Memorable 8

0

cr : HeenaPark @PosterState

Judul         : Memorable 8

Author      : HyukgumSmile

Genre        : Romance, Family

Rating       : PG-17

Main Cast  : Im yoona, Tiffany, Cho kyu hyun, Choi siwon, Im nara

Happy Reading^^

 

 

Perlahan surut itu termakan pasang. Matahari membentuk siang. Lalu buih pecah dalam alunan gelombang. Cahaya putih itu tampak semakin terang, menarik yoona untuk semakin mendekat lalu dalam seketika membawa kesadarannya pada titik dimana ia tak lagi harus memejamkan mata.

Yoona mengerjap. Cahaya lampu menyorot bola matanya dengan tajam. Lalu usai ia mencoba membuka sebagian kecil matanya, ia merasa jemarinya menghangat. Dari sana yoona tau jika ia baru saja mendapatkan ribuan energi untuk tak lagi bersikap lemah.

Akhirnya yoona membuka mata. Dan hal pertama yang ia temukan adalan wajah cemas nara yang tengah berdiri diatas kursi yang terletak didalam bangsal yang penuh dengan cat putih polos itu.

“mom? Mommy?” panggil nara ragu.

Yoona menggunakan salah satu tangannya untuk memijat ujung hidungnya. Kemudian ia berbalik dan menatap nara yang kali ini jauh lebih tinggi darinya. Ia tersenyum sesaat.

“ra-ya..” panggilnya lemas.

Lalu dengan tanpa komando yang berarti gadis kecil itu segera menghambur keatas tempat tidur dan meringsek masuk dalam pelukan yoona. Tubuhnya bergetar halus, lalu ia menyembunyikan wajahnya tepat didalam dada yoona.

Yoona hanya mampu terdiam. Jemarinya mengusap punggung nara pelan. Ia tau, nara tentu tak dapat merasakan apapun saat satu-satunya wanita yang paling ia kasihi tiba-tiba sudah tergeletak tak sadarkan diri didalam sebuah bangsal inap rumah sakit.

“sudah,, jangan menangis” bujuk yoona lembut.

Tak menurut, nara justru mengeratkan pelukannya. Baju inap kebesaran milik yoona berkerut mengingat genggaman gadis kecil itu begitu erat. “aku takut sekali, mom” bisik nara parau.

Dan dengan seketika air mata sudah menggenangi kedua pelupuk mata yoona. Ia tau nara pernah menangis beberapa kali. Tapi gadis itu tak pernah selepas ini karena yoona sendiri tak pernah tiba-tiba jatuh sakit dan membuatnya cemas.

Sekali lagi, ia menepuk punggung nara penuh kasih sayang. “tak ada yang perlu kau takuti. Mommy disini, sayang”

Yoona memeluk nara erat. Hatinya terasa bergemuruh kencang. Ciumannya segera mendarat pada puncak kepala nara lalu tanpa terbendung setetes kristal membasahi pipinya. Yoona mengusapnya cepat, dan usai itu, pintu ruangan terbuka.

Didepan pintu sana, berdiri seorang choi siwon. Dengan bahu lesu yang jatuh dan wajahnya yang kusam. Yoona hanya menatapnya dalam-dalam. Menyadari jika dirinya telah menjadi beban untuk dua orang yang ia kasihi.

Sekalipun, yoona dan siwon tak pernah lepas pandang. Yoona tau betul segala hal yang siwon coba utarakan hanya melalui pandangannya saja dan ia paham. Ia tau namja itu tengah kalut dan cemas karena kondisinya. Dan entah mengapa, tiba-tiba yoona merasa begitu berarti.

Siwon berjalan mendekat. Dibelakangnya, sekretaris kesayangan yoona mengikutinya dengan wajah cemas yang kentara.

“yoon, gwenchana?”

Yoona mengangguk saat ji yeon mendekat lalu menggenggam jemarinya erat. Ia lalu kembali menatap siwon yang belum bersuara samasekali. Ji yeon yang menyadarinya kemudian berdehem sekali. Ia menatap siwon, namja itu mengangguk lalu ji yeon berpindah posisi dan bersiap untuk segera menggendong nara.

“ra-ya, ayo biarkan mommy beristirahat” ujar ji yeon lembut.

Nara menggenggam ujung baju yoona erat. “tapi aku ingin bersama mommy. Aku bisa tidur disini” semua orang disana tau, tak ada yang bisa nara lakukan selain merengek meminta untuk tak dibawa pulang.

Ji yeon tersenyum tulus. “sebaiknya kita membiarkan mommy beristirahat agar penyembuhannya lebih baik, dan mommy bisa pulang lebih cepat, ra-ya”

Nara merengut “tapi aku janji aku tidak akan mengganggu mommy. Ayolah imo,, biarkan aku disini..”

Ji yeon menatap gadis kecil itu iba. Ia tau bagaimana nara yang hanya memiliki yoona merasa jika ia harus tetap melindungi wanita itu dengan segenap kekuatannya. Tapi tidak bisa, penjaga rumah sakit juga sudah menyarankan agar anak kecil tidak perlu berlama-lama disamping pasien agar mereka tak mengganggu. Jadi, ya, ia tak punya banyak pilihan.

Ji yeon mendekat, lalu segera menggendong nara. “sekali ini saja, dengarkan imo. Hmm?”

Akhirnya nara menunduk pasrah. Ji yeon kemudian pamit lalu menyisakan yoona bersama siwon yang terjebak terlalu lama dalam diam.

Entah karena apa, yoona samasekali tak mampu berbicara. Ia kehilangan banyak kata. Dan kenyataan jika siwon baru saja melihatnya bersama kyu hyun semakin membuatnya merasa begitu tertekan.

Siwon mendekat, raut wajahnya masih terlalu datar. Belum berubah meski raut kecemasan itu tak bisa ia sembunyikan dari yoona.

“siwon-ah..” panggil yoona pelan. Untuk pertama kalinya, ia berusaha untuk tak terlihat terlalu menyedihkan. “a aku—“

Dan semua terjadi begitu saja. Siwon mendudukkan dirinya ditepian ranjang lalu mendekap kepala yoona didalam dadanya erat. Jemarinya bergerak memeluk pinggang yoona dan menariknya mendekat. Dan dalam sekejap mata, tubuh yoona sudah tenggelam dalam pelukannya.

“maafkan aku..” bisik siwon pelan.

Yoona tak mampu lagi menahan air matanya. Tangannya segera bertumpu pada salah satu lengan siwon lalu menyembunyikan wajahnya disana dan terisak.

Siwon memeluknya semakin erat. “jangan menangis. Kumohon,,”

Yoona hampir mati memikirkan betapa kecewanya siwon saat akhirnya ia tau jika ayah biologis nara adalah seseorang yang terus yoona bicarakan sebagai sahabat dekatnya, dulu. Yoona hampir kehilangan jantungnya saat memikirkan betapa marahnya siwon karena sikapnya yang masih tertutup semenjak kebersamaan mereka.

Yoona bahkan tak bisa bernafas saat sekelebat bayangan siwon seperti bergerak menjauh darinya. Ia kalap. Ia tau ia salah karena menyembunyikan keberadaan ayah biologis nara memang bukanlah hal yang tepat. Tapi..

“jangan menangis” jemari siwon kini berada dibelakang kepala yoona. Sekejap yoona merasakan kecupan siwon diujung kepalanya lalu namja itu mengusap sayang kepalanya. “berhetilah demi aku, yoon. Aku tak bisa melihatmu seperti ini”

Namja itu melonggarkan pelukannya. Menatap kedua mata yoona dengan tatapan teduh yang menenangkan kemudian menghapus jejak air matanya. Ia kembali mendekat lalu kali ini bibirnya mendarat pada kening yoona.

Siwon menenangkannya. Hanya karena sebuah kecupan singkat yang anehnya mampu menyalurkan ribuan angin surga pada yoona.

__

Siwon menggenggam jemari yoona erat. Gadis itu tak membiarkannya menjauh barang sesenti pun semejak beberapa saat yang lalu tenggelam dalam sebuah tangisan.

Mau tidak mau, siwon terpaksa ikut membaringkan dirinya pada tempat tidur rumah sakit lalu yoona dengan cepat meringsek masuk dalam dekapannya. Selama detik yang berjalan lama, jemari siwon hanya terus membelai helaian rambut yoona yang legam.

Baginya, cukup dengan wanita itu tertidur dan lepas dari rasa tertekannya, itu sudah jauh lebih baik daripada apapun. Ia tak akan memilih untuk berdebat mengenai alasan yoona menyembunyikan kenyataan jika kyu hyun adalah ayah biologis nara atau beberapa hal lainnya yang tak ia ketahui.

Kini, ia hanya perduli pada yoona. Pada kesehatannya dan pada perasaannya. Ia tak akan mementingkan ego-nya sebagai laki-laki yang saat ini, patutnya marah besar karena rahasia besar yang tersembunyi dari matanya.

Tapi siwon bukan begitu. Ia bukan lelaki macam itu. Ia mencintai yoona, dan itu sudah lebih dari cukup baginya untuk memahami betapa saat ini gadis itu tak butuh tuntutan yang macam-macam agar ia sembuh.

Siwon menginginkannya, menginginkan tawanya, menginginkan kesehatannya, keceriannya dan candaan konyol yoona yang memang selalu mampu merubah harinya menjadi luar biasa.

Siwon tersadar saat yoona bergerak dalam dekapannya. Mata coklat gelap miliknya segera tertuju dan hanya terfokus pada yoona.

“sudah bangun?” bisiknya lembut.

Yoona menggeliat, tatapan bocahnya tiba-tiba keluar begitu saja saat bola matanya menangkap bayangan siwon yang terus menatapnya dengan sebuah senyuman tulus.

Yoona mengangguk. “hmm. Kau tidak tidur?” tanyanya kemudian.

Lalu siwon menggeleng seperti bocah. Mendekatkan wajahnya pada yoona hingga ujung hidung mereka bersentuhan lalu berbisik kecil. “aku, kan, menjagamu, sayang”

Yoona ikut tersenyum bahagia. Tangannya segera mendekap siwon lalu memeluknya. “gomawo” ucapnya tulus berterimakasih. Sejauh ini, memang tak pernah ada lelaki sebaik siwon dalam kehidupannya. Belum kecuali namja bermarga choi ini sendiri.

“hmm. Sama-sama. Jadi, apa kau lapar? Ingin makan apa?”

Yoona menatap siwon lekat-lekat. Astaga, tiba-tiba rasa bersalahnya kembali menguar mengingat baru beberapa jam yang lalu saja siwon melihatnya bersama kyu hyun tengah..

“Jangan melamun..”

Yoona terkesiap, lalu menggeleng pelan dan kembali menyurukkan kepalanya dalam dada siwon. “seperti ini saja. Aku sedang tidak nafsu makan”

Siwon mengalah. Tubuhnya kembali rebahan dan memeluk yoona posesif. Sejujurnya ia juga tak ingin pergi jauh-jauh dari yoona untuk saat ini. Ia hanya butuh gadis itu terus berada disampingnya untuk memastikan jika ia tak akan pergi.

“won-ah??”

“hmm?”

Hening. Yoona menimbang-nimbang pertanyaan seperti apa yang harus ia lontarkan pada siwon kali ini. “eng.. tadi,, kenapa minta maaf?”

Pertanyaan pertama muncul. Mencoba menjejal segala kejanggalan yang yoona dapat dari siwon. Aneh, pertama kali bersuara, siwon justru mengucapkan kata maaf padanya. Padahal setau yoona, ia adalah pihak yang menyakiti siwon. Bukan sebaliknya.

“oh, itu..” siwon bergerak semakin mengeratkan pelukannya. “maaf, aku memukulnya hingga terjungkal dan berdarah”

Dan entah kenapa, detik berikutnya yoona justru tertawa karena pernyataan singkat siwon. Bahunya bergetar menahan suaranya yang bisa saja meledak sewaktu-waktu. Siwon menoleh, memperhatikan yoona yang tertawa lalu berpikir, pada bagian mana ia melakukan hal yang konyol?

“kenapa tertawa?”  tanya siwon akhirnya.

Yoona memeluknya erat. “tidak. Hanya saja, kau konyol sekali” tukas yoona dan kali ini membuat siwon ikut tertawa. Tawa pertama gadis itu usai kekhawatiran panjangnya.

“syukurlah, kau terlihat lebih baik”

Siwon tak perduli akan seperti apa yoona menganggapnya. Bodoh? Konyol? Atau apapun itu ia akan terima jika wanita itu bisa terus tersenyum seperti ini. Siwon tersadar saat bahu yoona berhenti bergerak usai ia berbicara. Tangannya segera mengusap sayang punggung yoona lalu menyembunyikan dirinya dibalik leher yoona sesaat.

Bau pinus.

Kesukaannya.

“aku takut sekali traumamu kembali kambuh” bisiknya gemetar.

Yoona tersentak. Dengan cepat ia menjauhkan diri dan menatap mata siwon yang berubah sayu lalu balas menatapnya dalam raut kecemasan tiada tara. Yoona tersentuh.

“won-ah..” panggilnya ragu. Sungguh, ia tak percaya jika seorang choi siwon bisa mengeluarkan suara seperti itu hanya karena dirinya. “a aku baik-baik saja. Sungguh. Jangan seperti ini” ujarnya mengusap pipi siwon.

Namja itu meraih jemari yoona. Mengecup buku buku jari gadis itu sesaat lalu kembali memeluknya. “syukurlah. Aku senang jika memang begitu”

Dalam detik-detik berikutnya, mereka saling terdiam. Yoona tak tau harus berbicara seperti apa lagi saat seluruh hatinya terasa begitu hangat karena perlakuan siwon yang luar biasa. Ia seperti menjadi gadis yang paling beruntung didunia ini. Dan itu semua karena siwon.

“tuan choi..”

Siwon menunduk dan terkekeh geli. “ya, nyonya choi?” balasnya lembut.

“aku ingin pulang”

Raut wajah siwon seketika berubah menjadi terkejut. Bibirnya terbuka berusaha merangkai kata saat matanya beradu dengan milik yoona. “tapi,, dokter menyarankanmu untuk beristirahat hingga besok pagi lalu melakukan pengecekan”

Yoona menatapnya memberengut. “tapi aku ingin pulang”

Siwon bersumpah ingin sekali menghilangkan nada manja yang jika yoona gunakan akan membuatnya tak sekalipun mampu melawan wanita itu. Bahu siwon melemas. “besok kita pulang. Aku janji” tangkasnya.

Yoona kemudian memeluk siwon dan namja itu membalasnya ragu. “aku ingin seperti ini” bisik yoona.

“kita sudah melakukannya”

“tapi bukan disini..”

Siwon memejamkan kedua bola matanya rapat-rapat. Lalu ketika ia siap, ia menatap kedua manik mata yoona yang berbinar. Ia kemudian mendesah putus asa. “hhh~ oke baiklah. Kita pulang”

__

Kyu hyun terdiam. Salah satu tangannya tergantung memegangi sebuah handuk kecil yang baru saja dicelupi air hangat. Hidungnya mengkerut kilat, lalu ringisan itu keluar dari bibirnya.

Sial!

Kyu hyun terdiam menatap hamparan lampu dibawah sana. Dari apartemennya, ia terus berpikir dimana letak kesalahannya. Lalu sedetik usai ia merasakan hantaman keras dari siwon ia baru mengerti.

Ia menyakiti yoona, dan kini kembali melakukannya.

Tapi yang lebih sialannya lagi, kenapa ia harus diam saja saat siwon memberikannya sebuah bogem mentah? Ia tak melawan. Kedua matanya justru terdiam melihat siwon yang kepalang panik menyadarkan yoona yang saat itu tergeletak tak berdaya.

Semuanya terjadi begitu kilat. Siwon segera menggendong yoona dengan caranya sendiri lalu berlari tanpa memikirkan kyu hyun yang masih menatap bayangannya tenggelam diujung koridor.

Cklek.

Kyu hyun segera menoleh. Dan hal pertama yang ia temukan adalah, seorang yeoja dengan mata sipitnya tersenyum. Menyeret sebuah koper merah maron kearahnya lalu segera memeluknya erat.

Kyu hyun terdiam. Lalu tak lama ia membalasnya. “baru pulang?” tanyanya melihat koper merah tiffany yang masih ia bawa.

Tiffany mengangguk.

“mengapa tidak ke apartemenmu dulu? Repot sekali membawa koper ini” kyu hyun membimbing tiffany untuk berjalan menuju sofa.

“oh, aku belum sempat pulang. Tadi aku— kyu!! Kau kenapa?!”

Kyu hyun terlonjak kaget saat tiffany berteriak histeris usai menyingkir dari kegelapan didekat balkon apartemen. Untuk pertama kalinya tiffany melihat sebuah robekan berwarna merah kebiruan diujung bibir tunangannya itu.

“akh—sakit tiff..”

Kyu hyun segera menggenggam pergelangan tangan tiffany yang memang dengan respon cepatnya langsung menyentuh luka kyu hyun tanpa berfikir panjang. Seketika raut wajah gadis itu meredup menyesal.

“m maaf. A aku tak bermaksud,, aku hanya—“

“aku mengerti”

Kyuhyun memotong perkataannya dengan cepat. Lalu yeoja itu terdiam. Memperhatikannya dalam wajah lesu yang kentara. Ada aura kekhawatiran yang luar biasa membuat kyu hyun merasa dihargai lalu jemarinya bergerak mengusap pipi tiffany lembut dan tersenyum.

“aku tak apa. Percayalah” ucapnya meyakinkan.

Tiffany mengangguk sekilas. Lalu ibu jarinya mengusap ujung bibir kyu hyun dengan lebih lembut. “boleh aku tau apa sebabnya?”

Kyu hyun diam. Menatap mata tiffany yang indah tengah memohon jawaban darinya. Pikiran kyu hyun dengan cepat bergerak. Mencari banyak alasan lain selain ‘dipukuli siwon’ atau tiffany akan bertanya apa yang terjadi dan segera bunuh diri saat tau jika gadis kecil yang bersama yoona adalah anaknya.

Bagaimana tidak. Kyu hyun yang bersentuhan langsung dengan masalah ini saja sudah hampir gila dibuatnya. Sejujurnya, ia bisa saja tinggal bertanggung jawab dengan menikahi yoona lalu merawat gadis kecil yang diberi nama nara itu bersama.

Tapi tidak. Kini semua terjebak disatu sisi dimana ia, yoona ataupun tiffany tak dapat bergerak untuk merubah posisi.

“tutup pasta gigi sialan itu menghancurkan pagiku” candanya.

Dan tiffany tertawa dalam senyuman miris. “dasar anak kecil. Tutup pasta gigi pun masih mampu membuatmu seperti ini”

Mereka berjalan menuju sebuah sofa. Mendudukkan diri lalu usai itu tiffany segera membuka scraft baby pink miliknya.

“biar aku saja..”

Yeoja itu meraih handuk hangat dari genggaman kyu hyun lalu kembali membasahinya. Membersihkan luka lelaki kesayangannya itu dengan perlahan dan sangat hati-hati. Kyu hyun terus memperhatikannya. Lalu tersenyum.

“kau tidak lelah?” tanyanya pelan.

Tiffany menggeleng lucu. Membalas senyuman kyu hyun lalu kembali terfokus pada lukanya.

“kemana saja?” tanya kyu hyun kembali.

“eung.. aku mengunjungi yoona yang dirawat dirumah sakit”

Kyu hyun tersentak. Jemarinya segera menangkap pergelangan tangan tiffany lalu memaksa gadis itu untuk menatapnya. Kedua mata kyu hyun membulat tak percaya. “dirawat? Rumah sakit?” ulangnya.

Dan tiffany mengangguk. “kau tidak tau? Aku pikir kau sudah lebih dulu kesana” jawab yeoja itu bingung.

“belum. A aku tidak tau”

Kyu hyun berujar lemah. Sial! Ia tak menyangka jika pingsannya yoona akan berujung pada dirawatnya yeoja itu disalah satu rumah sakit. Tiba-tiba ulu hati kyu hyun terasa perih. Ia sakit. Dan ribuan rasa bersalah menambah onggokan kepedihannya.

Kembali, ia menyakiti yoona.

“apa yang terjadi?” tanya kyu hyun kembali menatap kedua mata tiffany cemas.

Tiffany mengerjap. “tidak terjadi apapun. Tapi tadi siwon berkata jika dulu, yoona pernah mengalami trauma panjang akan sentuhan. Ia tak pernah ingin disentuh siapapun lalu akan bergetar hebat jika ketakutannya sudah mencapai batas normal. Saat aku kesana, yoona masih tak sadarkan diri”

Kyu hyun tersentak. Trauma? Sentuhan? Apa lagi-lagi ini karenanya? Dan perbuatannya dikantor yoona siang ini,, bukankah itu sudah keterlaluan? Apa yoona pingsan karena rasa takutnya yang masih berlebihan.

Kemudian seluruh pertanyaan itu memadati pikiran kyu hyun hingga pagi menjelang.

__

“steak?”

“engg!” nara menggeleng.

“emm,, fried chicken?”

“anioo..”

“kimchi ? Samgyupsal?”

“isch!!” dan nara meringis seolah itu semua menjijikkan.

“dia tidak suka sayur”

Siwon menatap yoona kemudian seperti baru menyadari sesuatu menganggukkan kepalanya dengan ber-oh ria. Kepalanya kembali menoleh pada kursi belakang mobil lalu menatap nara ragu.

“jadi kau mau makan apa?” tanyanya.

“apapun selain makanan orang dewasa!” tukas nara memberengut.

Siwon kembali berpikir, lalu detik ketika ia baru akan membuka mulut yoona segera memotongnya. “lalu, kau mau bubur bayi?”

Nara mendelik masam. “mom, jika aku pintar maka seharusnya mommy juga pintar”

Yoona berbalik dengan kedua mata membesar tak percaya “mwo?! Jadi kau mengatakanku bodoh, begitu?”

Tangannya hampir saja menjangkau nara jika siwon tak menghalanginya. Lelaki itu segera mengembalikan posisi duduk yoona lalu menatap nara paham.

“es krim?” tanyanya. Dan, ya! Tepat sasaran sekali karena usai itu nara segera mengangguk antusias. Siwon mendesah berat melihat bocah kecil itu. “ra-ya, kita tidak mungkin makan semangkuk es krim di pagi hari. Perutmu belum terisi apapun dan itu akan membuatmu sakit” bujuknya lembut.

“aku sudah makan, edd” lalu gadis kecil itu mengeluarkan cengiran bocahnya “semalam” sambungnya tanpa dosa.

“nah, kan. Sudah kukatakan tinggalkan saja dia bersama ji yeon”

“mom!!”

Siwon menutup matanya rapat. Ia berbalik menatap yoona lalu tersenyum manis. “sayang, sebaiknya kau diam dulu agar tak terlalu lelah, hmm?” bisiknya lembut.

Yoona mendengus. Sialan! Mengapa choi siwon ini selalu saja punya alasan untuk menghalangi perdebatannya dengan nara?

Siwon balik menatap nara. Lalu berdehem usai mengusap bibirnya gusar. “oke. Es krim. Tapi tidak pagi ini. Kita cari sarapan di cafe sekitar rumah sakit. Setelah eommamu menyelesaikan pemeriksannya, kita akan makan es krim”

Yoona melotot tak setuju “tapi semalam, kan, ia baru saja—“

“sshhh.. sekali ini saja yoon. Biarkan ia menikmati hari-harinya sebelum kau sembuh”

Yoona memukul lengan siwon kuat-kuat. Siwon tertawa lepas, ia berbalik menatap para dan bertanya melalui naik-turunnya kedua alisnya.

Pipi mungil nara menggembung lucu. Lalu ia berhenti, menatap siwon sumringah dan berkata. “baiklah, tapi karena bukan untuk sarapan jadi aku dapat dua porsi, ya?”

Yoona berbalik cepat. “im nara!!!”

__

“k-kyu… hyun??”

Kyu hyun mengerutkan keningnya saat wanita yang kira-kira seumuran dengannya itu menyebutkan namanya bahkan sebelum ia sempat memperkenalkan diri. Yeoja itu menunjuk kyu hyun juga dengan pandangan sedikit ragu lalu menatapnya dari ujung rambut hingga ujung kuku.

“kau.. kyu hyun, kan?” tanyanya kembali.

Kyu hyun hanya mengangguk mengiyakan. Lalu seketika tertera raut lega dari wajahnya. Ia tersenyum dengan lebih ramah lalu bersidekap dengan kedua tangan yang berlipat didepan dada.

“tidak mengenalku?” tanyanya. Membuat kyu hyun kemudian tersentak. Oh? Mereka pernah saling mengenal?

Kyu hyun berbalik memperhatikan yeoja itu dari ujung kepala hingga ujung kaki. Lalu saat berhenti pada bibirnya, kyu hyun tiba-tiba ingat ia pernah mengenal seseorang dengan senyuman seramah ini.

Kyu hyun tertegun. Tapi siapa?

“apa kau juga melupakan pohon mapple dibelakang sekolah, dulu?”

Pohon mapple? Kyu hyun kembali menggali memorinya dengan cepat. Pohon mapple? Lalu sebuah roll film mengantarkannya pada kilas cerita saat dulu, ia pernah menjatuhkan seorang gadis kecil dari sebuah kursi taman dibawah pohon mapple yang menguning.

Gadis itu menangis, lalu usai kyu hyun berusaha keras membujuknya ia memperkenalkan diri.

“namaku—“

“park ji yeon?!”

Kemudian mereka sama-sama terdiam. Kyu hyun kembali menatap yeoja itu intens sementara ji yeon tersenyum lebih ramah. “k kau.. park ji yeon?” tanyanya kembali.

Dan tepat disaat yeoja itu mengangguk, kyu hyun melebarkan mulutnya tak percaya. “t tapi.. bagaimana bisa? Kau, kan, gadis kecil pendek yang tak sekalipun pandai bergaya?”

Ji yeon membesarkan bola matanya tak terima kemudian memekik keras. “ya!! Itu kan dulu!”

Dan kyu hyun tertawa dibuatnya. Ia ingat. Park ji yeon. Bocah kecil yang duduk tepat didepannya saat dulu, mereka sama-sama berada disekolah menengah.

“ya, bagaimana bisa kau setinggi ini sekarang?” kyu hyun bertanya antusias, lalu tiba-tiba raut wajahnya berubah tak percaya “dan,, apa yang kau lakukan disini?”

Ji yeon mengerjap. “aku tumbuh, cho kyu hyun! Dan aku tengah menunggui apartemen salah satu temanku. Kau sendiri? Apa yang kau lakukan disini?”

“aku,,juga..” kyu hyun berjalan mundur, melihat nomer apartemen lalu kembali menatap ji yeon ragu. “ini, apartemen yoona, bukan? Lalu,, temanmu itu—“

“yoona”

__

Kyu hyun mengemudikan mobilnya pada kecepatan sedang. Pikirannya menjelajah dengan liar pada beratus-ratus kenyataan konyol yang tiba-tiba mengusiknya.

‘lalu, mana yoona?’

‘dia sakit dan sedang dirawat’

‘tapi,, aku baru saja mendatangi rumah sakit dan mereka bilang yoona sudah pulang’

‘oh, astaga. Aku lupa. Yoona merengek meminta pulang,,’

‘lalu?’

‘dan siwon membawanya’

Jadi? Mereka kembali tinggal satu atap? Maksudnya, kali ini didalam apartemen choi siwon? Tempat dimana mereka bisa saja melakukan apapun tanpa adanya nara.

‘mereka tinggal bersama?’

‘oh, tidak. tidak seburuk itu kyu. Siwon sangat menghargai yoona dan ia tak pernah sekalipun berbuat macam-macam’

Kyu hyun tertegun. ‘bisa saja itu hanya sebuah pencitraan. Siapa yang tau apa yang akan ia lakukan—‘

‘jika ia bukan pria baik-baik, yoona tentu sudah meninggalkannya jauh-jauh hari. Sayangnya, mereka justru bertahan selama ini dan kurasa itu sudah cukup untuk menjadi sebuah bukti’

Kyu hyun kembali terdiam. Sial! Kini, semua orang seperti mendewakan choi siwon karena kemampuannya mempertahankan yoona yang terkenal begitu selektif. Lalu, apa benar siwon sesempurna itu?

Kyu hyun mencengkram stir kemudi keras-keras.

‘bisa aku bertemu nara?’

‘nara?’

‘ya,, nara’

‘sayang sekali mereka menjemputnya untuk pergi bersama pagi ini’

‘kemana?’

‘rumah sakit. Yoona harus melaksanakan pengecekan hari ini’

Kyu hyun memutar stir dalam-dalam lalu dengan cepat memarkirkan porce merahnya di basement. Tungkainya segera berjalan cepat membelah puluhan mobil yang berjejer rapat lalu menekan tombol dua.

Disana, yoona pasti tengah bersama dokter spesialisnya.

Kyu hyun memasukkan ponselnya kedalam saku celana lalu melangkah dengan cepat. Belokan kedua. Ruangan besar yang berisi seluruh dokter spesialis ada disana. Dan yoona barang tentu akan berada didalam salah satunya.

Kyu hyun berdehem sekali, lalu usai belokan terakhir, lengkahnya mendadak terhenti. Kedua bola matanya membesar melihat kini yoona berada tepat diujung korido yang sama dengannya.

__

Yoona membesarkan bola matanya tak percaya. Refleks, jemarinya yang memang sudah bersarang dalam genggaman hangat tangan siwon kini mengerat. Langkahnya terhenti seketika membuat siwon terkejut lalu menatapnya bingung.

“waegeurae, yoon?”

Yoona diam. Tak sanggup menggerakkan diri. Diujung sana, kyu hyun juga tengah berdiri tegak. Menatapnya dalam fokus yang terlalu tajam menusuk.

Seolah sadar, siwon mengikuti gerak mata yoona. Lalu matanya beradu pada sosok pria itu. Pria yang kini berdiri memperhatikan yoona tanpa memperdulikannya. Siwon terkesiap saat genggaman yoona semakin mencengkram tangannya.

Jemarinya bergetar halus, lalu tak lama yoona beringsut pelan menyembunyikan diri dibalik lengannya.

Kyu hyun segera berjalan mendekati mereka. Langkahnya mulus tanpa ragu dengan mata yang tak pernah beralih. Memutuskan untuk tak memperdulikan siwon yang bisa saja sewaktu-waktu kembali menghakiminya secara sadis, ia tetap melangkah dengan percaya diri.

Kyu hyun berhenti tepat didepan siwon. Tepat berada didepan nara yang juga tengah berada dalam gendongan siwon.

Kyu hyun terpekur dalam-dalam. Matanya kemudian menatap nara yang kini juga menatapnya dalam. Gadis itu seolah tak mengerti mengapa kini mereka harus berdiri diam disana dengan berjuta kebisuan.

Kyu hyun memperhatikannya dengan baik. Sial! Ia tau. Ia tau siapa yang harus bertanggung jawab dibalik mata indah dan cemerlang milik nara. Ia tau. Lalu mengapa ia harus kepalang bingung memikirkan sosok brengsek yang harus berdiri dibalik mata indah itu?

Kyu hyun tertegun. Baru ia sadar jika mata nara tak lebih dari sekedar hasil copy paste miliknya. Mata bulat yang indah, maniknya yang secoklat almond dan mendekati hazel. Perpaduan ia dan yoona yang sempurna.

Bibir nara juga tercipta berpuluh-puluh persen darinya. Kyu hyun yakin, selain cerdas, nara tentu juga bermulut tajam. Dan seolah baru sadar –lagi-, kini tiba-tiba ia bergitu percaya jika kepintaran nara adalah hasil dari terlalu kentalnya darah orang brilian milik kyu hyun yang mengalir dalam aliran darah nara.

Kini, entah mengapa, ia merasa begitu bahagia. Salah satu titik dalam hati kyu hyun tiba-tiba saja seperti disirami berjuta-juta bunga. Semua hal menjadi terlihat sempurna.

Oh, ya? Dia kini seorang ayah? Pada umurnya yang baru saja menginjak dua-puluh-empat tahun? Dan gadis cemerlang yang luar biasa sempurna itu,, anaknya??

Kyu hyun tertegun. Ingin rasanya ia mendorong siwon lalu mengambil alih gendongan nara dan memeluknya erat. Kyu hyun lupa, ia punya berjuta hak atas gadis kecil itu. Tapi ia juga tak akan mengabaikan fakta jika ia sama sekali belum pernah bertindak sebagai seorang ayah bagi nara.

Kyu hyun mengerjap. Kedua bola matanya yang dipenuhi penyesalan kini mengedip beberapa kali demi menghalangi tetesan kristal yang bisa jatuh kapanpun.

Tiba-tiba nara berbalik, memeluk leher siwon erat lalu berbisik meski masih dengan jelas menyambangi indra pendengaran kyu hyun.

“edd,, aku,, takut” bisiknya kecil.

Kyu hyun mencelos. Lebih tak percaya lagi jika kini pandangan menelisiknya saja sudah menakut-nakuti anak gadisnya sendiri. Dan gadis kecil yang seharusnya merengut manja padanya itu kini justru berpegang erat pada siwon. Satu-satunya namja yang saat ini begitu ingin ia singkirkan dari dunia.

Siwon terkejut bukan main. Bisikan nara dan cengkraman tangan yoona pada salah satu jemarinya semakin membuatnya percaya jika ia harus jadi pelindung yang benar-benar bertanggung jawab demi mereka.

Dengan cepat siwon beralih pandangan. Hingga pada saat ia menatap lurus kedepan, tatapan kyu hyun kini juga tengah menelisiknya lama.

Mereka saling berpandangan. Kyu hyun jelas menunjukkan betapa ia tak begitu menyukai siwon dan siwon tau itu sejak pertama kali mengenal kyu hyun, dulu, di bandara saat yoona memperkenalkannya pada dua sahabatnya.

“yoon..”

Siwon tak beralih tatap meski kyu hyun tiba-tiba melirik belakang tubuhnya. Melirik yoona lalu memanggilnya lembut. Dan siwon jelas tau ia harus melakukan apa saat cengkraman tangan yoona semakin bergetar hebat.

Siwon dengan cepat melangkah kecil, menggerakkan tubuhnya kesamping lalu menghalau tangan kyu hyun yang hampir menjangkau belakang tubuhnya dengan tenang. Wajahnya tak sekalipun menunjukkan jika ia ingin berperang. Hanya siwon tau jika ia harus melindungi yoona. Hanya sekedar itu saja.

Kyu hyun menggeram. Pandangan tenang siwon tiba-tiba membuatnya ingin menghabisi namja itu pelan pelan. Sikap dewasanya yang tak sekalipun bersuara namun mampu mengomandoi keadaan itu benar-benar memuakkan.

“ada yang bisa kubantu, kyu hyun-ssi?”

Siwon membuka suara. Matanya masih menatap kyu hyun dalam ketenangan yang tak tergantikan. Kyu hyun mendongak, kedua manik mata mereka bertemu dengan delikan tajam yang terarah dari mata kyu hyun.

Kyu hyun memberikan tatapan mengintimidasi terbaik yang pernah ia miliki meski tak sekalipun mampu membuat siwon merasa takut. Bibirnya bergemeletuk geram sementara salah satu tangannya yang masih bersarang didalam saku celana mengepal erat.

“aku ingin berbicara dengan yoona”

Kyu hyun mengucapkannya dengan ribuan penekanan. Berharap jika siwon akan takut dan berjalan mundur. Namun sungguh sialan. Yang terjadi kini adalah siwon kembali melangkah maju, salah satu tangannya masih menggenggam jemari yoona lalu dengan ketenangan yang luar biasa berkata,

“maaf, tapi wanitaku belum ingin diganggu”

Dan keheningan lorong rumah sakit terisi dengan  geraham kyu hyun yang luar biasa keras dalam menahan emosinya yang sewaktu-waktu bisa meledak.

-TBC-

Nah, kan. Sesuai janji aku kalau seandainya gak banyak siders aku bakal post lebih cepat. Ini part 8 semoga aja kalian suka. Sepertinya  memorable akan tutup buku sekitar empat atau lima part lagi. Dan aku berencana buat memprotect part endingnya *beru rencana*. Jadi, buat yang udah ribet-ribet komen dari awal FF ini, kalian tinggal sebutin ID coment kalian aja nantinya.

Dan, oh ya, aku belum jelasih siapa itu siwon ya? Nah, tunggu di part 9 nanti aku bakal coba bongkar rahasia kehidupan mereka satu persatu. Stay here yaa^^

With love, Park ji yeon.

226 thoughts on “Memorable 8

  1. Suka deh sama siwon apalagi sama sikap bijak dan dewasanya, walaupun dia sebagai namja mungkin ingin marah liat yeojanya ciuman sama namja lain tapi dgn bijaknya dia lebih mendingin kesehatan yoona, dia bahkan membuang jauh2 egonya sbg seorang lelaki… Kyu juga udah ada fany juga masih ngejar2 yoona… Gk nyangka bahkan nara saja takut sama kyu wkwkwkw

  2. keadaan yg menegangkn antara 3 orang dewasa dan 1bocah kecil ngegemesinn.. dan jantung gw dag dig dug DERRRR ngeliat perang dingin antara kyu sama siwon. dan kata$ siwon yg gx bisa terlupakan adlh ” maaf, tapi wanitaku belum ingin di ganggu ” keren bgt kamu siwon. dia sedang menegaskan yoona itu wanitanya dan gx ada yg boleh nyentuh dan nyakitin yoona sekalipun itu kyuhyun sahabat yoona dahulu… n next ajh deh gx sabar pengen tau jati diri siwlon itu gimana sih..

  3. Siwon dewasa banget sih.. Dya bener” bisa ngelindungi Yoona n nara..
    Tapi masii bingung juga sama perasaan yoona.. Dy nyaman sama siwon, tp kaya nya dy jg masii cinta sama kyu…
    Trus kyu nya jg, kalo uda sm.tiff yaudah, gausa ganggu yoona lagi…

  4. ya ampuun siwon dia emang the best banget..
    sebegitu dayangnya dia sama yoona sampe dia mengabaikan sakit hatinya..
    dan untuk kyuhyun, syukur deh dy udah nyadar kalo nara itu anaknya dia..

  5. yoona seperti itu krn kyu ..knp dia bgt egois…tp untng ad siwon yg slalu ad untuk yoona…nara jg trlht ktakutan…tif udah blik lg…

  6. Aku suka banget sama karakter siwon disini ..
    Dia dewasa banget dan nggak mementingkan egonya sendiri ..
    Aku suka liat siwon sama nara ..
    Unnie kalo endingnya di pass, dapetin passnya gimana ..?

  7. suka sikap siwon yang dewasa dan begitu menyayangi nara sama yoona.
    kenapa gak dari kemarin2 ada yang mukul kyuhyun sih biar dia cepet sadar apa kesalahannya????? udah kyuhyun relain yoona buat siwon ya, km sma tiffany aja.

  8. Hubungan Yoona dan Siwon begitu romantis .. dulu memang yoona jd orang ke tiga. Tp sekarang jd kebalikannya, kyuhyun lah si orang ketiga . Apa sihh maunya kyuhyun, pdhl hubungannya sama tiffany jg baik2 saja. Kok masih gangguin yoona aja.
    untung ada siwon yg begitu dewasa dan bijaksana. Biasanya aq gak suka pasangan yoon-won, tp dlm ff ini knp aq mati2an dukung yoona sama siwon yaaa …

  9. Author.. Kau berhasil membuatku semakin galau dengan FF ini..
    Di satu sisi, u make the reader really fall in love with Siwon’s charm… N of course every Yoonwon moment with Nara..
    But, on the other side.. Dikau berhasil juga membuatku galau karena sepertinay Yoona ga bisa lupain Kyuhyun, n Kyuhyun juga ga bisa lupain Yoona apalagi dia udh tau kalau Nara anknya…
    Things are getting interesting
    Continue to next Chap

    Thanks n GBU

  10. Aku semakin jatuh cinta sma siwon hahaha
    Karakternya dsini itulih yg buat aku jatuh cinta dan gk berhenti berharap untuk dua yg akhirnya kadi sma yoona…
    Siwon orgny sbar banget dan tau karakter yoona gmana…
    Dan nara takut sma kyuhyun..
    Jadi pengen tau lanjutan nya dwngan membaca cepat hehehe

  11. Hubungan Yoona dan Siwon begitu romantis aku jadi envy hahaah .. dulu memang yoona jd orang ke tiga. Tp sekarang jd kebalikannya, kyuhyun lah si orang ketiga . Apa sihh maunya kyuhyun, pdhl hubungannya sama tiffany jg baik2 saja. Kok masih gangguin yoona aja. kalau kyu sampe kembali ke yoona itu artinya dia kembali menyakiti hati wanita.

  12. Aku lupa kapan terakhir baca ff ini. Kayaknya udah 2 tahunan deh. Dan tiba2 nemu ff ini dan udah kelar.. Syukur deh..jadi ngga usah nunggu authornya ngepost lagi.hehe
    Sama kayak dulu, aku masih suka sama gaya berceritanya author. Soal ceritanya aku ngga perlu dikomen lagi deh.. Keren

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s