kalian tahu bagaimana perasaan Yoona setelah ia tahu kalian berusaha mematahkan perasaannya? Ia selalu menangis setiap malam dan selalu berpura-pura mengatakan ia baik-baik saja. Aku lelah melihat kondisinya seperti itu, aku lelah! Lalu kalian? Apa pernah kalian menanyakan bagaimana perasaan Yoona selama ini? Kalian selalu bertindak bahwa kalian menyayangi Yoona, tapi di sisi lain kalian juga berusaha untuk menyakitinya. Apa kalian tahu semua itu? Kalian tahu, hah? Khususnya kau, HYUNG!” ucap Luhan dengan penuh emosi. Ia meluapkan semua hal yang selama ini ia tahan.

Tn. Im yang juga terpancing emosi mengangkat tangannya hendak menampar Luhan namun Kris menahan tangan ayahnya itu.

“Ayah ingin menamparku? Silahkan saja. Aku sudah muak dengan semua ini. Apa salah Yoona memiliki perasaan itu? Perasaan seseorang tidak bisa dipaksakan, walaupun aku tahu ini semua terlarang tapi ini semua tidak akan terjadi jika Kris tidak memberi harapan pada Yoona.” lanjut Luhan masih dikuasai emosinya. Tn. Im pun memutuskan untuk meninggalkan kamar Yoona terlebih dahulu sebelum terjadi sesuatu yang mungkin akan ia sesali nantinya.

“Luhan, kontrol emosimu. Ini di rumah sakit, kau bisa berteriak padaku atau bahkan memukulku tapi jangan di sini. Yoona masih bisa mendengarmu.” Balas Kris

“Jadi kau sengaja mengatakan semua ini di sini karena kau sadar Yoona masih bisa mendengarkanmu? Kau bahkan bisa berbuat sekejam itu pada Yoona.” ucap Luhan dengan raut wajah tidak percaya.

“maafkan aku, Lu. Keputusanku sudah bulat. Aku tidak akan membatalkan pernikahan ini. Aku harap kau ada disana dan mau menjadi best man ku. Aku rasa Jessica sudah menunggu terlalu lama. Aku akan mengantarnya pulang. Aku permisi.” Kris lalu beranjak meninggalkan kamar Yoona tanpa sedikitpun memperdulikan kemarahan Luhan.

“kali ini kau sudah keterlaluan, Im Luhan. Ibu dan ayah tidak pernah mengajarimu untuk berbicara tidak sopan seperti itu. Kau harus meminta maaf pada Kris secepatnya. Kami akan pulang malam ini, kau harus merenungkan kesalahanmu. Ibu tidak pernah memiliki anak yang bermulut tajam, ibu akan menganggap kejadian ini tidak pernah terjadi” Tegur Ny. Im seraya beranjak pergi meninggalkan Luhan.

Luhan menyadari kesalahan yang telah ia perbuat, tidak seharusnya ia meluapkan emosinya seperti tadi. Ia hanya tidak percaya pada apa yang Kris sampaikan, semuanya bagaikan mimpi buruk yang semakin menambah panjang daftar penderitaan yang harus Yoona alami.

Seperti apa yang Kris katakan, Yoona masih bisa mendengar semua yang mereka bicarakan. Tanpa ada yang menyadari, airmata Yoona mengalir mengungkapkan segala kepedihan yang ia rasakan.

***

Waktu berjalan dengan begitu cepat. Hari ini adalah hari pernikahan Kris dan Jessica. Luhan sudah merenungkan semua kesalahannya dan memutuskan untuk mendukung keputusan Kris. Luhan kembali berbicara pada Yoona sebelum menuju taman tempat di mana upacara pernikahan itu dilaksanakan.

“Yoong, maafkan oppa. Keputusan Kris hyung untuk menikah dengan Jessica sudah tidak bisa diubah. Oppa hari ini akan memenuhi permintaan Kris hyung untuk menjadi best man di hari pernikahannya. Cepatlah sadar, Yoong. Oppa merindukanmu, sangat merindukanmu. Oppa berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu, tapi oppa mohon kau harus sadar dan kembali menjadi Im Yoona seperti yang dulu. Oppa mohon, Yoong.” Luhan mengenggam tangan Yoona dengan erat menunggu tanda-tanda kesadaran Yoona namun hasilnya tetap sama, tidak ada sama sekali respon yang Yoona berikan.

“Lu, kita harus segera pergi. Acaranya akan segera dimulai, kau tidak boleh terlambat.” Ucap Minseok mengingatkan Luhan.

“oppa harus segera pergi, Yoong. Oppa akan segera datang menemuimu setelah acara itu selesai. Oppa menyayangimu.” Ucap Luhan seraya memberikan kecupan singkat di kening Yoona.

Setelah Luhan dan Minseok pergi, jari tangan Yoona bergerak, kedua matanya pun menunjukkan respon bahwa ia akan segera terbangun. Yoona membuka matanya secara perlahan berusaha beradaptasi dengan keadaan sekitarnya. Ia merasakan sakit di seluruh badanya khususnya dibagian kepala. Ia berusaha mengangkat tangannya namun semua itu terasa sangat sulit.

Perawat yang ingin memeriksa keadaan Yoona pun terkejut ketika melihat Yoona telah sadar.

“Nona Im, anda sudah sadar?” tanya Perawat itu, ia lalu melepaskan alat bantu pernapasan yang terpasang di wajah Yoona setelah menyadari Yoona ingin mengatakan sesuatu dan tampak kesulitan karena alat itu.

“Aku di mana? Kenapa aku bisa ada di sini?” balas Yoona yang masih tampak kebingungan.

“Anda berada di rumah sakit, Nona Im. Anda mengalami kecelakaan dan akibat kecelakaan itu anda koma. Saya senang anda sudah sadar. Nama saya Wendy, saya yang bertugas merawat anda sejak awal anda dirawat di rumah sakit ini” Jawab Perawat itu seraya tersenyum.

“Koma? Sudah berapa lama aku berada di sini? Di mana keluargaku?”

“Nde, Nona. Anda mengalami koma selama dua minggu. Keluarga anda sedang menghadiri pernikahan kakak anda.”

“Pernikahan kakakku? Maksud mu Kris oppa?” tanya Yoona yang terkejut.

“Iya, Nona Im. Hari ini adalah pernikahan Tuan Kris. Tuan Luhan tadi berada di sini lalu kemudian pergi ke acara itu. Saya sudah melihat calon istri Tuan Kris, nona. Wanita itu sangat cantik sama seperti nona.” Wendy terus saja bercerita sedangkan Yoona terdiam dan setelah itu berusaha untuk melepaskan infus yang berada di tangannya.

“Nona Im apa yang anda lakukan? Anda tidak boleh melakukan ini?” seru Wendy kaget ketika melihat apa yang sedang Yoona lakukan.

“Lepaskan aku! Aku ingin ke tempat itu, aku tidak boleh membiarkan mereka menikah. Lepaskan aku!” Yoona terus berusaha melepaskan jarum infus di tangannya namun ia tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk melawan Wendy.

Wendy segera memencet tombol darurat karena takut Yoona akan melakukan tindakan yang lebih nekat. Dokter Shim pun segera datang. Yoona yang menyadari kalau dokter yang menanganinya adalah sahabat ayahnya pun segera menyampaikan keinginannya.

“Ahjussi, aku mohon biarkan aku menghadiri pernikahan Kris oppa. Aku mohon ahjussi.” Pinta Yoona

dr. Shim yang tidak tega melihat kondisi Yoona pun menyanggupi permintaan Yoona.

“Ahjussi akan mengizinkanmu untuk pergi, tapi ahjussi yang akan menemanimu. Kau hanya boleh keluar selama 1 jam, kondisimu masih belum pulih Yoona-ya.”

Yoona tersenyum dan menyanggupi permintaan dr. Shim “Nde, ahjussi. Aku hanya ingin datang ke acara itu. Gomawo.”

“Wendy-ssi, tolong bantu Yoona bersiap-siap dan kau juga ikut bersamaku untuk mengantarkan Yoona. hati-hati ketika memindahkan Yoona ke kursi roda.” Perintah dr. Shim

“Nde, seongsaengnim.”

***

Yoona pun akhirnya sampai ke lokasi pernikahan Kris dan Jessica yang bertempat di sebuah taman indah yang merupakan salah satu aset keluarga Im. Yoona hanya ditemani Wendy yang dengan sabar mendorong kursi roda yang sedang ia pakai, sedangkan dr. Shim sudah terlebih dahulu masuk karena ia juga diundang di acara pernikahan itu dan sudah berjanji pada Yoona bahwa ia akan merahasiakan kabar mengenai sadarnya Yoona dari koma. Yoona beralasan ingin memberikan kejutan pada keluarganya.

Yoona datang dengan menggunakan pakaian rumah sakit yang ditutupi oleh sweater tebal berwarna putih, kepala yang masih berbalutkan perban, luka memar yang meninggalkan bekas, muka yang pucat, pandangan mata yang nanar dan selimut yang menutupi kakinya. Raut wajah Yoona terlihat was-was, ia berharap kedatangannya belum terlambat dan ia masih bisa menghentikan pernikahan ini. Namun sayang harapannya tidak terwujud. Ia terlambat. Ketika ia datang, ia melihat Kris dan Jessica sudah berbagi ciuman manis yang menandakan bahwa mereka telah sah menjadi pasangan suami istri. Air mata Yoona mengalir tanpa terkendali ketika melihat pemandangan menyakitkan yang ada di hadapannya, kesedihan yang ia rasakan tidak bisa dihindari. Wendy hanya bisa terdiam melihat respon Yoona lebih tepatnya ia bingung kenapa Yoona menangis. Wendy merasakan tangan Yoona yang dingin menyentuh tangannya.

“Ada apa, nona Im? Apa nona merasa kesakitan?” tanya Wendy was-was.

“Bawa aku pergi secepatnya dari sini, Wendy-ssi. Aku tidak ingin ada orang yang melihat kedatanganku. Bawa aku kembali ke rumah sakit.” Jawab Yoona lemah.

“anda yakin tidak ingin menemui keluarga anda terlebih dahulu? Bukankah dr. Shim memberikan waktu satu jam untuk nona? Kita juga harus menunggu beliau agar bisa kembali ke rumah sakit” tanya Wendy lagi.

“Aku yakin, cepat bawa aku pergi. Kau bisa memanggil taksi, biarkan saja dr. Shim di sini.” Perintah Yoona

“Baiklah, Nona.” Wendy pun memutuskan untuk berhenti bertanya setelah mendengar perintah Yoona yang terkesan mendesak lalu mendorong kursi roda Yoona untuk meninggalkan lokasi pernikahan itu, tapi ternyata ada yang menyadari kedatangan mereka. Luhan menyadari kedatangan Yoona dan  terkejut ketika melihat Yoona yang sudah sadar.

“Yoona. Im Yoona!” panggil Luhan

“Maafkan saya, Nona Im. Sepertinya Tuan Luhan menyadari kehadiran kita di sini.” Bisik Wendy

“Aku tidak perduli bawa aku segera pergi dari sini.” Balas Yoona dingin.

Wendy pun segera melakukan apa yang Yoona katakan apalagi ketika mendengar perubahan nada suara Yoona yang seperti benar-benar merasa tidak nyaman.

Luhan yang menyadari Yoona akan pergi pun berusaha mengejar Yoona tapi sayang jarak antara ia dan Yoona terlalu jauh sehingga ia kehilangan jejak Yoona.

***

Keluarga Im yang mengetahui kabar bahwa Yoona telah sadar dari komanya merasa sangat gembira namun kegembiraan mereka langsung sirna ketika melihat perubahan sikap Yoona. tidak ada lagi Yoona dengan kepribadian hangat, hanya ada Yoona yang pendiam dan tanpa ekspresi. Kris benar-benar pergi meninggalkan Yoona, Kris melakukan apa yang pernah ia katakan pada Yoona di malam itu. Hal itu semakin menyakiti Yoona, perubahan sikapnya semakin lama semakin mengkhawatirkan. Yoona hidup di dunianya sendiri dan mengabaikan orang lain yang ada di sekitarnya, keadaannya semakin parah ketika ia mulai melupakan semua orang yang berada di sekitarnya dan selalu berteriak memanggil nama Kris dan Jessica. Hal itulah yang akhirnya membuat Tn. Im memutuskan untuk menitipkan Yoona di rumah sakit jiwa Bongsan.

Flashback End

.

.

.

Luhan menghembuskan napasnya dengan kasar. Mengingat kembali semua kejadian itu sama saja artinya dengan membuka luka lama yang bahkan sampai saat ini masih terasa begitu menyakitkan. Tangan kiri luhan bergerak untuk mengambil pigura yang berada di atas lemari nakas di samping tempat tidurnya. Pigura yang di dalamnya terdapat foto dirinya, Yoona dan Kris yang sedang tersenyum lebar dengan latar belakang matahari tenggelam. Foto itu diambil sekitar 4 tahun yang lalu ketika keluarga Im berlibur di Bali. Luhan tersenyum lemah ketika melihat foto itu.

“kenapa kita semua bisa mengalami kejadian seperti ini? Seingatku kita bertiga adalah saudara paling kompak yang ada di dunia ini. Kita dulu bahagia, aku merindukan saat-saat kita bisa tersenyum lebar seperti ini” lirih Luhan

“Hyung, maafkan aku. Andai saja aku tidak memaksamu untuk kembali ke Korea saat itu, kau pasti masih tetap hidup. Kau pasti tidak akan berada di pesawat itu dan meninggal karena ledakan pesawat sialan itu.”

“Yoong, maafkan oppa. Oppa sudah terlalu banyak melakukan kesalahan padamu. Mungkin semua ini tidak akan terjadi jika saja aku bisa membawa Kris hyung dalam keadaan selamat dan datang menemuimu.”

Airmata Luhan kembali mengalir. Ingatannya kembali berusaha untuk menyiksanya. Ingatan ketika ia memaksa Kris untuk kembali ke Korea setelah 1 tahun lamanya laki-laki itu meninggalkan Korea agar bisa menjenguk Yoona yang keadaannya tidak pernah menunjukkan perubahan ke arah yang lebih baik. Pesawat yang ditumpangi Kris dan Jessica meledak tidak lama setelah pesawat itu mendarat di bandara Incheon. Kejadian itu berlangsung sangat cepat, seluruh kru dan penumpang pesawat dinyatakan meninggal. Kejadian itu semakin menambah luka di hati kedua orangtuanya. Ayahnya bahkan sempat mengalami serangan jantung ringan dan ibunya yang selalu meratapi nasib kedua anaknya serta menyalahkan dirinya sendiri karena tidak bisa menjaga anaknya dengan baik. Sejak saat itulah, Luhan mengambil alih perusahaan milik keluarga Im yang sebelumnya dipimpin Ayahnya dan Kris, melupakan cita-citanya untuk bisa menjadi dokter spesialis bedah.

Luhan memejamkan matanya dengan tetap memeluk erat pigura yang tadi ia ambil, berusaha mengumpulkan kembali semangat dan kekuatannya agar bisa menjalani kehidupannya dengan baik. Ia ingin sekali menghadirkan kembali kebahagiaan dan kehangatan di keluarga Im walaupun Kris sudah tiada. Ia tidak akan menyerah untuk bisa mencari jalan kesembuhan bagi Yoona, sudah cukup rasanya ia kehilangan sosok seorang kakak, ia tidak ingin kembali merasakan kehilangan seseorang yang sangat ia sayangi di dunia ini.

***

Yoona mulai terbangun dari tidur lelapnya setelah efek dari obat penenang yang diberikan Minseok habis. Ia membuka matanya secara perlahan dan pandangannya langsung tertuju pada sofa hitam yang telah diduduki oleh seseorang. Seseorang yang sangat Yoona kenal…Kris. Yoona melihat dengan jelas sosok laki-laki berparas rupawan itu yang sedang memandangnya seraya tersenyum. Kris terlihat luar biasa dengan kemeja putih serta celana dengan warna serupa. Kris memandangnya dengan tatapan mata itu, tatapan mata yang selalu Kris berikan jauh sebelum mereka terpisah oleh garis takdir yang menyakitkan. Tatapan mata penuh kasih sayang dan kehangatan yang terpancar, satu dari sekian banyak hal yang Yoona rindukan dari sosok Kris.

Yoona segera turun dari tempat tidurnya untuk menghampiri Kris. Ia ingin sekali memeluk sosok Kris, mengungkapkan segala kerinduan yang ia rasakan semenjak Kris meninggalkannya dan memporak-porandakan kehidupannya. Yoona berusaha berjalan dengan baik, entah kenapa kakinya seakan mati rasa dan sulit untuk digerakkan. Kris masih duduk di sofa itu, senyumannya masih setia membingkai wajahnya, tetap diam di tempatnya berada tanpa berniat sedikit pun membantu Yoona yang terlihat kesulitan untuk menghampirinya.

“Kris oppa…kau benar-benar datang” lirih Yoona setelah ia berada tepat di hadapan Kris. “Kenapa baru sekarang kau menemuiku? Apa kau membenciku?” lanjut Yoona seraya mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah Kris. Namun, belum sempat tangan Yoona menyentuh wajah Kris, laki-laki itu berdiri dan mulai berjalan meninggalkan Yoona.

“Kris oppa..kau mau kemana? Aku mohon jangan pergi. Jangan tinggalkan aku lagi.” ucap Yoona panik. Namun, Kris masih tetap tersenyum memberikan perintah secara tidak langsung pada Yoona untuk mengikutinya. Yoona pun tanpa ragu mengikuti Kris tanpa memperdulikan keadaannya. Ia hanya takut Kris kembali pergi meninggalkannya. Kris terus berjalan dengan sesekali menoleh ke belakang seraya tersenyum untuk memastikan Yoona mengikutinya. Yoona berusaha berjalan mengimbangi langkah kaki Kris dengan susah payah, mengabaikan rasa sakit yang ia rasakan ketika menggerakkan kedua kakinya.

Kris mengarahkannya berjalan keluar dari rumah sakit yang selama ini ia anggap sebagai penjara yang mengurungnya dan memisahkannya dari dunia luar. Kini mereka berada di padang rumput gersang yang jauh dari kata indah. Debu-debu yang berterbangan mengikuti arah angin yang bergerak dengan cukup kencang, Yoona berulang kali mengernyit ketika merasakan kakinya yang tidak beralaskan kaki menginjak bebatuan kecil di sepanjang jalan yang ia lalui. Yoona tidak tahu ke mana Kris akan membawanya hingga pada akhirnya Kris berhenti berjalan lalu mendongakkan kepalanya, Yoona pun melakukan hal yang sama. Alangkah terkejutnya Yoona ketika menyadari apa yang Kris lihat. Sebuah plang nama..tapi bukan itu yang menjadi sumber keterkejutan Yoona, tulisan di plang nama itulah yang membuat Yoona terkejut. Pemakaman Hapkido- mereka kini berada di sebuah kompleks pemakaman.

“Oppa,kenapa kita datang kesini? Bukankah oppa ingin membawaku pergi? Tapi kenapa kita harus kesini?” tanya Yoona bingung serta takut. Kris kembali tidak menjawab pertanyaan Yoona dan berjalan memasuki kompleks pemakaman itu. Yoona hanya bisa mengikuti Kris untuk meminta jawaban atas pertanyaannya. Tidak lama kemudian Kris berhenti di depan dua makam, Yoona pun memberanikan diri bediri di samping Kris dan ia kembali terkejut ketika melihat nama di batu nisan kedua makam itu. Kedua makam itu adalah makam dari dua orang yang selama ini selalu ia ingat-Kris dan Jessica.

Yoona menutup mulutnya dan air matanya langsung mengalir begitu saja. “ini tidak mungkin…ini tidak mungkin. Oppa, ayo kita pergi dari sini. Aku takut..kenapa salah satu makam ini bertuliskan namamu? Ayo kita pergi dari sini.” Teriak Yoona histeris seraya berusaha berjalan menjauhi kedua makam itu.

“ini kenyataannya, Yoong. Apa yang kau lihat semuanya benar. Aku sudah tidak ada di dunia ini lagi.” Ucap Kris yang langsung menghentikan langkah Yoona “aku ingin pergi dari dunia ini tapi aku tidak bisa, Yoong. Aku berat meninggalkanmu, kenapa kau seperti ini, Yoong? Mana Im Yoona yang dulu aku kenal?” lanjut Kris.

“Oppa berbohong. Ini semua tidak benar! Oppa berbohong! Oppa tidak mungkin meninggal” balas Yoona seraya menutup kedua telinganya.

“Aku tidak berbohong, Yoong. Aku dan Jessica meninggal karena kecelakaan pesawat udara ketika ingin menjengukmu. Maafkan aku, Yoong. Aku terpaksa meninggalkanmu tanpa pernah sekalipun mengucapkan kata selamat tinggal padamu.” Kris menghentikan ceritanya sejenak dan memperhatikan Yoona yang masih berdiri kaku di  tempatnya.

“Aku tidak bisa meninggalkan dunia ini sebelum mengucapkan selamat tinggal padamu, Yoong. Kau harus kembali menjadi Im Yoona seperti dulu. Kau tidak bisa terus seperti ini, banyak yang membutuhkanmu. Ayah, ibu dan juga Luhan, kenapa kau melupakan mereka yang tulus menyayangimu dan malah mengingatku yang selalu menyakitimu, Yoong? Aku mohon kembalilah. Aku mencintaimu sepenuh jiwaku, tapi kita tidak bisa bersama Yoong. Aku juga akan memilih untuk tidak pernah dilahirkan di dunia ini jika aku tahu aku hanya bisa menyakiti wanita yang selama ini aku cintai. Hidupmu terlalu berharga, Yoong. Jangan sia-siakan hidupmu untuk laki-laki sepertiku.” Lanjut Kris panjang lebar.

Air mata Yoona mengalir semakin deras ketika mendengar penjelasan Kris. “oppa, wae? Kenapa kau meninggalkanku? Kau mencintaiku, tapi kenapa kau meninggalkanku seperti ini? Aku menunggumu datang untuk mengucapkan kalimat itu, tapi kenapa baru sekarang?” tanya Yoona

“Maafkan aku, Yoong. aku tidak ingin melihatmu terus menerus tersiksa. Sampai kapan pun Kita tidak akan pernah bisa bersatu, sekuat apapun kita mencoba, hasilnya akan tetap sama. Kita hanya manusia biasa yang tidak bisa menantang takdir.” jawab Kris seraya berjalan mendekati Yoona.

“Oppa…maafkan aku. Aku selama ini hanya memikirkan perasaanku sendiri tanpa pernah sekalipun memikirkan perasaanmu. Tapi kenapa? Kenapa hanya aku yang tidak tahu mengenai semua ini? Kenapa hanya aku yang pada akhirnya bertahan di dunia ini? Kenapa Tuhan tidak mengambil nyawaku pada saat kecelakaan itu terjadi? Kenapa hanya kau saja yang pergi, oppa?”

Kris memeluk Yoona, merasakan kembali hangatnya pelukan wanita itu. Membiarkan wanita itu mengungkapkan apa yang ia rasakan selama ini. Membiarkan Yoona menangis di dadanya dan tanpa tersadar air matanya juga ikut mengalir. Perarasaan yang mereka miliki begitu besar sampai-sampai terasa sangat menyakitkan ketika mereka terpaksa harus mengakhirinya. Perasaan yang memang tidak seharusnya ada.

“Tuhan lebih menyayangimu, Yoong. kau harus bisa lebih kuat, banyak orang yang ingin kau kembali menjadi Im Yoona yang dulu. Aku hanya ingin mengucapkan selamat tinggal yang selama ini tidak pernah sempat untuk aku ucapkan, Yoong.” ucap Kris pelan seraya melepaskan pelukannya dan menatap Yoona.

“Aku mencintaimu, aku minta maaf dan selamat tinggal. Tiga kalimat itu yang ingin aku katakan, Yoong. biarkan aku pergi dari dunia ini dan biarkan aku berharap untuk bisa menemuimu di dunia selanjutnya. Aku akan terus mencintaimu sampai kapan pun, Yoong.”

“Aku juga mencintaimu, oppa. Sangat mencintaimu. Aku juga ingin meminta maaf karena tidak pernah memikirkan perasaanmu. Aku terlalu egois. Aku juga berharap kita bisa bertemu di dunia selanjutnya.” Balas Yoona mencoba untuk kuat.

“aku bahagia karena masih diberi kesempatan untuk mengatakan hal ini padamu, Yoong. aku akan pergi sekarang. Ingatlah permohonanku. Kau harus kembali menjadi Im Yoona yang dulu dan berusaha untuk mengingat semua orang yang menyayangimu.”

Yoona kembali memeluk Kris untuk yang terakhir kalinya sebelum Kris benar-benar pergi dari kehidupannya. Mencoba untuk mengingat dengan baik pertemuan terakhir mereka.

“Waktuku telah tiba, Yoong. aku harus pergi. Selamat tinggal…maafkan aku…aku mencintaimu, Yoong. semoga kita bisa bertemu kembali dengan takdir yang lebih baik.” Kris melepaskan pelukan Yoona dan memberikan ciuman hangat di kening Yoona sebagai salam perpisahannya.

Yoona hanya bisa terdiam, berusaha untuk tetap berdiri ketika melihat Kris mulai berjalan mendekati cahaya putih yang siap untuk membawanya pergi. Kris membalikkan badannya dan tersenyum manis ke arah Yoona sebelum akhirnya menghilang untuk selamanya.

.

.

.

Yoona mengerjapkan matanya dan tersadar bahwa apa yang ia alami sebelumnya hanyalah sebuah mimpi yang entah kenapa terasa sangat nyata. Semua yang diucapkan Kris, perasaan itu, ciuman dan pelukan itu, Yoona merasakannya. Yoona bahkan tidak tahu kapan ia berpindah dari tempat tidurnya dan malah tertidur di lantai dingin ruangannya, yang Yoona tahu perasaannya hampa, seluruh hatinya seakan mati, ia kehilangan orientasi. Yoona menangis meraung-raung dan berteriak histeris ketika mengingat kembali apa yang Kris katakan dalam mimpinya, berusaha mengungkapkan semua emosi yang ia rasakan.

***

7 days Later….

Hari ini adalah jadwal konsultasi Yoona dan dr. Minseok. Luhan kembali datang untuk memantau langsung proses konsultasi itu. Ia dan keluarganya sudah memutuskan untuk melakukan prosedur yang Minseok katakan sebelumnya jika kondisi Yoona tidak menunjukkan perubahan. Minseok memberitahukan perkembangan kondisi Yoona setiap hari padanya dan berdasarkan laporan Minseok, kondisi Yoona tidak menunjukkan perubahan bahkan lebih parah dari sebelumnya. Di hari yang sama ketika Luhan meninggalkan rumah sakit, Yoona kembali berteriak histeris setelah efek obat penenang yang diberikan Minseok habis dan setelah itu Yoona bahkan tidak pernah mau memakan makanannya sehingga Minseok harus memasang infus pada Yoona. adiknya itu juga tidak mengatakan sepatah kata pun, bahkan Minseok berulang kali membatalkan jadwal konsultasi Yoona karena wanita itu tidak kunjung menjawab pertanyaan yang Minseok berikan. Hal itulah yang membuat Luhan dan orangtuanya mengambil jalan akhir untuk kesembuhan Yoona.

“Kau datang, Lu? Bukankah kau sedang sibuk? Aku dengar kau akan melakukan pembangunan hotel baru di Jepang.” Tanya Minseok ketika melihat Luhan yang sedang berjalan menghampirinya.

“Aku mengkhawatirkan keadaan Yoona. Kesembuhan adikku jauh lebih penting dibandingkan seluruh kekayaan yang keluarga kami miliki. Kau sudah mempersiapkan semuanya, bukan?” jawab Luhan

“Kalian sudah yakin? Aku takut akan ada penyesalan setelah prosedur itu dilakukan, Lu.” Ucap Minseok ragu.

“Kami yakin, Minseok-ah. Kami akan lebih menyesal jika terus membiarkan Yoona seperti ini.”

“Aku akan berusaha melakukannya sebaik mungkin, Lu. Jangan khawatir.”

Pembicaraan mereka terhenti ketika Wendy menghampiri mereka dan mengatakan bahwa Yoona sudah berada di ruangan konsultasi. Mereka pun segera bergegas untuk menuju ruang konsultasi.

“Kau tidak menunggu di ruanganku, Lu?” tanya Minseok ketika Luhan hendak mengikutinya masuk ke ruang konsultasi.

“aku ingin melihat secara langsung, Minseok-ah. Aku sangat merindukan adikku itu.”

“apa kau yakin?” tanya Minseok lagi

“aku yakin, Minseok-ah.” Balas Luhan mantap

“Baiklah kalau seperti itu, kau bisa duduk di samping Wendy. Usahakan jangan terlalu dekat dengan Yoona. aku takut dia akan berteriak histeris ketika melihatmu.”

“Aku mengerti, Minseok-ah. Kau tenang saja.”

Minseok langsung duduk di kursi yang tepat berada di hadapan Yoona. kondisi Yoona sangat menyedihkan, tubuhnya yang sudah kurus semakin bertambah kurus, pandangan matanya nanar, tidak ada semangat kehidupan yang terpancar dari mata itu. Minseok mengalihkan pandangannya ke arah Luhan yang juga sedang memperhatikan Yoona dengan mata yang berkaca-kaca.  Hati kakak mana yang tidak terluka ketika melihat kondisi saudaranya yang memang jauh dari kata baik-baik saja. Tanpa mau menunda lebih lama, Minseok segera memulai sesi konsultasinya dengan harapan Yoona mau menjawab semua pertanyaannya.

“Apa kabarmu hari ini, Nona Im? Apa kau baik-baik saja?” tanya Minseok

“…” tidak ada balasan dari Yoona sehingga Minseok kembali melanjutkan pertanyaannya.

“Aku lihat kau baik-baik saja, walaupun wajahmu pucat dan badanmu terlihat semakin kurus. Tapi kau tenang saja Nona Im, kau masih terlihat cantik” ucap Minseok lagi dan Yoona masih belum mau memberikan respon. Yoona tetap asyik dengan pikirannya sendiri, mengalihkan pandangannya ke arah jendela.

“apa yang kau lihat di sana, Nona Im? Apa ada sesuatu yang menarik? Kau mau menceritakannya padaku? Aku akan menjadi pendengar yang baik.”

“….”

“apa kau ingin keluar dari tempat ini, Nona Im? Aku tahu pasti kau merindukan dunia luar. Maafkan aku karena tidak bisa mengabulkan keinginanmu itu. Kau harus sembuh terlebih dahulu, setelah itu aku akan dengan senang hati membawamu keluar dari tempat ini. Aku berjanji, Nona Im”

“….”

Luhan dan Wendy yang berada di ruangan itu terlihat khawatir. Yoona tidak mau menjawab satu pun pertanyaan Minseok. Luhan menghembuskan napasnya dengan berat dan menutup matanya sejenak, lalu mengisyaratkan pada Minseok untuk segera memulai proses ‘Mind Burning’ pada Yoona. kondisi Yoona semakin parah dan hanya keajaiban saja yang bisa membuat Yoona kembali seperti dulu.

Minseok menutup agendanya dan hendak berdiri ketika melihat isyarat yang Luhan berikan padanya. Ia sudah tidak tahu lagi apa yang bisa ia lakukan untuk menolong. Tepat sebelum Minseok meninggalkan Yoona, tanpa disangka Yoona mengatakan sesuatu yang membuat orang-orang yang ada di ruangan itu terkejut.

“Seongsaengnim…kau berbohong. Aku tahu semuanya.”

“A-a-apa maksudmu, Nona Im? Kapan aku berbohong padamu?” tanya Minseok gugup

“kau membiarkanku menunggu orang yang sampai kapan pun tidak akan pernah bisa menemuiku, apa itu bukan suatu kebohongan? Kenapa kau membiarkanku menjadi satu-satunya orang yang tidak tahu tentang semua ini?” balas Yoona dengan air mata yang mulai mengalir.

“Nona Im, aku masih tidak mengerti apa maksud dari ucapanmu. Apa ada yang salah?”

“Kris oppa, apa dia…apa dia masih hidup?” tanya Yoona lagi menatap Minseok dengan air mata yang mengalir dengan deras.

Luhan tidak mampu menyembunyikan rasa keterkejutannya ketika mendengar semua yang Yoona katakan. Ia tidak habis pikir darimana Yoona mengetahui tentang kebenaran semua itu.

“Sepertinya aku memang sudah gila. Kris oppa datang menemuiku dan membawaku ke pemakamannya. Ia mengatakan tiga hal yang selama ini ingin sekali aku dengar. Aku mencintaimu…selamat tinggal…maafkan aku lalu dia menghilang untuk selamanya. Aku memang sudah gila.” Lanjut Yoona lagi seraya memukul kepalanya dengan sisa tenaga yang ia miliki.

Minseok menghampiri Yoona dan memegang kedua lengan kurus itu. “kau tidak gila, Nona Im. Kau tidak gila. Berhenti menyakiti dirimu sendiri.” Balas Minseok

“Apa semua itu benar? Kris oppa sudah meninggal, seong…tidak Minseok oppa?”

“Kau mengingatku, Yoong? kau mengenaliku?” tanya Minseok terkejut

“Aku mengingat semuanya, oppa. Semuanya..maafkan aku. Maafkan aku yang masih saja bertindak bodoh. Aku tidak sanggup menjalani semua ini, oppa. Aku ingin pergi dari dunia ini.” Isak tangis Yoona semakin menjadi-jadi setelah mengungkapkan kepura-puraannya selama ini. “Jadi..apa semua itu benar?” tanya Yoona masih dengan pertanyaan yang sama.

Minseok terdiam lalu berdiri ketika ia melihat Luhan yang meminta izin padanya untuk menghampiri Yoona. Minseok menganggukkan kepalanya sebagai pertanda ia menyetujui keinginan Luhan dan membiarkan Luhan sendiri yang mengatakan kebenarannya pada Yoona.

“Yoona..Im Yoona” ucap Luhan

Yoona mengalihkan pandangannya ke arah Luhan yang berjalan mendekatinya “Luhan oppa” balas Yoona

Luhan langsung memeluk Yoona, mengungkapkan semua kerinduan yang selama ini ia rasakan. “Oppa merindukanmu, Yoong. kenapa kau membutuhkan waktu yang lama untuk kembali, eoh? Kau tidak merindukanku?” tanya Luhan seraya mengeratkan pelukannya.

“Aku juga merindukanmu, oppa. Maafkan aku..maafkan semua kebodohanku.”

“Berhenti menyalahkan dirimu sendiri, Yoong. oppa sudah memaafkanmu sejak dulu.”

“Jadi, apa semuanya benar oppa? Aku mohon ceritakan semuanya padaku.”

Luhan menceritakan semua hal yang telah terjadi. Air mata Yoona terus mengalir ketika mendengar semuanya. Tetapi entah kenapa, hatinya terasa lebih ringan. Kris benar. Masih banyak orang yang menyayanginya dan dia telah melupakan mereka selama ini. Hidup dalam dunianya sendiri, sendirian menghadapi semua masalah dan rasa sakit yang ia rasakan tanpa sekalipun mau membaginya dengan orang lain.

“Kau baik-baik saja, Yoong?” tanya Luhan memastikan keadaan Yoona. ia takut Yoona kembali merasa tertekan.

“Aku baik-baik saja, oppa. Terimakasih karena oppa tidak pernah meninggalkanku dan tidak pernah menyerah. Aku ingin pulang oppa. Aku merindukan rumah.” Yoona kembali memeluk Luhan. Minseok dan Wendy yang melihat hal itu tidak bisa menahan air mata. Perjuangan mereka tidak sia-sia, mereka berhasil membawa Yoona kembali.

“Kita pasti akan pulang, Yoong. oppa akan membawamu kembali ke rumah kita.” Jawab Luhan.

Yoona berusaha tersenyum ketika mendengar apa yang Luhan katakan. Ia kembali melihat bayangan Kris yang sedang tersenyum padanya, melambaikan tangannya sebagai salam perpisahan lalu kembali menghilang. Meninggalkan Yoona yang sudah kembali seperti dulu. Sosok Im Yoona yang penuh dengan ekspresi dan berkepribadian hangat. Im Yoona yang telah lama dirindukan semua orang.

“Aku akan menuruti keinginanmu, oppa. Kau benar..masih banyak yang menyayangiku. Semoga kita bisa bertemu kembali di dunia selanjutnya dengan takdir yang lebih baik. Aku mencintaimu…selamat tinggal Kris oppa.” Batin Yoona ketika melihat bayangan Kris

Tidak semua cerita yang kita rencanakan akan berakhir sama seperti yang kita inginkan. Adakalanya kita tidak mengetahui apa yang terjadi saat kita berusaha mewujudkan cerita itu. Sebuah cerita yang hanya diri kita yang tidak mengetahuinya bisa menjadi bumerang yang menghancurkan segalanya. Namun, kalau kita berusaha untuk melakukannya dengan sebaik mungkin, bumerang itu mungkin akan menjadi lolipop yang mempermanis jalan cerita itu sendiri.

END

***

A/N : Yuhuuu…balik lagi ke dunia per’FF’an setelah hampir overdosis sama tugas-tugas kuliah. Ide cerita ini muncul begitu aja ketika aku ngeliat MV IU dengan judul yang sama. Gimana menurut kalian? Bagus kah? Jelek kah? Ini sebenarnya udah lama, tapi selalu ketunda buat di post. Banyak masalah, salah satunya faktor laptop rusak yang langsung bikin drop.

Aku lagi nungguin banget MV EXO yang Overdose, sayang mereka promosinya dipisah lagi, huhu. Aku ikutan terharu banget sama tragedi tenggelamnya kapal feri di Korea Selatan, apalagi pas denger cerita-cerita korban #PrayForSouthKorea. Walaupun, comeback EXO ketunda, tapi aku yakin EXO Fans itu bukan fans labil yang bakalan berkoar-koar ngebash sana sini, hehe. Aku gak maksa kalian buat kasih komentar, yang mau kasih komentar terimakasih banget J see youuuuuu ^^

12 thoughts on “The Story Only I Didn’t Know

  1. Muantap ceritanya…. pengennya ada sequelnya lagi dech… kan Yoona dah sembuh dan ternyata dia ada ketemu cowok yg mirip sama Kris lagi… hehehe… pasti asyik ya… jarang lho ada cerita Yoona ama Kris…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s