[Vignette] Black Christmas

blackchris

Title : Black Christmas || Author : Bells Trix || Main cast : Im YoonA, Choi Siwon, Tiffany Hwang Mi-young || Genre : Sad Romance, Hurt || Length : Vignette (3000+ words) || Rating : PG-13

Disclaimer : This story is pure my imagination. Please don’t copy paste to anywhere! I warn you! All characters is belongs to God, but the story is belongs to me. SAY NO TO PLAGIATOR and SILENT READERS! Please respect all author🙂

P.S : Feel free to correct my story  Semua sudut pandang adalah dari Yoona dan ada bagian ‘flashback’ yang sudut pandangnya author. FF ini dibuat khusus untuk edisi natal dan tahun baru (?). Maaf ya buat owner, janjiku kelewatan sehari. Happy reading!😉

Full Credit : │█│█▌│▐▐▐▐│█▌▐▐ ©Bells Trix™® [take out with full credit, please!]

 

“Promise me that you will smile even thought without me beside you.”

———————————–NO BASH, please!————————————-

Aku mematung hebat di tempatku berdiri saat ini. Kedua bola mataku bahkan tak mampu berkedip sedikitpun. Ada rasa sakit yang tiba-tiba menusuk kencang bagian dadaku. Nyeri dan terasa sangat perih. Bahkan aku tidak mampu memanipulasi pikiranku supaya tidak berpikir negatif dengan apa yang aku lihat. Namun entah mengapa semakin aku mengelak, semakin sakit pula yang ku rasakan. Kedua tanganku mengepal kuat. Menahan butir-butir air mataku yang sebentar lagi meluncur bebas.

“Aku tidak akan menyangka kau akan tega melakukan ini padaku, Tiff.“ Gumamku seraya menahan tubuhku yang berguncang hebat. Tak terasa setetes demi setetes air matapun meleleh membasahi kedua pipi. Beginikah balasan yang kau berikan setelah sekian lama kita merajut tali-tali persahabatan?

Detik demi detik berlalu, tangisanku malah semakin deras. Aku semakin kehilangan kendali. Hatiku benar-benar terbakar oleh rasa cemburu. Aku membekap mulut supaya tangisan ini tidak terdengar semakin kencang. Dengan cepat dan sedikit susah payah, aku pun melangkahkan kakiku pergi meninggalkan sekolah. Berharap apa yang aku lihat saat ini hanyalah ilusi kedua mataku. Ilusi mata akibat pikiran negatifku selama ini terhadap seorang Tiffany Hwang—sahabat karibku sejak kecil.

-blackdecember-

“Aku pulang.“

Tidak ada jawaban. Hanya keheningan rumah yang aku dapati. Aku melirik jam dinding di atas loteng. Pukul 18.00 KST. Sudah berapa lama aku menenagkan diri di kafe? Sepertinya tiga jam sejak pulang sekolah. Hah apa peduliku. Lagipula tidak aka nada yang mengkhawatirkanku saat ini. Yang penting adalah perasaanku sudah sedikit tenang. Walaupun pikiran negatifku tentang kejadian di sekolah belum sepenuhnya hilang.

Aku berjalan lemas memasuki rumah. Menjelajahi setiap ruangan dan tidak ku dapati satu orang pun disana. Pasti mereka sedang berpesta di kantor untuk merayakan natal, batinku menebak. Dan ternyata dugaanku benar karena setelah itu aku mendapati ada secarik note yang tertempel di lemari es dapur.

‘Yoongie, aku minta maaf. Ibu dan ayah harus menghadiri pesta perayaan natal di kantor ayah. Dan kakakmu sepertinya akan merayakan pesta natal juga dengan kekasihnya malam ini. Kau jaga rumah baik-baik ya. Ajak saja teman-temanmu untuk datang ke rumah jika kau mau.

Love,

 

Mom‘

Huft. Aku menghembuskan nafas kasar. Selalu seperti ini. Dan natal tahun ini sama seperti natal tahun kemarin. Tidak ada yang spesial. Bahkan menyakitkan. Oh santa, apakah ini kado yang akan kau berikan kepadaku? Sungguh menyedihkan. Sudah dua kali aku tidak merayakan natal dengan keluargaku. Namun itu tidak menjadi masalah. Karena masalahku saat ini adalah mengapa seorang sahabatku tega berkhianat dengan Choi Siwon—kekasihku? Sudah habiskah stok laki-laki di dunia ini?

-flashback-

Langkah kakiku berhenti mendadak saat mendapati pemandangan yang membuatku degup jantungku berhenti seketika. Nafasku tercekat. Ku urungkan niat untuk pulang dan lebih memilih untuk mengetahui kejadian selanjutnya. Rasanya ada banyak silet-silet kecil yang menyayat hatiku. Aku pun semakin mempertajam pendengaran dan penglihatan. Meski aku sedikit tidak percaya dengan apa yang aku lihat saat ini. Dan aku berharap bahwa ini adalah imajinasi liarku.

“Kau memilihku?“ Ujar Tiffany lantang seraya menunjukkan senyum cantiknya dihadapan Siwon—kekasihku saat ini. Kalimat itu jelas terdengar oleh kedua telingaku. Bahkan kedengarannya seperti diulang tanpa henti. Namun aku tidak mengerti apa maksudnya.

“Ya, tentu saja. Aku mempercayaimu untuk ini.“

Mempercayai untuk ini? Untuk apa? Tidak. Tidak mungkin. Perkiraanku pasti salah.

Tapi tiba-tiba pertahananku runtuh. Aku tidak percaya dengan apa yang ku lihat saat ini. Seorang Choi Siwon—kekasihku setahun belakangan ini—memberikan sebuah kotak merah hati berisi cincin kepada seorang sahabatku, Tiffany Hwang. Tak berapa lama, air mataku pun mengalir dengan bebasnya membawa rasa sakit yang menjalari hati. Tubuhku bergetar hebat. Telingaku panas mendengar kalimat mereka berdua yang terus terngiang-ngiang. Pikiranku pun mulai dikuasai oleh hal-hal negatif. Rasanya aku mulai kalap.  Oh Tuhan, aku pasti salah kan?

Anggapan baikku tentang Tiffany selama ini ternyata hancur begitu saja. Berbagai opini pengkhiatan tentang dirinya semakin bermunculan tanpa bisa dicegah. Beginikah akhirnya dari persahabatan yang sudah ku bangun dengannya sejak kecil? Aku masih tidak percaya Tiffany akan tega membunuh perasaan seorang sahabat karibnya. Dan Siwon? Rasanya pertanyaanku selama ini telah terjawab. Ternyata dia memang laki-laki bermuka dua seperti anggapanku selama ini.

Aku .. benar-benar telah salah menilai kebaikan mereka.

-flashbackend-

Aku merebahkan tubuhku di atas kasur. Masih terlalu enggan untuk beranjak mandi. Apalagi udara hari ini sangatlah dingin. Butiran-butiran salju nampaknya sudah memadati berbagai penjuru kota Seoul. Seperti para pasangan dan orang-orang lain yang semakin memadati pusat kota untuk merayakan natal. Tapi aku berbeda kali ini. Aku justru ingin berdiam diri di rumah. Menenangkan diri. Melupakan rasa sakit yang sedari tadi merayapi hati dan pikiranku. Dan tidak tertarik sedikitpun untuk merayakan natal tahun ini.

Drrt drrt drrt.

Ponselku yang berada di atas buffet bergetar. Seperti ada sebuah panggilan masuk. Aku meraba buffet mengambil ponsel lalu melihat sekilas nama yang tertera di layar. Cute Tiff—Tiffany Hwang. Melihat nama itu seketika membuat aliran darahku berdesir hebat. Aku sendiri tidak tahu mengapa tiba-tiba seperti ini. Dan tiba-tiba saja hatiku merasa nyeri. Mungkin ini adalah efek akibat kejadian tadi siang.

Tanpa menunggu lama, aku pun segera menekan tombol merah pada layar ponsel. Aku tidak ingin menjawab telepon darinya. Aku ingin dia menyadari kesalahan yang sudah diperbuatnya hari ini. Meskipun dari lubuk hati kecilku, sebenarnya aku tak tega melakukan ini.

Drrt drrt drrt.

Ponselku kembali berdering. Kali ini justru nama lain yang tertera pada layar. Choi Siwon. Melihat namanya saja sudah berhasil mengingatkanku pada kejadian tadi siang. Sakit dan perih. Hanya dua kata itulah yang sekarang mampu melukiskan perasaanku saat ini padanya. Kali ini aku juga menekan tombol merah. Aku juga ingin dia menyadari kesalahan fatal apa yang telah diperbuat.

Aku meletakkan kembali ponselku di buffet. Namun ku dengar berkali-kali ponsel androidku itu berdering karena panggilan masuk. Tapi tetap saja aku teguh pada pendirianku. Karena sekali saja aku merasa sakit, maka akan sulit untuk menyembuhkannya. Berulang kali aku berpura-pura tidak mendengar panggilan itu. Walaupun sepertinya hati kecilku berkehendak lain.

Sudah beberapa menit berselang dan tidak terdengar lagi dering dari panggilan masuk. Aku meraba ponselku kembali. Dan mendapati 3 sms dari Siwon dan Tiffany. Dengan gerakan cepat aku lansung membuka satu per satu pesan masuk itu. Tiba-tiba aku mendapat dorongan entah darimana untuk membuka seluruh pesan masuk itu.

From : Cute Tiff

Hai Yoongie, Merry Christmas. Kau pasti akan senang natal tahun ini. Tunggu saja kau pasti akan mendapatkan sebuah kejutan dari santa hihi. Love you, Yoongie.’

‘From : Siwonnie

 

Honey, kenapa telepon dariku tidak diangkat? Kau marah padaku? Tapi, karena apa? Aku benar-benar tidak tahu penyebabnya. Tunggu saja, sebentar lagi santa akan memberimu sebuah kejutan.‘

‘From : Siwonnie

Baiklah kalau kau benar-benar marah padaku. Aku minta maaf. Tapi aku benar-benar tidak tahu penyebabnya Maaf tidak bisa menemani malam natalmu tahun ini. Aku benar-benar sibuk. Merry christmas, honey.‘

Aku mencelos. Hancur sudah semua harapan indahku tentang natal tahun ini. Tidak akan ada kejutan indah di malam natal ini. Tidak akan ada yang spesial dari natal tahun ini. Natal tahun ini akan menjadi natal terburuk dalam sejarah hidupku. Cih, tapi apa peduliku. Toh semuanya juga sudah ku duga akan menjadi buruk seperti ini. Aku tidak peduli.

Aku menatap kosong ke arah langit-langit kamar yang penuh dengan bintang-bintang hiasan. Tampak sebuah tulisan ‘Merry Christmas,  Our Little Angel—Yoong‘ entah siapa yang membuatnya, aku tak tahu pasti. Kemudian aku meringis. Meringis merasakan betapa sakitnya akibat dikhianati oleh dua orang yang selama ini ku anggap baik. Tak terasa bulir-bulir air mataku kembali menetes melalui sudut-sudut mata bulatku. Ah berhenti menangis, Yoong. Aku benci harus terus-menerus menangis seperti orang bodoh begini.

Kenapa ini semua harus terjadi kepadaku, Tuhan? Ini benar-benar tidak adil! Aku mencerca dalam hati. Merasa tidak bisa menerima semua kenyataan pahit dalam hidupku. Aku merasa bodoh karena telah mudah dibohongi oleh orang yang selama ini ku sayang.

Drrt drrt drrt.

Ponselku kembali berdering. Dengan cepat aku meraihnya lalu menatap sejenak layar ponsel itu. 1 message from Siwonnie—begitulah tulisan yang muncul di layar ponsel. Aku kembali meringis kesakitan. Air mataku semakin berderai dengan derasnya seiring dengan perasaan sakitku yang semakin membuncah.

Aku menekan tombol ‘open’ pada layar ponsel. Mengalihkan sejenak pandangan pada jendela kamar yang terbuka. Memperlihatkan pertunjukkan ribuan butiran salju yang mulai turun dengan derasnya. Membayangkan jutaan tawa ribuan orang yang sedang merayakan natal malam ini. Membuat perasaanku semakin ciut. Betapa menyedihkan hidupku. Lalu aku mengusap air mata dengan punggung tangan kanan dan segera membaca pesan dari Siwon.

‘From : Siwonnie

Yoong, apakah kau marah karena kejadian tadi siang? Apa kau melihatku bersama Tiffany di taman sekolah? Hey, itu tidak seperti yang kau lihat. Kalau memang kau marah karena hal itu, aku benar-benar minta maaf. Aku akan meminta Tiffany menjelaskan semuanya. Ku mohon percaya padaku, Yoong.‘

Tidak perlu!

Tidak ada yang perlu diperjelas kembali.

Teriakku lantang. Aku tahu jawabanku ini tidak akan didengar oleh Siwon. Tapi setidaknya ada sedikit rasa tenang yang menyusup masuk ke dalam celah-celah hatiku. Dia mengakui kesalahannya. Dia mengetahui apa penyebabnya aku menjadi seperti ini. Namun aku masih belum bisa mempercayai semua kata-katanya.

Tiba-tiba ponselku bergetar kembali. Kali ini pesan masuk dari Tiffany. Aku menarik nafas panjang sebelum membaca pesan tersebut.

‘From : Cute Tiff

Aku benar-benar minta maaf, Yoong. Aku dan Siwon sadar alasannya kenapa kau tidak mengangkat telepon atau membalas sms dari kami. Maafkan kami. Itu tidak seperti yang kau lihat. Siwon menitipkan sebuah cincin berlian itu sebagai hadiah kejutanmu malam ini. Tapi ternyata kau salah paham. Aku berharap kau mau memaafkanku dan Siwon. Siwon akan segera datang, tunggulah.‘

Deg. Jantungku berdegup cepat membaca kalimat pesan Tiffany yang terakhir. Dia mengatakan bahwa Siwon akan datang ke rumahku sekarang juga. Ternyata aku telah salah paham tentang kejadian tadi siang. Aku mengusap air mata lalu segera tersenyum dan sesekali tertawa merutuki kebodohanku. Aku memukul pelan puncak kepalaku karena sudah terlalu cepat menuduh Siwon dan Tiffany berselingkuh.

Hatiku merasa tenang sekarang. Ternyata Siwon tidak seperti yang ku pikirkan selama ini. Aku pun segera mengambil ponsel dan meneleponnya. Namun satu detik .. dua detik .. tiga detik. Aku tidak mendapatkan jawaban sama sekali dari Siwon. Mungkin dia sedang dalam perjalanan menuju kemari.

Ting tong.

Tidak beberapa lama, terdengar suara nyaring bel—menandakan seseorang telah datang. Pikiranku lansung menebak bahwa yang datang adalah Siwon. Karena Tiffany sudah memberitahuku bahwa Siwon akan datang malam ini. Terima kasih Santa, kau ternyata memberikan kejutan yang luar biasa. Kejutan yang tidak pernah ku duga sebelumnya. Ampuni aku karena telah berburuk sangka kepadamu. Aku mencintaimu, Santa.

“Siwon, akhirnya kau ..“

Namun betapa terkejutnya aku yang tampak saat pintu terbuka bukanlah sosok seorang Choi Siwon. Melainkan sosok Tiffany yang sedang menangis. Tanpa menunggu ucapanku selanjutnya, Tiffany tiba-tiba lansung berhambur memelukku. Aku semakin bingung dengan semua ini. Dahiku berkerut seraya menatap Tiffany intens. Sebenarnya ada apa ini?

“Tiff, ada apa?“ tanyaku seraya menepuk-nepuk punggung Tiffany—berusaha menenangkannya. Mungkinkah dia menyesal akan perbuatannya tadi siang? Atau karena masalah lain? Ah aku benar-benar tidak mengerti.

Tiffany melepaskan pelukannya. Kedua bola mata indahnya menatapku dengan tatapan penuh kesedihan. Apakah ini bagian dari skenario kejutan? Mungkin. Nafasnya tersengal-sengal seperti kelelahan setelah berlari dan karena menangis. Tapi untuk apa dia berlari ke rumahku? Tidak perlu berlari pun dia juga akan sampai dengan selamat disini. Karena rumah kita hanya berbeda 3 rumah. Aku penasaran. Ada yang berbeda dari Tiffany malam ini. Matanya benar-benar menunjukkan kesedihan.

“Siwon .. siwon ..“ belum selesai ucapannya, dia kembali menangis sesenggukan.

Aku mengerutkan dahi. Hatiku lansung menjadi sedikit gusar.“Ada apa dengan Siwon? Berhentilah menangis, Tiff. Kau semakin membuatku penasaran.“ Kataku seraya memegangi kedua bahunya yang sedikit bergetar. Siwon baik-baik saja, kan? Tanyaku dalam hati.

Tiffany menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya dengan tersendat-sendat.“Siwon .. dia .. telah pergi .. untuk selamanya, Yoong.“

Dum. Tiba-tiba tubuhku kembali mematung hebat sama seperti saat melihat kejadian tadi siang. Kepalaku seperti mendapat pukulan benda tumpul bertubi-tubi. Keras dan menyakitkan. Begitu juga kedua telingaku yang seperti mendengar suara ledakan dalam pikiranku. Aku tidak mampu mengedipkan kedua bola mataku walau sedetik saja. Perasaan nyeri itu kembali membuat dadaku sesak. Aku benar-benar membutuhkan asupan oksigen saat ini. Rasanya sangat sesak. Dan lagi. Air mataku kembali menetes tanpa bisa dibendung.

Tidak. Tidak mungkin. Siwon sudah berjanji untuk datang ke rumahku malam ini. Pasti Tiffany hanya bercanda.

“Kau bohong kan, Tiff? Ini hanya bagian dari skenario kejutan untukku, kan? Katakan kalau kau sebenarnya berbohong, Tiff! Katakan!“ bentakku kepada Tiffany yang memandangku sambil terus menangis. Aku melihat jelas Tiffany menggelengkan kepalanya.

Inikah kejutan yang akan kau berikan padaku, Choi Siwon?

Air mataku menetes perlahan namun silih berganti dengan cepat membasahi kedua pipiku. Aku memejamkan mata merasakan betapa pedihnya kejutan yang diberikan Tuhan untukku di malam natal ini.

Seburuk apa diriku hingga harus menerima semua kepedihan ini, Tuhan?

Aku membencimu, Santa. Aku benci akan semua kejutan bodohmu!

Aku berteriak kencang. Tidak peduli akan didengar oleh siapa teriakan gilaku ini. Ku rasakan kakiku yang mulai melemah dan sepertinya tidak mampu lagi menopang berat tubuhku. Tenagaku seperti terkuras habis hari ini. Aku benar-benar lelah menerima semua kejadian hari ini. Dengan sekejap, aku pun jatuh. Semuanya berubah gelap setelah sebelumnya aku mendengar suara samar-samar Tiffany yang memanggil-manggil namaku. Dan setelah itu aku tidak mengetahui apa-apa. Gelap dan sunyi.

-flashback-

 

Author P.O.V

“Kau saja yang menjelaskan padanya, Tiff. Aku sedang dalam perjalanan menuju rumahnya. Kau bisa mengatasi semuanya, kan?“ Ujar Siwon seraya mengapit ponselnya di antara bahu dan telinga kirinya.

“…..“

“Ya sudahlah. Kalau begitu biar aku saja yang menjelaskannya. Jangan lupa kau bawakan cincinnya saat aku sudah sampai di depan rumah Yoona. Ini pasti akan menjadi kejutan yang tidak pernah diduga olehnya. Aku yakin dia akan terharu melihatnya.“

“…..“

“Ya ya, baiklah. Sampai jumpai nanti.“

Bruk.

Tanpa sengaja laki-laki itu menjatuhkan ponselnya hingga ke bagian rem mobil. Ia tidak sempat memegangi ponselnya karena lalu lintas yang cukup padat di malam natal ini. Dengan hati-hati akhirnya Siwon pun merogoh bagian bawah kakinya namun hasilnya nihil. Ponselnya malah seperti terasa jauh dari jangkauan kedua tangannya. Ia berusaha keras menggapainya dan sesekali mengacuhkan jalanan yang berada di depannya.

Tin .. tin .. !

Tiba-tiba terdengar suara klakson truk yang amat kencang. Siwon mendongakkan kepala dan panik saat mendapati sebuah truk yang melaju cepat ke arah mobil sedannya. Buru-buru Siwon membanting setir mobilnya. Namun nasib baik tidak berpihak padanya hari itu. Truk bermuatan barang-barang elektronik tersebut justru menabrak hebat mobil Siwon dan melindasnya. Seketika itu juga Siwon menghembuskan nafas terakhir karena terhimpit badan mobil yang rusak berat. Sedangkan sang sopir truk tidak diketahui penyebabnya.

Ponselnya kemudian berdering. Sebuah panggilan masuk dari Yoona terpampang jelas di layar ponsel android laki-laki itu. Namun, waktu sudah tidak dapat diulang kembali. Ponsel itu terus berdering tanpa ada yang menjawabnya. Menjadi saksi bisu kecelakaan maut yang merenggut nyawa seorang Choi Siwon.

-endflashback-

 

Beberapa hari kemudian.

02 Januari 2010.

Aku memandangi butiran salju yang turun perlahan kemudian menggenang di pelataran rumah. Mengingatkanku pada kejadian musim salju tahun lalu. Pikiranku pun kini melayang akan sosok setahun lalu itu. Sosok yang berarti banyak dalam menghiasi warna-warni hidupku. Sosok yang telah mengajarkanku arti kedewasaan. Sosok yang telah mengajarkanku banyak hal akan indahnya hidup ini. Namun sosok itu kini telah tiada. Sosok itu telah pergi untuk selamanya. Dan malam natal kemarin adalah natal terpahit dalam hidupku. Seolah-olah kematian Siwon adalah tamparan hebat atas kebodohan pikiranku.

Seandainya .. seandainya. Ah kata-kata itu selalu bermunculan dalam benakku. Terlalu banyak kata seandainya yang ingin ku ucapkan setelah kehilangan Siwon. Semua yang terjadi tidak mungkin dapat terulang kembali. Yang terpenting adalah belajar dari kesalahan masa lalu untuk memperbaiki diri.

Aku teringat oleh kata mutiara yang Siwon ucapkan setahun yang lalu,“Tidak ada yang perlu disesali. Kita hanya perlu mengambil nilai baik dan mempelajarinya untuk bekal masa depan. Karena sebenarnya masa lalu adalah guru kita yang sesungguhnya.

Aku tahu betapa bodohnya aku waktu itu karena telah menuduh Tiffany dan Siwon berselingkuh. Bodoh. Hingga menyebabkan seseorang kehilangan nyawanya di malam yang seharusnya penuh kebahagiaan. Aku telah salah menilai mereka yang justru memperlakukanku dengan sangat baik. Namun semua itu sudah terjadi. Aku juga tidak bisa terus-terusan menyalahkan diri sendiri. Bagaimanapun juga aku harus bangkit.

“Yoong ..“

Suara itu kembali memanggilku. Suara dari seseorang yang sangat ku kenal. Suara yang kini telah pergi meninggalkanku sejak malam natal tahun lalu. Namun entahlah, aku masih bisa mendengar jelas bahwa suara itu selalu menyebut namaku. Atau mungkin ini hanyalah halusinasiku saja yang terlalu berkhayal bisa menempatkan kembali sosoknya di dunia ini.

“Yoong, apa kau bahagia?“ tanyanya.

Aku mencelos. Lagi. Dadaku terasa sesak. Sejujurnya .. aku masih merindukan suara itu. Suara Choi Siwon.

Air mataku pun meleleh sembari terus memandangi butiran salju yang kini kian turun deraas. Berbagai memori masa lalu dengan Siwon menguar di dalam pikiranku. Aku tersenyum pahit. Kemudian mengusap air mata yang turun dengan punggung tangan kananku.

Bagaimana bisa aku melupakan semua kenangan itu, Siwon? Aku tidak bisa. Semua kenangan itu terlalu indah untukku. Kau .. akan terus hidup di dalam hati dan pikiranku. Meskipun aku tahu betul ragamu sudah tidak ada disini.

Aku menarik nafas panjang kemudian menjawab pertanyaan itu,“Bagaimana bisa aku mengatakan bahwa aku bahagia tanpamu disini, Siwon? Aku tidak bisa membohongi hati kecilku. Aku tidak ingin menjadi munafik dengan mengatakan bahwa aku baik-baik saja dan aku bahagia. Aku tidak bahagia, Choi Siwon.“

Tapi kau harus tahu satu hal. Aku tidak akan melupakanmu. Tetaplah berada disisiku, Siwon. Meskipun aku tidak bisa melihat bahkan menyentuhmu lagi. Tapi dengan begitu, aku yakin aku akan bisa bahagia. Meski tanpa ragamu disisiku.

Selamat tinggal Choi Siwon. Aku menyayangimu dan aku tidak pernah menyesal pernah mengenal dan jatuh hati pada seseorang seperti dirimu. Terima kasih telah memberikan berbagai kenangan indah yang berharga. Dan satu hal lagi, aku akan selalu berusaha mewujudkan janji kata-kataku kepadamu. Your lover—Im Yoona.

-flashback-

“Bagaimana kalau suatu saat aku pergi untuk selamanya, dear? Apa kau akan melupakanku?“

“Apa yang kau katakan? Tentu saja tidak! Aku tidak akan bisa melupakanmu.“

“Begitukah? Kalau begitu berjanjilah padaku untuk tetap tersenyum walau aku sudah tidak bisa lagi berada disisimu.“

Aku tertegun. Kemudian memaksakan seulas senyum dan berjanji,“Ya, aku berjanji akan tetap tersenyum walau kau sudah tidak ada lagi disisiku, Choi Siwon.“

 

-end-

28 thoughts on “[Vignette] Black Christmas

    • Iya author juga ikut sedih sebenarnya, gak tega waktu buat fanfic ini /plak xD/
      Lain kali aku buat fanfic happy ending deh. Terima kasih komentarnya ya🙂

    • Iya sudah kelihatan banget emang dari judulnya kalau sad ending😀 Wah terima kasih banyak ya, tunggu fanfic selanjutnya bakalan happy ending kok.

  1. Huft,,
    saat lagi seru2nya baca ceritanya, apalagi pas nunggu kejutan yang akan di berikan siwon oppa buat yoona eonni, aku pikir pasti bakalan romantis banget.
    Eh gak taunya siwon oppanya ninggal, jadi gak semangat lagi deh aku bacanya..
    Karena aku gak terlalu suka kalau ff itu khususnya yoonwon couple berakhir dengan sad ending.
    Walaupun ceritanya sangat sedih banget aku suka, tapi asalkan berakhir happy ending..

    • Iya mian banget chingu, soalnya imajinasinya waktu itu mikir sad ending terus :3 Fanfic selanjutnya bakalan happy ending kok, dijamin deh. Terima kasih ya buat komentarnya🙂

    • Wah terima kasih chingu. Oke oke nanti fanfict selanjutnya gak bakalan sad ending lagi biar readersnya gak pada ikutan galau hehe😀 Terima kasih komentarnya.

  2. Sad end…
    Sedih banget, nyesek nyesek.
    Thor, aku suka cerita sad tapi kurang sukak jika sad ending. Tapi aku tetep sukak kok sama ni cerita. Tetep semangat thor. Ditunggu ff yg lain. Hwaiting

    • wah authornya malah suka yang sad end gitu hehe, gomawo ya chingu ^^ gomawo juga sudah baca dan ninggalin komentar, sampai ketemu lagi di ff selanjutnya yaa🙂

  3. Hallo aku reader baru hehe salam kenal thor :))
    Hiks sedih bangeet cerita nyaa.. knpa hrus sad ending? Kirain yoonwon bakalan baikan lagi tau nya siwon oppa keburu pergi :((
    Daebaaakkk author ditunggu ff yg lainnya yaa kalo bsa cast nya yoonwon lagi hehe…
    Gomawo😀

    • hai chingu, salam kenal juga ya ^^
      iya nih chingu lagi pengen buat cerita sad ending soalnya, makanya jadi begini😦
      oke oke chingu, pasti buat cast yoonwon lagi kok nanti. gomawo ya sudah baca sama komentarnya ^^/

  4. sad ending . dr judulnya sih udh kliatan klo bkalan sad ending,, tp mnrut ku ff kmu bgus kok, alurnya jg menarik, yg bca smp ikut kebwa suasana, sedih bcanya. bhasanya pun bgus. mdh dimnerti..
    buat ff yoonwon lg ya author, tp yg happy ending ya .. gomawo

  5. Aish sedih ih.. Ternyata itu hanya salah paham.. Kenapa di sini banyak sekali ff yg sad ya.. Jadi gk kuat bacanya hejeeehhe

  6. Anyeong…baru buka website ini.. Dan alhasil tak mau klik close..semakin penasaran dengan ff di website ini..daebak..tp sedih banget kenapa sad ending

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s