Memorable 10

0

cr : HeenaPark @PosterState

Judul         : Memorable 10

Author      : HyukgumSmile

Genre        : Romance, Family

Rating       : PG-17

Main Cast  : Im yoona, Tiffany, Cho kyu hyun, Choi siwon, Im nara

 

Happy Reading^^

 

 

Ruangan itu senyap tanpa suara. Satu-satunya bunyi yang masih terdengar hanya ketukan teratur dari pena yang berada didalam genggaman longgar milik yoona. Kedua bola matanya kosong, menatap langit dari balik jendela kaca ruangan.

Ini masih pagi. Bahkan belum terhitung satu jam ia menghenyakkan bongkahan bokongnya pada kursi kebanggaannya. Tapi seakan kehilangan nyawa, seluruh perhatian yoona justru menguar. Konsentrasinya bukan lagi terbagi, tapi benar-benar menghilang.

Dan semua berawal dari banyak kejadian aneh yang belakangan terjadi.

Tiba-tiba benak yoona bersuara. Usai dua hari yang lalu ia dan tiffany hampir tertabrak sebuah mobil, lalu perbincangan singkat siwon melalui telepon diapartemennya dan beberapa panggilan ponsel lainnya membuat yoona terganggu.

Ia benar-benar merasa tak tenang. Bahkan jika boleh ia menyimpulkan, saat ini, sering kali yoona merasa jika seseorang tengah membayangi langkahnya disetiap saat.

Yoona terdiam. Ataukah ini berhubungan dengan surat kecil yang ia terima hari itu? Surat berisikan pesan singkat sarat akan kemarahan dari new york? Dari orang tua siwon?

Yoona menggeleng lemah, kepalanya berpangku pada telapak tangan dengan rambut yang sedikit berantakan. Yoona tak sempat bersolek lama-lama. Kini ia merasa harus berangkat lebih pagi. Saat tuan han, tetangga apartemennya juga tengah berjalan menuju basement untuk pergi kekantor bersama.

Entahlah, ia merasa lebih nyaman seperti itu. Seperti ada rasa bahwa tak ada satupun orang yang akan mendekatinya jika ia berada didalam keramaian. Jadi yoona mengabaikan banyak hal tentang berdandan yang cukup atau hal lainnya.

Selain itu, selain semua kejadian aneh yang terjaid belakangan ini, selain dirinya, yoona jauh lebih merasa takut jika sesuatu terjadi pada nara. Pada gadis kecilnya yang kini tengah sibuk bermain di playgroup bersama bocah-bocah kecil lainnya.

Drrt.. Drtt..

Yoona tersentak. Pulpen yang ia genggam terlepas lalu kedua bola matanya mengerjap beberapa kali. Yoona buru-buru meraih tas miliknya, lalu beralih meraba saku disekitar blazzer coklat muda yang ia gunakan.

Yoona melenguh putus asa saat pada akhirnya menemukan ponsel itu berada tepat dibawah map yang terbuka tanpa sempat ia sentuh samasekali.

“yeobseo?” jawabnya cepat.

Kening yoona berkerut cepat. “y yeobseo?” tanyanya kembali.

Seketika jemari yoona bergetar. Panggilan sama seperti yang ia terima dalam dua hari ini. Panggilan dari sebuah nomer tanpa nama. Dan hanya akan menimbulkan keheningan ketika ia berusaha menyapa.

Yoona terdiam. Bibirnya terasa sulit untuk bergerak. Ia harus memutuskannya! Secepatnya. Yoona tak mungkin terus berada dalam tekanan. Ia harus bangkit. Banyak cara yang digunakan orang-orang untuk menjatuhkannya. Dan yoona tak boleh sekalipun tumbang.

“a akan aku tutup” ujar yoona ragu.

Dan ketika ia baru akan menjauhkan ponselnya, yoona bersumpah tak pernah lebih takut lagi ketika suara berat itu menyapanya.

“good morning,, im yoona-ssi”

Yoona tersentak. Bola matanya membesar dan refleks melemparkan ponsel miliknya keatas meja. Tubuh yoona menegang sempurna. Ia tercekat, hampir berteriak.

“yoon, pagi ini ada rapat dengan direktur CF. Ini aku bawakan file yang harus kau baca”

Ji yeon melirik yoona setelah berbalik. Langkahnya terhenti saat tiba-tiba melihat yoona yang kepalang takut menatap ponsel yang tertelungkup diatas meja kerjanya.

“yoon?” panggil ji yeon ragu. Ia melangkah mendekat, lalu memanggil sekali lagi “yoon?” ujarnya.

Ji yeon mengerjap bingung. “yoon!” paggilnya menggoyang bahu yoona sekali. Yoona terkejut bukan main. Ia segera berdiri dan menatap ji yeon takut-takut. Membuat ji yeon mau tak mau harus mengernyit heran. “ya, kau kenapa? Aku bukan hantu!” pekiknya.

Yoona tak bersuara. Yeoja itu hanya berjalan dua langkah untuk mundur lalu memejamkan bola matanya erat-erat seperti tengah menetralkan sesuatu yang berkecamuk didalam pikirannya.

“yoon, apa kau baik-baik saja?”

Yeoja itu kemudian menatap ji yeon dalam-dalam. Detik berikutnya, yoona menghela nafasnya berat –berat sekali- lalu tersenyum dan mengangguk.

Tapi entahlah, ji yeon merasa jika yoona jauh lebih buruk, dari sebelumnya, dari pagi ini, bahkan dari satu hari yang lalu. Yoona tiba-tiba berubah. Ia bersikap seolah ia harus mempersiapkan diri untuk bersiaga pada daerah sekelilingnya.

Padahal sebelum ini, meski ia memiliki sebuah trauma panjang, yoona tak pernah bersikap seperti itu.

“kau yakin?” tanya ji yeon ragu.

Yoona kembali menimpalinya dengan tersenyum. Ia mengangguk dua kali. “ya, aku rasa begitu. Aku hanya sedikit terkejut saat—“

Drrt.. Drrt..

Yoona berhenti berbicara. Kedua bola matanya membesar beralih menatap ponsel yang bergetar diatas meja. Tak berniat melanjutkan penjelasannya, yoona justru dirundung rasa takut yang mulai membesar.

“yoon?”

Yoona mencari sumber suara. Disana, ji yeon menatapnya penuh tanda tanya. “ya?” jawab yoona.

“ponselmu”

Yoona melirik ji yeon sekali lagi. Lalu tanpa aba-aba ji yeon segera melangkah dan tau-tau ponsel itu sudah berada didalam genggamannya. Ji yeon kemudian meraihnya, membawanya menuju yoona.

Demi tuhan! Jika sedang tidak tertekan, yoona ingin sekali meneriaki ji yeon karena terlalu ikut campur dalam permasalahan yang ia hadapi. Tapi seketika tubuh yoona seakan lumpuh saat ji yeon berkata,

“calon tunangan tercintamu, yoon”

 

 

__

“APA?! TIDAK!!”

Siwon menutup matanya menahan diri, melirik sekitar kemudian kembali menatap yoona sendu. “kenapa harus tidak?” tanyanya pelan.

“dan kenapa harus iya?” balas yoona cepat.

Siwon terdiam. Karena jika aku bisa berkata ‘tidak’, maka aku sudah mengatakannya dari jauh-jauh hari, yoon! Tapi nyatanya, mau tak mau ini memang harus berakhir dengan ‘ya’. Siwon membatin.

Menghadapi yoona memang bukan perkara mudah. Wanita tinggi dengan tubuh proporsional itu nyatanya jauh lebih selektif dan keras kepala. Siwon jelas mengenalnya, karena semenjak lebih dari dua tahun yang lalu, tak banyak dari kata-kata siwon yang benar-benar yoona cerna dengan baik.

Yoona akan lebih senang jika ia menjalankan apa yang ia inginkan. Berada dalam perintah orang lain bukan termasuk keahliannya. Dan yoona benci dipaksa.

Sejak pertama, siwon jelas tak mau melakukan hal apapun yang berkemungkinan akan berdampak pada perasaan yoona terhadapnya. Tapi kali ini, hanya kali ini saja, ia ingin didengar. Siwon ingin menunjukkan pada dunia jika yoona, wanita yang dicintainya hampir lima tahunan itu memang hanya perlu mendengarkannya.

Sebagai lelaki, siwon butuh hal hal semacam itu. Tapi yang satu ini berbeda. Ini jelas jauh sekali dari kata hati atau sekedar keinginannya untuk mendikte yoona. Lebih dari itu, siwon ingin hidup tenang.

Hidupnya, hidup kyu hyun, dan yang terpenting adalah hidup yoona.

“karena ini memang harus dibicarakan, yoon” jawab siwon tenang.

Yoona mendelik tajam. “bukankah sudah kukatakan jika aku tidak ingin berbicara padanya? Aku benci jika—“

“aku tau.. aku tau.. maaf” potong siwon tanpa tekanan.

Ia salah, jelas. Tapi walau bagaimanapun membuat yoona menyelesaikan masalah pribadinya bersama kyu hyun memang haruslah ia lakukan. Seperti yang sebelumnya mereka bicarakan, ini bukan pilihan.

Yoona tak punya hal-hal menguntungkan semacam itu. Ia hanya berdiri diantara dua sisi. Menyelesaikan semua ini dan hidup dengan tenang atau membiarkannya berlarut-larut dan hidup dalam ketidaktentraman.

Such a bitch choise.

“tapi aku ingin kau hidup lebih damai, yoon. Aku tak pernah bermasalah dengan hal apapun sejauh ini. Tapi ini menyangkut dirimu, dan nara. Jadi akan lebih baik jika kalian memang benar-benar berbicara”

Yoona terdiam. Benar. Ia memang tak pernah hidup dalam rasa damai. Selama nara masih terus bertanya mengapa ia tak memiliki ayah, atau selama kyu hyun terus mengejarnya demi sebuah penjelasan.

Tapi bertemu dengan kyu hyun juga bukan pilihan yang tepat. Yoona masih bisa merasakan bagaimana jemarinya terus bergetar ketika mengingat sosok kyu hyun ketika berada didepannya. Jujur saja, ia belum sesiap itu.

“t tapi, aku takut” yoona menunduk. Suaranya bergetar halus.

Siwon tersenyum tulus. Sungguh, ia tak pernah lebih bahagia daripada berada didepan yoona, memperhatikan setiap ekspresinya dan terkadang menjadi pundak yoona untuk berkeluh kesah.

“apa yang harus kau takutkan, sayang?” siwon memajukan diri, menggenggam jemari yoona, sebisa mungkin membuatnya nyaman.

“won-ah..” panggil yoona ragu.

Siwon menggumam. “hmm?”

Dan dari kedua bola mata itu siwon tau jika sesungguhnya yoona tak ingin banyak hal kecuali hidup dengan lebih tenang. Siwon berusaha mencuri waktu, sekaligus mencoba membaca sesuatu yang akan dijelaskan yoona melalui kedua bola matanya.

“a.. sebelumnya aku tak pernah setakut ini. Tapi..”

“tapi?”

“tapi,,, kyu hyun dan nara,, a aku tidak—“

Yoona menunduk dalam, jemari siwon menggenggam salah satu tangannya kuat. Siwon menghela nafasnya sekali, “aku tau” ujarnya lembut “justru karena kyu hyun dan nara tak seharusnya terpisahkan, karena itu kau dan kyu hyun harus berbicara. Karena aku juga tak memiliki hak untuk mencampuri masa lalumu, dan karena kau bersama kyu hyun memiliki kuasa yang sama besar atas nara. Karena itu bicaralah padanya”

“t tapi bagaimana jika—“

“sstt… semua akan baik-baik saja. Kau hanya perlu berbicara. Katakan padanya mengapa semua ini terjadi. Jika seandainya kalian memang tak lagi harus menyatu—“

“kau ini berbicara apa?!”

Siwon tak terkejut. Yoona sudah terlalu biasa berteriak keras seperti itu. Semua akan terjadi begitu saja. Tapi siwon justru bersyukur, karena hal-hal seperti itu-berteriak keras dengan tiba-tiba- hanya akan yoona lakukan jika ia merasa bahwa semua pembicaraan mereka akan berakhir pada sebuah omong kosong belaka.

Siwon menggengam jemarinya kuat-kuat. Berusaha melawan cengkraman tangan yoona agar kuku panjang yoona tak melukai telapak tangannya sendiri. Lebih baik seperti itu. Siwon memang tak pernah ingin yoona terluka.

Yoona pada akhirnya menurut untuk duduk.

“dengarkan aku dulu” tutur siwon menenangkannya. “jika kau dan kyu hyun memang harus berjalan sendiri-sendiri, maka satu-satunya yang harus kalian lakukan adalah mencari cara agar nara tak pernah kehilangan kasih sayang” sambung siwon tanpa perduli betapa rapuhnya perasaan yoona yang terus merasa bersalah karena telah menyakiti siwon.

Yoona tak ingin siwon berpikir mengenai banyak hal. Ia tak ingin siwon mencemaskan banyak hal. Dan ia juga tak ingin siwon membayangkan banyak hal. Yoona benci berkata jika ia tak ingin siwon pergi dari hidupnya sementara pria itu bersikap seolah ia sudah sangat siap untuk pergi.

Yoona memberengut sendu. “apa kau pernah berpikir jika aku dan kyu hyun akan kembali?”

Pertanyaan itu terlontar begitu saja. Saat yoona tengah kalut akan perasaan jika siwon akan pergi darinya, yoona justru ingin tau apakah siwon pernah berpikir jika yoona akan meninggalkannya demi kyu hyun.

Siwon justru tersenyum meski yoona sadar jika tatapan pria itu mulai terluka. “pernah” jawabnya singkat.

Yoona tersentak. Matanya mulai berkaca. “lalu mengapa kau melakukan ini?”

“karena kemudian aku sadar jika cintaku bisa jauh lebih baik darinya, maka kau tak akan pergi. Sementara bagiku, cinta itu bukan pertahanan. Tapi cara untuk mencapai kebahagiaan, yoon. Jika kau dan nara akan bahagia dengan cara seperti ini, maka aku juga akan bahagia dengan cara yang sama”

Sesederhana itu saja. Jika dengan melepaskan yoona menjadikan cintanya sempurna, maka demi apapun siwon rela mati untuk menekan rasa egonya sebagai seorang lelaki normal.

 

 

__

Yoona berjalan lunglai. Salah satu tangannya digandeng dengan hangat oleh siwon. Tapi anehnya, meski terkadang yoona merasa ada seseorang yang membuntuti mereka, siwon tak pernah sekalipun merasakan hal yang sama.

Bersama siwon tentu yoona bisa merasa lebih nyaman. Dan aman tentu saja. Tapi kali ini berbeda. Setelah suara berat yang menyapanya pagi ini, yoona mulai berpikir jika hidupnya tak akan lagi tenang.

Ada sesuatu yang terus membayangi geraknya. Meski yoona seringkali tak dapat menjelaskannya secara tepat, tapi ia yakin, seseorang terus menapak bekas jejaknya hampir beberapa hari ini.

“Mommy!!”

Yoona tersentak, dengan cepat ia merubah mimik wajahnya lalu segera tersenyum pada nara yang sudah nyaman berada dalam gendongan siwon.

“bagaimana harimu?” siwon merapikan poni berantakan nara, menjawil hidungnya dan tersenyum.

“menyenangkan. Tadi miss park mengajarkan kami menggambar!” cecar nara antusias.

Siwon menanggapinya dengan baik. “lalu, apa yang kau gambar?”

“sebuah bunga. Bunga matahari yang besaarr!” nara membuat gerakan bulat sejauh yang tangannya bisa. Membuat siwon harus sabar-sabar ketika tangan gadis kecil itu menyentuh wajahnya dengan sedikit keras.

Siwon justru tertawa. Semenjak kembali kekorea, baru beberapa minggu yang lalu yoona berpikir untuk menitipkan nara pada sebuah playgroup. Sejujurnya, ia lebih setuju dengan ide yang ini. Setidaknya, sebelum memasuki taman kanak-kanak nanti, nara sudah bisa belajar bersosialisasi meskipun menurutnya sosialisasi nara sudah lebih dari cukup.

“boleh aku melihatnya?”

Nara terdiam. Keningnya memberengut kesal “sebenarnya aku ingin membawanya pulang. Mommy pasti tidak keberatan jika aku menempelkannya pada jendela balkon. Benar, kan, mom?” nara melirik yoona sebentar, lalu kembali lagi pada siwon “tapi miss park berkata jika karya pertama kami harus menjadi kenang-kenangan untuk sekolah. Jadi, ya, aku meninggalkannya” ucapnya menyambung. “lagipula,, aku senang saat mimi, chansa dan boomi melihatnya dengan kedua mata yang melotot kagum” tandasnya percaya diri.

Siwon tertawa lebih keras. Nara memang terlalu percaya diri. Kemampuannya untuk membangun diri agar berada diatas standar manusa-manusia lain memang patut diakui.

“jadi, apa gambarmu yang paling bagus?”

Bibir nara kemudian mengerucut cepat. “tidak juga,sih.. jinny punya gambar yang lebih bagus” jawabnya.

“miss han berkata seperti itu?”

Dan nara tersenyum manis “tidak. tapi gambarnya memang bagus edd. Sebuah rumah dengan pohon didepannya. Suatu saat aku ingin menggambar yang seperti itu. Tapi untuk ditaruh dirumah saja” tutur nara dengan berceloteh panjang.

Selain percaya diri, nara juga terlalu lembut, terkadang. Meski ia juga terlalu pemberani, terkadang. Tapi sifat bocah yang sesekali bertindak berbeda itulah yang membuatnya tampak bersinar.

Nara termasuk anak yang perlu diperhitungkan. Tapi bagi nara, ia masih punya banyak teman untuk diperhitungkan lagi. Nara tidak suka menjadi yang nomor satu, tapi ia suka menjadi seorang pemimpin.

Itulah perbedaan nara. Gadis itu cerdik, namun semua tak membuatnya tinggi hati. Sifat yoona, dan mungkin beberapa dari kyu hyun.

 

 

__

Yoona melirik meja makan sebentar. Nasi, beberapa daging panggang dan pastel. Ada tiga gelas minuman dan tiga buah piring serta tiga mangkuk sup jagung yang masih mengepulkan asap.

Yoona mulai berpikir, adakah yang kurang? Ia merasa jika meja makan apartemennya sudah padat, bahkan beberapa tempat seperti sudah tidak bisa lagi ditempati. Tapi ia juga merasa ada sesuatu yang belum ia keluarkan. Sesuatu semacam sebuah hidangan yang dengan susah payah ia kerjakan sebelum ini.

Bibir yoona melengkung manis saat mengingat puding tahu yang ia tinggalkan didalam lemari pendingin hampir tiga jam yang lalu. Kedua tangan yang masih berselimut sarung tangan khas orang-orang habis memasak dan sebuah aproan hijau gelap miliknya menjadi pertanda jika yoona sudah mau repot-repot memasak demi memenuhi permintaan nara malam ini.

Makan malam bersama.

Ya, tidak terlalu special, memang. Mereka sering sarapan, makan siang ataupun makan malam dalam formasi yang itu-itu saja. Ia, nara dan siwon. Tapi kali ini berbeda. Nara memintanya untuk memasak. Satu dari banyak hal yang meski mampu ia lakukan dengan baik, tetap saja sedikit merepotkan.

Yoona bukannya benci memasak. Apalagi tidak bisa. Tentu bukan itu alasannya. Tapi saat zaman sudah semodern ini, saat semua orang bisa melihat buku menu, memesan dan tinggal menunggu makanan yang rasanya bahkan bisa jauh lebih baik daripada buatan rumah, mengapa harus repot-repot memasak?

Awalnya, setiap orang mungkin akan berpikiran sama dengannya. Tapi setelah memiliki nara, memiliki siwon dan sekarang kolaborasi teman berdebat yang tangguh –karena nara sudah memasuki playgroup. Tempat ia bisa menanyakan apapun pada lingkungan sosialnya-, maka yoona mulai berpikir jika mungkin masakannya cukup pantas untuk dicerna. Dan ia memutuskan untuk mulai terbiasa memasak sendiri.

Atau terkadang nara mungkin saja merindukan buatan tangannya. Atau yang lebih logis lagi, ia harus sedikit berhemat untuk dapat hidup meski yoona sendiri sadar jika ia tak punya keluhan mengenai uang.

Suara berisik terdengar dari balik pintu kamar nara saat yoona baru akan membuka pintu lemari pendingin. Ia melenguh jengah lalu kembali melanjutkan kegiatannya. Menyebalkan. Duo ‘tak terpisahkan’ itu akhirnya memilih untuk mandi usai yoona mengamuk kecil karena tumpahan air beras yang terjadi karena mereka –siwon dan nara- sempat bermain kejar-kejaran saat ia tengah memasak.

Sialnya, yoona tak bisa lebih marah lagi usai siwon berhasil membujuk nara dengan cara yang konyol dan memandikannya. Yoona yakin, saat ini, nara belum lagi menggunakan bajunya. Paling banter mereka juga tengah bergelut diatas kasur dengan saling menggelitik.

Kebiasaan buruk siwon.

Suka sekali mengulur waktu jika sudah bersama nara. Inilah alasannya selalu menggap jika siwon lebih mirip dengan kekasih nara dibandingkan dirinya.

Deg!

Yoona tersentak. Bibir tipisnya melengkung geli. “apa aku cemburu?” bisiknya dengan nada sedikit merasa,, jijik, mungkin?

“cemburu pada siapa?”

Yoona tersentak dan berbalik. Ia menemukan nara tengah berjalan menuju meja makan lalu segera memanjat kursi yang memiliki tinggi melebihi jangkauannya. Yoona tersenyum melihat nara berusaha kuat untuk naik, lalu setelah ia sampai, deretan gigi nara segera terlihat.

Rapi, putih, bersih dan besar-besar. Mirip sepertinya. Dua gigi depan nara justru seperti hasil jiplakan tanpa cela dari yoona.

Bibir yoona kembali melengkung. “kau mau bilang jika kau baru saja menyikat gigimu?”

Nara mengangguk cepat. “bersih, bukan?” tanyanya balik.

Yoona mendesah dalam senyumannya. Dasar bocah centil. Jika sudah bersama siwon, maka nara akan selalu menurut tanpa bantahan. Berbeda sekali jika sudah bersamanya. Yoona mengurungkan niatnya untuk mengambil puding tahu. Nanti saja, biarkan saja pudingnya lebih dingin. Lagipula, meja makan mereka seperti tidak lagi memiliki lowongan tempat. Jadi ia memutuskan untuk menutup kembali lemari pendingin dan membuka sarung tangan tebal dari kedua pergelagan tangannya.

“tentu saja. Kau, kan, selalu menurut pada kekasihmu itu!”

Nah! Yoona cemburu lagi.

Nara tekekeh geli. “mom, mungkin kau harus mulai belajar merelakannya”

Tawa nara meledak hebat sementara yoona justru terbelalak tak percaya. Sialan! Nara benar-benar belajar banyak dari televisi. Lain kali mungkin yoona perlu men-sabotase elektronik yang satu itu agar nara hanya bisa menonton kartun, kartun, kartun dan kartun saja.

“jadi, dimana kekasihmu itu?” yoona mulai berjalan menuju belakang dapur. Berniat untuk menyimpan sarung tangan yang ia gunakan dibawah laci dapur.

“dia sedang mandi. Sebentar lagi juga selesai”

Yoona memutar bola matanya jengah. Oh, im nara bahkan mulai hafal berapa menit lamanya siwon menghabiskan waktu untuk mandi. Yoona mulai riskan jika nara memang benar-benar jatuh cinta pada siwon. Lihat saja gelagatnya, mencurigakan!

Yoona tak ambil pusing. Sebentar lagi siwon akan selesai, dan mereka bisa memulai makan malam mereka. Lagipula, yoona mulai lapar. Menyiapkan makanan berat seperti daging panggaang –karena nara sendiri benci sayuran- bukanlah hal yang mudah.

Jadi, jemari lentiknya mulai berusaha menggapai tali pengikat aproan yang ia gunakan. Dan saat jemarinya mulai akan menarik, pintu bel berbunyi.

“mommy, ada tamu!!” teriak nara dari arah meja makan.

Yoona mencelos. Bel sudah berbunyi tiga kali, jadi ia memutuskan untuk segera menjamu tamunya sebelum bel keempat berbunyi atau nyonya song, tetangga cerewet disamping apartemennya akan segera mengamuk.

Yoona berjalan melewati nara, gadis pemalas itu hanya tersenyum dengan deretan gigi yang kembali ia pertontonkan. Yoona mendesah putus asa. Selain malas, alasan lainnya tentu saja karena bocah kecil itu belum menyentuh tinggi yang pas untuk membuka pintu apartemen. Jadi, mau tidak mau, suka tidak suka, ya,, hanya seperti itulah kerja nara.

Yoona menggosok kedua tangannya pada aproan yang ia gunakan. Setelah sampai pada pintu apartemen,yoona menyempatkan diri untuk mengecek kamera intercom. Dan, sial! Sepertinya tamu yoona memang bukalah orang yang terlalu sabar.

Pintu apartemennya kosong. Mungkin efek terlalu lama tidak dibukakan pintu saat udara malam seoul mulai tak main-main untuk merusak gigimu yang bergemeletuk. Yoona mendesah gusar. Mungkinkah ji yeon? Adakah laporan yang harus ia terima mengingat usai makan siang ia tak lagi kembali kekantor?

Yoona menimbang-nimbang. Merogoh sakunya dan baru menyadari jika ia meletakkan ponsel kesayangannya didalam bufet kecil yang tergantung didapur. Ck! Pasti karena itu ia tak mendengar pesan atau telepon dari ji yeon.

Yoona buru-buru menekan angka kombinasi. Dan usai pengaman pintu terbuka, yoona segera keluar. Mengecek apakah ji yeon masih akan tampak pada belokan sebelum lift ataukah yeoja itu memang sudah berlalu.

Tapi tiba-tiba tungkainya terhambat sesuatu. Yoona menabrak sebuah kotak kecil. Berwarna coklat dengan bungkus seperti map kantor yang rapi. Oh? Ji yeon meninggalkan ini? Pikirnya sesaat.

Yoona segera masuk. Sekali lagi, udara seoul sedang tak bersahabat. Jadi, usai menyesuaikan diri dengan udara apartemen yang tengah diselimuti kehangatan berkat penghangat ruangan, yoona melirik sebentar kotak yang ia temukan.

Ukurannya tidak terlalu kecil. Tidak pula terlau besar. Hanya seukuran tablet mini 7 inch. Yoona tak menemukan firasat apapun. Jemarinya tanpa pikir panjang segera membuka kotak. Lalu usai itu, seluruh tubuh yoona seperti baru saja ditembakkan peluru panas.

Kotak kecil itu berisikan sebuah kertas kecil putih yang ternodai bercak merah. Dibawahnya, sesuatu yang awalnya tertutup kertas itu, disana ada sebilah pisau berdarah.

Yoona terkejut bukan main. Tubuhnya segera menjadi kaku, beku dan tanpa tulang. Tubuh yoona terasa linu. Ia limbung. Seharusnya yoona berpikir panjang sebelum membuka kotak itu tanpa logika.

Dan kini, ketakutan besar itu semakin mencekam hatinya. Tangan yoona bergetar hebat. Mata kembali melirik intercom dan disana masih kosong. Siapa orang yang berani melakukan ini? Tidak salah lagi. Yoona memang tengah dibayangi seseorang.

“siapa yang datang, yoon?”

Yoona tersentak. Buru-buru menutup kotak dan meletakkannya didalam saku aproan yang besar. Yoona berbalik, dan tepat disaat yang sama menemukan siwon tengah menatapnya, menunggunya menjawab.

Yoona memaksakan diri untuk tersenyum. Ia tidak tau apakan siwon akan curiga atau tidak. yang jelas, menurutnya ia sudah berusaha. Berhasil ataupun tidak, itu sudah menjadi urusan mimik wajahnya dan naluri siwon yang sedang tajam ataupun tidak.

“eng? Tidak ada siapapun”

Yoona mengedik sekali. Raut wajah siwon berkerut cepat. Lalu tak lama ia ikut mengedik sekali dan akhirnya berjalan maju.

“yasudah, ayo makan. Aku lapar”

 

 

__

“mommy tidak lapar?”

Yoona tersentak dan segera menoleh pada nara. Matanya mengerjap lugu lalu dengan cepat beralih pada siwon.

“eng? Apa?” tanyanya kembali.

Nara mendesah kesal. “mommy, aku sudah menanyaimu dua kali. Dan ini yang ketiga. Untuk apa kita makan malam seperti ini kalau mommy tidak ikut bercerita denganku dan edd?”

Sekali lagi, yoona mengerjap. Ia menatap siwon yang balik menatapnya bingung. “emm, sayang. Maafkan mommy,,” ujarnya cepat.

Nara sudah kepalang kesal. Bibirnya mengerucut lalu ia menunduk dalam-dalam. Tidakkah yoona tau jika nara terlalu bersemangat untuk acara makan malam ini? Bocah itu bahkan sudah mempersiapkan segala kata untuk bercerita panjang lebar mengenai sekolahnya malam ini.

Tapi lihat, yoona mengacaukannya.

“ra-ya,, mommy—“

“aku sudah kenyang”

Nara segera meletakkan sendok miliknya dan turun dari kursi dengan bantuan siwon. Gadis itu berjalan memberengut menuju kamar lalu terdengar dentuman pintu yang keras.

Yoona tersadar. Ia mengacaukan makan malam mereka.

Tiba-tiba ia merasa begitu bersalah, lalu menatap siwon untuk memohon pertolongan. Ia dan nara sedang tidak mungkin disatukan. Bukannya tidak mau meminta maaf, tapi jika pikirannya juga tengah kalut seperti ini, bukan tidak mungkin ia dan nara akan berujung dengan perdebatan yang semakin sengit.

Siwon menghela nafasnya ringan. Memajukan tubuhnya dan menyentuh pergelangan tangan yoona. “kau kenapa? Terjadi sesuatu?” tanyanya pelan.

Mau tidak mau, yoona akhirnya melenguh panjang. Haruskah ia ceritakan ini pada siwon? Tapi,, namja ini..

Yoona bukannya lupa jika satu-satunya pihak yang mungkin mengganggu hidupnya adalah keluarga siwon sendiri. Dan bercerita pada siwon, mengenai surat kecil yang beberapa hari lalu menyambanginya, mengenai kasus telepon tanpa suara dan hari ini pisau berdarah yang terus menganggu kenyamannya tentu bukanlah pilihan yang tepat.

Yoona bukanlah wanita yang akan merusak hubungan siwon dengan keluarganya. Itu pasti.

Pada akhirnya ia menggeleng pasrah. Yoona menunduk dalam. “aku sedang banyak pikiran. Mungkin karena pekerjaan”

Ia bukan seseorang yang mahir berbohong. Tapi jika keadaannya sudah seperti ini, yoona yakin jika siwon akan percaya. Dan, benar sekali. Siwon justru sudah berdiri disampingnya lalu memeluk yoona hangat.

Pipi yoona bersentuhan dengan perut siwon. Tanpa sadar lengannya segera melingkari perut siwon dan mendesah berat-berat disana. Sementara siwon terlihat mengusap rambutnya beberapa kali sebelum akhirnya mengecup puncak kepala yoona lembut.

“geurae. Kalau kau memang tak lapar, sebaiknya kau istirahat. Aku akan berbicara pada nara, hmm” tuturnya lembut. Lembut sekali. Yoona bersumpah jika ia bisa saja gantung diri disaat ia begitu tertekan dan tak menemukan siwon disampingnya.

Yoona mendesah sekali lagi, lalu mengangguk lemah dalam dekapan siwon. Kepalanya terasa seakan mau pecah. Surat, telepon, dan pisau berdarah. Sialan! Mengapa kini hidupnya justru seperti teroris yang tengah dikejar polisi?

 

 

__

Kyu hyun berjalan berbalik, menatap layar informasi penerbangan yang datang hari ini. Ck, bukankah tuan spencer lee yang terhormat itu berkata jika ia akan datang pukul tujuh? Lalu coba katakan dimana letak mata buramnya sekarang?

Ini sudah lewat hampir dua puluh menit. Dan penerbangannya, hingga saat ini, belum jelas.

Kyu hyun buru-buru meraih ponselnya dan menekan nomer ponsel yang baru beberapa hari lalu spencer berikan padanya. Tak lama, terdengar nada sambung dari seberang. Tepat! Dia pasti sudah turun. Batin kyu hyun.

Dan saat detik pertama panggilannya diangkat, kyu hyun segera mengumpat kesal. “sialan! Kau terlambat delapan belas menit lewat tujuh detik, spencer yang terhormat!” cercanya tanpa perduli pandangan orang sekitar.

Biarlah. Toh kyu hyun memang benci diminta untuk menuggu. Jadi, kepalang tanggung, caci maki saja spencer hingga ia puas.

Spencer terdengar tekekeh sebentar. Dan kyu hyun benci terus berspekulasi jika kehidupan spencer memang tanpa beban hingga harus terus mengeluarkan kekehan yang terkadang mulai terdengar menyebalkan itu.

“berhentilah tertawa dan datang sebelum aku meninggalkanmu, spence!” ancam kyu hyun kecil.

Tak ada suara apapun. Kyu hyun yakin jika namja perawakan cassanova itu tengah sibuk dengan bagasi miliknya. Ada banyak suara bising dan sekali lagi, kyu hyun benci sekali diminta menunggu. Tapi, ya, mau bagaimana lagi. Ia sudah terlanjur menjemput spencer.

“aku datang!”

Kyu hyun tersadar saat ponselnya mengeluarkan suara rendah yang cukup serius. Oke, spencer tak lagi tekekeh, dan itu cukup bagus, memang. Tiba-tiba seseorang menepuk punggung kyu hyun dan saat ia berbalik, spencer sudah siap dengan.. hah? Hanya sebuah ransel jinjing kecil?!

 

 

“hahh.. sudah lama sekali rasanya. Aku lupa jika aku pernah tinggal dikota ini. Seoul mengalami banyak perubahan” spencer melirik gedung pencakar langit yang tingginya sungguh membuat tengkuknya ingin patah.

Ia tersenyum. Benar, memang sudah lama. Lama sekali. Hampir tujuh,, atau delapan tahun? Atau bahkan sembilan? Entahlah, otaknya bukan diprogram khusus untuk mengingat tanggal dan waktu.

Ia lebih memilih untuk segera menutup jendela porce merah kyu hyun dan bersandar pada jok lembutnya. Memang benar-benar sudah lama ternyata. Ia bahkan hampir lupa jika dulu sepertinya seoul tak seindah ini.

“kapan kau kembali?”

Spencer menatap kyu hyun kilat. “aku baru pulang, dan kau bertanya kapan aku akan kembali?” sungutnya sedikit tak terima.

Sialan. Kyu hyun juga tak berubah banyak. Masih sangat-amat menyebalkan meski terkadang menyenangkan. Atau terkadang cukup merepotkan atau mungkin masih banyak lagi terkadang dalam hubungan mereka yang,, entah apa namanya.

Ia dan kyu hyun tak pernah menyebut mereka sebagai sahabat. Spencer cukup tau diri sebelum melabeli diri, begitupun kyu hyun.

“kau hanya membawa satu tas jinjing yang bisa kupastikan tak memiliki berat yang cukup untuk disamakan dengan tas kerjaku. Jadi, kemungkinan terbesarnya adalah, kau hanya akan menginap dua atau tiga hari menjelang kembali pada pekerjaanmu”

Kyu hyun menerangkannya dengan detail. Tau sekali sifat spencer yang selalu menyukai hal-hal mendetail. Tapi setelahnya, kyu hyun justru merasa benar-benar harus membenturkan kepala spencer pada tembok beton.

Di kembali terkekeh! Dan kali ini, karena terdengar dengan langsung, live dan didepan matanya, semua terasa jauh lebih menjengkelkan.

“berhentilah terkekeh seperti orang bodoh, spencer” tukas kyu hyun kesal.

Spencer tak ambil pusing. Ia lebih suka menjadi bahan omongan kyu hyun. Karena mulut tajam namja itu sesekali terasa menyenangkan jika sedang mendesis. Spencer suka membuat kyu hyun kesal, karena baginya, saat itulah teman lamanya ini akan terlihat lebih manusiawi.

“dan berhentilah menjadi pria super dingin yang sok tidak perduli, cho kyu hyun. Kalau kau rindu padaku, aku tak keberatan untuk dipeluk. Ya, sesekali mungkin boleh” jawab spencer praktis. Dan tentu saja, membuat kyu hyun ikut tertawa geli.

Nah, kan. Sikap spencer yang seperti inilah yang selalu membuat pertemanan mereka bahkan terasa lebih seperti persaudaraan. Persetan dengan kata persahabatan. Untuk spencer, sepertinya kyu hyun bisa mentolerir yang satu itu.

Kyu hyun memutar stir mobilnya. Melajukan porce-nya menuju apartemen.

“jadi, mengapa kau kembali? Aku pikir kau tak lagi ingat jalan pulang”

Spencer hanya mengeluarkan senyuman kecil miliknya. Kali ini, ia punya banyak alasan untuk tidak terkekeh. Selain amukan kyu hyun, mungkin. Kedua mata lelaki itu bersinar terang, dan kyu hyun, tentu saja merasa curiga.

“ini bukan tentang pekerjaan. Apa aku benar?”

Kali ini spenceer tak menyahut. Ia hanya menghela nafasnya sekali lalu terkekeh pelan. “yang pasti aku akan tinggal sekitar satu atau dua bulan kedepan” jawabnya ringan “atau mungkin tiga bulan juga lebih baik” sambung spencer.

Kyu hyun punya banyak alasan yang mendasar untuk ternganga hebat. “lalu, pekerjaanmu?” tanyanya spontan.

Spencer meliriknya dan tersenyum. “aku meminta cuti panjang. Kasus rudal seri rusia itu yang terbesar yang pernah kukerjakan, jadi, ya, aku lelah. Dan mungkin pulang terdengar lebih baik daripada mengelilingi dunia”

Untuk yang satu ini, kyu hyun percaya fakta jika spencer mau, ia bisa saja melakukannya. Sebagai seorang agen, harta spencer mungkin sudah tak terhitung. Sekalian menimbang jika ia memegang dua peranan penting sebagai penyelidik dan prajurit perang.

Jadi, mungkin berkeliling dunia bukan hal yang mustahil.

“mereka pasti akan memecatmu” tukas kyu hyun sekedarnya sebelum kembali membelokkan stirnya menuju basement gedung apartemen.

Spencer hanya mengeluarkan seringaian kecil yang kyu hyun tau jika itu pertanda sesuatu yang ia katakan akan berakhir dengan kata mustahil.

“hanya orang-orang bodoh yang berani mencampakkanku, cho” jawab spencer percaya diri.

Kyu hyun tak perlu mengelak. Ia percaya untuk yang satu itu. “tapi mereka akan mengalami rugi besar. Aku yakin kau cuti bersyarat”

Dan kyu hyun tepat sekali!

“haha,, tentu saja. FBI menawariku pekerjaan mudah dengan bayaran yang sepertiganya saja masih lebih baik dari gajiku saat ini. Jadi,, ya, jika mereka tak ingin aku pergi, mungkin mereka mau berbaik hati untuk mambayarkan kebutuhanku selama aku cuti”

Dan demi tuhan! Kyu hyun ingin sekali mencekik spencer karena terlalu cerdik dan berbicara dengannya selalu menyenangkan. Tak perlu menunggu lama, kyu hyun segera keluar dan menuju lift. Dengan sekali tebak saja, ia tau jika spencer tak mau repot-repot mencari apartemen untuk ia tinggali. Kebetulan, apartemennya memiliki dua kamar dan satu ruang kerja yang tak terpakai. Spencer tentu bisa menggunakannya jika ia mau. Karna terkadang, kyu hyun lebih suka tak bekerja sama sekali daripada membawa pekerjaan kantornya pulang.

 

 

__

Yoona menggenggam jemari siwon kuat-kuat saat pelataran restoran itu terlihat. Pintu kaca yang membatasi dirinya dengan suasana klasik didalam restoran bernuansa eropa lama itu begitu membuatnya tertekan.

Sial. Yoona sering kali merasakan tekanan yang luar biasa belakangan ini. Apa mungkin ia perlu bertanya mengenai kesalahannya hingga tuhan seperti enggan membuat hidupnya nyaman dengan sebuah keluarga kecil dan tanpa ada musuh.

Yoona melirik siwon sebentar. Lelaki itu, kali ini tak menggendong nara. Kebetulan sekali tiba-tiba yoona berpikir jika harusnya nara tak perlu hadir jika saat ini ia hanya perlu berbicara dengan kyu hyun.

Mungkin, nanti, jika terjadi sebuah kesepakatan, yoona baru bisa mengambil langkah untuk memilih mempertemukan kyu hyun dengan nara atau tidak. atau berita buruknya, mungkin kyu hyun bisa mengajukan tuntutan atas has asuh nara. Tapi kemudian yoona bernafas lega mengingat ia dan kyu hyun tak pernah menikah, jadi, pria itu tak memiliki hak apapun terhadap nara kecuali label sebagai ayah biologisnya.

Siwon tersenyum sebentar. “jangan gugup” bisiknya menenangkan.

Dan, bolehkan yoona mengumpat sedikit? Jangan gugup? Oh, bagus. Konyol sekali, choi siwon. Yoona ingin sekali melemparkan siwon pada kedalaman sungai han untuk menjernihkan pikirkannya yang tiba-tiba kalut dan memaksa yoona untuk berbicara berdua bersama kyu hyun.

Tolong digaris bawahi.

Hanya berdua saja.

Dan meski siwon berjanji untuk duduk tak jauh darinya, masih mengawasinya dan tetap, tak ingin menjadi pendengar dalam diam, yoona tetap saja merasa jika keputusannya kali ini benar-benar membuatnya semakin tertekan.

“bisakah kita pulang saja?” pinta yoona manja.

Dulu, siwon pernah berpikir jika rengekan yoona adalah hal paling menakutkan didunia ini. Karena usai yoona merengek, siwon yakin seribu persen jika ia tak akan dapat membantah. Semacam otoriter dalam diam. Dan hanya yoona yang dapat melakukan hal seperti itu padanya.

Tapi kali ini, hanya untuk kali ini saja, Siwon mulai merasa cukup kuat untuk membentengi diri. Ia hanya ingin yoona terbebas dari masalah apapun yang membuatnya tak nyaman. Dan rasa heroik semacam itulah yang membuatnya mampu membantah permintaan yoona mentah-mentah.

“kita sudah terlanjur datang, sayang sekali jika harus kembali” jawab siwon tanpa menimbulkan perdebatan baru.

“oh, jika aku meminta seperti ini tiga puluh menit yang lalu, apa kau akan mengabulkannya? Mengingat kita belum sampai samasekali” yoona mendesis tajam. Ck, tatapan manjanya tak lagi dapat diandalkan saat ini. Siwon mulai membangun benteng pertahanannya sendiri.

Siwon justru terkekeh dan mendekatkan wajahnya pada yoona. “tentu saja, tidak” jawabnya dan segera menarik yoona menuju restoran tanpa menunggu perdebatan selanjutnya. Berdebat dengan yoona bukan pilihan yang tepat pagi ini.

“duduklah, kau mau coba frappucino? Disini setiap kopi memiliki rasa yang jauh berbeda dengan yang diluaran sana”

Dan kebetulan sekali karena kyu hyun belum datang, sembari mempersiapkan diri dan meminimalisir gedebum jantungnya yang luar biasa akut, yoona akhirnya memilih untuk mengangguk.

Secangkir kopi, mungkin bukan hal yang begitu buruk.

 

 

__

“aku sudah makan”

Kyu hyun buru-buru menurunkan ponselnya dan menatap spencer ragu. Sudah makan? “kau kan baru datang pukul tujuh lewat delapan belas menit pagi ini, sejak kapan kau bisa makan?”

Spencer hanya tersenyum dan memilih untuk duduk disofa besar. Apartemen kyu hyun luas, luas sekali. Dan spencer suka jika harus tinggal bersama kyu hyun yang juga menyukai beberapa hal yang sama persis sepertinya.

Kyu hyun tak suka sesuatu yang berantakan. Itu, spencer sekali. Ia juga suka kesan minimalis gelap yang tenang. Itu juga spencer. Kyu hyun menggeluti setiap makanan luar. Itu, tentu saja spencer. Ia benci makanan korea. Tidak semua juga sih, tapi, ya, seperti itulah kira-kira.

Dan yang terakhir ini benar-benar menyenangkan. Kyu hyun menyukai wine, dan beberapa alkohol lainnya yang tersimpan didalam lemari khusus miliknya. Dan spencer, berani bersumpah jika inilah yang dulu menyatukan mereka.

Mereka pecinta alkohol. Masih dalam taraf kewajaran, memang. Tapi jika sudah bersama, bisa jauh lebih gila dari seorang gadis depresi sekalipun.

“aku makan didalam pesawat” jawab spencer sembari merebahkan diri pada sofa.

Alis kyu hyun sontak naik. Hyuk jae makan didalam pesawat? Sejak kapan lelaki perfeksionis itu mulai terbiasa dengan makanan luaran? Maksudnya, ya, spencer bukan penikmat fastfood. Kecuali jika ia terbang dengan sebuah jet pribadi, ia mungkin bisa-bisa saja mengatur makanannya sendiri.

“dan aku sudah mempersiapkannya sebelum berangkat. Tenang saja, aku masih belum banyak berubah, cho” jelas spencer sebelum kyu hyun bertanya.

Dan pada akhirnya, kyu hyun hanya akan mengangguk paham. Ya, spencer pembaca otak yang cukup handal selain dirinya sendiri. Jadi, lebih baik tidak perlu memperdebatkan hal ini. Kyu hyun mengedik sekali, mengantongi ponselnya dan melirik jam dinding yang terpajang tepat diatas televisi.

“ya sudah. Aku harus pergi” kyu hyun memasuki kamarnya lalu keluar dengan coat tebal yang membuatnya sepuluh kali, ah bukan, seratus kali lebih tampan. Kyu hyun tau pesonanya yang semacam itu, jadi, ia memilih untuk berpenampilan seperti ini. Biasa saja.

Jika ia berinisiatif untuk seribu kali lebih tampan, mungkin saja pertemuannya dengan yoona akan gagal total mengingat meski ia bukan public figur, kyu hyun tetap memiliki penggemar tersendiri.

Kyu hyun tersenyum. Ia akan bertemu yoona. Hanya berbicara, memang. Tapi disitulah letak luar biasanya. Berbicara dengan yoona, dan mungkin saja akan ada nara. Tiba-tiba kyu hyun berkhayal lebih tinggi. Dan, jujur saja, ia belum pernah sebahagia ini sebelumnya.

Kyu hyun berdehem sekali, melirik spencer yang mulai akan memasuki alam mimpinya. “aku pergi!” tukas kyu hyun keras. Dan dibalas dengan sebuah gumaman singkat oleh spencer. “dan, spence! Kunci mobil barumu ada diatas nakas!” teriaknya mengingatkan.

 

 

__

Yoona mendadak menjadi lebih kaku saat bayangan kyu hyun melintas dan terlihat jelas dari balik kubikel kaca yang menghubungkannya langsung dengan lingkungan luar. Yoona menatap siwon ragu. Dan, meminta pulang saat ini sepertinya jauh lebih terdengar mustahil.

Yoona hanya menunduk. Dan kyu hyun datang dengan senyuman tipis yang membuatnya jauh terlihat berbeda. Senyuman itu, tentu ia tujukan untuk yoona. Sekaligus untuk siwon yang sepertinya, kali ini patut kyu hyun puji karena menepati janjinya dengan baik.

Siwon menatap yoona dan tersenyum. “aku duduk disana, tak akan jauh-jauh” bisiknya mengusap punggung tangan yoona dengan ibu jarinya. “aku tinggal. Berbicaralah dengan serius” bisiknya dengan senyuman kecil.

Siwon segera berdiri. Tak perlu repot-repot diminta, siwon justru tau batasan yang jelas baginya. Ia tau harus menempatkan posisinya saat diantara mereka ada seorang cho kyu hyun.

Bukan ingin merendah. Tapi lelaki yang yoona sebut-sebut sebagai sahabat lama dan sekaligus ayah kandung dari nara -putri kecil yoona- itu tetap saja memiliki hak tersendiri bersama yoona.

Siwon tau itu. Ia tak pernah membatasi yoona untuk berteman, bersahabat atau bahkan seperti ini. Bertemu dengan cinta lamanya. Miris memang, tapi siwon sudah terlanjur melangkah. Dan lagipula, ia percaya yoona akan bisa bersikap jauh lebih realistis.

 

 

__

Kyu hyun tak berhenti untuk tersenyum. Belum, tepatnya. Ia berusaha untuk terlihat menjadi lebih logis. Atau mungkin membangun imej lebih baik usai tak bertemu yoona lebih dari satu minggu yang lalu.

Semua terasa terlalu lama. Kyu hyun bahkan butuh waktu hanya untuk mengumpati detik yang berlalu terlalu lambat. Tapi sekarang bukan lagi masalah, ia berada disana, didepan yoona yang meski terlihat tak ingin menatapnya, tetap saja membuat kyu hyun merasa ada berjuta kupu-kupu yang berterbangan didalam perutnya.

“aku senang kau mau datang” kyu hyun memulai percakapan.

Yoona berharap jika ia pernah divonis memiliki sakit leher akut yang membuatnya tak mampu mendongak. Tapi, sial, ia tak pernah mendapatkan yang seperti itu. Dan meski jemarinya tetap bergetar halus, yoona memang tak pernah bisa menolak kyu hyun.

Pernah ia katakan, bukan?

Kyu hyun bukan sesuatu yang patut yoona tolak. Dan meski kenyataan memaksanya untuk harus seperti itu, maka yoona bisa memastikan jika ia akan memilih untuk tidak bersikap logis sekalipun demi yang satu ini.

Kyu hyun memang masa lalu, tapi esensi dari eksistensi pria tinggi itu begitu mendalam bagi yoona. Karena kyu hyun bukan hanya sekedar sahabat. Namja itu pernah menjadi seorang kakak baginya, bahkan seorang pria yang tangguh, dalam hal apapun.

“aku ingin membicarakan banyak hal” yoona tak menjawab. Lebih seperti mendikte sebuah pernyataan yang harus dan memang harus terjadi diantara mereka.

Kyu hyun ingin sekali melunturkan senyumannya, tapi niatan seperti itu ia coba urungkan berkali-kali. Ia butuh yoona, dan usaha untuk mendapatkan yoona bukanlah hal yang mudah. Jadi, tersenyum tetap ia jadikan pilihan yang terbaik.

“aku tau” balas kyu hyun cepat. “aku juga ingin membicarakan banyak hal” sahutnya membalas.

Yoona mencengkram jemarinya kuat-kuat. Ia mulai tau kearah mana pembicaraan mereka kali ini. Dan entah mengapa, gedebum dalam lubuk hati yoona terasa semakin kencang.

“tapi sebelumnya,, aku ingin minta maaf” lalu yoona mendongak cepat. Permintaan maaf, cho kyu hyun yang cerdik.

Yoona ingin terus menerus menunduk. Tapi tuhan belum mengizinkannya untuk hal yang satu itu. Jadi, pada akhirnya dengan berat hati yoona mendongak. Menatap kyu hyun yang masih betah tersenyum.

Entahlah, yoona hanya terus merasa jika separah apapun trauma yang ia rasakan. Dan sedalam apapun ia mencoba membenci kyu hyun, ia tetap saja merasa puluhan persen gagal. Semacam efektivitas usahanya hanya sekitaran satu per seratus persen.

“untuk apa?” yoona bertanya ragu. Dan, well, suaranya tercekat.

“untuk semuanya. Semua yang pernah kulakukan dan membuatmu terluka”

Yoona dengan cepat menunduk dalam. Sudah. Pembicaraan mereka sudah dimulai. Dan yoona tak mungkin lagi menghindar.

“aku tau aku brengsek” Yoona mendongak, menatap kyu hyun lekat-lekat. Kini, senyuman tipis lelaki itu berubah menjadi miris. Dan berbau kesedihan.

“boleh aku tanyakan sesuatu?” kyu hyun menatap gadis itu dalam. Dimata yoona, kini hanya ada dirinya. Ia dan yoona. Hanya itu. Dan tiba-tiba kyu hyun ingin yoona terus seperti itu. Tanpa ada lagi choi siwon. Atau siapapun disekitar mereka.

Yoona mengangguk. Membuat kyu hyun mau tak mau harus tersenyum pertanda ia cukup bahagia. Lalu berdehem sekali. “apa kau membenciku, yoon?”

Yoona tersentak. Kata-kata itu.. Oh, mungkin pernah. Membenci kyu hyun mungkin pernah yoona coba. Tapi sayang, ia harus menyerah dan gagal. Yeoja itu hanya menatap kyu hyun kikuk. Dalam garis lurus penyatu indra mereka, yoona bisa merasakan aura lama yang tak pernah lagi ia rasakan meski beberapa bulan ini ia tetap bisa bertemu kyuhyun.

Aura aneh seperti saat dulu, kyu hyun tetap mempertahankannya saat kyu hyun sendiri sudah memiliki tiffany. Sejujurnya, yoona tak pernah tau apa alasan kyu hyun terus melakukan itu. Persahabatan? Ya, mungkin. Tapi yoona merasa jika namja itu memiliki alasan yang jauh lebih kuat dari sekedar tiffany.

“tidak” jawab yoona singkat. Kyu hyun masih menatapnya lekat-lekat. Menunggu sekiranya yoona masih ingin menyambung perkataannya. “sepertinya membencimu adalah hal yang terlalu sulit”

Lalu seketika itu juga ulu hati kyu hyun menghangat. Sialan! Hanya satu kalimat itu saja, kyu hyun bisa menjadi gila. Bibirnya mengembangkan senyuman yang luar biasa bahagia. Tak pernah menyangka jika wanita ini, masih yoona-nya yang dulu. Yoona-nya yang lembut dan pemaaf.

Yoona memilih untuk mengembangkan sebuah senyuman tipis pada bibirnya. Dan, woala! Ia lupa jika namja ini pernah membuatnya menjadi penghuni bangsal inap rumah sakit satu minggu yang lalu.

“jadi, mana nara?”

Dan kemudian yoona tersentak. Kedua matanya sedikit membesar dan menatap kyu hyun ragu. Lalu kyu hyun mulai mengerti mengapa yoona tak pernah mengatakan semua ini padanya sebelumnya.

“apa aku bisa menemuinya?” ucap kyu hyun miris.

Yoona menunduk dalam. Tiba-tiba ia merasa bersalah pada kyu hyun. Entah karena terlalu mengekang nara atau karena hingga saat ini belum samasekali bercerita mengenai sang ayah pada gadis kecilnya.

“kyu..” panggil yoona ragu. “sejujurnya,, aku belum menceritakan apapun padanya” sambung yoona. Mau tak mau, kyu hyun harus tau jika nara memang sama sekali tak mengenalnya. Jangankan sebagai ayah, mungkin sebagai teman baik yoona saja nara akan merasa ragu.

Kyu hyun sempat merasa tersentak. Dan sakit hati. Tapi kemudian ia sadar banyak hal. Seperti kesalahan besarnya pada yoona dan nara. Karena jika ia bisa sedikit lebih peka dan sadar akan kesalahannya, mungkin sejak pertama kali nara lahir, ia sudah akan mengenal kyu hyun. Sebagai appanya.

Ini kesalahannya. Dan yoona sudah terlalu benar dengan tak sekalipun menceritakan kyu hyun pada nara. Itu sudah jauh lebih baik daripada wanita itu menceritakan keburukannya dan membuat nara membenci sosoknya.

Nyatanya, kyu hyun tau yoona tak sepicik itu.

Kyu tersenyum tipis. “seharusnya memang seperti itu. Bukan masalah, yoon. Aku masih terlalu beruntung karena kau tak menjatuhkan citraku didepannya”

Kali ini, yoona tertawa kecil. “aku tidak mungkin melakukannya”

“aku tau. Aku tau kau seperti apa, yoon. Aku mengenalmu dengan baik sebelum ini”

Dan siang itu, entah karena apa, yoona merasa jika ia dan kyu hyun memang hanya perlu berbicara. Karena tanpa perdebatan semacam apapun, kini, yoona tau persis jika ia dan kyu hyun tak lagi terikat dalam sebuah benang kusut. Ini memang harus dibicarakan. Terlepas dari segala rasa takutnya, yoona sadar jika sebenarnya, ia dan kyu hyun memang tak akan pernah bisa dipisahkan waktu.

 

-TBC-

 

Whoaa habis-_-

Ini part sepuluh. Maaf terlambat. Kemarin aku tungguin sampai jam 00.00 Cuma beberapa orang yang bilang mau, jadi abis itu aku engga buka-buka email lagi dan setelah dibuka ternyata pesan masuknya banyak banget. Makasih ya udah mau nungguin Memorable sampai part ini.

Dan, buat yang kemarin selalu minta KyuNa moment, nah, untuk hari ini aku kasih dulu kesempatan buat mereka baikan. Dan, ya, semua orang tau apa yang akan terjadi kalau kita udah gak lagi punya rasa dendam. Percaya deh, ini masih panjang –sepertinya. Dan untuk beberapa orang yang udah sempet-sempetin buat nge-follow aku di twitter, terimakasih banyak:) aku engga maksa kalian buat follow aku kok, tapi kalau memang mau temenan juga aku enggak nolak. Cuma kebetulah aku ELF aktif dan mungkin sebagian besar dari kalian engga suka sama SJ –dan aku suka banget nyepam TL sama foto eunhyuk- jadi aku agak sangsi kalau harus minta kalian ngefollow aku. Nanti, untuk minta PW memang harus pake twitter, tapi tenang aja, aku bakal kondisikan biar kalian tetap nyaman waktu minta PWnya nanti.

Btw, yang minta immortal frozen dibikinin chapter, Hellowh~ yaelah yang ini aja masih keteteran say-__- Sabar ya, readers. Mungkin buat yang satu itu memang enggak bakalan terwujud dalam waktu dekat.

Dan, oh ya, kemarin aku lihat Memorable 8 komentarnya sampai seratus, loh. Senang banget^^ makasih, readers /peluk cium/. Kalau part ini bisa sampai seratusan juga komentarnya, aku janji bakalan langsung ngepost part 11 dua hari setelah UN.

 

With love,Park jiyeon.

223 thoughts on “Memorable 10

  1. Wah semakin seru…
    ada yg nerror yoona kah? Akhirnya yoona ama kyuhyun bisa berbicara dan menyelesaikan masalah mereka. Aku pengen tahu reaksi nara saat tahu kyuhyun ayahnya

  2. hehe chingu udh masuk perkuliahan mungkin ya… saya kira saru angkatn.. kembali ke isi ceritanya nih dan selalu memang ceritanya daebak bikin kita yg baca terbawa emosi dan serasa kita ada di dlm cerita itu. tata bahasa yg bagus isi dari cerita yg banyak konflik itu yg menjadikn reader penasaran dan gx sabar nunggu baca chap selanjutnya walau kadang” kata.TBC itujd musuh sejati para reader tapi ya begitulh nama nya juga reder yg baik walupun ada kata TBC tetep selalu menunggu sampai ceritanya tamat dan menanti” semoga dengn ending yg gx mengecewakn.. keep hwaiting jgn pernah bosen untuk terus berkarya..

  3. chingu aku jd ikut deg2an saat ada yg neror yoona dan saat yoona mau ketemu kyuhyun.
    karena ff ini feelnya dapet bgt, jd aku kebawa sama alur ceritanya.
    chingu ngeliat yoona udah ga marah lg sama kyuhyun, aku jd takut mereka akan hidup bersama. kan kalo mereka bersama kasian siwon..
    cz siwon pengertian bgt sama yoona, jd menurut aku sayang kalo yoona harus ninggalin siwon.
    tapi bagaimana akhirnya nanti, aku pasti tetep suka sama ff chingu. jdi keep writing ya..

  4. wah yoona udah mulai diteror…knp hyuk blik kekorea??siwon bk bgt ch….dipart ini udah mulai serius ya…jd akhrny mrk ktmu n bcra jg

  5. Yoona udh mulai di teror siap terima surat dri keluarga siwon. Kenapa keluarga siwon pada gk suka sama yoona ?
    Nanti akhirnya nara tau gk kalo kyuhyun itu appa nya😀
    Ceritanya makin menarik dan buat aku penasaran

  6. penasaran sama endingnya yoona bakalan sama siapa thor. aku malah kepikiran kalo yoona menikah sm siwon tp nara tetep tau ayah biologisnya.

  7. akhirnya mereka biska berdamai jg. tinggal membicarakan masalah nara bersama2.
    tinggal masalah terror yoona itu. siapa sih yg nerror??? kenapa yoona gak bilang sama siwon aja???

  8. Kenapa harus ada teror yg membayangi yoona . Knp keluarga siwon jahat2 bgt yaa .
    Jgn sampai pertemuan yoona dgn kyuhyun ini membuat hati yoona mjd goyah. Ingat siwon yg selama ini mencintaimu Yoong !

  9. This chap is really full of mystery…
    Tp aku suka kalau Yoona n Kyuhyun baikan.. Well, at least Yoonwon can be together..
    Entah kenapa kalau benr2 keluarga Siwon yg nerror Yoona, ko feeling aku Siwon akhirnya bakl pergi tinggalin Yoona n Nara demi keselamatan mereka, trs akhirnya Kyhyun yg jagain mereka karena Siwon suruh.. Well.. I hope it false.. Karena terlalu cliche n menyedihkan… Wkwk
    Anyway, I hope it the next chap it will be revealed…
    Continue to next chap..
    Thanks n GBU

  10. Yah aku gk berharap banget klo siwon bakalan ninggalin yoona krna gk mau nyakitin yoona krna keluarganya yg neror yoona…
    Aku harap siwon masih teguh pendirian ya…
    Dan walupun dan bagaimanapun aku cuma pengen kyuhyun fan yoona tetep nersahabat…
    Itu terus yg aku pikirin pas baca ff ini….
    Dan semoga terkabul

  11. yoona mulai di teror. dan apakah ini ada sangkut pautnya sama keluarga siwon? astaga. komplik baru muncul . makin keren makin seru

  12. Yoona mulai diterror?? apakah ini ada hubunganya dgn siwon …:/
    akhirnya yoona mau jg bicara dgn Kyu
    Semoga KyuNa cepat bersatu
    #KyuNa_Jjang!!!!

  13. Akhirnya.. Harusnya yoona ngelakuin ini dari dulu (yapi nanti ceritanya jadi cepet tamat ya. Heheh)
    Biarpun aku lebih suka yoonwon, tapi untuk kalo ini aku pilih netral aja deh biar ngga nyesek pas tamat nanti yoona sama siapa. Soalnya biarpun yoona skrg sama siwon, banyak hal yg bikin kyu susah hilang dr hati yoona
    Apalagi yoona udah tahunan punya rasa sama kyu dulu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s