[Freelance] Kuroii (Chap 2: What are You?)

kuroii poster

Author : Upleize|Title : Kuroii (Chapter 2: What are You?)|Cast : CNBLUE Jonghyun, SNSD Yoona, Super Junior Kyuhyun

Genre : Action, Romance, Family|Length : Chaptered|Ratings : General

Desclaimer : Author’s own plot

 

 

Note : Annyeonghasseyo! Enjoy the story hope you like it..😀

 

I’ll show you previous chapter  preview :

“Lepaskan dia! Dia temanku” Teriak Kuroii dari kejauhan. Membuat semua orang menoleh. Kuroii mendekati kerumunan itu, otomatis mereka menunduk memberi hormat. Yoona bisa melihat wajah dingin Kuroii yang menariknya dari sana tanpa berkata apapun.

Sesaat Kyuhyun tidak mengerti dengan jalan pikiran Kuroii. Kuroii dan Yoona bahkan tidak pernah saling kenal. Pasti ada alasan khusus sampai Kuroii membawanya ke apartemen Kyuhyun.

“Kenapa Jonghyun menolong gadis itu? Apa mungkin?” Gumam Kyuhyun.

 

Im Yoona bisa mencium wangi omelet rice dari balik selimutnya. Butuh beberapa waktu untuk benar-benar sadar kalau Kyuhyun sudah duduk di dekat tempat tidur menikmati segelas Juice sambil membaca Koran dengan kacamata baca yang bertengger di hidungnya. Im Yoona tersentak kaget dan langsung buru-buru bangun.

Pria itu sudah menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Sebuah handuk wangi mendarat di kepala Yoona, lebih baik dia mandi dulu seperti saran Kyuhyun. Perutnya juga sudah kelaparan.

Setelah mandi, Im Yoona keluar dari kamar dan menemui Kyuhyun di ruang makan. Agak kikuk dengan mini dress milik mantan pacar Kyuhyun yang menurutnya kependekan. Dia sibuk menurunkan bagian bawah dan menutupi pahanya.

“Kemarilah!” Panggil Kyuhyun. Pagi ini dia sudah memasak dua porsi Omelet rice untuk mereka berdua. Yoona malu-malu duduk di salah satu kursi.

“Makanlah, aku akan menelpon Jonghyun” Yoona mengangguk. Pilihan untuk diam dan mengikuti alur untuk sementara ini lebih baik dia jalani. Yoona sedikit mempercayai Kyuhyun setelah semalaman menginap di apartemen ini dan bisa bangun dengan selamat.

Ting tong.

“Ah ! itu mungkin Jonghyun! Aku buka dulu pintunya!” Kyuhyun buru-buru berlari memeriksa intercomm-nya.

“Aigoooo!” Jerit Kyuhyun saat melihat wajah Kuroii sudah memenuhi seluruh layar Intercomm.

“Ya!!!! Kau tahu! Wajahmu bahkan lebih seram daripada hantu sadako!” Pekik Kyuhyun. Membuat Kuroii sedikit membentuk senyum.

Cklek.

“Lee Jonghyun!!!”

Kyuhyun menggertakkan giginya kesal. Kuroii hanya menunjukkan gigi-giginya yang rapi tanpa suara.

“Kenapa kau tertawa? Apa wajahku lucu?” Kata Kyuhyun lagi. Kuroii merangkul kakaknya sembari masuk ke rumah mendapati Im Yoona yang sedang makan.

BRAG!

Kuroii meletakkan dengan kasar sebuah tas travel membuat Yoona tersentak kaget.

“Omo! Ini?”—barang-barangku. Kuroii mengangguk pelan. Kemudian pergi menyalakan TV.

“Ganti bajumu kalau begitu!” Usul Kyuhyun menyadari ketidak nyamanan Yoona. Buru- buru gadis itu  langsung pergi ke kamar mandi setelah meraih beberapa outfit andalannya.

Kyuhyun ikut duduk bersama Kuroii di Sofa TV.

“Siapa gadis itu? Kenapa dia bisa sampai ke Ryuchi?” Tanya Kyuhyun antusias. Dia sudah tidak ingin jawaban basa-basi lagi. Yoona sudah menceritakan semua kejadian yang dialaminya semalam. Kuroii menatapnya sebentar kemudian kembali mengganti channel TV—tidak ingin menjawab.

“Ya! ” Geram Kyuhyun.

“Aku… tidak mengenalnya” Katanya kemudian

“Kenapa kau bawa kemari? Kau bilang semalam kau mengenalnya” Kuroii mengangkat bahunya, tak ingin menjawab membuat Kyuhyun menyerah. Kuroii memang sangat menyebalkan untuk hal-hal ini.

“Kyuhyun Oppa” Kuroii dan Kyuhyun menoleh bersamaan saat mendengar panggilan Im Yoona. Yoona berlari kecil mencapai mereka.

“Bisakah kau bertanya padanya, apa dia melihat kertas alamatku? Aku belum terlalu lancar berbahasa Jepang” Kyuhyun tersenyum sesaat. Dia tahu, Kuroii menguasai bahasa korea dengan sangat baik. Kuroii menyerahkan secarik kertas yang diambil dari sakunya membuat mata Yoona ingin sekali keluar. Ternyata pria itu bisa mengerti apa yang dikatakannya.

“Ah! Kamsahamnida!” Yoona membungkuk. Kuroii tidak bergeming sedikitpun. Membuat Kyuhyun ingin sekali menamparnya—tidak sopan.

*

“Maaf, tempat apa yang semalam itu?” Yoona bertanya agak ragu. Dia sempat bertanya pada Kyuhyun tentang hal itu. Tapi pria itu tidak menjelaskan secara detil. Kuroii diam sejenak, dia lupa kalau gadis ini bisa jadi penyebab terbongkarnya perkumpulan milik ayahnya itu.

“Lupakan saja” Kata Kuroii singkat. Dia tetap fokus pada jalan tanpa sedikitpun melirik gadis di sampingnya. Dia sudah berjanji untuk mengantar gadis ini sampai tujuan.

“Ta….”

“Aku bilang lupakan saja—kalau kau ingin selamat” Kuroii kini menatap dalam Yoona saat mereka sedang di lampu merah. Yoona mengangguk kikuk. Itu kalimat terpanjang yang pria itu ucapkan. Menurutnya tatapan Kuroii sangat dingin dan kejam. Membuatnya takut dan tak tahu ingin berucap apa. Ini ancaman kah? Dia tidak ingin mati sia-sia sebelum kembali ke Korea dengan sukses. Ini bukan tujuannya datang ke Tokyo.

*

Hari-hari awal di Negara baru terasa sedikit melelahkan. Semua ini mungkin tentang adaptasi budaya yang harus dilakukannya. Sejenak Im Yoona melupakan sosok Kuroii dan kakaknya Kyuhyun. Mereka yang pertama kali Ia kenal di Jepang. Dan akhirnya hari ini hari pertama masuk kampus.

Kuliah dalam bahasa yang berbeda cukup menguras tenaga, tapi apa boleh buat, anggap saja ini keberuntungannya. Tidak banyak mahasiswa yang mendapat beasiswa  untuk masuk ke Universitas ini. Hari hari awal di kampus Yoona hanya menghabiskan waktu di perpustakaan atau di Cafetaria dan memesan susu Pisang favoritnya.

Yoona berjalan memasuki lorong-lorong yang terbentuk dari lemari-lemari yang menjulang tinggi perpustakaan. Tak ada hal yang tidak patut dibanggakan di perpustakaan super lengkap ini. Ia bisa membaca sepuasnya, membaca buku apapun. Yoona menangkap sosok yang dia kenali sedang duduk melantai di sudut ruangan.

“Bukankah kau?” Yoona bisa melihat Kuroii sedang sibuk membaca tumpukan buku-buku tebal. Kuroii tidak bergeming sedikitpun. Jelas saja, pria ini menggunakan earphone dengan volume penuh. Tidak heran dia tidak mendengar atau menggubris perkataan siapapun. Kuroii mungkin bisa melihat sepasang kaki Yoona yang berdiri di depan matanya sehingga dia mendongak untuk melihat.

Annyeong!” Kata Yoona. Kuroii malah lanjut membaca buku. Membuat Yoona harus menelan ludah.

“Jangan bicara padanya” Ibu penjaga Perpustakaan tiba-tiba muncul.

“Kau akan terluka jika bicara pada pria itu” Yoona mengangguk tersenyum kecut sambil menatap Kuroii yang masih diam di tempatnya. Ia pergi meninggalkan Kuroii. Ibu penjaga benar, Kuroii tidak punya satupun teman di kampus. Dia lebih memilih diam ketimbang harus membuang tenaganya untuk berbicara dengan orang lain. Ia bisa secara sempurna menyelesaikan semua pekerjaannya sendiri.

“Apa kau mengenal gadis tadi?” Tanya Ibu penjaga pada Kuroii saat pria itu bersiap untuk pergi. Kuroii tersenyum tipis tanpa menjawab pertanyaan beliau.

“Heh? Kenapa begitu pelit bicara? Kapan kau akan dapat pacar kalau begitu?” Hardik ibu itu membuat Kuroii terkekeh. Dia mengeluarkan sesuatu dari tasnya dan menyerahkan bungkusan itu pada Ibu penjaga.

“Apa ini?”

“Minumlah, biar punggungmu tidak sakit lagi!” Kata Kuroii sebelum dia menyelinap keluar perpustakaan. Ibu Penjaga tak bisa berucap lagi, ini kesekian kalinya anak muda itu memberikan sesuatu padanya. Walau tak banyak bicara, Ibu penjaga tahu, Kuroii anak yang baik. Ibu penjaga menimang-nimang bingkisan obat herbal pemberian Kuroii dengan hati riang.

*

“Aku kemari untuk membalas kematian kakakku!” tanpa dibiliang pun ia tahu, Kuroii kini berhadapan dengan seorang pria tinggi berwajah kejam. Tapi bisa ditebak, isi kepala pria ini kosong. Dia adalah adik CEO agent Senjata Amerika yang mati di tangan Kuroii beberapa waktu lalu. Kuroii menatap pria itu dengan wajah tenangnya. Mengisyaratkan ejekan yang luar biasa bagi siapa saja yang melihatnya.

Pria itu mengambil sebilah pisau dari sakunya, dan mencoba mulai menyerang Kuroii. Anak buahnya tentu saja sedang menghadang anak buah pria itu. Kuroii dengan gesit berkilah dan menghindari serangan pria itu. Sebelum akhirnya dia mengeluarkan pedangnya. Pedang yang sama dengan tingkat ketajaman yang masih sama 100%. Pria itu sedikit tersentak memperhatikan pedang milik Kuroii. Jadi pedang inilah yang telah membunuh sang kakak. Dia harus menemukan cara untuk menyerang balik Kuroii dengan pedangnya sendiri. Perkelahian pun tak terhindarkan. Kuroii memberikan pukulan-pukulan terbaiknya. Tapi Pria itu benar-benar kuat dan tidak juga tumbang. Puncak kemarahan Kuroii adalah saat pria itu menggores lengannya dengan pisau, mengakibatkan luka serius yang cukup dalam dan lebar.

Darah mengucur deras dari lengan Kuroii. Tapi wajahnya tidak menunjukkan kesakitan. Staminanya tetap stabil dan masih mampu menyeimbangkan kekuatan lawannya. Dengan satu kali tebasan, Kuroii akhirnya menumbangkan Pria itu. mereka—kakak beradik itu—mati ditangan Kuroii.

“Anda tidak apa-apa Tuan muda?” Kuroii terus berjalan meninggalkan tempat itu. Menolak tawaran pengawalnya untuk menyetir. Apapun kekuatannya rasa sakit luka ini cukup serius. Kuroii perlu beristirahat sejenak sembari membalut lukanya sementara dengan perban yang ada di mobil.

*

Im Yoona berlenggang dengan santai sambil menghisap susu pisangnya. Dia baru saja dari minimarket membeli beberapa keperluan.

Drrrtttt

            “Yoboseo? Yuri-ah!”

“Yoona?”

“Kenapa kau menelpon? Creditmu bisa habis. Biaya telpon mahal!”

Aku merindukan suaramu”

“Kita saling kirim email saja, sekarang cepat tutup telponnya!”

“Baiklah”

“Sampaikan salamku untuk paman dan bibi”

Klik.

Benar. Keluarga Yuri bukan  keluarga berada. Akan sulit jika Yuri harus menghabiskan banyak uang untuk menelponnya. Lebih baik mereka saling kirim email saja. Belum lagi Yoona selesai memikirkan tentang Yuri, Ia berhenti melangkah untuk mengenali seseorang yang duduk di bangku taman. Yoona mendekat. Dan dugaannya benar, itu Kuroii.

“Kau?” Ujarnya memperhatikan detil wajah Kuroii yang sedang menunduk. Kuroii mengangkat wajahnya dan mendapati wajah Yoona. Dia kemudian berdiri bermaksud pergi.

“Tunggu!” Yoona tanpa sepengetahuannya memegang lengan Kuroii yang ada lukanya.

“Ah!” Jerit Kuroii akibat tekanan yang Yoona berikan. Yoona tersentak begitu menyadari  jeritan Kuroii dan merasakan ada yang basah di jas yang Kuroii kenakan. Dia kemudian menyorot cahaya ponselnya ke tangannya sendiri.

“Darah?” Pekiknya begitu melihat tangannya merah. Dia melihat Kuroii dengan panik. Pria ini terluka.

“Ya! Kau berdarah!” Jeritnya lagi. Kuroii membekap mulut Yoona dengan tangannya yang sehat. Sebetulnya dia juga merangkul leher Yoona dan membawa gadis masuk ke dalam mobilnya.

“Apa yang terjadi?” Yoona menyalakan lampu mobil. Kuroii mematikannya tanpa menjawab.

“Kau terluka!” Yoona menyalakan kembali menyalakan lampu mobil. Kuroii kembali mematikannya.

“Kau ini!!!” Yoona geram dan tidak mengerti apa yang dipikirkan pria di sebelahnya ini. dia langsung turun dari mobil dan membuka pintu tempat Kuroii duduk.

“Turunlah, apartemenku dekat dari sini!” Kuroii diam sejenak. Dia tak punya banyak tenaga lagi untuk menolak.

“Ayo turun!” Yoona memaksanya turun. Dan mereka berjalan pelan-pelan hingga ke apartemen Yoona.

Yoona memandang curiga pada Kuroii saat dia mengetikkan nomor kunci apartemennya. Kuroii tidak melakukan apapun. Kali ini dia benar-benar kesakitan.

“Masuklah”

Yoona tak henti-hentinya mengomel tentang luka Kuroii yang dinilainya cukup serius. Dia menyarankan Kuroii untuk pergi saja ke Rumah sakit. Tapi pria menyebalkan itu hanya diam tak merespon. Sambil sesekali menatap Yoona tajam membuat jantung gadis itu menjadi tak karuan. Yoona melakukan perban dengan rapi dan memberikan beberapa pil penurun panas untuk Kuroii. Badannya memang sudah mulai panas.

“Kau mau ramen?” Tawar Yoona sambil menunjukkan sebungkus ramen instan. Kuroii hanya diam menatapnya.

“Aishhh jinjja!” Yoona semakin kesal dengan Kuroii yang seperti orang bisu.

Mereka saling berbagi pandang saat Yoona memasak Ramen. Yoona memandang kesal pada Kuroii. Sedang Kuroii hanya memasang wajah tanpa ekspresi. Sepertinya rasa sakit lengannya sudah berkurang.

“Heh? Apa yang kau lakukan?” Yoona melihat Kuroii sedang berdiri dan meneliti perabotan rumahnya. Kuroii pura-pura tidak mendengar dan asyik sendiri melihat ikan hias milik Yoona.

“Jangan kau mainkan ikan itu, keluarkan tanganmu dari sana!” Yoona semakin kesal saat Kuroii memasukkan tangannya ke dalam toples ikan hias.

“Siapa namanya?” Kata Kuroii.

“Apa kau bilang?” Kuroii tidak lagi mengulang kata-katanya.

“Hei… ayo makan, ramennya sudah kumasakkan untukmu juga!” Kuroii kemudian duduk berhadapan dengan Yoona. Baru pertama kali dia makan makanan instan seperti ini. ibu tirinya tidak akan membiarkan mereka makan, makanan seperti ini.

“Kenapa? Tidak suka?” Yoona menatap nanar Kuroii yang bahkan belum menyentuh nasinya.

“Tidak” Kuroii menggeleng baru kemudian melahap suap demi suap Ramen ke mulutnya.

“Apa ikanmu punya nama?”

“Apa kau bilang?”

“Ikanmu, apa dia punya nama?”

“Tidak” Yoona memperhatikan toples ikannya sembari menggeleng.

Mika

“Apa?”

“Yang warna emas itu namanya Mika”

“Apa maksudmu? Itu ikanku, kenapa kau namai? Ishhh” Gerutu Yoona. Sebenarnya bukan hal yang salah jika Ikannya diberi nama oleh Kuroii, hanya saja, keadaan ini jarang terjadi. Tentu harus dipertahankan atmosfer seperti ini.

“Aku Im Yoona, mahasiswi fakultas Kedokteran di Universitas Tokyo” Kuroii memperhatikan gadis itu masih mengunyah ramennya. Yoona tersenyum cerah menatap Kuroii yang hanya diam.

“Tuan muda Lee Jonghyun?”

“Kuroii!”

“Kuroii?” Kuroii mengangguk pelan.

“Ah.. namamu Kuroii? Kyuhyun Oppa memanggilmu Lee Jonghyun?” Kuroii mengangguk singkat dan tak berkata apa-apa lagi.

Malam itu menjadi awal untuk malam-malam berikut mereka berdua. Walau menyebalkan, Im Yoona akan sepaham bahwa, Kuroii adalah pria yang sangat tampan. Dia bahkan  tidak manis sedikitpun. Kuroii tak pernah berpikir dia akan mengenal gadis tengil ini.

Suatu hari Kuroii sampai di depan apartemen gadis itu. Berdiri bersandar di sisi pintu sembari memperhatikan penghuni apartemen lain yang lalu lalang masuk ke dalam lift. Gadis itu nampaknya sedang tidak di rumah setelah memastikan dengan mengetuk beberapa kali dan tidak ada jawaban. Ia memeras otaknya mencoba mengingat kode apartemen itu. Ia sempat melihatnya, saat Yoona menekan beberapa tombol malam itu.

Harusnya mereka tidak harus bertemu lagi setelah malam itu. Tapi ponsel Kuroii ketinggalan sehingga memaksanya kembali lagi ke apartemen Yoona.  Kuroii berniat mengambilnya diam-diam dengan menyelinap masuk tanpa ijin.

Cklek.

Pintunya berhasil terbuka. Membuat gambaran senyum di wajah Kuroii. Dia buru-buru masuk ke dalam rumah itu berniat mengambil ponselnya yang ketinggalan secara diam-diam.

*

“Ya! “ Pekik Yoona saat menjumpai Kuroii yang sedang memeriksa sekitar meja makannya. Kuroii meliriknya sebentar dan kembali melanjutkan aksinya.

“Bagaimana kau bisa masuk?” Tanya Yoona sebal mendekati Kuroii. Seperti biasa pria menyebalkan itu tetap cuek dan tidak peduli padanya.

“Kau menghafal nomor pintunya?”

“Ya!” Yoona melayangkan tinjunya yang kecil ke punggung Kuroii membuat pria itu menoleh dan tersenyum mengejek.

“Aku mencari ponselku”

“Kenapa tidak menungguku? Malah langsung masuk?” Yoona semakin geram pada pria ini.

“Dimana ponselku?”

“Apa kau pencuri?”

“Dimana ponselku?”

“Aku tidak akan mengembalikannya!”

“Baiklah, aku akan tetap disini kalau begitu” Kuroii melipat tangannya dan berdiri  tegap. Membuat tubuhnya kaku tidak bergerak menjadikan gadis itu akan kesulitan mengusirnya.

“Terserah kau saja” Gadis itu berjalan ke dapurnya. Merapikan belanjaan yang baru saja dia beli di Supermarket. Sementara Kuroii juga masih dalam posisinya.

Kuroii menyibukkan dirinya dengan menonton acara TV—sambil berdiri. Sementara Yoona memasak apa saja yang ingin dimasaknya. Sesekali gadis itu mendelik kesal pada Kuroii yang posisinya tidak berubah. Mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing. Kuroii melirik kearah dapur. Dia bisa mencium wangi masakan yang kelihatannya sangat enak. Dia memejamkan matanya mencoba menikmati wangi masakan itu. Kuroii bisa melihat Yoona merapikan meja makan. Ada dua piring yang disiapkannya, sudut bibir Kuroii terangkat senang. Senyumannya itu tertangkap oleh mata si gadis.

“Berikan ponselku”

“Makan dulu, baru pergi” Yoona menarik kursi dan mempersilahkan Kuroii duduk di hadapannya. Pria itu hanya menatap si gadis dengan heran (walau wajahnya tidak kelihatan heran).

“Kemarilah, aku memasak bihun daging hari ini” Yoona menarik pelan lengan Kuroii tanpa ragu. Pria itu membiarkan tubuhnya tertarik ke meja makan.

“Makanlah… masakanku tidak buruk” Yoona dengan penuh percaya diri tersenyum di hadapan Kuroii yang melongo menatapnya.

Terima kasih Tuan, sudah menyelamatkanku malam itu….—batin  gadis itu. Dia memilih bersyukur karena masih bisa menghirup udara hingga saat ini dan tidak berniat mencari tahu tentang tempat apa itu. Seperti saran Kuroii.

*

“Kuroii-Shan” Yoona berlari mendekati Kuroii saat melihat pria itu melintasi halaman utama kampus mereka.  Kuroii menoleh sebentar tapi langsung berbalik kembali berjalan.

Ia pikir, Kuroii akan berhenti dan ngobrol sebentar dengannya. Dugaannya salah, Kuroii terus menjauh tanpa peduli Yoona yang susah payah berusaha mengejar.

“Im Yoona!” Langkahnya terhenti saat Hana—teman sekelasnya—memanggil.

Ohayo” sambut Yoona. Tapi matanya masih memperhatikan Kuroii yang hampir menghilang.

Ohayo! Apa yang kau lihat?

“Bukan apa-apa.. ayo kita ke kelas”

Kejadian ini terjadi beberapa kali. Kuroii bersikap seolah mereka tidak saling kenal. Usaha Yoona untuk membangun hubungan baik dengan pria itu tampaknya akan sedikit sia-sia. Padahal dia tidak memiliki tujuan khusus untuk ini. Ia pikir, akan menyenangkan jika bisa memiliki teman yang mengerti bahasa Korea seperti Kuroii. Ia semakin tidak mengerti kenapa pria itu mau menolongnya waktu itu.

“Aku ingin meminjam buku ini” Kata Yoona pada ibu penjaga perpustakaan. Matanya tertuju pada Kuroii yang asyik membaca—di tempat favoritnya—sudut yang terbentuk dari dua buah lemari buku besar.

“Tolong dikembalikan pada waktunya nona”

“Iya, Arigatogozaimas” Gadis itu hendak beranjak dari sana. Sembari memeluk buku hijau tebal yang baru saja Ia pinjam.

“Kau mengenal dia?” Ibu penjaga menengok ke Kuroii. Yoona hanya tersenyum tipis tanpa menjawab.

Baru saja gadis itu ingin keluar gedung perpustakaan, dia bertabrakan dengan seseorang. Membuat tangannya lepas kendali dan buku hijau tebal itu jatuh terlepas menimpa pergelangan kakinya.

“Ah!” Jeritnya.

Gomenasai” Ucap Yoona sembari duduk memijit kakinya yang sakit berdenyut. Orang yang menabraknya kelihatan terburu-buru dan langsung pergi. Kakinya benar benar sakit hingga membuat gadis itu harus terduduk diam sebentar.

Gwenchana?” Yoona bisa melihat sepasang sepatu kets berwarna merah tua milik Kuroii sebelum dia menyadari tangan putih milik Kuroii sudah ada di depan hidungnya. Mengulurkan bantuan.

“Nona? Kau tidak apa-apa?”

“Kakiku, sepertinya keseleo” Ibu penjaga langsung mengambil sebuah kursi. Sementara Kuroii meraih kedua lengan atas Yoona. Menariknya dengan hati-hati. Membantunya berdiri. Yoona bisa melihat wajah Kuroii dari dekat sekarang. gadis itu entah apa yang dipikirkannya. Kuroii berbeda. Pria itu memijat pelan pergelangan kakinya sambil memperhatikan wajah Yoona, memastikan apa dia kesakitan atau tidak.

*

Obat bius itu berhasil disuntikkan ke bagian tubuh Kuroii saat Ia lengah dalam suatu pertarungan. Ia pusing. Merasa seperti melayang dan…. Sangat pusing.

BRAK!

Kuroii jatuh ke lantai setelah wajahnya penuh lebam dan biru. Tak ada yang bisa dilakukannya saat ini. dia benar-benar tidak kuat dan bahkan sering jatuh karena merasa sangat pusing akibat obat bius itu.

“Selamat tinggal…..” Kata seorang pria paru baya kepadanya. Pedang miliknya siap ditancapkan ke dada kiri Kuroii. Pria muda itu benar-benar lemah sekarang. membuat orang-orang di sekelilingnya tertawa. Merasa mereka sudah menang.

SWEAAAAAAPPPPP!

Akhirnya Kuroii tumbang tak sadarkan diri. Pedang itu berhasil melukainya.

*

Di sisi lain. Im Yoona sulit berkonsentrasi membaca slide-slide materi  kuliahnya.

Kuroii… Kuroii…. Kuroii…

Pria ini yang ada di otaknya.

Kuroii menyebalkan! Kenapa tiba-tiba berubah baik padaku?

Aishhh! Padahal aku sudah berusaha untuk akrab dengannya!

Selalu saja menghindar….

Dan tadi? Kenapa tiba-tiba peduli padaku? pria aneh!—Gadis itu memperhatikan pergelangan kakinya yang keseleo. Kuroii tadi mengantarnya ke rumah sakit—menungguinya hingga kakinya selesai dibalut perban—dan sempat mengantarnya pulang. Bahkan Kuroii rela menggendongnya lewat tangga karena lift apartemen sedang diperbaiki, walau ditolak mati-matian olehnya.

Yoona berjalan ke balkon apartemennya, sembari melihat ke langit memperhatikan bulan sabit yang kesepian. Mungkin sama seperti dirinya. Kuroii membuatnya tidak berkonsentrasi seharian ini. gadis itu mungkin hanya ingat padanya hari ini. terlalu ingat malah.

To be Continued.

Thanks for wait, read, and leave comment in this series…

16 thoughts on “[Freelance] Kuroii (Chap 2: What are You?)

  1. Jonghyun gga papa kann.. Whuaaa …jongyoon waktu di perpus so sweet bgt sih <3<3<3 awww ditunggu yahh… On Nov 3, 2013 11:33 AM, "Im Yoona Fiction" wrote:

    > TRIput posted: “”

  2. aku udah baca ni ff di read fanfic..tapi karna aku belum puas terlebih lg sangat2 penasaran sama keadaan Jonghyun..jadi ny aku baca disini juga😛 huft..masih tetap berharap Jonghyun tidak kenapa2..itu doang sih..*yeeeaa koment macam apa ini,abaikan.bye

  3. Karakter jonghyun keren juga…sosok yang dingin, tidak mau berteman dgn siapa pun. Spt hub yoona n jonghyun bakalan semakin dekat. Yg bunuh jonghyun siapa tuch, jgn2 musuhnya ya. Lanjut lagi ah bacanya

  4. Pingback: Featured Story: Kuroii | Im Yoona Fiction

  5. Pingback: KUROII | YoonG-fanfic

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s