[Freelance] Chaptered: Aka-Midori (Chapter 6)

akmi

Title : Aka-Midori (Chapter 6)

Author : Upleize

Genre : Romance, Family, Friendship

Length : Chaptered

Ratings : PG

Cast :

Im Yoona

Lee Jonghyun

Jung Yonghwa

Kim Yuna

Other cast :

Lee Boyoung (Jonghyun’s  Mother)

Jung Sohee (Yonghwa’s Mother)

Lee Sangwoo (Jonghyun’s Father)

Desclaimer : Cerita asli hasil khayalan author dan hanya fiksi belaka. Maaf bila ada kesalahan penulisan nama. De el el.. hehe.

Note : Tulisan paragraph  bercetak miring adalah flashback memori!

Aka-Midori

            “Yoboseo?” Boyoung dengan hati-hati menerima telpon itu.

“Annyeonghasseyo Lee Boyoung Sajangnim?”

Annyeonghasseyo.. ye Lee Boyoung Imnida, ada apa sekertaris Jung?”

Tuan Sangwoo masuk rumah sakit Nyonya, beliau menderita kanker perut stadium IV dan meminta Tuan muda untuk kembali ke Jepang”

Begitu mendengar penjelasan tentang keadaan mantan suaminya—Lee Sangwoo, reaksi Boyoung sama seperti Jonghyun. Yoona sendiri ikut panik melihat kedua orang ini langsung terlihat frustasi. Boyoung memeluk Jonghyun sembari terisak hebat. Dia merasa terluka mendengar keadaan Sangwoo saat ini.

“Kita harus ke Jepang hari ini juga”

*

            Di hari yang sama, Jonghyun dan ibunya berangkat dengan penerbangan malam menuju Tokyo, Jepang. Tak banyak yang mereka bicarakan selama perjalanan, keduanya lebih banyak diam antara tidak percaya dan kaget. Jonghyun mengingat terakhir kali dia ke rumah ayahnya 10 bulan beliau masih tampak eksis mengendalikan perusahaan dari yang kecil hingga yang besar dan tampak sangat sehat. Saat itu Jonghyun diminta datang menghadiri pesta ulang tahun ayahnya untuk dikenalkan kepada para tamu dan pers. Walau awalnya menolak, dia akhirnya menuruti permohonan ayahnya. Selebihnya komunikasi mereka sama seperti Jonghyun dan ibunya Boyoung—tidak berjalan dengan baik.

“Dokter Lee Jonghyun!”

“Dokter, bagaimana keadaan ayah saya?” Jonghyun langsung bertanya kepada dokter yang menangani ayahnya.

“Mari kita bicara di ruanganku!”

“Baiklah” Jonghyun melirik Ibunya, “Ibu akan menemui ayahmu!”

Begitu Jonghyun mengikuti dokter, Boyoung langsung menuju ruang rawat Sangwoo. Dia mengetuknya pelan dan kemudian masuk.

Disana hanya ada sekertaris Jung. Saat melihat Boyoung sekertari itu langsung menunduk memberi salam.

Dengan hati-hati Boyoung mendekat dan melihat wajah Sangwoo yang sedang tertidur. Walau kelihatan tenang, sebetulnya Boyoung tahu, Sangwoo saat ini sangat menderita sakit.

“Beliau tidak sadar sejak kemarin” Boyoung mengangguk.

“Kalau begitu saya permisi dulu” Sekertaris Jung membungkuk dan keluar ruangan. Kini tinggallah Boyoung dan Sangwoo yang terlelap.

“Sangwoo-ssi?” Boyoung meraih tangan Sangwoo yang terkulai di samping tubuhnya, menggenggamnya erat.

“Kenapa seperti ini?” Boyoung menangis kemudian. Bahunya bergetar tertunduk, tangan Sangwoo diletakkan di jidatnya sembari terus menggenggamnya.

“Jong….h…hhyu..n” Tiba-tiba Sangwoo bergumam. Boyoung tersentak langsung menegakkan dirinya.

“Sangwoo-ssi? Sangwoo-ssi..”

“Boyoung-ah..” Begitu membuka matanya, Sangwoo langsung bisa mengenali Boyoung, walau mereka sudah bertahun-tahun tidak bertemu.

“Sangwoo-ssi?” Boyoung semakin terisak. Genggamannya makin erat.

“Jong..h..yu..n…”

“Jonghyun? Ah tunggu sebentar, akan aku panggilkan Jonghyun!” Boyoung dengan semangat berlari keluar ruang rawat.

Dari seberang lorong rumah sakit, Jonghyun berjalan dengan tenang, kepala tertunduk lesu.

“Jonghyun!!!”

Omoni?”

ppali! Appa-mu sudah sadar…”

Aboji?” Jonghyun bergegas menuju ruang rawat ayahnya.

*

            “Aboji?”

“Jonghyun-ah…” Jonghyun dan Boyoung duduk mengapit tempat tidur Sangwoo. Rasanya sudah lama sekali ketiga orang ini tidak berkumpul bersama. Moment yang selalu dirindukan Jonghyun, tapi keadaan berbalik sekarang. Ayahnya terkena kanker perut yang berbahaya, harapan hidupnya sangat kecil, pasalnya sudah terjadi penyebaran ke seluruh jaringan tubuh.

Dengan hati-hati mereka membantu Sangwoo untuk duduk. Kini ketiganya berhadapan. Pikiran Jonghyun kemana-mana tidak fokus, dia terlalu frustasi dengan keadaan ayahnya.

“Maafkan aku…”

Aboji?”

“Sangwoo-ssi?”

“Hal yang harus aku lakukan sejak lama adalah, meminta maaf dari kalian. maafkan aku atas keegoisanku selama bertahun-tahun, semua karena aku kita bercerai, semua karena aku, Jonghyun pergi darimu, dan semua karena aku keluarga kita takkan pernah utuh lagi” Sangwoo menangis ketika berucap.

“Sangwoo-ssi? Anieyo… Jeongmal..” Boyoung yang sudah tidak tahan dengan keadaan ini tanpa ragu medekap mantan suaminya dan ikut menangis. Dia pikir, ini bukan salah Sangwoo, mereka sama-sama bersalah untuk sebuah kesalahan selama bertahun-tahun. Jonghyun menitihkan airmatanya melihat kedua orang itu, entah apa yang harus dirasakannya saat ini, bahagia atau sedih.

“Maafkan kami Jonghyun”

*

Beberapa hari kemudian, keadaan duka melanda keluarga Jonghyun, Lee Sangwoo—ayah Jonghyun—dinyatakan meninggal oleh pihak rumah sakit setelah mengalami koma selama 24 jam.  Duka yang mendalam dirasakan Boyoung dan Jonghyun  sebagai keluarga Sangwoo yang tersisa. Pemakaman dihadiri seluruh kolega Sangwoo dari berbagai penjuru dunia.

Boyoung dan Jonghyun tinggal di rumah besar Alm. Lee Sangwoo.

Sajangnim… ini adalah surat wasiat dari Tuan, ini buku catatan harian beliau, dan ini barang-barang peninggalan beliau. seperti permintaan beliau, beliau meminta untuk diserahkan kepada Nyonya” Sekertaris Jang menyerahkan sebuah kotak antik, sebuah buku catatan harian dan seberkas dokumen Sangwoo pada Boyoung. Boyoung terpaku melihat benda-benda tersebut. Dia kembali menitihkan airmata. Ternyata Sangwoo benar-benar tidak memiliki siapapun di sisinya selama ini. Boyoung membuka kotak itu dengan perlahan, memperhatikan isinya

“Ini kan?” Katanya sambil menatap bingung sekertaris Jang. Sekertaris mengengguk, membenarkan. Semua barang yang ada di kotak itu adalah barang-barang milik Boyoung yang masih tersimpan dengan rapi. Ada juga tumpukan amplop berwarna merah jambu.

“Tuan menyimpannya selama ini Nyonya”

Boyoung memejamkan matanya seakan ingin memeras semua airmata untuk segera keluar.

“Surat wasiat dan seluruh dokumennya tolong kau urus saja nanti” Boyoung cepat menguasai dirinya dan menyerahkan dokumen itu kembali pada Sekertaris Jang.

“Baik Nyonya”

“Ah, dimana Jonghyun? Pemakamannya kan sebentar lagi”

“Tuan muda ada di kamarnya, Nyonya…”

“Baiklah kalau begitu..”

“Saya permisi dulu, Nyonya..” Sekertaris Jang membungkuk.

“Sekertaris Jang…”

“Ada apa Nyonya?”

“Terima kasih, karena sudah menjaganya dengan baik selama ini” Boyoung mendekat dan memegang tangan sekertaris Jang. Sangwoo beruntung, punya sekertaris setia seperti Jang Wooyoung ini.

*

Boyoung masuk ke ruang kerja Sangwoo. Seperti Sangwoo yang dikenalnya—senang membaca—disana terjulang tinggi lemari-lemari kaca besar berisi koleksi buku Sangwoo.  Boyoung melangkah perlahan menikmati setiap inci ruangan yang dibuat sedemikian rupa senyaman mungkin. Meja kerjanya tampak rapi, dengan berderet-deret pulpen mahal, mainan-mainan kecil, hiasan bola dunia, dan ada teropong kecil di sudut ruangan. Begitu melihatnya Boyoung tersentak dan berjalan mendekat.

Dia ingat, ini kado pertamanya untuk Sangwoo, saat mereka menjadi sepasang kekasih dulu. Keduanya bertemu sebagai partner bisnis dan saling jatuh cinta. Ternyata pria ini menyimpannya sampai sekarang. Boyoung semakin penasaran, dia meneliti seisi ruangan. Dan dia menemukan sesuatu yang sangat mengiris hatinya, di sebuah tempat di atas meja kecil yang diapit dua buah pot raksasa, ada sebuah foto. Iya, Foto mereka bertiga. Lee Boyoung, Lee Sangwoo, dan anak mereka Lee Jonghyun kecil.

….the happiest ever

            Begitulah tulisan dibalik figura cantik itu. Boyoung membekap mulutnya, punggungnya kembali bergetar hebat.

*

            Setelah mengelilingi ruang kerja, Boyoung duduk di kursi kerja Sangwoo, dia kembali mengingat tujuannya datang kemari—untuk membaca catatan harian dan memeriksa kotak milik Sangwoo.

Di dalam kotak itu berisi puluhan amplop merah muda. Dan satu diantaranya terdapat amplop dengan warna Biru. Merasa yang paling unik, Boyoung membuka amplop itu pertama kali.

Tokyo, 15 December 2012

‘Boyoung-ah…

            Maafkan aku,

            Aku mencintaimu………….’

Seperti itulah, isi surat di amplop biru, Boyoung menangis kencang, tinta di surat biru itu memudar terhapus oleh airmatanya. Inilah alasan Lee Sangwoo tidak pernah melirik wanita manapun di perceraian mereka di usia muda, dan tidak pernah menikah hingga saat ini.

Babo….” Gumam Boyoung di sela-sela tangisannya.

*

Satu hari sebelumnya….

“Ya!” Yonghwa berteriak bukan hanya mengagetkan Yoona tapi juga seisi restoran.

“Ya! Kenapa kau berteriak padaku?” Bentak Yoona marah.

“Kenapa kau melamun? Padahal ada aku disini, melamunkan pria lain?” Yoona melayangkan sendok ke kepala Yonghwa, hingga pria itu meringis kesakitan.

“Ya!”

“Makan saja sendiri, aku mau kembali ke rumah sakit” Yoona langsung berdiri meninggalkan Yonghwa yang bingung. Kenapa dengan gadis itu?

Well, mereka akhirnya dekat kembali seminggu terakhir, Yonghwa membayar kembali semua hubungan mereka yang sempat tidak baik. Sepertinya dia mencoba membuka hatinya.

Yoona berjalan menuju ke rumah sakit yang hanya ada di seberang jalan restoran. Dia memikirkan Jonghyun. Jonghyun baru menelponnya dengan suara parau memberitahu bahwa ayahnya meninggal dunia. Rasanya ingin sekali Yoona menyusul Jonghyun ke Jepang meminjamkan bahunya untuk Jonghyun bersandar.

Yonghwa buru-buru menyusul Yoona setelah membayar makan siang. Bukan rahasia lagi, Jung Yonghwa sudah resmi berpacaran dengan Im Yoona.

“Ya! Im Yoona…”

*

            “Jadi? Ayah Jonghyun meninggal?”

“Iya..”

“Hmm… Aku turut berduka”

“Ehm.. bagaimana kalau kita ke Jepang?”

“Apa maksudmu?”

“Aku ingin menemui Jonghyun, aku cemas dengan keadaannya..” Yonghwa terdiam mendengar pernyataan Im Yoona. Bukan hal yang sulit untuk terbang ke jepang selama sehari atau dua hari. Yang dia khawatirkan adalah dia kembali bertemu dengan Kim Yuna, dan mengundang kembali masalah baru.

“Kalau kau tidak mau, biar aku pergi sendiri”

“Tapi…………..” Yonghwa mencegah Yoona yang hendak pergi. Yoona berbalik.

“Baiklah, besok kita berangkat”

“Malam ini kita berangkat” Tegas Yoona, dia memburu waktu untuk pemakaman ayah Jonghyun besok pagi.

*

            Pemakaman Lee Sangwoo, seperti perkiraan sangat ramai, dunia bisnis sepertinya kehilangan salah satu tokoh yang berperan dalam peningkatan perekonomian dunia. Seluruh kolega  beliau hadir dari seluruh penjuru dunia. Termasuk diantaranya Jung Sohee—Ibu Yonghwa dan Ok Taecyeon.

Dari kerumunan Yonghwa bisa melihat ibunya lengkap dengan pakaian hitam berdiri bersama Hwang Jaebum—kakak iparnya—suami Tiffany— yang ikut hadir. Yonghwa sendiri mendampingi Yoona yang menggandeng lengannya sedari tadi. Sementara Jonghyun diapit oleh Yuna dan Lee Boyoung berjalan ke pemakaman. Matanya yang sembab ditutupi kacamata hitam.

“Yonghwa!” Yonghwa menoleh dan mendapati ibunya dan Jaebum

“Hyung!” Kedua orang itu berpelukan.

“Kenapa kau disini?”

“Ah? Kebetulan yang meninggal ini ayah temanku” Yonghwa memperhatikan ibunya sembari membungkuk.

“Oh, jadi kau teman dokter Lee Jonghyun?”

“Begitulah Hyung, oh ya.. Bagaimana Nuna?”

“Hei apa kau tahu? Kau sebentar lagi akan menjadi paman.. Tiff mengandung sudah 3 bulan!”

“Benarkah? Hyung Chukkaeee!” Ekor mata Yonghwa bisa menangkap sosok Yuna yang berjalan di samping mereka berdiri. Yonghwa tahu, ibunya juga memperhatikan Yuna, walau demikian Yonghwa berpura-pura tidak tahu apa-apa.

Sementara Yoona pergi menemui Jonghyun, sebisa mungkin membiarkan Jonghyun membagi kesedihan dengannya. Dan begitu melihat Yoona, Lee Boyoung sontak memeluknya.

“Gumawo, Yoona-ya.”

“Aku turut berduka atas kepergian Paman …”

“Gumawo…”

“Dimana kau tinggal?” Tanya Boyoung pada Yoona.

“Aku menginap di Hotel Omoni”

“Tinggallah beberapa hari di sini” Yoona memperhatikan Jonghyun yang ada disana, dari tadi mereka bahkan belum bicara.

“Aku bersama seseorang bibi…”

“Kau datang bersama Yonghwa?” Jonghyun bertanya kemudian. Yoona mengangguk.

*

            Jung Sohee berpapasan dengan Kim Yuna, yang mungkin sudah menunggunya. Entah apa yang membuat gadis ini ingin sekali mendekati Ibu Yonghwa ini.

“Jung Sajangnim, aku mohon, aku ingin bicara dengan anda” Kim Yuna membungkuk dalam-dalam.

“Jaebum, kau lebih baik kembali ke hotel lebih dulu, Ibu ada urusan sebentar” Perintah Sohee pada menantunya begitu menyadari kehadiran Kim Yuna.

“Eh? Baiklah ibu” Jaebum membungkuk dan masuk ke dalam mobil. Kini tinggal Yuna dan Sohee sendirian.

Mereka berjalan beberapa lama hingga tiba di suatu taman kecil di. Secara otomatis keduanya duduk.

“Untuk apa kau mengajakku bicara?”

“Aku… ingin mengembalikan ini” Yuna menyerahkan secarik kertas. Kertas itu adalah sebuah cek dengan jumlah nominal yang sangat banyak.

“Apa ini?”

“Aku ingin mengembalikan semua biaya yang telah anda keluarkan untuk pendidikan dan hidupku selama ini”

“Kau pikir, aku akan ingat tentang uang yang sudah aku anggap buang?”

“Aku mohon tolong terima ini” Kim Yuna membungkuk memohon.

“Simpan saja!”

“Tidak Nyonya, anda harus menerimanya, aku sama sekali tidak ingin berhutang kepada anda!”

“Sombong kau! Bagaimana kalau setelah aku menerima uang ini, kau akan mengganggu Yonghwa lagi?”

“Tidak… aku berjanji Nyonya, untuk itu maafkan aku!” Kim Yuna meringkuk berlutut di hadapan Jung Sohee.

“Aku tidak akan menganggu Yonghwa lagi!”

“Pergilah!” Perintah Sohee, dia langsung beranjak hendak pergi. Kim Yuna tidak akan menyerah begitu saja.

“Sebenarnya………….” Katanya menghentikan langkah Sohee.

“Sebenarnya aku ingin tahu, kenapa Nyonya begitu membenciku?” Yuna dengan berani mendekat dan menatap langsung wajah Jung Sohee. Dia bisa melihat ada kasih sayang di wajah ibu separu baya itu, berbeda dengan yang dikenalnya selama ini. Sohee balas menatap Yuna tajam dan berani. Amarahnya berkilat-kilat di sekujur tubuhnya, begitu mendengar pertanyaan Yuna.

PLAK!

Tangan Sohee mendarat di pipi kanan Yuna. Yuna yang kaget langsung mundur selangkah,

“Kau mau tahu? Apa kesalahanmu?” Airmata Sohee tumpah tiba-tiba, Yuna memegang pipinya yang sakit, namun masih tetap penasaran dengan apa yang akan disampaikan Sohee.

“Bagaimana bisa aku membiarkan anakku Yonghwa berhubungan dengan anak pembunuh ayahnya sendiri?”

“Kau pikir, bagaimana susahnya suamiku bertahan dan semua karena ayahmu dia meninggalkanku, semua salah ayahmu. Dia yang telah membunuhnya!” Jung Sohee mencengkram kerah baju Kim Yuna. Yuna pasrah membiarkan tubuhnya terangkat lemah. Tidak mengerti, kaget, dengan apa yang didengarnya barusan.

“Tidak… tidak mungkin, ayahku bukan pembunuh!” Yuna menggeleng

“Kim Jinwoon, dia telah membunuh suamiku!”

*

           

            Jung Yongmin diam-diam sering menangis di dalam kantornya sendirian. Memendam sendiri perasaan takut dan sedih serta rasa malunya. Perusahaannya berada pada posisi yang bisa dibilang gawat menuju kebangkrutan, bagaimana dia harus bertanggung jawab terhadap ribuan karyawannya? Janji untuk memberikan kehidupan yang layak pada keluarga hanya tinggal angan-angan. Beberapa bulan terakhir, Jung Jaeha sering dikejar-kejar orang Bank yang meminta pembayaran hutang yang sudah jatuh tempo. Bagaimana caranya menghadapi semua ini.

            “Yoboseo, Tuan Jung?”

            “Iya, ini aku..”

            “Selamat, anak anda laki-laki”

            Entah apa yang mesti dilakukannya, bahagia atau frustasi. Anaknya lahir, laki-laki pula, ini kabar yang membahagiakan, tapi tentu saja beban kehidupan yang harus ditanggungnya menjadi bertambah. Jung Yongmin tidak tahan lagi menahan semua ini sendirian, setidaknya harus ada tempat berbagi untuk semua ini. Selama ini dia tidak bercerita pada isterinya demi menjaga bayi yang dikandung. Sekarang saatnya, keluarga harus tahu.

            Jung Yongmin memberitahukan kabar keruntuhan perusahaannya ini pada Jung Sohee isterinya. Kabar yang mengejutkan, itu artinya mereka harus pindah ke flat yang lebih kecil, anak sulung mereka harus pindah ke sekolah biasa. Dan lagi kesulitan membeli susu untuk si kecil yang baru lahir.

            Genap setahun sudah Jung Yongmin bertahan dengan kondisi perusahaannya dan tidak membawa perubahan. Akhirnya dia menyerah dan benar-benar jatuh.

            “Gwenchana.. kita akan lewati ini!” Kata-kata sang isteri, serta tawa ceria anak-anaknya, menjadikan Yongmin kuat dan terus semangat mencari kerja dan pengidupan  yang lebih baik.

            Hingga suatu ketika, dengan ceria Jung Yongmin hendak pulang ke rumah. Saat itu dia mendapat uang tambahan lebih dari boss-nya tempat bekerja. Keceriaan itu pudar saat dirinya tertabrak sebuah mobil yang tak lain adalah milik Kim Jinwoon, seorang direktur perusahaan, yang juga merupakan sahabat Jung Yongmin

            Keduanya membangun bersama perusahaan mereka, dan sama-sama sukses. Namun saat Jung Yongmin dalam kesulitan, Kim Jinwoon enggan membantunya dan melupakan persahabatan mereka. Kini dia kembali terlibat dengan penabrakan sahabatnya sendiri Jung Yongmin hingga tewas di tempat.

            Bertahun-tahun Jung Sohee, Isteri Jung Yongmin menuntut keadilan untuk suaminya, namun pengadilan tetap berpihak pada orang-orang yang berkuasa. Kim Jinwoon selalu lolos dari jerat jeruji besi. Tiada jalan lain selain berdoa, Jung Sohee terus berdoa menanti keadilan selama bertahun-tahun. Doa itu mungkin terjawab, Kim Jinwoon meninggal dunia setelah kecelakaan tragis yang dialaminya, tepat disaat yang sama, isterinya juga meninggal paska melahirkan puteri cantik mereka. Kim Yuna.

 

*

            “Sudah cukup yang aku lakukan selama ini, aku lelah. Aku minta kau jangan mengganggu Yonghwa lagi” Jung Sohee beranjak pergi dari sana. Yuna bersimpuh di tanah, tidak percaya dengan apa yang disampaikan ibu Yonghwa. Bagaimana mungkin ayah yang tidak dikenalnya bisa membunuh seseorang? Terlebih lagi ayahnya Yonghwa, pria yang dicintainya.

*

            Yonghwa dan Yoona menginap di hotel yang sama dengan ibu Sohee. Mereka bertemu saat makan malam.

“Omma, perkenalkan in Im Yoona” Yoona membungkuk memberi salam.

“Cantik” Kata Sohee singkat, Yoona langsung melirik Yonghwa yang artinya—Kau lihat?”, Yonghwa tidak bereaksi walau sebetulnya dia ingin sekali tersenyum dengan tingkah Yoona. Sayangnya ini bukan saat yang tepat untuk tertawa.

“Aku, tahu. Dia adik Taecyeon dari Golden. Corp”

“Ah? Iya..” Sudah Yonghwa duga, ibunya sudah mencari tahu tentang Yoona sedetil itu.

“Dimana Taecyeon?”

“Oppa langsung kembali ke Seoul seusai pemakaman tadi”

“Ya… Ok, Taecyeon, aku suka gaya kerja kerasanya” Ucap Jung Sohee enteng. Suasana bersama Ibu Yonghwa terasa sangat awkward bagi Yoona. Berbeda dengan saat berada dengan ibu Jonghyun—Lee Boyoung.

Yonghwa sedang mencari-cari kesempatan untuk bisa berdua saja dengan ibunya, untuk menanyakan hal penting. Dan dia memperoleh hal itu saat Yoona pamit berdiri hendak ke toilet.

“Aku permisi ke toilet sebentar” Dia kemudian beranjak dari sana. Yonghwa mengambil kesempatan ini untuk berbicara pada ibunya.

“Ada yang ingin aku tanyakan Omoni…”

“Ada apa?”

“Apa benar, apa yang kudengar tadi siang? Ayah Yuna yang membunuh Ayah?” begitu mendengar pertanyaan Yonghwa, Sohee langsung tahu, anaknya itu membuntutinya tadi siang. Dia terdiam sesaat. Inilah kenyataan yang ingin selamanya ditutupinya dari Yonghwa.

“Itu benar, sekarang kau tahu kan? Kenapa ibu membencinya? Dia anak dari pembunuh ayahmu!”

“Tapi, bagaimanapun, apa yang dia dapatkan selama ini rasanya tidak adil bu. Kenapa harus dia yang menanggung dosa ayahnya? Terlebih lagi mereka sudah meninggal”

“Ibu Mohon, jangan memulai ini lagi…”

“Aku…”

“Apa kau sama sekali tidak membencinya? Begitu mendengar ini? Apa kau begitu mencintainya? hingga melupakan ayah kandungmu sendiri?”

“Iya, aku masih mencintainya. dan itu akan terjadi sampai kapanpun!” Kata Yonghwa tajam.

PRANG!!!

Yoona menabrak seorang pelayan yang sedang memega senampan penuh gelas kristal. Hingga beberapa diantaranya pecah.

Yonghwa dan ibunya menoleh menyadari kehadiran Yoona yang sedang membungkuk minta maaf. Keduanya saling menatap panik, apa Yoona mendengar apa yang dikatakan Yonghwa barusan?

“Kau tidak apa-apa?” Yonghwa langsung membantu Yoona.

“Ah? Tidak apa-apa…”

*

            “Kim Yuna?” Jonghyun mendapati Yuna duduk sendirian di taman belakang rumah ayahnya—tampak frustasi.

“Jonghyun, kau kesini?” Jonghyun ikut duduk di sampingnya.

“Apa yang kau lakukan disini? Masuklah, udara sangat dingin!” Jonghyun menyematkan selimut yang dibawanya di bahu Yuna.

“Gumawo” Yuna tersenyum tipis. Jonghyun sangat baik padanya selama ini. Entah apa yang terjadi padanya jika tak bersama Jonghyun.

“Kau kenapa? Bisa ceritakan padaku?” Tanya Jonghyun lembut. Dalam hati dia yakin, pasti ada yang tidak beres dengan Yuna.

“Hmmmm” Yuna menarik napas panjang sebelum mulai berbicara.

“Jonghyun-ah… Mianhe” Kata Yuna parau. Ekspresi Jonghyun tidak berubah. Tidak menjawab apapun, dia ingin Yuna melanjutkan kalimatnya. Atau mungkin dia sudah tahu, apa maksud Yuna. Ini kenyataan yang harus diterima, Kim Yuna tidak pernah benar-benar mencintainya. Disatu sisi Jonghyun ingin marah dan menuntut keadilan yang harusnya dia dapatkan setelah dia memberikan seluruh cintanya pada Yuna. Tapi di sisi lain, Jonghyun juga sadar, bahwa yang namanya perasaan tidak mungkin dipaksakan.

Walau demikian, dekapan itu tetap ada—dekapan hangat Lee Jonghyun. Ada bahu kekarnya untuk tetap Kim Yuna bersandar. Semua memang berjalan satu arah, tapi biarlah. Biarkan saja rasa sakit yang terasa juga satu arah. Biar cuma dia yang bertahan, karena dia yakin dia bisa bertahan untuk belajar merelakan.

*

            “Kau melakukannya dengan baik Im Yoona…” Gumam Yoona sendirian, dia mendengar pernyataan Yonghwa dan berhasil menyembunyikan perasaannya. Hal ini sudah diantisipasinya sebelum berkeputusan menerima Yonghwa sebagai kekasih. Walau bertahan sekuat apapun, toh airmatanya akan jatuh juga.

Babo….” Gumamnya lagi sembari menjitak kepalanya sendiri.

Drrrrtttt.. drrrtt… drrrttt..

            “Jonghyun?” Yoona memperhatikan display ponselnya. Jonghyun menelpon.

“Jonghyun?”

“Kau menginap di hotel mana?”

“Aku di Hotel Ritz Carlton selatan. Ada apa?”

“Tunggu disana. Sebentar lagi aku jemput!”

“Eh?” Klik

“Jonghyun? Jonghyun?” dan telponnya putus.

Yoona mengendap-endap keluar kamarnya—takut ketahuan Yonghwa—menuju ke lobby hotel—menanti kedatangan Jonghyun.

Beberapa menit kemudian, Jonghyun muncul dari pintu utama Hotel. Yoona sontak berdiri.

“Ada apa?”

Kkaja!”

            “Tapi, kita mau kemana?” Yoona bingung, Jonghyun menarik tangannya.

“Percaya saja, sama ketua panitia!” Jonghyun menepuk dadanya sembari tersenyum. Yoona mengangguk, tersenyum.

“Ah? Tolong matikan ponselmu seharian ini!”

“Tapi kenapa? Aku belum bilang Yonghwa dan…”

“Jung Yonghwa lagi-lagi dia, aku cemburu padanya. Bilang saja, kau bersamaku!”

“Apa maksudmu?”

“Kirim sms padanya, setelah itu matikan ponselmu dan percaya padaku” Jonghyun mengakhiri kalimatnya dan menekan tombol kunci otomatis mobilnya.

Yoona tertidur pulas setelah memberi kabar pada Yonghwa dan mematikan ponselnya. Walau agak keterlaluan—menurutnya—dia tetap ikut kemana Jonghyun mengajaknya. Ini yang kedua kalinya Yoona merasa kecewa dan patah hati karena Yonghwa. Seakan tahu, keadaan begitu pas saat Jonghyun mengajaknya pergi. Dia tidak peduli bagaimana Yonghwa akan marah padanya nanti.

Jonghyun sepertinya juga merasa muak, ada amarah dalam dadanya yang harus dikontrol. Dengan Im Yoona sebagai temannya—gadis yang akan dengan mudah mengambil perasaan sakitnya—menurut Jonghyun.

*

            “Hei… Ayo bangun, kita sudah sampai!” Yoona menyerngit mendapati silau matahari pagi mengenai wajahnya. Jonghyun sudah dihadapannya tersenyum manis.

“Jonghyun?”

“Bangunlah, lepaskan sepatumu…kita bermain air laut” butuh beberapa saat untuk Yoona sadar dan turun dari mobil.

“Ya! Apa kau gila? Bagaimana bisa kita bermain di pagi yang dingin ini?”

“Hahahaha…Kemarilah, ada yang ingin kutunjukkan padamu!” Jonghyun lebih dulu ke pantai melambai kearah Yoona yang masih bingung. Yoona yang selalu penasaran melepas alas kakinya dan menyusul mendarat di pasir pantai.

“Apa?”

“Ayo kemari!” Jonghyun terus menggoda Yoona, menyembunyikan sesuatu di belakang badannya.

“Ya! Jangan mempermainkanku ya!”

“Kemari… ayo!”

“Apa?”

“Terima ini!” Jonghyun menghantam bahu Yoona dengan gumpalan pasir yang dibentuk menyerupai bola.

“Lee Jonghyuuuunnn!!!” Geram Yoona marah.

“Hahahaha..”

Mereka saling kejar-mengejar dan saling melempar gumpalan pasir sembari tertawa dengan kekonyolan masing-masing.

Saat memperhatikan Yoona yang bermain bersama ombak, Jonghyun jadi sadar, jika saja mereka terus bersama sejak 15 tahun lalu dan jika saja mereka tidak bertemu dengan Kim Yuna dan Jung Yonghwa, mungkin saat ini dirinya hanya mencintai Yoona seorang. Ada sebuah cinta diantara mereka yang takkan pernah dimengerti orang lain. Cinta persahabatan? Tidak. Bukan cinta seperti itu. Cinta itu tanpa sadar tumbuh berhari-hari selama bertahun-tahun. Mungkin cinta mereka lebih besar dan belum ada yang menyadarinya. Jonghyun kemudian kembali memutar otaknya, sejak dulu baik 15 tahun lalu ataupun sekarang, saat bersama Im Yoona, Cuma bahagia yang terasa. Walau saat-saat itu akan hadir di saat duka melanda, namun cukup membuat semua menjadi lebih baik.

Yoona berjalan mendekati Jonghyun, kalau  ditanya pendapatnya, dia akan setuju, jika bersama Jonghyun, yang dirasakannya hanya bahagia—jauh lebih bahagia dibandingkan jika saat bersama dengan Yonghwa. Dia pikir, mereka mungkin sama-sama tulus untuk membahagiakan satu sama lain. Hal yang dimulai sejak dulu, sejak pertemuan mereka 15 tahun yang lalu.

“Aku lapar… bisakah kau traktir aku makan?”

“Kau ingin makan apa?”

“Aku mau makan Ramen saja”

“Baiklah, ayo kita ke tempat ramen enak!”

Jonghyun dan Yoona berjalan menuju restoran ramen yang tak begitu jauh dari tempat mereka bermain.

“Bagaimana kalau pesan satu porsi saja?”

“Eh? Kenapa?” Jonghyun mengerutkan keningnya saat mendengar pernyataan Yoona.

“Aku tidak akan kuat menghabiskan semangkuk ini, lagipula ayo kita makan semangkuk berdua, agar kita saling mengingat hingga kakek-nenek!” Jelas Yoona bersemangat

“Hahaha! Kata siapa itu?”

“Bibi, Ramen satu porsi!”

“Kata orang-orang. Kenapa? Kau tidak percaya?” Jonghyun mengangguk penuh ejekan.

“Baiklah, kita buktikan 30 tahun dari sekarang…”

“Doakan saja dirimu, agar tidak jadi nenek pikun, bisa-bisa kau melupakanku!”

“Enak saja!”

“Eh? Ramennya datang, ayo kita makan!”

“Aku tidak akan melupakanmu sampai kapanpun midori” batin Jonghyun.

*

            Jonghyun dan Yoona melanjutkan perjalanan—kencan—mereka ke sebuah pasar tradisional. Menikmati setiap jajanan, dan menonton pertunjukan boneka yang sangat menarik.

“Hati-hati…” Kata Jonghyun saat menarik tubuh Yoona ketika sebuah kereta hampir menabraknya. Tanpa sengaja rambut Yoona terkibas di depan hidung mancungnya. Otomatis, Jonghyun ikut mencium wangi rambut Yoona—entah kenapa—membuat jantungnya berdegup kencang serta napasnya yang menderu tak beraturan. Tanpa ragu, Jonghyun mengenggam tangan Yoona, sebagai bentuk perlindungannya.

“Aku membelikanmu ini!” Jonghyun memakaikan sebuah syal rajutan tangan berwarna biru, saat mereka di mobil.

“Wah! Jonghyun? Ini bagus sekali! Kapan kau membelinya?”

“Tadi saat di pasar”

“Tadi? Kenapa aku tidak tahu?”

“Wah! Bagus sekali. Pas untukmu…”

“Gumawo…” Gumam Yoona. Jonghyun menyalakan mesin mobilnya, Yoona menyentuh tangan Jonghyun saat dia hendak memasukkan porsnelen.

“Gumawo Jonghyun-ah!” Air mata Yoona tiba-tiba menetes. Membuat Jonghyun panik dan mematikan kembali mesin mobilnya.

“Kau kenapa?” Yoona kemudian menceritakan segala hal yang membenam di pikirannya yang mengganggunya hari ini dan meminta terima kasih pada Jonghyun yang sudah menghiburnya.

“Ayo kita turun lagi, ada hal yang belum kau lakukan!”

“Apa?”

“Ayo turun!” Yoona akhirnya ikut turun dari mobil.

“Ayo berteriak sekencang kencangnya, lepaskan semua yang ada di dadamu!”

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAHHHHHH”

“JUNG YONGHWA NAPPEUN NAMJAAAAAAAA”

“AKU BENCI PADAMU!!!!”

“AAAAAAAAHHHHHH” Airmata Yoona ikut keluar bersama suaranya. Dia menghadap Jonghyun yang sedang melipat tangan di dada.

“Sudah lega?” Yoona mengangguk, rambutnya tertiup angin yang kencang, wangi rambutnya kembali tercium oleh Jonghyun. Tanpa ragu Jonghyun mengusap airmata Yoona dengan kedua jempolnya.

“Jangan menangis” Yoona mengangguk menyetujui pernyataan Jonghyun. Jonghyun kemudian mendekapnya hangat. Mengambil seluruh kesedihan dan patah hati Yoona. Jonghyun melepaskan dekapannya, selama beberapa saat dia menjadi yakin akan satu hal yang sangat susah diyakininya selama ini. Dia telah mengambil keputusan besar itu, sungguh bukan  hal yang menyenangkan melihat Yoona menangis terus-terusan karena seorang Jung Yonghwa. Jonghyun bahkan merasa sangat mampu untuk membahagiakan Im Yoona lebih dari siapapun. Yoona-pun akan mengakui hal yang sama.

Diperhatikan wajah Yoona lekat-lekat, tidak ada yang berubah sejak kecil. Im Yoona memang benar-benar terlahir cantik. Matanya indah, garis wajahnya yang lembut, serta bibirnya yang merah membuat Jonghyun ingin mengecupnya penuh kasih sayang.

Dan Jonghyun mendaratkan bibirnya di bibir Yoona. Meninggalkan keterkejutan luar biasa pada diri Yoona sendiri. Entah kenapa keadaan berubah menjadi dia menyukai hal ini. Matanya kemudian terpejam, mengikuti aturan Jonghyun, menikmati ciuman pemberian Jonghyun. Apapun itu, semoga cinta sejati itu bisa terungkap. Dimana posisi jelasnya.

To be continued.

 

Annyeonghasseyo reader…

Thanks for wait, read, and leave comment in this series..

 

21 thoughts on “[Freelance] Chaptered: Aka-Midori (Chapter 6)

  1. Suka banget ceritanya thor..yoona biar sm jonghyun saja…sahabatmu bukan bayanganmu, dia akan selalu ada saat kau sedih atau senang..sangat menyenangkan bila cinta sejatimu adalah sahabatmu sendiri kna sudah tau baik buruknya dirimu hehehe

  2. wow…Jonghyun..Yoona…apa yang kalian lakukan.,kenapa bikin iri saya..,hahahaha*plak.
    Wah Chingu.,manis bnget sih setiap moment mereka.,di saat pasangan mereka yg lain membuat mereka sakit hati..persahabatan mereka,cinta ny mereka cukup mampu menyembuh kan luka hati di kedua ny..,JongYoon,,sungguh kalian membuat ku iri.. >,<'..dan buat Yonghwa! Huh..bener2 ni bocah..kerjaan ny nyakitin Yoona doang..cubit nih..'eh,
    Di tunggu part 7 ny Chingu…^^..Keep Writing and Fighting..!!

  3. deerburning jjang!!!
    dah tinggalin aza yonghwa sama yuna klo cuma rasa sakit yg terasa…mending jadian aza yoona sama jonghyun..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s