Unconditional.

unconditional

poster credit : heerinssi

author : jyh206

genre : romance

rating : pg-13

main cast(s) : im yoona, kim jinho (oc)

“Kenapa sih, kau hanya selalu tersenyum setiap kali aku menanyakan hal itu?”

Yoona memasang wajah memberengut menatap laki-laki yang ia ajak bicara. Laki-laki itu hanya tetap tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Yoona.

“Jinho oppa! Cobalah menjawab, jangan hanya tersenyum,” pinta Yoona. “Apa yang membuat oppa mencintaiku?”

Jinho masih tetap menatap Yoona tanpa mengatakan apapun. Bibirnya tetap menyunggingkan senyuman, yang bagi Yoona kini mulai memuakkan.

“Yunjae oppa bilang kepada Taeyeon eonnie bahwa Yunjae oppa mencintai Taeyeon eonnie karena suara indahnya. Jisung oppa bilang ia mencintai Hyoyeon eonnie karena eonnie jago ngedance. David oppa bilang ia mencintai Tiffany eonnie karena eonnie cantik,” ujar Yoona panjang lebar. “Lalu apa alasan oppa mencintaiku? Aku ingin tahu.”

Jinho hanya menjawab, “Kau akan tahu nanti mengapa aku tidak menjawab pertanyaanmu, chagi.”

Yoona menghela napasnya. “Aku sudah menanyakan ini lebih dari 5 kali dan jawaban oppa tetap sama. Aku tahu, oppa pasti tidak mencintaiku, kan? Baiklah kalau begitu, kita akhiri saja hubungan kita.”

Jinho yang terkejut mendengar pernyataan Yoona hanya menganggukan kepalanya. “Baiklah jika itu yang kamu mau, kita akhiri hubungan kita.”

Sejak saat itu, hubungan mereka berakhir.

Suatu waktu beberapa bulan setelah mereka berpisah, terjadi kecelakaan yang melibatkan Yoona. Yoona kehilangan suaranya karena pita suaranya harus diangkat, kehilangan kaki kanannya yang harus diamputasi dan juga mengalami kerusakan di daerah wajahnya.

Jinho mendengar kabar ini dari salah seorang sahabat Yoona. Ia memutuskan untuk menjenguk Yoona di rumahnya karena Yoona telah mengundurkan diri dari kampus tempat di mana ia belajar.

“Kenapa kau datang? Kau ingin mengejekku karena kini aku telah cacat, kan?” tulis Yoona di atas sebuah kertas ketika melihat Jinho mengunjungi rumahnya.

Ia melihat Jinho menggeleng dan tersenyum. “Aku ingin menjengukmu,” jawab Jinho.

“Kau tidak perlu menjengukku. Aku sudah tidak sempurna lagi. Aku malu,” tulis Yoona lagi.

Jinho tampak menaruh sebuket bunga di atas meja kecil di samping tempat tidur Yoona. “Aku ke sini untuk menjelaskan beberapa hal. Termasuk soal kenapa aku tidak pernah menjawab pertanyaanmu waktu kita masih bersama dulu,” katanya sambil mendudukan diri di atas tempat tidur Yoona.

Yoona tidak menulis apa pun sehingga Jinho memutuskan untuk melanjutkan pembicaraannya.

“Kau tahu mengapa aku tidak pernah menjawab pertanyaanmu dulu?” tanya Jinho. “Karena aku memang tidak memiliki suatu alasan pun. Kau mungkin berpikir bahwa aku tidak pernah mencintaimu karena aku tidak pernah memuji suaramu, kemampuan menarimu ataupun kecantikanmu. Aku tahu kau kesal denganku karena itu. Tapi aku ingin kau tahu kalau cinta tidak hanya sebatas dari kelebihanmu.”

Yoona masih terdiam mendengarkan sambil terus memperhatikan Jinho.

“Seandainya waktu itu aku menjawab pertanyaan itu dengan ‘aku mencintaimu karena suara indahmu’, tentu melihatmu yang sekarang bisu aku tidak akan mencintaimu lagi. ‘Aku mencintaimu karena kamu jago dance’, tentu aku tidak mencintaimu lagi karena kamu telah kehilangan sebelah kakimu. ‘Aku mencintaimu karena kamu cantik’ tidak akan berlaku lagi melihat kerusakan di wajahmu.”

Kali ini, Yoona mulai menitikan air matanya mendengar perkataan Jinho.

“Im Yoona, cinta tidak sebatas suara, bakat dan wajah. Aku mencintaimu bukan karena kelebihan. Aku mencintaimu karena kekuranganmu. Jika kau bertanya padaku, masihkah aku mencintaimu setelah kamu kecelakaan, ya, aku masih mencintaimu. Aku tidak peduli dengan apa yang terjadi pada fisikmu. Aku mencintai apa yang ada di dalam hatimu.”

Jinho berhenti sebentar untuk menghembuskan napas. Ia lalu menggenggam tangan Yoona yang sedang gadis itu gunakan untuk mengelap air matanya.

“Jika kamu bersedia, aku, Kim Jinho, memintamu, Im Yoona untuk menjadi pendamping hidupku. Dikala suka maupun duka, dalam kegembiraan maupun kesedihan. Aku memilihmu untuk menjadi teman hidupku, istri sehidup semati. Dan aku berjanji, aku akan mencintaimu setulus hati dan jiwa.”

Yoona mengeluarkan lebih banyak air mata mendengar serentetan lamaran dari Jinho, laki-laki yang pernah dicampakannya beberapa bulan yang lalu hanya karena alasan konyol. Kini ia mengerti mengapa pria itu dulu hanya tersenyum setiap kali ia menanyakan mengapa ia mencintai Yoona. Sambil perlahan memeluk Jinho, Yoona menganggukan kepala.

“Ya,” ujarnya dalam hati. “Aku mau.”

Fanfiction ini pernah aku publish di wordpress pribadiku : acupofteaforlolita.wordpress.com. Comments will be appreciated! ;D kkk~

12 thoughts on “Unconditional.

  1. Aih mati. Reeeeeeeen. Keren banget ini FF.
    Gimana ya. Apa ya. Simpel tapi ya ngena. Bikin meleleh.
    Buat yang lain sih akunya udah enjoy bacanya. Kalo pun cuma sebatas ficlet, tapi ngenanya itu yang bikin wah. Wkwkwk
    Ditunggu karya yang selanjutnya ya Ren! Semangat!’-‘)9

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s