Memorable 1

Memorable

Judul         : Memorable 1

Author      : HyukgumSmile

Genre        : Romance, Family

Rating       : PG-17

Main Cast  : Im yoona, Tiffany, Cho kyu hyun, Choi siwon, Im nara

“mom??!”

Yoona berbalik sebentar lalu kembali berkutat pada dua buah porselen yang tengah ia isi nasi berbumbu untuk sarapan pagi.

“MOM??!!”

Yeoja itu kembali berbalik. Ya tuhan, tidak bisakah gadis kecilnya lebih bersabar? Ia bahkan belum mematikan api kompor.

Yoona mendesah, mengalah lalu jemarinya bergerak membuka simpul pita yang terjalin pada belakang tubuhnya. Namun ia berhenti tepat ketika dua lengan kekar menghentikan pergelangan tangannya. Menggenggam jemari itu dan menggulungnya melingkari tubuh langsingnya .

Yoona terkekeh pelan.

“gadis kecil pembuat onar” gumam namja itu dengan nada bercanda yang terlalu kentara.

Berikutnya yoona hanya terdiam, memperhatikan namja itu menjauh. Berjalan menuju kamar gadis kecilnya lalu menghilang dibalik daun pintu.

__

“morning pincess. What’s going on, hem?”

Nara menatap pintu kamar mandi yang terbuka lalu memberengut manja “edd, aku kehilangan pasta gigiku!” rajuknya.

Namja itu tersenyum. Berjalan mendekat lalu berjongkok. “benarkah? Bagaimana bisa pasta gigimu pergi? apa kau bukan pemilik yang baik?”

“EDD!!”

Lalu kekehan ringan itu terdengar “baiklah, ayo kita temukan. Mungkin dia bersembunyi di suatu tempat”. namja itu segera bergerak pun tak berbeda dengan gadis kecil yang tengah memperhatikannya menggapai bagian atas rak mandi.

“edd, mungkin bukan disitu” gadis kecil itu menarik ujung bajunya.

“ahh, benar. Pasti ada di nakas. Apa kau menghabiskannya?”

Lalu mata nara membesar sempurna. Namja itu tersenyum lalu menghilang sebelum datang bersama sebotol pasta gigi baru.

“cah. Sarapan menunggumu” ujarnya mengusap rambut nara lembut lalu berjalan menjauh.

__

“pasta giginya habis”

Namja itu menjawab pertanyaan yang belum sempat terlontar. Yoona menanggapinya dengan sebuah senyuman. Namja itu mendekat tepat disaat yoona baru akan menjulurkan jemarinya. Bergerak mengalihkan pekerjaan yoona dan memeluk yeoja itu lembut.

“jadi, apa sarapanku?”

Yoona terkekeh geli saat namja itu mencium bahunya. “seperti biasa. Aku sedang malas”

Beralih ia tertawa. “tak masalah. Selagi masih kau saja yang membuatkannya”

Yeoja itu memukul pergelangan tangan namja yang memeluknya. Meneriakinya geli. Oh, ada yang salah saja jika ia mulai membual. Pasti ada!

“oh ya, aku harus ke osaka sore ini”

Nah, kan!!

“ada yang ingin kau miliki?”

Yoona tertawa pelan. Perasaannya memang terlalu peka. Ia bukan namja yang akan mengeluarkan bualan konyol jika tidak menginginkan sesuatu. Yoona tanda betul dengan sifatnya yang satu ini.

“tidak”

Namja itu mengernyit “benar?”

“seperti aku pernah meminta-minta saja padamu”

Lalu mereka tertawa bersamaan. Yoona berjalan mendekati meja makan dan mengatur porselen itu dengan apik. Tak lama dua susu coklat menyusul dengan asap yang masih terlihat jelas.

“jadi, bagaimana dengan pesta semalam?”

Yeoja itu terhenti dengan cepat. jemarinya mulai terasa dingin. dan segala respon tubuh yang terlalu mencolok itu benar-benar membuatnya muak.

“tidak ada yang special” jawabnya asal.

“bagaimana bisa? bukankah kalian telah berpisah lama?”

‘ya, bahkan terlalu lama’ batin yoona.

Yeoja  itu mencoba tertawa untuk mencairkan suasana. Yoona tau, namja didepannya tentu mengerti bahasa tubuh satu sama lain. Dan yoona, bukan pembohong handal. “mereka terlalu sibuk dengan tamu lainnya”

Lalu namja itu hanya diam. Tak lagi menanggapi pembicaraan yang menurutnya coba dihindari oleh gadisnya. Namja itu melepas rangkulannya lalu sekali lagi mencium pipi kanan yoona lembut.

“baiklah. Sebaiknya susu coklat ini segera dihabiskan” ujarnya memperingati.

Yoona tersenyum ketika nara berjalan mendekati meja makan. Tak lama gadis kecil itu duduk dan menyantap sepiring nasi goreng hangat dengan lahap.

“jadi, apa masalahmu, sayang?”

Nara menghentikan gerakannya. Gadis kecil itu meletakkan sendok ditangannya dengan anggun lalu menatap yoona dengan serius.

“anio. Hanya__”

“hanya pasta gigi yang lupa ia ganti”

“EDD!!” nara membesarkan bola matanya kaget.

“apa? kau masih memanggilnya seperti itu?”

Nara terdiam. sial! Dia ketahuan. “bukan mom, aku__”

“eomma, im nara!”

Nara kembali tersentak lalu tak lama wajahnya berubah masam “mom, aku belum terbiasa. Bisakah kita__”

“this is korea, baby” yoona menggenggam jemari nara lembut “biasakanlah” pintanya.

__

“kyu?”

“….”

“KYU?!”

Kyu hyun tersentak ketika bahu kanannya terasa bergetar. Ia sadar. Baru saja sadar. Dan ketika tubuhnya berbalik, tatapan tajam tiffany segera menghujam manik matanya dalam amarah yang meluap.

“ini sudah yang ketiga kalinya. Bisakah kau lebih berkonsentrasi, kyu?”

Namja itu mengerjap sesaat. Oh, apakah ia kembali melewatkan pembicaraan penting mereka?

“maaf. Aku__”

“kau selalu beralasan!!”

Kyu hyun hanya diam. Tak ingin memperpanjang pertengkaran dengan memilih untuk keluar. Ini sudah tidak benar. Sangat amat tidak benar.

Kedatangan yoona semalam mengusik batinnya. Kyu hyun sadar, ini pertemuan pertama mereka. yeoja itu menghilang hampir lima tahun lamanya dan kembali setelah tiffany berusaha mencarinya dengan keras.

Awalnya, kyu hyun fikir ini akan baik. Karena persahabatan mereka pada dasarnya memang terlalu kuat. mereka pernah berjanji akan menikah disaat yang bersamaan. Meski nyatanya, kyu hyun tau hal seperti itu tidak akan terjadi.

Kyu hyun dan tiffany memilih untuk bersama, meninggalkan yoona dalam kesendirian yang gamang ditengah proses pencarian jati diri. pada akhirnya, persahabatan mereka berakhir dengan –sangat amat- canggung. Bahkan yoona dan tiffany tak lagi seperti dulu.

Setidaknya, seperti itulah yang terlihat oleh kyu hyun.

Kyu hyun tersentak ketika jemari tiffany memeluknya erat. Yeoja itu menempelkan sebelah pipinya pada punggung kyu hyun sementara seluruh jemarinya bertaut seolah meminta kyu hyun untuk tidak pernah pergi.

Kyu hyun menghela nafasnya berat. Jemarinya menindih milik tiffani kemudian mengusapnya lembut. Ia tau, tiffany sedang mencoba mencuri maaf darinya. Dan satu dari beribu hal yang akan kyu hyun lakukan adalah, mengabulkan keinginannya.

“maaf, aku tidak bermaksud membentakmu. Aku hanya,, pernikahan ini..” gadis itu berhenti berbicara. “maaf. Maaf kyu..” sambungnya pelan.

Kyu hyun menggenggam jemarinya lembut “gwenchana. Aku mengerti” lalu ia berbalik dan menangkup wajah yeoja itu dengan telapak tangannya yang besar “tapi tiff, pernikahan kita masih terlalu jauh. Kau tidak harus menyiksa diri dengan terus mencemaskannya. Masih banyak hal penting yang__”

“pernikahan ini lebih penting kyu!”

Kyu hyun terdiam sesaat “aku tidak berkata pernikahan ini tidak penting. Yang harus kau ingat betul, ini pernikahan kita. Aku juga akan menjalaninya. Tapi jika saja kau ingin lebih tenang dan membicarakannya tidak dengan ketergesaan mungkin kita akan sama-sama lebih menikmati ini”

Kyu hyun menatap yeoja itu memohon. Terlalu memaksakan diri membuatnya terlihat seperti yeoja murahan pengejar cinta. Sementara faktanya, bertahun-tahun lalu kyu hyun lah yang mengejar cintanya.

“lagipula tiff, aku yang salah” kyu hyun tersenyum lembut “maaf, aku tidak mendengarkanmu dengan baik”

__

“but mom,__”

“eomma, im nara!!”

Gadis kecil itu mendesah lalu memutar bola matanya malas “i see, i see. Eomma!” ujarnya.

Yoona tersenyum manis “anak baik!”

Nara kembali bergumam kecil. Menggerutu diatas seporsi besar es krim vanilla dan strawberry yang baru saja ia pesan bersama eommanya.

Yoona terus berceloteh mengenai satu bahasan yang sama semenjak pagi ini. panggilan nara pada lelakinya membuat yoona terkadang sedikit geram. Tapi sungguh, mengapa baru sekarang sementara nara telah menggunakannya semenjak pertama kali ia mengenal televisi.

Oh, memang terdengar konyol. Tapi percayalah jika hingga saat ini ia masih percaya bahwa namja itu adalah titisan edward cullen yang dikirimkan tuhan untuknya.

Nara menggilai pria tampan yang satu itu. meski yoona akan berteriak kencang ketika mendapati gadis kecilnya tengah menonton tontona dewasa yang tak seharusnya ia konsumsi. Tapi mau bagaimana lagi, bahkan tontonan terakhir yang nara ingat adalah berkat tawaran sahabat eommanya sendiri.

Jessica jung.

Nara benar-benar imaginatif. Setiap wajah lelaki yang berkunjung ke kediaman mereka selalu ia bandingkan dengan sosok ‘edward cullen’nya lalu dengan jujur akan bergumam ‘dia bukan edward, hanya edward yang boleh mendekati mommy’.

Dan jadilah yoona hanya sendiri hingga sekitar setahun belakangan nara merasa benar-benar menemukan sosok edward cullen miliknya pada lelaki itu.

“jadi, kalian sudah memesan makanan?”

Yoona menoleh lalu nara segera menjulurkan sendok penuh es krim milikya sebelum menghabiskan dengan cepat. namja itu memilih duduk bersebelahan dengan nara lalu menatap yoona tersenyum.

“aku harus pergi sepuluh menit lagi” ujarnya.

Yoona tersenyum lalu mengangguk pelan “hati-hati”

“hmm. Kau benar-benar tidak menginginkan apapun?”

Yoona menggeleng sekali “apartemenku sudah cukup padat untuk barang-barangmu” jawabnya.

Namja itu terkekeh geli “arraseo. Jadi aku hanya perlu membelikanmu itu?” lalu ia beralih menatap nara.

Nara mengangguk “yang besar. Jangan lupa peralatan mandi dan rumahnya”

Namja itu mengacak rambut nara gemas “apa kau tidak ingin dia memiliki pasangan?”

Nara terhenti dalam aktivitas makan yang terlalu ia hayati “oh ya! Edd, you’re the best!!” ujarnya mengacungkan ibu jari mungilnya yang hampir tertutupi sweater rajutan tebal.

Gadis kecil itu lalu beralih pada yoona yang menatapnya garang dan detik berikutnya memberikan senyuman lebar yang lucu sebelum menjulurkan lidah. “mom, dia lebih menyayangiku” tukasnya.

Yoona tertawa disambut namja didepannya. Tak lama namja itu berdiri dan memunguti tas kecil miliknya. Ia menggendong nara pada bahu, menurunkannya ketika pintu masuk terlihat cukup dekat.

Yoona sempat memejamkan mata ketika hangat itu menerpanya. Lalu tak lama ia merasa sesuatu menjauh hingga namja itu menghilang dibalik eskalator bandara.

__

“mom, tidak masalah bukan jika aku meminta yang seperti itu?”

Yoona melirik nara, jemarinya terus mengontrol kemudi mobil lalu matanya terlihat tenggelam ketika ia tersenyum geli “wae? Kau merasa berlebihan?” tebaknya.

Nara menggeleng “aku merasa itu terlalu sedikit”

Yoona membelalak tak percaya “oh, im nara! Aku tidak mengajarkanmu untuk menjadi wanita matrealistis!”

Nara menatap jendela mobil dengan antusias “tapi waktu aku menonton__”

“bukankah aku tidak memperbolehkanmu menonton?”

Gadis kecil itu kemudian berbalik dan menatap yoona malas “mom, seharusnya kau katakan itu pada aunty jess”

Yoona terdiam kemudian menggeram kesal “jessica!!” pekiknya tertahan.

Gadis kecil itu terkekeh lucu. Ia tau, tidak mungkin sekali jika eommanya akan terbang menuju new york hanya untuk memaki sahabatnya. Jelas itu terlalu konyol. Gadis kecil itu juga tau, yoona tak akan berkomentar apapun.

Atau lebih ekstrim lagi, yoona bahkan tidak akan mengajaknya berbicara untuk dua jam kedepan. tapi bukan masalah. Eommanya bukanlah tipe perajuk yang berlebihan. Nara tau betul jika eommanya kuat, terlalu kuat bahkan.

“mom, aku benar-benar tidak boleh memanggilnya seperti itu lagi?”

Yoona menoleh, dan nara tau jika sorot emosi itu tak lagi ada. Sudah ia katakan, bukan?

Yoona menghela nafasnya gusar “bukan begitu sayang, kau tau dia punya nama jelas. Untuk apa memanggilnya dengan sebutan seperti itu?”

“tapi dia memang seperti edward, mom!” pekik gadis itu lucu.

Yoona tersenyum “aku bukannya berkata tidak. Hanya saja, itu terlalu berlebihan. Kau masih tiga… oke, hampir empat tahun. dan memanggilnya seperti itu bukanlah kapasitasmu”

Nara menatap yoona tak mengerti. Meski terkadang yoonalah yang harus ternganga tak percaya. Nara adalah anak pintar. Tiga tahun saja ia sudah dapat mendebat pendapat yoona. Ia pembangkang.

Dan meski seluruh game hadiah miliknya telah disita yoona, ia selalu punya beribu jurus untuk meminta yang baru pada… siapa lagi jika bukan jessica.

Wanita itu terlalu memanjakan nara. Hingga bisa yoona pastikan jika box game nara hampir seluruhnya adalah pemberian –secara diamdiam- dari jessica.

Nara juga bukannya kurang ajar. Hanya sifat keras kepala gadis kecil itu terlihat sangat amat tidak wajar. Terbukti setelah lebih dari satu tahun pun, ia tetap bersikeras dengan panggilan ‘edd’ miliknya meski yoona melarangnya cukup keras.

Mau bagaimana lagi. Yoona juga tidak mengerti dari mana sifat seperti itu datang. Ia penyabar, jelas, sangat sabar. Yoona juga bukan seorang keras kepala. Pun ia benci sekali dengan game. Terlalu menghabiskan waktu, menurutnya.

Tapi yoona tak terlalu bodoh untuk menyadarinya. Jika bukan dia, tentu seorang yang menitipkan benih nara padanya adalah yang memiliki sifat serupa. Yoona tak lupa, tak pernah melupakannya.

“MOM!”

Yoona menoleh dan mengacak rambut nara gemas “berhenti berteriak gadis kecil!” geramnya.

“tapi aku memanggilmu berkali-kali. Aku fikir mommy mulai g__”

“im nara, jangan sampai kaset game terbarumu menjadi berkeping didalam kantong sampah kita malam ini”

Nara tersenyum polos. Mengacungkan dua jarinya lalu memperlihatkan dua baris gigi yang belum rampung untuk tumbuh.

“baiklah, dia memang mirip edward. Aku akui. Tapi__”

“jadi aku boleh memanggilnya seperti itu. tidak ada alasan!” keras nara sebelum menyumpal telinganya dengan earphone yang –juga- diberikan jessica beberapa bulan lalu.

__

“IM NARA BOLEH AKU TAU DIMANA LETAK PAKAIAN KOTORMU??”

“YES MOM!! SEDIKIT LAGI!!”

Rumah itu riuh. Yoona mencoba berteriak sementara jemarinya terus berkutat dengan beberapa masakan sederhana. Kemampuan memasaknya memang bukanlah yang terbaik. Beruntung saja nara bukan pemilih. Ia ingin makan apapun yang menurutnya ‘layak makan’.

Ya, begitulah isi hati gadis kecilnya.

“IM NARA!!”

“OKAY! OKAY!”

Yoona terkekeh pelan. Nara berjalan menggerutu menuju meja makan kemudian menarik scraft baby pink miliknya. Ia kembali berjalan menuju nakas ruang tamu dan menarik rok mini miliknya.

Tak lama ia sudah berada diruang keluarga, memungut topi, dan beberapa baju lampisan yang ia gunakan sebelumnya. Gadis kecil itu terus menggerutu, bibirnya yang tebal terlihat maju hingga menimbulkan gembungan pipi.

Yoona tak tahan untuk tidak tertawa. Percayalah, gadis kecil dengan beberapa helai baju yang coba ia letakkan pada tempat pakaian kotor dikamarnya bukanlah pemandangan biasa. Gadis itu jelas tak mampu untuk melakukannya.

Tapi kembali lagi, im nara terlalu keras kepala.

Yoona sempat menggeleng tak percaya ketika gadis kecil itu memang kembali dengan ruang apartemen yang lebih bersih. Ia berjalan menuju sofa bed dan meraih PSP miliknya dengan cepat.

Maniak!! Batinnya.

Oh tolonglah! Paket game terbarunya sampai siang ini dari new york.

Dan Jessica jung perlu mempertanggung jawabkan ini!!

“mom, sedang apa?”

Yoona menoleh ketika gadis kecilnya datang bersama kerutan kening yang kentara “dduboki” jawabnya.

Nara berkerut semakin kasar “hanya itu?” ia meminta digendong kemudian melirik isi wajan sebentar. Wajahnya tiba-tiba berubah menjadi lebih memelas “oh, mom.. bisakah kita makan yang lain?” pintanya.

Yoona terkekeh. Gadis kecilnya memang terlalu sarkastik.

“memangnya kau ingin makan apa?”

Nara terlihat berfikir sejenak “bagaimana dengan cheese cruel bef__”

Nara terhenti ketika wajahnya ditutup dengan keras “bermimpi saja kau nona muda. Tidak ada fast food hari ini” tukas yoona cepat.

Nara memberengut lalu memberontak meminta diturunkan sementara yoona terus menahannya agar tak menyentuh lantai. Nara terus memberengut malas. Terlalu keras kepala juga membuatnya menjadi pemaksa.

“mom!!” pekiknya.

Yoona kemudian tertawa keras “arraseo” tubuhnya menunduk meletakkan nara pada marmer crem mengkilat itu lalu mengecup pipi nara gemas “ayo ke supermarket. Kita kehabisan stok daging”

__

“selada saja”

“sawi saja”

“mom, sawi lebih pahit”

“tapi selada tidak lebih sehat!”

“aku benci sayuran!”

“dan kau tidak akan mendapatkan jatah makan malammu tanpa sayuran”

“MOM!”

“baiklah. Sawi!”

Yoona meraih beberapa bonggolan kecil sawi kemudian meletakkannya pada troli. Wajahnya berubah ketika nara kembali memberengut dengan lucu. Yoona mendorong trolinya pelan, terus memandangi nara yang bertengger manis pada dudukan troli.

Mau bagaimana lagi, toh nara memang tak bisa melakukan apapun. Ia tidak bisa turun. Dan jika pun ia harus melompat, ia akan memilih untuk tidak melakukannya.

Nara memang bukan pemilih, namun jika sudah mengenai sayuran mood gadis kecil itu memang sangat sulit untuk ditebak. Kemauannya hanya akan berpatok pada selada. Dan yoona benci kenyataan jika ia juga tak menyukai sayuran. Tapi setidaknya, ia lebih tidak menyukai selada.

Lebih baik melahap sawi mentah daripada harus melihat keritingnya selada. Dan yoona kembali geram mengingat sifat nara yang betul-betul kontra dengannya.

“jadi,, kau ingin apa tadi?”

Yoona menatap nara lembut. Bibir gadis kecil itu masih saja berkerut hingga troli berhenti pada bagian tengah supermarket. “daging? Sapi atau ayam?”

Nara tak menjawab, membuat yoona geram dengan tingkah perajuknya yang semakin meningkat. Yeoja itu menunduk, menatap nara yang membuang muka lalu mencium pipi gadis itu hingga memerah.

“kau tidak ingin menjawab?” tanyanya “bukankah tidak sopan jika kau mengabaikan orang yang berbicara padamu? apa aku sudah mengajarkannya?”

Yoona tersenyum saat nara semakin berpaling. Tipikal gadis kecil yang terlalu suka menyangkal kesalahannya. “arraseo, jika kau memang tidak ingin membeli apapun. Kita makan sayur saja hari ini”

“anio!!” yoona berhenti saat genggaman tangannya pada troli tertahan kuat oleh nara. Bibirnya menciptakan lengkungan manis lalu tersenyum remeh.

“wae?”

Nara terdiam “a anio. Aku ingin makan daging sapi” jawabnya.

Yoona terbahak kecil. Menatap kedua pipi nara yang menggembung dan merah. Aneh memang, nara lebih suka diancam terlebih dahulu jika ingin ditanyai pendapatnya.

Gadis kecil yang sudah memiliki bakat congak itu memang terlalu ‘sok berkuasa’, dan yoona benci mengatakan jika itu –sekali lagi- bukan sifat darinya.

Yoona meraih satu pack daging kemasan lalu meletakkannya pada troli. Beberapa daging lainnya yang diinginkan nara juga menjadi pengisi troli mereka sore itu. yoona mengacak rambut nara pelan, sepertinya sudah cukup. Dan sudah sore. Lebih baik mereka pulang.

Yoona memutar trolinya pelan selaras tubuh dan gerakan indra penglihatannya yang berbalik arah, detik berikutnya yoona terdiam kaku.

__

“aku hanya sebentar, lebih baik kau didalam saja”

“hmm”

“menginginkan sesuatu?”

“aku ingin cola”

“baiklah. Aku pergi”

Kyu hyun berjalan menjauhi mobil. Sedikit berlari kecil menuju supermarket terdekat yang ia temukan. Persediaan makanan di apartemen menipis dan ia butuh beberapa mi instan untuk mengganjal perutnya dimalam hari.

Sore itu sedikit berangin, kyu hyun perlu menggunakan coat leboh tebal untuk menghindari masuknya angin lebih banyak. Ia sudah kedinginan dan tak ingin menjadi lebih dingin.

Namja itu berjalan masuk. Kedua mata elang miliknya segera berpendar mencari beberapa daerah yang mungkin saja menjadi tempat benda-benda keperluannya.

Kyu hyun mengambil sebuah keranjang kecil. Sepertinya ia tidak akan berbelanja terlalu banyak. Sebelah tangannya bersarang pada saku coat lalu namja itu berjalan menyusuri beberapa rak barang.

Matanya terus bergerak. Mungkin saja sesuatu terlewatkan jika ia tidak fokus. Namun seketika ia terhenti saat fokusnya, pada akhirnya memang harus terbagi.

Kyu hyun sempat ragu. Kedua matanya menyipit lalu detik berikutnya ia membeku hebat. Petir sore itu sukses menyambarnya dengan kilatan dasyat yang menggelegar.

Itu,, yoona.

Kyu hyun sempat tak bergerak untuk beberapa saat. Beribu paku terasa seperti menancapkan kakinya pada tanah. Dan sialnya lagi, mereka seperti bekerjasama dengan gravitasi untuk benar-benar tak membuatnya beranjak barang satu sentipun.

Lama setelah berdiam diri kyu hyun tersadar. Ia sudah terlalu dekat. Dan candaan khas yoona mulai terdengar jelas dalam pendengarannya. Kyu hyun sempat tersenyum lalu kembali merubah mimik wajahnya pada beberapa point yang tidak ia mengerti.

Terakhir yang ia tau, seorang gadis kecil berkata jika ia mnginginkan daging sapi. Lalu selang menit berikutnya kyu hyun tersentak kuat.

Yoona berbalik.

Dan ia belum menyiapkan alasan apapun mengenai keberadaannya, sore itu, dibelakang mereka dan berdiam diri.

Yoona pun terlihat tak jauh berbeda. Tubuhnya menegang. Untuk beberapa saat yang lama sebelum akhirnya langkah seribu gadis itu menyadarkan kyu hyun.

“yoon.. yoon!!”

Kyu hyun sempat mengejar yeoja itu. berteriak ditengah kawasan supermarket yang tidak terlalu ramai di sore hari.

“yoon!!”

Mereka terhenti. Kyu hyun menggenggam jemari yoona dan rona keterkejutan membasuhi sentuhan singkat –kembali- diantara mereka. yoona terdiam. sesuatu menghangat meskipun tetap saja menusuk batin.

Ia merasa begitu bodoh. bagaimana bisa ia membiarkan dirinya tetap berdiri tanpa melakukan perlawanan. Namun faktanya, sepintar apapun yoona, ia tetap akan melakukan hal yang sama.

“lepaskan” pintanya datar.

Kyu hyun menghela nafasnya berat “yoon, kita sudah__”

“lepaskan!!”

“yoon, aku__”

“aku bilang lepaskan!!” pekiknya.

Kyu hyun melepaskan genggamannya perlahan. Hangat itu memang menghilang, bersama langkah yoona yang benar-benar menjauhinya.

“yoon, kita bahkan baru bertemu set__”

“eoh, yoona!!”

Dan tiffany, menyela segalanya.

-TBC-

The begining-nya seharusnya part ini. yang kemaren itu seharusnya juga aku kasih judul teaser. Tapi yoweslah, semoga menghibur aja ya:)

With love, Park ji yeon.

188 thoughts on “Memorable 1

  1. Gemess banget sama nara…
    Iya yah kaya nya dy mirip.banget sm kyu.. Tp kyu bakal sdar engga ya kalo nara anak nya?
    Haduh kenapa tiff dateng? Ganggu ajaa…

  2. ada apa antara kyuhyun dengan yoona? apakah nara anak dari kyuhyun? cinta segitiga dong thor? mana kyuhyun mau menikah dg tiffany.

  3. Huahh … keren ceritanya. Saya suka ! Saya suka !
    Apakah Nara titisannya Kyuppa? Soalnya dr kebiasaannya ‘say no to sayur’, maniak game dan sikap sok berkuasanya mirip bgt. Tp Nara versi lucu dan menggemaskannya.
    Entah knp karakter Nara begitu mendominasi disini. Aq suka bgt.
    Trs apa hubungan antara mereka bertiga yg katanya ‘bersahabat’?
    Pokoknya, aq suka bgt cerita ini. Di awal udah keren. Satu kata buat author, Daebakk !😀

  4. nara imutnyaa hihi
    kyuhyun nyadar gak ya kalo itu putrinya
    aach hatiku masih di unexpected😀
    tapi tetep lah cerita eonni selalu sukses bikin aku jatuh cinta haha
    berharap kyuna akhirnya nanti bersatu

  5. wah nara baru mau empat taun udah pinter jadi ingat keponakan hahahahahaha
    hhmmm jadi yoona kyuhyun tiffany adalah sahabat dulunya? apa nara anak kyuhyun?

    as expected your story always amazing!
    so edd is siwon??
    nice

  6. Wow.. Semkn complicated aja ceritanya..
    Aku suka bngt sm nara… Kayanya dia unyu bngt ><
    N aku curiga kalau Ed itu siwon..
    Intinya, I started to love this story🙂
    Contonue in the next chap…

    Thanks n GBU

  7. Ini maint cast nya kyuhyun yoona ya???
    Tapi kok kyuhyun sma tiffany
    Trus aku pikir siwon nikah smq yoona??
    Apa meteka cuman tinggal bareng aj ya
    Dan nara itu anak kyuhyun yoona…
    Trus knapa mereka berpisah???
    Apa hubungan mereka sebelumnya???
    Jika hanya sahabat masa sampek segitunya…
    Yuhuuu penasaran banget

  8. nara itu anaknya kyuhyun sama yoona unnie kan? terus yg di panggil edd tdi di awal otu siwon? trus knpa skrg malah jadinya kyuhyun sama tiffany?’-‘

  9. suka sama karakternya nara disini lucu imut imut ngegemesin gimana gitu. hahahaha chapter ini masih penuh rahasiaaaaaa. keren daebak author

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s