[Vignette] Sing Me a Lullaby

[c] bells trix [r]

[c] bells trix [r]

Title : Sing Me a Lullaby || Author : Bells Trix || Main cast : Im Yoona, Aleyna Yilmaz(ulzzang), Kim Jongin a.k.a Kai EXO, Choi Siwon SJ || Genre : Horror, Angst, || Length : Vignette 4500+ words || Rating : T (Teenager) / PG-15+

Disclaimer : This story is pure my imagination. Please don’t copy paste to anywhere! I warn you! All characters is belongs to God, but the story is belongs to me. Please respect all author & don’t be a silent readers😉

P.S : Feel free to correct my story 🙂 Disini banyak kejadian berdarah-darah (?), karakter meninggal, sadis, dsb😄 maaf kalau ceritanya kurang serem hehe

Full Credit : │█│█▌│▐▐▐▐│█▌▐▐ ©Bells Trix™® [take out with full credit, please!]

“Eonnie, maukah kau menyanyikan lagu pengantar tidur untukku?“

———————————–NO BASH, please!————————————-

Author P.O.V

ANDWAE ..!!“

Yoona berteriak kencang dan lansung terbangun dari tidurnya. Matanya melebar. Mulutnya pun menganga.  Nafasnya tersengal-sengal seperti sedang diburu oleh seseorang. Ia memandangi sekeliling kamarnya namun tidak mendapati apapun disana. Hening. Ia hanya mendapati ruangan kamarnya yang dalam keadaan gelap.

Yoona menyalakan lampu mungil yang berdiri tegap diatas buffet.  Beberapa perabotan dan barang-barang kamarnya terlihat masih tertata rapi di tempat. Dadanya terasa nyeri dan sesak, seperti ingin menangis. Kepalanya tertunduk meratapi apa yang baru saja ia mimpikan. Selalu seperti ini, mimpi yang sama dan tidak memiliki akhir—atau mungkin dirinya memang belum mengetahui kapan mimpi itu berakhir. Mimpi tentang seorang gadis kecil yang selalu berubah menjadi kenyataan.

Gadis kecil yang selalu mendambakan sebuah lagu pengantar tidurnya.

—–

Noona, kau tidak berangkat bekerja?“ ujar Kai –namdongsaeng Yoona- yang tiba-tiba muncul disampingnya dengan berpakaian rapi. Terlihat sangat tampan. Wangi parfum maskulinnya menguar dan hampir membuat Yoona ingin bersin. Pasalnya gadis itu tidak terlalu menyukai bau-bau wewangian.

Yoona hanya menoleh sekilas kearah Kai yang sudah siap untuk berangkat kuliah, lalu kembali menonton televisi.“Aniya, kau berangkat duluan saja. Aku masih ingin menonton tivi.“ Ujarnya seraya tersenyum simpul tanpa menatap adik laki-lakinya itu.

Kai mengangguk pelan mendengar jawaban dari kakak perempuannya itu. Sudah bukan sesuatu yang aneh bila kakaknya itu sering berangkat telat bekerja akhir-akhir ini. Bila ditanya apa alasannya, maka Yoona akan menjawab seperti biasa,“Ingin menonton tivi.“ atau melakukan hal lain yang masih bisa diterima akal sehat. Tapi Kai rasa bukan hal itu yang menyebabkan Yoona sering mengundur jam kerjanya.

Kai menarik nafas berat. Memenuhi seluruh rongga paru-parunya. Lalu menghembuskan kasar.“Gurae, aku berangkat duluan kalau begitu. Pai pai, Noona!“ Kai berjalan keluar rumah seraya melambaikan tangan kirinya tanpa menatap Yoona. Langkahnya sedikit tergesa-gesa karena seorang temannya sudah menunggu diluar.

Yoona mematikan televisi yang sebenarnya tidak ia tonton. Dadanya kembali terasa sesak. Ia ingin menangis sekencang-kencangnya. Tapi untuk apa? Tidak ada gunanya melakukan hal bodoh seperti itu saat ini. Ia benar-benar menyesal. Menyesal untuk sesuatu yang pernah ia lihat.

Dan aktivitas barusan hanyalah sekedar tipuan untuk memberi alasan kepada Kai. Sebenarnya bukan karena hal ini ia berangkat telat. Tetapi ada hal lain yang sedang ia pikirkan hingga menyita waktunya. Sesuatu yang mungkin hanya dirinyalah yang tahu. Sesuatu yang sepertinya keramat dan hampir membuatnya kehilangan hidup.

—–

Yak, Im Yoona!“ teriak seorang namja dengan suara berat saat ia akan memasuki ruangan kerjanya. Yoona membalikkan tubuh lalu tersenyum tenang. Seolah tidak akan terjadi apa-apa pada dirinya hari ini.“Tidak bisakah kau tidak berangkat telat untuk bekerja?! Ha?! Kau pikir kau ini siapa seenaknya sendiri datang tidak tepat waktu dua minggu belakangan ini! Mulai hari ini, kau dipecat!“ bentak namja itu seraya jari telunjuk tangan kanannya mengayun tepat dihadapan wajah cantik itu.

Tubuh Yoona bergetar cukup hebat. Ia menatap tajam bosnya –Choi Siwon- dengan sorot mata kekecawaan. Dadanya lansung terasa nyeri dan sesak. Ia menelan kuat saliva yang terhenti di pintu kerongkongan. Kedua bola matanya sudah terasa panas karena digenangi oleh cairan hangat. Perlahan-lahan air matanya menetes membasahi pipi lembutnya. Bibirnya menggertak seperti orang kedinginan. Pandangan matanya tetap tidak beralih dari seorang Choi Siwon. Sejak dua minggu lalu, hidupnya seperti ia gunakan untuk mencandu air mata.

Cih! Kau menangis rupanya. Dasar tidak tahu diri!“ cibir namja itu tanpa mempedulikan keadaan Yoona yang sebenarnya.

Namja itu mengibaskan tangan kirinya dihadapan wajah Yoona. Kemudian segera meninggalkan Yoona sendirian. Menangis. Meratapi apa yang baru saja ia dapatkan. Satu tamparan lagi yang menyeret dirinya untuk menjadi sosok lemah. Sebenarnya masih ada sedikit rasa iba yang mengusik hati Siwon. Namun ia tidak mau mempedulikannya. Baginya, seseorang seperti Yoona, memang pantas bila menerima perlakuan seperti tadi.

—–

Jam dinding dapur masih menunjukkan pukul 08.00 malam KST. Yoona kembali melanjutkan aktivitas memasaknya sebelum Kai pulang. Ya, Kai masih berada di kampusnya. Padahal hari sudah mulai gelap. Langit malam ini pun hanya berhiaskan bulan yang sedikit tertutup awan. Ini sudah menjadi hal biasa bagi Yoona. Menunggu sendirian kehadiran adiknya tersebut. Karena hampir setiap minggu namdongsaeng-nya itu selalu pulang malam.  Tapi hal ini rupanya membuat Yoona merasa sedikit khawatir.

Di tengah aktivitas memasaknya, Yoona teringat akan kejadian tadi pagi. Pikirannya melayang seketika. Matanya menerawang. Kalimat yang diucapkan oleh Siwon menjadi terngiang di telinganya. Seperti rekaman kaset rusak yang selalu terdengar berulang-ulang. Dipecat? Lalu aku harus bekerja dimana? Batin Yoona. Memori pikirannya benar-benar sesak oleh kejadian tadi pagi dan mimpi anehnya selama 2 hari belakangan. Lengkap sudah penderitaannya akhir-akhir ini. Seperti ada sebuah skenario khusus yang menguji hidupnya.

Sreekkkk .. srekkk .. sreekkk.

Tiba-tiba saja terdengar suara seperti langkah kaki yang diseret. Yoona terdiam dan menghentikan aktivitasnya. Ia mempertajam pendengarannya. Suara langkah kaki itu seperti makin mendekat dibalik punggungnya. Yoona menelan saliva dengan susah payah. Tubuhnya sedikit bergetar. Rasa takut dan perasaan was-was mulai menghantuinya. Nafasnya pun ikut memburu. Bahkan ia juga  tidak berani untuk menggerakkan satu anggota tubuhnya. Rasanya kaku. Ia terlalu takut.

Suara langkah kaki itu kemudian menghilang. Membuat gadis itu sedikit penasaran. Dengan hati-hati Yoona membalikkan tubuhnya. Meskipun rasa takutnya semakin besar menggelayuti setiap inci bagian tubuhnya.

Deg. Jantung Yoona berhenti bekerja. Matanya tak mampu berkedip walau hanya sedetikpun. Nafasnya tercekat hebat. Oksigen di sekitarnya seperti sudah terkuras habis. Paru-parunya terasa sesak untuk bernafas. Gadis kecil dalam mimpinya itu kini ternyata hadir kembali dalam kenyataan.

Eonnie, maukah kau menyanyikan satu lagu pengantar tidur untukku? Hihihi..“ gadis kecil berambut coklat kusam itu kini tengah berdiri dihadapannya. Wajahnya rusak separuh seperti terlindas ban mobil. Gaun putih selutut yang dikenakannya juga turut berlumuran darah. Kakinya telanjang namun penuh luka. Dan tidak lupa, sebuah boneka dengan fisik tidak sempurna selalu ada dipelukan. Boneka itu lebih mirip seorang bayi laki-laki yang dibantai. Bahkan kedua bola mata gadis itu pun hampir keluar dari tempatnya. Terlalu mengerikan untuk muncul dalam kenyataan.

Yoona hanya bisa berdiam diri di tempat. Ia benar-benar tidak bisa bernafas sekarang. Kerongkongannya seperti buntu. Ingin rasanya berteriak, tetapi lidahnya terasa kelu. Kedua bola matanya juga enggan mengalihkan pandangan dari gadis cilik tersebut. Ia juga tidak tahu mengapa. Tubuhnya mulai bergetar hebat saat gadis itu perlahan mendekat. Memompa kerja detak jantungnya berkali-kali lebih cepat daripada sebelumnya.

ANDWAEEEE!!!“ Yoona kembali berteriak kencang seperti setelah mengalami mimpi itu. Kedua tangannya menutup kedua telinganya. Matanya terpejam kuat. Ia selalu berharap gadis kecil itu sirna dari kehidupannya. Meskipun ia tahu, itu tampaknya mustahil.

Eonnie, aku mengantuk. Tolong nyanyikan lagu pengantar tidur.“ Ujar gadis kecil itu lagi dengan suara hampir mendesah. Tangan kasarnya kini mulai menyentuh siku Yoona.“Eonnie, buka matamu. Aku ingin tidur, eonnie.“ Gadis kecil itu rupanya terus melanjutkan permintaannya. Bila tidak dituruti, maka semalaman ini ia juga tidak akan membiarkan Yoona untuk tertidur pulas. Ia akan terus menghiasi bunga tidur Yoona dengan berbagai mimpi buruk.

“AAAAAA!!“ teriak Yoona saat tangan itu mulai mencengkram hebat pergelangan tangannya.

Noona! Noona! Gwenchanayo?!“ terdengar suara Kai sekarang. Dengan sigap Kai lansung memeluk kakak perempuannya itu. Ia tahu apa yang baru saja dialami Yoona. Ia tahu persis bahwa Yoona dilanda rasa takut. Ia tahu karena hampir setiap hari Yoona mengalami hal serupa.

Di dalam pelukan Kai, Yoona menangis sejadi-jadinya—ia merasa aman. Selalu seperti ini. Sama. Selalu ada tangisan yang terdengar dari kakak perempuannya setelah kejadian ini. Entahlah, sebenarnya Kai tidak tahu persis apa yang terjadi. Apa yang telah membuat kakaknya dihantui ketakutan dua minggu belakangan ini. Yang ia tahu, ia selalu melihat Yoona bertingkah tidak wajar setelah mengalami ketakutan. Dan saat itulah Kai mulai dilanda kekhawatiran. Cemas. Khawatir bila ia tidak bisa menyelamatkan kakaknya dari berbagai kemungkinan buruk yang ada.

“Ayo, aku akan mengantarmu ke kamar.“ Kai melepaskan pelukannya lalu mengantar Yoona menuju kamar. Meskipun ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Suasana mencekam. Tegang. Dan tidak dapat diterima akal sehatnya.

Ceklek. Kai memutar knop pintu. Ia tidak mengantar kakaknya masuk hingga ke dalam kamar. Melainkan menyuruh kakaknya sendiri untuk masuk. Karena ia tahu, kakaknya pasti akan menolaknya bila diantar sampai masuk ke dalam kamar.

Ya, seperti biasa. Kai selalu menangkap sorot ketakutan dari kedua mata Yoona. Mata itu selalu berbicara kepada Kai. Sayu. Sembab. Namun menyimpan berbagai ketakutan. Sepasang mata itu berbicara tentang perasaan takutnya. Tetapi Kai sendiri sampai saat ini tidak mengetahui pasti apa yang menyebabkan kakaknya ketakutan.

Yoona memaksakan seulas senyum.”Kau, cepat tidurlah. Aku baik-baik saja. Kau tidak usah mengkhawatirkanku lagi setelah ini. Mengerti?” Kai hanya mengangguk. Ini adalah kalimat yang sama. Kalimat sama yang diucapkan Yoona saat keadaannya mulai sedikit membaik. Walaupun sebenarnya tidak akan pernah ada kata “baik-baik saja“ dalam dirinya.

—–

“Nanananana .. nanananana ..“

Samar-samar terdengar suara lantunan nada di telinga Yoona. Tidak jelas namun terdengar. Perlahan-lahan Yoona membuka kelopak matanya yang tertutup. Terasa berat. Suara itu masih terdengar. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh sudut kamarnya. Gelap dan sunyi. Ya, ia tidak berani menyalakan lampu sekarang. Lebih baik berada dalam posisi gelap dan tidak mengetahui apapun. Daripada harus melihat kembali sosok itu dalam siraman cahaya redup kamarnya.

“Lalalalala .. lalalalala ..“

Suara itu. Suara itu kembali terdengar setelah beberapa detik yang lalu menghilang. Sekarang terdengar dengan lirik yang berbeda. Lantunan ini terdengar menyayat dan mengerikan. Ditambah suara lirih serta terkesan pilu. Membuat merinding untuk siapa saja yang mendengarnya. Bukan hanya mendengar suara, Yoona juga mencium bau anyir yang seolah menyelimuti hidungnya.

Yoona masih bergumul di dalam selimut tebalnya. Lampu kamar belum juga berani ia nyalakan. Aliran darahnya berdesir hebat. Degup jantungnya pun berpacu cepat. Sekelebat bayangan kemudian melintas di balik tirai dan jendela kamarnya. Sialnya, tirai kamar itu transparan. Jadi ia bisa melihat halaman belakang rumah yang sepi serta sebuah pohon mangga tumbuh sendirian. Dan ia juga bisa melihat apa yang baru saja melintas melewati jendela itu. Sosok perempuan bergaun melintas cepat.

Eonnie, aku ingin kau menyanyikan satu lagu pengantar tidur untukku.“

Deg.

Suara gadis kecil itu kembali terdengar. Masih dengan permintaan yang sama. Permintaan tentang lagu pengantar tidur. Namun Yoona selalu menolak untuk menyanyikannya. Takut. Tentu ia takut. Bagaimana tidak, ia harus menyanyikan sebuah lagu untuk seorang hantu gadis kecil buruk rupa. Gadis kecil yang selalu menyiksa hidupnya akhir-akhir ini.

Eonnie .. aku disampingmu.“ Lanjut gadis kecil itu dan semakin membuat Yoona bergidik nyeri.

Pelan-pelan Yoona menolehkan kepalanya kesamping kanan maupun kiri. Namun hanya gelap yang didapatinya. AC kamar malah menambah hawa dingin serta senyap yang menusuk-nusuk kulit Yoona—hingga menembus tulang. Ditambah suasana mencekam setiap malam. Serta lampu kamar yang sengaja dimatikan.

Kedua bola mata Yoona masih waspada. Setiap detik kedua bola matanya itu menyusuri sudut-sudut kamarnya. Tetapi tidak mendapati sosok tersebut. Apalagi suara-suara itu sudah mulai hilang dan tidak terdengar. Agaknya Yoona sudah bisa merasa lega sedikit. Ia juga berani menghembuskan nafas panjang. Walau ada sedikit rasa takut yang mengganjal di dalam dirinya.

Eonnie!” pekik suara cempreng itu disertai wajah yang tiba-tiba sudah berada dihadapan Yoona. Wajah rusak separuh dengan luka sayatan menghiasi sudut-sudut bibir serta matanya. Rambut coklat panjangnya jatuh menjuntai tepat mengenai bibir mungil Yoona. Dan kedua bola mata itu—kedua bola matanya seakan ingin keluar dari tempatnya. Saraf-saraf merah nampak menghiasi setiap sudut bola matanya. Perlahan-lahan terasa darah yang menetes membasahi sedikit demi sedikit wajah cantik Yoona.

Disuguhi pemandangan menyeramkan tentu saja membuat Yoona tidak bisa bergerak. Tubuhnya mendadak kaku. Lidahnya terasa kelu. Sialnya, pandangan matanya selalu tidak bisa beralih. Selalu memandang wajah ngeri gadis cilik itu. Seperti ada magnet khusus yang menyatukan dua pasang mata tersebut.

“Kau jahat, eonnie! Kau tidak mau membantuku tidur nyenyak! Aku akan membuatmu menderita malam ini!“ nada suara gadis kecil itu meninggi. Air mukanya berubah marah seketika.

Yoona belum bisa melakukan apa-apa. Bahkan berteriak saja sangat susah. Selalu seperti ini. Menyedihkan. Ia hanya bisa menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Tentu saja ia akan pasrah pada keadaan selanjutnya.

Kedua tangan gadis kecil itu tiba-tiba menjambak rambut sebahu milik Yoona. Ia tidak mempedulikan Yoona yang berteriak kesakitan. Lalu gadis kecil itu menyeret Yoona—dengan tetap menjambak rambutnya—dan membenturkan kepalanya ke tembok. Sadis. Tapi Yoona juga tidak bisa melawan. Teriakannya terdengar memilukan. Ia sudah melawan sekuat tenaga, tapi nihil. Rasanya tenaga hantu gadis kecil itu lebih besar darinya. Padahal ia tahu bahwa manusia yang lebih kuat. Tapi entahlah ia tidak berdaya.

“Aaaarhh!! Lepaskan aku! Aku tidak mengerti apa-apa! Jebal, lepaskan!“ permohonan itu tetap saja tidak digubris. Gadis kecil itu terus membenturkan kepala Yoona hingga memar dan berdarah.”Jebal .. lepaskan .. hiks.” Air mata mulai mengalir deras bercampur dengan darah segar yang mengucur dari keningnya.

Kendati merasa puas, gadis kecil itu pun menyudahi permainannya. Suara tawanya menggema di dalam ruangan. Namun setelah itu ia kembali menjambak kuat rambut Yoona. Membuat Yoona menatap pilu sosok hantu kecil dihadapannya.”Eonnie .. kenapa kau membiarkanku? Kenapa kau tidak mau menolongku? Bukankah kau melihat kejadian waktu itu? Kenapa kau hanya diam saja, eonnie?” tiba-tiba gadis kecil itu terisak. Ia melepaskan jambakannya dan mulai menangis. Begitu pula dengan Yoona yang terus menangis kesakitan.”Eonnie, aku ingin kau ikut bersamaku!” lanjut gadis kecil itu dan lansung mencekik leher Yoona.

“Arrrgggh!! Lepaskan!!” Yoona meronta-ronta kesakitan. Pundi-pundi udara yang masuk seperti terhalang. Tangan kanannya berusaha meraih sebuah guci kecil yang terletak tidak jauh darinya. Nafasnya memburu. Tidak lama lagi ia akan kehabisan nafas. Dan beruntung ia bisa meraih guci itu dengan susah payah. Dengan sisa tenaga ia melemparkan guci itu ke segala arah.

Prang!

Suara pecahan guci itu menggema. Walaupun sosok gadis kecil itu menyadari, namun ia tetap bersikukuh mencekik Yoona. Karena tinggal beberapa menit saja Yoona akan menghembuskan nafas terakhir. Dan mungkin saja hanya tinggal beberapa detik. Karena tampaknya Yoona mulai lemas dan tatapan matanya pun melemah.

Noona! Noona! Buka pintunya, Noona!“ teriak Kai dari luar kamar dengan nada cemas. Ingin rasanya Yoona meraih gagang pintu dan memeluk adik laki-lakinya itu. Namun ia tidak berdaya. Tenaganya sudah terkuras habis. Kedua matanya berkedip lemah memandang sosok hantu gadis kecil dihadapannya. Tinggal menunggu waktu, batinnya. Tiba-tiba saja ketajaman pandangannya berkurang. Buram.

Brak.

Tidak beberapa lama pintu terbuka karena hasil dobrakan Kai. Dengan cepat Kai lansung menyalakan tombol lampu. Saat lampu menyala, sosok gadis kecil itu sudah menghilang entah kemana. Dan tentunya Kai tidak mengetahui kehadiran hantu gadis kecil itu.

Merasa sudah terkuras habis tenaganya, Yoona akhirnya tergeletak di lantai—dengan kepala bersimbah darah. Yoona memandang lemah kearah Kai yang berlari mendekatinya dengan khawatir. Nafasnya melemah begitu pula dengan detak jantungnya. Pandangannya pun mulai kabur lalu menghitam. Ia sudah tidak bisa melihat apapun lagi setelah itu.

Noona .. noona ..“ Terdengar samar-samar suara Kai kemudian menghilang. Sunyi. Gelap.

—–Flashback—-

Ciit ..

Bunyi suara rem mobil membagi fokus Yoona yang sedang menyusuri jalan pulang. Ia hanya seorang diri malam itu—sudah biasa karena hampir setiap hari ia pulang malam dan selalu menyusuri jalan yang sama. Jalanan dekat taman kota yang tidak begitu ramai bahkan terbilang sepi namun tentram. Tetapi ketentraman malam itu seperti terusik oleh suara jeritan seorang gadis kecil yang meronta-ronta.

“Yaaak! Lepaskan aku, appa! Lepaskan!“

Ingin mengetahui kejadian selanjutnya, akhirnya Yoona pun bersembunyi di balik pohon yang ada di dekatnya. Pandangan matanya terus tertuju kepada seorang gadis kecil yang meronta-ronta minta dilepaskan kepada seorang laki-laki yang menggeret lengannya. Gadis kecil itu berusaha menarik tubuhnya tapi tentu saja nihil. Tenaga laki-laki itu pasti jauh lebih besar daripada tenaga seorang gadis kecil sepertinya. Apalagi laki-laki itu berbadan tegap dan bertubuh kekar. Namun wajahnya tidak nampak jelas karena topi hitamnya menghalangi—serta lampu jalanan yang kuning temaram.

“Lepaskan aku, appa!“ rengek gadis kecil itu kepada sosok laki-laki yang dipanggilnya “appa“. Tetapi pria itu hanya diam, tidak mempedulikan racauan putrinya.

Yoona terus mengintip dari balik pohon besar itu. Menyaksikan apa yang terjadi selanjutnya. Sebenarnya ia iba dan ingin menolong gadis kecil tersebut. Tapi ia takut. Lagipula ia juga tidak mengenal mereka. Rasa takutnya itu selalu mengalahkan apapun yang ingin dilakukannya. Ia merutuki dirinya sendiri.

Plak.

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi gadis kecil itu. Yoona membekap mulutnya. Kaget melihat apa yang baru saja dilakukan laki-laki itu. Tega dan tidak berperasaan. Ya, itulah kata yang tepat menggambarkan watak pria tersebut. Setelah menerima tamparan keras, gadis kecil itu lansung tergeletak di jalanan beraspal—sepertinya pingsan. Lalu pria itu berjalan menuju bagasi belakang mobil sedannya. Ia tampak mengambil sesuatu.

Mwo? Pisau?” gumam Yoona kaget saat melihat pria jangkung itu mengambil sebuah pisau mengkilat dari bagasi mobilnya.”Apa yang akan ia lakukan?”

Jleb.

Tidak menunggu lama, sekali tusukan menancap tepat di perut gadis kecil itu. Darah segar lansung munyembur dan membasahi gaun putih yang dikenakan gadis kecil itu. Kedua bola mata gadis itu terbuka lemah dan lansung memandang tepat ke arah Yoona sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhir.

Setelah dirasa gadis kecil dihadapannya sudah mati, pria itu kemudian masuk ke dalam mobilnya. Mobil itu mundur beberapa langkah lalu melaju setelah sebelumnya roda sebelah kanan melindas tepat wajah gadis kecil itu.  Yoona terperangah. Tenggorokannya tercekat. Bingung harus melakukan apa—karena ini adalah pertama kalinya ia melihat peristiwa sesadis ini. Peristiwa sadis seorang ayah yang tega membunuh putrinya. Ia merasa kakinya tidak kuat untuk menopang berat tubuhnya setelah menyaksikan apa yang baru saja terjadi.

—–End Flashback—–

Kedua kelopak mata Yoona berkedut—menandakan akan segera siuman. Kedua telapak tangannya juga mulai bergerak sedikit demi sedikit. Melihat hal itu Kai lansung mendekat kearah ranjang kakaknya. Ia menggenggam telapak tangan kanan Yoona yang diinfus. Sorot matanya memandang nanar kakak perempuannya itu. Kepalanya dibalut perban tebal akibat luka parah. Selang infus dan alat pernafasan juga turut menghiasi tubuh Yoona.

Noona, kau sudah sadar?“ tanya Kai dengan tatapan cemas. Ya, ia selalu mencemaskan keadaan kakak perempuan satu-satunya itu. Karena hanya Yoona lah satu-satunya anggota keluarga yang ia miliki di Korea—karena kedua orang tua mereka sibuk bekerja di China. Dan seperti tidak mau tahu apa-apa tentang Kai dan Yoona. Mereka selalu berpikir bahwa uang bisa menghidupi Kai dan Yoona. Padahal kenyataannya bukanlah seperti itu.

Yoona menatap Kai lemah lalu membuka suara.“Bantu aku, Kai. Bantu aku ..“ ujar Yoona dengan suaranya yang terdengar parau.

“Bantu apa, noona?“ Kai mengerutkan kening saat mendengar permintaan Yoona. Ia memandang Yoona tidak mengerti.

“Berikan aku secarik kertas dan sebuah bulpen. Aku ingin menuliskan sesuatu.“ Pinta Yoona dan Kai segera menyobek secarik kertas dan mengambil sebuah bulpen yang kebetulan ada di atas buffet disamping ranjang. Kemudian Yoona segera menuliskan sesuatu dengan cepat.“Ini!“ Yoona menyerahkan kertas itu kepada Kai.

Kai kebingungan melihat tulisan plat nomor mobil yang ditulis oleh kakaknya itu.“Mwo? Apa ini, noona?“

“Bantu aku mencari mobil dengan plat nomor itu, Kai. Dia adalah dalang dibalik semua ini. Dia adalah satu-satunya orang yang menyebabkanku menjadi seperti ini. Jebal.“ Cerca Yoona seraya memegangi pergelangan tangan kiri Kai. Ya, Yoona sengaja mengingat plat nomor mobil pelaku pembunuhan waktu itu. Dan ia pikir ini adalah saat yang tepat dimana ia harus mengakhiri semua penderitaan ini.

“Ceritakan kepadaku noona apa yang sebenarnya terjadi!“

Yoona menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Matanya terpejam menikmati aroma mint dari selang pernafasannya. Kemudian ia menceritakan apa yang terjadi sebenarnya—apa saja yang telah menimpa dirinya dua minggu setelah peristiwa itu.

—–

Kai berjalan memasuki sebuah gedung kantor polisi di daerah Seoul. Tanpa berpikir panjang ia lansung menuju pos pencarian data seseorang. Disana ia disambut ramah oleh seorang polisi pria berkumis tebal. Polisi itu segera menanyakan maksud dan tujuan Kai datang ke kantor polisi. Tanpa basa-basi Kai juga lansung menjelaskan tujuannya—mencari pelaku pembunuhan gadis kecil itu.

“Baiklah, tunggu sebentar ne. Aku akan mencarinya melalui data plat nomor mobil di Korea. Kebetulan kami juga sedang mencarinya. Dia masuk dalam daftar buronan pembunuhan tahun ini. “ Ujar polisi itu dan Kai mengangguk mengiyakan saja. Ia sedikit merutuk kesal karena kakaknya sudah menyembunyikan hal ini darinya selama dua minggu.

Sekitar 5 menit menunggu, akhirnya polisi itu pun membuka suara,“Kami sudah menemukannya. Sekarang dia sedang berada di kawasan pertokoan dekat perusahaan mobil Hyundai. Mobilnya terparkir disana. Aku akan menyuruh beberapa polisi mengawalmu untuk menangkap pelaku itu.“

“Ah ne, gomawo.“

Kawasan pertokoan dekat perusahaan mobil Hyundai? Bukankah disana adalah tempat noona bekerja? Batin Kai penasaran.

—–

Mobil sedan milik Kai melaju menyusuri jalanan kota Seoul menuju tempat yang telah ditentukan. Ia sudah ditemani 3 orang polisi di dalam mobilnya yang menyamar sebagai orang biasa. Mereka sudah menyiapkan rencana sebelumnya—sehingga pelaku tidak terkejut lalu melarikan diri. Terkadang melintas perasaan geram terhadap pria pembunuh itu, karena secara tidak lansung sudah menyebabkan dampak fatal bagi kakak perempuannya.

Beberapa menit perjalanan akhirnya mereka sampai di sekitar kawasan pertokoan yang dimaksud. Mereka berempat segera turun dari mobil. Lalu mereka ditugaskan untuk mencari mobil berplat nomor seperti yang dituliskan Yoona.

Got it! Hey aku menemukannya!“ pekik Kai yang tidak membutuhkan waktu lama menemukan mobil itu. Ketiga rekannya itu kemudian berkumpul mendatangi Kai. Mereka lalu berunding dan segera berpencar sesuai rencana—sedangkan Kai tetap di tempat menunggu si pemilik mobil itu muncul.

Hey! Kau mau maling eoh?” tiba-tiba seorang pria—berpenampilan formal dan fisik hampir mendekati perfect—berteriak kearah Kai yang sedang bersandar di mobil sedannya. Kai mengerutkan kening seperti mengenali siapa pria tersebut.“Minggir kau dari mobilku!“ pekik pria itu seraya mendorong kasar tubuh Kai untuk menjauh.

“Tunggu! Kau .. Choi Siwon? Bos kakakku?“

Pria bernama Choi Siwon itu kemudian lansung berbalik menghadap Kai.“Ya, aku Siwon. Memangnya siapa kakakmu? Dan ada urusan apa kau, eoh? Kalau tidak penting, sebaiknya kau pulang saja!“

“Yoona. Kau pasti mengenalnya.“ Ujar Kai tidak kalah ketus. Ternyata yang membuat kakaknya menderita selama ini adalah seorang Choi Siwon.

“Ah .. perempuan tidak tahu diri itu? Ya ya, aku sudah memecatnya kemarin.“ Siwon tertawa mengejek dan malah membuat Kai muak.

Buk.

Sebuah pukulan mendarat tepat di wajah Siwon. Tidak perlu dua kali pukulan untuk membuat hidung pria sombong itu berdarah. Lalu ia memberi aba-aba kepada ketiga rekannya untuk keluar dari tempat persembunyian.

“Kurang ajar kau!“ Siwon hampir saja melayangkan pukulan tetapi kedua tangannya sudah dicegah oleh kedua rekan—polisi—Kai.

“Kau memang pantas mendapatkannya, Choi Siwon! Bawa dia ke kantor polisi.“ Pinta Kai kepada ketiga rekannya yang lansung membawa Siwon masuk ke dalam mobil Kai—tidak mempedulikan Siwon yang meminta penjelasan. Kemudian mereka segera menuju kantor polisi pusat di Seoul.

—–

Ceklek.

Pintu ruangan rawat VIP itu terbuka. Yoona memalingkan wajahnya dan melihat Kai masuk dengan tampang sumringah.

Noona, aku berhasil menemukannya!“ Seru Kai dengan raut muka yang tampak bahagia. Tentu saja ia berhak bahagia karena sebentar lagi kakak perempuannya itu akan kembali ke kehidupan normal—seperti sebelum melihat peristiwa itu.

Jinjja? Cepat sekali, Kai.“ Yoona menarik kedua sudut bibirnya dan membentuk senyuman cantik. Hatinya bisa sedikit tenang sekarang. Perasaannya juga lansung membaik begitu mendengar kabar bahwa pelaku pembunuhan sadis itu ditemukan.“Siapa dia, Kai?“ tanya Yoona penasaran siapa pelaku pembantaian gadis kecil itu.

“Siwon. Bosmu, noona. Ah bukan, lebih tepatnya mantan bosmu.“

Kedua alis Yoona bertaut mendengar jawaban Kai.“Siwon? Kau tidak bercanda bukan? Dan .. apakah kau tahu bahwa aku dipecat?“

Aniya. Tentu aku tahu, noona. Setelah kau sembuh, aku akan mencarikan pekerjaan untukmu. Lagipula aku sudah ijin cuti kuliah sebulan ini.“

Mianhae Kai, aku hanya bisa merepotkanmu.“ Ujar Yoona dengan air muka masam.

Kai menggelengkan kepalanya.”Aniya. Kau tidak merepotkanku, noona. Besok sidang penjatuhan hukuman Siwon dilaksanakan. Aku harap kau bisa datang, noona.”

Yoona mengulas senyumnya. Lega. Benar, perasaannya berubah lega setelah mendengar Siwon—mantan bos angkuh dan tidak berperasaan—itu dihukum. Ia berharap sebentar lagi arwah gadis kecil itu bisa tenang di alam lain sana. Dan berharap supaya tidak menganggu kehidupannya lagi.

—–

“Jelaskan alasannya mengapa anda membunuh Aleyna?“ salah seorang hakim itu bertanya kepada Siwon yang tengah duduk di kursi terpidana. Aleyna Yilmaz. Ya, itu adalah nama gadis kecil yang selama ini menghantui kehidupan Yoona. Gadis kecil yang sebenarnya tidak berdosa serta tidak patut untuk dibunuh.“Cepat jawab, tuan Choi!“ kata Hakim itu lagi dengan nada yang meninggi.

Siwon menghembuskan nafas panjangnya. Seluruh saksi dan pengacara yang hadir hanya bisa terdiam menyaksikkan pria itu kini berstatus tersangka. Begitu pula dengan keluarganya yang terus muram dan ada pula yang menangis. Sepertinya mereka masih belum bisa percaya bahwa salah satu anggota keluarganya adalah seorang pembunuh sadis.

“Aku .. Aku hanya tidak ingin memiliki seorang anak diluar pernikahanku. Aku belum siap menjadi seorang ayah sekarang. Aku benci mendengarnya yang setiap malam merengek supaya aku menyanyikan lagu pengantar tidur untuknya. Bila tidak dituruti, maka ia akan menangis dan tentu saja itu sangat mengganggu tidurku. Lagipula, ibu kandungnya juga melarikan diri setelah memberikan Aleyna kepadaku. Aku benci menjadi single-parent. Aku masih ingin menikmati masa mudaku!“ Siwon berusaha menjelaskan semuanya dengan nada yang berapi-api. Semua yang hadir terperangah mendengar jawaban mengejutkan dari Siwon.

Bahkan pihak keluarganya pun tidak mengetahui bahwa Siwon telah memiliki seorang anak diluar pernikahan. Karena selama ini mereka hidup berpisah. Siwon lebih memilih tinggal sendirian di apartemen dekat kantornya. Sedangkan keluarganya tetap bersikukuh tinggal di Busan. Tapi meskipun begitu, Siwon tetap diwarisi sebuah perusahaan mobil oleh kakeknya. Hal itu menyebabkan Siwon mudah terjun ke dalam pergaulan bebas di Seoul. Apalagi ia memiliki gelimang harta yang sepertinya tidak akan habis. Wanita dan segala gemerlap kota Seoul seperti mudah didapatkannya. Dan mungkin hal itulah yang menyebabkan dirinya jatuh ke dalam perbuatan maksiat seperti itu.

Keempat hakim itu pun berunding.“Baiklah, kau dijatuhi hukuman seumur hidup, tuan Choi!“

Tok .. tok .. tok ..

Hakim utama sudah memukulkan palunya. Tanda persidangan telah usai. Beberapa polisi pun segera membawa Siwon menuju hotel jeruji besinya. Mereka berjalan melewati rombongan Yoona. Saat itulah sorot mata Siwon yang tajam bertemu dengan sorot mata Yoona. Ada sinar kebencian di mata pria itu. Tentu saja benci, karena Yoona telah membuat dirinya dihukum seumur hidup.

Setelah beberapa polisi yang membawa Siwon itu berlalu, tiba-tiba tampak sosok Aleyna disamping jendela. Kali ini bukan sosok Aleyna yang menyeramkan. Namun sosoknya sudah berubah menjadi gadis cilik yang cantik dengan wajah sempurna serta gaun selutut putih bersih. Boneka yang dibawanya pun kini sudah sempurna—tidak memiliki cacat sedikitpun. Ia kemudian melempar senyum kearah Yoona. Sorot matanya mengatakan bahwa ini semua telah berakhir. Gadis kecil itu berterima kasih. Tidak akan ada lagi penyiksaan dan mimpi buruk untuk Yoona. Tidak akan ada lagi permintaan tentang lagu pengantar tidur itu. Karena Aleyna sudah bisa tidur tenang abadi sekarang, Dan karena Yoona telah berani mengungkapkan yang sebenarnya.

Sekian detik mereka—Yoona dan Aleyna—berpandangan, kemudian sosok gadis kecil itu menghilang. Arwahnya sudah tenang sekarang. Yoona menghembuskan nafas lega. Mulai detik ini, ia bisa kembali menghirup udara bebas. Hidup normal seperti sebelumnya. Setelah ini, ia akan berusaha melupakan segala kejadian mengerikan yang telah usai itu.

Gomawo Kai sudah mau membantuku. Gomawo.” Ujar Yoona mengucapkan terima kasih kepada adik laki-lakinya itu. Kemudian mereka saling berpelukan. Kai memeluk kakak perempuannya itu dengan erat—seolah tidak ingin kehilangan Yoona. Dan sejak saat ini, hawa kelegaan pun menyelimuti mereka. Mulai saat ini juga, Yoona bisa menghirup udara bebas tanpa takut dihantui mimpi buruk seperti sebelumnya.

—–

“Lalalala .. Eonnie, maukah kau menyanyikan lagu pengantar tidur untukku? Hihihihi ..“

Dia disampingmu. Dia memandangmu.

—–THE END—–

22 thoughts on “[Vignette] Sing Me a Lullaby

  1. woah feel horrornya ngena banget😮 gak nyangka jadi hantu anak kecil itu anaknya si siwon. parah. suka suka sama genre ff yang kek begini. buat ff genre horror kek begini lagi ne😉 fighting^^9

  2. KYAAAAAAAAAA!!! X< SEREM AUTHOR!!! FEEL NYA KENA BANGET SMPE MENUSUK HATIKU/? :v *Plakk! .. mian bru komen, bacanya kmaren sore pas lagi sndirian dirumah o.O .. Ampe aku teriak langsung lari kluar rumah trus meloncat kepelukan Luhan :v .. Soalnya aku pnakut seeh =,=

  3. Iya nih, yaampun horror feel nya udah dapet😐
    Aku kira di sini Siwon baik, ternyata antagonis😐
    Aku kasian sama Aleyna nya😦
    Kalo emang Siwon gak mau ngurusnya, kenapa gak dikasi ke orang lain aja atau di panti asuhan?! Kan kasian kalo dibunuh😦

  4. hah. siwon oppa jd pmbnuh nih,, serem ..
    feel horor nya dpet bgt thor, bru prtma kli bca ff yg cast yoonwon dgn genre horor gni, aq yoonwon shipper, tp sk kok ff ini, keren bgt lhoo..

    gk brani deh klo bca nih ff pas mlem2 ,,
    apalagi klo bca, kt2 author paz trakhir itu, hiiiiii ..

  5. hah. siwon oppa jd pmbnuh nih,, serem ..
    feel horor nya dpet bgt thor, bru prtma kli bca ff yg cast yoonwon dgn genre horor gni, aq yoonwon shipper, tp sk kok sm ff ini, keren bgt lhoo..

    gk brani deh klo bca nih ff pas mlem2 ,,
    apalagi klo bca, kt2 author paz trakhir itu, hiiiiii ..

  6. Liat cover.a nyeremin bgt,, Mskipun Q baca.a siang hari, ttp aja merinding..
    Q kira knpa Yoona bisa d hantuin sama hantu buruk rupa yg pegang
    boneka, & minta d nyanyiin lagu pngantar tidur buat hantu itu.. Trnyata
    Yoona yg jd saksi bisu peristiwa naas trbunuh.a anak itu,,
    Jd Siwon yg udh ngbunuh anak itu, krn anak itu adalah anak d luar
    nikah.a,, Ngeri bgt mninggal.a,, Untung aja Yoona gk knapa2 waktu
    d serang sama hantu itu, & dia jd berani bilang ke Kai, & Siwon bisa
    d jeblosin ke penjara,,

  7. Untung bacanya gk malem, kalo malem bisa2 gk bisa tidur.. Walaupun hanya baca tapi feel dapet banget.. Kenapa harus siwon yg jadi appa anak kecil itu dan dia juga yg membunuhnya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s