[Ficlet] London Chocolate

[c] bells trix [r]

[c] bells trix [r]

Title : London Chocolate || Author : Bells Trix || Main cast : Im Yoona SNSD, Kim Kibum Super Junior || Genre : Sad Romance, Fluff (?) || Length : Ficlet 1800+ words || Rating : T (Teenager)

Disclaimer : This story is pure my imagination. Please don’t copy paste to anywhere! I warn you! All characters is belongs to God, but the story is belongs to me. Please respect all author & don’t be a silent readers🙂

P.S : Feel free to correct my story 😉 mian kalo terlalu banyak typo nyempil. Harap tinggalkan jejak setelah baca. Happy reading ^^

Full Credit : │█│█▌│▐▐▐▐│█▌▐▐ ©Bells Trix™® [take out with full credit, please!]

“Katakanlah perasaan yang ada dalam hatimu sebelum terlambat—Yoona.“

———————————–NO BASH, please!————————————-

Aku mengenalnya dengan baik. Bahkan aku mengenalnya lebih dari teman-temannya mengenal siapa dirinya. Membingungkan? Tapi itulah kenyataannya. Aku juga tidak mengerti bagaimana bisa aku menyukainya. Padahal semua tahu dia adalah seseorang yang biasa. Mungkin ini berawal dari hal yang sangat sederhana, namun berarti besar. Dan dari hal sederhana itulah hatiku mulai merajut sebuah perasaan.

.

.

Kim Kibum. Seorang siswa laki-laki yang cukup populer dan pendiam di sekolah. Sikapnya terkesan dingin tetapi dia memiliki hati yang sangat lembut. Namun banyak orang beranggapan bahwa dia adalah siswa yang emosional—pemarah. Itu karena tidak semua orang mengenalnya dengan baik.

Berbeda denganku. Karena ku pikir, aku adalah satu-satunya orang yang paling mengenal siapa dirinya lebih dari siapapun. Aneh? Memang terdengar sangat aneh. Tapi percayalah, aku tahu segalanya tentang dirinya. Meskipun aku tidak begitu dekat dengannya namun aku tahu. Aku mengerti bagaimana dia. Mungkin karena aku terlalu sering memperhatikan setiap detil tingkah lakunya.

Aku masih ingat ketika pertama kali dia mengajakku berbicara. Dia memberiku sebuah coklat asli dari London saat jam pelajaran matematika. Dan tentu saja aku tidak menolaknya. Entah mengapa, dari coklat itu timbul sebuah perasaan yang aku sendiri tidak benar-benar mengerti. Bahkan salah satu temanku—Kwon Yuri—mengatakan bahwa aku sudah tidak waras. Menurutku bukan diriku yang tidak waras. Tapi perasaanku lah yang membuatku menjadi tidak waras.

Sejak pemberian coklat itu, aku menjadi sering mengingat tentang dirinya. Seperti ada aplikasi khusus yang memprogram tentang dirinya di otakku. Akibatnya aku juga sering menyuruh Yuri untuk menjadi mata-mata Kibum. Lucu? Ya, ini memang sangat lucu. Dan sepertinya Kibum tidak menyadari akan hal itu. Aku merasa bahwa coklat yang dia berikan kepadaku, tidak memiliki arti khusus. Hanya sekedar memberi sebagai seorang teman. Tapi bagiku, coklat itu adalah sebuah awal dari perasaan anehku.

Detik berganti menit. Menit berganti jam. Dan jam pun berganti hari. Hari-hariku seolah makin berwarna sejak satu nama itu menyelinap tanpa permisi di relung hatiku. Aku semakin sering mengaguminya secara diam-diam. Bahkan anehnya hatiku selalu berdegup kencang manakala dia berada di dekatku atau hanya sekedar menatapku tanpa sengaja. Meskipun begitu, aku rasa dia tidak pernah tahu bahwa aku adalah salah satu orang yang menyukainya. Karena ku pikir, mungkin bukan aku saja yang mengagumi sosok Kibum.

Hingga suatu hari, sahabatku Yuri membawa sebuah kabar yang mengejutkan. Dia memberitahuku bahwa sebenarnya Kibum mengetahui akan perasaanku. Senang? Tentu saja. Ada setengah rasa senang yang lansung menyerbu hati kecilku. Namun setengah perasaan itu tentu saja khawatir. Karena hal ini pastinya membuat diriku tidak bisa mengaguminya secara diam-diam lagi. Dia pasti akan mudah menangkap basah diriku saat sengaja mencuri pandang ke arahnya.

.

.

Bukan merasa peka, yang ada Kibum malah terlihat menjauh saat mengetahui aku menyukainya. Sepertinya dia tidak ingin melukai perasaanku. Karena sebenarnya dia tidak bisa membalas perasaanku ini. Aku mengerti, tapi tidak bisakah dia menghargai perasaanku? Menjadi seorang temannya saja itu sudah lebih dari cukup. Dan aku juga berharap, suatu hari nanti Kibum bisa membalas perasaanku. Walaupun aku tahu itu terdengar mustahil. Tapi aku tidak berharap terlalu banyak tentang itu.

“Aku rasa dia tidak menyukaiku.“ Ujarku lemas kepada Yuri yang menatapku kecewa. Aku tahu dia pasti akan mulai menceramahiku dengan berbagai omelan khas miliknya. Omelan yang sebenarnya membuat pikiranku semakin bisa berpikir secara sadar. Sekaligus memotivasi diriku untuk tidak menjadi sosok lemah hanya karena seorang laki-laki.

.

.

“Kau tidak boleh seperti ini. Yoong. Apa hanya karena seorang laki-laki kau menjadi pemurung seperti ini, eoh? Aku tidak menyukaimu!“

“Mana Yoong yang dulu ku kenal? Yoong yang ceria, humoris, menyenangkan, menyebalkan. Aku seperti tidak mengenalmu, Yoong! Berhentilah mendramatisir keadaan seperti ini.”

“Aku yakin kau pasti bisa melupakannya. Aku percaya kau bisa. Kau pernah bilang kan bahwa Kibum adalah laki-laki yang biasa? Lihatlah, diluar sana masih banyak yang lebih darinya.“

Ya, aku masih mengingat jelas celotehan Yuri saat aku mulai down hanya karena seorang Kim Kibum. Hampir semalaman aku menangis saat Yuri meneleponku dan memberi tahu satu kabar buruk—menurutku. Dia memberitahukan bahwa Kibum sedang menyukai seseorang berinisial ‘C‘. Dan kabarnya Kibum akan menyatakan cintanya pada perempuan berinisial C itu pada saat kelulusan nanti. Seketika itu tubuhku lansung lemas dan bergetar hebat. Air mataku tumpah hingga membuat dadaku semakin sakit. Ini benar-benar menyesakkan.

Sejak saat itu, aku seperti belajar mundur teratur menjauhi Kibum. Aku belajar melupakannya dengan bantuan Yuri. Tentu saja itu tidak mudah. Apalagi mengingat diriku yang satu kelas dengannya. Pasti akan terasa sangat sulit. Namun hal ini ternyata semakin diperkuat dengan sikap dingin Kibum yang terus-menerus kepadaku. Karena pada kenyataannya Kibum memang tidak menyukaiku. Jadi wajar saja dia bersikap dingin. Dan memang aku saja yang terlalu merasa berlebihan saat coklat London itu diberikan. Hingga akhirnya menjadikan perasaanku semakin rumit.

Tapi rasanya menjauhi Kibum juga seperti sia-sia saja. Karena Kibum sendiri memang tidak pernah menganggapku. Jadi dia merasa biasa saja saat aku berusaha menjauh atau bersikap dingin terhadapnya. Padahal dia jelas-jelas tahu bahwa aku menyukainya—karena Yuri yang memberitahu Kibum. Tapi dia tetap saja tidak peka bahwa aku menjauhinya karena suatu hal. Dia tetap menganggapku sebagai seorang teman sekelas yang tidak berarti apapun untuknya.

.

.

Hari kelulusan itu pun tiba. Aku masih saja belum bisa melupakan perasaanku sepenuhnya pada Kibum. Perasaan itu telah membekas dan seperti melekat kuat. Seolah-olah tidak bisa dipisahkan dari hati kecilku. Karena inilah aku selalu berbohong pada Yuri dan mengatakan padanya bahwa aku telah melupakan Kibum. Padahal itu jelas-jelas tidak benar. Karena pada kenyataannya sendiri, hati kecilku masih sedikit berharap Kibum akan membalas perasaanku.

Jujur saja, aku juga menyimpan rasa gemas untuk perempuan berinisial ‘C’ yang disukai Kibum. Mengapa? Karena dia tidak pernah mengerti bahwa Kibum menyukai dirinya. Padahal berbagai cara pendekatan telah Kibum lakukan. Tapi sepertinya perempuan itu hanya menganggap Kibum sebagai seorang teman biasa. Tidak lebih. Sama seperti Kibum yang menganggap diriku teman biasa. Namun dibalik itu aku juga merasa senang. Senang karena Kibum bisa merasakan apa yang aku rasakan saat ini.

Mungkin karena hal itulah Kibum mengurungkan niatnya. Dia tidak tampak menyatakan perasaannya pada perempuan itu saat hari kelulusan. Dia hanya membiarkan hari kelulusan itu berlalu begitu saja tanpa sebuah momen yang telah dirancangnya jauh-jauh hari. Sebagai seorang pengagumnya, tentu saja ini membuatku sedikit berjingkrak kesenangan. Itu berarti masih ada sedikit kesempatan yang bisa aku dapatkan dari Kibum. Meskipun aku tahu, bahwa peluang kesempatan itu hanya satu persen saja.

.

.

3 week later.

“Yoongie, ada yang ingin aku bicarakan!“ teriak Yuri dari kejauhan saat di koridor sekolah. Aku menoleh dan mendapati ekspresi wajah yang tidak biasa darinya. Senang. Ya, itulah ekspresi wajah yang ku lihat saat Yuri meneriakiku seraya menyunggingkan senyum cantiknya tanpa henti.

“Kibum .. Kibum .. Dia ada disini.“ Ujar Yuri dengan nafas terengah-engah karena berlari.

Mendengar nama Kibum rasanya sudah biasa bagiku. Entahlah. Yang aku tahu, sekarang aku sudah sedikit bisa melupakannya. Mungkin aku sudah sadar bahwa mencintai orang yang tidak mencintai kita adalah hal yang menyakitkan. Juga merugikan. Maka dari itu aku memutuskan untuk berhenti mengejarnya sejak hari kelulusan itu. Aku benar-benar ingin belajar melupakan Kibum. Dan mungkin .. memulai hidup baru yang lebih baik.

“Lalu? Apa urusannya denganku, Yul? Sudahlah, aku ingin melupakannya.“ Kataku ketus seraya berjalan menuju ruang tata usaha untuk mengambil dataku yang masih tertinggal di sekolah. Melupakannya secepat itu? Ya, mengapa tidak? Melupakan seseorang yang telah menyakiti perasaan kita lebih cepat adalah lebih baik, kan?

Tiba-tiba aku melihat Kibum berdiri di depan ruang tata usaha. Tentu saja aku sedikit terkejut. Terlintas dalam pikiran bahwa Kibum memang sedang menungguku. Tapi aku segera melenyapkan pikiran itu sebelum menjadi-jadi. Hal yang sangat mustahil bila Kibum mencari diriku. Lagipula aku juga sudah tidak mengharapkan dia akan membalas cintaku. Aku sudah bisa mengikhlaskan cintaku yang tak terbalaskan. Yang lalu, biarlah berlalu.

Aku berjalan melewatinya tanpa menatap pandangan matanya yang seperti mengekorku. Tapi tiba-tiba sebuah genggaman tangan mencengkram pergelangan tangan kananku.“Chankkaman,“ pintanya dan aku spontan menghentikan langkah—tidak berani menatapnya. Apa maunya? Meminta maaf atas kesalahannya padaku? Ah, tidak mungkin.

“Mianhae Yoona telah menyakiti perasaanmu dulu.”

Aku terdiam mendengar kata-katanya. Ternyata aku salah menduga. Entah mengapa terasa ada air yang menggenang di sudut-sudut mataku. Tapi aku berusaha menahan air mata itu supaya tidak jatuh. Bukankah aku sudah melupakannya? Kata-kata maafnya itu sedikit menyakitiku. Entahlah.

“Aku baru sadar akan satu hal, Yoona. Satu hal yang selalu aku abaikan selama ini. Aku menyesal.“

Lagi. Kali ini setetes demi setetes air mata mengalir di kedua pipiku tanpa permisi. Aku benci menangisinya. Disaat seperti ini, aku benar-benar merasa membutuhkan Yuri sebagai penyemangatku. Aku membutuhkanmu, Yul.

“Aku baru menyadari bahwa aku .. mencintaimu, Yoona.“

Deg. Satu kalimat yang berhasil membuat air mataku mengalir semakin deras. Bukan senang yang ku rasakan, namun kesakitan yang terasa menohok ulu hatiku. Aku juga tidak mengerti mengapa. Mungkin karena aku sudah belajar menutup hati untuknya. Aku telah belajar bagaimana melupakannya. Aku telah belajar bagaimana tidak mengharapkannya lagi dalam kehidupanku. Mungkin itulah yang membuatku sakit saat mendengar kalimat itu terlontar dari bibirnya.

“Mianhae, Kibum-ssi. Aku rasa kau sudah terlambat.“

.

.

Setelah aku menolaknya beberapa hari yang lalu. Kibum sudah tidak pernah lagi menampakkan diri dihadapanku maupun Yuri. Aku mendengar kabar bahwa dia sudah pindah ke Amerika untuk meneruskan kuliah. Mungkin juga sekalian melupakanku. Bukankah itu bagus? Ya, karena aku bisa lebih leluasa juga untuk melupakannya.

Kalau saja Kibum menyatakan perasaan cinta itu jauh sebelum hari kelulusan, pasti aku akan menerimanya. Tapi ternyata dia terlambat. Terlambat karena dia menyatakan cinta saat aku sudah tidak memiliki perasaan lagi kepadanya. Kalaupun saat itu aku menerima cintanya, bukankah aku sudah membohongi perasaanku sendiri? Berbohong karena sebenarnya aku sudah tidak mencintainya lagi. Jadi aku tidak salah kan bila menolak cintanya?

.

.

Sejak kejadian ini, aku selalu berharap satu hal. Aku tidak ingin jatuh ke dalam lubang yang sama untu kedua kalinya. Aku ingin mencintai seseorang dan cintaku tidak bertepuk sebelah tangan. Karena menurutku memang percuma saja bukan mengharapkan orang yang tidak pernah melihat ke arah kita? Pasti akan sangat menyakitkan. Mencintai tanpa dicintai.

Selamat tinggal, Kim Kibum. Aku harap kau tidak akan membenciku karena hal itu. Semoga kau mendapatkan penggantiku yang tentunya jauh lebih baik. Terima kasih telah memberiku sebuah coklat London yang sangat menyakitkan. Coklat London yang akhirnya mewarnai hari-hariku di sekolah dulu. Tanpamu dan coklat London itu, aku tidak akan pernah belajar bagaimana rasanya mencintai tanpa dicintai. Dan aku ingatkan padamu, jangan pernah berusaha mengelak apa yang sebenarnya hati kecilmu katakan. Karena jika kau mengelak, maka kau akan terlambat seperti saat itu. Kau tahu akibatnya, kan?

Dan selamat datang untuk cinta dan hidup baruku. Semoga kau bisa membuatku menjadi lebih baik. Aku menantimu, cinta baru.

—–The End—–

4 thoughts on “[Ficlet] London Chocolate

  1. klise memang, baru menyadari keberadaan seseorang saat orang itu udah pergi. -_-‘

    ceritanya bagus, & aku setuju sama yoona yg gak nerima kibum.
    Oiya, ini pertama kali ak baca ff cast yoona-kibum loh *gak ada yang nanya.🙂

      • iya, tapi tetep keren~~🙂

        aku juga tau YoonBum emang udah agak lama pas awal-awal tau FF. tapi gak terlalu familiar soalnya aku lebih tau Kyuna, YoonHae, sama Yoonwoon klu supergeneration. malah ada yang bilang kalau Kibum tetep promo bareng sj bisa-bisa shipper YoonBum ini ngalahin ketiga shipper tadi katanya, tapi emang dua-duanya cocok sih ya~. hheheh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s