Summer Breeze (One Shoot)

summerbreeze

Author: Karinapp26

 

Genre: Sad, Angst

 

Cast: GG’s Yoona | EXO-M’s Lu Han

 

PG: 13+

One Shoot

 

PEHATIAN!! FF ini pernah author publish di blog author sebelumnya.

Dont Be Silent Readers!

 

Happy Reading ^^

 

Semenjak aku dekat dengan nya, Tak tau apa arti perasaan ini. Yang ku utamakan adalah dirinya, dirinya yang selalu menjaga ku, yang selalu dekat dengan ku, mungkin, aku memang tidak di takdir kan untuk nya.

 

I Just Called To Say I Love You

 

 

Yeoja itu hanya tersenyum saat melihat namja yang masuk ke kamar nya. Dengan seragam yang sudah sedikit berantakan, Namja itu membawa bunga untuk nya.

 

“Luhan-ah..” Suara serak yeoja itu memenuhi ruangan. namja itu hanya tersenyum dan membungkuk untuk menyapa nya, lalu ia berjalan ke arah kasur sang yeoja.

 

“Bunga untuk mu.” Namja itu, Luhan. Lagi-lagi membawakan bunga untuk Sahabat terbaik nya, Yoona. Yoona hanya tersenyum lalu mengagguk.

 

“Gumawo, Lu.” Suara serak itu lagi-lagi memenuhi ruangan yang serba putih itu. luhan menatap peralatan medis sambil melihat ke arah sekeliling.

 

“Yoong, kau tau, tadi di sekolah itu seru sekali!” seru Luhan, namja itu langsung duduk di kursi yang tersedia di sebelah kasur Yoona. Ya, khusus untuk nya.

 

“Wae?” Yoona tersenyum lalu mendudukan badan nya. Dia mendengarkan cerita dan candaan dari Luhan, sesekali ia juga tertawa menanggapi cerita Luhan.

 

“Sebentar lagi, bukan kah pertandingan basket?” Yoona mengingat kan Luhan. Luhan berpikir sebentar lalu tersenyum sambil mengangguk.

 

“Fighting!” Yoona mengepalkan tangan nya keatas. Di kerucutkan nya sedikit bibir nya. Luhan hanya tersenyum lalu megelus pelan rambut Yoona.

 

“Aku akan berusaha!” Luhan tersenyum sambil memamerkan deretan gigi putih nya. Yoona mencoba menyembunyikan wajah nya yang berseri dari Luhan.

 

////

 

“Lu, besok besal kau mau jadi apa?” Yoona, gadis kecil itu bertanya sambil menatap sahabat di depan nya. Luhan, namja kecil itu hanya menatap Yoona singkat.

 

“Menjadi doktel saja!” Luhan menatap Yoona lagi. Dia tersenyum, lalu memegang tangan Yoona pelan.

 

“Kau, menjadi apa?” Yoona berpikir sebentar, Dia lalu menggeleng tak tau, Luhan pun menunduk. Dia ingin membantu Yoona mencari impian nya.

 

“Bagaimana jika menjadi pengantin ku saja!” usul Luhan, Yoona bingung apa yang dimaksud Luhan. Dia masih kecil bukan? jadi belum tau semuanya.

 

“Kau menikah dengan ku!” Yoona mengangguk mengerti perkataan sahabat nya, lalu mereka pun membuat janji palsu sambil tertawa.

 

////

 

Walau aku tak bisa bertahan lebih lama, aku memohon dengan yang diatas untuk menyatukan aku dan dia lagi – Im Yoona

 

Yoona tersenyum pahit saat melihat album yang tersimpan di meja kamar nya. Ia melihat sebuah gambar dirinya.

 

Perlahan, air mata nya turun saat melihat foto nya dengan orang tua nya. Ya, orang tua kandung nya.

 

////

 

“Yoong! ayo, jangan lama-lama.” Wanita paruh baya itu berteriak dari lantai bawah.

 

“Wait, eomma!” Pinta yeoja yang masih setia diatas. Ia membereskan barang-barang nya.

 

Beberapa menit kemudian, yeoja itu turun dengan membawa satu ransel yang besar.

 

“Lama sekali!” Gadis dengan kucir kuda itu mengeluh, sementara gadis yang sedang membawa ransel itu hanya menyengir tak jelas.

 

 

“Eomma, kita akan kemana?” Yeoja itu, Im Haerin bertanya kepada yeoja paruh baya yang duduk di depan nya.

 

“Pantai! Kita akan jalan-jalan.” Yeoja paruh baya itu tersenyum menanggapi pertanyaan dari anak pertamanya itu.

 

“Ah, bagaimana jika kita bermain tebak-tebakan.” Yoona berusul sambil bersorak gembira.

 

Nyonya Im dan Tuan Im saling bertatapan, mereka mengingat bagaimana jaman mereka dulu saat mereka sering bermain tebak-tebakan.

 

“APPA! awas!” terlambat! audi putih itu sudah mengerem terlalu cepat dan akhrinya terguncang hebat.

 

Banyak orang mengerumuni mobil audi putih itu. Kejadian tragis yang tak pernah dialami gadis berumur 14 tahun itu akhirnya terjadi.

 

Dan diantara puluhan orang yang mengerumuni itu, hanya ada satu yang terpaku. Dia terdiam, melihat seseorang yang paling dekat dengan nya, yang sangat ia sayangi sebagai sahabat.

 

“Yoona!”

 

///

 

Yoona tersenyum saat melihat sahabat nya datang dengan seragam sekolah nya. Seragam yang sudah sedikit berantakan. Rambut yang teracak-acakan.

 

“Yoona!” Luhan berlari menuju kasur yoona, dan lagi. Kali ini ia membawa bunga yang berfariasi.

 

“Ini untuk mu.” Ucap Namja itu sembari memberi bunga yang sudah sangat indah itu.

 

“Gumawo, Lu~” Dengan suara lembut, yang di keluarkan nya, senyum yang begitu menawan juga di pamerkan nya.

 

“Yoong, lihat ini!” seru Luhan sambil mengeluarkan benda besar dan bercahaya.

 

Ya, sebuah piala.

 

“Ini baru nama nya Luhan!” Yoona berseru lalu tersenyum sangat manis. Inilah yang ia harapkan dari sahabat nya.

 

Sahabat.

 

“Aku kan sudah berjanji untuk mu!” Luhan memberi piala itu untuk Yoona. “Katanya teman-teman merindukan mu.”

 

Yoona menatap Luhan dalam. Ia mengehelang napas nya panjang, dan melihat dirinya yang sekarang ini.

 

“Beritaukan pada mereka, aku juga kangen pada mereka.”

 

Luhan mengangguk saat mendengar suara serak dari Yoona, senyuman manis itu menghiasi wajah nya yang tampak kelelahan sehabis bertanding.

 

“Yoona, katanya akan ada murid baru.” Sesuatu tiba-tiba mengganjal di hati Yoona. Yoona menggigit bibir nya, tak tau, apa yang ia rasakan sekarang.

 

“Apakah Asma mu kambuh?” Luhan menatap Yoona dengan tatapan khawatir, tangan kanan nya sudah memegang bahu Yoona.

 

Yoona menggeleng pelan sambil tersenyum, tapi itulah senyuman paksa, setiap orang pasti mempunyai senyuman itu.

 

Dan, senyuman itu pun kadang untuk orang yang disayangi, orang yang dicintai.

 

///

 

“Dok, Yoona menderita penyakit apa?” Yeoja paruh baya itu menatap keponakan nya yang sedang duduk di sebelah nya.

 

Namja di depan nya menghelang napas panjang sambil menatap mereka nanar.

 

“Yoona, Mengalami penyakit, kanker otak.” Yeoja paruh baya itu kaget. Sementara, yeoja yang berada di kasur itu hanya terdiam lalu tersenyum kecut.

 

“A-apa itu keturunan dok?” Yoona mencoba tersenyum, walaupun ia menerima penyakit yang parah dan ganas ini.

 

Yoona tetap lah Yoona, Yoona yang ceria dan penuh semangat, Yoona yang selalu tersenyum menyapa orang dan Yoona selalu jahil terhadap siapa pun.

 

Tapi untuk sekarang, apa yang bisa ia lakukan? berjalan sendiri sangat susah, belum lagi sekolah yang masih ia harus lanjutkan.

 

Apa kali ini Tuhan memberikan waktu sedikit sebelum ia menyusul kepada kedua orang tua dan eonni nya.

 

“Bisa jadi.” Dokter itu lalu berlalu begitu saja dari balik pintu putih. Yoona menatap punggung dokter itu yang sudah hampir tak terlihat lagi.

 

“Yoong.” suara lembut itu terdengar, Yoona menatap masam bibi nya lalu menggigit bibirnya.

 

“Jangan beritau penyakit ku kepada Luhan, kumohon bi. Jika bibi memang sayang kepadaku.” Bibi menatap Yoona sebentar lalu perlahan mengangguk.

 

 

“Yoong, kau memiliki penyakit apa?” Namja itu mengampiri kasur yeoja itu. Yeoja itu menggigit bawah bibir nya lalu menutup kedua matanya pelan.

 

“Hanya asma.” Yoona tersenyum manis, mencoba semanis mungkin, padahal yang ia terima adalah penyakit yang sangat ganas yang bisa menggrogoti jiwa nya.

 

Takdir lah yang akan menjawab, hanya waktu yang akan terus berjalan. Tapi, Yoona tau, inilah waktu dimana dia harus berada dalam kesusahan.

 

Ia tak ingin memberi tau Luhan tentang masalah penyakit nya, karena ia tau, Luhan sudah memiliki masalah sendiri.

 

////

 

Yoona memejamkan matanya, menahan rasa sakit yang benar-benar sudah terasa di tubuh nya.

 

Dia mengepalkan tangan nya, keringat dingin sudah berdesir di pelupuk dahi nya. Dia menggigir bawah bibir nya yang sudah tampah memerah.

 

“A-aku strong yoona, t-tolong jangan buat aku pergi.” Yoona terus menyemangati dirinya sendiri. Dia akhirnya mengeluarkan buliran air mata.

 

Yoona akhirnya memejamkan matanya, ia hanya memohon kepada Tuhan bahwa ia belum ingin di panggil, ia masih ingin melihat wajah manis itu.

 

Xi Luhan.

 

 

Yoona perlahan terusik saat ia mendengarkan suara merdu dari ponsel nya.

 

Pintu pun terbuka, terlihat seorang namja sedang tersenyum bersama seorang yeoja. Tunggu yeoja?

 

Yoona yang tak menyadari nya hanya mendengarkan lagu sambil memakai earphone.

 

“Yoona!” Yoona juga masih tak mengrubis perkataan namja itu, Yoona menutup matanya sambil menggenggam ponsel nya erat.

 

Akhirnya dia tersadar setelah ada seseorang yang menepuk pundak nya, Yoona pun tersenyum, tapi seketika senyuman itu hilang.

 

“Nuguya?” Yoona bingung saat melihat yeoja yang masih berada di ambang pintu.

 

“Yoong, kenalkan ini teman baru ku, Haerin.” Yoona tercekat lalu tersenyum lebar.

 

“Haerin!” Yeoja yang berada di ambang pintu itu terkaget saat mendengar suara yang memanggil nya, suara yang familiar di telinga nya.

 

“Yoona, kau kah itu?” Yoona mengangguk lalu memeluk Haerin, Luhan di sebelah nya pun tak dihiraukan nya.

 

“Kukira kau akan melanjut kan sekolah terus di Indonesia.” Haerin mengerucutkan bibir nya.

 

Ya, Haerin adalah sahabat Yoona tanpa sepengetahuan Luhan. Tapi, saat berumur 13 tahun, Haerin harus melanjutkan sekolah nya di Indonesia.

 

“Jadi kalian sudah saling kenal?” Yoona dan Haerin menatap Luhan bersamaan lalu mengangguk. Luhan pun menghelang napas lega.

 

….

 

Sudah sebulan, benar-benar sebulan. Yoona merasakan sakit yang paling dalam, siang ini, ia tak bisa benar-benar mengandalkan tubuh nya sendiri.

 

Di siang ini, ia membutuh kan pertolongan, ia benar-benar membutuh kan itu. Ya, namja itu. Xi Luhan.

 

Tapi, siang ini di bawah terik matahari yang begitu panas, Namja berambut coklat itu tak kunjung datang menemani yeoja itu.

 

Yeoja itu menggigit bawah bibir nya yang sudah berdarah, Dia meremas selimut di bawah nya, rasa sakit nya kini benar-benar menggrogoti nyawa nya.

 

Tapi, disaat pintu terbuka, bukan lah Luhan yang datang yang selalu membawa bunga untuk Yoona, melainkan teman-teman sekolah nya, mereka kaget akan keadaan Yoona.

 

Memeras selimut dengan keras, hidung nya yang mengeluarkan darah, keringat dingin yang sudah bercucuran.

 

Dimana namja itu?

 

Dimana dia yang selalu menemani yeoja lemah itu?

 

Dimana namja yang selalu datang lalu membawa bunga baru?

 

Dimana namja yang selaly menemani nya? bercerita dengan nya?

 

 

Yoona mengerjapkan matanya, ia menemukan seseorang namja telah berdiri di sebelah kasur nya.

 

Yoona merasakan sensasi hangan yang menyentuh tangan nya, dia benar-benar membuka matanya kali ini.

 

Dilihat nya namja yang berada di sebelah nya nampak khawatir dengan nya, dia pun tersenyum.

 

“Yoong, mian.” Yeoja itu menatap sendu kelopak mata itu, membiarkan kedua kelopak mata insan itu bertemu satu sama lain.

 

Tapi, yang nama nya sahabat, tetaplah sahabat.

 

“W-wae?” suara itu pun berubah lirih. Suara serak itu memenuhi ruangan bercat putih itu.

 

“K-kemarin aku tak bisa datang karena aku harus menemani Haerin pergi membeli kado untuk orang tuanya, aku tak tau keadaan mu bisa sampai separah itu.”

 

seperti sebuah pedang menempel di jantung nya, Sahabat nya lebih memilih pergi dengan orang lain?

 

Ya, mungkin dia harus menerima kenyataan, kenyataan yang super pahit, ia tau, hidup nya memang tak lama.

 

“Haerin itu, menurut mu bagaimana?” Yoona mengalihkan pembicaraan nya, Tapi sepertinya, Luhan terpengaruh.

 

“Dia orang nya lumayan baik dan pintar, mungkin aku bisa menyuka..” Luhan menutup mulutnya saat mendengar kekehan pelan Yoona.

 

Tau, ia tau, ia mengetahui nya, kekehan yang ia keluarkan pun terdengar paksa, sangat terpaksa. Tapi inilah nama nya hidup, ada kala nya kita harus terpaksa melakukan sesuatu.

 

“Yoona, itu hanya…” Yoona tersenyum, walaupun di hatinya sangat bergenjolak dan ingin rasanya menangis, tapi inilah dia, Strong Yoona.

 

“Dia memang cantik, sangat cantik.” Guman Yoona yang diikuti pelan anggukan Luhan.

 

 

“Haerin-ah.” Yoona memanggil yeoja berparas cantik yang berada di ambang pintu.

 

“Waeyo, yoong? kenapa kau memanggil ku sendiri?” Haerin bingung tiba-tiba Yoona menyuruh nya sendiri ke sini.

 

“Tolong gantikan aku.” Pinta Yoona sambil berusha duduk. Haerin membantu Yoona.

 

“Apa maksud mu?” Haerin sama sekali tak mengerti perkataan Yoona, Dia memang benar-benar tak mengerti.

 

“Luhan, gantikan lah aku posisi di sebelah luhan.” Yoona menggenggam tangan Haerin erat, matanya sudah mulai berkaca-kaca.

 

“Yoona..” Haerin menggeleng pelan lalu tersenyum lembut, ia perlahan tau maksud yoona.

 

“Hidup ku sudah tak lama lagi Haerin-ah, kumohon..” Kali ini wajah Yoona tampak serius, Haerin menatap Yoona sendu. ”Aku mencintai nya Haerin, aku sangat menyayanginya.”

 

Haerin lagi-lagi tak kuasa mendengar suara lirih dan pilu yeoja di depan nya, ia bisa merasakan dingin nya tangan yeoja itu.

 

“Yoona, jika kau benar-benar menyukai nya, kenapa kau tak langsung memberitau nya? Kau tau, dia juga sangat menyayangimu.”

 

Yoona menundukan kepala nya, dia menahan semua perasaan nya dari dulu. Ia percaya, Haerin bisa diandalkan.

 

“Menyayangi dan mencintai itu berbeda.” Haerin menarik sedikit bibirnya, mencoba mencerna kata-kata Yoona.

 

“Promise please.” Haerin tetap menggeleng, ia tak mau membuat konflik antara dirinya dan Luhan Yoona.

 

“Ini, berikan untuk nya saat aku pergi.” Yoona memberikan sebuah amplop bewarna putih.

 

“Yoona, ini…” Haerin menggantungkan kalimat nya bingung, ia tak tau apa yang harus ia perbuat.

 

“Kau tak usah mengganti posisi ku jika tak mau, cukup dengan memberi ini.” Yoona mengerucutkan bibir nya, dia lalu tersenyum.

 

….

 

Kali ini, malam ini, malam dimana penyakit Yoona benar-benar ganas, Yoona mendesah kesakitan.

 

“Tuhan..” dia terus berdoa sambil meremas selimut nya, kali ini penyakit ini benar-benar sudah ada di puncak nya.

 

‘Luhan, mian.’

 

……

 

Luhan dan Haerin membuka pintu itu secara perlahan, mereka ingin membuat sesuatu untuk Yoona.

 

Ya, hari ini adalah hari ulang tahun persahabatan mereka yang ke-7 tahun. Dan Haerin ingin membantu nya.

 

Suasana di kamar Yoona terasa sepi, Yoona masih terjaga dalam mimpi nya, sementara Haerin dan Luhan sibuk menghiasi kamar Yoona.

 

Luhan pun dengan senyum manis menghampiri Yoona, tapi, senyuman itu tiba-tiba saja lenyap.

 

“Haerin-ah, mengapa tangan yoona sangat dingin?” Haerin menelan saliva nya, Luhan masih tetap menatap Yoona yang tidur dengan nyenyak nya.

 

“Mungkin, ia hanya terlalu capek.” Luhan menggeleng saat mendengar alasan dari Haerin.

 

“Yoona, ireona.” suara lirih Luhan terus berulang, tangan nya sibuk menggoyangkan badan yoona. Tapi apa daya, yeoja itu terus tak bergerak.

“Yoona..” Luhan terus bersikeras memanggil sahabat nya itu. Tetapi, semua saraf yoona sudah berhenti. Nyawa nya pun tak bisa kembali. Ini bukan dongeng, ini adalah kenyataan.

 

“Yoona, jangan tinggalkan aku, kumohon.” Luhan menggenggam tangan Yoona lalu mencium nya, Haerin yang melihat dari belakang hanya bisa mengeluarkan air matanya.

 

“Yoong, kau sudah berjanjai akan menikah dengan ku bukan?!” Luhan mencoba kuat, dia terus tersenyum menatap Yoona.

 

Tak ada lagi Yoona yang ceria

 

Tak ada lagi Yoona yang aktif

 

Tak ada lagi Yoona yang selalu jahil

 

Tak ada lagi yang namanya Strong Yoona

 

Tak ada lagi Yoona yang selalu mengisi hati Luhan

 

Tak ada lagi kata-kata yang bisa diucapkan untuk Luhan

 

 

Luhan masih saja berdiri di sebelah batu nisan milik Yoona, yeoja yang paling ia sayangi bahkan ia cintai.

 

Dia belum mau membaca surat dari Yoona yang tadi di berikan oleh Haerin. Acara pemakaman memang sudah selesai dari tadi.

 

Akhirnya, Luhan membaca surat dari Yoona, ia membuka perlahan amplop putih itu.

 

Dear Luhan,

 

Lu, aku mencintai mu, menyayangimu, menyukai mu, mian jika ini terlambat.  Aku tak tau arti perasaan sebetul nya, aku hanyalah yeoja lemah yang selalu mencoba kuat.

 

Tapi, semenjak aku berkenalan dengan mu, aku tau apa itu cinta. Aku tau apa itu arti sahabat. Hanya dengan mu aku bisa merasa nyaman, dan hanya dengan mu aku bisa merasakan cinta, cinta yang amat dalam.

 

Aku tau, penyakit ku yang begitu parah, Kanker otak. Mian luhan aku tak bisa memberi tau mu tentang penyakit ku yang sebenarnya.  Aku terlalu mencintamu, aku tak ingin kau khawatir dengan penyakit ku, aku hanya ingin kau menyayangi ku.

 

Akhirnya, aku tau siapa yang cocok dengan mu, siapa yang benar-benar bisa dengan mu, Haerin. Andai kamu tau betapa aku mencitaimu, selalu menjadikan mu isi dalam doaku.

 

Maafkan aku kalo memang kamu menyayangiku  dan terima kasih atas perhatian mu kepada ku.

 

Dimana tempat cinta sejati? bukan di puncak bukit yang tinggi, bukan di pinggir samudra yang sepi, Jangan cari di tempat memuja di kuil untuk membakar dupa, bukan di dalam gua tempat bertapa.

 

Bukan di mahliqai batu pualam, bukan juga di kastil yang terhias permata nilam. aku selalu merasa, perasaan kita selalu sejajar.

 

sehidup semati.

 

Im Yoona

 

Tangisan Luhan pun akhirnya pecah, ia tahu, ia seorang namja, namja yang kuat.

 

Tapi apa daya, perkataan yoona mampu membuat luhan jatuh, jatuh di bawah kaki Yoona.

 

Yoona lah yang ia ingin kan. Yoona lah yang ia minta, yoona lah yang ia butuh.

 

Tapi sekarang, dimana dia? dimana yoona sekarang? dimana? apakah ia harus mencari?

 

Bahkan walaupun dia akan mencari di seluruh benua, dia tak akan menemukan Yoona.

 

Dimana ada Yoona, disitu ada Luhan, tapi kali ini berbeda.

 

Hanya Luhan, tak ada Yoona. Hanya luhan lah yang tertunduk di sebelah makam yoona.

 

Hanya Luhan lah yang menanti kedatangan yoona sekarang, menanti senyuman manis yoona.

 

Tapi, ia tak akan bisa mengubah takdir. Takdir sudah menjawab dan waktu sudah berlalu.

 

Di ujung sana, terdapat yeoja dengan gaun putih elegan, tampak  seperti bayangan, yeoja yang berambut coklat dengan rambut kepangan.

 

‘Mian Luhan, Saranghae.’

 

.

 

.

 

END

9 thoughts on “Summer Breeze (One Shoot)

  1. Huaaaa
    Bagus thor, tapi sad ending
    Aku mau ngasih tau nih(maaf klo udah tau) sama fanfic yoong eonni di yoongie fanfic yg judulnya “if she’s gone” aku harap chingudeul baca itu fanfic, fanfic itu daebak~ bgt. Gomawo
    Keep writing ^•^9

  2. ini sad banget..
    aku agak greget gitu sama luhan pas penyakit yoona kambuh sedangkan luhannya pergi sm haerin..
    itu yg bikin dapet banget feelnya..
    intinya kesian sm yoong😥

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s