[Freelance] Chaptered : Heartless (Chapter 1)

cats 33

Title : Heartless chapter 1

 Author : Kim Dhira (@farahwijaya)

 Cast : Im Yoon Ah, Lee Donghae, Park Yoochun (and other, you can find when you read this fic)

Genre : romance, married life

 Ratting : PG-16

Length : chapter

Disclaimer : FF ini adalah murni hasil kerja kerasku. Semua yang tercantum disini kecuali cats(es) adalah hasil pemikiranku, jadi dimohon kerja samanya ya.. dan ff ini juga sudah pernah dipublish di GIGSent Fanfiction : http://gigsent.blogspot.com/2012/08/heartless-chapter-1.html. Dan tentunya  ff ini juga sudah mengalami perbaikan sebelumnya..

 

Oke.. enggak akan berlama-lama jadi Happy Reading J

Aku melangkah memasuki sebuah pekarangan bangunan yang sejak dulu kuhuni. Bangunan yang walaupun sudah mengalami sedikit perubahan, tetapi suasana dan penataannya masih tetap sama seperti dulu. Halaman rumah ini dipenuhi dengan berbagai bunga yang tumbuh dan bermekaran, menambah keindahan rumah ini. Namun, keindahan yang ditunjukan bunga-bunga itu tak mampu mengembalikan kesenangan yang kurasakan selama ini. Kesenangan yang hilang setelah eomma memberitahukan sesuatu hal kepadaku. Dan hal itu akan bermula pada hari ini. Hari yang enggan aku lalui sejak eomma memberitahuku.

Aku melangkah malas memasuki rumah ini. Rasanya hawa-hawa buruk sudah menyergapku ketika aku baru saja membuka pintu. Namun apa daya, aku sudah berada disini dan aku pun sudah janji pada eomma. Dengan berat, kulangkahkan kakiku dengan sesekali menghembuskan nafas panjang. Aku mulai mendengar suara-suara ribut yang sepertinya berasal dari ruang keluarga di lantai dua. Suara-suara itu semakin membuatku merasakan sakit yang tak dapat aku ungkapkan. Semua ini….. semua ini benar-benar menyiksaku. Menyiksa pikiran, raga, serta perasaanku. Aku tak mau melakukannya…. Tuhan, tolong bangunkan aku segera. Aku tak mau terus terjebak dalam mimpi yang teramat buruk ini.

“kau sudah sampai? kalau begitu lekaslah keatas..” ucap seseorang yang sangat kukenali suaranya. Ya… dia adalah eommaku. Seorang wanita yang telah melahirkan dan membesarkanku dengan penuh kasih sayangnya. Seorang wanita yang  dengan suka rela menyerahkan nyawanya hanya untuk melahirkanku ke bumi ini.

“ne eomma..” balasku dengan sebuah lengkungan kecil di bibirku. Lengkungan yang biasa disebut senyuman.

“eomma….”

“kau pasti menyukainya. eomma yakin itu..” potong eomma cepat tanpa membiarkanku menyelesaikan apa yang ingin aku ungkapkan.

“nde? ne eomma..”

Aku melangkahkan kakiku menaiki anak tangga. Rasanya sangat lelah. Ragaku seperti tak mampu melakukan aktivitas ini. Aktivitas yang nyatanya sejak aku bisa berjalan, aku telah melakukannya. Aku berjalan mengikuti eomma yang berjalan lebih dulu di depanku. Semakin mendekatinya, rasanya kakiku sudah tak mampu menopang tubuhku. Ingin sekali aku menghentikan langkah ini, dan mengatakan pada eomma bahwa aku menolaknya. Menolak semua yang telah direncanakan sebelum aku dilahirkan.

Detak jantungku kembali berpacu, bahkan semakin dekat semakin kurasakan betapa kencangnya ini. Aku tak dapat mengontrol tubuhku. Semua bagian tubuhku terasa bergetar. Tanganku mulai mendingin. Dan aku mulai memburu nafas. Tuhan…. apa ini? Kenapa hal ini menimpaku? Aku tak mau.

“ayo duduk..” ujar eomma yang kembali menyadarkanku akan kondisi yang sebenarnya. Aku… aku telah berdiri tepat dihadapan mereka. Apakah ini mimpi? Tolong.. siapa pun yang melihatku, lekas bangunkan aku. Aku tak mau berlama-lama dalam mimpi yang teramat buruk ini.

“nde? ne..” balasku yang langsung mengambil posisi duduk tepat di samping eomma.

“neomu yeppeo.. tak salah memang kita melaksanakan semua ini.” ujar seorang wanita yang duduk berdampingan dengan seorang laki-laki muda dan juga laki-laki yang sepertinya merupakan suaminya.

“ne. akhirnya kita dapat menjadi satu keluarga besar.”

Ya Tuhan…. apa ini? Satu keluarga? Shirreo. Kenapa hal ini menimpaku. Terlebih, aku tidak mengenal orang itu. Aku tak dapat menebak yang mana namja yang dimaksud eomma. Kenapa banyak sekali namja disini? Apakah namja itu memiliki banyak saudara? Persetan dengan itu semua. Aku tak mau tahu dan tak mau mengetahuinya. Yang aku inginkan sekarang adalah aku ingin mengakhiri semua ini.

“bagaimana kalau kita langusung membahas inti pembicaraan kita saja.”

Mwo? Inti pembicaraan? Inti pembicaraan apa appa? Apakah kalian semua ingin menyiksaku? Sudahlah, akhiri saja semua ini. Aku tak mau.

“ne. kalau begitu kita langsung tentukan saja, kapan tanggal dan hari yang baik sebagai hari pertunangan dan penikahannya.”

“lusa…” celetuk seorang namja yang aku sendiri tak tahu siapa namja itu. Apakah ia adalah namja yang dimaksud eomma. Atau dia namja lain. Arghh… siapa pun dia, bisakah dia tutup mulut.

“lusa?”

“ne. pernikahan akan dilaksanakan lusa.”

“MWOYA? LUSA?” pekikku yang terkejut mendengar ucapan namja yang tak kuketahui identitasnya. Semudah itukah ia mengatakan hal yang sesensitif ini?

“wae? apakah kau ingin pernikahan kita dilaksanakan malam ini juga?” tanya nya dengan wajah  yang tak sedikit pun merasa bersalah. Ia benar-benar membuatku ingin meledak. Dan.. kita? Jadi, dia namja yang eomma maksud. Sungguh, sebenarnya apa yang ada dipikiran harmoni hingga menumbalkanku padanya.

“ya! pikirkanlah lagi. pernikahan bukanlah sebuah permainan. kau harus memikirkannya dengan matang, jangan gegabah seperti ini.” celetuk namja bertubuh tambun yang duduk tak berjauhan dengan namja aneh itu.

“annie hyung. tak ada yang perlu kupikirkan lagi. pernikahanku akan dilaksanakan lusa.”

“baiklah kalau itu keputusannya, kami setuju.”

“APPA!?” pekikku  yang tak terima dengan perkataan appa, yang dengan mudahnya menyetujui permintaan orang aneh ini. Apakah appa tak memikirkanku. Aku anaknya. Kenapa ia tak menanyakannya terlebih dahulu padaku.

************

Naesarang ije-neun annyeong you’re the only one (you’re the only one)

      Ibyeorhaneun isunkanedo you’re the only one

      Apeu-go apeujiman pabo katjiman go-od bye

      Tashi neol mot bonda haedo you’re the only one

      Only one

“……….”

“eoddiseo oppa?”

“……….”

“ah.. arra.”

“……….”

“ye sampai bertemu oppa.”

Huh…. oppa beogoshippeoyo.

:’)  Seoul Park  (‘:

Aku mulai berlari ketika kakiku baru saja menginjak tempat ini. Kini yang ada dipikiranku hanyalah, apakah ia masih menungguku?

“haish… Yoona.. kenapa kau selelet ini…” gerutuku yang masih terus berlari mengelilingi tempat ini.

Nafasku semakin lama semakin terasa sesak. Rasanya aku sudah mengitari seluruh tempat ini, tetapi kenapa aku belum menemukannya. Ah… oppa… apakah oppa sudah pulang?

Aku mulai merasa frustasi, aku sudah meamstikan bahwa aku benar-benar telah mengelilingi tempat ini. Tapi sampai sekarang aku belum juga menemukannya. Huh… pasti dia telah pulang. Mana ada sih orang yang mau menunggu selama ini. Aish… Yoona pabo.

“Yoong….”

Mwo? Itu kan suara….. aish.. annie.. annie. Itu pasti hanya khayalanku, karena aku sedang lelah. Sudah Yoona.. sudah, mungkin memang ini akhirnya.

“Yoong….”

Argghhh… kenapa aku masih terbayang-bayang oleh suaranya. Ayolah Im Yoon Ah. Kau harus bangun. Semua ini terjadi juga karena kecerobohanmu. Kau janji bertemu tepat pukul tujuh, tetapi nyatanya, lebih dari tiga puluh menit kau baru sampai.

Deg… siapa ini? Siapa yang menyentuh pundakku? Apakah dia orang jahat yang ingin merampas tasku? Huh… tentu saja dia orang jahat. Tsk.. apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku memukulnya? Ya.. sepertinya hanya cara itu yang dapat kulakukan. Terlebih aku tak membawa senjata apa pun. Huh… baiklah….

Hana…

Dul…

Set…

“YYYYAAAAAAAAA!!!!!!!” teriakku dengan tangan yang kuayunkan kearah orang itu. Walau aku tak tahu persis dimana letak orang itu berdiri.

“Yoong… Yoong… ttuk. Ini aku…”

Buru-buru ku buka mata ku, saat sosok orang yang baru saja kupukuli itu meronta memanggil nama ku.

“nde? MWOYA? OPPA??”

“ya. kenapa kau memukulku? apakah kau tidak tahu bagaimana rasanya dipukul dengan tasmu itu?” pekiknya dengan tangan yang tetap mengelus-elus lengan kanannya.

“mi… mian.. hae.. oppa. aku tak sengaja. kukira tadi….”

“aish…. bercanda.. ㅋㅋㅋㅋ”

“bo? oppa…..” rajukku, dan kembali memukul lengannya.

“mianhae, oppa hanya bercanda.”

************

“oppa……” panggilku setelah beberapa saat kami hanya terdiam. Terdiam karena pengakuanku tentang perjodohan bodoh yang direncanakan harmoni untukku.

“arra Yoong. oppa tahu ini semua bukanlah keinginanmu. oppa juga dapat mengertinya. kau jangan merasa tak enak pada oppa, oppa baik-baik saja. toh, yang terpenting adalah oppa mencintaimu dan kau hanya mencintai oppa.” tuturnya membuat genangan air bening kembali membasahi pipiku.

“waeyo? kenapa kau kembali menangis?” tanya nya. Tanya seorang namja yang telah mengisi hari-hariku selama empat tahun belakangan ini. Namja yang selalu membuatku tersenyum dan tak pernah membiarkan setitik air pun mengalir dari kedua mataku.

Ia menarik tubuhku ke dalam dekapannya. Dan hal ini membuatku tak dapat menahan butiran-butiran kristal ini untuk tidak keluar dari mataku. Aku semakin terisak. Dadaku pun semakin terasa sesak. Tak terbayang olehku bahwa hubungan kami akan berakhir karena harmoni.

BBUUKKK…..

Terdengar suara hantaman yang sangat keras, bersamaan dengan aku yang tiba-tiba saja terlepas dari pelukannya. Segera aku sekah air mataku, dan langsung melihat apa yang sebenarnya tejadi. Dan betapa terkejutnya aku, ketika mendapati namja itu tengah berada disini. Namja yang membuat cerita menyedihkan dihidupku.

“YA! HENTIKAN!!!” pekikku saat namja itu tiada hentinya menggerakan tangannya, memukuli setiap bagian tubuh seseorang yang sangat kucintai.

Aku segera berlari menghampirinya. Ia benar-benar tak berdaya. Darah mulai mengalir dari bibirnya. Argghhhh… apa yang ia lakukan?

“Yoochun oppa, gwaenchanayo?” tanyaku panik saat melihatnya. Aku membantunya berdiri. Dapat kurasakan, air bening yang tadi sempat berhenti mengalir pun kini kembali mengalir membasahi kedua pipiku.

“Im Yoon Ah! kemari kau!” ujar namja itu yang terdengar seperti memerintahiku. Ia menarik tangan kiriku, hingga membuat aku berpindah ke dalam dekapannya.

“ya! leapskan aku! Yoochun oppa….” tangisku. Sungguh aku tak dapat mengontrol emosiku, rasanya aku ingin berhenti mengalirkan air bening ini, tapi aku tak sanggup. Air bening ini terus mengalir dari mataku.

“ya! lepaskan dia!”

“apa hakmu memerintahku?!”

“dia kekasihku. kau tak pantas memperlakukannya seperti itu! cepat leapskan dia!”

“hah? kekasihmu? kau tak pantas menyebutnya sebagai kekasihmu lagi, karena besok ia akan menjadi istriku. sebaiknya kau pergi  dan jangan mengganggunya lagi!”

“ciihhh… mengganggunya? aku? NEO!!!”

BBUUKKK…..

“hentikan! aku mohon hentikan semua ini!” pekikku. Tubuhku mulai melemah. Kakiku sudah tak mampu menopang tubuhku. Aku terjatuh dengan tangis yang semakin menjadi-jadi.

“Yoong…..”

BBUUKKK…..

Sebuah pukulan keras kembali mendarat dengan sempurna diwajah Yoochun oppa. Dan itu semakin membuatku lemas tak berdaya. Aku Im Yoon Ah. Aku adalah kekasihnya, tetapi apa? Aku tak dapat berbuat apa-apa. Aku hanya dapat menangis dan menangis. Tuhan…. beri aku kekuatan. Aku tak mau Yoochun oppa semakin terluka.

Aku mencoba untuk bangkit. Rasanya seluruh tubuhku mulai bergetar hebat. Aku mulai melangkahkan kakiku menghampiri mereka. Dengan sekuat tenaga, aku mencoba melerai perkelahian ini.

“hentikan! kumohon akhiri semua ini!!” pekikku terisak. Aku tak tahu apakah teriakanku kali ini mereka dengar. Yang pasti aku tak lagi mendengar suara-suara hantaman.

“Yoong..” ucap Yoochun oppa yang langsung membuat tubuhku terasa begitu hangat. Ia menarik tubuhku ke dalam dekapannya. Membiarkanku membasahi kemejanya dengan air mataku.

“mianhae… jeongmal mianhae. oppa tak bermaksud membuatmu menangis. mianhae Yoong.”

“ya! hentikan drama kalian ini!” ucap namja itu sembari melepaskanku dari pelukan Yoochun oppa.

“lepaskan! aku tak mau denganmu!”

“lepaskan Yoona!”

“wae? apakah pukulanku masih kurang? HA?”

“ya! aku bilang lepaskan aku! biarkan aku bersama Yoochun oppa untuk malam ini. jaebbal.” pintaku denga tangisan yang kembali meledak.

“baiklah. aku akan membiarkanmu dengan namja itu untuk malam ini. tapi ingat, besok kau sudah menjadi istriku, jangan harap kau dapat melakukan hal ini lagi..” ucapnya dan melepaskan genggaman tangannya. Ia pergi begitu saja. Aku yang menyadari kepergiannya, langsung berjalan menghampiri Yoochun oppa.

“oppa… gwaenchana?”

“ye. tapi kenapa kau lakukan itu? kau sama saja mengorbankan dirimu Yoong.”

“annie oppa. aku tak mau melihatmu dipukul lagi olehnya. oppa, ayo biar kuobati dulu lukamu.” ucapku sembari memapahnya menuju mobilnya.

Author POV

Hari itu pun tiba. Sebuah hari yang tak mau dilalui oleh Yoona. Hari dimana ia akan melangsungkan sebuah pernikahan dengan seorang namja yang sama sekali tak ia cintai, bahkan ia juga tak mengenal sosok namja yang dalam hitungan menit lagi akan menjadi suaminya.

Yoona masih terduduk manis dengan gaun putih panjang yang membalut tubuhnya. Pandangannya mengarah lurus kedepan, memperhatikan dirinya yang terpantul dari cermin. Wajahnya yang cantik semakin terlihat cantik dengan make up yang ia pakai. Tatapannya menatap lurus ke depan, memandangi dirinya sendiri dengan tatapan kasihan.

“hah… aku perihatin denganmu. sebentar lagi kehidupanmu akan menghilang. menghilang selamanya, dan tak akan pernah kembali…” ucapnya dengan sinis. Ketika mengatakan itu pun matanya juga ikut menyipit menyiratkan kemarahan yang terpendam.

   Tok… tok… tok….

Suara ketukan pintu membuat Yoona berhenti berbicara dengan pantulan dirinya dicermin. Ia memalingkan pandangannya kearah pintu, menunggu seseorang yang mengetuk pintu itu membuka pintunya.

“Yoong….” panggil seorang wanita yang muncul dari balik pintu. Wanita itu berjalan menghampiri Yoona dengan senyuman yang terus merekah dari bibirnya. Ia meraih pundak Yoona dan menyejajarkan tubuhnya dengan Yoona.

“eomma…..”

“kau akan bahagia Yoong, percayalah. kebahagian tak akan pernah pergi meninggalkan manusia.” ucap wanita yang merupakan nyonya Im, eomma Yoona.

************

Tangannya mendingin. Detak jantungnya semakin berdetak tak karuan. Kini ia tengah berdiri diatas altar, berhadapan dengan seorang pendeta dan disaksikan oleh para tamu dan juga Tuhan.

“baik, kita akan mulai sekarang.” ucap sang pendeta sembari menatap kedua mempelai bergantian.

“Lee Donghae. apakah kau bersedia menjadi suami dari Im Yoon Ah, dalam suka maupun duka. dalam keadaan miskin ataupun kaya. berbagi kesulitan serta kesenangan bersama. selalu menjaganya. dan memperlakukannya dengan baik?”  tanya sang pendeta dengan tegas.

“ne. saya bersedia menjadi suami dari Im Yoon Ah. dan mematuhi serta menjalankan tugas saya sebagai kepala keluarga.” jawab namja bernama Lee Donghae itu tanpa ada keraguan.

Dan kini giliran Yoona. Sang pendeta telah berbalik menatapnya. Membuat Yoona hanya dapat menghembuskan nafasnya panjang.

“dan Im Yoon Ah. apakah kau bersedia menjadi istri dari Lee Donghae, dalam suka maupun duka. dalam keadaan miskin ataupun kaya. berbagi kesulitan serta kesenangan bersama. dan selalu mematuhi perintah Lee Donghae sebagai suamimu?”

Yoona terdiam. Untuk beberapa saat ia memejamkan kedua matanya. Menarik nafasnya dalam-dalam, dan kembali menghembuskan nafasnya perlahan. Ia kembali memfokuskan dirinya pada sang pendeta, dan juga pertanyaan yang diajukan untuknya.

“huh…..” ia menghembuskan nafasnya pelan, bahkan sangat pelan.

“ne, saya Im Yoon Ah bersedia menerima Lee Donghae sebagai suami saya.” ucap Yoona pelan dan lemah, namun ucapannya  masih dapat terdengar jelas oleh sang pendeta dan juga Donghae.

“baik.. dan atas nama Tuhan, aku mensahkan kalian sebagai sepasang suami istri. semoga kalian hidup berbahagia, dan selalu diberkati oleh berkat Tuhan.” ujar sang pendeta mengakhiri acara sakral dalam sebuah pernikahan.

************

Mentari telah berganti menjadi rembulan. Kemeriahan pesta pernikahan Yoona pun masih saja terasa hingga nyaris tengah malam.

Yoona terus saja menyambut para tamu yang hadir dengan senyumnya. Tak terlihat sedikit pun raut kesedihan pada wajahnya. Namun di balik semua itu, sebuah luka yanng teramat dalam masih terus ia rasakan.

“chukhae Hae-ah…”

“nde? kalian datang?”

“tentu saja kami datang. hari ini kan perayaan pernikahanmu.” tutur namja yang memiliki tubuh yang tambun.

“Yoona-ssi, chukhaeyo. semoga kau bahagia menikah dengan fishy jelek ini.”

“MWOYA? jelek? ya Lee Hyuk Jae! dasar kau monyet mesum!!” pekik Donghae yang tak terima dengan kata-kata Lee Hyuk Jae, temannya.

“ye gamsahamnida..” balas Yoona sembari merundukan badannya.

“oh iya, nan Shin Dong Hee. panggil saja aku Shindong oppa.”

“Leeteuk imnida..”

“Lee..teuk..? apakah itu namamu oppa?” tanya Yoona sedikit merasa bingung.

“annie Yoona-ssi. nama aslinya adalah Park Jung Soo, Leeteuk hanya julukannya. oh iya, nan Lee Hyuk Jae imnida. kau bisa memanggilku Eunhyuk oppa.”

“oh ne.. gamsahamnida Shindong oppa, Leeteuk oppa, Eunhyuk oppa. kalian sudah menyempatkan diri untuk menghadiri perayaan ini.” ujar Yoona dengan senyumnya yang mampu membuat siapa pun yang melihatnya merasakan kebahagiaan.

************

“kalian jagalah diri kalian dengan baik. walaupun pernikahan kalian tidak dilandasi dengan sebuah cinta, tetapi tetaplah mencoba untuk saling mencinntai. arraseo?” tutur seorang wanita paruh baya yang berdiri disamping Yoona.

“Hae-ah, kau harus menjaga keluargamu. kini kau telah mejadi seorang kepala keluarga, jadi kau harus merubah sifat burukmu itu.”

“ne appa eomma..” jawab Donghae yang berdiri tak jauh dari Yoona.

“Yoong, kau harus jaga dirimu baik-baik ya. eomma akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu.”

“eomma…..” rajuk Yoona ke dalam pelukan wanita yang merupakan eomma nya. Ia menangis. Ia tak dapat lagi membendung tangisannya. Sebuah tangisan kesedihan. Kesedihan akan kehidupannya yang sudah berakhir, dan ditambah lagi dengan fakta bahwa ia akan tinggal berjauhan dengan orang tuanya.

“Donghae-ah, abeoji minta, kau jaga Yoona dengan baik. jangan buatnya menangis. arra?”

“ne. arra abeoji..”

“karena sudah malam, lebih baik kalian beristirahatlah. kami pun juga harus pulang. dan semoga kalian menyukai apartment ini.”

“ne eommonim. gamsahamnida..” jawab Yoona berterima kasih kepada ibu mertuanya itu.

“kalau begitu kami pamit dulu. kalian cepatlah masuk.” perintah nyonya Im kepada Yoona dan Donghae.

“ne kalau begitu kami masuk dulu. hati-hati dijalan…” ujar Donghae sembari mengajak Yoona masuk.

Yoona POV

Aku merasa lebih segar. Setelah satu hari berkutat dengan semua aktivitas yang menyiksa perasaanku, kini rasanya semua sedikit terbalaskan ketika aku bertemu dengan air. Yah… walaupun tak kupungkiri bahwa rasa sakit yang kurasakan, tak bisa hilang hanya karena sekedar air.

Aku berjalan keluar dari kamar mandi. Kuperhatikan ruangan yang sekarang menjadi kamarku ini. Tunggu.. sepertinya ini bukan hanya kamarku, pasti kamar ini adalah kamarku dan namja itu. Argh… Tuhan apa lagi yang akan terjadi. Tak bisakah kau berhenti menyiksaku? Aku benar-benar sangat lelah. Rasanya aku ingin pergi jauh meninggalkan semua ini.

   Ceklek….

Aku memandangi pintu kamar yang baru saja terbuka. Aku mendapati sosok namja itulah yang membuka pintu kamar ini. Dan tentu saja pasti dia yang membukanya, karena di apartment ini hanya ada aku dan dia, tidak ada lagi.

Tunggu… apa yang ia lakukan? Kenapa ia berjalan mendekat. Aish… dan kenapa sekarang tubuhku tak dapat kugerakan? Apa yang harus kulakukan? Aaa…. andwae… andwae…..

“kau kenapa? kau tidak tidur?”

Mwo? Namja ini… dia…… huuuuhhhh… syukurlah, ternyata engkau masih melindungi hambamu ini.

“nde? tidur? disini?”

“ye. dimana lagi? lagi pula kita telah resmi menjadi sepasang suami istri.”

MWOYA? Apa yang baru saja ia katakan? Resmi? Ini semua terjadi juga karena kau. Andai saja kau tak menyetujuinya, mungkin kini yang tidur bersamaku adalah Yoochun oppa.

“tapi…..”

“kalau kau tak mau, kau bisa tidur di kamar sebelah. aku lelah aku ingin tidur.”

YA!! BO? Tidur di kamar lain? Berarti secara tak langsung dia mengusirku. Aish… mana ada seorang suami yang dengan mudahnya mengusir istrinya. Ya!! Dasar kau namja berhati dingin!!!

“baiklah….” jawabku dan langsung bangkit meninggalkannya.

Author POV

Yoona menutup pintu kamarnya dengan sedikit membantingnya. Berjalan dengan kesalnya menghampiri ranjang yang malam ini akan ia tempati.

“aisshhhh…. Yoona pabo! kenapa kau menyetujui sarannya semudah itu? pabo pabo pabo!!!!!” gerutu Yoona sembari memukul pelan kepalanya.

************

Sinar teriknya kembali menyinari seisi permukaan bumi. Langit biru juga ikut serta menemani kemana pun sang surya menyinarkan sinarnya. Seorang yeoja masih dengan nyaman tertidur di atas ranjangnya, hingga sebuah berkas sinar datang dari antara jendela yang tak tertutup tirai. Perlahan, sang yeoja mulai menunjukan tanda-tanda akan kesadarannya. Ia mulai menggeliatkan tubuhnya layaknya seorang bayi. Yeoja itu mulai membuka kedua matanya. Lambat laun kesadarannya mulai penuh. Ia mulai mengubah posisinya menjadi duduk. Ia pun mengusap kedua matanya, dan sedikit membuka mulutnya.

“apakah sudah pagi? kenapa pagi ini datang begitu cepat?”

Dengan rasa enggannya yang besar, wanita itu memaksakan dirinya untuk bangkit dan bersiap untuk bekerja. Dan sepertinya ia belum benar-benar tersadar dari tidurnya. Ia belum menyadari bahwa kini kehidupannya telah berubah.

“kemana kamar mandi di kamarku? kenapa bisa ada di kamar yang ini? apakah kamar mandi bisa berjalana sendiri?”

Yoona POV

Rasanya kamar mandi ini begitu aneh untukku. Seluruh peralatan yang ada disini sangat berbeda dari biasanya. Apakah eomma yang mengubahnya? Aish… pasti eomma. Hah… eomma, kenapa  ia selalu melakukan apa pun yang ia mau.

Naesarang ije-neun annyeong you’re the only one (you’re the only one)

      Ibyeorhaneun isunkanedo you’re the only one

      Apeu-go apeujiman pabo katjiman go-od bye

      Tashi neol mot bonda haedo you’re the only one

      Only one

Aish… siapa coba yang menghubungiku sepagi ini? Mengganggu saja. Apakah ia tidak tahu kalau aku sedang mandi. Dan untung saja aku selalu membawa ponselku walaupun aku sedang mandi. Jadi aku tak perlu repot  keluar kamar mandi hanya untuk sekedar mengangkatnya.

Mwo? Eomma? Apakah tidak salah? Kenapa eomma menghubungiku? Apakah eomma tidak ada kerjaan lain? Kami tinggal diatap yang sama, tetapi untuk apa ia menghubungiku lewat ponsel.

“yeoboseyo.. eomma. kenapa eomma menghubungiku? tidak bisakan eomma menunggu sampai aku turun?”

“ya Yoong. apa yang kau katakan? apa kau sudah lupa? kau sudah tidak tinggal bersama eomma.”

“tidak tinggal bersama eomma?”

“ya ampun Yoong, kau lupa? kau kan sudah menikah, semalam itu perayaan penikahanmu.”

Mwo? Menikah? Arghh… kenapa aku bisa lupa. Aish… Yoona, penyakit pelupamu itu kapan bisa sembuhnya.

“ah.. ne eomma. aku mengingatnya.”

“Yoong kau harus ingat, kau telah berjanji dihadapan Tuhan.”

“ne eomma, mianhae…”

“yasudah, eomma hanya ingin mengingatkanmu, sebelum kau berangkat ke kantor, kau harus siapkan sarapn untuk  suamimu. arra?”

“ne eomma….”

“yasudah hanya itu yang ingin eomma katakan padamu. jaga kesehatanmu Yoong.”

“ne eomma..”

Haa….. apalagi ini? Kenapa aku sampai lupa kalau aku sudah menikah? Yoona…. kenapa penyakit pelupamu tak bisa hilang? Dan sarapan, aish… apakah namja itu tak bisa memasak untuk dirinya sendiri? Kenapa harus aku yang memasak?

Author POV

Yoona baru saja memasuki sebuah ruangan yang di dindingnya dipenuhi dengan kertas-kertas bergambarkan dress-dress wanita. Ia berjalan menuju mejanya dan mulai mengoperasikan komputer yang berada di atas meja.

Ia terus mengoperasikan perangkat elektronik itu tanpa henti. Sesekali ia selingkan dengan beberapa kertas yang tergeletak di atas mejanya. Yoona terus berada dikursinya hingga mentari telah hampir tenggelam, meninggalkan sisa-sisa cahayanya yang berwarna kemerahan.

“Yoona-nim, kau tak pulang?” tanya seorang yeoja dari balik pintu.

“kau pulanglah lebih dulu, masih ada yang harus kuselesaikan.”

“baiklah kalau begitu, aku pulang lebih dulu ya. kau jangan terlalu larut, kasihan suamimu menunggu.”

“aish…. arraseo haramoni…. eeeee” ucapnya dengan lidah yang ia julurkan keluar.

“ya! kau ini. sudahlah aku ingin pulang!”

“hahaha… ya. Fany-ah…”

“wae….?” kesal yeoja bernama Tiffany itu.

“hati-hati dijalan harmoni…..”

“YA IM YOON AH!!!!!!”

************

Jam yang terpasang di dinding, telah menunjukan pukul 21.30 KST. Yoona yang menyadarinya, segera bersiap-siap merapihkan semua barang-barangnya. Dengan cepat tangannya meraih sebuah benda berbentuk persegi panjang yang ia letakan tak jauh dari tasnya. Ia mulai menekan layar benda tersebut, sebuah layar benda yang biasa disebut ponsel.

“yeoboseyo…..”

“……….”

“oh ne. gamsahamnida….” jawabnya mengakhiri sambungan telephone antara dirinya dengan seseorang dari seberang sambungannya.

“aish…. karena ulah Tiffany aku jadi harus repot-repot memesan taksi terlebih dulu. seandainya aku tak mengizinkannya meminjam mobilku, kejadian mobilku harus di service pasti tak akan terjadi.” gerutu Yoona sembari berjalan keluar dengan beberapa kertas ditangannya.

************

Cahaya redup rembulan menyinari jalan-jalan ibu kota. Dibantu dengan cahaya lampu kota, menunjukan bahwa malam semakin larut. Jalan raya yang semakin sepi oleh kendaraan pun semakin menunjukan bahwa sebagian warga telah berada di dalam rumah mereka.

Sebuah taksi yang mengangkut seorang yeoja masih terus melaju menembus gelapnnya malam ibu kota. Taksi tersebut semakin melambatkan lajunya hingga berhenti tepat di depan sebuah bangunan apartment mewah, yang salah satu apartment nya merupakan tempat tinggal sang yeoja.

“tunggu, itu kan…..”

“ahjussi.., bisakah kau mengikuti mobil itu?” pinta sang yeoja kepada seorang laki-laki paruh baya yang mengantarnya dengan taksi yang ia tumpangi.

“baik nona.”

Yeoja itu terus saja memperhatikan kemana mobil itu bergerak. Ia tak pernah sekali pun melepaskan pandangannya dari ferrari putih tersebut. Matanya selalu terfokuskan melihat jalan-jalan yang dilalui mobil tersebut. Hingga kedua matanya membulat saat melihat mobil yang ia ikuti memasuki area parkir sebuah hotel mewah. Mulutnya terbuka. Pikirannya terbang melayang-layang, memikirkan hal-hal buruk yang akan dilakukan oleh pengemudi mobil tersebut di tempat itu.

“nona, sudah sampai..”

“ah nde? igeo….. gamsahamnida ahjussi..”

Yeoja tersebut segera turun, dan mengikuti langkah pemilik mobil mewah itu memasuki lobby hotel. Ia terus mengikuti dari jarak yang cukup aman menurutnya. Langkahnya begitu diatur olehnya, hingga membuat orang yang ia ikuti itu tak menyadari keberadaannya.

“apa yang ia lakukan disini? dan siapa yeoja yang ada dihadapannya?” gumam sang yeoja ketika ia telah berhasil memantau orang itu dari balik tiang penyangga hotel.

Yeoja itu terus saja berdiri memperhatikan gerak-gerik orang yang ia amati. Ia pun tak menyadari bahwa kini ada sesosok orang yang tengah berdiri di belakangnya. Orang itu pun terlihat bingung dengan apa yang dilakukan oleh yeoja yang ada di depannya.

“Yoong….” tegur orang itu sembari menyentuh pelan pundak yeoja dihadapannya itu.

“o… opp… pa….” kagetnya, ketika ia menyadari bahwa ada seorang namja yang berdiri di belakangnya, dan namja itu merupakan namja yang sangat ia kenali.

“o.. oppa.., sedang apa disini?”

“nde? harusnya oppa yang bertanya padamu Yoong, kenapa kau malam-malam berada di hotel?”

Yoona… ya, itulah nama yeoja itu. Ia hanya bisa diam. Raut wajahnya menunjukan bahwa ada kegugupan yang ia rasakan. Sesekali ia menggigit bibirnya dengan tangan yang terus ia kepalkan.

“Yoong… kau  kenapa?”

“ehm… ehm.. itu… aku….”

“tunggu, apakah karena laki-laki itu?” tanya nya sembari menunjuk pada sosok laki-laki yang sedari tadi merupakan target yang diikuti Yoona.

“em…  em… ann……”

“pasti karena dia kan, aku akan menemuinya.”

“andwae Yoochun oppa.” cegah Yeoja yang kini menatap namja bernama Yoochun itu dengan tatapan yang sangat meminta. Tak ada lagi yang dapat ia lakukan selain meminta namja yang ia sayangi itu untuk mengurungkan niatnya. Dipikirannya kini pun hanyalah bagaimana namja dihadapannya itu tak mencampuri masalah rumah tangganya kini.

“wae? kenapa kau melarangku? apakah kau membelanya?”

Namja bernama Yoochun itu terlihat sangat tidak senang dengan ucapan Yoona. Ia terlihat bingung sekaligus marah. Niatnya kini hanyalah ingin membebaskan yeoja yang ia sayangi dari tangan namja yang ia anggap tak tahu diri itu, tetapi kini malah yeoja yang ia sayangi melarangnya untuk melakukan hal itu.

“annie, aku tak membelanya. hanya saja, ini masalah keluargaku oppa. aku tak mau kau disalahkan karena mencampuri masalah ini. aku mohon oppa, biarkan masalah ini aku yang menyelesaikannya. oppa menyayangiku kan?”

“kenapa kau menanyakan hal itu? tentu saja aku sangat menyayangimu Yoong. bahkan aku sebenarnya tak rela melepaskanmu untuk namja tak tahu diri itu.”

“kalau begitu oppa lupakan semuanya. biarkan masalah ini aku yang menyelesaikannya. oppa tahu kan kemampuanku, jadi oppa tenanglah.”

“arraseo. kali ini oppa mengalah padamu, tetapi kalau ini tetap berlanjut, oppa akan mengambil alih semuanya. arraseo?”

“ye arra. agaimana kalau sekarang oppa mengantarku pulang? tetapi sebelum itu, bisakah kita jalan-jalan sebentar?”

Yoona mulai mengaitkan tangannya pada lengan namja dihadapannya. Walaupun sang namja belum menyetujui permintaannya, tetapi Yoona sudah menarik lengan namja itu keluar dari lobby hotel.

************

Yoona… yeoja itu baru saja akan mengenakan high heelsnya ketika ia menyadari ada sebuah tumpukan map, yang sepertinya, map yang membuatnya merasa kesal semalam. Map yang membuatnya harus terkurung secara tidak langsung di kamarnya, hanya karena sang pemilik map tengah bergulat didepan laptopnya dengan map-map tersebut.

To Be Continued

Hhaaaiiii~ sebelumnya aku mau ucapan makasih buat admin yang sudah bersedia mempublish ff-ku ini. Dan tentunya kepada kalian yang juga udah nyempetin waktunya untuk baca fic ini.

 

Ini adalah fic pertama aku yang aku kirim ke sini. Semoga kalian suka ya….

Dan untuk next partnya, ditunggu aja..

 

Sekali lagi thanks and see you J

21 thoughts on “[Freelance] Chaptered : Heartless (Chapter 1)

  1. sebelumnya.. aku mau ucapin terimakasih sama kalian yang udah nyempetin untuk baca dan comment.
    dan untuk part selanjutnya, ditunggu aja ya. semoga bisa secepatnya aku kirim.
    sekali lagi terimakasih banyak *bow down*🙂

  2. wah wah ternyata yoona sama donghae dijodohin sama orang tuanya. ternyata yang jadi kekasihnya yoona itu yoochun, aku kira siapa. berharap donghae bisa ngejaga yoona dan bisa bikin yoona jatuh hati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s