Memorable 11

Memorable03

 

cr : Tintin305

Judul         : Memorable 11

Author      : HyukgumSmile

Genre        : Romance, Family

Rating       : PG-17

Main Cast  : Im yoona, Tiffany, Cho kyu hyun, Choi siwon, Im nara

 

Happy Reading^^

 

“minggu depan akan ada pekan aksi anak. Akan ada banyak lomba dan hadiah. Apa kalian ingin ikut?”

“ne, miss park!!”

“nah, agar kalian bisa ikut berlomba, jangan lupa meminta appa dan eomma untuk ikut serta, ne?!”

“ne!!”

“besok miss akan buatkan sebuah undangan agar kalian tidak perlu repot-repot menjelaskannya. Sekarang, sebelum appa dan eomma kalian menjemput, ayo pikirkan perlombaan mana yang akan kalian ikuti. Miss park akan mengantarkan ini keruangan ibu kepala. Jangan kemana-mana, arrachi?”

“arraseo!”

Semua murid mulai berkumpul dengan beberapa teman mereka. Mulai mengoceh dan saling bertanya mereka harus ikut lomba yang mana. Para gadis kecil tengah saling berdiskusi. Sedangkan para bocah lelaki kini justru terlihat tengah membanggakan diri jika mereka akan menang.

Nara masih disana. Masih duduk tepat ditengah-tengah ruangan. Melirik beberapa kubu yang saling membentuk sebuah lingkaran. Biasanya, nara akan ikut bergabung dengan mimi dan boomie. Atau dengan daehyun dan jinmi.

Atau dengan siapapun. Karena nara memang bisa bergaul dengan mudah. Tapi kali ini berbeda. Ia merasa jika ia tak dapat berkumpul seperti mereka. Mereka tentu tengah membicarakan eomma dan appa. Dan nara jelas jelas hanya memiliki mommy.

Nara buru-buru berdiri dan berlari menuju pintu kelas. Kaki-kaki kecilnya segera masuk kedalam sepatu lalu ia berlari menyusuri koridor.

“miss park!!”

Tangan kecil nara tergantung diudara. Saat miss park berbalik, nara menghembuskan nafasnya lega lalu berhenti berlari dan menunduk. Berusaha untuk mengatur kembali nafasnya.

Wanita yang ia panggil itu segera mengkerutkan kening. Miss park kemudian benar-benar berbalik dan berjalan menuju nara. Ia berjongkok untuk menyamakan tinggi mereka lalu memegang bahu nara.

“ya, sayang?” tanyanya lembut.

Nara masih berusaha mengatur nafasnya. Ia kemudian berdiri dan menatap miss park lekat-lekat. Apa ia harus menanyakan ini? Tapi,,

“miss park, apa syarat untuk ikut berlomba harus memerlukan appa?”

Miss park terkejut bukan main. Kedua bola matanya membesar sebentar lalu ia mulai berusaha untuk mengendalikan keadaan. Ia tersenyum tipis. “tidak juga, memangnya kenapa?”

Nara mengerjap. Tatapannya sungguh datar. Sebenarnya ia tak mau mengatakan ini. Tapi nara harus mengatakannya. Jika ia ingin ikut lomba. Dan juga,, agar ia diperbolehkan ikut meski tanpa appa.

“aku tidak punya appa. Bolehkan aku hanya membawa mommy?”

Miss mark semakin terkejut. Mana ada seorang anak lahir tanpa ayah. Ini konyol sekali. Miss park berusaha tersenyum tipis, berharap jika nara hanya tengah berbagi lelucon. Nara memang anak yang pintar. Jadi, jika ini lelucon maka nara sukses mambuatnya terkejut.

“ra-ya, tidak mungkin nara tidak punya appa” tuturnya lembut.

Nara mengerjap dengan kedua bola mata polos miliknya. Nah, ini yang ia tak mengerti. Setiap ia berkata jika ia tak punya appa, maka setiap orang juga akan membalasnya dengan kata ‘tidak mungkin’. Apannya yang tidak mungkin? Nara memang tak memiliki appa.

“tapi miss park, aku memang tidak memiliki appa”

Aneh, setau nara, appa itu adalah orang yang selalu bersama eomma. Lalu apakah edd itu appa?

“nara pasti punya appa. Appa itu seseorang yang selalu bersama eomma, bersama mommy. Meskipun terkadang sibuk, ia tetap saja appa”

Nara mengerjap semakin bingung. Sibuk? Memangnya siapa yang sibuk? Apa sekarang miss park berpikir jika appanya sedang bekerja diluaran sana? Tapi, nara memang tidak punya appa. Harus berapa kali lagi ia katakan.

Miss park menyentuh pundak nara lembut. “appa itu lelaki yang selalu melindungi nara dan mommy. Yang selalu ada semenjak nara kecil hingga saat ini”

Nara mencoba menganalisa yang satu ini. Selalu melindungi dirinya dan mommy, selalu ada semenjak ia kecil hingga hari ini. Pria itu,,

Hanya edd yang seperti itu. Lalu, apakah edd itu appa? Tapi edd bukan appa. Mommy pernah berkata jika suatu saat nara akan bertemu appa. Itu berarti ia samasekali belum pernah bertemu appa.

“aku tidak tau, miss park. Aku hanya mengenal edd hingga saat ini. Tapi sepertinya edd bukan appa”

Miss park menghela nafasnya putus asa. Berpikir bagaimana bisa gadis sekecil nara tidak mengenal seorang appa. Miss park melenguh penuh iba saat nara berbalik dan kembali berjalan menuju kelas usai berterimakasih padanya.

“ra-ya!”

Nara berbalik, menatap miss park bingung. Dari penjelasan miss park padanya, miss park selalu bersikeras jika ia punya appa. Itu berarti dengan kata lain miss park tidak akan memperbolehkannya ikut jika tanpa appa.

Lalu nara harus mencari appanya dimana?

“ya, miss park?” jawab nara lemas.

Miss park tersenyum tipis. “nara boleh membawa mommy jika nara ingin. Jangan sampai tidak hadir, eoh!”

 

 

__

“jadi kau benar-benar akan pergi?”

Yoona memunguti beberapa belanjaan miliknya dengan mata masih memperhatikan tiffany. Yeoja bermata cantik itu mengagguk sekali. “aku tidak mungkin melewatkan paris fashion week, yoon” ia tersenyum, memperlihatkan garis tipis dikedua kelopak matanya yang cantik.

Yoona mendengus sekali “kau akan pergi sendiri?”

“sepertinya begitu. Kau tau,kan, kyu hyun tidak mungkin mau diajak pergi bersama”

Tiffany mengedik, diikuti dengan tatapan agak putus asa milik yoona. “seharusnya memang seperti itu, tiff. kalian belum menikah. Karena itu cepatlah menikah agar dia bisa mengikutimu kemanapun”

Yoona terkekeh geli saat tiffany mengerucutkan bibirnya kesal. “kau tau, yoon. Aku pergi juga karena terlalu kesal padanya”

Yoona menyatukan kedua alisnya. Kini mata yoona tak lagi ingin mengolok. “wae?” tanyanya antusian bercampur prihatin.

Tiffany berdecak keras. “tiga hari yang lalu aku membawanya untuk fitting baju pernikahan dan kau tau? Dia menolaknya. Sialan”

Yoona terkekeh kecil saat tiffany mengumpat kesal. “bukankah kau yang berkata jika akan menunggunya?”

Tiffany diam sejenak. Lalu menatap yoona meminta dukungan “awalnya begitu. Tapi sepertinya lebih cepat juga lebih baik”

Yoona berdiri, disusul oleh tiffany. Beberapa barang belanjaan mereka tergantung pada tangan lalu dua yeoja itu segera berjalan menuju pintu kelaur.

“jadi, bagaimana?”

“entahlah. Memikirkan namja sialan itu cukup memusingkan, yoon. Karena itu aku ingin pergi”

Yoona mengusap lengan tiffany lembut. Ia tau seperti apa keras kepala dan manjanya tiffany yang bertolak belakang dengan kyu hyun. Jadi, masalah seperti ini sudah ia temui semenjak mereka masih berpacaran, dulu.

“jangan terlalu difikirkan”

Tiffany mengedik sekali. “jadi kau benar-benar tidak bisa ikut?”

“tidak bisa, tiff. aku harus menyelesaikan—“

“pernikahan ahreum secepatnya. Orgh!”

Yoona tersenyum menanggapinya. Dasar tiffany, tidak pernah sekalipun tak mengeluh. Sifat dasar yang bahkan selalu yoona hafal dari nyonya pengeluh ini.

Mereka sampai didepan kafe. Jam makan siang sudah berlalu dan yoona harus kembali. Jadi, ia melirik sekitar kafe untuk memastikan sesuatu.

“kau yakin tidak ingin aku antar?”

Yoona berbalik menatap tiffany lalu tersenyum sungkan. “aku sudah menghubungi ji yeon untuk menjemputku. Aku rasa kau masih harus berbelanja untuk keperluan acara berliburmu. Jadi, tidak terimakasih”

Tiffany memutar bola matanya malas. Yoona terlalu terbiasa melebih-lebihkan kenyataan. Ia, kan, hanya akan pergi ke paris. Memangnya apa lagi yang harus ia beli?

“ya sudah. Aku pergi dulu”

Yoona menyambut pelukan tiffany dengan hangat. Terkekeh saat tiffany mencium pipinya, seperti kebiasaan gadis itu, dulu. Dan berlari menuju mobil yang sudah menjemputnya.

“eum, hati-hati dijalan!”

Tiffany berbalik dan kembali melambaikan tangannya. Lalu setelah itu ia menghilang dibalik pintu mobil dan mobil itu melesat menjauh. Yoona melenguh sekali. Entah sejak kapak, ia merasa menjadi lebih baik ketika bersama tiffany.

Gadis itu memang berubah menjadi lebih penggerutu dan lebih pengumpat. Ia juga lebih cerewet. Tapi tiffany sekaligus berubah menjadi wanita dewasa yang menyenangkan. Pembicaraan mereka tak akan pernah bisa berhenti jika yoona tak menghentikannya.

Seperti itulah mengasikkannya tiffany.

Yoona melirik jam pada pergelangan tangannya. Sudah lebih dari sepuluh menit. Kepalanya berputar memperhatikan jalanan yang tidak seramai biasanya. Lalu tiba-tiba matanya menangkap mobil hitam mengkilat milik perusahaan.

Yoona tersenyum lega.

Tangannya melambai lalu tak lama ji yeon berhenti dipinggiran jalan. Yoona mengerutkan keningnya cepat. Untuk apa? Yoona, kan, bisa berjalan menuju mobil.

Tapi pertanyaannya justru semakin membuncah saat ji yeon berlari menuju kearahnya.

“ji, ada ap—“

“yoong! Awas!!”

Yoona merasa didorong kuat. Tak lama sebuah suara pecahan terdengar tepat disampingnya. Kedua mata yoona terbuka cepat, membesar tak percaya.

“akhh!”

Yeoja itu menoleh kesamping, menemukan ji yeon dengan tungkai yang berdarah. Kepala yoona terasa semakin berat. Apa lagi, kali ini?

“ji, kau baik-baik saja? Ji? Ayo,, ayo kita rumah sakit”

Yoona segera berdiri, menemukan pecahan vas bunga yang terbuat dari keramik yang telah terpecah belah. Beberapa menancap pada kaki ji yeon dan membuatnya berdarah. Yoona tersentak. Tanpa tedeng aling ia segera menoleh menuju atap kafe dan sejenak menemukan seseorang yang menggunakan penutup wajah berwarna hitam disana.

“hei!! Tunggu!!” pekiknya.

Yoona hampir pergi mengejarnya saat tiba-tiba supir kantor yang mengantarkan ji yeon untuk menjemputnya datang. “tolong bawa nona ji yeon menuju mobil, aku perlu mengejar seseorang”

Yoona menatap ji yeon yang menjauh, lalu tak lama segera berlari menuju kafe. Semua mata seperti menatapnya penuh rasa aneh, tapi ji yeon tak perduli. Dengan serampangan ia memasuki kafe dan berhenti tepat didepan kasir.

“dimana tangga lantai atas?” tanyanya tanpa basa basi.

Gadis itu menunjuk ruang belakang kafe. Dan yoona segera melangkah maju. Ia perlu tau siapa yang sejauh ini terus meneror hidupnya. Yoona mungkin takut. Tapi jika dengan mempertahankan rasa takut berarti ia harus mengorbankan keselamatan orang-orang disekitarnya, maka yoona tidak ingin tinggal diam.

Diujung sana, ada ruangan remang yang tak terjangkau cahaya. Dari kejauhan ini yoona dapat melihat jika ujung anak tangga berada disana. Jadi, tanpa menunggu waktu ia segera berjalan.

Namun baru beberapa langkah maju, yoona merasakan ponselnya bergetar. Yoona berhenti. Kini firasatnya jauh lebih buru. Yoona buru-buru meraih ponselnya. Nomor baru yang sekali lagi tidak dikenal.

Yoona terdiam, lalu menekan tombol hijau saat tiba-tiba suara itu menghentak alam bawah sadarnya. Yoona terpaku dengan kedua bola mata yang jauh lebih ketakutan.

“selamat siang, im yoona. Aku dengar im nara tengah asik dengan sekolah barunya. Boleh aku datang berkunjung?”

Jantung yoona seakan berhenti. Kedua tangannya bergetar hebat lalu hubungan ponsel tertutup. Yoona merasakan jika oksigen disekitarnya hampir habis.

“nara.. IM NARA!!” teriaknya cepat.

Yoona berbalik, berlari menuju luaran kafe dan menemukan ji yeon masih menunggunya didalam mobil. Yoona menatap ponselnya dengan kedua tangan yang bergetar. Dengan berjalan secepat mungkin, yoona berhenti didepan jendela.

“kau bisa kerumah sakit sendiri? Aku harus menjemput nara. Pak lee antarkan nona ji yeon kerumah sakit terdekat. Sekarang!!”

Ji yeon menatapnya dengan mata tak percaya. Penuh kecemasan dan meminta penjelasan. “yoon, apa yang terjadi? Kau—“

“tidak ada waktu untuk menjelaskannya, ji. Kau harus kerumah sakit. Pak lee, jalan!”

Yoona berbalik meninggalkan mobil lalu berhenti ketika ponselnya berbunyi. Pada sambungan nada ketiga, yoona membesarkan bola matanya lega.

“yeob—“

“siwon-ah! Aku di l’dutch kafe. Cepat jemari, kita harus menjemput nara!!”

 

__

Nara meraih sebuah pensil warna lalu kembali menggoreskannya pada kertas yang sudah terlebih dahulu ia gambar. Ia tersenyum kecil, sudah berjanji pada edd dan eomma akan membawakan sebuah gambar yang menakjubkan untuk ia tempel didinidng kamarnya nanti.

“kau yakin, ingin menggambar itu?”

Nara menoleh kesamping dan menemukan daehyun yang juga belum dijemput orang tuanya. Nara menatapnya bingung, lalu mengangguk.

“ya, memangnya apa yang salah dengan ini?”

Daehyun menggeleng polos. Ia ingin berbicara banyak pada nara. Semenjak awal nara ikut bergabung dengan kelas belajarnya, daehyun sudah tau jika nara akan menjadi teman yang sangat amat menyenangkan.

Daehyun meletakkan pensil warnanya, menggeser posisi duduknya dengan lucu lalu kini berada disamping nara.

“kau tidak ingin menggambarkan keluargamu?”

Nara yang sebelumnya terus berusaha mewaranai gambarnya kini berhenti. Merasa tertarik dengan pembicaraan daehyun. Nara segera menoleh kesamping, lalu menatap daehyun ragu. “keluarga?” ulangnya.

Daehyun mengangguk antusias. Ia segera merangkak menuju tas yang ia letakkan tak jauh dari meja mewarnai lalu mengacak-acak isinya. Nara menatapnya bingung bukan main. Daehyun mau melakukan apa?

Nara terus memperhatikannya hingga daehyun berhenti, berbalik dan kembali duduk disampingnya. “seperti ini!” ujar daehyun memberikan selembar kertas yang sudah ia warnai sebelumnya.

“apa ini?”

Daehyun menghembuskan nafasnya geram. Salah satu tangannya memegangi sudut gambar lalu yang satu laginya  sibuk menunjuk.

“yang ini appa, yang ini eomma” daehyun menunjuk dua orang yang terlihat lebih besar “yang ini hyung dan ini aku” tuturnya ceria.

Nara mengerjap bingung. “lalu?” ujarnya polos.

Kini daehyun lebih frustasi lagi. Ia mengacak rambutnya putus asa lalu segera mendelik nara. “ini keluarga, ra-ya” tukasnya meyakinkan nara.

Nara mengerjap. Keluarga? Jadi ini yang namanya keluarga? Nara menatap gambar yang daehyun buat dengan lekat. Ada empat orang. Jadi, nara tidak punya keluarga? Ia hanya punya mommy dan edd.

“aku tidak punya hyung” tuturnya.

Daehyun menepuk wajahnya sekali “aish,, ini bukan—“

“hyunnie.. eomma datang!!”

Daehyun segera berbalik dan menemukan eommanya tengah berdiri dan tersenyum didepan pintu. Daehyun buru buru ikut tersenyum saat eommanya kemudian datang dan duduk dibelakang mereka.

“apa yang kalian lakukan? Eoh, ini gambar siapa?”

“ini gambar daehyun, ahjumma”

Nara memberikan selembar kertas itu pada eomma daehyun. Wanita itu tersenyum kemudian menatap nara dan mengacak rambutnya lembut. “nara belum dijemput?”

Nara menggeleng pelan. “mungkin mommy masih sibuk. Tidak apa apa, daehyun boleh pulang lebih dulu, ahjumma”

Nara menatap daehyun yang cemberut. Biasanya, daehyun memang akan bersikeras menunggui nara hingga mereka akan sama-sama dijemput. Tapi kali ini nara ingin sendiri. Ia merasa jika daehyun pulang mungkin ia bisa berpikir mengapa ia tidak memiliki appa dan seorang hyung.

“benarkah?” nara mengangguk.

“hyun-ah, pulanglah. Aku bisa menunggu mommy sendiri”

Daehyun mengerucutkan bibirnya putus asa. “kau yakin kau akan baik-baik saja?”

Dan sekali lagi nara mengangguk. Daehyun pada akhirnya menurut. Berpamitan dengannya lalu menghilang dengan cepat.

Nara terdiam. Keluarga, ya? Harus punya appa dan hyung? Tapi nara tidak punya yang seperti itu. Ia hanya punya mommy dan edd bukanlah appa. Oh! Atau apakah edd itu hyung?

Nara meletakkan pensil warnanya lemas. Ia tak lagi berniat untuk menggambar. Nara memasukkannya dengan rapi lalu menyimpan buku gambar yang masih terlihat belum sempurna.

Nara duduk, menyandarkan dirinya pada dinding kelas dan melipat lalu memeluk kakinya cepat. Miss park belum kembali. Padahal ia berkata jika ia hanya akan pergi sebentar. Nara melenguh bosan.

“im nara?”

Nara mendongak. Menemukan seseorang yang kini berdiri didepan pintu kelas. Keningnya dengan cepat berkerut lalu menatapnya bingung. “ya?” balasnya ragu.

Seseorang itu mendekat. Dan baru nara sadari jika ia adalah seorang wanita. Dengan kacamata besar dan rambut bergelombang yang tegang. Nara menatapnya curiga. Mana ada manusia yang aneh seperti ini. Ia juga menutupi hampir seluruh wajahnya dengan sesekali meletakkan jemarinya pada bibir.

Tapi nara dengan jelas bisa menatap bola matanya. Dan tiba-tiba nara merasa jika wanita itu tidak baik.

“aku diminta eommamu untuk menjemputmu”

Nara menyatukan alisnya cepat. Lalu menggeser tubuhnya mundur. “mommy hanya akan meminta ji yeon imo jika ia tidak bisa menjemputku”

Wanita itu tertawa kecil. Dan nara semakin yakin jika wanita itu tidak baik. Nara mencoba untuk berdiri dan berjalan melewatinya. Tapi tiba-tiba ahjumma itu menahan pergelangan tangannya lalu menghempaskannya menuju lantai.

“aku bilang eommamu memintaku untuk menjemputmu. Jadi, sekarang ikut denganku!”

Nara membesarkan bola matanya takut. Ahjumma itu mendekat dan segera menggendongnya. Nara memberontak dan memekik keras. “lepaskan! Mommy tidak mungkin memintamu untuk menjemputku!! Aku tidak percaya lepas—akh!!”

Nara terduduk dimeja menggambarnya dengan raut wajah kesakitan. Oh tidak, jika miss park tau ia pasti menasihati nara karena duduk diatas meja itu tidak baik. Nara berpaling menatap ahjumma yang kini balas menatapnya dengan kedua mata yang luar biasa menakutkan.

“ahjumma, aku—“

“diam!! Sekali lagi kau berontak, maka aku akan mencekikmu hingga kau tak sadarkan diri!” nara bungkam. Tubuhnya bergetar luar biasa. Ia ingin menangis. Tapi nara tidak terbiasa menangis jika bukan didepan mommy. “cepat ikut!!”

Nara terbelalak takut. Ia tidak boleh mengikuti siapapun yang tidak ia kenali. Mommy bilang ia harus tetap berada disana apapun yang terjadi. Akhirnya nara menahan tangannya kuat meski ia tau jika tenaga kecilnya tak akan sebanding dengan milik ahjumma itu.

“cepat ikut!!”

“anio.. aku tidak mau. Akh!!”

“cep—“

“IM NARA!!”

 

 

__

“apa kau tidak bisa lebih cepat?!”

Siwon menatap yoona kalut. Ia tak tau mengenai hal apapun kecuali kepanikan luar biasa yoona yang pada akhirnya memintanya untuk melajukan mobil dengan kecepatan diatas rata-rata menuju sekolah baru nara.

“lebih cepat!!”

“sayang kau kenapa? Ini sudah yang paling cepat. Coba jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi”

Yoona tak memperdulikannya. Jemarinya yang memerah karena tetesan darah itu terus saling menggenggam. Yoona tidak melakukan apapun selain mendesah gusar dan menatap jalan didepannya dengan curiga.

Mobil mereka berhenti tepat didepan pagar sekolah. Yoona merasakah jika aliran darahnya berdesir hebat saat seluruh pekarangan sekolah tampak sepi. Tangannya terjulur untuk membuka pintu sebelum akhirnya tertahan oleh siwon.

“yoon, bisakah kau jelaskan padaku. Aku tidak mengerti mengapa—“

“kita tidak punya banyak waktu, siwon-ah! Aku harus menjemput nara!”

Yoona membuka pintu dan dengan cepat berjalan menuju pagar sekolah. Siwon menatapnya kecewa. Yoona terlihat tidak baik-baik saja dan ia harus tau masalahnya. Siwon harus tau apa yang membuat wanitanya hidup dalam ketakutan yang luar biasa.

Siwon membuka pintu lalu berlari menuju yoona yang sudah menjauh. “yoon!!”

Tangannya dengan cepat mencekal pergelangan tangan yoona. Detik berikutnya siwon justru dihadiahi tatapan mengerikan dari yoona yang semakin membuatnya tak mengerti. Tapi ia juga ingin tau. Dan kali ini siwon ingin bertindak sedikit egois. Yoona tak boleh menyimpan ketakutannya sendiri.

“jelaskan padaku!” tegasnya.

Yoona menatapnya penuh kecemasan. “tidak bisa sekarang. Nara sedang—“

“sekarang, yoon!”

Yoona menggeram “argh! Seseorang menerorku beberapa minggu ini dan aku tidak bisa berhenti cemas saat ia mengetahui jika nara sedang bersekolah. Kau tau, kan, nara sedang berada didalam bahaya. Dia bahkan hampir membunuhku dan bukan tidak mungkin jika nara—“

“aakh!!”

Siwon dan yoona berbalik cepat.

“IM NARA!!”

“RA-YA!!”

Ucap mereka bersamaan. Yoona segera berlari menuju salah satu kelas yang selalu nara gunakan untuk menungguinya sepulang sekolah. Begitupun dengan siwon. Sungguh, ia tak membutuhkan penjelasan macam apapun saat teriakan nara menggema dalam benaknya.

Siwon kalut, ia ikut berlari dan kemudian terhenti saat melihat seseorang keluar dari sebuah kelas dengan berlari. “hey! Siapa kau?! Tunggu!!”

Siwon segera mengejarnya cepat sementara yoona menghambur kedalam kelas. Batinnya seketika merasa tercabik-cabik saat melihat nara menangis diujung kelas. “ra-ya..” panggilnya kalut.

Nara segera menoleh ketika ia mendengar suara yoona. Kepalanya mendongak dan ia menangis semakin keraas. “mommy!! Mommy,, hiks”

Nara menghambur kedalam pelukan yoona. Memeluknya erat-erat lalu menangis sejadi-jadinya. Nara tak ingin terlihat sebegitu cengengnya. Tapi ia benar-benar takut. Nara tak ingin dibawa oleh siapapun kemanapun. Ia hanya ingin berada disamping yoona.

Siwon datang didepan pintu dengan nafas terengah. Bulir keringat membasahi seluruh tubuhnya. Dengan cepat namja itu berlari, memeluk yoona sekaligus nara yang kini semakin terisak kencang.

Siwon hanya diam. Membiarkan nara terus meraung dan yoona yang masih terpukul berat didalam pelukannya. Berharap jika dengan seperti ini, ia bisa memberikan kenyamanan untuk mereka.

 

 

__

Yoona berjalan cepat menyusuri koridor rumah sakit. Beberapa bagian tubuh nara memerah. Lebam dan membutuhkan pertolongan medis.

“dokter!!”

Siwon memeluk nara erat-erat. Gadis itu terus mencengkram kemeja yang menyelimuti bahu siwon kuat. Dan dari situ saja siwon tau jika nara tengah berada dalam kesakitan tiada tara.

Siwon tak pernah sepanik ini. Ia bahkan tak sepanik saat ia menemukan yoona pingsan beberapa minggu yang lalu. Ini, berbeda. Ini im nara! Gadis kecil pembangkangnya yang tengah terluka.

“dokter!!”

Siwon berteriak kencang saat pada akhirnya kerumunan perawat rumah sakit datang. Siwon tak perlu memikirkan akan semangganggu apa ia bagi pasien lainnya. Siwon tak pernah seegois ini, tapi jika itu menyangkut nara, maka siwon akan melupakan segala tata krama yang ia punya.

“ya, tuan, ada yang bisa kami bantu?”

Siwon segera memperbaiki posisi nara dalam gendongannya. “anakku terluka. Cepat berikan pertolongan!”

Yoona hanya terdiam. Siwon berteriak. Dan itu memang bukan untuk yang pertama kali baginya. Tapi ini berbeda sekali, siwon terlihat begitu takut kehilangan nara. Meskipun yoona juga tentu merasakan hal yang sama, yoona bahkan jauh lebih kalut, tapi ia belum pernah melihat siwon seperti itu.

Siwon duduk tepat didepan ruang periksa. Yoona dan nara massih berada didalam dan ia justru benar-benar tak sampai hati ketika melihat nara menjerit takut pada sebuah jarum suntik.

Siwon ingin menenangkannya, tapi kini justru pikirannya sendiri tak bisa tenang. Kata-kata yoona terus menghantuinya hingga beberapa saat ini. Dan siwon benci sekali kenyataan jika ia tidak bisa sepenuhnya melindungi yoona ataupun nara.

Pintu ruangan terbuka dan yoona keluar dari sana. Ia tersenyum tipis, berusaha menyiratkan pada siwon jika semua akan baik-baik saja. Namja itu menatapnya kalut, lalu segera menunduk dan mendesah.

“nara baik-baik saja”

Yoona duduk tepat disampingnya. Menyentuh bahu siwon yang tegang lalu mengusapnya pelan. Yoona tau, siwon pasti tengah beranggapan banyak hal mengenai ini semua. Itu memang gayanya sekali, memikirkan banyak hal secara berlebihan.

“mengapa kau tidak pernah mengatakan ini padaku?!”

Siwon bergumam dalam tundukannya. Ia merasa menjadi pria paling tak berguna jika yoona terus menerus menutupi masalahnya seperti ini. Siwon juga butuh keterbukaan. Ia butuh yoona menumpahkan segala keluh kesahnya pada siwon.

Hanya itu saja. Mengapa terasa sangat sulit untuk yoona?

“kau tau aku seperti lelaki tak berguna jika seperti ini. Seseorang terus membuntutimu dan membahayakan nyawamu beserta nara sementara aku tak tau apa-apa”

Yoona menunduk sedih. Ia tau ia salah. Tapi ia punya banyak alasan untuk ini semua. Yoona memeluk siwon tanpa aba-aba. Sekali lagi, siapapun tau jika siwon hanya membutuhkan yoona. Maka tanpa banyak bicara namja itu segera melingkarkan tangannya pada punggung yoona. Mendesah berat tepat dibahu yoona.

“maafkan aku” bisik yoona pelan. “aku akan menceritakannya. Tapi tidak saat ini. Nara ingin kau masuk dan menemuinya”

 

Siwon membuka pintu ruangan pelan, namun tanpa ia sadari nara sudah duduk dan menatap kedatangannya dengan awas. Siwon tak dapat memilih melakukan apapun selain segera tersenyum dan menghambur memeluk nara dengan cepat.

“kau baik-baik saja?” tanyanya lembut dengan nada penuh candaan.

Nara hanya mengangguk, lalu kembali memeluknya erat. “aku tidak ingin lagi pergi kesekolah”

Siwon hanya tersenyum menanggapi pernyataan nara. Tangannya mengusap sayang punggung nara lau mencium puncak kepalanya sekali. “apapun yang kau mau, ra-ya”

 

 

__

“dimana ji yeon dirawat?”

Siwon mengikuti yoona yang terus berjalan. Karena luka nara tidak terlalu parah, maka gadis itu diperbolehkan untuk pulang. Siwon dan yoona menyempatkan diri untuk mengunjungi ji yeon yang juga berada dalam rumah sakit yang sama.

Yoona tak mungkin melupakan sekertaris kesayangannya itu. “kamar 302,, itu!”

Siwon mengikutinya yang berjalan menuju kamar inap ji yeon. Wanita yang setau yoona mendapatkan kecelakaan karena menolongnya itu kini pasti tengah terlelap karena jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam.

“aku takut dia sudah tertidur” yoona menatap siwon ragu.

“kita pulang saja jika dia sudah tidur”

Yoona mengangguk. Dengan perlahan ia membuka pintu kamar dan terkejut bukan main. Yoona membelalakkan bola matanya, kembali melirik nomor kamar dan menatap sisi ranjang ji yeon terkejut.

“ada apa?”

Yoona berbalik menatap siwon. “ada laki-laki disana. Setauku ji yeon tidak memiliki kekasih”

Siwon mengerutkan keningnya cepat. “biar aku yang pertama” ia mengalihkan gendongan nara pada yoona lalu kembali membuka pintu.

Benar. Ada laki-laki didalam sana. Siwon melangkah pelan, namun entah pendengaran lelaki itu setajam apa hingga ia kemudian berbalik dan menatap siwon serta yoona bingung. Lelaki itu mengusap tengkuknya ragu lalu berdehem.

“kalian,, ingin menjenguk ji yeon?” tanyanya.

Yoona mengangguk ragu. Namun anehnya lelaki itu tersenyum dan yoona merasa jika ia mengenal senyuman itu.  Yoona melangkah maju dan berdiri tepat disamping ranjang tempat ji yeon terbaring.

“dia sudah tidur terlalu lama. Ingin kubangunkan?”

Yoona menggeleng cepat. “tidak, tidak perlu” tukasnya menahan. Ia menatap lelaki itu lekat lekat. Benar, sepertinya yoona mengenal lelaki ini. Tapi dimana? “emm,, boleh aku tau kau siapa?”

Lelaki itu tersenyum tipis. Tangannya terjulur sempurna lalu dengan suara bariton rendah yang super seksi ia berucap. “spencer lee. Temannya ji yeon. Dan kau?”

“oh, aku im—“

“spence, apa yang kau lakukan dirumah sa—yoon ?!”

Yoona berbalik, menatap kyu hyun yang kini datang bersama tiffany. Ia kembali menatap lelaki didepannya dengan wajah penuh guratan kebingungan dan kembali menatap kyu hyun ragu.

 

 

__

Kyu hyun terus memperhatikan yoona yang kali ini tengah sibuk berbicara dengan tiffany dan ji yeon. Tapi bukan itu masalahnya. Yang kyu hyun tau, nara bukan gadis yang lemah hingga harus terus meminta sebuah gendongan.

Jujur saja, meski masih menyimpan rasa cemburu yang teramat besar pada siwon, kyu hyun justru lebih tertarik pada nara yang hari itu terlihat lemas.

“aku tidak tau jika itu adalah yoona-mu”

Kyu hyun mendelik tajam pada spencer yang kini beralih duduk tepat disampingnya. “tutup mulutmu, sialan. Kau pikir aku juga tak terkejut melihatmu bersama ji yeon?”

Spencer menampilkan deretan gusi miliknya. Ia memang belum mengatakan apapun pada kyu hyun mengenai ji yeon.

“jadi kau kembali karena ji yeon?”

Spencer menatap kyu hyun ragu. Sebenarnya lebih pada rasa bersalah karena kyu hyun harus tau dengan cara seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi, spencer belum siap mengatakan jika ia dapat  menemukan cinta pertamanya dan kembali hanya untuk berjuang.

“ck. Sialan. Kau memang bukan kembali karena pekerjaan. Kau juga bukan berlibur. Tapi kau kembali karena sosok park ji yeon yang baru kutau ternyata adalah cinta pertamamu. Apa aku salah?”

Spencer menggeleng dan kembali tertawa dengan deretan giginya. “berhenti tertawa seperti itu. Kau membuatku ingin merontokkan gigi-gigimu spence”

Spencer terkekeh geli. Ia memang tak menceritakan apapun. Tapi kyu hyun juga merupakan penebak dan pembaca pikiran yang handal. Bahkan semenjak mereka saling mengenal, kyu hyun dan spencer tak dapat menyembunyikan apapun satu sama lainnya.

“boleh aku menggendongnya?”

Kyu hyun dan spencer segera menoleh dan mendapati tiffany dengan wajah super cemasnya tengah memohon pada siwon. Kyu hyun mengerutkan dahinya cepat. Mengapa tiffany harus sehati-hati itu?

Maka tanpa memperdulikan spencer kyu hyun segera berdiri menghampiri tiffany, berhenti tepat dibelakangnya lalu berjengit kaget saat mendapati tubuh nara yang penuh lebam kebiruan.

“apa yang terjadi, yoon?”

Yoona dan tiffany segera menoleh. Tiffany yang mulanya terlihat hati-hati kini berdiri tepat disamping kyu hyun. Memperbaiki letak nara yang masih terlelap karena pengaruh obat bius pada tubuhnya.

Kyu hyun menatap yoona meminta penjelasan. Sementara siwon dan spencer tampak berdiam diri tanpa merasa perlu ikut campur. Yoona bergerak gelisah. Ia memang sudah berbaikan dengan kyu hyun, beberapa hari yang lalu. Jadi mungkin karena hal itulah kyu hyun merasa jika ia tak lagi perlu merasa cemas jika berada didekat yoona.

“emm,, itu,, nara—“

“nara terjatuh saat bermain disekolah bersama teman-temannya. Benar, kan, yoon?” tiffany menyela dan menatap kyu hyun garang “berhenti berbuat onar, kyu. Nara masih tertidur dan ji yeon juga butuh ketenangan”

Tiffany memeluk nara didalam selimut tebalnya. Ia memilih untuk duduk disamping siwon lalu mengacuhkan kyu hyu yang kini menatapnya ragu. Kyu hyun tau, tiffany pasti masih merasa kesal karena semenjak tiga hari yang lalu hingga detik sebelum kyu hyun menerima pesan dari spencer mereka masih belum berbaikan.

Tiffany masih memaksanya untuk segera mencocokkan busana pernikahan sementara dalam waktu dekat ini ia sedang terlalu malas untuk membahasnya.

“aku akan membelikanmu minuman hangat”

Siwon beranjak pergi, meninggalkan yoona yang kala itu akhirnya memilih untuk duduk disamping tiffany.

“apa aku harus menunda keberangkatanku?”

Yoona menatap tiffany ragu. Tiffany memang terlalu menyukai anak-anak. Tapi jika dalam keadaan ia tidak tau bahwa nara adalah putri kecil yoona saja ia masih bersimpati, maka yoona tak lagi memiliki cara untuk berterimakasih selain memeluknya.

“terimakasih, tapi itu tidak perlu”

Tiffany tersenyum lembut. “apa nara akan dijemput oleh orang tuanya?”

Yoona mau tak mau mengangguk, lalu dengan cepat kembali menggeleng. “maksudku, aku dan siwon akan mengantarkannya besok pagi”

Tiffany mengangguk paham lalu kembali terfokus pada nara. Sementara yoon tau dengan pasti jika kini kyu hyun tengah menatapnya sengit. Mau bagaimana lagi, yoona tak mungkin mengatakan jika nara adalah anaknya. Tiffany belum perlu tau karena akan menimbulkan banyak pertanyaan yang terlalu sulit untuk dijawab.

Yoona belum menikah, dan memiliki anak diluar nihak terdengar ekstrim meskipun yoona telah melaluinya hampir lima tahun belakangan. Lagipula, tiffany memang seharusnya tak tau. Karena jika itu sampai terjadi yoona tak tau akan membuat kekacauan seperti apa. Tiffany gadis yang manja, dan selama ini sudah terlaul bergantung pada kyu hyun.

“aku berangkat besok siang, yoon.”

Yoona menatap tiffany cepat “perlu aku mengantarkanmu?” tanyanya. Yoona tentu bukan hanya berbasa-basi karena jika tiffny mau ia memang akan mengantarkan sahabatnya itu menuju bandara.

Tiffany tersenyum tipis. “tidak, itu tidak perlu. Mungkin akan lebih baik jika kau disini bersama ji yeon”

Yoona hanya mengangguk. Ia sedang tak ingin berdebat dengan tiffany. Yeoja itu melihat jam tangan miliknya dan melirik keluar ruangan. Ini hanya lantai tiga. Mengapa siwon begitu lama sekali?

“mencari siwon?”

Yoona berbalik lalu tersenyum tipis, “aku akan menyusulnya, kami harus segera pulang. Ini sudah terlalu malam. Aku titipkan nara padamu, tiff”

“eum.. cepat kembali”

Yoona mengangguk lalu mengecup kening nara lembut. Mengusap pipinya sayang dan menatap kedua mata nara yang masih tertutup sebentar. “kau ingin kupesankan sesuatu?” yoona mendongak dan menatap tiifany.

Tiffany menggeleng pelan. “tidak perlu” ujarnya. Yoona mengangguk paham lalu segera berjalan menuju pintu ruangan. Setelahnya, kyu hyun beralih duduk tepat disamping tiffany.  Membuat wanita itu segera mendengus dan berbalik badan.

“tiff—“

“jangan mendebatku, kyu. Ini masih di rumah sakit”

Kyu hyun mendengus malas. Memangnya siapa yang mau mencari ribut dengannya? Kyu hyun selalu antipati dengan sifat tiffany yang satu ini. Yeoja yang kini hampir memasuki umur seperempat abad itu tetap saja masih sering merajuk. Benar-benar tidak sepadan dengan umurnya.

“kau masih marah?”

Tiffany tak berbalik. Tentu saja ia masih kesal. Lagipula, kyu hyun belum meminta maaf, itu berarti kyu hyun belum benar-benar tau apa kesalahannya. Jadi, bagaimana tiffany tidak akan bertambah jengkel jika namja itu hanya terus mengajaknya berbicara tanpa meminta maaf?

“oke, maafkan aku”

Tffany tertegun sejenak. Oh, kyu hyun mulai lagi. Tiffany benci sekali jika namja itu sudah mulai mengeluarkan ilmu membaca pikiran miliknya. Kyu hyun dalam sekejap akan tau seluruh isi kepalanya jika sudah seperti itu.

“aku salah. Aku tidak akan melakukannya lagi”

Kyu hyun menyentuh lengan tiffany lalu memutar tubuhnya perlahan. Dan, ya, memang tiffany tak akan pernah bisa menolak apapun jenis permintaan maaf yang kyu hyun lontarkan. Jadi, ia ikut luruh ketika kyu hyun memberikan senyuman itu padanya.

“maaf” bisik kyu hyun pelan.

“lain kali jangan seperti itu. Kau bisa mengatakannya jauh-jauh hari. Bukan saat aku sudah mengatur janji dengan mereka. Aku malu jika harus terus menunda dan membatalkan janjinya”

Kyu hyuh mengangguk patuh. Ia tau, mungkin kali ini ia memang sedikit berlebihan “lain kali juga berundinglah denganku. Aku butuh waktu tiff. tidak selamanya kita harus terfokus pada pernikahan. Biarkan saja semua mengalir perlahan”

Tiffany diam. Tak menjawab. Yeoja itu menunduk dan memilih menatap nara yang masih terlelap dalam pelukannya. “kasihan nara” ujarnya pelan.

Kyu hyun mengulas sebuah senyuman tipis. Biasanya jika tiffany tidak membalas perdebatannya, atau memilih untuk diam, itu pertanda bahwa ia menerima jika ia memang salah. Dan itu sudah lebih dari cukup untuk kyu hyun.

“wae?” tanyanya pelan berusaha untuk tak membangunkan nara.

“ini pasti sakit sekali”

Kyu hyun melirik bagian lengan nara yang lebam. Benar, pasti sakit sekali. Bahkan hanya karena melihatnya saja, kyu hyun merasa jika kulitnya ditarik, dipisahkan secara paksa. Gadis kecil yang baru-baru ini ia ketahui sebagai anaknya itu tengah terluka. Dan bodohnya, kyu hyun tak dapat melindungi nara. Bahkan sekedar memeluknya saat ini.

Kyu hyun menahan diri untuk tak merebut nara dari pelukan tiffany. Ia lalu berpikir apa yang akan tiffany lakukan jika yeoja itu tau jika nara adalah anaknya dan yoona. Apa tiffany tetap akan sesayang ini pada nara? Atau justru berbalik membenci nara?

Tapi apapun itu yang tentu sangat amat pasti terjadi adalah ia akan terluka. Meski nanti tiffany bisa bersikap dewasa dengan menerima kenyataan, kyu hyun sangsi sekali jika yeoja itu tetap akan baik baik saja. Kyu hyun kenal betul siapa tiffany.

“dimana yoona?”

Kyu hyun tersentak dan segera berbalik. Ia menemukan siwon dengan satu kantung kopi sejumlah mereka yang semula berada didalam kamar rawat ji yeon. Tapi kali ini berbeda. Siwon menyapukan bola matanya keseluruh ruangan lalu segera bertanya dengan nada rendah.

Siwon maju, meletakkan cup kopi yang banyak itu diatas meja lalu kembali mengelilingi kamar dengan bola matanya. “dimana yoona?” tanyanya kembali dengan nada yang jauh lebih cemas.

“yoona turun untuk mencarimu, siwon-ah. Ada apa?”

Siwon segera menatap tiffany dengan raut wajah yang sulit diartikan. Dan tiffany menanggapinya  dengan keterkejutan luar biasa. Mereka kemudian diam, memperhatikan siwon yang kini terlihat mengacak rambutnya gusar lalu berjalan cepat menuju pintu.

“siwon-ah, ada apa?”

“tiffany-ssi tolong jaga nara. Jangan biarkan dia lepas dari pengawasanmu. Aku harus mencari yoona”

Tiifany tertohok melihat wajah serius siwon. Apa yang terjadi? Ia ingin bertanya banyak. Bukankah yoona hanya turun untuk menyusulnya? Sebentar lagi yeoja itu juga akan kembali. Tapi belum sempat ia bertanya, siwon sudah berlalu.

Kyu hyun menatap punggung siwon nanar. Ini tidak benar. Ini jelas tidak benar. Siwon tak mungkin secemas itu jika semua baik-baik saja. Jadi, dengan cepat kyu hyun menyimpulkan jika keadaan sedang tidak baik-baik saja.

Kyu hyun segera berdiri, Mengejar siwon yang masih berjalan menggapai pintu lalu mencekal pergelangan tangannya cepat. “mengapa kau harus secemas itu? Yoona hanya turun untuk meny—“

“dengar, kyu hyun-ssi. Aku tidak tau ini terjadi sejak kapan. Yang jelas yoona tengah berada dalam bahaya, begitupun dengan nara. Seseorang meneror hidupnya dan dia tidak boleh berada dalam keadaan sendiri. Sekarang, bantu aku untuk mencarinya. Kumohon!”

Kyu hyun tercengang bukan main. Matanya tak lagi dapat mengerjap lalu ia mulai berpikir jika choi siwon adalah namja gila. Tidak ada aksi saling meneror pada jaman sekarang. Mengapa ia harus secemas ini?

“jangan konyol, siwon-ssi. Tidak ada—“

“aku ikut”

Kyu hyun berbalik menatap spencer yang sudah bersiap disebelahnya lalu menghujani pria itu dengan tatapan ‘kau tidak perlu ikut campur’. Tapi spencer tidak perduli, ia melirik siwon tenang lalu melangkah maju.

“sejak awal aku tau luka gadis kecil itu tak mungkin hanya disebabkan karena terjatuh” ujarnya memutuskan.

Kyu hyun tersentak. Spencer berjalan lebih dulu lalu disusul siwon yang kali ini meninggalkannya. Kyu hyun menatap punggung mereka yang tengah berlari kecil dalam hati yang berdebar.

Sial! Jika spencer sudah memutuskan maka ini jelas bukan lagi main-main. Kyu hyun segera akan menutup pintu untuk menyusul mereka sebelum suara tiffany terdengar.

“aku ikut!”

Kyu hyun berbalik, menatapnya lalu menatap ji yeon yang sudah terlelap. Ia menyentuh lengan tiffany lembut, mencoba menenangkan yeoja yang sorot matanya mulai dipenuhi kecemasan itu.

“kau disini saja, jaga nara dan ji yeon” ucap kyu hyun menahan.

“t tapi kyu,, aku takut. Jangan tinggalkan kami”

Kyu hyun menatapnya meyakinkan. “percayalah tiff, nara dan ji yeon membutuhkanmu. Tolong jaga mereka. Kau bisa terluka jika kau ikut dan aku tidak ingin itu terjadi” ia maju, mengecup kening tiffany pelan “hubungi aku jika terjadi sesuatu” bisiknya lalu segera berbalik dan berlari kencang menyusul siwon beserta spencer.

 

 

__

Yoona berhenti melangkahkan kakinya diujung koridor. Ini sudah lantai satu dan didepan sana ada sebuah kafetaria yang menyediakan kopi. Jadi, mengapa siwon begitu lama sekali? Lantai satu dan lantai tiga tak akan menyentuh angka satu menit jika menggunakan lift.

Yoona melenguh lemah. Tubuhnya terasa letih sekali. Entah karena beban fsik atau psikis, yang jelas ia ingin segera beristirahat dan melepaskan –jika perlu melupakan- segala kejadian hari ini.

Tungkai panjang yeoja itu kembali melangkah, mendekati kafetaria yang terlihat sangat sepi. Wajar saja, waktu hampir menunjukkan pukul sebelas malam. Tidak ada pasien ataupun keluarga mereka yang akan keluar ruangan demi hal apapun.

Jam besuk pasien juga sudah habis. Jika bukan karena telah memberikan alasan kuat dan berjanji akan pulang –tidak menginap dirumah sakit- juga yoona mungkin tidak akan berada disana.

Yoona kembali mendesah. Nafasnya belakangan ini terasa begitu berat. Pertanda jika hidupnya memang tak setenang dulu.

“mencari sesuatu, nona?”

Yoona tersentak saat tiba-tiba suara itu kembali terdengar. Tubuh yoona bergetar cepat. Bagaimana bisa ia masih membuntuti yoona bahkan saat ia sedang berada didalam rumah sakit?

Yoona berbalik perlahan. Dan kedua bola matanya membesar penuh keterkejutan saat seseorang berbaju serba hitam itu berdiri tepat dibelakangnya. Mengacungkannya sebuah ponsel yang masih menyala lalu bergumam. “sepertinya kau meninggalkan ponselmu”

Yoona tersentak kaget. Ia segera meraba seluruh saku yang berada pada kain tubuhnya tapi tak mendapatkan apapun. Yoona kembali mendongak dan menemukan dia tengah tersenyum sinis.

Demi tuhan. Yoona benci terus berada dalam keadaan seperti ini. Ia takut, jelas. Tapi yoona tak memilih untuk berteriak karena itu akan mengganggu banyak orang.

Langkah kakinya mundur dan seseorang yang tak pernah yoona tau wajahnya itu ikut melangkah maju. “aku tidak tidak tau lagi harus mengucapkannya seperti apa agar kau mengerti. Seharusnya kau tau kehadiranmu merusak banyak hal”

Yoona tertegun mendengarnya. Sebegitu parahkan peranan kehidupannya dalam merusak hidup siwon? Yoona tak pernah memaksa siwon untuk hidup dengannya. Justru namja itu yang terus menerobos pertahanan yoona dan pada akhirnya mengikuti yoona tanpa cela.

“apa yang kau ingin kan?”

Yoona hampir terpeleset heels miliknya jika ia tak berpegangan pada pembatas lantai satu. Sial, jika ia terjatuh, maka kemungkinan besar seluruh orang akan menemukannya dalam keadaan bersimbah darah pada lantai dasar esok pagi.

“apa yang aku inginkan?” yoona bergidik ngeri saat tawa seseorang itu menggema. Tawa khas iblis yang menyeramkan. Dan itu sedikit banyak cukup menjatuhkan mentalnya. “bukankah kau sudah tau jawabannya?”

Yoona berhenti saat punggungnya membentur tiang penyangga lantai. Tubuhnya terdiam. Dan seseorang itu semakin mendekat.

“a aku tidak mengerti maksudmu”

Kedua bola mata yoona terbelalak ketika salah satu tangan’nya’ sudah mengeluarkan sebuah pisau lipat kecil. Mengacungkannya pada yoona lalu kembali berjalan. “j jangan..” kedua bola mata yoona memejam menahan air mata dan rasa takutnya yang menjalar hingga ke ubun-ubun.

“haha.. jangan? Jangan berhenti maksudmu?”

Bulir kristal itu mengalir dari pelupuk mata yoona. Tubuhnya terasa semakin lemas. Yoona dirundung rasa takut yang begitu besar hingga tak lagi memberanikan diri untuk membuka mata.

“bagaimana jika—“

“Aaaa!!”

Yoona bergerak cepat sesaat usai benda dingin itu mengentuh pergelangan tangannya. Pisau itu melukainya, meski beruntung tak begitu dalam. Yoona melirik kearah belakang dan mempercepat langkahnya ketika bayangan itu terus menghantuinya.

“jangan lari, kau!!”

Yoona mendekati eksalator dan segera mencampakkan heels miliknya. Eskalator rumah sakit sudah berhenti semenjak pukul sembilan malam. Dan itu berarti yoona harus menuruninya satu persatu untuk menghindar.

“berhenti, im yoona!!”

Yoona terus berlari. Langkah besar itu terus terdengar dari belakangnya. Alih-alih mempercepat, yoona melirik kearah belakang dan kembali terpekik saat pisau yang semula hanya menjadi bahan penekan mental itu kini benar-benar mengacung tinggi.

“akh_”

Yoona tersungkur. Lututnya terasa begitu sakit. Yoona mencoba berdiri ketika ia sadar jika pergelangan kakinya mulai lemah. Pada akhirnya ia berusaha untuk membalikkan tubuhnya dan menemukan seseorang itu kini berhenti berlari. Beberapa meter didepannya.

“hh~ aku sudah memperingatkanmu. Seharusnya ini tak akan sakit jika kau mau menurut”

Kepala yoona menggeleng takut ketika ia yang masih berusaha mengatur nafasnya memaksakan diri untuk berjalan mendekati yoona. Pikiran yoona mendadak seperti dihujami batu. Ia belum ingin mati. Ia masih harus membahagiakan nara. Ia masih harus menjelaskan banyak hal pada tiffany.

Ia.. Ia..

“maafkan aku, yoon”

DZING!

Yoona baru akan berteriak saat bunyi pantulan itu terdengar. Ia segera menutup matanya dan mengeluarkan air mata semakin banyak.

“YA! TUNGGU! JANGAN LARI!!”

Yoona membuka matanya dan mendapati siwon dan kyu hyun yang turun melalui anak tangga. Disana ada spencer yang masih memegang senjata laras pendek kedap suara miliknya.

Yoona melirik kesamping dan menemukan seseorang itu kini tengah berlari. Memunguti pisau miliknya dan segera menghilang dibalik pintu kaca rumah sakit.

Kedua tangan yoona meremas rambut disekitar kepalanya. Tubuhnya lemas. Pikirannya kacau dan debar jantung yoona terasa sangat amat diatas ambang normal. Kepalanya segera terbenam diantar lutut lalu yoona berteriak keras.

“AAAA!!”

Yoona menjerit sekeras mungkin. Membiarkan pekikan emosionalnya menggema hingga akhirnya siwon datang dan meredamnya dengan cepat. Namja itu memeluknya erat-erat. Semakin erat dan semakin erat lagi ketika tangis yoona pada akhirnya pecah.

“aku takut.. aku takut.. aku takut siwon-ah”

Siwon mempererat pelukannya. Cengkraman tangan yoona terasa semakin erat lalu tubuhnya bergetar hebat. “tenang yoon. Tenang, aku disini”

“marc, segera telusuri bagian kanan dan belakang rumah sakit! Aku akan kearah sebaliknya!”

Spencer berteriak lalu ia dan kyu hyun ikut menghilang dibalik pintu kaca.

 

 

-TBC-

oh, ya. buat yang kemarin komentar dan nanya id twitter, ini id akun twitter aku -> @dianyanput . buat yang bilang gak ada twitter dan mau lewat facebook aja, sebenarnya aku agak sangsi, karena aku sendiri udah jarang buka FB, jadi, aku kasih alamat email aja ya. dianputri251110@yahoo.com .

SC20140415-213319seseorang mengirimkan saya email seperti ini.

PS: Tolong Dipahami baik baik ya. memangnya aku pernah bilang new readers gak bisa dapet PW? aku kan bilangnya new reader gak bisa dijadiin alasan buat gak komen. karena rata-rata new reader selalu bilang ‘aku new readers, maaf ya baru bisa komen di part ini’. maksudnya, new readers juga baca dari awal kan? kenapa harus ninggalin satu jejak dipart terakhir? yang ini loh yang bikin aku di protes readers lain, karena kebanyakan ngulang koment dari part awal. padahal, aku gak minta sebanyak itu. aku cuma butuh apresiasi kalian. dan buat new readers yang ngerasa udah ninggalin jejak, jangan tambah beban aku dengan bilang ‘yah,, gak dapet pw dong’. aku tau kok siapa yang sering ngasih komentar, tertera jelas di stats wordpress. kalau kalian merasa sudah menghargai FF ini, kalian tinggal senyum dan bilang ‘aku pasti dapat PW kok’. sign🙂

dan,, oh ya! buat adek tintin, makasih posternya:) seperti janji, untuk part 11.

 

With love, Park ji yeon.

 

245 thoughts on “Memorable 11

  1. Plot twist>>yg neror yoona sebenernya adalah tiffany..wkwkwkw.. Becandaa ding.. Kebanyakan nonton film pchyco sihh
    Hmmm… Aku ngga tau mau komen apa. Karena kalo soal cerita, kan itu imajinasinya authornya. Suka2 mau ngapain. Aku sbg reader sih tinggal menikmati aja. Ngga akan minta macem2 dehh. Dilanjutin aja udah syukur. Hehehe. Yg jelas aku suka sama gaya berceritanya author. Authornya sabar, menjelaskan perasaan & keadaan masing2 tokoh sampe daper feelnya tapi ngga berlebihan. Itu yg bikin aku nyaman baca ff ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s