Destined Partner

destinedpartner

A Fanfiction by Felicia Rena

DESTINED PARTNER

.

Main cast: Im Yoon Ah, CNBLUE Lee Jong Hyun

Rating: PG 15+

Genre: Romance, Fluff

Length: Oneshoot

Disclaimer:

Stories are mine and pure fiction. All cast belong to God.

Please don’t be plagiat🙂

Note: FF ini juga di publish di blog pribadiku. FF ini adalah sekuel dari FF aku sebelumnya yang berjudul “Destined Meeting“. Yang belum baca prekuelnya, jangan lupa baca ya🙂

kalimat/paragraf yang tercetak miring adalah flasback

.

YA! Lee Jonghyun! Apa yang kau lakukan disini?”

Jonghyun melirik sekilas ke arah sumber suara yang menyebut namanya. Ia kemudian melanjutkan kegiatan sarapannya tanpa menghiraukan gadis yang sekarang sedang menuruni tangga.

Aigoo! Im Yoona! Kau ini seorang gadis. Tidak baik berteriak-teriak seperti itu, apalagi pagi-pagi begini,” tegur Im Hye Sung, ibu Yoona.

Eomma! Apa yang ia lakukan disini?” tanya Yoona pada ibunya sambil menunjuk Jonghyun yang masih menikmati roti dan telurnya.

Wae? Bukankah setiap hari Jonghyun memang sarapan disini? Kenapa kau masih bertanya?” balas Hye Sung sambil mengangkat kedua alisnya dengan pandangan bertanya.

Sejak kembali dari Jepang, Jonghyun memang selalu sarapan di apartemen Yoona setiap paginya. Ibu Yoona sendiri yang menyuruhnya. Ia sudah menganggap Jonghyun seperti anaknya sendiri, bahkan sejak Jonghyun masih kecil. Terlebih lagi karena Jonghyun memang sudah kehilangan ibunya sejak ia masih berumur dua tahun.

“Tidak boleh! Dia tidak boleh sarapan disini lagi! Memangnya ia pikir disini rumah makan? Ah, ani! Tidak, rumah makan juga tidak ada yang gratis!” seru Yoona dengan kedua tangan diletakkan di pinggang rampingnya.

Hye Sung menatap Yoona dan Jonghyun bergantian dan mengamati mereka. Yoona saat ini menatap Jonghyun sambil melotot dan Jonghyun yang sama sekali tidak mempedulikan tingkah kekanakan Yoona. Hye Sung menggelengkan kepalanya melihat putri semata wayangnya dan Jonghyun yang sudah dianggapnya sebagai anak sendiri sejak dulu.

“Kalian pasti sedang bertengkar kan?” tebak Hye Sung. Ia kemudian menghela napasnya keras-keras. “Selalu saja seperti itu. Baiklah, teruskan saja pertengkaran kalian. Aku penasaran kali ini berapa lama kalian akan bertahan marahan seperti itu. Terakhir kali kalian bertengkar seperti itu, seingatku hanya bertahan selama sepuluh menit.”

Yoona ganti menatap ibunya sambil mengerucutkan bibirnya. “Tidak untuk kali ini. Aku tidak mau bicara lagi dengannya!”

“Terserah kalian sajalah. Hanya saja—astaga—kalian ini sudah berumur dua puluh empat tahun, jadi selesaikan masalah kalian secara dewasa. Jangan bersikap kekanakan seperti itu,” sahut Hye Sung.

Yoona mendecakkan lidahnya kesal. Ia melirik Jonghyun yang sudah menyelesaikan sarapannya dan sedang menatapnya. Seulas senyum tipis terlihat jelas di wajah laki-laki itu. Yoona merasa semakin kesal ketika melihat Jonghyun yang bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.

“Aku berangkat sekarang saja,” ucap Yoona sambil meraih tasnya dan beranjak pergi.

“Kau tidak sarapan dulu?” tanya Hye Sung.

“Aku akan sarapan di kafe saja,” jawab Yoona sambil memeluk ibunya dan beranjak pergi. Namun sebelum benar-benar meninggalkan tempat itu, Ia masih sempat melemparkan pandangan kesal pada Jonghyun.

Hye Sung mengamati kepergian putrinya sambil menggelengkan kepalanya. Setelah Yoona benar-benar menghilang dari pandangannya, ia beralih menatap Jonghyun.

Jonghyun yang merasa sedang ditatap kemudian menoleh ke arah Hye Sung dan tersenyum. “Aku akan menyelesaikan masalah kami nanti,” ujar Jonghyun, “jadi eomonim tidak perlu khawatir.”

Ani,” balas Hye Sung sambil tersenyum. “Tidak, aku tidak khawatir sama sekali. Aku melihat kalian tumbuh bersama dan aku tahu kalian tidak akan tahan bermusuhan seperti tadi selama lebih dari sehari.”

“Lagipula,” tambah Hye Sung. “kalian berdua sama-sama sudah dewasa. Aku tidak perlu turun tangan lagi untuk mendamaikan kalian seperti saat kalian masih kecil dulu.”

Jonghyun tertawa kecil sambil bangkit berdiri. “Kau benar, eomonim. Kau memang selalu benar.”

“Terima kasih sarapannya,” lanjut Jonghyun sambil memberi pelukan pada Hye Sung.

.

“Yoona-ya, ada yang mencarimu.”

Yoona yang saat itu sedang bertugas mencuci piring di belakang menoleh mendengar kata-kata Jessica. Ia mengerutkan keningnya. Siapa kira-kira yang mencarinya sampai ke tempat kerjanya seperti ini?

“Siapa?” tanya Yoona sambil mengeringkan tangannya.

“Entahlah,” jawab Jessica yang mengangkat kedua bahunya. “Seorang laki-laki. Tinggi, putih dan tampan.”

Yoona masih mengerutkan keningnya, mencoba menerka siapa orang yang sedang mencarinya.

“Sudahlah, ayo cepat keluar! Dia bilang kalau ia tidak akan pergi sebelum bertemu denganmu,” lanjut Jessica sambil menarik Yoona keluar.

“Itu orangnya.” Jessica menunjuk ke salah satu meja dan mendorong punggung Yoona supaya gadis itu segera beranjak pergi, “cepat temui dia!”

Yoona berjalan pelan ke arah meja dimana laki-laki itu duduk. Sesekali ia menoleh ke belakang dan menemukan Jessica yang terus menatapnya dengan tatapan yang menyuruhnya untuk tidak berhenti berjalan.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Yoona sesampainya ia di meja tempat laki-laki itu duduk.

Jonghyun mengangkat kepalanya dan tersenyum melihat Yoona. “Duduklah,” katanya sambil menujuk ke arah kursi kosong di hadapannya.

“Aku sedang bekerja,” tolak Yoona ketus.

“Duduklah,” ulang Jonghyun dengan senyum yang masih menempel diwajahnya.

Yoona memandang Jonghyun dengan kesal. Ia akhirnya mengalah dan duduk di hadapan laki-laki itu.

“Kita perlu bicara banyak hal,” ujar Jonghyun. Tangan kanannya mengetuk-ketuk meja, namun kedua matanya terus menatap Yoona.

“Aku sedang bekerja dan aku sibuk. Aku tidak punya waktu untuk bicara denganmu saat ini,” balas Yoona.

Jonghyun menghela napasnya. Yoona benar-benar marah padanya, walaupun ia tidak mengerti kenapa Yoona sampai semarah ini padanya.

“Baiklah,” kata Jonghyun akhirnya, “aku akan menunggumu sampai kau selesai bekerja.”

“Aku lembur hari ini,” sahut Yoona cepat sambil bangkit berdiri.

“Aku akan menunggumu,” ucap Jonghyun sebelum Yoona pergi meninggalkannya sendirian.

.

Yoona membereskan barang-barangnya. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Sebenarnya pekerjaannya sudah selesai sejak pukul delapan tadi, namun ia memilih untuk lembur malam ini. Ia benar-benar sedang tidak ingin bertemu ataupun bicara dengan Jonghyun.

Yoona mengingat-ingat kejadian yang membuatnya menjadi seperti ini. Ia tahu kalau Jonghyun tidak sepenuhnya bersalah. Ia juga tahu kalau sebenarnya ia tidak perlu semarah ini. Namun entah mengapa, Yoona tidak bisa mengendalikan dirinya untuk tidak merasa marah dan kecewa pada Jonghyun.

“Taeyeon eonni, Jessica eonni, aku pulang dulu ya!” pamit Yoona pada kedua rekannya yang bertugas lembur malam itu.

Ne! Hati-hati dijalan, Yoona-ya!” sahut Taeyeon.

Gomawo!” ucap Jessica, “terima kasih sudah menemani kami lembur malam ini.”

Yoona tersenyum dan melambaikan tangannya pada Taeyeon dan Jessica. Ia berjalan keluar kafe sambil menoleh ke kanan dan ke kiri. Di depan kafe sudah cukup sepi dan tidak terlihat banyak orang maupun kendaraan.

Yoona menghela napas lega. Sepertinya usahanya berhasil. Jonghyun tidak terlihat dimanapun yang artinya laki-laki itu tidak jadi menunggunya. Yoona merasa kalau ia belum siap untuk bertemu dan bicara dengan Jonghyun saat ini.

“Syukurlah, sepertinya ia sudah pulang,” bisik Yoona sambil mengelus dadanya untuk mengatur detak jantungnya supaya kembali normal.

“Siapa yang sudah pulang?”

Yoona terlonjak kaget ketika mendengar suara itu. Ia menoleh ke sebelah kirinya dan melihat Jonghyun sudah bersandar pada mobilnya. Laki-laki itu menatap Yoona dengan sudut bibir yang melengkung seperti biasanya.

Ya! Kau mau membuatku jantungan?” teriak Yoona.

“Kenapa kau harus kaget melihatku?” tanya Jonghyun sambil berjalan mendekati Yoona.

“Kupikir kau sudah pulang,” jawab Yoona.

“Bukankah aku sudah mengatakan kalau aku akan menunggumu?” tanya Jonghyun lagi.

“Kau—benar-benar menungguku sejak tadi?” Yoona balas bertanya.

Ketika pertama kali menemui Yoona di kafe, saat itu pukul satu siang. Jika Jonghyun benar-benar menunggu Yoona sejak saat itu, berarti sudah sembilan jam lebih ia menunggu. Bagaimana mungkin Yoona meninggalkannya jika benar seperti itu?

“Tentu saja.” Jonghyun menganggukkan kepalanya.

“Kenapa?” bisik Yoona lirih.

“Aku benar-benar perlu bicara denganmu nona Im. Banyak hal yang harus kujelaskan padamu. Karena kau sama sekali tidak mau mendengarkan penjelasanku di pertemuan terakhir kita,” ungkap Jonghyun.

Untuk pertama kalinya Yoona mendengar sedikit nada kesal terselip di antara kalimat Jonghyun. Laki-laki itu pastilah merasa kesal ketika Yoona terus-terusan menghindarinya ketika ia butuh menjelaskan sesuatu pada gadis itu.

“Dan kali ini kau harus mendengarkanku,” lanjut Jonghyun sambil menarik Yoona pergi.

Yoona diam saja ketika Jonghyun menariknya dan menyuruhnya masih ke dalam mobil. Mungkin memang sudah saatnya ia mendengarkan penjelasan Jonghyun. Lagipula ia tidak mungkin bisa menghindar lagi sekarang.

Sepanjang perjalanan, baik Yoona maupun Jonghyun sama-sama tidak bersuara. Yoona bahkan tidak bertanya kemana Jonghyun akan membawanya. Jonghyun sendiri juga sepertinya tidak berniat untuk memberitahu Yoona. Barulah ketika Jonghyun mengemudikan mobilnya keluar kota Seoul, Yoona mulai bersuara.

Ya! Lee Jonghyun! Kemana kau akan membawaku pergi?” seru Yoona panik.

Ya! Bagaimana kalau ibuku mencariku?” kata Yoona lagi ketika tidak ada tanggapan dari Jonghyun.

“Aku sudah menghubungi eomonim. Aku sudah mengatakan padanya untuk tidak menunggumu dan tidak perlu khawatir karena kau bersamaku,” jawab Jonghyun.

Ya! Ya! Ya! Apa kau sudah gila? Kemana kau akan membawaku pergi?” Yoona semakin kesal karena Jonghyun sama sekali tidak mengacuhkannya. “Lee Jonghyun, jawab aku!

Entah sudah berapa jam Jonghyun terus mengemudikan mobilnya tanpa sekalipun menjawab pertanyaan-pertanyaan Yoona. Gadis itu sendiri sudah menyerah dan ikut diam tanpa suara. Ia merasa lelah setelah berteriak-teriak pada Jonghyun tanpa mendapatkan jawaban apapun.

Setelah sekian lama, akhirnya Jonghyun menghentikan mobilnya di sebuah taman. Yoona melihat ke arah jam tangannya. Waktu saat ini sudah menunjukkan hampir pukul setengah empat pagi. Saat itu langit masih tampak gelap, namun Yoona menyadari bahwa taman tempat mereka berada sekarang tampak sangat familiar. Ia kemudian mengingat kalau ia sering sekali bermain dengan Jonghyun di taman ini ketika mereka masih kecil. Tetapi itu berarti Jonghyun membawanya kembali ke Busan, kota tempat mereka berbagi kenangan masa kecil.

Jonghyun mematikan mesin dan turun dari mobilnya. Laki-laki itu kemudian berdiri bersandar pada mobilnya. Kedua matanya menjelajahi seluruh sudut taman, mengumpulkan setiap kenangannya bersama seorang gadis kecil enam belas tahun yang lalu. Yoona mengikuti Jonghyun turun dari mobil dan bersandar di sebelah laki-laki itu.

“Untuk apa kita kemari?” Yoona membuka percakapan untuk pertama kalinya setelah beberapa jam lamanya.

“Sudah hampir setahun lamanya aku kembali ke Korea. Ketika aku pertama tiba di Korea, aku langsung menuju Busan untuk mencarimu, tetapi ternyata kau sudah pindah ke Seoul.” Jonghyun mulai bercerita tanpa menjawab terlebih dulu pertanyaan Yoona.

“Aku bertanya pada tetangga-tetanggamu, bahkan teman-temanmu. Dari mereka aku akhirnya mengetahui kalau kau dan ibumu pindah ke Seoul setelah ayahmu meninggal enam tahun yang lalu,” lanjut Jonghyun. “Aku kemudian mencari tahu tentang tempat tinggalmu di Seoul, dimana kau kuliah atau bekerja.”

Yoona mengamati Jonghyun yang terus bercerita. Pandangan laki-laki itu menerawang lurus ke depan. Sesekali ia juga akan menarik sudut bibirnya di tengah ceritanya.

“Aku sudah mencarimu selama lebih dari sebulan di Seoul, tetapi aku belum juga berhasil menemukanmu. Aku sudah hampir putus asa dan sedang memutuskan apakah aku sebaiknya kembali ke Jepang saja atau tidak ketika aku mendengar teriakanmu malam itu.” Jonghyun menoleh ke arah Yoona dan tersenyum kecil.

“Kau tidak langsung mengenaliku, tetapi aku bisa memaklumi itu. Aku menyadari jika aku yang sekarang memang berbeda cukup jauh dengan aku saat masih kecil. Dulu aku benar-benar mirip orang asing, tetapi sekarang aku sudah terlihat jauh lebih mirip dengan orang Korea kan?” canda Jonghyun.

Jonghyun menghela napasnya berat sebelum melanjutkan, “Aku tidak pernah mengatakan jika aku kembali ke Korea untuk menetap kan?”

Jonghyun akhirnya mencapai topik yang ingin dibahasnya bersama Yoona. Pembicaraan ini juga yang membuat Yoona marah padanya beberapa hari yang lalu dan menolak bicara padanya selama berhari-hari. Yoona bahkan sama sekali menolak untuk mendengarkan kelanjutan kisahnya maupun penjelasan darinya.

Jonghyun memberi jeda sesaat untuk melihat reaksi Yoona, namun gadis itu tetap bergeming dan tidak mengeluarkan sepatah kata apapun.

“Aku memang harus pergi ke Amerika. Ada tawaran pekerjaan yang sangat bagus disana. Dan aku juga sudah menerima tawaran pekerjaan itu sejak tiga bulan sebelum aku kembali ke Korea,” lanjut Jonghyun.

“Lalu—“ potong Yoona, “untuk apa kau datang ke Korea?”

Jonghyun tersenyum pada Yoona. “Itulah yang ingin kujelaskan padamu di pertemuan kita sebelumnya. Tapi saat itu kau sudah marah-marah padaku dan bahkan tidak mau mendengarkan penjelasanku lebih lanjut. Kau juga menolak untuk bertemu ataupun bicara padaku setelah itu.”

“Bagaimana mungkin aku tidak marah?” tukas Yoona. “Bukankah—bukankah kau berkata bahwa kau kembali untukku? Bukankah dulu kau berjanji akan kembali untukku? Lalu sekarang kau tiba-tiba mengatakan bahwa kau akan pergi lagi dan meninggalkanku.”

Yoona benar-benar merasa kecewa ketika Jonghyun pertama kali mengabarkan berita itu beberapa hari yang lalu. Ia benar-benar merasa senang ketika bertemu kembali dengan Jonghyun. Tetapi ketika bahkan belum genap setahun kembali, Jonghyun sudah akan pergi meninggalkannya lagi.

“Bagaimana mungkin aku tidak marah?” ulang Yoona dengan suara yang lebih lirih. Gadis itu merasakan airmata sudah berada di ujung matanya dan siap untuk mengalir turun. Karena itu ia memilih untuk menundukkan kepalanya dan menyembunyikan wajahnya dari Jonghyun.

Yoona tahu kalau sebenarnya ia juga tidak mempunyai hak apapun untuk melarang Jonghyun pergi. Ia hanyalah teman masa kecil laki-laki itu. Jonghyun bebas untuk menentukan pilihannya, termasuk kemanapun ia akan pergi. Walaupun begitu, Yoona tetap tidak bisa menyembunyikan rasa kecewanya pada Jonghyun. Ia tidak ingin Jonghyun pergi meninggalkannya lagi. Ia tidak ingin berpisah dari Jonghyun.

“Apakah aku pernah mengatakan bahwa aku akan meninggalkamu?”

Yoona sontak mengangkat kepalanya dan balas menatap Jonghyun yang sudah memandangnya sejak tadi.

“Apa maksudmu?” tanya Yoona tidak mengerti.

“Ikutlah denganku ke Amerika,” sahut Jonghyun mantap.

Kedua bola mata Yoona membulat mendengar tawaran Jonghyun. Otaknya bekerja ekstra berusaha mencerna maksud dari perkataan Jonghyun barusan.

“Aku kembali ke Korea karena aku ingin menagih janjimu,” lanjut Jonghyun.

Yoona ganti mengerutkan keningnya bingung. “Janji? Janji apa?”

“Kau sudah lupa dengan janjimu padaku tujuh belas tahun yang lalu?”

Yoona masih memandang Jonghyun dengan kening yang masih berkerut. Ia berusaha mengingat-ingat janji apa yang ia lupakan. Saat itulah ia melihat ayunan di taman itu dan seketika kedua matanya kembali melebar.

“Bukankah kau berjanji untuk menikah denganku ketika kita sudah dewasa?”

Yoona menoleh dengan cepat ke arah Jonghyun dan melihatnya dengan tatapan tidak percaya. Ia menjelajah kedua mata laki-laki itu, mencoba mencari kilat kebohongan ataupun gurauan semata. Namun yang Yoona lihat hanyalah kedua mata yang memancarkan keyakinan.

“Apakah aku pernah berjanji seperti itu?” Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Yoona karena gadis itu terlalu gugup.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Jonghyun langsung menarik gadis itu ke salah satu pohon di sebelah ayunan tempat mereka biasa bermain dulu. Ia berjongkok di depan pohon itu, menyingkirkan rerumputan di sebelah akar besar dan terlihat mengangkat sebuah benda berbentuk kapsul. Yoona mengamati benda yang sekarang berada di tangan Jonghyun itu dan menyadari jika benda itu adalah time capsule yang dulu dikuburnya bersama Jonghyun sehari sebelum keberangkatan Jonghyun ke Jepang.

“Sudah enam belas tahun lamanya kapsul ini terkubur disini. Aku menggalinya beberapa hari yang lalu saat aku berkunjung ke Busan dan menyembunyikannya disitu,” terang Jonghyun sambil menunjuk ke bekas lubang dimana ia mengangkat kapsul itu tadi.

Yoona masih menatap kapsul itu dengan takjub. Dulu ia dan Jonghyun mengisi kapsul-kapsul itu dengan benda-benda kenangan mereka berdua, seperti kaset video game yang sering mereka mainkan atau film yang sering mereka tonton. Setelah enam belas tahun lamanya, Yoona hampir melupakan tentang kapsul waktu itu. Yoona sama sekali tidak menyangka jika Jonghyun justru mengingatnya.

“Ah! Andwae!” Yoona tiba-tiba berteriak ketika Jonghyun membuka kapsul itu.

Jonghyun tampak sangat terkejut mendengar teriakan Yoona, terlebih lagi ketika gadis itu tiba-tiba merebut kapsul dalam genggamannya.

Wae?” tanya Jonghyun bingung.

Andwae! Kau tidak boleh melihatnya lebih dulu!” Yoona terus mencegah Jonghyun yang berusaha mengambil kembali kapsul itu.

Wae? Apa yang kau sembunyikan dariku?” Jonghyun tidak mau menyerah dan terus mencoba mengambil kembali kapsulnya. “Aku hanya ingin mengambil sesuatu, jadi cepat berikan kapsul itu padaku.”

“Apa yang ingin kau ambil?” tanya Yoona sambil menyembunyikan kapsul itu di belakang punggungnya.

“Surat yang kau tulis ketika kau berjanji untuk menikah denganku,” sahut Jonghyun.

Yoona membelalakkan kedua matanya mendengar jawaban Jonghyun. Justru hal itulah yang ia hindari. Ia merasa malu jika Jonghyun membaca surat yang ia tulis saat mereka berumur tujuh tahun itu.

“Wuaa!!!”

Jonghyun memanfaatkan diamnya Yoona selama beberapa saat untuk merebut kapsul itu. Yoona yang menyadari usaha Jonghyun di saat-saat terakhir masih berusaha menghindarkan kapsul itu dari Jonghyun. Mereka berdua jatuh terduduk karena ‘pertengkaran’ tadi, namun Jonghyun berhasil mengambil kembali kapsul waktu itu.

“Tidak!” Jonghyun menahan tangan Yoona yang ingin mengambil kembali kapsulnya. “Aku akan mengambil surat itu, jadi kau tidak bisa mengelak lagi.”

Yoona akhirnya menyerah dan membiarkan Jonghyun membuka kembali kapsulnya. Gadis itu hanya menghela napasnya dan duduk bersandar pada pohon di belakangnya sambil memejamkan kedua matanya. Ia tidak mau melihat Jonghyun membaca surat itu.

“Hei,” panggil Jonghyun pelan.

Yoona membuka matanya perlahan dan menoleh ke arah Jonghyun. Senyum kemenangan terlukis di wajah laki-laki itu. Yoona bisa melihat Jonghyun mengacungkan sepucuk surat di tangannya.

“Aku sudah memegang barang buktinya. Kau tidak bisa mengelak lagi, nona Im,” ucap Jonghyun.

Sekali lagi, Yoona hanya menghela napasnya. Ia merasa terlalu gugup untuk situasi seperti ini. Terlebih lagi, ia heran pada Jonghyun yang bisa dengan mudahnya mengangkat topik ini.

“Kemarikan tanganmu,” perintah Jonghyun sambil mengulurkan tangannya pada Yoona.

Yoona mengulurkan tangan kanannya pada Jonghyun. Laki-laki itu meraihnya dan meletakkan sesuatu di telapak tangan Yoona yang terbuka.

Yoona menarik kembali tangannya dan melihat sebuah cincin tergeletak manis di telapak tangannya. Ia kemudian menoleh pada Jonghyun, meminta penjelasan.

“Ayahku memberikan cincin itu padaku dihari ulangtahunku yang ke duapuluh. Ia berkata kalau cincin itu milik ibuku. Ia juga mengatakan padaku supaya aku memberikan cincin itu pada seseorang yang ditakdirkan untukku nantinya,” ungkap Jonghyun yang sudah ikut bersandar di pohon seperti Yoona.

Selama beberapa saat, kesunyian kembali menyelimuti mereka berdua. Jonghyun tampak sibuk dengan pikirannya, sementara Yoona masih menimang-nimang cincin di tangannya.

“Yoona-ya,” panggil Jonghyun, “menikahlah denganku.”

Yoona menatap Jonghyun dan mendapati laki-laki itu juga sedang menatapnya dengan tatapan yang memancarkan kerinduan.

“Bukan karena dulu kau berjanji untuk menikah denganku,” lanjut Jonghyun, “—tetapi karena aku mencintaimu.”

Yoona masih tidak langsung menjawab pernyataan Jonghyun. Ia memilih diam selama beberapa saat, berusaha memilah kata-katanya sendiri sebelum mengucapkannya.

“Aku pernah mengatakan—“ Yoona mulai bersuara, “—kalau aku akan menikah dengan orang yang ditakdirkan untukku.”

Yoona menatap cincin di tangannya. Ia kemudian mengambilnya dan memakainya di jari manis tangan kirinya.

“Dan aku juga pernah mengatakan—“ lanjut Yoona, “—kalau pasangan yang ditakdirkan untuk Im Yoona adalah Lee Jonghyun.”

Senyum mengembang di wajah cantik Yoona ketika Jonghyun mendekatkan wajahnya pada Yoona dan mengecup pelan bibir gadis itu.

Saranghaeyo,” bisik Jonghyun pelan.

Nado saranghaeyo,” balas Yoona sebelum Jonghyun benar-benar menariknya ke dalam ciumannya.

.

“Jonghyun-ah, bukankah Ye Jin eonni sangat cantik tadi?” tanya Yoona dengan kedua mata berbinar. Ia duduk di salah satu ayunan yang ada di taman dan berayun dengan semangat. Di tangannya terselip setangkai bunga mawar merah.

Yoona dan Jonghyun baru saja menghadiri acara pernikahan saudara sepupu Yoona. Sejak keluar dari tempat resepsi, Yoona tidak berhenti membicarakan tentang pernikahan sepupunya itu. Dan seperti biasanya, Jonghyun selalu setia mendengarkan celoteh gadis kecil berusia tujuh tahun itu.

“Aku suka gaunnya! Gaun putihnya cantik sekali,” puji Yoona sambil tersenyum lebar. Ia memandangi setangkai bunga yang berasal dari buket bunga pengantin milik Ye Jin. “Aku juga ingin memakai baju seperti itu kalau aku sudah besar nanti.”

Jonghyun merenung menatap gadis yang masih berayun-ayun disampingnya. “Kau ingin memakai baju seperti itu?” tanya Jonghyun.

“Tentu saja,” jawab Yoona. “Aku akan memakai baju seperti itu juga ketika aku menikah nanti.”

“Dengan siapa kau akan menikah?”

Yoona berhenti berayun dan menatap Jonghyun dengan serius. “Ye Jin eonni bilang, kita harus menikah dengan pasangan yang sudah ditakdirkan untuk kita.”

“Memangnya kau tahu siapa pasangan yang ditakdirkan untukmu?” tanya Jonghyun lagi.

Yoona tersenyum lebar sebelum menjawab, “Tentu saja! Pasangan yang ditakdirkan untuk Im Yoona adalah Lee Jonghyun.”

Senyum turut mengembang di wajah Jonghyun ketika mendengar jawaban Yoona. “Benarkah?” tanya Jonghyun memastikan. “Itu artinya kau akan menikah denganku ketika kita sudah dewasa nanti?”

“Tentu saja!” sahut Yoona penuh keyakinan.

“Kau berjanji?”

“Aku berjanji.”

“Benarkah?”

“Aku bisa membuat surat perjanjian supaya kau percaya padaku,” sahut Yoona. Gadis kecil itu membuka tasnya dan mengeluarkan selembar kertas yang ia robek dari bukunya dan juga bolpoin.

Jonghyun mengamati Yoona yang mulai menulis dalam diam. Gadis kecil yang seumuran dengannya itu tampak serius ketika menorehkan kata demi kata di kertasnya.

“Selesai!” seru Yoona sambil mengacungkan kertasnya dan memberikannya pads Jonghyun, membiarkan anak laki-laki itu membacanya.

 “Aku akan menagih janjimu ini saat kita sudah dewasa nanti,” ucap Jonghyun.

.

SURAT PERJANJIAN

Aku, Im Yoona, berjanji untuk menikah dengan Lee Jonghyun saat dewasa nanti.

 

September 20, 1989

Im Yoona

.

The End

Please don’t forget to leave your comment🙂

20 thoughts on “Destined Partner

  1. huwaaa.,pengin nangis sangking ‘unyu’ ny mereka…sweet,lucu dan romantis…iri sumpah sama kisah mereka..penggambaran cerita ny jelas jadi berasa bnget nih cerita…ada sequel ny lagi ga Chingu…plis di tunggu..fighting!

  2. Kyaaaaa😄 so sweet!!!!!!
    Saranghae jonghyun oppa ♥
    Hahaha aku yoonaddict akut, dn pdahal musketeers tpi klo gini trus bisa2 jdi shipper deerburning nih-___-
    Ditunggu fanfic yg lain thor
    P.S request fanfic yoona eonni sama sehun😉

  3. aduh so sweet nya.. jd itu alasannya yoona marah, cm krna gk mai ditinggal jong ke amerika..
    brhrao ad sequel nya mreka pas nikah gtu ..

  4. Baru baca FF ini…. hehe… telat bange ya…. btw ini so sweet bangeeet…. sampe teriak waktu joghyun minta yoona nikah sama dia bukan karena yoona udah berjanji tapi krn jonghyun mencintai yoona…. aaaagh daebak author,… lanjuuuut sequelnya lagi dooong

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s