[Freelance] Kuroii (Chapter 6 (Final) : You’ve fallen for me)

kuroii poster

Author : Upleize

Title : Kuroii (Chapter 6 final : You’ve Fallen for me)

Cast : CNBLUE Jonghyun, SNSD Yoona

Genre : AU, Action, Romance, Family

Length : Chaptered|Ratings : PG-15

Desclaimer : asli buatan aku kok!

 

 

Note : well, seperti janji aku kemaren,tentang kejelasan, chapter ini jadi agak panjang…dan GAK  membingungkan kok *menurut aku sih* makanya, bacanya jangan ada yang kelewat satu bagianpun ya, biar ngerti sampe endingnya gimana…

HAPPY READING^^

 

 

Derap langkah cepat diatas lantai kayu membuat Yoshimoto harus menoleh dan menanti seseorang yang masuk ke ruang kerjanya. Kim Pilok masuk dengan hati hati tanpa lagi mengetuk pintu. Pria tua itu menyambutnya dengan tatapan tak begitu berarti. kepulan-kepulan asap yang berasal dari hembusan napasnya setelah menghisap sesekali cerutu tebal membuat suasana agak sedikit kikuk antara keduanya. Kim Pilok tipikal yang tidak tahan dengan asap rokok. Pria tua itu kemudian mematikan cerutunya dengan menekannya ke asbak kaca hingga ujungnya bengkok dan api dan kepulan asap itu tak terlihat lagi.

“Ada apa?”

“Aku mohon, jangan kau lakukan apapun pada gadis itu”

Yoshimoto berjalan menjauhi isterinya keluar ke balkon yang didesain sangat apik itu. Sesekali Ia memejamkan mata dan mencoba menghirup udara yang paling segar. Derap langkah Pilok kembali terdengar mendekatinya kali ini lebih pelan dan terkesan gemulai.

“Jangan lakukan apapun pada teman Kuroii” suara tegas Pilok kembali terdengar. Yoshimoto tetap belum bergeming. Ia hanya memikirkan hal yang mungkin orang lain tidak tahu. Wanita tua itu menanti jawaban atau tanggapan dari suaminya yang tak kunjung bersuara. Ia penasaran, kali ini Ia harus membela Kuroii.

“Aku…. Mohon padamu” Kim Pilok mengganti posisinya. Ia membungkuk di hadapan Yoshimoto dan membuat pria itu sangat terkejut. Spontan Yoshimoto memegang bahu isterinya menegakkan kembali badannya. Menatap dalam Kim Pilok.

“Kau sendiri tahu, gadis itu tidak mungkin akan kubiarkan”

“Apa tidak ada yang lainnya? Solusi lain untuk semua ini? selain membahayakan nyawanya?”

“Menurutmu ada?”

Kemudian hening.

“Aku akan lakukan apapun agar gadis itu tetap aman, tolong pikirkan hal ini” Kim Pilok tetap bersih kukuh.

“Apa!” pekik Yoshimoto dan kemudian menghentikkan langkah Kim Pilok yang hendak beranjak dari sana.

“Apa yang membuatmu tidak mendukungku kali ini? apa gadis itu begitu menarik?” Erang Yoshimoto lagi. Pria tua itu berjalan menghadapkan wajah ke isterinya. Alih-alih mendapati wajah tegang kim Pilok.  Wanita tua itu terisak hebat, saat menatap wajah suaminya.

“Ini semua tentang Jonghyun” Ujar Pilok di sela-sela tangisannya.

“Gadis itu saat ini bersamanya” Yoshimoto tahu, Kuroii pergi menyelamatkan Yoona saat mereka sedang berada di pesta salah satu sekutu mereka. Ia sempat menyuruh orang untuk mengikuti Kuroii saat Ia tiba-tiba harus berlari pergi dari acara tersebut.

*

            Kuroii pagi-pagi sekali sudah bangun dan memeriksa kamar yang Yoona tempati. Ia mengulum senyum saat mendapati gadis itu masih tertidur nyenyak, rasanya tidak ada alasan untuk membangunkan gadis itu sekarang. Ia kembali menutup pintu kamar Yoona baru kemudian menyambar jaket yang ada di gantungan. Pagi ini Kuroii sudah memasak sarapan untuk Yoona jika gadis itu bangun nanti. Ia akan ke rumah ayahnya pagi ini untuk sarapan bersama kakak dan ibunya.

Dalam benak Ia terus berpikir positif, Im Yoona akan baik-baik saja, dan Ia akan menjamin hal itu. Entah apapun yang terjadi nanti, Ia akan tetap melindungi gadis itu, bahkan untuk berhadapan dengan ayahnya sekalipun.

*

            Kuroii tiba di rumah ayahnya dan langsung menuju ruang makan utama. Disana Kyuhyun, Ibu dan Ayahnya sedang asyik bercengkramah. Yoshimoto sedang tertawa dengan lelucon yang Kyuhyun buat, sedang Kim Pilok menyantap sup dengan tenang.

“Selamat pagi!” Kuroii langsung membungkuk pada mereka bertiga.

“Jonghyun? Kau datang? Duduklah” Kim Pilok langsung menyambut anaknya dengan hangat. Menyuruh pria muda itu duduk. Kuroii menunduk pelan melirik ayahnya sebentar.

“Aku dengar, kau pergi menjemput gadis itu semalam” Yoshimoto menyambut Kuroii dengan kalimat yang nadanya sungguh tidak mengenakkan. Kuroii tidak menjawab. Kim Pilok menyumpitkan sepotong daging ke piringnya Kuroii tersenyum tipis.

“Tinggalkan gadis itu” Kuroii tahu, lambat laun ayahnya akan seperti ini—menyuruhnya meninggalkan Yoona. Tapi perasaannya tetap bersih keras ingin tetap melindungi gadis itu. Ia sudah terlanjur terlibat begitu jauh. Kuroii hanya diam tanpa ekspresi.

“Aku tidak bisa ayah” Katanya kemudian. Membuat Yoshimoto tersentak sebentar. Baru kali ini Kuroii menolak permintaannya.

“Kau, sudah mencintainya?” Kuroii menunduk tak ingin menjawab. Di saat yang sama, Kyuhyun dan Ibunya masuk ke ruangan. Berdiri di belakang Kuroii. Yoshimoto mendesah menyadari perasaan Kuroii.

“Dia terlalu banyak tahu tentang kita. Dan kalau bukan aku yang membunuhnya maka orang lain akan membunuhnya. Harusnya kau tahu itu! Sebelum kau putuskan untuk menjalin pertemanan dengannya”

“Maafkan aku nak” Mata Kuroii melotot seketika pada ayahnya. Yoshimoto berjalan meninggalkan mereka bertiga. Kuroii terdiam. Kim Pilok buru-buru menyusul suaminya.

*

            Langkah Yoshimoto dan Pilok beriringan menuju ruang kerja. Kali ini Pilok harus berhasil membujuk suaminya. Ia tidak tega melihat Yoona harus menjadi korban dan berniat melindungi sepenuh hati gadis itu.

“Apa kau tidak lihat ekspresinya tadi?” Kata Pilok membuka pembicaraan

“Dia anakku, bagaimana aku tidak tahu?” Jawab Yoshimoto

“Lantas? Apa yang akan kau lakukan pada gadis itu? Aku mohon, jangan lakukan apapun” Kim Pilok kembali memohon pada suaminya.

“Apa kau…. Sudah menemui gadis itu?”

“Ia seperti Hyerim, gadis yang dulu pernah kau tolong. Ibu Jonghyun” Yoshimoto menatap Kim Pilok dengan ekspresi kaget.

“Aku mohon padamu, jangan lakukan apapun padanya”

Keduanya terdiam begitu lama. Terbenam  dalam pikiran masing masing, Yoshimoto sendiri mencoba mencari solusi untuk ini, Ia tidak akan mudah merelakan kehidupan mereka hanya demi menolong seorang gadis. Tapi di sisi lain, gadis ini yang mebuat Kuroii berubah lebih baik. Kuroii yang lebih ceria dari biasanya. Diam-diam Yoshimoto selama ini juga memperhatikan anaknya itu.

“Baiklah, tapi pastikan gadis itu kembali ke Korea, aku tidak ingin Ia berkeliaran lagi di sekitar anakkku” Tegas Yoshimoto. Ia kemudian meraih ponselnya menelpon seseorang. Kim Pilok boleh bernapas lega, keputusan terakhir Yoshimoto adalah tidak melakukan apapun pada gadis itu, asalkan Ia harus pergi dari Jepang dan pulang ke Negara asalnya.

“Apa maksudmu? Kita mengirimnya  pulang ke Korea maksudmu?”

“Hanya itu kompensasi yang bisa aku berikan” Tegas Yoshimoto lagi.

“Kau tahu?”

“Cukup!” Kim Pilok terpaksa mengatup mulutnya,

“Urus kepindahan gadis itu, beri dia pendidikan yang layak seperti yang ia dapatkan disini.” Kata Yoshimoto lagi.

Kim Pilok hanya diam, sesaat merenung, Yoshimoto sudah sangat tahu tentang Yoona. Ia ternyata mencari tahu detil dan seluk beluk gadis itu. Tak ada pilihan lain yang tersedia, jika gadis itu ingin selamat, maka Ia harus kembali ke Korea.

*

Orang-orang suruhan Yoshimoto berhasil menculik Yoona dari apartemen Kyuhyun setelah mereka mendapat perintah untuk membawa gadis itu. Mereka membawanya ke puncak, di salah satu rumah peristirahatan milik keluarga Ryuchi yang sangat terkenal itu.

Yoshimoto terpenjat kaget, saat gadis bernama Im Yoona itu dibawa keluar ruangan untuk Ia temui. Gadis itu tampak lemah dengan sebuah memar biru di sudut bibirnya karena mendapat tamparan keras dari salah satu anak buah mereka.

“Kau? Im Yoona?” Yoona mengangkat wajahnya dengan berani. Ia tidak mengenali pria ini, yang Ia tahu, Pria itu adalah seorang Yakuza yang sudah menculiknya. Ingin sekali gadis itu meronta dan lari menyelamatkan diri, tapi Ia sudah cukup lelah hari ini.

“Untuk apa anda membawa saya kemari?” Ujar Yoona lemah.

“Apa kau mau terus seperti ini?” Tanya Yoshimoto pelan. Ia mendekatkan wajahnya ke Yoona hingga gadis itu bisa merasakan hembusan napasnya. Diperhatikannya wajah gadis itu dengan tenang, Yoona balas menatap Yoshimoto dengan tatapan lemah. Ia belum makan seharian, dan tenaganya hampir habis.

“Pulanglah ke Korea, hentikan semua penderitaanmu ini” Ujar Yoshimoto lagi. Yoona menatap pria yang ada di hadapannya ini dengan tatapan tajam.

“Apa maksud anda Tuan?”

“Tinggalkan Kuroii” Yoona bisa merasakan panas di matanya, saat nama Kuroii disebut. Jadi, semua ini ada kaitannya dengan Kuroii.

Beberapa orang membungkuk. Seorang pengawal datang menghadap Yoshimoto dengan agak sedikit terburu-buru.

“Tuan…. Tuan Kuroii ada disini!”

“Apa?”

“Beliau sudah disini Tuan”

“Tampaknya anakku sangat mencintaimu nak” Yoona menatap lurus Yoshimoto, Ia baru sadar, ada sebuah sisi yang mirip dengan Kuroii pada wajah pria tua itu, dan akhirnya Ia sadar, pria itu memang ayah Kuroii. Disamping rasa lapar dan lemas yang ia rasakan, Ia yakin bisa mencerna kata-kata Yoshimoto dengan baik saat itu.

“Kau tahu, kau harus kembali ke Korea, Jepang bukan tempat tepat untukmu. Dan disini terlalu berbahaya untukmu”

“Apa maksud anda tuan?”

“Apa kau mencintai anakku?”

“Eh?”

“Kembali ke negaramu, lupakan anakku. Kalian akan sama-sama dalam bahaya, dan aku tidak akan membiarkan Kuroii dalam bahaya oleh karena seorang gadis sepertimu” Im Yoona terisak saat mendengar perkataan pria yang ada di hadapannya ini. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Pria tua itu benar, Kuroii memang selalu dalam bahaya jika terus berusaha melindunginya, dan Yoona sendiri tidak ingin membahayakan nyawa pria itu, Ia juga bisa terus dalam keadaan dalam bahaya seperti ini.

“Maaf Tuan, maksud anda saya harus pulang ke Korea?”

“Bagus kalau kau mengerti… pikirkan dengan baik jika kau memang mencintai Kuroii”

Yoshimoto berjalan meninggalkan Yoona  begitu saja. Gadis itu seketika kehilangan nafsu makannya, Ia terduduk lemah. Baiklah, Ia menyukai Kuroii dan menganggap tidak bisa lagi hidup tanpa pria itu. Bagaimana bisa Ia harus kembali ke Korea dan meninggalkan Kuroii? Ralat, bagaimana mungkin Ia bisa hidup jauh dari pria itu? Minggu-minggu itu  cukup sulit dan bagaimana mungkin Ia akan bertahan bahkan bertahun-tahun? Ahhhh…

Tangan mungilnya menyeka pipinya yang basah, airmatanya tanpa sadar jatuh begitu saja, pandangannya kabur sambil mengingat-ingat wajah Kuroii. Andai semua tidak sesulit ini. Andai Kuroii hanya pria biasa, dan bukan Yakuza.

*

            Baju Yoshimoto yang terlihat kedodoran ikut menari-nari seiring dengan tiupan angin yang kencang di padang rumput itu. Ia tengah memperhatikan sosok Kuroii yang mendekat dengan tatapan penuh amarah. Ia sadar, kenapa Kuroii seperti ini—memberontak padanya. Semua karena gadis yang Ia sekap itu. Yoshimoto sejujurnya senang, Kuroii bisa menemukan gadis itu sebagai kebahagiaannya sendiri. Bertahun-tahun, Ia merasa tidak banyak memberi pada anaknya itu, Ia dan Kuroii terlalu jauh dari hubungan ayah dan anak. Bersyukur, mereka memiliki Kim Pilok dan Cho Kyuhyun, yang bisa menjadi jembatan mereka. Dengan tangannya, Yoshimoto ingin memeluk Kuroii dengan hangat.

“Kau datang?” Kuroii berdiri di hadapan ayahnya bersiap untuk menyerang.

“Aku harap kau tidak lupa takdirmu!”

SWINGGGG!!!

 

*

 

            Duel antara Kuroii dan Ayahnya tak luput dari setiap orang yang ada di tempat itu. Mereka tak melewatkan kesempatan untuk melihat dan mencoba memasang taruhan yang sebetulnya tidak pantas dilakukan. Orang-rang tidak mengerti, mengapa Yoshimoto mengajak Kuroii berduel seperti ini. apa Ia akan membunuh anaknya sendiri? Entahlah, hanya Yoshimoto yang tahu.

Kelengahan setiap pengawal menjadi suatu kesempatan bagi para mata-mata musuh yang juga ikut mengawasi mereka. Mereka membidik ke arah dua orang penting yang sedang bertarung. Mencoba mencari titik yang tepat agar salah satu atau bahkan keduanya bisa lumpuh.

Bidikan ini harus sukses untuk membalas kematian orang penting lainnya dari klan mereka yang tak lain adalah Takeshi Yoho yang mati di tangan Kuroii beberapa waktu lalu. Kesempatan untuk membalas dendam sudah di depan mata dan tidak akan dilewatkan begitu saja. Hingga akhirnya….

DORRRRRRRRR!!!!

Bidikan itu tepat mengenai sasaran. Yoshimoto tersungkur di pangkuan Kuroii anaknya.

 

 

*

DORRRRRRRRR!!!!

            Saat tembakan terdengar, seketika kelengahan terkendali, mereka mengerahkan semua komponen untuk mencari penyebab dan asal tembakan. Tidak ada ampun untuk hal ini. Yoshimoto tertembak. Pengawal yang lain langsung mengerubungi Kuroii mencoba melindungi pria muda itu jika ada tembaka susulan.

Disaat yang sama, mobil-mobil dari segala arah begerak, mengevakuasi korban utama Yoshimoto Hiro pemimpin Yakuza dari klan Ryu yang sangat tersohor itu. Salah satu mobil tempat Yoona disekap ikut bergerak, mendapat perintah langsung untuk membawa gadis itu ke markas utama Ryuchi Resident.

“Nyonya, Tuan besar tertembak”

“Apa maksudmu?”

“Sepertinya dari Klan Takeshi, mereka membidik ke arah Tuan Besar, saat ini mereka membawa beliau di Rumah Sakit tempat Tuan Kyuhyun bekerja!”

Baiklah, bagaimana gadis itu?”

“Kami dalam perjalanan ke markas nyonya”

“Pastikan dia baik-baik saja, Orin akan mengurusnya”

Klik!

*

            “Tuan Besar tertembak Orin” Kata Kim Pilok pada Orin yang berdiri di sampingnya. Kedua orang itu terdiam sesaat. Mencoba menenangkan keterkejutan di hati mereka masing-masing.

“Aku akan ke rumah sakit, mereka akan membawa gadis itu kemari tolong kau rawat dia” Perintah Pilok lagi.

“Baik Nyonya” Orin menunduk menyanggupi.

“Biarkan dia tinggal di Paviliun selatan” Pilok kemudian meninggalkan Orin yang sedang membungkuk.

“Nyonya, kalau boleh saya ingin ikut dengan anda”

“Kau?”

“Baiklah”

Dengan perasaan yang kalut, Kim Pilok bergegas menuju ke Rumah Sakit tempat Yoshimoto dibawa. Ia sudah meyakini bahwa hal ini akan terjadi, lambat laun mereka akan tetap menjadi sasaran keluarga Takeshi dan sekutu mereka yang tersisa. Bukan hanya Yoshimoto, Kuroii dan bahkan Kyuhyun juga dirinya bisa sewaktu-waktu dalam bahaya. Walau bertahun-tahu sudah terbiasa dengan hal ini, tapi ini pertama kali Yoshimoto terluka karena tertembak. Dan Kim Pilok menjadi sangat khawatir jika terjadi sesuatu.

Saat tiba di rumah sakit, Kim Pilok bisa melihat Kuroii sedang berdiri tertunduk lesu bersandar di dinding depan pintu ICU.

“Jonghyun!” Teriaknya. Kuroii menoleh, Pilok berhamburan memeluknya.

“Kau tidak apa-apa?”

“Aku baik ibu…”

“Ayahmu?”

“Sedang ditangani para dokter” Jelas Kuroii. Ia mengambil alih tangan ibunya.

Cklek.

“Ibu?” Kyuhyun baru saja keluar dari ruang rawat Yoshimoto.

“Kyu?” Sontak, Kuroii dan Ny. Kim berdiri dengan wajah menanti penjelasan dari si anak sulung.

“Bagaimana ayahmu nak?”

“Ayah perlu banyak istirahat dan tidak boleh banyak bergerak dulu bu!”

“Bolehkah aku menengoknya?”

“Untuk sementara ini jangan dulu, lebih baik ibu pulang dan istirahat. Masalah ayah nanti aku yang mengurus” Jelas Kyuhyun.

“Jonghyun, antar ibu pulang” Kuroii menunduk menyanggupi perintah kakaknya. Ia kemudian menggenggam tangan Ibunya dan mengajak beliau menyusuri lorong rumah sakit.

*

            “Apa kau baik?” Tanya Ibu saat mereka di mobil. Kuroii mengangguk pelan. Bisa terdengar desahan napas lega Ibu memperhatikan wajah Kuroii yang tenang. Ia sebetulnya khawatir dengan Yoona. Gadis itu masih beradadi suatu tempat yang tidak Ia ketahui. Sempat Kuroii bertanya pada salah satu pengawal, darinya Ia tahu Yoona sudah dievakuasi di suatu tempat. Dalam kondisi seperti ini, mungkin Yoona akan lebih aman jika dievakuasi sementara.

Semua komponen penjaga semakin diperketat paska kejadian penembakan ayahnya. Mereka bersiap menyerang balik dan mencari pelaku penembakan tersebut. Termasuk Kuroii sendiri, Ia seperti merasa wajib untuk melakukan hal ini.

*

 

            Saat bangun dari tidur nyenyaknya, Yoona kembali berpikir tentang hal yang mereka bicarakan kemarin. Ia harus segera meninggalkan Jepang secepatnya. Ini semua demi keselamatan dirinya sendiri dan keselamatan Kuroii. Terlebih, Ia sempat mendengar, bahwa peristiwa penembakan kemarin menimpa ayah Kuroii, pria tua yang kemari sempat memberikan penawaran padanya itu. Ia berpikir begitu keras, tapi airmatanya tidak jatuh. Walau terus terang, Ia sendiri merasa sangat takut dan sedih harus pergi meninggalkan Kuroii.

Yoona tahu tempat ini. Ini adalah markas Yakuza milik keluarga Kuroii. Dan Nyonya besar yang pelayan tadi adalah Ibu Tiri Kuroii. Orin menjelaskan padanya, saat Ia kebingungan mengira Ibu Kuroii sudah meninggal. Sepertinya ia merasa bersyukur karena bisa selamat hingga saat ini. Di sela-sela kekalutan perasaannya, Yoona ingin sekali menemui Kuroii saat ini. Ia ingin melihat kemurahan senyuman pria itu untuknya, Ia juga ingin melihat wajah pucat dan rambut berantakan milik Kuroii.

Cklek.

Gadis itu menoleh saat mendengar daun pintu ruangan terbuka. Kuroii masuk dengan tergesa-gesa Yoona yakin, itu Kuroii. Ingin sekali rasanya gadis itu berhamburan memeluknya. Ia bisa meluhat senyum pria itu, senyuman mahal untuk orang lain, tapi tidak padanya.

“Apa kau baik-baik saja?” Tanya Kuroii hangat.

“Hm!” Gumam Yoona sembari mengangguk bersemangat. Tidak ada yang bisa Ia ucapkan saat ini. matanya seperti penuh dengan rasa panas, pandanganya bisa saja kabur terhalang airmata, jika saja Ia tidak lekas berbalik, mungkin Kuroii bisa tahu, gadis itu menangis.

“Apa kau sudah makan?”

“Hm!” Yoona lagi-lagi hanya bisa bergumam sembari mengangguk. Lidahnya kelu untuk berucap saat ini. Kuroii berjalan dan duduk di tempat tidur sembari memperhatikan Yoona yang masih berdiri di dekat Jendela. Keduanya saling berbagi pandang dan rindu.

Kuroii…

Kuroii mendekati Yoona, menarik pergelangan tangannya dengan tangannya sendiri. Yoona mengerutkan kening sesaat tak mengerti apa yang pria ini ingin lakukan. Ia  mengangguk sebagai petunjuk, baru kemudian mengajak gadis itu melangkah ke luar ruangan. Setelah itu, Kuroii membiarkan Yoona mengikutinya dari belakang, gadis itu tak berhenti mengagumi jendela di Koridor yang sepertinya didesain khusus untuk keadaan seperti ini. keadaan saat salju mulai turun. Kuroii menatap Yoona dan lagi-lagi tersenyum seperti memamerkan kondisi rumahnya yang sebetulnya juga indah.

Yoona mungkin melamun selagi berjalan, langkahnya pasif, dan sangat pela. Matanya liar ke luar jendela, bibirnya tak berhenti tersenyum pada setiap bulatan salju yang turun. Pria itu kemudian mengajaknya duduk melantai di dekat sebuah patung  budha raksasa yang diletakkan disana. Mereka duduk dengan melipat lutut hingga ke dada. Kedua tangan mereka memeluk lutut masing masing. Gadis itu lebih banyak tersenyum pada salju yang Ia perhatikan, dan pria disamping sesekali  melirik dan juga tersenyum bahagia.

“Hm Yeppo!” Seru gadis itu girang. Pria disampingnya mengangguk setuju.

“boleh aku melakukan sesuatu?” Tanya Yoona, Kuroii memberikan pandangan bingung dan penasaran padanya. Gadis itu menautkan jemarinya pada tangan Kuroii baru kemudian membenamkan kepalanya di pundak pria itu.

Biarkan ini jadi hal terakhir tentangmu yang perlu kuingat… Aku menyukaimu Kuroii-san…

*

            Sementara itu di rumah sakit, Yoshimoto sudah boleh ditemui. Dan isterinya Kim Pilok dengan setia menunggui beliau.

“Pilok?”

“Hei, bagaimana perasaanmu Tuan?” Tanya Pilok menyambut Yoshimoto yang baru saja bangun tidur.

“Rasanya sudah lama sekali tidak merasakan tembakan seperti ini” Jelas Yoshimoto perlahan. Keduanya tiba-tiba sama-sama terdiam. Mengenang kapan terakhir kali Yoshimoto pernah tertembak sebelum ini. itu adalah hari dimana Kuroii lahir.

“Kau tidak ingin bertanya tentang gadis itu?” Tanya Pilok

“Ah! Bagaimana dia?”

“Dia di rumah, bersama Kuroii”

“Apa maksudmu?” Yoshimoto mencoba untuk bangkit. Namun cederanya cukup nyeri.

“Tenanglah, biarkan Ia bersama Kuroii, setidaknya untuk sementara ini” Ujar Pilok menenangkan.

“Segera kirim gadis itu kembali ke Korea, aku harap kita tidak melanggar kesepakatan ini” Erang Yoshimoto.

“Aku mengerti, aku tidak akan melanggar kesepakatan yang sudah kita buat” Yoshimoto terdiam dan menoleh a situ jendela.

“Terima kasih, suamiku” Kim Pilok menggenggam tangan Yoshimoto.

*

            Kim Pilok menemui Kyuhyun di ruang kerjanya seusai menjenguk Yoshimoto yang keadaannya semakin membaik.

“Ibu mau minum sesuatu?” Kyuhyun menyalakan mesin pembuat kopi otomatis yang letakknya tak jauh dari jangkauannya.

“Kyu, ada yang ingin ibu sampaikan padamu” Wajah Kim Pilok berubah serius. Kyuhyun kembali duduk.

“Ada apa ibu? Kenapa membuatku takut?”

“Ini tentang Jonghyun… dan gadis itu…”

“Yoona? Bukankah dia aman sekarang di rumah kita?”

“Aku dan ayahmu akan mengirimnya kembali ke Korea”

“Maksud Ibu? Yoona harus meninggalkan Jepang?”

“Itu satu-satunya pilihan yang ayahmu berikan padaku, dibandingkan gadis itu harus kehilangan nyawanya di tangan ayahmu sendiri atau musuhnya”

“Bagaimana dengan Jonghyun? Apa dia tahu hal ini?”

Kim Pilok menggeleng. Membuat Kyuhyun harus mendesah, Ia termasuk pendukung nomor satu Kuroii dan Yoona bersatu.

“Bagaimana dengan  sekolahnya bu? Ia memperoleh beasiswa penuh untuk kesini”

“Aku akan mengurus semuanya”

“Tapi Ibu….”

“Aku tahu… aku juga mengkhawatirkan Jonghyun jika Ia sampai tahu hal ini, tak ada pilihan lain… kau tahu kan bagaimana dunia yang kita hadapi saat ini?”

“Apa Ibu sedang menyesal karena sudah menikah dengan ayah?”

“Tidak… aku rasa keputusan ayahmu ini yang terbaik, Ia juga memikirkan Jonghyun”

Kyuhyun terdiam, tidak ada yang bisa Ia lakukan saat ini.

*

THE DAY!!!!

Kuroii berlari dengan penuh semangat ke kamar Yoona. Berharap gadis itu ada di sana dengan wajah mengantuknya. Maka Kuroii akan memberikan kalung yang disematkannya cincin peninggalan mendingan Lee Hyerim ibunya. Ia akan bilang suka pada Yoona hari ini juga. Ia ingin memberikan cincin itu padanya, baru kemudian mau memeluknya dan mengecup keningnya. Bayangan wajah senyum Yoona ternginang jelas di kepala pria itu. Entah apa yang merasukinya hari ini.

Tok…tok..tok..

Cklek.

Dengan wajah sumringah ingin menyambut gadis pujaannya, Kuroii tiba-tiba merubah ekspresinya saat mendapati pelayan ibunya—orin yang keluar dari ruangan dengan membawa sebuah toples kaca yang berisi seekor ikan mas. Ikan mas yang sangat familiar bagi Kuroii sendiri.

“Orin?”

“Ah! Tuan!” Orin terkejut mendongak Kuroii yang cukup tinggi.

“Dimana Yoona…. Ini? ikan miliknya bukan?” Kuroii langsung mengenali ikan a situ.

“Er… nona…. Nona…” Orin terbata. Membuat Kuroii melotot padanya. Pria itu langsung masuk ke kamar tersebut dan mendapati keadaan ruangan yang sangat rapi. Yoona tidak ada.

“Orin? Dimana Yoona?” Pekik Kuroii panic

“Nona…nona…”

“DIMANA????”

“Nona sudah pergi Tuan… mereka membawanya ke bandara.. dan…” Belum lagi kalimat Orin selesai, Kuroii sudah berlari keluar ruangan dengan perasaan cukup kalut. Ia menjatuhkan kalung yang tersemat cincin di dalamnya. Cincin peninggalan ibunya itu. Orin memeluk erat toples kaca berisi ikan itu. Ia menangis ketakutan. Kuroii belum pernah terlihat semarah itu. Gadis itu terduduk lemah di lantai.

“Orin?” Kyuhyun masuk ke dalam ruangan.

*

            Seharusnya tidak butuh waktu lama bagi Kuroii untuk menemukan Yoona. Hanya saja, gadis itu menghindari Kuroii. Ia memilih bersembunyi dan menangis. Ini demi kebaikan mereka, Kuroii dalam bahaya jika mereka terus bersama dan itu bukan hal yang Yoona inginkan. Biarlah Ia kembali ke Korea, toh hal ini bukan hal yang buruk, itu artinya Ia akan memulai lebaran baru lagi bersama Yuri dan dunia lamanya.

Yoona terisak hebat tanpa suara, terlebih saat Ia melihat Kuroii melintas tak begitu jauh darinya. Hanya berjara beberapa meter saja. Kelihatannya Kuroii sudah hampir gila karena hal ini.

“Kau jelek sekali kalau menangis tahu…. Bersihkan mascaramu yang blepotan itu”Kyuhyun muncul dan menyodorkan sapu tangan pada gadis itu.

“Oppa?” Kyuhyun tersenyum.

“Jaga dirimu baik-baik, tidak usah khawatirkan pria bodoh itu” Kyuhyun melirik Kuroii yang masih ada dalam jarak pandang mereka. Mondar-mandir mencari Yoona.

“Oppa” Yoona semakin terisak. Ia sangat sedih melihat wajah Kyuhyun dan Kuroii secara bergantian.

“Aku akan mengurusnya…” Lanjut Kyuhyun lagi. Ia membenamkan kedua tangannya ke Pundak Yoona. Baru kemudian mengusap airmata gadis itu.

“Aigooo.. lain kali tidak usah pakai mascara ya anak kecil” Ejek Kyuhyun mengacak-acak rambut Yoona.

“Oppa!” Rengek Yoona.

“Ini untukmu…” Kyuhyun menyerahkan sebuah kalung yang ada cincin tersangkut di dalamnya.

“Eh?”

“Jangan sampai hilang, seseorang mungkin ingin memberikannya padamu, tapi dia begitu bodoh menjatuhkannya” pandangan Kyuhyun menunjuk Kuroii, tapi Yoona tidak memperhatikan. Ia malah melihat kalung yang sudah ada di tangannya itu.

“Terima kasih Oppa” keduanya bisa mendengar suara panggilan dari ruang informasi bahwa pesawat menuju Gimpo akan segera berangkat. Yoona terisak pelan.

“Aku harap kita bisa bertemu lagi” Kyuhyun merangkul Yoona hangat. Ia bisa melihat gadis itu masuk ke Gate utama. Gadis itu sempat menoleh kearah Kyuhyun dengan pipu penuh airmata.

Setelah memastikan Yoona masuk Gate dengan aman tanpa sepengetahuan Kuroii, Kyuhyun beranjak menemui adiknya itu. Kuroii tengah duduk dengan wajah lesu di salah satu bangku di ruang tunggu. Ia mendongak saat mengenali sepasang sepatu Kyuhyun yang berdiri di hadapannya.

“Minum?” Kyu menyerahkan sekaleng juice padanya. Tapi Kuroii tidak bergeming. Alih-alih memilih mengobrol, Ia langsung berdiri dan berjalan meninggalkan kakaknya.

“Ya! Lee Jonghyun! Ya!” Teriak Kyuhyun tak sabar. Kuroii terus berjalan tanpa menoleh. Ia penuh rasa kecewa.

“Maafkan aku”

*

            Kuroii berubah—atau lebih tepatnya, pria itu kembali seperti dulu, dingin dan tidak menyenangkan. Hal yang masih sama seperti dulu adalah Ia tetap menjadi penghuni perpustakaan utama dan mengobrol dengan penjaganya. Kuroii marah, pada semua orang di sekelilingnya, Kyuhyun dan Kim Pilok tak luput dari kemarahannya, tapi tak Ia ungkapkan, Ia hanya bisa diam, diam memendam semua kekecewaan tentang Yoona yang pergi. Untuk yang kesekian kalinya, Kuroii tidak lagi akan menyesali takdirnya sebagai sorang Yakuza. Ia lebih banyak membunuh sekarang, membunuh dengan cara dan tingkatan lebih sadis. Pria itu semakin diam dan hanya bergelut dengan dunianya sendiri, Ia bahkan akan lebih jarang berbicara dari biasanya, semua ini karena Yoona.

Ini sudah musim panas, dan itu artinya Yoona sudah kembali ke Korea selama dua musim. Hubungan Kuroii dan ayahnya semakin memburuk, walau itu hanya dari sudut pandangnya sendiri. Yoshimoto seakan menganggap semua perasaan Kuroii sepele, Ia tidak bertanya dan tidak mewajibkan siapapun untuk bertanya tentang perasaan Kuroii sebenarnya. Orang-orang di sekitar Kuroii terasa sangat jahat, tapi Ia tidak mengespresikan kemarahannya itu. Kim Pilok dan Kyuhyun mengerti Kuroii, mereka  yang paling bisa merasakan perubahan pria itu. Kuroii tiba-tiba menjadi asing bagi mereka begitupun sebaliknya.

“Bagaimana keadaan Kuroii?” Tanya Yoshimoto saat ia sedang bersama Kim Pilok

“Kau tahu sendiri bagaimana Ia yang sekarang” Jawab Kim Pilok prihatin. Keduanya kini tengah memperhatikan Kuroii yang duduk di bawah pohon beringin di halaman utama—mungkin sedang mengerjakan tugas kampus.

“Apa aku begitu jahat padanya?” pertanyaan Yoshimoto ini begitu mencekat kim Pilok sendiri.

“Kau terlihat seperti jahat, tapi setelah kupikir ini jalan yang terbaik” Kim Pilok mengusap punggung tangan suaminya itu.

“Semoga Kuroii bisa melewatinya dengan baik”

“Aku yakin, Ia bisa melakukannya”

*

            “Tuan Muda Kuroii?” Orin mendekati Kuroii yang sedang duduk berkutat dengan laptopnya. Kuroii mendongak sebentar kemudian kembali menunduk cuek.

“Ada yang ingin aku sampaikan pada anda” Orin menyerahkan sebuah amplop berwarna biru pada Kuroii.  Kuroii berhenti mengetik dan Ia melihat amplop itu.

“Maafkan aku Tuan…” Orin beranjak saat Kuroii mengambil amplop biru itu. Saat ini pria itu bisa melihat tulisan namanya dalam huruf kanji jepang di bagian depan amplop. Amplop itu tidak diberi perekat, menjadikan Ia mudah mengambil secarik kertas di dalamnya. Kuroii meletakkan laptopnya di rerumputan baru kemudian fokus ke amplop biru.

Dengan hati-hati Ia membuka lipatan kertas yang ada di amplom biru itu. Sekilas itu mungkin surat dari seseorang untuknya. Kuroii membaca nama pengirim yang ditulis di bagian akhir surat, pupilnya melebar ingin lebih detil membaca surat itu.

Bayangan gadis itu tiba-tiba muncul, Ia yang menulis surat ini. bertolak belakang dari isinya yang tampak ceria dan membahagiakan, sebetulnya saat menulis surat ini, Im Yoona—gadis itu tak kuasa menahan airmatanya yang terus mengalir. Ia terluka harus pergi dari kehidupan Kuroii, Ia terluka untuk jala yang harus Ia tempuh. Satu harapan yang tertaut bersama dengan surat itu adalah Ia berharap Kuroii bisa tetap ceria seperti saat bersamanya.

Kuroii…

Saat kau baca suratku ini, mungkin sudah dua musim kulewatkan tanpamu…

Begitupun kau..Aku harap hari-harimu baik dan bahagia…

Aku harap senyummu tak lagi mahal untuk orang lain selain aku..

Hahaha..

Apa aku terlalu percaya diri? Jika senyum terbaikmu memang Cuma untukku? Aku rasa tidak..

Maka dari suratku ini, aku ingin bilang aku menyukaimu Kuroii…

Aku menyukaimu hingga berniat untuk egois tetap tinggal di Jepang hingga musim dingin lalu…

Maafkan aku pergi tanpa pamit, masalahnya aku tidak akan rela pulang jika melihat wajahmu itu..

Maafkan aku Kuroii…

Asal kau tahu saja, ini surat cinta pertama yang kutulis untuk seseorang…

Jika kau bahagia, aku berjanji akan bahagia juga…

Biar kutebak, kau pasti sedang tersenyum bukan? Membaca ini…

Seorang gadis mengungkapkan perasaannya padamu..

Huh! Aku bahkan rela menulis surat ini untukmu…

Memangnya ada yang lain yang mau menulisnya? Hahahah..

Berbahagialah Kuroii, untukku..

Sahabatmu,

 

Im Yoona..

Kuroii bisa melihat bekas tinta yang pudar pada baris terakhir surat, Yoona mungkin menjatuhkan airmatanya pada kertas yang Ia tulisi. Sebetulnya bukan hanya bisa melihat, Kuroii ikut membuat tinta-tinta itu berangsur pudar Ia akhirnya menangis dalam diam. Airmatanya membajiri seluruh wajah, walau tanpa suara, semua pasti tahu, Kuroii menangisi Yoona. Emosi tangisannya meluap saat itu juga. Selama dua musim, semuanya hanya terjawab dalam diam. Tapi kali ini Kuroii benar-benar menangis melepas semua kekesalan dan kekecewaannya. Ia ingin….

Aku ingin hidup seperti apa yang kau inginkan….Bahagia dan…..

 

*

            Tahun-tahun berikutnya menjadi pergantian musim hanya bisa bersaksi mengenai suatu proses yang mendewasakan. Walau semua memang tidak mungkin, tapi keadaan memang aman untuk tetap memupuk harapan yang sepertinya mereka kira sudah pudar. Ini sudah tahun kelima, setelah  musim panas itu, saat terakhir surat itu Kuroii baca. Dan amplop biru itu masih terlipat rapi di meja sisi tempat tidur kamarnya. Di meja itu juga sebuah toples ikan hias dengan satu ikan hias di dalamnya. Siapa sangka Mika masih bertahan hidup seperti cinta Kuroii pada pemilik sebelumnya.

Cklek.

Kuroii baru saja masuk ke kamarnya dengan badan penuh keringat—sehabis lari pagi. Bunyi siraman air terdengar saat Ia memenuhi gelasnya dengan air putih. Pria itu kemudian meneguknya pelan, ia mengambil handuk kecil yang melingkari lehernya dan menyeka semua keringat yang bersarang di permukaan kulitnya yang masih tampak pucat seperti dulu. Ia sempat melirik sebuah pigura dan amplop biru yang terletak di samping toples ikan hias. Tanpa ragu pria itu mendekat dan dengan leluasa memasukkan tangannya ke dalam air bermain dengan ikan tersebut. Kegiatan seperti ini terjadi setiap pagi mungkin ini yang membuat Mika tetap bertahan hidup selama ini, padahal ini sudah melewati masa hidup ikan hias yang seharusnya. Kuroii meraih pigura fotonya bersama seorang gadis yang diambil 5 tahun yang lalu saat pertunjukan kembang api di Hokaido. Jemarinya mengusap debu tipis yang menempel di kaca pigura itu. Ia tersenyum memamerkan lesung pipinya yang dalam baru kemudian kembali meletakkan foto itu.

*

            “Nari, coba bilang A’” Seorang anak kecil membuka mulutnya dengan patuh sembari mengucapkan A’ kemudian seseorang memeriksa tenggorokannya dengan menggunakan senter.

“Aduh… Nari, kau pandai sekali, anak siapa sih dia?!” Pemeriksa itu memberi pujian baru melirik kearah perawat yang mengikutinya. Memberikan kode yang hanya mereka mengerti, lalu perawat itu mencatat sesuatu di clipboardnya.

“Anak ayahku tentu saja…” Gadis kecil itu melirik ayahnya yang berdiri di sisi kiri tempat tidur.

Seonsangnim.. Yepooyo…”

“Hahaha.. kau juga cantik sayang!” Yoona tertawa baru kemudian menegakkan badannya lagi.

“Kau sekarang harus istirahat ya… supaya lekas sembuh!” Katanya sembari merapikan selimut gadis itu.

“Bagaimana keadaannya?” Tanya sang ayah.

“Peradangannya sudah mulai berkurang, kita akan lalukan pemeriksaan lebih lanjut” Jelas Yoona.

“Syukurlah kalau begitu, terima kasih dokter”

“Sama-sama tuan, saya permisi dulu” Yoona dan perawat itu langsung pamit keluar dari ruangan.

*

            “aku dengar, Nari kehilangan ibunya tahun lalu, kecelakaan lalu lintas” Kata Perawat yang bersama Yoona, Yoona hanya tersenyum tipis.

“Kasihan sekali anak itu, begitu muda dia… ayahnya juga muda” Ia kemudian melirik Yoona dengan tatapan jahil.

“Kenapa? Melihatku seperti itu?” Tanya Yoona curiga

“Ya! Apa kau sudah hadir di kencan buta yang diatur oleh Yuri?” Tanya sang perawat.

“Maksudmu aku harus jadi pengganti ibu Nari? Begitu?” Yoona menatap perawat itu kesal.

“Kau yang bilang… aku tidak mengatakan apapun!”

“Ya! Choi Sooyoung, jangan bilang kau mau menjodohkanku dengannya, awas kau!” Gerutu Yoona kesal.

“Tergantung, apa kau sudah menghadiri kencan buta yang diatur Yuri atau tidak” Perawat yang bernama Sooyoung itu berlari meninggalkan Yoona yang menggerutu kesal. Teman-temannya tak pernah berhenti membuatnya mendapatkan pacar. Mereka bilang Ia tidak normal lagi jika dia semasa kuliah hingga sekarang tidak memiliki pacar.

Gadis itu memandang kosong sepanjang koridor rumah sakit. Ia meraih sesuatu di lehernya. Kalung yang masih belum Ia hilangkan selama bertahun-tahun. Kalung milik Kuroii yang Kyuhyun berikan padanya 5 tahun lalu.

Setelah pulang dari Jepang, Yoona hanya menyimpan cerita tentang Kuroii dan dunia Yakuzanya sendiri. Ia tidak berniat membagi semuanya pada siapapun. Ia menangis sendiri, tanpa sepengetahuan mereka. Ia masih mencintai Kuroii, dan tak sedikitpun berkurang. Bagaimana mungkin Ia pergi mengencani pria lain sementara hatinya masih tetap tinggal untuk Kuroii? Walau semua seharusnya terkubur lama, tapi diam-diam api kecil untuk Kuroii tetap ada. Semoga mereka bertemu nantinya, untuk sekali kesempatan lagi. Gadis itu pikir, hidup harus terus berjalan, Ia tidak ingin lagi mencoba menebak tentang ada apa hari esok itu, mencoba menjalani semuanya apa adanya.

*

            Suatu hari, Kuroii akhirnya bisa menikmati udara pagi musim dingin kota Seoul setelah tertidur lelap untuk penerbangan malam dan tiba di hotel saat larut. Ini pertama kali Ia satu daratan dengan Im Yoona, keinginan untuk bertemu gadis itu besar, tapi entahlah apa mungkin mereka akan bertemu setelah sekian lama? Jujur, ini pertama kali Kuroii menginjakkan kaki di Seoul. Tepatnya di Korea.  Bukan untuk mencari Yoona, tapi untuk bekerja. Kuroii adalah seorang sekertaris yang tergolong muda untuk ukuran perusahaan game besar di Jepang. Kemampuan yang ia miliki semasa kuliah tak tersia-siakan begitu saja, pria itu kini jauh lebih mapan dan tegar, Ia bekerja dengan sangat professional. Dan akhirnya baru kali ini kesempatan untuk pergi ke Seoul ia ambil setelah 3 tahun bekerja.

Pagi itu, walau udara sangat dingin, Kuroii tetap penasaran dengan atmosfir kota Seoul. Kemampuan berbahasa Korea membuatnya tidak akan sulit berkomunikasi dengan para penduduk lokal. Pria itu melangkah keluar dari hotel tempatnya menginap dan mencoba menyusuri trotoar sembari memperhatikan etalase-etalase toko. Warga kota Seoul tidak berbeda jauh dengan kota Tokyo menurutnya. Mereka juga kelihatan sibuk walau sebetulnya hari ini adalah hari akhir pekan. Udara semakin dingin beberapa jam setelahnya, tak jarang beberapa orang yang lalu lalang mulai membuka payung mereka untuk melindungi diri dari guguran bulatan salju yang mulai turun. Kuroii masih terus berjalan menikmati hiruk-pikuk suasana kota yang ramai.

Begitu melihat sebuah kedai kopi yang ada di pinggir jalan, Ia memutuskan untuk mampir. Asal tahu saja, hal ini belum pernah ia lakukan, sekedar minum kopi dan berjalan-jalan santai, Kuroii hampir tidak melakukannya. Ia selalu ditemani para pengawal ayahnya untuk pergi kemanapun. Special untuk perjalanan ke Seoul kali ini, Ia meminta ayahnya untuk tidak membawa pengawal.

“Satu Cappuchino Latte…” Kata tenang dan tersenyum pada pelayan. Mungkin ini pertama kali Kuroii terlihat di tempat itu. Pelayan itu hanya menikmati wajahnya yang tampan.

“Ini pesanan anda”

“Terima kasih”

*

            “Apa kau bilang? Kau pikir aku gampang mendapatkan moment akhir pekan seperti ini?” suara Yoona melengking pada kedua gadis yang ada di hadapannya. Choi Soyoong dan Kwon Yuri kedua sahabatnya.

“Tenanglah Yoong.. kau ini berisik sekali!” Kata Yuri sambil memandang sekeliling. Banyak mata tertuju pada mereka.

“Aku keluar di akhir pekan ini untuk makan Toppoki buatan ibumu Yuri-ya! Bukan untuk kencan buta!” Yoona menekan kalimatnya pada kata kencan buta, membuat ketiganya kini jadi pusat perhatian.

“Ya! Makan ini!” Soyoung menyendokkan sepotong tiramisu ke mulut Yoona agar gadis itu diam dan berhenti mengomel.

“Kau, tenanglah. Sebentar lagi pria itu datang”

“Aku tidak suka cara kalian ini!” Yoona semakin kesal

“Diamlah!”

“Eh, pria itu sudah datang….” Ketiganya menoleh pada arah pria yang dimaksud. Seorang pria tinggi dengan stelan jas berwarna cokelat kopi—tampan untuk ukuran seorang pria mapan. Yuri dan Sooyoung tak berhenti mengkode Yoona. Tapi gadis itu tidak bergeming sedikitpun, entah apa yang Ia lihat. Pria yang mereka maksud? Sepertinya bukan.

Tangan Yuri aktif mengguncangkan bahu Yoona saat pria kencan butanya sudah mulai mendekat. Tapi Yoona belum melepaskan pandangannya dari arah yang sama. Sontak Ia berdiri, seakan ingin menyambut pria kencan butanya ternyata tidak. Yoona bisa merasakan pandangannya kabur dipenuhi airmata. Itu Kuroii. Ia yakin pria yang sedang tersenyum saat menyesap kopi itu adalah Kuroii.

“Ya! Im Yoona… odigaaa??” Teriak Sooyoung saat Yoona malah berjalan menjauhi meja mereka tanpa peduli pada pria kencan butanya itu.

*

Kuroii? Itukah kau?

Kuroii akhirnya bisa melihat Yoona yang kini berdiri di hadapannya. Pria itu berdiri tidak percaya. Yoona tidak banyak berubah, wajahnya masih sepolos dulu. Walau sekarang mungkin sudah sering ditempeli bedak.

“Kuroii?” Gumam Yoona. Pria itu berdiri dan mengambil alih tubuh gadis itu dengan penuh rasa rindu. Tidak akan kehilangan kesempatan lagi saat ini, gadis itu menyambut pelukan dengan membenamkan semua kepalanya di pundak si pria. Kuroii tidak pernah membayangkan pertemuannya dengan Im Yoona akan seperti ini, di sebuah kedai di Kota Seoul kota kelahiran ibunya. Begitupun Yoona, setelah ini dia akan memeluk kedua sahabatnya karena sudah berhasil menyeretnya ke tempat ini. tempat yang sebenarnya tak ingin Ia datangi. Tapi saat Ia datang, hadir seseorang yang dinanti—Kuroii.

*

            Keduanya duduk di bangku taman di dekat kedai kopi tadi. Walau cuaca sangat dingin, keduanya hanya terlalu senang baru bertemu lagi.

“Apa kau baik?”

“Hm…”

“Apa kau sudah makan?” Kata keduanya bersamaan. baru kemudian tertawa.

“Kau sama sekali tidak berubah Kuroii!” Kata Yoona.

“Benarkah? Kau juga” Kata Kuroii singkat. Ia bisa melihat leher Yoona yang dikuasai oleh kalung miliknya, lengkap dengan cincin itu.

“Kau masih menyukaiku?” Kuroii spontan bertanya, membuat Yoona harus malu-malu memikirkan pernyataan antisipasi.

“Apa maksudmu? Apa aku pernah bilang menyukaimu? Ya! Bagaimana bisa seorang gadis mengatakan itu?” Bantah Yoona penuh alasan. Kuroii tersenyum tipis.

“Maaf, seharusnya aku yang bilang duluan” Kuroii tersenyum dan menatap Yoona yang ada disampingnya.

“Katakan sekarang!” Kata Yoona jahil.

“Aku mencintaimu” Kuroii mantap dengan pernyataannya.

“Kau belum bertanya apa aku sudah punya pacar atau tidak? Bagaimana kalau sudah?”

“Aku hanya yakin kau mencintaiku juga” Kuroii giliran menyeringai kecil membuat Yoona tersenyum malu. Kuroii kemudian berdiri dan menyampirkan rambut Yoona dari belakang.

“Apa yang kau lakukan?” Pria itu mencari pengancing kalungnya. Setelah menemukan pengancing itu, Ia langsung melepas kalung miliknya itu. Sebetulnya Kuroii mengambil cincin ibunya yang tersemat disana. Dan apa yang ia lakukan setelah itu membuat Im Yoona tidak percaya sama sekali. Seorang Kuroii akan melakukan hal ini. Kuroii berlutut di hadapannya.

“Menikah denganku?” semburan airmata mungkin pecah saat itu juga. Kuroii baru saja melamarnya, disaat hari pertama mereka bertemu setelah sekian lama. Yoona tak kuasa menahan tangis bahagianya, baru kemudian gadis itu mengangguk. Dengan cepat, Kuroii langsung menyematkan cincin milik ibunya itu ke jari Yoona. Gadis itu kemudian berhamburan ke pelukan Kuroii baru setelah itu Ia sendiri mengecup kening pria yang berlutut di hadapannya.

“Aku masih Yakuza Yoona..”

“Aku tahu…”

“Hidupmu tidak akan tenang..”

“Aku tahu…”

“Aku tahu…”

Kesempatan yang takkan lagi kulewatkan… aku tahu… diriku… aku tahu aku lebih baik bersamamu.. aku mengetahui semuanya dengan baik..

Aku mencintaimu Kuroii… ksatria hitamku..

 

fin

Annyeonghasseyo😀

Akhirnya ni chapter 6 jadi juga. Aku ga bakat bikin adegan romantic Jongyoon. Maklum aja ya.. Maaf ya kalo lama update, ini ending udah bener-bener diusahain secepatnya. Maaf jika agak absurd dan alay. Kesannya kayak keburu gitu ya? Emang sih, soalnya ini juga kejar tayang (?) sama jadwal yang laen. Author lega banget ini chapter udah jadi. Berasa punya utang banget kalo sampe belum publish. Hmm.. jangan minta sekuel ya, ini goodbye fic author, soalnya mau udahan dulu nih semua aktifitas tulis menulis ff. sekarang lagi mulai fokus sama kti. Bagi kalian yang udah setia nunggu ff ini publish tengkyu banget ya ini kado buat kalian nih.. bagi kalian yang ga pernah absen buat isi kolom komentar makasih ya… salah satu inspirasi buat lanjutin tiap chapter.. dan bagi para silent reader yang belum sempat nyempilin komentar disini, ayo buruan ini kesempatan terakhir kalian (loh?) Pokonya yang belum pernah komen dari chapter satu wajib komen di chapter ini ya (maksa!) #ngarep.

Atas segenap perhatiannya saya ucapkan terima kasih😀. jangan lupa komentar di bawah ya..

Thanks for wait, read, and leave comment in this series..

Jabat erat, upleize..😀

36 thoughts on “[Freelance] Kuroii (Chapter 6 (Final) : You’ve fallen for me)

  1. akhirnya happy ending juga n mrka bersatu… dibuat epilog ttg marriage life mrka yang penuh sweet moment. kirain anak kecil itu anaknya yoona n jonghyun. good job ya atas karya, eon suka sama ceritanya.

  2. Lah lah ko end… akhhh moment jongyoon nya mana.. etdahh thor mewek nih .. pdhl tdinya bayangin mreka nikah punya anak msa udah end sih.. ya udahlah hrz bkin ff jongyoon lgi yah . klo bisa yg jonghyun nya bad boy .jrang bgt nemu ff jonghun nya casanova.hahaha thanks thor dah slesein ff nya .

  3. Ending.na memuaskan(?) Chingu.. Gomawoo… Haha seneng pokoknya,,

    La tapi gimana dg Appa Jonghyun.na?? Merestuikah??
    O.O ah… Yg penting mrka bersatu,,😀

  4. Kerennn buangaet thor happy end…. bacanya berasa nonton drama. Bila dibuat drama spt nya keren buanget ya…. puas thor walaupun end nya agak keburu… ditunggu ff Yoona ama Jonghyun yg lainnya thor….

  5. oooooh thank you upleize,,,,ending ny so sweeeeet,,cukup aku puas dngan ending yg seperti ini,,jadi mau nangis waktu mereka akhir ny ketemu lagi,,pertama kali bertemu setelah 5 tahun langsung ada lamaran,,oh ya ampun,,bahagia bnget,,
    Karna di awal cerita tadi rasa ny sedih bnget mereka mesti berpisah,huft lega mendadak,,kekeke…
    Chingu mau hiatus dulu yah..hmmm..bakal kangen dong aku sama Author yg kece ini…aku harap lain wakv..kalo ada kesempatan bikin ff lagi yah Chingu..
    Keep Writing and Fighting!!

  6. uwaaaaaaaaaaaaaa……………daebak…finnaly happy ending juga…ya walaupun sweet momenty kurang…gpp de…tp bagus banget sumpah…buat ff yoona ma jonghyun lg donk…yg panjang kayak rel kereta api jg gk papa…hahahahh.fighting2

  7. Ah Biasanya aku baca FF ini di WP RF ,,,,
    Tapi gak pa2 kan kali ini aku Koment di WP ini,,,hehehe

    Wah disini semuanya dijelasin,,,
    walaupun momentnya JongYoon dikit,,, hmmmm
    tapi gak pa2
    Happy End……….

  8. Makasih author udah dibikin happy ending jd ga sia2 smua pengorbanan mereka berdua. Tp pas epilog emang nyangka itu anak jonghyun hehehe taunya bukan dan endingnya diluar prediksi. Ditunggu lg ff jongyoon berikutnya ^^

  9. thor aku suka bgt endingnya.. pas jonghyun ngelamar yoona itu bener2 aku ngebayangin muka jonghyun sm yoona thor😀 kalo ini bkn chapt terakhir pgn bgt kasih saran suruh bikin lbh banyak sweet momentnya jonghyun sm yoona di chapt berikutnya eh tp ini ff udh berakhir hehe pokoknya aku suka bgt sm ff Kuroii♡ aku tunggu ff berikutnya dgn cast deerburning tentunya^^ annyeong~

  10. Berharap di chap end ini ada moment romantis yoona ama kuroii..sayang aja ga ada..brasa bacax itu kya sayur tanpa garam..untungx happy ending n buat authorx, makasih yah buat FFx

  11. Daebak chingu kereeennn tapi stlh 5 th gk ketemu momentnya kurang panjang chingu jd kurang berasa feelnya tapi tetep keren kok mf ya chingu klo komenku krg berkenan maaafff bgt gk ada maksud apa2 kok cuma pendapatku aja heee gomamwo chingu yg baik sdh buat ff ni js kereeennn fighting di tunggu cerita2 selanjutnya

  12. Syiiipp daah,,,tp akan lebih syiip kalo mereka married n have a baby,, so sweet.. But its okkke cukup memuaskan.. D tunggu karya lainnya..

  13. tuh kan, emang jongyoon harus bersatu..
    5 tahun masih saling cinta.. happy ending
    sequel ya thor, marriage life nya mereka^^ keep writing!!

  14. Pingback: Featured Story: Kuroii | Im Yoona Fiction

  15. Pingback: KUROII | YoonG-fanfic

  16. Huaaa ceritanya Keren..
    Daebak !!!
    Tapi masih penasrn sih, bagaimana kalo Ayahnya Jonghyun tahu mereka menjalin hubungn yg spesial bahkn Jonghyun udh ngelamar Yoona..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s