Memorable 6

memorable

 

Judul         : Memorable 6

Author      : HyukgumSmile

Genre        : Romance, Family

Rating       : PG-17

Main Cast  : Im yoona, Tiffany, Cho kyu hyun, Choi siwon, Im nara

 

Happy Reading^^

 

 

Spencer lee bekerja pada salah satu badan intelegent Amerika. Kyu hyun mengenalnya semenjak mereka duduk dalam satu bangku saat sekolah dasar hingga tetap menjadi teman sepermainan saat sekolah menengah atas.

Dari dulu, namja blasteran belanda-kanada-korea itu memang sudah bercita-cita ingin menjadi seorang agen. Entah mengapa saat itu kyu hyun percaya jika spencer pasti bisa melakukannya.

Selain pintar, spencer juga cerdas dan sering kali mengakali sesuatu dengan baik. Pola berfikirnya sudah terlalu maju untuk ukuran anak sekolahan pada masa itu. Dan fakta mengejutkan lainnya, pria yang memiliki rahang tegas yang seksi itu telah terobsesi betul dengan CIA.

Spencer pernah memperbaiki PC kyu hyun yang rusak. Hanya dalam jangka waktu beberapa hari. Ia mahir menciptakan hal baru apapun yang ia inginkan. Dan spencer mampu berbaur tanpa perlu mendapatkan penolakan dari orang-orang sekitar.

Pembawaannya yang sopan, humoris dan cara berbicaranya yang menarik membuat setiap orang bahkan para gadis rela menjadi pendengar setianya. Oh, kyu hyun lupa, spencer menjadi icon pria mertoseksual yang playboy, dulu.

Dan baru kyu hyun tau jika ternyata hingga saat ini pria yang memiliki nama korea lee hyuk jae itu hanya mencintai satu wanita masa lalunya. Agen khusus ASIS yang memilih untuk menetap di canberra itu memiliki kerja khusus untuk berperang sekaligus meneliti berita tersembunyi dengan cara-cara tersendiri.

Beruntung, usai perpisahan panjang mereka, karena yang kyu hyun tau hyuk jae belum pernah lagi kembali ke korea semenjak enam tahun yang lalu, hyuk jae masih mengingatnya. Masih dengan tawa yang sama dan kerjasama licik yang saling menguntungkan.

Kyu hyun pernah membantunya menyelundupkan beberapa senjata api yang mereka butuhkan untuk beroperasi di korea. Karena itu, hyuk jae tak pernah menolak permintaan semacam apapun yang kyu hyun inginkan selagi ia mampu untuk membantu.

Kyu hyun memutar scroll bar komputernya. Fikirannya terus terfokus pada beberapa data pribadi siwon yang baru saja hyuk jae kirimkan beberapa jam yang lalu. Matanya belum menemukan informasi berarti meski beberapa kalimat memang perlu ia garis bawahi.

Namja itu melenguh, menyentuhkan punggungnya pada sandaran kursi lalu mendongak dan memijat pangkal hidungnya malas. Sudah larut, dan kyu hyun belum melakukan apapun selain memikirkan hal konyol yang hampir dua hari ini terus menghantuinya.

 

 

__

“hmm,, ya? Bagaimana?”

“….”

“sudah. Aku sudah menemukannya. Ya,, tidak buruk, katakan pada mereka jika tempat ini siap dipesan”

“….”

“tidak juga. Anginnya memang cukup kencang, tapi lebih baik daripada—“

“….”

“ah, ya ya. Akan kurevisi ulang. Jadi bagaiman—“

“….”

“tidak park ji yeon. Aku pulang siang ini. katakan padanya aku akan datang”

“….”

“tidak. Kau sendiri yang berkata jika wanita tua itu sedikit cerewet, jadi,, ya.. aku belum lelah. Siapkan saja gaun untukku. Sudah ya, aku harus berkemas.”

Yoona menutup sambungan teleponnya cepat. Ia tau,  gadis semacam ji yeon akan terus memaksanya untuk beristirahat sementara sore ini acara pernikahan putri Ny. Kwang yang—yeah, cerewet itu akan berlangsung.

Ia tidak bisa hanya beristirahat jika nanti seusai acara wanita tua itu akan berkelakar jika pelayanan perusahaannya tak memuaskan. Yoona jelas tak ingin hal semacam itu terjadi. Ia masih butuh nilai positif untuk meningkatkan citra perusahaannya dimata publik.

Yoona menggenggam ponselnya, mengirimi pesan pada ji yeon untuk memesankan karangan bunga dan mengantarkannya secepat mungkin. Setelahnya ia melirik arloji coklat kecilnnya dan berdecak kesal.

“ck, aku bisa terlambat”

Yoona bersiap menarik kopernya usai menimbang-nimbang bahwa tak akan ada barang yang tertinggal. Kakinya melangkah cepat lalu berhenti tepat didepan pintu saat ponselnya kembali bergetar.

“yeobseo?”

Ponsel itu terjepit tepat diantara telinga dan bahunya. Yoona bersusah payah memutar handle pintu hingga berhasil membuka pintu kamarnya.

“Mommy!!”

Yoona terlonjak kaget namun kemudian tersenyum geli. Im nara pasti sudah merindukannya jika gadis kecil pembangkang itu sudah menghubunginya terlebih dahulu.

“ya, ada apa sayang?” jawabnya lembut.

“oh, ada yang bilang kau akan pulang siang ini. jadi,, ya,, aku hanya ingin mengucapkan hati-hati”

Yoona hampir terpingkal. Perlu yoona akui jika harga diri nara memang terlalu tinggi. Tontonan televisi mencuci otaknya hingga gadis kecilnya itu terkadang besikap terlalu dewasa.

“begitu? Bukan karena seorang bocah kecil yang tengah merindukanku?”

Sejenak hening. Lalu “emm,, ya,, sebenarnya. Hanya sedikit” tuntas nara ragu.

Yoona akhirnya tak dapat menahan tawa “apa harga dirimu setinggi itu, sayang?” tanya yoona lembut.

“tidak. Tidak jika untukmu, mom. Baiklah, aku merindukanmu” Dari seberang, yoona mendengar siwon tertawa geli. Lalu nara kembali berkelakar. “jadi, jam berapa kami perlu menjemputmu?”

Yoona mendengar ada banyak suara anak kecil disana. Lalu suara ribut seorang ibu-ibu yang berteriak kecil. Dari situ saja ia tau jika nara dan siwon sedang tidak berada dirumah. Ia tersenyum lembut.

“emm,, tidak usah. Sebaiknya kalian nikmati saja hari terakhir kalian bersama. Karena setelah ini aku berjanji akan melenyapkan—“

“mom!!”

Yoona kembali tertawa “arraseo, eomma ada acara bersama ji yeon imo. Jadi kau dan kekasihmu itu, tunggu saja eomma dirumah. Arra?”

Terdengar kikian kecil sebelum akhirnya suara berat siwon menyahut “oh bagus, lalu aku memiliki dua kekasih sekarang?”

Sambungan telepon terputus saat yoona sampai didepan lobby hotel. Taksi pesanannya tiba lalu segera bergerak menuju bandara.

 

 

__

Kyu hyun hanya diam. Memperhatikan ratusan anak kecil yang berkeliaran disekitaran area permainan anak mall milikinya. Bibirnya terkadang tersenyum tipis saat beberapa anak bertingkah lucu hingga membuat orang tua mereka berteriak panik.

Ia baru menyadari jika masa kecilnya ternyata sangat-amat menyenangkan dulu. Terutama dengan kehadiran yoona dan tiffany yang secara tak langsung terus melengkapi tawanya.

“haha.. tidak. Tidak edd!!”

Mata kyu hyun kembali awas. Lalu bayangan nara yang tengah berguling kesana-kemari karena gelitikan dari siwon tertangkap oleh maniknya. Ia diam. Lalu sedetik kemudian kembali mencerna beberapa kemungkinan yang terjadi antara dirinya, yoona dan nara.

Awalnya, ia hanya berniat untuk mengelilingi pusat tempat area bermain keluarga itu untuk beberapa waktu. tapi nyatanya kyu hyun justru tak dapat beranjak ketika siwon menggandeng nara tepat didepannya.

Kyu hyun rasa siwon tak menyadari kedatangannya. Jadi pria itu hanya terus berjalan dengan sebuah senyum bahagia miliknya.

Kyu hyun menggeram kesal. Dan ia tak tau karena apa.

“sajangnim, apa anda masih akan berada disana?”

Kyu hyun mengerjap. Ia berpaling dan menemukan sekertaris pribadinya tengah menatapnya ragu. Ia baru ingat jika sudah semenjak satu jam lalu ia tak sedikitpun beranjak dari arena permainan keluarga itu.

“maaf sajangnim, pertemuan pemegang saham menunggu anda siang ini. lalu acara pernikahan sae ra, akan diadakan nanti sore.”

Kyu hyun terbatuk sejenak. Kepalanya kembali melirik nara yang masih terlihat sibuk bersama siwon, lalu ia menutup matanya perlahan.

“baiklah, kita pergi”

 

 

__

“kau yakin?”

“eum!”

Yoona masih duduk didepan cermin besar. Ruang rias yang khusus ia ciptakan disalah satu ruang kantor ‘wedding organizer’ miliknya itu terlihat sedikit riuh.

Rambut yoona masih tergulung keatas. Lalu beberapa orang sibuk memilihkan baju untuk ia pakai ke acara Ny. Kwang sore itu.

“kenapa tidak mengajakku saja? Aku bisa menemanimu pergi”

Yoona tersenyum tipis “kau lupa? Kau masih punya janji untuk berkencan dengan anak gadisku”

Seketika tawa siwon meledak keras, menulari yoona yang seharusnya tak boleh banyak bergerak.

“kami sudah memulai kencan kami sejak tadi pagi”

Yoona mengangguk “aku tau!” cecarnya percaya diri.

“lalu apa lagi?”

“bukannya kencan akan berakhir dimalam hari? Ketika si pria mengantarkan si wanita menuju rumahnya dan—“

“dan mereka berciuman, begitu?” yoona tertawa kecil “ya! Aku membawa seorang bocah kecil. Bukan ahjumma sepertimu”

“ya!! Enak saja—“

“dan kalaupun aku harus mencium si wanita, aku akan menciummu, bukan anakmu”

Kedua pipi yoona bersemu merah secara alami. Choi siwon ini memang terlalu sering berkata frontal tanpa perduli reaksi seperti apa yang akan yoona terima.

“kenapa diam?”

“memangnya aku harus seperti apa?” Yoona menghela nafasnya ringan ketika handuk yang tertempel pada lehernya perlahan dibuka.

“kau kan terbiasa berteriak kencang, sayang”

Lalu ia kembali tertawa. Kali ini tidak lagi tertahankan. “aku sudah bosan melakukannya” balas yoona terbata.

“bagus. Karena setelah ini aku akan melakukan apapun yang sebelumnya selalu membuatmu berteriak kencang”

Yoona mendelik pada ponselnya kesal “ya, lakukan saja semaumu!”

Perbincangan mereka berlangsung cukup lama hingga pada akhirnya ji yeon datang membawakan sehelai gaun biru tua yang anggun. Yoona menggunakannya dalam waktu singkat lalu membuat semua mata tercengang.

Yoona tak pernah berdandan semenarik itu. wajar saja, ia sudah memiliki siwon, jadi mungkin yoona merasa tak perlu untuk menarik perhatian siapapun –lagi-. tapi kali ini ia terlihat jauh berbeda. Yoona memang benar-benar.. cantik.

“aigo,, jangan sampai mempelai pria salah mengira siapa pengantinnya”

Yoona memukul pelan bahu ji yeon. “sudah siap, kan? Aku harus pergi. pestanya pasti sudah berlangsung sedari tadi”

Ji yeon mengangguk. Mengantarkan yoona hingga lobby dan melepasnya dengan sebuah audi hitam milik perusahaan.

 

 

__

Kyu hyun membaca catatan pentingnya setelah hampir sepuluh menit berkumpul dengan beberapa investor dalam sebuah restoran tertutup sore itu. ia memijit pangkal hidungnya perlahan saat lembar berikutnya ia selesaikan.

Terlalu banyak beban untuknya sementara ia sendiri belum memegang tampuk kekuasaan appanya. Kyu hyun tak dapat membayangkan akan semenyeramkan apa hidupnya jika suatu saat nanti ia sudah menjadi pemilik sah dari seluruh aset keluarganya.

Langkahnya berjalan cepat, sesuatu menuntutnya untuk lebih sigap karena sore ini ia memiliki beberapa janji yang terlanjur ia setujui.

“jadi sajangnim, bagaimana?”

Kyu hyun menoleh sebentar, menatap sekertarisnya ragu. “apa tidak terlalu lama. Perjalanan kesana akan memutar arus”

“sebenarnya memang seperti itu. tapi jika anda harus datang dengan jas kantoran seperti ini bukankah terlihat lebih aneh?”

“ya, memang benar..” jemarinya melipat beberapa kertas yang selesai ia pahami, memberikannya pada wanita itu sambil menimbang-nimbang haruskah ia pergi menuju butik desainer langganannya?

Ya, memang benar. Menggunakan jas kantor pada acara se-formal pernikahan memang bukanlah hal yang pantas dilakukan untuk CEO muda tenamaan sepertinya. Tapi waktu juga terlihat tak mengizinkannya untuk bergerak lebih luas.

Waktu seolah menghimpitnya. Menyesakkan rongga pernafasannya dengan himpitan janji yang tak urung berhenti. Waktu itu sialan, dan lebih sial lagi ketika tak siapapun dapat bersembunyi dari waktu.

Kyu hyun perlu oksigen. Nafasnya mulai lelah.

Ia memijit tengkuknya halus. Menimbang-nimbang beberapa hal.

“baiklah, mungkin datang sedikit terlambat bukan masalah besar. Hubungi tony han jika—“

Lalu langkahnya tersendat dipertengahan jalan menuju lift. Mata kyu hyun yang setajam bilah pisau menangkap keberadaan gadis kecil itu dengan cepat. lalu bibirnya bergumam kecil.

“nara??”

“ye, ada apa tuan??”

Kyu hyun mengerjap. Seketika rasa ragu dalam benaknya menghilang. Namja itu menarik nafas lepas sebelum akhirnya tak berpaling dari nara sembari berkata.

“bawa kemari baju pesta-ku. Aku tak perlu didandani. Aku tunggu, secepatnya.”

Semua mata mencengang hebat. Tapi kyu hyun tak perduli. Langkahnya mengayun pasti menuju nara tanpa memperdulikan beberapa orang yang masih terlihat tak mengerti.

 

 

__

“permisi..” nara mendongak dengan cepat. padahal siwon memintanya untuk tak menanggapi siapapun yang tak ia kenal selama namja tinggi itu pergi memesankannya satu cup es krim. Tapi nara memang bebal. Dan ia menemukan kyu hyun berdiri tepat didepannya.

Nara mengerjap saat senyuman kyu hyun menyambangi indra penglihatannya. Entah mengapa ia menyukai namja itu. meski, ya ia tak mirip edward cullen. Tapi kyu hyun sudah keren tanpa harus disama-samakan dengan edward.

“ya, ahjussi?” jawab nara polos.

Kyu hyun tersenyum ragu “boleh aku duduk disini?” tanyanya.

Nara kembali mengerjap. Memberikan jeda pada jawaban yang anehnya membuat kyu hyun berdebar membubuhkan genderang batin. Kyu hyun baru menyadari, mata nara begitu tajam, dalam, bening dan polos.

Ia menyukai mata nara. Pernah ia ucapkan bukan? Dan kali ini ia semakin menyukai mata brilian milik gadis kecil itu hanya karena ia mengerjap lucu.

Entahlah, kyu hyun merasa ia mengenal sosok yang harus bertanggung jawab dibalik terciptanya mata indah itu. kyu hyun merasakan betul betapa kedua mata nara mencoba memberitaunya.

“sebenarnya, ahjussi. Edd memintaku untuk tidak menanggapi siapapun yang tidak aku kenali” jawab nara.

“tapi aku..” ia terdiam. “aku teman eommamu” lanjutnya.

Nara mengedikkan bahunya sekali “tapi aku belum mengenalmu. Jadi,, ya, kau tidak boleh duduk”

Kyu hyun tersenyum tipis. benar, nara memang gadis yang cedas. Batinnya.

“kalau begitu ayo berkenalan” kyu hyun berjongkok, menyamakan tingginya dengan nara yang masih duduk tenang pada bangku tempat beristirahat sejenak disana. Tangannya terulur sedikit, pertanda jika ia tak main main untuk meminta perkenalan pada gadis kecil itu.

Nara menatap uluran tangan kyu hyun lama. Entah apa yang ia fikirkan sebelum akhirnya kembali menatap kyu hyun tegas.

“ahjussi menyukai eomma ya?”

Kyu hyun tersentak. “a apa?!” tukasnya dengan mata membulat tak percaya.

“aku bertanya, apa ahjussi menyukai eomma?”

“bagaimana kau bisa berkesimpulan seperti itu?”

Nara kembali mengedikkan bahu “kau terlihat sangat ingin dekat dengan kami. Biasanya, dulu setiap pria yang menyukai eomma juga melakukannya. Tapi tidak aku izinkan karena mereka tidak mirip edward!”

“tapi aku—“

Kyu hyun terperanjat saat tangan mungil nara menepuk pelan bahunya “tak apa ahjussi. Eommaku memang cantik, jadi wajar saja jika kau menyukainya” nara berhenti sejenak, lalu tersenyum lembut “dan caramu sepertinya sudah benar dengan mendekatiku. Karena eomma tidak akan menyukai siapapun yang aku benci!” akunya bangga.

Kyu hyun tersenyum lega. Entah apa yang membuatnya merasa seperti itu. hanya saja perasaannya berkata jika ia dan nara akan jauh lebih dekat dari ini suatu saat nanti.

“jadi, bagaimana? Aku boleh mengenalmu?”

Nara pura-pura berjengit kaget “jadi ahjussi tidak mengenalku?”

Kyu hyun menghela nafasnya panjang. Sungguh, jika ia bukan nara mungkin kyu hyun sudah melemparkannya dari lantai tiga gedung itu. tapi bocah ini polos sekali. Tidak menimbulkan kekesalan melainkan rasa geram yang teramat sangat.

“baiklah, im nara. Jadi, aku sudah boleh duduk?”

Nara merentangkan tangannya cepat “tidak boleh! Kita kan tidak saling mengenal!”

Dan kyu hyun butuh kesabaran super ekstra kali ini.

 

 

“aku cho kyu hyun”

Entah dewa keberuntungan macam apa yang tengah membayangi kyu hyun hingga akhirnya ia berhasil membujuk gadis kecil itu untuk menjabat tangannya. Gila. Kyu hyun bisa gila. Gadis itu terlalu bijak!

“eum, baiklah. Ahjussi kau sudah boleh duduk!”

Kyu hyun membuang nafas lega saat nara menepuk bangku kosong disebelahnya dengan riang. Ia tersenyum, menulari kyuhyun untuk terlihat bahagia.

Kyu hyun melirik arlojinya sebentar “jadi, selain limabelas menit yang terlewat, sudah berapa lama kau disini?”

Nara melirik jam berung kecil yang bertengger pada tangannya. “hampir lima jam. Ahjussi sendiri?”

Kyu hyun melebarkan matanya tak percaya. “bagaimana bisa kau berada ditempat ini selama lima jam?”. Perlu kyu hyun akui, meski ia sendiri tau betul jika nara datang bersama siwon, tapi sesuatu didalam batinnya mengusik kyu hyun untuk mengacuhkan kenyataan yang satu itu.

“tentu saja bisa. aku, kan, hanya perlu membayar”

Kyu hyun terkekeh kecil. “jadi, kau datang bersama siapa?”. Oh, ya, kyu hyun mulai gila.

“eung, bersama edd. Tapi sepertinya terlalu banyak orang yang memesan es krim sore ini”

“oh,dia sedang membelikanmu es krim?”

Nara mengangguk membenarkan. Matanya memperhatikan kyu hyun dengan lekat. Entah mengapa nara tak merasa jika kyu hyun adalah orang yang buruk. Tapi mengapa sepertinya eomma selalu menghindari temannya yang satu ini?

“apa aku terlalu tampan?”

Nara mengerjap kaget. Jika kyu hyun bertanya seperti itu, nara tentu akan dengan gamblang menjawab “eo! Memangnya aku mau berteman dengan orang jelek?”

Kyu hyun tersenyum. dengan kata lain, tanpa perlu berbelit-belit nara mengakui jika pesonanya memang terlalu pekat.

Nara menarik lengan baju kyu hyun beberapa kali. Lalu ketika kyu hyun menatapnya, mata mereka bertemu, kyu hyun merasa jika dirinya ada didalam nara. Jantungnya tiba-tiba bergetar halus mendinginkan setiap aliran darahnya hingga rasanya ia akan membeku.

Kyu hyun tak sekalipun mengerjap. Berbeda dengan nara yang merasa heran karena kyu hyun yang seperti begitu tertarik pada matanya. Anehnya, nara tak pernah merasa risih, ia nyaman berada dalam pandangan kyu hyun.

Jemari kyu hyun bergetar halus, sampai di permukaan pipi nara lalu mengusapnya pelan. Desiran itu mengamuk tanpa arah. Seluruh tubuh kyu hyun meremang tanpa dapat ia kendalikan. Dalam hitungan detik kedua mata kyu hyun terpejam erat demi merasakan getaran membahagiakan itu.

Kyu hyun tersenyum. hatinya seperti sedang jatuh cinta dan ia tentu tak terlalu bodoh untuk merealisasikannya sebagai suatu bentuk kasih sayang. Seluruh tubuhnya medingin dan memanas dalam tempo waktu yang tak sekalipun dapat ia tebak.

“ahjussi…”

Kyu hyun tersadar. Kedua matanya terbuka cepat lalu tatapan nara yang mulai berbeda membuatnya sadar. Kyu hyun menjauhkan jemarinnya.

“y ya??” tanyanya ragu.

Nara mengerjap sekali lagi. tatapannya kembali pada saat mereka berbicara seperti seorang teman. “apa kita pernah bertemu sebelum ini?”

Kyu hyun terdiam. mendengar pertanyaan nara yang tiba-tiba juga menghentak rasa penasarannya. Kyu hyun sadar satu hal, nara juga merasakan hal serupa. Mungkin, semacam merasa jika ia berada dalam diri kyu hyun.

“kenapa bertanya seperti itu?”

Kyu hyun tersenyum ragu. Pandangan nara menjadi lebih membingungkan baginya. Meski tujuan kyu hyun hanya satu, mengetahui apa yang gadis kecil itu pikirkan saat ini.

“entahlah..” kyu hyun menatapnya semakin ragu. Ada ribuan rasa ingin tau yang mendesak sesuatu dalam diri kyu hyun untuk bergolak. Pikirannya menerawang jauh, dan aliran darah yang mendidih itu perlahan menyerangnya dalam ritme waktu yang berjalan lambat.

“aku hanya merasa mengenalmu. Apa itu benar?”

 

 

__

“selamat datang..”

Kyu hyun mengangguk sekali. Janjinya sempat tertunda hampir satu jam hingga menyebabkan ia harus datang pukul tujuh. Namja itu melangkahkan kaki jenjangnya masuk. Disana, berpuluh-puluh bahkan ratusan pasangan tampak memadati aula hotel bintang lima guessest.

Kyu hyun mengangguk saat dua wanita yang menggunakan gaun putih gading menyambutnya diujung lorong menuju ballrom. Ruang utama pesta pernikahan saera.

“kyu hyun-ah!!”

Kyu hyun berbalik cepat. mata elangnya menyapu seluruh ruangan guna mencari sumber suara yang terdengar menyerukan namanya. Kyu hyun sedikit memicingkan mata lalu tatapannya bertemu dengan seorang wanita yang tengah melambaikan tangan padanya.

Kyu hyun tersenyum. membalas lambaian tangannya lalu berjalan mendekat.

“kau datang?”

Kyu hyun sekali lagi tersenyum. melemparkan senyuman yang hingga kapanpun tak akan pernah berhenti mengusik rasa berdebar di ulu hati hana. Teman sekolahnya dulu.

Disana juga ada park jae kyung, kekasih atau mungkin telah berubah status menjadi suami hana. Ada ryeo ri dan jung mo dan beberapa pasangan lainnya yang terlihat berkumpul disana.

Hana terus tersenyum menatap kyu hyun berbinar. Semenjak kelulusan mereka dulu, kyu hyun tak pernah memiliki waktu untuk berkumpul seperti ini kecuali dalam beberapa acara pernikahan mereka yang untungnya tidak berbenturan dengan jadwal CEO muda tenamaan itu.

Kyu hyun hanya menanggapi hana seperti sebelumnya. Ia tau, hana tak akan berhenti berharap padanya meski wanita itu telah bersuami. Dan sialnya, kyu hyun paling benci tatapan tajam milik jae kyung yang tertuju tepat padanya.

Oh, memangnya kyu hyun yang menginginkan hana menatapnya seperti itu?

“kau sendiri? Mana tiffany?”

Kyu hyun mengangguk sekali. “dia sedang pergi untuk beberapa minggu” jawabnya ringan. Kyu hyun memasukkan jemarinya kedalam saku celananya lambat, menimbulkan kesan elegan yang mempesona.

“kenapa terlambat?” tanya hana.

Kyu hyun terbatuk kecil. Sial, seharusnya hana tak berada disana. Gadis itu hanya akan menimbulkan percikan api antara kyu hyun dan kekasihnya yang terlalu posesif itu. kyu hyun mengalihkan tatapannya sejenak.

“ada sedikit masalah yang perlu kutangani. Jadi, dimana saera?”

Semua mata berbalik, menatap saera yang tengah berjalan mendatangi para tamu bersama seorang laki-laki lain yang menggenggam jemarinya erat. Kyu hyun menatapnya ragu, tapi demi apa meski reuni mereka terdengar menyenangkan ia hanya ingin segera pergi dari tempat yang terlalu menyesakkan itu.

“aku harus menemuinya, permisi” kyu hyun melangkah meninggalkan mereka yang mengangguk setuju.

“sae ra-ya!”

Kyu hyun hanya diam pada tempat ia berdiri saat saera berbalik dan seketika membesarkan matanya. “kyu!!” pekiknya kencang.

Saera segera berlari menuju kyu hyun, melepaskan gengganam tangan dari ji young lalu memeluk kyu hyun erat. Kyu hyun sempat tersenyum, sejujurnya ia ingin sekali mengacak rambut saera. Tapi dandanan gadis itu terlalu sempurna untuk ia rusak.

Ji young datang dengan tertawa renyah. Jemarinya tanpa ragu mengacak rambut terurai saera yang memang ditata rapi tanpa hiasan yang berlebihan. “dasar anak kecil!” ujarnya.

Kyu hyun menimpalinya. Mengetuk dahi saera ringan “masih berani memelukku, huh? Kau tidak ingat jika aku bisa saja mati karena pukulan suamimu?”

Saera tertawa renyah. Kyu hyun mengenal saera. Salah satu temannya yang terlalu kekanakan. Berbeda dengan ryeo ri dan hana, saera lebih dapat mendekatkan diri pada kyu hyun hingga namja itu berani melabeli saera sebagai salah satu adik kecilnya.

Dan ji young, adalah teman kyu hyun semenjak berkuliah dulu. Bahkan perkenalan saera dan je young adalah berkat andil keberadaan kyu hyun. karena itu kyu hyun tau betul akan seperti apa kemarahan saera jika ia tidak menyempatkan diri untuk hadir disana.

“eii, kau bahkan tak melarangku untuk memelukmu!” saera menepuk bahu kyu hyun kesal.

Kyu hyun tertawa kecil. “kau beruntung karena tiffany sedang pergi” ujarnya.

“eo, kenapa dia pergi??”

“tidak penting, yang jelas jika dia berada disini kau akan mendapati wajah tertekuknya hingga ia pulang. Dan,, oh, hadiah pernikahan kalian sudah aku kirimkan”

Saera menatap kyu hyun bingung. “kemana?”

“jadi, kau belum tau? ji young kan kan membelikan sebuah ruma—akh!!” kyu hyun mengusap tulang keringnya cepat lalu melirik ji young kesal. “sial! Aku kan—“

“rumah?!”

Ji young memejamkan matanya rapat-rapat. Seharusnya ia tak membocorkan hadiah pernikahannya untuk saera pada kyu hyun. seharusnya pun ia tau seperti apa tabiat kyu hyun yang selalu mengerjainya.

‘argh!! Kejutannya jelas gagal total!!’

 

 

Yoona tersenyum saat saera hampir menangis dalam pelukannya. Gadis itu sungguh menggemaskan. Tak berbeda jauh sejak mereka melepaskan baju seragam mereka dulu, usai upacara kelulusan.

“kau kemana saja, huh? Berapa lama kau menghilang?”

Yonna terkekeh geli. Ia baru tau jika anak dari wanita cerewet yang terus ia umpati itu ternyata adalah saera, teman masa remajanya dulu. Yoona tersenyum menanggapi bujukan ji young pada saera, lelaki itu sungguh manis dan beruntung jika ialah yang kini akan mendampingi saera kemanapun gadis itu pergi.

“aku hanya pergi sebentar. Memangnya apa yang kau lakukan saat aku pergi? mencariku, huh?”

Saera mengangguk. “tentu saja! Kau tau, kyu hyun akan memutuskan leherku jika aku tak membantunya saat itu”

Ji young tertawa lucu lalu yoona menepuk bahu saera pelan. “jadi menurutmu kepergianku menyusakanmu?”

“eo! Itu kau tau”

 

Kyu hyun meneguk satu gelas spritz miliknya. Koktail yang mereka sediakan begitu beragam, tapi ia memilih untuk menghindari alkohol dan beberapa minuman lainnya.

Kyu hyun berdiri tegap saat suasana mulai berubah nyaman. Kerongkongannya yang perlahan mulai lembab karena aliran spritz membuatnya berpikir untuk bertahan lebih lama dalam pesta itu.

Kyu hyun jelas tak beranjak semenjak hampir lima belas menit yang lalu mata elangnya menangkap kedatangan sosok yoona yang tengah berbincang akrab dengan saera. Ia juga baru menyadari jika wedding organizer saera adalah perusahaan pribadi milik yoona.

Mulanya, ia berfikir untuk bergabung, namun mengingat kenyatan mengenai hubungan tidak baiknya dengan yoona belakangan ini ia akhirnya memilih untuk tidak ikut campur.

Kyu hyun hanya tersenyum saat melihat saera memeluk yoona dan yoona tergelak dalam pelukannya. Sial! Tawa mereka hampir saja membuat kyu hyun tak kuasa menahan diri. Mengingat dulu, tawa seperti itu akan terjadi diantara mereka, bukan tanpa kyu hyun.

Akhirnya yoona dan saera memisahkan diri. kyu hyun tau yeoja yang tengah berjalan menuju arahnya sama sekali tak menyadari seseorang seperti apa yang kali ini menunggunya dalam lirikan mata yang tajam.

Yoona meraih segelas spritz, persis seperti prediksi kyu hyun yang anehnya tengah menatap yoona dalam tanpa gadis itu ketahui. Yoona melenguh lega saat hampir seluruh isi gelas itu mengalir pada kerongkongannya.

Membuat kyu hyun tanpa sadar tersenyum. menikmati kedekatan yang sebelum ini tak pernah lagi terjadi antara mereka.

“apa sebegitu hausnya?”

Yoona hampir tersedak saat suara bariton rendah itu terdengar disekitar pendengarannya. Matanya membulat, mata almond kyu hyun kini menatapnya sendu dalam binar yang tak dapat dijelaskan.

“uhuk.. uhuk” yoona memukul dadanya kuat. keterkejutan membuatnya hampir mati seketika.

“yoon, kau  tak apa-apa?”

Yoona segera memundurkan dirinya lalu mengangkat tangannya tanda ia tak ingin didekati lebih jauh oleh kyu hyun. kyu hyun menghentikan langkahnya frustasi, merasa cukup tertekan karena sikap yoona yang tak kunjung berubah padanya.

Yoona terbatuk semakin kuat. “ck, kau benar baik-baik saja?” tanpa perduli hal apapun lagi kyu hyun segera berjalan mendekat, menggenggam lengan yoona lalu sebelah tangannya ia gunakan untuk menepuk punggung yoona pelan.

“ambilkan aku segelas air mineral!”

Seorang pelayan kemudian datang padanya. Memberikan kyu hyun segelas air putih yang ia inginkan dan dengan cepat meminumkannya pada yoona. Wanita itu meneguk dengan kencang hingga pada akhirnya mendesah lega.

Untung saja, tuhan masih terlalu baik padanya.

“bagaimana? Sudah lebih baik?”

Kyu hyun menatapnya ragu. Dan tersenyum ketika yoona menangguk pelan. Sesuatu seperti tengah menusuk hati kyu hyun dengan jarum es yang membekukan. Sial! Ia mulai terjebak suasana yang tak lagi terkontrol.

Kyu hyun terus tersenyum dan anehnya yoona tak bisa menghindar. Demi tuhan, jika ini bukan karena namja itu maka mungkin saja yoona masih terbatuk keras karena soda yng terperangkap dalam kerongkongannya.

Akhirnya, dengan sedikit rasa bersalah yoona membalasnya dengan lengkungan tipis diujung bibir. Lengan kyu hyun yang kini menopang berat tubuhnya membuat yoona sadar akan satu hal, ia tak lagi pernah merasakan kyu hyun-nya semenjak hal ‘itu’ terjadi.

Yoona terdiam. sesuatu didalam dirinya seperti sedang bergejolak kencang. Ada banyak hal yang sepertinya tidak benar tapi tak pula salah. Aliran darah yoona meningkat tajam, bau maskulin kyu hyun yang tak pernah berubah membuatnya semakin frustasi.

Lalu dalam sebuah bilik hitam di ulu hatinya yoona berkelakar jika ia, sedang merindukan namja itu.

Yoona memejamkan matanya erat-erat. Sial! Pada akhirnya, bilik hitam terpendam yang ia coba kubur dalam-dalam perlahan bangkit. Dan yoona tau seharusnya ia tak perlu repot-repot untuk menguburnya lagi jika pada akhirnya kehadiran kyu hyun, seperti malam ini, kembali akan mengusiknya.

Ia menyadari, sejauh apapun yoona meninggalkan masa lalu itu, bayangan kyu hyun tak akan pernah melepaskannya untuk pergi.

Yoona terkesiap sesaat. Dalam kesadarannya, sesuatu sedang mencoba menghentak ulu hatinya kencang. Bayangan siwon lalu mengikuti gerak langkah kyu hyun yang perlahan mengecil. Lalu derap langkah mereka menghilang.

Yoona terkejut hebat. Wajahnya menegang lalu ia memundurkan diri hingga melepaskan kontak fisik yang kali ini terjadi cukup lama. Yoona mengerjap sesaat, mata kyu hyun yang penuh tanda tanya kali ini semakin menggetarkan hati kecilnya namun disisi lain membuatnya tertekan.

Langkah kaki panjang kyu hyun terdengar saat yoona berbalik meninggalkannya tanpa suara. “yoon! Tunggu..”

Yoona mempercepat langkah kakinya. Tidak. Ia tidak bisa terus berada dalam suasana seperti ini atau segala usahanya untuk lima tahun ini akan berakhir dengan kesia-siaan.

Yoona membelah kerumunan tamu dengan sopan, tak jauh berbeda dengan kyu hyun yang mulai mengejarnya tak sabaran. Aneh, tiba-tiba seluruh tamu merapat pada pasangannya. Ballrom besar itu kemudian perlahan menjadi lebih redup lalu saat yoona memperlambat langkahnya, sebuah tangan lainnya menarik yoona untuk berbalik.

Yoona menatapnya tajam “apa lagi?!” ucapnya pelan, rendah namun penuh penekanan.

“lagi?? apanya yang lagi? kau bahkan belum menjawab pertanyaanku dan tiba-tiba melangkah pergi” kyu hyun menaikkan nadanya dalam suara rendah yang juga ia tekankan.

“aku baik-baik saja. Puas? Sekarang lepaskan tanganmu dariku!”

Kyu hyun menyipit tajam. “hh~ aku mulai gila karna memikirkanmu. Yoon, kita bahkan belum berbicara semenjak kau datang hampir dua bulan ini. kau sengaja menjauhiku?”

“aku tidak pernah menjauhimu!” yoona meronta pelan. Ruangan semakin redup lalu terasa semakin kosong.

“bohong! Kau jelas jelas menjauhiku. Katakan, apa kehadiranku terlalu mengganggumu? Apa choi siwon itu tidak suka kau berdekatan dengan sahabat lama yang dulu bahkan tak pernah sekalipun membiarkanmu disentuh pria manapun?”

Yoona membesarkan bola matanya terkejut. Matanya menyipit menatap kyu hyun semakin tajam “dia tak pernah terlibat apapun dalam masalah ini!” tekannya.

“bagus. Lalu kau berargumen jika diantara kita memang benar-benar sedang terjadi masalah. Boleh aku tau itu apa?”

Yoona hampir menggeram frustasi. Namja itu terlihat tak lagi sesabar sebelumnya sementara yoona sendiri tak memiliki kesempatan untuk bertindak lebih brutal demi melarikan diri. alhasil, genggaman tangan kyu hyun tak lagi dapat ia lepaskan dengan cara seperti apapun.

Yoona kembali meronta “lepaskan aku!”

“tidak. Tidak sebelum kau mengatakan padaku apa yang sebenarnya terjadi”

“astaga, tidak terjadi apapun, cho kyu hyun!!”

“kalau begitu tatap mataku!!”

Mereka berdua terdiam. yoona mengangkat kepalanya lalu menatap kyu hyun tajam. Namun sialnya, mereka sama-sama tau tak ada satupun hal yang dapat mereka sembunyikan meski dengan ekspresi sekeras baja sekalipun jika sudah bertatapan seperti ini.

Kyu hyun dapat merasakan sedikit kebencian dalam mata yoona, dan itu membuatnya kalut. Ia menarik yoona semakin mendekat lalu berbicara tepat didepan wajahnya. “kau.. membenciku?” tanyanya bergetar.

Yoona menutup matanya rapat-rapat. Nafas hangat kyu hyun dan suara bergetar namja itu akhirnya cukup membuatnya rapuh. Sial, bahkan kini yoona tak lagi berani untuk memberontak melepaskan diri.

Mereka terdiam. yoona tak berani membuka matanya lagi. dan kyu hyun bertahan menatap dua kelopak mata yoona yang tertutup rapat. Sesuatu tengah mengusik batin mereka. perlahan bergerak dengan ritme yang tak pernah bisa mereka atur.

“baiklah,, acara pesta dansa ini akan kita mulai..”

Yoona dan kyu hyun sontak membuka mata lalu beralih pada suara saera yang melengking dari atas panggung. Kedua mata mereka mengerjap bingung menatap yeoja yang kini tengah berbinar menatap kyu hyun dan yoona berbarengan.

“dan,, oh! Itu! itu!! perkenalkan, mereka oppa dan eonni-ku” saera melambai. Dan detik itu juga kyu hyun dan yoona menyadari satu hal.

Mereka, berada dalam sebuah lingkaran tamu. Ditengah keramaian. Berdua. Bersama.

“kalian akan berdansa juga,kan?” saera bertanya antusias “mereka dulu sahabat dekat. Sekarang-pun kurasa seperti itu” tuturnya pada tamu lain. “baiklah, pak lee, mainkan musiknya!!”

Yoona memejamkan kedua matanya maik erat. Ia mendengar perlahan lagu dansa klasik mengalun mengisi ballrom besar itu dengan pelan. Suasana ruangan yang redup serta keberadaan mereka yang tak lagi dapat melarikan diri membuat yoona frustasi.

Ia melangkah mundur. Hanya satu langkah kecil yang tak berarti. Lalu membuka mata saat semua pasangan terlihat mulai menari bersama. Sial! Ia terjebak.

 

-TBC-

Yang beranggapan hari ini special, nah, ini hadiah ‘kecil’ dari saya. Sedikit skinship kyuna dan kyu-nara. Semoga terhibur:)

Kalau ada yang mau ditanyain, komen aja ya, insyaallah aku balas^^

 

With love, Park ji yeon.

180 thoughts on “Memorable 6

  1. Omo ! Yoona terjebak.
    Aq heran satu hal nih, knp siwon ninggalin Nara selama 5 jam ?
    Trus, kyuhyun ini pantang menyerah jg yaa ternyata.

  2. Jujur ya eon aku memang suka sma kyuna tapi aku pasti bingung kalo disuruh milih kyuhyun atau siwon untuk ngedampingin yoona di dalam cerita ff ( galau gitu eon)
    Dan sepertinya aku bakaln nyesek, sekarang aj aku udh nyesek banget hehehehehe
    Tapi walaupun dan bagaimanapun yg terjadi aku tetep suka sma ff ini….
    Yah aku jga pengen ad kebahagiaan untuk yoona #hahai

  3. kejebak sama namja masa lalu. oh no. edd dimana edd astaga. knapa yoona bsa kejevbak gitu sih. aku nyesek kalau sama momen kyuna disini. aku lebih suka momen yoonwon disini. tapi aku sukaaa sama alur ceritanyaaaaa. hahaha . speecer lee . hyuk jae . dududud kyu mulai mata matai kehidupan siwon. ga suka banget kayanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s