[Vignette] Stingy Jonghyun

stingyjh

Stingy Jonghyun

Lineveur’s

Starring

Lee Jonghyun Im Yoona

Genre

Romance, Fluff, Slight

Rating

Teen

Length

Vignette

 

 Jonghyun-ie is the stingiest boyfriend ever

Im Yoona

***

“Lihat, deh!” Miyoung memperlihatkan sebuah tas tangan mungil yang tampak elegan, dan seketika napas Yoona tercekat melihatnya. “Bagus sekali, kan? Siwon membelikan tas ini untukku kemarin. Louis Vuitton keluaran terbaru.”

“Huuu!” sorak Sooyoung dan Yuri sambil melempari Miyoung dengan gumpalan kertas. “Kenapa kau tidak minta Siwon untuk membelikan buat kami juga?”

Miyoung tertawa-tawa melihat tingkah temannya. “Siwon tak akan memberi kalian apapun barang seujung jari pun. Ia kan hanya sayang padaku. Minta saja pada pacar kalian sendiri.”

Sooyoung dan Yuri tambah kesal, hanya bisa meremas-remas cup bubble tea yang sudah kosong. Miyoung masih menertawakan mereka, dan itu membuat keduanya jengah.

“Yuri?” panggil Sooyoung.

Yuri menyahut. “Ya?”

“Kita pacaran saja, yuk. Nanti aku akan membelikanmu tas yang lebih bagus daripada milik Miyoung.” Sooyoung mendesah.

“Heii! Kalian benar-benar mau berpacaran?” sergah Miyoung dengan suara melengking. “Oh, jangan sampai anak kalian nanti mempunyai dua Ibu.”

Sooyoung dan Yuri tertawa, kemudian melambaikan tangannya. “Tentu saja tidak! Memangnya siapa yang mau berpacaran denganshikshin gendut ini?” Yuri menyikut Sooyoung.

“Maaf Nona Otak Udang, aku terpaksa menolak pernyataan cintamu karena kekasihku sudah menunggu di depan sana,” balas Sooyoung tak kalah sengit. Mereka saling pelotot, tak mau kalah.

“Ya ampun! Bisa tidak kalian berhenti bersikap kekanak-kanakan?” Miyoung langsung melerai keduanya.

Yoona melirik arlojinya. Pukul setengah satu tepat. Sudah waktunya jam makan siang mereka berakhir. “Teman-teman, sepertinya kita harus kembali ke kantor. Waktu habis.”

Mendengar perkataan Yoona, Sooyoung dan Yuri langsung berhambur ke pintu kantin, berusaha siapa yang paling cepat keluar dari kantin. Miyoung geleng-geleng melihatnya, kemudian menatap Yoona, mengajaknya berjalan bersama.

“Tugasmu sedang menumpuk?” tanya Miyoung sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku roknya.

Yoona mengangguk dengan ekspresi suram. “Aku masih harus menagih naskah dari beberapa penulis. Dan buku yang aku edit belum selesai juga. Mungkin nanti aku akan lembur.”

“Hati-hati. Tak baik kalau kau memaksakan diri,” nasihat Miyoung bijak. “Mungkin kalau ada waktu, aku akan membantumu.”

“Tidak usah,” tolak Yoona dengan ekspresi kaget. “Pekerjaan Unnie pasti lebih berat daripada aku. Aku masih bisa mengerjakannya sendiri, kok.”

Miyoung tertawa kecil. “Bagaimana kabarmu dengan Jonghyun?”

“Biasa saja,” jawab Yoona sambil mendengus ketika nama kekasihnya disebut. Mengingat dahulu Jonghyun adalah musuh bebuyutan Yoona, hingga sekarang pun mereka tidak bisa menjadi sepasang kekasih yang benar-benar mesra. “Ia masih seperti dulu. Kekanak-kanakan, bodoh, idiot, cerewet, narsis dan … dan apa, ya?”

“Dan pelit,” timpal Miyoung. “Aku ingat ketika kalian kencan untuk pertama kalinya. Jonghyun hanya mengajakmu makan dorayaki di kedai pinggir jalan. Aduh, waktu itu aku tidak bisa berhenti tertawa mendengar ceritamu.”

“Ia memang pelit. Sangat. Padahal dengan uang keluarganya yang melimpah itu, ia bisa mengajakku bolak-balik ke Hawaii berkali-kali,” sungut Yoona. “Apa susahnya meminta sedikit uang pada orang tuanya untuk kencan? Seperti dompetnya setipis dompetku saja.”

“Mungkin ia punya alasan tertentu,” sanggah Miyoung. “Tapi, aku pikir kau ada benarnya juga. Tidak baik juga kalau terlalu pelit. Bisa jalan lebih cepat lagi, Yoona-ya?”

Yoona berjalan lebih cepat.

***

Yoona menghela napas panjang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh lebih, nyaris setengah sebelas malam. Ia menguap, kemudian menatap berkas-berkas di mejanya yang makin menggunung. Yoona mulai mengemasi barang-barangnya, memutuskan untuk pulang sekarang sebelum malam sudah terlalu larut.

“Pulanglah, Yoona-ya,” ucap Miyoung yang langsung membuat Yoona menoleh.

“Bagaimana dengan Unnie?” tanya Yoona. Tidak biasanya Miyoung pulang larut, karena ia adalah tipe pekerja yang cekatan dan jarang sekali terpaksa lembur untuk menyelesaikan pekerjaan.

Miyoung melirik Guess yang melingkar di pergelangan tangannya. “Aku menunggu Siwon. Ia masih sibuk rapat dengan kliennya. Ah, sebaiknya kau meminta Jonghyun untuk menjemputmu. Sudah malam sekali, bahaya kalau kau tetap naik bus ke apartemen.”

“Kalau ia mau,” decih Yoona. “Biasanya ia tidak mau kalau aku mengganggu kencannya dengan ranjang kesayangannya.”

“Mungkin ia mau kalau kau meminta dengan baik,” saran Miyoung diikuti kikik kecil. “Eum, coba panggil ia dengan sebutan chagi atau semacamnya.”

Mwo?” Yoona terlongo-longo. “Aku tidak sudi memanggilnya seperti itu! Dan ‘Jonghyun-ie‘ bukan panggilan sayang!”

Miyoung tergelak melihat Yoona berbalik dengan mulut berbentuk kerucut yang membuatnya tampak menggemaskan. Sesaat  Yoona menghentikan hentakan kakinya.

“Mungkin aku akan mencoba menghubunginya.”

Miyoung tersenyum melihat punggung Yoona perlahan menjauh.

Yoona sibuk mencari-cari kontak Jonghyun di ponselnya sambil bergumam-gumam. “Lee Jonghyun. Lee Jong—ah, ini dia!”

“Yeoboseyo?” Yoona hampir meloncat dan menembus atmosfer mendengar suara Jonghyun. Tidak biasanya Jonghyun mengangkat teleponnya begini cepat.

“Jonghyun-ie? Ini aku, Yoona.”

“Oh. Ada perlu apa kau meneleponku? Jangan bilang kalau kau ingin meminjam uang padaku.”  Lagi-lagi sifat pelit Jonghyun muncul.

“Tentu saja tidak!” Yoona tertawa sesaat. “Aku hanya memintamu untuk menjemputku di kantor.”

“Ya ampun, apa yang kau lakukan malam-malam begini di kantor?” suara Jonghyun terdengar kaget.

Yoona mendengus. “Lembur. Kau pikir apa yang kulakukan di kantor, huh?”

“Tidak ada. Hanya tidak biasa saja kau mau lembur. Eh, aku harus menjemputmu kapan?”

“Tentu saja sekarang, Lee Jonghyun!”

***

Yoona mengetuk-ngetukkan flat suede kremnya dengan kesal. Jonghyun belum datang juga, walaupun Yoona sudah menunggu sekitar setengah jam ditemani hembusan angin musim semi yang masih membawa hawa musim dingin. Sepertinya lelaki itu memiliki masalah dengan mobil bututnya. Sudah berkali-kali Yoona menyuruh Jonghyun mengganti sedan bututnya,—yang sebenarnya tidak butut-butut amat, hanya saja Jonghyun malas mencucinya—namun lelaki itu dengan santainya menunda perintah Yoona. Aku kehabisan uang, jelasnya.

Akhirnya Yoona dapat bernapas dengan lega ketika melihat sorot lampu mobil sedan hitam milik Jonghyun. Jonghyun mengklakson, menyuruh Yoona untuk segera masuk. Yoona membuka pintu mobil, melompat dan menghempaskan pantatnya di jok mobil yang empuk. Tanpa sadar, ia membanting pintu mobil, suatu hal yang dibenci Jonghyun karena Jonghyun punya kenangan buruk dengan pintu yang dibanting yang menyebabkan kaus kesayangannya robek karena tersangkut pintu.

“Jangan banting pintunya, dong!” omel Jonghyun sambil bersiap tancap gas.

Yoona mengambil selembar tisu basah dan mengelap wajahnya yang terlihat kuyu karena make up-nya luntur. “Aku banting berkali-kali pun aku jamin pintu mobil bututmu ini tidak akan rusak. Kau juga akan tetap baik-baik saja.”

“Jangan bilang kalau kau lupa bahwa aku tidak suka dengan pintu yang dibanting-banting,” balas Jonghyun sinis.

“Aku memang lupa,” Yoona tersenyum miring. “Tapi bisakah kau tidak mengajakku berdebat tentang hal sesederhana itu?”

Mereka berdua terdiam. Kemudian Yoona memutuskan untuk membuka pembicaraan.

“Jonghyun-ie, bisakah kau membelikanku, eum, sepatu flat baru? Flat-ku sudah kekecilan,” pinta Yoona yang langsung dibalas Jonghyun dengan gelengan.

“Tidak boleh.”

Yoona protes. “Kenapa tidak boleh? Masa kau tidak boleh membelikan kekasihmu sendiri sepasang sepatu saja?”

Jonghyun tidak membalas, tapi ia memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, membelah ruas-ruas jalan di Seoul dan menukik dengan tajam, membuat Yoona menjerit tertahan. Jonghyun tidak merasa kasihan dengan Yoona yang ketakutan dan tetap konsentrasi menyetir, cause he used to drive fast.

Yoona memukul-mukul bahu Jonghyun ketika lelaki itu menghentikan mobilnya di tepi jalan. Ia terbatuk-batuk sesaat. “Seharusnya kau tidak menyetir mobil secepat itu. Bahaya, Jonghyun-ie. Aku … Aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi padamu.”

Jonghyun merasa bersalah, kemudian mendekap Yoona yang terisak dengan erat.

***

“Silakan diminum tehnya, Unnie.” Yoona meletakkan secangkir teh di meja ruang tamu, tepat di hadapan Hwayoung, kakak iparnya.

Istri Yunho itu menatap Yoona, sesaat, membuat Yoona bingung. “Kau tahu mengapa aku datang kemari?”

“Eh?” Yoona bingung mendengar Hwayoung mengalihkan pembicaraan, padahal tadi ia sedang menawarinya teh. “Tidak tahu, Unnie. Memangnya ada apa?”

“Aku sedang bertengkar dengan Yunho,” ulas Hwayoung sambil mengaduk tehnya. “Dan aku malas bertemu dengannya.”

“Setahuku selama ini hubungan Unnie dengan Yunho Oppa baik-baik saja,” gumam Yoona,  tak percaya bahwa kakaknya bertengkar dengan Hwayoung.

“Tidak juga,” Hwayoung menyeruput tehnya. “Dia bilang aku terlalu sering pulang malam. Padahal aku pulang malam karena pekerjaanku. Apa salahnya lembur beberapa kali saja?”

Yoona menggaruk tengkuknya. “Maaf, Unnie. Aku pikir sebaiknyaUnnie menanyai orang lain. Aku bukan orang yang tepat untuk urusan pertengkaran pengantin muda, oke, sebut saja urusan asmara.”

“Yah, aku tahu. Itu sebabnya kau baru dapat pacar dua bulan lalu,” kekeh Hwayoung.

Unnie,” Yoona mengerucutkan bibirnya yang langsung membuat tawa Hwayoung meledak. Kakak iparnya itu memiliki tawa yang ‘luar biasa’, mungkin karena itulah Yunho memilih untuk meminang Hwayoung sebulan lalu.

“Eh, bagaimana kabarmu dengan Jonghyun?” tanya Hwayoung, yang langsung membuat pundak Yoona merosot. “Aku pikir ia laki-laki yang baik. Wajahnya tampan.”

“Biasa saja. Ia semakin pelit sekarang,” desis Yoona kesal.

“Pelit? Jangan bilang ia tidak pernah membelikanmu semacam, eum, tas, alat-alat make up, pakaian, atau apalah itu?” nada bicara Hwayoung terdengar miris.

Yoona tersenyum getir. “Begitulah. Padahal keluarganya berkali-kali lipat lebih kaya daripada keluarga Unnie.”

Mendengar kata-kata Yoona, ringisan Hwayoung bertambah lebar. Keluarganya tergolong kaya—sangat kaya—dan apa yang Yoona bilang tadi? Berkali-kali lipat? Hwayoung tidak dapat membayangkan betapa kayanya keluarga Jonghyun.

Omona. Aku pikir semua orang kaya pasti boros,” Hwayoung ingin menggigit kuku-kukunya sekarang juga, kalau saja ia tidak ingat kukunya masih dihiasi chip nail.

“Kadang itu membuatku kesal padanya. Tapi setiap kali aku protes, pasti ia akan berkata ‘aku kehabisan uang’, padahal apa susahnya mengeluarkan sedikit uang saja untukku?” Yoona meremas-remas jari-jarinya, menimbulkan bunyi klutuk-klutuk.

“Kau hanya perlu sedikit kesabaran untuk menghadapi pacar seperti Jonghyun,” saran Hwayoung. “Dulu, mantan kekasihku juga kadang seperti itu. Tapi dia pelit karena dia memang benar-benar sedang kehabisan uang. Kalau Jonghyun, entahlah.”

Yoona mengembang-kempiskan mulutnya, tanda kalau ia sedang kesal. Tapi Hwayoung membuat Yoona ceria kembali dengan charmspeak-nya.

“Bagaimana kalau kau kuajari membuat tiramisu?”

Oh, jangan bilang kau tidak mau, Im Yoona.

***

Yoona melirik etalase sebuah butik di mal yang memajang sebuahdress selutut yang tampak manis. Ia pasti kelihatan cantik dengan busana musim semi itu. Mata kelincinya melirik ke arah Jonghyun, dilihatnya lelaki itu tengah memasang wajah jenuh.

“Jonghyun-ie, kau pasti mau membelikanku dress ini. Iya, kan?” rajuk Yoona, mendekatkan pundaknya ke pundak Jonghyun dan menunjukdress yang ia maksud.

Jonghyun menatap Yoona, kemudian menatap dress yang Yoona tunjuk dengan seksama. “Pasti mahal.”
“Oh ayolah, setidaknya kau harus membelikanku sesuatu,” Yoona merengek dan memasang tampang memelas. Tapi Jonghyun tidak tertarik bahkan ketika Yoona mengeluarkan jurus-jurus aegyo-nya.

“Kita ke tempat lain saja,” Jonghyun menggandeng tangan Yoona dan membawanya menjauh, membuat pundak Yoona melorot. Yoona mendesah.

“Seharusnya kau membuang sifat pelitmu itu. Tidak lucu kalau kau juga pelit pada kekasihmu sendiri.” Yoona menasihati Jonghyun, tapi Jonghyun seakan menyumpal kedua telinganya.

“Memangnya kenapa? Kalau kau protes dengan sifatku, itu artinya kau tidak mencintaiku apa adanya,” balas Jonghyun cuek.

“Astaga, Jonghyun-ie. Bukan itu maksudku. Aku menyayangimu tapi aku juga punya hak untuk mengkritikmu.” Yoona mengacak-acak rambutnya. Jonghyun mengangkat bahu.

Baru sebentar Yoona berjalan, obsidiannya sudah langsung tertumbuk pada tas Gucci biru kelam yang tampak mewah. Ia menarik lengan Jonghyun. “Jonghyun, belikan aku tas itu, ya? Boleh, kan? Kau boleh tidak membelikanku dress tadi, tapi tolong belikan yang satu ini, kumohon.”

“Tidak boleh, Yoona. Aku sedang kekurangan uang bulan ini,” tolak Jonghyun lagi, yang membuat amarah Yoona menggerumbul di ubun-ubun.

“Kekurangan uang? Kekurangan uang apa maksudmu kalau kau masih mempekerjakan lusinan pelayan di rumahmu? Kau masih makan dengan layak, kau masih menggunakan pakaian yang layak, kau masih memiliki ponsel, kau masih memiliki mobil, bahkan kau memiliki belasan rumah yang terlalu besar untuk dirimu sendiri, kau masih memiliki banyak uang tapi untuk membelikanku sebuah tas saja kau tidak bisa, hah?” Yoona menyemprot Jonghyun dengan penuh amarah.

Jonghyun tertohok.

“Tidak bisakah kau bersikap seperti kekasih lainnya? Membelikanku sesuatu dan menghormatiku sebagai kekasihmu. Aku sudah bersabar hingga kau mau membelikanku sesuatu, apalah itu. Tapi kau tidak juga mengerti perasaanku. Kau jahat, Jonghyun-ie! Kau jahat!”

Jonghyun tidak bisa melakukan apa-apa ketika Yoona berlari menjauh.

Seakan ia lumpuh.

***

Ini sudah larut. Dan Jonghyun belum juga bisa menemukan dimana Yoona berada.

Padahal Jonghyun sudah berkeliling kota. Mengecek di kafe langganan Yoona dan sekeliling mal, mengunjungi apartemen Miyoung, apartemen Sooyoung dan Yuri,—yang langsung membuatnya sempat dikira penguntit hidung belang dan hampir pula digebuk Sooyoung menggunakan sikat rambut—menelepon Yunho, tapi hasilnya nihil. Tidak ada yang tahu dimana Yoona berada. Yoona bagai menghilang ditelan bumi, dan ini semua karenanya.

Jonghyun memijit keningnya frustasi, kembali menekan tombol call di monitor ponselnya. Sudah sejak tadi ia menghubungi Yoona, tapi gadis satu itu belum juga mengangkat panggilannya. Dan ia hampir mati saat mendengar suara Yoona dari seberang.

“Yeoboseyo?”

Koreksi. Ini bukan suara Yoona. Maksudku, suara Yoona yang seperti biasanya.

“Yoona? Kau baik-baik saja?” tanya Jonghyun ragu.

Yoona tidak merespon dalam beberapa detik. Hik. Tentu, aku baik-baik saja.”

“Kau yakin?” Jonghyun menajamkan pendengarannya ketika mendengar musik berdentum-dentum di seberang. Ia kenal musik ini. Musik khas klub malam. Astaga. Apa yang dilakukan Yoona sekarang ini?

“Kau ada dimana?” tanya Jonghyun.

Terdengar suara cegukan. “Klub malam. Aku harus mencari Jonghyunhikuntuk memintanya membelikan tas baru untukku.”

Jonghyun tertekur. Tidak memedulikan cegukan Yoona yang semakin parah dan suara Yoona yang terdengar dari speaker ponselnya, ia menekan tombol merah. Call ended. Ia harus tancap gas sekarang. Tidak ada kata nanti. Sekarang.

Mesin mobil pun menderu, dan balok baja beroda itupun melesat.

***

Jonghyun melangkah dengan tergesa, membuka pintu klub malam terdekat dan ia kaget sesaat ketika dua orang wanita berdiri di hadapannya. Salah satunya mencolek dagunya sementara satunya lagi menyeringai, mengerling nakal. Oh oke, inilah salah satu resiko memiliki wajah tampan.

“Hei, Manis, mau bermain bersama kami?” salah satu wanita tersebut menawari Jonghyun dengan nada menjijikkan, membuat Jonghyun bergidik sesaat.

“Sori, kau tidak usah repot-repot. Aku ada perlu disini,” Jonghyun menerobos dua wanita tersebut, berlari masuk ke dalam bar. Dugaan pertamanya, Yoona ada disini.

Oh, tapi kemalangan kembali menderanya. Tiga orang wanita yang tidak beda jauh dengan dua wanita tadi menghadangnya. Ketiga wanita itu melingkupi wilayah di sekeliling tempat Jonghyun menapakkan kakinya. Ketiganya memasang ekspresi sok menggoda. Nyatanya itu justru membuat mereka terlihat seperti zombie dibalur make up setebal roti pizza kesukaan Jonghyun.

“Sayangku, kau pasti butuh teman malam ini,” rajuk seorang dari tiga wanita itu. Jonghyun heran mengapa wanita-wanita di klub malam ini menggunakan nada bicara yang sama saja.

“Kau bisa pilih salah satu dari kami. Atau pilih saja kami bertiga,” timpal yang lain. Satu saja sudah bikin ribet.

“Mau kuantarkan ke tempat istimewa kita, Manis?” tawar yang terakhir. Jonghyun harus berani menolak mereka sekarang.

“Maaf, aku sibuk. Aku mencari kekasihku disini,” elak Jonghyun.

Yang pertama menangkupkan telapak tangannya di depan mulut. “Astaga. Pastilah kekasihmu begitu berandalan. Klub ini termasuk salah satu yang paling hebat di Seoul.”

Telinga Jonghyun panas, seakan-akan daun telinganya akan copot dan meroket ke bulan mendengar wanita tadi mengejek Yoona. “Maaf atas tindakanku yang tidak sopan, tapi aku pikir kekasihku beribu kali lipat lebih berharga daripada kau. Minggir, aku mau lewat.”

Ketiga wanita itu menjerit pasrah, kemudian meninggalkan Jonghyun dan kembali mencari mangsa yang lebih cocok. Jonghyun lega, namun sesuatu kembali mengganjal hatinya. Ia belum juga menemukan Yoona.

Jonghyun mendekat ke meja bar dan bertanya pada salah seorang barista. “Permisi, apakah kau melihat gadis berambut cokelat panjang? Ia memakai dress putih dan cardigan.”

“Mungkin kau perlu menilik siapa yang ada di sebelah sana,” barista itu menunjuk ke arah meja bar di sisi lain. “Kuharap kau akan memaksanya untuk berhenti minum. Kupikir ia sudah terlalu banyak minum tadi.”

“Terima kasih,” Jonghyun segera beralih. “Dapat kupastikan bahwa aku akan berhasil membuatnya berhenti minum.”

Jonghyun berjalan mendekat. Dan ia berani bersumpah bahwa ia melihat Yoona sedang mereguk segelas margarita atau apalah itu, dengan wajah merah dan tatapan mata nyalang. Yoona kelihatan bingung, sekaligus gelisah. Jonghyun meraih pundak Yoona dengan lembut, dan Yoona dapat merasakannya.

“Jonghyun? Kaukah itu?” sahut Yoona. Ia menatap Jonghyun, tapi pandangannya kosong. Yoona menyodorkan gelas margarita-nya diiringi cegukan kecil. “Kau—hik—mau?”

Jonghyun mengalihkan gelas Yoona dan meletakkannya di meja. “Kau harus pulang sekarang, Yoona. Bersamaku.”

“Tidak mau,” tolak Yoona. “Aku sedang—hik—menunggu Jonghyun. Kau tahu dimana Jonghyun berada?”

“Berhenti minum lagi. Kau akan menyiksa dirimu sendiri,” Jonghyun membelai helaian surai cokelat Yoona.

“Kenapa aku harus berhenti minum? Ini menyenangkan—hik—dan akan membuatmu merasa lebih rileks, haha,” Yoona tertawa keras, tapi pandangan Jonghyun bertambah sayu mendengarnya. “Hei, apakah kau melihat dimana Jonghyun berada?”

“Aku ada disini,” jawab Jonghyun dengan jujur.

Yoona terbahak. “Kau? Ada di hadapanku? Oh ayolah, kau pintar sekali membuat lelucon. Kau bukan—hik—Jonghyun kekasihku.”

Jonghyun lost control.

“Aku ini Jonghyun dan aku ini kekasihmu!” bentak Jonghyun, tangannya mencengkram pundak Yoona erat. Cengkramannya melemas melihat wajah pias Yoona. “Maafkan aku.”

Hening.

“Kau harus pulang sekarang.”

***

Yoona menangis tergugu.

Jemari pucatnya merengkuh seat belt erat-erat, ia terus menekuk leher dan kakinya. Meringkuk dengan bahu terguncang. Jonghyun menyetir di sebelahnya. Tak menoleh sama sekali. Fokus menyetir dengan kecepatan penuh.

120 km/jam dirasa belum cukup. Jonghyun memasok mobilnya dengan kecepatan penuh. Ia tak peduli apakah lampu lalu lintas menunjukkan nyala merahnya, ditembusnya tanpa rasa takut. Telapak tangannya meremas stir hingga buku-buku jarinya memutih, wajahnya merah membara. Bilur-bilur peluh mengalir di pelipisnya.

Yoona masih terisak. Jonghyun menghentikan mobilnya di tepi jalan dengan tenang. Iris pekatnya belum juga diorbitkan. Jonghyun menatap jalan sambil tersenyum pahit. Jari-jarinya saling meremas satu sama lain.

Mereka berdua terdiam.

Tangan Jonghyun meraih tengkuk Yoona dan langsung membungkam bibir gadis itu dengan bibirnya. Jonghyun masih bisa merasakan betapa basahnya pipi Yoona. Yoona tidak menolak ketika Jonghyun menciumnya. Pria itu hanya menempelkan bibirnya pada miliknya. Ia hanya terdiam dalam diam yang dalam.

“Maafkan aku,” lirih Jonghyun. “Sungguh, maafkan aku.”

Sesuatu mengetuk hati Yoona untuk memaafkan Jonghyun.

“Aku akan membelikan semua yang kau inginkan. Tas, pakaian, make up, parfum, buku-buku, ponsel, mobil, rumah sekalipun. Apapun yang kau mau. Asalkan kau tetap mau menjadi kekasihku.”

Yoona membiarkan Jonghyun melanjutkan kata-katanya.

“Maafkan aku, aku bukan kekasih yang baik untukmu. Maafkan aku bila aku terlalu pelit. Sungguh, aku minta maaf. Aku tidak akan mengulanginya, aku janji,” Jonghyun memeluk Yoona erat-erat, seakan-akan ia ingin meremukkan semua tulang iga gadis itu.

“Aku memaafkanmu,” bisik Yoona di telinga Jonghyun. “Tidak seharusnya aku menjadi sematerialistis itu. Seharusnya aku lebih dewasa dan tidak banyak menuntut. Kalau aku tidak protes pasti kita tidak akan bertengkar seperti ini.”

“Bukan salahmu sepenuhnya,” sanggah Jonghyun. “Aku juga harus introspeksi diri.”

Yoona melepas pelukan Jonghyun dan tersenyum pada lelaki beriris pekat itu. “Sekarang kita pergi kemana, Jonghyun-ie?”

“Pulang. Aku ingin makan es krim dan nonton film dengan gadis cantik.”

Yoona tertawa lebar.

-fin

15 thoughts on “[Vignette] Stingy Jonghyun

  1. butuh sequel thor…knp jonghyun bsa pelit bgt ma yoona…padahl beliin satu barang aza yoona dah senang tuch…kasian yoona

    • Sequel? Wah, aku enggak pernah kepikiran buat bikin sequelnya, haha … Aku pertimbangkan dulu, ya
      Salahkan aku kalo Jonghyun jadi sepelit itu lol
      Makasih udah baca & comment, yaa c:

    • Ngakak? Aduh, ini garing banget, bisa-bisanya kamu ngakak baca ini xD
      Sequelnyaa? Apaaa? Aku enggak pernah kepikiran buat bikin sequelnya, tapi mungkin bakal kupertimbangkan usulmu, hehe …
      Wait, ‘Unn’? Kamu manggil aku ‘unnie’? Oh ya ampun, aku enggak salah denger ini? Emangnya berapa umurmuuuu?
      Makasih udah baca & comment, yaaa

  2. jonghyun pelit amat ya. tapi akhirnya juga mau beliin yoona hahaha.. kasih sequelnya ya thor. biar lebih jelas kenapa jonghyun pelit banget.

    • Haha … Iya, jonghyun emang pelit banget. Salahin aku buat itu xD
      Sequel? Wah, sori bangeeet … Aku belum kepikiran buat bikin bikin sequelnya, hehe. Aku pertimbangkan dulu, yaa
      Makasih udah baca & comment😀

  3. waw hahaha stingy–”
    tapi aku lebih setuju kalo jong pelit karena ada alasan… well as i know, jong memang pelit tp ngga sepelit ini hahahaha..

  4. hahaha ngebayangin kalo emng bnrn jonghyun sepelit itu bzzz-_- ffnya bagus thor aku suka ceritanya tp kurang suka endingnya, endingnya kurang romantis gt thor hihi bikin sequel nya dong thor^^

  5. Jiaaahh kok gaaa djelasin sih knapa jonghyun pelit bnget ,, apa krna dia lg nabung buat masa depannya sama yoona , ?? Mndingan ‘LSG’ dong bkalan beliin yoona 10 hadiah skaligus :p

  6. Jiaaahh kok gaaa djelasin sih knapa jonghyun pelit bnget ,, apa krna dia lg nabung buat masa depannya sama yoona , ?? Mndingan ‘LSG’ dong yg bkalan beliin yoona 10 hadiah skaligus :p

  7. ini mah harus ada sequelnya chingu…. apake,.. mungkin ceritanya jonghyun lg ngumpulin duit bt nikah, atau mau buatin yoong istana mungkin,.. supaya kesannya gak jahat2 banget… hahaha…

  8. Di antara permintaan Yoona ke Jonghyun waktu awal2 minta sepatu tp gk d beliin,,
    Aduh Jonghyun PELIT SEKALI KAU,,
    Tp akhir.a Jonghyun mau berubah,
    Happy Ending

  9. astaga jong, udh kaya masih pelit banget-_-
    Sequel thor, kenapa jong jadi pelit?
    feel nya dapet, Daebak!!! Keren!!
    keep writing jongyoon^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s