[Freelance] Oneshoot : Last Valentine

Last Valentine

Last Valentine

 

By

Emotionalangel4

 

Cast : [SNSD] Im Yoona & [CNBLUE] Lee Jonghyun ||  Genre : Sad, Hurt  || Length : One Shot || Rating : Teen || Disclaimer : the plot is pure from my imagination. FF ini sebelumnya sudah pernah di post di blog pribadiku. Namun versi ini sudah diedit dan diberi sedikit perbaikan.

Valentine…

Mungkin kisah kita seperti St. Valentinus dengan gadis yang dicintainya

Berpisah dan harus berakhir

Di tanggal 14 Februari

Hari itu, salju turun lebih lebat. Membuat seluruh kota dipenuhi oleh warna putih di setiap sudutnya. Angin berhembus lebih kencang, menimbulkan bunyi kerutuk kecil dari jendela yang bersinggungan dengan ujung-ujung ranting pohon yang bergoyang. Langit berwarna kelam dan matahari terlihat bersembunyi di balik awan hitam, enggan untuk sekedar menampakkan wujudnya.

Yoona duduk terpaku menatap sendu ke luar jendela. Ditatapnya satu per satu butir salju yang turun perlahan kemudian jatuh membentur bumi. Wajahnya sepucat salju, matanya memerah dan membengkak dengan jejak air mata yang telah mengering di kedua pipi tirusnya.

Ia menghela napas panjang lalu melirik ponselnya yang tergeletak begitu saja di atas meja makan berbahan kayu mahoni yang kini terasa sedingin gundukan es. Benda itu bagaikan onggokan sampah tidak berharga. Tidak ada pesan singkat ataupun panggilan masuk selama 3 hari.

Matanya kini sayu, memandangi ponsel itu tanpa berkedip, dan sejalan dengan itu bahunya merosot turun. Merasa semua tenaganya hilang tanpa bersisa, terserap oleh dinginnya udara di balik tubuh kurusnya. Ia memeluk lututnya erat, menenggelamkan wajahnya dalam-dalam dan membiarkan rasa sedih menyelimuti dirinya.

Sudah 3 hari Yoona berdiam diri di apartement. Tidak pergi ke kantor seperti biasa, bahkan ke mini market di blok sebelah hanya untuk sekedar membeli beberapa bahan makanan. Ia tidak ingin keluar. Tidak ingin repot-repot merasakan dinginnya salju yang akan membekukan seluruh tubuhnya dan melumpuhkan saraf-saraf di otaknya.

Yoona menyukai musim dingin. Dulu. Sebelum 3 hari yang lalu. Ia suka akan warna putihnya yang lembut, suka akan lembabnya udara yang menggelitik ujung hidungnya, serta angin dingin yang akan menerbangkan helai-helai rambutnya yang halus dan lembut.

Namun semuanya berubah.

Warna putih itu terlihat begitu menyakitkan sekarang. Lembabnya udara membuatnya sesak dan sulit bernapas. Terpaan angin seolah membekukan tubuh dan hatinya tanpa ampun. Semuanya menjadi memuakkan.

Terlebih ketika orang yang begitu dicintainya mengucapkan kalimat itu kepadanya.

Kita berpisah saja. Aku menyukai gadis lain

Saat itu, Yoona hanya bisa bergeming di tempat. Dengan tumpukan salju yang mengikat kakinya dan angin musim dingin yang membekukan seluruh tubuhnya. Ternyata waktu 4 tahun tidaklah cukup. Tidak cukup bagi mereka untuk mengenal satu sama lain. Tidak cukup bagi mereka untuk bergantung satu sama lain. Dan tidak cukup pula bagi hati mereka untuk saling menyatu dan berpaut. Untuk saling percaya satu sama lain sampai akhir.

Namun Yoona tidak menangis, tidak juga memohon dan menjadi lemah di depan lelaki itu. Entah kenapa, justru sebuah kalimat yang sama sekali tak pernah terpikirkan yang terlontar keluar dari bibir pucatnya.

Baiklah, kita berpisah. Tapi sampai berakhirnya hari Valentine

Dan besok hari Valentine. Yang juga berarti hari terakhirnya bersama lelaki itu. Mungkin orang lain akan menganggapnya bodoh. Membiarkan orang yang begitu dicintainya pergi begitu saja tanpa mencoba menahannya. Tanpa mencoba memohon agar ia tidak pergi dan untuk tetap terus berada di sisinya. Namun Yoona tidak bisa. Mungkin ia memang bodoh, namun ia tidak ingin menjadi egois. Tidak lagi.

.

.

.

Pagi ini salju tidak lagi turun. Matahari telah merangkak naik dari persembunyiannya dan mulai bekerja menghangatkan seluruh isi kota dengan cahaya menyilaukan yang menghantam permukaan bumi. Tumpukan salju di ranting-ranting pohon sudah mulai mencair, jatuh perlahan menggantikan embun pagi.

Yoona menambah lilitan scraft di lehernya. Meskipun salju sudah tidak turun dan matahari telah bersinar semejak pagi, namun suhu udara dirasakan masih menusuk. Ia berjalan cepat sambil menyisipkan kedua tangannya ke dalam saku. Kemudian berhenti di halte bus yang berjarak beberapa meter dari apartementnya. Yoona menghela napas panjang kemudian mencoba tersenyum untuk melatih otot-otot wajahnya yang selama beberapa hari terakhir terasa begitu kaku dan mati rasa.

Setelah menempuh 30 menit perjalanan dengan bus, Yoonapun berhasil menginjakkan kakinya di depan sebuah cafe. Cafe favoritenya dan juga lelaki itu. Yoona menarik napas panjang sebelum mendorong pintu kayu klasik di depannya.

Bunyi gemerincing kecil dari bel yang bersinggungan dengan daun pintu mengisi seluruh sudut cafe. Ketika kakinya melangkah masuk, saat itu juga matanya bergerak liar menyapu seluruh sudut ruangan untuk menangkap sosok yang seharusnya telah berada di sini. Dan beberapa meter dari tempatnya berdiri, ia bisa menangkap sosok lelaki itu tengah duduk di sudut cafe dekat jendela besar.

Lelaki itu duduk diam. Matanya fokus pada cangkir keramik putih di depannya. Tanpa perlu bergerakpun, sosok itu terlihat begitu sempurna di mata Yoona. Bagai sebuah lukisan, sosok lelaki yang begitu dicintainya berlatar belakang sisa tumpukan salju berwarna putih pada kunsen jendela dan terpaan sinar matahari pagi yang baru bergerak naik dari arah timur yang berpendar menyirami tubuhnya. Indah. Dan Yoona menyukainya. Jadi ia biarkan dirinya menatap lelaki itu lebih lama kali ini.

“Oppa!”

Yoona menyapa riang lekaki itu setelah beberapa menit berdiri di ambang pintu. Ia melangkah ringan menuju meja di sudut ruangan, walau sebenarnya ia harus menyeret sekuat tenaga kedua kakinya untuk bergerak normal. Yoona tersenyum, berharap garis senyumnya yang sudah ia latih sejak pagi tadi tidak terlihat aneh di depan lelaki itu.

Lelaki itu menatap Yoona datar. Ia tidak menjawab sapaannya, tidak pula membalas senyumannya. Hanya menatapnya. Tatapan yang dingin dan terasa menusuk jantung dan ulu hatinya yang sedang berkeja keras saat ini. Membuatnya merasa sesak dan sulit bernapas.

“Hari ini kita akan kencan kemana?” tanya Yoona riang. Suaranya selembut kapas.

“Yoon, aku sudah bilang ___”

“Myeong-dong!” potong Yoona cepat. “Oppa, ayo kita pergi ke Myeong-dong. Hari ini banyak toko yang memberikan sale khusus Valentine”

Dengan cepat Yoona menarik tangan lelaki itu agar segera bangkit, mengabaikan rasa sesak yang masih menguasainya. “Oppa kajja! Aku tidak ingin membuang-buang waktu hari ini”

Jika memang ini hari terakhir, maka ia akan membuatnya seindah mungkin. Tanpa rasa sakit, tanpa ada penyelasan dan air mata pada akhirnya.

.

.

.

“Oppa! Lihat! Scraft ini lucu! Bagaimana menurutmu?”

Yoona merentangkan scraft berwarna pastel dengan kedua tangannya di depan lelaki itu. Lelaki itu hanya menanggapi dengan gumaman pelan tanpa minat. Yoona membalasnya dengan senyuman secerah matahari pagi.

Sejak mereka bersama hari ini, lelaki itu tidak banyak bicara ataupun merespon semua ucapannya. Dan Yoona selalu menanggapinya sewajar mungkin. Seolah-olah semuanya berjalan normal seperti biasanya, ketika mereka bersama dulu. Ketika mereka sama-sama masih memiliki debaran di dada mereka, ketika dengan sebuah tatapan membuat mereka saling meyakini bahwa mereka memiliki satu sama lain.

“Ice cream! Oppa, aku mau makan ice cream! Kajja!”

Yoona kembali menarik lengan lelaki itu untuk mengikutinya ke arah kedai ice cream langganan mereka di persimpangan jalan. Sudah menjadi kebiasaannya memakan ice cream saat musim dingin. Kebiasaan buruk, namun Yoona tidak bisa menghilangkannya. Dan sehabis makan ice cream, biasanya Yoona akan terserang flu selama 2 hari berturut-turut. Ia hanya akan berbaring di ranjang sambil mengeluh hidungnya gatal dan kepalanya yang terasa berat. Itu selalu terjadi dan Yoona tidak pernah merasa jera.

Lelaki itu yang biasanya memarahi Yoona ketika memakan ice cream saat musim dingin. Dan lelaki itu juga yang biasanya menjaga Yoona ketika ia terbaring lemah di ranjang saat flu yang dideritanya semakin memburuk. Yoona tidak pernah jera, karena ia yakin selalu ada lelaki itu yang akan menemaninya.

Namun semuanya berakhir saat ini. Lelaki itu tidak melarang Yoona, tidak pula menceramahinya tentang pentingnya menjaga kesehatan pada musim dingin. Lelaki itu hanya diam menatap Yoona yang sedang menyendok ice creamnya dari seberang meja. Tanpa berkomentar apapun, tanpa omelan apapun. Dan itu membuat Yoona sadar, bahwa lelaki itu telah berubah.

.

.

.

Mereka kembali melanjutkan kencan mereka. Walaupun suhu udara mulai terasa dingin, namun daerah Myeong-dong telah dipadati ratusan orang siang ini. Mungkin karena ini hari valentine. Terlihat dari banyaknya pasangan yang berjalan beriringan sambil berpegangan tangan ataupun berangkulan.

Yoona meraih tangan lelaki itu dan menggenggamnya. Tangannya dingin, begitu pula tangan lelaki itu. Walaupun tangan mereka bersentuhan, namun tidak terasa percikan kehangatan yang mengalir dari ujung-ujung jari mereka.

Datar

Dingin

Biasanya, saat angin berhembus lebih kencang atau saat tetesan salju pertama mulai turun, lelaki itu akan menggenggam tangan Yoona kemudian memasukkan tangan mereka ke dalam saku mantelnya. Membiarkan tangan mereka saling berpaut hingga kehangatan dari ujung-ujung jari mereka akan merambat sampai ke kaki, tangan dan dada seperti sebuah aliran listrik. Membuat tubuh Yoona terasa hangat meski tanpa penghangat ruangan ataupun sebotol soju.

Namun tidak mulai saat ini, lelaki itu hanya menggantungkan tangannya tanpa berusaha menautkan jari-jari mereka. Yoona hanya dapat menatap kedua tangan itu lama-lama. Sudah tidak ada kehangatan lagi dalam genggaman mereka.

Yoona mengangkat wajahnya, menatap lelaki yang empat belas senti lebih tinggi darinya dengan tatapan sayu. Setengah dirinya merasa takut. Takut kehilangan sosok sempurna itu. Takut kehilangan genggaman tangan ini. Namun di satu sisi, ia tahu bahwa ini adalah jalan terbaik bagi mereka. Setidaknya bagi perasaan lelaki itu.

“Oppa, bagaimana jika kita menonton film? Kudengar ada film bagus yang sedang diputar di bioskop” Yoona bergelayut manja pada lengan lelaki itu, tanpa melepaskan tautan jari mereka.

Seperti yang  diduga, lelaki itu kembali tidak merespon ucapannya. Ia hanya menjawab pertanyaan Yoona dengan tatapan datar tanpa minat. Namun Yoona tidak peduli, ia kembali menarik lengan lelaki itu ke seberang jalan tempat dimana sebuah gedung bioskop berada.

.

.

.

Riuh dan gelak tawa memenuhi seisi theater. Beberapa pasang penonton terlihat berangkulan ataupun berkomentar tentang tingkah konyol sang pemeran utama dengan lawan mainnya. Yoona hanya menatap kosong layar besar yang memenuhi hampir satu sisi ruangan itu. Suara gelak tawa itu bak dengungan lalat yang sama sekali tidak mengambil fokus dirinya.

Yoona lalu melirik lelaki itu. Wajah itu menatap lurus ke arah layar seolah mengamati tiap detik pergerakan yang terjadi di layar itu. Namun Yoona tahu jiwanya tidak berada di sini, bersamanya. Mungkin ia sedang memikirkan gadis itu, gadis yang ia cintai saat ini. Entahlah, Yoona tidak tahu. Dan memang Yoona tidak pernah tahu apa yang ada dipikirkan lelaki itu, sejak 4 tahun yang lalu bahkan sampai hari ini.

Hatinya mencelos. Mungkin memang perpisahan jalan yang terbaik bagi mereka. Empat tahun mereka bersama, namun Yoona tidak pernah tahu apa yang diinginkan lelaki itu, apa yang dipikirkan lelaki itu, makanan seperti apa yang ia sukai, jenis musik seperti apa yang ia gemari. Yoona tidak pernah tahu. Tidak pernah.

Jika mereka harus berpisah, maka Yoona-lah orang yang paling bertanggung jawab atas semua kejadian ini. Karena memang dirinyalah sumber semua permasalahan. Dirinya yang terlalu egois, yang terlalu terobsesi pada sebuah pekerjaan sehingga orang yang paling berharga baginyapun perlahan menjauh. Membatalkan janji kencan, melupakan hari ulang tahun, mengabaikan hari-hari spesial adalah hal wajar yang Yoona lakukan. Dan kini, saat ia hampir kehilangan semua itu, ia baru menyadari betapa pentingnya hal-hal kecil tersebut.

Yoona menarik napas panjang. Napasnya terasa sesak. Pelan-pelan garis merah mulai nampak di urat matanya, membuat cairan bening mengumpul dan siap meleleh jatuh dari kantung matanya kapan saja.

Ia sungguh bodoh.

Membiarkan perlahan-lahan dirinya dan lelaki itu menjauh. Menjadi orang asing yang hanya berkomunikasi melalui telepon atau sebuah pesan singkat. Bertatap muka hanya jika di antara mereka ada yang membutuhkan. Tidak ada pembicara selain ‘Apa kabar?’ atau ‘Kau sudah pulang?’. Ia yang membuat jarak di antara mereka melebar. Jadi wajar jika ada seseorang yang masuk untuk menempati celah kosong di antara mereka.

Yoona mengusap cepat air mata yang telah basah membanjiri pipinya. Ia menggigit kuat-kuat bibirnya agar suara isakannya tidak terdengar. Kemudian iapun bangkit dengan cepat dari tempat duduknya yang mengundang tatapan bingung dari lekaki itu. “A-Aku ke toilet”. Tanpa menunggu jawaban dari lelaki itu, Yoona segera berjalan keluar studio.

.

.

.

Setelah mencuci mukanya yang sembab, Yoona berdiri di luar studio menunggu lelaki itu keluar. Ia tidak kembali masuk ke dalam karena dirasakannya tempat itu begitu sesak dan pengap. Ia kehabisan udara, jadi ia lebih memilih menunggu di luar dengan udara dingin dan butir salju yang perlahan mulai turun satu per satu dari langit yang mulai memekat.

Yoona menendang malas salju yang mulai menumpuk di depannya. Sambil sesekali mengusap ke dua lengan atasnya untuk menghalau rasa dingin yang semakin menjadi menjalar ke seluruh bagian tubuhnya. Ia meninggalkan mantelnya di dalam studio karena terlalu terburu-buru untuk keluar tadi. Ia tidak ingin lelaki itu melihat keadaannya yang kacau. Karena ia sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa hari ini tidak akan ada air mata yang akan dilihat lelaki itu menetes dari sudut matanya.

“Mantelmu”. Lelaki itu menyerahkan mantel Yoona tanpa sedikitpun menoleh. Yoona tersenyum simpul kemudian menggambil mantelnya sambil bergumam terimakasih.

“Apa filmnya sudah selesai?”

“Kenapa kau tidak kembali?” lelaki itu malah balik bertanya. Mata gelapnya kini menatap tajam tepat ke manik mata Yoona, membuat Yoona tiba-tiba terasa membeku di tempatnya.

“Hehe… Maaf. Tiba-tiba aku lebih tertarik pada salju” kekeh Yoona canggung.

Lelaki itu menghela napas panjang. Tatapannya kini melunak, namun masih menyisakan jarak yang tidak bisa Yoona gapai. “Kau memang selalu semaumu” gumamnya pelan. Kemudian ia berjalan lebih dulu tanpa menunggu Yoona yang masih berdiri terpaku di tempatnya.

Yoona hanya dapat tersenyum getir. Lelaki itu memang sudah acap kali mengeluh tentang sikapnya yang acuh, cuek dan semaunya sendiri. Dan kali ini ia tidak akan protes. Tidak akan mencoba mengelak ataupun membela diri yang nantinya akan berujung pada pertengkaran panjang mereka. Ia mau melewati hari ini dengan baik. Setidaknya, ia akan mencoba sebaik yang ia bisa untuk lelaki itu. Hanya sampai hari ini. Hari terakhir mereka.

.

.

.

Yoona mendudukkan dirinya pada bangku kayu panjang di sisi sungai Han. Ia lalu menepuk pelan space kosong di sampingnya untuk memberi isyarat agar lelaki itu juga ikut duduk di sana. Lelaki itu duduk patuh tanpa sedikitpun protes akan angin kencang dan butir salju yang turun makin deras di atas mereka.

Mereka terdiam. Tidak ada yang mencoba memulai pembicaraan. Yoona menghembuskan napasnya pelan dan berat. Hawa dingin sudah mulai menyeruak masuk ke pori-porinya dan menusuk ke dalam paru-parunya. Bibirnya yang sedari tadi belum bergerak sudah mulai terasa kaku dan membiru. Namun ia tidak menghiraukannya. Ia hanya ingin duduk lebih lama di tempat ini bersama lelaki itu. Tempat kenangan mereka berdua.

Matahari perlahan mulai tenggelam di garis cakrawala yang melintang membatasi langit dan bumi. Cahaya senja berpendar menyiram wajahnya yang pucat oleh dinginnya salju yang masih saja turun tanpa ampun. Yoona tersenyum melihat senja terakhirnya bersama lelaki itu. Untuk sejenak, ia berharap waktu dapat dibekukan dan abadi seperti saat ini.

“Maaf. Hanya ini tempat yang terpikirkan oleh ku”. Yoona akhirnya membuka suara setelah beberapa menit terdiam. Suaranya terdengar serak dan berat.

Yoona kemudian melirik lelaki di sampingnya. Ia hanya duduk diam dengan pandangan mata lurus menatap sungai Han yang mengalir tenang dan matahari yang tinggal separuh.

“Kau… masih ingat saat itu kan?” tanya Yoona ragu. Ia mulai menerawang jauh ke masa 4 tahun yang lalu.

Di tempat ini, di tepi sungai Han saat musim semi 4 tahun yang lalu, ketika kuncup-kuncup bunga mulai bermekaran, kupu-kupu berwarna cantik berterbangan, dan semilir angin musin semi yang lembut dan hangat menerbangkan helai-helai rambutnya, lelaki itu mengutarakan perasaan padanya. Dengan membawa seikat bunga lili putih dan sebuah boneka teddy bear berbulu coklat yang lucu. Masih terekam jelas di otaknya bagaimana ia begitu bahagia hari itu. Lelaki itu tersenyum lebar dengan lesung di kedua pipinya, sedangkan pipi Yoona bersemu menyemburkan warna merah muda seperti bunga sakura di musim semi.

Namun semua itu tidak berjalan lama. Pada satu titik potong, semua akan terlihat kabur.

Samar.

Muskil.

Semua awal indah itu harus di akhiri. Hubungan ini memang sudah tidak bisa dipertahankan lebih lama. Karena hati lelaki itu sudah bukan lagi miliknya. Dan Yoona tidak bisa memaksakan kehendaknya untuk tetap terus memiliki hati itu. Perasaan mereka telah berubah. Tergerus dan terkikis seiring berjalannya waktu. Semakin lama semakin hilang dan akhirnya tergantikan oleh perasaan baru. Si pemilik hati baru.

Yoona kemudian merogoh isi tasnya. Ia mengeluarkan kotak kecil berwarna merah maroon dan menyerahkannya pada lelaki itu.

“Happy Valentine’s day” ucap Yoona pelan hampir seperti sebuah bisikan.

“Itu coklat terakhir yang ku buat untukmu” jelas Yoona yang sekaligus menjawab tatapan tidak mengerti dari lelaki itu. Yoona kemudian tersenyum. Senyum tertulus yang bisa ia berikan untuk lelaki itu sambil menatap dalam mata gelapnya. Yoona kemudian menarik napas panjang, lalu segera berdiri dalam satu gerakan cepat.

“Aku sudah menyelesaikannya. Terimakasih untuk semuanya. Selamat tinggal, Lee Jonghyun-sii”

Yoona berjalan dengan langkah cepat. Tangannya mengepal sehingga buku-buku jarinya kaku dan membiru. Ia mengatupkan rahangnya kuat-kuat. Air mata yang sedari tadi setengah mati ditahan, kini meleleh membanjiri pipinya yang polos. Bahunya berguncang hebat, menahan rasa sesak yang sedari tadi ditekannya dalam-dalam. Ia sudah melakukannya dengan baik, dengan begini lelaki itu bisa menemukan kebahagiannya yang baru.

 

Seperti sungai yang awalnya membawa dua macam mineral dari dua hulu yang berbeda ke dalam satu aliran

Namun ada satu titik dimana aliran sungai harus bercabang, dan kedua muara tidak seharusnya berada dalam satu hilir yang sama

Perpisahan aliran sungai menghantam pinggir dan delta sungai, sehingga tanah, bunga-bunga dan pepohonan bisa menjadi korbannya.

Kedua aliran mungkin akan bergolak liar setelah berpisah, namun perlahan mereka akan tenang menyusuri jalan mereka masing-masing.

.

.

.

Jika diumpaman, kita seperti sebuah aliran sungai

Mungkin kita tak ditakdirkan bermuara di satu tujuan yang sama

Ada kalanya kita harus menerima sebuah perpisahan, dan mengorbankan berbagai perasaan seperti layaknya tanah, bunga-bunga, dan pepohonan di delta sungai

Namun percayalah, seiring berjalannya waktu, kita akan kembali bangkit dan menemukan aliran lain yang mungkin akan bermuara dalam satu hilir yang sama.

-FIN-

7 thoughts on “[Freelance] Oneshoot : Last Valentine

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s