Memorable 2

Memorable

Judul         : Memorable 2

Author      : HyukgumSmile

Genre        : Romance, Family

Rating       : PG-17

Main Cast  : Im yoona, Tiffany, Cho kyu hyun, Choi siwon, Im nara

“bertemu dalam keadaan seperti ini benar-benar menyenangkan. Benar kau sedang tidak sibuk yoon?”

Yoona menggeleng sekali, menimpalinya dengan sebuah senyuman manis yang sempurna.

“jadi, bisa kau ceritakan sesuatu?”

Yoona melirik yeoja itu tak mengerti “sesuatu? Sesuatu seperti apa?”

Tiffany tertawa renyah. Binar matanya tersembunyi dalam lengkungan garis mata yang manis dan legam. “yoon, kau pergi hampir lima tahun. tidak ada yang ingin kau ceritakan padaku?”

Yoona tertawa, membalas candaan tiffany yang –entahlah, mungkin- terdengar lucu “aku pergi untuk kuliah. Jadi, perlu aku ceritakan bagaimana sulitnya memperlajari bahasa inggris?”

Tiffany kembali tertawa. Siapapun tau bahasa inggris seperti apa yang tiffany gunakan. Dan yoona adalah yang paling tau mengapa logat korea yang terlalu kentara itu tak pernah tiffany lupakan dalam kesehariannya.

Yoona tertawa menimpali, meski sungguh beribu kecaman dalam hatinya berteriak kuat agar dia segera pergi. yoona melirik nara yang masih terlihat asik dengan mainannya. Ada taman bermain anak dipojokan cafe, dan tiffany sengaja memilihnya agar nara tak perlu repot-repot merengek pulang saat mereka sedang melangsungkan reuni mendadak seperti ini.

Tapi sialnya, yoona benar-benar perlu mengumpati inisiatif itu. karena nyatanya, nara memang tak lagi perduli akan pulang semalam apa. asalkan kolam bola dan perpustakaan dongeng kecil disana tetap buka, maka ia akan dengan senang hati menunggu yoona untuk memanggilnya.

Yoona melirik bocah kecil itu sebentar, lalu senyumnya mengembang sempurna ketika tawa nara terdengar jelas menggema setelah menuruni perosotan yang tingginya kurang lebih hanya sebatas perut orang dewasa.

Nara memang terlalu sering berada didalam rumah. Pekerjaan yoona yang terlalu padat membuatnya tak memiliki banyak waktu untuk membawa nara bermain setiap saat. Karena itu yoona tak terlalu membatasi gerak gadis kecilnya jika telah bersentuhan dengan televisi ataupun elektronik lain yang bisa mengalihkan nara dari kalimat ‘mom, aku bosan’.

Yoona benci kalimat itu. seolah-olah ia adalah ibu yang gagal dan tak pernah mmemberikan waktunya untuk nara. Meskipun, ya, yoona memang begitu.

Pun, itu juga menjadi alasan nara untuk dekat dengan jessica. Nara anak yang mudah beradaptasi, meski nara bukanlah anak yang terlalu ramah pada orang yang baru saja ia kenali. Tapi anak itu tau, ia harus bersikap baik pada siapapun yang ia ketahui mendapatkan senyuman dari eommanya.

Nara tau, siapapun itu, asalkan eommanya tersenyum, orang itu tentu adalah orang yang baik.

“yoon?”

Yoona berpaling cepat, merubah mimik wajahnya yang terlalu bersinar menjadi lebih normal untuk pertemuan mereka. “ya?” sahutnya.

Tiffany tampak menyeruput ice bubble miliknya sekilas lalu mata bening yeoja itu beralih pada yoona dan sebuah senyuman jahil miliknya mengembang.

“jadi, bisa kau ceritakan siapa saja yang pernah mendekatimu disana?”

Yoona tersentak. Dan tiba-tiba suasana berubah menjadi lebih hening. Yoona tak mengerti, tapi yang pasti tawa ceria nara adalah yang paling jelas ia dengar. Jemarinya kemudian bergerak kaku. Pria?

Ya, pria. Yoona hanya membutuhkan jawaban singkat, lalu semua kebekuan ini akan lenyap. Seharusnya begitu. Namun nyatanya, yoona tak melakukan itu.

Matanya refleks menoleh pada kyu hyun. lalu mata namja itu mengikatnya untuk waktu yang lama. Yoona jelas tau jika kyu hyun ingin ia berkata tidak. Bertahun-tahun bersamanya membuat yoona mengerti setiap isi kepala namja itu tanpa perlu ia ungkapkan.

Yoona gamang. Tepian laut itu kini menyapanya dengan ombak yang ringan. Lembut berbuih dengan suara merdu yang menenangkan. Lalu sepersekian detik berlalu, yoona ingat, laut itu bukan hanya indah.

Laut itu kejam. Dan ujung perkara pergolakan batinnya tertuju pada dasar laut yang kelam. Yoona benci laut. Sebesar ia membenci’nya’.

“yoon?”

“oh, ya tiff?” yoona beralih menatap tiffany. Wanita itu terlihat antusias dan menunggu jawaban yoona dengan sabar.

“ada lelaki yang sedang mendekatimu?” tanyanya kembali.

“emm.. itu… sebenarnya.. aku tidak__”

Lalu dering ponsel menghentikan segalanya.

__

“ne”

“…..”

“arraseo. Aku tau”

“…..”

“yak! seharusnya aku yang berkata seperti itu!!”

“…..”

“sudah. Baru saja”

“…..”

“dia sedang bermain. Bagaimana penerbanganmu?”

“…..”

“kau terus berceloteh dan tidak memberikanku kesempatan untuk bertanya”

“…..”

“hmm, arraseo”

“…..”

Yoona menutup ponsel lalu menatapnya tersenyum. Namja itu baru saja sampai dan ia perlu beristirahat agar esok tak terlalu melelahkan untuknya menyelesaikan pekerjaan.

Yoona terdiam sesaat, udara luar cafe benar-benar berbeda. Yoona dapat merasakan betapa berada didalam adalah penyiksaan yang berat untuknya. Terasa seperti tak ada oksigen dan ia membutuhkan beribu usaha untuk menarik sehela nafas.

Didalam memang berat. Terlalu berat untuknya yang belum siap menerima kenyataan.

Ia memejamkan mata, merasakan angin seoul yang mulai mendingin menerpa kulit pipinya lembut. Menerbangkan helaian rambut tebalnya dengan indah. Lalu setelahnya melirik arloji dan semakin tersenyum.

Sudah malam, sebaiknya ia jadikan itu alasan untuk tak lagi berada disana.

Yoona berbalik, hampir lima belas menit berbicara membuatnya harus cepat kembali jika tak ingin nara mengamuk karena merasa ditinggalkan.

Yoona berjalan pelan, hentakan kakinya terasa teratur dan seirama. Tak berbeda jauh dengan detakan jantungnya yang mulai kembali normal.

Jemarinya terangkat lalu decitan pintu cafe menyadarkan yoona dari ketenangan yang sarat bahaya. Matanya membesar seketika dan tubuhnya,, oh sial! Mengapa harus selalu ada kebekuan?!

Namun aneh, yoona merasa memiliki jutaan kekuatan untuk segera bergerak. Hentakan kakinya bergantian dengan detik yang berselang cepat. irama nafasnya tak lagi sama dan yoona tau seberapa buruk ekspresi yang ia miliki saat ini.

“andwe!!” pekiknya.

Yoona berjalan lebih cepat. Dalam gulungan waktu yang terpaut singkat, jemari yeoja itu segera menarik nara dengan cepat. wajahnya memucat. Dan pelukannya mengerat.

“mommy?”

Nara menatapnya tak mengerti. Sementara yoona hanya berpaling pada seseorang yang baru saja akan menggendong putrinya. Bibirnya mengatup. Tak ada suara yang keluar. Yang jelas, yoona ketakutan. Dan nara bisa merasakannya.

“mom, gwenchana?”

“yoon, ada apa?”

Tiffany datang setelahnya. Yeoja itu menyentuh bahu yoona lembut dan gerakan tak terduga itu timbul disana. Yoona tak ingin disentuh. Bahkan jemari tiffany yang dulu begitu ia perlukan sekarang tak lagi membuatnya nyaman.

Ia berdiri cepat, menggendong nara lalu meraih tas bawaannya. “aku harus pulang” yoona berlalu seperti itu saja.

Tiffany menatap bayangannya tak mengerti. Ada beribu pertanyaan yang ingin sekali ia tanyakan, dan yang pertama terlontar adalah,

“kyu, kau apakan dia?”

Sementara kyu hyun hanya terpaku. Tak menjawab pertanyaan tiffany dan terdiam dalam keterkejutan yang tiba-tiba.

__

“mom gwenchana?”

Nara menatap eommanya resah. Didalam lift menuju lantai apartemen mereka, yoona tak lagi bersuara. Bahkan sejak terakhir kali ia menggendong nara keluar dari cafe.

Nara bukan pemikir yang handal, pengalaman hidup tak membuatnya mengerti tentang apa yang terjadi pada eommanya. Tapi nara tau, eommanya tidak sedang dalam keadaan yang baik. Dan yang perlu nara syukuri adalah, ia pembaca mimik wajah yang handal.

“mommy??” nara kembali memanggil yoona. Kali ini dengan nada yang lebih putus asa dan pelan.

Nara berhasil, setelah pintu lift terbuka, yoona menariknya keluar lalu tak lama berjongkok dihadapannya dan memeluknya erat.

Nara bisa merasakannya. Bagaimana yoona tengah gusar. Dan terlalu banyak fikiran yang bersarang didalam otaknya.

Eommanya selalu seperti itu. tak akan mengeluarkan sepatah katapun jika fikirannya terlalu meresahkan.

“mom,__”

“berjanjilah padaku jangan pernah melakukan yang seperti itu lagi”

Yoona melonggarkan pelukannya, lalu mata itu menumbuk tepat pada manik mata nara yang hitam berkilat “berjanjilah” pintanya lagi.

Nara mengerjap tak mengerti “mom, aku tidak tau harus menjanjikan apa”

Yoona menatap gadis kecilnya memelas. Benar, nara tak benar-benar pintar untuk mencerna situasi ini. ia tak akan tau apa dan bagaimana perasaan yoona saat ini. dan sekali lagi, ia juga tak akan mengerti apa yang yoona bicarakan.

Yeoja itu menunduk. melepaskan desahan sarat akan keputus asaannya. Menyadari jika ia terlalu bodoh dan emosional.

“berjanjilah pada eomma untuk tak lagi berdekatan dengan siapapun yang tidak kau kenal”

Nara mengerjap “seperti?”

“seperti…” kemudian yoona mengedarkan mata kepenjuru ruangan. Kemanapun, asal tak menatap mata nara yang meminta penjelasan.

“seperti… seperti yang kau lakukan sebelum ini” jawabnya.

Yoona merasa terpukul. Mata nara menyatakan jika ia tak terlalu setuju. “tapi mom, ahjusii itu__”

“kau tak mengenalnya” sambung yoona.

Nara kembali menatapnya curiga “mom, dia temanmu. Jadi__”

“berjanjilah, im nara. Sekali ini saja jangan membantah!”

Gadis kecil itu diam lalu mengangguk dalam desiran rasa kecewa yang mengendap perlahan. Yoona tak pernah membentak nara. Seperti apapun pembangkangnya nara, yoona tak pernah sekalipun berfikir untuk memberntaknya. Setidaknya belum, sebelum hari ini terjadi.

__

Paginya berlalu terlalu dingin. nara tak mengucapkan kalimat apapun usai terjaga. Gadis kecil itu hanya berjalan meninggalkan yoona menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

Yoona tau, nara tentu terluka. Ia sadar, dan bodohnya hanya sepersekian detik setelah suara keras miliknya menghujam pendengaran nara.

Malam itu, usai bentakan yoona yang akhirnya membuat nara tak lagi mampu mengeluarkan suara, yoona dan gadis kecilnya justru berada dalam keadaan yang berbeda. Nara tak lagi terlihat antusias untuk mencampuri masalah yoona, sementara yoona sendiri harus merenung mengenai alasan macam apa yang mendasari pembenaran atas sikap kasarnya pada nara.

Gadis kecil itu tak mengerti apapun, dan yoona tak berhak membentaknya meski dengan alasan apapun. Ini masalahnya, nara tak pernah terlibat didalamnya. Dan harus yoona sadari, nara justru adalah buah dari masalah yang ia perbuat.

Yoona mendesah putus asa. Matanya memejam erat menahan linangan air mata lalu berdiri setelah suara gemericik shower menumbuk indra pendengarannya.

Well, ini masih pukul enam. Dan nara tak pernah mandi sepagi ini, kecuali jika ia sedang ingin melunturkan emosi ‘anak kecil’ miliknya.

Yoona menyiapkan dua porsi omelet. Makanan kesukaan nara jika akhir pekan datang. Ia akan meminta seporsi besar agar dapat bertahan selama ia menonton acara kartun kesukaannya.

Nara keluar ketika dua porsi omelet itu siap. Masih mengepulkan asap tebal sebelum akhirnya bersarang pada porselen diatas meja makan. Nara mendekat. Terlihat mendudukkan diri pada kursi meja makan lalu menyesap susu putih kesukaannya.

Ini masih pagi, acara kesukaannya belum akan ditayangkan hingga lima belas menit kedepan. yoona mengikutinya untuk duduk. Menyesap susu coklat miliknya lalu tersenyum manis.

Yeoja itu perlu mendesah kecewa. Tatapan datar nara belum berubah dan seperti memang tidak akan berubah hingga.. entah kapan.

“selamat pagi, bagaimana tidurmu?”

Nara melirik yoona terlalu acuh. Emosi gadis kecil itu mulai mereda, tapi tak menyurutkan niatnya untuk mendiami eommanya hingga beberapa waktu kedepan. nara sakit hati, dan orang-orang perlu tau jika ia sedikit –sungguh, hanya sedikit saja- pendendam.

“baik” sahutnya datar.

Yoona tersenyum masam. “tumben sekali mandi pagi” ujarnya menyambung pembicaraan. Yoona benci makan dalam keadaan sepi, dan nara tau itu.

Nara hanya meliriknya sekilas “habiskan makananmu mom, aku harus menonton”

Yoona tak mampu menyembunyikan kegusarannya. Nara terlihat terlalu dewasa. Seharusnya yoona menjewer telinga mungil gadis itu karena terlalu lancang. Tapi nyatanya, nara memang seperti itu.

Nara anak yang sakartik. Ia tak ingin berbasa-basi jika tidak menyukai suatu keadaan bahkan jika itu seseorang sekalipun.

Yoona hanya mengangguk paham. Ia tersenyum kemudian melahap omelet porsi kecil miliknya dalam diam. Usai makanan itu habis, nyatanya nara memang berajak. Membawa sepiring omelet miliknya menuju ruang televisi.

Gadis itu kembali dan membawa sisa susu vanilla kesukaannya. Bunyi televisi menggema. Dan yoona tau jika ia benar-benar tak dapat berbicara pada nara sebelum akhirnya acara itu habis.

Yoona melirik sebentar meja makan. Lalu matanya beradu pada cahaya ponsel yang menyala terang. Ia berjalan, cukup cepat hingga akhirnya mendesah saat nama itu tertera disana.

“im here”

“hai yoon! Kau berharap jika aku pangeranmu?”

“berhenti membual, jess”

Suara tawa renyah terdengar dari seberang sana. Yoona bersumpah akan menyumpal mulut sahabatnya itu jika saja ia tak terlalu jauh untuk melakukannya.

“bagaimana kabarmu?”

“baik. Jauh lebih baik tanpamu”

“ckck. Kau masih perlu banyak belajar. Bukan seperti itu caranya mengungkapkan rasa rindu”

Lalu mata yoona menyipit menahan senyuman. Jessica mengenalnya dengan baik, dan yoona senang mengetahui fakta itu.

Tidak memiliki siapapun saat berada disana membuatnya merasa dikucilkan. Hingga akhirnya jessica datang dengan aksen korea yang mengejutkan. Wanita itu asli korea, anehnya yoona tak sadar hingga kekonyolan itu mereka jadikan awal dari persahabatan mereka.

“kabarmu sendiri bagaimana?”

“baik. Dan, yah, aku merindukanmu. Bagaimana?” tanyanya.

Yoona kembali tersenyum “apanya? Jangan berharap jika aku akan mengatakan hal yang sama”

Mereka tertawa bersama. Hampir tiga dua bulan tak bertemu membuat yoona terlalu merindukan sosok tidak terlalu tinggi namun menggemaskan itu.

Ah, tidak. Jessica tentu tidak betul-betul merindukannya. Ia terlalu sibuk dengan kekasih barunya hingga terkadang yoona merasa diabaikan.

“jangan katakan jika kau sedang mengumpati diriku dalam diam”

“ya. Aku sedang melakukannya!” yoona berjalan menuju dapur “bagaimana kabar kris?”

Jessica terdiam untuk sesaat “ya! Mengapa tiba-tiba membahasnya?!”

Berani bertaruh jika pipi putih susu jessica tengah memerah padam saat ini. tubuhnya terlalu sensitif jika telah mendengar nama pria tinggi yang baru saja memintanya untuk menjadi kekasih itu beberapa bulan yang lalu.

“wae? Aku hanya menanyakan kabarnya. Apa yang salah?”

“ani. Hanya saja aku.. oh ya! Mana putri kecilku?”

Yoona mendelik kesal. Kebiasaan buruk jessica, mengalihkan pembicaraan jika ia tidak terlalu menyukainya. Tapi mau bagaimana lagi, yoona tak bisa memaksanya untuk terus membicarakan kris. Ini bukan kapasitasnya yang berlabel hanya sebagai seorang sahabat.

“ra-ya! Ingin berbicara dengan aunty jess?”

Yoona dapat mendengar gemuruh lelarian kecil menuju arah dapur. Kemudian nara datang dengan senyum cerah yang mengembang.

“aunty jess? Serious, mom?”

Yoona mengangguk dan tersenyum. Setidaknya nara tak lagi marah padanya. Itu saja sudah cukup  untuk pagi ini.

__

‘Jangan!’

Kyu hyun tertegun dalam diam. Isi kepalanya sedang tidak fokus. Dan ia sungguh ingin menghentakkannya jika ia bisa.

Bayangan yoona terus menghantui pikirannya sejak malam itu. apa yang salah sebenarnya? Oke, mungkin kedatangan yoona adalah masalah pertama. lalu yeoja itu datang di acara pertunangannya adalah masalah kedua.

Usai itu, yoona menghindarinya. Untuk yang satu ini, tentu adalah masalah besar. Dan yang terakhir, yoona tak ingin keponakannya disentuh.

Well life!

Apa kyu hyun terlalu bervirus untuk anak kecil? Maksdunya, ia juga pernah mengurus anak ahra noona. Dan ia cukup baik –menurutnya-. Atau setidaknya, yoona tak perlu menatapnya seolah ia akan membawa kabur gadis kecil itu saja.

Berkali-kali hal-hal kecil yang sebenarnya sederhanya terasa begitu janggal untuknya. Hingga akhirnya, pagi itu kyu hyun memutuskan untuk melajukan kendaraannya menuju kediaman cheongdam.

Apartemen yoona ada pada lantai dua belas. Tapi bahkan untuk turun dari mobil saja rasanya terlalu berat sekarang.

Hampir satu jam ia habiskan hanya untuk melihat apakah tujuan dan maksudnya sudah benar untuk mendatangi yoona? Dan lagi, tatapan yeoja itu tak lagi sama seperti saat terakhir kali kyu hyun memandangnya.

Kyu hyun kehilangan yoona-nya lima tahun lalu. dan setelah terlalu banyak waktu terlewati, yoona kembali dengan wujud pendewasaan diri yang lebih kentara.

Banyak yang berubah darinya. Termasuk sorot mata teduh yang dulunya, selalu menjadi hal yang perlu kyu hyun banggakan. Yoona pernah memberikan tatapan itu hanya untuknya. Dan kyu hyun juga ingat bagaimana akhirnya senyum miris yoona terpaut ketika kyu hyun berkata,

‘maaf yoon, aku baru saja akan memberitaumu kabar jika.. aku dan tiff, memutuskan untuk bersama’

Yoona mengutarakan perasaannya, tepat disaat kyu hyun baru saja sadar jika ia harus memiliki tiffany.

Persahabatan mereka memang tak berubah. Yoona tetap menjadi satu-satunya manusia yang harus ada disaat seperti apapun. Kyu hyun tak pernah ingin pergi tanpanya, kecuali dalam beberapa moment yang hanya perlu ia ingat bersama tiffany.

Anehnya, yoona pun tak berubah. Yeoja itu tetap terlihat seperi biasa meski seharusnya, ia menunjukkan sinar kekecewaan miliknya setelah kejadian itu. nyatanya tidak. Dan hal seperti itu memang tidak pernah benar-benar terjadi.

Akhirnya kyu hyun memutuskan untuk maju. Langkah kakinya menyorot marmer mengkilat apartemen dengan tegas. Dengan langkah besar berjalan menuju lift dan mencari keberadaan alamat yang baru saja ia curi dari note tiffany, malam lalu.

__

“iya sebentar!!”

Yoona melirik nara yang masih terlalu sibuk dengan ponsel miliknya. Yeoja itu kemudian mematikan air pada wastafel dan mengeringkan jemarinya dengan cepat.

Jemari itu beralih untuk merapikan tatanan rambutnya.

“sayang, jangan kemana-mana. Eomma akan bukakan pintu”

Ia mengecup kening nara panjang sebelum berakhir dengan anggukan lucu dari putrinya. Yoona akhirnya berjalan maju. Aproan birunya sudah terlepas hingga saat ini ia hanya menggunakan tshirt longgar panjang hingga hampir menutupi hotpants miliknya.

Bel berbunyi untuk yang ketiga kalinya. Membuat yoona terburu-buru hingga lupa jika ia harus selalu mengecek intercom apartemen.

“ne, siap__”

Yoona terdiam. bibirnya seketika menjadi ribuan kali lebih beku. Matanya terus berpendar menata dua binar mata yang saat ini juga menatapnya dalam kebingungan.

Sial! Bukankah sudah ia katakan jika mengecek intercom itu –sangat- diperlukan?!

Jika ia bisa, yoona ingin sekali segera menghilang dari bumi. Tidak cukup kah pertemuan semalam saja? Jika tau seperti ini seharusnya ia memilih untuk ikut ke jepang.

Setidaknya, tidak bertemu kyu hyun ia jadikan proiritas utamanya saat ini.

Yoona tersadar. Dia cho kyu hyun! dan yoona tak menginginkan kehadirannya.

Dengan cepat ia bergerak menutup pintu apartemen. Namun belum lagi sempat beraksi, kyu hyun menahan pintu dengan cepat.

“yoon, tunggu! Kita perlu bicara” ujarnya.

Yoona sempat berfikir sejenak. Dan akhirnya, tidak. Ia tak ingin membicarakan apapun saat ini. “tidak ada yang perlu kita bicarakan” jemarinya kembali mencoba menutup pintu. Namun ia tak memiliki cukup tenaga. Setidaknya untuk menutup pintu yang tertahan tenaga pria seperti kyu hyun.

“yoon, kumohon. Kita__”

“aku sedang tidak ingin berbicara denganmu!” pekik yoona.

“yoon, apa salahku? Kau menghilang lima tahun yang lalu dan sekarang kembali dengan sorot mata yang terlalu penuh dengan kebencian!”

Kyu hyun menggebrak pintu. Membuat yoona harus mundur dan pintu menjadi terbuka dengan sangat luas. Kyu hyun masih menatap yoona tak mengerti.

“yoon, aku hanya ingin membicarakan ini denganmu. Kita terlalu lama tidak tertawa bersama. Tidakkah__”

“aku tidak perlu tertawa bersamamu. Duniaku, penuh tawa yang tak ingin lagi kubagi bersamamu!”

Kyu hyun tak mengerti mengapa yoona harus seemosi itu untuk menghadapinya. Oke, kyu hyun memang baru-baru ini meyadari jika ia dan tiffany pernah meninggalkan yoona dalam kesendirian. Tapi itu dulu, saar gelora remaja mereka terlalu menunut dunia harus menjadi milik mereka berdua saja.

Dan kyu hyun hanya ingin minta maaf, jika itu yang membuat yoona begitu tak menyukainya, sekarang.

“yoon, kau kenapa? Ini aku, cho kyu hyun!”

Kyu hyun mengingatkannya. Tau-tau jika yoona sempat mengalami kecelakaan dan membuatnya lupa akan masa-masa indah yang pernah mereka lewati bersama.

Namun ia tau, yoona mengingatnya dengan jelas. Lalu tatapannya berubah semakin tak mengerti saat akhirnya yoona menunduk dalam keheningan aura yang mencekam. Matanya berubah menjadi lebih tajam dan kyu hyun berani bersumpah jika yoona-nya bukanlah yang seperti ini.

“yoon..__”

“justru karena kau cho kyu hyun, aku tak lagi perlu mengenalmu. Karena kau cho kyu hyun, aku tak merasa perlu mengingatmu. Dan karena kau cho kyu hyun, aku perlu benci padamu!!”

“yoon, kau tak perlu seemosi ini. aku hanya__”

“pergi!!”

“yoon, sumpah demi tuhan. Ayo perbaiki hubuingan kita. Ada yang salah dengan semua ini”

“pergi!!”

“yoon, aku janji akan berubah. Kumohon yoon__”

“aku bilang pergi!!”

“mom, aunty jess__ oh, dia siapa?”

Kyu hyun berpaling, begitu pula dengan yoona. Dan sungguh kyu hyun semakin tak mengerti. Mom?

“nara, kembali kedalam”

“tapi aunty jess__”

“kumohon nara, kembali kedalam!!” yoona memerah padam. Wajahnya penuh emosi dengan kecemasan yang terlalu pekat. Ia berbalik “dan kau, cepat tinggalkan apartemenku!!”.

-TBC-

Haii!! ini part 2 nya. Yang mau baca FF aku, silahkan berkunjung ke http://hyukgumfiction.wordpress.com :)

Happy reading ya^^

With love, Park ji yeon.

183 thoughts on “Memorable 2

  1. aduh kasian yoona..
    aku ngerasa dia jd satu2 nya org yg menelen kekecewaan paling banyak deh..
    udah hamil d luar nikah, d tinggal sama org yg neghamilinnya dan parahnya kyuhyun ga nyadar akibat perbuatannya..

  2. Kenapa yoona balik ke korea kalo gk mau ketemu sama kyuhyun ? Dan kenapa yoona gk bilang kalo nara itu anaknya kyuhyun…
    Makin penasaran

  3. Yoona kan menghindar dari kyuhyun dan tiffany tp kenapa dia pulang ke korea kalo gitu? Bukankah kebih aman kalo dia di amerika saja. Dan kyuhyun tidak menyadari kalo yoona hamil dgnnya!

  4. Ohoo ! Aq suka sekali karakter Yoona yg keras. Sekali2 jgn cuma kyuppa yg sukanya mendominasi. Haha …
    Sebenarnya apa yg diharapkan kyuhyun dgn mendatangi apartement yoona ? Haishh … bener2 gak tau malu nih kyuppa.

  5. kasihann yoona , terus maksdnya kyuhyun ni apa
    mau minta maaf apa mau bilang tentang hubangannya sm tiffany
    semoga yoona medapatkan kebhagiaan nya

  6. moga kyuppa cepet nyadar kalo nara putrinya
    lagian kq kyuhyun kayak gak inget gitu udah hamilin yoona, amnesia apa gmn -_-
    padahal di awal udah bilang mw tanggung jawab, eeeh kq malah sama fanny..
    maklum aja yoonanya jadi over protective gitu. takut nara diambil kali y
    next part🙂

  7. Things are getting complecated now…
    Sedikit sedih sih sampe sekrg belm ada kejelasan tentang keberadaan Siwon..
    But, I still love this story🙂
    Feel bad to kyuhyun, but, kalau aku jadi Yoona maybe I will do the same thing -_-
    Continue to next chap… hihi

    Thanks n GBU

  8. Ya ampun yoona kasian banget…
    Ditinggalin sma kyuhyun,, tpi gmana kok bisa ad nara kalo mereka cuma sahabat…
    Euh tambah penasaran aja
    Dan ternyata kyuhyun menganggap nara adalah keponakan yoona…
    Cepet2 pengen tau kelanjutannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s