Memorable 7

memorable

Judul         : Memorable 7

Author      : HyukgumSmile

Genre        : Romance, Family

Rating       : PG-17

Main Cast  : Im yoona, Tiffany, Cho kyu hyun, Choi siwon, Im nara

 

Happy Reading^^

 

Jenjang tungkai yoona melangkah perlahan mengikuti alunan musik klasik yang menggema. Sesekali, heels yang ia gunakan bertabrakan kecil dengan ujung sepatu kulit milik kyuhyun. Jemarinya bergetar halus, pertanda jika sedang terjadi pergolakan besar dalam tubuhnya.

Jemari kyu hyun masih disana. Masih bertengger pada pingggulnya yang terbalut sutra tipis yang halus. Seketika yoona dapat merasakan hangat yang dulu bahkan pernah merangkulnya dalam naungan kasih sayang.

Yoona kembali memejamkan matanya rapat-rapat. Terlalu banyak bayangan yang terlintas jika kyu hyun sudah berada didepannya. Yoona ingat, ia pernah berdansa dengan pria itu saat malam prom dengan seizin tiffany, dulu.

Dan entah mengapa ia cukup merindukan masa itu. Masa dimana ia dan kyu hyun hanya perlu saling berpandangan untuk mengerti. Masa dimana ia ataupun kyu hyun tak perlu menggunakan ribuan kata untuk memahami.

Masa dimana dulu, mereka bahagia.

Tak perlu menampiknya. Yoona memang merindukan masa-masa yang seperti itu. Sesekali, dalam relung hatinya ia pernah mengorek beberapa kepingan masa lalu yang setidaknya mampu menggoreskan seberkas kuluman senyum tipis dari bibirnya.

Mengingat betapa dulu ia dan tiffany tak terpisahkan. Begitupun dengan kyu hyun. Tak pernah terfikirkan olehnya dulu jika kehidupan akan membawa mereka pada titik seperti saat ini.

“aww..”

Yoona mengeratkan cengkramannya pada kerah kemeja kyu hyun. Jemari namja itu pun bereaksi dengan menggenggam salah satu tangan yoona erat.

“kau tak apa?”

Yoona tak menatapnya. Tak sekalipun berani menatap kyu hyun dengan ekspresi macam apapun. Yang jelas, terjebak bersamanya saja sudah menjadi hal buruk yang menggoreskan tinta hitam dalam buku hariannya.

Ia menggeleng. Cukup seperti itu saja. Tak harus ada respon lain. Tapi anehnya, kyu hyun tak sekalipun merasa risih atau perlu bertanya mengenai apa yang terjadi. Baginya, kebersediaan yoona untuk berdansa dengannya saja sudah menjadi anugerah yang luar biasa.

Perlahan, yoona melemaskan jemarinya. Remuk bekas cengkraman itu berjejak disana. Dan dengan begitu polosnya yoona segera menepuk-nepuk bagian itu seolah akan berdampak pada kerapihannya.

Kyu hyun tertawa lucu. Tangan yang semula berada pada pinggul yoona perlahan beranjak, meraih jemari yeoja itu lalu terkekeh tepat didepan wajahnya. Yoona tersentak. Menundukkan diri lalu dalam sekejap mereka berhenti.

Memilih untuk berdiam diri didalam kerumunan pasangan dansa,

Kyu hyun menatap yoona dalam. Merasa berbeda, yoona segera mendongak, lalu kembali menunduk saat tatapan kyu hyun yang tak terbendung menghujami manik matanya.

“apa yang kau lakukan?” yoona berkelakar pelan. Aneh, yoona bahkan lupa ia kemanakan suara lantang yang sebelum ini selalu ia pergunakan jika berhadapan dengan kyu hyun.

“melihatmu”

Dan cukup dengan sebuah kata itu saja. Yoona merasa jika seluruh harga dirinya meluruh dalam cairan menjijikkan. Ia rapuh. Dan kyu hyun tak pernah sekalipun berhenti untuk menghancurkannya.

“jangan tatap aku seperti itu”

Kyu hyun tersenyum lembut. Wajahnya perlahan bergerak mendekat, mencium aroma pinus menyegarkan yang tak pernah berubah dari yoona. Nafas hangatnya perlahan semakin terasa menegaskan setiap mili pergerakannya.

Yoona menegang. Jika ia ingin, ia bisa saja berteriak. Tapi tidak jika seperti ini. Tidak jika ditempat yang seperti ini. Yoona masih cukup waras untuk menjaga nama baik saera.

“wae?”

Yoona menunduk dalam. Matanya tiba-tiba saja terasa panas. “kau membuatku risih” jawabnya jujur.

“dulu kau tak pernah merasa terganggu dengan kehadiranku”

Yoona mendongak “kau selalu menyimpulkan semaumu. Memang kau pernah bertanya, apa aku nyaman berada didekatmu?”

Dan kyu hyun terkekeh kecil. Persis seperti ledekan yang luar biasa membuat yoona kalut. Tapi bukan begitu, namja itu tak pernah sekalipun berniat mencibir yoona. Ia hanya ingin tertawa, karena yoona-nya yang dulu perlahan terlihat kembali.

“kau lupa, aku tak perlu bertanya untuk tau perasaanmu, yoong”

Dan yoona memejamkan matanya erat-erat. Panggilan itu lagi.

“jangan panggil aku seperti itu lagi. Dan, ya, kau memang selalu tau apapun tanpa sebuah kata. Lalu, apa yang akan terjadi jika memang begitu?”

Kyu hyun mengedik kecil “tak ada. Hanya mencoba mengingatkanmu yang sepertinya mulai melupakan banyak hal. Apa choi siwon itu memintamu untuk menghapus masa lalumu bersama kami?”

Dan kali ini, yoona jengah.

“berhenti mengkait-kaitkannya dengan masalahmu, kyu!”

Ia melangkah mundur, kali ini jauh lebih dari cukup untuk memisahkan tubuh mereka yang terlalu dekat. Namun sial, kyu hyun tak sekalipun membiarkannya pergi. Namja itu menarik tangan yoona untuk kembali berada dalam pelukannya.

“masalahku? Bukan masalah kita?”

Yoona mendelik tajam. “kita? Kau saja yang terus bermasalah dengan dirimu. Berapa kali sudah kukatakan jika aku tak pernah menjauhimu. Jadi berhentilah untuk terus bertanya dan membuntutiku”

Yoona dengan sigap melangkah pergi. Tungkainya membelah lautan manusia lalu tanpa permisi menuju lorong pintu keluar ballroom. Ia bisa mengirimi saera pesan, nanti. Yang paling penting saat ini adalah ia bisa pergi sejauh mungkin dari kyu hyun.

Yoona menerobos tas tangan miliknya untuk meletakkan ponsel usai menghubungi supir kantor. Sial! Ia masih harus menunggu sekiter sepuluh menit lagi untuk pulang. Mata yoona menyapu sekitaran gedung, ia harus pergi. Setidaknya untuk menghindari kyu hyun.

Yoona berbalik, berjalan menuju salah satu taman gedung sebelum sebuah tangan mencegatnya. Ia menghembuskan nafasnya berat. Sial! Ia terlambat.

“maaf”

Yoona memejamkan matanya rapat-rapat. Yang satu ini entah sudah kata maaf yang keberapa yang ia dengar dari kyu hyun. Dan jujur saja, ia bosan. Yoona terkesiap saat namja itu menariknya tanpa berbicara. Memeluknya erat seolah kejadian sebelum ini benar-benar membuatnya menyesal.

Yoona melenguh, seharusnya ia sadar jika ia tak pernah benar-benar bisa membenci namja itu. Ia tak bisa, meski berkali-kali yoona sadar jika kehidupan sudah lebih dari cukup menjelaskan padanya betapa ia pantas untuk membenci kyu hyun.

Jemarinya menyentuh lengan kyu hyun pelan “arraseo. Sekarang lepaskan aku, aku ingin pulang” ujarnya datar.

Pelukan itu melonggar. Dan yoona bersumpah tak akan pernah lagi menatap mata kyu hyun usai ia terjebak beberapa saat yang lalu.

“apa begitu sulit untuk menatapku, yoon?”

Yoona menggeleng.

“lalu?”

“aku tak terbiasa lagi melakukannya”

Kyu hyun tersenyum miris. Sesuatu memeras hatinya hingga terasa begitu perih. Dulu, yoona bahkan tak harus terbiasa untuk menatap matanya berlama-lama. Tapi sekali lagi ia tak ingin mengungkit hal apapun.

Kedekatan mereka saja sudah cukup bagus untuk membuat bilik bahagia dihati kyu hyun kembali terbuka. Cukup sampai disitu saja, ia tak ingin merusak suasana dengan yoona yang kembali menjauhinya usai pesta ini.

Kyu hyun mengangguk sekali lalu mengusap sayang lengan terbuka yoona “semoga kau kembali terbiasa. Aku rindu tatapanmu”

Yoona tak menjawab. Baginya, cukup dengan mendengar perkataan itu saja, ia bisa luluh kapanpun. Belum lagi jika ia menjawab jika sebenarnya ia juga merindukan kyu hyun. Sangat.

“aku antar pulang”

 

Selama perjalanan pulang, tak ada satupun pembicaraan yang mengisi kebersamaan mereka. Yoona hanya mampu diam. Sesuatu didalam dirinya seperti memberontak memintanya untuk segera kembali membangun sebuah benteng pertahanan.

Dan sebagiannya lagi berusaha meyakinkannya jika menerima kyu hyun kembali bukanlah hal yang buruk. Tiffany benar, mereka bisa saja memulai kembali persahabatan mereka seperti dulu.

Tapi entahlah, semua mulai terasa buram. Yoona tak tau cara menjadikan abu-abu yang melintasi pikirannya menjadi sesuatu yang lebih jelas. Ia tak mengenal apapun. Dan tak mengerti harus bersikap seperti apa.

“sudah sampai”

Yoona menoleh sebentar. Mencoba tersenyum sekedar untuk menyamankan suasana. “terimakasih” ujarnya pelan. Yoona membuka pintu, keluar lalu tanpa menoleh segera berjalan menuju gedung apartemennya.

Namun ia kembali terkesiap saat kyu hyun menariknya. Mendekapnya dalam kehangatan yang sudah untuk kesekian kalinya ia rasakan. Yoona bergerak risih, dan saat pelukan itu sedikit melemah, yoona jauh lebih terkejut lagi.

Bibir kyu hyun menyerang keningnya dalam hitungan detik yang berjalan begitu lambat. Yoona lupa kapan terakhir kali namja itu memperlakukannya selembut ini. Yang jelas, kini sesuatu mulai mengusiknya.

Kedua jemari yoona bergetar. Aliran darahnya menjadi lebih cepat tanpa ia sadari.

Kyu hyun menyudahi kegiatannya, menutup malam mereka dengan sebuah senyuman tulus yang mempesona. Jemarinya mengusap lengan yoona lembut lalu merapatkan coat yang yoona gunakan untuk melindungi dirinya dari angin malam.

Kyu hyun menunduk, merapikan helaian rambut yoona yang beterbangan. Menatap yoona yang kali ini hanya mampu diam tanpa menolak kontak mata yang terjadi diantara mereka.

“teruslah seperti ini. Selamat malam”

 

 

__

Yoona melepaskan heels hitamnya, berjalan menuju pantri lalu meneguk segelas air mineral dengan cepat. Tangannya menggosok gusar wajahnya yang kini terlihat tak cukup baik.

Yoona meraih sebuah kursi, mendudukkan diri lalu menenggelamkan wajahnya pada lipatan tangan. Ia tak menangis. Cukup banyak hal yang bisa ia jadikan pelajaran. Air matanya bukanlah hal murahan yang akan selalu ia sia-siakan disetiap ia merasa tertekan.

Tidak lagi.

Yoona melirik jam dinding. Sudah pukul sebelas malam. Apartemen terasa sangat sepi dan dari situ saja yoona tau jika nara sudah terlelap dan siwon ada disampingnya untuk menemaninya menuju alam mimpi.

Yoona melangkah menuju kamar diujung ruangan. Satu-satunya kamar lain selain miliknya sendiri. Kamar nara. Jemarinya menyentuh handle lalu usai daun pintu terbuka sesuatu seperti menyirami yoona dengan berliter-liter air es.

Entah mengapa, ia merasa jika kini hatinya sudah jauh lebih dingin. Tenang dan nyaman. Yoona tersenyum kecil. Salah satu ujung matanya mengeluarkan butiran kristal meski tak cukup banyak untuk terjatuh.

Lampu utama kamar sudah mati dan lampu tidur berwarna redup itu sudah menyala. Disana, nara tidur dalam pelukan siwon yan terlihat memegangi sebuah buku cerita disalah satu tangannya.

Siwon memeluk nara penuh kasih. Sementara nara menyembunyikan kepalanya didalam dada siwon. Mereka terlihat damai dalam tidur. Dan entah mengapa yoona merasa kebahagiaan sudah datang menghampirinya.

Ie mendekat, mendudukan diri dipinggiran ranjang. Jemarinya bergerak mengusap rambut cepak siwon yang berantakan lalu menyisirnya kebelakang. Yoona tersenyum, siwon tiba-tiba bergerak gelisah seperti tau saja jika tidurnya sedang diganggu.

Yoona tertawa kecil saat mata siwon yang sipit perlahan terbuka, menatapnya ragu lalu ikut tersenyum, menjadikan tubuhnya terlentang dan memeluk pinggang yoona cepat.

“kau sudah pulang?” suara paraunya terdengar.

Yoona mengangguk. “sudah” tambahnya mengingat siwon tak akan melihat anggukan kepalanya.

Siwon melenguh kecil. “ngghh~ lama sekali” ujarnya yang masih diliputi rasa kantuk. “bagaimana pestanya?”

Yoona terkekeh. Namja itu sudah terlalu mengantuk tapi masih menyempatkan diri untuk menanyakan keadaannya. Yoona kembali menyisir rambut siwon sayang, ia menunduk lalu berbisik tepat disebelah telinga siwon.

“besok saja ceritanya. Sekarang tidurlah” bisiknya lembut.

Yoona melepaskan lengan siwon saat ia baru akan beranjak pergi untuk membersihkan diri. Namun entah mengapa lengan itu jauh lebih kuat untuk menariknya kembali duduk. Siwon sekali lagi menenggelamkan diri dalam pangkuannya.

“disini saja. Jangan pergi” racaunya manja.

Yoona tersenyum geli. Sial! Apa namja ini punya satu saja sisi yang bisa dicela? Bahkan saat tak sadarpun pesonanya tak pernah luntur.

Yoona mengalah. Ditempat tidur besar yang masih bersisa untuknya itu, ia merebahkan diri. Berada disamping siwon yang kini beralih memeluk pinggangnya. Yoona sempat terdiam. Ah, dia merindukan namja ini. Dan juga seluruh kenyamanannya.

 

 

__

Kyu hyun tersenyum saat pintu apartemennya terbuka. Jemarinya mengarah pada saklar dan lampu ruangan segera menyala terang. Ia menjatuhkan dirinya tepat didepan televisi, diruang tengah apartemen, disebuah sofa bed yang nyaman.

Ia memang merancang apartemennya dengan baik. Sebisa mungkin membuatnya nyaman tanpa ada banyak hal yang mengusik pandangannya. Ia tersenyum. Dari sofa bed itu saja, dua buah bingkai coklat persegi panjang terlihat dengan jelas.

Disana, ada ia, yoona dan tiffany. Bertiga. Ia memilih untuk berada ditengah dengan dua gadis remaja yang tersenyum bahagia disisinya. Kyu hyun masih ingat, itu libur musim panas beberapa tahun yang lalu.

Saat mereka bertiga memutuskan untuk mendaki bukit belakang sekolah dan berpiknik ria. Liburan yang terlalu sederhana bagi keluarga macam mereka yang bisa dikatakan jauh dari kata sederhana.

Tapi luar biasanya, piknik itu bahkan lebih membahagiakan daripada terbang menuju new york atau singapura untuk mengunjungi disney land. Maksudnya, mereka bahagia. Dengan atau tanpa materi berlimpah.

Kyu hyun juga masih ingat saat mereka yang terbiasa bermewah-mewah memutuskan untuk makan siang disebuah kedai kaki lima hanya demi makanan kesukaan kyu hyun. Atau yoona. Atau tiffany.

Sesederhana itu saja kenangan yang tak akan pernah bisa ia lupakan.

Kyu hyun melenguh, lengannya bergerak untuk dijadikan batal kemudian kedua maniknya sudah terlalu fokus pada langit-langit kamar. Kyu hyun menatap atap putih polos itu lekat-lekat. Entah mengapa, ia merasa jauh lebih hidup semenjak kedatangan yoona saat ini.

Kedekatan mereka tak lagi bisa dijelaskan dengan sebuah kata. Bahkan kyu hyun saja sudah kehilangan ribuan kata dan tetap tak dapat menjelaskan benang emas seperti apa yang menghubungakn kehidupan mereka.

Yang jelas, kyu hyun tau betul jika ia tak pernah bisa melupakan yoona, atau tiffany –karena tiffany sendiri justru memiliki posisi yang tak boleh terlupakan.

Kyu hyun terkesiap saat ponselnya bergetar ringan. Sudah hampir pukul dua belas malam. Siapa yang masih kurang akal menghubunginya?

Kyu hyun mengeluarkan ponselnya, lalu dengan cepat mengangkatnya “ya, spence?”

Terdengar helaan nafas diujung sana “aku fikir kau sudah mati. Sial, susah sekali menghubungimu”

Kyu hyun tersenyum sesaat. Seperti biasa, spencer lee yang tak habis-habisnya menggerutu. “ maka seharusnya penyelundupan Steyr AUG-mu sudah berhenti didetik aku kehilangan nafasku, spence.”

Spencer tertawa kecil. “seharusnya begitu. Tapi nyatanya tidak”

“dan kau cukup pintar untuk menarik sebuah kesimpulan”

Kyu hyun mendengar lelaki itu mendesah sekali. “jadi, bagaimana dengan data yang aku berikan padamu? Sudah ada yang bisa kau temukan?”

Kyu hyun menyatukan alisnya ragu “tidak” jawabnya kemudian. “yang kutemukan hanya kata-kata tak penting. Sejarah hidupnya, dan, oh, sial! Kau memasukkan sejarah percintaan mereka juga!”

“bukankah itu penting untukmu?”

Alis kyu hyun semakin menyatu. “untuk apa?” ujarnya bingung.

Spencer berdehem sekali. Lalu usai jeda yang cukup lama ia kembali bersuara. “ya,, untuk mengetahui sejauh apa hubungan mereka. Tapi itu hanya sebatas pemikiranku”

Hubungan telepon berhenti sesaat. Dari seberang, kyu hyun tau jika spencer masih menyempatkan diri untuk menyatukan dirinya dengan keyboard komputer sementara ia sendiri tengah sibuk memikirkan benar atau tidaknya usul rasional yang spencer berikan.

“jadi? Bagaimana?”

Kyu hyun kembali terfokus. “ya,, aku tak berfikir sejauh itu”

“karena kau hanya memikirkan bagaimana cara untuk menjauhkannya dari gadismu”

Kyu hyun tak menjawab. Spencer benar. Ia tak perlu membahas betapa spencer tetap mengenalnya tanpa bertatap muka dalam beberapa tahun belakangan.

Kyu hyun menghela nafas beratnya sekali “jadi, kali ini ada apa?”

“ada beberapa hal yang harus kau tau”

Kyu hyun menegakkan tubuhnya dengan cepat. Dari nada berbicara spencer saja ia bisa menebak jika berita kali ini bukanlah hal yang main-main.

“pertama..” spencer memulai “kau tau, kan choi siwon bekerja disalah satu anak perusahaannya yang dijalankan di seoul. Baru-baru ini sebuah berita melansir hilangnya pewaris tunggal keluarga choi. Lalu berita itu hilang seketika saat siwon ditemukan sudah berada diseoul”

Kyu hyun terdiam. Matanya memicing berusaha untuk mengerti perkataan spencer dengan cepat.

“selain untuk sekedar menyembunyikan diri dari kejaran paparazi, kehadirannya di seoul tak termasuk dalam persetujuan keluarga mereka”

Kyu hyun mengerutkan dahinya cepat. “jadi,, maksudmu—“

“ya,, seperti itulah kurasa. Aku masih mencoba mencari tau bagaimana ia bisa berada di seoul hanya dalam jangka waktu dua bulan. Padahal mengurus segala macam surat-surat hukum tak semudah itu, menurutku.”

“lalu?”

“lalu, ya, Sampai disitu saja. Ck, kenapa susah sekali untuk berfikir bagimu?”

Kyu hyun menggeram kesal “ya! Apa gunanya aku meminta bantuanmu jika bukan untuk menyelesaikan masalahku?”

“aku agen. Tugasku hanya mencari informasi. Jika untuk menarik kesimpulan juga kau serahkan padaku, aku bisa gila hanya karena masalahmu”

“spencer lee, kau cukup pintar untuk mengakalinya. Hidupmu bukan hanya tentang bekerja 24 jam saja, bukan?”

Spencer tergelak dibalik sana. “sayangnya, ya. Aku bekerja seperti bumi yang tak pernah berhenti berputar, marc”

Kyu hyun mendengus malas. Sial. Spencer selalu punya ribuan alasan untuk menghindari diri dari membantunya menyimpulkan seluruh masalah ini. Entah perasaannya saja atau sebenarnya spencer sudah tau tapi ia ingin kyu hyun sendirilah yang menyadarinya?

Kyu hyun menatap ponselnya ragu. Sekelebat ia mendengar spencer mendesah lelah. Membuatnya sedikit merasa bersalah. Spencer tipe orang yang terlalu setia dan memiliki jiwa balas budi yang luar biasa. Bekerja selarut ini bukanlah hal yang wajar, menurut kyu hyun. Tapi spencer justru berusaha menghubunginya hanya demi secuil informasi.

Semacam, ya, spencer benar-benar teman yang luar biasa. Ditengah rasa lelahnya menjadi agen, ia tetap menyempatkan diri untuk membantu masalah kyu hyun yang sedikit banyak cukup menjengkelkan.

“baiklah, ini akan sedikit mengejutkan”

Kyu hyun mengerjapkan matanya ragu. Lalu kembali mendengarkan spencer yang suaranya mulai merendah. Oh, sepertinya ia mulai mengantuk. Pikir kyu hyun.

“aku beritau satu hal. Tapi berjanjilah untuk bekerja sendiri setelahnya. Aku akan terbang ke vegas pagi ini, tak bisa menghubungimu untuk berminggu-minggu kedepan. Jadi gunakanlah waktumu untuk menganalisa kehidupanmu yang tampak kacau”

Kyu hyun mendengus kesal. Spencer terlalu berlebihan menggambarkan kehidupannya meskipun, ya, ada benarnya. Hidup kyu hyun memang terasa terlalu kacau dan ia tak tau sejak kapan hal seperti itu mendatangi hidupnya. “hmm..” balasnya kilat.

Spencer menarik nafasnya dalam “im yoona melahirkan enam bulan usai ia mendarat di virginia. Dan enam bulan sebelumnya, satu-satunya lelaki normal yang masih berhubungan dengannya adalah dirimu”

Kyu hyun mengerutkan keningnya tak percaya. Debaran jantungnya terasa satu setengah kali lebih cepat bahkan kini terus melaju kencang.

“entahlah. Jika kau memintaku menggunakan logika, maka logikaku berkata jika im nara, gadis kecil milik yoona itu, adalah anakmu”

 

 

__

Yoona bergerak gelisah saat sesuatu seperti menghimpit perutnya. Berat. Dan bergerak. Ia ingin menggulingkan diri, ingin memeluk siwon,mungkin. Tapi tetap tidak bisa. Lalu mencoba untuk mengalah dengan waktu, ia membuka matanya perlahan.

“mommy!!”

Yoona tak mampu melakukan apapun selain tersenyum kecil. Dasar gadis kecil ini, seperti tidak punya cara lain saja untuk membangunkannya.

“sudah bangun, eoh?”

Nara mengangguk antusias, melirik jam lalu kembali melihat yoona. “dan moony terlambat. Aku lapar lalu sarapan pagiku belum ada diatas meja makan” ujarnya cepat. “oh, ya! Apa mommy sudah mandi?”

Yoona terdiam, lalu setelahnya tergelak kencang. Ia segera mencoba untuk duduk lalu memeluk nara cepat. Im nara terlalu merindukannya, rupanya.

“kau begitu merindukanku, eoh?”

Nara melirikkan matanya keatas, menggembungkan pipinya lucu lalu mengedik sekali “sepertinya begitu. Apa aku salah?”

Dan yoona menggeleng tegas. “anio. Aku juga merindukanmu”

Yoona kembali memeluk nara lalu menjatuhkan dirinya pada tempat tidur. Gadis kecil itu bersandar pada dadanya dengan nyaman sementara yoona mulai merasa sesak nafas dengan keberadaan nara yang,,

“kau bertambah berat? Aku kan hanya meninggalkanmu selama dua hari”

Nara menatap yoona bingung. “entahlah, mungkin karena edd memberikanku makanan yang lebih baik”

Dan dengan cepat jemari yoona bersarang pada pipi nara yang lembut. Menjawilnya pelan. “seperti es krim, spagetti bolongue dan beberapa kotak donat didalam lemari pendingin?”

Nara mengangguk, kembali memeluk yoona erat kemudian berujar pelan “mom, aku rindu suara jantungmu”

Yoona tersenyum. Tak pernah sekalipun ia lupa jika nara begitu menyukai detak jantungnya. Setiap pagi, nara akan memeluknya erat lalu mendengar detak jantungnya. Yoona tak tau untuk apa, yang jelas, ia juga menyukai cara nara merindukannya.

“aku juga”

Nara dan yoona menoleh cepat, menemukan siwon sudah berdiri didekat meja rias kecil milik nara tersenyum dan melipat tangannya dengan keren. “sudah bangun?” tanyanya entah pada siapa.

Nara mengangguk antusias. “baru saja!” jawabnya tanpa melepaskan pelukannya pada yoona.

“kalau begitu segeralah mandi. Sarapanmu akan dingin jika terlalu lama ditinggalkan”

Nara melemaskan bahunya cepat. “tapi edd.. aku masih ingin bersama mommy” rujuknya manja.

Siwon tertawa lucu. “kau bisa melakukannya usai membersihkan diri. Dan aku yakin eommamu juga harus membersihkan dirinya sebelum sarapan. Benar, kan, nyonya choi?”

Yoona tak menanggapinya dengan serius. Ia hanya menatap nara berusaha membenarkan perkataan siwon. Lalu tiba-tiba nara sudah terangkat dan kini berada dalam gendongan tangan siwon.

Namja itu membawanya menuju kamar mandi, mencarikan handuk kecil milik nara lalu mengecup dahi gadis kecil itu sebelum mendorongnya memasuki kamar mandi. Usai itu, ia melangkah mendekati ranjang lalu menatap yoona yang masih terbaring memperhatikannya yang mengurusi nara dengan baik.

“jadi, seperti itu caramu memaksanya mandi?”

Siwon mengangguk sekali. “mudah, kan?”

“ya, jika itu dirimu. Dia bahkan tak pernah tertarik dengan ciumanku” yoona memutar bola matanya kesal lalu mendudukkan diri dipinggiran ranjang.

“tapi aku tertarik. Bagaimana?”

Yoona mengerjap ketika siwon sudah berada didepannya. Kedua tangannya tiba-tiba sudah bersandar pada tepian ranjang lalu tersenyum, menulari yoona yang pada akhirnya tersipu malu.

“bogoshippo” bisiknya pelan. Usai itu, bibirnya yang kecil itu menghangatkan milik yoona dengan lembut. Siwon mengecupnya pelan, lembut dan penuh kasih sayang.

Hanya sebentar saja, yoona tau betul bagaimana siwon mampu menghargainya dengan baik. Usai itu, jemari siwon sudah mengusap sayang pipi kanan yoona. Memaksanya untuk membuka mata.

“jadi, ingin mandi sendiri atau aku mandikan?”

Tiba-tiba yoona tergelak keras. Salah satu tangannya memukul lengan keras siwon lalu beranjak membersihkan beberapa helai rambut yang terlihat berantakan. “arraseo, aku mandi” patuhnya.

Siwon tersenyum senang. “bagus. Cepatlah, sarapan menunggumu” ujarnya tenang usai mencium puncak kepala yoona lalu menghilang dibalik pintu. Berlalu menuju dapur.

 

 

__

Beberapa helai kertas terjatuh lalu dengan cepat disambar dan dikembalikan kedalam sebuah map. Kyu hyun buru-buru membereskan beberapa tumpukan map yang baru saja ia baca ulang setelah melihat arloji hitam miliknya.

Sudah waktunya makan siang. Dan ia perlu membereskan satu hal.

Kyu hyun menumpuk, menjejalkan macam map itu menjadi satu lalu merapikannya dan meletakkannya disudut tepian meja kerja. Ia berdiri, merapikan setelah jas abu-abu miliknya kemudian berjalan keluar.

“tolong atur ulang seluruh janjiku. Jangan ganggu aku hari ini”

Kyu hyun berpesan pada sekretarisnya sebelum meninggalkan kantor.

“tapi, sajangnim—“

Kyu hyun menoleh. “wae?” tanyanya datar.

Gadis muda berperawakan tinggi langsing itu kemudian menunduk. Meraih sebuah tab lalu menyentuhnya sesekali. “emm..” gadis itu menatap kyu hyun ragu. Menelan ludahnya sekali kemudian berkata “tunangan anda baru saja menghubungi saya. Nona minta dijemput dibandara pukul satu” ujarnya.

Kyu hyun tersentak. Astaga. Bagus! Dia lupa jika hari ini tiffany sudah kembali. Dan ia juga lupa jika ia pernah berjanji untuk menjemput gadis itu usai ia pulang dari perjalanan bisnisnya.

Kyu hyun mengerjapkan kedua bola matanya ragu. Jemarinya menggosok dagunya pelan demi berfikir bagaimana dan apa yang harus ia lakukan kali ini.

Sekali lagi, tiffany bukanlah posisi yang dengan mudah bisa ia lupakan dalam hidupnya. Meski faktanya, ia baru saja melupakan tiffany. Tapi gadis itu..

‘im nara, gadis kecil milik yoona itu, adalah anakmu’

Kyu hyun menutup kedua matanya rapat-rapat. Mengepalkan jemarinya lalu mendesah gusar. “katakan padanya aku ada urusan penting”

 

Kyu hyun melangkah pelan membuka pintu gedung wedding organizer yang berdiri ditengah distrik gangnam milik yoona. Tungkainya membelah dengan tegas porselen crem yang melauti lantai gedung.

Sementara berpuluh mata tampak memperhatikan gerak langkahnya, kyu hyun berhenti tepat didepan sebuah meja.

“aku ingin bertemu im yoona” ujarnya tanpa nada.

Seorang gadis yang berdiri disana terdiam. Matanya terus terfokus pada manik coklat almond milik kyu hyun yang kini terus mengulitinya dalam diam. Jemari gadis itu bergetar halus, pertanda kecil jika ia sudah jatuh dalam pesona cho kyu hyun.

“nona, apa kau mendengarku?”

Gadis itu mengerjap sekali. Dalam gerakan kakunya yang salah tingkah, jemarinya bergerak mengetikkan sesuatu lalu berhenti dan kini menatap kyu hyun dengan sebuah senyuman tipis yang sengaja ia paksakan untuk terlihat manis.

“l lantai 4 ruang paling kanan” jawabnya tanpa berfikir.

Kyu hyun tersenyum sesaat. Seringaiannya menghiasi langkah panjangnya menuju lift lalu dengan seketika membawanya menuju lantai empat. Kyu hyun menurut. Berjalan mengikuti lorong sebelah kanan gedung lalu diujung ruangan bertemu satu pintu besar berwarna coklat.

Tanpa permisi, kyu hyun membuka pintu. Lalu ia menemukan yoona tengah bersama seorang wanita dan pria yang melihat sebuah buku dengan penuh minat. Oh, kyu hyun lupa. Ia dan tiffany seharusnya juga melakukan hal yang sama. Tapi kyu hyun menepisnya untuk saat ini. Ia ingin yoona, dan penjelasan kecil mengenai logika spencer yang baru kali ini terasa amat sangat benar.

“im yoona, ikut aku!”

Kyu hyun tak perduli jika yoona marah. Lebih tak perduli lagi jika sepasang sejoli itu kini menatapnya penuh tatapan aneh yang menjijikkan. Kyu hyun berjalan menuju sofa lalu menarik yoona yang masih menatapnya bingung.

“ayo!” perintahnya singkat.

Yoona terdiam, menarik tangannya  untuk mempertahankan diri lalu mendelik dengan tajam. “mau kemana?”

“ikut aku!”

Raut wajah yoona sontak berubah menjadi begitu jengkel. Sial! Semenjak menjauh bertahun-tahun lalu, tak ada yang berani memerintahnya seperti itu. Tidak dengan siwon ataupun kyu hyun yang sepertinya telah lama ia coba lupakan.

Yoona menghempaskan tangannya cepat. “aku sedang bekerja!” tukasnya. Yoona kembali duduk, lalu dalam waktu yang relatif singkat kembali tertarik untuk berdiri. Yoona mengaduh kesakitan. Ia yakin, usai ini pasti ada bekas kemerahan pada pergelangan tangannya.

“cho kyu hyun! Apa apaan kau. Ya!!”

Yoona tak bisa melawan banyak saat tubuhnya terhuyung cepat mengikuti langkah kyu hyun yang panjang. Dari samping sini, yoona tau jika ada yang tidak beres dengan kyu hyun. Telinganya memerah. Pertanda jika wajahnya kini juga tengah memerah dan panas.

Tiba-tiba sesuatu seperti menghentak yoona. Kyu hyun marah? Padanya? Karena apa? Bukankah mereka baru saja berbaikan dua hari yang lalu?

“akh!”

Yoona mengerang kesakitan. Diujung lorong, kyu hyun menghempaskannya pada dinding usai pintu ruangan tertutup. Ia segera menghimpit yoona dengan tubuhnya yang tinggi besar. Mendorong yoona hingga kesudut ruangan.

Tubuh yoona sontak bergetar. Dulu, mereka pernah sedekat ini. Tapi yoona tentu tak ingin hal semacam itu terulang kembali. Jemarinya bergerak mendorongi dada kyu hyun lalu wajahnya menoleh kesamping.

“apa yang kau lakukan? Menjauhlah, cho kyu hyun!!” pekik yoona dalam suaranya yang bergetar.

Kyu hyun tak patah arang. Semenjak pertama kali ia melihat yoona menggandeng nara, ia tau jika ada suatu hubungan yang memaksanya untuk terus memikirkan mereka. Lalu ia tau jika yoona memiliki seorang anak, seorang tunangan dan sebuah apartemen yang sering mereka tempati bersama.

Ini gila.

Kyu hyun mendengus geram. “im yoona, apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?”

Yoona mendongak cepat. Matanya membesar tak percaya lalu meredup dalam hitungan waktu yang singkat. “apa aku harus mengatakan segala sesuatunya padamu?”

Kyu hyun diam. Pikirannya belum siap untuk membalas serangan balik dari yoona. Bibirnya kelu, lalu ia mulai berpikir. Benar, apa yoona harus memberitau segala hal padanya?

“aku bahkan lupa jika aku pernah berbagi banyak hal padamu” lanjut yoona.

Kyu hyun tersentak. Matanya menatap yoona penuh kepedihan “yoon, apa salahku hingga kau seperti ini?!”

Kyu hyun tak pernah benar-benar mengerti mengapa yoona begitu membencinya. Yang ia tau, ia dan yoona baru saja kembali pada masa dimana mereka tak terhalang apapun untuk berkomunikasi beberapa hari yang lalu. Tapi kini, yoona bahkan lebih sering bersikap seolah kyu hyun adalah orang asing yang tak perlu tau apapun mengenai kehidupannya.

“salahmu? Kau bertanya salahmu?!” yoona mendongak “salahmu adalah karena kau sudah menghancurkanku, cho kyu hyun!!!” mata yoona memerah. Lalu dengan kekuatan yang datang entah dari mana, ia mendorong kyu hyun hingga terjugkal.

Usai itu, yoona menyeka air matanya cepat. Perih. Kenyataan jika kyu hyun sama sekali tak pernah menyadari kesalahannya membuat yoona muak. Perlakuannya yang seperti kembali menyeret yoona pada masa lalu lebih membuatnya muak.

Ia muak. Muak dengan kehadiran kyu hyun.

Yoona melangkah menjauh. Ia ingin keluar, berada bersama kyu hyun dalam sebuah ruangan membuatnya sulit untuk bernafas. Ia tidak mungkin membeberkan seluruh masa lalunya yang kelam untuk menyadarkan kyu hyun. Tapi, jika keadaannya seperti ini yoona sendiri ragu jika ia masih dapat bertahan untuk diam.

“yoon!!”

Kyu hyun berdiri, mengejar yoona lalu menarik pergelangannya. “sial! Jelaskan padaku sekarang!!” matanya memerah. Kepalanya sudah seperti ingin pecah jika yoona terus berkata seperti itu sementara ia sendiri tak ingat pada bagian mana ia menghancurkan yoona.

“brengsek! Pergi!!”

“tidak! Jelaskan sekarang atau aku yang akan memaksamu berbicara, im yoona!”

“sialan! Berhentilah bertindak seperti kau tak tau apapun cho kyu hyun! Kau tidak begitu bodoh, kan, untuk menyadari kesalahanmu?! Jangan bersikap seolah hanya aku yang masih mengingatnya!”

“aku memang tak ingat apapun, yoon! Karena itu jelaskan padaku apa yang terjadi. Aku bisa gila karena emosimu yang selalu meledak ketika bersamaku. Sebenarnya apa yang terjadi? Kau selalu berkata jika kau tak pernah menghindariku. Nyatanya, kau memang seperti itu! Kau tak pernah ingin bersamaku. Sebisa mungkin menjauh dan menghindar dari kesempatan untuk bertemu denganku. Jangan membuatku berfikir seolah aku ini terlalu brengsek untuk kembali melindungimu!”

“nyatanya kau memang terlalu brengsek, cho!!” Yoona mendongak, dari matanya saja, kyu hyun tau kini yoona tak main-main dengan emosinya. Gadis itu bergetar menahan emosi yang kini hampir memecahkan ubun-ubunnya.

“mengapa harus aku?!”

“karena kau merusak segalanya! Kau merusak hidupku! Harapanku! Masa depanku!” bentak yoona keras.

Kyu hyun berjalan mudur. Sekelebat ingatan masa lalu itu kembali mendatanginnya, membuat seluruh tubuhnya bergemuruh dalam didihan darah yang panas. Malam itu,, kyu hyun ingat jika malam itu..

“kau ingat?—“

‘aku akan bertanggung jawab. Apapun yang terjadi!’

“jadi, sudah sejauh mana tanggung jawabmu?”

‘yoon, tiffany menerimaku kembali’

“puas, kau menghancurkanku?”

Kyu hyun tersentak. Tidak salah lagi, yoona memang terlalu terluka karena malam itu. Karena kejadian laknat yang terjadi diantara mereka saat itu.

Kyu hyun menatap yoona dengan ribuan penyesalan. Bibirnya kelu, kaku dan membeku. “y yoon.. a aku—“

“sudah mengerti mengapa aku harus membencimu? Kau sudah tau?! Jawab aku, cho kyu hyun!!”

Kyu hyun bergetar hebat. Ia tak pernah berfikir sejauh itu bahkan setelah ia tau jika yoona mengilang seperempat malam usai ia kembali berbaikan dengan tiffany. Jadi,, maksudnya,, nara itu..

“jadi berhentilah bertanya apa salahmu! Berhenti bersikap seolah hanya aku yang memiliki dendam tanpa sebab. Dan berhenti menggangguku! Aku kembali bukan untuk ini, kyu! Bukan untuk menangisi masa lalu. Aku jelas telah melupakanmu jauh-jauh hari sebelum aku memutuskan unt—“

Yoona terdiam. Kini, tubuhnya jauh lebih bergetar saat tiba-tiba kyu hyun menciumnya dalam. Namja itu menghimpitnya pada dinding rungan dan menahan tengkuknya untuk bergerak.

Dalam sekejab ketakutan menjalari perasaan yoona. Kedua bola matanya memanas dengan cepat dan meneteskan kristal itu tanpa henti. Ketakutan itu semakin menghantuinya. Ia lupa, jika ia belum lagi sehat sempurna usai trauma hebat itu.

Jemari yoona terkepal, ia terisak. Tangannya memukul-mukul lengan kyu hyun. Tidak. Ia tak lagi ingin seperti ini. Menerima sentuhan kyu hyun saja sudah membuatnya bergetar hebat. Ia belum siap. Samasekali belum siap untuk mengulang kesalahan yang sama.

Yoona memejamkan bola matanya erat-erat. Kristal bening itu terus mengalir dari kedua belah pipinya. Jemarinya mencengkram kuat lengan kemeja kyu hyun. Hingga tiba-tiba, hampa menyergapnya.

Kyu hyun menjauh. Tak lagi menyetuhnya.

BUGH!

“brengsek, menjauh dari tunanganku!!”

Dan teriakan siwon adalah hal terakhir yang ia ingat sebelum ia tenggelam dalam gelap yang terlalu pekat.

 

-TBC-

Hai!! Welcome march ya^^

Maaf, untuk yang kesekian kalinya FF ini harus di post berlama-lama usai part sebeumnya. Tapi sungguh, ini cuma masalah waktu. Tolong dimengerti karena ujiannya lagi numpuk banget.

Oh ya, boleh gak aku minta komen yang bener-bener komen? Maksudnya, bukan yang ‘ddaebak thor!’. ‘Next’. ‘lanjutannya jangan lama-lama ya’. Tapi tentang gimana pandangan kalian untuk cerita ini. Aku kadang agak kurang semangat kalau cuma nerima satu kata aja. Tapi, ya, terserah kalian sih. Aku cuma mau tau gimana cerita aku dimata kalian aja.

At last. Makasih, udah mau nungguin cerita aku. Comments are loves. Dan,, ya,, kalau shider gak semakin banyak, aku usahakan untuk ngepost part selanjutnya secepat mungkin.

See ya^^

 

With love, Park ji yeon.

196 thoughts on “Memorable 7

  1. Yaa ampunnn kyuhun baruu sadarkannnnn kalauu kamu tu udahhh nyakitinn yoona sedalammm ituuu baru sadarrknn! Sumpahh part ini mngesalkn sekaliguss mnegangkan thorr kereenn

  2. Aaaah.. sumpah Dian saeng pinter banget bikin ff >< aku baca cerita ini serasa nonton drama dimana aku lebih suka pemeran ke 2 namja dimana pemeran ke 2 biasanya lebih care ke tokoh utama yeoja.. disini aku lebih suka yoona sm siwon drpd sm kyuhyun, kkkk.. pengen kyuhyun ngerasain sakit hati liat kedekatan siwon dgn yoona dan nara..

  3. kyu tau nara adalah anak-nya.
    yoona berteriak pada kyu.
    kyu mencium yoona.
    hhaaah……😦
    masalah-nya semakin rumit jika siwon sudah melihat ‘itu’……….
    ckckck…. eonni hebat 🙂

  4. Ish kyu nyebelin banget, ternyata dia emang gk inget dgn apa yg telah dilakukannya sama yoona… Bahkan tanggung jawab yg dulu di katakan pun tak pernah terlaksana dan sekarang tiba2 datang lagi dan mengacaukan kehidupan yoona lagi , ya walaupun krn dia penasaran sama nara … Tapi kalo mereka deket lagi aku kasihan sama EDD hehehe…

  5. kalau ni ff di bikin drama di jamin bakal banyak yg tergila gila sama couple yoonwon soanya di cerita ini siwon nya sweet banget bikin gw klepek klepek… dan semua itu haya seandainya maunya terkabul (amin) tapi ntah lah…
    si kyu baru nyadar kesalahannya dia. ya walaupun udh tau nara anaknya jgn sampe deh kyu ngerusakin kebahagiaan nara yoona ama siwon.. udh cukup rasa sakit yoona selama 5 thn jgn sampe dia ngulng kesakitan dia yg udh sembuh dgn adanya siwon… dan selalu setiap chapter nya cerita kau chingu selalu daebak..

  6. Aku ko ngerasa disini kyu egois banget ya…
    Dia gamau yoona jauhin dy, tp dy jg gamau k hilangan tiffany..
    dan untuk siwon… Tetep ya, dy sweet banget..

  7. siwon bener2 pahlawan ya..
    dia selalu ada buat yoona dalam kondisi apapum.
    beda sama kyuhyun yg menurut aku selalu mementingkan ego nya

  8. q pkr kyu udah nyadrin dr waktu siwon blng nara milik yoona…eh msh hrs hyukjae jg yg ngsh tau…..wah kyu parah bgt….siwon lri dr kluarganya

  9. Kyu masa gk sadar sih kesalahan dia selama ini yg udh nyakitin yoona. Kenapa sih kyu asik ganggu yoona aja padahal kan dia udh punya tif..

  10. itu kyuhyun sempet amnesia apa gimana sih thor, aku gemes bgt sama karakter kyuhyun disini. pas lagi gemes gemesnya, untung aja siwon dateng ngasih bogeman haha

  11. Kyuhyun,,kmu tuh jahat bgt…. Knpa hruz mncul dlm khidupan yoona lgi… Biarin aja dia bhgia sama siwon… Ya.,tuhan siwon ngeliat kyuhyun mncium yoona… Kyanya bkal trjdi perang nih…

  12. aku rasa kyuhyun terlalu lambat untuk urusannya dengan yoona. dia masih saja bodoh buat menyadari kesalahan yang telah ia perbuat kepada yoona. kyuhyun kau mengorek luka lama yoona. dan sekarang aku berfikir sepertinya yoona sama siwon aja dan kyuhyun sama tiffany begitu kurasa lebih baik untuk kedepannya.

  13. Haishh … aq sebel bgt sama kyuhyun. Sebel .. sebel .. !
    Kok dia dgn pedenya mengejar yoona lagi tanpa rasa bersalah.
    Hufft .. untung ada siwon . Knp karakter kyuhyun dsini keras kepala menyebalkan yaa ..

  14. asli kyuhyun bikin gregetan di ff ini thor
    harusnya sadarr kyu sadarr haduhh
    kasihann yoona nyaa ,
    mantapp siwon datang *sudah kayak didrama drama thorr , makinn seruuu ceritanyaa
    ijin lanjut baca

  15. damn!!!
    kyuhyun such a bastard!
    huh i can feel the emotional n im too
    and now he is know nara is her daughter! what will he do? take her? got recognition as a father? f*ck!!
    #emotion

    nice

  16. OMG! Kyuhyun!!! How can he dare to kiss Yoona after waht he had done to her a few years ago?! Aku ikutan kesel sm Kyhyun.. Hehe
    Anyway, aku suka bngt sm Siwon di FF ini.. Karkaternya bnr2 perfect menurut aku.. N setiap moment yg author gambarin antara siwon, nara, n Yoona, walaupun simple.. Tp I can say it’s really2 sweet ><
    Mungkin sedihnya cm satu hal, well.. The haven't married yet -_-
    Anyway, please jgn pisahin Yoonwon n nara.. Enth kenpa aku udh jatuh cinta bgt sm mereka di ff ini.. How u make their character n every momnt is really beautul!
    Continue to next chap

    Thanks n GBU

  17. Omo knapa aku seng banget siwon dateng disitu hahaha
    Rasanya berbunga-bunga gitu…
    Bisa gk eon klo tiffany tetp dengan kyuhyun dan siwon dengan yoona…
    Memang bner nara itu anak kyuhyun, tapi yoona tetep sma suwon dan gk ngebatesin klo kyuhyun mau ktemu nara ataupun sebaliknya…
    Yah aku memang tau klo ff inu udh final sebenernya…
    Tapi tetep boleh kan aku mencurahkan isi hatiku hehehehe

  18. gak sukaa sama kyu. astaga emosi di sesi akhir author. tapi untungnya edd ada. ga bisa bayangin gimana perasannya edd liat yoona di cium sama kyu kaya gitu. pasrti sakit. tapi yoona lebih sakit karena dia harus kembali ingat akan sentuhan di masa lalunya. buktinya ampe pingsan gitu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s