[FF] Vow (Vignette)

Vow Poster

Vow

by

Aletha

Im Yoona – Ok Taecyeon – Xi Luhan | Vignette | PG-15 | Romance, Angst, Thriller

Annyeong^^ Ini FF pertama yang saya post di sini. Tadinya mau bikin fluff, tapi jadinya malah gini -..- Semoga kalian suka ya^^ I just own the idea. Sorry for bad writing. Happy Reading^^

Ini tentang kita

Kau menyukaiku, padahal aku membencimu

Kita terlahir begitu

Kita mati, juga tetap akan begitu

***

“Yoona!”

Suara familiar itu terdengar di antara ramainya stasiun ini. Aku berhenti, jantungku ikut berhenti berdetak. Detik itu pula aku merasakan sesuatu yang hangat mencengkram pergelangan tanganku, juga gaya tarik yang besar sampai aku berputar dibuatnya.

Ok Taecyeon. Wajah tampannya menyambutku, membuat guratan merah di pipiku. Jantungku kembali berdetak, bahkan sangat kencang, ketika pria itu menarikku ke dalam pelukannya. Tangan besarnya melingkupi punggung dan juga kepalaku. Aku bisa merasakan kecupan-kecupan di kepalaku.

Aku masih mematung oleh situasi ini. Aku tidak berani menggerakkan tanganku, bahkan untuk bernapas pun aku ragu. Hembusan napas Taecyeon menerpa leherku, sementara detak jantungnya yang tidak teratur dapat kudengar.

Aku bisa merasakan wajahnya mendekat pada telingaku. Ia berbisik dengan tegas, “Kau milikku. Aku mencintaimu.”

Petir, aku merasa tersetrum. Gemuruh di dadaku terdengar, seperti tebing yang runtuh. Aku seperti berjalan di atas kerikil-kerikil tajam. Seketika itu tubuhku terasa sangat lemah.

Taecyeon menarik tubuhku menjauh. Tetapi itu tidak lama, karena dia langsung mendaratkan bibirnya pada bibirku. Aku terbelalak, napasku berhenti. Dilumatnya bibirku sedikit demi sedikit dengan lembut.

Aku berusaha mengumpulkan kesadaran dan keberanianku kembali. Aku memejamkan mata, merasakan sesak, karena paru-paruku mulai kosong. Dengan cepat kucengkram kedua bahu Taecyeon dan kuhempaskan tubuh itu menjauh.

“ANDWAEYO!” teriakku.

Aku menghisap udara di sekitarku dengan serakah. Kupegangi dadaku yang sesak, jantungku masih tidak karuan. Setelah sedikit tenang, aku memberanikan diri untuk mengangkat kepala. Tatapan tajam itu mengarah padaku. Taecyeon berdiri di depanku, kedua tangannya berdiam diantara tubuh atletis itu.

Aku mengernyit, ketakutan.

Namun dalam sekejap, tatapan itu berubah menjadi sayu. Ia memancarkan kekecewaan yang dalam dari kedua manik gelapnya. Aku terpaku lagi. Pria ini sangat mudah untuk menjungkir-balikkan perasaanku. Aku bahkan tidak tahu harus berpikiran apa sekarang ini.

“Yoona-ah,” lirih Taecyeon, terdengar lemah. “Mengapa kau seperti ini?”

Aku berusaha menelan ludahku, membasahi tenggorokanku yang mendadak kerontang.

“Padahal aku sangat mencintaimu,” wajah terluka itu menusuki jantungku, sangat menakutkan.  “Mengapa kau mencoba pergi? MENGAPA?!”

“AAAAAH!!”

Yoona membuka matanya dengan cepat. Dengan tegang, diangkatlah punggungnya sampai ia terduduk. Diedarkannya pandangan dengan was-was. Napasnya berderu, debar jantung masih terbawa dari alam bawah sadarnya.

Yoona semakin terguncang ketika menyadari tadi itu mimpi. Ya, mimpi tentang pertemuan terakhirnya dengan Taecyeon, tiga minggu yang lalu. Masalahnya, mimpi itu selalu datang padanya setiap malam. Mimpi yang sama, persis, seperti bukan kewajaran.

Dengan tangannya yang gemetar, Yoona menarik kedua kakinya. Dipeluknya lutut itu mencoba memperoleh sedikit ketenangan. Namun kejadian itu terus berputar di kepalanya, seperti mimpi itu belum berakhir.

Lambat laun air mata Yoona mulai pecah. Napasnya tersendat-sendat, membawa isakan di sela-sela tangisnya. Yoona menenggelamkan wajahnya pada lenggannya, lalu meraung-raung, meratapi sakit yang menyelimuti hatinya.

Mianhae, mianhae….”

***

 “Luhan, ayo makan!”

Luhan melambai pada Sehun, sebagai isyarat untuk berangkat duluan. Sehun hanya menggeleng-geleng melihat tingkah teman sekantornya itu. Ia menatapnya sesaat, lalu pergi bersama rombongan.

Luhan tersenyum kecil dan menempelkan ponselnya pada telinga. Ditunggunya sambungan yang tidak lekas-lekasnya dijawab itu. Luhan mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya pada meja. Walau sudah lama berhubungan, rasa gugup tetap melandanya ketika teringat Yoona.

Pip!

“Halo?” tanya Luhan antusias begitu panggilannya terjawab. Tidak ada sahutan dari seberang, namun Luhan tahu Yoona sedang mendengarkan.

“Sekarang kau ada di mana? Mari kita makan siang bersama.”

Kembali tidak ada jawaban, “Mm, kau sedang tidak selera, ya? Apa kau sedang sakit?”

Luhan telah menunggu sepanjang hari untuk menghubungi Yoona. Namun gadis yang sangat dirindukannya itu bahkan tidak mau repot-repot mengeluarkan suara. Luhan menghela napas singkat, menutupi kekecewaannya dan bicara to the point.

“Kalau begitu aku akan datang ke rumah. Tunggu ak—“

“Aku tidak di rumah.”

Akhirnya Yoona angkat bicara. Mendengar suaranya saja, telah memekarkan kuncup-kuncup bunga di hati Luhan. Ia semakin antusias untuk bertermu gadis itu.

“Ah? Kalau begitu kau ada di mana? Apa kau di—“

“Aku tidak di rumah.”

Hening sesaat ketika Yoona kembali memotong perkataan Luhan. Yang jelas, nada bicara gadis itu berbeda dari sebelumnya. Semakin rendah, semakin rendah. Dan dari suaranya, tampaknya terjadi sesuatu pada gadis itu.

Itu seperti kode-kode beribu makna yang sangat jarang dikeluarkan oleh gadis semacam Yoona. Namun Luhan bukanlah psikiater, atau kriptolog. Akhirnya dia hanya diam dan menunggu Yoona melanjutkan bicaranya.

“Aku tidak di rumah,” suara Yoona semakin parau. “Luhan…aku ketakutan.”

Jantung Luhan berpacu cepat, kecemasan langsung menyergapnya. Apalagi kemungkinan yang muncul, bahwa Yoona jadi begitu karena alasan ‘itu’.

“Luhan…,” suara itu parau seperti menahan tangis, pelan seperti berbisik. “Dia mengikutiku, dia berdiri di belakangku…Saat aku ke kuburannya, dia tidak ada di sana.”

Satu isakan terdengar, semakin meminimalisir volume suara gadis itu. Sementara keringat dingin mengalir dari dahi Luhan. Ia membisu, pucat seperti patung.

“Dia menungguku di tempat lain. Kumohon…selamatkan aku.”

Tiit tiit tiit—

Sambungan terputus. Luhan berdiri dengan tegang. Ditatapnya ponsel itu penuh tanya. Ini bukan saatnya berpikiran macam-macam. Dia harus pergi dan memastikan, apakah Taecyeon memang menginginkan Yoona?

***

Ponselku menggantung di tanganku, setelah aku mencabut baterainya. Aku menatap kosong ke depan. Air mataku terus keluar tanpa permisi. Dua puluh meter, aku bisa melihat tempat itu dengan jelas. Rel kereta lajur kanan. Di tempat itulah, dia mengakhiri hidupnya.

[Flashback]

PLAK. Satu tamparan mulus mendarat di pipi Taecyeon. Ia tercengang, sementara Yoona menatapnya dengan emosi.

“Aku tidak membencimu! Aku tidak pernah suka padamu!” teriak Yoona, “Jangan sentuh aku…Kau menjijikan, Taecyeon-ah.”

Yoona meninggalkan Taecyeon yang masih membeku di tempatnya berdiri. Ia masuk ke gerbongnya, tak lama kereta itu mulai bergerak. Semakin lama semakin cepat, hingga menghilang.

Taecyeon masih berdiri di sana. Frustasi. Ia mendengar suara klakson kereta dari kejauhan. Hatinya bergetar, air matanya menetes. Kereta dengan kecepatan tinggi itu semakin mendekat. Taecyeon melangkah dengan lemas, sampai ia berada tepat di atas rel.

Ia menoleh pada mesin besar yang memancarkan cahaya itu lalu berkata, “Aku mencintaimu sampai mati.”

NGOEEEENG!!

Kereta itu tidak berhenti, Taecyeon tidak menghindar. Sepuluh detik terlindas, cukup untuk mencabik-cabik tubuh itu. Taecyeon meninggal, bersama sumpahnya.

[Flashback End]

Aku menggigil begitu sadar telah begitu dekat dengan rel itu.Jantungku berpacu, air mataku mengalir. Namun aku terus melangkah.

Mati? Aku tidak ingin mati—sebenarnya.

Tapi Taecyeon, dia terlalu mengerikan. Dia menghancurkan hidupku, mengobrak-abrik jiwaku. Menanamkan rasa sakit di ulu hatiku. Sampai aku begitu tidak betah untuk bernapas lagi.

Aku tidak tahu ini benar atau salah. Aku sudah tidak bisa membedakannya lagi. Ketika orang-orang berkata ‘ya’ padahal ‘tidak’, ketika semuanya hanyalah topeng-topeng dan sandiwara, mataku terbuka. Aku melihat siapa yang benar sekarang, Taecyeon.

Dia berjanji mencintaiku sampai mati, dia menepatinya.

Setiap malam, setiap detik dia menggemakan kata-kata ‘aku cinta padamu’. Kalimat mengerikan yang membat kepalaku pecah. Aku tahu, aku sakit. Aku tahu aku sudah gila, gila karena janji itu.

“Yoona, aku mencintaimu sampai mati. Buktikan, kalau kau membenciku sampai mati.”

Aku menatap rel kereta yang kupijak. Dan menyimak suara klakson yang tak henti-hentinya memperingatkanku dari jauh sana. Kuhirup udara di sekitarku, jadi begini rasanya bunuh diri.

Kereta itu semakin cepat. Aku bisa melihat malaikat kematian yang berdiri di atas kereta itu, menghampiriku.

“Yoona!”

Aku menoleh, Luhan. Dia berlari dengan gagahnya menembus keramaian. Dia menatapku cemas setengah mati. Beberapa kali ia berteriak memanggil namaku, membujukku untuk menyingkir. Tapi kali ini, aku harus mengabaikan permintaan sahabatku itu.

Ini hidupku.

Aku menatap sepenuhnya pada penjemput ajalku. Ketika benda besar itu semakin dekat, aku memejamkan mataku, lalu berkata, “Taecyeon-ah, aku membencimu sampai mati.”

NGOEEEENG!!

***

Ini tentang kita

Kau menyukaiku, padahal aku membencimu

Kita terlahir begitu

Kita mati, juga tetap akan begitu

THE END

Vow by Aletha

Maaf kalau endingnya gaje atau gantung, jangan lupa komen yaw^^

17 thoughts on “[FF] Vow (Vignette)

  1. Pingback: [FF] Vow (Vignette) | FanFiction Here

  2. Pingback: [FF] Vow (Vignette) | ✿WoonDeerFull✿

  3. Weh, jadi pgen tau Flashback Hubungannya Yoona ama Taecyeon, Boleh minta sequel Flashback nya nggak hehe,, Soalnya penasran aja apa yang membuat Yoong benci Ok Taec

  4. Ah, pengen nangis ketemu FF cast bias utama X’D Makasih ya udah bikin FF Taecyeon-Yoona hihi😄
    Genrenya juga nggak ngecewain kok. Ntah kenapa masih nggak bisa terima kalo Taecyeon ngikut romansa romansa fluff gitu–‘
    Sayangnya cuma Vignette sih, coba aja OneShoot trus dari sudut pandang Taecyeon juga dijelasin biar feelnya merata gitu. Tapi kalo untuk feel buat Yoona udah bagus kok, tapi kalo diperdalam lagi aku yakin bakal tambah keren kok’-‘)b
    Untuk yang lain aku rasa udah pas sih. :”)
    Ditunggu FF selanjutnya ya! Jangan nyerah pos FF disini. Paiting!’-‘)9

  5. Aduh thor… Sedih bgt, tapi entah kenapa, tiap ada backsound keretanya yang ‘NGOEEENG!!’, aku malah ngakak..Thor, maafkan reader nista yg satu ini *eh
    Keren thor pokoknya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s