Suckmmer (Sequel of Beautiful Spring)

suckmmer-luyoon

Suckmmer

[icydork] | Luhan and Yoona | Romance, Sad, Angst | All Rated

Yes, I would.”

                Jawaban dari Yoona itu masih terekam jelas di otak Luhan sampai sekarang. Hampir dua bulan mereka menjalani hubungan sebagai pasangan kekasih dan Sehun mengetahuinya. Tetap saja, respon Sehun sama. Tetap diam, ntah dia sakit hati atau tidak peduli.

“Luhan.” Panggil Yoona. Lelaki yang berparas tampan itu menengok ke asal suaranya.

“Apakah tiket pesawat itu jauh lebih menarik dibanding aku?” Tanya Yoona. Luhan langsung terkekeh pelan dan tertawa canggung.

Aniyo, aku hanya senang.” Jawab Luhan.

“Kalau senang seharusnya berbagi denganku.”

“Hahaha, bukankah aku sudah membaginya setiap hari?” Tanya Luhan.

“Masih kurang.” Jawab Yoona ketus.

“Baiklah, aku tahu apa maksudmu. Tunggu kita menikah, ne? Saat-saat itu kita bisa membagi kesenangan bersama. Benarkan?” Tanya Luhan. Yoona langsung terkekeh pelan.

Ne, kau benar.” Yoona mengetuk-ngetukkan kakinya ke lantai bandara itu lalu berfikir sesuatu tentang Luhan. Dia merasa ada yang berubah. Dia menoleh ke Luhan. Memegang kedua pipi Luhan yang agak cekung itu.

“Luhan, kau sakit?” Tanya Yoona. Dia memegang pipi Luhan yang benar-benar terlihat lebih kurus dari sebelumnya. “Kau bertambah kurus.” Lanjut Yoona.

A-aniyo.”

                “HONOLULU!!!” Teriak Yoona keras-keras dari dalam mobil tak beratap yang disewa oleh mereka di Hawaii ini. Sebuah mobil yang berwarna pink soft itu melaju dengan kencang. Kain bertema pantai yang dipegang Yoona itu berjibaran tertiup angin.

“HONOLULU!!” Teriak Yoona sekali lagi.

“Yoong, duduklah.” Suruh Luhan yang sambil menyetir.

“Huh, baiklah.” Yoona duduk di jok mobil itu dengan hati-hati.

“Oh iya, kita menginap di hotel mana?” Tanya Yoona sambil melipat kain yang digenggam.

Kenapa Yoona harus menanyakan hal ini?

                “Bukan di..”

“Di hotel Oh Sehun.” Potong Luhan.

“Luhan! Kenapa harus di hotel dia?!” Tanya Yoona dengan suara yang keras.

“Tapi, paket liburan yang aku dapatkan begitu Yoong.”

“Aku mau pulang!” Luhan terdiam mendengar perkataan Yoona. Nada dingin yang sudah lama Luhan tidak dengar itu muncul begitu saja.

“Hentikan mobilnya!” Ucap Yoona. Luhan menurutinya, Luhan menghentikan mobilnya. Yoona meraih handbag-nya sedangkan Luhan langsung menahan lengan Yoona.

“Jangan pergi, Yoong.” Pinta Luhan. Yoona menggeleng.

“Kau tahu bukan betapa sakitnya disakiti oleh Sehun? Kamu mengenalku dengan baik, Luhan.”

“Aku juga tidak tahu kalau paket dengan hotel yang aku dapatkan seperti ini.” Yoona terdiam mendengar perkataan Luhan. Luhan benar. Bukan salah Luhan. “Kumohon, Yoong.” Lanjut Luhan.

Yoona tersenyum dan melepaskan handbag-nya. “Baiklah, kajja!

                Luhan dan Yoona memasuki kamar yang sudah dipesan. Keduanya langsung merebahkan tubuh mereka. Menghempaskan rasa lelahnya di ranjang masing-masing.

“Hhhhh..” Keduanya membuang nafas secara bersamaan. Mereka memandangi wajah mereka satu sama lain lalu tertawa bersama.

“Sepertinya liburan ini akan menyenangkan, chagiya.” Kata Yoona. Luhan hanya mengangguk dan tersenyum kepada Yoona.

Semoga Yoong, semoga.

                Yoona memajukan wajahnya, dia ingin mendaratkan bibir munglinya itu di pipi mulus Luhan. Perlahan namun pasti, Yoona memejamkan matanya. Pipi Luhan juga merasakan deru nafas yang keluar dari hidung Yoona.

“Maaf, Yoong.” Yoona berhenti ketika mendengar perkataan yang keluar dari mulut Luhan. Yoona tercengang, matanya melebar.

“Kenapa?” Tanya Yoona. Luhan menggeleng.

Gwaenchana.

                Yoona mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil di tangannya di balkon hotel. Tiba-tiba ada pelukan yang muncul dari belakang, Luhan memeluk Yoona.

“Luhan!” Kata Yoona dengan ketus. Luhan langsung terkekeh pelan.

“Aku ingin mencium wangi rambutmu, deer. Apakah aku salah?” Tanya Luhan.

“Tidak kok. Tidak salah.” Jawab Yoona. Luhan langsung terkekeh pelan.

“Hm, puncak malam ini aku ada acara. Mungkin ini makan malam yang sama seperti biasanya, tapi topik pembicaraannya lah yang berbeda.”

“Apa itu?”

“Pernikahan.”

Aku menunggumu di pantai jam tujuh malam. Ah yah, jangan lupa tampil cantik dan wangi ya! Aku tidak mau melihat Yoona yang tomboy malam ini!

-Xi Luhan-

                Yoona tersenyum sambil melihat kertas putih dengan tulisan acak-acakkan Luhan itu. Dia menyukai seluruh yang ada pada diri Luhan. Dia sudah membaca tulisan itu sebanyak tiga kali. Bahkan Yoona sudah siap dan sudah tampil cantik.

“Aku siap!” Seru Yoona dengan semangat lalu mengambil dompet panjangnya dan mengenggamnya dengan kuat. Dengan dress sepanjang lutut dan tanpa lengan, dia keluar dari kamarnya.

                Yoona berjalan keluar dari gedung hotel ini. Dia menyelipkan beberapa helai rambutnya ke belakang telinganya karena menghalangi wajahnya. angina malam bertiup dengan kencang. Sebenarnya tidak baik bagi seorang yeoja berada di malam hari seperti ini dengan pakaian yang agak terbuka.

Yoona memeluk kedua lengannya, berniat menghangatkan tubuhnya yang tertiup angin sedate tadi. Tiba-tiba ada sebuah jaket berwarna hitam yang menutupi pakaian Yoona yang agak terbuka itu.

“Seorang wanita di malam hari sendirian dengan pakaian seperti itu tidak baik.” Nasehat seseorang dari belakang. Yoona tercengang, dia mengingat dengan betul milik siapa suara cempreng ini.

“Oh Sehun?” Yoona menoleh ke belakang dan benar. Ada Oh Sehun disana. “Bagaimana bisa?” Malah sebuah pertanyaan bodoh yang Yoona lontarkan dari mulutnya. Sudah sangat jelas mengapa Sehun berada disini. Dikarenakan dialah yang mempunyai hotel ini.

“Kau tidak tahu?” Tanya Sehun balik.

“A-aku tahu.” Jawab Yoona dengan gagap.

“Apa?” Tanya Sehun dengan nadanya yang agak tinggi. Nampaknya dia sedikit menantang Yoona.

“Kau pemilik—“

“Salah besar! Aku sedang menikmati liburanku dengan Tiffany.” Potong Sehun. Hati Yoona remuk seketika. Bagaimana bisa Sehun mengatakan hal seperti itu di depan mantan kekasihnya? Yoona melepas jaket yang diletakkan oleh Sehun tadi lalu mengembalikan kepada Sehun.

“Terima kasih, aku harus menemui Luhan-ku.” Ucap Yoona sambil menekan nada nya di nama Luhan lalu pergi meninggalkan Sehun.

“Pasangan bodoh.”

                Luhan duduk di atas meja makan yang sudah ada santapan lezat dihadapannya yang dihadang dengan tudung saji yang tembus pandang itu. “Yoona pasti akan sangat senang!” Kata Luhan.

Tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya, “Maaf, aku telat.” Ucap orang itu –Yoona. Luhan melihat arlojinya dan tersenyum.

“Tidak, kau beluim terlambat.” Luhan berdiri dan berjalan ke bangku kosong yang ada dihdapannya, bangku Yoona. Dia menarik bangku tersebut, memberikan ruang agar Yoona bisa duduk.

“Silahkan.” Ucap Luhan. Yoona tersenyum lalu duduk. Luhan pun berjalan ke tempat-nya dan duduk lagi.

“Malam ini akan jadi malam terindah.” Kata Luhan.

“Haha, sejak kapan kau menjadi se-romantis ini?” Tanya Yoona.

“Hei, tidak salah kan?” Tanya Luhan balik lalu dia membuka tudung saji tembus pandang itu lalu menyingkirkannya.

Special dinner for us.” Ucap Luhan.

“Haha, makan bersama, ne?

                Mereka mengunyah makanan itu dengan semangat. Makanan ala eropa di pinggiran pantai Honolulu bersama ornag yang kita sayangi. Bisakah kalian bayangkan betapa rasa senangnya itu?

Yoona memerhatikan orange juice milik Luhan. Nampaknya orange juice itu sangat membuat Yoona tergiur dengan sangat. Yoona meraih orange juice tersebut, berniat untuk mencobanya. Tapi, tangan Luhan jauh lebih cepat dibanding Yoona.

“Tidak boleh!” Ucap Luhan. Yoona mengerutkan alisnya.

“Kok?” Respon Yoona.

“Tidak, tidak boleh!” Tegas Luhan.

“Aku tidak alergi dengan jeruk, ayolah! Aku sudah ingin orange juice dari kemarin.”

“Biarkan aku pesan yang baru.”

“Luhan! Kenapa? Kau terlalu protective pada diriku! Aku ini kekasihmu!” Oceh Yoona.

“Bukan begitu.” Ucap Luhan dengan tenang.

“Bohong, aku tahu kau menyembunyikan sesuatu.” Tebak Yoona. Luhan menggeleng, dia memegang gelas orange juice itu dengan keras.

“Maaf, Yoong..” Ucap Luhan menggantung.

“Kenapa? Untuk apa?” Tanya Yoona dengan penasaran.

“Aku mengidap AIDS.”

“Bohong!” Tolak Yoona. Dia menggeleng tidak percaya, bagaimana bisa? Yoona menatap manik mata Luhan dengan dalam. Mata milik Yoona sudah mulai membendung air matanya sendiri. Dia mengepal kedua tangannya kuat-kuat, seolah menahan amarah. Ya, Yoona marah. Dia merasa di bodohi oleh kekasihnya sendiri.

“Aku tidak—“

“Cukup! Cukup, Luhan!” Balas Yoona. Dia berdiri, air matanya pun terjatuh. “Aku kecewa!” Lanjut Yoona lalu pergi dari hadapan Luhan.

                Yoona berbaring di atas kasur yang terletak di kamar hotelnya tersebut. Dia memeluk bed cover yang berwarna putih tersebut sambil menggigit-gigitnya. Bed cover itu pun basah oleh air matanya. Masalah Luhan mengidap penyakit seperti itu bukan hal penting bagi Yoona. Dia hanya merasa di bodohi, kenapa dia tidak menyadarinya?

Pintu kamar terbuka. Yoona menoleh sebentar. Ah, Luhan, batinnya lalu membuang pandangannya lagi ke arah lain. Luhan berjalan ke tempat Yoona lalu duduk di sebelahnya. Dia memegang pundak Yoona.

“Maafkan aku,” Ucap Luhan. Yoona diam, diam seribu kata. Luhan menghelakan nafasnya dan melepaskan pegangannya dari pundak Yoona. “Maaf, aku sudah membohongimu.” Lanjut Luhan.

Yoona bangkit dari posisinya lalu duduk di sebelah Luhan. “Mengapa berbohong?” Tanya Yoona.

“Aku tidak mau membuatmu,” Luhan menggantungkan perkataanya. Sepertinya dia sedang berpikir.

“Apa?” Tanya Yoona.

“Kecewa?” Lanjut Luhan yang jauh lebih terkesan sebagai pertanyaan.

“Asal kau tahu,” Kata Yoona yang terdengar dingin oleh Luhan. “Aku jauh lebih kecewa ketika kau tidka memberi tahuku.” Lanjut Yoona lalu berdiri dan berjalan ke balkon. Luhan mengikutinya.

                Yoona berdiri di balkon tersebut. Melihat pemandangan pantai  di malam hari, angina berhembus pelan membuat rambut lembut Yoona berterbangan pelan. Luhan –yang sedari tadi sudah di belakang Yoona. Dia mengambil beberapa helai rambut Yoona dna menghirup harumnya.

“Yoona-ah.” Panggil Luhan. Tidak ada jawaban, yang terdengar adalah isakan Yoona yang baru saja dimulainya.

“Yoong?” Panggil Luhan lagi, Yoona memutar tubuhnya sehingga berhadapan dengan Luhan.

“Kita,” Ucap Yoona lalu menatap mata Luhan. “Tetap akan menikah-kan? Kau sudah janji-kan?” Lanjut Yoona. Luhan memeluk Yoona, mengelus-elus kepala belakang Yoona dan menciumi rambutnya.

“Iya, kita akan tetap menikah.” Balas Luhan. Mendengar jawaban itu-pun Yoona membalas pelukan Luhan. Dia memeluk Luhan dengan erat sambil mengangis di bahunya.

“Sudah, jangan menangis.” Ucap Luhan. Yoona mengangguk pelan.

                Yoona tertidur pulas di dada Luhan. Luhan masih belum tidur. Dia memerhatikan tembok putih polos di hadapannya. Bibirnya semakin pucat, tubuhnya semakin mengurus, hidupnya semakin berkegantungan kepada obat-obatnya. Sudah dua tahun belakangan ini Luhan merasakan virus di tubuhnya mulai aktif.

Lahir dari rahim milik wanita malam itu bukanlah kemauan Luhan. Sungguh sakit kenyataannya untuk mengingat seluruhnya, mengingat bagaimana caranya Luhan tercipta di dunia ini oleh karena hubungan ibunya dengan seorang pria yang tidak dikenal yang ternyata memiliki virus tersebut.

Malangnya Luhan.

Air matanya pun terjatuh diluar kendalinya. Mengalir di pipi milik Luhan hingga dagunya. Luhan mengelus kepala Yoona lagi. luhan betul-betul mencintai yeoja dihdapannya ini. Sangat.

                Tanpa terasa ini sudah hari terakhir mereka di Honolulu. Yoona membereskan seluruh barang bawannya ke dalam koper, begitupun Luhan. Luhan sedang mengambil tas kecilnya dan –BRUK! Ternyata tas tersebut memiliki lubang yang lumayan besari dibawahnya, seluruh barang yang berada di ta situ bertebaran di atas lantai. Luhan menunduk dan mengambil barang-barangnya. Yoona yang melihat segera membantu Luhan.

                “Sepertinya kita harus membeli yang baru, haha.” Canda Yoona.

“Tentu!” Balas Luhan juga.

Gerakkan tangan Yoona memelan ketika hampir mengambil sebuah kotak merah yang berbahan bludru itu. Luhan heran dan melihat arah tangan Yoona. Matanya melebar, ini bukanlah sebuah kejutan lagi. Dengan cepat Luhan mengambil kotak itu dan memasukkannya ke dalam saku jaketnya.

“Luhan?” Panggil Yoona.

“Kenapa? A—ada apa?” Tanya Luhan dengan gugup.

“I—itu apa?”

“Hhhhh,” Luhan menghelakan nafasnya dan memejamkan kedua matanya. “Yoona-ah, aku akan melamarmu setiba kita di Seoul nanti.”

END

NEXT SEQUEL (RED AUTUMN)

7 thoughts on “Suckmmer (Sequel of Beautiful Spring)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s