[Freelance] With You, Not My Future

withypunotmyfuture

Title                 : [Freelance] Oneshoot:With You, Not My Future

Autor               : SooNa

Cast                 : Im Yoon Ah – Lee Dong Hae

Other Cast       : Find by yourself in the story

Genre              : Romance, Sad

Note                : This Story asli hasil buah pikiranku dan kutuangkan dalam bentuk tulisan. Thank You for Reader and Very Thank You for good Reader.

FF ini di post juga dibeberapa blog, jadi jangan heran ketika menemukan ff yang sama

~

“APPA!!!”

Pria itu langsung merentangkan tangannya ketika melihat seorang anak kecil yang tengah berlari kearahnya dengan kedua tangannya yang direntangkan.

“Appa I Miss u.” Ucap anak kecil itu yang sudah berada dalam dekapan pria yang sekarang tengah berjongkok, bermaksud menyamai tinggi diantara mereka.

Dengan senyuman yang ia ulas, ia membelai rambut hitam panjang itu dengan penuh sayang.

“Appa juga.” Ucapnya tak lupa memberikan kecupan singkat dikedua pipi tembeb milik anak kecil itu.

Terlihat didepan mereka berdiri seorang wanita dengan senyuman yang sungguh kontras dari dua orang lainnya. Senyuman yang tak bisa disebut sebuah senyuman sebenarnya.

Apakah ia harus tersenyum melihat semua ini walau ia tahu kalau semua ini tidak akan terjadi untuk waktu yang lama?

Apakah ia masih perlu tersenyum atau masihkan ia harus tersenyum dengan tulus ketika melihat pemandangan yang selalu membuatnya senang dan sedih dalam waktu yang bersamaan, membuat dadanya sesak dan sungguh sulit bernafas?

Tidak bukan? Hanya orang bodoh yang akan tersenyum tulus ketika mereka mengalami apa yang ia alami.

Hidupnya memang tidak bisa dibilang sial atau menyedihkan tapi juga tak bisa dibilang bahagia sepenuhnya. Ia bahagia, jujur. Tapi disaat bersamaan ia juga merasa sungguh sangat bersalah.

“Eomma.” Merasa tangannya dipegang oleh tangan mungil. Wanita itu segera kembali dari lamunan meratapi kehidupannya.

“Ada apa sayang?” Tanyanya melihat putri kecilnya yang terus memegang erat tangannya.

Sorot mata putri kecilnya mengarah pada sosok tegap didepan sana dengan senyuman yang tak kunjung luntur juga dari tadi. Apakah namja itu tak merasa capek terus mengembangkan senyuman yang sekali lagi membuat hatinya sesak.

Perlahan namja itu mendekati mereka berdua.

“Yoong.”

Hanya dengan suaranya, wanita yang dipanggil ‘Yoong’ itu menahan nafas. Selalu saja seperti ini ketika mata teduh itu menatapnya dalam dan menyiratkan sebuah perasaan yang sesungguhnya menurutnya itu adalah suatu kesalahan.

“Apa kau tak merindukanku?” Yoona-wanita itu-, Yoona merasa tercekat. Bohong kalau dia tak merindukan sosok yang selalu menjadi pelindungnya sekaligus malaikat mautnya itu. Malaikat maut yang bisa saja menyeretnya dalam lubang hitam. Tapi ia juga selalu melindunginya dari segala hal.

Jadi sebutan apa yang pantas untuk namja ini?

“Lihat Haena saja langsung memelukku, apa kau tak ingin memelukku?” Sekali lagi bohong kalau ia tak ingin melakukan apa yang sempat tadi Haena –putrinya- lakukan.

“Apa boleh?” Izinnya, membuat Donghae hanya tersenyum dan merentangkan tangannya. Bersiap menyambut Yoona dalam dekapan hangatnya hanya untuk wanita ini.

“Aku merindukanmu.” Lirih Yoona sambil menyelusupkan wajahnya didada bidang Donghae. Dengan lembut Donghae mengusap punggung Yoona dan tak lupa memberikan ciuman bukan di pipi seperti yang tadi ia lakukan pada Haena. Ia mencium sekilas bibir tipis itu dan terakhir ia mencium cukup lama kening indah yang selalu membuatnya ingin mencium wanita itu setiap hari.

“Aku bahkan sangat merindukanmu.” Balas Donghae.

“Appa, eomma Haena juga merindukan kalian.” Seakan tersadar kalau diantara mereka masih ada Haena, Yoona segera melepaskan pelukan Donghae dan berjalan kearah Haena.

~

“Appa kenapa sangat lama sekali melihat Haena, appa tahu kalau Haena menunggu appa.” Ucap Haena yang terduduk dipangkuan Donghae. Sementara Yoona sedang mengupas  buah-buahan untuk mereka.

Hatinya sedikit bergetar tatkala Haena berbicara seperti itu, kali ini jawaban apa yang akan diberikan Donghae untuk putrinya?

“Appa akan disini, jadi Haena tak usah menunggu appa lagi.” Walaupun jawaban Donghae tidak cocok untuk pertanyaan Haena itu tapi Haena terlihat sangat bahagia, malah sekarang dia sedang memeluk dengan erat Donghae.

Seakan tak membiarkan Dongahe pergi lagi.

Memangnya Donghae akan pergi kemana?

“Appa janjikan?” Tanya Haena dan mengacungkan jari kelingkingnya kearah Dongahe yang disambut balasan jari kelingking Donghae.

“Appa berjanji.” Yoona menghembuskan nafasnya, apakah Donghae yakin akan menepati janji itu? Dia harus dan memang harus, Yoona tak mau lagi Haena mendapatkan janji-janji palsu dari Donghae dan akhirnya melihat wajah murung putrinya itu.

Sudah cukup hanya Yoona yang selalu diberikan janji palsu oleh Donghae. Jangan sampai Haena mengalaminya. Jujur itu terlalu menyakitkan ketika seseorang berjanji pada kita dan orang itu malah mengingkarinya.

“Appa nyanyikan lagu untukku.” Pinta Haena.

Dan tentu saja Donghae langsung mengabulkan permintaan putri cantiknya itu.

Suara merdua Donghae mengalun menyanyikan sebuah lagu anak-anak untuk Haena hingga membuat kedua mata mungil itu terpejam.

Donghae bangkit sambil menggendong Haena. Berjalan kearah sebuah pintu –kamar Haena- dan membaringkan Haena diatas ranjangnya.

“Appa janji sayang.” Dan Donghae mencium kening yang sama persis dengan kening milik Yoona.

Hanya itu yang diwarisi Yoona pada putrinya selebihnya Haena bagai replika Donghae dalam versi seorang anak perempuan. Mata teduhnya terutama yang mampu membius orang untuk terus menatap mata indah itu.

~

Sekembalinya dari kamar Haena, Yoona sudah tak terlihat diruangan Tv. Mungkin wanita itu sudah berada dikamarnya. Donghae membuka kenop pintu persis disamping pintu kamar Haena.

Dilihatnya Yoona yang sedang terduduk disisi ranjang. Segera Donghae mendudukan dirinya disamping Yoona. Merangkul pinggang wanitanya itu.

Sekarang giliran Donghae yang menghela nafas. Dirinya selalu tak bisa melihat Yoona seperti ini.

“Yoong.” Ucapnya mencoba membuat Yoona menoleh kearahnya. Setidaknya Donghae ingin disambut senyuman dari Yoona, bukan malah melihat wajah Yoona yang sendu. Terlebih      semua ini karenannya.

“Oppa jangan menjanjikan sesuatu yang belum pasti kau tepati.” Ucap Yoona dengan suara pelan sekaan tak ingin orang lain mendengar suaranya.

“Aku pasti menepatinya.” Yoona menggeleng.

“Tidak oppa, aku tak mau melihat Haena yang terus mengharapkan kehadiranmu disetiap harinya.”

“Apa maksudmu? Haena putriku tentu saja ia pasti menunggu kedatangan appanya.” Donghae mengubah posisi duduknya menghadap Yoona yang masih saja  diam tak ikut mengubah posisinya.

Donghae paling benci jika Yoona terus membicarakan masalah yang sama ketika dirinya berada disini.

“Tapi nyatanya kau tak bisa bertemu dengannya setiap hari bukan?” Suaranya mulai bergetar.

“Yoong aku mohon jangan bahas ini lagi, sebaiknya kita tidur.” Ucap Dongahae.

Yoona hanya menurut dan merebahkan tubuhnya diranjang, diikuti oleh Donghae.

Dongahe melingkarkan tangannya dipinggang Yoona, memeluknya dari belakang karena Yoona tidur membelakanginya.

“Saranghae.” Yoona berusaha keras menahan isakannya sendiri. Ini jauh lebih menyakitkan hatinya dari pada membuatnya bahagia.

Yoona, dia sudah tak bisa lagi terus seperti ini.

Dia juga wanita dan dia juga merasakan apa yang mungkin seseorang rasakan.

~

Suara binatang pagi mulai terdengar. Sinar matahari dapat menembus jendela ruangan itu walaupun terhalang kaca yang membatasi ruangan  dengan luar.

Yoona menggeliat pelan, tapi untuk bangun ia sedikit susah. Tangan Donghae masih memeluknya dengan erat.

“Diam Yoong, hanya seperti ini. Aku ingin seperti ini.” Ucap Dongahe tatkla Yoona ingin melepaskan tangan Dongahe dari pinggangya.

“Apa kau sudah tak ingin aku peluk lagi hmm?” Masih dengan mata yang tertutup Dongahe berbicara pada Yoona.

Tapi Yoona hanya diam.

“Aku mohon Yoong jangan seperti ini. Aku tak akan kuat kau diamkan terus.” Ucap Donghae dan matanya kini sudah terbuka.

“Lalu aku harus seperti apa?” Donghae masih dapat mendengar suara Yoona yang begitu lembut ditelinganya tapi menyiratkan sebuah kesakitan didalamnya.

“Yoong.” Donghae tak bisa memberikan apa yang harus Yoona lakukan. Dirinya juga tidak tahu sebenarnya.

“Apa aku harus bertindak manis dan bahagia diatas penderitaan orang lain?”

Donghae masih diam.

“Apa aku harus seperti itu? Bukankah itu sangat jahat?”

Tidak, Yoona memang sudah jahat dari dulu. Ketika memulai semuanya dirinya sudah dikategorikan dalam orang yang termasuk jahat.

Itulah pemikiran Yoona.

Tapi memang entah setan mana yang menutup hatinya dan menutup kuping serta matanya untuk tak mengacuhkan apa-apa saat bertemu dengan Donghae dan menjalin hubungan ini.

“Yoong aku bilang berhenti.” Ucap Donghae sedikit berteriak. Dirinya sudah lelah juga dalam hal ini, tapi ia juga tak mau melepas Yoona begitu saja. Melepas seseorang akh tidak dua orang yang sungguh ia sangat sayangi.

Tidak, Donghae tak akan membiarkan itu terjadi.

“Aku tidak bisa, setidaknya semuanya harus jelas sekarang aku tidak mau seperti ini terus. Selalu merasa bersalah setiap harinya tiap melakukan hal ini dengan oppa.”

Yoona mencoba bangkit lagi tapi kembali Donghae kembali menahannya.

“Tidak, aku tidak akan melepasmu.”

“Oppa kau egois, aku hanya tak mau terus berbuat kesalahan. Ini juga menyakitkan.”

“Sekarang lepaskan aku!” Donghae segera melepaskan tangannya ketika mendengar nada yang lumayan dingin dari Yoona. Membuat Yoona bisa bangun dari posisi tidurnya itu.

“Pulanglah oppa.”

Yooan melangkah pergi tapi kembali terhenti ketika mendengar Donghae berbicara.

“Aku akan mengantar kalian.”

Yoona tidak peduli, terus dilangkah kakinya menuju kearah dapur.

Setidaknya ia harus menyiapkan sarapan pagi.

~

“Haena jangan nakal.” Donghae melambaikan tangannya ketika Haena mulai masuk gerbang sekolahnya. Lebih tepatnya taman kanak-kanak.

Yoona hanya duduk diam didalam mobilnya.

Donghae yang melihat itu kembali menghela nafas.

Mereka hanya diam selama perjalanan menuju butik, tempat Yoona bekerja.

“Nanti aku jemput, dan jangan menolak Yoong.” Gertak Donghae dan kembali menjalankan mobilnya. Dilihat dari kata spion, Yoona dengan wajah yang selalu ditundukan membuat Donghae sakit.

Kenapa ia bisa membuat wanita seperti Yoona menajdi seperti ini? Wanita yang kuat dulunya menjadi terlihat seperti wanita yang tak berdaya dimatanya hanya karena keegoisannya semata.

Apakah dirinya jahat? Membuat dua hati sekaligus hancur?

Tapi ia tak ingin melepas Yoona begitu saja, ia tak menginginkan itu terjadi.

~

“Haena-ya.”

Haena menoleh kearah suara yang tadi memanggilnya.

“Kyuhyun ahjussi.” Ucap Haena girang melihat Kyuhyun berjalan kearahnya.

“Ayo kita pulang.” Ajak Kyuhyun tapi Haena hanya diam.

“Aku akan menunggu appa.” Kyuhyun memandang sendu kearah Haena.

“Appa sedang ada urusan, Haena dititipakan pada ahjussi. Kita akan main dengan Kyungsan oppa.” Ucap Kyuhyun membujuk Haena agar pulang bersama dengannya.

Tadi siang Donghae meminta padanya untuk menjemput Haena. Kyuhyun langsung mengerti ketika Donghae ingin berbicara pada Yoona.

Memang mereka harus berbicara. Batin Kyuhyun saat itu.

Masalah Yoona sudah ditangani oleh Sooyoung –istrinya-

Sooyoung meminta Yoona untuk lembur dan tak usah khawatir masalah Haena karenna Haena akan menginap dirumahnya.

“Baiklah ahjussi, aku juga merindukan Kyungsan oppa.” Jawab Haena dan segera menggandeng tangan Kyuhyun. Kyuhyun tersenyum manis dan mengusap rambut Haena.

~

Yoona tengah sibuk dengan pencil ditangannya, ia sedang membuat sketsa karena sebentar lagi butiknya dan juga butik Sooyoung akan mengadakan fasion show bulan depan. Jadi ia harus lebih rajin lagi.

Sesekali Yoona menelepon kerumah Sooyoung dan Kyuhyun sekedar memastikan keadaan Haena.

Tentu saja Haena baik disana, malah ia sekarang tengah bermain dengan Kyungsan –anak Kyuhyun dan Sooyoung yang lebih tua dua tahun dari Haena-

Suara pintu terbuka membuat Yoona menoleh kearah pintu itu.

Seketika Yoona meruntuk dalam hati.

Pantas saja tadi Sooyoung menyuruhnya untuk lembur. Ini semua pasti suruhan Donghae.

Namja itu yang meminta Sooyoung untuk menyuruh Yoona lembur.

Jadi apa yang diinginkan namja itu yang semakin mendekat kearahnya.

“Kita perlu bicara.” Ucap Donghae. Yoona hanya diam tak menganggap Donghae.

Membiarkan namja itu menarik kursi didepannya.

“Aku mohon bertahanlah.”

Yoona mendongkakan kepalanya kearah Donghae , menghujani Donghae dengan tatatpan tajam darinya.

Namja ini sudah gila dengan menyuruhnya untuk bertahan. Bertahan dalam hubungan yang membuatnya sakit.

“Apa oppa bilang? Bertahan?”

Donghae menganggukan kepalanya.

“Kau egois.” Ucap Yoona sekali lagi.

“Aku mohon Yoong, setidaknya pikirkanlah Haena. Dia harus tumbuh dengan orang tua lengkap disampingnya.” Amarah kini sudah memenuhi puncak kepala Yoona. Amarah yang ia pendam selama ini karena ia masih bisa bertahan, berusaha bertahan dengan keadaannya tapi tak lagi untuk sekarang.

Dia sudah lelah, capek dan tak ingin lagi.

“Orang tua lengkap? Pikirkan tentang Haena? Apa oppa pernah berpikir bagaimana nantinya Haena?”

Sedikit mengambil nafas kemudian Yoona kembali meneruskan perkataannya.

“Jangan menyuruhku untuk berpikir masalah Haena karena pasti itu aku lakukan. Oppalah yang harus berpikir, karena Haena bukan siapa-siapa oppa.” Ucap Yoona yang sudah berada dalam emosinya.

“Dia putriku dan aku ayahnya apa kau melupakan itu?”

Yoona tersenyum sinis kearah Donghae.

“Dan apakah kau lupa, secara hukum dia bukan anakmu. Haena, dia bahkan tidak mempunyai surat tanda kelahirannya.”

Dengan sangat terpaksa Yoona mengatakan itu walaupun perkataannya sendiri membuatnya sakit.

“Dia hanya putriku karena aku yang mengandung dan melahirkannya. Oppa hanya menyumbang–.”

Plakkk

Yoona terdiam sambil memegang pipi kanannya yang terkena tamparan tangan Donghae.

Sementara Donghae terus memandang kearah tangannya yang tadi menampar Yoona. Dia tidak percaya apa yang telah ia lakukan pada wanita yang sangat berharga baginya.

“Aku tak pernah berpikir kalau tamparan oppa sangat menyakitkan.” Donghae mendekat kearah Yoona, tapi Yoona menggeleng membuat Donghae berhenti dan hanya bisa diam. Menunggu Yoona berbicara karena sepertinya masih ada yang Yoona ingin sampaikan padanya.

“Dulu aku selalu membayangkan mungkin aku akan ditampar oleh Jessica unni, tapi nyatanya oppalah yang menamparku.”

Yoona kembali tertawa miris dan itu menyakitkan untuk Donghae.

“Yoong maafkan aku, aku akan memberikan apapun untukmu dan Haena asalkan kalian tetap disampingku.”

“Apakah kalau aku meminta oppa untuk  menceraikan Jessica unni, apa oppa akan kabulkan?”

Donghae menatap tak percaya Yoona.

“Tidakkan?”

Yoona sudah menduga itu? Menjadi orang ketiga didalam pernikahan seseorang nyatanya seperti ini. Dia tak lebih dari orang asing yang masuk dalam lingkaran suci yang diikat oleh Tuhan.

“Jadi aku minta sekarang padamu oppa, lepaskan aku dan Haena. Kami hanya orang asing bagimu. Dari awal kehidupanmu itu bersama Jessica unni. Aku hanya orang bodoh yang merusak pernikahan kalian.”

Dan setelah itu Yoona pergi dari hadapan Donghae. Percuma menyuruh Donghae pergi karena Yoona tahu betapa keras kepalanya Donghae.

~

Didalam kamarnya Yoona hanya bisa menangis. Dia tak manyangka melepaskan Donghae sangatlah sakit, hantinya sungguh sakit saat ini.

“Eomma appa, maafkan aku.” Ucap Yoona dalam isak tangisnya.

“Apa aku salah menginginkan dirinya hanya untukku?”

Donghae memang sangatlah berarti didalam hidupnya.

Dia hanya punya Donghae. Baginya Donghae adalah segalanya, dialah penolongnya ketika masa lalu yang hitam menimpanya.

Dongahelah yang menyelamatkan dirinaya dari dunia hitam yang hampir saja Yoona terjerumus kedalamnya.

Dengan sangat tega pamannya yang diwasiatkan oleh kedua orang tuanya yang sudah meninggal menjualnya dan menyuruhnya untuk melayani orang-orang yang membayarnya.

Seakan dunia seorang Im Yoon Ah berakhir dihari itu. Hari dimana orang tuanya meninggal karena kecelakaan dan dirinya dijual oleh pamannya sendiri pada manusia bejat yang merusak masa depan banyak gadis yang telah menjadi korbannya.

Dan disaat itu Donghae datang, membawanya pergi, menyelamatkan dirinya.

Nyatanya kiamat tidaklah terjadi malah Yoona menemukan kehidupan baru untuknya.

Dia bertemu kembali dengan teman lamanya Choi Sooyoung dan tentu saja mendapatkan perhatian seorang Lee Dong Hae.

Memberinya tempat tinggal dan tentu saja memberinya segala hal yang memang ia butuhkan. Sampai pada tahaf Yoona mencintai penolongnya itu yang nyatanya sudah berumah tangga.

Suatu fakta yang  kembali menjungkirkan kehidupan Yoona.

Apakah Tuhan masih adil? Itulah pertnyaan yang sering Yoona lontarkan.

Setelah kebahagiaan menyambutnya, kenapa harus ada ketidakbahagiaan sesudahnya.

Dan seperti yang Yoona katakan kalau memang setan sudah menguasainya sehingga membuat Yoona tak menghiraukan status Donghae dan malah terus mendekat.

Hingga hubungan mereka berdua terlampau jauh, Haena hadir diantara mereka membuat hubungan itu semakin terikat dan tak akan mudah untuk diputuskan.

Selama hampir 6 tahun terus berhubungan, Yooan sadar kalau dirinya salah, dirinya tidak boleh seperti ini lagi.

Dan inilah keputusannya dengan mengembalikan Donghae kekehidupan semulanya. Sudah cukup bagi Donghae untuk bersamanya dan memberikan hadiah berupa malaikat kecil yang begitu manis.

Setidaknya dengan begitu Yoona tidak akan sendirian, masih ada Haena bersamanya.

“Soo-ah aku akan menjemput Haena besok.” Ucap Yoona ditelepon dan langsung setelah itu mematikan sambuangan sebelum Sooyoung sepat memberikan respon.

~

Setelah mengemas baju-bajunya dan juga baju Haena Yoona segera melangkah pergi meninggalkan apartement yang penuh kenangan baginya.

Disinilah pertama kali Donghae menyatakan perasaannya padanya dan disini juga semuanya terjadi.

Jadi akan sangat susah bagi Yoona untuk melupakan tempat yang sangat berarti baginya ini.

Diliriknya jam tangan yang terpasang ditangan kirinya.

Dia sudah terlambat.

Yoona segera pergi dengan taxi menuju rumah Sooyoung.

~

“Terima kasih Soo.” Ucap Yoona.

“Haena senang disini karena ada Kyungsan yang menemani. Jangan sungkan untuk menitipkan Haena lagi Yoong.” Yoona hanya tersenyum.

“Haena-ya ucapkan selamat tinggal pada Sooyoung ahjumma.”

~

Didalam taxi Haena terus saja memegang sebuah boneka berwujud rusa dan ikan.

“Haena dari mana kau dapatkan boneka itu?”

“Dari Kyungsan oppa, katanya Haena harus mengembalikan boneka ini 20 tahun lagi. Lama yakan eomma?”

“Akh eomma mana appa?” Senyuman diwajah Yoona pudar tatkala Haena menanyakan keberadaan appanya.

“Kita akan berlibur apakah Haena senang?” Yoona mencoba mengalihkan perhatian Haena dan tentu saja itu berhasil.

“Disana indah sekali, ada banyak gedung yang tinggi dan disana juga banyak baju-baju yang bagus untuk Haena pakai. Bagaimana?”

“Haena senang, memangnya kita akan kemana eomma?”

“Paris.”

Mungkin dengan menjauh dari Donghae bisa membuat semuanya lebih baik. Donghae hidup dengan keluarganya dan dirinya dengan Haena. Itu terlihat adil bukan?

Sekarang Yoona hanya perlu memikirkan tentang Haena saja. Haenalah prioritas utamanya. Hartanya yang sangat berharga yang ia punyai sekarang.

Hanya Haena yang akan mengisi kehidupannya nanti. Hanya ada dirinya dan juga Haena dimasa depan kelak.

Dan pada akhirnya cintanya tak harus memiliki Donghae.

9 thoughts on “[Freelance] With You, Not My Future

  1. Astaga, dari awal udah nebak ini itu eh ternyata salah semua tebakannya. Ternyata yoona cuma wanita simpanan donghae. Beneran, ceritanya keren banget awalnya bikin nebak-nebak mulu. Two thumbs up!^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s