Memorable 9

 

0

cr : HeenaPark @PosterState

Judul         : Memorable 9

Author      : HyukgumSmile

Genre        : Romance, Family

Rating       : PG-17

Main Cast  : Im yoona, Tiffany, Cho kyu hyun, Choi siwon, Im nara

 

Happy Reading^^

 

kyu hyun mendelik tajam. Amarahnya terpancing hanya karena sebuah kata yang entah mengapa membuatnya merasa begitu kehilangan. Salah satu ruang dalam hatinya tiba-tiba kosong, penuh hitam pekat yang hampa.

Kedua tangan kyu hyun mengepal erat.

“dia juga wanitaku, siwon-ssi” desis kyu hyun tajam.

Siwon masih menatapnya tenang. Jemarinya bergerak karena nara yang tiba-tiba beralih pada gendongan yoona. Lalu jemari yoona kembali menggenggam miliknya erat.

Siwon menghela nafas dalam detik yang menenangkan. Tubuhnya berdiri dengan lurus tanpa ancang-ancang lagi. Ia menatap kyu hyun tak mengerti lalu berucap fasih,

“kyu hyun-ssi, pria tak pernah melabeli seorang wanita tanpa ikatan yang jelas” tuturnya berwibawa.

“aku sahabatnya, choi siwon-ssi”

Siwon kembali menghela nafas ragu. Sejujurnya, ia bisa saja membawa yoona pergi dengan menahan kyu hyun melalui security. Tapi ia tak ingin menciptakan keributan. Akan ada banyak masalah yang tercipta setelahnya. Jadi,,

“sahabat bukan ikatan yang tepat untuk melabelinya sebagai wanitamu” siwon berbalik menatap kebelakang, disana yoona masih berdiri kaku menatapnya dan menarik tangannya meminta pergi. “dan mungkin akan lebih baik jika kau membiarkan sahabatmu ini untuk pergi. Wanitaku jelas sedang tak ingin bertemu denganmu, jadi sebagai sahabat yang baik seharusnya kau  menghargai keinginannya”

Siwon menatap kyu hyun dalam. “bukankah kau menyayangi sahabatmu ini, kyu hyun-ssi?”

Siwon kemudian menggenggam tangan yoona erat, menyeretnya untuk berjalan melewati kyu hyun yang akhirnya terdiam kaku. “ayo..” bisik siwon.

Namja itu menarik jemari yoona melewati kyu hyun lalu berhenti usai beberapa langkah melewatinya. Siwon menghela nafasnya berat, membiarkan yoona menatapnya dalam kediaman dan kepasifan diri.

Yoona hanya tak ingin berlama-lama disana. Dan ia rasa siwon sudah sangat amat tau itu. Tapi siwon berusaha menenangkannya. Tetap menggenggam jemari yoona erat kemudian membalikkan kepalanya, sekedar menatap kyu hyun dari samping.

“kyu hyun-ssi, pegang janjiku. Aku adalah satu-satunya orang yang tak akan pernah menghalangi pertemuan kalian. Seharusnya kau tau sejak pertama kali kita bertemu aku bukanlah orang yang seegois itu. Tapi..” siwon diam sesaat. Matanya memejam lalu kembali terbuka, seolah ia sedang meyakinkan diri jika tindakannya kali ini adalah benar.

Ia tak ingin mengekang yoona. Itu bukan choi siwon sekali.

“tapi aku hanya sekedar ingin melidungi wanitaku. Hanya dalam waktu dekat. Tunggulah hingga ia siap bertemu denganmu. Aku tak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya. Jadi, jangan hari ini.”

Dan mereka berlalu dengan kyu hyun yang masih berusaha mencerna setiap perkataan siwon.

 

 

__

Siwon jelas bukan lelaki yang terlalu egois. Ia sadar, bahkan terlalu banyak yang ia sadari semenjak ia bertemu sosok tiffany dan cho kyu hyun hampir satu bulan yang lalu. Salah satunya tentu saja hubungan yoona yang tak akan pernah lari jauh-jauh dari mereka.

Dari awal, yoona telah sering –bahkan terlalu sering- bercerita mengenai kedua sahabatnya. Bahkan sebelum memutuskan untuk pulang kenegara asal mereka itu, ia sudah puluhan kali mengingatkan siwon untuk tak terbebani dengan kehidupannya dikorea.

Nyatanya, siwon memang sesabar itu untuk memahami kehidupan yoona. Mau bagaimana lagi, ia sudah terlanjur tak mampu hidup tanpa kebahagiaan yoona. Jadi jika ia tetap ingin bernafas, maka satu-satunya jalan hanyalah membiasakan diri dengan kebahagiaan yoona dalam hidupnya.

Tapi bagi siwon bukan masalah yang rumit. Karena sedari awal ia juga sudah berniat untuk memasuki dunia yoona, berada dalam situasi dimana ia bisa mengerti yoona, ada didalam setiap kebiasaan yoona dan terus seperti itu.

Maka menjadi bagian dari kebahagiaan itu bukanlah hal yang rumit untuk dilakukan.

Hampir tiga bulan berada di seoul, dan dua tahun lewat di virginia. Memahami yoona hanya butuh waktu sepersekian detik dari helaan nafasnya. Sebegitu teriakatnya kehidupan siwon pada yoona hingga ia hanya akan bergantung pada gadis itu disetiap oksigennya.

Jelas, siwon tak membutuhkan hal apapun selain yoona. Dan karena memahami yoona adalah nafasnya, maka kehadiran nara menjadi tak begitu masalah. Yoona mencintai gadis kecil itu, dan siwon, tentu saja juga harus mencintainya.

Tapi ia mencintai nara bukan karena itu. Jelas bukan karena sebuah paksaan. Ia sudah lama jatuh cinta pada gadis itu. Semenjak pertama kali ia menyapa siwon lalu berkata ‘baiklah, kau mirip edward. Dan aku menyukaimu!’.

Hanya sebatas itu. Lalu esoknya nara sudah nyaman nyaman saja bergelantungan pada lengannya. Dan seperti itu saja cara siwon mencintai gadis cilik itu. Sesederhana ia jatuh cinta pada yoona yang memiliki anak tanpa suami.

Sesederhana itu juga ia mencintai nara yang lahir tanpa ayah. Sesederhana ia menerima dua manusia yang terjebak dalam relung waktu kelam itu dalam hidup mereka. Dan lebih sederhana lagi ketika ia datang dan semua terasa jauh lebih sempurna.

“kau seharusnya tak menjanjikan apapun”

Siwon menatap yoona datar, lalu tersenyum setelahnya. “memangnya aku menjanjikan apa?” tanyanya manis.

Yoona menghempaskan jemarinya pada meja, matanya memejam lalu kembali membuka cepat. Ia jelas tidak suka pada keputusan siwon beberapa saat yang lalu, tapi, “aku tidak ingin bertemu dengannya. Kau jelas tau itu!”

Siwon melirik nara sebentar. Gadis kecil itu masih asik sendiri dengan semangkuk es krim kesukannya tanpa mau perduli pembicaraan macam apa yang mereka bicarakan. Lagipula, nara juga belum akan mengerti. Jadi, ya, lebih baik ia tak mendengar sama sekali.

“aku juga tak ingin kau bertemu dengannya, jika kau ingin tau. Tapi ini bukan masalah bertemu dengan masa lalu dan terluka, sayang. Ini sepenuhnya tentang kalian yang harus menyelesaikan permasalahan kalian tanpa ada lagi yang mengganjal”

“aku juga tak ingin menyelesaikan apapun dengannya. Kau tau,kan, semua ini membuatku takut”

Siwon tersenyum menenangkan lalu menggenggam jemari yoona lembut. “semua ini juga membuatku takut, yoon”

Yoona terdiam. Usai malam itu, untuk yang kedua kalinya ia dengan jelas mendengar suara bergetar milik siwon. Tergantung, dan lelah. Apa semenyakitkan itu untuk bersamanya??

Siwon jelas kalut. Takut, adalah hal yang paling berserakan dan menumpuk dalam otaknya saat ini. Tentu jika wanita yang berada disampingnya bukan yoona, ia mungkin hanya perlu meminta restu dan mereka sudah menikah tahunan silam. Tapi ini berbeda.

Karena wanita itu yoona maka siwon tak pernah berani membahas pernikahan dan mendesaknya. Kehadiran nara sudah lebih dari cukup untuk menjadi tolak ukur kapan mereka harus menikah. Tapi nyatanya, siwon dan nara sudah cukup dekat. Dan jika bisa dikoreksi lagi, mereka justru sudah sangat-amat-dekat.

Trauma yoona juga menjadi alasan lainnya. Siwon tentu tak ingin malam pertama mereka nanti hanya akan terisi oleh keheningan kosong yang mencekam. Dan yoona seperti tau jelas untuk yang itu. Gadis itu belum ingin disentuh berlebihan. Bahkan olehnya sendiri yang sudah menemani yoona dua tahun lewat.

Dan siwon tak mempermasalahkannya. Baginya, cukup dengan yoona menerimanya dan berada disisinya, itu saja sudah menjadi apresiasi yang amat sangat besar untuk usahanya mendapatkan yoona.

Yoona terlalu tertutup. Ia hanya akan terbuka pada sebagian orang yang ia percaya dan ia yakin mampu menjaga rahasianya. Nyatanya, meski sejauh ini yoona sudah menceritakan banyak hal, keberadaan ayah  biologis nara memang adalah satu-satunya yang ia tutupi.

Siwon tak tau, ia juga tak ingin memaksa yoona untuk mengungkapkan siapa pria itu. Siwon juga bukan pihak yang harus marah dan memperkarakan kejadian lima tahun silam. Karena nyatanya yoona tersakiti saat siwon bahkan belum mengenalinya.

Jadi, siwon yakin jika suatu saat nanti wanita itu akan bercerita. Entah sesaat sebelum atau sesudah pernikahan mereka yang terkesan masih sangat amat jauh. Atau.. ya, entah kapanpun itu.

Tapi mengetahui bahwa kyu hyun adalah ayah biologis nara bukanlah sesuatu yang telah dipersiapkan siwon sebelumnya. Memang, ia berusaha ribuan kali untuk mempersiapkan diri jika suatu saat nanti yoona bertemu namja masa lalunya itu.

Siwon tentu tau, yoona tak mungkin mau melakukan hal senista itu jika bukan karena cinta. Yoona pernah mencintai –siapapun itu- ayah biologis nara. Dan kini, siwon mulai percaya jika yoona pernah begitu mencintai kyu hyun.

Siwon mengerjap sembari menghela nafasnya dalam-dalam. Seolah ia akan mendapatkan banyak energi usai ia percaya jika yoona akan terus mempertahankannya. Namja itu segera melirik nara lalu kembali pada yoona. Jemarinya kemudian bergerak menggenggam salah satu tangan yoona yang terlihat masih kesal lalu sekali lagi mendesah berat.

“seandainya kau tau, betapa aku hampir mati berdiri karena takut kehilanganmu, yoon. Jika aku bisa memilih, maka aku juga akan menjauhkanmu darinya. Tapi ini bukan pilihan. Bukan semacam objektif yang memberikanmu banyak solusi. Aku berada disini, disisimu, hanya untuk percaya jika kau tak akan kembali terjebak dalam masa lalu itu. Dan aku bukannya tidak tau jika kau sendiri tengah meencemaskan perasaanmu”

Yoona tersentak. Refleks ia segera menarik jemarinya. “apa yang kau katakan?!” bentaknya kesal.

Namun siwon lebih cepat. Jemarinya telah siap dengan tenaga super untuk terus menggenggam milik yoona. Semacam perasaan sudah tau apa yang akan yoona lakukan karena perkataannya.

“jangan dilepas, yoon” pintanya dengan kembali menggenggam jemari yoona. Percayalah, ia tak butuh apapun kecuali yoona yang terus menggenggam jemarinya. Siwon butuh pegangan. Ia butuh tonggak untuk menggoyahkan pikiran buruknya mengenai semua ini. Dan ia butuh yoona.

Yoona sempat tertegun. Ia lupa jika siwon hanya membutuhkannya. Maka tanpa banyak berbicara ia kembali mengulur jemarinya lalu tau-tau ia sudah merasa begitu hangat karena genggaman siwon yang luar biasa sempurna.

Kekesalan yoona mereda dengan cepat. Bahkan mereka seperti tak perduli dengan nara  untuk melakukan kontak fisik. Karena sebelum ini mereka sama-sama tau batasan mereka masing-masing dihadapan nara.

“maaf, aku salah” ucap siwon diiringi senyum mirisnya sesaat.

Dan usai itu yoona merasa jauh lebih bersalah. Siwon benar. Bahkan jauh lebih tepat menebak dibandingkan dengan dirinya sendiri. Yoona takut. Ia takut kembali terjebak bersama kyu hyun. Ia takut kembali pada namja itu dan ia sendiri takut masih menyimpan rasa yang sama.

Bertahun-tahun pergi memang tak menjamin apapun. Jelas, mencintai siwon berbeda dengan setiap perasaannya ketika bersama kyu hyun. Siwon dan kyu hyun adalah dua namja berbeda dan memiliki pengaruh berbeda yang sama-sama besar dalam hidupnya. Tapi karena kyu hyun hadir lebih dulu, dan jauh lebih lama, maka tak akan ada pria yang tak cemas saat mereka kini berada dalam posisi seorang choi siwon.

Yoona balik menggenggam jemari siwon. Tiba-tiba hatinya terasa begitu kalut. Ia jelas tak ingin siwon tersakiti oleh sikap egoisnya. Tapi yoona sendiri tak tau bagaimana caranya untuk menjadi seseorang yang tak egois.

“tidak. aku yang salah. Maafkan aku” balasnya lemah.

Siwon hanya tersenyum kecil. Sudut-sudut bibirnya yang tipis, kecil dan selembut porselen itu melengkungkan senyuman paham yang tak akan diketahui orang banyak maknanya.

“tak apa, aku tau bagaimana rasanya. Semacam ragu untuk kembali pada mantan kekasih. Itu memang menyulitkan”

“dia bukan mantan kekasihku, choi siwon!”

“tapi dia jelas menjadi satu-satunya pria yang singgah dan begitu membekas dalam hidupmu”

‘kau juga! Kau juga singgah dan membekas disini, siwon-ah. Kau pikir siapa lagi pria yang dengan tulusnya mencintaiku yang jelas-jelas memiliki seorang anak tanpa pernikahan?’

Yoona bergumam dalam hati. Tapi kali ini tak sekalipun ingin mengeluarkan buah pikirkannya. Mereka kemudian hanya berdiam diri dalam kesunyian lalu pada akhirnya berada dalam situasi perang dingin dengan pikiran masing-masing.

Siwon melirik sunrise cream miliknya. Sudah mencair. Dan jikapun masih utuh, ia seperti tak begitu ingin untuk makan. Nafsu makan siwon sudah turun drastis semenjak sehari silam. Tak ada yang benar-benar tau serapat apa ia menyembunyikan perasaan kecewanya saat ini.

Kecewa pada dirinya sendiri. Dan kecewa pada waktu yang membiarkannya melindungi yoona usai masalalu wanita itu ternyata begitu menyiksanya.

Ia melirik mangkuk yoona. Sama saja. Jika ia saja tidak memiliki nafsu makan, siwon seratus persen yakin jika yoona jauh lebih tidak berselera lagi. Jadi, untuk mempersingat waktu mereka yang tebuang percuma, namja itu segera melirik nara dan seketika senyuman lebarnya mengembang.

Aneh, siwon juga hanya butuh nara –selain yoona- untuk tersenyum secerah itu. “ra-ya, kau sudah siap?”

Nara mengerjap, kemudian menggeleng cepat. “aniioo! Kau bilang aku akan mendapat dua porsi!” jawabnya dengan menggembungkan pipinya tanda protes.

Siwon segera saja mengacak rambut nara sayang. Ia dengan cepat membersihkan sisa eskrim yang menempel pada bibir nara lalu berkelakar ringan.

“kita bawa pulang saja, eoh. Mommy butuh istirahat” ujarnya lalu melirik yoona.

Yoona bahkan tak lagi punya kata-kata yang tepat untuk menggambarkan betapa sempurna dan luar biasanya siwon sebagai seorang pria. Namja itu memesan satu lagi eskrim untuk nara, membayarnya, lalu menggendong nara dan kembali menggenggam jemari yoona erat.

Yoona bahkan terkesiap karenanya. Siwon, namja yang katanya tengah mengalami ketakutan itu, nyatanya masih bisa bersikap luarbiasa manis untuknya. Yoona merasakan genggamannya begitu hangat. Ia lupa, ia punya siwon yang jutaan kali lebih baik daripada siapapun. Dan entah untuk yang keberapa kalinya, yoona kembali bersyukur.

Jemarinya membalas genggaman tangan siwon, meredakan setiap kegelisahannya dalam genggaman siwon. Dan detik itu, tanpa kata maaf mereka kembali tersenyum penuh kasih.

 

 

_One week later_

“terimakasih, senang bekerjasama dengan anda”

Yoona tersenyum, menjabat tangan lelaki perawakan dua-puluh-tujuh tahun itu dengan ramah lalu beralih pada wanita dua-puluh-lima tahun yang berdiri anggun disampingnya.

“sama-sama. Senang bisa membantu. Semoga pelayanan kami tidak mengecewakan”

Mereka tersenyum manis. “tidak, perusahaanmu yang terbaik”

Yoona mengangguk untuk kembali berterimakasih. Lalu berdehem. “jadi, kalian sudah men-survey tempat apa saja? Sudah coba lihat caledonia?”

Yoona hampir terpingkal menatap dua mata yang kini berbinar malu itu. Ah, dasar pengantin baru. Bisik hatinya. Yoona tersenyum paham. Lalu menyentuh lengan si wanita dengan lembut.

“sebaiknya kalian kesana jika memang terlalu menyukai alam. Jika ingin tempat yang sejuk dan tenang, pergilah ke loire. Atau sudah berencana pergi ke eropa?”

Lelaki itu mengangguk sekali, masih dengan tersenyum malu. “kami sudah berencana akan ke paris. Tapi masih perlu dipertimbangkan. Apa caledonia itu indah?”

Secercah senyuman antusias keluar dari bibir yoona. Ia mengangguk cepat. “caledonia adalah pulau kecil di sekitaran samudra pasifik. Kau bisa menemukan apa saja yang tidak kau temukan di jeju atau eropa sekalipun disana. caledonia sangat indah dan sepertinya istrimu tertarik”

Lelaki itu melirik wanita yang berdiri mengait lengannya dengan cepat. “kau pernah mendengarnya?” tanyanya.

Wanita itu mengedik sekali. “sedikit. Kau tau,, yang,, pernah aku ceritakan dulu”

Yoona tersenyum. Tuntas sudah. Menyusun acara, menyelenggarakan pesta seperti yang mereka inginkan lalu membantu memilihkan tempat berbulan madu. Sampai disitu saja kemampuannya untuk menawarkan jasa.

Yoona menunduk ketika mereka berpamitan pergi. Bibirnya mengembangkan senyuman kecil tanda kepuasannya hari itu.

“wah, kau membalas hari liburmu dengan proyek baru?”

Yoona duduk, menatap ji yeon yang masuk dengan membawa tumpukan map dalam genggamannya. Yeoja itu tersenyum berjalan menuju meja kerja yoona lalu terdengar gedebum keras pertanda tumpukan file yang harus yoona periksa itu sudah berhadapan dengan meja.

“kau, kan, bisa meletakkannya dengan lebih baik, park ji yeon-ssi!” kesal yoona.

Ji yeon hanya memberengut. “itu berat sekali, yoon. Kau harus merasakan bagaimana menjadi sekretaris yang super sibuk hingga buku lenganmu seakan mati rasa!”

Yoona terkekeh geli “berlebihan sekali” gumamanya.

Ji yeon berjalan mendekat, duduk, lalu menatap yoona tanpa berkedip. Yoona yang merasa diperhatikan dengan cepat menoleh dan tiba-tiba mendengus malas. “apa lagi?” desahnya.

Ji yeon hanya menyengir se-polos yang ia mampu. Membuat yoona memutar bola matanya jengah. “ya tuhan park ji yeon, tas venue itu ia belikan untukku. Bagaimana bisa aku memberikannya untukmu. Apa kata tiffany nanti?”

Ji yeon kembali memberengut. “dia, kan, sering bepergian kemanapun. Biarkan saja ia membelikanmu tas-tas yang lainnya”

“jika aku yang membayarnya, mungkin aku tak akan ragu. Tapi ini buah tangannya, dia akan kecewa sama sepertimu saat scraft soft blue milikmu aku buang ketempat sampah”

“yak! Kau membuangnya?!”

Yoona mendengus. “hanya pemisalan. Seperti itulah rasanya jika pemberianmu tidak dihargai. Sudah, nanti jika tiffany berinisiatif untuk pergi kembali aku akan memesankannya untukmu”

Yoona berjalan menuju meja kerjanya. Mulai membuka map pertama dan membacanya sekilas.

“benarkah?”

Dan yoona menutup matanya rapat-rapat. Dasar park ji yeon, gadis kecil penggila tas. Yoona bisa kehilangan akal memikirkan cara melindungi venue pemberian tiffany dari ji yeon.

“ya, aku usahakan”

Dan detik berikutnya leher yoona sudah tercekik erat oleh pelukan ji yeon. “ah, gomawo. Kau yang terbaik, yoon”

Nah, kan. Yoona paling risih jika ji yeon sudah mulai mengecup pipinya seperti ini. Tau akan segera terkena omelan yoona, ji yeon dengan cepat berlari menuju pintu dan menghilang dibaliknya. Menyisakan yoona yang pada akhirnya tak henti-hentinya berpikir apa benar jika ji yeon itu sudah dua-puluh-tiga tahun.

Yoona tak pernah menatapnya lebih dari remaja tujuh belasan. Ah, dasar park ji yeon.

Yoona tersenyum sekilas. Seminggu berlalu dan kini semua mulai berjalan seperti biasa meski terkadang rasa takut itu tetap menghantuinya. Yoona tak lagi pernah melihat kyu hyun semenjak hari mereka bertemu dikoridor rumah sakit.

Meski beberapa kali tiffany datang untuk mengunjunginya, tiffany juga tak pernah membawa kyu hyun bersamanya. Jadi, ya, ia tak lagi pernah melihat kyu hyun semenjak itu.

Yoona membuka lembaran map pertama. Bibirnya dengan cepat mengulum senyum tipis saat proposal kim ah reum terlihat. Salah satu teman lama yang baru-baru ini yoona temui. Mereka sempat terlibat perbincangan panjang sebelum akhirnya ah reum berkata jika ia akan menikah. Dan, seperti janjinya, ia akan menggunakan jasa perusahaan yoona.

Jemari lentik yoona kembali membalik lembaran. Menimbang-nimbang tempat yang benar-benar tepat untuk prosesi sakral ahreum. Ia jelas tak boleh main-main jika ah reum sudah mempercayakan hal ini padanya.

“permisi, yoon..”

Yoona mendongak, menemukan ji yeon berada diujung pintu ruangannya. Kening yoona berkerut cepat. Aneh, tak biasanya yeoja itu besikap sopan jika sudah berdua bersamanya.

“ya, ji? Ada apa?”

Ji yeon masuk dengan langkah kecil. Air mukanya sedikit canggung lalu tanpa aba-aba ji yeon menyodorkan sebuah kertas dalam map berwarna putih yang mengkilap. Ada kerlip diujungnya lalu ada sebuah pita merah menyala.

Ji yeon tersenyum. “apa choi siwon sudah berubah menjadi begitu romantis?” tukas ji yeon.

Sejenak batih yoona luruh. Ia sempat berpikir diluar batas saat mendapati kejanggalan dari wajah ji yeon. Yoona hanya tersenyum, meraih surat kecil itu lalu ji yeon keluar dengan cepat.

Yoona mengusap bibir surat. Aneh, sejak kapan siwon bersikap begitu manis? Mereka bisa bertemu kapanpun mereka mau. Dan berkirim surat seperti ini bukanlah gaya seorang choi siwon. Masih ada ponsel, bahkan ia bisa mendengar plus menatap wajah yoona dari sana.

Tiba-tiba perasaan yoona menjadi buruk. Tepat ketika jemarinya menyentuh pita merah menyala yang terletak diujung surat, pita itu terjatuh. Yoona membelalakkan kedua bola matanya tak percaya.

Disana, tertulis alamat lengkap kantornya. Dan dibawah itu tertulis ‘New York City’.

Jemari yoona sontak bergetar. Sekejap detik berlalu yoona segera meraih ponselnya. Mencari nama siwon secepat yang ia mampu. Tak lama, bunyi sambungan terdengar.

Sial! Bagaimana bisa ia dikirimi surat oleh orang tua siwon? Mereka selalu berkomunikasi melalui sambungan telepon sejauh ini. Dan surat-menyurat tentulah dilakukan jika sesuatu sudah menyangkut hal-hal yang terlalu pribadi.

Yoona tersentak. Jika surat itu dengan jelas tertuju untuknya, maka jelaslah siwon tak akan tau apapun. Ia buru-buru menutup sambungan telepon lalu terpekur dalam diam.

Yoona berpikir panjang. Sedalam yang ia mampu untuk menggali berbagai kemungkinan yang akan tertera dalam goresan tinta didalam selembaran kertas itu. Bagaimana jika akhirnya kedua orangtua siwon sudah jengah karena dirinya? Bagaimana jika kali ini bukan lagi siwon, tapi yoona lah yang akan menjadi bahan omongan mereka? Bagaimana jika pada akhirnya sepasang suami istri itu mulai bertidak karena menganggap yoona telah melarikan anak lelakinya?

Dengan jemari bergetar, usai menarik nafas dalam-dalam yoona membuka kait yang mengikat kuat penutup surat. Tanpa aba-aba sebuah keringat dingin mengalir dari ujung pelipisnya.

Tidak. apa sebaiknya tidak dibuka saja?

Yoona menutup matanya rapat-rapat. Tapi ia perlu tau mengapa dan apa tujuan surat itu dikirimkan padanya. Akhirnya, dengan mengumpulkan keberaniannya yoona memutar kait merah menyala itu, mengeluarkan secarik kertas yang berisikan sebaris kalimat.

‘yang terhormat, im yoona.

Aku tidak tau jika korea bisa menjadi tempat bersembunyi yang cukup menarik. Untuk saat ini, selamat bersenang-senang.’

Kepala yoona terasa begitu berat sekarang. Bibirnya kelu sementara kepala belakangnya berdenyut menyakitkan. Mereka sudah tertangkap basah. Meski awalnya melarikan diri dari keluarga besar choi memang bukanlah hal yang tepat, yoona baru sadar jika resiko yang ia tanggung akan seperti ini.

Maka tanpa mengulur waktu jemari yoona kembali bergerak meraih ponselnya. Secepat mungkin. Choi siwon.

“yeobseo?”

“yeob—“

“yoon?!”

Mata yoona membesar maksimal. Ponselnya terjatuh. Dan pangilan belum berakhir.

 

 

__

Siwon kembali menatap ponselnya ragu. Ini sudah yang kedua kalinya yoona menghubunginya dan mematikan sambungan telepon saat ia belum sempat bersuara. Kali ini, sambungan telepon tidak mati, namun suara yoona justru menghilang.

Apa ponselnya tengah bermasalah? Atau mereka ada janji sebelum ini? Tapi siwon merasa jika ia belum menjanjikan apapun untuk makan siang bersama yoona.

Kepalanya kembali bekerja memikirkan apa saja yang berkemungkinan besar terjadi pada yoona. Gadis itu tidak mungkin pingsan lagi. Jika itu terjadi, sudah dapat dipastikan jika ji yeon, sekertaris pribadi yoona akan segera menghubunginya.

“ehem—“

Siwon tersentak. Matanya mengerjap lalu kembali berubah serius. Ia ikut berdehem untuk menyelaraskan perbedaan diantara mereka. Mengembalikan ponsel pada saku jas miliknya dan menegakkan tulang punggung.

“maaf” ujarnya datar.

“yoona?!”

Siwon mengangguk sekali. “sampai dimana kita tadi?” sambungnya.

Siwon menopang tangannya pada meja, menjadikan telapak tangannya sebagai tumpuan lalu menatap kyu hyun tenang.

“sampai kau berkata jika keadaannya sudah jauh lebih baik”

Siwon tersenyum kecil “ah,, ya. Keadaannya memang sudah jauh lebih baik” ujarnya menyambung.

Kyu hyun menampilkan raut tak sukanya secara gamblang. Ia jelas tak suka siwon. Fakta ini bahkan sudah berkali-kali ia lontarkan. Tapi bukan masalah besar jika harus bertemu dengannya hanya untuk menanyakan keadaan yoona.

Demi yoona, ini bukanlah masalah.

Kyu hyun hanya perlu membalas pukulan keras siwon jika namja itu terus bertele-tele dan mengulur waktu untuk mempertemukannya dengan yoona.

“jadi, kapan aku bisa bertemu dengannya?”

Bukannya siwon ingin yoona kembali pada kyu hyun. Tapi masalah mereka jelas bukanlah masalah yang akan habis jika dibiarkan begitu saja. Kyu hyun adalah ayah biologis nara. Fakta yang hingga kapanpun tak akan pernah dapat dibantah.

Dan jika yoona terus bersikeras tidak ingin menemuinya, bukan hanya kehidupan yoona saja yang akan dipenuhi kegelisahan. Kehidupan siwon bahkan nara dan kyu hyun pun akan seperti itu –juga-.

Yoona dan kyu hyun perlu mengambil kesepakatan. Mereka harus membahas masalah pribadi mereka dan menyelesaikannya entah bagaimanapun caranya. Mereka harus tak lagi berseteru agar tak lagi ada yang terluka.

Siwon berdehem. Ini berat. Tentu saja. Sosok kyu hyun bukanlah sosok yang dengan mudah bisa ia abaikan. Tapi demi mereka. Demi yoona dan nara, apapun akan ia lakukan. Dan mengambil keputusan berat ini adalah salah satunya.

“aku akan berbicara padanya. Tunggu kami ditempat yang sama minggu pagi—“

“kami?”

Siwon menatap kyu hyun sedikit jengkel. Sifat kekanakan kyu hyun terkadang juga membuatnya kesal meski ia tau jika amarah bukanlah hal yang tepat untuk menyelesaikan masalah.

“ya, kami. Kau pasti cukup pintar untuk menebak jika yoona tak akan datang jika ia sendiri”

Kyu hyun mendengus jengkel dan merendahkan “dan jika ia mau?”

Siwon memajukan tubuhnya sekedar untuk mempertegang suasana. Terkadang, memancing emosi kyu hyun membuatnya terhibur. Sial! Siwon tak ingin memiliki rival. Tapi jika itu cho kyu hyun maka ia merasa sekarang persaingan mereka adalah wajar.

“maka aku akan membiarkannya pergi sendiri. Aku juga tidak mungkin merepotkan diriku hanya demi berdiam diri menunggu kalian berbincang. Masih banyak hal yang perlu kukerjakan, kyu hyun-ssi” tuturnya lancar.

Kyu hyun menaikkan sebelah alisnya. “seperti?”

“membawa nara bermain”

Kyu hyun menggebrak meja secepat kilat. Sementara siwon hanya terdiam tenang. “brengsek! Jangan jadikan anakku barang mainanmu, choi siwon!”

Siwon tertawa lucu. Mainan? Jika itu terjadi maka seharusnya siwon sudah mencampakkan nara bertahun lalu dan membawa yoona kabur. Bukankah hidup dalam masa awal pernikahan lebih menyenangkan jika berdua?

Tapi tidak. Siwon jelas menyayangi nara.

“terserahlah, kyu hyun-ssi..” siwon mengaitkan jemarinya pada box bergambarkan balon-balon yang lucu. “pukul sepuluh. Jangan lupa” dan ia berlalu meninggalkan kyu hyun yang masih terpekur kaku.

Bahkan, siwon jauh-jauh menyempatkan diri untuk membawakan nara sekotak macaron.

 

 

__

“yoon?!” Yoona tersentak. Matanya mengerjap beberapa kali lalu kembali menatap tiffany ragu. “ya tuhan, kau melamun lagi. Terjadi sesuatu?” tanya tiffany cemas.

Yoona hanya tersenyum kecil. Menceritakan hal yang satu ini pada tiffany tentu bukanlah hal yang tepat. Untuk saat ini, ia hanya ingin berbicara dengan siwon. Tapi waktu makan siang justru akan berakhir sebentar lagi.

Yoona lupa, ia sudah memiliki janji dengan tiffany untuk mengunjungi kafe yang katanya memiliki cappucino terbaik disekitaran gangnam. Dan tiffany benar. Yoona juga tak mungkin meragukan rekomendasi yeoja pecinta latte itu begitu saja.

“benar tak terjadi apapun?”

Yoona menarik simpul bibirnya semakin dalam. Berusaha bersikap seolah memang tak terjadi apapun saat ini. “tidak. aku hanya tengah memikirkan beberapa konsep untuk pernikahan ahreum”

“ahreum?!”

Tiffany membesarkan kedua bola matanya. Ya, meski masih sama-sama di korea, ia juga terlalu jarang bertemu teman lama mereka dulu. Jadi, tiba-tiba mendengar kabar jika salah satu teman sekolah mereka akan menikah tentu menimbulkan kesan menggelitik tersendiri.

Yoona mengangguk antusias. “aku bertemu dengannya beberapa minggu lalu. Kau tau jung il woo? Pengusaha properti nasional? Nah! Ahreum mendapatkannya” tutur yoona ceria.

Wajah tiffany seketika berubah sama. Ceria. Ingat jika dulu mereka pernah sama-sama memiliki cita-cita menikah sebelum bertengger diumur dua-puluh-lima tahun. Dan sepertinya ahreum berhasil merealisasikannya.

“benarkah? Whoa!!” tiffany membentuk bibirnya seperti bulatan. Kagum sekaligus tak percaya “dan dia menggunakan jada perusahaanmu?!”

Yoona kembali mengangguk. “aku juga tidak memaksanya. Tapi ahreum bilang jika aku yang menanganinya, ia pasti akan puas. Jadi, ya, seperti itulah”

Tiffany berdecak. “ck! Itu pasti hanya akal-akalannya saja agar lebih leluasa merengek meminta banyak hal”

Yoona dan tiffany tertawa bersama. Mereka ingat, ah reum adalah tipe wanita manja yang suka merengek. Tapi dibalik itu mereka juga tau jika ahreum sudah memutuskan sesuatu –semacam hal yang begitu sakral seperti pernikahan-, maka itu berarti ia sudah benar-benar siap.

“oh ya, apa kau tau jika saera juga menikah bulan ini?”

“dua minggu yang lalu, tiff. dan mereka juga menggunakan jasaku”

Tiffany terbatuk dalam usahanya meneguk secangkir latte. “sialan! Usahamu menjadi jauh berkembang karena mereka sudah mulai cukup usia”

“ya, hanya kita yang tersisa”

Dan gelak tawa kembali menyelimuti mereka. Yoona meneguk latte dari gelas miliknya. Piring mereka sudah hampir kosong. Dan yoona juga merasa jika perutnya sudah tak mampu lagi menerima asupan apapun. Jadi, ya, mungkin makan siang mereka akan berakhir disekitaran pukul satu.

“kau tidak ingin menyusul? Dengan Mr. Choi?”

Yoona hampir mengguyur tiffany dengan semburan latte dari mulutnya. “apa? Mr. Choi?” pekiknya terkejut bukan main.

Tiffany terkekeh. “choi siwon, bodoh! Sejak kapan ada pria lain selain dia dalam hidupmu?”

Punggung yoona sempat menegang. Benar, hanya ada siwon dalam hidupnya kecuali kyu hyun. Tapi menikah bukan rencana yoona dalam waktu dekat. Ia jelas ingin menikah, tapi bukan saat ini. Masih banyak rintangan yang harus ia lewati bersama siwon untuk sampai pada tahap seperti itu.

“yoon! Astaga, nyonya pelamun. Aku semakin yakin jika kau tengah ada masalah”

Tiffany menggoyangkan pudak yoona pelan, membuat yoona tersentak dan ditarik kembali kedalam dunia nyata. Jemarinya kemudian segera mengusap tengkuk, antara ragu dan bingung harus menjawab seperti apa.

“engg.. menikah, ya?” tanyanya gamang. Tiffany mengangguk menunggunya menjawab. “sepertinya itu masih terlalu jauh, tiff” singkat yoona tanpa ingin memperpanjang.

“wae? Kalian sudah lama bersama, bukan? Mengapa harus menunggu lagi?”

Yoona menatap bingung kerutan pada dahi tiffany. Yeoja itu pasti bertanya-tanya mengapa ia harus terus menunda dan tidak membicarakan masalah pernikahan hingga detik ini. Yoona kembali gelagapan bukan main.

“wae?” tanya tiffany semakin heran.

Yoona terbatuk sekali lalu tersenyum tipis. “bukan apa-apa. Hanya aku ingin lebih matang. Kau tau, kan, menikah itu bukan hal yang mudah. Aku merasa jika aku belum siap.” Tiffany menerimanya. Mengangguk paham lalu kembali meneguk lattenya sekali.

“dan kau sendiri?” yoona melirik tiffany sebentar. Yeoja itu langsung terdiam dan menunduk lama sebelum mengangkat wajahnya untuk menatap yoona. Matanya membesar terkejut “aku?” tunjuknya pada diri sendiri. Yoona mengangguk.

“kami baru bertunangan dua bulan yang lalu yoon” jawabnya.

“memangnya kenapa? Ada yang salah? Kalian bahkan bisa menikah tanpa bertunangan terlebih dahulu, tiff. jangan konyol!” canda yoona.

Tiffany terkekeh kecil. “seharusnya begitu.. tapi,,” ia terdiam lama. Entah apa yang ada dalam benak tiffany, tapi yoona yakin jika ia tengah meragukan sesuatu. “emm,, sepertinya kyu hyun belum siap. Entahlah, mungkin ia sedang bosan menjalani ini. Jadi, biarkan saja hingga ia tau jika ia hanya membutuhkanku dan kembali. Disaat seperti itulah baru aku akan menikah”

Ledakan tawa tiffany menggema. Berpikir jika leluconnya benar-benar lucu, sementara yoona hanya terdiam memikirkan mengapa kyu hyun harus merasa bosan dengan hubungannya bersama tiffany.

 

 

__

“yeobseo?”

Kyu hyun menempelkan gagang telepon pada telinganya. Beberapa berkas belum selesai ia periksa saat tiba-tiba sebuah panggilan dari nomor tak dikenal menyambangi ponselnya. Kyu hyun mengerutkan keningnya cepat.

Hening.

Panggilan telepon tidak bersuara.

“yeobseo?” panggil kyu hyun kembali.

“oh, hai!! Marc!”

Kyu hyun mengernyit kilat. “spencer?” tanyanya ragu. Terdengar suara tawa khas spencer dari seberang. Lalu dengan cepat kyu hyun tau jika namja konyol itu adalah dalang dibalik terhubungnya mereka siang itu.

“apa kabar?” sapa spencer berbasa-basi.

“kau mengganti nomermu?” tanpa memperdulikan pertanyaannya, kyu hyun justru balik bertanya. Aneh, untuk apa spencer mengganti nomer ponselnya?

Spencer berdehem sekali. “oh, itu. Ya, aku menggantinya. Ponselku tertembak salah satu anggota penyelundup rudal seri rusia. Hancur berkeping” jelasnya singkat.

Kyu hyun hanya mengangguk paham. Sejujurnya, bagi orang awam mungkin akan terdengar sangat menakutkan jika mendengar langsung penuturan spencer. Tapi tidak dengan kyu hyun. Ia sudah terbiasa dengan celotehan spencer mengenai baku tembak.

“mengapa tidak sekalian lenganmu saja yang tertembak?”

Bukannya tersinggung, spencer justru tertawa. Menulari kyu hyun dengan cepat. “sialan, kau. Jika aku kehilangan lenganku, maka kau juga akan kehilangan agen terbaikmu, brengsek!”

Kyu hyun akhirnya tertawa semakin keras. “aku bisa mencari penggantimu”

“tapi kau tak akan pernah bisa menemukan yang sepertiku”

Kyu hyun membenarkannya dalam diam. Tak ada manusia secepat spencer. Sejauh ini, memang seperti itulah yang kyu hyun bisa simpulkan. Spencer terlalu cekatan dan terampil. Jadi, ya, akan sulit menemukan yang sepertinya nanti.

“cih~” kyu hyun mendes. Membiarkan tumpukan map miliknya lalu bersandar pada punggung kursi dengan santai. “ada apa menghubungiku?” sambungnya.

Spencer kembali terkekeh sebentar. Membuat kyu hyun terkadang dilanda kebingungan mengenai ‘apakah hidup spencer memang semudah itu?’ Tanpa beban? Karena ia terkekeh setiap saat kapanpun ia mau. Padahal masalah yag ia hadapi bahkan lebih mengancam nyawanya sendiri.

“aku akan pulang” jawab spencer usai tertawa.

Kyu hyun hanya menaggapinya sekilas. Ya, spencer akan pulang. Lalu mereka akan kembali pada penyelidikan mengenai yoona. Oh, astaga kyu hyun baru ingat jika minggu lalu spencer lah yang menyadarkannya tentang nara.

“ya, kau pulang. Lalu?” tanya kyu hyun acuh.

Terdengar spencer yang menghela nafasnya berat. “lusa, jemput aku. B2 , pukul tujuh”

Kyu hyun terdiam. Matanya tiba-tiba terbuka lebar. “APA?!” pekik kyu hyun cepat. “kau pulang? Korea?!” pekiknya kembali.

 

 

__

Yoona meraih bungkusan kecil berisi beberapa jajanan manis, membayarnya lalu segera berbalik menuju arah tiffany.

“jadi, menurutmu apa aku harus pergi?”

Yoona berhenti, memasukkan ponselnya kedalam sebuah tas jinjing yang ia bawa lalu menoleh. “tidak” jawabnya singkat. “tapi tiff, jika kau mau sebenarnya kau tinggal pergi. Mengapa harus bimbang?”

Tiffany tertawa kecil. Salah satu tangannya segera menahan rambutnya yang terjulur bebas karena tiupan angin. “ya, aku pikir akan lebih baik jika pergi bersama. Tapi kau tidak ingin, jadi aku ragu” timpalnya.

Yoona mengedik sekali. “sayang sekali pernikahan ahreun belum aku kerjakan. Jika sudah mendekati tahap delapan-puluh persen mungkin aku bisa ikut”

Tiffany meraih sebuah scraft baby pink lalu mengalungkannya dileher. “ck, pernikahan gadis itu sungguh tidak tepat waktu. Padahal, kan, paris fashion week hanya terjadi sekali dalam satu tahun, yoon”

Yoona hanya memberikan cengiran khas miliknya. Ia tau, paris fashion week, acara fashion tersohor dunia itu memang hanya terjadi beberapa kali saja. Dan saat ia beruntung tengah mendapatkan tawaran gratis dari tiffany, ia justru tengah dibebani dengan rancangan pernikahan ahreum.

“lain kali saja. Kita masih bisa ke wina atau jerman jika kau mau”

Tiffany mengangguk kecil. Mereka berhenti tepat dipinggiran jalan. Mobil tiffany terparkir didalam sebuah mall sementara usai berbelanja mereka memutuskan untuk menikmati secangkir latte diseberang mall.

Tiffany menoleh kearah kiri dan kanan. Tidak ada rambu jalan, jadi jika ingin menyeberang memang harus menggunakan kemampuan masing-masing. Yoona melakukan hal yang sama. Setelah merasa cukup aman, yoona melangkah terlebih dahulu.

Namun tiba-tiba ia berhenti, tiffany tidak berada disampingnya. Saat yoona menoleh, gadis bermata indah itu justru tengah berada hampir ditengah jalan sedang memunguti beberapa barang miliknya.

Deg!

Perasaan yoona tiba-tiba menjadi jauh lebih buruk. Kepalanya menoleh kekiri, menemukan jalanan yang sepi lalu menoleh kekanan dan menemukan sebuah mobil yang tengah melaju kencang.

Seketika kedua bola mata yoona terbelalak tak percaya, “tiff!! awas!!” pekiknya dalam langkah panjang yang cepat. Yoona berlari menuju tiffany, mendorong yeoja itu cepat. Tiffany terkejut bukan main, jemarinya sempat menggapai beberapa barang sebelum bunyi pecahnya barang-barang itu terdengar.

“sialan! Nail art-ku!!” pekiknya.

Yeoja yang hampir mati meregang nyawa itu menyingkirkan bahu yoona dari atasnya lalu segera berdiri, dengan wajah garang tiffany berteriak kencang, “kau tidak punya mata, hah?! Bagaimana jika aku yang terluka?!!” pekiknya.

Ia hampir saja melangkah maju saat tangan yoona menahannya kuat. “yoon, dia hampir..” tiffany kemudian terdiam, lalu berjongkok “kau baik-baik saja?” tanyanya kemudian.

Yoona mengangguk. Lalu terdengar bunyi decitan mobil dan suara mesin yang menjauh. “aish! Dia melarikan diri!!” rutuk tiffany semakin jengkel.

Yoona tak lagi memperdulikannya. Yeoja itu memiliki beberapa trauma, tapi hampir tertabrak mobil seperti ini baru pertama kali ia alami. Jantung yoona masih berdebar kencang saat tiffany yang masih merutuki beberapa barangnya yang pecah itu menuntunnya untuk berjalan menuju tepian.

“kau benar tidak apa-apa yoon?”

Yoona menggeleng. “tanganmu berdarah, tiff” ujarnya pelan. Tiffany terbelalak, melirik sikunya sebentar lalu terkejut bukan main. Ia baru sadar jika ia terluka. Anehnya, tiffany tak merasakan apapun sebelum yoona memberitaunya.

“ah, benar. Sebaiknnya kita pulang”

Tiffany berjalan terlebih dahulu. Wanita itu memang sedikit lebih alergi pada darah, tubuhnya bahkan bisa pingsan jika melihat darah yang terlalu banyak.

Mengabaikan tiffany, kini mata yoona justru tak pernah beranjak dari jalan. Tempat terakhir ia melihat mobil yang hampir menabraknya sebelum tertelan belokan.

Lamborgini X2 Modulo Climax.

 

 

__

Pintu apartemen terbuka lalu yoona masuk dan segera mengganti alas kakinya. “nara-ya! Nae wasseo!!” pekiknya kecil.

Dari ruang tengah, yoona mendengar kekehan kecil dan dengan jelas bisa menebak jika siwon tengah berada disana. Sepatu hitam mengkilap milik siwon terpajang didekat rak sepatu.

Yoona tersenyum, kakinya melangkah menuju ruang tengah dan menemukan nara tengah berada dalam pangkuan siwon. Gadis kecil itu menggelinjang geli karena jemari siwon tak pernah berhenti menghakiminya.

Tak bergerak, yoona justru terlalu puas menatap nara yang tertawa lepas dari balik tembok ruangan.

“oh, mommy wasseo?!” pekik nara menghetikan gelitikan siwon.

“oh, wasseoyo?” tanya siwon ikut berbalik. Namja itu segera menarik tangan nara hingga gadis itu kini beralih memeluknya. Nara kemudian mengeluarkan cengiran khas miliknya saat kepala kecil itu terlihat dari balik bahu siwon.

“ingin bergabung, mom?” godanya.

Yoona memutar bola matanya jengkel. Antara kesal sekaligus tak percaya jika nara sudah menjadi penggoda handal. Ia berjalan menuju sofa lalu duduk disana. Menunduk memandagi siwon dan nara yang saat ini tengah berada diatas sofa berbulu tipis.

“ingin ikut bermain?” kali ini suara siwon. Nara yang digendong membelakang mereka segera memutar tubuhnya dan kini duduk dalam pangkuan kaki siwon yang bersila.

“hh~ tidak. aku lelah” jawab  yoona seadanya. Ia mengeluarkan sebuah kotak hingga kemudian mata nara kembali berbinar ternag. “asik! Makanan!!” pekiknya.

Yoona hampir meletakkan kotak itu sebelum akhirnya mendapati sebuauh kotak lainnya yang berada diatas meja. Kotak putih bergambar balon warna-warni itu terbuka, dan isinya sudah habis.

“kau membelikannya makanan lagi?”

Siwon menatap yoona sekilas. “hmm” jawabnya. “setelah panggilannya yang kesepuluh tak kujawab, kurasa aku perlu sesuatu untuk membuatnya berhenti marah. Benar, kan?”

Kini siwon melirik nara, gadis kecil itu mengangguk antusias. “dan tentu saja apapun selain es krim” sambung siwon melihat raut wajah yoona.

“jadi, apa ini?”

“macaron mom! Sayang sekali mommy pulang sedikit terlambat. Oh ya, itu apa?”

Nara buru-buru turun dari pangkuan siwon lalu meraih kotak yang berada dalam genggaman yoona dan meletakkannya diatas lantai. Berusaha membuka pengait kotak tersebut.

Siwon tersenyum kecil.

“kau ingin menginap?” yoona melirik siwon sebentar.

“tidak. besok aku ada rapat pagi-pagi sekali” jawabnya. Apartemen siwon memang jauh lebih dekat dengan kantornya sendiri.

Yoona mengangguk. “jadi—“

Pembicaraan mereka terhenti saat ponsel siwon berdering. Raut wajahnya tampak sedikit terkejut. Lalu ia meminta izin untuk menjauh. Yoona hanya bisa menghela nafasnya berat. Tau-tau im nara sudah asik memakan sebuah kue sus yang berisikan susu.

Yoona menatapnya tak percaya. “sejak kapan kau membukanya?” ia turun, ikut duduk bersama nara lalu meraih satu lagi kue sus dingin.

“sejak tadi. Membuka ini mudah sekali, mom. Apalagi jika perutmu tengah lapar” balasnya.

Yoona terkekeh geli. Dasar gadis kecil ini. “memangnya kau belum makan? Bukankah semua macaron ini kau yang menghabiskannya?”

Nara menggeleng tak setuju. “edd memakannya lebih banyak, mom!” protesnya.

“eung? Bagaimana bisa?”

“kami bermain batu gunting kertas”

Dan tawa yoona meledak keras. Tangannya mengacak rambut nara sayang lalu bersiap berdiri. “mommy ambilkan air minum untukmu”

Nara mengangguk saja tanpa perduli. Masih tetap ditempatnya dan kini beralih pada kue manis lainnya. Yoona menggeleng tak percaya, belakangan ini nara terlihat mulai menyukai jajanan luar.

Bahkan es krim.

Yoona melangkah menuju pantri. Namun ketika ia hampir melewati pintu pantri, suara siwon yang cukup keras mengusik rasa penasarannya. Kening yoona kemudian berkerut, kakinya memutuskan untuk melangkah lalu ia menemukan siwon tengah berbicara dengan seseorang dengan ponselnya.

“tidak”

“….”

“kalau begitu biarkan aku membawanya, aku tidak meminta apapun selain yang satu ini”

“….”

“aku belum terlalu bodoh, mom. Aku hanya ingin membawa yoona ikut serta denganku jika kau memintaku untuk kembali”

Punggung yoona seketika menegang sempurna. Mom? Itu berarti,, siwon tengah berbicara dengan ibunya? Wanita yang siang ini baru saja mengiriminya surat pribadi?

Tiba-tiba bulu kuduk yoona meregang. Tubuhnya bergetar halus dan jantungnya berdetak tak beraturan. Pikirannya kemudian berkelana pada kejadian berbulan-bulan lalu. Saat siwon dengan tegas hampir menampar adiknya karena mencaci yoona tanpa ampun.

Jadi, saat ini mereka kembali menginginkan siwon untuk kembali? Tanpa yoona? Kepala yoona berputar cepat. Ia tak bisa membayangkan jika nantinya siwon benar-benar akan pergi mengikuti perintah ibunya.

Namun tiba-tiba tubuh yoona jauh lebih menegang.

“kalau begitu, aku tidak akan pernah kembali, mom. Ini semua sudah jelas.”

 

-TBC-

Maaf lama, tolong jangan salahkan saya karena modem juga baru diisi sama ayah._.v

Dan,, oh ya. Mhihi, saya benar-benar tertawa melihat komentar kalian. Saya gak minta ID wordpress loh, yang saya minta itu ID coment. Nama yang kalian pake buat komentar disini. Jadi, gausah takut. Semua readers yang ‘aktif’ pasti dapat password.

Jadi, kesimpulannya. Ya, part terakhir fix di protect:)

Terus buat yang bilang ‘kasian thor buat yang baru nemu FF ini dan mau baca tapi terhalang password’. Tenang, mereka pasti baca dari part awal dan bakal lihat pemberitahuan ini. Jadi, lebih baik pikirkan aja gimana caranya biar kamu sendiri bisa dapet passsword. Karena kebetulan saya orangnya sedikit selektif /tapi tidak pelit dengan PW kok/. Saya Cuma mau silent readers perlahan berkurang karena jujur aja udah baca dan gak dikomen itu ngeselin loh🙂

Terus, peraturannya sederhana aja. Saya lihat FF ‘chatch me if you can’ juga bakal diprotect ya? Nah, peraturannya samain aja sama FF itu. Nanti, pokoknya satu part sebelum ending akan saya kasih tau. Jadi, siap-siap aja ya.

Anggap ini apresiasi untuk readers yang udah repot-repot ngasih komentar dari awal FF ini terbit.

 

 

With love, Park ji yeon.

237 thoughts on “Memorable 9

  1. wuhu konliknya semakin meningkatnihh keren kerennnnn ,,,jadi yoonwonnya gimana ?knapa ibunya siwon nggk suka sama yoona ???

  2. Wah sepertinya keluarga siwon mulai mengeluarkan ancaman ke yoona,, kasihan ya sebenernya sama siwon hatinya kecewa dan sakit tapi di tutupin sendiri demi kebahagiaan yoona, bahkan dia mengabaikan perintah ibunya untuk kembali jika yoona gk boleh ikut… Jika nanti tiba2 yoona balikan lagi sama kyu gk tau dah gimana dgn siwon😦 berharap yoonwon tetep bersama

  3. dan sepertinya klurga siwon gx ada yg suka sama yoona.. kasian bgt. mereka juga kejem berani hampir nyelakain yoona. berharap yoona sam nara gx di apa”in ajh deh sama kluarga nya siwon… ihh bener” deh kasian bgt yoonanya dapet teror dan itu semua dari klurga nya siwon orng yg saat ini sangat dicintai dan di percua sama yooona.. semoga gx terjadi apa” ajh deh (amin)..

  4. Apa alesannya keluarga siwon ga bsa nerima yoona? Apa krna bukan anak orang kaya? Atau gra2 yoona uda punya nara?
    penasaran sm isi surat yg d terima yoona.. Dan yg hmpir nabarak tiff td orang suruhan ibu siwon?
    Haduuhh…
    Kaya nya yoona bakal kena teror trus ni…

  5. penasaran banget kelanjutannya. yg mau nabrak yoona itu kel. siwon ? knapa kel. siwon ga suka sama yoona ? kan yoona kyknya juga anak orang kaya…

  6. ini author bikin karakter kyuhyun yg super egois dan sukses bikin aku gregetan thor. dan karakter siwon yg merelakan apapun demi yoona. apakah kyuhyun dapat memetik dr kegigihan siwon? ancaman keluarganya siwon juga mengerikan. jangan jangan keluarganya siwon yg bikin yoona hampir tertabrak?

  7. ternyata hubungan siwon dan yoona tidak disetujuin sama keluarga siwon tow. apa alasannya karna yoona sudah punya anak? dan apa yang mau nabrak tiffany sama yoona orang suruhan keluarga siwon???

  8. Gak ada yg sempurna, seperti itulah seorang choi siwon. Dia begitu dewasa, bijak dan penyayang tp keluarganya menentang. Knp ada aja halangan yoona untuk bahagia. Oohh … poor yoona.
    Jgn sampai gara2 masalah ini yoona jd jauh dr yoona dan kembali pd kyuhyun …

  9. Wow.. The mystery started to rising now..
    Membaca FF ini perasaanku bnr2 campur aduk..
    Takut, kesel, sedih., n lucu.. Wkwk
    Anyway, so far u did a great job..
    I hope Yoona ga kenapa2…
    N I hope Kyuhyun juga ga nuntut anaknya untuk dia n Yoona jd harus niklah sm dia n dll semacam autumn concerto.. karena kalau kaya gt aga cliche -_-
    Continue to next chap

    Thanks n GBU

  10. siwon siwon siwon ya ampunnnn
    manusia apa malaikat , baik banget
    bikin jungkir balik lagi ni authorr
    duhh penasaran kelanjutannya
    makin seru makin kereennn

  11. Eon apakah keluarga siwon menentang banget sma hubungan yoonwon….
    Aduh pasti masa lalunya menyakitkan banget sma yoona langsung menegang gitu denger siwon ditelpon sma ibunya…
    Aku berharap merwka direstui dan trauma yoona hilang jadi mereka bisa menikah deh

  12. yoona selalu merasa nyaman jika siwon sudah ada di sampingnya semoga. semoga yoona tak berpaling. walaupun kyu itu adalah ayah biologis nara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s