[Freelance] Heartless (Chapter 2)

cats 33

Title : Heartless chapter 2

Author : Kim Dhira (@farahwijaya)

Cast : Im Yoon Ah, Lee Donghae, Park Yoochun (and other, you can find when you read this fic)

Genre : romance, married life

Ratting : PG-16

Length : chapter

 

Disclaimer : FF ini adalah hasil kerja kerasku. Semua yang ada disini kecuali cast(s) adalah hasil pemikiranku, jadi mohon kerja samanya ya.. oh iya, ff ini juga sudah pernah dipublish di GIGSent Fanfiction. Dan sebelumnya ff ini sudah mengalami perbaikan..

 

 

 Happy Reading and Enjoy Guys J

 

 

 

 

 

Yoona… yeoja itu baru saja akan mengenakan high heelsnya ketika ia menyadari ada sebuah tumpukan map, yang sepertinya, map yang membuatnya merasa kesal semalam. Map yang membuatnya harus terkurung secara tidak langsung di kamarnya, hanya karena sang pemilik map tengah bergulat di depan laptopnya dengan map-map tersebut.

 

 

“ini… tsk, ceroboh sekali dia. bagaimana bisa ia meninggalkan mapnya? tapi, apakah map ini memang tertinggal, atau mungkin ia memang sengaja meninggalkan mapnya? aish… kenapa aku  tak mencoba menghubungi sekertarisnya saja.”

 

 

Yoona mulai mengutak-atik layar ponselnya. Mencari-cari sebuah nama yanng sepertinya pernah diberikan oleh nyonya Lee, ibu mertuanya.

 

 

“ini dia…..” ucapnya yang langsung menekan tombol hijau pada layarnya.

 

 

Yoona, gadis itu masih menunggu sosok orang yang ia hubungi menjawab panggilannya. Dan untungnya tak lama berselang setelah nada sambung terdengar, panggilan Yoona dijawab oleh sosok yeoja dari seberang telephone sana.

 

 

 

“yeoboseyo.. ada yang bisa saya bantu?”

“ne, saya Im Yoon Ah…”

“mian, apakah nyonya istri dari Lee Donghae sajangnim?”

“ah.. nde. saya istrinya.” jawab Yoona agak ragu.

“oh, ada yang bisa saya bantu nyonya Lee?” tanya sosok yeoja dari seberang sana dengan nada yang terdengar semakin formal dan kaku.

“ehm… apakah hari ini akan ada pertemuan yang akan membahas tentang Busan’s project?” tanya Yoona sembari membaca lembaran pertama pada map tersebut.

“ne. hari ini sajangnim ada pertemuan dengan beberapa pemegang saham untuk membahas tentang project tersebut. apakah ada yang bisa saya bantu nyonya?”

“ah annie, aku hanya ingin memastikan saja. kalau begitu terima kasih Yuri-ssi. maaf telah mengganggu mu…”

“annie, cheonmaneyeo nyonya Lee.”

 

 

 

Sambungan telephone mereka pun berakhir bersamaan dengan Yoona yang langsung meraih map tersebut dan membawanya bersama dengannya.

 

 

 

“ternyata namja itu tak seperfect yang ku kira. hal sepenting ini saja dengan mudahnya ia lupakan.” gumamnya yang langsung memasuki sebuah taxi yang telah ia pesan.

 

 

 

 

 

:’) Lee Corp (‘:

 

 

 

Yoona, yeoja itu kini tengah berjalan keluar dari sebuah lift yang membawanya hingga mencapai lantai kesembilan bangunan tersebut. Ia sedikit mengitarkan kedua bola matanya mencari sebuah tempat yang kiranya disana ada sebuah ruangan seorang direktur. Kaki jenjangnya pun ia langkahkan mengikuti arah koridor yang mulai mengarah pada sebuah pintu besar satu-satunya yang ada di lantai sembilan bangunan tersebut.

 

 

“apakah ruangannya ada disana?” batinnya. Dengan sedikit ragu, Yoona tetap melangkahkan kakinya mendekati pintu itu. Tangannya pun ia ulurkan ke gagang pintu, dan dengan pelan ia menekan ke bawah gagang pintu tersebut hingga berhasil membuatnya dapat melihat sedikit bagaimana keadaan di dalam.

 

 

Matanya sedikit membulat ketika mendapati bahwa tak ada satu pun orang di tempat itu. Bahkan Yuri, yeoja yang bekerja sebagai sekertaris Donghae pun tak ada disana.

 

 

“kemana sekertarisnya? apakah aku salah ruangan? tetapi tak mungkin, pintu itu menunjukan bahwa ini adalah ruangan namja itu.”

“tsk… dari pada menunggu sekertarisnya lebih  baik aku langsung saja ke ruangannya.” sambung Yoona yang langsung berjalan menghampiri sebuah pintu di dalam ruangan tersebut.

 

 

Dengan sangat hati-hati, Yoona kembali menekan gagang pintu itu hingga berhasil membuatnya dapat melihat sedikit keadaan di dalam ruangan. Karena pintu yang hanya terbuka sedikit, Yoona pun harus bersusah payah mencari keberadaan sosok namja pemilik map yang ia bawa. Namun sepertinya, matanya tak perlu waktu lama untuk mencari keberadaan namja tersebut. Karena kini kedua matanya telah berhasil mengunci rapat sosok itu yang tengah duduk di sofa ruangannya dengan seorang yeoja yang pernah ia lihat. Ya… yeoja itu merupakan yeoja yang ia lihat di hotel kemarin malam.

 

 

Yeoja yang berhasil membuat Yoona merasa kesal dan hingga membuat ia tak sengaja menjatuhkan map yang ia bawa. Sontak, sosok namja yang tengah merangkul yeoja dihadapannya itu pun langsung beralih menatap ke arah Yoona. Yoona yang menyadari kesalahan apa yang tengah ia perbuat, dengan cepat pergi meninggalkan tempat itu.

 

 

 

 

The other side

 

 

Tunggu… itu. Yeoja itu…….

 

 

Tanpa aba-aba aku langsung melepaskan pelukanku dan beralih mengejarnya. Langkahku terhenti ketika ku dapati sebuah barang yang terjatuh tepat di depan pintu.

 

 

“ini….. arggghhhhhhh……” erangku dan kembali berlari meninggalkan barang yang ternyata map penting yang sepertinya tak sengaja tertinggal oleh ku.

 

 

The other side end

 

 

 

 

Yoona terus berlari mencari jalan untuk keluar dari tempat itu. Raut wajahnya kini pun menunjukkan kebingungan yang tengah ia rasakan. Nafasnya yang terengah membuat Yoona menghentikan langkah kakinya sekedar untuk menghirup oksigen yang berada disekitarnya. Namun, baru beberapa detik ia dapat menghirup oksigen dengan baik, Yoona harus kembali berlari meninggalkan tempat tersebut.

 

 

 

“Yoona…….”

 

 

 

“arghhh…. kenapa ia mengejar ku?” geramnya dengan deru nafas yang tentunya masih tak teratur dan dapat terdengar dengan sangat jelas.

 

 

Yoona terus saja berlari, mencari-cari keberadaan lift yang akan membawanya pergi dari tempat itu. Mungkin karena dewi fortuna yang baru saja memihak padanya, ia pun berhasil menemukan lift yang sebelumnya tak berhasil ia temukan. Dengan cepat ia tekan tombol lift yang menunjukkan tanda panah ke bawah. Dengan rasa gelisah yang memuncak ia menunggu lift terbuka. Ia pun masih tetap memburu nafasnya yang hampir saja habis karena ia terus berlari.

 

 

 

Ting……

 

 

 

Lift yang baru saja terbuka pun langsung ia masuki. Ia pun dengan cepat meraih tombol lantai satu pada kumpulan tombol yang berada disisi kiri lift.

 

 

“wae? kenapa aku lari? kenapa aku kesal melihatnya? aku tak mencintainya. mungkin aku hanya merasa bodoh. ya.. aku merasa bodoh. aku merasa menjadi yeoja pabo. yeoja yang dengan rela menikah dengan namja yang tak mencintai ku, namja yang hanya memanfaatkan ku untuk kebahagiaannya sendiri.”

 

 

 

************

 

 

 

Matahari yang telah tenggelam, menunjukkan bahwa kini hari telah berganti menjadi malam. Angin yang bertiup kencang pun menandakan bahwa malam ini merupakan awal dari bergantinya musim. Walaupun begitu, jalan-jalan yang biasa dilalui oleh orang-orang pun masih tetap ramai seperti biasanya.

 

 

Sebuah mobil sedan mewah baru saja menepi tepat di depan sebuah bangunan yang bertuliskan Baeghab Boutique. Namun, sang pemilik mobil tak turun dari mobilnya. Ia malah berdiam di dalam, menunggu seseorang yang ia harapkan keluar. Usaha menunggunya tak memerlukan waktu yang lama, karena baru beberapa menit setelah ia menepi, seorang yeoja yang mengenakan cardigan simple namun tetap terlihat modis keluar dari boutique tersebut bersama dengan yeoja yang tentunya juga ia kenal.

 

 

 

“Yoong……” panggil namja itu dari dalam mobilnya.

 

 

 

“Yoochun oppa…..” balas sang yeoja dengan melambaikan tangannya ke arah namja bernama Yoochun itu.

 

 

“Yoong…. kau…..”

 

 

“wae Fany-ah?”

 

 

“neo? bagaimana dengan suamimu?” tanya menyelidik yeoja bernama lengkap Stephanie Hwang itu.

 

 

“molla. lagi pula aku juga tak akan melakukan apa pun dengan Yoochun oppa. ia hanya akan mengantar ku pulang. ini semua juga salah mu Fany-ah, andai saja kau tak menabrakkan mobilku ke pembatas jalan, pasti hal ini tak akan terjadi.”

 

 

“ya! aku kan telah meminta maaf.”

 

 

“arra… aku hanya bercanda. kalau begitu aku pulang duluan ya, annyeong……”

 

 

“ya Yoong!!!” teriak Tiffany yang tak mendapatkan jawaban apa pun dari orang yang ia teriaki.

 

 

 

 

“apakah oppa sudah lama?”

 

 

“annio, aku baru saja sampai. oh iya, apakah kau bisa menemani ku minum?”

 

 

“minum? memangnya ada masalah apa sehingga oppa ingin minum?”

Yoona nampak terlihat bingung ketika mendengar permintaan namja yang tengah sibuk dengan kendali mobilnya. Jarang sekali namja tersebut memintanya untuk menemani minum, kalau pun ia, pasti namja itu tengah ada masalah.

 

 

“aku tidak ada masalah, hanya saja aku ingin minum hari ini.”

 

 

Yoona nampak diam. Ia sedikit berpikir dan tentu saja menimbang-nimbang tawaran dari namja yang duduk di sampingnya itu. Ia tak mau kehilangan kesempatan ini, walaupun ia tahu kalau ia tak bisa minum tapi apa salahnya untuk mencoba hari ini. Toh hanya hari ini saja ia merasa membutuhkan itu.

 

 

“em… baiklah aku mau menemani mu oppa…”

 

 

“jinjja? kalau begitu kita pergi sekarang ya…..” ucap namja bernama Yoochun itu, dan langsung membawa mobilnya pergi menuju kesalah satu club mewah yang tak jauh dari tempat dimana Yoona bekerja.

 

 

 

************

 

 

 

“gomawoyo oppa…”

 

 

“cheonmaneyo Yoong, sudah sana kau masuk. ini sudah malam.”

Perintah Yoochun yang langsung mendapatkan anggukan dari Yoona.

 

 

 

 

Yoona berjalan menyusuri koridor lantai lima apartment nya. Langkah kakinya begitu lambat dari biasanya. Mungkin karena kini sudah larut malam, sehingga tubuhnya sudah tak terlalu mampu lagi menopang dengan baik. Dan mungkin juga ini karena faktor dari alkohol yang ia minum. Ia berjalan mendekati sebuah pintu yang masih bersih tak terpasang penghias apa pun. Jari-jarinnya ia mainkan menekan beberapa angka untuk membuka pintu apartment nya. Delapan angka cantik yang mudah ia ingat pun telah berhasil membuatnya dengan mudah memutar knop pintu dan masuk ke dalam. Namun kini kedua kakinya malah mematung tak dapat ia gerakan. Matanya mulai memerih seiring dengan apa yang ia lihat.

 

 

“apa ini?”

Suaranya bergetar hebat. Nafasnya tak begitu teratur. Tangan kanannya pun berpegangan pada dinding, menunjukan bahwa kakinya mulai melemah tak mampu lagi menyangga tubuhnya  untuk tetap kokoh berdiri.

 

 

 

Mendengar suara berat seorang yeoja yang ia kenal, Donghae, namja itu buru-buru melepaskan pelukannya dari seorang yeoja yang tengah duduk di sofa bersamanya. Dengan cepat ia berlari menghampiri Yoona yang dengan susah payahnya berusaha untuk pergi meninggalkan apartment nya. Namun usahanya nampak sia-sia saja, karena baru saja ia ingin melangkah pergi, sebuah tangan kekar berhasil menahannya.

 

 

“kau mau kemana?”

 

 

“lepaskan!!!!”

 

 

“annie! aku tak akan melepaskan mu! cepat masuk!!”

Suaranya terdengar sangat tegas dan keras. Layaknya seorang yang memiliki dendam, Donghae memerintah Yoona dengan sangat kasarnya. Ia menarik tangan kanan Yoona agar masuk mengikutinya. Tapi nampaknya Yoona enggan dan sangat tak suka atas perintah Donghae. Dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, ia menahankan tangan kirinya pada dinding agar dapat menahan tubuhnya.

 

 

“Donghae-ah… lepaskan. tanganku terasa sakit.”

Rintih Yoona dengan genangan air yang hampir membasahi kedua matanya. Ia menangis. Suaranya mulai tak jelas. Berkali-kali ia meminta untuk dilepaskan, namun Donghae tetap  tak melepaskan genggamannya.

 

 

“sakit….. ku mohon lepaskan.”

 

 

 

“lepaskan wanitaku.”

Seorang namja yang masih mengenakan setelan jas dengan kasarnya melepaskan tangan mungil Yoona yang sudah memerah dari genggaman Donghae. Dengan cepat ia menarik Yoona pergi dan membiarkan Donghae. Ia tak menghiraukan Donghae yanng terus memakinya dari kejauhan.

 

 

 

************

 

 

 

“kau beristirahtlah disini. aku akan mengambilkan obat untuk mu dulu..”

 

 

“ne… oppa, gomawoyo…”

 

 

 

Pergelangan tangan Yoona nampak terlihat lebih baik dari sebelumnya. Walaupun memar pada tangannya masih terlihat, tapi setidaknya rasa sakit yang ditimbulkan akibat memar yang ia alami tak terlalu parah seperti sebelumnya.

 

 

“Yoong, kau gantilah pakaian mu dan pakai ini..”

Yoochun, ya dialah namja yang menolong Yoona. Dan kini pun Yoochun membawa Yoona ke apartment nya, ia tak mungkin membiarkan Yoona sendiri. Dan tak mungkin pula kalau ia mengantar Yoona ke rumah orang tuanya.

 

 

“nde?”

 

 

“kau tak perlu takut Yoong, kemeja itu sudah dicuci dan belum ku pakai. jadi pakailah sebagai pakaian penggantimu untuk malam ini. kau tak mungkin kan beristirahat mengenakan pakaian yang sejak tadi pagi telah kau pakai.”

 

 

Mendengar penuturan Yoochun yang seperti menasihatinya, Yoona hanya dapat tersenyum. Ia tak pernah merasakan kebahagian yang seperti Yoochun berikan padanya ketika ia bersama dengan Donghae.

 

 

“gomawo oppa….”

 

 

“kau tak perlu berterima kasih Yoong, oppa melakukannya  karena oppa mencintai mu. sudah kau pergi ganti pakaianmu..”

 

 

“baik sajangnim…..” balas Yoona yang seperti meledek Yoochun. Walaupun begitu, sebuah senyum kegembiraan sangat terlihat jelas pada wajahnya.

 

 

“oh iya Yoong, kau istirahatlah di kamarku.”

 

 

“nde? di kamarmu oppa? lalu bagaimana dengan mu?” Yoona nampak bingung. Ia berpikir, jika ia mengikuti perintah Yoochun, lalu bagaimana dengan lelaki itu. Apakah mereka akan tidur satu ranjang?

 

 

“tak apa, aku bisa tidur di sofa. yasudah cepat kau ganti pakaianmu dan beristirahtlah. besok pagi aku akan mengantar mu ke kantor. arraseo?”

 

 

“arra oppa… jeongmal gomawoyo oppa….”

 

 

 

 

Yoona POV

 

 

Berkas cahaya yang mengenai mataku, membuat ku tanpa sadar membuka perlahan kelopak mataku. Ku perhatikan apa yang dapat kulihat. Ini… ini adalah kamar Yoochun oppa. Berarti kejadian yang menimpa ku semalam benar-benar terjadi. Ya Tuhan….. kehidupan apa yang kau berikan pada ku? Kenapa Engkau menyiksa ku dengan cara seperti ini Tuhan? Aku selalu taat pada mu, tetapi kenapa ini terjadi?

 

 

 

“Yoong, apakah kau sudah bangun?”

 

 

 

Mwo? Yoochun oppa? Bagaimana ini? Aku belum mencuci mukaku?

 

 

 

“Yoong, kau kenapa?”

 

 

Tanya Yoochun oppa dari balik rak buku yang berhadapan dengan ku. Aahh.. aku lupa, benar-benar lupa. Apartment Yoochun oppa kan tidak memiliki pintu pemisah antara kamar dan ruangan yang lain. Argh… paboya.

 

 

“annie oppa. kau sedang memasak ya?”

 

 

“ne. sebaiknya kau cepat mandi lalu kita akan sarapan bersama. cepatlah, aku akan melanjutkan masakanku dulu.”

 

 

“ye oppa….”

 

 

 

 

Entah kenapa aku tak merasa bahwa pagi ini secerah pagi sebelumnya. Apakah karena kejadian yang baru ku alami? Entahlah, otakku benar-benar tak dapat memikirkannya. Rasanya aku benar-benar seperti seorang yeoja pabo. Yeoja yang hanya bisa diperbudak oleh namja kurang ajar itu. Bagaimana bisa aku menangis dihadapannya? Arghhh.. Yoong. Kau benar-benar yeoja yang pabo. Pabo. Pabo. Pabo

 

 

“sudah sampai…”

 

 

“nde? ohh sudah sampai… kalau begitu aku masuk dulu ya oppa. kau hati-hatilah di jalan.”

 

 

“ye sudah sana masuk. aku akan pergi sekarang. annyeong..”

 

 

 

Aku terus berdiri memperhatikan mobilnya. Aku belum beranjak masuk sebelum aku benar-benar tak dapat lagi melihat mobilnya. Dan ketika mobilnya sudah tak terjangkau lagi oleh penglihatanku, aku pun baru melangkahkan kakiku masuk ke dalam.

 

 

 

Naesarang ije-neun annyeong you’re the only one (you’re the only one)

      Ibyeorhaneun isunkanedo you’re the only one

      Apeu-go apeujiman pabo katjiman go-od bye

      Tashi neol mot bonda haedo you’re the only one

      Only one

 

 

 

Mwo? Eommonim? Ada apa dia menghubungi ku?

 

 

 

“yeoboseyo eommonim…..”

“yeoboseyo… kau sedang ada dimana Yoong?”

“em… di boutique eommonim. memangnya ada apa?”

“begini, eommonim membuatkan makan siang untuk mu dan Donghae. bisakah nanti kau mengantarkan makan siang untuk Donghae? tiba-tiba eommonim ada acara, jadi tak dapat mengantarkannya..”

“nde?…. nanti siang..? em….”

“apakah kau tak bisa? kalau begitu……”

“annie.. annie… aku bisa eommonim. kalau begitu aku akan mengambilnya sebelum jam makan siang.” potong ku cepat. Entah, aku tak tahu apa yang harus aku katakan. Tetapi saat itu hanya kalimat-kalimat itulah yang ada dipikiranku. Aku tak mungkin membuat eommonim kecewa. Arghh… kenapa pilihan sesulit ini selalu menimpa ku.

“baiklah kalau begitu, eommonim menunggu di rumah. kau jangan terlalu lelah bekerjanya ..”

“ ne eommonim.. annyeong…..”

 

 

 

 

Author POV

 

 

Mentari masih terus setia menyinari bumi walaupun telah lebih dari lima jam ia menyinarkan sinarnya. Bahkan kini sinarnya semakin terik hingga membuat masyarakat enggan bangkit keluar walaupun kini jam makan siang telah hampir tiba.

 

 

 

Sebuah taxi baru saja memasuki area bangunan perusahaan yang beberapa karyawannya tengah memenuhi area parkir, mereka tengah bersiap-siap untuk pergi mencari makan. Seorang yeoja yang datang bersama dengan taxi tersebut baru saja berjalan masuk ke dalam perusahaan dengan sebuah tas makan ditangannya. Ia berjalan memasuki lift, dan menekan angka sembilan pada kumpulan angka pada dinding lift bagian kiri.

 

 

Yah.. yeoja tersebut bernama Yoona. Ia  kembali datang ke perusahaan itu karena permintaan ibu mertuanya. Awalnya ia ingin menolak, tapi kalimat-kalimat yang ada dipikirannya menjuruskannya untuk menerima permintaan tersebut. Kali ini sepertinya ia tak perlu lagi mencari-cari dimana ruangan suaminya itu. Karena secara tak sadar kakinya telah melangkah -tanpa berpikir lagi- menuju ruangan yang terletak diujung.

 

 

Untuk kedua kalianya ia datang ke perusahaan itu, dan untuk pertama kalinya ia baru bertemu dengan sosok Yuri yang menjabat sebagai sekertaris namja yang telah resmi menjadi suaminya. Ia sedikit merundukkan badannya ketika matanya bertemu dengan mata Yuri.

 

 

“annyeonghaeseyo….”

 

 

“annyeong… apakah anda nyonya Lee?”

 

 

“eo.. nde.” wajahnya terlihat gugup ketika Yuri menyadari bahwa ia merupakan istri dari atasannya.

 

 

“ada yang bisa saya bantu nyonya?”

 

 

“annie, saya hanya ingin mengantarkan ini kepada sajangnim. apakah ia ada?”

 

 

“ne, ia ada di dalam.”

 

 

“ne gamsahamnida…” balas Yoona dan kembali merundukkan badannya.

 

 

Yoona pun melangkahkan kakinya mendekati pintu ruangan dimana Donghae sehari-hari menghabiskan waktunya untuk berkutat dengan segala macam urusan pekerjaannya. Ia nampak sedikit berpikir sejenak. Ia merasa bimbang, haruskah ia mengetuk pintu terlebih dahulu. Ataukah ia melakukan hal yang sama seperti  yang kemarin ia lakukan? Otaknya kembali ia paksakan untuk menentukan jawaban atas pikirannya.

 

 

 

Sepuluh detik….

 

 

 

Lima belas detik….

 

 

 

Tiga puluh detik….

 

 

 

Satu menit….

 

 

 

Yoona masih terdiam di depan pintu dengan tangan yang ia letakan di atas gagang pintu. Dan hal itu sedikit menarik perhatian Yuri yang bingung dengan apa yang sedang dilakukan Yoona. Walaupun begitu, nampaknya Yuri enggan untuk mencampuri apa yang sedang Yoona pikirkan. Ia pun kembali menyibukkan dirinya dengan komputer yang ada di atas mejanya.

 

 

“huh…. aku akan melakukannya.” ujarnya pelan bahkan sangat pelan. Ia menarik nafasnya dalam-dalam sebelum menekan gagang pintu itu ke bawah.

 

 

Ia membuka pintu dengan sangat pelan agar tak ada suara yang ia timbulkan. Pelan dan sangat begitu hati-hati, hingga nyaris satu menit berlalu pintu hanya baru terbuka tiga senti saja.

 

 

“tsk… kenapa tak terlihat apa-apa? sepertinya aku harus membuka pintunya lagi.”

 

 

 

   Buk……

 

 

 

Baru saja ia kembali membuka pintu tersebut, tas makanan yang ia bawa terjatuh hingga membuat sosok Yuri dan juga sosok orang yang berada di dalam ruangan itu beralih menatapnya. Matanya membulat. Tangannya ia letakan di depan mulutnya. Tubuhnya mulai bergetar. Ia benar-benar tak habis pikir dengan apa yanng baru saja ia lihat. Donghae, namja yang merupakan suaminya itu nyaris saja mencium sosok yeoja yang selama ini selalu dilihatnya bersama dengan Donghae.

 

 

Yoona hanya bisa berdiri terpaku di depan ruangan Donghae. Kaki jenjangnya belum dapat bekerja dengan baik bersamaan dengan perintah yang disalurkan melalui otaknya. Ia ingin sekali pergi meninggalkan tempat itu sekarang, tapi sepertinya kakinya masih belum menerima perintah dengan baik. Kakinya baru dapat bekerja dengan baik ketika butiran kristal mengalir dari matanya. Ia mulai melangkahkan kakinya pergi meninggalkan tempat itu. Dengan sekuat tenaga ia berlari menuju lift sama seperti apa yang ia lakukan kemarin. Dengan cepat tangannya meraih tombol lift agar dengan cepat pula pintu lift terbuka. Namun sepertinya usahanya tak berujung baik, karena baru saja pintu lift akan tertutup, sepasang tangan menahannya dan membuat pintu lift kembali terbuka.

 

 

“kenapa kau ada disini? GGA!!!!” sungut Yoona dengan emosi yang benar-benar sudah berada diubun-ubun kepalanya. Ia menangis. Matanya pun memerah.

 

 

“lepaskan!!!!” pekik Yoona lagi saat tangan kekar Donghae kembali mencengkram pergelangan tangannya. Donghae hanya diam tak meresponnya.

 

 

“lepaskan aku!!!” sungut Yoona lagi dengan suara yang lebih keras.

 

 

“annie. kau harus ikut dengan ku.”

 

 

Donghae menarik tangan Yoona mengikuti arah langkahnya. Banyak pasang mata yang langsung beralih menatap mereka, namun sama sekali tak dihiraukan oleh Donghae. Ia tetap menarik Yoona dan memaksanya untuk masuk ke dalam mobil.

 

 

“hentikan mobilnya!! aku tidak ingin ikut dengan mu!!”

 

 

“terserah kau ingin bicara apa. tetapi aku tak akan membiarkan mu lepas untuk kedua kalinya.”

 

 

 

 

Mobil sedan mewah yang dikendarai oleh Donghae telah terparkir dengan sangat sempurna di area basement apartment. Melihat kondisi basement yang sepi dengan mobil menunjukan bahwa penghuni apartment masih beraktivitas di luar.

 

 

“ya! lepaskan!”

 

 

“diamlah. jangan membuat keributan.”

 

 

Dongha kembali menarik tangan Yoona  mengikuti langkah kakinnya. Ia membawa Yoona kembali ke apartment mereka. Yoona nampak terlihat bingung, kenapa Donghae membawanya pulang. Tetapi rasa kesal, takut, marah yang ia rasakan terus berkecamuk berbaur menjadi satu hingga membuat ia hanya dapat menitihkan air mata. Ia tak dapat berpikir dengan logikanya lagi saat Donghae menariknya masuk ke dalam kamar. Sekuat apa pun tenaga yang ia gunakan untuk mempertahankan dirinya agar tak masuk, tetapi semuanya nampak sia-sia karena kini Donghae telah berhasil menariknya masuk.

 

 

Ia nampak bingung. Tubuhnya pun bergetar, air matanya terus mengalir dari kedua matanya. Tubuhnya semakin melemas ketika  ia menyadari bahwa kini Donghae telah mengunci rapat pintu kamar mereka.

 

 

“apa yang mau kau lakukan??”

 

 

“kau diamlah. ikuti saja permainanku.”

 

 

Donghae manarik tubuh mungil Yoona menedekat dengannya. Mendekatkan wajahnya pada wajah Yoona. Dan mulai menciumi bibir mungil Yoona dengan kasarnya. Ia tak menghiraukan Yoona yang sejak awal telah meronta terhadap apa yang ia lakukan.

 

 

“le…. le… pas… kan…..” Yoona mencoba berbicara disela-sela Donghae yang terus menciumnya. Air matanya terus mengalir, tubuhnya pun semakin bergetar dengan hebatnya.

 

 

“tenanglah Yoong… aku akan melakukannya seperti apa yang kau lihat ketika aku sedang bersama Jessica.”

 

 

“Je… Jes… sica….. jadi.., nama.. yeoja itu Jessica.”

 

 

“ya dia Jessica. dia adalah kekasihku sebelum aku menikah dengan mu.” ucap Donghae dengan membelai wajah Yoona yang telah basah dengan air matanya.

 

 

“dan sekarang, kau akan merasakannya Yoong…” Donghae mendorong tubuh mungil Yoona yang sudah tak memiliki tenaga lagi ke atas ranjang. Ia mulai membelai wajah Yoona, dan menciumi seluruh bagian wajahnya. Ia terus melakukannya tanpa menghiraukan Yoona yang terus menangis dan terus-menerus meronta. Ia pun dengan teganya kembali menciumi bibir Yoona bahkan semkain kasar. Ia melumuti bibir bawah Yoona dan juga bibir atasnya tanpa henti.

 

 

“lepaskan… aku mohon lepaskan aku. Donghae-ah… tolong lepaskan aku…” pinta Yoona dengan air mata yang terus megalir dari matanya.

 

 

“wae? bukankah kau menginginkannya?” tanya Donghae dengan posisi tubuhnya yang berada persis di atas tubuh Yoona. Yoona terdiam, ia hanya bisa menjawab pertanyaan Donghae dengan tangisannya yang tiada henti. Jangankan menjawab pertanyaan Donghae, melihat matanya saja Yoona tak mampu. Ia begitu  takut untuk menatap kedua mata Donghae yang terlihat sangat kejam.

 

 

Donghae bangkit dari posisinya. Ia berdiri dan menatap lurus ke arah jendela kamarnya. Yoona dengan sisa-sisa tenaganya pun mencoba bangkit menjauh dari sosok Donghae. Ia berjalan menjauhi ranjangnya, dan berdiri terpaku dengan air mata yang terus mengalir dari matanya.

 

 

“pergilah….” ucap Donghae dingin tanpa memandang Yoona. Seketika Yoona menghentikan tangisnya. Wajahnya berubah, ia benar-benar tak habis pikir dengan sosok Donghae. Namun ia juga tak menyia-nyiakan kesempatan yang akan menyelamatkan hidupnya. Dengan cepat ia meraih kunci yang masih tergantung di pintu, dan mumutar kuncinya. Ia berlari pergi meninggalkan Donghae yang masih berdiri memunggunginya.

 

 

 

 

Yoona terus saja menangis. Sepanjang jalan yang ia lalui, tak henti-hentinya butiran-butiran kristal mengalir dari kedua bola matanya. Kakinya pun melangkah tanpa arah. Bahkan ia tak memperdulikan keadaan dirinya kini yang telah menjadi pusat perhatian banyak orang. Tubuh kurusnya yang sudah mulai melemas, memaksanya untuk berhenti beristirahat. Ia bingung, pikirannya tak menentu. Yang ada dikepalanya kini hanyalah bagaimana kelangsungan hidupnya. Ia tak ingin kembali ke rumahnya. Ia juga tak mungkin pulang ke rumah orang tuanya. Apalagi jika ia harus meminta bantuan Tiffany, entah apa yang akan terjadi nanti jika hal tersebut sampai terjadi. Dan kini hanya satu nama yanng mampu membantunya sekarang. Ya… Yoochun. Park Yoochun. Namja itulah satu-satunya kini harapan Yoona.

 

 

Ia dekatkan ponselnya pada telinganya. Menunggu sosok orang yang ia hubungi menjawab sambungan telephonen nya. Cukup lama ia menunggu, hingga nyaris seorang operator yang menjawab telephonenya. Tapi sepertinya kecepatan sang operator dengan kecepatan Yoochun sangatlah berbeda. Karena Yoochun sanggup menjawab sambungan tersebut sebelum berakhir ditangan sang operator.

 

 

 

“yeoboseyo….”

“o.. opp.. oppa….” ucap Yoona terisak. Bahkan suaranya nyaris tak terdengar oleh Yoochun.

“Yoong… wae? kenapa kau menangis?” suaranya mulai terdengar khawatir. Ia bingung kenapa yeoja yang ia sayangi menghubunginya dengan suara yang terisak.

“o.. opp.. oppa… aku… aku… takut….” ucap Yoona lirih. Ia semakin terisak ketika ingatan akan kejadian yang baru saja terjadi kembali hinggap dengan jelas diingatannya.

“eoddiseo? oppa akan menjemput mu, kau jangan kemana-mana.”

“aku… aku… di  halte… dekat apartment..”

 

 

 

************

 

 

 

Wajahnya terlihat sangat pucat. Tubuhnya pun bergetar seiringan dengan air-air bening yang tiada hentinya mengalir. Yoochun, namja yang membantunya pun merasa bingung. Setiap kali ia bertanya, setiap kali itu pula Yoona tak menjawab pertanyaannya.

 

 

“minumlah..” Yoochun memberikan segelas coklat hangat pada Yoona. Ia menatap yeoja itu dengan tatapan yang penuh tanya. Ia  bingung, apa yang sebenarnya terjadi.

 

 

“apakah namja itu lagi?” tanya Yoochun. Ia tak menyangka pertanyaannya langusng membuat Yoona menghentikan aktivitasnya.

 

 

“kau istirahatlah dulu. aku ingin keluar..”

 

 

“kau mau kemana oppa?” tanya Yoona. Akhirnya ia membuka mulutnya setelah kejadian menangis di pinggir jalan yang ia lakukan.

 

 

“aku ingin mencarikan mu pakaian ganti. tak mungkinkan kau kembali memakai pakaianmu itu atau memakai kemejaku lagi. habiskan coklat panasmu, lalu bersihkanlah tubuhmu. aku akan segera kembali.” Yoochun pergi meninggalkan Yoona yang masih terduduk disofa dengan segelas coklat  panasnya.

 

 

 

“temui aku di basement apartmentmu.”

 

To : Lee Donghae

 

 

 

 

Yoona POV

 

 

Aku segera meraih pakaian yang diberikan Yoochun oppa semalam. Rasanya pagi ini tubuhku terasa sangat berat dari biasanya. Mungkin ini karena semalaman aku terus menangis. Huh…. aku ingin sekali tidak pergi ke boutiqe seperti permintaan Yoochun oppa, tetapi aku harus tetap ke boutique. Ini semua demi kemajuan karirku. Ayo Yoona.. fighting!! Kau tak boleh terpengaruh hanya karena kejadian kemarin. Kau harus buktikan kalau kau yeoja yang tangguh. Fighting.. fighting.. fighting…

 

 

 

“Yoong… ayo makan, sarapan sudah jadi.”

 

 

 

“ye oppa…..”

 

 

 

 

Pagi ini seperti  pagi kemarin, aku kembali merepotkan Yoochun oppa. Walau ku tahu, belakangan ini aku selalu menambahkan bebannya. Huh… tapi mau bagaimana lagi, Yoochun oppa selalu memaksa untuk mengantar ku. Walaupun aku telah menolaknya dengan berbagai alasan, tetapi begitulah Yoochun oppa. Ia tak pernah membiarkan aku melakukan kegiatanku sendiri.

 

 

“oppa….” aku menatap ke arahnya. Ku perhatikan dirinya yang masih disibukan dengan kendali mobil yang sedari tadi ia putar sebagai penentu arah mobil ini.

 

 

“wae?”

 

 

“em… malam itu, kau pergi kemana?”

 

 

“aku? membeli baju yang kau pakai. waeyo?”

 

 

“em… annie. aku hanya merasa tak enak dengan mu. aku selalu merepotkan mu oppa.”

 

 

“aku tak merasa direpotkan oleh mu. jadi kau tak perlu sungkan. arraseo?”

 

 

“ne oppa.. gomawo…”

 

 

 

Kenapa rasanya ada sesuatu yang oppa sembunyikan dari ku. Apakah ini hanya perasaanku, atau memang sudah terjadi sesuatu  yang tak ku ketahui. Tapi apa?

 

 

 

“sudah sampai..”

 

 

“nde? oh sudah sampai… gomawo oppa, kalau begitu aku masuk dulu ya…”

Hendak ku buka pintu mobilnya, namun ku urungkan niatku karena Yoochun oppa yang tiba-tiba menahan tanganku.

 

 

“changkkaman, ada yang ingin oppa katakan pada mu.”

 

 

“apa oppa? kenapa kau begitu serius sekali?”

Aku merasa bingung dengan ekspresi nya. Baru kali ini aku melihat ekspresi  itu berada pada wajah tampannya. Tampan… Yoong, disaat seperti ini kau masih saja memikirkan hal tak penting seperti itu. Huh…. tetapi memang benar, wajahnya sangat tampan. Bahkan lebih tampan dari namja kurang ajar itu. Entah bagaimana bisa harmoni menjodohkan ku dengan namja itu. Huh……

 

 

“em…. aku….. aku akan pergi ke Los Angeles hari ini.”

 

 

Tunggu… apa  yang ia katakan? Los Angeles? Hari ini?

“mwo? oppa akan pergi? lalu bagaimana dengan ku? dan untuk apa oppa kesana?”

 

 

“kau tak perlu khawatir Yoong. oppa kesana karena harus mengurus cabang perusahan oppa, dan kau, kau jangan takut. kau bisa tinggal di apartment oppa.”

 

 

“tapi oppa…”

 

 

“Yoong, dengarkan oppa. kau tidak sendiri, masih ada Tiffany yang berada disisimu. lagi pula oppa tidak akan lama disana.”

 

 

“huuuhhh… baiklah, memangnya berapa lama oppa disana?”

 

 

“enam bulan. tapi kau jangan khawatir, oppa akan sering menghubungi mu, dan oppa akan usahakan untuk kembali kesini untuk bertemu dengan mu.”

 

 

“baiklah kalau itu demi kebaikan mu oppa. aku tak apa…”

Aku pasrah. Aku tak mungkin melarangnya. Ini masalah perusahaanya. Siapa aku melarangnya untuk pergi. Yang penting sekarang, ia telah berjanji untuk sering menghubungi ku. Itu sudah cukup.

 

 

“kalau begitu aku masuk dulu oppa. kau berhati-hatilah. dan jaga kesehatanmu disana. arraseo?”

 

 

“arra nona Im.”

 

 

Nona Im? Hahaha…..baru kali ini aku mendengar ia memanggil  ku seperti itu.

 

 

 

 

Author POV

 

 

Hari terus berlalu. Tak terasa hari yang ditunggu-tunggu oleh seorang Im Yoon Ah pun tiba. Hari yang akan menjadi saksi bisu karirnya. Ia telah bekerja keras untuk menyambut hari itu. Waktu tidurnya pun rela ia gunakan demi menyelesaikan berbagai design yang belum rampung. Namun semuanya terbalaskan karena hari itu telah tiba.

 

 

 

Seluruh pasang mata terus menyaksikan berbagai gaun yang dipertunjukan oleh para model. Tak jarang beberapa tamu rela bangkit dari kursinya demi mengabadikan gaun-gaun cantik yang sedang diperagakan. Sampai pada puncak acara pun tepuk tangan dari penonton terus saja menggema memeriahkan acara tersebut.

 

 

“tak sia-sia kita menghadiri acara ini..”

 

 

“ne hyung. model-modelnya semuanya neomu neomu yeppeo.”

 

 

“ya Hyukkie-ah! kau kesini hanya karena model-model itu?”

 

 

“tentu saja, kalau bukan karena model-model itu aku tak akan mau datang keacara fashion ini. aku kan namja normal.” tutur namja bergusi indah itu tanpa ada raut menyesal karena telah mengatakan hal konyol itu.

 

 

“aish… terserah kau sajalah.”

 

 

“Teukkie hyung, ngomong-ngomong dimana Hae?”

 

 

“mollayo. bukannya tadi ia duduk disebelah mu Shindong-ah?”

 

 

“hyung.., itu dia.” tunjuk namja yang dipanggil Hyukkie tadi pada sosok namja yang mengenakan setelan jas berwarna hitam yang dipadukan dengan dasi berwarna merah yang tengah berjalan ke arah mereka.

 

 

“kau darimana?”

 

 

“aku dari toilet..”

 

 

“Hae-ah, dimana istrimu? aku ingin memberikan selamat padanya..”

 

 

“ne. aku juga”

 

 

“istri?” ia terlihat bingung. Ia tak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh dua orang namja yang ia panggil hyung itu.

 

 

“ye. istrimu. Im Yoon Ah. kau lupa?”

 

 

“ah.. itu…..”

 

 

“dari pada hyung tanya pada ikan bodoh ini lebih baik hyung panggil saja langsung orangnya.” potong Eunhyuk membuat seluruh fokus teralihkan ke arahnya.

 

 

“Yoona-ssi…..”

 

 

 

“annyeonghasaeyo…..” sapanya pada tiga orang namja itu. Ia dan Tiffany sedikit merundukkan badan mereka memberikan salam. Namun ketika matanya berhasil menangkap sosok Donghae yang berdiri tak jauh dari namja bernama Shindong, tangannya menjadi gemetar. Ia sedikit melangkah mundur menyembunyikan sedikit tubuhnya di belakang tubuh sahabatnya, Tiffany.

 

 

“chukhaeyo Yoona-ssi. acaramu berjalan dengan sangat baik, dan gaun-gaun yang kau design juga sangat cantik.”

 

 

“pantas saja acara ini banyak mendapat sorotan dari media. sekali lagi chukhae Yooona-ssi…”

 

 

“ne cheonmaneyo Leeteuk oppa, Shindong oppa… oh iya perkenalkan, ini sahabat sekaligus partnerku, Tiffany. karena dia juga acara ini berjalan dengan baik..”

 

 

“annyeonghasaeyo…..”

 

 

“Yoona-ssi, kau harus sering-sering mengingatkan suamimu mengenai acara-acara yang kau buat. ia saja sampai lupa kalau ini acaramu.” celetuk Eunhyuk yang membuat kecanggungan kembali melanda Yoona.

 

 

“em….”

 

 

 

“Donghae oppa…..” suara yeoja itu membuat seluruh mata langsung beralih ke arahnya. Sosoknya berhasil membuat raut bingung terpampang jelas pada wajah Eunhyuk, Leeteuk, Shindong, dan Tiffany. Yeoja itu sangat menarik perhatiann mereka, karena tiba-tiba saja ia datang dan langsung merangkul lengan Donghae. Namja yang notabene nya merupakan suami dari Yoona.

 

 

 

To Be Continued

 

 

 

 

Yoohhooo.. aku balik lagi dengan membawa part 2-nya. Gimana? Apakah part ini memuaskan? Dan apakah masih ada yang bingung? Semoga semua hal di part 1 yang membuat kalian bingung bisa terjawabkan di part ini ya. oh iya, sebelumnya kembali, aku mau ngucapin makasih buat admin yang sudah bersedia kembali mempostiongkan karyaku ini. semoga adminnya enggak ada yang bosen ya..

 

Dan.. maaf untuk typo-typo yang masih bertebaran seperti daun-daun yang gugur. Walaupun udah mengalami pengeditan beberapa kali, tapi aku yakin pasti masih ada typo. Jadi maaf untuk yang satu itu.. hehe

 

Oke.. kayaknya cukup, part selanjutnya ditunggu aja ya. see you guys ^^

16 thoughts on “[Freelance] Heartless (Chapter 2)

  1. huaaaaaaa hae oppa jahat banget sih T^T
    walau begitu, endingnya harus tetap yoonhae…
    kkk~ maksa nih thor

    next ditunggu🙂
    fighting^^

  2. author,,, annyong. aku reader baru nih yang tersesat dan menemukan harta karun yang sangat berharga ini. luar biasa bagagianya diriku. hahahaha,,,,

  3. author,,, annyong. aku reader baru nih yang tersesat dan menemukan harta karun yang sangat berharga ini. luar biasa bagagianya diriku. hahahaha,,,, aku berharaaaap banget autor bisa post chapter selanjutnya lbh cepat. hehehe o ya kalo author mau dapat respon yang lbh banyak dari yoonhae shipper kirim ajj ke blog SOY (Story Of Yoonhae). aku yakin banget banyak yang suka karna ff ini bener2 DAEBAK!!! hehehe cemungut thor…❤

  4. yak donghae oppa kamu kok jahat banget sama yoona, rasanya ga rela liat yoona disakitin sama donghae tapi ga ada yang cocok sama yoona selain sama donghae termasuk yoochun. aih ditunggu nextmya chingu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s