Only One [Part 2]

onlyone

A Fanfiction by Felicia Rena

ONLY ONE

[part 1]

.

Cast:

Im Yoon Ah, Super Junior Cho Kyu Hyun, f(x) Victoria, Super Junior Lee Dong Hae, CNBLUE Jong Hyun

Rating: PG 13+

Genre: Romance, Hurt, Friendship

Length: Multi-chapter

Disclaimer:

Stories are mine and pure fiction. All cast belong to God.

Please don’t be plagiat :)

Note: Maaf ya kalo update-nya terlalu lama. Soalnya walaupun cerita ini sebenernya udah selesai, tetapi masih terus ada bagian-bagian yang diperbaiki. Semoga hasilnya bisa lebih bagus dan memuaskan. FF ini juga sudah di publish sebelumnya di blog pribadiku.

Hope you’ll enjoy this fanfic ^^

.

Yoona mengetuk pintu kamar Victoria. Tidak lama kemudian, pintu terbuka dan Victoria muncul dari baliknya. Gadis itu terlihat lebih pucat dibandingkan ketika Yoona bertemu dengannya tadi.

“Yoona-ya, kau datang?” Victoria nampak sedikit terkejut dengan kehadiran Yoona.

Walaupun hubungan mereka cukup dekat, tetapi ini baru pertama kalinya Yoona datang ke rumah Victoria, selain ketika mengantar Victoria pulang bersama Kyuhyun dulu. Kali kedua memasuki rumah besar itu, Yoona tetap saja merasa kagum. Ia tidak pernah menyangka jika keluarga Victoria begitu kaya.

Eonni, aku datang untuk menjengukmu. Apakah aku mengganggu?” tanya Yoona.

Aniyeyo. Tidak sama sekali,” sahut Victoria. “Ayo masuk.”

Yoona mengikuti Victoria masuk ke dalam kamarnya. Victoria duduk di sofa yang ada di kamarnya dan meminta Yoona untuk duduk di sebelahnya.

“Kau mau minum apa?” tanya Victoria.

“Tidak usah repot-repot, eonni,” tolak Yoona halus.

“Tidak bisa begitu. Katakan saja kau ingin mi—“

Eonni—“ Yoona memotong ucapan Victoria yang terkejut. “Katakan padaku—sebenarnya, kau sakit apa?”

Victoria sama sekali tidak menyangka Yoona akan bertanya seperti itu. Ia tidak ingin seorangpun tahu tentang penyakitnya. Ia tidak ingin dikasihani.

“Apa maksudmu, Yoona-ya? Bukankah sudah kukatakan kalau aku hanya kecapekan saja?” jawab Victoria.

“Jangan bohong padaku, eonni. Ada apa?” balas Yoona.

Victoria menatap Yoona bingung. Ia tidak tahu mengapa Yoona sepertinya tahu sesuatu. Apakah Yoona memang mengetahui sesuatu?

Pertanyaan-pertanyaan dalam diri Victoria itu terjawab ketika Yoona mengeluarkan sebuah buku dari dalam tasnya. Yoona menyodorkan buku itu pada Victoria.

“Bukumu tadi tertinggal di dalam kelas yang kau gunakan untuk latihan,” ujar Yoona.

Victoria menerima buku itu dengan tangan sedikit gemetar. Ia membuka halaman pertama bukunya dan melihat kertas hasil diagnosis-nya terselip disana.

Mianhaeyo, eonni. Maaf karena aku sudah melihat isinya tanpa seijinmu,” ucap Yoona pelan dan lebih menyerupai bisikan.

“Jadi—“ suara Victoria terdengar bergetar, “kau sudah tahu?”

Yoona menganggukkan kepalanya pelan tanpa memandang Victoria. Ia takut Victoria akan marah padanya. Yoona baru mengangkat kepalanya dengan kaget ketika ia mendengar suara isakan. Victoria meremas kertas hasil diagnosa itu sementara airmata mulai mengalir dari kedua bola matanya.

Eonni—“ Yoona tidak tahu apa yang harus ia katakan. Ia hanya memegang tangan Victoria, mencoba untuk memberikan kekuatan pada sunbae-nya.

Mianhae—maaf karena aku tidak mengatakannya padamu atau yang lain. Aku tidak ingin kalian merasa kasihan padaku,” terang Victoria.

“Aku takut—“ bisik Victoria dengan suara tercekat. Ia balas meremas tangan Yoona.

“Aku takut, Yoona-ya,” lanjutnya. “Aku takut aku tidak akan bisa menari lagi. Aku takut aku tidak bisa meraih mimpiku menjadi penari yang hebat. Aku takut aku tidak punya banyak waktu lagi.”

Eonni, jangan bicara seperti itu! Kau pasti sembuh! Aku yakin kau pasti akan sembuh!” kata Yoona.

Victoria menggelengkan kepalanya. “Kau tidak mengerti, Yoona-ya. Penyakitku ini sudah cukup parah. Aku tidak tahu sampai kapan aku bisa bertahan. Ada kemungkinan penyakitku ini akan membuatku lumpuh. Aku takut—aku takut, Yoona-ya,” ujar Victoria di sela tangisnya.

Yoona memeluk Victoria dan membiarkan gadis itu menumpahkan segala ketakutannya. Ia sama sekali tidak menyangka jika Victoria—sunbae yang sangat sempurna di matanya itu akan mengalami hal seperti ini. Yoona menepuk-nepuk punggung Victoria untuk menenangkannya dan sekedar memberitahunya jika ia ada disana untuknya.

“Jangan menyerah, eonni. Kau harus kuat. Aku akan mendukungmu. Aku akan berada di sampingmu,” bisik Yoona.

Mian—mianhae, Yoona-ya. Maaf karena aku jadi cengeng seperti ini,” ucap Victoria setelah ia berhenti menangis.

Gwaenchanayo, eonni. Tidak apa-apa,” balas Yoona setengah berbisik.

Victoria menggenggam tangan Yoona. “Kumohon, jangan beritahu siapapun tentang hal ini,” pintanya.

“Bagaimana—bagaimana dengan Kyuhyun oppa?” tanya Yoona.

“Ia juga tidak boleh tahu,” sahut Victoria. “Jangan beritahu Kyuhyun. Butakhaeyo. Aku mohon padamu.”

Yoona menganggukkan kepalanya pelan. Namun ada satu hal yang mengganjal di pikirannya.

Eonni, bolehkah aku bertanya sesuatu?” tanya Yoona.

“Apakah kau sangat menyukai Kyuhyun oppa?” lanjut Yoona ketika Victoria hanya menatapnya dengan pandangan bertanya.

Victoria tersenyum lembut mendengar pertanyaan Yoona. “Ani. Aku sangat mencintainya, Yoona-ya,” jawabnya tulus.

Yoona merasa dadanya sesak mendengar jawaban Victoria. Ia bisa mendengar dan melihat ketulusan dari Victoria mengenai perasaannya pada Kyuhyun. Hal itu membuat Yoona merasa bersalah pada Victoria.

“Karena itu aku tidak ingin ia tahu tentang penyakitku, Yoona-ya.Aku juga tidak ingin ia tahu mengenai perasaanku padanya. Aku tidak ingin ia merasa kasihan padaku. Aku tidak ingin dikasihani. Aku hanya ingin ia ada didekatku sepeti biasanya. Jangan katakan apapun padanya, arachi?” sambung Victoria.

Yoona kembali menganggukkan kepalanya. Hatinya seolah didera sakit yang teramat sangat. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang.

.

Yoona berjalan menyusuri lorong sambil memeluk buku-bukunya. Ia membiarkan kakinya melangkah tetapi pandangan matanya nampak kosong. Suara-suara bising dari mahasiswa-mahasiswa lain yang berkeliaran pun seolah tidak ada yang didengarnya. Yang ada dalam pikirannya saat ini adalah Victoria.

Sebagian dari diri Yoona masih merasa tidak percaya. Bagaimana mungkin Victoria yang ceria dan baik hati itu sampai mengidap penyakit yang berbahaya seperti itu. Setelah pertemuannya dengan Victoria kemarin, Yoona mencari tahu segala yang bisa ia dapatkan mengenai penyakit yang di derita oleh Victoria. Dari situ ia menemukan jika penyakit radang selaput otak menyerang saraf-saraf yang berkaitan dengan fungsi kerja otak. Penyakit ini dapat merusak susunan syaraf pusat sehingga mengganggu kerja organ tubuh lainnya bahkan bisa menyebabkan kelumpuhan. Yoona bergidik membayangkan apa yang penyakit itu bisa lakukan pada Victoria. Sunbae-nya itu memiliki mimpi untuk menjadi seorang penari terbaik di dunia. Penyakit itu tidak boleh membuatnya lumpuh dan kehilangan mimpinya.

Yoona terus saja berjalan dengan pikiran yang masih tertuju pada Victoria ketika sebuah tangan tiba-tiba terentang di depannya dan menghentikan langkahnya. Yoona berhenti dengan kaget ketika melihat tangan itu dan langsung menoleh untuk melihat siapa pemilknya.

Lee Donghae menarik kembali tangannya sambil tersenyum.

“Donghae sunbae! Apa yang kau lakukan?” tanya Yoona sambil mengerutkan keningnya.

“Kalau aku tidak menghentikanmu, kau pasti sudah terbentur pintu sekarang,” jawab Donghae dengan nada santai.

Yoona mengerjapkan matanya ke depan. Benar saja, di depannya berdiri kokoh pintu kaca menuju taman. Sepertinya sedari tadi ia hanya berjalan tanpa benar-benar memperhatikan kemana ia melangkah.

“Ah, mianhaeyo, sunbae,” ucap Yoona sambil menunduk malu.

Donghae tersenyum geli melihat Yoona. “Kau ini sebenarnya mau kemana?” tanyanya.

“Oh, aku mau ke perpustakaan untuk mengembalikan buku ini,” sahut Yoona sambil mengacungkan sebuah buku dalam pelukannya.

“Kebetulan sekali. Aku juga sedang berniat ke perpustakaan. Bagaimana kalau kita kesana bersama? Aku khawatir kau mungkin akan menabrak sesuatu yang lain kalau aku meninggalkanmu,” ajak Donghae sambil setengah bercanda.

Sunbae!” Yoona tersipu malu namun kemudian ia mengiyakan ajakan Donghae.

Sesampainya di perpustakaan, Yoona mengembalikan buku yang dipinjamnya pada petugas. Sementara itu Donghae bertanya pada petugas mengenai beberapa judul buku yang sedang dicarinya.

“Ini.” Donghae menyodorkan kaleng minuman pada Yoona kemudian duduk di sebelah gadis itu.

Gamsahamnida.” Yoona mengambil kaleng minuman itu dari tangan Donghae sambil mengucapkan terima kasih.

Setelah urusan mereka di perpustakaan selesai, mereka berdua duduk di salah satu bangku yang ada di taman dekat perpustakaan.

“Apakah ada yang mengganggu pikiranmu?” tanya Donghae pada Yoona.

Ne?” Yoona menoleh ke arah Donghae. “Ah—tidak. Tidak ada apa-apa.”

“Kau terlihat berbeda dari biasanya,” ujar Donghae sambil mengamati Yoona sekilas. “Apakah kau sedang bertengkar dengan Kyuhyun?”

Ne?” Sekali lagi Yoona dibuat kaget dengan ucapan Donghae.

Donghae tersenyum melihat ekspresi kaget yang tercetak di wajah Yoona. “Aku tahu kalau ada sesuatu antara dirimu dan Kyuhyun,” katanya.

“Tidak, Kyuhyun tidak memberitahuku apa-apa,” tambah Donghae ketika Yoona menatapnya curiga. “Aku menebaknya sendiri.”

“Kyuhyun tidak mengatakan apa-apa padaku, jadi kupikir mungkin kalian sepakat untuk tidak memberitahu siapa-siapa. Apa aku benar?” lanjut Donghae.

Yoona mengangguk kecil sambil menggigiti bibirnya.

“Lalu, apakah perubahan yang terjadi padamu hari ini ada hubungannya dengan Kyuhyun?” tanya Donghae lagi.

Yoona merasa bimbang. Di satu sisi, ia merasa tidak boleh mengatakan apapun pada Donghae. Tetapi di sisi lain, ia juga merasa tidak sanggup jika harus memikirkan semuanya sendirian.

“Kalau ada sesuatu yang mengganjal di pikiranmu, kau bisa menceritakannya padaku. Aku tidak akan mengatakannya pada siapapun kalau kau ingin aku tutup mulut. Aku bisa menjaga rahasia,” ucap Donghae lembut. “Dan kalau Kyuhyun adalah penyebab dari kemurunganmu hari ini, aku bersumpah akan menghajarnya.”

Yoona tertawa kecil mendengar kalimat terakhir Donghae.

Sunbae—“ Yoona memberi jeda pada kalimatnya, “kalau ada dua orang gadis yang mencintaimu dan kau mencintai salah satunya, tetapi seorang yang lain ternyata mengidap penyakit parah. Apa yang akan kau lakukan?”

Donghae nampak berpikir sejenak, berusaha untuk mencerna setiap kata yang diucapkan oleh Yoona.

“Jadi disini aku mencintai gadis yang tidak mengidap penyakit parah kan?” Donghae mamastikan kembali. “Kalau begitu, jawabannya mudah.”

“Aku akan tetap bersama gadis yang kucintai,” sahut Donghae.

“Jangan salah paham dulu,” tambah Donghae cepat sebelum Yoona membuka mulutnya. “Jangan menganggapku jahat atau bagaimana. Aku memiliki alasan sendiri.”

“Pertama, kau harus tahu, Yoona-ya. Laki-laki tidak suka membohongi dirinya sendiri. Jika aku memilih gadis yang mengidap penyakit parah, tetapi aku tidak mencintainya, bukankah sama saja dengan aku menyakitinya? Bukan hanya ia yang kusakiti tetapi juga diriku sendiri dan gadis yang kucintai. Aku tentu akan merasa bersimpati pada gadis yang mengidap penyakit parah itu, tetapi aku merasa aku tetap tidak akan bisa bersamanya hanya karena hal itu. Karena itu bukan cinta tetapi rasa kasihan, Yoona-ya,” jelas Donghae.

Yoona termenung mendengar penjelasan Donghae. “Kalau begitu—“ ucapnya pelan, “bagaimana kalau sunbae ada di posisi gadis yang tidak mengidap penyakit parah itu? Sementara si gadis yang mengidap penyakit parah adalah orang terdekatnya. Dan ia mengetahui kalau mereka mencintai orang yang sama.”

Donghae melebarkan kedua matanya. Seketika itu tubuhnya terasa dingin. Mungkinkah?

“Apakah—“ Donghae tiba-tiba kehilangan kata-katanya. “Apa maksudmu—“

Maldo andwae!” seru Donghae dengan suara tercekat. “Tidak mungkin—“

“Donghae sunbae—“ setetes airmata mengalir turun ke pipi Yoona, “apa yang harus aku lakukan?”

Donghae menghela napasnya dan mengusap wajahnya. Ia masih tidak ingin mempercayai spekulasi yang baru saja dibuatnya. Yoona memang tidak mengiyakannya, tetapi sikap gadis itu sendiri sudah menunjukkan kebenarannya.

“Yoona-ya, apa kau mencintai Kyuhyun?” tanya Donghae.

Yoona menganggukkan kepalanya. Ia lalu mengusap kedua pipinya, menghapus butiran airmata yang masih mengalir.

“Aku masih tetap pada pendapatku. Jangan tinggalkan laki-laki itu,” ujar Donghae tegas.

“Keputusan tetap ada ditanganmu,” lanjut Donghae. “Aku sudah memberikan pendapatku. Kalau kau memaksanya untuk pergi, pada akhirnya kau hanya akan menyakiti kalian bertiga. Tidak akan ada yang merasa bahagia, Yoona-ya.”

.

“Aku menyukai Kyuhyun.”

Ani. Aku sangat mencintainya, Yoona-ya.”

“Aku hanya ingin ia ada didekatku sepeti biasanya.”

“Aku masih tetap pada pendapatku. Jangan tinggalkan laki-laki itu.”

“Kalau kau memaksanya untuk pergi, pada akhirnya kau hanya akan menyakiti kalian bertiga. Tidak akan ada yang merasa bahagia, Yoona-ya.”

Kata-kata Victoria dan Donghae berulangkali berputar di kepala Yoona. Gadis itu mengusap wajahnya frustasi. Ia kembali memikirkan Victoria.

“Kau tahu aku mencintaimu kan? Aku sangat mencintaimu dan hanya mencintaimu.”

Kali ini Yoona tersentak ketika ucapan Kyuhyun terngiang kembali di telinganya, seolah lelaki itu ada disebelahnya dan membisikkan kalimat itu untuknya. Namun tanpa diharapkannya, bayangan-bayangan ketika Victoria menatap Kyuhyun justru terlintas di kepalanya. Ia baru menyadari betapa dalamnya setiap tatapan yang diberikan oleh Victoria pada Kyuhyun. Ia juga menyadari Victoria tersenyum dengan cara yang berbeda setiap kali Kyuhyun berada di dekatnya. Mengingat itu semua membuat Yoona mengerti. Victoria memang sangat mencintai Kyuhyun. Bagaimana mungkin selama ini ia berada di dekat Victoria namun tidak menyadari hal tersebut sama sekali?

“Kurasa aku terlalu sibuk dengan diriku sendiri dan dengan perasaanku sampai-sampai aku tidak menyadari perasaan Victoriaeonni pada Kyuhyun oppa,” gumam Yoona. Airmatanya mulai mengalir tanpa diminta. “Eottokhae?” bisiknya.

Yoona meraih ponselnya dan melihat beberapa pesan dan panggilan tidak terjawab yang semuanya berasal dari Kyuhyun. Laki-laki itu pasti sedang bingung dan cemas karena Yoona sama sekali tidak menjawab pesannya maupun mengangkat teleponnya.

Yoona memantapkan hatinya. Ia kemudian mengetik pesan untuk Kyuhyun.

“To: Kyuhyun oppa

Ayo kita bertemu. Aku akan menunggumu di taman sekarang.”

Mianhaeyo, oppa,” bisik Yoona setelah mengirim pesan itu. Setetes airmata kembali jatuh di pipinya.

.

“Lebih baik kita akhiri saja hubungan ini,” kata Yoona parau.

Kyuhyun tampak terkejut dengan perkataan Yoona. Ia sama sekali tidak menyangka kalimat itu akan keluar dari mulut kekasihnya itu.

“Apa maksudmu?” tanya Kyuhyun gusar. Walaupun hubungan mereka masih seumur jagung, tetapi ia begitu mencintai gadis itu dan ia tidak bisa membayangkan hidup tanpa Yoona disisinya.

“Kurasa—kurasa kau lebih cocok bersama Victoria eonni,” ujar Yoona.

“Im Yoona, aku benar-benar tidak mengerti apa maksudmu!” Kyuhyun mulai berteriak frustasi.

Dengan suara yang masih terdengar parau karena menahan isak tangis, Yoona mulai menceritakan semua yang diketahuinya. Mulai dari penyakit Victoria sampai perasaan terpendam sunbae-nya itu pada Kyuhyun.

Kyuhyun shock ketika mendengar mengenai penyakit Victoria. Sahabatnya itu sama sekali tidak pernah bercerita mengenai penyakitnya. Victoria masih tersenyum dan bersikap seperti biasa padanya.

“Lalu maksudmu, kau ingin kita mengakhiri hubungan ini supaya aku bisa berpacaran dengan Victoria?” tanya Kyuhyun.

Walaupun ia merasa bersalah pada Victoria, namun ia juga masih tidak percaya dengan permintaan Yoona itu. Apakah gadis itu tidak benar-benar mencintainya sampai ia menyuruhnya untuk berpacaran dengan gadis lain?

“Aku bukan barang yang bisa kau berikan pada siapapun semaumu, Im Yoona,” ujar Kyuhyun dingin.

“Kumohon,” pinta Yoona lirih. Walaupun sudah berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis, namun butiran air tetap mengalir membasahi pipinya.

Kyuhyun menatap ngeri wajah Yoona yang basah karena airmata. Melihat Yoona menangis adalah hal yang paling ditakuti oleh laki-laki itu. Apapun akan ia lakukan supaya ia tidak lagi melihat airmata itu. Tetapi untuk kali ini, Kyuhyun tidak yakin apakah ia bisa memenuhi keinginan Yoona atau tidak.

.

Selang beberapa hari kemudian, Kyuhyun akhirnya menyerah. Ia memenuhi permintaan Yoona karena gadis itu tidak berhenti memohon dengan berurai airmata padanya. Ia tidak sanggup melihat airmata gadis itu walaupun sampai saat ini ia juga masih tidak mengerti apa yang membuat Yoona rela mengorbankan hubungan mereka—dan dirinya untuk melakukan ini semua.

“Walaupun kita berpisah, kau harus tahu kalau aku tidak akan berhenti mencintaimu, Yoona-ya,” ucap Kyuhyun. “Aku akan tetap mencintaimu dan hanya dirimu. Kau tetap satu-satunya bagiku. Jangan pernah lupakan itu.”

Yoona meluapkan emosinya saat Kyuhyun sudah berlalu meninggalkannya. Ia membiarkan airmatanya mengalir tanpa berusaha untuk menghentikannya. Rasa sakit di dadanya begitu terasa sampai ia merasa sesak.

Mianhaeyo, oppa,” bisiknya. “Kau juga satu-satunya bagiku. Aku mencintaimu.”

Berikutnya, hari dimana Yoona mendengar bahwa Kyuhyun dan Victoria sudah berpacaran adalah hari dimana ia merasa dunianya sudah runtuh.

My love, good bye now – you’re the only one

Even at the moment we break up, you’re the only one

It hurts and hurts and it’s foolish but good bye

Though I may never see you again, you’re the only one

(Only One – BoA)

.

“Apa kau yakin kau tidak akan menyesali keputusanmu ini?” tanya Donghae.

Donghae kembali mengajak Yoona untuk berbicara berdua di taman dekat perpustakaan. Mereka duduk di tempat yang sama ketika Yoona menceritakan semuanya pada Donghae dulu.

Yoona mengangguk pelan. Ia berkali-kali berusaha meyakinkan dirinya sendiri kalau ini memang keputusan yang tepat dan ia tidak akan menyesalinya. Namun sepertinya Donghae bisa membaca kesedihan di wajah Yoona. Laki-laki itu menepuk pelan punggung Yoona.

“Kalau kau memang tidak menyesalinya, tertawalah lagi seperti dulu,” ujar Donghae.

Yoona menoleh dan menatap Donghae tidak mengerti. Donghae balas menatapnya dan tersenyum.

“Aku tidak suka melihatmu murung seperti itu. Aku lebih suka melihatmu tersenyum dan tertawa,” kata Donghae.

Yoona tersenyum kecil. “Gamsahamida, sunbae. Terima kasih sudah mendengarkan ceritaku selama ini dan memberikan nasihatmu. Kuharap kau tidak marah padaku karena aku tidak menghiraukan pendapatmu dan mengambil keputusan sendiri,” ucap Yoona.

“Tidak apa-apa. Bukankah sudah kukatakan kalau keputusan ada ditanganmu sendiri?” sahut Donghae. “Tapi sayang sekali, sepertinya aku tidak akan bisa lagi mendengarkan ceritamu.”

“Bukan karena aku marah padamu,” sambung Donghae cepat ketika Yoona menatapnya dengan pandangan bertanya. “Kau tahu kan kalau sebentar lagi aku akan lulus? Aku akan pindah ke Amerika.”

“Amerika?” Yoona membelalakkan kedua matanya terkejut.

Donghae mengangguk membenarkan. “Aku akan bekerja disana,” ucapnya.

“Wah, sunbae, kau hebat sekali,” puji Yoona. “Aku akan sedih berpisah denganmu.”

Donghae kembali mengulas senyum pada Yoona. “Karena aku akan pergi, apa kau ingin tahu satu rahasia?” tanyanya.

“Apa itu?” tanya Yoona ingin tahu.

“Aku menyukai seorang gadis,” aku Donghae.

Jinjjayo?” Yoona terkejut mendengar pengakuan Donghae. “Siapa?”

“Gadis itu orangnya sangat ceria dan bersemangat. Ia selalu tersenyum dan tertawa dimanapun dan dengan siapapun ia berada. Aku jatuh cinta pada senyumannya,” ungkap Donghae. Kedua matanya menerawang dan bibirnya membentuk senyuman.

“Sayangnya,” Donghae menoleh ke arah Yoona. “Gadis itu justru jatuh cinta pada sahabatku.”

Yoona merasakan jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. “S—sunbae—“ Yoona tidak tahu harus menanggapi ucapan Donghae seperti apa.

Donghae tertawa melihat perubahan ekspresi Yoona. “Jangan takut seperti itu,” ujarnya.

“Aku memberitahumu hal ini karena sebentar lagi aku akan pergi dan aku tidak tahu apakah kita bisa bertemu lagi atau tidak,” kata Donghae. “Setidaknya aku ingin kau mengetahui perasaanku sebelum aku pergi. Jadi aku tidak akan merasakan penyesalan apapun nantinya.”

Sunbae—“ Yoona hanya menatap Donghae tanpa tahu harus berkata apa.

“Kau tidak perlu menjawab apa-apa, Yoona-ya,” potong Donghae. “Aku tahu kau mencintai Kyuhyun.”

Gamsahamnida, sunbae,” bisik Yoona. “Terima kasih untuk semua yang sudah kau lakukan untukku selama ini.”

Donghae tersenyum semakin lebar. “Kalau kau memang tidak menyesali keputusanmu, apa kau mau berjanji satu hal padaku?”

“Janji apa?”

“Tersenyumlah,” jawab Donghae. “tersenyum dan berbahagialah, Yoona-ya. Lakukan itu untukku dan untuk dirimu sendiri.”

Yoona mengulas senyum manisnya yang biasa ia tunjukkan. “Ne. Aku akan tersenyum lagi, sunbae. Aku berjanji.”

.

Yoona merasakan kedua matanya masih terasa berat. Ia kembali tidak bisa tidur semalam. Berapa kalipun ia mengubah posisi tidurnya, tetap saja kedua matanya yang terpejam tidak mampu membawanya ke alam mimpi.

Gadis itu berjalan menuruni tangga rumahnya sambil menguap. Ia merasa sangat mengantuk sekarang, tetapi ia tidak ingin bolos kuliah dan hanya berdiam diri dirumah sepanjang hari. Ia merasa dirinya akan lebih mengenaskan jika hanya diam tanpa mengerjakan apapun.

Yoona mendengar suara ayah dan ibunya yang sedang mengobrol dibawah sana. Namun bukan hanya suara kedua orangtuanya, Yoona juga mendengar suara seorang laki-laki dalam obrolan itu. Merasa penasaran, Yoona segera menuruni tangga dan menuju ruang makan yang menjadi sumber suara-suara tersebut.

Dari balik dinding yang menjadi pemisah antara ruang keluarga dan ruang makan, Yoona mengintip ke dalam. Ia bisa melihat ayah dan ibunya sedang duduk di meja makan. Mereka terlihat sedang tertawa pada sesuatu yang sepertinya diucapkan oleh orang lain yang bersama mereka. Laki-laki itu duduk di seberang ibunya dan membelakangi Yoona sehingga ia tidak bisa melihat wajahnya.

“Oh! Yoona-ya, kau sudah bangun?” Suara ibunya membuat Yoona terlonjak di tempatnya.

“Kemarilah,” panggil ayahnya. “Lihat siapa yang datang.”

Yoona menghampiri ayahnya dengan langkah pelan. Ia menoleh ke arah laki-laki yang duduk di seberang ibunya.

Annyeong, Yoona-ya!” sapa laki-laki itu dengan nada ceria.

Yoona membelalakkan kedua matanya ketika menyadari siapa laki-laki itu.

Ya! Lee Jonghyun! Kapan kau kembali dari Jepang?”

To be Continued

Please leave your comment

10 thoughts on “Only One [Part 2]

  1. Pingback: Only One [Part 3] | Im Yoona Fiction

  2. Tuh khaan…. yoona ngalah demi victoria….. eeh si donghae ternyata suka sama yoona…. lee jonghyun siapa lagi itu? Lanjuuut…. semangaat…

  3. huaaaa kenapa yoona harus mutusin Kyu ;( ;( ;(
    aku sedihh bgt ;( ;( ;(
    dan sepertinya ff nya makin seru ..
    #KyuNa_Jjang!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s