Memorable 4

Memorable

Judul         : Memorable 4

Author      : HyukgumSmile

Genre        : Romance, Family

Rating       : PG-17

Main Cast  : Im yoona, Tiffany, Cho kyu hyun, Choi siwon, Im nara

“jadi, kau membuka lahan baru?”

Siwon tersenyum mengangguk “ada beberapa cabang baru, di jepang.” Jawabnya.

Tiffany tersenyum cerah. “kau terlihat mapan, benar kan, yoon?”

Yoona tersenyum menanggapi. Jemarinya tak pernah lepas dari lengan siwon ketika tiffany menawari mereka untuk meminum kopi di kafetaria bandara.

Tiffany terlihat antusias, memperhatikan siwon dengan penuh selidik. Sungguh! Namja semacam siwon tak pernah ia temukan sebelum ini. maksudnya, ya,, mendapati kenyataan jika yoona menemukan siwon tentu membuatnya lebih antusias. Yoona tak pernah terlihat memperkenalkan siapapun sebelumnya.

“kalian bertemu di virginia?”

Yoona mengangguk dengan sebuah senyuma tipis yang anggun “dia mahasiswa tingkat akhir saat aku baru saja masuk”

“jadi?! Kau memang pergi untuk mencari yang seperti ini?!”

Yoona dan siwon terbahak cukup kuat. “bukaan” ujarnya mengibaskan tangan “kami bertemu di perkumpulan pecinta alam saat mengadakan gathering of campus”

Tiffany tak bersuara. Hanya menampilkan ekspresi ‘ohh’ dengan kedua mata yang mengerti. Ia menatap siwon yang terlihat sibuk mengurusi bibir nara. Bocah itu masih saja asik dengan es krim miliknya. Duduk disamping siwon dan sesekali bercanda bersama namja itu.

Tiffany berjalan bersama yoona. Sementara siwon terlihat sibuk bersama nara dan kyu hyun tetap mengikuti mereka.

Sungguh, kyu hyun tak pernah sekalipun merasakan aura se’hitam’ ini. menurutnya, hal semacam ini hanya akan terjadi jika sesuatu berjalan dengan tidak baik.

Kyu hyun bukannya anti sosial. Namun jelas, ia tak suka jika ada makhluk baru yang tiba-tiba saja bergabung dan tersenyum cerah diantara mereka. meskipun harus ia akui, keberadaan yoona yang tidak ia ketahui selama bertahun-tahun tentu membuat yeoja itu lebih merasa dekat dengan siwon dibandingkan dengan dirinya dan tiffany.

Tapi tetap saja. Bukan ini yang ia inginkan dari memohon pada tiffany untuk ikut mengantarkannya menuju bandara pagi ini. Ia tak suka. Tak bersuara selama menikmati kopi di kafetaria bandara tak membuat tiffany peka pada ketidaknyamanannya akan kedatangan siwon.

Ia tidak suka cho siwon.

Atau setidaknya seperti itulah yang ia rasakan saat ini.

“kyu, aku pergi..”

Kyu hyun tersadar dan menatap tiffany cepat. ia mengangguk sebelum mengukir sebuah senyum tipis yang biasa ia berikan pada yeoja berbau cherryblossom itu. Kyu hyun memajukan diri, lalu menarik tiffany untuk mengecup keningnya. Namun tiba-tiba ia berhenti. keberadaan yoona mengusiknya hingga setelah tiifany menyentuh pergelangan tangannya, kyu hyun menyadari diri lalu mengecupnya cepat.

__

“oh, mereka yang bertunangan?”

Yoona mengangguk. Menaruh papperoni panggang miliknya tepat ditengah meja makan kemudian kembali menuju dapur.

“lalu apa yang salah dengan hari itu? kalian terlihat sangat dekat”

Yoona menatap siwon sebentar lalu kembali berpaling. Ia tersenyum tipis saat mengusap pergelangan tangannya dibawah kucuran air washtafel. “hanya terkesan canggung. Kau tau aku tak pernah kembali selama hampir lima tahun, bukan?”

Siwon mengangguk mengerti “jadi, hanya sebatas canggung? Maksudku, reaksimu bukan seperti ‘aku hanya merasa canggung’ saat aku bertanya padamu”

Yoona terdiam. mematikan kucuran air kemudian mengusap tangannya pada apron. Ia berjalan, membuka aproan miliknya, lalu beralih membuka lemari pendingin “hanya pemikiranmu saja” kilahnya. “ingin pudding tahu?!”

Siwon tersenyum mengerti. Oke, yoona tak ingin membahas ini. dan itu cukup untuk membuatnya sadar jika ia harus berhenti. Siwon berdiri dan berjalan menjauhi meja. Tubuhnya tepat berada dibelakang yoona dan memeluk yeoja itu lembut ketika yoona baru saja akan berdiri.

“kau mau__ yaa!!”

Siwon tersenyum. Dagunya ia letakkan pada bahu yoona dan bau pinus yang segar itu segera menusuk penciumannya. Sial! Yoona memang selalu mampu meluluh lantakkan pertahanan siwon. Bertahun-tahun hidup tanpa kekasih adalah prinsip awalnya, sebelum bertemu yoona.

Usai senyum menggemaskan yeoja itu terus menghantui mimpinya, siwon benar-benar tak tahan untuk mengejar yoona, sebisa mungkin menjadikan yeoja itu sebagai miliknya. Oh, dan kalian boleh bertepuk tangan mengingat ia berhasil mendapatkannya.

“baiklah, aku mau apapun, asalkan itu bersamamu”

Yoona mendesah berat. Choi siwon!! Batinnya. Yoona mungkin sudah terbiasa dengan berbagai bualan beberapa senior namja yang dulu terus menginginkannya. Ia juga bukannya gadis pasif yang akan terus duduk dipojokan kelas.

Tapi yoona tau hal-hal semacam itu tak pernah dibumbui rasa serius. Karena itulah dalam fikiran yoona, hanya terpaku sebuah respon ‘acuh’ untuk menaggapinya.

Well, ya anggaplah semua mulai berbeda semenjak choi siwon datang. Pria yang lebih tua hampir dua tahun darinya itu memang terlalu pandai membual dan merangkai kata-kata manis. Anehnya, yoona tak sekalipun merasa jijik, aneh atau yang lebih logisnya lagi, mual ketika siwon melontarkannya.

Ia justru akan tergelak setiap siwon melontarkan bualan romantisnya. Bagi yoona, siwon bukanlah tipe perayu, jadi jika ia sudah mengeluarkan perkataan semacam yang mampu memutar isi perutnya, maka yoona akan lebih mengartikannya sebagai lawakan.

Choi siwon itu lucu, dan ia tak pantas menjadi perayu.

“oke, katakan maumu!”

Siwon terkekeh serak. Gadis itu memang selalu mampu membaca gelagat anehnya. Ia bergerak mengacak rambut hitam yoona lalu menjawab “kau”.

__

Siwon berkali-kali tersenyum menatap nara yang entah sudah keberapa kalinya bergumam riang. Kedua tangannya terus bermain dengan dua buah boneka mungil yang sering orang-orang sebut sebagai ‘barbie’ itu.

Siwon tak mengerti, dari hampir 80% kepribadian nara yang terlalu menyerupai lelaki, gadis kecil itu tetap saja memiliki sisi wanita yang lembut. Siwon pikir nara akan meminta sesuatu seperti game jepang terbaru, atau yang lebih realistis lagi, ia ingin dibelikan sebuah robot.

Oh, nara pernah mengutarakan itu padanya. Dan meski siwon yakin jika ia mampu-mampu saja membelikan nara mainan semacam itu, siwon tetap harus menahan diri mengingat yoona akan marah besar padanya.

Jika siwon bisa menambahkan, yoona tak akan lagi membiarkannya mendekati nara. Siwon tau, selain PSP dan beberapa gadged lainnya yang belum seharusnya nara kenali, yoona paling tidak suka jika gadis kecilnya menyentuh mainan pria.

Meski PSP dan beberapa mainan lainnya tetap mendapati pengampunan, yoona tetap tak menginginkan nara memiliki sebuah robot kecil. Baginya, akan lebih baik jika nara memiliki anjing yang benar-benar bisa menggonggong daripada sebuah robot yang di program khusus untuk menguras harta manusia.

“bagaimana? Kau suka?”

Siwon berjalan mendekati nara. Memilih untuk duduk dipinggiran ranjang dan mengusap rambut legam nara. Gadis kecil itu hanya mengangguk lalu kembali pada beberapa potong benda-benda kecil yang ingin ia letakkan pada rumah boneka miliknya.

“apa terlalu kecil?”

Nara terdiam “tidak juga” ujarnya.

Siwon terkekeh lucu. Ia tak sempat berfikir jika nara akan menjawab ‘tentu saja, ini bagus sekali’ atau yang lebih baik lagi ‘kau yang terhebat, edd’. Oh, nara bukan gadis penjilat seperti itu.

Jika ia berkata ‘tidak juga’, maka seharusnya ada hal lain yang akan membuatnya tak menjawab apapun karena terlalu fokus dan akhirnya hanya akan mengangguk tak perduli.

“mau berbagi rahasia?” siwon mendekat, memeluk nara, mengekang tubuh kecil itu lalu mengangkatnya hingga nara terbahak kuat. siwon mengangkat nara menuju tepian ranjang dan mendudukkannya pada pangkuannya.

Nara menidurkan diri, membuat kepalanya jatuh hingga hampir menyentuh lutut siwon. Sementara kedua lengan mungilnya tengah digenggam erat oleh siwon untuk mencegah kemungkinan buruk seperti, terjatuh.

Nara terkekeh saat siwon menggosokkan wajahnya pada perut nara. Membuatnya geli hingga hampir menggelinjang menendang wajah tampan ‘edward cullen’nya.

“baiklah,, ahaha,, iya iya aku beri tau!!” pekiknya.

Siwon berhenti lalu mencium perut nara sekali. Tangannya menarik nara hingga gadis itu terangkat sesaat, namun nara memaksa untuk tetap berada pada posisi seperti itu hingga siwon mengalihkan tangannya menahan bahu nara untuk semakin memperkecil kemungkinan nara untuk jatuh.

“katakan”

Siwon menatap gadis itu menuntut. Sementara nara mengatur nafasnya setelah seluruh isi perutnya terasa diaduk habis-habisan.

Keadaan menjadi hening untuk beberapa saat.

“eomma melarangku untuk meminta yang lebih besar” tutur nara kemudian.

Siwon tersenyum geli “dan kau menurutinya?”

Nara memberengut kesal “awalnya, tidak” ketusnya “tapi eomma bilang aku tidak boleh matrealistis. Padahal, sungguh edd, aku tak mengerti apa maksudnya ‘matrealistis’!” ujarnya makin sengit.

Siwon terkekeh. “tapi aku tak pernah sekalipun menganggapmu seperti itu”

“oh, mana aku tau! akan lebih baik jika kau mengatakannya langsung pada eomma”

Nara akhirnya bergerak untuk duduk. Gadis itu memeluk salah satu lengan siwon kemudian memeluk leher namja itu.

“tapi tak apa. lebih baik karena setidaknya kau membelikan yang ini”

Siwon menatap nara hampir tak percaya. Seperti biasa, terlalu sering berteman dengan gadged yang bermacam fungsi membuat nara terlihat jauh lebih dewasa dari umurnya.

Ck, gadis kecil ini pasti terlalu sering menonton drama. Batin siwon.

Nara memeluk siwon untuk berterimakasih lalu menggeser posisi duduknya. Ia berjalan menuju rumah boneka yang belum selesai ia tata. Siwon akhirnya memilih untuk mundur, membiarkan nara bermain sebelum ia merasa lapar mengingat waktu telah menunjukkan pukul empat sore.

Namja itu mengacak rambut nara dan beranjak pergi.

“tapi edd..” siwon berhenti “lain kali aku ingin yang warna biru” sambungnya.
___

Yoona menandatangani proposal pengajuan sebuah pernikahan. Detail pinggiran pantai menjadi fokus utamanya. Beberapa hari yang lalu, seseorang bernama hyeri datang untuk memesan gaun pengantin yang –entah mengapa- menjadi favorite yoona.

Usai menandatangani proposalnya, yoona mengangkat kepala, menatap ji yeon yang masih menunggunya untuk menyerahkan map merah yang telah ia tanda tangani.

“jadi, pantai seperti apa yang telah kita dapatkan?” Yoona beranjak dari kursinya dan beralih pada sofa kantor.

“pantai disekitar gyeongju dan haeundae  menjadi pilihan menarik. Hingga saat ini mereka hanya ingin terfokus pada dua pantai itu. selanjutnya, untuk pemilihan lokasi pesta dan dekorasinya akan mereka lakukan usai pengambilan keputusan ini”

Yoona mengangguk “haeundae..” gumamnya “busan?”

Ji yeon mengangguk sekali.

Yoona ikut menganggukkan kepala. Jemarinya kemudian meraih sebuah pensil dan menggoresnya pada kertas putih. “apa menurutmu gaun sederhana ini yang benar-benar dia inginkan?”

Ji yeon berjalan mengikuti yoona, ia duduk pada pinggiran sofa lalu melirik yoona tak mengerti “ini bukannya sederhana, yoong” ujarnya.

“tapi ini tak terlihat pantas untuk seorang putri dari direktur utama pertambangan batubara nasional”

Ji yeon mengedikkan bahunya acuh “dan itu tak terlihat sederhana untuk kita” sambungnya.

Yoona terkekeh pelan “aku bisa,ji. Percayalah”

“aku tau. seperti ada saja yang tidak bisa kau lakukan”

Yoona terkekeh semakin kencang. “lalu, haruskah seperti ini saja?”

Ji yeon membuka beberapa lembaran kertas yang ia bawa. Meneliti setiap kata dengan mata menyipit yang serius “tidak” ujarnya.

“maksudku, tidak perlu merubah apapun” sambungnya. “kau tau, shin hyeri itu bukan wanita yang perfeksionis”

Yoona menatap ji yeon malas. Yeoja itu selalu saja berujar seolah ia tau segalanya. Meski memang perlu yoona akui jika seluruh pengetahuan umum mengenai korea memang ia dapati dari ji yeon. Dan sebagian besar darinya memang berguna untuk menyesuaikan diri.

“kau berujar seperti ‘aku mengenalnya dengan sangat baik’” tutur yoona malas.

Ji yeon mengedik “jika dia memang menginginkan kesempurnaan, dia tidak mungkin menikah dengan seorang model. Maksudku, uang sakunya bahkan bisa lebih besar dari gaji hasil jepretan pria itu”

Yoona tertawa. “baiklah,, baiklah. Aku masih harus menyelesaikannya. Bagaimana dengan pernikahan anak gadis Ny. Kwang?”

“sudah rampung. Tiga hari lagi” ji yeon beralih pada tab tipis yang ia gunakan “aku keluar. Oh ya, kau harus memantau pestanya. Dan jangan lupa untuk mendesain karangan bunga. Wanita tua itu sedikit cerewet” ji yeon berjalan menjauh menuju meja. Meletakkan selembar kertas kemudian berbalik menuju pintu.

“dan.. yoong, kau harus ke busan lusa!”

__

“tapi aku tidak.. im nara, kau tak mungkin tinggal sendiri di apartemen ini”

Yoona membalikkan omelet panggangnya. Satu lagi tangan yeoja itu memegangi mug besar lalu ia berjalan dan membubuhkan dua sendok susu sebelum menyeduhnya dengan air hangat.

“aku bisa, mom”

“tidak! Dan jangan berbicara seolah kau tujuhbelas tahun. kau masih –hampir- empat tahun, sayang”

Nara mendengus malas. Sebenarnya, ia bisa saja ikut eommanya menuju busan. Tidak ada gadis kecil yang menolak untuk diajak bepergian oleh orang tuanya. Tapi jelas, jika itu sebuah liburan. Dan nara yakin betul jika yang satu ini bukanlah liburan.

Nara mau saja pergi. busan juga belum pernah ia kunjungi selama hampir tiga bulan berada di korea. Tapi ia akan memilih untuk tidak pergi, jika pada akhirnya yoona hanya akan membawanya menuju hotel, mendiaminya, dan esoknya kembali menuju seoul.

What the?!

Maksudnya, ayolah. Ini jelas bukan liburan. Dan eommanya itu jelas akan kembali meninggalkannya didalam hotel ketika ia pergi mengurusi pekerjaannya, sendirian. Catat! Sendirian.

Nara benci berada dalam keadaan sepi. Ia tak jauh berbeda dengan yoona jika saja ia mau mengakuinya.

Tapi ini jelas berbeda. Berada sendiri didalam rumah dengan seluruh gadged tentu lebih mengasikkan. Bukan berarti juga yoona tak memperbolehkannya membawa seluruh barang seperti itu.

Hanya saja,, nara merasa itu terlalu merepotkan.

Dan berada dirumah, memainkan PSP atau menonton televisi sembari menunggu kepulangan eommanya terasa lebih menyenangkan daripada harus berdiam diri didalam hotel. Nara hanya merasa jika ia tidak nyaman. Itu saja.

Lagipula, apa yang akan ia cari jika menginap sehari didalam hotel saja sudah membuatnya muak? Toh, esok harinya, entah pagi siang atau sore, ia dan eommanya akan kembali. mereka tak pernah berada dalam sebuah hotel melebihi 48 jam. Nara tanda betul untuk yang satu itu.

“ayolah mom, aku tinggal saja”

Yoona tak memperdulikannya. Jemarinya menaruh piringan omelet dan beralih pada dua gelas susu. Ia membuka aproan lalu berjalan menuju ruang televisi.

“mom!”

Yoona menghidupkan acara pagi lalu berbalik “habiskan makananmu jika tidak ingin tertinggal tontonan pagi ini”

Yoona berjalan menuju pintu kamar, membukanya kemudian mendesah gusar.

“dia tidak ingin pergi” ucap yoona datar.

“wae?”

Yoona melirik garang “tentu saja karena kau menghasutnya!”

Siwon terkekeh geli “aku tak melakukannya, sungguh!” kilahnya cepat.

Jika yoona bisa, ia ingin sekali menghilangkan ekspresi memukau namja itu. demi apa! siwon terlalu pintar mengambil hati nara. Entah bagaimana cara namja itu melakukannya, yang pasti, nara akan lebih mengikuti perkataan siwon ketimbang dirinya.

Dan yoona benci setiap kali siwon akan menginap, nara justru ingin siwon tidur bersamanya. Bukan masalah besar, memang. Pun jika ia membiarkan siwon memilih, namja itu akan menidurkan nara terlebih dahulu sebelum kembali kekamarnya.

Lagipula, yoona bukan tipe gadis murahan yang akan melakukan bermacam-macam hal bersama namja itu. maksudnya,, ia bisa saja jika ia mau. Tapi banyak pelajaran yang membuatnya dapat menahan diri dengan lebih baik.

Siwon,, jelas tak pernah menyentuhnya melebihi sebuah pelukan. Atau mungkin ciuman untuk beberapa situasi. Tapi yoona perlu berbangga hati dengan sikap siwon yang terlalu sabar.

Meski berkali-kali tidur bersama, namja itu hanya akan memeluknya, mencium keningnya dan esok pagi terbangun dengan lengan siwon yang masih hangat. Hanya sebatas itu. sebatas siwon menghargainya sebagai kekasih meski untuk korea sendiri, budaya seperti itu sudah terlalu lazim.

Perlu yoona akui, lima tahun berada di virginia membuatnya sedikit lebih bebas. Tapi bukan berarti ia akan jatuh lebih dalam dari kesalahan yang pernah membuatnya terpuruk jauh.

Siwon ikut berdiri disamping yoona ketika ia selesai dengan dasi hitam miliknya. Namja itu membuka gorden jendela lebih lebar sebelum akhirnya memeluk yoona hangat.

“biarkan saja dia bersamaku”

Yoona menyuruk dibalik bahu hangat siwon. Entahlah, berada dalam pelukan namja itu menjadikannya lebih tenang dan nyaman. Yoona suka hangat tubuh siwon. Dan meski siwon tak perlu menunduk untuk memeluknya, yoona tetap menyukai bagaimana ia dan siwon berusaha agar bahu namja itu berada tepat pada indra penciuman yoona.

Faktanya, yoona terlalu menikmati bau maskulin namja itu.

“aku tak ingin merepotkanmu” jawab yoona pelan.

“tidak akan. Aku yang memintanya untuk tinggal, dengan kata lain aku tak mungkin menelantarkannya yoon”

“bukan seperti itu..” yoona menghirup nafasnya sekali, ayolah,, bau maskulin itu tentu akan membuatnya lebih tenang. “hanya saja,, pekerjaanmu__”

“aku sudah menyediakan waktu senggang. Kau tau, beberapa hari yang lalu ia ingin ke ice ski land”

Yoona melenguh berat. Selalu saja, siwon akan memilih untuk meluangkan waktunya demi kesenangan yang terlalu jarang nara dapatkan dari yoona.

“its ok. Aku benar-benar akan menjaganya. Hmm?”

Yoona mengangguk pasrah. Apapun itu, ia tau, bersama siwon tentu waktu nara akan berjalan dengan lebih menarik. Ia ingat betul bagaimana nara merubah sikapnya ketika yoona meninggalkannya didalam hotel sendirian hingga sore hari.

Yoona berjalan menuju meja makan ketika nara terlihat telah duduk didepan televisi. Yeoja itu meneguk susu coklat miliknya lalu beberapa saat kemudian siwon menyusul.

Yoona memutar malas bola matanya ketika ia melihat nara bergabung. Ikut mendudukkan diri pada kursi meja makan lalu beralih mentap siwon dengan binar mata yang terang.

Oh, im nara! Pekik yoona dalam batin.

Siwon tersenyum penuh kemenangan, dan yoona perlu obat mual untuk itu. ia harus bersiap menerima senyuman polos milik nara sebelum akhirnya gadis kecil itu akan berterimakasih.

“baiklah, kau boleh tinggal”

Nara memekik girang, menyatukan lima jari mungilnya pada milik siwon kemudian mengecup pipi yoona dalam “thanks, mom!”

__

“jangan tidur terlalu malam, jaga kesehatanmu. Jangan lupa minum vitamin sebelum bermain, bagaimanapun kau tetap bisa jatuh sakit mesk__”

“iya, iya aku mengerti mom”

Yoona mendesah putus asa. Gadis kecil itu tak pernah ingin direcoki terlalu sering. Meski yoona yakin nara akan melupakan barang sedikitnya dua atau tiga hal dari seluruh yang ia jelaskan.

Seperti minum vitamin. Atau jangan tidur terlalu malam. Oh, yoona tak lupa jika siwon dan jessica sama-sama memiliki hasrat besar untuk memanjakan nara hingga membiarkannya melakukan apapun yang ia inginkan.

Nara pernah tidur pada pukul sebelas malam, dulu, saat yoona meninggalkannya bersama jessica saat mengurusi kepindahannya menuju korea. Dan ternyata, firasat buruk yoona memang terlalu jitu.

Jessica membiarkan gadis itu tidur larut, membiarkannya tidur dan bermain tanpa multivitamin dan yang paling membuat yoona jengkel adalah beberapa gadged baru yang membuat jadwal makan nara tak lagi se-teratur sebelumnya.

Yoona bisa saja marah, tapi setidaknya dia harus sadar jika memang ini konsekuensinya meniggalkan nara bersama mereka. meski yoona yakin, siwon masih lebih baik dalam mengurus putrinya.

“jangan meminta apapun. Aku memperingatimu, im nara!”

Nara melemas “dia tak melarangku untuk membeli apapun” bantahnya.

Yoona melotot kaget “bukankah sudah kukatakan jika__”

“aku bahkan tidak mengerti arti metrealistis, mom”

“tap__”

“dan edd berkata jika ia tak pernah berfikir seperti itu tentangku”

Oke! Fine.

Yoona terdiam hebat. Oh lihat saja, Bahkan mereka membicarakan hal seperti ini berdua? Ya tuhan, seharusnya yoona tak terlalu sering meninggalkan nara bersama makhluk lain. Semakin itu terjadi maka akan semakin banyak hal yang bisa ia bantah dari perkataan yoona.

Yoona melirik siwon garang, sementara siwon sendiri terlihat menahan tawa lalu mengedikkan bahunya tak mengerti.

Panggilan itu kemudian menggema kencang. Menandakan jika inilah saatnya yoona harus pergi. Yoona melirik nara, mengecup kedua pipi gadis kecilnya sebelum memeluknya erat.

“hanya dua hari..” ujarnya.

Ia beralih pada siwon, memeluk namja itu hangat. Yoona tentu akan merindukan saat-saat seperti ini. saat dimana ia, siwon dan nara menghabiskan waktu hanya bertiga tanpa perlu berpisah demi sebuah pekerjaan.

Meski terdengar sedikit mustahil, yoona tetap saja berharap.

Pergelangan siwon menutup erat mata nara ketika bibirnya dengan cepat mendarat pada kening yoona. Tak lama, namun sempat membuat nara memberengut sebelum jatuh pada gendongannya.

“aku pergi..”

__

Kyu hyun memilih untuk diam. Hampir satu jam berada didalam mobil tak membuatnya merasa bosan. Satu dari beribu hal yang menyesakkan pikirannya adalah, apa yang tengah mengganjal antara ia dan yoona?

Kenyataan jika yoona belum ingin bertemu dengannya membuat kyu hyun gusar. Belum lagi reaksi yoona yang berkali-kali menolak kehadirannya dengan jelas. Kyu hyun tau, tentu ada yang salah. Ia merasa jika ada satu hal yang perlu ia pastikan hingga ia perlu mendatangi kembali apartemen yoona.

Meski dengan resiko jauh lebih berat.

Kyu hyun terpaku. Entah mengapa, sejak kedatangan yoona hampir satu bulan yang lalu, kyu hyun tak pernah berhenti berfikir mengenai ‘bagaimana ia dan yoona kembali bersama’. Tidak dalam konteks seperti ‘berpacaran’ atau.. entahlah. Itu tentu tidak berada dalam fikirannya.

Kyu hyun memiliki tiffany. Dan kembali bersama yoona mungkin berarti tertawa bersama. Atau,, argh! Bahkan ia tak tau apa dan bagaimana isi hatinya saat ini. yang jelas, kyu hyun merasa jika ia harus datang dan bertanya pada yoona tentang bagaimana ia bisa berubah sejauh ini.

Kyu hyun kembali mengingat,

‘aneh, ternyata yoona belum menikah. Aku fikir siwon itu suaminya’

Kyu hyun masih hafal betul bagaimana tiffany menyatakan berita itu padanya sehari lalu. dengan intonasi dan nada berbicara yang membuatnya semakin penasaran saja.

Jadi, jika yoona belum menikah, anak yang selalu bersamanya.. kyu hyun jelas tak benar-benar percaya jika gadis kecil itu keponakannya. Yoona tak benar-benar memiliki saudara.

Yoona anak tunggal. Sejak pertama kali bertemu dengannya, fakta itulah yang membuat kyu hyun merasa jika ia harus terus melindungi yoona. Jadi, jika memang yoona belum menikah, apa anak itu.. apa yoona..

“tidak mungkin ia mendekati seorang duda!” rutuknya sendiri.

Konyol. Mungkinkah jika siwon itu.. duda? Dan.. kyu hyun mulai tak mengerti. Jika diperhatikan lebih detail, gadis kecil itu memang terlihat lebih antusias pada siwon. Namja itu sendiri terlalu memperhatikannya.

Jadi, siwon seorang duda?

Bagaimana bisa yoona bersama seorang choi siwon yang memiliki seorang anak?

Kyu hyun jelas harus bertanya. Jika bukan karena penasaran, maka setidaknya ia butuh penjelasan yoona meski tidak tentang duda atau bukankah kekasihnya saat ini.

Kyu hyun memutuskan untuk turun, ia melepas seatbeltnya lalu sebelum menekan pintu mobil, sebuah mobil lainnya berhenti. Tepat didepan bangunan apartemen yoona.

Kyu hyun terus memperhatikannya. Namja tinggi itu keluar bersama gadis yang sering yoona bawa. Mereka berjalan menuju lift dan beberapa saat berlalu, kyu hyun dengan jelas melihat namja itu berada pada balkon apartemen yoona.

Jadi?!

Kyu hyun merogoh saku celananya cepat “tiff, benar yoona belum menikah?”

__

Tiffany menggenggam erat ponselnya. Jemarinya bergetar halus ketika sambungan telefon terputus begitu saja. Jadi, apa ini hanya halusinasinya saja atau bayangan semu itu memang perlahan bergerak untuk menjadi nyata?

**

“tiff, benar yoona belum menikah?”

“ya, dia berkata seperti itu kyu”

“jadi, choi siwon itu..”

“hanya kekasihnya. Ada apa?”

“apa menurutmu siwon itu seorang… duda?”

“a apa? apa yang terjadi?”

Tiffany diam. Keheningan tercipta cukup lama hingga akhirnya “tiff, nanti aku hubungi lagi”

**

Tiffany terdiam. Apa yang terjadi? Perasaannya entah mengapa menjadi lebih resah meski semenjak ia melangkah untuk meninggalkan korea, tiga hari yang lalu, ia merasa jika langkahnya memang salah.

Ia hanya merasa jika akan ada hal besar yang terjadi ketika ia pergi. akan ada rangkaian kejadian yang belum mampu ia terima. Akan ada sesuatu yang.. menyakitinya.

Dan meski awalnya ia hanya merasa semua ini firasat biasa, tiffany tetap perlu waspada. Karena nyatanya, perasaan cemas dan semacam ketakutan besar itu mulai benar-benar melandanya.

Tiffany menghela nafasnya dalam. Lalu dalam sekali sentak lalu lalang pertanyaan kyu hyun dan yoona menusuk otak berfikirnya.

‘apa menurutmu sesuatu terjadi pada yoona? Seperti,, ia pernah tersakiti?’

‘tiff, kau tau kan aku pernah mencintainya?’

‘yoona berubah, aku tak pernah melihatnya seperti itu’

‘tiff, kita tak lagi bisa seperti dulu’

‘apa yoona memiliki seorang kekasih?’

__

“oh, kau…”

Siwon berfikir sejenak, menolehkan matanya pada kanan atas. “cho… kyu hyun?”

Namja itu menunduk lalu tersenyum samar. Meski terlalu beresiko, kyu hyun pada akhirnya memutuskan untuk maju. Meninggalkan mobilnya dan berjalan menuju apartemen yoona.

Kyu hyun tau, pemandangan seperti ini tentu akan didapatinya entah dengan adegan yang berbeda atau apa. yang jelas, kyu hyun tau namja itu berada didalam apartemen yoona. Bersama, dalam satu atap rumah.

“siapa edd?” nara datang lalu berdiri tepat disamping kanan siwon. Matanya membulat tanda mengingat sesuatu lalu kembali menatap kyu hyun “oh ahjussi? Eomma tidak sedang dirumah”

Kyu hyun dan siwon saling berpandangan  lalu siwon berdehem kecil “iya, sebenarnya yoona sedang pergi ke busan dan baru akan pulang lusa. Ada yang bisa kubantu?”

Kyu hyun masih menatap gadis kecil itu lalu siwon dengan bergantian. Matanya menekur memilih-milih informasi penting apa yang ia dapat hari ini. kyu hyun menatap nara, lalu beralih pada siwon.

Aneh, mereka tak mirip. Tuturnya dalam hati.

Nara justru lebih terlihat seperti yoona. Manis dengan senyum tipis yang cerah dan binar mata yang indah. Kyu hyun bahkan baru tau jika ia seperti mengenal sosok bayangan dalam mata nara. Mata gadis kecil itu terlihat familiar meski tak dapat ia jelaskan secara lebih rinci.

Yang pasti kyu hyun menyukai mata nara, gadis kecil itu terlihat jauh lebih cerdas karena mata hitam pekat miliknya.

“ada lagi yang bisa kubantu?”

Kyu hyun mengerjap, menatap siwon sekejap “kau,, choi siwon, bukan?”

Siwon mengangguk.

“maaf jika aku terlalu lancang. Tapi, apakah kau dan yoona telah menikah?”

Siwon tersenyum sesaat “belum. Tapi kami pernah berencana untuk menikah. Ada apa?”

“eum,, tidak. Tapi apa yang kau lakukan diapartemennya?”

“ahjussi, dia ini yang menjagaku” nata mengarahkan jemarinya pada siwon. Mencoba menunujukkan pada kyu hyun jika siwon itu memang ada dan sudah seharusnya berada disitu. Matanya mengerjap beberapa kali lalu nara kembali bergumam “ahjussi, kenapa kau ingin tau banyak hal?”

Kyu hyun berdehem sekali. Pertanyaan nara benar-benar mengulitinya. Gadis kecil itu, baru kyu hyun sadari memiliki kecerdasan yang melebihi gadis kecil seusianya.

“ra-ya, jangan berbicara seperti itu” siwon memperingatinya, melihat nara yang mengedikkan bahu lalu ia memilih untuk meminta maaf “aku menjaganya selama yoona berada di busan”

Kyu hyun kembali mencerna setiap perkataannya. Menjaganya. Menjaga. Bukankah hal seperti itu bisa ia lakukan dirumahnya? Mengapa harus diapartemen yoona? Kecuali jika yoona sendiri yang menitipkan gadis kecil itu padanya. Bukankah,, tunggu!

Ia menjaga nara? Kyu hyun merasa begitu janggal dengan sepenggal kalimat itu. otaknya berfikir keras mengenai sesuatu yang menurutnya kini tak lagi sejalan dengan apa yang ia bayangkan.

Choi siwon menjaga nara di apartemen yoona. Satu dari dua kemungkinan yang ada adalah mereka telah menikah, dan ini jelas belum terjadi. Atau kemungkinan lainnya..

Kyu hyun tersentak. Matanya membulat tak percaya lalu menatap siwon penuh tanda tanya.

“siwon-ssi,, apakah, nara anakmu?”

-TBC-

Oh hai *lambai tangan* huhu sepertinya ini kali pertama saya menyapa kalian semua. Sebelumnya isi cuap-cuap saya hanya penjelasan mengenai FF bukan? Nah kali ini saya mau menjawab beberapa pertanyaan yang terlontar pada kolom koment part sebelumnya.

Sebelumnya perkenalkan dulu deh ya, kalian boleh panggil saya Dian, eonni, saeng, chingu atau apapun selain ‘thor’. Saya masih SMA akhir jadi prediksi sendiri aja ya harus manggil apa:) Saya mau minta maaf loh sama kalian semua karena gabisa bales komentar kalian satu persatu. Ini benar-benar klise, tapi saya belum punya cukup waktu karena posisi saya sendiri yang sudah menginjak kelas tiga akhir. Jadi mohon pengertiannya:) tapi sungguh komentar kalian selalu saya baca kok. Jadi karena itu saya sekali lagi ingin meminta maaf karena tenggang waktu post antar part sedikit lama. Bukan maksud saya sengaja membuat kalian menunggu, tapi demi apa saya juga butuh pencerahan untuk ide cerita ini sendiri. Jadi saya mohon bersabar ya^^

Selebihnya saya mau mengucapkan terimakasih. Nah, yang masih mau bertanya silahkan tulis pada kolom komentar. insyaallah akan saya tanggapi *saya sedang berusaha*. Dan jadilah teman akrab saya, saya selalu ingin menjadi teman kalian semua. Semoga kita bisa lebih akrab ya^^

With love, Park ji yeon.

172 thoughts on “Memorable 4

  1. tingkat penasaran kyuhyun sepertinya udah mengkhawatirkan sebentar lagi kalo gak cepet2 dapat jawaban bisa gila kayanya. kenapa juga dia penasaran bgt tentang nara?? dan tak pernahkah terlintas dipikiran kyuhyun kalo nara mirip dengannya setidaknya mata yang katanya dikagumi kyuhyun???

  2. Oh no ! Jgn sampai kyuhyun tahu klo nara anaknya ?
    Aq lebih setuju yoona sama siwon . Lagian ini kyuhyun kok terkesan kepo bgt ya jd orang . Hoho …
    Makin keren ceritanya …
    Lanjut !!

  3. OMG! Aku melting bgt baca moment siwon, nara, n Yoona! They are too sweet ><
    Aku suka bangt cara author menggambarakan karakter Siwon di FF ini!
    Entah kenapa aku semakin ga tega kalau misalnya Yoona malh kembali sm Kyuhyun, n malah tinggalin Siwon.. Author bener2 berhasil membuat hatiku galau sekarang.. Haha
    ANyway, aku bnr2 makn panasaran sm cerita ini!
    Continue to next chap…

    Thanks n GBU

  4. Eon sebenernya aku seneng bener sna moment2 siwon yoona nara…
    Kyk happy family banget…
    Aku gk tega klo yoona balikan sma kyuhyun dan siwon ditinggalin…
    Hiks hiks
    Pasti aku bakalan nangis…
    Tpi aku berharap kebahagiaan mereka aja deh

  5. ya ampun! Jgn sampai kyuhyun tahu klo nara anaknya ? ga ush tauu lah kalau bisa author. udh nara anak ed aja. karena
    Aq lebih setuju yoona sama siwon . Lagian ini kyuhyun kok terkesan kepo bgt ya jd orang . Hoho …
    Makin keren ceritanya lanjutkan author

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s